Đang tải thông tin quảng bá...
Nafsu Sesaat Dibayar Penyesalan
Menjelang hari pernikahan, Ashley mengalami kecelakaan saat berusaha menyelamatkan Noah. Tubuhnya terpental akibat tertabrak mobil, mengalami patah tulang di banyak bagian, dan wajahnya rusak parah ak...
Chương (1)
第1章
Menjelang hari pernikahan, Ashley mengalami kecelakaan saat berusaha menyelamatkan Noah. Tubuhnya terpental akibat tertabrak mobil, mengalami patah tulang di banyak bagian, dan wajahnya rusak parah akibat bergesekan dengan aspal.
Meski wajah Ashley hancur, Noah sama sekali tidak merasa jijik atau menjauhinya. Dia tetap menikahinya dan setelah pernikahan pun, dia memperlakukan Ashley dengan penuh kasih sayang dan perlindungan seperti sebelumnya.
Semua orang berkata bahwa Noah mencintainya setengah mati. Cintanya pada Ashley telah melampaui nilai-nilai duniawi dan penampilan fisik.
Dulu, Ashley pun percaya akan hal itu.
Namun, setengah bulan yang lalu, dia menemukan bahwa Noah berselingkuh dengan pembantu rumah tangganya sendiri.
Bab 1
"Zoey, bantu aku buatkan janji untuk operasi cangkok kulit wajah total di Negara Herado dengan Dokter Jayden," kata Ashley datar.
Mendengar permintaan itu, sahabatnya, Zoey, langsung merasa ada yang tidak beres.
"Ashley, operasi cangkok kulit wajah total itu sangat menyakitkan dan risikonya tinggi, bisa menyebabkan infeksi serius. Noah begitu mencintaimu, apa dia tega membiarkan kamu ambil risiko sebesar itu?"
"Aku dan dia akan segera bercerai. Aku nggak bisa jelaskan lewat telepon. Nanti setelah aku sampai di Negara Herado, aku akan ceritakan semuanya."
Setelah menutup telepon, Ashley menunduk memandangi layar ponselnya yang sedang memutar ulang sebuah video.
Dalam video itu, Noah tampak tergesa-gesa menindih Yessy. Tubuhnya bergerak liar di atas wanita itu.
Kaki jenjang Yessy melingkari pinggang Noah, wajahnya memerah dan penuh gairah. Dengan suara menggoda, dia berbisik, "Tuan, menghadapi wajah istrimu yang penuh bekas luka itu ... memangnya kamu bisa ereksi?"
"Jangan sebut dia, merusak suasana saja," jawab Noah sambil terengah dan memukul tubuh Yessy. "Jangan gerak-gerak, dasar perempuan nakal, kamu mau peras habis aku, ya?"
Yessy berpura-pura marah sambil tersenyum manja. "Ih, jahat ...."
Ashley dan Noah tumbuh bersama sejak kecil, seperti pasangan yang ditakdirkan bersama. Menjelang pernikahan mereka, saat hendak memotret foto prewedding, mereka mengalami kecelakaan.
Demi menyelamatkan Noah, Ashley tertabrak mobil. Tubuhnya terpental jauh, tulangnya patah di berbagai tempat, dan wajahnya hancur parah karena terseret di aspal.
Namun, Noah tetap menikahinya seolah tak peduli pada wajahnya yang rusak. Setelah menikah, dia pun masih memperlakukan Ashley dengan penuh kasih sayang dan perlindungan.
Semua orang berkata bahwa Noah mencintai Ashley setengah mati. Cintanya bahkan melampaui penampilan fisik dan hal-hal duniawi. Ashley sendiri pernah begitu yakin akan hal itu.
Namun setengah bulan yang lalu, dia mulai merasa ada yang tidak beres. Diam-diam, dia menyewa seorang detektif pribadi untuk menyelidikinya.
Sampai akhirnya, video ini dikirimkan oleh detektif itu. Baru saat itulah Ashley sadar bahwa Noah sudah sejak lama berselingkuh dengan pembantu mereka sendiri.
Ponsel terus memutar video itu tanpa henti hingga akhirnya mati kehabisan baterai. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, pintu rumah tiba-tiba terbuka.
Noah berlari masuk dengan langkah tergesa-gesa dan langsung memeluk Ashley dengan erat. "Ashley! Kamu bikin aku hampir mati ketakutan. Kenapa nggak angkat teleponku?"
Aroma manis yang khas setelah bercinta masih melekat di tubuhnya. Ashley langsung merasa mual dan mendorong Noah menjauh tanpa ragu.
"Ponselnya habis baterai," jawabnya datar.
Tak lama kemudian, Yessy menyusul masuk dengan langkah pelan. Tatapannya langsung tertuju pada wajah Ashley yang penuh bekas luka, lalu dia berkata dengan sinis, "Tuan, aku tadi sudah bilang, Nyonya nggak pernah keluar rumah, bagaimana mungkin dia kenapa-kenapa?"
Tatapan Noah langsung menusuk ke arahnya. "Diam! Kamu itu pembantu, tapi nggak siaga sama sekali di sisi Nyonya. Bahkan ponselnya mati pun kamu nggak tahu?"
Yessy menarik kerah bajunya sedikit ke bawah, memperlihatkan bekas ciuman di pundaknya, lalu berkata dengan nada manja dan sedikit tersinggung, "Tadi pacarku datang menjenguk, aku sudah bilang ke Nyonya, kok."
Di bulan ketiganya bekerja sebagai pembantu, Yessy tiba-tiba mengatakan pada Ashley bahwa dia sedang berpacaran. Ashley bahkan benar-benar mengucapkan selamat dengan tulus dan berjanji akan memberi hadiah besar saat Yessy menikah nanti.
Sekarang kalau diingat, Ashley merasa dirinya sangat bodoh.
Yessy jelas-jelas sudah merebut suaminya dan waktu itu datang hanya untuk menyombongkan diri.
Noah berniat menegurnya, "Waktu rekrut kamu, dari awal aku sudah bilang, apa pun yang terjadi, kamu harus utamakan Nyonya ...."
Namun, Ashley tidak mau lagi mendengar sandiwara mereka. Dia memotong dengan suara datar, "Pecat saja dia."
Begitu kalimat itu dilontarkan, keduanya langsung menatapnya dengan terkejut.
Yessy langsung menunjukkan wajah memelas, "Nyonya, tolong jangan pecat aku. Ibuku masih butuh biaya pengobatan. Kalau aku ada kesalahan, tolong beri tahu aku, aku akan memperbaikinya."
Ashley menatapnya tenang, lalu berkata dengan dingin, "Semua sudah kamu lakukan dengan sangat baik. Tapi justru karena terlalu sempurna ... aku jadi nggak suka."
Bahkan suaminya pun ikut "dirawat" olehnya, ini jelas sudah keterlaluan.
Yessy kembali menatap Noah dengan mata berkaca-kaca. Namun, Noah malah memeluk Ashley lebih erat dan berkata, "Ashley, selama ini Sissy sudah bekerja dengan sangat baik. Dia baru sekali ini melakukan kesalahan. Maafkan saja dia, ya?"
Suara Ashley menyiratkan ejekan halus. "Sissy?"
Wajah Noah sempat menegang, tetapi segera dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Kamu juga biasa panggil dia Sissy setiap hari, aku jadi ikut-ikutan."
Setelah itu, dia memasang ekspresi serius dan menatap Yessy dengan tegas. "Yessy, kalau kamu berani ulangi lagi, meskipun Ashley memaafkanmu, aku sendiri yang akan memecatmu."
Yessy membungkuk sambil mengangguk cepat, lalu mundur keluar setelah Noah menyuruhnya pergi.
Noah kemudian mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil yang tampak mewah dari saku jasnya. Dia membukanya dan menyodorkannya ke hadapan Ashley. "Ashley, ini kalung yang aku pesan khusus dari butik perhiasan."
Namun kali ini, tidak ada lagi binar kebahagiaan di mata Ashley saat menerima hadiah darinya. Dia hanya menatap kalung berlian mahal itu dengan pandangan datar.
"Aku pernah dengar, laki-laki hanya akan terus-menerus memberi hadiah pada perempuan kalau dia merasa bersalah karena sudah berbuat salah."
"Selama tiga bulan terakhir, kamu sudah sering memberiku hadiah." Mata Ashley menatapnya dengan lurus, "Kamu ada salah sama aku?"
Noah hanya tersenyum tenang, sorot matanya seperti biasa saat berkata, "Kenapa kamu bisa mikir begitu? Kamu itu istriku. Setiap kali aku lihat perhiasan indah, yang langsung terlintas di pikiranku pasti kamu."
Malam itu setelah makan malam, Noah bahkan mengoleskan salep penyembuh luka di wajah Ashley yang penuh bekas luka dengan tangan sendiri. Setelahnya, dia mencium lembut kening Ashley.
Ashley jadi bingung, yang mana Noah yang sebenarnya? Yang tulus dan lembut seperti ini? Atau yang berselingkuh di belakangnya, lalu kembali bersikap manis seolah tidak terjadi apa pun?
Lantaran tidak ingin lagi melihat kepalsuan di hadapannya, Ashley pun membalikkan badan dan berpura-pura tidur.
Namun, baru saja Ashley "tertidur", Noah sudah mendorong pintu dan berjalan keluar kamar.
Tak lama kemudian, dari ruang tamu terdengar suara desahan penuh gairah milik Yessy.
Ashley membuka matanya, lalu mengintip melalui celah kecil di pintu.
Yessy mengenakan kostum pembantu yang sangat terbuka dan menggoda. Dia duduk mengangkang di pangkuan Noah dan suaranya semakin lantang.
Noah buru-buru menutup mulutnya dengan tangan dan berbisik, "Jangan berisik. Nanti Ashley bangun ...."
Namun, Yessy hanya terkekeh dengan napas memburu. "Aku tadi sudah taruh obat tidur di susunya, bahkan kalau ada petir pun dia nggak bakal bangun."
Jarinya menggambar lingkaran di dada Noah. "Lagian, bukankah Tuan memang suka yang liar?"
Ekspresi Noah tetap dingin, tetapi ucapannya sangat menusuk, "Seliar apa pun kamu, jangan sampai kelewatan di depan Nyonya. Kamu itu cuma alat pelampiasanku. Ingat baik-baik posisi kamu."
Yessy tampak seolah terluka, tetapi tetap mengangguk sambil mendekat untuk menggigit lembut jakun Noah. Noah akhirnya tidak lagi menahan diri dan langsung membalikkan tubuhnya, lalu membenamkan Yessy di bawah tubuhnya.
Ashley kini tahu alasan kenapa belakangan ini tidurnya selalu begitu nyenyak dan setiap bangun pagi, tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga.
Ternyata, semua itu karena Yessy telah menaruh obat tidur dalam susunya. Noah juga mengetahuinya, bahkan menyetujuinya, hanya demi bisa berselingkuh dengan bebas di belakangnya.
Air mata mengalir tanpa suara di sudut mata Ashley.
'Noah, kamulah yang lebih dulu mengkhianati aku. Kalau begitu, aku pun tidak akan memilih bertahan. Aku juga tidak menginginkanmu lagi.'
Bab 2
Malam itu, Ashley nyaris tidak bisa memejamkan mata.
Keesokan paginya adalah jadwal kontrol ulang ke rumah sakit. Noah bahkan membatalkan semua pekerjaannya dan menyetir sendiri mengantar Ashley ke rumah sakit.
Begitu tiba di depan gedung rumah sakit, mereka melihat seorang wanita dengan wajah penuh luka bakar sedang terduduk di tanah dan menangis putus asa.
“Aku cacat seperti ini karena waktu itu menyelamatkanmu! Sekarang baru dua tahun berlalu, kamu sudah selingkuh di belakangku. Masih pantaskah kamu disebut manusia?!”
Wajah pria di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, yang ada hanya kebencian. “Kamu bisa salahkan dirimu sendiri karena terlalu bodoh. Melihat wajahmu yang menjijikkan saja sudah cukup membuatku mimpi buruk setiap malam!”
“Aku masih membiarkanmu tinggal di rumah dan mempertahankan posisimu sebagai istri sah saja itu sudah bentuk belas kasihan terbesar dariku.”
Ashley mengepalkan tangannya, menatap pemandangan di hadapannya. Begitu mirip dengan dirinya sendiri. Tanpa sadar, dia bertanya, “Noah, apa kamu juga berpikir seperti itu?”
Jadi selama ini Noah berselingkuh diam-diam, tapi merasa dirinya sudah cukup baik hanya karena tetap mempertahankannya sebagai seorang istri?
Noah mengangkat tangan dan menyentuh lembut bekas luka di wajah Ashley. "Ashley, kamu nggak percaya sama aku?"
Melihat istrinya tidak menjawab, Noah pun berbicara lebih serius. "Aku mencintai kamu sebagai pribadi, bukan karena penampilanmu. Mau kamu cantik atau nggak, aku tetap mencintaimu."
Ashley tersenyum getir. "Benarkah?"
Noah menjawab penuh keyakinan, "Tentu. Saat kita menikah, aku sudah bersumpah hanya akan mencintaimu seumur hidupku." Sumpah itu masih terngiang jelas di telinga, tapi orang yang pernah bersumpah itu kini sudah berubah.
Saat mereka masuk ke dalam rumah sakit, mereka berpapasan dengan Yessy.
Suara Noah langsung berubah dingin dan kesal, "Kamu ngapain di sini? Bukannya harusnya kamu di rumah dan bekerja seperti biasanya?"
Yessy memegangi perutnya, menatap Ashley dengan ekspresi penuh kesakitan. Namun di balik sorot matanya, tampak jelas ada kilatan bangga.
"Maaf ya, Nyonya ... aku nggak sengaja bolos kerja. Semua gara-gara pacarku terlalu liar semalam. Sesama wanita, kamu pasti ngerti, 'kan?" Yessy berbicara sambil mengedipkan mata, seolah bersikap akrab.
Raut wajah Ashley tetap tenang. "Kelihatannya pacarmu sangat mencintaimu."
Yessy pura-pura manja. "Aduh, dia tuh jahat sekali ... bikin aku begini lalu malah nyuruh aku ke rumah sakit sendirian. Nggak bisa dibandingkan sama sekali dengan perhatian Tuan ke Nyonya."
Tiba-tiba dia berseru, "Aduh! Giliranku dipanggil. Aku naik duluan ya!"
Begitu Yessy pergi, Noah tampak mulai gelisah. Dia menahan diri beberapa saat, tapi akhirnya tetap berkata, "Ashley, aku baru ingat ... ada teman yang sedang dirawat di rumah sakit ini. Aku mau jenguk sebentar. Nggak lama, kok."
Ashley mengangguk pelan. Meski Noah mengatakan hanya sebentar, dia tidak kunjung kembali lagi setelah pergi. Ashley pun tidak ambil pusing.
Setelah pemeriksaan selesai, dia langsung naik taksi ke kantor visa untuk mengurus pengajuan keberangkatan ke luar negeri. Saat sedang menunggu, notifikasi dari media sosial berbunyi.
Yessy baru saja memperbarui statusnya.
[ Lagi sakit, tapi pacarku repot sekali jagain aku dan bahkan bawain hadiah biar aku senang .... ]
Dalam fotonya, terlihat Yessy memakai kalung berlian berbentuk bulan sabit yang identik dengan kalung yang diberikan Noah pada Ashley kemarin. Pandangan mata Ashley mengabur. Dia menutup ponselnya dan menarik napas dalam-dalam.
Dua jam kemudian, Noah menelepon. Suaranya terdengar cemas, "Ashley, kamu di mana? Aku sudah cari kamu ke mana-mana."
Ashley menjawab dengan tenang, "Aku langsung pulang setelah pemeriksaan."
Noah terdengar menyesal. "Maaf, Ashley ... aku ngobrol sama temanku sampai lupa waktu. Aku janji nggak akan begini lagi."
"Barusan Ibu bilang kita harus makan malam di rumah. Aku berangkat untuk jemput kamu sekarang juga."
Makan malam di rumah keluarga besar adalah aturan yang ditetapkan oleh Julie, ibu Noah. Bagi Ashley, itu adalah momen paling tidak menyenangkan. Dulu, dia masih bisa menoleransi. Namun sejak wajahnya rusak, Julie jadi semakin tidak suka padanya.
Meskipun wajahnya rusak karena menyelamatkan Noah, Julie tetap menganggap bahwa seorang wanita dengan wajah cacat tidak pantas untuk putranya yang luar biasa, apalagi menjadi nyonya muda Keluarga Suprapto.
Saat itu, ketika Ashley masih dalam kondisi koma akibat luka berat, Julie bahkan berkali-kali menyarankan agar Noah menyelesaikan masalah ini dengan uang dan membatalkan pertunangan mereka.
Mobil mereka akhirnya memasuki halaman rumah keluarga besar. Begitu Ashley turun dari mobil, seorang anak laki-laki kecil langsung datang dengan pistol air besar di tangan dan menyemprotkannya ke arah Ashley.
"Bunuh penyihir tua! Bunuh si jelek!"
Ashley mengangkat tangan untuk melindungi wajahnya, tapi tetap saja sebagian besar tubuhnya basah karena tembakan air itu.
Detik berikutnya, anak kecil itu langsung diangkat oleh Noah dan dipukul di pantatnya.
"Paman jahat ... bela si jelek .... Paman jahat sekali ...."
Tangisan anak itu terdengar nyaring, sehingga memancing perhatian Julie yang langsung datang dan menarik cucunya ke belakangnya.
"Anak kecil mana tahu apa-apa, yang jujur itu justru mereka. Cantik ya dibilang cantik, jelek ya dibilang jelek. Apa itu juga nggak boleh?"
Wajah Noah menggelap. Dia berkata dengan nada keras, "Bu, wajah Ashley rusak karena menyelamatkan aku! Kalau bukan dia, anak Ibu ini mungkin sudah mati waktu itu!"
"Mulai hari ini, aku nggak mau dengar satu pun komentar buruk tentang Ashley di rumah ini. Kalau masih ada yang berani merendahkannya lagi, kami nggak akan pernah kembali ke sini lagi!"
Bab 3
Nada suara Noah yang dingin dan tegas langsung membuat suasana menegang seperti membeku.
Dulu, Ashley pasti akan lebih memilih mengalah demi meredakan suasana, tetapi sekarang dia hanya berdiri di tempat, menatap semua dengan dingin.
Julie hanya punya satu anak laki-laki, yaitu Noah. Akhirnya, dia mengalah dan bahkan menyuruh cucu luarnya itu meminta maaf pada Ashley.
Di meja makan, Julie terus-menerus mengambilkan makanan untuk Noah. "Noah, kamu kelihatan makin kurus. Makan yang banyak ya."
Setelah itu, dia melirik tajam ke arah Ashley. "Katanya istri itu harus bisa tampil anggun di depan publik, juga harus jago di dapur. Kalau kamu nggak bisa tampil anggun, paling nggak harus bisa masak supaya bikin suamimu betah di rumah."
Ashley menelan makanan di mulutnya dengan susah payah. "Kita baru saja kedatangan pembantu baru. Masakannya enak, Noah suka."
Julie mendengus kesal. "Pembantu tetap saja pembantu, dia bukan istri Noah. Kamu istrinya, jadi wajar kamu yang harus turun tangan urus hal begini!"
Ashley tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Mungkin sebentar lagi dia memang bukan lagi istri Noah.
Noah pun memotong pembicaraan, "Ibu, mulai lagi deh. Ini kita mau makan atau mau ribut?"
Julie langsung meredam emosinya. "Ya sudah, nggak ngomong lagi. Makan, makan."
Akhirnya suasana meja makan menjadi tenang, sampai ponsel Noah terus-menerus bergetar. Dari sudut mata, Ashley sempat melirik sekilas. Kebetulan, dia melihat pesan dari Yessy masuk.
[ Sayang, aku lagi demam. Katanya cewek yang demam badannya panas banget. Kamu mau coba nggak? ]
Disertai foto pribadi Yessy yang mengenakan lingerie. Hasrat Noah langsung melonjak. Dia pun buru-buru menutup ponsel dengan kasar.
Suara ponsel yang ditutup terlalu keras sampai membuat Julie ikut merasa aneh. "Noah, kenapa? Ada apa?"
Noah langsung bangkit. "Ibu, ada urusan mendadak di kantor. Aku harus ke sana sekarang."
Kemudian, dia menoleh ke arah Ashley. "Ashley, malam ini mungkin aku pulangnya agak telat. Kamu istirahat duluan ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Ashley, Noah sudah melangkah cepat ke luar rumah.
Begitu Noah pergi, Ashley juga tidak ingin terus-menerus melihat wajah Julie dan yang lainnya. Dia langsung berdiri, berniat pergi dari meja makan.
Namun, Julie membentak sambil menepuk meja. Amarahnya meledak setelah dipendam semalaman. "Aku saja belum selesai makan, kamu sudah berani pergi dari meja? Nggak ada sopan santun sama sekali!"
Dia berteriak lantang, "Pembantu! Kunci dia di loteng! Biar dia belajar disiplin!"
Ashley menolak. "Kamu nggak punya hak kurung aku! Ini namanya penahanan ilegal!"
Julie mengejek dengan dingin, "Lucu sekali. Mertua mendidik menantu itu hal yang wajar!"
Dua pembantu menarik paksa Ashley ke loteng dan mengurungnya di sana. Di tengah kegelapan, jantung Ashley berdebar kencang, tubuhnya menggigil tanpa henti.
Dia menderita klaustrofobia. Sensasi sesak ini membuatnya merasa sekarat. Kegelapan di sekitarnya seperti dipenuhi monster yang siap menerkamnya.
Ashley terus-menerus menggedor pintu, memanggil nama Noah.
Saat SMA dulu, pernah ada teman sekolah yang menjahilinya dan mengurungnya di gudang. Waktu itu, dia pun ketakutan luar biasa. Noah yang menyelamatkannya.
Dia menendang pintu, membiarkan cahaya masuk bersamaan dengan kehadirannya dan cahaya itu juga masuk ke hati Ashley.
Sejak saat itu, Ashley menganggap Noah sebagai penyelamatnya. Dia mencintainya, rela menyerahkan segalanya, bahkan nyawanya.
Sayangnya, sekarang semua telah berubah. Tidak peduli dia berteriak sekeras apapun, Noah tidak datang.
Yang datang hanyalah seember air dingin. Pembantu membawa baskom dan memelototinya. "Nyonya, lebih baik diam. Kalau terus teriak-teriak nggak tahu aturan, jangan salahkan kami bertindak kasar!"
Ashley basah kuyup dan dikurung di loteng semalaman. Sampai pagi hari berikutnya, Noah baru datang tergesa-gesa, membuka pintu dan langsung memeluk Ashley yang tergolek lemas di lantai.
"Ashley, maaf .... Aku terlambat ...."
Pelukan yang dulu dia anggap sebagai perlindungan, kini hanya terasa seperti siksaan yang membuat napasnya sesak.
Ashley melepaskan diri dari pelukan Noah, berdiri, dan berjalan ke arah pintu. Baru saja melangkah ke luar, pandangannya menggelap. Dia pun jatuh pingsan.
Bab 4
Begitu membuka mata, yang terlihat adalah cahaya putih yang menyilaukan. Jari tangan Ashley bergerak sedikit, langsung membangunkan Noah yang duduk di sampingnya.
Tatapan Noah penuh kebahagiaan. Dia menggenggam tangan Ashley erat-erat. "Ashley, kamu koma dua hari dua malam. Akhirnya kamu sadar juga."
Semua yang terjadi sebelum dia pingsan kembali terputar di benak Ashley. Dia memandang pria di hadapannya yang terlihat sangat peduli padanya, tetapi pada kenyataannya sudah berselingkuh.
Dari sorot matanya, Ashley bisa melihat bahwa Noah masih menyayanginya. Namun, kalau memang masih cinta, kenapa dia selingkuh? Apa benar hanya karena wajahnya?
Padahal saat wajahnya baru rusak, Ashley mengusulkan untuk ke luar negeri menjalani operasi transplantasi kulit seluruh wajah.
Namun, saat itu Noah melarangnya. "Ashley, operasi itu bukan cuma sakit, tapi juga berisiko tinggi infeksi. Aku nggak bisa biarkan kamu ambil risiko sebesar itu. Percayalah, di mataku kamu tetap wanita tercantik."
Noah bahkan mencium satu per satu luka mengerikan di wajahnya, seolah-olah benar-benar tak peduli dengan penampilannya, hanya mencintai dirinya yang sebenarnya.
Namun sekarang, yang jijik pada wajah rusaknya dan berselingkuh justru dia sendiri.
Dengan suara parau, Ashley membuka mulut. "Noah, kamu ...."
Belum sempat kalimat itu selesai, pintu kamar rumah sakit tiba-tiba terbuka. Seorang perawat yang memakai masker berjalan masuk.
"Pak Noah, waktunya Bu Ashley diinfus." Perawat itu membuka alat infus, lalu mengambil jarum tajam dan menusukkannya ke punggung tangan Ashley. Namun, jarumnya tak masuk ke pembuluh darah.
Dia mencabut jarum berdarah itu, lalu menusukkan lagi. Ashley menahan sakit hingga alisnya berkerut. Punggung tangannya pun memar.
Melihat itu, Noah langsung bangkit dan mendorong perawat itu sambil membentak, "Nomor ID-mu berapa? Aku mau laporin kamu sekarang juga!"
Perawat itu menatap Noah dengan mata berkaca-kaca. "Pak, aku cuma perawat magang. Makanya belum terlalu terampil."
Noah tertegun, lalu memekik, "Kalian mau jadikan istriku sebagai objek latihan? Hari ini aku akan laporin kamu! Ikut aku ke pos perawat!"
Dia langsung menarik tangan si perawat dan menyeretnya ke luar kamar. Namun, Ashley tahu Noah bukan membawanya ke pos perawat.
Karena perawat tadi adalah Yessy yang sedang menyamar. Ashley bangkit dan diam-diam mengikuti mereka dari belakang.
Noah menyeret Yessy sampai ke atap gedung rumah sakit. "Siapa yang suruh kamu datang?"
Yessy membuka kancing seragam perawatnya, memperlihatkan lingerie berenda seksi di baliknya, lalu memeluk leher Noah. "Dua hari ini kamu terus jagain istri di rumah sakit. Aku kangen ...."
Nada marah Noah langsung melunak, tidak sekeras sebelumnya. "Tapi kamu nggak seharusnya nyamar jadi perawat dan bikin dia kesakitan begitu."
"Kamu sendiri yang bilang aku ini terlalu penakut dan suruh aku latihan biar lebih berani ...."
"Kamu gila? Siapa suruh kamu latihan pakai istriku?"
Wajah Yessy tampak berpura-pura sedih, tetapi tatapannya justru penuh gairah. "Ya, ya, aku salah. Aku minta dihukum ya?"
Tangannya mulai bergerak ke bagian bawah tubuh Noah. "Biar kamu yang suntik aku saja, boleh?"
Godaan seperti itu membuat Noah tak mampu menahan diri lagi. Dia langsung memeluk Yessy dan melancarkan aksinya. Desahan Yessy terdengar semakin keras, semakin menggoda.
Ashley tidak sanggup melihat lebih lama lagi. Dia berbalik dengan tatapan kosong dan berjalan pergi.
Setelah kembali ke kamar, barulah perawat yang sebenarnya datang dan memasangkan infus. Ashley menatap cairan infus yang menetes sedikit demi sedikit, seolah-olah setiap tetesnya sedang mencabik-cabik hatinya menjadi serpihan kecil.
Tak tahu sudah berapa lama, ponselnya berdering. Ternyata itu telepon dari sahabatnya, Zoey.
"Ashley, operasi plastikmu sudah dijadwalkan oleh Dokter Jayden. Operasinya sepuluh hari lagi. Kamu harus datang lebih awal untuk pemeriksaan praoperasi."
Ashley hendak mengatakan bahwa visanya akan jadi tujuh hari lagi. Namun, saat itu juga suara Noah terdengar dari belakang, penuh rasa curiga. "Siapa yang mau operasi plastik?"
Bab 5
Ashley mengangkat kepala dan melihat Noah berdiri di ambang pintu. Dia berkata pelan, "Ya, aku tahu." Kemudian, dia menutup telepon.
Noah segera melangkah cepat ke sisi ranjang dan bertanya lagi, "Ashley, kamu mau operasi plastik?"
Ashley menjawab dengan tenang, "Temanku yang mau operasi. Bukankah kamu pernah bilang, mau aku cantik atau jelek, kamu tetap mencintaiku? Kalau begitu, kenapa aku harus menyiksa diri dengan hal seperti itu?"
Noah langsung memeluknya erat-erat. "Ashley, janji sama aku ... jangan pernah lakuin apa pun yang bisa membahayakan dirimu. Aku benar-benar nggak sanggup kalau harus kehilangan kamu."
Keduanya saling bersandar begitu dekat, hingga Ashley bisa melihat dengan jelas bekas-bekas cinta di belakang leher Noah. Tanpa ekspresi, dia mendorong Noah perlahan.
"Kamu pernah bilang mau pindahin seluruh saham atas namamu ke aku. Janji itu masih berlaku nggak?"
Mata Noah dipenuhi kasih sayang. "Ashley, apa pun yang pernah aku janjikan ke kamu, semuanya tetap berlaku."
"Tapi, dulu waktu aku mau kasih kamu saham, kamu sama sekali nggak mau. Sekarang kenapa berubah pikiran?"
Ashley menyunggingkan senyuman tipis. "Bukannya kamu yang bilang, kalau aku jadi pemegang saham mayoritas, ibumu nggak akan berani semena-mena padaku?"
Mendengar itu, ekspresi Noah tampak sedikit bersalah. Dia segera menelepon asistennya dan menyuruhnya menyiapkan dokumen peralihan saham untuk dibawa ke rumah sakit.
Ada belasan dokumen yang harus ditandatangani. Ashley memanfaatkan momen itu untuk menyisipkan dokumen perceraian yang sudah dia siapkan sejak lama di antara tumpukan berkas, menaruhnya paling akhir agar ikut ditandatangani Noah.
Dua masalah besar terselesaikan sekaligus. Perasaan yang selama ini menyesakkan dada Ashley pun terasa lebih ringan.
Ashley masih tinggal dua hari lagi di rumah sakit sebelum akhirnya diizinkan pulang oleh dokter.
Di hari dia keluar, Noah sudah datang sejak pagi untuk menjemput. Begitu membuka pintu mobil, Ashley langsung melihat sepasang stoking yang robek tergeletak di sudut jok depan. Dia langsung teringat unggahan Yessy di media sosial kemarin.
[ Pacarku terlalu agresif, satu stoking rusak lagi. Hehe! Tapi, aku nggak rugi kok! ]
Disertai tangkapan layar transfer miliaran.
Ashley menutup pintu kursi depan dan langsung masuk ke kursi belakang.
Melihat itu, Noah bertanya, "Kenapa duduk di belakang?"
Sekarang belum waktunya bermusuhan. Ashley menahan rasa jijik dalam hati sambil menjawab, "Belakang lebih aman."
Noah tertawa. "Ashley, kamu meragukan kemampuan menyetirku?"
Ashley menanggapi seadanya dan tak berkata apa-apa lagi.
Mobil baru melaju setengah jalan saat ponsel Noah berdering. Dia melihat sejenak, lalu memilih menolak panggilan.
Namun, orang di seberang tampaknya gigih. Orang itu menelepon berkali-kali, hingga akhirnya Noah menyerah dan mengangkatnya.
Tak lama setelah telepon tersambung, ekspresi Noah berubah. Dia segera menginjak rem. "Ashley, ada urusan mendadak di kantor. Kamu bisa naik taksi sendiri nggak?"
Ashley menatap wajahnya yang terlihat sangat cemas, lalu tersenyum mencela. "Bisa."
Beberapa detik lalu, Yessy baru saja memperbarui statusnya. Foto wajahnya yang tampak menyedihkan dan pergelangan kakinya yang bengkak.
[ Kecelakaan kecil. Aku langsung telepon pacarku. Dia bilang akan segera datang. Aku suka banget rasa aman seperti ini. ]
Ashley membuka pintu dan turun dari mobil. Noah ikut turun, memanggil taksi untuknya dan membantu membukakan pintu. Setelah memastikan dia masuk, barulah Noah pergi.
Begitu Noah pergi, Ashley langsung membayar ongkos taksi dan turun. Dia menyusuri jalanan selama lima jam tanpa henti, sampai akhirnya tiba di rumah masa kecilnya.
Dia masuk dan menuju sebuah pohon apel, lalu mengeluarkan sekop kecil untuk menggali kapsul waktu yang dia tanam di usia 18 tahun.
Dalam kapsul waktu itu, Ashley menuliskan harapan masa mudanya, yang dia niatkan untuk dibuka bersama Noah sepuluh tahun kemudian.
[ Semoga aku bisa menikah dengan Kak Noah, melahirkan dua anak untuknya, dan hidup bahagia bersamanya selamanya. ]
Itulah harapan Ashley saat berusia 18 tahun. Kini, di usia 28 tahun, dia merobek tulisan itu menjadi serpihan kecil.
Sebagai gantinya, dia memasukkan surat perjanjian cerainya ke kapsul waktu itu. Saat itu juga, sebuah sosok berlari tergesa-gesa dari luar ke dalam ....
Bab 6
Noah terengah-engah saat bertanya, "Ashley, kenapa kamu nggak pulang? Telepon juga nggak diangkat. Aku hampir gila cari kamu."
Ashley menjawab datar, "Aku kira hari ini kamu nggak pulang."
Hanya satu kalimat, tetapi cukup untuk membuat hati Noah dipenuhi rasa bersalah.
"Ashley, maaf .... Belakangan ini perusahaan lagi sibuk banget. Begitu semuanya kelar, aku akan luangin waktu buat kamu."
Ashley tersenyum samar, lalu menyerahkan kapsul waktu yang ada di tangannya kepada Noah.
Noah memain-mainkan kapsul waktu itu, lalu hendak membukanya. "Boleh aku lihat? Aku ingin tahu apa keinginanmu dulu."
Ashley menahan tangannya dan berkata dengan serius, "Buka lima hari lagi. Keinginanku yang dulu sudah tercapai. Sekarang aku sudah taruh keinginan baru di dalamnya. Aku harap dalam lima hari lagi, kamu bisa bantu aku mewujudkannya."
Noah mengangguk dengan ekspresi penuh kasih sayang. "Oke. Apa pun keinginanmu, lima hari lagi pasti akan kuwujudkan."
Sesampainya di rumah, tampak Yessy sudah duduk santai di sofa dengan sikap seperti nyonya rumah.
Ashley awalnya berniat mengabaikannya, tetapi Yessy malah berjalan terpincang dan mengadang jalan Ashley. "Sebenarnya kamu sudah tahu semuanya, 'kan?"
Dengan semua unggahan yang Yessy buat di media sosial dan bekas ciuman yang sengaja ditinggalkan di tubuh Noah, dia yakin Ashley pasti menyadari semuanya.
Ashley tersenyum pahit dan menatapnya. "Terus kenapa? Sekarang kamu mau pamer? Atau kamu berharap aku ngamuk dan usir kamu kayak pelakor murahan?"
Dia sudah memutuskan untuk melepaskan pria yang berselingkuh darinya. Lagi pula, dia sudah mendapatkan cukup banyak saham dari Noah sebagai kompensasi. Dia tidak akan menurunkan harga dirinya untuk hal sepele seperti ini.
Yessy terdiam karena Ashley mengetahui tujuannya. Dia awalnya ingin memancing amarah Ashley agar bisa menangis di hadapan Noah dan memenangkan simpatinya.
Namun, dia tak menyangka Ashley bisa setenang ini demi mempertahankan status nyonya besar.
Ashley mendorong Yessy dan hendak masuk ke rumah. Tiba-tiba, Yessy memegang tangannya dan berteriak dengan panik, "Nyonya Ashley, aku tahu aku salah ...."
Kemudian, dia membenturkan kepalanya ke ujung meja. Keningnya langsung robek dan darah pun mengucur.
Noah masuk dan langsung melihat adegan itu.
Yessy menutupi kening berdarahnya, air matanya menggenang. "Tuan, kakiku masih sakit, jadi nggak sempat berdiri kasih salam ke Nyonya. Nyonya malah pukul aku ...."
Ashley benar-benar terkejut dengan drama dadakan ini. Begitu sadar, dia langsung membela diri, "Aku nggak pukul dia! Dia sendiri yang benturin kepala ke meja!"
Wajah Yessy basah dengan air mata, tampak sangat menyedihkan. "Untuk apa aku fitnah Nyonya dengan mengorbankan wajahku sendiri ...."
Mata Noah berpindah dari satu wanita ke wanita lainnya. Pada akhirnya, dia berjalan ke arah Yessy dan menggendongnya dalam pelukan.
"Ashley, aku percaya kamu bukan orang seperti itu. Tapi kening Yessy masih berdarah, aku harus bawa dia ke rumah sakit dulu." Setelah berkata begitu, Noah pun membawa Yessy pergi tanpa menoleh lagi.
Ashley berdiri sendirian di tengah ruang tamu, lalu tertawa pahit. Noah mungkin berkata percaya padanya, tetapi sikapnya menunjukkan sebaliknya.
Tak masalah. Pria yang sudah selingkuh, cepat atau lambat pasti akan berubah hati.
Setelah kejadian itu, Yessy tak lagi berpura-pura. Dia dengan terang-terangan memamerkan kedekatannya dengan Noah, dari foto mesra sampai pesan provokatif yang dikirim ke Ashley.
[ Ashley, kamu sudah lama nggak tidur bareng Noah, 'kan? Dia bilang lihat wajahmu yang penuh bekas luka itu bikin mual. ]
[ Semalam Noah minta sampai tiga kali. Dia bilang rela mati di pelukanku. ]
[ Kamu pikir diam-diaman seperti ini bisa bikin kamu tetap jadi istri sah? Jangan mimpi. ]
Ashley tidak pernah membalas. Dia hanya membaca, menyimpan semua foto dan pesan itu sebagai bukti.
Waktu berjalan tiga hari. Ashley menjual semua saham yang dia punya, mengambil visa, lalu langsung membeli tiket pesawat ke Negara Herado untuk esok hari.
Dia mengira dia tak akan bertemu Noah lagi sebelum pergi, tetapi ternyata Noah pulang. Pria itu bilang, Yessy sudah dipecat karena kinerjanya buruk.
Padahal kenyataannya, Noah baru saja membelikan Yessy sebuah vila mewah untuk dijadikan tempat tinggal rahasia.
Ashley sudah tidak peduli pada kebohongan itu. Hatinya yang dulu sakit kini sudah mati rasa. "Ya sudah, itu keputusanmu," ucapnya dengan tidak acuh.
Noah memeluk Ashley dari belakang, suaranya manja. "Ashley, kamu akhir-akhir ini aneh banget. Apa pun yang aku bilang, kamu nggak pernah kasih komentar."
Ashley tersenyum tipis. "Kalau begitu, aku harus gimana? Nolak? Suruh kamu minta Yessy balik kerja lagi dan jadi pembantu di rumah ini?"
Noah terdiam selama dua detik. "Ashley, akhir-akhir ini aku gelisah terus. Aku takut banget kehilangan kamu."
Ashley bertanya, "Kalau kamu benar-benar kehilangan aku, kamu bakal gimana?"
Noah memeluknya lebih erat. "Aku bisa gila .... Tolong jangan tinggalin aku."
"Kalau begitu, aku tunggu kamu gila."
Bab 7
"Apa katamu tadi?"
Suara Ashley terlalu lirih, sampai-sampai Noah tak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan.
Ashley melepaskan diri dari pelukan Noah yang terlalu erat, lalu berkata datar, "Nggak ada. Malam ini aku masak buat kamu ya."
Hubungan mereka dimulai saat usia 18 tahun, di musim panas itu, saat Noah memasakkan makanan untuknya.
Sesudah makan, Noah bertanya bagaimana masakannya. Ashley langsung melontarkan semua kata pujian yang terlintas di benaknya untuk memuji Noah.
Kemudian, Noah yang tersipu dan gugup memegang tangan Ashley. "Ashley, jadi pacarku ya? Nanti aku masak buat kamu setiap hari."
Saat itu, Ashley merasa dirinya adalah orang paling bahagia di dunia. Harapannya yang ditulis dalam kapsul waktu benar-benar menjadi kenyataan.
Usia 18 tahun adalah masa muda yang polos dan indah. Satu ciuman sederhana saja bisa membuat mereka berdua malu berhari-hari.
Sejak saat itu, mereka tak pernah terpisahkan. Saat orang tua Ashley meninggal dunia dalam kecelakaan, Noah yang terus mendampingi dan membantu Ashley bangkit dari kesedihan.
Saat Noah mulai memimpin perusahaan dan dijegal oleh para senior, Ashley berada di sampingnya. Terus menemani, menyemangati, dan bersama-sama menghadapi pertarungan otak melawan para pemegang saham.
Mereka pernah bertengkar, pernah saling melukai, tetapi tak pernah terpikir untuk benar-benar berpisah. Namun kini, masa muda akhirnya berakhir.
Wajah Noah penuh semangat. "Wah, malam ini aku bakal makan enak. Aku bantuin kamu ya?"
Ashley menolak, "Nggak perlu, biar aku sendiri."
Dalam waktu sejam, Ashley sudah menyajikan tiga lauk dan satu sup. Mereka duduk bersama di ruang makan dan hendak mulai makan.
Namun, ponsel Noah mulai berdering berkali-kali. Dia sempat menolak berkali-kali, tetapi akhirnya diangkat juga.
Setelah itu, ekspresinya berubah. Dia menatap Ashley dan berucap, "Ashley, maaf. Tiba-tiba ada urusan mendesak di kantor ...."
Alasan klasik yang sudah basi. Namun, Ashley tak membongkarnya, hanya tersenyum tipis. "Kamu pergi saja. Urusan kantor memang lebih penting."
Noah langsung berdiri dan buru-buru keluar. Sampai di depan pintu, dia sempat menoleh untuk berkata, "Ashley, tunggu aku ya. Aku bereskan semua urusan dan langsung pulang."
Ashley hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Dia tahu ucapan Noah yang sekarang tidak bisa dipercaya lagi.
Benar saja, tak lama kemudian Ashley menerima video dari Yessy. Dalam video itu, di atas ranjang yang berguncang hebat, Noah tengah berhubungan intim dengan Yessy.
Yessy sempat mendorong pundak Noah dengan manja. "Tuan ... lepasin aku dong. Nyonya masih nunggu Tuan buat makan bersama ...."
Noah malah memeluknya lebih erat, suaranya serak. "Biarin dia nunggu. Sekarang aku cuma ingin makan kamu ...."
"Dasar menyebalkan ...."
Ashley menonton video itu tanpa ekspresi, lalu langsung menyimpannya. Setelah itu, dia memakan semua makanan di meja sendirian, sampai kekenyangan hingga ingin muntah. Sisa makanan pun dibuang ke tempat sampah.
Kemudian, dia menelpon yayasan Amal dan menyumbangkan semua barang-barangnya dari rumah ini.
Mulai dari perhiasan mewah sampai pakaian yang pernah dia pakai, tak ada satu pun yang disisakan. Melihat rumah yang kini kosong separuh, barulah Ashley merasakan sedikit lega.
Keesokan paginya, Ashley membawa koper dan berangkat ke bandara. Sebelum masuk ke pesawat, dia mengunggah semua video dan foto yang selama ini disimpan ke media sosial.
Saat pesawat perlahan naik hingga ketinggian 6.000 meter, Ashley memandang ke luar jendela pesawat, ke arah matahari pagi.
Matahari bersinar hangat. Mulai sekarang, segala hal yang berhubungan dengan Noah tak lagi ada kaitan dengan hidupnya.