Cinta Pertama yang Merebut Suamiku

Đang tải thông tin quảng bá...

Cinta Pertama yang Merebut Suamiku

GoodNovel Hoàn thành

Suamiku dan gadis kaya palsu itu adalah teman masa kecil. Aku dan gadis itu diculik bersama. Saat suamiku yang merupakan seorang dokter tiba di lokasi bersama ambulans, dia memilih untuk menyelamatkan...

Chương (1)

第1章

Suamiku dan gadis kaya palsu itu adalah teman masa kecil. Aku dan gadis itu diculik bersama. Saat suamiku yang merupakan seorang dokter tiba di lokasi bersama ambulans, dia memilih untuk menyelamatkannya terlebih dahulu. Dia meninggalkanku yang terbaring sekarat di air laut dengan kedua kaki yang patah. Dalam kondisi sekarat, aku memohon padanya untuk menyelamatkanku dan anak yang ada di dalam perutku. Namun, dia hanya melirikku sekilas. Sebelum pergi, dia berkata dengan nada sinis, "Kamu bahkan ngarang cerita punya anak demi bertahan hidup. Sungguh menjijikkan." "Jasa yang kuberikan untuk menyelamatkan hidupmu sudah selesai. Nanti kita ketemu di rumah sakit untuk tanda tangan surat cerai." Setelah mendengar hal itu, aku melepas alat bantu dengar di telinga kananku dengan tangan yang gemetaran. Bab 1 Aku yang selalu mencintai kecantikan, tak pernah menyangka akan mati dengan begitu mengenaskan. Setelah diculik dan disiksa tanpa ampun, tubuhku yang babak belur dilemparkan ke tepi pantai dan dibiarkan terombang-ambing dalam air laut yang dingin berkali-kali membasuh tubuhku. Darah mengalir deras dari lukaku, menyebar dan mewarnai air laut di sekitarku menjadi merah. Di saat bersamaan, Hudson hanya peduli pada Sarah. Dia tidak memperhatikan keadaanku sama sekali. Ketika akhirnya sampai di rumah sakit, tubuhku telah kehabisan darah dan kedua kakiku telah remuk. Para dokter dan perawat seolah-olah terkejut melihat kondisi pasien yang begitu mengenaskan. Mereka tampak bingung harus memulai dari mana untuk menolongku. Seorang perawat berbisik pelan, "Mungkin kita bisa minta bantuan Pak Hudson. Dia kan dokter hebat, mungkin pasien ini masih bisa diselamatkan." Belum selesai bicara, perawat lain langsung memotong, "Pak Hudson lagi sibuk nolong kekasih masa kecilnya. Mana mungkin dia ninggalin orang yang dicintainya demi menyelamatkan orang asing?" Padahal, aku bukan orang asing ... aku adalah istrinya. Mungkin karena meninggal dengan penuh dendam, arwahku terjebak dan melayang-layang di udara sembari menyaksikan tubuhku yang tak lagi dikenali. Tiba-tiba, sebuah suara yang tak asing terdengar dan menarik arwahku. Saat kesadaranku pulih, aku mendapati diriku sedang berada di ruang perawatan tempat Hudson dan Sarah berada. Sarah terbaring di ranjang, sedangkan Hudson sedang merawat luka kecil di tubuhnya dengan hati-hati. Bagi Hudson, luka itu kecil dan sepele, tetapi dia tetap menanganinya dengan teliti. Dalam tatapannya, aku melihat sorot kecemasan. "Sarah, tenang saja. Aku bakal pastiin nggak ada bekas lukanya nanti." Setelah membalut lukanya, Hudson sendiri yang memindahkan Sarah ke ruang perawatan biasa. Saat ruangan itu hanya berisi mereka berdua, dia mendekat dan mengecup kening Sarah dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tak lama kemudian, seorang perawat masuk untuk membersihkan luka Sarah. Sambil membersihkannya, dia melihat ke arah Hudson dan berkata dengan penuh rasa iba, "Nasib orang memang beda-beda ya. Sama-sama diculik, Bu Sarah masih bisa selamat karena pertolongan Bapak. Sementara pasien lain yang datang bersamaan dengannya ...." Sebelum perawat itu selesai bicara, Hudson telah menyela, "Jangan bahas penculikan di depan Sarah. Itu bisa memengaruhi pemulihan psikologisnya." Dia tahu pasien wanita yang dimaksud oleh perawat itu adalah aku, tetapi dia sama sekali tidak ingin mendengar apa pun tentangku. Melihat Sarah yang masih tertidur lelap, perawat itu lalu mengangguk dengan pengertian. Aku hanya bisa tersenyum pahit mendengarnya. Hudson benar-benar memperlakukan Sarah dengan perhatian yang tak ada habisnya. Dia khawatir luka di tubuh Sarah akan meninggalkan bekas dan mengganggu karier modelnya, khawatir penculikan ini akan meninggalkan trauma psikologis padanya. Namun, dia sama sekali tak peduli pada keadaanku yang juga menjadi korban penculikan yang sama. Memang, dia sangat membenciku. Saat dia datang membawa uang tebusan untuk menyelamatkan Sarah, aku telah berusaha merangkak dengan segenap sisa kekuatanku untuk mendekatinya. Aku memohon padanya untuk menyelamatkan aku dan anak di dalam perutku. Namun, dia hanya memandangku dengan tatapan jijik dan berkata dengan sinis, "Tasya, kamu ini benar-benar jahat ya. Demi bertahan hidup, kamu bahkan mau bohongi aku dengan alasan hamil? Menjijikkan sekali." "Gara-gara kamu, Sarah jadi diculik. Aku nggak akan pernah memaafkanmu. Utang nyawa sudah kubayar. Nanti datang ke rumah sakit untuk tanda tangan surat cerai." Setelah berkata demikian, Hudson memeluk Sarah yang ketakutan dan terus menangis. Kemudian, dia naik ke ambulans sambil memerintahkan agar ambulans segera kembali ke rumah sakit dengan tegas. Ketika pintu ambulans hampir tertutup, aku masih berjuang keras menuju tepi pantai dan berusaha keluar dari air yang dingin hingga menusuk ke tulang. Darah terus mengalir dari tubuhku yang terluka dan gelombang pasang hampir saja menenggelamkanku. Dalam keadaan sekarat ini, siapa pun yang memiliki sedikit saja belas kasihan pasti akan membantuku, bukan? Dengan tulang yang patah dan nyeri yang tak tertahankan, tubuhku gemetaran hebat. Air mata berderai dari sudut mataku. Rasa sakit yang tajam menjalar di perutku, sementara darahku mulai mewarnai air laut di bawahku menjadi merah pekat. 'Sayang, maafkan Mama. Ini semua karena Mama terlalu berusaha mengejar cinta yang bukan menjadi milik Mama. Sekarang Mama jadi membuatmu kehilangan kesempatan untuk melihat dunia ini.' Bab 2 Begitu tersadar dari komanya, Sarah yang mengalami trauma langsung memanggil-manggil Hudson dengan cemas. Dia menolak didekati oleh perawat dan terus meringkuk dalam pelukan Hudson. Air matanya mengalir deras tanpa henti. Hudson menenangkan Sarah dengan lembut, seolah-olah menemukan kembali harta yang telah hampir hilang. Dia menepuk punggung Sarah berulang kali dengan hati-hati, sambil berkata, "Syukurlah kalau kamu selamat. Tahu nggak seberapa khawatirnya aku? Aku benar-benar takut kehilangan kamu lagi." Bagaikan kelinci kecil yang ketakutan, wajah Sarah tampak pucat pasi. Dia mencengkeram erat pakaian Hudson dan berkata dengan suaranya yang tercekat karena tangisannya, "Hudson, aku sempat berpikir aku bakal mati dan nggak bisa ketemu kamu lagi." "Semua ini berkat kamu. Kalau bukan karena kamu, aku pasti sudah meninggal." Sarah mendongakkan wajahnya menatap Hudson dengan penuh perasaan dan mata berkaca-kaca. "Hudson, aku selalu khawatir kehadiranku membuat hubunganmu dengan Kak Tasya nggak harmonis, makanya aku terus menolakmu." "Tapi setelah kejadian ini, aku nggak akan pernah menolakmu lagi." Tasya menarik napas dalam-dalam dan menyandarkan kepalanya di dada Hudson, lalu melanjutkan, "Sebenarnya, aku sama sekali nggak nyalahin Kak Tasya. Kalau bukan karena Kak Tasya mengajakku keluar, aku nggak akan diculik. Aku juga nggak akan punya keberanian untuk menghadapi perasaanku padamu." Mendengar hal itu, wajah Hudson langsung berubah menjadi kelam. Namun, dia masih berusaha menahan kemarahannya. "Sarah, jangan sebut nama wanita itu lagi. Aku bakal ngasih penjelasan sama kamu tentang masalah ini. Kali ini, nggak ada lagi yang bisa menghalangi kita untuk bersama." Bab 3 Aku menunduk dan tersenyum getir. Namun, sebenarnya yang menjadi akar masalah dan menyebabkan mereka tidak bisa bersatu sejak awal adalah Sarah, bukan aku. Hudson dan Sarah adalah teman masa kecil yang awalnya dijodohkan untuk menikah ketika mereka dewasa. Saat berusia 16 tahun, aku baru tahu bahwa aku adalah putri kandung Keluarga Ludwig. Pengasuh Keluarga Ludwig menukarku dengan anaknya sendiri. Ketika aku kembali ke rumah Keluarga Ludwig bersama orang tua kandungku, Ayah dan Ibu tidak tega mengusir Sarah yang telah mereka besarkan dengan penuh kasih sayang. Sejak saat itu, aku menjadi putri sulung Keluarga Ludwig, sedangkan Sarah adalah putri kedua. Pada ulang tahunku yang pertama setelah kembali ke Keluarga Ludwig, Ayah dan Ibu mengundang keluarga Hudson untuk hadir. Ibu Hudson memujiku habis-habisan, mengatakan aku anak yang manis dan cantik, bahkan menggenggam tanganku sepanjang percakapan kami. Namun, tak kusangka hal itu mengundang kebencian dari Sarah. Saat para orang tua asyik mengobrol di ruang tamu, Sarah mendekatiku sambil membawa segelas air panas. Dia menatapku dengan tatapan penuh arti dan tersenyum sinis. "Kalau aku terbakar karena ulahmu hari ini, apa mereka masih akan melanjutkan perayaan ulang tahunmu?" tanyanya dengan suara rendah sebelum mengangkat cangkir dan menuangkan air panas ke tangannya sendiri. Pikiranku kosong, tetapi tubuhku bereaksi dengan cepat untuk berusaha menghentikannya. Sayangnya, air panas itu justru tumpah di lenganku. Rasa panas itu begitu menyakitkan hingga menjalar ke seluruh tubuhku dan aku berteriak keras. Kulit lenganku langsung melepuh dan membengkak, tampak begitu menyedihkan. Mendengar kegaduhan itu, Ibu Hudson adalah orang pertama yang masuk. Dia segera menarik lenganku dan membilasnya di bawah air mengalir. Ayah dan Ibu masuk tak lama kemudian sambil menanyakan apa yang terjadi. Dengan suara yang lemah, Sarah menundukkan kepala dan menangis tersedu-sedu. "Ayah, Ibu, aku cuma mau tuang air untuk semua orang, tapi Kakak ...." Ucapannya yang ambigu terpotong saat Ayah dan Ibu memandangku dengan kekecewaan. Sejak aku kembali ke Keluarga Ludwig, Sarah sudah berulang kali menjebakku. Setiap kalinya, Ayah dan Ibu selalu saja memercayainya. Itulah ulang tahun pertamaku di Keluarga Ludwig. Aku tidak ingin mempermalukan keluarga atau menghancurkan hubungan yang baru saja terbentuk, jadi aku menahan rasa sakit di lenganku dan berkata, "Maafkan aku, ini salahku karena kurang hati-hati." Ibu Hudson menatapku dengan dalam, lalu berkata dengan suara lembut, "Tasya, kamu anak yang baik dan pengertian." Ucapan itu membuat wajah Sarah seketika memucat dan tangisannya langsung terhenti. Ayah Hudson memandang Sarah dengan tatapan penuh keraguan. Sebelum keluarga Hudson pulang, Ayah mengusulkan agar aku dan Hudson dijodohkan. Ibu Hudson tersenyum puas dan mengangguk. Meskipun Hudson tampak sangat benci padaku, dia tetap tidak menolak. Sebenarnya aku tidak ingin dijodohkan, tetapi orang tuaku mengatakan bahwa itulah satu-satunya nilai yang bisa kuberikan. Perlahan-lahan, aku mulai belajar menyukai Hudson dan mencoba untuk memenangkan hatinya. Aku percaya bahwa jika aku terus bersikap baik padanya, hatinya akan luluh suatu saat. Namun, melihat bagaimana dia memperlakukan Sarah dengan lembut, hatiku terasa sakit. Saat ini, Hudson berada di ruang perawatan Sarah. Dia sedang menyusun menu makanan yang bernutrisi untuk Sarah agar dia tetap sehat dan lukanya ini tidak meninggalkan bekas. Hudson bahkan memerintahkan asistennya untuk mengambil salep khusus pencegah bekas luka. Ketika melihat kemasan salep itu, perasaan yang sulit digambarkan menyelimuti hatiku. Dulu, lenganku yang terluka tetap meninggalkan bekas meskipun sudah menjalani berbagai perawatan. Aku mencoba berbagai merek salep, tetapi tak ada yang benar-benar efektif. Rumah sakit keluarga Hudson memiliki salep khusus yang dibuat untuk mencegah luka meninggalkan bekas, tetapi salep ini tidak dijual bebas. Setelah insiden terbakar itu, aku pernah memohon pada Hudson untuk memberiku salep itu, tetapi dia hanya melirik bekas luka di lenganku dan berkata dingin, "Kamu bukan selebritas atau model, sedikit bekas luka di lenganmu nggak bakal ada pengaruh." "Lagian, bukankah bekas luka ini adalah akibat usahamu menjebak Sarah? Biarkan saja bekas itu tetap ada. Supaya kamu selalu ingat betapa kejamnya usahamu untuk menggantikan Sarah dan menikah denganku." "Biarkan bekas luka ini menjadi saksi dari sifat munafik dan kejam yang kamu miliki. Biarlah itu menemanimu seumur hidup." Bab 4 Sepertinya Hudson baru ingat bahwa aku juga dirawat di rumah sakit ini. Setelah mengurus semua keperluan Sarah, dia akhirnya ingat untuk mencariku. Namun, bukan untuk memastikan keadaanku, melainkan untuk melampiaskan kemarahannya dan menuntutku menandatangani surat cerai agar Sarah bisa menggantikan posisiku. Sayangnya, surat cerai itu takkan bisa kutandatangani lagi. Di lorong rumah sakit, dua orang perawat berjalan melewati Hudson. Salah satu dari mereka memegangi dadanya dengan wajah yang masih dihiasi rasa takut. "Kamu nggak tahu seberapa mengenaskannya wanita itu meninggal. Kedua tangannya patah, rahimnya robek sampai menimbulkan perdarahan hebat. Dia sudah hamil lebih dari dua bulan. Waktu tiba di rumah sakit, darahnya sudah hampir habis. Dia hanya bertahan dengan sisa napas terakhirnya." "Kasihan sekali, entah siapa yang menjadi anak dan suaminya. Keluarganya pasti sangat terpukul kalau mereka tahu." "Iya nih, seandainya saja pertolongan datang lebih cepat, mungkin nyawanya masih bisa diselamatkan. Meski cacat, itu masih lebih baik daripada kehilangan nyawa." Mendengar percakapan itu, Hudson mengerutkan kening. Aku mendekat ke telinganya dan berbisik, "Hudson, kamu tahu nggak, wanita yang meninggal itu aku? Kamu mau lihat keadaanku sekarang? Apakah benar aku mati dengan cara setragis itu?" Muncul niat jahat dalam hatiku. Ingin sekali rasanya aku membuatnya melihat tubuhku setelah kematian. Seandainya dia tahu bahwa aku dan anakku jadi kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup hanya karena keegoisannya memonopoli sumber daya rumah sakit. Apakah dia akan menyesal atau justru bersikap seolah-olah semua itu memang layak terjadi? Hudson kemudian mendatangi ruang perawat untuk menanyakan kamar rawatku. Perawat yang sedang bertugas ternyata adalah salah satu dari mereka yang baru saja melintas di depannya. Mendengar Hudson ingin mencari wanita yang masuk rumah sakit bersamaan dengan Sarah, perawat itu menatapnya dengan keheranan. "Pak Hudson, Anda keluarga dari pasien itu?" Hudson tertegun sejenak, kemudian menjawab dengan nada ketus, "Aku nggak kenal dia. Ada teman yang memintaku untuk mencari tahu." Bab 5 Aku memandangnya dengan tertegun saat dia mengerutkan kening. Ekspresi kesal di wajah Hudson tampaknya karena merasa aku menghambat penandatanganan surat cerai. Selama dua tahun pernikahan kami, meskipun rumah sakit adalah milik keluarganya, Hudson tidak pernah membiarkanku datang ke sini. Setiap kali aku merasa tidak enak badan atau perlu pemeriksaan, bahkan ketika mengetahui kehamilanku, aku selalu pergi ke rumah sakit lain. Perawat itu mengangguk paham, lalu berkata dengan nada penuh belas kasihan, "Karena luka yang terlalu parah, pasien itu gagal diselamatkan. Kami tadinya berharap Anda yang merawatnya, tapi ...." "Kalau dia keluarga teman Anda, tolong bantu hubungi mereka. Kami nggak menemukan ponselnya, jadi sudah melaporkannya ke polisi. Pasien itu meninggal dalam kondisi tragis. Mungkin teman Anda perlu mempersiapkan mental ..." "Kamu lupa sama pekerjaanmu ya?" potong Hudson sambil melempar pandangan tajam. "Cuma cedera ringan yang bisa ditangani dokter biasa, kamu malah ikut-ikutan sama pasien untuk berakting? Wanita itu biasanya sehat bugar, mana mungkin cedera sedikit saja bisa membuatnya meninggal." Hidungku terasa perih dan air mataku berlinang deras. Hudson pernah bercanda tentang bagaimana fisikku sekuat banteng. Selama bertahun-tahun menikah, dia tidak pernah melihatku sakit. Padahal, tubuhku sebenarnya lemah dan mudah terserang flu. Pernah sekali saat dia sedang di luar kota, aku demam tinggi sampai suaraku serak dan nyaris tak bisa bicara. Dengan suara lemah, aku meneleponnya. Namun, dia hanya menjawab dengan kesal bahwa aku merepotkannya. Padahal hanya terserang flu, apakah pantas aku mengganggu pekerjaannya? Sebagai seorang dokter, Hudson seharusnya memiliki kesabaran untuk merawat pasien. Namun terhadapku, yang ada hanya pengabaian dan kejengkelan. Sejak itu, aku tidak pernah lagi memberitahunya saat aku sakit dan dia pun jarang memerhatikan kesehatanku. Dia sering pulang larut malam dan tidak pernah memperhatikan saat aku minum obat. Sebaliknya, aku berkali-kali menyaksikan betapa cemasnya Hudson pada Sarah. Ketika Sarah sakit di luar negeri, dia langsung mengirimkan obat untuknya di tengah malam. Dia bahkan rutin menelepon untuk mengingatkannya soal kesehatan. Hudson bukannya tak peduli. Hanya saja, perhatiannya selalu untuk wanita lain. Di saat seperti itu, aku sering bertanya-tanya. Apakah pernikahan yang diatur demi bisnis dengan pria yang tidak peduli padaku adalah hukuman untukku sebagai anak kandung yang tertukar? Lama-lama, pernikahan ini membuatku kehilangan harapan. Raut wajah Hudson sangat muram. Perawat itu juga tidak ingin berdebat dengannya lagi, sehingga dia kembali duduk dan mengurus administrasi. Hudson yang tidak bisa menemukanku, akhirnya kembali ke sisi Sarah. Begitu melihat Hudson, mata Sarah langsung memerah. Dia mendekat dan memeluk pinggang Hudson dengan suara lemah. "Aku nggak melihatmu waktu bangun tadi. Sekarang kita malah harus berpisah lagi." Hudson mengusap rambut Sarah dan berkata dengan lembut, "Sarah, aku sudah janji nggak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan menemui Tasya dan membuatnya menandatangani surat cerai." "Wanita itu benar-benar licik, malah berpura-pura hilang dan menyuruh perawat ikut berpura-pura mengatakan bahwa dia sudah meninggal. Aku nggak percaya. Ini pasti akal-akalan dia supaya nggak bercerai. Aku nggak akan membiarkan dia menang."