Đang tải thông tin quảng bá...
Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun
“Kita menikah selama dua tahun.” Ryn Laverna kehilangan calon suami setelah direbut sahabatnya sendiri. Lalu, di tengah kegundahan itu, dia justru terjebak dalam kontrak dengan bosnya sendiri. Na...
Chương (1)
第1章
“Kita menikah selama dua tahun.”
Ryn Laverna kehilangan calon suami setelah direbut sahabatnya sendiri. Lalu, di tengah kegundahan itu, dia justru terjebak dalam kontrak dengan bosnya sendiri. Namun, apakah keputusan ini kesalahan terbesar, atau penyelamat?
Bab 1: Tiba-tiba Terjebak
“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”
Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.
“Aku nggak minta pendapatmu.”
Suara laki-laki menyusul, rendah dan tegas. Dan sialnya, Ryn sangat mengenal suara itu. Itu suara Kylar Ashwara Putra, CEO Ashwara Culinary Group tempat dia bekerja.
Mati sudah. Kalau ketahuan dia di sini, selesai riwayatnya.
Ryn menarik napas gemetar. Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah ketika dia buru-buru melipir ke balik tumpukan pot tanaman.
“Ingat ya! Keluarga aku pasti nggak akan tinggal diam kalau tahu semua ini,” lanjut perempuan itu, nadanya meninggi. “Apalagi kamu nggak punya alasan jelas buat menolak!”
Kylar menjawab datar, tanpa ragu, “Alasannya jelas. Aku nggak suka kamu.”
Ryn menelan ludah.
Di kantor, gosip tentang Kylar memang sudah lama beredar. Kylar menolak semua perempuan yang dijodohkan karena katanya pria itu memang tidak tertarik pada perempuan.
Dan mendengar kalimatnya barusan, Ryn mendadak merasa rumor itu bukan sekadar omongan orang iseng.
Ryn akhirnya menunduk, mencoba mundur selangkah demi selangkah. Namun, langkahnya yang panik justru membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya merosot sedikit, lalu dia refleks berjongkok.
Dan sial. Sungguh sial.
Bokongnya menyenggol vas bunga kecil yang ditempatkan persis di belakangnya.
Prang!
Benda itu jatuh, pecah, dan membuat kedua kepala serempak menoleh. Hening satu detik. Lalu langkah kaki mendekat, berirama, tegas, membuat jantung Ryn seperti akan copot saat itu juga.
“Kamu ngapain di sini?”
Oh, tidak. Dari dua orang yang bisa bertanya, kenapa harus Bosszilla yang melontarkan pertanyaan?
Tidak mungkin kan kalau Ryn jawab dia sengaja melipir ke rooftop karena galau setelah menerima undangan pernikahan dari mantan calon suaminya, yang ironisnya menikahi sahabatnya sendiri.
“Kamu ngapain?” ulang Kylar lagi karena Ryn tak kunjung bersuara.
Tatapannya menilai Ryn dari ujung rambut ke ujung kaki, bukan dengan kemarahan, tapi dengan fokus seseorang yang sedang menimbang peluang. Seolah kemunculan gadis itu membuka kemungkinan baru di tengah jalan buntu perjodohan yang barusan diperdebatkannya.
Dengan pasrah, Ryn berdiri perlahan. Bahunya merosot, kepala menunduk serendah mungkin. Andai bisa berubah jadi semut dan menghilang di balik pot, dia pasti sudah melakukannya.
Tidak mungkin dia bilang dia lari ke rooftop untuk meltdown karena dikhianati pacar dan sahabatnya.
Ayo, Ryn. Berpikir.
Dia tahu reputasi bosnya. Kylar bukan tipe yang memberi toleransi. Terlambat dua menit, pulang mundur tiga puluh menit. Salah input invoice, bonus melayang. Kalau sudah mengomel, mulutnya tajam seperti bambu runcing.
Bolos saat jam kerja seperti Ryn seperti ini? Sama saja menandatangani surat resign.
Dan sekarang ketahuan menguping?
Celaka sudah.
Ryn mengangkat wajah sedikit, cukup untuk melihat ujung bahu setelan Kylar yang rapi. Lalu, dengan keputusasaan yang hanya terjadi di hari-hari terburuk hidupnya, dia memasang wajah paling memelas.
Mata membesar. Bibir mengerucut. Hidung memerah. Dan ketika Ryn memaksa air mata keluar, ajaibnya berhasil. Sesenggukan kecil pun muncul.
Perfect. Harusnya pria ini punya sedikit hati nurani, ‘kan?
“Maaf, Pak, saya–”
“Diam,” potong Kylar lebih dulu. Pandangannya terkunci ke tubuh Ryn, hingga satu senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Dan tiba-tiba, Kylar menggenggam tangan Ryn dengan kencang, membuat Ryn terkejut dan takut. Dia berusaha melepaskan diri, tapi tenaga Kylar jelas lebih besar darinya.
Tunggu. Apa dia akan diseret ke ruang HRD sekarang juga?
Tidak! Dia masih butuh pekerjaan. Dia hanya staff Accounting yang gajinya pas-pasan. Cari pekerjaan baru susah. Cari bos yang normal lebih susah lagi.
Bukannya makin tenang, Ryn malah makin histeris. Kali ini bukan pura-pura. Ini hari terburuk hidupnya.
“Pak, tolong jangan–”
“Sstt ….” Kylar menempelkan telunjuknya ke bibir Ryn yang memakai lipstik nude. Tubuhnya yang tinggi bergerak mendekat.
Ryn terpaku ketika Kylar mengusap punggungnya lembut. Apa-apaan ini?
“Maksudnya apa ini?!” pekik wanita berbaju hitam itu, wajahnya memerah bukan karena blush on.
“Pak, maaf. Saya tidak dengar apa-apa, sumpah,” isak Ryn memohon, wajah memelasnya sempurna.
“Diam sebentar.” Kylar tidak menatap perempuan yang dijodohkan dengannya itu. Sebaliknya, dia meraih bahu Ryn, mengusap lengannya perlahan. “Kamu dengar pun nggak masalah. Justru lebih mudah begini. Semua bisa selesai sekarang.”
Selesai? Maksudnya pekerjaan Ryn yang selesai? Atau hidupnya yang selesai?
“Pak, bisa tolong lepas?” Ryn melirik sekitar cemas. “Ini kantor. Nanti–”
“Aku nggak peduli ini kantor atau bukan,” potong Kylar. “Aku nggak mau backstreet lagi. Aku mau semua orang tahu kita itu pasangan.”
Ryn terbelalak. Seluruh isi otaknya mendadak kosong.
Pasangan? Siapa? Dia? Dengan bos yang nyaris tidak manusiawi ini?
Ryn tahu betapa menyebalkannya mulut bosnya itu. Tapi, mendengar kalimat seperti itu, jelas membuat Ryn lebih terkejut 10 kali lipat.
“Oke, stop. Kamu makin gila,” sergah wanita berbaju hitam itu. “Jadi selama ini kamu pacaran sama karyawan kamu? Ky, kamu–”
“Iya, jadi aku nggak bisa melanjutkan perjodohan itu.” Kylar kembali memotong perkataan Jihan dengan cepat. Tatapan Kylar lalu kembali ke Ryn, mengunci. “Karena aku lebih mencintai, Ryn.”
Ryn tercekat, tapi sebelum dia sempat panik atau mengeluarkan suara, Jihan mendengus sinis.
“Omong kosong! Kylar, kamu benar-benar mau mempertaruhkan reputasi keluarga kita untuk ini?” Tatapan Jihan meremehkan Ryn dari atas ke bawah. “Perempuan ini? Karyawan rendahan seperti dia?”
Kylar sama sekali tidak terpengaruh. “Jangan berani menyebut tunanganku seperti itu.”
Ryn menoleh cepat, nyaris tersedak udara.
Jihan terperanjat. “Apa maksud kamu?!”
“Aku sudah melamarnya dan kami akan menikah minggu depan,” ujar Kylar dengan ketenangan yang membuat suasana justru makin mencekam.
Bab 2: Menawarkan Kesepakatan
Menikah minggu depan?!
Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’
Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.
Pun, Ryn juga merasa semua ucapan bosnya terdengar seperti dialog teater yang gila. Jauh dari bagaimana Kylar biasa bicara.
Jihan tertawa kecil, suara tawanya tipis dan tajam seperti gesekan kaca. “Terus mana cincinnya? Jangan ngawur kamu!”
Ryn merasakan udara berubah dingin.
Oh. Ini bukan sekadar drama perjodohan. Ini perang keluarga kelas premium.
Kylar mengangkat alis, seolah pertanyaan itu terlalu standar.
“Cincin itu aksesoris,” kata Kylar tanpa ekspresi. “Yang penting keputusan. Dan aku sudah ambil keputusan.”
Jihan mengerjap. “Kylar–”
Perempuan itu ingin melawan, tapi tidak bisa. Akhirnya, dia kembali menatap Ryn sekali lagi. “Kamu! Kamu ini siapa sebenarnya?”
Ryn hampir refleks memperkenalkan diri lengkap dengan NIK, jabatan, dan slip gaji terakhir. Namun Kylar lebih cepat.
“Sudah kubilang dia calon istriku.”
Ryn menelan ludah keras mendengar itu.
Jihan tampak seperti orang yang baru saja dipukul oleh kenyataan. “Kamu jangan bercanda, Kylar!”
Kylar memiringkan kepala, tatapannya setenang air. “Kalau aku sudah melamarnya, berarti aku serius. Kenapa masih diperdebatkan?”
Ryn ingin batuk. Ingin protes. Ingin menjelaskan bahwa dia tidak ikut audisi jadi calon istri CEO. Namun, dia memilih diam. Karena satu kata saja dari mulutnya bisa mengubah seluruh arah hidupnya, dan mungkin juga gajinya.
Jihan menatap Kylar lama. Lalu, pelan, bibirnya melengkung. Bukan senyum, lebih mirip peringatan.
“Kalau begitu,” ucap Jihan manis tapi berbahaya, “kita lihat saja seberapa lama perempuan ini bertahan. Dan jangan kamu pikir keluargaku akan diam melihat semua ini.”
Ryn merasakan punggungnya merinding. Nada bicara itu terlalu lembut untuk sebuah ancaman, dan justru karena itulah terasa lebih mengerikan.
“Silakan. Aku malah berharap kamu mencoba,” tantang Kylar tidak bergeming.
Dan kali ini, Ryn benar-benar sadar, bosnya tidak sedang main-main. Ini bukan akting. Ini keputusan yang akan menyeret namanya masuk ke tengah keluarga Ashwara.
Begitu Jihan melangkah menjauh, Ryn langsung menegakkan punggungnya.
“Pak, maaf, saya permisi,” pamit Ryn dengan senyum karyawan yang sudah dilatih bertahan hidup.
“Mau ke mana?” Kylar menoleh. “Kita belum selesai.”
“Kalau soal tadi, saya minta maaf. Saya minta maaf karena bolos di jam kerja. Dan saya juga minta maaf karena sudah menguping pembicaraan Bapak,” cicit Ryn.
Lebih baik minta maaf duluan daripada dipecat. Itu hukum tidak tertulis dunia kerja. Walaupun idealnya, Kylar juga seharusnya minta maaf karena dengan santainya mengakui Ryn sebagai tunangannya.
Namun, ada satu peraturan lain yang juga tidak tertulis di hampir semua perusahaan, yaitu bos selalu benar, dan karyawan selalu salah.
Kylar menatap Ryn dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk disebut ramah. “Saya maafkan. Tapi dengan satu syarat.”
Tentu saja ada syarat. Hidup tidak pernah gratis.
“Syarat apa, Pak?” tanya Ryn. Nadanya masih terjaga, meski bahunya menegang tipis.
Kylar tidak langsung menjawab. Dia hanya mengunci Ryn dalam tatapan hitam yang stabil. Tatapan orang yang sudah memutuskan hasil akhir sebelum rapat dimulai.
“Kita menikah.”
Ryn terdiam beberapa detik. Waktu yang cukup untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar, tidak sedang bermimpi, dan tidak berada di tempat lain selain kantor.
Lalu tawa kecil lolos dari bibir berlipstik nude itu. Refleks murni. Tidak profesional, tapi manusiawi.
Kylar menatapnya. “Memang lucu?”
“Maaf, Pak. Saya kira Bapak sedang bercanda,” jawab Ryn cepat. Tawanya menguap begitu saja saat dia melihat wajah Kylar. Tidak ada senyum. Tidak ada jeda malu.
Dan di titik itu, Ryn tahu, ini bukan lelucon, tapi keputusan. Dia langsung menundukkan kepalanya. Dari luar dia boleh tampak tenang. Tapi, dari dalam, kesabarannya sedang diuji oleh Tuhan, semesta, dan sistem korporasi.
“Saya serius,” ungkap Kylar tenang, tidak, lebih tepatnya tegas dan serius.
Ryn mendadak berkedip cepat melihat perubahan bosnya. Dia langsung mengangguk kecil. Refleks bawahan yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk tidak membantah duluan. “M–maaf, Pak.”
“Ikut ke ruangan saya. Sekarang,” tandas Kylar. Lalu dia berlalu begitu saja, tanpa menunggu persetujuan, seolah keputusan Ryn tidak termasuk variabel yang perlu dipertimbangkan.
__
“Kita menikah kontrak selama dua tahun. Saya pikir kita berdua membutuhkan pernikahan ini.”
Kylar menyandarkan punggungnya, lalu memulai seolah sedang membuka presentasi. Tidak ada nada main-main, tidak ada dramatisasi. Hanya nada orang yang terbiasa membuat keputusan dan menganggap semua orang cukup cerdas untuk mengikuti.
Kini mereka sudah duduk berhadapan di sofa ruang kerja CEO, di lantai yang sama dengan rooftop.
“Tidak, Pak. Saya tidak butuh,” jawab Ryn, berusaha tenang.
“Yakin?” Kylar bertanya ringan.
Tapi di telinga Ryn, itu terdengar mengintimidasi.
Ryn tahu betul maksudnya. Bosnya ini tidak sedang meragukan jawaban Ryn semata. Kylar sedang menyinggung hal yang sejak pagi sudah menempel di kepalanya, yaitu pernikahan calon mantan suami dan sahabatnya.
Beginilah nasib bekerja di Ashwara Culinary Group. Arus listrik saja kalah cepat dibanding gosip.
Andy memang bekerja di kantor pusat Ashwara Group. Secara teori, drama pribadinya seharusnya berhenti di sana. Namun teori jarang bertahan lama di perusahaan sebesar ini, apalagi jika melibatkan mantan calon pengantin, sahabat yang menikah, dan kisah gagal yang terlalu menarik untuk dibiarkan tenggelam.
Kylar tentu tahu. Bukan karena ikut nimbrung di pantry, melainkan karena hampir tidak ada kabar yang benar-benar lolos dari radar Bosszilla.
Apalagi Acha dan Ryn berada di gedung yang sama. Tentu saja gosip akan secepat kilat menyebar.
Ryn menelan ludah. “Yakin, Pak.”
Namun, keyakinan itu juga tipis. Ryn masih ingat wajah Acha tadi pagi saat menyerahkan undangan dengan senyum tipis yang terlalu puas untuk disebut tulus. Seolah Acha menang bukan hanya karena menikah, tapi karena menikah dengan pria yang seharusnya menjadi milik Ryn.
Bohong kalau Ryn tidak ingin membalas. Bohong juga kalau dia tidak sakit hati.
Empat tahun Ryn bersama Andy. Sementara Acha adalah sahabatnya sejak SMA. Orang yang dulu tahu semua kebiasaan Ryn, semua ketakutan Ryn, bahkan semua lelucon receh Ryn. Sekarang orang itu yang menikah dengan Andy.
Dan Ryn yang ditinggal, masih harus kerja seperti biasa, senyum seperti biasa, pura-pura baik-baik saja seperti biasa.
“Kalau yakin,” suara Kylar kembali masuk, memotong lamunan Ryn tanpa ampun, “kenapa kamu belum pergi?”
Bab 3: Kita Menikah Hari Ini!
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.
“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.
Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.
Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.
“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.
Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?
“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”
Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.
Ryn sedikit terkejut.
“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.
Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!
Kylar berdecak pelan, lalu berkata dengan malas, “Jadi, kamu minta waktu untuk berpikir atau cek ponselmu?”
Ryn menelan ludahnya, lalu menjawab, “Saya cek ponsel saja, Pak.”
Kalau dia memilih itu, artinya dia juga bisa punya sedikit waktu tambahan untuk menata pikirannya sendiri, kan?
Bagus, ide yang bagus, Ryn!
Kylar menatap jam tangan mahalnya. “Tiga menit.”
Ryn mengangguk cepat. Dia merogoh ponsel dari saku blazer dengan gerakan secepat kilat.
Namun, ternyata itu bukan panggilan atau pesan soal pekerjaan. Melainkan pesan haram yang bisa membuat nyawa Ryn berkurang satu bar.
Pesan pertama dari Acha, lengkap dengan foto.
[Gaun pengantin ini ternyata lebih cocok buat aku daripada kamu.]
Ryn menatap layar itu beberapa detik terlalu lama. Dia tahu gaun itu. Dia memilihnya untuk pernikahannya dengan Andy. Dan sekarang gaun itu dipakai Acha dengan bangga, lalu dijadikan bahan ejekan.
Ryn mengembuskan napas kasar lewat hidung. Kepalanya panas, tapi menahan mulutnya untuk tidak mengumpat.
Pesan kedua dari Dini, ibu angkatnya.
[Ryn. Kamu itu gimana sih?! Cicilan pinjol telat. Kamu sengaja ya bikin Mama malu?! Tetangga pada ngelihatin debt collector datang ke rumah kita. Nggak tahu diri memang kamu!]
Napas Ryn tercekat.
Ini bukan sekadar marah. Ini ancaman yang dibungkus rasa malu, rasa bersalah, dan kebiasaan lama mereka. Melempar semua beban ke Ryn, lalu menyuruhnya bersyukur karena masih dianggap keluarga.
Selama ini, Ryn memang tinggal dengan keluarga angkat yang tidak pernah benar-benar menganggapnya keluarga. Dia tidak hanya diberi atap dan piring makan, tapi juga diberi beban, tuntutan, dan rasa bersalah tiap kali dia tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka.
Ryn menatap pesan itu tanpa berkedip.
Kalau saja Ryn menikah dengan Andy, mungkin dia tidak perlu lagi tinggal di rumah itu. Cicilan memang tidak otomatis hilang, tapi setidaknya dia tidak harus menghadapi kemarahan keluarga angkatnya setiap hari.
Ryn menelan ludah. Tangannya mengencang menggenggam ponsel. Tahu begitu, dia tidak perlu cek ponselnya saja tadi.
“Selesai.” Suara Kylar dingin, tidak sabar. “Silakan keluar.”
Ryn mengangkat kepala. Ketika bertemu iris hitam Kylar yang stabil, Ryn tiba-tiba sadar, mungkin pernikahan kontrak ini bukan ide gila.
Mungkin ini satu-satunya jalan keluar yang masuk akal dari hidupnya yang belakangan terasa seperti kubangan.
Ryn menarik napas dalam.
Lalu, dengan sopan yang tetap terjaga walau hidupnya sudah hampir runtuh, Ryn berkata, “Boleh saya lihat kontraknya dulu, Pak?”
Kylar mengangguk. Tidak terkejut. Seolah dia sudah tahu Ryn akan sampai ke titik ini. Dia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu dengan kecepatan yang menyebalkan.
“Cek e-mail kamu,” suruhnya.
Ryn mengerjap, cepat sekali pria ini bertindak. Dia membuka ponsel, lalu membacanya pelan.
Pernikahan kontrak selama dua tahun. Kompensasinya bonus dan kenaikan gaji 20%. Ryn harus tampil sebagai istri Kylar di depan keluarga dan publik kalau dibutuhkan. Satu atap tanpa perasaan. Dan kalau ada yang melanggar, dendanya 200 juta rupiah.
Ryn menatap angka itu agak lama. Bukan karena terharu, tapi karena sadar ini bukan lagi kesepakatan main-main. Ini kontrak yang kalau dilanggar bisa mengubah hidupnya jadi cicilan tanpa ujung.
Secara garis besar, Ryn sebenarnya tidak dirugikan. Dia mendapat bonus dan kenaikan gaji. Dia punya alasan legal untuk keluar dari rumah keluarga angkatnya tanpa drama panjang.
Lalu, secara tidak langsung, dia juga bisa balas dendam pada Acha dan Andy. Secara, suaminya adalah bos mereka semua.
Soal perasaan? Itu tidak sulit.
Ryn tidak mungkin jatuh cinta pada bos yang menyebalkan, suka mengatur, dan bicaranya setajam silet.
Lagipula, bukankah memang ada kabar bahwa Kylar tidak tertarik pada perempuan?
Kalau rumor itu benar, kontrak ini justru aman.
Selesai membaca, Ryn mengangkat kepala.
Ryn menghela napas, lalu berkata dengan nada tenang yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, “Saya setuju.”
Kylar tidak terlihat lega. Dia hanya mengangguk kecil, seperti baru saja menyelesaikan rapat vendor.
“Tanda tangani sekarang,” perintah Kylar lugas.
Ryn menurut. Dia membubuhkan tanda tangan digital di dokumen itu dengan jemari yang sedikit gemetar, tapi dia memaksa tetap stabil.
Begitu selesai, Kylar berkata tiba-tiba, tanpa transisi, “Kita menikah hari ini.”
Ryn mendongak cepat. “Hari ini?! Saya kira minggu depan?”
“Kalau bisa diselesaikan hari ini, kenapa harus ditunda?” ucap Kylar tenang, tapi terdengar seperti menegur staf yang salah input angka.
Ryn menatap jam di dinding. “Pak, ini sudah sore. KUA rasanya sudah tutup.”
Kylar bersandar lagi. “Gampang.”
Tanpa menunggu reaksi Ryn, Kylar berdiri dan menekan tombol interkom di mejanya untuk memanggil asisten pribadinya.
Pintu terbuka. Naufal muncul dengan tablet di tangan dan wajah profesional yang selalu berhasil membuat ruangan terasa seperti ruang sidang.
“Ada apa, Pak?” tanya Naufal sopan.
Kylar duduk kembali dengan tenang, lalu berkata seolah sedang memesan makan malam. “Siapkan dokumen pernikahan saya. Hari ini.”
Naufal berkedip. Satu kali. Dua kali. Wajahnya tetap profesional, tapi matanya jelas baru saja mengalami benturan kenyataan.
“… Dokumen pernikahan? Untuk siapa, Pak?”
“Saya.”
Naufal menelan ludah. “Dengan siapa, Pak?”
Kylar melirik ke arah Ryn sebentar, lalu kembali ke Naufal. Suaranya tetap datar, seolah ini instruksi paling normal sedunia.
“Dengan wanita di depanmu itu.”
Bab 4: Pernikahan Kilat
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.
Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap di sana, padahal seharusnya kantor itu sudah tutup.
Di kepala Ryn, hanya ada satu kalimat, ‘bosnya benar-benar gila’.
Kylar berdiri di sampingnya, rapi, tenang, dan sama sekali tidak tampak seperti pria yang baru saja mengganti status hidup seseorang dalam waktu kurang dari dua jam.
Kylar menoleh sekilas. “Serius.”
Ryn menatap buku nikah itu lagi, seperti berharap tulisan di dalamnya mendadak berubah jadi struk belanja minimarket.
Perempuan itu mulai melirik halaman KUA yang mulai sepi. Motor lewat, orang-orang keluar masuk, semuanya tampak normal.
Tidak ada yang tahu Ryn baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya disiapkan enam bulan, bukan enam menit.
“Kalau nanti orang kantor tanya tentang suami saya bagaimana?” tanya Ryn. Dia tidak mungkin menyebut nama Kylar sebagai suaminya. Di Ashwara Culinary Group, menikah dengan orang sekantor jelas dilarang.
Kylar menoleh, tatapannya dingin tapi fokus. “Jawab saja dengan seseorang.”
Ryn melotot. “Pak, itu malah bikin penasaran.”
“Itu bagus,” kata Kylar datar dan langsung membuat Ryn semakin membelalakkan matanya.
“Bagus apanya, yang ada gosipnya malah makin lebar,” gerutu Ryn spontan, pelan nyaris seperti bisikan karena kesal dengan jawaban bosnya.
“Setidaknya, target gosipnya sudah berpindah,” balas Kylar santai, matanya fokus pada ponsel.
Mendengar itu, Ryn menatap Kylar tak percaya.
Dia mendengarnya?
Ryn memejamkan mata sebentar. Menyebalkan.
Tapi, setelah dipikir-pikir, ucapan Kylar ada benarnya juga. Akhirnya, gadis itu hanya bisa berdecak kesal. Makin merasa kesal karena ucapan bosnya yang menyebalkan itu terasa masuk akal.
“Sekarang ke rumah kamu dulu. Ambil barang, sekalian minta izin. Lalu ke rumah saya,” ucap Kylar tiba-tiba.
Dan saat kalimat itu jatuh, Ryn sadar satu hal, mental yang dia pikir sudah dia siapkan, ternyata sama sekali belum siap. Dia bukan hanya menikah. Dia juga akan tinggal satu atap dengan Kylar Ashwara Putra.
Kylar baru melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Kita beli cincin dan foto pernikahan dulu.”
Ryn mematung. “Foto?”
Untuk apa?
Ryn kira hanya dengan buku nikah dan tanda tangan saja selesai.
Kylar mengangguk singkat. “Kalau kita cuma punya status tanpa bukti visual, keluarga saya akan mencium kebohongan.”
Tanpa menunggu jawaban, Kylar sudah berjalan menuju mobil yang menunggu di parkiran.
Ryn berdiri di tempatnya beberapa detik, memegang buku nikah seperti memegang bukti bahwa hidupnya baru saja belok tajam tanpa sein.
Lalu, dengan napas berat, dia menyusul. Karena apa pun yang baru saja terjadi, dia sudah resmi terjebak.
__
“Okay! Masnya berdiri di kanan, Mbaknya di sampingnya. Nah, bagus. Senyum!” Fotografer memberi arahan.
Setelah membeli cincin, dan memilih gaun pengantin dengan proses secepat kilat, Kylar langsung menyeret Ryn ke studio foto. Kata ‘menyeret’ di sini bukan kiasan, karena Ryn benar-benar merasa hidupnya dibawa lari tanpa sempat negosiasi.
Ryn berdiri dengan gaun putih yang masih terasa asing di tubuhnya. Tangannya bingung mau ditaruh di mana. Di depan? Di samping? Di pinggang? Akhirnya dia pilih yang paling aman: di sisi gaun, pura-pura menahan kain.
Kylar berdiri di sebelahnya seperti orang yang datang ke rapat penting, bukan sesi foto pernikahan dadakan.
“Sekarang pose yang romantis ya. Mas rangkul pinggang Mbaknya.” Fotografer memberi arahan lagi.
Ryn refleks menahan napas.
Oke. Ini dia. Momen yang tidak ada di kontrak. Atau mungkin ada, tapi Ryn belum sempat membacanya dengan mental siap.
Ryn baru mau melangkah sepersekian sentimeter menjauh, ketika Kylar lebih cepat. Tangannya langsung mendarat di pinggang Ryn.
Ryn mencoba menggeser tubuh pelan. Sengaja pelan supaya tidak terlihat seperti menolak. Kylar mengikuti gerakannya, merapat lagi.
Ryn menggeser lagi. Kylar merapat lagi.
Fotografer malah makin semangat. “Wah, natural banget! Bagus! Terus gitu ya, dekat-dekat!”
Kylar menunduk sedikit, suaranya rendah. “Kamu itu kenapa? Kamu mau foto ini kelihatan seperti saya maksa kamu?”
Ryn membeku sepersekian detik, tapi tidak sempat protes karena fotografer langsung menembak kamera bertubi-tubi.
“YESSS! Bagus! Nah, senyum! One … two … three!”
Klik. Klik. Klik.
Ryn memaksa senyum, tapi rahangnya mulai pegal. Di sisi lain, Kylar justru terlihat nyaman. Sangat nyaman.
Saat fotografer sibuk mengecek hasil, Ryn melihat tangan Kylar masih berada di pinggangnya. “Pak Kylar, tangan Bapak bisa turun sekarang.”
Kylar menatapnya, datar. “Kenapa? Kamu takut?”
Ryn menahan senyum. “Saya takut dituduh melecehkan bos.”
Kylar mengangkat alis. “Sekarang saya suami kamu.”
Ryn hanya bisa menarik napas, karena dia tahu, tidak ada kalimat bantahan untuk itu.
Begitu sesi itu selesai, Ryn mundur setengah langkah, dan merapikan gaunnya.
“Saya ganti gaun dulu ya, Pak,” ujar Ryn sopan, yang dibalas mengangguk singkat.
Ryn berbalik menuju ruang ganti dengan langkah cepat, tapi ujung sepatu Kylar menginjak ekor gaunnya.
“Aaaa!”
Ryn tersentak. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tumitnya terpeleset sedikit, dan selama sepersekian detik, dia benar-benar yakin akan jatuh dengan cara paling memalukan di depan seluruh studio.
Namun, sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, tangan Kylar sudah menahan punggungnya.
Ryn berhenti tepat di ambang jatuh. Tubuhnya miring, terjebak di antara udara, dada Kylar, dan jarak di antara mereka mendadak terlalu dekat untuk ukuran hubungan kontrak.
Kylar menunduk sedikit. Ryn mendongak. Dan untuk sesaat, semuanya terasa sunyi, meski studio masih ramai.
Wajah Kylar terlihat jelas dari jarak itu.
Ryn baru sadar, bosnya bukan hanya menyebalkan. Bosnya juga tampan dengan cara yang tidak perlu, seolah Tuhan sengaja menambah fitur bonus supaya hidupnya makin sulit.
“Kamu itu kenapa?” tanya Kylar.
Ryn menelan ludah, lalu menggeleng pelan. “M–Maaf, Pak.”
Dia cepat-cepat berdiri tegak lagi, menjauh setengah langkah, lalu mengembalikan jarak aman sebelum otaknya mulai berkata macam-macam.
Kenapa Kylar Ashwara Putra terlihat sangat tampan dari jarak sedekat itu?
Bab 5: Bermuka Dua
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”
Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.
Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.
Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tadi, di perjalanan setelah mereka foto pernikahan, Kylar bilang dia yang akan bicara. Dan Ryn mencoba percaya pada pria ini.
“Maksudnya bagaimana?!” suara Dini meninggi, langsung memecah ruangan. “Bukannya kamu mau menikah sama Andy? Jangan macam-macam kamu, Ryn!”
Ryn menarik napas pelan, menahan refleks untuk menjawab dengan nada yang sama.
“Aku sama Andy sudah putus, Ma,” ujar Ryn singkat.
“Putus?” Dini mencibir, seolah kata itu penghinaan. “Putus atau diputusin?”
Ryn menelan kalimat yang ingin keluar. Dia menatap lantai, menahan diri agar tidak memicu ledakan yang lebih besar.
Yanto yang duduk menyandar di kursi, dengan wajah lelah dan mata yang terlalu sering merah karena begadang bukan untuk bekerja, ikut menyahut.
“Papa sebetulnya nggak masalah,” kata Yanto, terdengar seperti orang yang ingin terlihat bijaksana. “Tapi kamu yakin menikah sama pria ini?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut yang sama yang biasanya hanya membuka suara kalau butuh uang.
Dini menatap Kylar dari atas ke bawah, lalu mendengus. “Lihat saja penampilannya.”
Kylar saat ini hanya memakai kemeja putih, lengannya digulung rapi sisa sesi foto tadi. Jam tangannya jelas mahal, tapi Dini tampaknya tidak punya kemampuan membedakan barang mewah dan barang palsu.
Dan Ryn bisa menebak satu hal, ibu angkatnya belum tahu mereka datang menggunakan mobil mewah. Mobil itu diparkir di luar gang, jauh dari jangkauan mata yang hobi menilai.
“Memang tampan,” Dini melanjutkan, seakan itu satu-satunya hal yang layak disebut, “tapi dia mapan nggak? Kayak Andy yang sudah jadi manajer keuangan?”
Ryn diam.
Kalau Dini tahu kalau Kylar sebenarnya adalah anak dari pemilik grup tempat Andy bekerja, Ryn yakin dia akan bersorak.
“Tenang saja, Om, Tante,” ucap Kylar tenang. Dia tidak tersinggung, tapi justru tersenyum kecil. “Pekerjaan saya cukup untuk menghidupi Ryn sebagai istri saya dan anak-anak kami nantinya.”
Anak-anak?
Mereka baru menikah dua jam. Namun, Kylar sudah bicara seperti mereka pasangan mapan yang tinggal menunggu nama bayi. Hebat sekali!
Ryn hampir ingin bertepuk tangan. Sungguh. Kalau Kylar bukan CEO, pria ini cocok jadi aktor.
“Yakin cukup?” desak Dini, masih keras kepala.
“Saya yakin cukup,” jawab Kylar tanpa ragu.
Ya, memang cukup. Bahkan cukup untuk membuat keluarganya bergelimangan harta tujuh turunan Kylar bisa, kalau mau.
Dini mencibir lagi. “Omong doang gampang.”
Kylar mengangguk kecil, seolah dia menghargai kekhawatiran itu meski jelas tidak setuju.
“Saya mengerti Tante khawatir,” ucap Kylar lembut. “Wajar. Ryn perempuan baik, saya juga tidak ingin dia hidup susah.”
Ryn hampir tertawa. Bukan karena lucu. Karena kalimat itu seperti dongeng. Selama ini, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang peduli Ryn hidup susah atau tidak. Yang penting Ryn bekerja dan tidak menyusahkan.
Kylar melanjutkan, masih dengan nada yang sama hangatnya, “Kalau Tante dan Om mengizinkan, saya ingin membawa Ryn tinggal bersama saya. Biar saya yang mengurus dia mulai sekarang. Saya yang bertanggung jawab.”
Dini terlihat seperti ingin menolak karena kehilangan ‘aset’. Yanto terlihat seperti ingin setuju karena mungkin ada peluang keuntungan.
Dan Ryn?
Perempuan itu hanya bisa menunduk.
Kylar menoleh sedikit ke arah Ryn. “Kamu nggak perlu takut,” katanya, cukup halus untuk terdengar seperti kalimat suami baik-baik.
Tidak perlu takut, katanya?
Melihat Kylar bisa berubah secepat ini saja sudah cukup membuat Ryn merinding setengah mati.
__
“Kenapa kamu tepuk tangan?” tanya Kylar begitu mereka sudah duduk di dalam mobil.
Ryn berada di kursi penumpang. Naufal menyetir di depan dengan wajah datar seorang asisten yang sudah lelah melihat hal-hal mustahil terjadi dalam satu hari kerja. Di bagasi, koper Ryn yang isinya tidak seberapa itu ikut meluncur.
“Soalnya, akting Pak Kylar hebat. Bisa bikin keluarga saya yakin secepat itu,” jawab Ryn.
Kylar melirik sekilas. “Itu sarkas?”
Ryn mengatupkan senyum. “Pujian, Pak.”
Kylar hanya mendelik tipis. Tidak puas, tapi juga tidak memperpanjang. Mobil melaju dalam keheningan malam.
Bagaimana tidak hening? Ini sudah hampir tengah malam. Kota mulai sepi, dan Ryn duduk di samping orang yang pagi tadi masih dia panggil bos, sekarang jadi suami.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan yang lebih tenang dan lebih mahal.
Tepat saat keluar mobil, Ryn menelan ludah. Rumah Kylar berdiri gagah, minimalis, dan elegan. Lalu matanya turun ke lantai bawah, ke area parkir yang terbuka seperti garasi kaca.
Ryn terpaku. Di sana berjejer mobil sport yang mengilap, motor besar seperti Harley dengan bodi kokoh, dan satu-dua kendaraan yang Ryn bahkan tidak tahu namanya.
Ini rumah atau showroom?
“Bapak tinggal sendiri di sini?” tanya Ryn akhirnya, bukan karena kepo, tapi karena membayangkan tinggal dengan mertua kaya raya itu biasanya penuh drama.
Kylar meliriknya sekilas. “Kenapa? Kamu takut tinggal sama mertua?”
Ryn tersedak kecil. Kenapa Kylar bisa membaca pikirannya?
“Bukan begitu, Pak. Saya cuma memastikan,” kilah Ryn kemudian.
“Tidak usah banyak tanya.” Kylar berjalan duluan, dan Ryn mengikutinya.
Begitu mereka masuk, pintu dibukakan oleh seorang perempuan paruh baya dengan seragam rapi. Dia adalah kepala ART di rumah Kylar, sosok senior yang banyak mengetahui soal keadaan keluarga Ashwara.
“Selamat malam, Tuan,” sambut wanita itu sopan.
Kylar mengangguk singkat. “Malam, Bu Ratna.”
Ryn langsung menangkap sesuatu dari cara Kylar menyebut namanya. Bukan hangat, tapi terhormat. Seperti Kylar memang terbiasa menjaga jarak bahkan pada orang yang mengurus rumahnya.
Ratna lalu melirik ke belakang Kylar, tepat ke arah Ryn. “Ini siapa?” tanyanya hati-hati.
“Istri saya,” jawab Kylar.
Ratna membelalakkan mata, tapi hanya sepersekian detik. Lalu kembali profesional, seakan matanya tidak barusan mengalami kejutan.
“Selamat malam, Nyonya,” ucap Ratna cepat, membungkuk sopan.
Ryn refleks membalas, “Malam …”
Kylar menoleh ke Naufal yang baru masuk membawa koper Ryn.
“Kopernya bawa ke atas,” perintah Kylar. Dan dibalas anggukan dari Naufal.
Kylar melangkah naik ke lantai atas, dan Ryn mengikutinya. Mereka melewati koridor yang luas, wangi rumah yang bersih, sunyi yang rapi, serta beberapa lampu dinding yang redup tapi jelas tidak murah.
Kylar berhenti di depan sebuah pintu. Dia membukanya tanpa ragu. “Kamu tidur di sini.”
Ryn melangkah masuk lalu berhenti di ambang. Kamar itu besar, rapi, maskulin.
Sisi kiri ada meja dengan laptop. Di sudut ada rak buku dan jam tangan yang ditata. Di dalam walk-in closet, Ryn bahkan bisa melihat kemeja-kemeja putih dan jas yang tersusun rapi.
Ryn menoleh pelan ke Kylar. “Ini kamar saya? Tapi, kok banyak barang-barang Bapak?”
“Karena ini kamar saya juga,” sahut Kylar tak acuh.
Ryn membeku. Bibirnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Dia butuh dua detik penuh untuk memastikan dia tidak salah paham.
“Maksudnya kita satu kamar?” tanya Ryn memastikan.
Kylar mengangkat alis tipis. Lalu menjawab tenang, “Mana ada suami istri yang kamarnya terpisah?”
Bab 6: Malam Pertama
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.
Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.
Hanya perempuan yang tidak normal yang tidak akan menelan ludah melihat pemandangan itu.
Kylar melirik ke arah Ryn yang masih duduk kaku di kursi dekat meja sudut kamar. “Terserah kamu. Mau di sofa, oke. Mau di karpet, oke.”
Serius? Tidak ada opsi kasur?
Pria ini bisa beli rumah seperti beli kopi, tapi tidak bisa menawarkan satu tempat tidur untuk istrinya, meski hanya istri kontrak?
Namun, meminta tidur di kasur sementara Kylar di sofa rasanya juga keterlaluan.
“Baik, Pak. Saya–”
“Ryn.” Kylar memotong, suaranya datar, tapi tidak kasar. Dia berjalan ke tepi ranjang, duduk santai. “Stop panggil ‘Pak’. Kamu kayak lagi presentasi, bukan tinggal bareng suami.”
Ryn menelan ludah. Lagi-lagi, dia dikomentari. “Terus saya harus panggil apa?”
“Nama aja.”
Ryn ragu sebentar, lalu mencoba. “Kylar?”
“Hm.” Kylar mengangguk tipis.
“Oke, P–” Ryn nyaris kebiasaan, lalu buru-buru membenahi, “Kylar.”
Kylar tidak menatapnya, tapi ada sesuatu seperti senyum kecil di sudut bibirnya. Tipis, nyaris tak terlihat, tapi cukup membuat Ryn makin kesal karena rasanya seperti dia baru saja kalah satu poin.
Ryn bangkit, berjalan menuju walk-in closet untuk membuka kopernya.
Lima belas menit kemudian, Ryn keluar dari kamar mandi. Rambutnya setengah kering, wajahnya bersih tanpa riasan.
Saat dia kembali ke kamar, Kylar sudah berbaring di ranjang. Satu tangan memegang tablet. Satu kaki sedikit tertekuk santai. Lampu tidur menyala hangat, membuat sudut wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya.
Ryn menelan ludah lagi, kali ini karena bingung harus bersikap seperti apa.
“Serius kamu pakai baju begitu?” tanya Kylar sambil melirik sekilas.
Ryn menunduk, menatap outfit-nya sendiri. Sweater tebal kebesaran yang menutupi setengah pahanya, dipasangkan dengan celana piyama panjang. Kombinasi yang membuatnya terlihat seperti orang yang siap tidur hibernasi sampai gajian berikutnya.
“Memang ada yang salah?” jawab Ryn.
“Maksudku, kamu kelihatan kayak mau ke kutub,” komentar Kylar sarkas.
“Dingin, Ky. Aku nggak biasa pakai AC di rumah,” kilah Ryn sambil mendengus kecil. Dia berjalan ke sofa. Di sana sudah ada bantal dan selimut baru yang ditata rapi. Dia duduk di ujung sofa, lalu menarik selimut sampai dada.
Kylar menatap Ryn sebentar. Seperti sedang menilai kenapa istri kontraknya tidur dengan mode darurat bencana.
“Kamu takut aku apa-apain?” tebak Kylar, suaranya datar, tapi menyebalkan.
Ryn langsung menoleh. “Bukan begitu.”
Kylar meletakkan tablet di atas dadanya sebentar, menatap Ryn lurus. “Tenang. Aku nggak ada niat nidurin kamu. Nggak usah kepedean.”
Kalimat itu seharusnya menenangkan, tapi entah kenapa justru membuat Ryn semakin yakin pada rumor tentang Kylar yang tidak menyukai perempuan itu mungkin tidak sepenuhnya salah.
Ryn memilih untuk mengabaikan, lalu berbaring. Dia memunggungi Kylar, menarik selimut sampai dagu, dan memejamkan mata.
Namun, kantuk tidak datang. Mungkin karena dia tidak terbiasa tidur di tempat baru.
Ryn menggeliat, mengubah posisi. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Dia tetap terjaga.
Di ranjang, Kylar sudah diam. Entah masih sibuk atau sudah tidur, Ryn tidak berani menoleh. Karena kalau dia menoleh, dia takut malah makin sulit tidur.
Tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh bahunya. Ryn tersentak. Napasnya tercekat. Tubuhnya kaku seketika. Dia menoleh cepat.
Kylar berdiri di samping sofa. Rambutnya sedikit berantakan, matanya redup. “Kamu nggak bisa tidur?” tanyanya pelan.
Ryn menelan ludah, masih tegang. “A-aku …”
Kylar menghela napas pendek, lalu mengusap wajahnya sebentar seperti orang yang kesal pada sesuatu.
“Tidur di kasur,” titah Kylar.
Ryn membeku. “Hah?”
Ini ajakan tidur satu ranjang atau bagaimana?
“Aku yang tidur di sofa,” lanjut Kylar datar.
Ryn langsung mengembuskan napas lega. “Nggak usah, Ky. Aku bisa–”
“Ryn,” potong Kylar. Nadanya tidak keras, tapi tidak memberi pilihan. “Kalau besok kamu telat masuk kerja, aku potong gaji kamu.”
Nah, ‘kan? Selalu itu ancamannya.
“Oke,” jawab Ryn pasrah. Dia bangkit pelan dan berjalan ke ranjang dengan langkah hati-hati, lalu merangkak masuk ke bawah selimut.
__
Ketika jam menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit ketika Ryn sudah siap dengan pakaian kerja. Blouse putih, blazer warna abu, dan celana bahan senada.
Ryn keluar dari walk-in closet dengan tas kerja di tangan, lalu berhenti karena melihat Kylar masih tidur di sofa.
Ryn mengernyit. Ini pemandangan aneh. Kylar biasanya seperti jam dinding: tepat waktu, tegang, tidak pernah terlihat lengah.
Namun, membangunkan juga bukan ide bagus. Mengingat hubungan mereka masih sangat canggung.
Akhirnya Ryn memilih untuk turun lebih dulu.
Di ruang makan sudah ada Ratna. Begitu melihat Ryn, Ratna menatap rambutnya yang masih sedikit lembap, lalu berdecak pelan.
“Aduh, Nyonya. Kalau habis keramas, dikeringkan dulu rambutnya. Nanti pusing,” ujar Ratna, ambigu tapi terdengar seperti perhatian.
Ryn berhenti sepersekian detik. Lalu membenarkan rambutnya, berusaha terlihat biasa saja. “Oh. Iya, Bu.”
“Duduk dulu, Nyonya. Sarapan,” sambung Ratna.
Ryn yang tadinya berniat langsung berangkat kerja, akhirnya duduk. Di depannya sudah ada segelas air dan semangkuk salad.
Sarapan orang kaya memang begini, ya?
Lima belas menit kemudian, Kylar turun dengan langkah tergesa. Rambutnya masih setengah basah, jas abunya masih belum sempurna, tapi wajahnya tetap punya aura CEO yang siap memotong anggaran.
Kylar baru menarik kursi ketika Ratna datang membawa piring tambahan. Dia meletakkannya di meja, lalu menatap Kylar dengan senyum yang terlalu paham.
“Wah. Tuan Kylar tumben baru turun jam segini,” komentar Ratna ringan.
Kylar hanya melirik sebentar. “Saya sedikit terlambat bangun.”
Ratna mengangguk paham, dia menaruh sendok, merapikan posisi piring, lalu menambahkan dengan nada yang terlalu santai untuk dampaknya, “Malam pertamanya sukses ya, Tuan? Pantas tidurnya nyenyak.”
Bab 7: Bermain Peran
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.
“Uhuk–uhuk!”
Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!
“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke arah Ryn.
Ketika mata mereka bertemu, Ryn langsung paham.
Ini mode akting.
Dan mendengar panggilan itu, bukannya tersentuh, Ryn malah merasa geli sekaligus ngeri. Kylar terlalu mulus, terlalu meyakinkan. Dia tidak menyangka jika bosnya yang seperti Godzilla ini ternyata bisa berakting dengan sangat sempurna.
“Saya senang dengarnya.” Ratna menatap mereka bergantian, lalu pandangannya turun sebentar ke blazer abu yang dikenakan Ryn, lalu ke jas Kylar. “Pengantin baru memang begitu, ya? Baju saja harus serasi.”
Ryn menunduk refleks. Dan baru di situ dia sadar. Warna baju mereka senada!
Ratna tersenyum kecil, masih sopan, tapi jelas puas. “Saya jadi makin yakin, Tuan bukan cuma bawa ‘istri’ untuk formalitas.”
Kylar hanya mengangkat alis tipis, seperti tidak peduli.
Sedangkan Ryn, hanya bisa berdoa dalam hati, semoga couple outfit ini tidak jadi bahan ledekan di kantor.
Setelah sarapan yang hampir membuat Ryn tersedak salad, Kylar tetap memaksa Ryn berangkat ke kantor menggunakan sopir keluarga.
Bukan karena perhatian. Lebih karena Kylar tidak suka ada detail yang bisa jadi celah. Kalau sampai Ratna melihat Ryn naik ojek online atau naik bus, laporan ke keluarga besar bisa langsung terdengar pagi itu juga.
Kini Ryn berada di ruang rapat bersama divisi finance. Bukannya disambut agenda, dia justru disambut kemarahan suami kontraknya.
“Saya kasih kalian satu jam untuk kumpulkan data lengkap. Kalau setelah itu saya masih dengar kata ‘sebagian’, saya potong semua budget yang membuat kalian nyaman,” tutup Kylar dingin.
Kylar berdiri mendadak. Dia merapikan jasnya seperti orang yang sudah selesai dengan kesabaran.
Lalu tanpa menunggu siapa pun mengangguk lebih keras, Kylar keluar begitu saja diikuti Naufal.
Begitu pintu menutup, barulah ruangan seperti ingat cara bernapas lagi.
“Cie! Bajunya couplean sama si bos,” ledek Agis, sambil menyenggol Ryn yang duduk di sebelahnya.
Nah, kan.
Ryn sudah menduga ini akan terjadi. Dari dulu, siapa pun yang bajunya kebetulan senada dengan Kylar pasti langsung dijadikan bahan ledekan.
“Diem deh, Bang,” desis Ryn, mencoba terdengar galak kepada seniornya, tapi malah terdengar seperti orang yang sedang menahan malu.
Agis nyengir. “Tapi serius, Bosszilla harus punya istri sih. Biar nggak emosian. Tadi serem banget. Sumpah!”
Lala, staf pajak yang hobinya bergosip, langsung nyambar, “Gimana mau punya istri? Cewek yang dijodohin sama dia aja ditolak mentah-mentah. Jangan-jangan, gosip si bos gay itu beneran?”
“Hush! Jangan sembarangan ngomong. Kalau kedengaran, selesai kita semua.” Leon, Accounting Supervisor, mencoba jadi penengah.
“Tapi, ‘kan, ini fakta lapangan, Mas Leon,” bantah Lala.
Agis mencondongkan badan ke Ryn. “Kalau menurut kamu gimana, Ryn? Bosszilla itu gay apa nggak?”
“Aku nggak tahu. Tapi kalau dia nolak semua perempuan yang ngedeketin, ya bisa jadi,” jawab Ryn, senyumnya tipis dan aman.
“Nah, ‘kan!” Lala langsung bersorak.
Ryn menunduk, pura-pura mengetik sesuatu. Padahal dalam hati, dia juga mengangguk setuju.
Semalam saja, Kylar sama sekali tidak terlihat tertarik padanya. Bahkan ketika mereka satu kamar, pria itu lebih sibuk membaca tablet daripada sekadar melirik seperti pria normal.
“Oh ya, Ryn. Kamu yang tabah ya. Kita udah nerima undangan dari Acha.” Agis tiba-tiba mengubah topik.
Ryn mengangkat dagu sedikit, memasang wajah datar yang sok kuat. “Santai, Bang. Aku udah ada pengganti kok.”
“Siapa?!” tanya Agis dan Lala hampir serempak.
Ryn baru akan membuka mulut untuk berkilah, ketika pintu rapat mendadak terbuka.
Refleks, semua kepala menoleh ketika Naufal masuk dengan langkah cepat.
“Eh, Mas Naufal,” sapa Ryn refleks, suaranya mendadak terlalu ceria untuk ukuran situasi. “Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?”
“Ponsel kantor ketinggalan,” kata Naufal singkat sambil mengangkat gawai itu dari atas meja.
Dan detik itu juga, semua orang tahu, ponsel itu adalah ponsel yang selalu Naufal gunakan untuk merekam rapat.
Artinya, kalimat ‘Bosszilla gay’ kemungkinan besar ikut terekam juga.
Sontak, mereka saling melempar tatapan terkejut. Mampus, habis sudah nasib mereka.
__
“Kayaknya kamu lebih sibuk dari CEO. Jam segini baru pulang,” sindir Kylar dari arah ruang keluarga, begitu Ryn muncul. Tablet di tangannya dia turunkan pelan ke sofa.
Ryn yang tadinya berniat langsung kabur ke kamar, refleks berhenti. Bahunya menegang tipis, tapi wajahnya tetap berusaha normal.
“Maaf, Pa–” Ryn buru-buru mengganti, “Ky.”
“Tadi habis jalan dulu sama temen-temen kantor,” kilah Ryn, suaranya dibuat seringan mungkin. Dia tidak mungkin bilang pulang dari kerja part time. Bisa-bisa langsung dipecat dia.
“Temen-temen yang tadi gosipin aku gay itu?” Kylar menyandarkan punggungnya santai sekali, tapi suaranya jelas tidak santai.
Oh, sudah pasti Naufal melaporkan semuanya pada Kylar.
“Itu bukan aku yang mulai, Ky,” sahut Ryn defensif. Tidak ada jawaban yang aman. Yang ada hanya jawaban yang lebih sedikit tidak berbahaya daripada pilihan lain.
Kylar menatapnya beberapa detik, lalu mendengus pelan. “Tapi kamu ada di dalam obrolan, dan mengiyakan gosip itu.”
Ryn menelan ludah. Tatapan Kylar terasa lebih mengerikan saat ini.
Selama ini, gosip itu memang sudah lama beredar dan Ryn yakin, telinga Kylar tidak mungkin melewatkannya. Tapi, dia tidak menyangka jika sekarang Kylar bisa bereaksi seperti ini.
“Maaf ….” lirih Ryn sambil menundukkan kepalanya, tubuhnya kaku.
Kylar menatap Ryn yang masih mematung. “Memang sopan ngobrol sama suami sambil berdiri begitu?”
Ryn sedikit tersentak. Kata suami itu selalu terdengar salah di telinga Ryn, meski secara hukum ya, memang begitu.
“Oh, iya. Maaf,” jawab Ryn akhirnya. Dia melangkah mendekat lalu duduk di ujung sofa ujung, bagian yang paling aman menurutnya. Jaraknya cukup untuk menjaga kewarasan dan harga diri sekaligus.
“Katanya aku gay, tapi kenapa kamu masih takut duduk dekat-dekat?” Kylar melirik jarak itu sebentar, seperti sedang menilai keputusan Ryn yang jelas-jelas terlalu berhati-hati.
Tiba-tiba saja Kylar berdiri. Dia berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Ryn. Tatapannya lebih dingin, tapi Ryn bisa menangkap ada rasa kesal dan tidak suka di sana.
Ryn otomatis menegakkan punggung, refleks tubuh yang tahu kapan harus siaga.
Kylar menunduk sedikit, satu tangannya menekan sandaran sofa di sisi Ryn, membuat ruang gerak istri kontraknya menyempit.
Demi Tuhan, Ryn bisa merasakan napas Kylar di wajahnya.
“Perlu aku buktikan, kalau aku nggak gay?” gertak Kylar, satu alisnya terangkat. Nada suara yang dingin dan tatapannya yang menusuk membuat Ryn merasa semakin tercekat.