Cinta Aliansi, Cinta Transaksional

Đang tải thông tin quảng bá...

Cinta Aliansi, Cinta Transaksional

GoodNovel Hoàn thành

Di lingkungan para konglomerat, ada sebuah aturan tak tertulis, yaitu pasangan yang menikah karena aliansi keluarga boleh saja punya kehidupan masing-masing di luar. Namun, apa pun yang dibelikan untu...

Chương (1)

第1章

Di lingkungan para konglomerat, ada sebuah aturan tak tertulis, yaitu pasangan yang menikah karena aliansi keluarga boleh saja punya kehidupan masing-masing di luar. Namun, apa pun yang dibelikan untuk selingkuhan, wajib dibelikan juga untuk pasangan sah di rumah. Dean Ramosh adalah orang yang sangat berprinsip. Jadi bahkan setelah Keluarga Syahrina bangkrut, dia tetap teguh mematuhi aturan itu, bahkan memberikannya seratus kali lipat demi menghargai Calista Syahrina. Jika kartu selingkuhannya menerima uang saku 200 juta per bulan, kartu Calista harus stabil menerima 20 miliar. Baru saja Dean menghadiahi selingkuhannya perhiasan senilai dua miliar, dia langsung mengirimkan Calista sebuah cincin zamrud antik bernilai 200 miliar. Para nyonya kalangan elite yang sudah terbiasa melihat laki-laki hidup hedon bersama wanita simpanan, memang menghela napas prihatin melihat drama asmara antara Calista dan Dean yang sempat membuat heboh seantero kota. Namun, mereka tetap saja tak tahan untuk memberi saran bahwa Calista seharusnya belajar untuk merasa bersyukur. Bersyukur? Tentu saja Calista merasa bersyukur. Oleh karena itu, di hari ketika Dean terang-terangan memberikan sebuah rumah di pinggiran kota yang nilainya tak seberapa kepada selingkuhannya, Calista juga menerima sertifikat Vila Northcoast No. 1 dari tangan Dean sambil berkata, "Sepertinya aku tiba-tiba merasa agak bosan. Gimana kalau kita bercerai?" Bab 1 Di lingkungan para konglomerat, ada sebuah aturan tak tertulis, yaitu pasangan yang menikah karena aliansi keluarga boleh saja punya kehidupan masing-masing di luar. Namun, apa pun yang dibelikan untuk selingkuhan, wajib dibelikan juga untuk pasangan sah di rumah. Dean Ramosh adalah orang yang sangat berprinsip. Jadi bahkan setelah Keluarga Syahrina bangkrut, dia tetap teguh mematuhi aturan itu, bahkan memberikannya seratus kali lipat demi menghargai Calista Syahrina. Jika kartu Selingkuhannya menerima uang saku 200 juta per bulan, kartu Calista harus stabil menerima 20 miliar. Baru saja Dean menghadiahi Selingkuhannya perhiasan senilai dua miliar, dia langsung mengirimkan Calista sebuah cincin zamrud antik bernilai 200 miliar. Para nyonya kalangan elite yang sudah terbiasa melihat laki-laki hidup hedon bersama wanita simpanan, memang menghela napas prihatin melihat drama asmara antara Calista dan Dean yang sempat membuat heboh seantero kota. Namun, mereka tetap saja tak tahan untuk memberi saran bahwa Calista seharusnya belajar untuk merasa bersyukur. Bersyukur? Tentu saja Calista merasa bersyukur. Oleh karena itu, di hari ketika Dean terang-terangan memberikan sebuah rumah di pinggiran kota yang nilainya tak seberapa kepada Selingkuhannya, Calista juga menerima sertifikat Vila Northcoast No. 1 dari tangan Dean sambil berkata, "Sepertinya aku tiba-tiba merasa agak bosan. Gimana kalau kita bercerai?" .... Dean sedang memilih hadiah ulang tahun ke-23 untuk Arcelia di atas tabletnya. Mendengar ucapan Calista, dia bahkan tidak mengangkat kepala. "Rumah yang kuberikan ke Arcelia itu memang nggak mahal. Ditambah biaya agen, totalnya juga nggak sampai 1,4 miliar. Sedangkan Vila Northcoast No. 1 yang ada di tanganmu berada di lokasi terbaik kota ini. Kamu nggak rugi." "Calista, aku tetap paling sayang sama kamu." Nada bicaranya santai, tetapi mata Calista hampir memerah. Dean memang tidak salah. Selama tujuh tahun pernikahan, dia memang paling memanjakan Calista. Arcelia mendapatkan uang saku 200 juta setiap bulan, sedangkan kartu Calista selalu terisi 20 miliar tanpa pernah terlambat. Baru saja Dean memberikan Arcelia perhiasan senilai dua miliar, dia langsung menyalakan lampu sorotan di balai lelang dan mengirimkan Calista cincin zamrud antik bernilai 200 miliar. Namun kenyataannya, uang 20 miliar itu berasal dari dana Keluarga Ramosh yang diberikan rutin setiap bulan. Cincin zamrud antik itu juga dibeli tanpa kehadiran Dean. Dia hanya menyuruh kepala pelayan untuk mengurus semuanya. Sementara terhadap Arcelia ... hanya karena Arcelia berkata lapar dan ingin bubur seafood, Dean langsung turun tangan sendiri ke dapur, bahkan sampai merusakkan dua panci. Teman-temannya menasihati, "Calista, kamu sekarang punya uang dan status. Dean cuma punya simpanan seorang gadis muda di luar, tapi dia nggak pernah mengabaikanmu. Jangan nggak tahu bersyukur." "Benar, Calista. Ayahmu sudah meninggal, ibumu jadi vegetatif. Kamu harus merasa beruntung karena Dean masih mau mempertahankan pernikahan denganmu sekarang." Calista juga ingin merasa bersyukur. Namun, dia tidak bisa melupakan saat awal bersama Dean, ketika pria itu menyalakan kembang api setengah kota hanya untuknya. Tidak bisa melupakan hari Keluarga Syahrina bangkrut, ketika dia takut membebani Dean dan bersikeras ingin putus. Saat itu, Dean berdiri menunggunya di bawah hujan deras dengan mata memerah. Dia pernah berkata, "Calista, kamu adalah hidupku. Tanpa kamu, aku nggak bisa hidup." Sekarang tujuh tahun telah berlalu. Ketika Calista mengajukan perceraian, Dean hanya merespons dengan nada datar, "Ulang tahun Arcelia sebentar lagi. Bertindaklah dewasa sedikit, jangan cari ribut di waktu seperti ini." Hidungnya terasa panas, tapi Calista mengeluarkan surat cerai yang sudah lama dipersiapkannya dan berusaha terdengar santai, "Tandatangani saja. Kalau kamu tanda tangan, aku nggak akan bikin masalah lagi." Dia mengira Dean akan marah besar atau mungkin langsung merebut surat cerai itu dari tangannya, merobeknya berkeping-keping, lalu berkata dengan penuh kemarahan, "Calista, jangan bermimpi. Aku nggak akan pernah membiarkan kamu meninggalkanku." Namun di luar dugaan, Dean hanya meliriknya sekilas, lalu membalik dokumen itu ke halaman terakhir. Sambil menandatangani, dia berkata, "Ingat apa yang kamu bilang. Setelah aku tanda tangan, kamu nggak boleh mengacau lagi." Calista mengangguk dan berkata dengan santai, "Ingat. Aku nggak akan mengacau lagi." Sekarang, antara dia dan Dean hanya tersisa masa tenang selama tiga puluh hari. Bab 2 Hari pertama setelah penandatanganan surat cerai. Calista pergi ke rumah sakit. Di perjalanan dia melihat unggahan terbaru Arcelia di media sosial. Isinya adalah foto sebuah kamar kontrakan. Di sofa berwarna hijau, Arcelia duduk dengan kaki telanjang terjulur di pangkuan Dean, sambil mengangkat dua jari ke arah kamera dengan teks. [ Ingin juga ikut menjadi bagian dari masa lalumu. ] Saat Keluarga Syahrina bangkrut, Calista masih berada di semester enam. Ayahnya tidak sanggup menerima kenyataan dan bunuh diri dengan melompat dari gedung. Ibunya didorong oleh penagih utang hingga jatuh dari tangga dan menjadi vegetatif. Dalam satu malam, seluruh dunia meninggalkannya. Calista hanya membawa beberapa barang yang tersisa dan hidup terlunta-lunta. Di malam ketiga menginap di lorong rumah sakit, Dean yang kala itu bertengkar besar dengan keluarganya, menjual semua barang berharganya, lalu membawa uang 36 juta dan menemukannya. Dia berkata, "Calista, sekarang aku juga sama sepertimu, nggak punya rumah." "Calista, bisakah kamu mengasihaniku? Ajak aku berkelana bersamamu?" Calista tertegun, lalu menangis sesenggukan di pelukan Dean, memakinya sebagai orang paling bodoh sedunia. Dean menghapus air matanya dengan panik, sambil tersenyum. "Iya, di hadapan Calista, Dean akan selamanya jadi orang paling bodoh." Dengan uang 16 juta, mereka menyewa kamar seluas 40 meter persegi untuk enam bulan. Dengan 6 juta, mereka mendekorasi tempat itu menjadi sebuah rumah. Calista yang masih kaku dalam memotong sayur dan memasak, membuatkan Dean mi telur-tomat kesukaannya. Saat itu, Dean merasa kesal dan mengangkat tubuh Calista ke pelukan, lalu memarahinya karena turun dari tempat tidur tanpa memakai alas kaki. Bahkan lamaran pun terjadi di kamar kecil itu. Ketika Dean kembali ke identitas aslinya sebagai putra sulung Keluarga Ramosh, dia memutar Calista di ruangan itu dan bersumpah, "Rumah ini selamanya hanya milik Calista." Sekarang, hanya karena Arcelia mengatakan ingin ikut menjadi bagian dari masa lalunya, Dean langsung melupakan segalanya. Air mata mengalir di pipi Calista, lalu segera diseka dengan cepat. Calista menarik napas dalam-dalam, lalu meninggalkan komentar di unggahan Arcelia sambil menekan tombol suka. [ Barang yang nggak aku inginkan lagi, memang cocok diberikan padamu. ] Kemudian, dia memperbarui layar. Unggahan itu sudah hilang. Namun, telepon dari Dean masuk dan memarahinya dengan suara tajam, "Calista, kamu ngamuk apaan, sih? Arcelia sampai menangis gara-gara kamu." "Aku nggak peduli kamu ada di mana sekarang, segera datang dan minta maaf pada Arcelia. Kalau nggak, jangan harap kamu dapat uang biaya pengobatan ibumu." Mendengar hal itu, Calista tidak bisa menahan diri dan tertawa kecil. Tujuh tahun lalu, saat dia bersikeras menolak bantuan Keluarga Ramosh dan ingin membayar sendiri biaya medis ibunya, Dean menggenggam tangannya dengan erat dan wajahnya memerah karena marah. "Calista, dia juga ibuku!" Namun sekarang, hanya karena Arcelia menangis, Dean langsung bersedia mencabut hak hidup satu-satunya yang tersisa untuk ibu Calista. Tangan yang memegang ponsel bergetar sedikit. Calista menjawab singkat, "Oke." "Apa?" Dean mengerutkan kening, mengira dia salah dengar. Calista menarik napas, suaranya tenang dan tidak merendah, "Biaya pengobatan ibuku bisa aku bayar sendiri." Selama tujuh tahun menikah dengan Dean, Calista tidak pernah berhenti bekerja. Sekarang dia sudah menjadi desainer yang cukup terkenal di dalam negeri. Tanpa Keluarga Ramosh, dia tetap mampu membayar semua biaya itu. Di seberang telepon, napas Dean terdengar memburu beberapa kali. Lalu dia tertawa saking marahnya, "Oke. Berani juga kamu!" Bab 3 Setelah mengakhiri panggilan, Calista tiba di rumah sakit. Baru saja keluar dari lift, dia melihat dokter penanggung jawab ibunya berlari tergesa-gesa menuju kamar perawatan. Jantungnya mencelos, Calista buru-buru mengejar. Direktur rumah sakit menahannya dengan wajah penuh kegelisahan, "Bu Calista, Pak Dean baru saja memberi instruksi. Seluruh rumah sakit di bawah nama Grup Ramosh dilarang menangani ibu Anda." "Kalau dalam satu jam Bu Calista tidak bisa membuat Pak Dean mengubah keputusan, kami harus memindahkan ibu Anda keluar dari rumah sakit." "Apa?" Wajah Calista seketika memucat. Dia segera menelepon Dean, tapi tidak diangkat. Mengirim pesan juga tidak dibalas. Akhirnya, Calista hanya bisa tertawa getir dan turun ke lantai dasar, lalu pergi ke rumah kecil tempat Dean tinggal bersama Arcelia. Sebelum masuk ke dalam, dia sudah mendengar suara tawa dari dalam rumah. "Kak Dean, apakah cara ini benar-benar berhasil? Kalau Kak Calista membawa Tante ke rumah sakit lain gimana? Kalau begitu, bukankah kamu nggak bisa mengendalikan Kak Calista lagi?" Arcelia berkedip manja dan berkata dengan suara lembut. Dean menjawab dengan malas, "Dia nggak berani. Seluruh Keluarga Ramosh tahu hal yang paling nggak bisa dia lepaskan adalah si tua bangka itu." "Kalau bukan karena ibunya ada di tanganku, mana mungkin aku berani sebegitu terang-terangan bersamamu? Dia pasti akan menyerah." Jadi, ini alasan Dean berubah hati? Karena dia punya kelemahan Calista, jadi dia bisa bertindak semena-mena. Arcelia terkekeh pelan, lalu tiba-tiba ragu dan bertanya, "Kak Dean, tapi bagaimanapun juga itu ibunya Kak Calista. Apa kamu nggak terlalu berlebihan?" Dean menaikkan alis. Cahaya lampu memantul dingin pada gelang jam logamnya. "Kalau mengingat bagaimana aku dulu sampai harus berlutut di depan seseorang yang hampir mati, aku merasa jijik setengah mati." Calista berdiri di depan pintu. Seluruh tubuhnya terasa membeku. Yang disebut Dean sebagai momen berlutut itu terjadi pada hari pernikahan mereka. Saat itu, semua orang mengatai ibu Calista pembawa sial, bahkan di ambang kematian pun masih dianggap menyusahkan keluarga. Hanya Dean satu-satunya yang saat itu memaksa masuk, mendorong orang-orang yang mencoba menghalangi, lalu bersikeras menarik Calista menuju rumah sakit. Di depan ranjang tempat ibu Calista terbaring sebagai vegetatif, Dean berlutut. "Ibu, tenang saja. Aku pasti akan menjaga Calista sebaik mungkin. Aku akan membuatnya jadi wanita paling bahagia di dunia." "Ibu, bertahanlah. Selama aku masih hidup, aku nggak akan membiarkan Ibu dan Calista diperlakukan tidak adil." Ternyata masa berlaku sumpah itu hanya tujuh tahun. Jantung Calista terasa seperti dicabik-cabik. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi air mata justru jatuh terlebih dahulu. Ternyata begini rupanya rasa sakit yang paling dalam. Setelah mengusap air matanya, Calista mengangkat tangan dan mendorong pintu masuk. Sebuah gelas pecah segera menghantam lantai di dekat kakinya. Dean duduk dengan kaki bersilang, memeluk Arcelia sambil tersenyum mengejek. "Bukannya kamu merasa hebat? Mau apa datang ke sini?" "Kembalikan akses pengobatan ibuku. Aku bisa lakukan apa pun yang kamu mau." Calista menunduk dan terdiam dengan tenang. Dean terkekeh, suara bass-nya terdengar jelas di seluruh ruangan, "Oke, kalau itu permintaanmu, minta maaf dulu sama Arcelia." "Baik," jawab Calista tanpa sedikit pun keraguan. Namun, Arcelia tampil tidak puas. Dia mencemberutkan bibir dan berkata dengan manja, "Kak Calista kelihatannya nggak tulus. Aku mau seperti di drama-drama itu, Kak Calista harus berlutut meminta maaf." Mata Dean langsung berbinar. "Arcelia benar. Calista, kalau kamu nggak menunjukkan ketulusan, bagaimana aku bisa membantumu? Ayo cepat, berlutut dan minta maaf." Setelah berkata demikian, dia mengubah posisi duduk, menatap Calista dengan minat dan menunggu reaksinya. Calista tahu, Dean hanya ingin melihat dirinya panik dan kehilangan kendali. Seperti saat menghadiri pernikahan teman mereka. Padahal sudah diinformasikan jauh sebelumnya bahwa akan ada wawancara media. Namun, Dean tetap mencium Arcelia dengan penuh gairah di depan kamera, meninggalkan Calista sendirian menghadapi banjiran pertanyaan dari media. Setelah itu, Dean bahkan berkata dengan tegas, "Arcelia penakut. Dia mudah kaget kalau menghadapi media. Kamu 'kan nggak, kamu sudah terbiasa." Karena dianggap terbiasa, Calista kehilangan hak untuk menolak. Meski hatinya berdarah, wajahnya tetap harus tampak tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti sekarang, menghadapi tatapan Dean dan Arcelia yang jelas-jelas sedang menonton drama, Calista hanya meletakkan tasnya ke lantai. Lalu, dia berlutut dengan pelan. Bunyi keras terdengar saat lututnya menghantam pecahan kaca di lantai. Pecahan itu menancap ke dalam kulitnya, darah mengalir membasahi ubin. Namun, Calista seolah tidak merasakan apa pun. Dia hanya membuka mulut dan berkata lembut, "Maaf, Bu Arcelia." Dean tertegun. Secara refleks, dia mendorong Arcelia dari pelukannya dan mengulurkan tangan hendak menolong Calista. Namun sebelum dia bisa menyentuh Calista, suara tangis Arcelia terdengar. "Kak Dean, aku takut darah .... aku pingsan kalau lihat darah ...." Dean langsung berhenti, lalu mengangkat Arcelia di pinggang dan bergegas membawanya ke rumah sakit. Calista ingin mengejar, tetapi lututnya kehilangan tenaga dan dia jatuh kembali ke lantai. Pecahan kaca menusuk dagingnya semakin dalam. Namun, dia tetap tidak merasakan sakit. Dia hanya meraih ujung baju Dean dengan putus asa, "Dean, biaya medis ibuku ...." "Calista!" Dean memotong ucapannya. "Kenapa kamu egois sekali? Nggak lihat Arcelia hampir pingsan? Kamu masih bisa memikirkan ibumu yang sudah seperti mayat hidup itu." "Kukasih tahu kamu nih, kalau Arcelia sampai kenapa-kenapa hari ini, kamu dan ibumu sama-sama harus menanggung akibatnya!" Setelah berkata demikian, Dean menendang Calista hingga terjatuh, lalu pergi terburu-buru. Tinggallah Calista yang menatap punggungnya menjauh dengan pandangan penuh keputusasaan. "Dean, aku benar-benar sudah salah mencintaimu." Setelah menenangkan diri beberapa detik, Calista menekan nomor rumah sakit. Bab 4 Petugas ambulans segera tiba. Setelah melakukan perban darurat, Calista langsung bergegas menuju kamar rawat ibunya. Begitu masuk, dia melihat kepala perawat sedang bersiap mencabut selang oksigen ibunya. "Berhenti! Kalian semua berhenti!" "Aku istri Dean, ini rumah sakit milik Keluarga Ramosh. Siapa yang memberi izin kalian menyentuh ibuku?" Calista menggigit bibirnya sampai berdarah, suaranya keras dan bergetar. Kepala perawat tampak serba salah saat berbicara, "Bu Calista, ini perintah langsung dari Pak Dean. Kami nggak berani melanggar. Mungkin ... Anda bisa bicarakan ulang dengan Pak Dean?" Telepon segera tersambung. Suara Dean terdengar penuh ketidaksabaran. "Ada apa lagi?" Calista menghirup napas dan berkata dengan suara gemetar, "Dean, bukankah kamu bilang selama aku berlutut, kamu akan melepaskan ibuku? Mereka sekarang mau mencabut oksigen ibuku. Bisa nggak kamu ...." "Nggak bisa." Dean memotongnya tanpa ragu. "Memang Arcelia nggak terluka tadi, tapi aku tetap nggak puas dengan sikapmu. Tenang saja, aku sudah tanya dokter. Cuma cabut selang, ibumu nggak akan mati semudah itu." "Tapi ibuku sudah mati otak, dokter bilang ...." Dean mengerutkan kening, jelas tidak ingin mendengar lebih jauh, "Apa kata dokter nggak penting. Aku masih harus menidurkan Arcelia. Sudah, aku tutup." Telepon ditutup dengan kasar. Kepala perawat mengangkat tangan tanda tak berdaya, lalu mencabut mesin pernapasan. Detak jantung ibu Calista langsung berubah menjadi suara rintihan lemah. Pasien yang sudah mengalami mati otak hanya bisa bertahan hidup dengan bantuan ventilator. "Tidak ... jangan!" Calista mencoba menerjang maju, tapi petugas medis menahannya dengan kuat. Dia hanya bisa menyaksikan ibunya menggigil, kejang, lalu perlahan menjadi tenang. Ketika dokter mengonfirmasi kematian, seluruh proses hanya berlangsung tiga menit. Hanya dalam tiga menit ... Calista kehilangan satu-satunya keluarga yang masih hidup di dunia ini. Biang keladinya adalah Dean, pria yang dulu berkata akan menjaganya seumur hidup. Pada saat yang sama, Arcelia memperbarui unggahan di media sosialnya, sebuah hasil pemeriksaan kehamilan. [ Tolong ucapkan selamat untuk seseorang yang sebentar lagi akan menjadi ayah. ] Ibu Dean menjadi orang pertama yang menekan tombol suka. [ Luar biasa sekali Arcelia, Cuma beberapa kali saja sudah berhasil hamil. Nggak seperti seseorang yang nggak hamil-hamil itu. ] [ Minggu depan biar Dean bawa kamu pulang makan bersama keluarga. ] Arcelia membalas dengan satu emotikon malu-malu. Calista menekuk sudut bibirnya. Jika dibandingkan dirinya, justru mereka berdua yang terlihat seperti ibu mertua dan menantu. Air matanya membasahi surat kematian ibunya. Calista duduk sendirian di ruang jenazah hingga fajar menyingsing. Waktu resmi perceraian dengan Dean masih tersisa 28 hari. Dalam beberapa hari berikutnya, Calista menanggung sendiri seluruh proses pemakaman ibunya. Mulai dari penyiapan jenazah, kremasi, hingga pemakaman. Seluruh rangkaian itu memakan waktu tujuh hari. Selama tujuh hari itu, Dean tidak pulang sekali pun. Namun, media sosial Arcelia memperbarui unggahan secara rutin. Dean menemaninya melakukan pemeriksaan kehamilan. Dean menemaninya memilih ranjang bayi. Dean mencarikan jimat keselamatan untuk Arcelia dan calon bayi .... Semua hal yang pernah Calista impikan untuk dilakukan bersama Dean, Dean malah melakukannya bersama Arcelia. Hari ke-9 masa tenang perceraian. Dean tiba-tiba mengirimkan banyak pesan kepada Calista. Semua isinya hanyalah tuduhan. [ Ke mana kamu bawa ibumu? Aku cuma main-main sama kamu, apa perlu sampai kamu sembunyikan ibumu? ] [ Memang benar kata Ibu, kamu memang terlalu manja. Cepat bawa ibumu kembali ke rumah sakit. Jangan sampai ibumu sengsara hanya karena kamu mau melawanku. ] .... Namun, Calista hanya membalas satu kalimat. [ Nggak perlu. ] Dua kata itu cukup untuk membuat Dean pulang ke vila tengah malam. Dia menggenggam tangan Calista dengan erat dan wajahnya penuh amarah, "Apa maksudmu? Apa itu 'nggak perlu'? Apa kamu mau memutus hubungan denganku?" "Calista, aku peringatkan kamu ...." "Selamat ya." Calista memotong perkataannya, tatapannya penuh sinis. "Sebentar lagi jadi ayah." Tangan Dean terlepas seketika. Dia kembali duduk ke sofa, jelas terlihat rasa bersalah yang disembunyikannya. Namun setelah itu Dean seolah teringat sesuatu, ekspresinya melunak. "Kamu bawa ibumu pergi karena Arcelia hamil, ya? Kamu takut aku mengabaikanmu karena Arcelia mengandung, jadi kamu sengaja cari perhatianku?" "Calista, kamu nggak perlu melakukan semua itu. Meskipun Arcelia melahirkan, kamu tetap satu-satunya istriku. Itu nggak akan berubah sampai mati." Dean tersenyum puas, lalu mengambil sebuah gelang turmalin merah dari sakunya. Calista mengenali gelang itu. Dia pernah melihat gelang itu di media sosial Arcelia. Barang edisi tunggal dari balai lelang yang hanya ada satu-satunya di dunia. Arcelia merasa gelang itu tua dan kuno, lalu membuangnya ke tempat sampah sambil menulis. [ Cuma perempuan tua yang suka pakai barang seperti ini. ] Melihat Calista melamun, Dean mengira dia terharu sampai tidak bisa berkata-kata. Dia tersenyum dan melanjutkan, "Karena kamu sudah berusaha keras memanjakanku, besok ikut ke acara keluarga di rumah lama." Calista mengerutkan kening, hendak menolak. Namun, Dean bertanya dengan nada heran, "Dokumen yang kamu suruh aku tanda tangan kemarin itu apa? Aku nggak menerima pemberitahuan transaksi apa pun." Jantung Calista serasa berhenti sejenak. Tanpa sadar, kedua tangannya saling menggenggam erat. Ternyata ... Dean masih belum tahu bahwa dia menandatangani surat cerai. Bagus juga. Saat pergi nanti, dia tidak perlu lagi menjelaskan apa pun kepada Dean. Memikirkan hal itu, Calista pun meredakan emosinya dan berkata datar, "Nggak penting. Aku juga nggak jadi ingin barang itu." Dean tidak curiga. Melihat Calista yang mengenakan pakaian sederhana, hatinya justru terasa hangat. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi telepon Arcelia masuk. "Kak Dean, bayinya bandel lagi, cepat datang temani aku." Secara naluriah, Dean menoleh ke Calista. Dulu, kalau Arcelia menelepon seperti itu, Calista pasti akan marah besar dan memaksa Dean tidak boleh pergi. Atau malah langsung mendorongnya keluar dari vila dan membanting pintu, untuk menunjukkan kekesalannya. Namun kali ini, Calista tidak melakukan apa pun. Dia hanya berbalik dan menaiki tangga pelan-pelan, meninggalkan Dean dengan bayangan punggungnya yang rapuh. "Calista!" Dean memanggilnya, suaranya penuh kekesalan yang tidak bisa dijelaskan. "Kamu nggak dengar? Arcelia manggil aku untuk temani dia dan anaknya." Calista mengangguk, langkahnya tidak berhenti. "Pergilah. Hati-hati di jalan." Dean terpaku di tempat. Untuk sesaat, dia bahkan seperti kehilangan arah. Akhirnya, suara Arcelia yang merajuk dari telepon menariknya kembali. Dean buru-buru menjawab, "Aku segera ke sana." Bab 5 Hari ke-10 masa tenang perceraian, Calista pergi ke kedutaan untuk mengurus visa. Pukul tujuh malam, dia tiba tepat waktu di rumah lama Keluarga Ramosh. Pesta ulang tahun diselenggarakan dengan sangat megah, tamu-tamunya semua berasal dari keluarga ternama dalam lingkaran elite. Dulu, Keluarga Syahrina juga termasuk di dalamnya. Ibu Dean, Narcissa, sering berkata, "Banyak sekali gadis di kota ini, tapi hanya Calista yang pantas untuk Dean. Kalau nanti Calista menikah masuk keluarga kita, aku pasti akan memperlakukannya seperti putriku sendiri." Namun setelah Keluarga Syahrina bangkrut, Narcissa-lah yang melemparkan cek 10 ribu dolar ke wajah Calista di pemakaman ayah Calista. Kemudian, dia memperingatkan Calista untuk mengambil uang itu dan pergi agar tidak merusak masa depan Dean. Setelah menata emosinya, Calista melangkah masuk ke kediaman lama itu. Begitu masuk, dia langsung merasakan tatapan aneh dari sekeliling. Tatapan penuh ejekan, meremehkan, dan menunggu drama terjadi. Di tengah keramaian, Narcissa menggenggam tangan Arcelia sambil menyapa para tamu elite dengan ramah, "Iya, ini Arcelia, pacar Dean. Sudah tiga bulan hamil." Seseorang sengaja memancing masalah, "Bukannya menantu kalian itu bermarga Syahrina? Kalian nggak takut dia marah melihat kalian terang-terangan begini?" Narcissa memutar bola matanya, lalu berkata dengan sinis, "Takut apa? Gadis miskin yang hidupnya bergantung pada putraku, apa yang perlu ditakuti?" "Kalau bukan karena Dean berhati baik dan mau menampungnya, sekarang dia entah sudah mati di mana. Lagian, dia itu mandul. Kalau memang mampu, suruh saja dia melahirkan sendiri." Calista pernah mengandung anak Dean tiga tahun lalu. Saat itu, Dean mengajak Calista berkendara untuk melihat laut. Namun, rem mobil mendadak blong dan mereka terlibat tabrakan beruntun. Dalam detik-detik genting, Calista langsung melindungi Dean dengan tubuhnya tanpa berpikir panjang. Kaca dari jendela mobil menghujani kulitnya. Dia pingsan di tempat. Ketika membuka mata lagi, dia sudah berada di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Calista sedang hamil, tetapi telah keguguran dan kemungkinan besar dia tidak akan bisa menjadi seorang ibu lagi untuk selamanya. Mendengar kabar itu, Calista menangis semalaman. Namun, kepala pelayan kemudian menyampaikan satu hal lagi kepadanya bahwa Dean diselamatkan oleh seorang gadis. Dean sangat berterima kasih dan ingin merekrut gadis itu menjadi asistennya di perusahaan. Gadis itu adalah Arcelia. Kilatan ejekan melintas di mata Calista. Dia menjauh dari kerumunan, lalu berlari sendiri ke taman belakang untuk menenangkan diri. Namun, Arcelia tidak melepaskannya begitu saja. Dia diam-diam menyusul dan berdiri di sampingnya. "Kak Calista, kenapa nggak masuk? Takut melihat Ibu terlalu baik sama aku, terus kamu nangis?" Dia berkedip-kedip manja, takut Calista tidak sadar bahwa dia sedang memprovokasi. "Lihat, ini gelang yang baru saja diberikan Ibu padaku. Katanya semua nyonya besar Keluarga Ramosh pasti punya. Bagus nggak?" Arcelia memamerkan gelang giok di pergelangan tangannya dengan penuh kepuasan. Calista sudah tidak peduli lagi. "Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?" "Aku hanya ingin bilang bahwa Kak Dean sudah lama nggak suka kamu. Ibu juga muak sama kamu. Jadi untuk apa kamu masih tebal muka mempertahankan posisi Nyonya Ramosh? Lebih baik serahkan saja padaku." "Kemarin malam Kak Dean juga bilang ingin membuat aku berdiri di sampingnya secara resmi dan nggak akan membiarkan aku atau anak kami diperlakukan nggak adil." Arcelia berkata penuh kemenangan, tetapi Calista justru tersenyum. "Kalau begitu selamat untukmu." Baik Keluarga Ramosh maupun Dean sendiri ... Calista sudah tidak menginginkan mereka. Setelah berkata demikian, Calista berbalik hendak pergi. Namun, entah apa yang dipikirkan Arcelia, dia tiba-tiba menjatuhkan diri ke tanah sambil menjerit, "Tolong! Seseorang, tolong aku! Perutku sakit!" Ketika Dean berlari masuk ke taman, dia melihat Arcelia memegangi perutnya sambil meringis kesakitan. Tanpa berpikir panjang, Dean mengangkat tangannya dan menampar Calista dengan keras. "Calista! Kejam sekali kamu! Bahkan wanita hamil pun kamu tega menyakitinya!" Calista menahan wajahnya, sorot matanya dipenuhi kekecewaan. "Aku nggak melakukannya." "Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri!" Dean mencengkeram pergelangan tangan Calista begitu kuat hingga hampir mematahkan tulangnya. "Kamu sudah lupa sama pelajaran dulu? Kalau sampai terjadi apa-apa sama Arcelia, aku akan membuat ibumu yang sudah mati itu dikremasi lagi sampai jadi abu!" "Nggak usah tunggu nanti. Sekarang juga bisa." Suara keras itu berasal dari Narcissa, yang datang bersama beberapa pengawal dengan penuh amarah. Dia langsung memerintahkan mereka menahan Calista. Arcelia terisak sambil menggeleng, "Bibi, Kak Dean ... sudahlah, Kak Calista juga bukan sengaja. Dia hanya iri karena aku hamil anak Kak Dean. Aku bisa mengerti." Lalu, dia berbalik dan menjatuhkan diri berlutut di depanku. "Begini saja, Kak Calista boleh memukul aku dua kali lagi. Asal kamu nggak marah, aku akan lakukan apa pun yang kamu minta. Aku hanya mohon ... mohon jangan sakiti bayiku." Calista hampir tertawa karena marah. "Aku bilang aku nggak mendorongnya. Kalau kalian nggak percaya, taman belakang ada CCTV. Tinggal lihat saja kalian langsung tahu ...." Wajah Arcelia langsung pucat. Dia menggigit bibirnya, lalu pura-pura pingsan. Kemarahan Dean pun meledak. Dia menyeret Calista ke tepi kolam renang, mencengkeram rambutnya dan menekan kepalanya ke dalam air. Satu kali, dua kali .... Air kolam memenuhi mulut dan hidung Calista dan masuk ke paru-parunya. Rasa perih membuat penglihatannya menggelap, darah terasa mengalir di tenggorokan, dan telinganya berdengung. Di atas, entah sejak kapan Arcelia sudah "bangun". Dia meringkuk manja dalam pelukan Narcissa, tampak sangat menyedihkan. Para tamu di sekitar mulai bergosip pelan, "Pak Dean keterlaluan! Ini benar-benar seperti mau membunuh." "Memang pantas, siapa suruh dia menyakiti orang lain ...." Setengah jam kemudian, Dean akhirnya melepaskan tangannya. Dia berjalan ke sisi Arcelia dan berkata dengan lembut, "Jangan takut. Aku sudah bela kamu. Perutmu masih sakit nggak? Aku bawa kamu ke rumah sakit." Lalu, dia mengangkat Arcelia seperti mengangkat pengantin dan pergi tanpa menoleh sedikit pun. Narcissa memandang Calista dari atas dengan penuh jijik, lalu menendangnya sekali sebelum pergi. Semua orang pergi meninggalkan tempat itu. Hanya Calista yang tersungkur di pinggir kolam dengan tak berdaya. Setelah air matanya habis, dia menatap cincin kawinnya dan tiba-tiba tertawa getir. Dia meraih ponsel dan menekan sebuah nomor asing, lalu berkata dengan suara serak, "Dulu kamu bilang bersedia membayar 600 miliar untuk ditukar dengan bukti penggelapan pajak Keluarga Ramosh. Masih berlaku nggak?" Bab 6 Sejak hari itu, Calista tidak pernah pulang ke rumah lagi. Dia tinggal di hotel selama belasan hari. Selama itu, demi menghukumnya, Dean setiap hari memperbarui media sosialnya dengan postingan tentang Arcelia. Dia merayakan ulang tahun Arcelia dan hadiah yang dia berikan adalah bros permata yang dulu sangat diinginkan Calista. Dia membawa Arcelia pindah ke rumah dan seprai yang digunakan adalah model yang dulu dipilih Calista sendiri. Dia berjanji akan mengadakan pesta pernikahan untuk Arcelia dan lokasi yang dipilih adalah gereja tempat Dean dan Calista dulu menikah. Teman-teman dunia elite pun ramai memberi selamat. Mereka berkata Dean dan Arcelia adalah pasangan sempurna. Mereka berkata Dean akhirnya sadar dan sudah seharusnya menendang Calista, si istri tua yang tidak menarik itu. Bahkan ada yang menulis. [ Kalau mau sekalian, jangan cuma pesta. Cerai saja langsung. Nikahi Arcelia. ] Komentar itu berada di posisi teratas. Dean tidak membalas. Keesokan harinya, komentar itu menghilang. Calista tidak peduli hal-hal kecil itu. Dia sepenuhnya fokus pada transaksi dengan Xeno. Hari ke-29 masa tenang perceraian. Calista kembali ke rumah yang dulu dia tinggali bersama Dean. Sesuai dugaan, seluruh rumah sudah berubah menjadi gaya yang disukai Arcelia. Foto-foto dan pakaian-pakaiannya semua telah digunting dan dirusak. Untungnya, dokumen penting dan surat cerai yang dia sembunyikan di lemari tidak ditemukan. Setelah mengambil semua dokumen, Calista bersiap untuk pergi. Namun, Arcelia muncul dengan perut hamilnya yang sudah menonjol dan berdiri menghalangi pintu. "Calista, nggak nyangkan kamu setahan ini ya. Sudah aku permalukan jadi bahan tertawaan seluruh kaum elite, tapi kamu masih saja menempel di Keluarga Ramosh dan nggak mau pergi." "Yah, wajar juga. Ayahmu lompat bunuh diri, ibumu baru saja mati. Tentu saja kamu harus memegang erat Keluarga Ramosh, 'kan? Siapa lagi di kota ini yang mau perempuan sepertimu?" Setelah berkata demikian, mata Arcelia tampak berbinar seakan mengingat sesuatu yang lucu. Dia tersenyum polos ke arah Calista, "Kamu tahu kenapa Kak Dean begitu mencintaiku?" "Karena aku bilang ke dia, waktu kecelakaan mobil itu, kamu meninggalkan dia demi menyelamatkan diri. Kamu kabur duluan. Lalu aku yang menyelamatkan dia dari mobil." "Aku yang membawanya ke rumah sakit. Sementara kamu terjepit di kursi penumpang, darahmu mengalir ke mana-mana. Aku melihat sendiri kamu keguguran, lho." "Termasuk ibumu. Aku yang menyuap dokter itu, suruh dia kasih tahu Dean bahwa mencabut alat bantu napas dari pasien koma nggak apa-apa ... supaya kamu bisa menyaksikan ibumu mati tepat di depan matamu." "Calista, lihat semua yang sudah kulakukan. Mana mungkin kamu bisa mengalahkanku?" Tas tangan itu jatuh ke lantai dengan suara keras. Calista akhirnya tidak bisa menahan diri. Dia mengangkat tangan dan menampar Arcelia. Detik berikutnya, bagian belakang lehernya tiba-tiba terasa sakit. Seseorang memukulnya hingga pingsan. Saat Calista sadar kembali, dia dan Arcelia sudah sama-sama terjebak di dalam mobil ringsek akibat kecelakaan, persis seperti tiga tahun lalu. Bedanya, kali ini yang harus membuat pilihan adalah Dean. Setelah memeriksa kondisi mobil, petugas penyelamat berkata dengan wajah tegang, "Pak Dean, Bu Calista dan Bu Arcelia sama-sama terjepit di bagian depan mobil yang rusak parah. Waktu sangat mendesak. Kami hanya bisa menyelamatkan satu orang lebih dulu. Siapa yang harus kami selamatkan?" Dean tidak ragu sedikit pun, "Selamatkan Cali ...." Belum sempat kata-kata itu selesai, Arcelia memegang perutnya dan berkata dengan lemah, "Kak Dean ... selamatkan Kak Calista saja. Dia sudah bersamamu tujuh tahun. Aku ... aku hanya pernah menyelamatkan nyawamu sekali." "Kamu pilih dia saja. Aku dan anak ini ... nggak usah dipikirkan." Dean tertegun sejenak, kata-katanya tertelan kembali. "Selamatkan Arcelia." Petugas penyelamat mengerutkan kening. "Pak Dean, Anda yakin? Bu Arcelia hanya terhalang kantong udara. Sementara Bu Calista, seluruh kakinya terjepit. Cedera jauh lebih parah. Kalau salah penanganan, risiko amputasi ...." "Aku bilang, selamatkan Arcelia." Suara Dean sedingin es. "Calista adalah istriku. Walaupun harus amputasi, Keluarga Syahrina bisa menanggung hidupnya seumur hidup. Tapi Arcelia nggak bisa. Dia pernah menyelamatkanku. Aku harus bertanggung jawab." Petugas itu tidak lagi membujuk dan segera mengambil alat untuk membuka pintu. Calista hanya bisa menatap mereka, melihat bagaimana Arcelia diselamatkan dengan hati-hati. Sementara di sisi lain, karena tekanan logam, pecahan besi menancap dalam ke pahanya. Rasa sakit yang menusuk tulang menyebar ke seluruh tubuhnya. Dalam pikirannya yang buram, dia seolah kembali ke tujuh tahun lalu. Saat dia terjatuh, Dean setengah berlutut di hadapannya dan meniup pelan luka di kakinya dengan wajah cemas. "Calista, kamu mau bikin aku cemas setengah mati, ya?" Kini, dia terjebak dalam mobil dan darah mengucur tanpa henti. Yang terakhir kali dilihatnya adalah punggung Dean yang memeluk Arcelia dan membawanya pergi semakin jauh, tanpa menoleh ke arahnya sekali pun. Bab 7 Calista kembali sadar ketika dia sudah berada di ruang ICU rumah sakit. Dokter memeriksa lukanya, wajahnya penuh rasa syukur. "Selisih satu milimeter saja, pecahan besi itu sudah akan menusuk arteri utama kamu. Untung kamu masih beruntung dan dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Kalau nggak, jangankan kaki, nyawamu pun nggak akan bisa diselamatkan." Calista berusaha memaksakan senyuman, tetapi pikirannya justru kembali pada suara-suara yang dia dengar saat dirinya setengah sadar. "Pasien ini kehilangan terlalu banyak darah, kenapa bank darah rumah sakit belum ada kabar?" "Jangan tanya lagi. Pacar Pak Dean mengaku sakit perut, lalu PAk Dean langsung memerintahkan bank darah rumah sakit ditutup. Semua persediaan darah harus disiapkan untuk pacarnya, katanya sebagai jaga-jaga." "Ini nggak masuk akal! Kalau bank darah nggak boleh dipakai, terus bagaimana dengan pasien ini?" "Cuma bisa mengandalkan tubuhnya sendiri." Jadi Dean ... benar-benar menginginkannya mati? Mungkin karena rasa sakit sudah sampai batas, bahkan hatinya pun ikut mati rasa. Pada saat ini Calista bahkan tidak bisa meneteskan setitik air mata pun. Dia hanya bersyukur bahwa masa tenang perceraian mereka tinggal beberapa jam terakhir. Malam itu, Dean datang menjenguknya. Tatapannya tertuju pada paha Calista yang penuh perban dan dia terdiam lama sebelum akhirnya membuka mulut, "Arcelia pernah menyelamatkanku. Aku harus bertanggung jawab padanya." Calista tidak menjawab. Dia hanya menatap pria yang telah dia cintai dan perjuangkan selama tujuh tahun dengan sangat serius. Dia ingin bertanya, apakah Dean masih ingat betapa besar cintanya dulu? Ingin bertanya, apakah dia masih ingat bahwa dalam kecelakaan beberapa tahun lalu, Calista juga kehilangan seorang anak demi menyelamatkannya? Ingin bertanya, apakah Dean pernah berpikir ... kalau dirinya benar-benar mati, apa yang akan dilakukan Dean? Calista memikirkan banyak hal. Namun, ketika kata-kata itu sampai di bibir, yang keluar hanya satu kalimat sederhana, "Aku tahu." Dia tahu Dean tidak mencintainya. Tahu Dean tidak pernah peduli pada anak yang pernah hilang itu. Tahu bahwa bahkan jika dia mati, Dean tidak akan peduli sedikit pun. Selain itu juga tahu, setelah hari ini, dia dan Dean tidak akan punya hubungan apa pun lagi. Calista menarik napas panjang, lalu perlahan membuka suara, "Dean, kita cer ...." Tiba-tiba ponsel Dean berdering. Suara manja Arcelia terdengar dari speaker, "Kak Dean, Tante bawa fotografer ke rumah. Kita mau foto keluarga. Tinggal kamu yang belum datang." Wajah Dean berubah panik. Dia refleks melihat ke arah ranjang, tetapi hanya melihat Calista sudah memejamkan mata. 'Calista tidak peduli lagi sama aku?' Sebuah kalimat tiba-tiba muncul di benak Dean. Namun, dia buru-buru menggelengkan kepala. Tidak mungkin. Calista mencintainya begitu dalam. Lagi pula ... bukankah ibu Calista juga harus bergantung pada Keluarga Ramosh untuk bertahan hidup? Memikirkan hal itu, tatapan Dean tiba-tiba melunak. "Calista, kamu istirahat yang baik. Setelah kamu keluar dari rumah sakit, aku akan menjemput ibumu secara pribadi." Pintu kamar tertutup. Calista mengambil ponselnya dan menelepon kepala pelayan. "Kirimkan tasku yang berisi semua dokumen penting ke rumah sakit." Lalu, dia mengirim pesan pada Xeno. [ Jemput aku. ] Satu jam kemudian, Calista menghapus semua kontak Dean, duduk di kursi roda, dan meninggalkan rumah sakit. Pada saat yang sama, ketika Dean sedang berpose untuk foto keluarga, sebuah pesan dari pengacaranya muncul di ponselnya. [ Selamat Pak Dean, hubungan perceraian Anda dengan Bu Calista telah resmi berlaku. ]