Đang tải thông tin quảng bá...
Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?
“Mau?” Surya Setiawan menatap wanita yang menerjang masuk ke dalam pelukannya dengan wajah memerah, nadanya terdengar santai. Joana Widodo sedang kambuh. Ia gigit bibirnya dan mengangguk. Sudah se...
Chương (1)
第1章
“Mau?”
Surya Setiawan menatap wanita yang menerjang masuk ke dalam pelukannya dengan wajah memerah, nadanya terdengar santai.
Joana Widodo sedang kambuh. Ia gigit bibirnya dan mengangguk.
Sudah setahun menikah, namun suaminya, Fajar Geraldi nggak pernah sekali pun sentuh dia.
Karena itu, Joana menderita gangguan histeria, setiap kali kambuh, ia diliputi hasrat yang begitu kuat.
Hingga suatu malam ia pergoki suaminya diam-diam cium foto kakaknya. Baru saat itu ia sadar kalau selama ini ia cuma pengganti. Kondisinya pun makin parah. Ia terpaksa pergi ke rumah sakit. Di sana, ia bertemu seorang dokter muda yang tampan.
Saat pemeriksaan berlangsung, ia hampir kehilangan kendali dan nyaris ….
Nggak nyangka, keesokan harinya saat masuk kerja, dokter yang semalam periksa dia dengan begitu intim ternyata adalah presiden direktur baru yang tiba-tiba ditunjuk?
Joana berniat pura-pura nggak kenal dia.
Namun, ia justru dipromosikan jadi asisten pribadi di sisi sang presiden direktur yang baru.
“Surya, aku sudah punya suami. Apa kamu mau jadi pihak ketiga?”
Di dalam kantor, Joana dipaksa duduk di pangkuannya dengan kaki terbuka, wajahnya merah padam karena kesal.
Pria itu cengkeram pinggangnya dan cium dia.
“Sayang, kamu lupa? Kemarin malam, semalaman kamu panggil aku suami.”
Belakangan, Joana nikah lagi tanpa menoleh ke belakang. Mantan suaminya justru menyesal, dengan mata merah memohon ke dia, “Joana, ayo kita mulai lagi! Asal nggak cerai, kamu mau apa pun akan aku turuti!”
Joana menatapnya dingin.
“Maaf. Aku nggak tertarik dengan pria yang nggak mampu jadi suami seutuhnya.”
Bab 1
“Lepas dulu, lalu berbaring!”
Suara pria yang rendah dan dingin itu menggema di ruangan.
Jantung Joana Widodo berdegup keras. Ia sendiri nggak tahu sejak kapan dirinya mengidap penyakit memalukan yang sulit dijelaskan itu. Setiap kali kambuh, hasratnya datang begitu kuat, nggak kenal waktu dan tempat. Pekerjaan dan kehidupannya mulai terganggu karena masalah itu.
Karena nggak tahan lagi, Joana akhirnya beranikan diri daftar ke bagian ginekologi di sebuah rumah sakit swasta. Ia pilih tempat itu karena kerahasiaannya terkenal sangat ketat, meskipun biaya konsultasinya berkali-kali lipat lebih mahal dibanding rumah sakit biasa.
Tapi, bukannya ia pesan jadwal konsultasi dengan dokter senior wanita berusia empat puluhan? Kenapa yang duduk di hadapannya justru seorang dokter pria muda, tinggi, dan berwibawa?
“Ha-harus … lepas celana?” tanyanya gugup, suaranya nyaris nggak terdengar.
Lepas pakaian di depan pria asing, meski ia seorang dokter, tetap saja buat Joana merasa sangat canggung.
Surya Setiawan jawab dengan wajah serius, “Kalau nggak dilepas, gimana aku bisa periksa kamu?”
“Tapi, aku ….”
Wajah Joana memerah, jemarinya saling meremas gelisah.
Pria di hadapannya pakai masker, namun tatapannya tajam dan dalam, seolah mampu tembus apa pun. Entah mengapa, ia tiba-tiba merasa seakan akan didorong ke ranjang dan diperlakukan sesuka hati oleh pria itu.
Joana buru-buru menggeleng keras.
Astaga! Pikiran macam apa itu?
Dia itu dokter. Setiap hari ia periksa puluhan pasien seperti dirinya. Ini cuma pekerjaannya.
Joana berusaha tenangkan diri terus-menerus. Dengan tahan rasa malu, ia perlahan turunkan celananya dan berbaring di ranjang periksa.
“Bagian mana yang nggak nyaman?” tanya Surya sambil siapkan alat sterilisasi.
Wajahnya kembali memerah. “Aku, di bagian sana .…”
Lihat ia nggak mampu lanjutkan, Surya tanya dengan tenang, “Terlalu sering berhubungan? Atau luka?”
Biasanya gadis muda yang datang ke poli kandungan memang karena alasan itu.
Namun Joana menggeleng dengan wajah merah padam. “Bukan, aku nggak punya kehidupan seksual .…”
Gerakan Surya terhenti. Ia menoleh, menatap Joana dengan heran.
Gadis di depannya memiliki wajah yang begitu halus dan menawan, kulitnya lembut seperti bisa meneteskan air. Cantik, memikat, dengan aura yang anggun dan menggoda. Sekali lihat dia, orang pasti sulit untuk lupakan.
Dengan kecantikan seperti itu, pasti nggak kekurangan orang yang kejar dia. Namun ia bilang nggak punya kehidupan seksual?
“Aku … hanya … di sana … agak nggak nyaman .…” gumamnya terbata di bawah tatapan mata pria yang gelap dan dalam itu.
Jari Surya yang sedang pegang kapas steril tanpa sadar mengencang. Namun raut wajah Surya tetap tenang, terfokus padanya. “Nggak nyaman gimana?”
Joana terdiam.
Gimana ia harus jelaskan itu?
“Yah itu … aku .…”
Ia gigit bibir merahnya, ragu untuk lanjutkan.
Surya menatap wajah Joana yang sudah memerah, perlahan menelan ludah.
Badannya tanpa sadar mulai memanas.
Tapi dia tetap menahan semuanya. "Kenapa bisa begitu?"
Joana terbata-bata, dengan tidak enak berkata, "Aku .... Anu ...."
Apa ia harus ngaku hasratnya terlalu besar? Bahwa ia sangat ingin lakukan ‘itu’?
Padahal sudah lebih dari setahun menikah, suaminya, Fajar Geraldi nggak pernah sentuh dia.
Seiring waktu hasratnya semakin kuat, semakin nggak terkendali, tapi Fajar justru makin menjauh darinya. Bahkan tampak ketakutan setiap kali Joana singgung tentang hal itu.
Nggak ada pilihan lain, Joana hanya bisa cari cara sendiri untuk redakan itu. Namun jelas itu nggak cukup.
Ia ingin.
Ingin lebih.
Surya perhatikan reaksinya. “Sudah menikah?”
Joana mengangguk tanpa sadar.
Entah kenapa, ada sedikit rasa kecewa yang melintas di hati pria itu.
Sorot matanya menggelap. “Berbaring dulu. Biar aku periksa.”
Joana menurut.
Tangannya mengepal erat, wajahnya terasa panas seperti terbakar.
“Jangan gerak.” Surya menatapnya, suara pria itu mendadak lebih serak.
Rasa malunya sudah memuncak. Dengan penyakitnya ini, gimana mungkin ia bisa tenang saat diperiksa?
“Bisa nggak … diganti dokter wanita?” tanyanya canggung.
Tatapan Surya makin dalam. “Kamu nggak puas dengan aku?”
“Bu-bukan gitu .…” Joana buru-buru jelaskan.
Namun sebelum kalimatnya selesai, pria itu memotong dingin, “Hari ini kamu terdaftar atas nama pasienku. Kalau nggak mau berobat, silakan pergi saja.”
Pria ini galak sekali.
Dalam hati ia janji akan adukan ini nanti. Namun penyakitnya nggak bisa ditunda lagi. Untuk kali ini, ia putuskan percaya pada kemampuan dokter itu.
“Aku nggak bermaksud apa-apa, Dokter. Tolong sembuhkan aku,” pintanya pelan.
Ini pertama kalinya Surya gantikan jadwal jaga. Siapa sangka ia justru bertemu pasien wanita yang begitu istimewa.
Penyakit wanita itu sendiri saja sudah cukup buat Surya sulit bersikap netral, ditambah lagi Joana secantik itu. Ini benar-benar ujian terhadap kendali dirinya sebagai seorang pria.
“Nggak usah banyak bicara.”
Ia tegur Joana, jakunnya bergerak. Ia pun kenakan sarung tangan, ambil kapas steril, lalu perlahan mendekat.
Joana nggak kuasa menutup mata.
Suaminya saja, Fajar, belum pernah lihat dia seperti ini. Kini justru pria lain yang lihat lebih dulu.
Meski tahu ia dokter, tetap saja sulit untuk terima hal itu dalam hatinya.
“Ahh!” Seruan itu keluar dari bibirnya, manja dan enak didengar.
Tubuh Surya menegang, kulit kepalanya terasa panas. Ia sedikit tarik tangannya.
“Sakit?”
Mata Joana berkabut lembap. Bibir merahnya terbuka, namun nggak tahu harus berkata apa.
Akal sehatnya berkata ia harus tahan diri. Namun penyakitnya buat dia nggak mampu sepenuhnya kendalikan reaksinya.
Dalam keadaan rapuh dan memikat seperti itu, sungguh sulit bagi siapa pun untuk tetap tenang.
“Aku akan coba lebih pelan,” gumamnya seraya berdeham, memalingkan wajah dan kembali fokus pada pemeriksaan.
Setelah selesai, anehnya Joana justru merasa lebih hampa, lebih tersiksa.
“Dokter, apa kondisiku parah?” Suaranya sedikit bergetar.
Surya berusaha kendalikan emosinya, lepas sarung tangan perlahan.
“Ini histeria akibat gangguan hormon, diakibatkan karena kurangnya kehidupan seksual dalam jangka panjang.”
Kurangnya kehidupan seksual?
Joana menunduk, dia seketika malu.
Bukan kurang, tapi nggak pernah ada.
Suaminya punya gangguan OCD (Gangguan obsesif kompulsif) yang lumayan parah. Sejak pacaran sampai menikah, mereka hampir nggak pernah bermesraan. Namun justru karena itu, ia semakin rindu akan sentuhan.
Seolah setiap sel dalam tubuhnya mendambakan pelukan, belaian .…
“Aku kasih obat antiinflamasi dan penyeimbang hormon,” ujar Surya sambil duduk di depan komputer dan tuliskan resep. “Tapi sebaiknya kamu pulang dan lebih sering lakukan hubungan seksual dengan suamimu. Penyakit ini akan jauh berkurang.”
Wajah Joana sudah merah sekali seperti darah.
Ia kenakan kembali celananya, turun dari ranjang, dan terima resep itu.
“Makasih, Dokter.”
Baru saja ia keluar dari ruang periksa, seorang dokter wanita berjas putih masuk dari pintu belakang.
“Surya! Berani-beraninya kamu periksa pasienku waktu aku nggak ada!”
Susan Setiawan yang baru datang, langsung marahin adiknya.
Surya jawab dengan santai, “Jangan lupa, dulu waktu di fakultas kedokteran, nilaiku yang selalu ada peringkat pertama, kamu cuma ada peringkat kedua. Sekarang aku periksa pasienmu gratis, itu justru keberuntungan buat mereka. Lagian rumah sakit ini sekarang kan punyaku.”
“Kamu!” Susan melotot.
Anak ini benar-benar pandai membangkang.
Namun adiknya yang terkenal selalu jaga jarak dengan wanita, hari ini justru mau periksa pasien wanita, ini cukup aneh.
“Kalau aku nggak disambut, aku pergi saja,” ujar Surya dengan satu tangan di saku, pandangannya tertuju ke arah Joana menghilang.
“Pergi apaan? Aku panggil kamu ke sini hari ini untuk ketemu dengan dokter jantung baru kita, Dokter Wina Lestari. Dia muda, cantik, dan sangat berbakat. Bunga rumah sakit kita! Yang terpenting, masih lajang dan belum punya pacar .…” Susan buru-buru tahan Surya, berusaha keras jodohkan dia.
“Kita lihat saja nanti.”
Surya jawab sekenanya, tanpa minat, lalu melangkah pergi.
Bab 2
Joana keluar dari ruang periksa, ambil obatnya, lalu bergegas tinggalkan rumah sakit.
Setiap kali ingat adegan barusan, gimana seorang dokter pria perintahkan dia lepas celana dan periksa dia, wajahnya langsung memerah tanpa bisa dicegah.
Jika sampai tersebar, ia benar-benar nggak akan berani ketemu dengan siapa pun lagi.
Mulai sekarang ia bersumpah cuma mau cari dokter wanita. Ia nggak ingin lagi bagian paling pribadinya diperiksa oleh pria asing.
Tepat saat itu, sebuah mobil Bentley hitam meluncur pelan dan berhenti di depannya.
Joana sempat kira itu mobil pesanannya. Namun ketika ia menoleh ke balik kaca jendela, yang terlihat justru wajah tampan dengan garis rahang tegas dan sempurna, seolah dipahat tangan dewa.
Pandangan mereka beradu sesaat. Ada rasa familiar.
Tatapan mata itu .…
Bukannya itu dokter pria yang tadi periksa dia?
Napas Joana tercekat. Wajahnya kembali memerah.
Kenapa bisa kebetulan sekali ketemu lagi tepat di depan rumah sakit?
“Naik saja. Aku antar kamu,” ujar Surya singkat.
Joana buru-buru menggeleng. “Nggak perlu, makasih.”
Mereka nggak akrab. Mana mungkin ia seenaknya numpang mobil pria itu?
Apalagi barusan, di atas ranjang periksa, pria itu lakukan pemeriksaan yang begitu intim ke dia .…
Orang yang saat ini paling nggak ingin Joana temui adalah dia.
Kalau bisa, ia ingin pura-pura nggak saling kenal selamanya.
Sorot mata Surya sedikit menggelap, alisnya terangkat tipis, pancarkan aura dominan yang sulit diabaikan.
Ini pertama kalinya ia ditolak seorang wanita!
“Beneran nggak perlu. Suamiku sebentar lagi jemput,” kata Joana lagi dengan nada canggung, sengaja tekankan kata suami, sembari melambaikan tangan menolak.
Maksudnya jelas, ia wanita bersuami.
Tapi dia bisa merasakan pria itu tidak senang.
Surya terdiam.
Sudut bibir Surya melengkung tipis, dingin dan nyaris nggak terlihat. Ia langsung perintahkan sopir untuk pergi.
Lihat mobil Bentley itu melaju menjauh, Joana akhirnya hembuskan napas lega.
Namun ucapan dokter tadi kembali terngiang.
Penyakitnya berkaitan dengan kurangnya kehidupan seksual dalam waktu lama.
Obat hanya bantu seimbangkan hormon. Untuk benar-benar sembuh, ia tetap harus lebih sering berhubungan dengan pria.
Kebetulan malam ini Fajar pulang dari perjalanan dinas.
Ia harus manfaatkan kesempatan ini.
Nggak pakai tunda waktu lagi, Joana langsung pergi ke mall, beli gaun tidur seksi dengan warna yang disukai suaminya serta parfum penggugah suasana.
Setelah pulang, ia keluarkan sebotol anggur merah yang sudah lama ia simpan.
Rencananya sederhana: minum bersama Fajar, buat dia sedikit mabuk, lalu tidur dengannya.
Tapi Fajar punya gangguan OCD yang berlebihan dan selalu hindari kehidupan suami istri.
Setelah setahun nikah, setiap kali Joana ajukan permintaan itu, ia selalu ditolak.
Penolakan itu menumpuk jadi tekanan fisik dan mental yang berat.
Kini ia sudah sakit. Ia nggak punya pilihan lain.
Semua sudah siap, tapi justru kini ia merasa sangat gugup.
Ini pertama kalinya sejak menikah, ia dengan sengaja “godain” suaminya.
Jantungnya berdegup begitu cepat seolah hendak meloncat keluar.
Joana menuang segelas anggur untuk dirinya sendiri, coba tenangkan diri.
……
Pukul delapan malam, Fajar pulang dari dinas.
Klik.
Lampu kamar tidur yang semula gelap mendadak menyala.
Joana yang pura-pura tidur di ranjang tersentak dan buka matanya. Pandangannya langsung tertuju pada sosok tinggi ramping berpakaian hitam di ambang pintu.
“Suamiku, kamu sudah pulang?”
Joana segera menyingkap selimut dan lari hampirin dia dengan wajah berseri.
Fajar sipitkan matanya.
Malam ini Joana kenakan gaun tidur merah anggur dengan belahan V yang dalam, buat kulitnya tampak putih bagai salju dan lekuk tubuhnya terekspos jelas.
Dipadukan dengan wajahnya yang polos namun menggoda, ia tampak begitu memikat, perpaduan lugu dan sensual yang memabukkan.
Aroma parfum yang ia kenakan menyusup lembut ke indera penciuman, bangkitkan naluri dasar seorang pria.
Nggak diragukan lagi, wanita di hadapannya begitu seksi dan menggoda.
Namun, bukan tipe yang ia sukai.
Hasrat yang sempat berkilat di mata gelapnya perlahan memudar, digantikan oleh dingin dan jarak.
Fajar tanpa sadar dorong Joana untuk menjauh.
“Aku capek.”
Satu kalimat itu seolah siram api di hati Joana dengan air dingin.
Namun ia nggak mau nyerah.
Penyakitnya nggak bisa tunggu lagi. Ia harus tidur dengan seorang pria.
Lagian malam ini ia sudah dandan khusus dan siapkan semuanya.
Mana mungkin ia berhenti di tengah jalan?
“Suamiku, mau aku bantu pijat?” tanyanya lembut sambil raih lengan Fajar.
“Nggak perlu!” Fajar kibaskan tangannya seolah disentuh sesuatu yang kotor.
Ia lalu langsung melangkah menuju kamar mandi.
Saat lewati Joana, ia cium aroma parfum wanita lain yang samar tertinggal di tubuh pria itu.
Aromanya elegan dan berkelas. Bukan parfum yang biasa ia pakai.
Joana terdiam, ada kilat kecurigaan melintas di matanya.
Apa Fajar punya wanita lain?
Namun ia segera tepis pikiran itu.
Suaminya sering hadiri jamuan bisnis. Aroma parfum wanita bisa saja menempel tanpa sengaja.
Lagian dengan kebiasaan OCD-nya yang begitu ekstrem, ia saja nggak mau sentuh Joana, istrinya, mana mungkin ia sentuh wanita lain?
Joana berusaha tenangkan diri.
Ia pun tuangkan segelas anggur untuk Fajar, tetap berpegang pada rencana semula.
Setengah jam kemudian, Fajar keluar dari kamar mandi.
Ia hanya kenakan jubah mandi putih longgar, ikat pinggangnya belum terikat. Otot dadanya yang kokoh samar terlihat di bawah cahaya lampu kekuningan.
Kulitnya yang berwarna kecoklatan tampak begitu memikat. Kakinya panjang dan lurus.
Dipadukan dengan wajah tampan yang dingin, pemandangan itu hampir buat Joana terpaku. Tenggorokannya terasa kering.
Entah karena lama nggak lihat Fajar seperti ini, atau karena sikapnya yang selalu dingin, mendadak hatinya bergetar nggak terkendali.
Joana tanpa sadar menelan ludah.
Tatapannya tanpa sengaja meluncur ke bawah, lewati pinggang rampingnya.
Astaga!
Hasratnya semakin menjadi-jadi?
“Kamu lihat apa?”
Suara Fajar yang dingin dan tegas memecah lamunannya.
Joana tersentak dan buru-buru menggeleng. “Nggak lihat apa-apa!”
Joana takut Fajar akan makin jijik jika tahu ia inginkan tubuh pria itu.
Dengan senyum manis, Joana angkat gelas anggur dan mendekat. “Suamiku, mau minum segelas?”
Ia tahu Fajar terbiasa minum sedikit sebelum tidur.
Namun setelah ia bicara, pria itu terdiam cukup lama.
Hatinya mulai gelisah. Jangan-jangan rencananya ketahuan?
“Suamiku .…” Joana kembali mendekat, suaranya sengaja dibuat lembut.
Bukannya jawab soal anggur, Fajar malah menoleh dan menatapnya dengan sorot penuh makna.
“Sudah malam. Kenapa kok belum tidur?”
Joana seketika berbinar. Ia kira suaminya akhirnya berniat tidur dengan dia. Ia segera letakkan gelas di meja samping ranjang.
“Oke, aku naik ke ranjang sekarang.”
Dengan semangat, Joana hendak naik ke ranjang. Namun sebelum tangannya sempat sentuh Fajar. Fajar tiba-tiba cengkeram pergelangan tangannya, angkat alis dengan nada mengejek.
“Kamu nggak lagi pikir malam ini aku akan sentuh kamu, kan?”
Bab 3
Wajah cantik Joana seketika langsung membeku.
Fajar lihat kilasan kecewa yang melintas di dasar matanya. Namun bibir tipisnya tetap bergerak dingin. “Maaf. Aku sudah bilang berkali-kali, aku punya gangguan OCD.”
“Ta-tapi, Suamiku … aku .…” Joana bicara tergesa.
Ia sudah sakit. Ia sangat butuh seorang pria untuk bantu redakan gejolak dalam tubuhnya.
Ia nggak sanggup tahan lagi!
“Anggap saja tolong aku …. Suamiku … aku benar-benar butuh .…”
Ia gigit bibir bawahnya. Sepasang mata yang basah memandangnya dengan memelas. Napasnya semakin nggak teratur.
Joana benar-benar inginkan itu.
Pikirannya dipenuhi bayangan tentang itu.
Nggak bisa dihentikan.
Fajar mengernyit dalam.
Ia muak lihat Joana selalu tampilkan wajah penuh gairah di hadapannya.
Dengan suara dingin dan tajam, ia membentak, “Kalau kamu benar-benar nggak tahan dan ingin itu, cari cara sendiri untuk selesaikan!”
Kata-kata yang dingin dan meremehkan itu langsung hantam titik paling rapuh di hati Joana.
Namun ekspresi terluka di wajahnya seolah nggak terlihat oleh Fajar.
Dengan nada datar Fajar tambahkan, “Dan mulai sekarang, jangan pernah pakai pakaian seperti itu lagi di depanku.”
Mata Joana yang jernih seketika meredup.
Rasa perih menyebar luas di dadanya.
Suaminya tetap nggak mau sentuh dia.
“Aku ngerti,” jawabnya pelan, kepala tertunduk.
Suaranya begitu lemah.
“Dan mulai hari ini, kamu nggak perlu tidur sekamar denganku lagi.” Fajar kembali menatapnya dengan jijik.
Joana mendongak, tertegun. “Hah?”
Apa ini berarti mereka akan pisah kamar?
“Aku akan tidur di kamar sebelah. Kalau nggak ada izin dari aku, jangan masuk ke kamarku.”
Setelah peringatan dingin itu, ia turun dari ranjang dan pergi tanpa menoleh lagi.
Tinggalkan Joana berdiri terpaku sendiri.
Kabut tipis mulai menggenang di matanya.
Sudah setahun ia menikah dengan Fajar.
Karena lama nggak pernah berhubungan, ditambah sikap suaminya yang selalu sedingin es, ia sampai jatuh sakit.
Namun sebagai suami, Fajar nggak punya niatan untuk bantu dia, justru di saat seperti ini Fajar malah milih pisah kamar.
Bagi Joana, itu benar-benar pukulan bertubi-tubi.
Setelah Fajar pergi, kamar yang sempat sedikit hangat kembali terasa dingin membeku.
Namun bara dalam tubuh Joana nggak sedikit pun mereda. Justru semakin membara. Sikap dingin Fajar lukai dia.
Dan penyakitnya kembali kambuh.
Ia merasa seluruh tubuhnya nggak nyaman, gelisah, seolah nggak pernah terpuaskan.
“Uuh … nggak nyaman … aku pengen .…”
Pipinya panas. Tanpa sadar pikirannya melayang pada kejadian siang tadi di ruang periksa, di atas ranjang itu, bersama dokter pria itu .…
Astaga!
Ia buru-buru menggeleng.
Ngapain ia pikirkan dokter itu? Ia sudah nikah, punya suami. Gimana mungkin ia bayangkan pria lain? Sejak kapan ia jadi begitu berani?
Namun Fajar sama sekali nggak mau sentuh dia. Punya suami atau nggak, hampir nggak ada bedanya.
Pikirannya kembali terarah pada dokter pria itu.
Terutama saat di depan rumah sakit, ketika ia suruh Joana naik mobil.
Untuk pertama kalinya Joana lihat wajahnya sepenuhnya tanpa masker.
Ganteng banget. Lebih ganteng dari Fajar.
Gimana jika ia .…
Joana cepat-cepat hentikan pikiran liarnya.
Meski suaminya nggak mau sentuh dia, dia nggak boleh pikirkan pria lain.
Itu sama saja dengan selingkuh dalam hati.
Namun kali ini ia benar-benar nggak sanggup tahan lagi.
Tangannya yang gemetar buka laci meja di samping ranjang dan ambil benda di dalamnya.
Setahun terakhir, setiap kali Fajar tolak dia dan penyakitnya kambuh, ia selalu pikirkan suaminya lalu selesaikan itu sendiri.
Namun malam ini terasa beda. Bayangan di kepalanya bukan Fajar. Melainkan dokter itu .…
……
Butuh waktu lama sebelum Joana kembali tenang.
Di sudut bibirnya masih tersisa jejak samar.
Tubuhnya lemas seolah kehabisan tenaga.
Ia terengah-engah, sadar kalau gini terus bukanlah solusi yang baik.
Ia segera turun dari ranjang, buka tasnya, dan temukan obat yang diresepkan hari ini.
Air panas di kamar sudah habis.
Dengan asal Joana sampirkan mantel tipis, ia pun turun ke dapur untuk ambil air.
Saat lewati kamar sebelah, kamar Fajar, ia dengar suara erangan tertahan dari dalam.
Joana bukan lagi gadis polos. Ia tahu benar apa arti suara itu.
Tanpa sadar ia intip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
Dalam cahaya remang, Fajar duduk di tepi ranjang, pegang sebuah foto dan jakunnya bergerak naik turun, suaranya serak berulang kali panggil, “Diana … istriku … aku cuma mau kamu … cuma cinta kamu .…”
Bagaikan petir menyambar, kepala Joana berdengung keras.
Matanya membelalak nggak percaya.
Diana?
Putri ibu tirinya?
Nona sulung Keluarga Widodo, Diana Widodo.
Ayahnya, Wayne Widodo punya dua istri.
Istri pertama, Denina Suprapto, melahirkan satu putri: Diana Widodo.
Istri kedua, Julia Sasmita melahirkan seorang putra dan seorang putri.
Putra mereka, Jordan Widodo, sebagai satu-satunya pewaris laki-laki Keluarga Widodo, sejak lahir diadopsi jadi anak istri pertama.
Hanya Joana yang tumbuh di sisi ibu kandungnya sendiri.
Namun sejak kecil, ia nggak pernah benar-benar disukai.
Ibunya lebih sayang putranya dan Diana.
Urusan pernikahannya pun sepenuhnya diserahkan ke ayah dan ibu tirinya.
Sebelum menikah dengan Fajar, Joana diam-diam selidiki dan pastikan kalau pria itu suka dengan putri Keluarga Widodo, jadi ia pun menikah dengan Fajar.
Saat itu Joana kira yang dimaksud adalah dirinya.
Kini ia sadar betapa naifnya dia.
Orang di hati Fajar ternyata adalah kakaknya, Diana.
Karena statusnya sebagai anak haram buat dia nggak pantas untuk Diana, jadi ia pilih Joana sebagai pengganti.
Sepanjang pernikahan, ia selalu berdalih gangguan OCD untuk tolak sentuh Joana. Dan Joana percaya itu.
Baru malam ini ia sadar betapa bodohnya dia.
Fajar lebih pilih tangani hasratnya sendiri daripada sentuh dia sedikit pun.
Fajar jaga dirinya demi Diana.
Sejak kecil, seluruh Keluarga Widodo suka Diana.
Ayahnya anggap dia permata. Ibu tiri dan ibu kandungnya pun manjakan dia.
Hanya Joana yang selalu tersisih, yang nggak diinginkan.
Ia kira setelah nikah, ia bisa mulai hidup baru. Namun suaminya juga cinta kakaknya.
Sungguh ironis ....
Dengar suaminya panggil nama Diana berulang-ulang malam itu terasa seperti tamparan demi tamparan di wajahnya.
Dalam kebingungan, ia teringat dulu sebelum nikah, Fajar sering datang ke rumah Keluarga Widodo.
Ia lembut, sabar, seperti seorang pria terhormat. Setiap datang selalu bawa hadiah untuknya.
Karena itu ia punya kesan mendalam ke Fajar.
Sekarang Joana ngerti, sejak awal tujuan kedatangan Fajar ke Keluarga Widodo bukan untuk dia, melainkan untuk Diana.
Bab 4
Semalam suntuk, Joana nggak bisa pejamkan mata.
Kekosongan di tubuhnya dan pukulan di hatinya buat dia benar-benar nggak bisa tidur.
Syukurlah keesokan paginya ia nggak terlambat masuk kerja.
Namun saat Joana menguap kecil dan melangkah ke kantor, ia segera rasakan suasana yang aneh.
“Hari ini ada presiden direktur baru yang datang secara mendadak .…” Temannya, Lili Baskara bisikkan kabar besar itu ke Joana.
Jadi itu sebabnya.
Pantesan sejak tadi ia lihat rekan-rekan perempuannya sibuk ngaca dan rapikan riasan.
“Joana, kenapa kamu belum dandan?” Lili tarik Joana untuk duduk. “Riasanmu terlalu tipis. Biar aku bantu dandan lagi supaya lebih cantik.”
Joana buru-buru menghindar. “Presdir baru mau datang, memangnya apa hubungannya dengan aku? Aku masih banyak kerjaan.”
Sejak lulus kuliah, ia sudah diatur oleh ibu tirinya untuk masuk ke perusahaan ini.
Katanya, agar ia “mengasah pengalaman” di luar.
Padahal kenyataannya, agar Joana nggak masuk ke Grup Widodo dan duduki posisi penting.
Perusahaan keluarga itu memang disiapkan untuk diwariskan ke kakaknya, Jordan, dan kakak tirinya, Diana.
Ia, putri dari istri kedua yang nggak disukai, nggak punya hak untuk masuk ke sana.
Padahal sejak kecil nilai akademiknya selalu cemerlang, bahkan lebih rajin dan tekun dibanding kakak-kakaknya.
Namun ia bukan Jordan, satu-satunya pewaris laki-laki yang diagungkan.
Dan ia juga bukan Diana yang selalu dimanja.
Jadi begitu lulus, ia langsung tersingkir dari pintu Grup Widodo.
Ibu kandungnya pun nggak pernah belain dia.
Ketidakadilan semacam itu sudah terlalu sering Joana alami.
Ia tahu ibu tirinya nggak suka lihat dia menonjol, dan ibu kandungnya sendiri juga nggak pernah belain dia.
Karena itu dua tahun terakhir ia hidup tenang sebagai pegawai kecil yang nyaris nggak terlihat.
Nggak bersaing.
Nggak berebut.
Sebisa mungkin hindari konflik kepentingan dengan kakak-kakaknya.
Ia nggak berniat cari promosi, juga nggak butuh kenaikan gaji.
Jadi presdir baru yang datang mendadak ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan dia.
Lili pun tekan Joana kembali duduk ke kursi dengan gemas. “Dengar presdir baru datang, kamu malah santai? Semua orang di perusahaan ini mati-matian dandan cantik supaya sejak pandangan pertama bisa tarik perhatiannya! Memang sih kamu cantik alami, tapi jangan sampai sia-sikan kesempatan! Katanya presdir baru ini muda dan ganteng, jelas nggak mungkin bikin kecewa .…”
Joana hampir ingin muntah darah. “Kalau gitu kamu saja yang dandan cantik. Aku beneran nggak perlu. Aku masih banyak kerjaan .…”
Lili nggak mau lepaskan Joana. “Kalau aku nggak kepilih, tapi kamu yang dipilih juga bagus! Di dunia kerja, selain kemampuan dan kerja keras, yang paling penting itu punya sandaran kuat! Kalau presdir baru ngelirik kita, siapa yang berani macam-macam nanti?”
...
Pukul sepuluh pagi.
Lobi perusahaan sudah dipenuhi orang.
Semua berdiri rapi dan hormat, menatap pintu masuk dengan penuh harap.
Lili susah payah seret Joana ke barisan paling depan.
“Terlalu depan .…” Joana hendak mundur.
Namun saat itu juga presdir baru tiba.
Belasan mobil pengawal iringi sebuah mobil Rolls-Royce supermewah yang berhenti tepat di depan gedung.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria berkacamata hitam dan berjas rapi turun perlahan.
Posturnya tegap dan dingin, auranya kuat seperti seorang raja.
Dikelilingi puluhan pengawal, ia melangkah masuk dengan wibawa yang begitu mencolok.
Pemandangan itu megah dan menggetarkan. Semua orang terpaku.
Aura dominannya benar-benar menekan hingga ke tulang.
Joana pun tanpa sadar mendongak menatap pria itu.
Dan seketika ia tertegun. ‘Gimana mungkin itu dia?’
Pupil matanya mengecil drastis, wajahnya dipenuhi rasa nggak percaya.
Presdir yang datang mendadak itu bukannya dokter pria yang periksa dia di rumah sakit?
‘Ini … nggak mungkin, kan? Bukannya dia dokter?’
Joana hampir kira dia berhalusinasi.
Ia cepat-cepat pejamkan mata dan menggeleng.
Saat ia buka mata kembali, pria itu sudah berhenti tepat di depannya.
Napas Joana nyaris terhenti.
Surya perlahan menoleh ke arahnya.
Dari jarak sedekat ini, mustahil ia salah mengenali.
Wajah setampan pahatan itu adalah pria yang semalam tanpa sengaja mengisi pikirannya.
‘Beneran dia. Astaga! Kok bisa begini?’
Kepalanya berdengung seperti meledak.
Tatapan Surya hanya berhenti kurang dari dua detik sebelum beralih, sedingin orang asing yang nggak pernah kenal dia.
Baru setelah itu semua orang seperti tersadar dan serempak berseru, “Presiden Direktur, hormat!”
Lihat punggungnya masuk ke lift khusus presdir, hati Joana terasa jatuh ke dasar jurang.
Ia diam-diam cubit dirinya keras-keras.
Sakit. Bukan mimpi.
Masih ada satu kemungkinan, presdir baru ini dan dokter hari itu cuma kebetulan punya wajah yang sama.
Dua orang berbeda.
Joana coba menghibur diri. Lili tarik lengannya dengan mata berbinar. “Joana, kamu kenal presdir baru kita?”
Joana tersentak. “Apa?”
“Aku lihat tadi dia berhenti dua detik lebih lama di depanmu! Jangan-jangan dia tertarik sama kamu?”
“Mana mungkin? Kamu pasti salah lihat!” jawab Joana cepat.
Joana segera lari ke toilet, basuh wajahnya dengan air dingin agar pikirannya jernih.
Sementara Lili berdiri terpaku, masih ragu.
Beneran ia cuma salah lihat?
……
Ketika Joana kembali ke kantor, rekan-rekannya sedang ramai bicarakan presdir baru.
“Kalian dengar nggak? Ibunya itu direktur Rumah Sakit Swasta Naroma. Ayahnya pejabat tinggi yang sering muncul di berita TV. Dia tumbuh besar di kompleks militer, lalu kuliah di luar negeri dan raih dua gelar master, kedokteran dan keuangan. Awalnya dia balik itu untuk ambil alih rumah sakit ibunya, nggak tahu kenapa malah datang ke perusahaan kita.”
Dengar itu, jantung Joana bergetar.
Rumah Sakit Swasta Naroma, bukannya itu rumah sakit tempat ia berobat?
Jadi ibunya adalah direktur di sana, dan dia sendiri memang belajar kedokteran.
Beneran selesai sudah.
Semua petunjuk mengarah ke satu jawaban, dia memang dokter yang periksa waktu kapan lalu itu.
Sungguh, apa yang ia takutkan justru terjadi.
Setelah pemeriksaan hari itu, Joana berharap nggak pernah ketemu dia lagi.
Siapa sangka pria itu justru datang ke kantornya sebagai presdir baru?
Untungnya Joana cuma pegawai kecil yang nggak berarti.
Seharusnya nggak bakal ada urusan apa pun di antara mereka.
Baru saja Joana selesai menghibur diri, Manajer Perusahaan itu, Herman Kaligis mendadak hampiri dia dan berkata tegas, “Joana, bos baru sebut namamu. Minta kamu pergi ke kantornya sekarang.”
Kelopak mata Joana berkedut.
Seluruh rekan kantor sontak menoleh padanya dengan tatapan terkejut.
Sementara ia tarik napas tajam.
Hatinya langsung tenggelam ke dasar.
Ya ampun, tetap nggak bisa menghindar?
Bab 5
Herman menatapnya tajam.
“Kamu habis buat salah apa?”
Bos besar tiba-tiba sebut namanya untuk menghadap, nggak cuma Joana yang kaget, seluruh orang di kantor, termasuk Herman, atasan langsungnya juga nggak nyangka.
Joana mengedip polos.
“Aku juga nggak tahu.”
Telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Hatinya gelisah, nggak bisa tenang sedikit pun.
Semakin ingin menghindar, semakin nggak bisa lepas.
Herman peringatkan dengan keras, “Kalau memang kamu buat salah, tanggung sendiri! Jangan seret-seret aku, ngerti?”
Herman adalah orang kepercayaan ibu tirinya.
Dua tahun terakhir, Joana ditempatkan kerja di bawahnya.
Herman turuti perintah Denina, ibu tirinya untuk persulit hidup Joana, kasih dia pekerjaan paling merepotkan, tekan dia dengan berbagai cara.
Sekarang, di hari pertama Bos Besar datang, ia justru melangkahi struktur organisasi dan langsung panggil Joana.
Dalam pikiran Herman, sudah pasti Joana telah lakukan sesuatu yang nyinggung Bos Besar.
Jadi, kalau Joana benar-benar dapat hukuman, justru itu akan memudahkan Herman untuk kasih laporan ke Denina, Nyonya besar Keluarga Widodo.
Ia memang diperintahkan untuk cari cara agar Joana lakukan kesalahan.
Sayangnya, dua tahun ini gadis itu selalu berhati-hati dan nggak pernah terpeleset.
Ia sedang pusing pikirkan cara “ciptakan” kesalahan untuk Joana, ketika tiba-tiba Joana sendiri buat masalah sampai ke telinga Bos Besar.
Waktunya tepat sekali. Semakin besar masalah yang Joana buat, Denina akan semakin puas.
Tentu saja, sebelum itu ia harus bersihkan namanya sendiri, agar nggak ikut terseret.
“Baik, Pak Herman,” jawab Joana sambil menunduk.
Joana hendak pergi, namun Herman tiba-tiba tarik dia dan berbisik ngancam di telinganya, “Ingat! Kalau kamu berani bicara sembarangan di depan Bos Besar, jangan harap kamu bisa hidup enak lagi di bawahku!”
Joana meliriknya sinis.
Herman bilang seperti itu, seolah-olah dua tahun ini ia pernah hidup enak di bawah pria itu saja.
Tekanan, penindasan, perundungan di tempat kerja, apa lagi yang belum ia rasakan?
Sekarang pria itu jelas sedang ketakutan.
Takut Joana ngadu ke Bos Besar, jadi sebelum ia naik ke kantor presiden, ia sudah diperingatkan lebih dulu.
Padahal sebetulnya Herman mikir terlalu jauh.
Joana punya hal yang jauh lebih penting untuk dipastikan.
Ngapain repot-repot sebut nama orang se-tidak penting dirinya?
Diam-diam Joana memutar bola matanya, lepaskan tangan Herman, lalu jalan menuju lift.
Lift bawa dia ke lantai teratas, wilayah eksklusif presiden direktur.
Dua tahun kerja di perusahaan ini, ia belum pernah injak lantai di atas lantai dua belas, apalagi lantai puncak.
Sekretaris antar Joana ke depan pintu kantor presiden dan ketuk pintunya.
“Masuk.”
Suara pria itu terdengar rendah dan dingin dari dalam.
Joana hembuskan napas panjang.
Poni rambut di dahinya terangkat lalu jatuh kembali.
Ia tenangkan diri dan melangkah masuk.
Kantor presiden didominasi warna hitam dan putih yang kaku, garis-garis tegasnya cerminkan pemiliknya yang sulit didekati.
Sekilas ia lihat pria tinggi di balik meja kerja. Kepalanya tertunduk, baca dokumen.
Wajahnya belum terlihat jelas, namun aura yang terpancar terasa begitu familiar.
Anehnya, ia seolah lupa kalau Joana ada di sana. Sejak ia masuk, pria itu nggak pernah turunkan berkasnya ataupun menoleh.
Pikiran Joana mulai dipenuhi bayangan yang nggak seharusnya muncul.
Hari itu di ruang periksa … di ranjang pemeriksaan … saat ia bantu Joana lakukan pemeriksaan .…
Astaga! Kenapa ia malah ingat hal itu?
Di tengah rasa jengkel pada dirinya sendiri, tiba-tiba Joana rasakan tatapan tajam dan dalam yang ikat tubuhnya.
Joana tersentak sadar.
Entah sejak kapan pria di depannya sudah angkat kepala. Sepasang mata hitamnya yang dalam menatap Joana cukup lama.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya satu detik, namun tekanan yang terasa seolah menghantam langsung ke dada. Jantungnya berdetak cepat.
“Kamu kelihatannya kaget lihat aku.”
Sudut bibir Surya terangkat bentuk senyum samar yang sulit ditebak, senyum yang nggak pernah benar-benar sampai ke matanya.
Urat di pelipis Joana berdenyut.
“Maaf. Aku cuma terpesona dengan wibawamu, jadi nggak sadar kalau menatap terlalu lama.”
Alis pria itu terangkat sebelah, tatapannya semakin dalam.
“Gitu? Jadi Nona Joana suka aku?”
“Mana berani? Aku cuma pegawai biasa di bawahmu. Nggak mungkin punya pikiran yang aneh-aneh. Kalau pun ada, cuma rasa kagum saja!” jawabnya tergesa.
Pria itu berdiri di hadapannya dengan aura yang begitu kuat hingga sulit diabaikan.
Mata hitamnya yang tajam menelusuri Joana tanpa berkedip.
Seperti pemburu yang tengah menilai mangsanya.
Beberapa saat kemudian, ia akhirnya tanya pelan, “Badanmu sudah enakan?”
Joana kembali tertegun.
Tatapan mereka bersinggungan, dan jantungnya seperti terlewat satu detak.
Kalimat itu sama saja dengan pengakuan kalau pria yang periksa Joana hari itu memang dirinya.
“Sudah … sedikit .…”
Wajahnya memerah, jawab dengan nada canggung.
Joana nggak berani menatapnya lagi.
Dengan nada penuh arti, Surya berkata, “Penyakitmu nggak gampang sembuhnya. Kalau perlu, bisa kapan saja datang cari aku.”
Tubuh Joana bergetar.
Apa maksudnya ‘bisa kapan saja datang cari aku?’
Apa itu artinya kalau ia lagi ingin ‘itu’, pria itu bisa bantu puaskan?
Nggak heran Joana pikir sejauh itu.
Sejak lihat Surya, tubuhnya sudah bereaksi tanpa diminta.
Sekarang ada di satu ruangan yang sama dengannya, keinginan dalam diri Joana terasa semakin kuat.
Celaka! Gejalanya sepertinya kambuh lagi!
“Makasih atas perhatiannya. Kalau nggak ada hal lain, aku kembali kerja dulu .…”
Tanpa sadar Joana rapatkan kedua pahanya, bicara dengan cepat.
Joana nggak ingin kehilangan kendali di hadapannya.
Saat ini ia benar-benar butuh ke toilet untuk tenangkan diri.
Joana bergegas menuju pintu.
“Emang aku sudah izinkan kamu pergi?”
Suara berat pria itu terdengar lagi dari belakang. Langkahnya terhenti.
“Ada lagi yang bisa aku bantu?”
Tatapan pria itu tetap panas dan nggak teralihkan.
Ia bangkit dari kursi besar dan melangkah perlahan mendekati Joana.
Tubuhnya tinggi tegap, bahu lebar dan pinggang ramping, proporsi sempurna.
Celana jas hitam bungkus kakinya yang panjang dan lurus.
Pria ini memang ganteng tanpa cela.
Gimana rasanya jika benar-benar tidur dengannya?
Pikiran itu melintas liar di benak Joana.
Tenggorokannya terasa kering.
Semakin dipikirkan, tubuhnya semakin nggak nyaman.
“Lagi mikirin apa?” tanya Surya tiba-tiba, mendekat ke telinganya.
“Aku mau dengan kamu lakukan ….”
Nyaris saja isi hatinya terucap.
Untung ia berhenti di tengah kalimat dan buru-buru ubah itu.
“Lakukan pekerjaan. Belajar cara kerja yang baik dari kamu!”
Saat Joana angkat kepalanya, ia terkejut.
Pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
Jarak mereka begitu dekat.
Aroma maskulin dari tubuhnya hampir sepenuhnya selubungi Joana.
Pikirannya sejenak kosong. Semakin cium aroma itu, semakin kuat hasratnya.
Keinginan kaburkan nalar.
Joana hampir saja benar-benar ucapkan isi hatinya.
Surya menatapnya dari atas dengan sorot mata yang sulit ditebak.
Joana menunduk, hatinya berdebar nggak karuan.
Baru saja Joana dengan berani inginkan tubuhnya. Ia pasti marah.
Joana sempat pikir, mungkin pria itu bisa marah besar dan langsung pecat dia.
Namun yang Surya katakan cuma, “Aku lagi butuh asisten. Mulai besok, kamu akan jadi asisten sementara presiden direktur.”
Bab 6
Kelopak mata Joana berkedut pelan.
Surya, beneran mau langsung angkat dia jadi asisten presiden direktur? Jangan-jangan ini cuma cara halus untuk jatuhkan dia?
“Aku belum pernah kerja sebagai asisten. Aku khawatir nggak mampu jalankan tugas itu .…” Refleks pertamanya adalah menolak.
Saat ini kepalanya justru dipenuhi pikiran-pikiran nggak pantas tentang Surya.
Kalau beneran jadi asisten presiden direktur dan harus setiap hari lihat Surya … gimana ia bisa tahan?
Tatapan dalam Surya menelusurinya.
“Nggak puas dengan kenaikan jabatan?”
Joana jilat bibirnya yang kemerahan.
“Aku rasa .…”
Joana langsung dipotong dengan tegas, “Kamu yang presiden direktur, atau aku?”
Senyumnya membeku.
“Tentu kamu.”
Dengan nada nggak terbantahkan, Surya kasih perintah, “Kembali dan serah terimakan kerjaanmu yang lama. Mulai besok kamu kerja di kantor presiden direktur.”
“Tapi .…” Joana gantungkan kalimatnya.
Apa Surya nggak takut ia inginkan tubuhnya? Gimana kalau suatu hari ia nggak mampu tahan diri dan benar-benar tidur dengan Surya?’
Ekspresi Surya tampak mulai nggak sabar.
“Kalau nggak mau kerja, silakan mengundurkan diri.”
Joana terdiam.
Ia menunduk sedikit. “Baik.”
Surya menatapnya sekilas, ia kira Joana telah terima tawaran itu, lalu kembali ke kursinya dan lanjutkan pekerjaan.
Namun Joana justru kembali ke ruangannya, abaikan sindiran Herman dan tatapan penasaran rekan-rekan kerjanya.
Begitu duduk, ia langsung nyalakan komputer dan mulai tulis surat pengunduran diri.
Aneh, api gelisah dalam tubuhnya sedikit mereda ketika ia putuskan untuk mengundurkan diri.
“Joana, kenapa Pak Surya panggil kamu sendirian ke kantornya? Jangan-jangan dia suka kamu?” Lili sodorkan kepalanya, matanya berbinar.
“Nggak mungkin deh. Dia itu presiden perusahaan. Mana mungkin tertarik ke orang biasa seperti aku?” jawab Joana sambil terus mengetik.
“Biasa? Bulan ini saja aku sudah bantu kamu buang lebih dari dua puluh buket bunga mawar! Dengan wajah dan tubuhmu, nggak aneh kok kalau Pak Surya jatuh cinta pada pandangan pertama!”
Jatuh cinta pada pandangan pertama?
Jari Joana terhenti sejenak.
Kalau memang gitu bukannya berarti ia punya kesempatan untuk benar-benar lakukan itu dengan Surya?
Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, pinggangnya ramping, kakinya panjang, dalam urusan itu pasti luar biasa, bukan?
Astaga! Dia mikir apa sih?
Jangan-jangan penyakit anehnya kambuh lagi?
Wajahnya memerah. Ia cepat-cepat menggeleng.
“Nggak mungkin. Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Kerja sana!”
Joana kembali fokus tulis surat pengunduran diri dan berhasil kirimkan itu ke email direktur HRD sebelum jam pulang.
Setelah itu Joana mulai bereskan barang-barangnya, bersiap bawa pulang semua miliknya.
Tiba-tiba Herman lempar setumpuk dokumen tebal ke mejanya, senyumnya palsu.
“Malam ini lembur. Ini semua tanggung jawabmu.”
Joana menatap tumpukan berkas itu.
Nggak perlu ditebak, lagi-lagi ia dipersulit.
Herman terima sogokan dari ibu tirinya untuk “mendidiknya”.
Selama dua tahun ini, lembur tanpa alasan sudah jadi makanan sehari-hari.
Terlebih hari ini ia dipanggil langsung oleh presiden direktur baru, jelas mancing rasa cemburu dan tidak senang di hati Herman.
Sayangnya, kali ini Joana nggak akan nurut lagi seperti dulu.
“Pak Herman, sudah jam pulang kerja. Maaf, aku mau pulang,” ucapnya dingin.
Herman menatap nggak percaya.
Joana yang biasanya nurut, sekarang berani membangkang?
“Jangan kira karena hari ini Pak Surya panggil kamu, terus kamu bisa nggak anggap aku! Di departemen proyek, aku yang berkuasa! Berani lawan atasan? Percaya atau nggak, aku bisa pecat kamu!” bentaknya marah.
Joana hanya meliriknya datar.
“Silakan saja.”
Joana angkat kotaknya dan pergi tanpa menoleh lagi.
Makian Herman terdengar di belakang, tapi Joana nggak peduli.
Ia nggak langsung pulang, melainkan jalan tanpa arah di jalanan.
Jam segini, suaminya, Fajar, pasti juga belum pulang rumah.
Selama setahun pernikahan, mereka nyaris hidup di dunia masing-masing.
Makan malam sama-sama pun jarang sekali.
Dulu ia cuma kira Fajar dingin dan belum terbiasa dengan kehidupan pernikahan.
Sekarang ia ngerti.
Bukannya nggak terbiasa, tapi hatinya Fajar memang nggak pernah tertuju ke dia.
Joana makan seadanya di luar dan pulang saat malam sudah larut.
Fajar belum pulang.
Biasanya, meskipun nggak pingin ketemu dengannya, sebelum jam sembilan malam Fajar pasti sudah di rumah.
Sekarang hampir pukul sebelas, tapi bayangannya pun nggak kelihatan.
Setelah lama bimbang di sofa, akhirnya Joana beranikan diri untuk telepon dia.
“Halo? Siapa ini?”
Telepon berdering lama sebelum diangkat.
“Ini aku.”
Wajah Joana menegang. Bahkan nomornya nggak disimpan.
Setahun menikah, suaminya nggak simpan nomor istrinya sendiri, sungguh ironis.
“Kenapa?” Begitu tahu itu dirinya, suara Fajar langsung berubah dingin.
“Sudah malam, kira-kira kamu pulang jam berapa?” tanyanya hati-hati.
Di seberang sana terdengar hening beberapa detik.
Lalu, dengan nada nggak sabar, ia hanya jawab, “Hmm.”
‘Hmm? Itu artinya apa?’
Joana hendak ulang pertanyaannya ketika terdengar nada putus.
Joana terdiam. Telepon sudah ditutup.
Ia genggam HP-nya, alisnya berkerut.
Sebagai istri, ia cuma ingin tahu kapan suaminya pulang. Tapi ia malah diperlakukan seolah itu gangguan.
Nggak tungguin Fajar lagi, Joana mandi air hangat lalu tidur.
Saat ia terlelap, Fajar belum juga pulang.
Sudah hampir tengah malam. Nggak heran tidurnya gelisah, dipenuhi mimpi buruk.
Sebentar Joana mimpi Herman jebak dia di kantor, sebentar mimpi Fajar ceraikan dia demi nikahi kakaknya, Diana.
Ia terbangun saat fajar menyingsing.
Ingat ia sudah mengundurkan diri dan hari ini nggak perlu kerja, ia kembali pejamkan mata.
Namun bayangan buruk semalam buat dia nggak bisa benar-benar tenang.
Lebih buruk lagi, gelombang panas aneh kembali merambat di tubuhnya.
Napasnya berubah cepat. Keinginan itu muncul lagi.
Joana berusaha tahan diri, bangkit untuk buat sarapan demi alihkan pikiran.
Namun ketika ia sadar kamar Fajar kosong, ia benar-benar nggak pulang semalaman, rasa nggak nyaman dalam tubuhnya justru semakin kuat.
Penyakit anehnya kambuh.
Joana pun kembali ke tempat tidur, tubuhnya bergeliat gelisah.
Pikirannya nggak bisa berhenti bayangkan alasan suaminya nggak pulang.
Apa semalam ia bersama Diana?
Semakin dipikir, semakin menyakitkan.
Nggak hanya secara batin, tubuhnya juga ikut tersiksa.
Semakin nggak tersentuh, semakin ingin memiliki.
Saat telepon dari Surya masuk, wajah Joana sedang memerah, dalam pergolakan yang nggak terkendali.
Awalnya Joana nggak niat untuk jawab panggilannya, tapi nggak sengaja jarinya sentuh layar HP.
Panggilan terhubung.
Surya baru hendak bicara ketika dari seberang terdengar napasnya yang terengah.
“Kamu lagi ngapain?”