Pelayan Kesayangan CEO Arogan

Đang tải thông tin quảng bá...

Pelayan Kesayangan CEO Arogan

GoodNovel Hoàn thành

WARNING HANYA UNTUK DEWASA "Ah, Tuan Javen, tolong jangan." "Tenang saja, Sas, hanya ada aku dan kamu di sini." "Ngghh ... Tuan, tapi saya..." "Ugh, Tuan Javen, jangan!!" Sasmaya Larasati tida...

Chương (1)

第1章

WARNING HANYA UNTUK DEWASA "Ah, Tuan Javen, tolong jangan." "Tenang saja, Sas, hanya ada aku dan kamu di sini." "Ngghh ... Tuan, tapi saya..." "Ugh, Tuan Javen, jangan!!" Sasmaya Larasati tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah sejak bekerja di rumah mewah milik Javendra Prakasa Maheswara. Ia hanya ingin bekerja dengan tenang, menjaga batas, dan tidak menarik perhatian. Namun semua itu runtuh saat Javen mulai mendekat. Pria arogan itu terbiasa mengendalikan segalanya, termasuk perasaannya yang perlahan menyeret Sasa masuk ke dalam permainan berbahaya. Bab 1 - Salah Pegang Milik Majikan "Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tubuh gadis itu menempel lebih erat tanpa celah. Gerakan Sasa yang malu-malu dan ragu justru menjadi pemicu yang membakar kendali diri Javendra. "Lebih cepat, Sasa," perintah Javendra dengan napas yang memburu di telinga gadis itu. Sasa tersentak, ia mencoba mempercepat gerakannya meski tangisnya semakin pecah. Dada polosnya bergesekan lebih kasar dengan kulit Javendra, menciptakan sensasi panas yang membuat kepalanya pening. Javendra mengerang keras, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kelembutan Sasa yang benar-benar membuatnya gila. Pria itu kehilangan sedikit kendalinya. Tangannya tidak lagi hanya diam di pinggang, tapi mulai menjalar ke punggung Sasa, menekan tubuh gadis itu seolah ingin menyatukan kulit mereka sepenuhnya. Javendra benar-benar terpancing oleh bagaimana Sasa mencoba patuh meski tubuhnya gemetar hebat. "Sial, kamu benar-benar membuat aku gila," gumam Javendra serak. Beberapa hari sebelum kejadian itu, saat hari dimana Sasa diterima sebagai pelayan pribadi di rumah itu. Sasmaya berdiri di depan pintu rumah besar itu dengan jantung berdegup kencang. Tangan kirinya memegang tali tas, tangan kanannya menggenggam map lamaran yang sudah agak lembab karena keringat. "Ini kesempatan bagus," katanya berulang dalam hati. "Gajinya lumayan, bisa kirim ke ibu tiap bulan, dan aku nggak perlu lagi bantu-bantu warung tetangga." Tapi harapan itu bercampur takut. Kalau ditolak lagi, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ruang tamu terasa terlalu luas dan dingin. Dua kandidat lain sudah duduk. Sasa memilih kursi paling ujung, duduk dengan punggung tegak tapi lututnya gemetar sedikit. Ia berusaha mengatur napas. Tenang, Sasa. Jawab saja pertanyaan dengan baik. Jangan banyak bicara. Tak lama kemudian, Javendra Prakasa masuk. Pria itu berjalan dengan langkah mantap, wajahnya datar dan dingin. Rumor yang beredar pria itu sangat arogan, tidak suka dibantah, pemilik kepribadian dingin yang mencekam. Pria 34 tahun yang masih lajang, meskipun begitu, pesonanya membuat setiap orang yang melihat menahan napas. Javendra duduk di kursi utama. Tatapannya menyapu ketiga orang di depannya. Saat mata itu mampir ke arah Sasa, gadis itu merasa ada yang aneh. Pandangannya agak lama, lalu Javendra cepat mengalihkan mata. Sasa menelan ludah. Apa aku salah kostum? Batinnya. Rok hitam dan kemeja putihnya sudah paling rapi yang dia punya. "Perkenalkan diri kalian," kata Javendra dengan suara rendah. Kandidat pertama dan kedua bicara duluan. Mereka punya pengalaman bertahun-tahun dan banyak sertifikat. Sasa merasa semakin gugup. Mereka jauh lebih berpengalaman. Kenapa aku nekat datang ke sini? Batin Sasa lagi. Gilirannya tiba. Sasa berdiri, tangannya saling meremas di depan perut. "Nama saya Sasmaya Larasati, Tuan. Biasa dipanggil Sasa. Umur 21 tahun. Lulus SMA. Saya nggak kuliah karena biaya nggak memungkinkan. Tapi saya rajin, teliti, dan mau belajar apa saja yang diperlukan. Saya sangat butuh pekerjaan ini." Suara Sasa pelan tapi ia berusaha supaya jelas. Setelah selesai, ia duduk kembali sambil menahan napas. Tolong terima aku. Tolong. Sasa terus memohon dalam hati. Javendra diam sebentar. Lalu ia berkata, "Kalian berdua boleh pulang. Terima kasih." Dua kandidat lain keluar dengan wajah kecewa. Sekarang hanya Sasa yang tersisa di ruangan bersama Javendra. Jantung Sasa berdegup semakin keras. Ia menunduk, tak berani menatap langsung. "Kamu diterima," kata Javendra datar. "Saya diterima, Tuan?" Sasa seolah tidak percaya. Tapi dia luar biasa bersyukur atas hal itu. "Ya, tapi ada syaratnya." "Syarat apa, Tuan? Saya akan lakukan segalanya demi pekerjaaan ini, Tuan." "Benarkah?" Sasa mengangguk cepat. Sasa mengangkat wajahnya lagi, pelan. Javendra menatapnya lurus. "Panggil saya Tuan Javen. Kamu hanya melayani saya. Jangan pernah berbohong dan jangan coba mendekat lebih dari batas. Mengerti?" "Ya, Tuan Javen. Saya mengerti," jawab Sasa cepat. Suaranya hampir hilang di tenggorokan. "Apa ada syarat lain, Tuan?" Javen menatap Sasa sekilas lalu mengalihkan pandangan. "Nanti aku pikirkan, saat ini cukup. Kamu boleh pulang." Sasa mengangguk. "Terima kasih, Tuan, saya akan bekerja sebaik mungkin untuk keluarga ini." "Apa?" Javen menatap Sasa tajam. Sasa meneguk ludah, apa dia salah bicara, batinnya. "Kamu tidak bekerja untuk keluarga ini. Kamu bekerja untuk aku. Hanya aku, Javendra." Sasa mengangguk paham. "Baik, maafkan saya Tuan Javen." "Mulai besok pagi kamu sudah tinggal di sini." "Baik, Tuan." ** Sasa keluar dari rumah itu dengan kaki yang terasa ringan sekaligus berat. Senang karena akhirnya diterima, tapi ada rasa was-was yang tidak bisa dijelaskan. Tuan Javen terasa berbeda dari yang dibayangkannya. Dingin, tapi tatapannya tadi, entah kenapa membuatnya gelisah. Malam itu, Sasa packing barang sedikitnya sambil berpikir. "Ini cuma pekerjaan. Aku harus profesional. Jaga jarak, kerja keras, dan semuanya akan baik-baik saja. Sasa kamu nggak boleh bikin masalah." ** Keesokan paginya, Sasa sudah berdiri di kamar pelayan pribadi yang disiapkan untuknya. Seragam hitam-putih yang diberikan kepala pelayan terasa kaku dan terlalu ketat di bagian dada. Ia menarik-narik sedikit kain di depan bajunya, tapi tetap saja tidak nyaman. "Kenapa sih baju apa pun selalu begini?" batinnya kesal. Ukuran dadanya memang selalu jadi masalah. Baju longgar jadi kelihatan konyol, baju pas malah seperti ini. Ia menghela napas panjang sambil mencoba berdiri lebih tegak. Baru saja ia merapikan rambutnya yang diikat rapi, pintu ruangan terbuka. Javendra masuk dengan langkah biasa. Sasa langsung membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan Javen," sapanya sopan, suara masih agak gugup. Javendra berhenti di depannya. Matanya menelusuri Sasa dari bawah ke atas. Saat pandangannya sampai di dada Sasa yang tertutup seragam ketat itu, pria itu tersentak kecil. Wajahnya tetap datar, tapi Sasa sempat melihat perubahan di matanya. Sasa merasa panas di wajah. Ia langsung menunduk dan menarik seragamnya lagi dengan tangan kanan. "Maafkan saya, Tuan Javen. Bajunya agak sempit," katanya pelan, malu sekali. Javendra tidak langsung jawab. Ia meneguk ludah, lalu berdeham pelan sebelum bicara. "Kenapa tidak bilang dari awal?" suaranya rendah. Sasa menggigit bibir bawah. "Saya baru pakai tadi pagi, Tuan. Takut merepotkan. Nanti saya minta ganti yang lebih pas saja." Javendra diam sebentar. Tatapannya masih belum lepas sepenuhnya dari tubuh Sasa. "Tidak perlu. Biar nanti saya yang suruh kepala pelayan mengganti ukurannya." "Terima kasih, Tuan," jawab Sasa cepat, masih menunduk. Udara di ruangan terasa berat. Sasa merasa jantungnya kembali berdegup tidak karuan. Ia berusaha mengingatkan diri sendiri. Tapi saat ia melirik sekilas ke atas, Javendra masih berdiri di sana, menatapnya dengan cara yang membuat Sasa ingin mundur selangkah. "Untuk hari ini, ikut saya. Saya akan tunjukkan apa saja yang harus kamu kerjakan," kata Javendra akhirnya, suaranya kembali datar seperti biasa. "Baik, Tuan Javen." Sasa mengikuti langkah pria itu keluar dari ruangan, tapi di dalam hatinya sudah mulai muncul pertanyaan yang tak berhenti. Sasa mengikuti Javendra menyusuri koridor rumah yang luas. Pria itu menjelaskan tugasnya dengan suara datar sambil berjalan di depan. "Pagi hari kamu siapkan kopi hitam tanpa gula di meja kerja saya. Setelah itu bersihkan kamar saya, tapi jangan sentuh meja tulis. Siang kamu ikut saya ke mana pun kalau saya butuh. Malam—" Tiba-tiba langkah Sasa tersandung ujung karpet yang sedikit terlipat. Tubuhnya oleng ke depan. Ia panik dan mencoba menyeimbangkan diri, tapi malah terdorong ke arah Javendra yang baru saja berhenti dan membalikkan badan. "Aduh!" Bruk. Sasa jatuh tepat ke pangkuan Javendra yang sedang duduk di kursi panjang ruang kerja. Bokongnya mendarat persis di atas pangkal paha pria itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras dan hangat tepat di bawahnya. "Maaf, Tuan! Saya—" kata Sasa panik sambil berusaha bangun. Tapi saat itu tangan Javendra otomatis terulur untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Telapak tangan kanannya mendarat tepat di dada Sasa yang kencang karena seragam ketat. Jari-jarinya tanpa sengaja meremas pelan di sana, merasakan kelembutan dan bobot yang penuh. Waktu seolah berhenti sebentar. Sasa membeku. Rasa panas langsung naik ke wajah dan telinganya. Ia bisa merasakan dada Javendra naik-turun cepat di belakang punggungnya, napas pria itu menyapu lehernya. Tangan Javendra masih di sana. Tidak langsung dilepaskan. Sasa gemetar. "Tuan Javen ... maafkan saya..." Suara Sasa hampir hilang. Ia berusaha bangkit, tapi gerakannya malah membuat bokongnya bergeser pelan di atas milik Javendra yang semakin keras. Javendra menegang. Napasnya terdengar berat di telinga Sasa. Dia tidak langsung melepaskan tangannya. Bab 2 - Kepergok Majikan Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi karena kakinya gemetar. "Maaf, Tuan! Maaf sekali!" suaranya bergetar. Matanya sudah berkaca-kaca, tapi ia berusaha keras menahan air mata. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, tak berani melihat wajah Javendra. Javendra berdiri tanpa berkata apa-apa lagi. Ia melirik Sasa sekilas, lalu berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya. Langkahnya tegas. Pintu ruangan tertutup dengan suara klik yang terdengar berat di telinga Sasa. Sekarang hanya tinggal Sasa sendirian di koridor itu. Tubuhnya gemetar hebat. Lututnya lemas sampai ia harus bersandar ke dinding. Air mata yang sudah ditahan sejak tadi akhirnya jatuh juga. Ia menutup mulut dengan kedua tangan agar suara tangisnya tidak terdengar. Kenapa aku ceroboh sekali? batinnya. Baru pertama hari, sudah begini. Pasti Tuan Javen marah besar. Sasa semakin ketakutan. Ia ingat rumor yang pernah didengarnya tentang Javendra Prakasa. Pria arogan, dingin, dan sangat tidak suka dengan orang yang tidak kompeten. Apalagi insiden memalukan seperti ini. Apa aku akan dipecat? Apa nanti dituntut karena dianggap kurang ajar? Aku bahkan belum sempat kirim uang ke ibu... Air matanya semakin deras. Sasa menangis sendirian di sudut koridor, bahunya naik-turun. Ia merasa sangat tidak profesional. Gadis kampung yang nekat melamar kerja di rumah mewah ini malah langsung membuat kesalahan fatal di hari pertama. Javendra tak kunjung keluar dari ruangannya. Semakin lama Sasa menunggu, semakin besar ketakutannya. ** Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja terbuka lagi. Javendra keluar dengan langkah biasa, seolah tidak ada kejadian apa pun tadi. Wajahnya datar seperti biasa. Sasa buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia masih menunduk dalam, tak berani menatap ke depan. "Kamu sudah paham apa yang harus kamu lakukan?" tanya Javendra santai, seolah kejadian di koridor tadi tidak pernah terjadi. Sasa pelan-pelan mendongak. Pipinya merah padam, hidungnya juga merah, dan matanya masih basah. Javendra berhenti sebentar melihatnya. "Kamu kenapa? Kok malah merah semua begitu?" Ia mengerutkan alis sedikit. "Kamu habis nangis?" Pertanyaan itu justru membuat Sasa semakin tidak kuasa menahan tangis. Air matanya turun lagi meski ia sudah berusaha keras menahannya. Rasanya sangat tidak sopan menangis di depan majikan, tapi ia tak bisa berhenti. "Maaf, Tuan..." suaranya gemetar dan serak. Ia menghapus air mata dengan cepat, tapi semakin banyak yang keluar. "Maafkan saya soal tadi. Saya tidak sengaja. Saya ... saya benar-benar minta maaf. Tolong jangan pecat saya, Tuan Javen. Saya akan kerja lebih baik. Saya janji." Sasa menunduk lagi, bahunya bergetar menahan isak. Tangan kirinya masih memegang ujung seragamnya erat-erat. "Saya butuh pekerjaan ini ... Saya nggak tahu harus ke mana lagi kalau dipecat." Suara Sasa semakin kecil di ujung kalimat. Ia menunggu vonis dari Javendra dengan tubuh yang tegang dan hati yang ketakutan. Javendra hanya berdiri di depannya, diam memperhatikan gadis yang sedang berusaha keras menahan tangis itu. Javendra menggaruk sebelah alisnya, lalu menarik napas panjang sambil menatap Sasa yang masih menahan tangis. Air mata gadis itu terus mengalir meski sudah dihapus berkali-kali. "Saya tidak mau kamu menangis begini," katanya dengan suara datar tapi tegas. "Seolah saya habis melakukan hal-hal yang merugikan kamu." Sasa kaget mendengarnya. Ia mengangguk pelan sambil menelan ludah. "Maafkan saya, Tuan. Saya hanya merasa bersalah..." Javendra menahan napas sejenak, seolah sedang menekan sesuatu dalam dirinya. Saat itu Sasa baru sadar kalau dua kancing seragamnya di bagian atas sudah lepas entah sejak kapan. Bagian dadanya yang penuh jadi agak terlihat. Ia langsung panik dan menutupinya dengan kedua tangan, wajahnya semakin merah. Javendra mengalihkan pandangan. "Saya rasa kamu butuh baju ganti segera. Saya akan minta kepala pelayan antar sekarang." Sasa sangat malu. Kepalanya tertunduk semakin dalam. "Maaf, Tuan... sekali lagi maaf." Javendra menghela napas pelan. "Jangan terlalu sering minta maaf. Lakukan saja pekerjaan dengan benar." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, "Dan mulai sekarang, lebih hati-hati." Sasa hanya bisa mengangguk cepat. Air matanya masih menggenang, tapi ia berusaha keras untuk berhenti menangis. Jantungnya masih berdegup kencang, campur aduk antara malu, takut, dan lega karena belum langsung dipecat. Javendra berbalik dan kembali ke ruang kerjanya, meninggalkan Sasa yang berdiri sendirian dengan seragam yang masih acak-acakan dan hati yang belum tenang. ** Tak lama kemudian, kepala pelayan datang ke ruang kerja Javendra sambil membawa seragam baru. Saat itu Sasa masih berdiri di samping meja kerja Tuan Javen sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan. Wajahnya merah padam karena malu. Kepala pelayan menyerahkan seragam itu dengan sopan. Sasa menerimanya dengan satu tangan sambil tangan satunya masih berusaha menutup dada. Javendra yang duduk di kursi kerjanya melirik sekilas, lalu berkata datar, “Saya akan keluar sebentar. Ganti saja di sini." “Ba … baik, Tuan,” jawab Sasa pelan. Begitu Javendra dan kepala pelayan keluar, Sasa langsung mengunci pintu. Ia menghela napas lega sekaligus gugup. Seragam baru ini memang satu tingkat lebih besar dari yang sebelumnya. Ia berharap kali ini lebih nyaman. Tapi saat melihat ukuran dadanya di cermin, Sasa kembali merasa miris. Kenapa harus sebesar ini sih? batinnya. Sebagai wanita dengan dada besar, ia selalu sulit menyesuaikan pakaian. Kadang baju longgar kelihatan jelek, baju pas malah terlalu ketat dan mencolok. Ia takut bentuk tubuhnya justru akan mengundang masalah di rumah ini. Kalau aku buat masalah lagi, pasti langsung dipecat, pikirnya cemas. Tapi di sisi lain, ia sedikit lega. Tuan Javen memang ketus dan dingin, tapi sepertinya pria itu tidak langsung menganggapnya pengganggu hanya karena tubuhnya. Sasa mulai membuka sisa seragam lama. Satu per satu kancing dilepas hingga baju itu jatuh ke lantai. Kini ia hanya memakai bra hitam yang sudah sangat ketat. Bra itu nyaris tak mampu menutupi dadanya yang penuh, hampir meluap di setiap gerakan. Saat ia sedang mengambil seragam baru untuk dikenakan, tiba-tiba saja terdengar suara klik. Sasa pun tercengang. Pintu ruangan terbuka. Javendra masuk kembali tanpa mengetuk, masih membawa beberapa berkas di tangan. Sasa membeku di tempat. Tubuhnya hampir telanjang dari pinggang ke atas. Hanya bra tipis yang nyaris tak sanggup menahan isi dadanya. “Aaak! Tuan Javen!" suara Sasa tersendat ketakutan. Javendra langsung berhenti di ambang pintu. Matanya jatuh tepat ke dada Sasa yang terpapar jelas. Bab 3 - Apa Kamu Bisa Memijat? Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu. Sasa semakin merasa bersalah. Ia cepat merapikan seragam lalu membuka pintu dengan kepala menunduk. "Maaf, Tuan… tadi saya—" "Saya yang salah," potong Javendra datar. "Saya malah asal masuk. Tadi lupa mau ambil pena yang tertinggal." Sasa meneguk ludah, lalu mengangguk cepat. "Iya, Tuan. Saya juga salah karena kelamaan. Maaf, Tuan." Javendra tidak menjawab lagi. Ia masuk ke ruangan, duduk di kursi kerjanya, lalu melepas dua kancing atas kemejanya. Sasa berdiri kaku di tempat. "Cek AC-nya," perintah Javendra. "Kenapa saya merasa gerah sekali." Sasa langsung bergerak memeriksa thermostat di dinding. Ia memastikan beberapa kali sebelum menjawab. "Suhu sudah normal, Tuan. Seharusnya tidak panas." Javendra memijat keningnya sebentar, lalu menatap Sasa yang masih berdiri di depannya. "Bajunya sudah tidak kekecilan lagi?" Sasa mengangguk pelan. "Untungnya sudah pas, Tuan. Terima kasih." Javendra mengalihkan pandangan ke arah jendela. Sasa merasa cemas. Ia takut sekali kalau kehadirannya malah membuat Tuan Javen tidak nyaman. "Ada tugas yang harus saya kerjakan sekarang, Tuan?" tanya Sasa hati-hati. Javendra mengambil selembar kertas dari laci meja dan memberikannya kepada Sasa. "Itu daftar tugasmu dari pagi sampai sore. Kadang malam saya juga butuh bantuan. Kamu kan menginap di sini. Kamarmu sudah tahu di mana, kan?" Sasa mengangguk. "Sudah, Tuan. Tadi pagi sudah diberitahu dan barang saya juga sudah ditaruh di sana." "Bagus," kata Javendra singkat. "Kalau begitu kamu bisa langsung mulai kerjakan tugasmu." "Baik, Tuan Javen." Sasa membungkuk hormat, lalu mundur keluar dari ruangan dengan kertas tugas di tangan. Meski lega karena tidak diomeli, hatinya masih gelisah. Hari ini baru mulai, tapi sudah terlalu banyak hal memalukan. Batin Sasa. Ia menarik napas dalam-dalam dan berusaha fokus pada daftar tugas. Tapi bayangan kejadian tadi terus muncul di kepalanya, membuat pipinya kembali panas setiap kali teringat. ** Sasa berdiri di koridor dan langsung memeriksa kertas tugas yang diberikan Javendra. Matanya melebar sedikit. “Wah, banyak juga ya…” gumamnya pelan. Daftar itu cukup panjang, tapi ia langsung mengangguk mantap. "Harus dikerjakan semuanya dengan benar. Jangan sampai ada yang salah lagi hari ini." Ia mulai dari tugas pertama. “Pagi hari. Siapkan kopi hitam tanpa gula untuk Tuan Javen di meja kerja.” Sasa langsung bergegas ke dapur. Ia menyeduh kopi dengan hati-hati, mengukur takarannya persis seperti yang tertulis. Setelah kopi siap, ia membawanya ke ruang kerja Javendra dan meletakkannya di meja dengan pelan. “Kopi hitamnya sudah siap, Tuan,” katanya pelan sebelum keluar. "Tugas berikutnya, membersihkan kamar tidur utama." Sasa masuk ke kamar Javendra yang luas dan rapi. Ia mengganti seprai, merapikan selimut, membersihkan debu di meja rias dan nakas, lalu menyapu dan mengepel lantai dengan teliti. “Kasur sudah rapi … debu juga sudah bersih,” bisiknya sambil mengecek sekali lagi. Ia tidak mau ada yang terlewat. Setelah itu ia ke ruang ganti pakaian, merapikan beberapa jas dan kemeja yang sedikit berantakan, lalu memasukkan pakaian kotor ke keranjang laundry. “Pakaian kotor sudah saya pisahkan, nanti sore saya cuci,” katanya dalam hati. Menjelang siang, ia kembali ke dapur untuk menyiapkan air minum dingin dan buah potong sesuai daftar. “Air putih dingin satu botol … buah potong apel dan anggur,” ucap Sasa mengingat-ingat. Ia memotong buah dengan rapi dan menyusunnya di piring kecil. Sesekali ia melirik jam. Pekerjaan memang banyak, tapi ia berusaha menikmati saja. Lebih baik sibuk daripada diam dan mikirin hal memalukan tadi, ia membatin. Sore harinya, Sasa menyelesaikan tugas terakhir di daftar. "Lalu, membersihkan perpustakaan kecil di lantai dua dan menyusun buku-buku yang agak berantakan." Ia mengelap rak buku satu per satu, menyusun buku sesuai ukuran, lalu membersihkan sofa baca di sudut ruangan. “Perpustakaan sudah bersih,” gumamnya sambil mengusap keringat di dahi. Punggungnya agak pegal, tapi ia merasa puas. Saat matahari mulai condong ke barat, Sasa kembali ke ruang kerja Javendra untuk melapor. Ia mengetuk pintu pelan. “Permisi, Tuan Javen. Semua tugas hari ini sudah saya kerjakan sesuai daftar.” Ia berdiri di depan meja dengan tangan di depan perut, menunggu instruksi selanjutnya sambil berharap tidak ada kesalahan. Javendra mengangkat wajah dari laptopnya dan menatap Sasa sebentar. Javendra menutup laptopnya pelan, lalu bersandar ke kursi sambil menatap Sasa. "Semua sudah selesai?" tanyanya. "Iya, Tuan. Sudah saya kerjakan satu per satu sesuai daftar," jawab Sasa sopan. Javendra diam sebentar, seolah menilai. Ia lalu berdiri dan berjalan mendekat ke jendela, melihat ke luar. "Bagus. Untuk hari pertama, lumayan." Sasa merasa sedikit lega mendengar pujian itu, meski suaranya tetap datar. Tapi ia tidak berani tersenyum. Ia hanya mengangguk kecil. "Ada tugas tambahan malam ini, Tuan?" Javendra berbalik menghadapnya. "Malam ini saya ada meeting online sampai jam sembilan. Siapkan makan malam ringan di jam delapan. Setelah itu kamu boleh istirahat. Tapi kalau saya panggil, langsung datang." "Baik, Tuan Javen. Saya akan siapkan makan malamnya." Sasa hendak berbalik, tapi Javendra memanggilnya lagi. "Sasmaya." Sasa berhenti dan membalikkan badan. "Ya, Tuan?" Javendra menatapnya beberapa detik sebelum bicara, "Besok pagi bangun lebih awal. Saya biasanya mulai kerja jam enam. Kopi harus sudah ada di meja jam setengah enam." "Baik, Tuan. Saya catat." Setelah Javendra mengangguk, Sasa keluar dari ruangan dengan langkah ringan. Begitu pintu tertutup, ia menghela napas panjang dan bersandar sebentar di dinding koridor. Ia langsung menuju dapur untuk mempersiapkan bahan makan malam. Sambil memotong sayur, pikirannya melayang. Pekerjaan memang banyak, tapi ia merasa sanggup. Yang membuatnya gelisah justru adalah Tuan Javen sendiri. Pria itu dingin, tapi tatapannya kadang membuat Sasa merasa… aneh. Sore berganti malam. Sasa menyelesaikan makan malam tepat waktu, salad ayam panggang dan sup jamur sesuai selera majikannya. Ia meletakkannya di meja makan utama, lalu menunggu instruksi selanjutnya. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam ketika Javendra akhirnya keluar dari ruang kerjanya. Ia terlihat sedikit lelah. Sasa langsung menyapa, "Makan malam sudah siap, Tuan." Javendra hanya mengangguk dan duduk di meja. Sasa berdiri di samping, siap melayani kalau ada yang dibutuhkan. Saat Javendra mulai makan, Sasa diam-diam mengamati pria itu. Dingin, arogan, tapi punya aura yang sulit diabaikan. Ia buru-buru menggelengkan kepala. ** Setelah Javendra selesai makan malam, Sasa segera membereskan meja makan dan memastikan semuanya kembali rapi. Waktu sudah hampir pukul sepuluh malam. Tubuhnya terasa lelah, tetapi ia cukup puas karena berhasil menyelesaikan semua tugas di hari pertamanya. "Sekarang aku boleh istirahat," gumamnya pelan sambil menghela napas ringan. Ia berjalan menyusuri koridor menuju kamar pelayan di lantai bawah. Langkahnya terasa lebih ringan karena ia sudah membayangkan mandi air hangat lalu beristirahat. Namun saat hampir sampai di ujung koridor, suara pintu terbuka membuatnya berhenti. Pintu kamar Javendra terbuka. "Sasmaya." Sasa langsung menegang. Jantungnya berdegup cepat. Apa aku melakukan kesalahan, pikirnya panik. Ia segera berbalik dan berjalan mendekat dengan kepala sedikit menunduk. "Ada apa, Tuan?" tanyanya pelan dengan suara sedikit gemetar. Javendra berdiri di ambang pintu. Kemejanya terlihat agak kusut dengan dua kancing atas terbuka. Ia menatap Sasa beberapa saat sebelum berbicara dengan suara rendah. "Apa kamu bisa memijat?" Bab 4 - Sasa Butuh Dana Cepat Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi. Jadi saya agak tahu caranya." Javendra diam mendengar penjelasan itu. Ia mengangguk pelan setelahnya. "Baiklah. Besok saya akan bicara lagi. Sekarang kamu boleh istirahat." "Terima kasih, Tuan Javen. Selamat malam," kata Sasa sambil membungkuk hormat. Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah cepat. Begitu pintu kamar tertutup, Sasa langsung menghela napas panjang dan bersandar di balik pintu. "Hari pertama … lumayan berat," gumamnya. Banyak hal yang tidak ia bayangkan, tapi setidaknya ia masih di sini. Belum dipecat. Itu sudah cukup untuk membuatnya lega. Sasa duduk di tepi tempat tidur dan mengambil ponselnya. Ada satu pesan masuk dari ibunya. Ia membukanya dan langsung tersentak. Ibunya mengirim pesan kalau beliau sudah tidak mau bertobat lagi, karna merasa tidak ada gunanya berobat. Tangan Sasa langsung gemetar. Ia cepat-cepat menekan tombol panggil. Nada sambung berbunyi lama sekali. Semakin lama, semakin panik Sasa. "Ayo, Bu… angkat…" bisiknya cemas. Akhirnya panggilan tersambung. "Bu? Ibu baik-baik saja?" tanya Sasa langsung, suaranya penuh kekhawatiran. "Ibu baik, Sa. Kamu jangan cemas," jawab ibunya pelan. "Ibu nggak lanjut bukan karena biaya, tapi ibu merasa sudah nggak akan sembuh juga." Sasa langsung menggeleng kuat-kuat. Air matanya refleks mengalir turun. "Enggak, Bu… Sasa nggak mau ibu berhenti berobat. Sasa sedang kerja sekarang. Sasa usahakan biayanya sebisanya. Tolong jangan berhenti dulu ya, Bu…" Ibunya diam sebentar, lalu bertanya, "Kerja apa, Sa? Kamu kan cuma lulus SMA. Ibu tahu berapa gaji lulusan SMA." Sasa menunduk, air matanya jatuh ke pangkuannya. Ia menelan ludah sebelum menjawab. "Sasa kerja jadi pelayan, Bu. Gajinya lumayan kok … lebih besar dibanding waktu dulu Sasa cuma bantu jaga toko tetangga." Ibunya terdengar menghela napas panjang di seberang sana. "Yang penting kamu hati-hati ya, Nak. Jangan sampai kenapa-kenapa." "Iya, Bu. Sasa janji. Besok Sasa usahakan transfer uangnya. Ibu tolong lanjut berobat lagi ya…" "Sa, kamu baru kerja lho. Kamu dapat uangnya kan nanti kalau sebulan sudah gajian. Udah, jangan dipaksakan, ibu nggak mau kamu memaksakan malah jadi kesusahan lagi nanti." Sasa terdiam, ia menutup mulutnya menahan sesak. Ia merasa ibunya terlalu banyak menahan diri karna kondisi ekonomi mereka. Dan Sasa tidak mau ibunya patah semangat, ia akan lakukan apa pun asalkan ibunya bisa kembali sehat. "Sa, ini nyambung nggak sih? Sa?" "I-Iya, Bu. Ibu tenang aja, ya. Sasa akan usahakan, kalau besok nggak bisa, Sasa akan usahakan besoknya." "Sa, ibu gak apa-apa. Kamu jangan cemas, ya. Kamu harus bisa jaga diri, kalau baru kerja kamu jangan berani-berani minta kasbon ya. Nanti bos kamu malah hilang kepercayaan sama kamu." Itu memang masuk akal, tapi Sasa juga tahu, sebagai pengidap diabetes, ibunya harus rutin cuci darah, kalau tidak kondisinya akan semakin parah. "Iya, Bu. Sasa ngerti kok. Ibu, tolong tetap sehat, ya. Sasa nggak mau ibu sakit." "Halah, Sa, kamu pasti lagi nangis, ya? Ibu nggak mau ah. Ya udah, ibu tutup ya." Sasa masih menangis pelan setelah panggilan berakhir. Ia menghapus air mata dengan punggung tangan sambil memeluk lututnya. "Kamu harus kuat, Sa," katanya dalam hati. "Apapun yang terjadi di sini, aku harus bertahan. Demi ibu." Sasa terdiam cukup lama setelah itu. Pandangannya kosong menatap lantai kamar yang dingin, sementara pikirannya berputar cepat mencari jalan keluar. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menenangkan diri. "Aku harus cari cara," gumamnya pelan. Ia tidak mungkin hanya menunggu gajian. Waktu ibunya tidak sebanyak itu. Setiap hari yang terlewat bisa membuat kondisi ibunya semakin memburuk. Sasa meraih ponselnya lagi, membuka kontak satu per satu. Tidak banyak yang bisa ia hubungi. Teman sekolahnya sudah lama tidak berkomunikasi, dan ia pun tahu keadaan mereka tidak jauh berbeda. Ia tidak punya siapa-siapa. Ia merantau sendirian ke kota ini. Tidak ada keluarga, tidak ada saudara. Hanya ibunya satu-satunya yang ia miliki, dan sekarang justru ibunya yang sedang membutuhkan pertolongan. Sasa menutup mata sejenak. Dadanya terasa sesak. "Aku harus minta tolong… tapi ke siapa?" Ia menggigit bibirnya pelan. Pilihan yang ia miliki terasa sangat sedikit, hampir tidak ada. Meminta kasbon pada majikan terlintas di pikirannya, tapi ia langsung ragu. Ia baru bekerja sehari. Belum menunjukkan apa-apa. Bagaimana mungkin ia langsung meminta uang dalam jumlah besar? Kalau ditolak, bagaimana? Kalau malah membuatnya kehilangan pekerjaan, bagaimana? Sasa menarik napas dalam-dalam, mencoba berpikir lebih jernih. Lalu tanpa sadar, bayangan wajah Javen muncul di kepalanya. Pria itu dingin, sulit ditebak, dan terkesan tidak peduli. Tapi tadi malam, ia tidak membentaknya. Bahkan masih memberinya kesempatan. Sasa membuka mata perlahan. "Apa aku harus coba minta tolong ke Tuan Javen…?" Kalimat itu terasa berat bahkan hanya untuk dipikirkan. Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam erat. Kalau ini untuk ibu, aku harus berani. Keputusan itu belum sepenuhnya bulat, tapi satu hal yang pasti, Sasa tidak akan diam saja. Besok, apa pun yang terjadi, ia harus mencoba. Pagi itu Sasa sudah bangun jauh sebelum matahari terbit. Ia memastikan semua tugasnya selesai tepat waktu, terutama satu hal yang tidak boleh terlambat. Kopi untuk Javen harus sudah siap sebelum jam enam. Dengan hati-hati, ia meletakkan cangkir kopi di meja kerja pria itu. Aroma kopi hangat langsung memenuhi ruangan. Sasa berdiri sedikit menjauh, menunggu dengan tenang meskipun pikirannya terus dipenuhi hal lain. Pintu terbuka. Javen masuk tanpa banyak suara. Tatapannya sekilas menangkap keberadaan Sasa sebelum ia berjalan mendekat dan duduk di kursinya. "Silakan kopinya, Tuan Javen," ucap Sasa pelan. Javen tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir itu, lalu menyesapnya sedikit. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia melirik Sasa. "Pas rasanya, bagus." Sasa mengangguk singkat. "Terima kasih, Tuan." Suasana kembali hening. Namun di balik sikap tenangnya, pikiran Sasa justru semakin kacau. Ia terus memikirkan percakapan semalam, tentang ibunya, tentang biaya pengobatan, tentang waktu yang terus berjalan. Apa aku bilang sekarang? Ia menelan ludah. Ini masih pagi. Javen baru saja datang. Apa tidak terlalu terburu-buru? Tangannya terasa dingin. Ia menggenggam ujung seragamnya pelan. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. "Tuan Javen, saya—" Javen mengangkat pandangannya, tepat saat Sasa akhirnya membuka suara. Dan di detik itu, kata-kata yang sudah ia siapkan mendadak terasa menghilang begitu saja. Bab 5 - Pijatan Plus Plus Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra meletakkan cangkir kopinya. Tatapannya masih tertuju pada Sasa. "Katakan saja. Kamu sudah terlanjur bicara. Saya juga mau bicara sesuatu." Sasa semakin gugup. Apa yang mau dibicarakan Tuan Javen? Apa aku melakukan kesalahan lagi? batinnya panik. Ia menunduk sebentar, tangannya menggenggam ujung seragam lebih erat. "Saya tidak jadi, Tuan. Bapak… maksud saya Tuan Javen saja yang bicara duluan," ujar Sasa pelan. Javendra terdiam beberapa saat. Ia bersandar ke kursi, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu ia bicara dengan suara rendah dan tenang. "Saya butuh dipijat. Badan saya sering pegal akhir-akhir ini, terutama bahu dan punggung. Kalau kamu bersedia, saya akan bayar di luar gaji. Langsung dibayar setelah selesai." Sasa terkejut. Ia tidak menyangka pembicaraan akan ke arah ini. Wajahnya sedikit memanas, tapi ia berusaha tetap tenang. "Itu… boleh, Tuan. Saya bisa mencoba." Javendra mengangguk kecil, ekspresinya tetap datar. "Bagus. Nanti malam setelah saya selesai meeting, kamu datang ke kamar saya. Kita lihat saja dulu." "Baik, Tuan Javen." Sasa membungkuk hormat, lalu keluar dari ruangan dengan langkah yang terasa berat. Pikirannya kacau balau. Di satu sisi ia lega karena Tuan Javen yang bicara duluan, tapi di sisi lain ia semakin gelisah. Memijat majikan di kamarnya malam-malam? Ditambah tawaran bayaran ekstra yang datang begitu saja. Sasa menggenggam tangannya sendiri sambil berjalan di koridor. Malam itu Sasa berdiri di depan pintu kamar Javendra. Tangannya gemetar saat mengetuk pelan tiga kali. "Masuk saja," jawab Javendra dari dalam. Sasa mendorong pintu dan masuk. Javendra sudah bertelanjang dada, duduk di tepi ranjang sambil menyesap wine. Sasa langsung menunduk, jantungnya berdegup kencang. "Maaf, Tuan. Saya datang seperti yang Tuan bilang tadi pagi," katanya pelan. Javendra meletakkan gelas wine-nya. "Tutup pintunya." Sasa menutup pintu di belakangnya. Ruangan terasa sangat sepi. Hanya ada mereka berdua. Ia butuh uang itu untuk ibunya, jadi meski gugup berat, ia tetap berdiri di sana. "Di mana Tuan mau dipijat?" tanya Sasa. "Punggung dan bahu," jawab Javendra. "Sering pegal." "Sebaiknya Tuan tiduran saja. Telungkup biar lebih mudah saya pijat." Javendra mengangguk dan langsung berbaring telungkup di ranjang. Punggungnya yang lebar dan penuh otot langsung terlihat jelas. Bahunya bidang, ototnya keras seperti batu. Sasa meneguk ludah berkali-kali. *Tangan aku kecil begini, sanggup nggak ya memijat tubuh sebesar ini?* Ia naik ke ranjang dan berlutut di samping Javendra. Tangan kecilnya diletakkan di bahu pria itu. "Kalau sakit, tolong bilang ya, Tuan," katanya pelan. "Hm." Sasa mulai memijat. Awalnya pelan dan hati-hati. Jemarinya menekan bahu Javendra yang keras. Ototnya sangat tegang. Ia menekan lebih kuat, menggunakan telapak tangan dan ibu jari untuk mengurut ke bawah. Javendra mengeluarkan suara pelan dari tenggorokan, seperti mendesah lega. Suara itu membuat Sasa semakin gugup. Ia terus bekerja, memijat bahu lalu turun ke punggung. Keringat mulai muncul di dahinya. Tangan kecilnya berusaha sekuat tenaga menekan titik-titik pegal. Semakin lama, semakin ia sadar betapa dekat mereka. Napas Javendra yang dalam terdengar jelas. Tubuh pria itu terasa panas di bawah tangannya. Sasa meneguk ludah lagi. Ia berusaha fokus, tapi sulit. Bahu lebar dan punggung keras itu membuat tangannya gemetar sesekali. "Di sini pegal, Tuan?" tanya Sasa saat menemukan titik yang sangat tegang di bahu kiri. "Iya. Di situ," jawab Javendra dengan suara agak serak. Sasa menekan lebih dalam. Jemarinya bekerja keras. Ia lelah, tapi tidak berhenti. Ia ingat ibunya, ingat biaya pengobatan, ingat bahwa ia butuh uang ini. Javendra sesekali mendesah pelan ketika Sasa menemukan titik yang tepat. Setiap desahan itu membuat dada Sasa berdegup tidak karuan. Ia merasa sedang melakukan sesuatu yang berbahaya, meski ini hanya pijat. Tangan Sasa sudah mulai pegal, tapi ia terus berusaha. Ia tidak tahu berapa lama sudah memijat. Yang ia tahu, malam ini terasa sangat panjang. Javendra bergeser sedikit. Otot punggungnya bergerak di bawah telapak tangan Sasa. "Cukup?" tanyanya. "Belum, Tuan. Masih ada yang tegang. Boleh saya lanjutkan sebentar lagi?" Javendra tidak menjawab dengan kata, tapi ia tetap diam di posisinya, memberi izin. Sasa melanjutkan memijat dengan tangan yang semakin lelah. Di dalam hatinya, ketegangan terus bertambah. Ia takut tangannya berhenti terlalu cepat. Ia takut Javendra tidak puas. Dan yang paling membuatnya gelisah adalah perasaan aneh yang mulai muncul setiap kali jemarinya menyentuh kulit hangat dan otot keras pria itu. Sasa terus memijat punggung Javendra dengan kedua tangan. Tubuh pria itu benar-benar keras. Semakin ia menekan, semakin ia merasa tangannya kecil sekali dibandingkan otot yang tegang di bawahnya. Karena posisinya yang berlutut dan harus menjangkau lebih dalam, tubuh Sasa tanpa sengaja condong ke depan. Dada Sasa yang penuh secara tak sengaja menyenggol punggung Javendra yang telanjang. Javendra langsung tegang. Otot punggungnya mengeras seketika. Sasa tersentak kaget. Wajahnya memucat. "Maaf, Tuan! Maaf sekali!" katanya cepat sambil menarik tubuhnya ke belakang. Suaranya gemetar karena panik. "Saya tidak sengaja." Ruangan menjadi sangat hening. Hanya terdengar napas Javendra yang lebih berat. Sasa menunduk dalam-dalam, takut sekali. Ia sudah siap kalau pria itu marah besar atau langsung menyuruhnya keluar. Tapi Javendra tidak marah. Ia malah diam cukup lama sebelum bicara dengan suara rendah dan tenang. "Kamu mau uang lebih, Sasmaya?" Sasa meneguk ludah. Kata-kata itu membuatnya terdiam. Ia mengangkat wajah pelan, matanya penuh kebingungan dan ketakutan. "Maksud Tuan apa?" tanyanya hampir berbisik. Javendra masih dalam posisi telungkup, tapi kepalanya sedikit menoleh ke samping. Suaranya terdengar jelas di tengah keheningan kamar. "Kalau kamu mau, saya bisa kasih kamu berapa pun. Tapi kamu harus melakukan apa yang saya mau." "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" Jujur saja meskipun takut, Sasa sangat tergiur dengan tawaran itu. Apalagi dia memang sedang butuh uang untuk berobat ibunya. "Mudah saja kok, saya hanya ingin dipijat lagi." Sasa menghembuskan napas panjang. "Oh, rupanya dipijat, Tuan." Sasa sedikit lega. Kalau begitu, dia tidak masalah. "Ya, kamu mau?" Sasa mengangguk. "Mau Tuan, memangnya Tuan mau dipijat dibagian mana? Lengan atau di betis? Saya juga bisa pijat di kepala, kok, kalau Tuan Javen mau." Sasa berusaha semaksimal mungkin, dia berharap uangnya bisa cukup untuk biaya cuci darah ibunya. "Saya mau kamu pijat saya dibagian lain, tapi bukan dengan tangan kamu, Sasmaya." "B-bukan dengan tangan, Tuan? lalu dengan apa, Tuan Javen?" Bab 6 - Gunakan Dadamu Yang Seksi Itu Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergetar, tapi ada sedikit harapan di dalamnya. Uang. Ia sangat membutuhkan uang itu untuk ibunya. Javendra diam sebentar. Ia perlahan berbalik dan duduk menghadap Sasa. Tubuhnya yang telanjang dada kini sangat dekat. Jarak di antara mereka nyaris hilang. Sasa bisa mencium aroma wine dan sabun mandi yang samar dari tubuh pria itu. Mata Javendra turun perlahan, menelusuri leher Sasa, lalu berhenti cukup lama di dada gadis itu yang naik turun karena gugup. Tatapannya gelap dan dalam. Setelah itu ia mengangkat pandangan dan menatap langsung ke mata Sasa. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum kecil yang jarang sekali ia tunjukkan. "Saya selalu mendapatkan apa yang saya mau, Sasmaya," katanya dengan suara rendah dan tenang. "Dan saya tidak pernah menerima penolakan." Sasa merasa tenggorokannya kering. Ia ingin mundur, tapi tubuhnya seperti membeku di tempat. "Javendra Prakasa tidak suka wanita di luar sana," lanjut Javendra pelan. "Mereka terlalu berisik, terlalu banyak maunya, terlalu banyak drama. Tapi kamu … kamu berbeda. Polos, lugu sekali, dan ketenangan kamu itu membuat saya tertarik." Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. "Saya memilih kamu bukan tanpa alasan." Sasa meneguk ludah lagi. Pikirannya masih belum bisa mengikuti sepenuhnya. Ia hanya tahu ia butuh uang. Banyak uang. Untuk cuci darah ibunya yang semakin sering. " Katakan saja, Tuan Javendra," ujar Sasa dengan suara yang berusaha ia buat tegar. "Apa yang harus saya lakukan? Saya… saya hanya ingin mendapatkan uang untuk berobat ibu saya. Itu saja tujuan saya." Javendra tidak langsung menjawab. Ia malah semakin mendekat. Tubuhnya yang besar kini benar-benar berada di hadapan Sasa. Dengan gerakan pelan, tangan kanannya terulur dan mengangkat dagu Sasa dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu menatap langsung ke matanya. Mereka sangat dekat. Sasa bisa merasakan napas hangat Javendra di wajahnya. "Pijat aku dengan dadamu yang seksi itu, Sasa," katanya perlahan, suaranya dalam dan berat. Sasa membeku. Matanya melebar sempurna. Untuk beberapa detik ia merasa seperti tidak mendengar dengan benar. "Tu-Tuan…" suaranya hilang di tenggorokan. Wajahnya memanas hebat, dari pipi sampai ke telinga. Javendra tidak melepaskan dagunya. Jempol pria itu mengusap pelan garis rahang Sasa. "Kamu dengar kan apa yang saya katakan," ujarnya lagi, nada suaranya tetap tenang tapi penuh kuasa. "Saya ingin kamu gunakan dada kamu untuk memijat saya. Bukan tangan. Bukan punggung. Tapi dada kamu yang lembut dan penuh itu." Sasa merasa dunianya berputar. Jantungnya berdegup begitu keras sampai terasa sakit di dada. Ia menunduk sebisa mungkin, tapi tangan Javendra masih memegang dagunya, tidak membiarkannya kabur dari tatapan itu. "Ini… ini bukan pijat biasa, Tuan," bisik Sasa. Suaranya bergetar hebat. "Saya … saya tidak pernah melakukan hal seperti ini. Dan saya tidak kepikiran, apa Tuan serius? Saya rasa saya nggak pantas, Tuan." "Saya tahu," jawab Javendra. "Itu justru yang membuat saya menginginkannya. Saya sangat serius, Sasmaya." Ruangan terasa semakin panas. Sasa bisa merasakan panas yang keluar dari tubuh Javendra. Pria itu masih menatapnya tanpa berkedip, menunggu jawaban. Senyum kecil itu masih ada di bibirnya, tapi matanya serius dan penuh hasrat yang sudah lama tertahan. Sasa memikirkan ibunya. Tagihan rumah sakit. Cuci darah yang harus dilakukan rutin. Uang yang ia janjikan besok. Semua itu berputar di kepalanya seperti badai. Tapi ini jauh di luar batas yang ia bayangkan. "Tuan Javen … saya takut," aku Sasa jujur. Air matanya hampir turun. "Saya hanya pelayan. Saya tidak tahu harus bagaimana." Javendra mengusap dagu Sasa sekali lagi dengan lembut sebelum akhirnya melepaskan tangannya. Tapi ia tidak mundur. Tubuh mereka masih sangat dekat. "Kamu tidak perlu takut," katanya pelan. "Saya tidak akan memaksa kamu malam ini kalau kamu benar-benar tidak mau. Tapi ingat, Sasmaya. Semakin kamu memuaskan saya, semakin besar uang yang akan saya berikan." Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat ke telinga Sasa dan berbisik. "Dan saya bisa memberikan jumlah yang bisa mengubah hidup kamu dan ibu kamu." Sasa menutup mata rapat-rapat. Tubuhnya gemetar. Di satu sisi ia merasa jijik dengan tawaran itu, di sisi lain ia sangat tergoda. Uang. Banyak uang. Hanya dengan melakukan sesuatu yang menurut Javendra sederhana. Napasnya tersengal. Ia membuka mata perlahan dan menatap dada bidang Javendra yang naik turun di depannya. "Berapa… berapa yang Tuan akan berikan?" tanya Sasa dengan suara kecil, hampir tidak percaya dirinya sendiri sudah bertanya seperti itu. Javendra tersenyum kecil lagi. Ia tahu, Sasa sudah mulai goyah. "Kita bicarakan setelah kamu selesai memijat saya dengan cara yang saya mau," jawabnya. "Sekarang, putuskan. Mau atau tidak?" Sasa menunduk dalam-dalam. Kedua tangannya saling meremas kuat di pangkuan. Pikirannya kacau, ia juga malu dan takut. Tapi juga putus asa karena kondisi ibunya. Malam itu, di kamar utama yang mewah dan sepi, Sasmaya Larasati berdiri di persimpangan. Satu langkah lagi, dan hidupnya tidak akan pernah sama. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras sampai terasa sakit. "Tuan Javen…" suaranya keluar hampir tidak terdengar. Javendra menunggu dengan sabar, mata pria itu tidak lepas sedikit pun dari wajah Sasa yang memerah dan penuh konflik. Udara di kamar terasa semakin berat. Dan keputusan Sasa selanjutnya akan menentukan segalanya. Bab 7 - Kondisi Yang Mendesak di Tengah Transaksi Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wajah Sasa. Ia masih duduk sangat dekat, tubuh telanjang dadanya berada tepat di depan gadis itu. "Saya tahu itu bukan pijat biasa," jawabnya pelan. "Tapi itu yang saya inginkan dari kamu malam ini." Sasa langsung menggeleng. Tangannya gemetar hebat di pangkuannya. "Tidak, Tuan. S-saya tidak bisa. Saya hanya pelayan. Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tolong jangan minta saya begitu." Suara Sasa bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasa malu bercampur takut membuat dadanya sesak. Ia ingin turun dari ranjang dan lari keluar dari kamar ini, tapi kakinya terasa lemas. Javendra tidak marah. Ia malah mengulurkan tangan lagi dan menyentuh dagu Sasa dengan lembut, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. "Kamu butuh uang, kan?" tanyanya dengan suara rendah. "Untuk ibu kamu. Berapa yang kamu butuhkan? Lima puluh juta? Seratus juta? Saya bisa kasih lebih dari itu. Malam ini saja." Sasa menutup mata rapat-rapat. Air matanya jatuh ke pipi. Kata-kata Javendra sangat menggoda, tapi permintaannya terlalu berat. "Saya... saya malu, Tuan," bisik Sasa sambil menangis pelan. "Saya takut. Saya tidak mau tubuh saya disentuh seperti itu. Tolong mengerti." Javendra mengusap air mata Sasa dengan ibu jarinya. Gerakannya pelan, hampir lembut, tapi tatapannya tetap penuh kuasa. "Saya tidak akan memaksa kamu," katanya. "Tapi saya juga tidak suka berputar-putar. Saya suka kamu, Sasmaya. Kepolosan kamu. Kebaikan kamu. Dan tubuh kamu yang membuat saya ingin menyentuhnya sejak hari pertama kamu masuk ke rumah ini." Sasa menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya kacau. Ia membayangkan ibunya yang sedang sakit di kampung, yang mungkin sekarang sedang kesakitan karena tidak ada biaya cuci darah. Uang yang ditawarkan Javendra bisa mengubah semuanya. Tapi harga yang harus dibayar. "Tuan Javen," suara Sasa pecah. "Saya benar-benar butuh uang itu. Tapi... saya bukan perempuan seperti itu. Saya takut setelah ini Tuan akan memandang saya rendah." Javendra mendekatkan wajahnya hingga napas mereka bercampur. "Saya tidak akan memandang kamu rendah," bisiknya. "Justru saya semakin menginginkan kamu. Karena kamu berbeda dari wanita-wanita lain." Ruangan terasa semakin panas. Sasa bisa merasakan panas tubuh Javendra yang begitu dekat. Dadanya yang besar naik turun cepat karena gugup. Javendra menatap ke sana sebentar sebelum kembali ke mata Sasa. "Putuskan sekarang," kata Javendra lagi, suaranya semakin dalam. "Kamu mau ambil uang itu dengan cara yang saya mau, atau kamu keluar dari kamar ini dengan tangan kosong?" Sasa menangis lebih keras meski berusaha menahannya. Ia menggigit bibir bawahnya sampai terasa sakit. Pikirannya berperang hebat. Sasa menangis pelan sambil menggelengkan kepala. Rasa malu dan putus asa bercampur jadi satu di dadanya. "Tuan,.saya tidak bisa," bisiknya dengan suara bergetar. "Saya malu sekali. Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tolong jangan paksa saya." Javendra tetap tenang. Matanya menatap Sasa dalam-dalam, tidak ada tanda-tanda ia akan mundur. Saat itu ponsel Sasa yang tergeletak di nakas bergetar keras. Sasa tersentak kaget. Ia melihat layar ponsel sebentar lalu langsung menatap Javendra dengan wajah pucat. "Tuan, ini ibu saya, beliau telepon. Boleh saya angkat sebentar? Saya khawatir ada apa-apa dengan ibu saya." Javendra diam sebentar, lalu mengangguk pelan. "Angkat saja, Sasmaya." Sasa langsung meraih ponselnya dengan tangan gemetar. "Halo, Bu, ada apa?" suaranya masih basah karena menangis. "Sa, ini Bu Siti, tetangga depan rumah kamu," kata suara perempuan di seberang dengan nada panik. "Ibu kamu pingsan tadi sore di depan rumah. Aku nemuin dia sudah tergeletak. Sekarang sudah dibawa ke Puskesmas. Kondisinya memburuk, Sa. Dokter bilang harus segera cuci darah, tapi mereka minta deposit dulu. Kamu bisa kirim uang sekarang tidak? Kalau telat, ibu kamu bisa kenapa-kenapa." Sasa merasa seperti disiram air dingin. Wajahnya memucat total. Air matanya langsung mengalir deras. "I-Ibu pingsan?" suaranya pecah. "Bu Siti, tolong jaga ibu saya ya! Saya ... saya akan usahakan uangnya secepat mungkin. Tolong bilang ke dokter, tolong Bu Siti agar ibu saya di rawat dulu." "Sa, kamu usahakan saja uangnya, ya. Kata dokter ditunggu sampai malam ini." "B-Baik, Bu Siti. Terima kasih, saya titip ibu ya, Bu Siti." Sasa menutup telepon dengan tangan yang sangat gemetar. Ponsel itu hampir jatuh dari genggamannya. Ia menunduk dalam-dalam, bahunya naik turun menahan isak tangis yang semakin keras. Javendra yang sejak tadi diam memperhatikan, akhirnya bertanya dengan suara rendah. "Ada apa dengan ibu kamu?" Sasa tidak langsung menjawab. Ia hanya menangis sambil menggenggam ponsel erat-erat. Semua tawaran Javendra tadi kini terasa seperti tali yang mencekik lehernya. Di satu sisi ia sangat malu dan takut, di sisi lain ia tahu ini mungkin satu-satunya jalan cepat untuk menyelamatkan ibunya. Ia mengangkat wajahnya yang basah air mata, menatap Javendra dengan pandangan putus asa. "Tuan Javen..." suaranya serak dan kecil. "Ibu saya, kondisinya buruk. Dia pingsan dan harus cuci darah sekarang juga. Mereka butuh uang deposit..." Sasa menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan. "Saya ... saya sangat butuh uang itu, Tuan." Ruangan kembali hening. Javendra menatap Sasa tanpa berkata apa-apa, matanya gelap dan sulit dibaca. Tawaran yang menggantung di udara kini terasa semakin berat. "Baiklah, kamu hanya perlu putuskan, Sasmaya. Apakah kamu menerima tawaranku tadi?"