Mantan Suami Minta Balikan

Đang tải thông tin quảng bá...

Mantan Suami Minta Balikan

GoodNovel Hoàn thành

Menikah selama 4 tahun, Juan yang selama ini tidak pernah update statusnya tiba-tiba upload sesuatu: “Benaran kucing kecil yang rakus” Fotonya adalah seorang perempuan yang memakai bando telinga k...

Chương (1)

第1章

Menikah selama 4 tahun, Juan yang selama ini tidak pernah update statusnya tiba-tiba upload sesuatu: “Benaran kucing kecil yang rakus” Fotonya adalah seorang perempuan yang memakai bando telinga kucing warna pink, yang pipinya merah dan menjulurkan lidah karena kepedasan makan hotpot. Orang itu adalah Dewi, host barunya. Nggak sampai 1 menit, teman kami ada yang komentar: “Bro, kamu lupa ganti akun!” Jadi, status terbarunya Juan sangat cepat sudah hilang, tetapi sangat cepat sudah muncul di halaman utama sosial media Dewi. Lalu Juan meneleponku. Kalau dulu, aku akan screenschoot terlebih dahulu dan duluan menelepon untuk menanyainya, setiap kali pasti harus berantam baru bisa selesai. Tapi kali ini, aku dengan penuh perhatian, ku tunggu sampai teleponnya mati pun nggak ku angkat. Bab 1 Menikah selama 4 tahun, Juan yang selama ini tidak pernah update statusnya tiba-tiba upload sesuatu: “Benaran kucing kecil yang rakus” Fotonya adalah seorang perempuan yang memakai bando telinga kucing warna pink, yang pipinya merah dan menjulurkan lidah karena kepedasan makan hotpot. Orang itu adalah Dewi, host barunya. Nggak sampai 1 menit, teman kami ada yang komentar: “Bro, kamu lupa ganti akun!” Jadi, status terbarunya Juan sangat cepat sudah hilang, tetapi sangat cepat sudah muncul di halaman utama sosial media Dewi. Lalu Juan meneleponku. Kalau dulu, aku akan screenschoot terlebih dahulu dan duluan menelepon untuk menanyainya, setiap kali pasti harus berantam baru bisa selesai. Tapi kali ini, aku dengan penuh perhatian, ku tunggu sampai teleponnya mati pun nggak ku angkat. ...... Saat Juan sampai di rumah, aku sudah tertidur pulas di sofa. Dia membuka jas dan mengganti sepatu. “Kenapa nggak angkat teleponku?” Juan sangat jarang menanyai itu, kecuali dia sendiri juga merasa bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Aku tidak mengangkat kepalaku dan menjawabnya dengan ngasal: “Nggak sengaja ketiduran, nggak kedengaran.” “Tiba-tiba lembur, jadi pulang agak malam, kamu juga nggak perlu tiap kali tunggu aku, membuat harga dirimu serendah gitu.” Kalau dulu, aku pasti akan dengan keras mempertegaskan kalau aku begini karena cinta dia. Tapi sekarang sudah tidak perlu debatin lagi. Juan memberiku satu kotak persegi bahan beludru, menyuruhku untuk buka dan lihat. Hari ini adalah hari perusahaannya melantai di bursa. Untuk merayakannya, aku seperti biasa pulang lebih cepat, beli sayur dan masak, lalu tunggu Juan pulang. Tapi tunggu sampai tengah malam, Juan yang berjanji akan pulang lebih cepat juga belum pulang. Aku berpura-pura tidak bisa mencium bau hotpotnya, menerima kotak itu dan letakkan di meja. Kotak ini, di sebelumnya Juan melewatkan ulang tahunku, aku sudah pernah melihatnya. Tulisan di atas tidak ada perubahan sama sekali. Juan melihat kotak itu lalu mengerutkan alisnya dengan suara yang rendah bilang: “Evelyn, bisa nggak jangan keras kepala?” Membeliku hadiah perhiasan adalah jalan selesaikan masalah yang biasanya dikasih Juan. Asal aku menerima hadiah itu, maka hal tidak menyenangkan yang terjadi di antara kami akan kelewat begitu saja, siapapun tidak boleh mengungkitnya lagi. Tapi sekarang aku tidak nurutin, tentu saja dia marah. “Aku bantu pakaiin.” Tidak memberi aku kesempatan untuk menolak, dia membuka kotaknya dan mengambil gelang di dalamnya mau pakaikan, tapi terdiam setelah melihat tanganku ada satu yang sama persis. “Sudahlah, cepatlah istirahat, besok harus kerja lagi.” Aku menarik tanganku dan berdiri dari sofa, siap-siap kembali ke kamar untuk tidur. “Lain hari, aku suruh asisten nemanin kamu pergi milih yang baru lagi?” Aku menjawabnya dengan dingin: “Nggak perlu lagi.” Bab 2 Mungkin merasa bersalah karena membeli kado yang sama, Juan mengajak untuk bareng ke kantor. Karena kondisi tubuh, aku nggak mau nyetir, jadi nggak aku tolak ajakannya. Juan berdiri di depan mobilnya, alisnya mengerut hampir menjadi simpul. Nggak tahu sejak kapan, Juan sangat benci aku duduk mobilnya, tidak izinkan aku duduk kursi depan, memaksa aku untuk beli mobil. Mungkin karena dulu aku sering seperti orang gila berantam sama dia demi hak kepemilikan kursi depan mobilnya, jadi dia merasa kesel. Tapi sekarang, karena antar jemput Dewi, mobilnya banyak terdapat boneka bulu kucing, dan juga tempel banyak gambar yang lucu imut. Bahkan kursi depannya sengaja cari orang untuk design ulang, hanya untuk Dewi yang badannya kecil imut bisa duduk dengan nyaman. Tapi melihat aku sudah tunggu di samping, dia hanya bisa membuka pintu mobil dan membungkukkan badan meletakkan mainan boneka itu ke kursi belakang. Aku melihat dia bolak-balik, mengerutkan alis dan berkata: “Sudahlah, aku sendiri pergi ke kantor.” Juan melempar boneka terakhir ke kursi belakang: “Barengan saja, Dewi orangnya ceria, suka main dengan barang-barang kecil ini, tidak perlu peduliin.” Melihat kursi pink yang terlihat sangat tidak cocok dengan design dalam mobil, aku menolaknya. Aku merasa lumayan tidak nyaman. Aku membuka pintu mobilku, Juan malah menghalangiku dan duduk di kursi pengemudi, “Aku yang nyetir saja, sudah janji mau pergi bareng.” Aku melihatnya sebentar, tidak melewatkan keanehan yang ada di matanya. Ternyata dia sendiri juga tahu bahwa tidak pantas membuat kursi depan menjadi seperti itu. Juan sepertinya masih mau menjelaskan, tapi aku mendesaknya: “Sudah mau telat, buruan jalan.” Dia baru mengecupkan bibirnya dan menyalakan mobil. Di waktu lagi tunggu lampu merah, nada dering handphonenya berbunyi. Kedengaran itu nada dering yang berbeda. Di dalam handphone terdengar suara yang sangat kasihan, ditambah dengan suara tangisan yang terdengar samar-samar. “Bang, perutku sakit kali, sepertinya kemarin salah makan, aku mau abang antar aku ke rumah sakit, abang cepatlah datang, abang adalah abang yang terbaik.” Menutup teleponnya, Juan tidak melihatku, dan juga tidak berkata apa pun. Langsung menghentikan mobil di tepi jalan, lalu dengan cepat membuka sabuk pengamanku. Dengan tidak bisa ditolak berkata: “Karyawan lagi nggak enak badan, aku pergi lihatin, ini sudah mau sampai kantor, kamu jalan lagi sedikit.” Aku turun mobil, belum sempat lagi menutup pintunya, Juan sudah pergi menjauh. Bab 3 Jujur, saat ini tidak ada orang yang jalan kaki untuk berangkat kerja. Saat lampu merah jadi hijau, satu motor listrik mungkin juga nggak nyangka ada yang melewati zebra cross, setelah berbelok, dia langsung bertabrakan dengan aku. Tangan, kaki dan dahi terdapat beberapa luka goresan dengan tingkat keparahan yang berbeda. Suster memberiku obat, dan menempelkan plester di dahiku sambil mengingatkan: “Beberapa hari ini usahain jangan kena air, jangan berendam, gunakan obat dengan tepat waktu.” Keluar dari rumah sakit, aku memesan mobil untuk ke kantor. Mobil supir ini ada 2 handphone, satunya buat lihat peta, satunya lagi untuk melihat livenya Dewi. Di kolom komentar penuh dengan kata-kata perhatian. “Astaga, terimakasih atas perhatian semuanya, Kucing Dewi nggak papa, untungnya abang datang dengan cepat, jadi nggak perlu ke rumah sakit.” “Enggak ya, belum aku ungkapkan perasaanku sama abang, jadi jangan asal bilang ya, ini abang lihat di samping, iya abang orangnya sangat lembut.” Aku nunduk kepala melihat handphone, di obrolan terdapat 2 pesan yang penuh dengan amarah dan tidak sabar. [ Dengar asisten bilang, kamu hari ini tidak hadir di rapat perencanaan proyek? Kemana kamu? Cepat pergi ke kantor. ] [ Bukannya hanya suruh kamu jalan sedikit? Apa lagi yang kamu ributin? ] Sebagian orang ini benaran suka-sukanya menentukan aturan. Malamnya. Aku selesai mengoles obat, sedang duduk di sofa nonton TV. Belakang terdengar suara sedang membuka kunci, lalu ke dengar suara sindiran dari Juan. “Aku kira kamu sudah jadi patuh, beberapa hari ini nggak ada emosi sama sekali, ternyata nungguin aku di sini.” Mungkin karena suara TV terlalu berisik, dia dengan langkah cepat pergi mencabut kabelnya. “Evelyn, otakmu di mana sih, untuk rapat ini sudah disiapin selama setengah bulan, tau nggak undurin proyek ini, perusahaan bakal rugi berapa banyak?” Aku angkat kepala melihat mukanya yang penuh dengan kebencian, lalu melihatnya terdiam di sana. Dia melihat plester di dahiku, lalu melihat kaki dan tanganku yang nggak ditutup, mengerutkan alis: “Kenapa dengan lukamu ini?” Aku menarik pandanganku, dengan santai menjawabnya: “Nggak papa, hanya ditabrak saat mau ke kantor.” Mata Juan terkejut, dengan sedikit bersalah datang untuk melihat lukaku. “Kenapa nggak telponin aku?” Aku menghindar sentuhannya, dengan acuh nggak acuh menarik bibir: “Luka kecil ini nggak papa, aku rasa karyawan lebih penting.” Apakah ada gunanya telpon ke dia? Angkat telepon, tidak nanya dulu kenapa langsung menuduh dan mengeluh tanpa henti, apakah dia peduli dengan apa yang mau aku katakan saat telepon?” Dulunya, aku nggak bisa suruh dia datang meskipun telepon, sekarang mungkinkah dia datang? Kata-kataku membuatnya provokasi, dia berdiri dengan senyum dingin berkata: “Evelyn, perlukah kamu menyindir kayak gitu? Meninggalkanmu di pinggir jalan memang salahku, tapi kamu anak-anak kah? Jalan saja pun bisa ketabrak?” Aku dengan diam melihatnya. Kamu lihatlah, hanya penyampaian pikiran yang sederhana pun, dibilangnya lagi menyindir dan masih kekanak-kanakan. Aku malas menghiraukannya, berdiri mau balik ke kamar. Melihat aku susah jalan, ekspresinya jadi lebih santai, menghela nafas dan datang membantuku. “Malam ini aku tidur denganmu supaya gampang menjagamu.” Juan sudah lama nggak tidur sebelum jam 12 malam. Karena Dewi bilang sering dihujatin sama penonton di dalam live, takut depresi jadi meminta Juan untuk nemanin dia live. Jadi setiap malam, Juan pergi ke ruang kerja, sambil kerja sambil lihat live. Kadang-kadang bergabung jadi tamu untuk interaksi manis dengan hostnya. Aku sempat berantam dengan dia, mau gimanapun tetap nggak bisa ubahin pemikirannya. Juan tetap merasa dia hanyalah lagi kerja, akhirnya mengancamku dengan cerai yang membuatku mau nggak mau harus mengalah. Aku tidak menolak usulannya, tapi di saat dia mau memelukku, aku dengan pelan berkata: “Juan, kita cerai saja.” Bab 4 Dampak dari bilang cerai sangatlah besar. Juan di saat itu langsung pergi karena marah, sudah selama seminggu nggak pulang. Ini sering dilakukannya saat aku membuatnya marah, artinya juga dia tidak peduli dengan apa yang aku katakan. Dulunya melihat kekerasan emosional dari dia, aku merasa sangat menderita dan sepanjang malam tidak bisa tidur, terus-menerus meneleponnya dan meminta maaf, dengan rendah hati memohon maaf. Tapi sekarang aku sibuk dengan mencari kerja yang baru, tidak ada waktu untuk memikirkan dia, soalnya setelah cerai, aku nggak mungkin masih kerja di perusahaan Juan. Hari ini setelah pulang kerja, Juan meneleponku. Dia sendiri menghubungi aku adalah jalan selesaikan masalah yang dia kasih, kalau aku menolak berarti aku yang tidak tahu aturan. “Kinerja di paruh pertama tahun ini mencapai target, divisi akan membuat acara untuk merayakan, nanti kita pergi bersama.” Menunggu di depan pintu perusahaan hampir 20 menit, Juan yang membawa Dewi baru datang. “Kakak, aku mabuk mobil, jadi abang suruh aku duduk depan, nggak papa kan?” Juan memegang setir dengan erat dan dengan cemas melihatku, dia takut aku ngapain Dewi. Tapi aku hanya dengan tenang membuka pintu belakang, lagi pula kursi depan itu juga bukan buatku. Sepanjang jalan, mendengar Dewi terus mencari topik dan manja dengan Juan, aku hanya dengan tenang melihat ke luar. Juan malah kasih Dewi muka datar, tidak banyak menjawabnya, kadang-kadang melihat kaca spion dalam mobil. Sampai di hotel, Surya, teman akrabnya Juan datang menjemput, berbicara dengan sangat sopan. “Halo kak Evelyn, aduh maafkan aku ini sibuk terus, lupa kabarin kamu.” Surya adalah teman akrabnya Juan, jadi tahu apa yang dilakukan Juan. Pertemuan yang Juan bawa Dewi, dia tidak pernah memanggilku, karena aku sering membuat pertemuan itu jadi berantakan. “Nggak papa, aku datang sebentar saja.” Ekspresi Surya sedikit terkejut, membuka mulut, tapi tidak ada kata yang dikeluarkannya. Acara dimulai. Setelah Juan membawa anggur dan bersosialisasi, dia duduk di sampingku, dan tangannya membawa satu kue. “Makanlah dikit, tadi siang kamu nggak makan, sekarang pasti sudah lapar.” Aku baru saja mau menolak, Dewi membawa handphonenya jalan kemari. Dia lagi live. “Oh abang ternyata di sini, Dewi tadi mencarimu kemana-mana loh.” “Ah, lagi bilang kakak kah? Kakak malam ini tidak makan, makanya abang kasih dia kue.” “Aku dan abang benaran bukan pacar loh.” Aku dengan cepat miringkan kepalaku untuk tidak masuk ke dalam kamera, lalu berdiri dan pergi. Aku berdiri di balkon koridor merasakan angin, nggak lama kemudian Juan datang, suaranya terdengar sedikit gelisah: “Aku nggak tahu Dewi bisa live, yang dibilang saat live itu bukan benaran, aku koordinasi dengan dia saat aku jadi tamu livenya dan itu hanya untuk hasil live.” “Aku sudah suruh dia matiin.” Aku mengangguk kepala dengan tidak begitu peduliin, berbalik badan dan kembali ke acara. MC di atas panggung sedang membicarakan rencana masa depan perusahaan. Dewi membawa sampanye datang ke depanku, tepi gelasnya menyentuh minuman yang di tanganku, senyum dengan manis dan imut. “Kakak, penggemarku pada bilang aku dan abang yang paling cocok, menurutmu dia lebih suka kamu atau aku ya?” Aku memutarkan kepala: “Ini kamu harus nanya sama dia, tapi kurasa dia lebih suka sama kamu.” Dewi menyipitkan matanya dan mendekatiku sambil tersenyum: “Iya kah? Aku juga merasa gitu sih.” Aku merasa ada yang nggak benar, mau mundur, tapi Dewi sudah jatuh ke belakang dan duduk di lantai. Aku masih belum sempat respons, bahuku didorong orang dengan keras, punggungku terbentur keras ke tepi meja, minuman yang di meja pun tumpah ke lantai. Perutku bagian bawah terasa sangat sakit dan kepalaku pusing. Aku dengan susah menahan di meja dan memegang perutku, yang terasa hanyalah adanya aliran panas yang turun dari pahaku. Juan dengan sakit hati membantu Dewi berdiri, tidak peduli dengan orang yang di tempat, dengan keras membentakku: “Evelyn, kapan sih baru kamu bisa nggak keras kepala lagi, kamu......” Melihat aku berdarah, seperti terpikir sesuatu, dengan nggak percaya dan suara bergetar: “Kamu, kamu hamil?” Juan dengan panik mengambil handphone mau panggil ambulans. Dewi datang memegang tangannya, lalu mengeluarkan pembalut dari tasnya, dengan hati-hati kasih ke aku. “Kakak bocor kah? Ini ganti dulu.” Tangan Juan terhenti, diam melihatku sebentar, lalu dengan malu melempar pembalut yang di tangan Dewi ke aku. “Cepat pergi beresin, jangan buat malu di sini.” Selesai bilang langsung menarik tangan Dewi pergi. Acara yang ada Dewi, kami bahkan tidak bisa menjaga keharmonisan yang tampak di luar ini. Aku memaksakan diri untuk jalan keluar, menahan sakit untuk telepon ke sahabat. “Hana, bisa nggak datang antarin aku ke rumah sakit?” Aku menutup mata dengan serak berkata: “Aku sepertinya keguguran.” Begitu kukatakan, rasa pusing yang sangat kuat tiba-tiba datang, sampingku terdengar langkah kaki yang sangat buru-buru dan suara yang sangat khawatir, pandanganku gelap dan jatuh ke pelukan yang hangat.