Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat

Đang tải thông tin quảng bá...

Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat

GoodNovel Hoàn thành

Saat usia kehamilannya memasuki 25 minggu, Elara memergoki suaminya berselingkuh saat pemeriksaan kehamilan. Tubuhnya gemuk, penampilannya jelek. Dia dengan susah payah menopang perutnya. Dia bahkan d...

Chương (1)

第1章

Saat usia kehamilannya memasuki 25 minggu, Elara memergoki suaminya berselingkuh saat pemeriksaan kehamilan. Tubuhnya gemuk, penampilannya jelek. Dia dengan susah payah menopang perutnya. Dia bahkan dipanggil "tante" oleh selingkuhan muda dan cantik suaminya, serta ditolak dan dicampakkan suaminya di depan umum. Namun, pertemuan pertamanya dengan Deon dulu juga pernah menjadi sesuatu yang begitu gemilang dan dipuja banyak orang. Karena menganggap Elara naik posisi dengan cara merayu di ranjang, Deon mengambil inisiatif mengajukan perceraian kepadanya. Saat itu juga, hati Elara benar-benar mati. Delapan tahun mencintai dan berkorban secara diam-diam, dari masa kuliah hingga masuk ke dunia kerja, semuanya tidak ada artinya. Elara pun melahirkan anaknya, menandatangani surat perjanjian cerai, lalu pergi. .... Lima tahun kemudian, dia telah menjadi wanita karier yang memukau dengan kekayaan bernilai ratusan miliar. Dia cantik memikat dan penuh percaya diri, berbakat luar biasa, serta dikelilingi banyak pengejar. Namun, pria yang dulu mengajukan perceraian justru tak pernah benar-benar mengurus akta cerai dengannya. Elara pun mengajukan gugatan ke pengadilan. Deon yang dulu mencampakkan Elara malah terus menempel dengannya, menghadapi siapa pun yang mendekati Elara. Satu per satu pria itu mendapat pembalasan dendam dari Deon. Hingga Elara menggandeng tangan pria lain dan secara terbuka mengumumkan pertunangannya, Deon menekan tubuh wanita itu ke sudut dinding dan kehilangan kendali. "Elara, kamu mau nikah dengan pria lain? Jangan mimpi." Bab 1 Saat usia kehamilannya memasuki 25 minggu, Elara Wiratama memergoki suaminya berselingkuh di rumah sakit. Seorang pria bertubuh tinggi dan tampan yang mengenakan mantel hitam melindungi seorang gadis yang lembut dan cantik dalam pelukannya. Gadis itu mengenakan mantel bulu rubah berwarna putih, pipinya merona, wajah mungilnya terbalut syal wol yang lembut, raut wajahnya halus bak boneka porselen. Elara menggenggam erat hasil pemeriksaan kehamilannya hingga jari-jarinya memutih. Angin dingin menerpa pipinya, tetapi yang lebih dingin dari tubuhnya adalah rasa nyeri yang mencengkeram jantungnya. Deon Atmadja melihatnya dari kejauhan. Ekspresinya datar, tanpa sedikit pun rasa malu karena ketahuan berselingkuh. Dia sendiri yang membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Sikapnya lembut dan penuh perhatian. Seorang penguasa yang selalu dingin dan berada di puncak, ternyata juga memiliki sisi hangat dan penuh perlindungan seperti ini. Gadis itu tampaknya menyadari keberadaan Elara. Gerakannya terhenti sejenak. Dia menatap Elara dengan bingung, lalu menoleh ke arah Deon dan bertanya, "Kenapa tante itu terus menatapmu? Kak Deon, kamu kenal dia?" Angin dingin menderu di telinga. Elara tidak tahu apa lagi yang dikatakan gadis itu kepada Deon. Namun, dari gerakan bibirnya, Elara bisa memastikan satu kata, yaitu "tante". Tante? Itu sebutan untuk dirinya. Elara tersenyum pahit di dalam hati. Usianya baru 24 tahun. Namun, tubuhnya memang sedikit berisi, penampilannya juga terlihat biasa saja. Dia terbungkus jaket bulu hitam dan topi rajut hitam. Tubuhnya membengkak menjelang akhir kehamilan, sementara wajahnya tampak letih. Dia memang terlihat seperti perempuan berusia 30 atau 40 tahun. Jauh dari bandingan seorang gadis muda yang cantik dan berseri-seri. Deon melindungi gadis itu masuk ke mobil. Elara berdiri kaku di tempat, menatap mobil yang menjauh. Dia dan Deon menikah karena anak. Pernikahan yang dipaksakan ini, bagi pria seistimewa Deon, adalah noda dalam hidupnya. Anak di dalam perutnya pun adalah alat yang dia gunakan untuk menekan Deon. Dia sangat membencinya. Elara telah diam-diam mencintainya selama delapan tahun. Namun, dia tahu betul bahwa dirinya sama sekali tidak pantas untuk Deon. Karena itu, dia terus belajar dengan keras, menjadikannya sebagai tujuan hidup, mengikuti jejak langkahnya. Akhirnya, dia berhasil menjadi asisten Deon, bisa berdiri di sisinya dari jarak dekat. Malam itu bukan hanya menghancurkan Deon, tetapi juga merobek seluruh harga diri Elara dan kebanggaannya di hadapan Deon dengan kejam. Di tak akan pernah lupa tatapan jijik Deon setelah kejadian itu, seolah-olah dirinya telah menyentuh sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Karena itu, hanya gadis secantik dan seindah itu yang pantas berdiri di sisinya. Setetes air mata hangat meluncur dari sudut matanya. Tak lama kemudian, perut bawahnya terasa nyeri berdenyut. Dia buru-buru menopang perutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar pada pilar batu di sampingnya. Seorang perawat yang lewat melihat kondisinya dan segera menghampiri, membantu menopangnya dan membawanya ke ruang periksa. Elara hanya mengalami gangguan janin akibat gejolak emosi. Setelah kondisinya membaik, dia meninggalkan rumah sakit dan mengemudi sendiri kembali ke Shallow Bay dengan tubuh dan hati yang kelelahan. Di sanalah vila milik Deon berada. Nyonya Tua Keluarga Atmadja, Nami, telah mengatur agar seorang pengasuh berpengalaman dari rumah lama datang untuk merawatnya. Saat ini, dua pengasuh yang ditugaskan merawatnya justru duduk di ruang tamu yang hangat seperti pemilik rumah, menikmati makanan sambil tertawa dan mengobrol. Salah satu pengasuh mendengar suara di pintu dan menoleh. Melihat Elara kembali, salah satu dari mereka bangkit dan bertanya, "Bagaimana hasil pemeriksaan kehamilannya?" Nada angkuh dan sikap meremehkan. Mengaku sebagai pengasuh yang merawatnya, tetapi lebih mirip pengawas yang menganggap diri sebagai tuan rumah. Elara hanya melirik dingin ke arah pengasuh itu, tidak menjawab, dan langsung berjalan menuju tangga. Pengasuh itu mengerutkan kening dengan tidak puas. "Aku bertanya padamu!" Elara tetap tidak menggubris. Menatap punggung Elara, pengasuh itu berdecak kesal. "Seperti babi gendut saja. Benar-benar mengira dirinya Nyonya Muda Keluarga Atmadja. Sok amat." Elara kembali ke kamar tidur dan duduk di tepi ranjang. Hatinya hampa. Baik Deon maupun Keluarga Atmadja tidak pernah memandangnya sebagai menantu. Nami yang memutuskan agar dia dan Deon mendaftarkan pernikahan mereka. Itu pun karena Tuan Tua Keluarga Atmadja, Malik, sedang sakit parah. Dia kebetulan hamil dan datang ke rumah mereka. Demi membawa keberuntungan bagi Malik, pernikahan mereka akhirnya diatur. Entah kebetulan atau benar-benar membawa hoki, kondisi Malik perlahan membaik. Setelah itu, sikap Nami terhadapnya berubah sedikit. Namun, anggota Keluarga Atmadja lainnya tetap memandangnya dengan penuh rasa tidak hormat. Hari ini, dia ke rumah sakit juga untuk memastikan jenis kelamin bayi di dalam kandungannya. Seorang anak perempuan. Pihak Keluarga Atmadja seharusnya sudah menerima pemberitahuan dari rumah sakit. Saat itu, ponselnya bergetar. Elara tersadar dari lamunannya. Dia mengambil ponsel dari dalam tas. Melihat nama penelepon, dia tertegun sejenak. Itu panggilan dari dosen pembimbingnya. Dia mengangkat telepon. "Profesor Arizo." "Ada satu kuota untuk melanjutkan studi doktoral di Universitas Stafurd. Kamu mau mencobanya?" Mendengar kata-kata Arizo, Elara terdiam lama. Menyadari dia tak merespons, Arizo melanjutkan, "Kalau nggak mau ...." "Aku mau." Elara tersadar dan langsung menjawab dengan tegas. Kali ini, Arizo justru terdiam. Seberapa keras usaha Elara agar pantas berdiri di sisi Deon, dia tahu betul. Kini dia sudah menikah dan hamil, bagaimana mungkin dia rela pergi begitu saja? Soal kuota yang tersisa ini, dia hanya mencoba menanyakannya. "Profesor Arizo," panggil Elara. Arizo berkata, "Besok pagi jam 10 datang ke kantorku." "Baik." Arizo tidak mengatakan apa-apa lagi dan menutup telepon. Elara meletakkan ponselnya dan mengembuskan napas panjang. Tiba-tiba, dia merasa seperti awan gelap yang tersibak dan cahaya bulan kembali terlihat. Dia memang harus sadar. Pria itu tidak mencintainya. Anak yang dia lahirkan pun tidak akan menjadi ikatan mereka, apalagi membuat Deon menoleh dan memandangnya lebih lama. Tak lama kemudian, dia menerima telepon dari Nami yang memintanya kembali ke rumah lama. Elara menyetujuinya. Kemungkinan besar karena urusan anak dalam kandungannya. Kini, dia merasa lebih bersemangat. Dia pun masuk ke kamar mandi dan mandi dengan tenang. Duduk di depan meja rias, Elara menatap dirinya di cermin. Wajah bulat yang bengkak, lingkar hitam di bawah mata, kantong mata, mata yang cekung, serta noda yang memenuhi pipinya. Siapa yang tidak akan merasa jijik melihat wajah seburuk ini? Dengan kondisi seperti ini, bagaimana dia pantas berdiri di sisi Deon yang begitu sempurna? Dia berdandan, lalu mengganti jaketnya dengan jaket bulu warna pink dan mengenakan topi bulat putih. Penampilannya tampak jauh lebih segar. Awalnya, dia berniat menyetir sendiri ke rumah lama. Namun, baru saja keluar, dia menerima telepon dari Deon. Suara pria itu terdengar datar. "Keluar." Elara terkejut sejenak. Mungkin Nami yang meminta Deon pulang ke rumah lama. Dia menjawab, "Baik." Begitu keluar dari vila, mobil Rolls-Royce Deon sudah terparkir di depan. Dua jam sebelumnya, mobil inilah yang menjemput dan mengantar perempuan lain. Elara menarik napas dalam-dalam, melangkah maju, membuka pintu, dan masuk. Begitu duduk, dia mencium aroma parfum lembut, aroma manis khas gadis muda. Di dalam mobil juga terdapat boneka beruang kecil berwarna pink, jelas barang kesukaan perempuan. Saat mengangkat pandangan, dia melihat sebuah ikat rambut di pergelangan tangan pria itu. Itu adalah cara seorang perempuan menandai kepemilikan. Deon pasti sangat menyukai gadis itu. Elara menekan rasa perih di hatinya, duduk dengan tenang dan mengenakan sabuk pengaman. Mobil melaju perlahan. Elara menatap keluar jendela, diam tanpa berbicara. Dulu, setiap ada kesempatan berdua dengannya, dia akan sangat menghargainya. Dia akan berusaha mendekatkan diri, bahkan jika dicemooh, dia tetap tak bosan mencari topik pembicaraan. Karena dia dengan naif berkhayal bahwa mereka sudah menjadi suami istri, memiliki anak, dan masih punya waktu yang panjang di masa depan. Selama dia menjadi istri dan ibu yang baik, mungkin suatu hari Deon akan menoleh dan memandangnya. Namun pada akhirnya, semua itu hanyalah kebohongan yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan suasana hatinya. Seperti biasa, dingin dan tidak acuh. Dia bertanya, "Anaknya laki-laki atau perempuan?" Elara menjawab, "Perempuan." Mendengarnya, tidak ada perubahan sedikit pun di wajah tampan Deon. Dia hanya berkata datar, "Setelah anak itu lahir, kita cerai." Kata-kata itu terlontar, jari-jari Elara menegang. Jantungnya terasa seperti diremas erat, sementara napasnya menjadi sesak. Pernikahan ini memang tidak mungkin bertahan lama. Meskipun sudah menduganya sejak awal, saat kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut Deon, hati Elara tetap terasa begitu sakit. Dia menggigit bibirnya dan menjawab, "Baik." Deon menoleh dan meliriknya sekilas, seakan-akan agak terkejut dengan persetujuannya yang begitu cepat. Bab 2 Namun, Deon tidak menelusurinya lebih jauh. Elara kemudian berkata lagi, "Senin sore besok kamu ada waktu? Gimana kalau kita pergi ke pengadilan negeri lebih awal saja untuk mengurusnya? Toh dimajukan dua bulan seharusnya nggak masalah, 'kan?" Setelah tanda tangan, masih harus menunggu satu bulan masa tenang. Jaraknya dengan waktu dia melahirkan juga sudah tidak lama lagi. Deon menatapnya. Sikap Elara yang tenang membuat tatapannya dipenuhi sorot menyelidik. Dia lantas menarik kembali pandangannya dan berkata, "Aku yang tentukan waktunya." Elara menunduk, tidak berkata apa-apa lagi. Mobil tiba di rumah lama Keluarga Atmadja. Nami memang memanggil mereka pulang karena urusan anak di dalam kandungan Elara. Di Keluarga Atmadja, jumlah laki-laki jauh lebih banyak daripada perempuan. Nami memiliki dua orang putra. Putra sulung bernama Charles, putra kedua bernama Zayden. Charles memiliki dua anak laki-laki. Anak sulungnya, Yeshua, sudah menikah beberapa tahun lalu dan memiliki sepasang anak kembar laki-laki yang kini berusia lima tahun. Anak keduanya, Reynard, tahun ini berusia 24 tahun dan belum menikah. Zayden hanya memiliki satu anak, yaitu Deon. Karena itu, saat tahu Elara mengandung anak perempuan, baik Nami maupun Malik sama-sama sangat senang. "Benar-benar kabar bahagia. Begitu si kecil ini datang, penyakit kakek kalian pun ikut membaik," ujar Nami dengan wajah berseri-seri. Melihat mertuanya begitu mementingkan anak di dalam perut Elara, Irma pun ikut menimpali, lalu mengatakan beberapa kata baik kepada Elara. Elara duduk di samping, menanggapi dengan patuh. Namun, melihat tubuhnya yang gemuk, juga sikapnya yang selalu tunduk dan penurut, Irma merasa tidak enak memandangnya. Hanya saja demi menjaga wibawa Nami, dia tidak menunjukkannya. Nami sedang dalam suasana hati yang baik. Dia menghadiahkan sebuah gelang giok bernilai tinggi kepada Elara. Elara terkejut sekaligus tersanjung. Dia menolak dengan sopan dan tidak berani menerimanya. Irma pun berkata, "Kalau Nenek kasih, ya terima saja." Benar-benar kampungan dan memalukan. Elara pun berhenti menolak dan menerima gelang itu. "Terima kasih, Nek." "Jaga kandunganmu dengan baik. Lahirkan anak yang sehat dan montok." Elara tersenyum sambil mengangguk. Dia tahu kebaikan Nami bukan karena dirinya. Awalnya, Elara dan Deon akan tinggal dan makan malam di rumah lama. Namun, Deon menerima sebuah panggilan telepon. Di matanya tampak senyuman penuh kasih dan kelembutan. Sepertinya mereka memelihara seekor hewan peliharaan. Deon memanggil nama hewan itu dengan lembut. Namanya Sweetie. Jika menikah dengan perempuan yang dia cintai, mungkin dia akan menjadi seorang ayah yang baik. "Mm, aku segera ke sana," ucap Deon. Setelah menutup telepon, Deon berbalik ke balkon, lalu melihat Elara yang berdiri di sana. Elara terkejut, sesaat tidak bereaksi. Saat dia mendongak menatap pria itu, yang terlihat hanyalah wajah dingin tanpa ekspresi. Dadanya terasa sesak. Dia buru-buru berkata, "Nenek memintamu ke ruang kerja." Deon tidak mengatakan apa-apa dan langsung melangkah pergi. Elara berdiri di tempat. Jantungnya terasa ditusuk-tusuk oleh rasa sakit. Entah berapa lama berlalu, barulah dia tersadar kembali. Deon tiba di ruang kerja. Di sana sudah ada Nami dan Malik. "Deon, Nenek tahu kamu nggak menyukai Elara. Tapi anak itu sebentar lagi lahir. Secara pribadi, Elara juga sangat baik. Lulusan universitas ternama, berkepribadian lembut. Pernikahanmu membutuhkan kestabilan. Dia sangat cocok untuk mendukung suami dan membesarkan anak," ujar Nami. Deon diam. Namun, kerutan di dahinya yang menunjukkan ketidaksenangan sudah cukup untuk mengungkapkan perasaannya. Bagaimana mungkin Nami tidak menyadarinya? Penampilan Elara memang terlalu biasa. Berdiri di samping cucunya, sama sekali tidak serasi. Malik pun berbicara, "Untuk saat ini, pernikahanmu harus dipertahankan. Kalau memang nggak suka, selama dia nggak melakukan hal yang berlebihan, tahan dulu satu atau dua tahun." Nami menimpali, "Benar. Sekarang banyak mata yang mengawasi dan menunggu kesalahanmu. Lebih baik tunggu sampai dia merawat anak itu dengan baik. Setelah itu, kalau kamu mau cerai juga belum terlambat." Deon terdiam sejenak. Wajah tampannya yang dalam membuat orang sulit menebak apa yang sedang dia pikirkan. Akhirnya, dia berkata, "Kakek, Nenek, aku ngerti." Saat Elara bertemu lagi dengan Nami, Nami berkata kepadanya, "Deon mendadak ada urusan di perusahaan dan sudah pergi lebih dulu. Nanti aku suruh sopir antar kamu pulang." Elara mengangguk. "Baik." Sebelum pergi hari itu, Nami mengingatkannya, "Walaupun sedang hamil, kamu tetap harus banyak bergerak dan merawat diri. Dulu saat para menantuku hamil, mereka nggak hanya menemani suami menghadiri acara, tapi juga mengurus rumah tangga. Ada hal-hal yang mudah didapat, tapi untuk mempertahankannya itu nggak mudah." Elara langsung memahami maksud di balik kata-kata Nami. Menjadi menantu Keluarga Atmadja bukan perkara mudah. Jika ingin mengukuhkan posisinya, dia harus mengubah dirinya sekarang. Dengan kondisinya seperti ini, dia hanya akan mempermalukan Deon. Dia pernah ingin berubah, berolahraga, yoga, menurunkan berat badan. Namun, tekadnya kurang kuat, sulit bertahan. Tubuh dan pikirannya lelah, tubuhnya justru semakin gemuk. Apa yang Nami katakan tidak salah. Dia memang tidak boleh terus terpuruk seperti ini. Dia harus bangkit, bukan demi mempertahankan posisinya, melainkan demi dirinya sendiri di masa depan. "Nek, aku mengerti." Saat malam tiba, Elara dibuat terkejut. Pria yang pagi harinya membicarakan perceraian dengannya justru pulang ke rumah. "Kamu ...." "Buatkan aku semangkuk sup penawar mabuk dan antarkan ke ruang kerja." Setelah itu, Deon langsung naik ke lantai atas menuju ruang kerja. Elara tersadar dan pergi ke dapur, membuatkan semangkuk sup penawar mabuk, lalu mengantarkannya ke ruang kerja. Pria itu sedang membaca dokumen di tangannya. Alis dan matanya tajam, seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin dan sulit didekati. Elara tidak mengganggunya dan berbalik meninggalkan ruang kerja. Meskipun dia pulang, mereka tetap tidur terpisah. Pria itu tidur di kamar utama lantai dua, sedangkan dia tidur di kamar tamu lantai satu. Keesokan harinya, karena Deon ada di rumah, para pengasuh menyiapkan sarapan yang sangat mewah. Dia duduk di kursi utama, tetapi tidak melihat Elara. Biasanya saat dia berada di rumah, Elara akan menyetrika dan menyiapkan pakaian yang akan dia kenakan keesokan hari, serta membuatkan sarapan sendiri. Benar-benar istri yang patuh dan bertanggung jawab. Namun pagi ini, tidak ada pakaian yang sudah disetrika dan sarapan pun disiapkan oleh pengasuh. "Dia di mana?" tanya Deon dengan tidak sabar. Laksmi langsung mengeluh, "Pagi-pagi sudah kami panggil, tapi dia tetap malas bangun. Setiap hari harus diantar makan ke kamar, sikapnya juga dingin pada kami. Ditanya mau makan apa, dia diam saja." "Kami bukan cenayang yang langsung tahu apa yang mau dia makan. Dia juga cuma hamil. Dulu saat Nyonya mengandung Tuan, Nyonya juga melayani suami dengan sepenuh hati. Giliran dia, malah cuma tahu menikmati hidup." Deon mengerutkan kening. "Pergi panggil dia bangun." "Baik." Sebenarnya Elara sudah bangun sejak lama. Dia hanya menunggu Deon pergi. Saat itu, Laksmi langsung mendorong pintu masuk. Melihat Elara duduk di sofa, dia berkata dengan nada jijik, "Benar-benar nyonya muda ya? Menunggu orang datang mengundangmu?" Elara mengangkat kepala dan membalas dengan dingin, "Kalau bukan aku nyonya mudanya, masa kamu?" Selama beberapa bulan ini, Elara selalu menunduk dan diam. Laksmi sama sekali tidak menyangka dia akan membalas. "Kalau ke depannya kalian masih nggak tahu batas antara atasan dan bawahan, jangan salahkan aku melapor ke Nenek Nami tentang apa saja yang kalian lakukan selama ini." Lagi pula, dia akan segera bercerai dengan Deon. Dia merasa tidak perlu menahan diri lagi. Dua bulan tersisa, untuk apa dia terus menelan amarah? Mata Laksmi membelalak. "Kamu ...." Kemarin Nyonya Atmadja, Irma, meneleponnya dan meminta mereka merawat Elara dengan baik. Meskipun yang dikandung adalah anak perempuan, ini tetap satu-satunya anak perempuan generasi ketiga Keluarga Atmadja. Nasib Elara memang bagus. Anak perempuan yang dikandungnya bisa mendapat perhatian sebesar itu dari Nami. Laksmi hanya bisa menahan amarahnya. "Tuan sudah menunggumu di ruang makan." Elara agak terkejut. Dia pun pergi ke ruang makan. Deon sedang makan. Dia mengangkat pandangan dan melirik Elara. Dia mengenakan baju rajut putih panjang, kainnya tertarik oleh tubuhnya yang membengkak hingga berubah bentuk. Langkah kakinya ringan dan tidak stabil, perutnya sangat besar seolah-olah mengandung beberapa anak. Elara menyadari tatapan pria itu dan duduk di tempat yang jauh darinya dengan sadar diri. Dia mendengar suara Deon yang datar. "Bibi Laksmi dan yang lainnya adalah karyawan lama dari rumah lama. Kamu nggak bisa menuntut mereka selalu menyesuaikan diri denganmu. Kamu hanya hamil, bukan nggak bisa bergerak." Hanya hamil? Benar. Anak yang datang tanpa rencana ini, baginya mungkin tidak berarti apa-apa. Teguran yang tiba-tiba ini pasti karena Laksmi mengadu padanya. Ini pun bukan pertama kalinya. "Kalau mereka keberatan menyesuaikan diri denganku, lebih baik biarkan mereka kembali ke rumah lama. Aku bisa merawat diriku sendiri kok," ujar Elara dengan nada sangat tenang sambil mengaduk bubur di mangkuknya. Bagaimanapun, dia masak sendiri, mencuci sendiri, membersihkan kamar sendiri. Hanya saat Deon ada di rumah, mereka berpura-pura bekerja. Deon mengernyit. Elara tahu itu tanda kekesalannya. Baik dalam pekerjaan maupun kehidupan, Deon adalah orang yang sangat dominan dan tidak suka dibantah. "Aku mengingatkanmu, bukan meminta pendapatmu." Elara menunduk dan tidak berkata apa-apa lagi. Melihat dirinya yang tampak lesu dan tidak bersemangat, wajah Deon semakin muram. Kemudian, dia memerintahkan Laksmi dan yang lain untuk ke depannya membiarkan Elara mengurusi urusannya sendiri dan mereka tidak perlu melayaninya. Tangan Elara yang memegang sendok tanpa sadar menegang. Setelah sarapan, Deon pergi. Sementara itu, Elara pergi ke Universitas Arkham. Dia tiba di kantor Arizo. Di balik meja kerja, seorang pria muda berhidung mancung duduk dengan mengenakan setelan jas rapi. Kacamata tanpa bingkai yang menghiasi wajahnya menambah kesan dewasa nan tenang. Arizo baru berusia 29 tahun. Dia adalah profesor tetap termuda di Fakultas Keuangan Universitas Arkham, seorang tokoh genius yang namanya sangat disegani di dunia keuangan. Elara mengangkat tangan dan mengetuk pintu. Bab 3 Saat Arizo mengangkat kepala dan melihat perempuan yang berdiri di depan pintu, dia sempat tertegun sejenak, tidak langsung mengenalinya. Baru setelah Elara membuka mulut dan menyapa "Profesor Arizo", Arizo menahan ekspresinya, lalu berkata, "Kamu sudah datang." Elara melepas masker dan masuk ke kantor. "Profesor Arizo, lama nggak bertemu." Arizo tersenyum lembut. "Lama nggak bertemu. Hampir saja aku nggak mengenalimu." Elara tersenyum getir dan berkata, "Dengan kondisiku sekarang ini, aku sendiri saja merasa malu menemuimu." Arizo bangkit, berjalan mengitari meja kerjanya, lalu berkata, "Saat hamil, bentuk tubuh berubah itu wajar. Setelah melahirkan nanti akan membaik. Duduklah." Elara duduk di sofa. Arizo menuangkan segelas air hangat dan menyerahkannya kepadanya. "Hangatkan badan." Elara menerimanya. "Terima kasih." Arizo melirik perutnya yang membuncit dan bertanya, "Sudah berapa bulan?" Elara menjawab, "Enam bulan satu minggu." Arizo berkata, "Kalau begitu, saat mulai kuliah akhir Januari tahun depan, kamu baru sampai waktu perkiraan melahirkan." Elara memohon, "Aku ingin minta bantuan Profesor. Apa aku bisa menunda waktu masuk kuliah?" Melahirkan adalah hal yang tidak bisa dihindari, tetapi dia benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Arizo bertanya dengan serius, "Kenapa ingin pergi?" Elara menunduk dan berkata, "Setelah anak ini lahir, Deon berencana menceraikanku. Hubungan keliru ini juga nggak ingin kulanjutkan lagi. Aku ingin memulai kembali hidupku sendiri." Enam bulan itu tidak bisa dibilang panjang, juga tidak pendek. Namun baginya, rasanya seperti menjalani seumur hidup. Alis Arizo tak kuasa berkerut. Gadis yang dulu ceria dan manis itu telah berubah drastis dalam waktu singkat, cukup untuk membayangkan betapa berat penderitaan fisik dan batin yang telah dia alami. "Aku sangat lega kamu akhirnya bisa berpikir jernih dan bangkit kembali. Kamu dan Deon memang nggak cocok. Ke depannya, kamu pasti bisa bertemu orang yang benar-benar mencintaimu." Elara menunduk dan mengangguk pelan. Dulu, Arizo sebenarnya tidak setuju Elara bekerja di sisi Deon sebagai asisten, tetapi Elara bersikeras. Pada akhirnya, dia yang menderita sendiri. Tiba-tiba, dia bertanya lagi, "Di mata Profesor Arizo, sebenarnya Deon itu orang seperti apa?" Arizo terdiam sejenak, lalu berkata perlahan, "Seseorang yang demi mencapai tujuan, nggak segan menggunakan cara apa pun, mengutamakan kepentingan di atas segalanya. Orang seperti itu kemungkinan besar nggak punya cinta." "Begitu ya?" Namun, kelembutan Deon pada gadis itu tidak mungkin palsu. Mungkin hanya jika mencintai setengah mati barulah dia mau merendahkan diri seperti itu. Memang hanya perempuan cantik yang pantas berdiri di sisinya. Elara tidak bertanya lagi. "Karena kamu sudah memutuskan, nanti aku akan membantumu mengajukan penundaan masuk kuliah." "Terima kasih, Profesor." Arizo memintanya mengisi satu formulir permohonan. Setelah Elara selesai mengisinya .... "Setelah anak itu lahir, dia akan tinggal di rumah Keluarga Atmadja?" tanya Arizo tiba-tiba. Elara tersenyum pahit. Sekalipun dia ingin membawa anak itu pergi, hal itu mustahil. Dia hanya bisa merasa bersalah pada anak tersebut. "Keluarga Atmadja seharusnya akan merawatnya dengan baik." Arizo tidak bertanya lebih lanjut. "Kebetulan aku butuh satu asisten. Cukup satu bulan saja. Mau coba?" Elara langsung menyetujuinya tanpa ragu. "Baik." Sejak dia hamil, pihak Deon memindahkannya ke posisi yang nyaris tak berarti di bagian sekretariat. Dalam semalam, dia jatuh dari posisi asisten presdir menjadi figur tak terlihat. Semua usahanya seolah-olah lenyap menjadi gelembung. Kini, dia memang membutuhkan pekerjaan baru untuk mengalihkan perhatian dan membuat hidupnya kembali berjalan. Kebetulan, ini bisa dijadikan persiapan sebelum berangkat studi lanjut. Karena hari itu dia memang sudah mengambil cuti, Elara pun tinggal dan mulai bekerja sebagai asisten profesor. Dia sendiri adalah murid Arizo, ditambah sebelumnya pernah bekerja intens di sisi Deon. Meskipun sempat terpuruk, dia segera beradaptasi dan menangani pekerjaan dengan sangat lancar. Saat itu, Elara seperti menemukan kembali dirinya yang dulu, menemukan kembali nilai keberadaan dirinya yang sesungguhnya. Seperti kata Arizo, dia memang seharusnya bersinar di dunia kerja. Cinta tidak seharusnya menjadi satu-satunya pusat kehidupan. Malam itu, Deon tidak pulang ke rumah, seperti biasanya. Dia memang hanya sesekali pulang. Kali ini, Elara sudah tidak peduli lagi. Keesokan harinya, dia sudah menyiapkan surat pengunduran diri lebih awal. Deon mengelola industri keuangan di bawah Grup Atmadja, termasuk bank dan perusahaan dana investasi. Di arena penuh intrik dan kepentingan seperti ini, dia mampu mewarisi industri inti Grup Atmadja dengan kekuatannya sendiri, bahkan terus melakukan ekspansi dan akuisisi. Itu cukup membuktikan bahwa dia bukan hanya memiliki otak dan kemampuan luar biasa, tetapi juga hati yang dingin dan kejam. Elara tiba di perusahaan dan kebetulan berpapasan dengan Deon yang baru turun dari mobil. Posturnya tegap, setelan jas rapi, tampan dan berwibawa. Kekayaan dan status membuatnya memancarkan pesona kedewasaan yang tak terbatas. "Pak Deon." Para karyawan menunduk, memberi salam dengan hormat. Elara tersadar dan buru-buru menunduk, lalu mundur dua langkah. Pria itu seolah-olah tidak melihatnya sama sekali dan melangkah masuk ke dalam perusahaan. Elara menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Shireen. Shireen adalah sekretaris Deon. Dulu, dia adalah bawahan Elara. Kini, roda nasib berputar. Elara justru menjadi bawahannya. Saat Elara tiba-tiba diturunkan jabatannya dulu, seluruh departemen terkejut. Elara baru lulus kuliah dan langsung menjadi asisten presdir. Posisi asisten tidak hanya menuntut kemampuan, tetapi juga penampilan. Sementara Elara, baik wajah maupun bentuk tubuhnya, sangat biasa saja. Namun, dia tetap terpilih, cukup untuk membuktikan bahwa kemampuannya mampu menutupi kekurangannya secara fisik. Presdir yang terkenal tegas bahkan pernah beberapa kali memujinya. Namun, Shireen sangat paham. Di matanya, Elara ingin naik kelas lewat ranjang. Sehebat apa pun kemampuannya, tetap bukan orang baik. Karena itulah, Deon sangat membencinya. Shireen melirik surat pengunduran diri itu, lalu pandangannya menyapu perut hamil Elara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek. "Orang yang bermartabat itu tahu diri. Kalau nggak ada kerjaan, sering-seringlah bercermin. Jangan mengira dengan punya anak kamu bisa memanjat ke pohon yang tinggi. Lihat dulu Keluarga Atmadja itu tempat apa dan kamu sendiri itu siapa." Soal dirinya dan Deon yang sudah mendaftarkan pernikahan, tidak ada satu pun orang di perusahaan yang mengetahuinya. Bab 4 "Analisis laporan keuangan harus selesai sebelum jam pulang siang." Elara kembali ke meja kerjanya. Meskipun dia dipindahkan ke posisi pegawai kecil di departemen sekretaris, Shireen justru memberinya banyak tugas yang sebenarnya bukan bagian dari pekerjaannya. Semua itu pun dia terima satu per satu. Dia terus bekerja tanpa mengeluh di perusahaan ini, sejatinya hanya bentuk penipuan diri sendiri. Deon sama sekali tidak akan meliriknya sedikit pun. Setelah Elara menyelesaikan analisis laporan itu, dia menyerahkan versi digital beserta cetakan kertasnya kepada Shireen, lalu memesan makanan pesan antar. Meskipun perusahaan memiliki kantin, selama ini dia selalu membawa bekal sendiri. Dia tidak ingin pergi ke tempat ramai, tidak ingin terus-menerus menjadi bahan tatapan orang lain, tidak ingin berurusan dengan siapa pun. Dia hanya ingin makan sendirian dengan tenang. Karena pagi ini tidak sempat menyiapkan makan siang, dia pun terpaksa memesan makanan. Saat menunggu pesanan datang, beberapa rekan kerja yang sudah makan siang masuk ke kantor sambil mengobrol dengan penuh semangat. "Pacar Pak Deon masih sangat muda ya? Mahasiswi, 'kan?" "Sepertinya begitu. Cantiknya luar biasa, seperti boneka." "Tatapan Pak Deon ke dia benar-benar lembut. Tak disangka beliau yang selalu serius punya sisi selembut itu. Versi nyata presdir dominan dan istri muda!" Kedua rekan itu terus mengobrol sambil masuk ke kantor, lalu menyadari keberadaan Elara di mejanya. Dia duduk di sana, kaku, tak bergerak, seperti patung penjaga gunung. Sejak dipindahkan ke departemen sekretaris, selain urusan pekerjaan, dia nyaris tidak pernah berkomunikasi dengan siapa pun. Kini, dia bahkan semakin menyendiri, setiap hari memakai masker seolah-olah wajahnya tak pantas dilihat orang. Sulit membayangkan bahwa setengah tahun lalu dia masih merupakan asisten presdir yang sangat disegani. Setelah menerima telepon dari kurir makanan, Elara pun bangkit. Saat dia turun ke lantai bawah untuk mengambil pesanannya, dia kebetulan melihat dua staf hotel membawa hidangan dan bertanya ke meja resepsionis. Resepsionis menggesekkan kartu lift khusus presdir untuk mereka. Elara melihat sebotol anggur merah di tangan salah satu staf. Harga satu botol itu sekitar 4 miliar. Bagi Deon, itu hanyalah uang yang bisa dia hasilkan dalam waktu kurang dari satu menit. Elara membawa pesanannya dan kembali ke atas. Pukul 2 siang, Shireen menghampirinya dan berkata, "Pak Deon mencarimu." Jantung Elara berdegup kencang. Dalam hatinya, muncul firasat buruk yang tak bisa dijelaskan. Firasat itu benar adanya. Begitu Elara tiba di kantor presdir, tekanan rendah langsung menyergapnya. Dia berjalan ke depan meja kerja dan menyapa pelan, "Pak Deon." Saat Deon mengangkat pandangan ke arahnya, wajah tampannya tampak dingin dan muram. Dia mengayunkan tangan, melempar berkas di tangannya tepat ke arah wajah Elara. "Ini yang kamu sebut laporan analisis?" Kertas A4 yang tajam itu menggesek pipi Elara. Dia merasakan perih sesaat. Berkas-berkas berserakan di kakinya. Itulah laporan yang dia kerjakan pagi tadi. Dengan satu tangan menopang perutnya, Elara membungkuk dengan susah payah untuk memungut berkas-berkas itu. Sepasang mata hitam pria itu menatap dingin gerakannya yang lambat saat dia berjongkok sambil menahan perut. Elara meneliti laporan di tangannya dan langsung menyadari beberapa angka yang tidak sesuai. Dia membela diri. "Pak Deon, ini bukan laporan yang kubuat." "Cukup. Aku nggak ingin mendengar pembelaanmu." Elara menggenggam erat berkas itu. Bukan Deon tidak tahu kemampuan Elara. Bukan pula dia tidak ingin mendengar penjelasan. Dia hanya memilih menganggap Elara memang pantas disalahkan. Dibenci sampai sejauh ini oleh pria yang begitu dicintai, sungguh membuatnya merasa menyedihkan sekaligus konyol. Elara menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dan mengumpulkan keberanian. "Aku menyimpan salinannya. Aku bisa langsung mengirimkannya untuk Pak Deon periksa. Setelah itu, Pak Deon boleh memarahiku sesuka hati." Mata hitam Deon menyipit, kekesalan jelas terpancar. Saraf Elara menegang. Di dalam hatinya, dia selalu menyimpan rasa takut terhadap Deon. Takut pada otoritasnya, terutama saat wajahnya sedingin ini. Biasanya, dia sama sekali tidak berani membantah. Namun saat ini, dia memaksa dirinya untuk tenang. Lagi pula, mereka akan segera bercerai. Dia juga akan menuruti keinginan Deon, tak akan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat ini. Dia tak akan berharap apa pun dari Deon lagi. Lalu, apa lagi yang perlu ditakuti? "Kamu merasa sangat terzalimi?" Suara pria itu dingin seperti serpihan es, sarat ejekan. Elara menatap balik mata hitam yang tajam itu. Ujung jarinya menancap dalam ke telapak tangan. Suaranya terdengar lebih berat. "Pak Deon menuduhku tanpa bertanya sebabnya. Apakah aku nggak pantas membuktikan diriku sendiri?" Wajah Deon sepenuhnya suram. "Itu memang pantas kamu terima." Hati Elara terasa seperti diremas kuat. Rasa sakit menjalar hebat, wajahnya seketika pucat. Saat itu juga, pintu ruang istirahat terbuka. Seorang gadis muda keluar dengan mengenakan gaun tidur sutra bertali tipis berwarna pink. Rambut panjangnya hitam berkilau, kulitnya putih bersinar, wajahnya begitu indah hingga sulit mengalihkan pandangan. "Kak Deon!" Suara gadis itu lembut seperti angin musim semi, halus dan menenangkan. Akhirnya, Elara melihat jelas wajah gadis itu. Memang secantik itu, sampai membuat orang merasa rendah diri. Dia baru melirik sekilas ketika mendengar bentakan dingin pria itu. "Keluar!" Elara menarik kembali pandangannya, menekan gejolak emosinya, lalu berbalik dan berjalan ke luar. Begitu keluar dari kantor, dia mendengar suara lembut gadis itu menenangkan Deon dan pria itu pun segera menjadi tenang. Elara mendongak, menahan air mata agar tidak jatuh. Dia pergi ke sudut tangga yang sepi. Dengan satu tangan berpegangan pada pagar, emosinya akhirnya runtuh. Air mata mengalir deras, dadanya terasa seperti diremas, perutnya pun bergejolak. Menyingkirkan pria yang telah dia cintai selama delapan tahun dari lubuk hati terdalamnya tak ubahnya menguliti daging dan mengorek tulang. Namun, tak masalah. Semua akan membaik. Dia akan benar-benar melupakan Deon. Entah berapa lama berlalu, akhirnya Elara menenangkan diri. Saat naik kembali menuju mejanya, dia berpapasan dengan gadis itu. Gadis itu mengenakan busana bermerek yang dipesan khusus, tampak sempurna dari ujung kepala hingga kaki. Sekilas saja sudah jelas, dia adalah gadis yang dibesarkan dengan kemewahan dan kasih sayang. Mikie mengantarnya secara pribadi. Mikie adalah asisten khusus Deon. Melihat Elara, gadis itu tersenyum dan melangkah mendekatinya, lalu berhenti. Dengan suara lembut, dia berkata, "Sudah nggak apa-apa. Kak Deon nggak akan menyalahkanmu lagi." Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah mutiara dari tasnya, menggenggam tangan Elara, lalu meletakkan mutiara itu di telapak tangannya. "Ini untukmu. Jangan bersedih lagi. Luka di wajahmu jangan lupa diobati. Kalau wajah perempuan punya bekas luka, itu nggak bagus lho." Betapa cantik dan baiknya gadis ini. Dibandingkan gadis yang memancarkan pesona ini, Elara merasa dirinya seperti badut yang hidup di dunia gelap. Melihat Elara tidak bereaksi sama sekali, Mikie mengerutkan kening dan mengingatkan dengan dingin, "Nggak tahu berterima kasih pada Bu Doreen?" Ternyata namanya Doreen. Doreen Adhisti menarik kembali tangannya dan berkata, "Nggak apa-apa. Ayo kita pergi." Keduanya pun pergi. Elara berdiri di tempat, menatap mutiara putih berkilau biru perak di telapak tangannya. Teksturnya sempurna tanpa cela, sebersih gadis itu sendiri. Hanya saja, dia tidak tahu apakah gadis itu mengetahui fakta bahwa Deon sudah menikah. Setelah kembali ke mejanya, Elara mencetak ulang dokumen versi asli dan menyerahkannya ke hadapan Shireen. Saat melihatnya, tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah Shireen, yang ada justru kepuasan. "Kamu sudah lihat jelas, 'kan? Seperti apa gadis yang pantas bersanding dengan Pak Deon." Elara membanting berkas itu ke depan Shireen dengan keras. "Aku nggak pantas, kamu juga nggak pantas. Jadi, kamu hanya bisa memainkan cara-cara murahan seperti ini? Seumur hidupmu pun kamu nggak akan punya masa depan. Sudah kepala tiga, cepat cari orang untuk nikah. Berhentilah bermimpi di siang bolong." Bab 5 Ekspresi Shireen berubah. Dia menepuk meja dengan keras, lalu berdiri. "Elara!" Elara malas menanggapinya, jadi berbalik dan pergi. Setelah kembali ke mejanya, Elara mengeluarkan cermin kecil dan melihat sisi pipinya yang tergores tipis. Lukanya tidak dalam. Dia mengusapnya dengan tisu basah, tidak memerlukan perawatan tambahan. Lagi pula, dengan wajah seperti ini, bertambah satu bekas luka pun tidak masalah. Pikirannya kembali pada wajah gadis tadi. Entah kenapa, terasa agak familier. Menjelang jam pulang kerja, Elara menerima telepon dari ayahnya. Sander sudah kembali, jadi meminta Elara pulang untuk makan malam di rumah. Elara terkejut sekaligus senang. "Kak Sander sudah pulang? Bukannya katanya tanggal 15?" Ayah Elara menjawab, "Begitu pekerjaannya selesai, dia langsung pulang lebih awal." "Oke, habis pulang kerja aku langsung ke sana." Elara pun mengemudi ke rumah Keluarga Wiratama. Rumah Keluarga Wiratama berada di kawasan barat kota, di sebuah kompleks apartemen kelas menengah. Itu adalah unit besar bekas yang baru dibeli tahun ini. Ayah Elara menjalankan perusahaan properti berskala menengah. Meskipun tidak bisa disebut keluarga terpandang, kehidupan mereka cukup berada, sehingga sejak kecil Elara tumbuh dalam kondisi berkecukupan. Namun, kini industri properti sedang lesu. Setengah tahun lalu, perusahaan mengalami masalah keuangan serius akibat kegagalan investasi dan hampir bangkrut. Saat ayahnya mengetahui bahwa Elara mengandung anak Deon, dia tidak memaksanya pergi ke Keluarga Atmadja untuk menuntut pertanggungjawaban. Melihat ayahnya yang semakin menua dan tampak lelah, bahkan sampai harus menjual aset keluarga untuk melunasi utang, Elara akhirnya mengambil keputusan pergi ke Keluarga Atmadja. Saat itu, sebenarnya dia menyimpan niat pribadi. Bukan semata demi ayahnya, tetapi juga demi dirinya sendiri. Dia memang mendapatkan apa yang diinginkannya. Berkat uang mahar yang besar dari Keluarga Atmadja, utang Keluarga Wiratama berhasil dilunasi. Namun, dia pun membayar harga yang setimpal. Jadi, semua penderitaan yang dia alami sekarang hanyalah akibat dari pilihannya sendiri. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun. Sesampainya di rumah, Larissa keluar dari dapur. "Ela, kamu sudah pulang." Saat Elara berusia sembilan tahun, ibu dan ayahnya bercerai. Sang ibu membawa kakaknya pergi, meninggalkan Elara bersama ayahnya. Kemudian, Larissa bertemu dengan ayahnya. Namun, mereka tidak pernah mendaftarkan pernikahan dan hanya hidup bersama sebagai pasangan. Awalnya Elara tidak bisa menerima Larissa, bahkan sempat membencinya. Namun perlahan, Elara merasakan ketulusan Larissa. Sander juga memperlakukannya dengan sangat baik. Kehilangan kakak kandung, dia pun mendapatkan seorang kakak baru. "Tante Larissa, Ayah dan yang lain di mana?" "Sepertinya masih di jalan, sebentar lagi sampai. Kamu istirahat dulu." "Oke." Elara kembali ke kamarnya. Meskipun sudah menikah, ayahnya tetap menyisakan satu kamar tidur untuknya dan merenovasinya ulang sesuai dengan seleranya. Begitu kembali ke rumah yang benar-benar miliknya, semua kelelahan dan kepedihan seolah-olah lenyap seketika. Dia duduk di tepi ranjang dan melihat album foto di atas nakas. Dia mengulurkan tangan dan membukanya. Foto pertama adalah potret keluarga yang tidak lengkap. Foto itu sudah sangat lama. Tahun itu, Elara baru berusia delapan tahun. Ayahnya yang masih muda dan tampan menggendongnya. Di samping ayahnya berdiri sang kakak, saat itu berusia 14 tahun. Di sisi lain adalah ibunya. Foto itu dirobek sendiri oleh Elara. Karena dia membenci ibunya. Membenci mengapa ibunya membawa kakaknya pergi dan meninggalkan dirinya serta ayahnya. Seiring berjalannya waktu, rasa sakit yang mencabik itu kini tak lagi terasa. Dia membalik halaman berikutnya. Dalam foto itu, seorang gadis remaja belasan tahun tampak muda dan cantik, mengenakan gaun panjang putih dan topi anyaman kecil berwarna cokelat muda, berdiri di bawah pohon ginkgo berdaun keemasan. Sinar matahari jatuh tepat pada senyuman cerah gadis itu. Rambut panjang hitam legam, wajah oval kecil, raut wajah cerah dan menawan. Terutama sepasang matanya, berkilau seperti bintang di langit. Namun kemudian, dia sakit parah dan harus mengonsumsi obat hormon. Tubuhnya perlahan menjadi gemuk. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba menurunkan berat badan, hasilnya tetap nihil. Dia hanya bisa menahan diri dengan kelaparan dan olahraga agar tidak semakin bertambah gemuk. Tanpa sadar, Elara teringat pada gadis yang ditemuinya hari ini. Fitur wajahnya memiliki kemiripan dengan dirinya di foto itu, terutama sepasang mata itu. Bab 6 Tok, tok, tok. "Ela, mereka sudah pulang." Larissa mengetuk pintu sambil berkata. Elara tidak banyak berpikir lagi. Dia meletakkan album foto, bangkit, lalu keluar dari kamar. Begitu melihat dua orang yang baru masuk, dia berseru dengan gembira, "Ayah, Kakak!" Sander dan William menatap Elara. "Ela, aku bawakan hadiah untukmu. Sini, lihat kamu suka nggak," panggil Sander. Elara melangkah mendekat dengan wajah berseri-seri. "Hadiah apa?" Sander membawa banyak kantong dan meletakkannya di atas meja kopi. Dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan bermerek dan menyerahkannya kepadanya. "Buka saja." Elara menerimanya dengan senang hati. Saat dibuka, di dalamnya ada sebuah gelang emas dengan pengerjaan yang sangat halus. "Terima kasih, Kak. Aku suka sekali." "Syukurlah kalau kamu suka." Sander mengulurkan tangan dan mengusap kepala Elara dengan penuh kasih sayang. Sander juga membelikan Larissa sebuah gelang emas yang cocok untuknya, lalu membawakan masing-masing satu set produk perawatan kulit untuk mereka berdua. Untuk William, dia membelikan teh dan minuman beralkohol, serta membawa oleh-oleh khas daerah setempat. Suasana terasa hangat dan harmonis. Hanya saat kembali ke rumah, Elara bisa merasakan ketenangan yang luar biasa. "Ela, kapan perkiraan lahiran?" tanya Sander dengan perhatian. Dengan perutnya yang besar, memang terlihat seperti kehamilan akhir. Elara menjawab, "Masih dua bulan lagi." "Pasti anak perempuan," ujar Larissa sambil tersenyum. Elara mengangguk. "Memang anak perempuan." "Sudah cek jenis kelamin?" tanya William. Larissa seolah-olah menyadari sesuatu dan ikut menegang. "Sudah, Nenek Nami sangat memperhatikan anak ini," ujar Elara. William menghela napas lega. "Syukurlah. Selama masih ada anak, ke depannya kamu dan Deon pasti akan perlahan membaik." Elara menunduk. Hatinya terasa berat. Dia mendadak tidak tahu harus mulai dari mana, karena Deon sudah mengajukan perceraian kepadanya. Namun, hal ini pasti tidak bisa disembunyikan. Lagi pula, dia sudah memutuskan untuk pindah dari Shallow Bay dan kembali tinggal di rumah. Sudahlah. Lebih baik menunggu setelah makan malam baru membicarakannya. Larissa menyiapkan makan malam yang sangat mewah. Kini, Sander bersama teman-temannya mendirikan sebuah perusahaan teknologi. Dua tahun lalu, saat tahap awal pendirian perusahaan, William tanpa ragu memberikan modal awal kepadanya. Saat ini perkembangan perusahaan sangat baik, terutama di bidang teknologi AI. Perjalanan dinas kali ini pun untuk membahas kerja sama dan hasilnya berjalan sangat lancar. Sementara itu, William sedang mengurus proses penjualan perusahaannya. Meskipun sebelumnya perusahaan sempat beroperasi dengan baik berkat mahar besar dari Keluarga Atmadja, kondisi lingkungan ekonomi yang buruk membuat transformasi menjadi sangat sulit, sehingga perusahaan memang sudah tidak bisa dipertahankan. Usianya semakin bertambah, tenaganya pun tak seperti dulu. Dia sangat optimis dengan perkembangan perusahaan Sander. Menjelang akhir tahun, perusahaan Sander akan memasuki tahap pendanaan. Dia berencana menjual perusahaan lamanya dan menginvestasikan seluruh dana itu ke perusahaan Sander. Bersamaan dengan itu, dia juga mengumumkan kabar baik. William berencana mendaftarkan pernikahan dengan Larissa. Mata Larissa langsung memerah. Setelah bertahun-tahun menemani, akhirnya membuahkan hasil. Elara tidak keberatan sedikit pun. Dia tahu, alasan ayahnya selama ini enggan mendaftarkan pernikahan adalah karena masih menyimpan bayangan tentang ibunya di lubuk hatinya. Dia juga tak pernah mengerti, mengapa ibu yang memiliki suami sebaik ayahnya dulu memilih bercerai dan pergi. Namun kini, semua itu sudah tidak penting lagi. Di hari sebaik ini, Elara benar-benar tidak tega merusak suasana. Namun pada akhirnya, dia tetap membuka mulut. "Ayah, Tante, Kak ... Deon berniat menceraikanku." Begitu kata-kata itu terucap, suasana ruang makan langsung membeku. Wajah semua orang menegang, terutama William yang menunduk. Hasil seperti ini seolah-olah sudah dapat diperkirakan, hanya saja tidak disangka akan datang secepat ini. Meskipun Keluarga Wiratama dan Keluarga Atmadja telah menjadi besan, keduanya tidak pernah menggelar pesta pernikahan, hanya mendaftarkan pernikahan. Selama lebih dari setengah tahun ini, kedua keluarga hampir tidak pernah berhubungan. Deon juga tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki ke rumah Keluarga Wiratama. Saat festival, pihak Keluarga Atmadja juga tidak pernah mengirimkan hadiah. Setiap kali Elara pulang sendirian, William dan Larissa menyiapkan hadiah perayaan untuk dibawa Elara ke Keluarga Atmadja. Saat dia mengantarkannya ke sana, Nami memang menerimanya dengan sopan, tetapi Elara tahu bahwa hadiah-hadiah itu kemudian diberikan kepada para pelayan rumah lama. Sementara Irma, di depan matanya sendiri, langsung menyuruh pelayan membuang hadiah-hadiah itu ke tempat sampah. Dia bahkan sampai memperingatkan Elara agar jangan membiarkan keluarganya mengirim barang-barang yang tidak pantas seperti ini lagi. Deon pun mengingatkannya agar tidak melakukan hal yang tidak ada artinya. Dalam pernikahan yang begitu timpang, perpisahan hanyalah masalah waktu. Elara mengatupkan bibir, lalu melanjutkan, "Tapi harus menunggu sampai anak ini lahir. Aku juga sudah berjanji pada Profesor Arizo. Februari tahun depan aku akan berangkat ke Universitas Stafurd untuk melanjutkan studi." Sander menjadi orang pertama yang memecah kesunyian. "Pergi lanjut studi itu bagus. Ela, kamu begitu berbakat. Kamu memang nggak seharusnya terjebak dalam pernikahan. Apa pun keputusanmu, Kakak pasti mendukungmu." Elara tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Kak." William menghela napas panjang. Dalam helaan napas itu tersimpan keputusasaan dan rasa bersalah yang tak terhingga. "Kalau cerai, ya cerai saja. Ini semua salah Ayah. Orang biasa seperti kita memang nggak pantas berharap tinggi pada keluarga besar seperti Keluarga Atmadja." Mata Elara memerah. Tiba-tiba, dia merasa bahwa semua penderitaan yang dialaminya belakangan ini sebenarnya tidak seberapa. Dia memiliki dukungan keluarga. Keluarganya akan selalu menjadi sandarannya. Tidak ada rintangan yang tidak bisa dia lewati. Melihat itu, Larissa segera mengambil tisu dan mengusap mata Elara yang memerah sambil menenangkannya. Akhirnya, sekeluarga menghabiskan makan malam itu dengan perasaan yang kembali hangat. Pada saat yang sama, di kawasan vila pinggiran kota selatan, sebuah kompleks vila yang telah ada lebih dari 20 tahun dan termasuk kawasan lama orang-orang kaya, dengan fasilitas yang kini sudah menua …. Sebuah Bentley perlahan berhenti di depan gerbang vila nomor 12. Vila ini adalah vila yang dulu dijual oleh Keluarga Wiratama. Kaca jendela mobil turun perlahan, memperlihatkan wajah samping yang tampan dan sempurna. Orang itu memandang ke arah vila yang terang benderang di dalam. Cahaya lampu jalan berwarna kuning hangat jatuh ke dalam matanya, tak mampu menyembunyikan kerumitan dan kesepian yang tersimpan di sana. Dia menarik kembali pandangannya dan menyalakan sebatang rokok. Saat itu, ponselnya bergetar. Dia mengangkatnya dan menjawab dengan suara lembut, "Ada apa, Doreen?" Suara Doreen terdengar manja dari seberang sana. "Kak, kapan sampai? Aku sudah lapar sekali. Kak Deon malah nggak mengizinkanku makan dulu." Tak lama kemudian, dari ujung telepon terdengar suara rendah yang penuh kasih sayang. "Siapa yang bilang aku harus mengingatkannya supaya menjaga mulut? Sekarang malah menyalahkanku." Doreen mendengus pelan. "Kalau lapar, makan saja dulu. Aku segera sampai." Telepon ditutup. Vidi mematikan puntung rokoknya, melirik sekali lagi ke luar jendela, lalu menaikkan kaca mobil dan mengemudi meninggalkan vila itu. Bab 7 Elara malam itu menginap di rumah Keluarga Wiratama. Malam itu adalah tidur paling nyenyak dan tenang yang dia rasakan setelah sekian lama. Pagi hari, Larissa sedang menyiapkan sarapan di dapur, khusus merebuskan sup ayam untuk Elara, lalu menyiapkan makan siang bergizi untuknya, dimasukkan ke termos agar bisa dia bawa ke kantor. Semalam Elara sudah memberi tahu mereka soal pengunduran dirinya, bahwa dia berencana pergi ke tempat Arizo untuk bekerja sebagai asisten selama satu bulan. Awalnya mereka tidak setuju dan menyuruhnya fokus merawat kehamilan serta memulihkan tubuh. Namun, Elara bersikeras. Saat ini selain tubuhnya terasa agak berat, tidak ada keluhan lain. Melakukan pekerjaan ringan tidak masalah. Lagi pula, dia perlu berganti lingkungan dan menyibukkan diri. Jika tidak melakukan apa-apa, justru pikirannya akan melayang ke mana-mana. Akhirnya, William tidak mengatakan apa-apa lagi. Elara sempat ingin membantu di dapur, tetapi Larissa tidak mengizinkannya. Elara pun tidak memaksa. Dia duduk di sofa sambil memegang ponsel dan mencari di internet, kelas pilates yang cocok untuk ibu hamil. Dia memilih satu tempat dan berencana mencari waktu pergi untuk berkonsultasi. Dia terus menggulir layar ponselnya. Tiba-tiba, ekspresinya berubah. Dia melihat sebuah unggahan. Orang itu mengunggah sembilan foto makan bersama dengan latar sebuah klub privat kelas atas. Kontaknya adalah Marshal, teman satu lingkaran Deon, yang dulu dia tambahkan saat masih menjadi asisten Deon. Di sana terdapat sebuah caption. [ Malam makan bersama. PS: Lagi-lagi jadi nyamuk. Kapan minum anggur pernikahan? ] Di dalam foto, ada tiga foto Deon dan Doreen bersama. Pada foto tengah, Doreen menutup pipinya dengan malu-malu dan bersandar ke pelukan Deon. Pria tampan itu menopang bahu gadis itu dengan satu tangan, menunduk dengan tatapan penuh kelembutan ke arah gadis di pelukannya. Aura cinta dan kemesraan seakan-akan meluap keluar dari layar. Teman-teman Deon tahu bahwa dia sudah mendaftarkan pernikahan, hanya saja di mata mereka, Elara sama sekali tidak pantas. Unggahan Marshal ini sangat mungkin sengaja diperlihatkan kepadanya. Elara hanya merasa dadanya seperti dicengkeram kuat, begitu sakit sampai dia hampir tidak bisa bernapas. Dia mematikan ponselnya. Dia bangkit dan pergi ke balkon, menenangkan diri, berusaha keras agar tidak peduli dan tidak memikirkannya lagi. Tanpa sadar, tangannya mengusap perut kecil yang membuncit. Hatinya terasa berat. Setelah mereka bercerai, Deon pasti akan segera menikahi Doreen. Mereka akan punya anak. Dia begitu mencintai Doreen, tentu dia juga akan sangat mencintai anak mereka. Lalu, bagaimana dengan anaknya nanti? Apakah masih bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah? "Ela, makanan sudah siap." Suara Larissa terdengar. Elara pun tersadar kembali dari lamunannya. Dia menarik napas dalam-dalam, mengangkat tangan untuk menyeka sudut matanya, lalu berbalik dan pergi ke kamar mandi dulu. Saat dia keluar lagi, ekspresinya sudah kembali seperti biasa. Setelah sarapan, Sander mengantar Elara ke kantor. Di sepanjang jalan, Sander menyadari ada yang tidak beres pada Elara dan bertanya, "Ela, ada apa?" Elara menggeleng, tidak ingin mengatakan apa pun. Sander berkata dengan nada penuh nasihat, "Ela, sekarang kamu hamil. Kalau ada masalah di hati, jangan dipendam. Itu nggak baik untukmu dan anakmu." Baru setelah beberapa saat, Elara membuka mulut dan berkata, "Nggak ada apa-apa. Cuma Deon punya wanita lain di luar. Untuk sementara ini aku memang belum bisa sepenuhnya menerima, tapi nggak apa-apa, aku akan menyesuaikan diri. Kak, jangan khawatir." Nada bicaranya terdengar ringan. Sander tahu dia sedang terluka, tetapi tidak tahu bagaimana harus menghiburnya. Dia hanya berkata, "Waktu akan memulihkan segalanya. Semuanya akan perlahan membaik." Elara mengangguk dan mengiakan. Sesampainya di kantor, Elara membawa termos turun dari mobil, berpamitan pada Sander, lalu berjalan masuk ke gedung perusahaan. Begitu masuk ke perusahaan, dia kembali bertemu Deon. Karena Deon jarang pulang ke rumah dan meskipun jabatannya diturunkan, alasan Elara tetap bertahan bekerja adalah karena dia ingin bisa bertemu Deon setiap hari. Namun, selama beberapa bulan ini di perusahaan, dia jarang sekali melihat Deon. Kalaupun bertemu, sikap Deon padanya selalu sangat dingin. Tak disangka, dua hari berturut-turut masuk kerja, dia justru bertemu dengan Deon. Pria itu turun dari mobil dengan setelan jas rapi. Bahunya lebar, pinggangnya ramping, sepasang kaki panjangnya sangat mencolok. Wajahnya yang tegas selalu memukau setiap kali dilihat. Tampan luar biasa, penuh wibawa dan aura dominan. Namun, justru pria sedingin itu juga memiliki sisi yang begitu lembut dan penuh kasih. Hati Elara tiba-tiba terasa getir. Dia menunduk, memberi jalan, lalu menyapa dengan hormat, "Pak Deon." Seperti biasa, Deon menganggapnya udara. Menyadari keberadaannya justru membuat ekspresinya semakin dingin. Dia melangkah cepat dan langsung melewati Elara. Setelah pria itu masuk ke lift khusus presdir, barulah Elara tersadar kembali dan naik lift karyawan ke lantai atas. Kemarin, dia dan Shireen bertengkar. Hari ini, Shireen juga tidak menunjukkan wajah ramah padanya, hanya mengatur orang untuk melakukan serah terima pekerjaan dengannya. Elara sama sekali tidak peduli dengan sikap Shireen. Sekarang, dia hanya ingin segera menyelesaikan serah terima dan pergi dari tempat ini. Setelah pekerjaan pagi selesai, melihat cuaca hari ini cukup bagus dan di belakang gedung perusahaan terdapat taman ekologi, Elara pun membawa termos turun untuk makan di luar, sekalian berjalan-jalan santai. Dia naik lift untuk turun. Saat berjalan di lobi perusahaan, dia berpapasan dengan dua orang yang baru masuk. Salah satunya adalah Marshal. Pria di sampingnya bertubuh tegap dan berwibawa, tampaknya adalah teman Deon. Hanya saja, Elara belum pernah melihatnya sebelumnya. Elara tidak berniat menyapa. Dia menunduk dan menjauh, berjalan ke arah pintu keluar. Namun, Marshal langsung melihat Elara begitu masuk. Tubuhnya yang gemuk benar-benar terlalu mencolok. Melihat Elara menghindar, Marshal mengambil langkah besar dan menghalangi jalannya. Langkah Elara terhenti. Dia mendongak menatap Marshal, lalu melihat ekspresi jijik yang luar biasa di wajahnya. "Matamu buta ya? Nggak bisa nyapa orang?" Dulu saat dia masih menjadi asisten Deon, Marshal selalu bersikap sopan padanya. Namun sekarang, di mata mereka, dia hanyalah perempuan licik yang jelek, gemuk, dan tidak tahu diri. Elara menunduk dan memanggil dengan suara datar, "Pak Marshal." Marshal mencibir dan mencela, "Sikap macam ini apa? Kamu pikir dirimu katak busuk yang berubah jadi burung foniks?" Genggaman tangan Elara pada kotak termos mengencang. Dia merasa sangat terhina. Dia pun memiringkan badan, melewati Marshal, hendak pergi. Namun, tiba-tiba Marshal mengulurkan kaki panjangnya. Elara sama sekali tidak siap dan langsung tersandung. Kedua lututnya jatuh menghantam lantai yang keras. Wajahnya seketika memucat, giginya gemetar menahan sakit. Termos di tangannya terlempar sampai sup ayam dan makanan di dalamnya tumpah berceceran. Vidi yang sejak tadi memperhatikan dari dekat, sontak terkejut.