Đang tải thông tin quảng bá...
Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta
Tiga bulan sebelum cerai, dia mengajukan permohonan pindah kerja. Sebulan sebelum cerai, dia mengirimkan surat perjanjian cerai pada Jason. Tiga hari sebelum cerai, dia membereskan semua barang-barang...
Chương (1)
第1章
Tiga bulan sebelum cerai, dia mengajukan permohonan pindah kerja.
Sebulan sebelum cerai, dia mengirimkan surat perjanjian cerai pada Jason.
Tiga hari sebelum cerai, dia membereskan semua barang-barangnya dan pindah dari rumah mereka.
...
Hubungan enam tahun kandas begitu saja. Clara tersadar sepenuhnya di saat Jason muncul di hadapannya bersama cinta pertamanya. Anak cinta pertamanya juga memanggil Jason dengan sebutan 'Ayah'.
Lantaran Jason terus membuat Clara menoleransi kehadiran cinta pertamanya beserta putranya, seolah-olah Clara itu simpanan yang hanya bisa disembunyikan, lebih baik dia mengakhiri pernikahan mereka dan merestui Jason dengan cinta pertamanya.
Namun di saat Clara sepenuhnya menghilang dari dunianya, Jason menjadi gila.
Dia mengira Jason akan mendapatkan apa yang diinginkannya dan menikahi cinta pertamanya. Namun, Clara tidak menyangka pria yang begitu arogan itu akan mengemis cinta padanya di depan media dengan mata merah.
"Aku nggak selingkuh. Aku juga nggak punya anak haram. Aku cuma punya istri yang nggak menginginkanku lagi. Namanya Clara Sengadi. Aku merindukannya!"
Bab 1
"Clara, kamu sudah pikirkan baik-baik? Kamu sungguh mau dipindahkan ke Rumah Sakit Joria?"
Martin Johanus, kepala rumah sakit, memegang surat permohonan mutasi Clara Sengadi dan menatapnya dengan heran.
Bulu mata Clara sedikit bergetar. Dia tersenyum pahit. "Aku sudah memikirkannya."
Melihat Clara telah mengambil keputusan, Pak Martin pun menghela napas dan menandatangani permohonan mutasi itu.
Clara keluar dari kantor kepala rumah sakit. Di koridor, dia bertemu Jason Horman, Sindy Wongso yang mengenakan jas putih, beserta anak laki-lakinya.
Langkahnya terhenti sejenak.
Yang terlihat adalah pemandangan indah keluarga beranggotakan tiga orang.
Sindy menggandeng tangan anak laki-laki itu dan berjalan berdampingan dengan Jason. Anak laki-laki itu menggenggamnya dengan tangan satunya dan tersenyum ceria.
Adegan ini pastinya membuat Clara tidak nyaman.
Jason memperlakukan Sindy dan anak laki-laki itu dengan kesabaran dan kelembutan yang belum pernah dialami Clara sebelumnya.
Clara tahu Jason membencinya.
Sindy adalah cinta pertama Jason. Dulu sewaktu Clara membuat kesepakatan dengan Nenek Ratna Yuniar dan menikahi Jason sesuai keinginannya, dia baru tahu kalau mereka berdua putus.
Bagi Jason, Clara adalah wanita kejam yang memanfaatkan situasinya dan menggunakan berbagai cara untuk menjadi Nyonya Horman.
Namun, Jason tidak tahu.
Clara mengenal Jason lebih awal dari Sindy. Hanya saja, pria itu tidak mengingatnya lagi...
Clara berpikir asalkan dia menikah dengan Jason, pria itu akan mengingatnya.
Dia juga mengira bisa menghangatkan hati Jason yang dingin.
Namun, Clara sepenuhnya salah.
Jason membencinya.
Bagaimana mungkin pria itu akan mencintainya?
Kalau tidak, setelah enam tahun menikah, kenapa Jason mengatakan kepada publik bahwa dirinya masih lajang? Dia juga berpura-pura tidak mengenal Clara.
"Dokter Clara?" Sindy melihatnya.
Jason mengerutkan kening dan menatapnya.
Seolah-olah takut Clara akan mengungkapkan hubungan mereka.
Penghindaran Jason membuat hati Clara sakit sesaat, tetapi dia segera menenangkan diri. "Bu Sindy, Pak Jason."
Jason baru-baru ini berinvestasi di Rumah Sakit Pusat dan sekarang menjadi pemegang saham rumah sakit.
Namun, Clara tahu pria itu berinvestasi di rumah sakit bukan karena dirinya, tetapi demi Sindy.
Sejak Sindy kembali ke tanah air, Jason-lah yang mengatur agar wanita itu bekerja di sana. Begitu tiba di rumah sakit, Jason langsung memberinya posisi direktur bedah.
Semua orang di rumah sakit tahu Sindy mendapat dukungan dari Jason. Namun, Jason sendiri tidak pernah menjelaskan tentang rumor yang beredar di rumah sakit, yang mana menyebutnya sebagai pacar Sindy.
Sindy tidak segan menggenggam lengan Jason dan berkata, "Dokter Clara, kamu terlalu sungkan. Di rumah sakit ini, kamu adalah seniorku. Aku baru saja bergabung, jadi masih butuh arahan dari Dokter Clara."
Sebelum Clara sempat bicara, anak laki-laki di samping memeluk Jason dan berkata, "Ayah, aku capek. Ayah gendong aku ya?"
Ekspresi Clara tiba-tiba berubah.
Anak itu memanggilnya ayah?
Sindy berpura-pura marah. "Stefan, kok asal panggil begitu?" Sembari berbicara, dia juga menatap Jason dengan ekspresi bersalah. "Maaf, Jason. Anak-anak nggak ngerti."
Jason melirik Clara sekilas. Ekspresi wajah pria itu tidak menunjukkan emosi. Dia hanya menggendong Stefan Wongso dan berkata, "Nggak apa-apa."
"Aku suka Ayah Jason!"
Stefan memeluk lehernya dan berkata dengan manja, "Alangkah baiknya kalau Ayah Jason adalah ayahku!"
"Kamu benar-benar, deh." Sindy mengetuk pelan kepala anaknya.
Clara mengepalkan tangannya.
Dia belum pernah melihat Jason yang begitu lembut dan penuh perhatian seperti ini.
Sudahlah.
Lagi pula, Clara tidak bisa menghangatkan hati pria itu.
Begini juga bagus.
Clara memaksakan diri untuk menahan kesedihan di hatinya. Dia berjalan melewati mereka bertiga dan memasuki lift.
…
Kenyataan bahwa Clara mengajukan permohonan pindah belum dipublikasikan. Dia juga tidak memberi tahu hal itu pada Jason karena merasa tidak perlu.
Toh, pria itu mungkin juga tidak tertarik.
Clara menyetir ke rumah lama Keluarga Horman. Dia berdiri di luar pintu dan membunyikan bel.
Tak lama kemudian, pengasuh, Lina Suadi keluar dan membukakan pintu. "Nyonya Clara, kamu sudah kembali?"
"Nenek ada di rumah?"
"Nyonya Ratna ada di rumah. Silakan masuk." Bi Lina sangat sopan pada Clara.
Nyonya Ratna adalah tetua yang sangat dihormati di Keluarga Horman. Setelah kakeknya Jason meninggal, urusan Keluarga Horman, baik besar maupun kecil, semuanya ditangani oleh Nyonya Ratna.
Nyonya Ratna berasal dari wilayah Selatan. Keluarganya adalah seorang konglomerat bisnis di wilayah Selatan. Semasa mudanya, dia adalah wanita yang kuat dan teguh. Meskipun ibu mertua tidak menyukainya, juga tidak berani mempersulitnya di depan Nyonya Ratna.
Bi Lina membawanya ke ruang sembhayang. Nyonya Ratna sedang berlutut di atas bantal sambil menggerakkan gelang Bodhi di tangannya.
"Nyonya Ratna, Nyonya Clara datang."
Nyonya Ratna perlahan membuka matanya dan menoleh, "Ayo duduk di sini."
Setelah Bi Lina pergi, Clara ikut berlutut di samping Nyonya Ratna dan memuja patung Buddha dengan khusyuk.
Nyonya Ratna percaya pada ajaran Buddha. Dia sering pergi ke kuil untuk membakar dupa. Apalagi, sekali pergi bisa sampai setengah bulan.
"Nenek, aku mau cerai sama Jason."
Bab 2
Nyonya Ratna tertegun sejenak, lalu menoleh ke arahnya. "Bukan ini yang kamu katakan sewaktu membuat kesepakatan denganku. Kenapa? Kamu menyesal?"
Iya, dia menyesal.
Clara menundukkan pandangannya dan berusaha menahan kepahitan di matanya. "Maaf, aku sudah mengecewakan Nenek."
Nyonya Ratna memejamkan mata dan menghela napas. "Ya sudah. Kalau kamu mau cerai, ya cerai saja. Aku sudah kasih kamu kesempatan. Karena kamu nggak bisa bikin Jason jatuh cinta padamu, Keluarga Horman nggak berutang padamu lagi."
Hati Clara mendadak terasa pilu, lalu dia tertawa serak. "Terima kasih."
…
Sekembalinya di Vila Harmoni.
Di saat itu juga, Clara bertemu Jason, Sindy beserta anaknya di lantai bawah.
Keduanya kembali dengan mobil Jason.
Clara tertegun sejenak.
Sindy menatapnya dengan heran. "Dokter Clara? Kamu juga tinggal di Vila Harmoni?"
Dia refleks menatap Jason.
Jason bahkan tidak menunjukkan sikap apa pun.
Makin tenang pria itu, makin sakit pula hati Clara.
Vila Harmoni adalah kompleks perumahan mewah di pusat Kota Bovia. Ini juga merupakan salah satu aset Keluarga Horman. Rumah ini adalah kompensasi yang dijanjikan Jason padanya.
Lantaran dekat dengan rumah sakit, Clara pun menerimanya.
Namun, dia tidak menyangka Jason juga akan mengatur Sindy dan anaknya tinggal di sini.
Dia benar-benar tidak sabar lagi…
"Kebetulan sekali."
Clara menahan emosinya dan bersiap pergi. Sindy tiba-tiba berkata, "Dokter Clara, kudengar kamu sudah nikah. Kok nggak pernah lihat suamimu?"
Langkah Clara tiba-tiba membeku.
Suami?
Dia melirik Jason.
Tatapan Jason dipenuhi kesuraman.
Clara mendengus dalam hatinya. Apa Jason begitu takut Sindy tahu hubungan mereka?
Clara berkata dengan nada datar, "Aku nggak punya suami."
Tatapan mata Jason yang tadinya suram pun berubah lebih tenang.
"Nggak punya suami? Tapi bukannya Dokter Clara sudah menikah?" Sindy masih tersenyum.
Menikah…
Di resume rumah sakit, dia mencantumkan statusnya sebagai menikah.
Namun, tidak ada seorang pun yang pernah melihat suaminya.
Clara tersenyum. "Aku cuma iseng-iseng saja. Aku nggak punya suami."
Tidak punya suami?
Jason menyipitkan matanya.
Lantaran sudah mengundurkan diri dan memutuskan untuk pergi, Clara tidak tertarik mengungkapkan dirinya sudah menikah atau tidak.
Tidak repot-repot menggubris orang-orang di belakangnya, Clara pun berjalan memasuki gedung perumahan tanpa menoleh ke belakang.
...
Malam harinya.
Clara menyimpan semua barang-barang miliknya dan mengemas dua koper besar di ruang ganti.
Matanya tertuju pada bingkai foto pernikahan mereka. Di dalam foto itu, Clara mengenakan gaun pengantin dan menggamit lengan Jason dengan senyum menawan. Sangat kontras dengan Jason yang berwajah dingin.
Saat itu, Clara mengira Jason tidak suka tersenyum.
Walau hanya ada satu foto bersama, Clara sangat menghargainya.
Namun jika dilihat sekarang, semuanya penuh dengan ironi.
Jason bukan tidak suka tersenyum.
Clara hanya tidak pantas mendapatkan senyumannya.
Dia mengambil bingkai foto itu dan melihat untuk terakhir kalinya. Kemudian, memasukkannya ke dalam kotak kardus dan menyimpannya di ruang ganti bersama dengan barang-barangnya yang ditinggalkannya.
Saat keluar dari kamar tidur, dia mendengar suara gaduh dari ruang tamu.
Dia tahu Jason telah kembali.
Clara berjalan ke ruang tamu. Dia melihat Jason menggantung jasnya di gantungan pintu masuk dan mengganti sepatunya.
Clara menarik napas dalam-dalam dan berjalan mendekatinya. "Kamu nggak berencana menjelaskan masalah hari ini?"
Masalah Jason mengatur agar Sindy dan anaknya tinggal di Vila Harmoni.
Jason melepas dasinya. Tatapannya dingin. "Apa yang mau aku jelaskan?"
"Vila Harmoni dekat dengan rumah sakit. Kamu saja tinggal di sini, kenapa mereka nggak boleh?"
Jason menggantungkan dasinya di sikunya dan menatapnya. "Clara, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jangan terlalu picik."
Kata-kata itu sungguh membuat hati Clara pedih.
Apa dia picik?
Ya, di mata Jason, Clara telah mendapatkan posisi Nyonya Horman. Sekarang dia masih ingin bersaing dengan Sindy dan anaknya. Bukankah itu namanya picik?
Jason bersiap masuk ke kamarnya, tetapi Clara menghentikannya dan berkata, "Ayo kita bicara."
Jason berhenti dan berbalik dengan tidak sabar. Dia menatap Clara dengan tatapan acuh tak acuh. "Ada apa lagi?"
"Kita cerai saja."
Clara perlahan melepas cincin nikahnya dan memegang di tangannya. "Aku kasih kamu kebebasan."
Bab 3
Jason sepertinya tidak menyangka Clara akan meminta cerai. Raut wajahnya makin muram. "Aku nggak akan setuju untuk bercerai."
Clara tercengang.
Dia tidak mau cerai. Jangan-jangan…
Pria itu terus melanjutkan, "Nenek juga nggak akan setuju."
Kemudian, terdengar suara pintu ditutup.
Clara terpaku selama beberapa saat. Hatinya seakan tersumbat sesuatu. Dia merasa pemikiran yang sempat muncul di benaknya barusan agak menggelikan.
Mana mungkin Jason tidak mau bercerai karena dia?
Dia cuma takut Nenek Ratna tidak setuju saja.
Sayangnya, dia tidak tahu kalau Nenek Ratna telah menyetujuinya.
Keduanya mengakhiri malam itu dengan tidak gembira dan tidur di kamar terpisah. Keesokan paginya, setelah pengasuh datang bekerja, Jason sudah menghilang.
Clara sarapan sendirian seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah membersihkan kamar, pengasuh pun keluar dan bertanya, "Nyonya, kok banyak barang di rumah yang menghilang?"
Clara tertegun sejenak.
Bahkan, pengasuh pun menyadari barang di rumah banyak yang menghilang.
Jason justru tidak menyadarinya.
Peduli atau tidak, semuanya terlihat jelas.
Dia memaksakan senyum dan berkata, "Barang-barang itu sudah usang, jadi sudah kubuang. Semuanya barang-barang nggak penting."
Pengasuh juga tidak bertanya lagi.
Siang harinya, Clara mendapat telepon dari kepala rumah sakit yang mengabarkan ada operasi besar yang harus dilakukan. Apalagi, kondisi pasien sangat kritis. Dokter kraniotomi sedang dinas dan hanya Clara yang bisa melakukannya.
Clara bergegas ke rumah sakit. Setelah berganti pakaian operasi, dia langsung masuk ke ruang gawat darurat. Semua dokter yang bertugas ada di sana, termasuk Sindy.
Seluruh ruang gawat darurat dipenuhi bau darah yang kuat.
Berbeda dengan dokter lain yang maju untuk memeriksa luka pasien, Sindy bahkan tidak berani mendekati pasien dan terus menahan mual dan muntah-muntah.
"Dokter Clara, kamu sudah datang." Dokter anestesi berjalan mendekatinya. "Pasien jatuh dari lokasi konstruksi dan baru saja dibawa ke rumah sakit. Pasien sekarang nggak sadarkan diri."
Saat melihat kondisi pasien yang kritis, Clara juga terkesiap.
Batang baja sepanjang 20 sentimeter menembus kepala dan mata pasien. Meski pasien kini tidak sadarkan diri, tanda-tanda vitalnya masih ada. Ini sungguh keajaiban!
Sindy menahan rasa mualnya dan berkata, "Dokter Clara, kamu sungguh bisa melakukan operasi ini? Kalau nggak berhati-hati, pasien bisa meninggal."
"Kalau aku nggak bisa, kamu bisa?"
Perkataan Clara membuat raut wajah Sindy berubah jelek.
Clara mengenakan sarung tangan dan memberi instruksi pada dokter lainnya. "Pertama, lakukan kraniotomi untuk mendekompresi otak dan mengeluarkan gumpalan darah."
Dokter anestesi dan dokter lainnya sudah siap.
Sindy menggigit bibirnya dan bertanya, "Bagaimana kalau aku ikut bantu?"
"Yang nggak berkepentingan, tolong keluar dulu." Melihat penampilannya barusan, Clara tahu bahwa tidak ada gunanya mempertahankan Sindy di sana.
"Tapi…"
"Bu Sindy, kondisi pasien kritis. Sebaiknya kamu keluar dulu dan tenangkan keluarga pasien."
Tidak ada satu pun dokter bedah di rumah sakit pusat yang berani melakukan operasi ini, karena kesalahan sekecil apa pun bisa menghancurkan seluruh karier mereka.
Apalagi, semua orang juga telah melihat bagaimana sikap Sindy sejak dia datang.
Kalau saja bukan karena latar belakangnya, mereka pasti sudah memarahinya.
Sindy mengepalkan tangannya dan terpaksa meninggalkan ruang operasi.
…
Setelah memastikan tidak ada kerusakan pada batang otak dan tidak ada cedera pembuluh darah otak yang jelas, Clara beserta timnya menghabiskan waktu lima jam untuk melepaskan batang baja dan melakukan operasi rekonstruksi dasar tengkorak.
Operasi berlangsung hingga malam hari. Setelah melihat tanda-tanda vital pasien stabil, semua orang baru menghela napas lega.
Usai operasi, dokter lainnya segera memberi tahu keluarga pasien.
Clara pergi ke kantor kepala rumah sakit.
Pak Martin sangat gembira saat mengetahui operasinya berhasil. "Clara, ini semua berkat kamu."
"Bukan cuma aku saja, tapi kerja sama tim yang baik. Pasien juga cukup beruntung karena batang baja itu menembus otaknya tanpa merusak struktur vital apa pun. Kalau nggak, siapa pun nggak akan bisa menyelamatkannya."
Pak Martin mengangguk dan mencoba membujuknya untuk tetap tinggal. "Kamu sungguh nggak mau mempertimbangkan mutasimu lagi?"
Dia paling jelas dengan kemampuan Clara. Bukan hanya karena dia adalah dokter bedah termuda saja, tetapi dia juga seorang wanita. Ini adalah hal langka di dunia medis.
Kota Joria termasuk kota kecil dan tunjangan rumah sakit tidak sebaik di Kota Bovia. Sayang sekali dia harus meninggalkan fasilitas sebaik itu dan memilih untuk pindah ke Rumah Sakit Joria.
Clara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku sudah putuskan, tapi jangan khawatir. Kalau Pak Martin butuh bantuanku kelak, aku pasti akan datang membantumu pas senggang."
Mendengar itu, Pak Martin tidak lagi memaksanya.
Setelah meninggalkan kantor kepala rumah sakit, dia melihat Jason berjalan mendekatinya dengan langkah besar.
Clara berhenti dan hendak berbicara.
Pria itu berjalan melewatinya dan hanya berkata, "Dokter Clara, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Clara dan Jason berjalan ke balkon. Clara baru saja selesai operasi dan sebenarnya sangat lelah. Wajahnya tampak kelelahan. "Kamu cari aku…"
"Kenapa kamu menargetkan Sindy di ruang operasi tadi?"
Bab 4
Tubuh Clara menegang. Dia memandang Jason dengan tidak percaya. "Aku menargetkannya?"
Jadi, Jason datang mencarinya karena masalah Sindy?
"Dia atasanmu. Apa pun yang terjadi, kamu nggak seharusnya mempermalukannya di depan banyak orang." Jason memperlakukannya dengan adil dan tidak ada sedikit pun kasih suami istri di dalamnya.
Clara menahan kepahitan di hatinya dan tiba-tiba tertawa. "Kamu pasti lupa kalau akulah dokter bedah utama. Bukannya aku punya hak ini?"
"Kalau begitu, kamu mungkin juga lupa," kata Jason dengan nada sinis. "Aku juga punya hak untuk mengganti dokter bedah."
Hati Clara serasa dihantam benda tumpul. Dia bergetar hebat.
Sayang sekali.
Dia sudah mengajukan permohonan pindah kerja.
Jason mau menggantinya atau tidak, bukan urusannya lagi.
"Kelak jangan…"
"Kalau Pak Jason mau ganti, silakan saja."
Clara menyelanya.
Senyum Jason membeku. Perlahan, tatapannya makin dalam.
Dulu, Clara hanya memanggilnya Pak Jason atau Tuan Jason saat berada di depan orang lain.
Kalau hanya mereka berdua saja, dia tidak akan menyebutnya seperti itu.
Wanita itu juga tidak akan menjauhkannya.
"Kamu panggil aku apa?"
"Pak Jason." Clara menjawab dengan tenang, "Bukannya kamu ingin aku memanggilmu seperti itu?"
Jason mengerutkan keningnya.
Tepat saat dia mau mengatakan sesuatu, seorang perawat tiba-tiba berlari keluar. "Dokter Clara, keluarga pasien entah kenapa malah bertengkar dengan Bu Sindy!"
Sebelum Clara sempat bereaksi, pria di sampingnya sudah meluncur begitu saja dan hanya memperlihatkan punggungnya.
Melihat betapa gugupnya Jason saat mengetahui Sindy dalam masalah, Clara tidak bisa menahan tawa...
Kapan Jason pernah gugup karena dirinya?
Entah apa alasannya, keluarga pasien mulai berdebat dengan Sindy di luar bangsal.
Saat Clara tiba, dia mendengar teriakan Sindy.
Dia menerobos kerumunan dan melihat Jason tengah melindungi Sindy. Pria itu mencegah keluarga pasien memukul Sindy. Sindy sendiri meringkuk ketakutan di pelukannya. Dia tampak kasihan.
Keluarga pasien jelas ketakutan oleh aura Jason. "Siapa…siapa kamu?"
Jason mendorong anggota keluarga pasien dan berkata, "Kalau ada masalah, kenapa nggak dibicarakan baik-baik? Mengapa harus menggunakan kekerasan?"
"Tanya saja padanya!" Keluarga pasien menunjuk Sindy dan berkata dengan marah, "Putraku baru saja dioperasi dan nyawanya terselamatkan. Sebagai seorang dokter, dia berani mengeluhkan luka putraku saat datang memeriksa. Kalau dia nggak tahan, buat apa dia jadi dokter?"
"Bukan begitu…" Sindy menggelengkan kepalanya dan menatap Jason dengan mata memerah. "Jason, aku salah makan tadi pagi. Perutku nggak nyaman, jadi aku baru mual. Bukan karena kondisi pasien."
Jason bergumam, "Serahkan saja padaku."
Jason memandang keluarga pasien dan berkata, "Dia lagi nggak enak badan, bukan sengaja. Begini saja. Biar aku yang tanggung biaya rawat inap pasien."
Mendengar hal itu, keluarga pasien yang mulanya tidak senang pun mendadak segan untuk mempermasalahkannya lagi. Mereka pun membiarkan masalah itu berlalu.
"Sialnya!" Keluarga pasien pun kembali ke bangsal.
"Maaf, Jason. Aku sudah merepotkamu," kata Sindy dengan nada bersalah. "Sebenarnya, kamu nggak perlu membantuku. Bagaimana kalau kamu terluka?"
Jason tersenyum dan berkata, "Yang penting kamu baik-baik saja."
"Bu Sindy, Pak Jason itu pacarmu, 'kan?"
Sindy menunduk dan tersipu malu. "Bukan. Kalian jangan sembarangan…"
"Masih bilang bukan. Lihat, betapa serasinya kamu dengan Pak Jason!"
Yang lainnya juga ikut bersorak dan menimpali.
Jason memandang ke arah kerumunan.
Tatapan Clara bertemu dengan pria itu. Hatinya terasa seperti dicubit seseorang dan penuh dengan kepahitan.
Betapa serasinya suaminya dengan wanita lain.
Buat apa dia tinggal di sini lagi?
Bab 5
Wajah Jason mendadak muram. Tepat di saat dia ingin melepaskan Sindy, wanita itu malah menahannya. "Jason, aku masih nggak enak badan. Bisa nggak temani aku ambil obat?"
Pria itu mengerutkan kening. Dia mengalihkan pandangannya dari sosok Clara yang menghilang dan bergumam pelan.
Jason menemani Sindy ke ruang farmasi untuk mengambil obat. Sindy menoleh. Melihat pria itu tidak fokus, dia pun tersenyum dan mendekatinya. "Jason, Stefan ingin masuk TK swasta, tapi dia masih belum punya KK. Boleh nggak untuk sementara biarkan Stefan masuk ke KK-mu..."
Khawatir Jason akan menolaknya, Sindy pun menambahkan. "Jangan khawatir, hanya sementara saja. Nggak akan ada yang tahu."
Jason menatapnya.
Sindy tidak berani menghindari tatapannya, tetapi diam-diam mengepalkan tangannya. "Jason, kamu…nggak senang?"
"Kurang pantas kalau pakai KK-ku." Jason tetap tenang. "Aku bisa minta ibuku untuk mengakuinya sebagai anak angkat."
Sindy terdiam.
Anak angkat Keluarga Horman…
Bukankah itu berarti satu generasi dengan Jason?
Putranya malah menjadi 'adik angkat' Jason. Jadi, apa kedudukannya sebagai seorang ibu?
Jason menatapnya. Matanya sedikit menggelap. "Nggak mau?"
Sindy tidak berani protes. "Bukan…kamu atur saja."
Jason hanya menggumam pelan dan tidak berbicara lagi.
Sindy mengepalkan tangannya.
Hatinya tidak rela.
Namun, masalah ini tidak boleh terburu-buru.
Asalkan putranya masuk ke dalam Keluarga Horman dan mendapat dukungan dari para tetua Keluarga Horman, apa dia masih khawatir tidak bisa membalikkan keadaan?
…
Jason tidak kembali sepanjang malam.
Dulu, Clara akan membiarkan lampu menyala dan menunggunya, tetapi dia tidak melakukannya lagi sekarang.
Karena Jason pulang atau tidak, sudah tidak penting lagi.
Clara baru saja mau pergi ke rumah sakit. Dia kebetulan bertemu dengan Sindy dan anaknya di lantai bawah.
Dia ingin melewati mereka berdua, tetapi Sindy menghentikannya. "Dokter Clara."
Clara berhenti dan menatapnya. "Ada apa?"
"Dokter Clara, kamu…nggak suka sama aku ya?" Sindy menatapnya.
"Nona Sindy berpikir terlalu banyak."
Bukannya tidak suka, tetapi tidak perlu menyukainya.
Toh, Clara tidak dekat dengannya.
Sindy dan anaknya berjalan mendekatinya. "Baguslah kalau begitu. Oh ya, kamu mau ke rumah sakit, 'kan? Habis antar anak, aku juga mau ke rumah sakit."
"Karena searah, nanti aku minta Jason antar kamu sekalian."
Ekspresi wajah Clara menjadi sedikit tidak terkendali.
Ternyata Jason tidak pulang semalaman karena bersama dengan Sindy.
Mereka masih belum bercerai.
Pria itu sudah tidak sabar naik ke ranjang wanita lain.
Clara pun berkata, "Nggak usah, aku punya mobil sendiri."
Sindy menahannya dan berkata, "Jangan segan. Kita kerja di rumah sakit yang sama. Jason sudah mau datang kok."
Clara diam-diam menahan amarah di hatinya.
Dia bahkan curiga Sindy sengaja melakukannya. Apa dia sudah tahu hubungannya dengan Jason dan sengaja pamer di depannya?
Clara menarik tangannya dengan kuat. "Sudah kubilang, nggak usah."
Sindy tiba-tiba terjatuh.
Melihat ibunya terjatuh karena didorong, Stefan pun mendorong Clara. "Dasar wanita jahat. Berani-beraninya dorong ibuku!"
Ponsel Clara terjatuh ke tanah.
Saking kesalnya, Stefan sampai menginjak ponselnya beberapa kali.
"Apa kamu nggak diajari?" Clara hanya menarik Stefan ke samping. Anak itu langsung duduk di tanah sambil menangis sekeras-kerasnya.
Melihat hal itu, Jason memarkir mobilnya di pinggir jalan dan keluar. Dia berjalan dengan kaki jenjangnya. "Clara!"
Karena tergesa-gesa, dia bahkan tidak khawatir Sindy mengetahui hubungan mereka dengan memanggil nama Clara langsung.
"Ayah, wanita jahat ini mendorongku!"
Stefan menangis tersedu-sedu, seolah baru saja dirugikan.
Sindy berbalik dan memeriksa luka di tubuh Stefan. Wajahnya tampak tidak senang. "Dokter Clara, kalau ada masalah, silakan serang aku saja. Tapi jangan main tangan sama anak!"
Clara menarik napas dalam-dalam dan menggertakkan giginya. "Mengapa Nona Sindy nggak bilang anakmu dengan sengaja menginjak ponselku?"
Sindy menghindari tatapannya. "Stefan…juga nggak sengaja!"
"Kalau hanya diinjak sekali, mungkin dia nggak sengaja, tapi dia sudah menginjaknya beberapa kali. Itu berarti dia sengaja!"
"Clara."
Ada sedikit kemarahan di mata Jason.
Bab 6
"Kamu sudah umur berapa? Kenapa masih bertengkar dengan anak kecil?"
Clara tertegun. Dia tahu Jason tidak akan percaya padanya, tetapi sifat pilih kasih yang ditunjukkan pria itu tetap saja menyakitinya.
Matanya penuh dengan rasa sakit. Dia berusaha menahan air matanya. "Aku sama sekali nggak mendorongnya!"
Jason tertawa. "Maksudmu, anak sekecil ini sengaja jatuh sendiri untuk menjebakmu?"
Hati Clara bergetar.
Jelas-jelas dia tahu Jason tidak akan memercayainya, mengapa dia masih ngotot menjelaskan?
Clara menundukkan pandangannya dan mencoba menenangkan diri. "Anggap saja aku sial bertemu dengan kalian. Sudah puas?"
Dia pun berbalik dan mau pergi.
"Berhenti."
Langkah Clara terhenti sejenak, tetapi dia tidak menoleh ke belakang.
"Stefan cuma anak kecil, buat apa perhitungan sama dia?" kata Jason dengan nada lebih lembut. "Minta maaflah pada Stefan."
"Jason, kalau nggak, lupakan saja…" Sindy membantunya berbicara.
Tatapan Jason tampak dingin. "Kalau salah ya harus minta maaf."
Clara mengepalkan jari-jarinya erat hingga kukunya hampir menancap di telapak tangannya, tetapi dia sepertinya melupakan rasa sakitnya.
Dia perlahan berbalik, menatap Jason, dan menunjuk kamera CCTV di bawah lampu jalan, yang letaknya tidak jauh dari sana. "Vila Harmoni penuh dengan kamera CCTV. Sebelum kamu sok jadi pahlawan, bisa nggak periksa kamera CCTV nya dulu?"
"Kalau di rekaman CCTV itu terbukti aku melakukan kesalahan, aku bisa minta maaf. Tapi kalau aku nggak salah, jangan harap aku minta maaf!"
Clara tidak menatapnya lagi dan langsung pergi.
Dada Jason tiba-tiba terasa sesak. Ekspresi wajahnya menjadi gelap.
Sindy barusan sempat panik karena Clara tiba-tiba menyebut kamera CCTV. Dia takut Jason akan memeriksa kamera CCTV. Dia pun menarik Jason dan berkata, "Jason, lupakan saja. Stefan nggak terluka kok. Aku yakin Dokter Clara juga nggak sengaja melakukannya."
Pokoknya, jangan biarkan Jason pergi memeriksa rekaman CCTV. Dia segera mengganti topik pembicaraan. "Jason, Stefan sudah mau terlambat. Ayo kita pergi dulu."
Jason menarik lengannya dan berkata, "Aku sudah beri tahu kepala sekolah. Kamu bisa bawa Stefan ke sana. Dia akan atur semuanya. Aku masih ada rapat."
Pria itu langsung masuk ke dalam mobil.
Saat melihat mobil Jason melaju pergi begitu saja, Sindy langsung mengencangkan tangannya, tetapi dia lupa dia masih memegang Stefan.
"Ibu, tanganku sakit."
Tangan Stefan sakit karena ditekan oleh ibunya.
Sindy baru tersadar, lalu perlahan berjongkok dan memegang bahu anaknya. Raut wajahnya tampak bangga. "Stefan, kamu melakukannya dengan baik kali ini. Bagus!"
"Benarkah?" Mata Stefan berbinar.
Dia tidak mengerti apa-apa.
Dia hanya tahu, asalkan yang dia lakukan bisa membuat ibunya senang dan mendapat pujian, itu adalah hal yang baik.
Sindy tersenyum dan membelai wajahnya dengan lembut. "Stefan, kamu juga ingin Om menjadi ayahmu, 'kan?"
Stefan menganggukkan kepalanya dengan senang.
Senyum Sindy makin dingin. "Jadi, kamu harus bikin Om senang dan membuatnya makin suka padamu. Kamu mengerti?"
Stefan mengangguk. "Aku pasti bisa!"
…
Jason baru saja tiba di kantor. Asistennya, Anna Pratama, menghampirinya dan berkata, "Pak Jason, Nyonya Besar Ratna sedang menunggumu di ruangan."
Jason mengangguk dan berjalan masuk ke ruangannya.
Nyonya Besar Ratna duduk di sofa sambil menyesap minumannya dengan anggun. Dia mengangkat pandangannya dan menatap orang yang mendekat. "Kudengar kamu yang mengatur Sindy untuk bekerja di rumah sakit yang sama dengan Clara?"
Jason melonggarkan dasinya dan duduk di sofa di depannya. "Clara yang mengadu pada Nenek?"
Nyonya Besar Ratna meletakkan gelas dengan kasar dan berkata dengan tegas, "Jason, jangan terus-terusan mencurigai istrimu. Apa Clara begitu suka mengadu?"
Jason tersenyum cuek. "Memangnya bukan?"
"Aku masih belum lupa bagaimana Clara bisa menjadi menantu Keluarga Horman dan bagaimana Nenek memaksaku menikahinya."
Ekspresi Nyonya Besar Ratna berubah muram. Ada sedikit seringai tersirat di wajahnya. "Kalau benar dia yang mengadu, apa Sindy masih punya kesempatan untuk pulang ke tanah air?"
Jason terdiam sejenak, lalu menatap Nyonya Besar Ratna sambil berkata, "Jangan sentuh dia lagi."
Nyonya Besar Ratna tertawa terbahak-bahak. "Dia menerima 20 miliar-ku dan berjanji akan meninggalkanmu. Apa bagusnya wanita yang hanya mementingkan keuntungan dan melupakan kesetiaan sepertinya?"
"Kalau Nenek nggak mempersulitnya, apa dia akan pergi?"
"Kamu..." Nyonya Besar Ratna tiba-tiba tertawa saat teringat sesuatu dan perlahan berdiri. "Jason oh Jason. Kamu sudah salah menilai orang. Suatu hari, kamu akan menyesal. Aku nggak akan ikut campur urusanmu dengan Clara lagi. Kalau mau cerai, ya cerai saja. Kamu atur sendiri saja."
Nyonya Besar Ratna berjalan keluar dari ruangannya.
Rahang Jason bergerak. Alisnya juga berkerut.
Dia menyesal?
Mana mungkin dia bisa menyesal?
Clara mendapatkan kekayaan dan kejayaan yang diinginkannya. Apa wanita itu tega meninggalkannya?
Tidak, Clara tidak akan meninggalkannya.
Bab 7
Setelah sampai ke ke rumah sakit, Clara pun pergi memeriksa kondisi pasien. Saat keluarga pasien mengetahui bahwa dia adalah dokter bedah yang bertanggung jawab, mereka hampir berlutut untuk mengungkapkan rasa terima kasih.
Clara dan staf medis yang mengikutinya buru-buru menghentikan dan membantu agar keluarga pasien berdiri. "Apa yang kamu lakukan? Menyelamatkan nyawa pasien pada dasarnya sudah menjadi tugas kami."
"Kalau bukan karena Dokter, anakku pasti sudah meninggal. Dokter yang memberinya harapan untuk bertahan hidup. Aku sungguh berterima kasih." Ibu pasien yang sudah lanjut usia itu menangis tersedu-sedu, bercampur antara gembira dan sedih karena anaknya selamat dari bencana itu.
Sebagai dokter, mereka terbiasa melihat kehidupan dan kematian. Bisa menyelamatkan nyawa dari tangan maut merupakan anugerah besar bagi mereka.
Setelah dioperasi, pasien kini telah melewati masa kritis dan juga tidak mengalami gejala sisa, yang mana termasuk sebuah berkah.
Clara memapah ibu pasien itu dan menghiburnya sejenak. Setelah memberinya beberapa arahan, dia pun meninggalkan bangsal bersama staf medis.
Saat kembali ke ruangannya, Clara tiba-tiba menerima telepon dari ayahnya.
Setelah ragu sejenak, dia pun menjawab panggilan itu.
"Clara, bisa nggak kamu pulang ke rumah bersama Jason?"
Clara samar-samar bisa menebak sesuatu. Raut wajahnya tampak tidak senang. "Kalau ada masalah, katakan saja langsung."
"Kok kamu bicara seperti itu? Kalau nggak ada masalah, memangnya kalian nggak boleh pulang? Pokoknya, kalian harus pulang sore nanti."
Sebelum Clara sempat menolak, ayahnya sudah menutup telepon.
…
Jason sedang rapat di kantor. Dia menerima pesan dari Sindy. [Jason, Stefan sudah mulai masuk TK. Terima kasih. Kalau bukan kamu, Stefan pasti nggak bisa sekolah.]
Dia melirik sekilas, lalu mengetuk layar dengan ujung jarinya, dan membalas. [Nggak apa-apa.]
Saat membuka Whastapp, matanya tiba-tiba tertuju pada kotak obrolan Clara.
Dia baru menyadari bahwa pesan terakhir yang dikirim Clara adalah pada tanggal delapan bulan lalu.
Saat itu, Clara menanyakan apa Jason akan datang di akhir pekan?
Pria itu tidak membalas.
Sampai sekarang, Clara tidak mengiriminya pesan lagi.
Pintar menahan diri juga.
Sore harinya.
Clara berdiri lama di luar pintu kediaman Sengadi. Dia tampak ragu sebelum masuk. Saat ibunya melihatnya, dia tersenyum dan menyambutnya. "Clara, kamu sudah kembali."
Ibunya melihat ke luar pintu lagi.
Ada sedikit ekspresi kecewa di wajahnya.
Clara sudah menyadari hal itu dari awal. Dia hanya berkata dengan nada datar, "Nggak perlu dilihat lagi. Hanya aku sendirian saja."
Saat mendengar itu, senyum ibunya sedikit membeku.
Ayahnya Clara juga berjalan keluar. Lantaran tidak melihat Jason, dia agak kesal. "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memanggil Jason juga?"
"Dia nggak punya waktu."
"Nggak punya waktu apanya? Dia suamimu! Suami istri mana yang nggak berbaikan setelah bertengkar? Kamu bahkan nggak bisa mengajak suamimu pulang makan. Dasar nggak berguna!"
Hati Clara terasa dingin.
Tidak ada seorang pun yang bisa memahaminya.
Bahkan, keluarganya sendiri juga begitu.
Ayahnya bahkan tidak menanyakan alasannya dan langsung memarahinya. Dia tidak berubah sedikit pun dalam enam tahun terakhir ini.
Teringat saat dia menikah dengan Jason, orang tuanya sangat gembira. Mereka bahkan menganggap mahar tidak penting.
Meski Keluarga Sengadi adalah keluarga terpandang dan tidak sebanding dengan Keluarga Horman, mereka juga lebih berkecukupan dari keluarga biasa. Awalnya, dia mengira orang tuanya mengerti dan dengan tulus berharap dia akan bahagia.
Namun setelah menikah, orang tuanya mulai memaksanya untuk meminta uang pada Jason dengan memanfaatkan status Nyonya Horman. Awalnya, uang itu hanya digunakan untuk membeli vila yang lebih besar dan mobil untuk Hansen Sengadi, adik laki-lakinya. Kemudian, bisnis ayahnya merugi dan meminta Jason untuk menebus kekurangannya.
Bagi orang tuanya, anak laki-laki lebih penting.
Sebaliknya, dia hanyalah alat yang digunakan orang tuanya untuk menguras uang dari suaminya yang kaya.
"Kalau begitu, maaf." Clara tersadar dan berkata dengan tenang, "Aku sudah mau cerai dengannya."
Begitu mendengar kata cerai, wajah ayahnya seketika berubah muram. Dia langsung menampar wajah putrinya.