Đang tải thông tin quảng bá...
Kematian Palsu Adikku
Ketika surat keterangan lulus universitas tiba, aku malah demam tinggi dan terbaring di tempat tidur. Adikku yang pergi mengambilkan surat itu untukku, malah mengalami penculikan di tengah jalan dan n...
Chương (1)
第1章
Ketika surat keterangan lulus universitas tiba, aku malah demam tinggi dan terbaring di tempat tidur.
Adikku yang pergi mengambilkan surat itu untukku, malah mengalami penculikan di tengah jalan dan nasibnya tak diketahui, entah masih hidup atau sudah tiada.
Orang tuaku memendam kebencian mendalam padaku. Mereka merobek suratku dan memaksaku berhenti sekolah, lalu menyuruhku bekerja di pabrik.
Kemudian, aku juga diculik. Setelah berhasil melarikan diri dengan nyaris kehilangan nyawa, aku bersembunyi di sebuah pabrik tua sambil mengirim pesan meminta bantuan pada ayahku.
Tak lama kemudian, ayah meneleponku dan langsung berteriak marah,
“Sandra Joman! Dasar anak brengsek! Bisa-bisanya kamu bercanda seperti ini di hari kematian Valarie!
“Kamu tahu nggak, betapa aku dan ibumu berharap yang meninggal waktu itu adalah kamu!”
Detik-detik sebelum kematian, kata-kata hinaan mereka terus terngiang di telingaku.
Tubuhku disiksa sampai tak berbentuk lagi, aku meninggal dengan tragis. Jasadku dibuang ke selokan busuk selama tiga hari.
Bahkan, ayahku yang seorang ahli forensik senior pun tak bisa mengenali siapa diriku.
Ketika adikku pulang bersama pacar yang kabur bersamanya dulu, ayah baru saja berhasil memulihkan wajahku melalui rekonstruksi teknologi.
Mereka berlutut di depan jasadku yang telah membusuk, menangis hingga tak sadarkan diri.
Bab 1
Sudah tiga hari hujan deras, membuat seluruh kota terasa seperti terendam, semuanya tampak suram dan kelabu.
Saat tubuh yang sudah membengkak karena air mulai mengapung di got berbau busuk, beberapa orang yang menonton terlihat ketakutan.
Seorang anak kecil berusia delapan tahun menangis keras ketakutan, berlindung di pelukan ibunya yang menenangkannya dengan lembut.
Melihat itu, mataku juga berkaca-kaca.
Aku sudah lama tidak merasakan hangatnya pelukan ibu.
Sejak enam tahun lalu, setelah adikku menghilang, ayah dan ibu hanya memandangku dengan penuh kebencian.
Jangankan pelukan, bahkan senyuman pun tak pernah mereka berikan.
Segera, garis polisi dipasang mengelilingi tempat kejadian dan aku berdiri di antara kerumunan, diam-diam menatap tubuhku yang sudah hancur parah.
Sebuah mobil polisi berhenti tepat di depanku dan ketika pintunya terbuka, matanya bersinar.
“Kak Jack, diperkirakan mayat ini sudah tiga hari terendam air. Ditambah hujan deras beberapa hari ini, kemungkinan besar jejak di lokasi kejadian sudah terhapus. Jadi, harus memintamu untuk melakukan pemeriksaan pada tubuhnya.”
“Bagian laboratorium sudah mengambil DNA korban. Begitu hasilnya keluar, mereka akan langsung memberitahu kita.”
Ujar Kapten Paul, salah satu rekan ayahku yang berlari pelan mendekat dan melaporkannya.
Saat melihat mayat itu, ayahku mengernyit dan matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.
Dia mengepalkan tangannya dan menggertak marah.
“Benar-benar brengsek!”
Aku mengikuti pandangannya dan melihat, kondisiku memang cukup mengenaskan.
Tangan dan kaki sudah dipotong, wajahku juga hancur hingga sulit dikenali, bahkan mataku telah dicongkel, hanya menyisakan dua lubang kosong.
Di keningku, samar-samar terlihat kerutan ketakutan di detik-detik terakhirku.
Mulutku ternganga lebar, itu karena sebelum napas terakhirku, aku menangis histeris.
Lidahku juga sudah dipotong dan sekarang mulutku hitam, tampak cukup mengerikan
Hanya dengan satu pandangan, ayah sudah meneteskan air mata.
Aku pun menangis. Sudah enam tahun, dia tidak pernah tersentuh karenaku sedikit pun.
Ayah berjongkok di depanku, tangannya bergetar saat menyentuh luka-luka yang memenuhi tubuhku.
Dia berbisik dengan suara paraunya,
“Ciri-ciri wajah korban sulit dikenali, tetapi diperkirakan adalah gadis muda sekitar 25 tahun.
“Sebelum meninggal, dia mengalami berbagai penyiksaan. Sungguh malang, masih begitu muda, orang tua mana yang nggak sakit hati melihatnya!”
Di belakangnya, aku menangis tanpa suara. Ayah, jika kamu tahu jasad ini adalah aku, apakah kamu akan merasa sedih juga?”
Bagaimanapun juga, aku adalah orang yang paling dia benci di dunia ini. Sudah tak terhitung berapa kali jumlahnya, dia terus berteriak memintaku untuk mati.
Kini, akhirnya harapanmu terwujud.
Bab 2
Tubuhku yang hancur dimasukkan ke dalam kantong jenazah dan dibawa ke kantor ayah.
Tak lama kemudian, potongan tangan dan kakiku juga ditemukan dan langsung dikirim ke hadapan ayah.
Di depan meja autopsi, Kapten Paul berdiri dengan dahi berkerut, sambil menunjuk jariku.
“Kak Jack, lihat. Korban mengepalkan tangannya dengan erat, tetapi jari tengah tangan kanannya dipatahkan. Mungkinkah karena sebelumnya ada aksesoris yang bisa mengungkapkan identitasnya di jari itu?”
“Mungkin saja.”
Jawab ayahku sambil mengangguk.
Namun, Kapten Paul ragu-ragu menatapnya.
“Kalau nggak salah, dulu Sandra juga memakai cincin di jari tengah kanannya … “
Dengan sedikit kesal, ayahku menatapnya.
“Banyak orang memakai cincin, bukan hanya dia. Dia itu si pembawa sial, bagaimana mungkin mati dengan begitu muda?”
Kapten Paul terlihat agak cemas. Dia bahkan tidak sempat melepas sarung tangannya dan langsung menarik tangan ayah.
“Jack, kamu masih ingat dengan pembunuh berantai waktu itu?”
Tubuh ayahku gemetaran.
Kasus itu adalah bayang-bayang yang terus menghantuinya.
Enam tahun lalu, ayah adalah ahli forensik paling terkenal di kota, sedangkan ibu adalah kapten termuda di tim kriminal. Saat itu, Kapten Paul hanyalah salah satu bawahan ibu.
Waktu itu, mereka habis-habisan mengejar pembunuh berantai yang telah membunuh delapan gadis muda. Mereka bekerja tanpa kenal lelah sampai-sampai sebulan penuh tidak pulang ke rumah.
Akhirnya, pelaku tertangkap. Namun sayangnya, bukti yang ada tidak cukup untuk menjatuhkan hukuman padanya.
Di saat-saat terakhir, ayah mengurung dirinya di ruang forensik selama tiga hari tanpa tidur untuk menemukan bukti yang bisa menjeratnya.
Namun, tak ada yang menduga, pembunuh itu punya saudara kembar.
Hari eksekusi mati pembunuh itu adalah hari yang sama ketika adikku hilang.
Hari itu hujan deras dan rekaman CCTV menunjukkan adikku diseret oleh pria berpakaian hitam, lalu menghilang tanpa jejak.
Semua orang curiga bahwa pria yang membawa adikku adalah saudara kembar pembunuh itu, tetapi tak ada yang berani mengungkapkan fakta kejam ini.
Setahun kemudian, karena tak kuat menahan kesedihan, ibu memutuskan berhenti bekerja, sementara ayah tetap di kepolisian.
Saat kejadian itu diungkit kembali, raut wajah ayah berubah drastis.
Kapten Paul memperhatikan raut wajah ayah dengan hati-hati dan setelah ragu sebentar, dia tetap melanjutkan,
“Kalau benar dia pelakunya, aku takut Sandra akan dalam bahaya … “
“Cukup.”
Ayah memotongnya dengan kesal.
“Aku malah berharap Sandra mati saja. Aku sudah mengingatkannya dulu, menyuruh dia menjaga Valarie dengan baik, jangan sampai keluar rumah, tapi dia malah membiarkan Valarie pergi untuk mengambil surat kelulusannya!”
“Hari itu hujan lebat, Valarie masih begitu kecil, melihat wajah ketakutannya saat diseret pergi membuat hatiku hancur!”
Kata-kata itu sudah sering kudengar. Setiap beberapa waktu, aku akan menerima telepon dari ayah dan ibu.
Mereka tak henti-hentinya menyalahkanku, mengatakan betapa dinginnya hatiku, berdiam diri di rumah dan mendorong adikku menuju malapetaka.
Dengan putus asa, aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak tahu. Hari itu, aku pingsan karena demam tinggi, aku bahkan tidak tahu adikku pergi keluar.
Tapi mereka tak percaya. Bagi mereka, aku hanyalah makhluk tak berperasaan yang terus berbohong.
Tuduhan yang tiada hentinya, bahkan membuatku berharap, andai saja yang hilang waktu itu adalah aku.
Jika hari itu aku tidak jatuh sakit, jika aku bisa bertahan dan tidak pingsan, jika aku menghilang menggantikan adikku, mungkin semuanya akan lebih baik.
Setidaknya, aku tak akan menjadi penjahat besar yang menjalani sisa hidup yang lebih buruk daripada mati.
Kapten Paul menghela napas, masih berusaha ingin membujuk ayah.
Namun, ayah tak lagi menatapnya. Dia menunduk dan memeriksa gigiku dengan seksama.
Saat melihat gigi depanku yang patah, alisnya sedikit berkerut.
Tanpa ekspresi, ayah lalu berkata pada asistennya,
“Gigi depan korban hilang. Dari bekas patahannya, sepertinya sudah lama. Tulis di laporan autopsi, minta mereka perhatikan, mungkin ini bisa menjadi petunjuk identitas korban.
Dengan air mata yang menggenang, aku menatap ayahku.
Mungkin ayah sudah lupa, putri yang paling dia benci juga kehilangan satu gigi depan. Gigi itu hilang karena pukulan darinya sendiri.
Bab 3
Sudah enam tahun sejak adikku hilang, tidak pernah ada kabar apakah dia masih hidup atau sudah tiada. Di hati orang tuaku, dia sebenarnya sudah meninggal.
Mereka membuatkan makam kosong untuknya dan menetapkan hari hilangnya sebagai hari kematiannya.
Hanya pada hari itu aku diizinkan pulang dan itu pun hanya agar aku bisa berlutut di depan makamnya untuk meminta maaf.
Tahun lalu, saat aku dalam perjalanan menuju stasiun, tiba-tiba aku pingsan di jalan. Seorang pejalan kaki membawaku ke rumah sakit dan karena itu aku ketinggalan kereta untuk pulang.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya aku tiba tiga hari kemudian.
Ayahku menjambak rambutku dengan marah dan menyeretku ke makam adikku. Dia menekan kepalaku keras-keras hingga membentur nisan.
Kepalaku berkunang-kunang karena benturan, tapi itu tidak cukup untuknya. Dia bahkan menampar wajahku dengan kasar.
Tamparan itu terus berlanjut, membuat sudut bibirku robek dan satu gigi depanku patah.
Namun, sekarang dia tampaknya lupa.
Mungkin karena dia tak pernah peduli.
Baginya, tidak peduli apapun yang terjadi padaku, bahkan jika aku kehilangan nyawa, itu hanyalah karma yang pantas untukku.
Air mataku menetes. Ayah, aku benar-benar sudah mati sekarang. Entah ini sudah cukup untuk menebus kesalahanku bagimu.
Ketika ayah masih sibuk memeriksa jasadku, tiba-tiba ponselnya berdering.
Dengan kesal, dia melepas sarung tangannya dan menjawab panggilan itu.
Suara ibu yang marah terdengar dari telepon,
“Sandra, si anak jalang itu masih belum pulang sampai sekarang. Dia pasti sengaja nggak mau berlutut di depan Valarie!”
Aku tersenyum pahit, apakah aku yang tak mau pulang?
Aku sudah mati, mati di bawah pisau dingin pelaku.
Ayah mendengus dingin,
“Lebih baik dia nggak kembali lagi selamanya, lebih baik mati di luar sana. Melihatnya saja aku sudah muak!”
Mendengar mereka bergantian mencaci-maki, dadaku terasa seperti ditimpa oleh batu besar, sesak dan sakit.
Padahal hari itu aku sempat mengirim pesan pertolongan pada mereka, tetapi mereka tak peduli.
Mungkin, kematianku adalah bentuk pembebasan bagi mereka.
Bahkan andai aku tidak dibunuh dengan kejam, hidupku juga tidak akan lama lagi.
Satu tahun lalu, ketika aku pingsan, dokter menemukan bahwa aku mengidap tumor otak.
Aku pernah memberitahu orang tuaku, tetapi mereka mengira aku hanya mencari-cari simpati.
“Sandra Joman, kalau mau mati, cepat pergi mati saja. Jangan harap kami akan iba padamu.”
Aku hanya tak ingin menyerah. Aku takut jika tak ada yang merawat mereka saat tua nanti.
Namun sekarang, melihat tatapan jijik mereka saat membicarakanku, aku merasa lega karena akhirnya mati dengan cara seperti ini.
Mereka selalu berharap aku mati dengan menyedihkan. Saat mereka tahu betapa kejamnya aku dibunuh, mungkin mereka akan merasa puas.
Setelah menutup telepon, ayah kembali fokus pada jasadku.
Matanya perlahan berkaca-kaca.
Keadaanku benar-benar mengenaskan, bahkan suara ayah juga bergetar saat berbicara,
“Ada luka tusukan di tubuh korban, totalnya delapan tusukan, tapi semuanya menghindari bagian vital.”
“Pekiraan awal, penyebab kematiannya adalah pendarahan terlalu banyak.”
“Pelakunya benar-benar psikopat. Dia membuat gadis ini pendarahan perlahan-lahan sampai mati. Itu pasti sangat menyakitkan.”
Hatiku terasa semakin pedih saat mendengarnya. Memang benar, sangat sakit rasanya.
Tubuhku bergetar kesakitan tanpa bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menangis tanpa daya.
Namun, tangisanku membuat pelaku jengkel, dia tertawa seram sebelum mencungkil mataku hidup-hidup.
Tangan ayah yang menggenggam pisau bedahnya bergetar. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengingatkan asistennya untuk mempersiapkan pembukaan tengkorak.
Aku sedikit berharap, ketika dia melihat tumor di otakku, mungkinkah dia akan ingat bahwa aku pernah mengidap tumor otak?
Saat memikirkannya, tiba-tiba pintu ruang forensik terbuka.
Seorang polisi muda berdiri di luar dan menatap ayahku dengan wajah cemas.
Ayah mengernyit dan tampak kesal.
“Kenapa begitu ceroboh? Anak muda zaman sekarang benar-benar nggak bisa menahan diri.”
“Katakan saja kalau ada yang perlu dibicarakan, kalian nggak melihat aku sedang sibuk?”
Polisi muda itu menggigit bibirnya sebelum akhirnya berkata perlahan,
“Kapten Paul, Kak Jack, hasil DNA korban sudah keluar. Dia … dia adalah putri Kak Jack!”
Pada saat yang sama, suara ibu yang penuh harap terdengar dari ponsel ayah,
“Valarie sudah kembali, dia masih hidup!”
“Perlakuan dingin kita pada Sandra selama ini juga sudah cukup untuk menebus dosanya. Akhirnya keluarga kecil kita bisa berkumpul kembali. Mulai sekarang, perlakukan dia dengan lebih baik.”