Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi

Đang tải thông tin quảng bá...

Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi

GoodNovel Hoàn thành

​"Mama akan membantumu agar istrimu puas di atas ranjang. " ​Bimo frustrasi karena terus dihina dan direndahkan istrinya setiap hari karena hanya mampu bertahan selama 3 menit dalam satu ronde p...

Chương (1)

第1章

​"Mama akan membantumu agar istrimu puas di atas ranjang. " ​Bimo frustrasi karena terus dihina dan direndahkan istrinya setiap hari karena hanya mampu bertahan selama 3 menit dalam satu ronde permainan. Demi memuaskan hasrat sang istri, Bimo akhirnya menerima tawaran mama mertuanya agar dapat memuaskan hasrat istrinya di atas ranjang. Awalnya hanya pijatan dan pemberian ramuan khusus, sampai akhirnya mama mertuanya ikut turun tangan mengajari Bimo secara langsung. Apa jadinya saat tak hanya mama mertuanya saja, tapi Bimo juga mendapatkan bantuan dari kakak ipar dan adik iparnya? Bab 1 Hinaan Istriku Aroma keringat bercampur dengan parfum mawar samar memenuhi udara kamar pasca pergulatan yang melelahkan. Di bawah temaram lampu, kulit Sella berkilap peluh, namun desah nafasnya yang tidak teratur bukanlah tanda kepuasan, melainkan amarah tertahan. “Ahh, Mas, jangan keluar dulu dong!” Sella mendesah kecewa saat Bimo, suaminya, cepat keluar sebelum dia dapat meraih klimaksnya. Bimo melepaskan penyatuan mereka dengan perasaan bersalah karena lagi-lagi sudah membuat sang istri kecewa. Padahal sebelum bercinta, dia sudah meminum obat kuat agar bisa melayani nafsu Sella yang cukup tinggi. ​Namun tampaknya, usahanya masih sia-sia. Bimo memeluk Sella dan mencoba menghiburnya. “Sayang, maafkan aku. Aku sudah minum obat kuat untuk memuaskanmu, tapi aku malah mengecewakanmu. Kita coba lagi besok, ya?” “Ck, cuma segitu kemampuanmu, Mas?! Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya klimaks!” seru Sella, kesal setelah Bimo melepaskan penyatuan berdua. “Aku iri mendengar cerita temanku yang baru menikah dengan suami bulenya di Australia itu! Setiap hari temanku selalu mendapatkan kepuasan dari suaminya!” “Maafkan aku, Sella. Aku sudah berusaha melakukan apa saja agar bisa memuaskanmu di atas ranjang. Aku sudah minum obat kuat dan melakukan gym dua minggu sekali di tengah kesibukan pekerjaanku yang lumayan padat. Aku…” Belum selesai Bimo bicara, Sella sudah lebih dulu menyelanya. “Aku capek, Mas! Milikmu selalu loyo dan lemas sebelum aku dapat meraih puncak! Masih mendingan aku main sama timun dan terong sekalian!“ hina Sella sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu tidur dengan posisi berbalik memunggunginya. ​Bimo hanya bisa terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah dan malu setelah mendengar keluhan istrinya. Dengan langkah gontai, ia turun dari ranjang lalu memakai pakaiannya dengan cepat sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar. Bimo berjalan menuju ruang tamu dengan langkah berat. Ia memilih untuk menghidupkan laptopnya demi mengalihkan rasa malunya karena gagal memberikan kepuasan pada istrinya. Sebenarnya, pikirannya benar-benar kacau dan ia sama sekali tidak dapat berkonsentrasi mengingat pertengkarannya dengan Sella barusan. Namun, ia tidak bisa menunda pekerjaannya karena besok adalah deadline tugas kantornya. Baru saja layar laptopnya menyala, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang mendekat dari arah dapur. “Bimo, kamu belum tidur, Nak?” suara lembut itu memecah kesunyian. Mayang, mama mertuanya, muncul sambil membawa secangkir kopi hangat yang aromanya langsung tercium oleh Bimo. Fokus Bimo seketika teralihkan pada kemolekan tubuh Mayang yang menggoda. Meskipun sudah berkepala empat, mertuanya itu terlihat seperti wanita umur 30-an. Darahnya berdesir ketika melihat dua tonjolan yang tercetak sempurna di balik daster mini yang dipakai wanita itu. Bimo bisa menebak bahwa Mayang tidak memakai bra sama sekali. Saat sang mertua menunduk meletakkan kopi di atas meja, dia dapat melihat bukit kembarnya dari balik kerah daster yang terbuka. Bukit ranumnya terlihat sangat besar dan menantang, lebih besar dari milik istrinya—ukurannya diperkirakan 38 cup D. Rasa bersalah langsung menyergapnya. Dia lekas memalingkan pandangannya ke arah lain, tidak seharusnya dia menatap mertuanya seperti tadi. ​“Te… terima kasih, Ma,” ucap Bimo dengan suara tergagap. Mayang tersenyum lembut. “Iya, sama-sama, Nak. Apa kamu habis bertengkar lagi dengan Sella?” Pertanyaan dari Mayang itu membuat Bimo ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Apakah Mayang mendengar pertengkaran mereka barusan? Harga dirinya benar-benar runtuh di hadapan mama mertuanya itu. Mayang kemudian melangkah perlahan ke belakang Bimo dan mulai menyentuh pundaknya. “Kamu kelihatannya sangat capek dan tertekan, Bimo. Sini, biar Mama bantu pijat sedikit supaya pikiranmu bisa lebih rileks. Jangan terlalu dimasukkan ke hati ucapan Sella, mungkin dia hanya sedang lelah.” “Ti… tidak usah, Ma, aku tidak apa-apa kok. Lagian ini sudah malam, Mama istirahat saja,” tolak Bimo dengan suara bergetar karena gugup. Dia merasa kurang pantas jika mama mertuanya itu memijatnya di tengah malam begini. Namun, Mayang seolah tidak menerima penolakan tersebut dan tetap mulai memijat punggung Bimo dengan gerakan yang mantap namun lembut. ​Tangan Mayang terasa begitu halus, namun setiap sentuhannya membuat seluruh tubuh Bimo bergetar karena rasa tak nyaman. ​“Gimana, Nak Bimo? Pijatan Mama terasa enak, kan?” tanya Mayang dengan nada yang sangat pelan dan menenangkan di telinga Bimo saat pijatannya sudah merambat ke area punggungnya. ​“Iya, Ma… enak sekali,” jawab Bimo lirih, pijatannya memang nikmat hanya saja dia kurang menikmatinya lantaran yang memijatnya adalah mama mertuanya sendiri. Ia mencoba fokus pada layar laptop, namun pikirannya sudah tidak berada di sana lagi. “Mama punya cara supaya Sella berhenti marah,” bisik Mayang pelan di sela pijatannya. “Kalau kamu mau… Mama bisa membantumu agar Sella puas di atas ranjang.” Bab 2 Harga Diri Yang Hancur Bimo seketika terbelalak saat mendengarnya. ”Mama mau membantuku agar Sella puas di atas ranjang? Bantuan apa yang dimaksud? Jangan-jangan tidur dengannya?!”Bimo bertanya-tanya dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya. Suasana berubah menjadi semakin canggung. Bimo sengaja berdehem agak keras untuk mengusir rasa gugupnya. Mayang melepaskan pijatannya di bahu Bimo lalu pijatannya berpindah ke area lehernya Bimo. Ia menaruh kedua ibu jarinya tepat di cekungan leher belakang. Ia menekannya perlahan, lalu memutarnya kecil. Bimo reflek memejamkan mata saat rasa kaku di kepalanya seolah ditarik keluar. “Mama tidak sengaja dengar pertengkaran kalian tadi. Makanya mama menawarkan bantuan kepadamu. Mama punya teknik pijatan khusus supaya kamu bisa lebih perkasa dan tahan lama di ranjang. Gimana, kamu setuju?”Tanya Mayang membuat Bimo kembali membuka kedua matanya dengan ekspresi terkejut. “Pijatan agar semakin perkasa dan bermain lama di atas ranjang?! A… apa itu artinya mama akan memijat keperkasaanku?”Pekik Bimo di dalam hatinya. Jantungnya semakin berdetak tak karuan saat mendengarnya. Tidak… ini tidak benar. Mayang adalah mertuanya. Mana mungkin dia membiarkan Mayang melakukan pijatan pada keperkasaannya. Jadi tidak mungkin dia menerima bantuan dari Mayang. ​“Eh, itu, aku—Maaf, Ma, sepertinya itu tidak perlu. Aku akan mencoba cara lain saja,” Jawab Bimo terbata. “Tenang saja, Mama tidak akan memaksamu menjawab sekarang,” kekeh Mayang pelan. Mayang melepaskan pijatannya lalu sedikit merunduk dan berbisik di telinga Bimo. “Pikirkan dulu saja secara matang.” Seluruh tubuh Bimo seketika merinding merasakan helaan nafas Mayang menerpa telinganya. Ia hanya bisa menunduk, menatap layar laptopnya yang kini terasa buram. Ia merasa terlalu malu untuk melanjutkan percakapan yang begitu intim dengan mama mertuanya sendiri. *** Pagi harinya, suasana di meja makan terasa begitu berat bagi Bimo. Ia duduk bersama Sella, Mayang, dan Tiara—adik iparnya yang masih kuliah semester akhir. Sudah setahun lebih Bimo tinggal bersama dengan mereka dalam satu rumah yang sama. Rumah ini adalah rumah pribadi keluarga Sella. Sebenarnya Bimo memiliki tabungan yang cukup untuk membangun sebuah rumah type 48 satu lantai. Hanya saja Sella menginginkan rumah yang jauh lebih besar dan memiliki kolam renang. Makanya mereka memilih menunda untuk memiliki rumah impian sampai tabungan mereka berdua benar-benar cukup. Sesekali Bimo melirik ke arah istrinya yang terlihat acuh tak acuh padanya dan tidak menegurnya sama sekali. “Kak Sella, semalam aku gak sengaja dengar suara ribut-ribut di kamar kalian. Kenapa sih kalian sering bertengkar setiap malam?” tanya Tiara penasaran, memecah kesunyian di antara mereka. ​Jantung Bimo mencelos saat mendengar pertanyaan Tiara. “Nggak tau, tanya aja sama Bimo!” jawab Sella dengan nada jutek sambil mengaduk-aduk sarapannya tanpa selera. ​“Ah— itu bukan masalah serius kok. Kakakmu suka ngambek kalau kakak ngorok malem-malem,” jawab Bimo gugup seraya menggaruk kepalanya. Ia terpaksa berbohong. Mana mungkin ia berkata jujur di depan adik iparnya kalau istrinya tidak puas dengan permainannya di atas ranjang. Tiba-tiba Mayang berdehem, seolah mencoba mencairkan suasana. “Bimo, ayo minum dulu kopinya. Mumpung masih hangat.” “I… Iya, Ma,” jawab Bimo gagap. Ia mengambil gelas kopinya dengan tangan yang sedikit gemetar. Tawaran pijat dari Mayang semalam kembali terngiang-ngiang di dalam pikirannya hingga membuatnya tidak fokus. Baru satu sesapan, lidahnya terasa terbakar karena kopi yang masih panas. Tanpa sengaja, kopi itu tumpah dan membasahi celananya. “Ahkk!! Panas!!” seru Bimo kaget. ​“Kamu ceroboh banget, sih!” hardik Sella ketus dengan menatap Bimo dingin. “​Nak Bimo, hati-hati!” Mayang reflek mengambil serbet yang ada di dekatnya lalu menunduk untuk mengelap celana Bimo yang basah akibat ketumpahan kopi panas. Bimo terbelalak ketika melihat posisi Mayang yang berjongkok di antara kedua pahanya yang terbuka, ditambah lagi tangan Mayang terus bergerak mengelap celananya dari bawah dan perlahan naik ke atas. Jika Mayang terus bergerak ke atas, Mayang bisa saja menyentuh keperkasaannya. Dia langsung menangkap tangan Mayang sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan. “Ma, tidak usah, Ma. Biar Bimo saja yang lap!” serunya panik, “Mama lanjutkan saja makannya. Aku mau ke kamar dulu,” Bimo buru-buru bangkit dari kursinya lalu masuk ke kamar untuk mengganti celananya yang kotor karena ketumpahan kopi. Saat membuka celananya, dia dapat melihat kulit pahanya memerah. Dia tidak punya banyak waktu untuk membalurkan krim luka bakar karena sebentar lagi dia harus berangkat ke kantor. Jalanan ibu kota sangat macet, jadi dia harus pergi lebih awal agar tidak datang terlambat. Telat 5 menit saja gajinya bisa dipotong oleh Bos. ​Begitu Bimo kembali keluar dari kamarnya, dia hanya melihat Mayang sedang membereskan dan merapikan meja makan. Sella dan Tiara sudah tidak terlihat lagi di sana. Sepertinya Sella sudah berangkat ke tokonya. Selama ini, Sella memiliki toko kosmetik di daerah Mangga Dua. Usahanya terbilang cukup maju. Sella pernah memintanya untuk berhenti bekerja dan membantunya di toko, tapi dia menolak karena karirnya juga terbilang cukup bagus dan sebentar lagi ada promosi jabatan di perusahaannya. “Eh, Bimo, baru saja tadi Sella dan Tiara berangkat. Gimana pahamu, Nak? Apa kamu sudah mengoleskan krim luka bakar? Mama takut nantinya berbekas dan infeksi,” tanya Mayang cemas. ​“Udah, ma, mama tidak perlu khawatir. Bimo berangkat dulu ya, ma,” jawab Bimo terpaksa berbohong seraya melirik arloji merk Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Arloji itu adalah hadiah ulang tahunnya yang diberikan oleh Sella, istrinya, beberapa bulan yang lalu. Sebelum Bimo melangkah keluar rumah, Mayang kembali memanggilnya dan sedikit berlarian hingga membuat kedua bukit ranumnya berguncang ke atas dan ke bawah seperti bola basket. “Nak Bimo, tunggu! Ini kotak bekalmu. Ambillah,” Mayang menyerahkan tas yang berisi kotak bekal dan botol tumbler di dalamnya. Selama satu tahun ini, Mayang selalu membuatkan sarapan dan bekal makan siang untuknya. Bukannya Sella tidak mau melakukannya, istrinya itu sangat sibuk di toko makanya kadang-kadang mereka lebih memilih order makanan di luar. Tapi Mayang khawatir jika mereka terus order makan di luar malah tidak baik untuk kesehatan mereka. Maka dari itu, Bimo dan Sella sepakat memberikan uang bulanan untuk keperluan dapur dan rumah tangga kepada Mayang. ​Bimo menerima tas bekal itu.Tak sengaja, tangan mereka bersentuhan dan Bimo bisa merasakan tangan Mayang terasa sangat halus dan lembut.“Wah, hampir saja Bimo lupa. Makasih banyak ya, ma, udah ingetin Bimo.” ​Mayang tersenyum simpul—terlihat lesung pipit di kedua pipinya yang menambah kesan manis di wajahnya. “Iya, sama-sama, Nak. Hari ini Mama masak semur jengkol dan ayam goreng lengkuas kesukaan kamu. Habisin ya.” ​“Iya, Ma, kalau begitu Bimo berangkat dulu,” Bimo mencium tangan Mayang dengan perasaan grogi sebelum berangkat kerja ke kantor. Setelah itu, dia keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Terlihat Mayang tengah berdiri di halaman rumah. ​“Hati-hati di jalan ya, Bimo,” ucap Mayang sambil melambaikan tangannya. ​“Iya, Ma,” sahut Bimo sebelum melajukan mobilnya. ​Malam harinya, Bimo pulang dengan suasana hati yang sudah membaik. Namun, saat ia masuk ke kamar, matanya terbelalak melihat istrinya sedang berbaring di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun. Suara desahan lolos dari bibir istrinya itu dan tangannya terus bergerak memasukkan sebuah benda panjang yang dapat bergetar dan bergerak di dalam lembah kenikmatannya. “Se… Sella?! A… apa yang kamu lakukan?! “ Kaki Bimo seolah kehilangan fungsinya, ia mematung melihat Sella tengah memainkan benda itu tanpa memperdulikan kehadirannya. Sella tidak langsung menjawab dan menghiraukannya. Bimo melihat seluruh tubuh istrinya itu tiba-tiba bergetar hebat sebagai tanda pelepasannya sudah mulai datang. Sella menyeringai dengan tatapan mengejek ke arahnya. ​“Malam kemarin kamu cuma bertahan selama 3 menit, Mas! Kamu sangat payah dibanding suami teman-temanku! Makanya jangan salahkan jika aku membeli benda ini, karena aku nggak bisa mengandalkan kamu lagi untuk memberikan aku kepuasan!” seru Sella kembali menghinanya. ​“Sella, kamu lebih milih benda plastik itu daripada suamimu sendiri?” suara Bimo bergetar. ​“Habisnya mau gimana lagi? Kalau kamu nggak bisa memuaskan aku, lebih baik kita cerai saja!” ancam Sella. Bimo meremas rambutnya dengan frustasi. Kata cerai itu menghantamnya telak. Ia benar-benar telah tergantikan oleh mesin. Ia keluar dari kamar dengan langkah limbung, mencari ketenangan di luar. Di ruang tamu yang sunyi, ia kembali bertemu dengan Mayang. Mayang datang menghampirinya sambil membawa secangkir kopi di tangannya seperti biasa. Bimo menatap Mayang dengan tatapan yang sangat lelah. “Ma… apakah tawaran pijat semalam… masih berlaku?” Bab 3 Meminta Bantuan Mama Mayang tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tertegun sejenak, menatap lekat ke dalam manik matanya. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah. ​“Mama tahu kamu pasti akan mengambil keputusan ini, Bimo,” bisik Mayang membuat sekujur tubuh Bimo merinding saat merasakan helaan nafasnya.“Mama tidak tega melihatmu terus-terusan dihina oleh Sella. Tapi ingat, apa yang akan kita lakukan malam ini harus tetap menjadi rahasia kita berdua saja.” ​Mayang duduk tepat di sebelah Bimo hingga aroma parfum mawar yang menguar dari tubuhnya menyengat indra penciuman Bimo. “Sella tidak boleh tahu kalau Mama turun tangan untuk urusan ranjang kalian. Kalau dia tahu Mama ikut campur, dia pasti akan semakin merendahkanmu. Biarlah dia tahu hasilnya saja nanti saat kamu sudah sembuh. Mengerti?” ​Bimo mengangguk pelan, pasrah dengan keadaan. Hanya ini satu-satunya jalan untuk mempertahankan rumah tangganya. Bayangan Sella yang lebih memilih benda plastik daripada dirinya benar-benar menghancurkan harga dirinya. “Sekarang, kembalilah ke kamar. Tanggalkan semua pakaianmu dan pakailah sarung saja tanpa celana dalam agar aliran darahmu tidak terhambat saat Mama pijat nanti. Pijatan tradisional ini butuh kontak langsung yang maksimal agar minyak yang Mama gunakan bisa meresap sempurna ke saraf vitalmu,” perintah Mayang. Bimo melangkah masuk ke kamarnya dengan jantung yang berdegup kencang. Di dalam kegelapan kamar, ia bisa melihat gundukan tubuh Sella di balik selimut yang membelakanginya. Nafas istrinya terdengar teratur, pertanda wanita itu sudah terlelap setelah meluapkan amarahnya. Bimo berdiri mematung di sisi ranjang, menatap punggung istrinya dengan rasa bersalah. ”Maafkan aku, Sella. Aku melakukan ini agar aku bisa membahagiakanmu lagi,” batinnya pedih. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bimo mulai menanggalkan pakaian kerjanya satu per satu. Ia kemudian mengambil kain sarung kotak-kotak dari dalam lemari dan melilitkannya di pinggang. Ia melangkah keluar kamar dan menutup rapat pintunya dengan pelan agar tidak membangunkan Sella. Setiap langkahnya membuat keperkasaannya yang menegang bergesekan dengan kain sarung. “Bisa-bisanya aku merasa tegang di situasi yang salah seperti ini!” batinnya merutuki diri sendiri. ​Begitu tiba di depan kamar Mayang yang tertutup rapat di ujung lorong, ia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian berdegup kencang. Dengan tangan berkeringat dingin, dia mengetuk pelan pintu kamarnya. ​Tok tok tok Pintu itu terbuka seketika, seolah Mayang memang sudah berdiri tepat di baliknya menunggu kedatangannya. “Nak Bimo, ayo silahkan masuk,” ucap Mayang dengan suara mendayu. ​“Baik, Ma,” sahut Bimo gugup. Begitu ia melangkah masuk, tercium wangi minyak zaitun dan aromaterapi mawar memenuhi ruangan. Lampu utama dipadamkan, hanya menyisakan lampu tidur berwarna kekuningan yang memperlihatkan siluet mereka pada dinding kamar. Bimo berdiri mematung di tengah ruangan, merasa sangat canggung dengan hanya balutan sarung. Mayang menatapnya dari atas sampai bawah, sebuah tatapan yang sulit diartikan namun membuat darah Bimo berdesir. ​“Jangan takut, Nak Bimo. Mama tahu apa yang harus mama lakukan,” ucap Mayang seolah bisa membaca pikiran liar Bimo. “Dulu, Mama juga pernah melakukan pijatan pada ketiga mantan suami Mama agar keperkasaan mereka lebih panjang dan tahan lama. Pijatan ini akan Mama lakukan secara rutin agar hasilnya maksimal.” Bimo menelan ludah kasar. Kalimat itu terdengar seperti godaan di telinganya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Mayang adalah sosok yang baik,perhatian,dan keibuan. Jadi mana mungkin mama mertuanya itu berbuat yang tidak-tidak terhadap dirinya. ​“Ayo berbaringlah di ranjang, Bimo. Kita tidak punya banyak waktu sebelum pagi tiba,” suruh Mama Mayang lembut seraya berjalan mendekati Bimo. Bab 4 Pijatan Keperkasaan ​Bimo merebahkan tubuhnya dalam posisi telungkup di atas ranjang king size yang sangat empuk. Di tengah keheningan, Bimo merasakan detak jantungnya berdebar keras. Sementara itu, Mayang sudah duduk di pinggir ranjang. ​Bimo hanya bisa memejamkan kedua matanya dengan perasaan cemas. Mayang membalurkan sedikit minyak zaitun di atas punggung Bimo, membiarkan cairan hangat itu mengalir dari pundak hingga ke tulang ekor. ​Bimo bisa merasakan tangan halus Mayang mulai menyentuh dan menekan punggungnya dengan teknik effleurage—gerakan mengusap yang panjang dan berirama dari pinggang naik ke arah bahu berulang kali. Sentuhan itu tidak hanya meredakan otot yang kaku, tapi juga membuat keperkasaannya semakin memberontak tak terkendali di balik sarung. Bimo merutuki tubuhnya sendiri di dalam hati. “Mengapa tubuhku berkhianat seperti ini?” Beberapa kali dia mengambil nafas dan menghembuskannya secara perlahan untuk mengusir perasaan gugupnya. Ia mencoba membayangkan hal-hal lain agar tidak terlalu terbawa suasana, namun semakin ia berusaha untuk tetap tenang, tetap saja tubuhnya bereaksi di luar kemampuannya. Keperkasaannya yang menegang dan mengeras kini terjepit oleh bobot tubuhnya sendiri yang menekan ranjang—menciptakan rasa nikmat yang menyiksa tepat di bawah perutnya. “​Sampai kapan aku harus bertahan dalam siksaan gairah ini?” batinnya menjerit. Bimo tak memungkiri pijatan Mayang memang sangat nikmat sekali. Tekanan pekerjaan yang menumpuk membuat tubuhnya sering kali terasa pegal terutama di bagian bahu dan lengannya. Sentuhan Mayang seolah menemukan setiap titik lelah yang ia simpan selama ini. ​Mayang kemudian beralih ke teknik petrissage, yakni gerakan meremas dan menekan otot di bagian bahu serta belikat Bimo. Tekanannya begitu pas, seolah jemari Mayang tahu persis di mana letak titik-titik kelelahan Bimo. "Rilekskan tubuhmu, Bimo. Jangan dilawan, biarkan sarafmu terbuka," bisik Mayang lembut. Hembusan nafasnya yang hangat terasa begitu dekat di telinga Bimo, mengirimkan getaran aneh yang membuat bulu kuduknya meremang. ​Di saat Bimo sedang terbuai oleh pijatannya, tiba-tiba Mayang mengubah posisi. Tanpa aba-aba, Mayang menduduki punggung bawahnya. Bimo agak tersentak kaget. Jantungnya serasa ingin melompat keluar saat ia merasakan kewanitaan dan bongkahan pantat Mayang bersentuhan langsung dengan kulit punggungnya yang licin oleh minyak. “​Apakah Mama sama sekali tidak memakai celana dalam?!”batin Bimo dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya. Ketakutan dan gairah bercampur menjadi satu di kepalanya. Tekanan hangat dan empuk itu terasa begitu nyata menempel di pinggulnya, membuat aliran darah berdesir ke seluruh tubuhnya. ​“Bimo, Mama naik ke atas punggung kamu ya biar lebih leluasa. Mama akan gunakan teknik pijat tekan agar aliran oksigen di ototmu lancar,” bisik Mayang seraya membalurkan kembali minyak zaitun di atas punggungnya, lalu kembali memijatnya dari atas sampai ke bawah dengan bantuan berat badannya. ​“I… iya, Ma,” sahut Bimo dengan suara bergetar. Kepalanya mendadak blank karena gesekan pantat Mayang terus menekan punggungnya setiap kali wanita itu melakukan gerakan memijat. Bimo meremas ujung bantal dengan kuat, berusaha mati-matian menahan gairah yang menyiksa batinnya ini agar tidak segera meledak. Cukup lama Mayang memberikan pijatan di atas punggungnya, menggunakan teknik dorongan telapak tangan yang kuat hingga ke pangkal leher. Setelah itu, Mayang perlahan turun dan berdiri di sisi ranjang. ​“Sekarang berbaliklah dengan posisi telentang, Nak Bimo. Mama akan memberikan pijatan untuk membuat keperkasaanmu menjadi semakin panjang, tebal, dan lebih tahan lama saat bertempur dengan istrimu nanti,” perintah Mayang. ​“I… iya, Ma,” Bimo kembali menelan ludahnya kasar. Dengan perlahan, ia berbalik dengan posisi telentang seperti yang sudah diperintahkan. Kini ia menghadap langsung ke arah langit-langit kamar dengan perasaan gugup dan malu. ​Mayang mulai melakukan pijatan di area perut. Pertama-tama, ia kembali membalurkan minyak zaitun di atas perut bawahnya Bimo yang berada dua jari di bawah pusar. "Ini teknik penting untuk melancarkan sirkulasi di area vital," jelas Mayang lembut. "Pijatan ini berguna untuk membantu kontrol ejakulasi dan memperkuat kekuatan ereksi karena akan melancarkan darah tepat ke pusatnya." ​Mayang menekan lembut area itu dengan gerakan melingkar searah jarum jam, lalu diikuti dengan teknik vibration menggunakan ujung jarinya. Tekanan itu membuat Bimo mendadak ingin pipis karena pijatan itu secara tidak langsung menekan kantung kemihnya. Namun, rasa tidak nyaman itu segera tertutup oleh desakan gairah yang kian meledak. ​Ditambah lagi, keperkasaannya terus memberontak di dalam sarungnya, membentuk gundukan besar yang sangat jelas terlihat di bawah lampu kamar yang redup. Bimo menutup matanya rapat-rapat, ia sangat malu dan takut Mayang akan menyadarinya. Namun, tangan Mayang malah semakin aktif bergerak, seolah sengaja memancing reaksi tubuhnya lebih jauh. ​Mayang kemudian melakukan teknik pijat di area pangkal paha bagian dalam. "Saraf-saraf di sini adalah kunci daya tahanmu, Bimo," ucap Mayang lagi sambil melakukan gerakan gesekan yang menciptakan rasa panas yang menjalar di antara kedua paha Bimo. Bimo meremas sprei ranjang hingga kusut, nafasnya tiba-tiba tercekat di tenggorokannya. Perasaannya berkecamuk antara ingin berhenti dan ingin merasakan lebih. Ia merasa sedang berada di ambang batas ketahanannya sebagai seorang pria. ​Tiba-tiba, Bimo merasakan ritme tangan Mayang berubah drastis. Pijatan itu tidak lagi berhenti di pangkal paha. Jemari yang licin karena minyak itu terus bergerak turun ke bawah, merayap melewati batas pinggang dan mulai menyelinap masuk ke balik kain sarungnya yang longgar. ​“T-tunggu, Ma! Itu—“ Bab 5 Ramuan Khusus Sebelum tangan Mayang menyentuh miliknya dari dalam sarung, tiba-tiba saja terdengar suara nada dering dari ponselnya Bimo. Bimo buru-buru menyambar ponselnya dan melihat nama kontak Sella sedang memanggilnya. Wajahnya seketika berubah menjadi panik, pasti Sella tiba-tiba terbangun dan mencari keberadaannya. Bimo memberikan aba-aba pada Mayang untuk tidak bersuara dengan menempelkan jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri. Mayang menganggukkan kepalanya mengerti seraya menjauhkan tangannya. “Halo Mas, kamu ada dimana?! Kamu keluyuran kemana malam-malam begini?! “ Seru Sella di ujung telepon hingga memekakkan telinga Bimo. “A… aku lagi keluar beli rokok di minimarket dekat rumah, Sayang. A…aku akan pulang sekarang juga, “Jawab Bimo tergagap sambil melirik ke arah Mayang. “Ck, cepat pulanglah. Aku takut kalau tidur sendirian di kamar! “ Setelah mengatakan itu, panggilan telepon tiba-tiba terputus dimatikan oleh Sella secara sepihak. Bimo semakin panik karena saat ini dia hanya mengenakan sarung saja. Kalau dia kembali ke kamar dengan kondisi seperti ini, Sella pasti akan curiga dan bertanya-tanya di kamar nantinya. “Bimo tenanglah, Mama akan keluar untuk mengambil pakaianmu yang ada di ruang laundry. Kebetulan Mama baru selesai menyetrikanya malam ini. Tunggu disini sebentar,” Mayang lekas berdiri lalu keluar dari kamarnya untuk mengambil pakaian Bimo. Sementara itu, Bimo hanya bisa duduk menunggu kedatangan Mayang dengan perasaan cemas—takut Sella akan kembali memarahinya karena sudah menghilang tiba-tiba malam ini. Bagaimana kalau Sella sampai tau kalau dia berada di kamar Mayang? Dia tidak dapat membayangkan betapa murkanya Sella jika mengetahuinya. Pintu kamar kembali terbuka, terlihat Mayang berjalan masuk menghampirinya sambil memegang baju dan celana boxer di tangannya. Mayang menyerahkan baju dan celana itu kepada Bimo.” Pakailah bajumu dan segera kembalilah ke kamar. Jangan buat Sella menunggu terlalu lama.” “Ba.. baik ma, tapi… apa mama bisa berbalik dulu?” Bimo merasa malu kalau Mayang memperhatikannya berganti pakaian, maka dari itu ia meminta Mayang untuk berbalik agar bisa lebih leluasa berganti pakaian. Mayang hanya tersenyum seolah mengerti.”Baik, mama akan berbalik sekarang.” Mayang berbalik arah memunggunginya, Bimo langsung bergegas memakai pakaiannya. Selesai memakai pakaiannya, Bimo mengucapkan terima kasih kepada Mayang. “Ma, aku kembali ke kamar dulu. Terima kasih untuk pijatannya malam ini.” ​Mayang berbalik dan mengingatkan, “Sesi kita belum selesai, Bimo. Mama belum memijat bagian vitalmu. Mulai besok, kita lakukan rutin selama tiga bulan supaya kamu benar-benar perkasa. Datang lagi ke kamar Mama besok malam pakai sarung saja, ya?” “Berlangsung selama 3 bulan? Astaga apa yang harus aku lakukan? Sepertinya aku salah sudah meminta Mama untuk memijatku malam ini,” Batin Bimo menjerit. Bagaimana ia bisa bertahan selama itu? Sehari saja sudah membuat jantungnya hampir copot apalagi harus melakukannya sampai 3 bulan! *** ​Pagi harinya, Bimo bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar dan bugar karena pijatan dari mama mertuanya semalam. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Sella masih tertidur lelap di sebelahnya, Bimo mencium pipi Sella sambil mengucapkan selamat pagi untuknya. ​“Good morning, Sayang, ayo bangunlah. Nanti kamu kesiangan ke toko.” ​“Eumm, bentar Mas, 5 menit lagi. Mas duluan aja,” Sella menutupi wajahnya dengan bantal guling—merasa terganggu karena kumis Bimo yang tajam menusuk kulit pipinya. ​“Oke, aku duluan ya,” Bimo beranjak dari tempat tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi, dia mengenakan setelan pakaian kerjanya dan menyisir rambutnya di depan cermin. Dari balik cermin, dia melihat istrinya sudah mulai bangun dan mengambil handuk untuk mandi. ​Bimo keluar lebih dulu dari kamarnya. Tiara sudah duduk lebih dulu di meja makan sambil menikmati sarapannya, sementara Mayang tengah sibuk membuat sesuatu di dapur. Baunya sangat menyengat dan menyeruak ke seluruh penjuru rumah. Sebenarnya apa yang dibuat oleh Mayang pagi ini? ​Bimo memilih duduk di hadapan Tiara. Pagi ini, adik iparnya itu terlihat cantik dengan menggunakan kaos berbelahan dada V berwarna merah maroon yang memperlihatkan sedikit gundukan bukit ranumnya. Namun ada sesuatu yang mengganggunya, yaitu bekas kissmark yang ada di dadanya itu. Apa Tiara sudah punya pacar? Pantas saja pulangnya malam sekali. ​Tiara tiba-tiba saja menatapnya dengan kening berkerut. “Ada apa, Kak? Apa ada sesuatu di wajahku?” ​Bimo mendadak gugup karena ketahuan menatap Tiara. “Ah, iya. Ada nasi di bibirmu.” ​Tiara meraba-raba bibirnya dan tidak menemukan apa pun. “Gak ada kok.” ​Bimo terpaksa berdiri dan sedikit membungkuk untuk membersihkan sebutir nasi yang kebetulan menempel di bibir bawah Tiara yang cukup tebal dan penuh. “Maaf, sini Kakak yang bersihkan.” ​Tak lama kemudian, Mayang datang menghampirinya sambil membawa secangkir minuman hangat dan meletakkannya tepat di atas meja. Bimo dapat melihat gundukan besar kenyal bukit ranum milik Mayang mengintip dari balik celah atasan dasternya, membuatnya malu dan segera mengalihkan pandangan. Seperti biasa, Mayang tidak pernah memakai bra jika berada di dalam rumah. ​“Bimo, minumlah ramuan jamu ini. Mama membuatnya khusus untukmu.” ​“Jamu?” Bimo melirik ke arah cangkir yang berisi jamu, baunya sangat menyengat dan asapnya juga mengepul ke udara. Bimo reflek menutup hidungnya sendiri. ​Dari kecil, Bimo sama sekali tidak menyukai jamu karena rasanya sangat pahit. “Maaf, ma. Tapi, aku nggak suka jamu.” ​“Loh, kok gak suka? Mama udah capek-capek buat jamu ini buat kamu loh. Jamu ini berfungsi untuk membuat keperkasaanmu tambah jreng dan tahan lama,” Wajah Bimo memerah. Bisa-bisanya mama mertuanya berkata begitu padahal ada Tiara! Untungnya gadis itu tidak terlihat terganggu. “Ayo dicicipi dulu, Nak. tubuhmu yang capek dan pegal-pegal juga akan hilang setelah meminumnya,” bujuk Mayang. ​Bimo masih ragu-ragu untuk meminum jamu itu. Namun, dia tidak ingin membuat Mayang bersedih karena menolak meminum jamu yang sudah dibuat dengan susah payah. ​“Baiklah, Ma, Bimo akan meminumnya.” Bimo mengambil cangkir di meja dan menutup hidungnya saat akan meminum jamu itu. Dia meneguknya sekali dan merasakan pahit yang mendominasi di lidahnya. Mayang menatapnya sangat antusias, membuat Bimo semakin tidak enak hati., Ia secara perlahan meneguk semua jamu itu sampai habis tak bersisa. “Gimana? Enak, kan?” tanya Mayang. “Enak, ma,” ringis Bimo berbohong. ​Bimo menaruh gelasnya kembali di atas meja dan mulai menyantap sarapan nasi goreng buatan Mayang. Di waktu yang bersamaan, Sella muncul dan duduk tepat di sebelah Bimo. ​“Mas, nanti aku barengan kamu ya perginya. Mobilku belum selesai di servis di bengkel. Pulang nanti aku bisa naik Gocar aja,” ucap Sella sambil mengambil nasi goreng dan menaruhnya di atas piringnya. ​“Oke,” sahut Bimo seraya mengunyah sarapannya. ​Selesai sarapan, Bimo mengantar Sella ke tokonya terlebih dahulu yang tak begitu jauh dari rumah mereka. Setelah itu dia kembali melajukan mobilnya sampai ke kantornya. Setibanya di kantor, Anto, teman satu divisinya menyapanya. ​“Bimo, cerah banget wajahmu hari ini. Apa obat kuat yang aku rekomendasikan waktu itu manjur?” tanya Anto yang berada di meja sebelahnya Bimo sambil menyesap kopi hitamnya di meja sebelah. ​Bimo duduk di kursinya sambil menaruh tas dan kotak bekal yang biasa disiapkan oleh Mayang untuknya di atas meja seraya berkata, “Sama sekali nggak manjur, To. Yang ada malah bikin aku pusing seharian.” Anto tertawa pelan, tubuhnya bersandar di kursi kerja. “Hahaha! Mungkin obatnya gak cocok buat kamu, Bim. Mau aku rekomendasikan obat kuat lain? Aku kasihan lihat kamu galau terus begini. “ Bimo menghela nafas, jemarinya mulai mengetik di atas keyboard. “Sepertinya aku menyerah untuk meminum obat kuat, To. Takutnya malah overdosis kalau sembarang minum obat terus. Sejujurnya aku sangat malu menceritakan masalah ini denganmu.” Anto menepuk bahu Bimo. “Tidak perlu malu Bim, kita ini kan sahabat. Jadi bagaimana rencana kamu ke depannya? Apa kamu akan menyerah begitu saja? “ “Aku sekarang sedang menjalani pengobatan alternatif lain. Semoga saja membuahkan hasil yang memuaskan, “ Jawab Bimo singkat, pandangan matanya tetap fokus ke layar komputer yang ada di depannya. ​Kening Anto berkerut heran. “Pengobatan alternatif? Maksudnya apa?” Belum sempat Bimo menjawab, terdengar suara notifikasi di ponselnya. Bimo menghentikan aktivitas pekerjaannya dan melihat kontak Mayang tertera di layar ponselnya. Dia membuka layarnya dan melihat isi pesannya. Jantungnya seketika berdegup saat membaca pesan Mayang: “Semangat kerjanya. Jangan lupa nanti malam kita pijat lagi,” Bab 6. Hampir Keluar ​Sepulang kerja, Bimo disambut oleh keheningan rumah yang terasa sedikit berbeda. Saat melangkah masuk, aroma bumbu dapur yang kuat segera menyapa indra penciumannya. Di sana, dia melihat Mayang tengah sibuk dengan celemek merah muda yang membalut tubuhnya, menonjolkan siluet tubuh seksinya yang sempurna. Beberapa hidangan sudah tersaji rapi di atas meja makan, mengepulkan uap panas yang menggugah selera. “Nak Bimo, ayo duduklah. Mama baru saja selesai memasak menu makan malam spesial untukmu. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini,” ucap Mayang lembut sembari meletakkan piring berisi kerang Oyster bumbu Jimbaran ke tengah meja. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini. Bimo menarik kursi dan duduk dengan gerakan kaku. Matanya kemudian tertuju pada sebuah cangkir berisi cairan berwarna kecoklatan yang baunya sangat menyengat, meski aromanya berbeda dengan jamu yang ia minum tadi pagi. “Ma, minuman apa itu?” tanya Bimo ragu. ​“Oh, ini teh ginseng. Mama membuatnya khusus untukmu, Nak. Minuman ini berfungsi meningkatkan kualitas sperma, mengatasi disfungsi ereksi, dan meningkatkan libido pria,” jelas Mayang sembari melepaskan celemeknya, memperlihatkan daster satin yang melekat pas di tubuhnya. Mayang duduk di kursi yang ada di samping Bimo. “Selain ramuan pagi tadi, Mama akan memberikan teh ginseng ini setiap malam. Ayo diminum dulu selagi hangat.” Bimo sebenarnya sangat enggan menyentuh minuman beraroma tajam itu. Namun, melihat sorot mata Mayang yang penuh harap dan mengingat betapa besarnya pengorbanan wanita itu untuk membantu rumah tangganya, Bimo tak sampai hati untuk menolak. Ia meraih cangkir itu, memejamkan mata, dan mulai meneguknya. Rasa pahit segera menjajah lidahnya, namun tak segetir jamu sebelumnya. Ada sensasi hangat yang merambat perlahan dari tenggorokan menuju perutnya, meninggalkan rasa manis samar di pangkal lidah. Anehnya, baru beberapa teguk saja, Bimo merasa otot-ototnya yang tegang akibat stres di kantor mulai rileks. Tanpa sadar, ia meminumnya hingga habis tak bersisa. Mayang tersenyum. “Syukurlah, sepertinya kamu suka. Mama lihat kamu kurang cocok dengan jamu tradisional, jadi Mama berinisiatif menggantinya dengan ginseng. Dulu, mendiang Papanya Sella suka sekali meminum minuman ginseng ini. Nah, sekarang makanlah yang banyak. Selesai makan, kita akan memulai pijatan di kamar mama.” Bimo tersentak. Ia lupa kalau setelah ini mereka akan kembali mengulangi pijatan. Ia akhirnya mengangguk sekilas dan segera mengambil sendok-garpunya. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruang makan itu. Bimo makan dalam diam, pikirannya berkecamuk. Apakah ini berarti pijatan yang sama seperti kemarin? Batinnya gelisah. Selesai makan, Bimo masuk ke kamarnya dan segera membersihkan dirinya. Sesuai instruksi Mayang, dia kembali melilitkan sarung di pinggangnya tanpa mengenakan atasan maupun pakaian dalam. Saat berdiri di depan pintu kamar mertuanya, keraguan kembali menyerang. Tangannya terangkat, menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia memberanikan diri mengetuk. ​Tok... Tok... Tok... “Silakan masuk, Nak Bimo! Buka saja pintunya!”Seru Mayang dari dalam. Begitu pintu terbuka, Bimo seolah kehilangan kemampuan untuk bernafas. Mayang tengah duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan kain jarik yang melilit tubuhnya dengan ikatan seadanya di atas dada. Sebagian dari bukit ranumnya yang besar terlihat mencuat keluar. ​“Nak Bimo, ayo masuk. Kenapa kamu malah berdiri mematung di sana?” tegur Mayang, menyadarkan Bimo dari lamunannya. ​“I-iya, Ma,” jawab Bimo gugup. Ia melangkah masuk dan segera menutup pintu. Perasaan bersalah langsung menghujam dadanya saat ia menyadari miliknya di bawah sana mulai bereaksi. Ia segera menunduk, menggunakan tangannya untuk menutupi tonjolan di balik sarung agar tidak terlihat oleh Mayang. ​‘Bimo, ingat! Dia mertuamu. Jangan jadi bajingan!’ kutuknya dalam hati. “Berbaringlah, Mama akan mulai memijatmu,”perintah Mayang memecah kecanggungan. Bimo segera telungkup di atas ranjang. Tak lama kemudian, ia merasakan sentuhan tangan lembut yang sudah dibalur minyak zaitun mulai menekan punggungnya. Pijatan Mayang benar-benar luar biasa—wanita itu tahu persis titik-titik saraf yang harus ditekan agar rasa lelah itu menguap. Saking nikmatnya, Bimo hampir saja terlelap dalam rasa rileks yang luar biasa. Namun, ketenangan itu terusik saat Mayang menepuk pundaknya. “Nak Bimo, sekarang berbaliklah. Mama harus memijat sekitar kemaluanmu sebelum Sella sampai di rumah.” Tubuh Bimo menegang seketika. Sekitar kemaluan? Bukankah itu berarti Mayang bisa melihat miliknya yang bereaksi sekarang?! Dengan nafas yang mulai memberat, ia terpaksa berbalik terlentang sesuai perintah. “M-ma, tidak usah ma. Sebaiknya pijatan bagian itu ditiadakan saja, “ucap Bimo dengan wajah merah padam menahan rasa malunya. ​“Tidak bisa Bimo, pijatan ini sangat penting agar kamu lebih perkasa dan tahan lama di atas ranjang. Kamu tidak perlu merasa malu di depan mama. Mama akan menyelesaikan pijatan ini secepatnya, “kekeh Mayang. Bimo mau tak mau berbalik badan. Mayang seketika menyeringai saat melihat, keperkasaan menantunya yang sudah mengeras sepenuhnya. “Wah, sepertinya ramuan Mama benar-benar bekerja dengan baik. Mama penasaran ingin melihat hasilnya nanti. Sekarang, diamlah, Mama akan memberi pijatan untukmu. ” Wajah Bimo merah padam. Ia merasa sangat malu. Sebelum dia sempat memprotes, tangan Mayang sudah mulai bergerak di pangkal pahanya. Sentuhan itu membuat urat-urat di keperkasaannya semakin menonjol. Bimo mendesis, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi menahan erangan yang hampir lolos. ‘Sella, maafkan aku. Ini demi kita...’ batinnya terus mengucap kata maaf merasa bersalah pada istrinya, meski tubuhnya berkata lain. Pijatan Mayang kini semakin mendekati miliknya, membuat Bimo semakin tegang. “Sttt... Ma, pelan-pelan,” rintih Bimo saat merasakan tekanan yang cukup kuat di bagian sensitifnya. “Maaf, Nak Bimo. Apa terasa sakit? Bilang ya kalau tekanannya terlalu keras,” ujar Mayang lembut, namun matanya menatap lekat ke arah milik Bimo yang kini berdenyut tepat di depan wajahnya. Mayang melepas pijatannya lalu berpindah memegang keperkasaan Bimo yang sudah tegang maksimal. Hal itu tentu saja membuat Bimo langsung tersentak kaget. ”Keras sekali, Nak. Mama dapat merasakan denyutannya. Itu tandanya keperkasaanmu ini normal, “ucap Mayang sambil mengurut keperkasaannya itu dengan gerakan naik turun. “M-ma, a-aku rasa pijatan ini tidak usah dilakukan. Aku… “Belum selesai Bimo bicara, Mayang langsung menyelanya. “Pijatan ini adalah pijatan paling penting Nak Bimo. Pijatan inilah yang akan membuatmu menjadi lebih perkasa dan tahan lama di atas ranjang. Jika rutin dilakukan selama 3 bulan ke depan, ukuran keperkasaanmu akan bertambah lebih panjang beberapa sentimeter loh.” Mayang kembali menuangkan minyak zaitun dengan sebelah tangannya di atas keperkasaan Bimo sebelum melanjutkan pijatannya. Bimo menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia dapat merasakan tekanan jari-jari Mayang mulai memijat dari pangkal hingga sepanjang batangnya. Ada sensasi panas yang menjalar, seolah-olah setiap pembuluh darahnya yang selama ini mati suri kini dipaksa untuk bangun dan berdenyut kencang. “Milikmu semakin terasa panas dan denyutannya cukup stabil ya. Urat-uratnya juga terlihat menonjol. Sella beruntung memiliki suami seperti kamu Bimo,”puji Mayang di tengah pijatannya. Bimo tidak dapat merespon perkataan Mayang. Saat ini otaknya tidak dapat berpikir dengan jernih. Cukup lama Mayang memijatnya, Nafasnya sudah mulai tak beraturan. Ia berusaha mati-matian menahan siksaan gairah yang tak seharusnya ia rasakan. Tiba-tiba Bimo merasakan gejolak aneh merayap di sekujur tubuhnya, sebentar lagi dia akan meledak.” M-ma, A-aku.” Mayang melepaskan pijatannya.“Sudah selesai. Sekarang pakailah sarungmu dan kembalilah ke kamarmu. “ Bimo menghembuskan nafas lega. Akhirnya pijatan ini berakhir juga. Namun, entah kenapa timbul kekecewaan di hatinya karena gagal keluar tadi. Dia segera menepis perasaan itu dan buru-buru memakai sarungnya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. “Terima kasih untuk pijatannya malam ini, Ma. Bimo kembali ke kamar dulu. “ “Iya sama-sama, tidurlah lebih cepat dan jangan bergadang,”ucap Mayang mengingatkannya. “Iya Ma,” Bimo bergegas keluar dari kamar Mayang, namun baru saja dia membuka pintu kamarnya, matanya terbelalak melihat Sella sudah berdiri di depannya. Bab 7 Penghinaan S-Sella?! Sejak kapan kamu berdiri disana?!”Tanya Bimo terkaget-kaget saat melihat istrinya itu sudah berdiri di hadapannya. Sella menatapnya dengan wajah penuh selidik.”Seharusnya aku yang nanya begitu sama kamu, Mas! Ngapain kamu keluar dari kamar Mama hanya dengan mengenakan sarung saja?” Keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipis Bimo. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan istrinya itu. “Kenapa cuma diem, Mas? Apa kamu gak punya mulut?”Tanya Sella masih menunggu jawabannya. “I-itu a-anu, aku.. “Belum sempat Bimo menjawab, terdengar suara derit pintu yang terbuka di belakangnya. Mayang berjalan menghampiri mereka dan berdiri tepat di samping Bimo. ”Mama habis mijatin Bimo. Tadi Bimo ngeluh kurang enak badan pas balik ngantor. Mama kasihan melihatnya, makanya Mama bantu pijatin dia. Kamu kok ketus banget ngomong sama suami kamu, gak sopan.” Sella memutar bola matanya malas.”Oh gitu, yaudah aku capek banget sekarang. Aku mau ke kamar dulu.”Sella melangkah pergi meninggalkan mereka menuju ke kamarnya dengan wajah acuh tak acuh. Bimo kembali menarik nafas lega. Kali ini dia selamat berkat bantuan Mayang. Mayang menepuk pundaknya. Wajah wanita itu tampak prihatin menatap Bimo. “Bimo maafin Sella ya. Sella hanya kecapekan saja makanya jadi ketus begitu. Tolong jangan diambil hati. “ “Iya ma, tidak apa-apa. Bimo sudah biasa kok. Bimo masuk ke kamar dulu,”Bimo buru-buru pergi menyusul Sella di kamarnya untuk menghindari situasi canggung ini. Ia benar-benar malu berhadapan langsung dengan mama mertuanya setelah sesi pijatan itu selesai dilakukan. Sesampainya di kamar, Bimo kembali dikagetkan saat melihat Sella mengeluarkan benda panjang berwarna hitam legam yang jauh lebih besar dan panjang dari benda sebelumnya. Ukurannya Bimo perkirakan mungkin sekitar 20 cm. “S-Sella, kamu membeli barang ini lagi? “ Tanya Bimo dengan suara bergetar, hatinya benar-benar hancur karena Sella sekarang sudah mulai mengoleksi benda-benda mati itu. Sella menatapnya remeh.”Kalau iya kenapa? Masih mending aku begini kan dibandingkan nyari cowok lain di luar sana. Benda kemarin masih kurang enak. Kayaknya ‘mainan’ baruku ini jauh lebih mantap. “ Sella melepaskan celana dalamnya lalu melemparnya tepat di wajah Bimo. Setelah itu Sella membuka laci yang ada di sampingnya dan mengambil sebuah pelumas. Pelumas itu Sella oleskan langsung ke mainan barunya. “Lihat baik-baik Mas, bagaimana mainan baruku ini lebih memuaskan aku dibandingkan milikmu yang tidak berguna itu,”Sella menekan tombol dan seketika benda hitam panjang itu mulai bergetar. Sella memasukkan benda itu ke dalam lembah kenikmatannya seraya menggigit bibir bawahnya. Suara erangan lolos dari bibir Sella diiringi suara berisik dari benda itu. Bimo hanya bisa tertegun menatapnya tanpa berkedip. Hatinya terasa sesak hingga membuatnya sukar untuk bernafas dalam beberapa detik. “Aduh enak banget, Mas. Rasanya aku ingin pipis! “ Tak sampai dua menit, Sella kembali mengerang panjang sambil menatap remeh ke arah Bimo. Dada Sella terlihat naik turun dengan nafas terengah-engah, keringatnya bercucuran dan terlihat mengkilap di bawah remang lampu kamar mereka. “Lihat Mas, hanya sebentar saja benda ini mampu membuatku klimaks dengan mudahnya. Benda ini bisa mencapai titik nikmat terdalamku dengan mudah dibandingkan milikmu yang mungil dan loyo itu! “Hina Sella membuat hati Bimo semakin hancur berkeping-keping. Bimo tidak menjawab sepatah katapun hinaan istrinya itu, ia mengepalkan kedua tangannya erat menahan luapan amarahnya yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Sella beranjak dari ranjang dan secara sengaja menabrak bahu Bimo. Bimo hanya bisa diam dan menatap punggung istrinya itu menghilang dari balik kamar mandi. Giginya gemeretak, ia sudah tidak tahan terus direndahkan seperti ini. Namun, ia kembali teringat kata-kata Mayang sebelumnya. “Tunggu selama 3 bulan, setelah itu aku akan membuatmu menangis oleh kenikmatan di bawah kungkunganku, Sella,”Batinnya. *** Keesokan harinya, Bimo terbangun dan melihat Sella sudah tidak ada lagi di sampingnya. Sepertinya Sella sudah lebih dulu keluar dari kamar mereka. Selama ini Bimo merasa hampa tanpa adanya kehangatan yang nyata seperti yang ia rasakan saat mereka berpacaran dulu. Sella semakin bersikap dingin dan seringkali acuh tak acuh terhadap dirinya. Tatapannya tak sengaja menangkap benda hitam itu masih tergeletak di atas nakas. Nyes Hatinya terasa pedih, segala usahanya tidak pernah dihargai. Bimo mencoba memalingkan pandangannya dari benda itu lalu bangkit dari tidurnya. Ia bergegas mandi lalu memakai setelan kantornya yang rapi. Selama ini yang mencuci dan menyetrika bajunya adalah Mayang. Sella tidak pernah sekalipun memperhatikannya untuk hal-hal sekecil apapun. Dia sangat mengerti kalau Sella juga memiliki kesibukan sendiri, tapi apakah ia salah jika menuntut perhatian sedikit saja dari istrinya? Bimo melangkah gontai menuju dapur, tidak seorangpun ada di meja makan. Bimo hanya melihat Mayang yang tengah sibuk di dapur menyiapkan bekal untuknya seperti biasa. Suara senandung mama mertuanya itu terdengar begitu merdu diiringi musik yang diputar oleh radio. Pinggul Mayang yang lumayan besar bergoyang kesana kemari mengikuti irama alunan musik. Saat Mayang berbalik, barulah Bimo segera memalingkan pandangannya ke arah lain. “Bimo, kamu sudah sarapan?”Tanya Mayang menyapanya. “B-belum, Ma. Apa Sella sudah berangkat duluan?”Tanya Bimo mengusir rasa gugupnya karena teringat pijatan semalam. Pagi ini benar-benar canggung karena hanya ada mereka berdua saja. Mayang berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di hadapannya. Aroma parfum mawar yang menguar dari tubuh mama mertuanya itu tercium begitu jelas menusuk indranya.“Matamu terlihat sembab, apa kamu tidak cukup tidur semalam? Apa kamu kembali bertengkar dengan Sella?” “T-tidak, Ma. Kami tidak bertengkar kok. Hubungan kami baik-baik saja,”Jawab Bimo berbohong. Ia tak bisa menceritakan perlakuan kasar yang selama ini Sella lakukan terhadap dirinya. “Mama tau kamu berbohong, tapi Mama tidak akan memaksamu untuk bicara jika kamu tidak ingin menceritakannya. Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan, kamu bisa curhat sama Mama. Sekarang ayo sarapan dulu, kamu pasti lapar. Mama akan menemanimu,”Mayang menuntun Bimo untuk duduk di meja makan bersamanya. Bimo duduk di sebelahnya dan memperhatikan bagaimana mama mertuanya itu dengan telaten melayaninya. Mulai dari membalik piring dan menuangkan nasi goreng kampung di atasnya. “Ayo makanlah, nanti kamu telat masuk ke kantor Nak Bimo,”Suara Mayang membuat Bimo langsung tersadar dari lamunannya. Ia sedikit berdehem mengusir rasa gugupnya karena tak sengaja menatap Mayang. Tangannya bergerak menyendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya dan mengunyah pelan. Sementara Mayang masih duduk di sampingnya dan memperhatikannya. “Nak Bimo, kalau kamu mau Mama bersedia menggantikan tugas Sella,”ucap Mayang tiba-tiba hingga membuat Bimo tersedak dan terbatuk-batuk saat mendengarnya.