Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa

Đang tải thông tin quảng bá...

Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa

GoodNovel Hoàn thành

Rachel Jovanka telah menikah selama dua tahun. Ketika hendak mengurus ulang akta nikah, dia baru mengetahui bahwa akta nikah yang selama ini dia simpan seperti harta karun ternyata palsu .... Rachel i...

Chương (1)

第1章

Rachel Jovanka telah menikah selama dua tahun. Ketika hendak mengurus ulang akta nikah, dia baru mengetahui bahwa akta nikah yang selama ini dia simpan seperti harta karun ternyata palsu .... Rachel ingin langsung bertanya jelas pada suaminya, Joshua Hartono. Akan tetapi, dia tanpa sengaja mendengar bahwa pria yang telah melindunginya selama enam tahun itu ternyata telah menikah selama lima tahun. Istrinya adalah guru yang enam tahun lebih tua darinya! Rachel bukan hanya dijadikan tameng kedua orang itu, tetapi juga dibohongi oleh Joshua bahwa dirinya mandul dan dipaksa untuk mengadopsi anak mereka. Menahan rasa jijiknya, Rachel menelepon pengacara yang menghubunginya untuk mewarisi harta keluarga. Dia berujar, "Aku belum menikah dan nggak punya anak. Aku akan warisi seluruh harta itu sendiri." Rachel dengan tegas meninggalkan Keluarga Hartono. Melihat Rachel yang tak memiliki sandaran, Joshua dengan tenang menunggunya kembali. Tanpa diduga, suatu hari, dia melihat Rachel di berita nasional tentang pernikahan yang menjadi sorotan publik. Pada saat itu, Rachel berdiri berdampingan dengan seorang pria yang berada di puncak kejayaan. Di bawah sorotan lampu, mereka menerima rasa iri dan berkat dari orang di seluruh dunia .... Bab 1  Pada tahun kedua menikah, Rachel Jovanka tanpa sengaja merobek akta nikahnya saat merapikan laci. Ketika dia bergegas ke Kantor Catatan Sipil untuk mengurus ulang akta nikahnya, petugas di loket bertanya dengan ragu, "Bu, di sistem kami nggak tercatat pendaftaran pernikahanmu." "Nggak mungkin, aku sudah menikah selama dua tahun," jawab Rachel sambil menyerahkan akta nikah yang telah robek itu. Petugas itu dengan sabar memeriksa tiga kali sebelum akhirnya membalikkan layar ke arah Rachel. "Benar-benar nggak tercatat informasi kamu sudah menikah. Selain itu, stempel pada aktamu juga bengkok .... Ini seharusnya palsu." Ketika sedang berjalan keluar dari Kantor Catatan Sipil dengan sedih, ponsel Rachel tiba-tiba berdering. "Bu Rachel, halo, aku pengacara ayahmu. Apa kamu bisa datang ke Firma Hukum Novalex untuk tandatangani surat keterangan ahli waris?" 'Penipu dari mana ini?' pikir Rachel dalam hati. Ketika dia hendak menutup telepon, si penelepon tiba-tiba berkata, "Bu Rachel, nama ibumu Sarah Jovanka. Dua puluh tahun yang lalu, dia tinggalkan kamu di gerbang Panti Asuhan Pratama. Setelah dikonfirmasi, kamu satu-satunya anak kandung almarhum Vino Zavian, orang terkaya di Kota Stravon." Rachel pun membeku di tempat untuk beberapa saat, lalu segera pergi ke firma hukum. Di sana, pengacara memberitahunya hal paling mengejutkan yang pernah didengarnya. Ayah kandung Rachel, Vino Zavian, adalah seorang konglomerat dari keluarga terpandang. Dia telah meninggal bulan lalu. Total aset yang ditinggalkannya bernilai ratusan triliun, juga mencakup saham, properti, dan perusahaan. Selain itu, Rachel adalah satu-satunya anak yang memiliki hubungan darah dengan Vino. Saat kepala Rachel terasa berdengung, pengacara itu tiba-tiba bertanya, "Bagaimana status perkawinan dan anak Bu Rachel?" Wajah suaminya terlintas di benak Rachel. Ketika teringat akta nikah palsu yang robek di tasnya, dia menggenggam pena dan menjawab, "Tunggu aku selama dua jam. Aku perlu mencari tahu sesuatu dulu." Setelah meninggalkan firma hukum, Rachel langsung pergi ke perusahaan suaminya. Pintu kantor Joshua Hartono sedikit terbuka. Tepat saat Rachel hendak membukanya, terdengar suara wanita yang dewasa dan memikat. "Joshua, kita sudah menikah selama lima tahun. Kapan kita baru bisa umumkan hubungan kita?" Rachel seketika membeku. Suara itu sangatlah familier. Itu adalah suara Anisa Halim, dosen wali mereka. Anisa enam tahun lebih tua dari Joshua. Namun, selain usianya yang lebih tua, dia memiliki paras dan tubuh yang luar biasa. Ketika mereka masih berkuliah, Anisa juga sangat populer di kampus dan menarik perhatian baik laki-laki maupun perempuan. Dia bahkan dipuji sebagai dosen wali perempuan terbaik di seluruh kampus. Rachel menahan napas. Pada detik berikutnya, dia mendengar suara suaminya yang biasanya lembut dan sangat memikat. "Perusahaan ini akan segera go public dan ada banyak aspek yang butuh kontribusinya. Selain itu, Kakek sudah meninggalkan wasiat yang melarangmu nikah sama aku. Kalau kita umumkan hubungan kita sekarang, aku khawatir nenekku akan mempersulitmu. Itu akan membuatku sedih ...." Rachel merasa telinganya berdengung, bagaikan baru saja mendengar suara ledakan. Dia segera mengangkat tangan dan menutup mulutnya rapat-rapat untuk mencegah dirinya mengeluarkan isakan. Sebelumnya, Rachel bahkan dengan hati-hati menyusun kembali akta nikah palsu yang robek itu dan menyimpannya dalam tas bagaikan harta karun. Namun, sejak awal, dia ternyata hanyalah orang bodoh yang tidak mengetahui apa-apa. Rachel bergegas keluar dari perusahaan, lalu segera menelepon seseorang. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berbicara dengan suara yang begitu tenang dan berbeda dari orang yang baru saja menahan tangis. "Pak Jusman, aku akan tandatangani surat keterangan ahli waris sekarang juga. Selain itu, aku masih belum menikah dan nggak punya anak. Aku akan mewarisi seluruh harta itu sendiri." Setelah menyelesaikan semua prosedur, Rachel mengemudi pulang. Dia melamun sepanjang perjalanan sehingga mengalami cedera kepala ringan saat ditabrak dari belakang. Setelah mendapat perawatan di ruang gawat darurat, Rachel tiba-tiba teringat sesuatu dan pergi mencari dokter kandungan. Ketika menerima hasil tesnya, hatinya sepenuhnya hancur. "Maksudmu ... rahimku baik-baik saja?" "Ya. Menurut laporan itu, kamu sangat sehat." "Aku bisa hamil?" "Tentu saja." "Itu juga nggak berpengaruh pada aktivitas seksual?" Pada titik ini, bahkan dokter paruh baya itu juga merasa agak canggung. "Apa itu masih perlu ditanyakan?" Namun, saat melakukan pemeriksaan pranikah, Joshua memegang laporan hasil pemeriksaan Rachel dan mengatakan bahwa rahimnya memiliki kelainan serius. Dia bukan hanya tidak bisa hamil, bahkan aktivitas seksual normal pun akan menyebabkan kerusakan permanen pada tubuhnya. "Meski begitu, aku akan tetap menikahimu." Pada saat itu, Joshua menggenggam tangan Rachel dan berujar dengan mata dipenuhi kelembutan yang tak tergoyahkan, "Di kehidupan ini, aku sudah putuskan untuk memilihmu." Demi janji ini, Rachel dan Joshua bahkan harus melewati badai kritik dari para senior Keluarga Hartono. Rachel menyaksikan ayah mertuanya menghancurkan cangkir teh karena marah sambil berseru, "Kamu mau putuskan garis keturunan keluarga ini dengan nikahi wanita mandul?" Rachel juga pernah mendengar ibu mertuanya menangis di pertemuan keluarga dan mengeluh kepada kerabat, "Joshua pasti sudah disantet." Namun, setiap kali, Joshua akan tersenyum dan berkata, "Jangan dengarkan mereka. Ada aku di sini." Selama dua tahun, ibu mertua Rachel selalu melontarkan tuduhan secara terang-terangan maupun terselubung, seperti "dia macam ayam yang nggak bisa bertelur", "apa gunanya menikahi seseorang yang bahkan nggak bisa punya anak". Kata-kata itu menghantui Rachel seperti penyakit yang tak kunjung sembuh, juga membuatnya melewati malam-malam tanpa tidur yang tak terhitung jumlahnya. ... Setelah mendengar bahwa Rachel mengalami kecelakaan mobil, Joshua segera pergi ke rumah sakit untuk menjemputnya. Pria itu mengenakan kemeja putih, memiliki tinggi lebih dari 180 sentimeter, dan bertubuh tegap. Ketika melihat Joshua menghampirinya dengan tampang khawatir, pikiran Rachel melayang pada enam tahun kebersamaan mereka sejak saling mengenal. Mereka berdua pertama kali bertemu di kantor Anisa. Rachel menggantikan seorang teman sekelas untuk mengantar materi, sedangkan Joshua dan Anisa sedang mendiskusikan sesuatu. Ketika mendongak, tatapan Joshua bertemu dengan tatapan Rachel. Pria itu mengangguk sopan, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Selanjutnya, Joshua pun meluncurkan empat tahun pengejaran tanpa henti. Joshua adalah idola kampus yang diakui orang-orang. Selain sangat tampan, dia juga memiliki prestasi akademis yang unggul dan berasal dari keluarga yang sangat kaya. Ditambah dengan cara mengejarnya yang agresif dan sifatnya yang lembut, hampir tidak ada gadis yang mampu menolaknya. Rachel juga tidak terkecuali. Dia adalah seorang yatim piatu dengan kepribadian yang dingin dan suka menyendiri. Namun, dia tetap luluh oleh pengejaran Joshua yang intens. Joshua sudah berbicara begitu lama pada Rachel, tetapi tidak mendapatkan tanggapan apa pun. Dia mengira Rachel masih dalam keadaan syok dan segera menariknya ke dalam pelukan. Namun, Rachel secara refleks mendorongnya menjauh dan berdiri. "Ayo pergi," kata Rachel dengan tergesa-gesa. Kemudian, dia berjalan melewati Joshua. Pelukan yang dulunya terasa hangat dan menenangkan, kini malah membuatnya merasa sangat jijik. Setelah naik ke mobil, Joshua masih khawatir dengan keadaan Rachel. "Apa yang terjadi? Kamu selalu hati-hati waktu mengemudi. Ada apa denganmu hari ini?" Rachel tidak menjawab. Pandangannya tertuju pada telapak tangannya. Cincin berlian yang berkilauan itu terlihat menusuk mata. Meskipun Rachel mengabaikannya, Joshua juga tidak keberatan. Dia secara alami mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Rachel. Namun, Rachel menghindar lagi. "Kenapa kamu marah padaku? Ya sudah, kalau kamu nggak mau bicara, aku nggak akan paksa. Hari ini, kita kedatangan tamu penting. Aku sudah minta sama kepala pelayan untuk siapkan banyak makanan favoritmu. Semoga kamu terhibur." Joshua terlalu lembut. Makin dia seperti ini, makin ingin tertawa pula Rachel. "Yang gembira dikit, dong. Jangan marah lagi. Aku pasti akan habiskan lebih banyak waktu bersamamu setelah masa sibuk ini. Perusahaan lagi persiapkan untuk go public, makanya aku sibuk banget." Joshua mengira Rachel sudah tenang dan ikut tersenyum. "Iya, aku lumayan gembira kok. Aku merasa hidupku penuh pengalaman dan menarik." Kata-kata Rachel memiliki makna tersembunyi, tetapi Joshua tidak memahaminya. Vila Keluarga Hartono terletak di kawasan taman tepi sungai yang merupakan area termahal di kota. Vila itu memiliki luas lebih dari 500 meter persegi. Namun, ini adalah hasil pengorbanan Rachel. Setelah lulus kuliah, dia mengorbankan kariernya sendiri untuk membantu membangun perusahaan Joshua. Begitu tiba di rumah, Rachel mendengar tawa dan obrolan riang dari lantai atas. Ada suara anak laki-laki dan suara perempuan yang lembut nan manis. Anak laki-laki itu diadopsi Rachel dan Joshua tak lama setelah pernikahan mereka. Dia bernama Maverick Hartono dan sudah berusia lima tahun sekarang. Rachel mendongak. Seperti yang diduga, dia melihat Anisa yang sudah lima tahun tidak dia temui. Anisa mengenakan gaun rajut biru muda dan rambut panjangnya dibuat bergelombang. Meskipun sudah berusia lebih dari 30 tahun, wajahnya masih mulus, seperti orang awal usia 20 tahun. Setiap gerakannya memancarkan pesona yang lebih anggun lagi. "Rere, coba lihat siapa yang datang!" Suara Joshua terdengar dari samping Rachel. Suaranya yang berat dan rendah tak mampu menyembunyikan antusiasnya. Ini adalah pertama kalinya Rachel merasakan emosi yang begitu kuat pada Joshua. Tidak peduli seberapa baik atau lembutnya Joshua padanya, Joshua tidak pernah menunjukkan antusias seperti ini. Itu adalah luapan cinta yang lahir dari lubuk hati dan dorongan naluriah seorang pria yang tak dapat ditahan. "Bu Anisa?" Rachel mengerutkan kening dan berpura-pura terkejut. Namun, rasa jijik dalam hatinya telah mencapai puncaknya. Anisa yang berdiri di hadapannya terlihat tenang dan elegan, sangat kontras dengan tampangnya yang genit di kantor Joshua. "Rachel, lama nggak jumpa." Anisa segera menggandeng Maverick dan turun ke lantai bawah. Dia menyapa Rachel dengan hangat. Pandangan Rachel kembali tertuju pada Maverick. Tidak lama setelah pernikahan mereka, Joshua berdiskusi dengannya tentang mengadopsi seorang anak laki-laki dari panti asuhan tempat Rachel pernah tinggal dan memberinya nama Maverick. Joshua mengklaim bahwa mengadopsi anak ini akan membantu mereka menenangkan senior Keluarga Hartono, juga mencegah orang tuanya mendesak Rachel untuk memiliki anak. Rachel mengira Joshua peduli padanya dan menyetujui usul itu. Namun, dia tidak menyangka bahwa dirinya akan hidup begitu menderita selama dua tahun membesarkan Maverick. Anak laki-laki ini memiliki temperamen yang buruk. Ketika tidak senang, Maverick akan melempar barang ke arah Rachel, seolah-olah menyimpan permusuhan yang mendalam terhadapnya. Suatu kali, Maverick bahkan menuntut Joshua untuk mengembalikan ibu kandungnya di depan Rachel. Rachel yang murka juga pernah mempertimbangkan untuk menyerahkan hak asuh Maverick, tetapi Joshua selalu membujuknya untuk berubah pikiran. Dia mengatakan bahwa Maverick yang tidak memiliki ibu sangat kasihan. Dia juga meminta Rachel untuk lebih menoleransi Maverick dan mengingatkan Rachel tentang dirinya yang juga ditelantarkan orang tua ketika masih kecil. Melihat Maverick yang menggenggam erat tangan Anisa, lalu menghubungkannya dengan sikap Joshua terhadapnya selama ini, Rachel tiba-tiba memahami semuanya. Joshua dan Anisa telah menikah selama lima tahun, sedangkan Maverick juga berusia lima tahun. Keluarga Hartono tidak menyetujui Anisa menikah dengan Joshua. Jadi ... Joshua menggunakan Rachel sebagai dalih, juga menipunya untuk menjadi pekerja rodi dan tameng mereka? Selama makan, Joshua dan Maverick terus-menerus mengambilkan makanan untuk Anisa. Mereka bertiga mengobrol dan tertawa akrab, sehingga membuat Rachel yang makan dalam diam terlihat seperti orang asing. "Rere, akhir-akhir ini, Bu Anisa lagi menulis buku tentang pengasuhan anak dan mau cari lingkungan yang tenang. Selain itu, aku dan kamu juga lumayan sibuk di perusahaan. Aku berencana ...." Melihat kesempatannya sudah tiba, Joshua meletakkan sumpitnya dan berkata lembut kepada Rachel, "Aku berencana minta Bu Anisa tinggal bersama kita untuk sementara waktu. Dia bisa bantu kamu mendisiplinkan Verick. Verick sepertinya juga cukup menyukai Bu Anisa." Heh. Setelah menikah lima tahun, mereka sudah bosan melakukan segala sesuatu secara diam-diam. Sekarang, mereka ingin tinggal bersama secara terang-terangan? Rachel lanjut makan dengan pelan, seolah-olah tidak mendengar ucapan Joshua. Suasana langsung membeku. Joshua merasa sedikit canggung dan berbisik untuk mengingatkan, "Rere, aku lagi bicara sama kamu." Dengan bunyi "tak", Rachel meletakkan sendoknya. Sebelum Rachel sempat berbicara, Anisa buru-buru berujar, "Maaf, ini semua salahku. Aku sudah mempersulit kalian. Rachel, Josh cuma kasih usul. Dia khawatir kamu kecapekan karena harus bekerja, urus rumah tangga, dan merawat Verick. Makanya dia mau aku bantuin kamu ...." "Nggak! Aku mau Bibi Anisa tinggal di sini!" Mendengar ini, Maverick yang duduk di sebelah Anisa langsung protes. Sebelum Anisa selesai berbicara, Maverick mulai membanting sendok dan memukul meja. "Verick, jangan begitu ...." "Verick, itu nggak sopan!" Anisa segera mencoba menghentikan Maverick. Suaranya bercampur dengan teguran refleks Rachel. Maverick memelototi Rachel dengan marah. Dia mengambil gelas dan menyiramkannya ke arah Rachel. Bab 2 Rachel tidak sempat bereaksi dan wajahnya langsung dibasahi jus. Melihat ini, para pembantu bergegas membantu Rachel membersihkan diri. "Maverick!" seru Joshua dengan marah. Maverick yang ketakutan pun berlari ke lantai atas. Tepat ketika Joshua hendak mengejarnya, Anisa dengan cepat berdiri dan menghentikannya. "Josh, dia masih kecil. Kamu nggak boleh mendisiplinkannya dengan pakai kekerasan. Aku akan memeriksanya." Seusai berbicara, Anisa melirik Rachel yang sedang menyeka tubuhnya. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya tetap diam. Kemudian, Joshua baru buru-buru mengalihkan perhatiannya kembali pada Rachel. "Kamu baik-baik saja? Biar kulihat." Rachel telah selesai membersihkan dirinya ketika tangan pria itu terulur dan mencoba menyentuh wajahnya. "Kotor, jangan sentuh aku!" seru Rachel secara keceplosan. Namun, Joshua tidak mengerti maksud Rachel. Dia menyahut, "Mana mungkin aku keberatan? Aku cuma akan merasa sakit hati. Kalau tahu Verick begitu nakal, aku nggak akan biarkan kamu mengurusnya secara pribadi." Rachel tersenyum tipis dan berkata dengan nada mengejek, "Iya, akan jauh lebih baik kalau ibu kandungnya yang mengurusnya. Sayangnya, ibu kandungnya sudah meninggal. Sebagai ibu angkatnya, aku benar-benar nggak tahu gimana cara mengurus anak." Joshua tertegun sejenak dan wajahnya menegang. "Apa yang kamu katakan? Verick itu anak yang kita adopsi. Kamu itu satu-satunya ibunya yang baik." Seusai berbicara, Joshua mengelus rambut Rachel dengan lembut. Rachel yang tidak sempat menghindar langsung merasa kesal. Begitu kembali ke kamar, Rachel segera mandi. Joshua segera menyusul Rachel. Tujuan utamanya adalah untuk mendiskusikan masalah Anisa yang akan tinggal bersama mereka dengan Rachel. Meskipun disebut diskusi, Rachel tahu dia sebenarnya tidak memiliki hak mengambil keputusan. Mereka adalah pasangan sungguhan, sedangkan dia hanya memiliki status palsu. "Perusahaan lagi berada di tahap penting mau go public, Verick nggak bisa ditinggal sendirian, sedangkan perusahaan juga butuh kamu. Sekarang, Bu Anisa adalah ahli pendidikan. Kamu juga sudah lihat Verick sangat patuh sama dia ...." "Oke, begitu saja." Rachel tidak ingin mendengarkan ocehan pria ini. Makin mendengarnya, dia merasa makin mual. "Rere, sudah kutahu kamu yang paling pengertian. Kamu pasti paham sama niat baikku." Melihat bahwa urusannya sudah beres, mata gelap Joshua melembut. Dia berdiri untuk merangkul pinggang ramping Rachel. Namun, Rachel segera berbalik dan mengangkat ponselnya ke hadapan mereka. Layar ponsel menampilkan sebuah rumah dengan pemandangan sungai. Dilihat dari lokasinya, rumah itu berada di distrik keuangan. Itu adalah pusat bisnis yang juga terletak di lokasi paling strategis Kota Stravon. Rumah di kawasan itu bahkan lebih mahal daripada vila Joshua saat ini. "Joshua, gimana menurutmu dengan rumah ini?" "Rumah ini tentu saja bagus. Lokasinya termasuk kawasan dengan nilai tanah tertinggi," jawab Joshua. Dia tidak sepenuhnya mengerti maksud Rachel. "Ulang tahunku bulan depan. Aku lumayan suka sama rumah ini. Bisa nggak kamu memberikannya kepadaku sebagai hadiah ulang tahun?" Rachel tersenyum. Suaranya juga dibuat semanis dan selembut mungkin. Joshua telah berbohong padanya selama dua tahun. Dalam dua tahun itu, dia bukan hanya kehilangan waktu, tetapi juga kariernya. Untuk membantu Joshua menyelamatkan perusahaannya, Rachel melepaskan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan tawaran dari perusahaan besar, lalu bergabung dengan perusahaan kecil keluarga Joshua. Hanya dalam waktu dua tahun, Rachel telah membantu membalikkan keadaan perusahaan Joshua. Beberapa bulan lagi, perusahaan Joshua akan go public dan asetnya bisa meroket hingga trilunan. Sementara itu, Rachel tidak memiliki apa-apa, malah akan dicampakkan setelah dieksploitasi. Dia tentu saja tidak akan mengabulkan keinginan Joshua dan Anisa. Dia juga tidak akan mengampuni mereka. Dulu, Joshua selalu berjanji dengan penuh kasih sayang bahwa dia akan mengabulkan setiap keinginan Rachel yang berada dalam batas kemampuannya. Rachel bukanlah orang yang materialistis dan tidak pernah benar-benar mengajukan tuntutan apa pun. Joshua ragu sejenak. "Kenapa kamu tiba-tiba mau beli rumah? Bukannya rumah kita sekarang sudah cukup bagus?" "Rumah kita sekarang memang bagus, tapi nilai investasinya nggak cukup tinggi. Rumah ini beda. Kelak, harganya berpotensi meroket. Lagian, perusahaanmu akan segera go public. Kalau bisa adakan pesta dan menjamu tamu di rumah baru, itu bukan cuma nyaman, tapi juga akan buat kamu terlihat bergengsi." Ucapan Rachel semuanya seputar kepentingan Joshua. Dia segera menghilangkan keraguan yang muncul di hati pria itu. Sesuai dugaan Joshua, Rachel masih tidak tega untuk benar-benar menghabiskan uangnya. Yang dipikirkan Rachel sepenuhnya terfokus pada masa depannya. Untuk sejenak, Joshua merasa sedikit bersalah, bahkan sedikit sakit hati untuk Rachel. "Punya kamu saja sudah cukup untuk buat aku bangga. Aku nggak butuh apa pun lagi." Joshua mengulurkan tangan untuk lanjut memeluknya, tetapi Rachel menarik diri sekali lagi. "Sudah kubilang ini hadiah ulang tahunku. Anggap saja kamu membelinya untukku. Kamu nggak akan begitu pelit, 'kan?" Rachel mengucapkan kalimat terakhir dengan nada bercanda. Rachel terlihat berbeda hari ini. Joshua merasakan hasrat aneh saat menghadapinya. Tanpa banyak berpikir, dia bertanya, "Berapa harga rumah ini?" "Nggak mahal, cuma 140 miliar," jawab Rachel sambil tersenyum. Wajah Joshua langsung membeku sesaat. Dia tidak ingin pelit pada Rachel, tetapi harganya terlalu mahal. Namun, mengingat perusahaan yang akan segera go public, dia tidak ingin mengecewakan Rachel pada saat yang krusial ini. Jadi, dia mengangguk. "Oke. Kalau kamu suka, suamimu akan membelikannya untukmu." Begitu selesai berbicara, Joshua langsung menelepon departemen keuangan di depan Rachel. Malam itu juga, 140 miliar tiba di rekening pribadi Rachel. Sesuai permintaan Rachel, Joshua bahkan menambahkan catatan khusus pada keterangan transfer tersebut. [ Uang beli rumah buat Rere. Selamat ulang tahun. ] Saldo di rekening Rachel naik dari 300 juta menjadi 140,3 miliar. Sejak "pernikahan" mereka, Rachel menyerahkan keuangan keluarga kepada Joshua. Semua uang di rekeningnya adalah hasil tabungannya dari pekerjaan paruh waktu saat kuliah. Selama dua tahun, dia bahkan tidak pernah mengambil sepeser gaji pun. Keesokan pagi saat keluar dari kamar, Rachel melihat Joshua yang mengenakan celemek sedang mengobrol gembira dengan Anisa di ruang makan lantai bawah. Maverick mengikuti mereka seperti bayangan kecil. Kepatuhannya bahkan membuat Rachel mengubah pandangannya terhadap bocah itu. Namun, keharmonisan sekeluarga beranggotakan tiga orang itu tiba-tiba berakhir saat Rachel turun dari lantai atas. Anisa segera melepaskan tangannya dari bahu pria itu, sedangkan Joshua berjalan menghampiri Rachel. "Sudah bangun? Aku buat sarapan sendiri hari ini. Ayo cicip." Rachel langsung memperhatikan sarapan mewah di atas meja. Ada pembantu yang memasak di rumah. Sementara itu, Joshua juga tidak memiliki kebiasaan untuk sarapan dan tidak pernah tertarik untuk memasak. Lagi pula, sarapan mereka biasanya bergaya tradisional. Namun, sarapan hari ini semuanya bergaya Barat, juga begitu banyak jenis. Sangat jelas untuk siapa sebenarnya sarapan itu. Meskipun tahu, Rachel tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya tersenyum dan bertanya kepada Anisa, "Apa ini semua makanan favoritmu?" "Iya. Josh sangat ramah dan khawatir aku nggak biasa makan makanan lainnya. Pria seperhatian dia sudah langka. Rere, kamu beruntung banget punya suami sebaik dia," jawab Anisa dengan santai. Sedikit rasa superioritas terpancar di matanya saat bertemu pandang dengan Rachel. "Benar, Joshua selalu sangat perhatian. Bukan cuma terhadapku. Dia juga bersikap lembut dan sopan kepada semua wanita." "Jangan dengarkan omong kosong Rere, aku nggak begitu," bantah Joshua dengan terburu-buru. Meskipun kata-kata Rachel menyiratkan maksud lain, dia mengucapkannya dengan santai dan hampir seperti godaan. Namun, senyum Anisa langsung sirna. Maverick menyadari ketidaksenangan Anisa. Saat Rachel meraih telur goreng terakhir, dia langsung menumpahkan kecap ke atas telur. Gerakannya dengan begitu kasar hingga sebagian kecap itu mengenai tangan Rachel. "Verick, apa-apaan kamu!" Wajah Joshua langsung menjadi muram. Anisa segera memberikan tisu kepada Rachel, lalu dengan cepat berbisik kepada Maverick, "Verick, meski sudah kenyang, kamu nggak boleh buang-buang makanan. Lihat, kamu sudah nggak sengaja kotori tangan ibumu. Cepat minta maaf." Maverick diam-diam memutar matanya ke arah Rachel, lalu mengucapkan "maaf" dengan enggan. Rachel menyeka tangannya, lalu melirik ibu dan anak itu. Maverick meminta maaf dengan dagu terangkat tinggi, sementara kata-kata Anisa sama sekali tidak terdengar seperti teguran dan juga mengaburkan inti permasalahan. "Sudah. Kalau kamu sudah selesai makan, kembalilah ke kamarmu." Maverick memang sudah meminta maaf. Namun, sebelum Rachel sempat menjawab, Anisa malah sudah bersuara terlebih dahulu. "Tunggu." Tepat saat Maverick hendak pergi, Rachel berdiri, lalu menariknya dan menyeretnya ke depan dinding. "Berdiri yang baik di sini." "Dasar wanita busuk! Lepaskan aku!" Maverick meronta sekuat tenaga, tetapi Rachel sudah terbiasa menghadapinya. Dia memutar lengan Maverick dengan kuat dan menekannya ke dinding. Kemudian, dia mengambil rotan tipis dari vas di samping dan mulai memukul pantat Maverick dengan kuat. "Huwahhh ...." Maverick yang merasa kesakitan dan ketakutan pun menangis tersedu-sedu. "Rachel, apa yang kamu lakukan? Verick sudah minta maaf. Memangnya kamu benar-benar harus mendisiplinkannya dengan pakai kekerasan?" Anisa pun panik dan mencoba menghentikan Rachel. "Bu Anisa, Maverick itu putraku. Sebagai ibunya, sudah kewajibanku untuk mendisiplinkannya. Kenapa kamu begitu cemas dan berusaha bela dia? Macam dia itu ... anak kandungmu?" balas Rachel tanpa menghentikan gerakannya. Saat dia berbicara, pantat Maverick menerima beberapa pukulan lagi. Wajah Anisa seketika memucat. Ujung jarinya menusuk telapak tangannya. Dia menyahut dengan suara tercekat, "A ... aku cuma merasa dia masih kecil. Lagian, Verick juga bukannya melakukan kesalahan besar ...." "Kalau kesalahan kecil nggak diperbaiki, itu akan menyebabkannya melakukan kesalahan besar setelah dewasa. Aku nggak sepintar Bu Anisa dalam mendidik anak. Kalau bukan pakai cara pukul, aku akan kesulitan mendidiknya." Kata-kata Rachel membuat Anisa terdiam. Dalam situasi ini, jika Rachel bersikeras berbuat begitu, dia tidak berhak untuk menghentikan Rachel. Joshua juga sangat terkejut. Biasanya, tidak peduli setegas apa pun sikap Rachel, dia hanya akan menegur dan tidak pernah benar-benar memukul Maverick. Meskipun Maverick memang sudah keterlaluan, dia tidak tahan dengan tatapan Anisa. Dia akhirnya melangkah maju dan menahan tangan Rachel. "Sudah, sudah. Kamu sudah memukulnya, itu sudah cukup." Rachel memang telah memukul Maverick beberapa kali. Amarah yang selama ini ditahannya juga sudah sedikit reda. Dia pun melempar rotan itu ke lantai. Maverick buru-buru bersembunyi di belakang Anisa. Dia menangis tak terkendali dan tak lagi sempat menunjukkan permusuhannya terhadap Rachel. Anisa mengerutkan kening dan hanya bisa menahan amarahnya. Dia menepuk-nepuk punggung Maverick dalam diam. "Maverick, ingat baik-baik. Selama aku masih ibumu, kamu harus hormati aku. Kalau kamu masih nggak tahu cara menghormati orang yang lebih tua, rotan itu bukan sekadar pajangan," ucap Rachel dengan nada yang sangat mengintimidasi. Bahkan Maverick juga tidak berani menangis lagi, padahal Rachel mengucapkannya sambil tersenyum. Joshua juga tercengang. Seusai berbicara, Rachel meninggalkan ruang makan. Tanpa berpikir panjang, Joshua hendak mengejar Rachel, tetapi Anisa segera meraih tangannya. "Joshua ...." Mata Anisa dipenuhi kesedihan. Dia benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Dia tahu Joshua telah mencintainya selama bertahun-tahun dan perasaan mereka sangat mendalam. Jadi, dia merasa sangat aman, juga bersedia bersikap lembut dan murah hati. Namun .... Rachel sudah terlalu menghinanya! Dulu, kakeknya Joshua bersikeras memisahkan Joshua dan Anisa. Joshua masih kuliah dan tidak berdaya untuk melawan. Sementara itu, Anisa hampir kehilangan pekerjaannya. Pada akhirnya, dia juga tidak bisa lanjut bekerja sebagai dosen wali dan beralih menjadi guru anak. Dalam keputusasaan, Joshua baru menggunakan Rachel sebagai tameng. Anisa pernah bertanya kepada Joshua kenapa dia memilih Rachel. Joshua mengatakan bahwa awalnya dia tertarik pada penampilan Rachel. Dia merasa bahwa dengan memperkenalkan Rachel kepada keluarganya, mereka baru akan merasa itu masuk akal. Kemudian, Joshua menyelidiki informasi Rachel. Dia menemukan bahwa Rachel adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki sandaran, juga merupakan salah satu mahasiswi paling berbakat di jurusan keuangan. Ada banyak perusahaan bergengsi yang bersaing untuk mempekerjakannya. Berpacaran dengan Rachel juga dapat membantu kariernya. Namun, untuk menenangkan Anisa, Joshua diam-diam mendaftarkan pernikahannya dengan Anisa ketika baru berpacaran dengan Rachel. Dengan cara ini, meskipun Joshua dan Rachel bersama, Anisa akan mendapat bagian dari semua aset pernikahan. Joshua juga berjanji bahwa begitu dirinya mewarisi bisnis keluarga dan memiliki kekuasaan di keluarganya, dia akan mengumumkan hubungan mereka kepada publik. Dalam hubungan mereka, Rachel tidak lebih dari sekadar pion. Namun, pion itu berani menginjak-injaknya? Anisa tidak bisa menerimanya! Joshua tentu saja merasa kasihan pada Anisa, tetapi juga tidak mampu memutuskan hubungan dengan Rachel saat ini. Dia hanya bisa memeluk wanita itu erat-erat untuk sesaat, lalu mengerutkan kening dan mengejar Rachel. Bab 3  Melihat Rachel hendak masuk ke mobil, Joshua segera menenangkan diri dan mengikutinya. Pada jam seperti ini, mereka berdua selalu pergi ke perusahaan bersama. "Sebaiknya kamu suruh asistenmu untuk antar kamu. Aku ada janji dengan agen properti untuk melihat-lihat rumah hari ini." Joshua terkejut sesaat, lalu menyahut, "Tapi, ada rapat penting di perusahaan hari ini ...." "Rumah itu sangat diminati. Kalau aku nggak pergi hari ini, rumahnya mungkin sudah terjual." Rachel langsung menyela, "Bukannya kamu selalu bilang bahwa kerjaan nggak ada habisnya dan aku harus belajar untuk menyenangkan diri?" Nada Rachel terdengar tenang dan tanpa emosi. Mata dan bibirnya juga mengandung senyuman. Namun, entah kenapa, Joshua merasa merinding. Dia segera membalas senyum itu dan menjawab, "Oke. Kalau begitu, aku juga nggak akan pergi ke perusahaan hari ini. Aku akan temani kamu lihat-lihat rumah." "Nggak usah." Senyum Rachel makin lebar. Dia berbalik dan dengan lembut mencolek dada pria itu. "Aku pengen pilih sendiri. Kalau sudah pilih, aku akan ajak kamu pergi melihatnya." Rachel tentu saja mengetahui pemikiran Joshua. Joshua bukan ingin menemaninya, melainkan ingin mengawasinya. Dengan mengikuti rencana Joshua, mendaftarkan rumah atas nama suami istri berarti rumah itu hanya akan menjadi milik Joshua dan Anisa. Nada Rachel sedikit menggoda dan itu tiba-tiba menimbulkan gejolak di hati Joshua. Dia pun meraih pergelangan tangan Rachel dan bertanya, "Apa itu kejutan untukku?" "Iya." Bibir Rachel menegang sejenak, lalu dia segera menarik tangannya. "Oke. Kalau begitu, aku akan turuti keinginanmu," kata Joshua dengan suara berat. Dia memeluk Rachel dengan lembut. Berhubung tidak dapat menghindar, Rachel hanya bisa memaksakan diri untuk menahan rasa jijiknya dan membiarkan Joshua memeluknya. Setelah wanita itu melaju pergi, senyum Joshua sepenuhnya lenyap. Apakah itu hanya imajinasinya? Dia merasa Rachel sepertinya sudah sedikit berubah. Apakah wanita memang terlahir lebih peka dan Rachel sedang cemburu pada hubungannya dengan Anisa? Joshua melonggarkan dasinya. Dia merasa kesal tanpa alasan yang jelas. Dia tidak seharusnya merasa terganggu karena Rachel. Sebab, sebaik apa pun Rachel, setulus apa pun perasaan Rachel terhadapnya ... dia hanya memiliki satu istri, dan itu adalah Anisa. Satu jam kemudian, Rachel berdiri di depan dinding kaca sambil menatap pemandangan seluruh distrik keuangan. Apartemen eksklusif yang dia incar ini dilengkapi dengan fitur berteknologi tinggi, bergaya minimalis namun mewah. Perabotan dan dekorasinya sangat berkelas, sedangkan luasnya lebih dari 300 meter persegi. Meskipun apartemen ini bukan yang terluas, lokasinya adalah yang terbaik di seluruh distrik keuangan. Rachel sudah bisa membayangkan betapa indahnya apartemen ini ketika lampu-lampu kota menyala di malam hari. "Aku mau yang ini. Tolong urus prosedurnya dan daftarkan atas namaku saja," kata Rachel kepada manajer penjualan dengan puas. Apartemen ini bisa langsung ditempati. Itu artinya dia bisa meninggalkan "rumah" yang pengap dan menjijikkan itu kapan saja. "Baik." Manajer penjualan itu sangat gembira. Dia awalnya mengira Rachel hanya sekadar melihat-lihat. Pelayanan yang diterima Rachel langsung menjadi sangat baik. Manajer itu mengantar Rachel ke area tunggu VIP di lobi, lalu menyuruh orang untuk menyajikan minuman dan makanan ringan. Dia secara pribadi pergi mengambil kontrak properti. Rachel hanya perlu menggesek kartunya dan menandatangani kontrak. Ada orang yang akan mengurus prosedur selanjutnya. Saat Rachel menunggu kontrak disiapkan, tiba-tiba terdengar suara wanita yang manja dan arogan bertanya, "Kamu yang coba rebut apartemen yang kuinginkan?" Rachel mendongak, lalu melihat seorang wanita muda yang mengenakan setelan desainer dan berdandan cantik sedang berjalan dengan tampang galak ke arahnya. Di belakangnya, ada dua pengawal dan seorang manajer penjualan wanita. "Kamu lagi ngomong sama aku?" tanya Rachel setelah terkejut selama beberapa detik. "Siapa lagi kalau bukan? Aku yang duluan incar apartemen di Gedung A itu. Aku mau beli yang itu!" Wanita itu melepas kacamata hitamnya. Mata tajam dan indah itu menatap Rachel dengan marah. Sikapnya arogan. "Tadi, manajernya nggak bilang apartemen itu sudah dipesan. Kamu juga belum bayar uang muka, 'kan? Aku yang duluan bayar, jadi itu milikku," ujar Rachel dengan dingin. Dia tidak ingin berdebat dengan orang yang tidak masuk akal dan bangkit untuk pergi. Wanita itu pun murka. Sebelum selesai berbicara, dia sudah mengentakkan kakinya dengan kesal. "Pokoknya, aku datang juga bukan untuk kasih tahu kamu. Aku punya hak untuk diprioritaskan. Suka atau nggak, kamu harus mengalah!" Rachel berbalik dan bertanya dengan agak bingung, "Hak untuk diprioritaskan?" Manajer penjualan wanita di samping wanita itu juga berujar dengan tenang, "Kami harus verifikasi aset klien dulu. Kami jual rumah bukan berdasarkan siapa yang duluan bayar, tapi berdasarkan aset klien." Manajer penjualan wanita itu bahkan tidak menatap Rachel ketika berbicara. Dia benar-benar memandang rendah orang. "Aturan ini benar-benar ... nggak masuk akal." Rachel sedikit mengernyit. Tepat pada saat ini, manajer yang tadinya pergi mengambil kontrak kembali dengan ekspresi meminta maaf. Melihat wanita yang menyilangkan dada di samping Rachel, manajer itu berbisik kepada Rachel, "Maaf, dia bernama Hana Herdianto. Perusahaan mainan paling terkenal di dalam negeri milik keluarganya." Rachel sudah ingat. Yang dimaksud manajer itu adalah Herdianto Toys Corporation. Setelah mewarisi harta ayahnya, dia sekaligus memeriksa informasi keluarganya. Dia pernah melihat nama Grup Herdianto di peringkat kelima dalam daftar peringkat bisnis Kota Stravon. Jika begitu, Hana memang punya alasan untuk bersikap arogan. Manajer penjualan wanita itu menambahkan, "Aku tahu kamu merasa nggak nyaman. Tapi maaf, aturan adalah aturan." "Sebenarnya, aku nggak perlu merasa nggak nyaman kok. Aku hanya merasa itu kurang adil. Tapi menurut aturan kalian, aku seharusnya lebih diprioritaskan daripada dia. Aku akan ambil rumah itu." Rachel menghela napas lega, lalu lanjut memberi instruksi kepada manajer di sebelahnya, "Tolong proses secepat mungkin. Aku sedang terburu-buru." Implikasi Rachel adalah, aset yang dimilikinya lebih tinggi daripada aset Grup Herdianto yang berada di peringkat kelima Kota Stravon. Mendengar ini, Hana dan manajer wanita itu pun terkejut. "Apa katanya? Dia seharusnya diprioritaskan?" Hana segera menatap manajer wanita itu. Dia mengira dirinya salah dengar. Manajer wanita itu segera memeriksa informasi reservasi di tangannya. Ini mustahil. Jika klien yang lebih kaya dari Hana datang ke tempat ini, mereka pasti akan diberi tahu terlebih dahulu. Setidaknya, manajer umum mereka yang akan diatur untuk melayani klien itu. Manajer wanita itu merasa pakaian dan penampilan Rachel biasa-biasa saja. Dia paling-paling adalah orang kaya baru. Bagaimana mungkin asetnya melebihi Hana? "Nona, apa kamu tuli? Kami jual rumah berdasarkan aset ...." "Verifikasi saja asetku." Rachel tidak ingin omong kosong dan menyerahkan kartu identitasnya lagi. Dia tidak terlalu marah. Bagaimanapun juga, dia sudah pernah bertemu dengan orang yang begitu menjijikkan. Orang-orang yang pandang status ini masih bukan apa-apa. Manajer pria di sebelah Rachel agak skeptis, tetapi tetap menjalankan semuanya sesuai prosedur. Pada saat ini, tirai tipis di area VIP lantai dua bergerak. Sosok tinggi dan tegap di balik tirai bangkit dan meninggalkan tempat duduknya. Orang di sebelahnya segera mengerti dan memberi instruksi kepada bawahan di sebelahnya, "Pergilah. Pak Sean sudah angkat bicara. Beri tahu mereka bahwa mereka nggak perlu verifikasi aset nona itu. Dia putri Keluarga Zavian." Hanya ada satu Keluarga Zavian di Kota Stravon, yaitu orang terkaya di Kota Stravon. Namun, tidak ada yang pernah mendengar bahwa Keluarga Zavian memiliki seorang putri. Rachel duduk kembali di sofa. Melihat ini, manajer wanita itu kehilangan kesabarannya. "Nona, tolong jangan begitu nggak tahu diri. Kami sudah bilang bahwa orang yang mau beli rumah di sini butuh verifikasi aset. Kamu mungkin cukup kaya, tapi membeli satu rumah di sini sudah batasmu. Tolong jangan buang waktu Nona Hana lagi. Kalau nggak, aku akan minta satpam untuk mengantarmu keluar." Kali ini, Hana bersikap tenang. Dia mencibir, lalu mendorong manajer wanita itu ke samping. "Nggak apa-apa, aku akan tunggu. Aku mau tahu apa dia benar-benar diprioritaskan. Tapi, biar kuperjelas dulu. Kalau kamu sebenarnya nggak diprioritaskan, tapi berani membuang waktuku, kamu harus berlutut dan minta maaf padaku. Kalau nggak, jangan salahkan aku bersikap kasar." Wanita itu terlihat sedikit lebih muda dari Rachel, mungkin baru berusia awal dua puluhan. Dia benar-benar adalah tipikal wanita muda yang sangat dimanjakan. Rachel tersenyum tipis dan menyahut, "Oke. Tapi, gimana kalau aku memang diprioritaskan? Apa kamu juga akan berlutut dan minta maaf padaku?" "Kamu ...." Tepat ketika keduanya sedang berbicara, seorang pria berjas berlari ke arah Rachel sambil menyeka keringat di dahinya. "Nona, maaf. No ... Nona memang diprioritaskan! Maafkan kami atas ketidaknyamanan ini. Maaf sebesar-besarnya!" Manajer pria yang melayani Rachel sebelumnya langsung terkejut. Baru saja dia hendak memverifikasi aset Rachel, dia menerima pemberitahuan bahwa wanita yang sedang dia tangani memiliki aset senilai ratusan triliun. Selain itu, wanita itu adalah putri Keluarga Zavian yang baru saja ditemukan! Manajer wanita itu masih bingung dan hendak mempertanyakannya. Namun, seseorang menariknya ke samping dan memberitahunya sesuatu. Kakinya seketika lemas, dan dia berlutut di lantai. Ketika tersadar, manajer wanita itu langsung mulai meminta maaf tanpa berdiri, "Ma ... maaf, Nona Rachel. Aku yang buta dan nggak tahu Nona itu putri Keluarga Zavian. Maaf sudah menyinggung Nona tadi. Aku harap Nona jangan salahkan aku ...." Hana benar-benar tidak percaya. Keluarga Zavian? Mungkinkah itu Keluarga Zavian yang dia ketahui? Di Kota Stravon, ada Keluarga Zavian yang dapat mengguncang seluruh industri keuangan semudah mengentakkan kaki. Apa maksudnya Keluarga Zavian itu? "Cepat selesaikan prosedurnya. Aku masih ada urusan lain." Rachel tidak tertarik untuk mendebatkan hal ini, tetapi dia merasa proses verifikasi mereka terlalu cepat. Manajer itu segera kembali dengan membawa kontraknya. Setelah menandatanganinya, Rachel langsung meminta seseorang untuk memproses dokumennya. "Kamu putri Keluarga Zavian? Kenapa aku nggak pernah melihatmu sebelumnya?" Hana mengamati Rachel, tetapi sama sekali tidak memiliki kesan terhadap Rachel. Dia mengenal semua anggota Keluarga Zavian yang segenerasi dengannya, tetapi ... dia belum pernah berinteraksi dengan wanita ini sebelumnya! "Keluarga Zavian apa? Aku rasa kamu cuma lagi nipu orang!" Hana makin curiga dan percaya bahwa orang-orang ini bersekongkol untuk menipunya. Dengan satu lirikan, pengawalnya pun hendak bertindak secara paksa. Namun, sebelum karyawan perusahaan properti sempat mencegahnya, sekelompok pria berpakaian hitam lainnya bergegas masuk ke lobi dan menghalangi kelompok Hana. Pria paruh baya yang berjalan di paling depan berbicara dengan lantang, "Nona Hana, kita pernah bertemu sebelumnya. Aku Lutfi, kepala pelayan utama Keluarga Zavian." Mendengar ini, bukan hanya Hana, bahkan Rachel juga terkejut. Kenapa ada orang dari Keluarga Zavian yang tiba-tiba datang ke tempat ini? Rachel menatap pria paruh baya berjas rapi dan memiliki rambut yang sudah beruban. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan sarung tangan putih. Sikapnya sangat sopan dan berkelas, tetapi dia memiliki aura yang mengintimidasi. Begitu melihat Lutfi, kearoganan Hana langsung lenyap. "Paman Lutfi, dia ... dia benar-benar adalah putri Keluarga Zavian?" Hana masih menolak untuk percaya. Sejauh yang dia tahu, istri Vino mandul dan mereka hanya mengadopsi satu anak. Bagaimana mungkin putri kandung Vino tiba-tiba muncul begitu dia meninggal? Apakah wanita ini ... putri haram Vino? "Benar, orang di hadapanmu adalah putri kandung Pak Vino, satu-satunya pewaris Keluarga Zavian." Seusai berbicara, tatapan Lutfi melewati Hana dan berhenti pada Rachel. Rachel merasa tidak nyaman di bawah tatapannya. Pada detik berikutnya, Lutfi membungkuk dalam-dalam hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat. "Senang bertemu denganmu, Nona Rachel." Begitu Lutfi selesai berbicara, para pria berbaju hitam yang mengikutinya juga ikut membungkuk dan menyapanya. "Nona Rachel." Hal ini seketika mengejutkan Rachel dan hampir membuat Hana kehilangan keseimbangan. Dia mencengkeram tasnya erat-erat, lalu hendak langsung pergi. Namun, para pria berbaju hitam itu menghalangi jalannya. "Nona, dengar-dengar, ada sedikit konflik antara Nona dan Nona Hana. Apa konflik itu perlu diselesaikan sekarang juga?" tanya Lutfi pada Rachel. Dia bahkan tidak menoleh dan hanya tersenyum tipis. Hana pun murka. Ketika teringat pada percakapannya dengan Rachel tadi, apakah dia benar-benar harus berlutut dan meminta maaf? Jika dia benar-benar berlutut, bagaimana dia bisa lanjut bersosialisasi di kalangan elite? Itu sungguh memalukan! Meskipun mengetahui bahwa Keluarga Zavian menempati posisi yang luar biasa di kalangan keluarga terpandang, Rachel belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Dia ragu selama beberapa detik, lalu menyahut, "Sudahlah, aku juga nggak mengalami kerugian apa pun." "Kalau begitu, harap Nona Hana minta maaf pada nona kami. Dengan begitu, hubungan kedua keluarga juga akan tetap terjaga ke depannya," ucap Lutfi sambil menegakkan tubuhnya. Rachel tidak mempermasalahkannya, tetapi dia tidak akan membiarkan siapa pun menyinggung Keluarga Zavian. Lutfi memang tersenyum, tetapi Hana merasa sangat terintimidasi. Dia menelan ludah dan hanya bisa meminta maaf kepada Rachel di depan umum, "Ma ... maaf." Begitu Hana selesai berbicara, para pria berbaju hitam itu pun menyingkir. Dia tersipu malu dan segera membawa rombongannya pergi sambil menutupi wajahnya. Setelah Hana pergi, Lutfi memberi isyarat mata dan manajer penjualan wanita itu juga dibawa pergi. Sebelum Rachel sempat mengatakan apa-apa, Lutfi melangkah maju lagi dan merentangkan sebelah tangannya. "Kami akan tangani urusan di sini. Mobil sudah menunggu di luar. Nona, silakan naik ke mobil dulu." Rachel menatap Lutfi. Kewaspadaannya yang semula sudah hilang dan digantikan oleh ketenangan. Dia tidak langsung bergerak, tetapi bertanya dengan tenang, "Naik ke mobil? Mau ke mana?" "Tentu saja kembali ke Kediaman Keluarga Zavian." Senyum Lutfi lembut, tetapi nadanya mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. Bab 4 "Kediaman Keluarga Zavian?" Rachel mengulangi kata-kata itu. "Benar, Kediaman Keluarga Zavian. Mulai sekarang, itu akan menjadi rumah Nona," jawab Lutfi. Rachel terdiam beberapa detik. Vino adalah ayah kandungnya dan warisan ratusan triliun itu sudah menjadi miliknya. Kembali ke Kediaman Keluarga Zavian hanyalah masalah waktu. Dia tidak bisa menghindarinya, juga tidak perlu menghindar. Rachel mengangguk. "Bagus juga. Berhubung itu rumahku, aku harus pergi melihatnya sendiri." Apa yang ditakdirkan terjadi tetap harus dihadapi. Selama perjalanan, Lutfi menjelaskan secara singkat mengenai situasi terkini Keluarga Zavian kepada Rachel. Bisnis Keluarga Zavian sangatlah besar. Sebagian besar asetnya ada di tangan Vino, sedangkan sebagian kecilnya ada di tangan ayah dan kakak laki-laki Vino. Sekarang, seluruh warisan Vino telah jatuh ke tangan Rachel. Itu berarti, dia telah menjadi pemegang saham terbesar Grup Zavian. Saat ini, ayah Vino yang bernama Farhan Zavian sedang memulihkan diri di luar negeri. Urusan Keluarga Zavian pun ditangani oleh istri Vino, Mindy Kusuma. Sementara itu, perusahaan dikelola oleh putra angkat mereka, Howard Zavian. Satu jam kemudian, sebuah Rolls-Royce Extended melaju masuk ke Kediaman Keluarga Zavian. Vila yang luasnya lebih dari 1.000 meter persegi itu sangat megah dan mengesankan. Perjalanan dari halaman ke vila utama dengan mengendarai mobil bahkan memakan waktu hampir sepuluh menit. Gaya arsitektur vila Keluarga Zavian juga lebih megah dan mewah daripada vila biasa, seolah-olah setiap batu bata di bawah pijakan mereka juga tak ternilai harganya. Ini adalah pertama kalinya Rachel datang ke tempat semewah ini. Dia tidak mungkin tidak gugup, tetapi dia berusaha sebaik mungkin untuk tetap tenang. Lutfi membawa Rachel ke ruang penerimaan tamu di bangunan utama. Seorang pembantu menarik buka pintu yang berat. Di depan dinding kaca, muncul sosok seseorang yang anggun dan elegan. Di samping wanita itu, berdiri dua pelayan. Terlihat juga seorang pria muda berjas yang sedang duduk di sofa. Saat Rachel masuk, wanita itu hanya mengamatinya selama beberapa detik sebelum berjalan mendekat. Lutfi dengan tenang memperkenalkan wanita itu kepada Rachel. Dia adalah istri Vino, Mindy. Pria yang duduk di sofa adalah Howard, putra angkat Vino dan Mindy, juga kakak laki-laki Rachel. Dengan satu lirikan dari Mindy, Lutfi memimpin semua orang pergi. Dalam sekejap, hanya tersisa Rachel, Mindy, dan Howard di ruang tamu yang luas. "Namamu Rachel?" Rachel mengangguk. Meskipun wanita itu tersenyum, Rachel bisa merasakan sikapnya yang tidak ramah. "Duduklah. Kamu juga sudah pulang. Nggak perlu terlalu formal." Setelah Mindy selesai berbicara, Howard juga menyapa Rachel. Suaranya sopan, tetapi juga terkesan menjaga jarak. Rachel menatap kedua orang itu dan duduk di sudut sofa di seberang mereka. "Bibi Mindy, kamu memanggilku kemari karena ...." "Jujur saja, aku panggil kamu kemari untuk minta kamu melepaskan sebagian hak warismu," sela Mindy secara langsung. Dia menatap Howard, lalu Howard langsung meletakkan surat pernyataan yang telah disiapkan mereka di depan Rachel. "Bu Rachel, ayahku meninggal dunia secara mendadak. Kamu mewarisi semua asetnya, tapi aku nggak bisa serahkan hak pengelolaan perusahaan kepadamu. Mohon pengertiannya. Sebagai kompensasi, kami akan beri kamu uang tunai sebesar 200 miliar." Suara Howard terdengar acuh tak acuh, seolah-olah itu adalah pernyataan dan bukanlah diskusi. Rachel tertegun sejenak, lalu dengan santai mengambil dokumen itu dan membacanya. "Secara sukarela melepaskan semua saham Grup Zavian, hak pengelolaan perusahaan, dan semua properti atas nama Keluarga Zavian ...." Mindy dengan santai mengambil secangkir teh dan menyesapnya. "Aku sudah cari tahu latar belakangmu. Ibumu dan Vino pernah menjalin hubungan singkat, lalu hamil di luar dugaan. Kamu sudah ditelantarkan di panti asuhan saat berusia tiga tahun. Selama ini, hidupmu pasti juga menderita. Bagimu, 200 miliar nggak termasuk jumlah yang kecil. Tapi, seorang putri haram yang dibesarkan di luar nggak bisa jadi pewaris Keluarga Zavian. Kuharap kamu sadar diri." "Tapi, kamu tetap adalah putri Vino, juga garis keturunan Keluarga Zavian. Mulai sekarang, kamu akan tetap menyandang status putri Keluarga Zavian. Kalau kamu butuh sesuatu, katakan saja padaku." Wanita itu berbicara dengan tenang, seolah yakin bahwa Rachel tidak akan berani menolak. Rachel dengan tenang meletakkan dokumen itu dan menatap Mindy. Wanita itu memiliki paras yang cantik, juga merawat diri dengan sangat baik sehingga terlihat jauh lebih muda dari usianya. "Bu Rachel, kalau nggak ada masalah, tolong tandatangani dokumen itu." Howard mendorong pena di atas meja ke arah Rachel lagi. Rachel sudah menduga bahwa Keluarga Zavian tidak akan menerima seorang "putri haram" sepertinya dengan mudah. Apa yang disebut negosiasi hanyalah upaya pemaksaan untuk merebut kekuasaan. Rachel terdiam beberapa detik, lalu mengucapkan dua patah kata dengan tenang, "Aku menolak." Rachel melanjutkan dengan suara rendah, "Bibi Mindy bilang aku ini 'putri haram', tapi hukum hanya mengakui ikatan darah. Lagian, Ayah yang berinisiatif tinggalkan wasiat itu dan secara pribadi menyewa pengacara untuk menyuruhku menandatangani surat keterangan ahli waris. Wasiat ayahku dan laporan hasil tes DNA sudah cukup untuk buktikan bahwa aku adalah ahli waris yang sah." Dalam seketika, wajah Mindy menjadi muram. Dia mengamati Rachel dari atas ke bawah lagi, seolah-olah telah menemukan sesuatu yang baru dan menarik. Dia tidak menyangka Rachel akan menolak. "Rachel, kamu seharusnya tahu bahwa kamu cuma seorang putri haram. Meski aset Keluarga Zavian diberikan kepadamu, kamu nggak akan mampu mewarisinya," ucap Mindy sambil tersenyum sinis. Howard juga agak terkejut. Perlu diketahui bahwa di seluruh Kota Stravon, tak pernah ada seorang pun yang berani menolak permintaan ibunya. "Bu Rachel, kamu mungkin salah paham. Ini bukan diskusi. Keluarga Zavian adalah keluarga besar. Keadaannya jauh lebih kompleks daripada keluarga biasa yang kamu pahami. Keputusanmu akan memengaruhi seluruh keluarga. Tentu saja, kamu sendiri juga nggak akan bisa melawan seluruh Keluarga Zavian." Kata-kata Howard sangat blak-blakan karena takut Rachel tidak mengerti. Namun, Rachel tahu jelas bahwa kedua orang ini sedang menekannya. Keluarga-keluarga terkemuka dan berkuasa ini sudah terbiasa menindas orang lain. Sudah wajar mereka memandang rendah dirinya, juga yakin bahwa 200 miliar akan cukup untuk menyingkirkannya. Namun, Rachel adalah tipe pemberontak. Makin ditekan, dia akan makin melawan. "Pak Howard bilang, ini bukan diskusi, melainkan pemberitahuan? Sayangnya, hak waris yang sah nggak bisa dibatalkan cuma dengan sepatah kata siapa pun," ujar Rachel. "Aku sudah pelajari struktur aset dan struktur kepemilikan saham Grup Zavian selama beberapa hari terakhir. Aset intinya saja bernilai ratusan triliun, sedangkan pendapatan konsisten tahunan perusahaan mencapai lebih dari 160 triliun." "Kamu mau pakai 200 miliar sebagai 'kompensasi' untukku? Kalau dikonversi, itu cuma cukup untuk beli hak kepemilikan sebuah toko komersial yang berada di bawah naungan perusahaan. Aku masih bisa bedakan dengan jelas antara 200 miliar dan ratusan triliun. Ini bukan kompensasi, melainkan perampokan secara terang-terangan." Rachel tersenyum tipis, lalu menutup dokumen itu dan mengembalikannya kepada Howard. Mindy dan Howard pun terdiam. Mereka saling bertukar pandang dan merasa agak terkejut. "Kalau nggak ada hal lain lagi, aku pamit dulu. Kalian boleh melakukannya sesuai hukum, atau kita bisa membahasnya sesuai aturan. Pak Howard, kamu itu anak angkat ayahku. Di mata hukum, urutan hak warismu pada dasarnya ada di belakangku. Memangnya Keluarga Zavian akan biarkan seorang anak angkat tanpa hubungan darah untuk mewarisi harta ayahku?" Seusai berbicara, Rachel pun berbalik untuk pergi. Sampai dia membuka pintu, Mindy baru memberi isyarat mata pada Howard. Howard langsung berkata dengan suara berat, "Berhenti." Dua baris pengawal sudah menunggu di luar ruang penerimaan tamu. Rachel melirik mereka dan tahu bahwa dirinya tidak akan bisa meninggalkan tempat ini dengan mudah. Rachel tidak bergerak, hanya menatap Mindy. "Apa Bibi Mindy mau pakai kekerasan untuk buat aku menyerah?" Mindy tersenyum sinis. Nadanya masih terdengar ringan dan meremehkan. "Rachel, kamu mungkin masih belum tahu temperamenku. Aku sarankan sebaiknya kamu berunding dengan baik waktu aku masih sabar." Howard berdiri dan berjalan mendekat. Sosoknya yang tinggi dan tegap juga memancarkan aura mengintimidasi. Dia menyeringai dan berujar, "Bu Rachel, kalau kamu nggak puas, silakan sebutkan nominalnya." Rachel membalas tatapannya tanpa mundur selangkah pun. Dia menjawab dengan suara tegas, "Kalian nggak akan mampu beri aku nominal yang kumau. Aku nggak akan berikan kalian sepeser pun warisan yang diberikan ayahku." "Kalau begitu, kami cuma bisa pakai cara lain." Howard mengerutkan keningnya. Matanya berkilat dengan niat membunuh. Baru saja Howard selesai berbicara, para pengawal di belakang Rachel sudah bersiap untuk melangkah maju dengan tampang garang. Mindy berbalik dan berjalan menuju dinding kaca. Pintu ruang penerimaan tamu perlahan-lahan menutup. Rachel berdiri tegak. Tatapan dinginnya tertuju pada sosok-sosok yang mendekat. Tepat pada saat ini, derap langkah kaki tergesa-gesa bergema di koridor. Belasan pria berjas hitam berjalan masuk dengan diikuti oleh Lutfi. Howard pun terkejut. Akan tetapi, setelah melihat penampilan orang-orang yang datang itu, sorot matanya langsung bergetar. Dia segera menatap Mindy. "Nyonya." Lutfi juga berjalan cepat ke sisi Mindy dan membisikkan sesuatu. Ekspresi wanita itu langsung berubah. "Apa katamu?" "Pak Farhan baru saja menelepon dan aku sudah mengonfirmasinya. Keluarga Januardi sudah memilih Nona Rachel." Begitu Lutfi selesai berbicara, seorang pria juga berjalan mendekati Rachel. "Halo, kamu pasti Bu Rachel, 'kan?" Rachel masih agak terguncang. Meskipun tidak memahami situasinya, dia mengangguk. "Bosku sangat berharap bisa makan malam denganmu besok malam. Ini kartu namanya." Pria itu menyerahkan kartu nama hitam dengan tulisan emas kepada Rachel dengan kedua tangannya. Baru saja Rachel menerimanya dan sebelum dia sempat berbicara, pria itu dan rombongannya telah pergi. Dia melirik kartu itu lagi. Kartu elegan itu hanya memuat satu nama dan sebuah nomor ponsel. Sean Januardi. Setelah pria berjas itu pergi, pengawal di depan Rachel juga menatap Howard untuk meminta instruksi. Howard ragu sejenak, lalu melihat Mindy memberi isyarat tangan kepadanya. Setelah itu, dia baru mengangguk dan membiarkan Rachel pergi. Meskipun tidak yakin apa sebenarnya yang sudah terjadi, Rachel tidak tinggal berlama-lama dan segera pergi. Begitu Rachel pergi, Howard kembali ke sisi Mindy. "Ibu, kamu mau biarkan dia pergi begitu saja?" "Kalau nggak? Kamu sendiri juga sudah lihat, mereka itu Keluarga Januardi," jawab Mindy dengan suara muram. Jarinya menekan telapak tangannya dengan kuat. Rachel bergegas keluar dari gerbang vila dan melihat konvoi mobil itu perlahan-lahan menjauh. Beberapa mobil hitam mewah itu memiliki nomor pelat yang cantik dan menyiratkan status elite. Melalui jendela mobil yang gelap, Rachel merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya, seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya. "Rachel." Rachel menoleh dan melihat sebuah Bentley putih berhenti di sampingnya. Jendela mobil diturunkan dan seorang pria paruh baya dengan pakaian olahraga kasual menyapanya. "Kenalkan, aku pamanmu, Taufan Zavian. Masuklah, aku akan mengantarmu." Rachel mengamati orang itu dengan seksama. Fitur wajah pria itu memang sedikit mirip dengannya. Namun, mengingat pertemuannya barusan, dia menyahut dengan tenang, "Terima kasih, tapi aku bisa pulang sendiri." "Jangan takut, aku berbeda dari orang-orang di dalam sana. Aku secara khusus datang untuk membantumu." Rachel tidak menghentikan langkahnya dan Taufan mengemudi perlahan mengikutinya. Melihat Rachel masih tidak memercayainya, pria itu melanjutkan, "Kamu yang punya status putri haram tiba-tiba mewarisi aset ratusan triliun. Siapa pun dari keluarga ini nggak mungkin biarkan kamu lolos." "Tapi kamu beruntung karena dapat perhatian dari Keluarga Januardi. Selama aliansi pernikahan kalian berhasil, posisimu di Keluarga Zavian nggak akan tergoyahkan. Mindy dan yang lainnya juga nggak akan bisa menyentuhmu." Kata-kata Taufan itu akhirnya membangkitkan minat Rachel. "Aliansi pernikahan apa?" Bab 5  Taufan menghentikan mobil dan membuka pintu, lalu mengundang Rachel naik lagi. "Kita bicarakan di mobil." Rachel ragu-ragu beberapa detik, lalu naik ke mobil. Dari Taufan, Rachel dengan cepat mengetahui bahwa yang telah membantunya keluar dari kesulitan tadi adalah orang dari Keluarga Januardi, keluarga konglomerat paling berpengaruh dalam negeri. Bisnis Keluarga Januardi mencakup sektor-sektor inti dalam industri keuangan, teknologi, energi, dan sebagainya. Mereka memegang posisi penting dalam perekonomian nasional. Tidak berlebihan untuk mendeskripsikan mereka dengan "cukup kaya untuk menyaingi sebuah negara". Saat ini, pewaris Keluarga Januardi yang bernama Sean Januardi itu baru berusia 28 tahun. Namun, dia mampu mendorong bisnis keluarga ke tingkat yang lebih tinggi dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Dia juga diakui secara luas sebagai pemimpin muda paling berpengaruh di industri. Semalam, Farhan menerima telepon dari Keluarga Januardi yang mengusulkan aliansi pernikahan dengan Keluarga Zavian. Mempelai wanita yang dipilih mereka tidak lain adalah Rachel. Taufan memberi tahu Rachel bahwa ada banyak keluarga terpandang yang ingin menjalin hubungan dengan Keluarga Januardi. Keluarga Zavian tentu saja termasuk salah satu di antaranya. Dia mencari Rachel juga atas perintah Farhan. "Jadi, Keluarga Januardi lebih berkuasa daripada Keluarga Zavian?" tanya Rachel secara langsung karena malas mendengar Taufan mengoceh lebih jauh. Taufan menjawab, "Sama sekali nggak bisa dibandingkan. Tapi kalau bersikeras mau membandingkannya, Keluarga Zavian itu keluarga terkaya di Kota Stravon dan punya posisi terkemuka di dunia bisnis Kota Stravon. Kalau Keluarga Januardi, nggak ada orang di dalam negeri yang berani nggak hormati mereka." "Lalu, Sean itu ... orang yang gimana?" tanya Rachel lagi. "Sean sangat terkenal di luar negeri, tapi jarang muncul di dalam negeri. Dia misterius banget. Aku juga nggak pernah ketemu sama dia. Tapi menurut rumor ...." Taufan menggosok hidungnya. Dia datang untuk membujuk Rachel menerima aliansi pernikahan ini. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkannya sebelum berbicara. "Rumor apa?" "Menurut rumor ... dia agak sulit diajak bergaul." Taufan memang mengatakan yang sebenarnya, tetapi masih memperhalusnya. Jika Sean hanya agak sulit diajak bergaul, pintu Keluarga Januardi mungkin sudah didobrak sejak lama. "Seberapa sulit diajak bergaul?" tanya Rachel lagi, seolah bertekad untuk mengetahui sampai ke akarnya. Taufan tersenyum canggung dan menjawab, "Kira-kira ... agak dingin, tegas, juga kurang suka didekati wanita. Tapi, Keluarga Januardi terkenal punya tradisi keluarga yang ketat dan menjunjung tinggi kedisiplinan. Jadi, karakter Sean ... seharusnya nggak terlalu buruk." Seharusnya? Ucapan itu makin tidak terdengar seperti pujian. Rachel diam-diam mengamati Taufan. Akhirnya, Taufan tidak tahan lagi dan berujar, "Baiklah. Dengar-dengar, Sean orang yang sangat tertutup dan kejam. Cara bertindaknya juga keras dan tanpa ampun. Dalam melakukan apa pun, dia cuma pentingkan keuntungan. Nggak ada sedikit pun kehangatan dalam dirinya. Siapa pun yang pernah menyinggungnya pasti berakhir mengenaskan." Cepat atau lambat, Rachel pasti harus berhadapan dengan Sean. Lebih baik dia memiliki kesiapan hati. "Tapi ini cuma aliansi pernikahan kok. Kamu nggak perlu terlalu khawatir. Di kalangan keluarga terpandang, orang biasanya memang menikah tanpa cinta. Apalagi, ada begitu banyak aset yang kamu miliki. Yang mengincarmu pasti banyak banget, bukan cuma Keluarga Zavian. Kamu nggak boleh sama sekali nggak punya dukungan." Taufan takut Rachel akan mundur dan mengingatkannya lagi tentang situasinya. "Baiklah." "Kamu jangan terburu-buru menolak ...." Taufan pun terkejut. Dia pikir Rachel akan menolak dan bahkan telah menyiapkan kata-kata bujukan. Tak disangka, Rachel langsung setuju? "Kamu setuju?" "Emm." Rachel belum pernah benar-benar menikah. Saat ini, dia masih lajang. Dinilai dari deskripsi Taufan, baik itu dari aspek latar belakang keluarga maupun kemampuan, Sean seratus kali lipat lebih unggul dari Joshua. Dengan selembar akta nikah palsu, Joshua telah menipu Rachel selama dua tahun dan menggunakannya sebagai batu loncatan. Jika orang sehebat Sean bisa menjadi sekutunya, jangankan hanya "seratus kali lipat lebih unggul", Sean akan menjadi sandaran kuat bagi Rachel untuk keluar dari kesulitan. Hal yang lebih penting lagi, intrik dalam Keluarga Zavian terlalu mendalam. Mindy dan Howard sedang mengawasi dengan ketat. Sebagai "putri haram" yang baru diakui kembali, Rachel tidak mungkin bisa menekan semua orang hanya dengan selembar dokumen legal yang menunjukkan dirinya adalah pewaris sah. Untuk benar-benar mengokohkan posisinya dan mengambil alih bisnis keluarga dengan lancar, Rachel mungkin akan menghadapi kesulitan yang tak teratasi tanpa dukungan yang cukup kuat. Aliansi pernikahan bukanlah tentang cinta. Itu adalah transaksi dan bentuk dari persekutuan. Rachel melihat ke luar jendela, lalu menjawab dengan nada santai namun tegas, "Daripada bertarung sendiri dan dimangsa, lebih baik aku cari sekutu yang unggul. Keluarga Januardi bersedia memilihku, aku nggak punya alasan untuk menolak." Menjelang malam, Rachel kembali ke vila Keluarga Hartono dan mendapati Joshua dan Anisa tidak ada di rumah. Setelah bertanya kepada pembantu, dia baru mengetahui bahwa Joshua telah membawa Anisa dan Maverick ke pameran seni di kota tetangga. Mereka tidak akan kembali malam ini. Rachel mengeluarkan ponselnya, lalu baru menemukan bahwa Joshua telah meneleponnya berkali-kali sepanjang sore. Dia bahkan juga mengirim pesan. [ Rere, Verick pengen pergi ke pameran seni bersama Bu Anisa, tapi perjalanannya cukup jauh. Jadi, aku pergi bersama mereka. ] Joshua sudah terlalu sopan. Mereka sekeluarga keluar bersama, tetapi pria itu masih meninggalkan pesan kepadanya. Namun, ini sangat sempurna. Berhubung mereka tidak akan pulang malam ini, Rachel bisa menangani urusan dengan tenang. Setelah membaca pesan itu, Rachel memanggil beberapa pembantu untuk membantunya mengemasi barang-barangnya di kamar. "Nyonya mau melakukan perjalanan jauh?" tanya para pembantu dengan penasaran ketika melihat Rachel ingin mengemasi semua barang-barangnya ke dalam kotak. "Iya." Rachel membereskan berkas-berkas di lacinya sambil menjawab, "Jangan beri tahu Joshua tentang ini. Dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Kalau bukan ada urusan penting, kalian jangan mengganggunya." Saat ini, Joshua memang sedang sibuk. Dia sibuk menikmati waktu penuh kebahagiaan bersama istri dan anaknya. Bagaimanapun juga, hari-hari indahnya akan segera berakhir. Dalam waktu singkat, Rachel telah selesai mengemasi semua barangnya. Setelah larut malam dan semua pembantu sudah tidur, dia menghubungi jasa angkut barang pindahan untuk memindahkan semua barangnya. Namun, ada beberapa barang yang tidak dapat Rachel temukan. Salah satunya adalah makalah penting yang ditulisnya sejak lulus kuliah hingga sekarang. Makalah itu berisi data penelitiannya selama bertahun-tahun. Itu adalah informasi bisnis yang sangat penting. Yang satu lagi adalah data inti dari proyek yang dia kerjakan untuk perusahaan Joshua. Makalah itu selalu Rachel simpan di lacinya terkunci, tetapi tiba-tiba hilang. Seharusnya Joshua yang mengambilnya. Di sisi lain, data inti itu disimpan di perusahaan Joshua. Dia tidak memiliki izin untuk mengambilnya. Namun, kedua barang itu adalah hasil jerih payah Rachel. Tidak peduli apa pun yang terjadi, dia tidak boleh meninggalkannya untuk Joshua. Pada keesokan hari, Rachel menerima telepon dari Joshua pagi-pagi sekali. Suara di ujung telepon sangat berisik. Joshua mungkin masih di jalan tol. "Rere, apa kamu terima pesanku kemarin?" Rachel mengaduk kopinya dan menjawab dengan suara tanpa emosi, "Emm, aku sudah baca." "Maaf, itu keputusan mendadak, makanya aku nggak sempat bahas sama kamu. Tapi Bu Anisa itu tamu, aku juga nggak bisa membiarkannya keluar sendiri bareng Verick." "Buat apa kamu minta maaf? Wajar saja kamu temani Bu Anisa." Kata-kata Rachel langsung mengejutkan Joshua. Dia mengira Rachel tidak membalas pesannya karena marah. Namun, dia sedang bersama Anisa semalam dan juga tidak bisa terus-menerus menghubungi Rachel. Pada saat ini, suara Rachel malah terdengar acuh tak acuh. "Rere, kamu nggak balas pesanku semalam. Kupikir ...." "Aku sibuk banget kemarin. Habis pergi lihat rumah, aku pergi bahas bisnis lagi. Aku benar-benar nggak punya waktu untuk balas pesanmu," sela Rachel. Suaranya terdengar ringan dan ceria, tanpa sedikit pun kemarahan. Joshua menghela napas lega. "Sudah kutahu kamu sibuk. Jangan bekerja terlalu keras, aku sedih melihatmu begitu." Rachel langsung mengerutkan kening. Dia pada dasarnya tidak begitu berselera makan di pagi hari. Setelah mendengar kata-kata pria itu, dia makin tidak ingin sarapan lagi. "Ayah, jangan bicara sama wanita jahat itu lagi!" Tiba-tiba, terdengar suara Maverick dari ujung telepon, yang disusul segera oleh suara Anisa yang mencoba menghentikannya. "Sudah dulu, ya. Aku lagi nyetir. Sampai jumpa malam ini." Kali ini, sebelum Rachel sempat berbicara, Joshua sudah menutup telepon. Jarang-jarang Joshua tidak ada. Hal pertama yang dilakukan Rachel begitu tiba di perusahaan adalah pergi ke kantornya untuk mencari dokumen. Akan tetapi, setelah mencari di seluruh kantor, termasuk komputer Joshua, dia tidak menemukan apa pun. Saat Rachel sedang berpikir keras, seseorang masuk dengan buru-buru untuk menemuinya. "Bu Rachel, Pak Joshua nggak datang hari ini. Ada beberapa kontrak pendanaan yang butuh tanda tanganmu." Rachel mengambil kontrak-kontrak itu dan membacanya. Grup Hartono sebenarnya masih belum memiliki kualifikasi yang cukup untuk bekerja sama dengan para mitra dalam proyek-proyek ini. Dia yang telah menggunakan segala cara dan mengerahkan upaya besar untuk mengamankan mereka. Jika pendanaan tertunda, setengah dari proyek-proyek tersebut mungkin akan melayang. "Kamu sudah hubungi Pak Joshua?" "Sudah, tapi Pak Joshua sepertinya lagi sibuk banget. Dia suruh kami mencarimu kalau ada masalah." Rachel tersenyum tipis. Di perusahaan Joshua, yang bekerja paling keras adalah Rachel. Dia juga tidak pernah membuat kesalahan. Setiap kali Joshua terlalu sibuk untuk menangani sesuatu, dia akan membiarkan Rachel menangani semuanya. Namun, wewenang ini hanya bersifat verbal. Pada kenyataannya, posisi manajer Rachel tidak memiliki kekuasaan nyata. Bahkan seorang manajer junior juga memiliki saham perusahaan, tetapi dia tidak. Jadi, setiap kali Rachel membuat keputusan atas nama Joshua, Joshua akan menegur dan menghukumnya dalam rapat supaya bisa memberikan penjelasan kepada seluruh karyawan perusahaan dan pemegang saham. Joshua mengatakan kepada Rachel bahwa dia melakukan ini karena khawatir mempublikasikan hubungan mereka akan memengaruhi moral karyawan. "Tinggalkan saja di sini. Aku harus keluar sekarang. Setelah kembali, aku akan periksa dan menandatanganinya." "Baik." Setelah orang itu pergi, Rachel dengan santai melempar kontrak itu ke samping dan meninggalkan perusahaan. Orang dari Keluarga Januardi mengatakan bahwa Sean mengundangnya makan malam ini. Sebelum bertemu dengan kencan butanya, Rachel harus berdandan dengan cantik. Rachel terlebih dahulu pergi ke salon kecantikan. Saat selesai, waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Kemudian, dia pergi ke mal terdekat dan memilih gaun dari merek mewah favoritnya. "Wow! Tubuh Nona proporsional banget! Nggak semua orang cocok pakai gaun kami, lho. Nona yang memakainya kelihatan lebih cantik daripada model di iklan!" puji pramuniaga itu dengan tulus. Di cermin, Rachel yang pada dasarnya memiliki tubuh memikat terlihat makin menakjubkan setelah mengenakan gaun panjang dengan potongan yang sangat menuntut. Gaun itu berwarna ungu muda, juga dihiasi dengan glitter dan tulle di lipatannya. Meskipun sangat anggun, gaun itu bisa dengan mudah membuat seseorang terlihat lebih gelap dan kampungan. Namun, Rachel memiliki kulit seputih salju, juga fitur wajah yang dalam dan indah. Ketika kecantikannya yang tegas dipadukan dengan gaun yang lembut, hasilnya justru sangat serasi. "Oke, yang ini saja." Rachel tersenyum dan berputar sedikit. Gaun itu berpotongan bahu asimetris dan tanpa tali bahu. Modelnya sederhana namun elegan, juga terkesan anggun dan modis tanpa memperlihatkan terlalu banyak kulit. Gaun itu sangat sempurna dipakai untuk kencan. Selama dua tahun terakhir bersama Joshua, Rachel sepenuhnya fokus pada pekerjaannya dan sudah lama tidak berdandan seperti ini. Dia bahkan lupa betapa cantiknya dirinya sebenarnya. Rachel bercermin lumayan lama sebelum membayar. Namun, tepat saat dia hendak menggesek kartunya, kasir memberitahunya bahwa seseorang baru saja menelepon dan membayar belanjaannya. Orang itu juga membelikannya tas yang serasi, satu set perhiasan desainer, dan sepasang sepatu. "Apa orang itu meninggalkan nama?" "Dia cuma bilang marganya Januardi." Mendengar marga itu, Rachel tanpa sadar menoleh dan melihat ke sekeliling, tetapi tidak menemukan orang lain di sekitar. Bukankah Taufan mengatakan bahwa Sean kejam dan dingin? Rachel berjalan keluar dari mal. Sesuai dugaan, dia melihat sebuah mobil telah menunggunya. Mobil itu sama seperti yang dilihatnya di luar Kediaman Keluarga Zavian. Mobil itu tidak memiliki logo merek, tetapi pelat nomornya sangat mencolok.