Đang tải thông tin quảng bá...
Sahabat Istriku yang Memikat Hasrat
"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. D...
Chương (1)
第1章
"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi."
Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol.
"Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak."
Bab 1
Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali.
Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku.
"Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding.
Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari.
Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi.
Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku.
Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat.
Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya.
Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda.
Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya.
Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar.
Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah.
"Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!"
Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya.
Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria.
Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan.
"Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis.
Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang."
"Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu."
Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali.
Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali."
Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?"
Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong.
Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan?
"I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau.
Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri."
Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru.
Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya.
Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?"
AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.
Bab 2
Bilqis mengulurkan tangannya yang lembut untuk merabanya beberapa kali. Seketika, aku merasa sensasi yang begitu nikmat menjalar dari bawah tubuhku. Sekujur tubuhku terasa kebas seolah disengat oleh aliran listrik.
Gerakannya ini sama sekali bukan sedang meraba, melainkan sedang membantuku untuk melampiaskan hasrat. Diriku yang memang sudah haus selama beberapa hari ini, kini malah harus dipermainkannya seperti ini. Kobaran api dalam hatiku terasa semakin membara dan hampir saja membakar habis seluruh tubuhku.
Aku tak kuasa gemetar perlahan.
Di saat itulah, Bilqis baru menarik kembali tangannya dan berkata dengan ekspresi aneh, "Baru saja kusentuh, barangmu ini benar-benar tebal ya. Pantas saja Shila nggak tahan."
Aku buru-buru mengenakan kembali celanaku. Kalau tidak, mungkin aku benar-benar akan menyerang Bilqis saat ini juga.
"Nggak bisa salahin aku, dong. Nggak mungkin aku terus menahan diri dan nggak melampiaskannya. Tersiksa sekali," gumamku.
Bilqis berdiri perlahan, lalu duduk di pangkuanku. Bokongnya yang sintal itu mengenai bagian kemaluanku! Ditindih olehnya, aku jadi benar-benar ingin melakukan seks dengannya.
"Aku datang untuk menasihatimu, memangnya kamu nggak bisa lebih pelan sedikit? Kalau nggak, nanti istrimu ribut mau cerai denganmu, aku jadi nggak ada kesempatan lagi ketemu sama kamu."
Dia bahkan menggerakkan bokongnya sedikit. Gesekan itu membuatku merasa geli dan darah di sekujur tubuhku langsung mendidih.
'Apa sih yang dilakukan Bilqis ini? Tadi dia merabaku, sekarang malah duduk di pangkuanku. Jangan-jangan, dia mau?'
"Bukan masalah aku kasar atau nggak. Intinya, baru saja aku masukkan, dia sudah ngeluh kesakitan."
Mendengar ucapanku, Bilqis tertawa pelan. "Kamu ini ... sepertinya memang agak susah ya. Gimana kalau kamu jangan lakukan itu lagi sama istrimu ke depannya? Hidup saja dengan baik dan benar."
Kedua tanganku tak kuasa memeluk pinggangnya. Pinggangnya ramping dan lembut, rasanya benar-benar menyenangkan.
"Nggak bisa, dong? Kalau begitu aku pasti tersiksa menahannya."
Melihat Bilqis seagresif ini ... jangan-jangan dia mau menggantikan istriku?
Aku menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk bertanya, "Kalau aku benar-benar nggak tahan, gimana kalau kamu bantu aku?"
Bilqis memukulku dengan manja. "Kamu ngomong apaan, sih? Kamu ini suami sahabatku, kamu mau aku selingkuhin dia?"
Aku benar-benar kecewa. Ternyata, Bilqis ini bukan datang untuk membantuku mengusir rasa kesepian.
Kemudian, Bilqis melanjutkan, "Bukan harus seks 'kan, bisa pakai tangan atau mulut ...."
Sambil berbicara, dia membuat gerakan dengan tangannya dan mulutnya menganga membentuk huruf "O". Ingin sekali rasanya aku memasukkan kemaluanku ke dalamnya.
Mendengar ucapannya, aku menggelengkan kepala.
"Nggak bisa, nggak bisa. Kalau cuma sesekali sih nggak masalah. Kalau sampai tiap hari pakai tangan, nggak menarik sekali."
Mendengar ucapanku, Bilqis menghela napas dan turun dari pangkuanku, lalu duduk di sofa. "Haeh, kalau begitu kamu bilang sendiri gimana solusinya? Nggak mungkin kamu benaran cerai, terus cari yang baru, 'kan? Aku dan Shila sahabat baik, aku nggak mau lihat dia cerai, tapi juga nggak mau dia menerima penderitaan seperti ini."
Melihat bentuk tubuhnya yang menggoda, jelas sekali wanita ini adalah tipe yang tidak bisa dipuaskan. Secara logika, wanita secantik ini tidak seharusnya menikah dengan pria tua yang lemah syahwat. Dia pasti menahan diri dengan bersusah payah selama ini.
Memikirkan hal itu, aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya. Tanganku diulurkan memasuki rok pendeknya. Melihat pangkal pahanya yang kusentuh, Bilqis tidak tampak marah. Sebaliknya, dia malah sangat menikmatinya.
"Duh! Wira, nggak nyangka nyalimu sebesar ini sampai berani sentuh aku?"
Aku terkekeh, lalu menambah tenaga pada tanganku untuk menyentuh bagian intimnya. Dia menepis tanganku dengan manja.
"Ih, sebel. Aku ini bukan istrimu, kamu nyentuh mana sih?"
Dasar genit. Padahal waktu kusentuh jelas-jelas sudah basah semua, masih saja pura-pura.
Aku mengulurkan jari tengahku dan menyibak celah di antaranya. Aku ingin melihat seberapa lama dia bisa bertahan.
"Ugh ... ahh ... nggak boleh sentuh sana."
Wajah Bilqis memerah dan desah manjanya pun mulai terdengar.
Ternyata wanita ini memang tidak terpuaskan. Aku sudah menahan diri beberapa hari, hari ini harus kulampiaskan sepuasnya.
"Malam-malam begini kamu datang ke rumahku sendirian dengan pakaian seseksi ini. Jelas lagi godain aku, 'kan? Tadi bahkan sentuh-sentuh kejantananku. Sekarang aku sedang tersiksa, kamu harus puasin aku," bisikku di samping telinganya.
Jelas sekali, dia sudah tidak sanggup lagi bertahan. Kedua kakinya tanpa sadar terbuka lebar dan membiarkanku mempermainkannya dengan sesuka hati.
"Nggak bisa, kita sama-sama punya pasangan. Nggak boleh lakukan hal seperti itu." Bilqis masih ingin menjepit rapat kedua kakinya, tetapi telah kusingkirkan dengan sekuat tenaga.
"Sudah punya pasangan, tapi terus-menerus cari model pria di luar sana tiap hari. Nggak usah pura-pura deh kamu. Model pria itu nggak sehebat aku."
Usai bicara, aku mengangkatnya ke bahuku dan membawanya ke kamar. Dia tergeletak di bahuku dengan bokong yang menungging. Kedua kakinya bergoyang hebat.
"Lepaskan aku! Nyalimu benar-benar besar sekali!"
Aku melemparnya langsung ke ranjang dan mengangkat kedua kakinya untuk melepas sepatu hak tinggi. Telapak kaki yang mungil itu terpampang di hadapanku. Rasanya hangat dan sangat menggemaskan.
Aku mengangkat telapak kakinya dan mengendusnya dengan kuat. Semua wangi tubuhnya menembus penciumanku, membuat pikiranku kalut seketika. Darah di sekujur tubuhku seakan bergolak hebat.
"Bilqis, kamu benar-benar wangi. Kamu belum pernah coba yang sebesar ini, 'kan? Selanjutnya kamu rasakan dengan puas."
Bilqis berbaring di ranjang dengan kedua mata yang terpejam dan ekspresi penolakan.
"Aku ini sahabat istrimu, kita benar-benar nggak boleh ...."
Namun, tubuhnya tidak bisa berbohong. Kedua kakinya telah terbuka, menampakkan celana dalam berwarna putih di dalamnya yang telah basah kuyup.
Aku melepas celana dalamnya dengan kasar. Melihat pemandangan yang begitu menggoda di hadapanku, aku tidak bisa lagi menahan diri. Aku mengangkat kedua kakinya dan menghunjamnya dengan keras.