Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

Đang tải thông tin quảng bá...

Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

GoodNovel Hoàn thành

Istriku adalah orang yang mendalami ajaran agama. Hal yang paling tabu baginya adalah menuruti nafsu. Urusan suami istri hanya boleh dilakukan setiap tanggal 16 setiap bulan, bahkan semua hal harus di...

Chương (1)

第1章

Istriku adalah orang yang mendalami ajaran agama. Hal yang paling tabu baginya adalah menuruti nafsu. Urusan suami istri hanya boleh dilakukan setiap tanggal 16 setiap bulan, bahkan semua hal harus dia kendalikan dengan ketat. Begitu aku melampaui batas, dia akan tanpa ragu menghentikan semuanya dan pergi. Sudah lima tahun kami menikah. Meskipun aku punya banyak ketidakpuasan, karena mencintainya, aku terus mengalah. Aku sempat mengira bahwa meskipun dia adalah seorang "dewi" yang tidak berperasaan, setidaknya dia mencintaiku. Sampai suatu hari, saat aku mengikuti tim ke sebuah hotel yang terbakar untuk melakukan misi penyelamatan, barulah aku sadar betapa salahnya aku selama ini. Saat menemukannya, istriku sedang bersandar di pelukan pria lain. Di antara mereka, bahkan ada seorang anak kecil. Bab 1 Istriku mendalami ajaran agama. Hal paling pantang baginya adalah menuruti nafsu. Urusan suami istri hanya boleh dilakukan setiap tanggal 16 setiap bulan. Waktu berhubungan, baik itu posisi, ritme, bahkan ekspresiku, semuanya harus dia kendalikan dengan ketat. Begitu aku sedikit terlena, dia akan tanpa ragu menghentikan dan pergi dengan dingin. Lima tahun menikah, meskipun aku tidak puas, aku tetap menuruti semuanya karena mencintainya. Aku selalu mengira bahwa meskipun dia adalah seorang dewi tanpa emosi, setidaknya dia juga mencintaiku. Sampai pada hari aku ikut tim untuk melakukan penyelamatan di sebuah hotel yang terbakar, barulah aku sadar betapa salahnya aku. Saat menemukannya, istriku sedang bersandar di pelukan pria lain dengan pakaian yang berantakan. Di antara mereka, ada seorang anak kecil. Belum pernah aku melihat ekspresi Nindy begitu lembut. Walaupun dia juga ketakutan sampai merinding, dia tetap bersandar erat di pelukan pria itu, menenangkan anak itu dengan suara pelan. Saat itu, aku terpaku di tempat, tidak tahu harus berbuat apa. Jelas suhu di sekitar sangat panas, tetapi seluruh tubuhku justru gemetar kedinginan. Hatiku seperti ditikam dengan kejam oleh seseorang. "Ray, jangan bengong! Serahkan keluarga ini kepadaku, kamu cepat ke kamar berikutnya!" Teriakan kapten menyadarkanku. Kemudian, aku melihat kapten langsung berlari masuk. Nindy Karya menatapku, Ray Ghafari, suami sahnya, dengan ekspresi tak percaya. Meskipun terhalang masker pelindung, aku tahu dia mengenaliku. Tatapan kami bertemu, hatiku seperti disobek. Kalau mereka bertiga adalah keluarga, lalu aku ini apa? Kondisi sedang darurat, jadi aku tidak sempat memikirkannya lebih jauh. Aku buru-buru pergi menyelamatkan orang lain yang terjebak di kamar berikutnya. Api baru padam setelah tiga jam penuh. Untungnya, tak ada korban jiwa. Namun, saat aku keluar dari lokasi dengan hati campur aduk, Nindy, pria itu, dan anak itu semua sudah menghilang. Dia bahkan malas memberikan penjelasan padaku. Aku tertawa pahit. Seketika, aku merasa bahwa pernikahan lima tahun ini hanyalah lelucon besar. Saat pulang, Nindy yang biasanya selalu lembur sampai larut malam ternyata ada di rumah, seolah-olah sedang menungguku. Aku mengira dia akan menjelaskannya. Jika dia bisa menjelaskan kenapa dia ada di hotel itu, kenapa dia bersama pria lain, mungkin aku akan memaafkannya. Rasa sakit yang menusuk hati, mungkin benar-benar tak berarti jika dibanding lima tahun perasaan kami. Namun, dia malah membuka laptop dan memulai rapat video. Setelah lebih dari satu jam berlalu, dia bahkan tak melirikku sekali pun, seakan-akan di antara kami tidak pernah terjadi apa-apa. Baru setelah rapat selesai, dia menatapku dengan dingin dan melemparkan sebuah dokumen. "Surat adopsi?" Dua huruf besar itu menusuk sarafku. "Ya, itu anak yang kamu lihat di hotel tadi. Mulai sekarang, kita mengadopsinya." "Kenapa? Apa hubunganmu dengan anak itu dan apa hubunganmu dengan pria itu?" "Namanya Chicco Kadir, ayahnya Andrew. Kami rekan kerja. Selebihnya bukan urusanmu, jangan tanya." Ini dianggap penjelasan? Aku sangat kecewa, hanya bisa tersenyum miris. Ini lebih seperti pemberitahuan sepihak. Nada bicaranya bahkan sama sekali tidak memberiku hak untuk menolak. "Kalau hubungan kerja, kenapa kalian ada di hotel? Kenapa waktu aku melihatmu, pakaianmu berantakan? Nindy, jawab aku! Anak itu punya hubungan darah denganmu atau nggak?" Aku melontarkan pertanyaan itu dengan nada yang hampir histeris, tetapi Nindy hanya menatapku dalam diam, keningnya sedikit berkerut. "Kamu berpikir terlalu jauh. Orang yang mempelajari agama pantang melanggar. Aku nggak akan mengkhianati pernikahan kita." Tidak akan mengkhianati? Tawaku terdengar makin memilukan. "Saking pantangnya kamu untuk melakukan kontak fisik sampai aku cuma boleh menyentuhmu sebulan sekali. Tapi kenapa kamu bisa begitu mudah bersandar di pelukan pria itu?" Selama 1.800 hari lebih aku tidak pernah meragukannya, bahkan sepenuhnya mendukung keyakinannya. Sekarang, aku mulai merasa bahwa agama hanya alasan baginya. Kerutan di kening Nindy semakin dalam. Suaranya mendingin. "Orang bersih tak butuh pembelaan. Terserah kamu mau berpikir apa." "Kalau kamu merasa aku selingkuh dengan pria lain, mulai tanggal 16 setiap bulan, kamu nggak perlu datang lagi ke kamarku. Toh anak juga sudah ada." "Kalau bukan untuk meneruskan keturunan, aku nggak akan mau melakukan hal yang membosankan itu denganmu." Ucapannya seperti pisau yang mengiris jantungku. Aku sampai nyaris tidak bisa bernapas saking sakitnya. Ternyata kebersamaan kami sebulan sekali itu begitu menyiksa baginya? Dewi tanpa emosi, bersih dari keinginan duniawi, tidak pernah mau melanggar aturan demi diriku yang hanya manusia biasa ini …. Pengecualian itu tidak pernah ada untukku. "Sudah, istirahatlah." Saat Nindy menutup laptop dan hendak pergi, aku menahan rasa sakit di dada dan memanggilnya. "Aku bisa terima soal adopsi Andrew. Tapi jangan sampai aku melihatmu berhubungan dengan orang yang tak berkepentingan. Setidaknya hormatilah suamimu ini sedikit!" Langkah Nindy terhenti. "Anak itu belum bisa jauh dari ayah kandungnya. Kamu sendiri yang berpikiran kotor, malah menyalahkanku nggak menghargaimu." Dia pergi begitu saja. Malam itu, rasa sakit di dadaku terasa begitu menyiksa sampai aku tidak bisa tidur. Aku berguling-guling di tempat tidur, bahkan merasa berhalusinasi, seperti mendengar suara tawa Nindy dan Chicco dari kamarnya. Pagi berikutnya, Andrew sudah diantarkan ke rumah. Barang-barang kecilnya memenuhi ruang tamu. Nindy dengan riang membantu membereskannya. Aku melihat semua itu dengan perasaan campur aduk. Ternyata seorang "dewi" juga bisa tersenyum. Tidak seperti ekpresi datar yang dia tunjukkan saat kami menikah dan pindah ke rumah baru. Katanya orang yang belajar agama tidak boleh terlalu berlebihan dalam emosi, jadi dia selalu memasang wajah kaku. Sekarang aku baru mengerti, hanya aku yang tidak pantas. Selesai beres-beres, Nindy menggandeng Andrew ke kamar untuk mandi. Entah kenapa, dari kamarnya terdengar suara tangisan anak itu dan suara gemericik shower berhenti. Aku mulai khawatir. Nindy tidak pernah menjadi ibu, bahkan belum pernah mengurus anak. Andrew masih kecil. Kalau terjadi apa-apa saat mandi, itu akan merepotkan. Lima tahun menikah, aku sudah terbiasa mengkhawatirkannya. Meskipun kami baru saja bertengkar hebat, aku tidak punya alasan untuk memarahi anak kecil. Sekarang Andrew sudah tinggal di sini, jadi aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Aku mendorong pintu dan masuk. Yang pertama kulihat adalah jaket pria tergantung di dekat pintu. Aku terpaku. Pintu kamar mandi setengah terbuka, jadi aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Andrew menggosok gigi sampai berdarah, lalu menangis ketakutan. Nindy baru selesai mandi, hanya memakai handuk. Dia menenangkan anak itu dengan suara lembut. Di belakangnya, Chicco sedang membantu mengeringkan rambut Nindy. Sambil tersenyum, dia mengatakan Andrew penakut. Betapa harmonis keluarga yang beranggotakan tiga orang itu. Padahal ini rumahku dan Nindy adalah istriku. Namun, saat ini aku justru terlihat seperti orang luar. Wajahku seketika pucat, hatiku seperti disobek-sobek. Pemandangan itu bagaikan petir yang menghantam diriku. Kakiku lemas. Aku mundur beberapa langkah sampai menabrak dinding. Suara itu membuat Chicco menoleh. Dia pun terlihat panik. "Pak Ray, jangan salah paham. Semalam aku mengantar Andrew. Dia masih kecil, nggak membiarkanku pergi, jadi aku menginap semalam. Aku hanya menemani anak, nggak ada hal lain ...." Ucapannya membuat dadaku sakit tak tertahankan, lalu menyadarkanku pada sesuatu. Ternyata dia sudah datang sejak semalam. Suara yang kudengar saat setengah tertidur itu bukan halusinasi. Chicco menghabiskan malam di kamar Nindy. Itu adalah sesuatu yang bahkan aku, suaminya, tidak pernah dapatkan. Bab 2 Setelah menikah, Nindy selalu beralasan bahwa mendalami agama membutuhkan ketenangan. Oleh karena itu, dia tidak pernah mengizinkanku tidur di kamarnya. Bahkan pada tanggal 16 setiap bulan, setelah urusan suami istri selesai, aku hanya boleh membantunya merapikan seprai. Setelah itu, aku pergi sendirian. Sekarang, aku tiba-tiba tersadar bahwa semua aturan ketat yang Nindy buat hanyalah alasannya untuk menjaga jarak dariku. Saat ini, rasa sakit yang begitu dahsyat membuatku sampai tidak bisa bersuara. Tangan dan kakiku mulai mati rasa, seluruh tubuhku seperti kehilangan daya untuk bergerak, dan jantungku …. Aku merasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungku di saat yang sama. Namun, Nindy tetap tidak berniat menjelaskan apa pun. Dia justru memasang ekspresi dingin. "Siapa yang menyuruhmu masuk tanpa mengetuk? Kamu masih tahu aturan nggak? Keluar!" Aku menunjuk diriku sendiri, lalu menatap Chicco dan tiba-tiba merasa semuanya sangat menyedihkan. Istriku bisa membiarkan pria asing tidur di kamarnya, bahkan hanya memakai handuk dan membiarkan pria itu mengeringkan rambutnya .... Sedekat itukah hubungan mereka? Padahal aku adalah suami sahnya, tetapi dia malah berekpektasi agar aku harus mengetuk pintu kamarnya dulu sebelum masuk? Nindy, kamu bukan hanya tidak menganggapku sebagai suamimu. Kamu bahkan tidak menganggap pernikahan ini ada. Aku benar-benar kecewa padamu. "Nindy, kita cerai saja." Lima tahun menikah, apa pun permintaan dingin dan tak masuk akalnya, aku selalu mengiakan. Bertahun-tahun ini, aku terbiasa memperlakukannya dengan lembut. Ini pertama kalinya aku bersikap dingin kepadanya. "Cerai? Hanya karena ini?" Nindy tertegun, wajahnya penuh keterkejutan. Dia refleks menggeleng dan menolak, "Nggak, aku nggak mau cerai." Ketegasannya membuatku terkejut. Kupikir hubungannya dengan Chicco sudah jelas dan dia hanya menungguku untuk mundur. Namun, dia menolaknya begitu cepat. Apa dia masih ingin mempertahankan rumah tangga kami? Lima tahun aku sungguh-sungguh mencintainya sehingga aku secara naluriah mencari alasan untuk membelanya. Namun, kalimat Nindy berikutnya langsung melemparkanku ke dasar neraka! "Aku lagi dalam masa disiplin. Bercerai sekarang adalah pelanggaran. Kamu mau cerai? Tunggu sampai masa disiplinku selesai." Wajah Nindy sedingin es, nadanya tak memberi ruang untuk menyanggah. Ternyata selama ini aku hanya menghibur diri. Aku tertawa pahit, bahkan merasa mual oleh rasa perih di hati. Aku baru sadar, ternyata selama ini dia bukan hanya tidak mengganggapku sebagai suaminya, bahkan baginya aku bukan manusia yang layak untuk dipertimbangkan. Lima tahun pernikahan, aku bahkan tak punya hak untuk mengajukan perceraian. Aku selalu berada di bawah aturan-aturannya. "Nindy, maaf. Kamu jangan sampai cerai dengan Pak Ray gara-gara aku dan anakku. Aku nggak ingin merusak pernikahan kalian. Kalau memang begini jadinya, sebaiknya aku pergi. Andrew, pakai bajumu. Ini bukan rumah kita." Chicco menghela napas dengan sedih, menggendong Andrew, dan bersiap pergi. Aku menutup mata, tak ingin melihat sandiwara penuh belas kasihan itu. Apa yang Chicco katakan memang benar. Ini memang bukan rumah mereka, tetapi rumah yang sudah lima tahun kutata dan kuatur dengan hati-hati. Berani-beraninya mereka mengambil tempatku? Namun tak kusangka, Nindy justru menghentikan mereka. "Barang-barang Andrew sudah dibereskan. Mana mungkin aku biarkan kalian pindah? Tinggallah. Ini urusan antara aku dan dia, nggak ada hubungannya dengan kalian." Nindy menatapku, tatapannya setajam pisau. "Yang harus pergi itu bukan dia, tapi kamu. Andrew masih kecil. Kamu laki-laki dewasa nggak bisa sedikit berlapang dada? Apa kamu harus memaksa mereka ke jalan buntu?" Setiap kata menusukku seperti bilah yang melukai sampai ke usus. Ternyata aku yang memaksa mereka ke jalan buntu? Apa aku harus sebaik itu, sampai ikut bertepuk tangan melihat mereka bermesraan? Aku ingin bertanya, tetapi saat aku melihat wajah dingin Nindy, semua terasa tak ada artinya lagi. Pergilah. Sampai tahap ini, daripada terus menjadi lelucon, lebih baik semuanya diakhiri. Aku pergi tanpa suara. Aku kembali ke kamarku, membereskan pakaian dan barang-barang, bersiap pindah dari rumah ini. Ironisnya, lima tahun menikah aku tak pernah membeli apa pun untuk diriku sendiri. Semua pikiranku hanya tertuju pada Nindy dan rumah ini. Pada akhirnya, barang-barang yang benar-benar milikku hanya cukup memenuhi satu koper kecil, yang bisa dibereskan kurang dari satu jam. Tak ada lagi jejakku di kamar ini. Lima tahun pernikahan kami pun resmi berakhir. Sebelum pergi, kutinggalkan sepucuk surat perpisahan. Tak ada banyak kata, hanya memberi tahu bahwa hari Senin depan kami akan bertemu di pengadilan negeri. Namun, saat membuka pintu, aku melihat Nindy berdiri di luar. Melihatku menenteng koper, keningnya langsung berkerut. "Kamu mau ke mana?" "Memberi kalian ruang. Hubungan kita sudah selesai." Aku mencoba melewatinya, tetapi dia menghalangi dan mendorongku kembali. "Ray, Andrew masih di rumah. Kamu mau membuat semuanya jadi memalukan di depan seorang anak kecil? Aku menyuruhmu pergi ke kamarmu, bukan pergi dari rumah ini." Kamarku sudah rapi. Nindy langsung melihat surat itu. Setelah membaca isinya, dia tanpa ragu merobek surat itu dan menatapku dengan marah. "Ray, aku bilang sekali lagi, aku nggak setuju cerai. Kalau kamu masih berani punya pikiran begitu, kamu tahu akibatnya!" "Akibat apa?" Dengan hati yang hancur, aku balik menantang. "Melanggar aturanmu? Tapi saat kamu berbaring di pelukan Chicco, hanya memakai handuk dan membiarkan dia mengeringkan rambutmu, saat kamu berlaku seperti ibu Andrew, apa kamu ingat aturanmu? Kamu ingat agamamu?" Belum selesai aku berbicara, wajah Nindy menggelap dan dia menamparku dengan keras. "Diam! Berani sekali kamu menghina agamaku!" Aku terpaku. Tak pernah kusangka Nindy akan menamparku. Lima tahun menikah, meskipun sikapnya dingin, kami setidaknya saling menghormati. Tak pernah separah ini. Kini, tamparan itu menghancurkan sisa perasaanku padanya. "Nindy, anggap saja aku nggak sanggup mengikuti aturanmu lagi. Lebih baik kita pisah baik-baik. Kita pernah hidup bersama, jadi nggak perlu membuat hubungan sekacau ini." Ketegasanku seperti menyadarkannya sejenak. Wajah dinginnya sedikit melunak. "Aku memang salah karena menamparmu. Aku bisa minta maaf. Tapi kamu tahu itu hal yang paling aku jaga dan justru kamu menyerangku dari sana." Mendengar dia memutarbalikkan kesalahan, aku hanya mencibir. "Terserah kamu mau pikir apa." Kata-kata itu kukembalikan padanya bulat-bulat. Nindy terdiam sejenak, lalu tampak marah lagi. "Ray, kenapa kita nggak bisa saling percaya sedikit? Orang yang mendalami agama nggak berbohong. Kalau aku bilang aku nggak akan mengkhianati pernikahan ini, berarti memang nggak akan. Kenapa kamu harus melawan?" Aku berkata tanpa ekspresi, "Aku hanya ingin menghentikan kerugianku." Nindy tampak frustrasi, lalu merebut koperku. "Kamu mau ke mana terserah. Tapi aku nggak setuju cerai." Setelah mengatakan itu, dia pergi. Barulah aku sadar tubuhku pun gemetar disertai rasa sakit yang menghantam. Jantungku seperti diremas oleh tangan tak kasatmata, membuatku sulit bernapas. Apa Nindy berpikir hanya karena dia mengambil koperku, aku tidak bisa pergi? Dia salah. Itu hanya pakaian dan barang-barang harian. Aku bisa membelinya lagi. Yang aku tidak tahan adalah tinggal di sini. Jadi, aku tetap pergi. Begitu keluar, aku menerima telepon dari tim. Bab 3 "Halo, Kapten." "Ray, ada kabar buruk. Semalam terjadi kebakaran hutan di pegunungan wilayah barat. Tiga regu sudah memadamkan mati-matian, tapi api masih sulit dikendalikan. Giliran kita sebentar lagi." "Nggak masalah, aku selalu siap!" Seketika, sarafku menegang, tak sempat lagi merasakan sakit di hati. Aku bersiap naik taksi menuju markas untuk siaga. Kebakaran hutan yang lepas kendali adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Begitu merambat, entah berapa banyak keluarga tak bersalah yang akan terkena dampaknya. Dibandingkan bencana ini, urusanku dengan Nindy sama sekali bukan apa-apa. "Kamu nggak perlu buru-buru ke sini. Situasi kali ini kamu pasti paham. Aku kasih kamu satu hari untuk benar-benar pamit pada keluargamu. Terutama istrimu. Kalau nggak salah, kamu sudah menikah, 'kan?" Langkahku terhenti, perasaanku campur aduk. Semua orang di regu sebenarnya tahu aku sudah menikah, tetapi Nindy tidak pernah datang ke markas, bahkan entah berapa kali dia menolak undangan acara keluarga regu dengan alasan sibuk bekerja. Jadi, kapten dan rekan-rekanku hampir melupakan keberadaannya. "Baik, Kapten." Setelah menutup telepon, aku menghela napas panjang. Lima tahun menikah, aku sangat paham temperamen Nindy. Seorang wanita yang sepenuh hati mendalami ajaran agama, tidak pernah peduli pada urusan-urusanku. Setiap kali aku mendapat tugas, meskipun dia tahu, paling-paling hanya menanyakan dua kalimat sekadar formalitas. Selama ini, aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang dingin. Perlahan, aku pun berhenti mengganggunya. Namun kali ini, keadaannya berbeda .... Meskipun harus menghadapi wajah dingin Nindy, aku tetap berbalik menuju rumah. Lima menit perjalanan berlalu dengan cepat. Saat melihatnya lagi, wajahnya tidak sedingin yang kubayangkan. Nindy sedang bersiap keluar dengan mobil, tampak anggun dan sangat memikat. Aku belum pernah melihatnya berdandan secantik itu. "Ada hal penting yang mau kubicarakan." Aku berjalan ke sisi mobilnya, tetapi dia bahkan tidak menoleh. Suaranya datar saat menyahut, "Kita bicara setelah aku pulang nanti. Aku ada urusan mendadak." "Kamu mau ke mana?" Aku sedikit mengernyit, tidak menyingkir. Kebakaran hutan sedang genting. Aku tidak tahu apakah aku masih punya waktu untuk menunggunya pulang. Adapun urusan mendadak Nindy selama ini, selain pekerjaan di kantor, hanya pergi berdoa ke kuil. Namun yang tak kusangka, di kursi penumpang depan duduk Chicco. Nindy tidak menjawab, tetapi Chicco justru menjelaskan, "Maaf, Pak Ray. Siang ini perusahaanku ada acara. Nindy ingin menemaniku." Setelah itu, dia menoleh ke Nindy. "Nindy, kalau begitu biar aku pergi sendiri saja." "Nggak perlu, dia nggak ada urusan penting. Urusanmu lebih penting." Nindy menolak tanpa keraguan, langsung menyalakan mobil dan melaju pergi. Aku terpaku cukup lama, lalu baru sadar kembali. Tenggorokanku seolah-olah tersumbat batu besar. Sakitnya menusuk. Lima tahun bersama, entah berapa banyak undangan acara kerjaku yang dia tolak, tetapi untuk menghadiri acara Chicco, dia bisa berdandan cantik dan berangkat pagi-pagi. Acara makan siang, tetapi dia sudah berangkat dari pagi .... Nindy, kamu bilang orang yang mendalami ajaran agama tidak berbohong dan tidak berkhianat. Namun, Chicco jauh lebih seperti suamimu, seperti orang yang benar-benar kamu pedulikan. Apa kamu menghadiri acaranya juga demi anak itu? Aku hanya merasa konyol dan menyedihkan. Tubuhku seolah-olah diliputi hawa dingin yang menusuk. Setelah dia pergi, aku pun tidak punya alasan untuk tetap tinggal. Rumah yang dulu penuh kehangatan dan harapan, kini terasa begitu menolak kehadiranku. Setiap langkah meninggalkan rumah seperti menginjak gelembung kenangan indah yang pecah satu per satu. Langkah demi langkah penuh keindahan, langkah demi langkah hancur. Sampai malam hari, aku menerima pesan dari Nindy. [ Malam ini aku ada waktu. Kita keluar makan. Kamu bilang mau bicara, 'kan? ] Ajakan sederhana itu terasa seperti belas kasihan yang dilemparkan padaku. Setelah ragu lama, aku tetap memutuskan untuk bertemu dan berbicara soal perceraian. Jika aku benar-benar tidak kembali nanti, setidaknya aku bisa pergi tanpa beban, tanpa terus terjerat dengannya. Aku memesan restoran tempat kami kencan pertama, memintanya datang sendiri, jangan membawa siapa pun. Jika takdir dimulai di sana, tentu harus diakhiri di sana juga. Tempat duduk yang familier, bahkan lonceng angin di sudut jendela masih sama. Namun, kami sudah bukan orang yang sama. Dia tidak membalas pesanku. Aku menunggu sampai lewat pukul 9 malam. Restoran hampir tutup, tetapi Nindy tetap tidak datang. Benar-benar dewi yang kejam. Sudahlah, aku sudah terbiasa diabaikan. Namun, saat aku hendak pergi, Nindy datang membawa Chicco dan Andrew. "Kenapa mereka ikut?" Aku mengernyit. Ini pertemuan perpisahan, juga urusan hidup dan mati, jadi aku tidak ingin ada orang luar. Namun, Nindy tidak peduli. "Aku baru siap lembur. Chicco dan Andrew juga belum makan. Kenapa memangnya kalau mereka ikut?" Sambil berbicara, Chicco dan Andrew sudah duduk di hadapanku. Di sebelahku ada kursi kosong, tetapi Nindy hanya melirik sebentar, lalu duduk di samping mereka. "Chicco bilang, sebagai permintaan maaf, makan malam ini dia yang traktir. Ray, belajarlah seperti dia. Jangan pelit." Kata-kata yang dia lontarkan secara blak-blakan itu membuat dadaku kembali tersobek, sakit bukan main. Makan malam terakhir ini, aku tidak ingin berdebat. Aku ingin berpamitan dengan baik. Namun, dengan Chicco dan Andrew di sana, semua kata-kata yang sudah kupersiapkan tersangkut di tenggorokan. Nindy, kalau kamu tahu aku ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir malam ini, apakah kamu akan menyesal membawa orang lain? Namun, itu tidak penting lagi. Toh sudah tidak ada kesempatan. Hati sang dewi terlalu dingin. Aku tak sanggup lagi menyentuhnya. "Pak Ray, makan saja. Aku yang bayar. Nindy sangat baik. Aku juga berterima kasih karena kamu mau menerima Andrew. Benar-benar terima kasih!" Chicco mengangkat gelas ke arahku. Aku tidak bergerak, membuatnya kaku dan canggung. "Jangan pedulikan dia, kita minum saja. Hatinya terlalu sempit, nggak sedermawan kamu. Nggak usah sia-siakan niat baikmu." Nindy mengangkat gelas dan mendentingkannya dengan gelas Chicco. Saat menghibur Chicco, dia tidak lupa merendahkanku. Nada suaranya lembut, bahkan mengajak Andrew. "Cheers!" Mereka bertiga bersulang, tersenyum cerah, mengobrol tentang dekorasi rumah, tentang hal -hal kesukaan Andrew. Pada saat itu, aku yang duduk di hadapan mereka justru menjadi orang asing yang menumpang meja. "Nindy, kamu yang mengajakku atau dia yang mengajakku?" Aku tiba-tiba menyadari sesuatu. "Tentu saja Chicco yang berniat minta maaf duluan. Aku mana punya waktu?" Nindy mengernyit. Satu kalimat itu menghancurkan sisa harapanku tentangnya. Ironis sekali. Pertemuan terakhirku dengannya ... ternyata adalah kesempatan yang diperjuangkan oleh Chicco. Sakitnya membuatku justru mendapat keberanian untuk melepaskannya. "Siang tadi regu memberitahuku, aku harus pergi bantu memadamkan kebakaran hutan. Situasinya berbahaya. Mungkin aku nggak akan pulang. Aku pikir, setidaknya kita urus perceraian dulu. Aku merestui kalian." Setelah mengatakannya, aku merasa lega. Namun tak kusangka, ketiga orang di depanku ... tidak ada yang mendengar. Tawa mereka tidak berhenti, bahkan tak menoleh ke arahku. Saat itu, aku merasa diriku benar-benar seperti lelucon. Baru saja terasa lega, hatiku kembali ditusuk tajam. "Nindy, kamu dengar apa yang kubilang?" "Mm, iya. Hati-hati ya." Nindy hanya sibuk mengambilkan makanan untuk Andrew, menjawabku secara asal. Aku tertawa pahit. Bagaimana aku bisa bertahan lima tahun dalam pernikahan seperti ini? Jika dia tidak mau mendengar, biarlah. Aku berdiri hendak pergi. Namun tiba-tiba, lampu gantung di atas kepala bergoyang dan jatuh menghantam tepat di kepalaku! Suara ledakan keras terdengar. Lampu kaca pecah berantakan, darah mengalir di kepala dan wajahku. Aku terhuyung dan jatuh. Semua orang di restoran menoleh, termasuk Nindy. "Ray!" Ekspresinya berubah drastis. Dia berlari ke arahku tanpa pikir panjang. Bab 4 Untuk pertama kalinya aku melihat Nindy begitu panik. Dia terlihat hampir menangis. Dan itu ... karena aku. Aku sedikit linglung, merasa dia masih mencintaiku. Namun detik berikutnya, suara tangis Andrew terdengar. "Mama, Papa juga berdarah. Aku takut ...." Nindy menoleh dan melihat Chicco juga memegangi lengannya yang berdarah. Tadi pecahan kaca terbang dan menggores lengannya, meninggalkan dua luka kecil. "Chicco, aku antar kamu ke rumah sakit." Tanpa ragu sedikit pun, Nindy meninggalkanku dan menarik Chicco untuk pergi. "Nindy, ajak Pak Ray juga. Lukanya lebih parah." Suara Chicco menyertai tangisan Andrew. "Nggak, Papa. Aku takut darah, aku nggak mau dia!" Andrew menatapku dengan penuh penolakan. Chicco tidak melanjutkan, hanya menatap Nindy. Beberapa detik saja, Nindy sudah membuat keputusan. "Nggak bisa. Andrew bisa pingsan kalau lihat darah. Dia nggak boleh ikut. Biarkan saja, Ray itu petugas pemadam kebakaran. Dia mengerti pertolongan pertama, jadi dia bisa mengurus dirinya sendiri." "Kita pergi!" Nindy menggendong Andrew sambil menarik tangan Chicco, pergi tanpa menoleh sedikit pun. Darah membuat penglihatanku kabur. Kini, darah dan air mata bercampur membasahi wajahku. Akhirnya, pemilik restoran menyuruh seseorang membawaku ke rumah sakit untuk pertolongan darurat. Untung tidak ada masalah besar, hanya luka ringan. Setelah dibalut, sudah tidak apa-apa. Hanya saja, dibanding rasa sakit di tubuh, hatiku sudah lama mati rasa. Adegan ketika Nindy meninggalkanku tanpa ragu tadi, seperti seribu jarum menusuk jantungku, membuatnya penuh lubang hingga darahnya habis. Aku terbaring di ruang rawat dengan perasaan hampa. Aku sudah tidak berharap apa pun dari Nindy, hanya berharap lukaku tidak menghalangiku berangkat besok. Malam itu, aku terus terbangun karena rasa sakit. Ponselku hening sepanjang malam. Nindy tidak mengirim satu pesan pun, seolah-olah Chicco dan Andrew adalah seluruh hidupnya, dan aku hanya orang asing yang tak ada hubungannya. Pagi berikutnya, aku terbangun oleh telepon kapten. "Halo, Kapten." "Ray, sudah siap?" "Ya, aku bisa kembali ke regu sekarang." Kepalaku tidak sesakit semalam. Aku mencoba turun dari tempat tidur dan tubuhku sudah bisa digerakkan. Tentang Nindy, terserah dia. Aku hanya manusia biasa, sedangkan dia adalah dewi yang tak terjangkau. "Kamu nggak perlu buru-buru. Kebakaran hutan kali ini sangat serius. Regu menunggu peralatan pemadam dari pusat. Begitu peralatan datang, kita langsung berangkat. Pemberitahuannya siang. Nanti aku kabari waktu tepatnya." Telepon ditutup dan aku terpaku. Tambahan setengah hari waktu, tetapi aku tidak punya tempat untuk kembali. Pulang? Tidak. Di sisa waktuku yang mungkin terakhir, aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri lagi. Saat itu, Nindy meneleponku. "Ray, jangan pulang dulu. Andrew nggak suka kamu. Dia bilang setiap kali kamu muncul, papanya selalu nggak senang atau terjadi kecelakaan. Anak itu masih kecil, biarkan dia menyesuaikan diri." "Aku sudah memesankan hotel untukmu. Barang-barangmu akan dikirimkan oleh kepala pelayan. Untuk sementara ini, Chicco akan tinggal di rumah." "Dia tidur di kamarmu. Kami nggak melakukan apa-apa, jadi kamu bisa tenang soal itu." Nada Nindy tetap seperti biasa, hanya sekadar pemberitahuan. "Sudah ya, aku mau rapat. Aku tutup dulu." Telepon berakhir dengan nada sibuk. Hatiku kembali tercabik-cabik. Nindy, kamu semakin keterlaluan. Sejak pertama kali aku menyadari kejanggalan, lalu kamu mengadopsi anak, kemudian Chicco masuk rumah dengan alasan yang masuk akal, hingga kini kamu mengusirku keluar. Kamu hanya belum terang-terangan mengakui hubunganmu dengan Chicco. Namun, sebagai dewi yang luhur, kamu memang meremehkan aku yang hanya manusia biasa ini. Sudahlah, anggap saja lima tahun masa mudaku sia-sia. Menjelang keberangkatan ke garis terdepan kebakaran, aku justru menjadi lebih lega. Aku tak mau lagi terikat oleh urusan rumah tangga. Setelah keluar dari rumah sakit, aku menuju hotel dan mengambil koperku. Yang tak kuduga, kepala pelayan juga mengirimkan laptop Nindy. Mungkin dia mengira itu milikku. Karena laptop itu adalah hadiah yang kuberikan pada Nindy saat hari jadi kami. Waktu itu aku salah beli warna hitam, tetapi dia tidak keberatan dan memakainya sampai sekarang. Itu laptop kerjanya. Aku awalnya tidak mau menyentuhnya. Namun, aku teringat di dalamnya ada banyak foto dan video masa pacaran kami. Saat itu dia belum terobsesi pada ajaran agama dan kami masih bahagia. Karena aku akan pergi, sebaiknya aku hapus semua agar tidak menyakitkan mataku. Aku membuka laptopnya, berniat menghapus semuanya. Tak kusangka, saat membuka laptop itu, akun WhatsApp-nya secara otomatis terbuka. Kotak obrolan paling atas begitu menusuk mata. Chicco. Bukan hanya dipin di paling atas, pria itu bahkan mendapat catatan nama khusus satu huruf, "C". Satu huruf sederhana, tetapi penuh ambigu. Sedangkan aku? Setiap hari aku mengiriminya puluhan pesan, tetapi tak ada satu pun jejakku terlihat di daftar obrolan. Dadaku terasa nyeri. Aku menggulir ke bawah. Ruang obrolan dengan Chicco adalah satu-satunya yang dipin. Di bawahnya adalah grup perusahaan, beberapa wakil direktur, dan klien. Lebih ke bawah lagi ada grup belajar agama, teman-teman seiman, kepala kuil. Paling bawah barulah aku, di urutan entah ke berapa puluh. Yang terpampang hanyalah nama akun WhatsApp-ku. Lima tahun menikah, aku bahkan tidak pantas mendapat nama khusus? Yang lebih menyakitkan, aku satu-satunya kontak yang dia setel "jangan ganggu". Pantas saja setiap hari aku mengirim puluhan pesan, dia hanya membalas beberapa kata tiga hari sekali. Ternyata sejak awal, di mata sang dewi, aku tidak pernah ada. Inilah pernikahan yang selama ini kupikir bahagia. Tiba-tiba, rasanya sangat ironis. Satu huruf itu seolah-olah berubah menjadi monster yang mencabik-cabik hatiku, mengoyakku hingga hancur, lalu menenggelamkanku ke dasar laut. Sakitnya sampai menusuk tulang, dinginnya sampai mematikan. Aku hampir sulit bernapas. Aku hendak menutup WhatsApp, tetapi sebuah notifikasi muncul. Pesan dari Chicco. Itu adalah belasan foto saat Nindy dan Chicco menemani Andrew ikut lomba permainan di sekolah. Foto pertama, Nindy, Chicco, dan Andrew memakai baju keluarga, berpegangan tangan, tersenyum bahagia. Foto kedua, Nindy dan Chicco berdiri sangat dekat, bersama-sama mengangkat Andrew untuk memecahkan balon. Foto ketiga, Andrew memegang sepotong biskuit, lalu mereka berdua menggigit dari dua sisi. Jarak bibir tinggal dua atau tiga sentimeter. Foto-foto berikutnya semakin intim dari sebelumnya. Dadaku sesak, tak bisa bernapas. Aku belum pernah melihat dewi yang dingin itu begitu bebas dan bahagia. Di sudut kanan bawah ada watermark. Foto-foto itu diambil sepuluh menit lalu. Aku tertawa sinis. Pantas dia tidak membiarkanku pulang. Takut aku melihat ini. Nindy, kamu bilang kamu sedang rapat. Bukankah katanya orang yang mendalami ajaran agama tidak boleh berbohong? Namun, kenapa dalam pernikahan kita ... hanya ada kebohongan? Bab 5 Aku secara naluriah ingin segera menelepon Nindy untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun kemudian, aku merasa itu tidak ada artinya. Faktanya sudah sangat jelas. Meskipun dia tidak setuju bercerai, aku akan pergi dan belum tentu bisa selamat kembali. Sudahlah. Aku meletakkan ponsel. Sebelum pergi, aku tidak ingin menambah beban sendiri. Awalnya aku hanya ingin mematikan laptop, lalu mengambil koper dan pergi, tetapi tak kusangka Chicco kembali mengirim pesan. Kali ini sebuah video. Sampul videonya adalah dia dan Nindy berdiri bersama di atas panggung. Kebahagiaan manis hampir meluap dari layar. Baru saja direkam? Hatiku bergetar, tetapi tetap memutar videonya. Di atas panggung tadinya berdiri seorang guru, mengundang orang tua Andrew naik untuk menceritakan kisah cinta mereka. Nindy menggenggam tangan Chicco dan naik. Dewi yang katanya tidak menginginkan apa pun itu, kini malah terlihat malu-malu. Nindy berkata terlebih dahulu, "Chicco adalah cinta pertama masa kecilku. Sejak SD, kami selalu sekelas, sampai akhirnya dia baru menyatakan cinta padaku waktu kuliah ...." "Setelah lulus, kami melangkah ke dalam istana pernikahan dengan bahagia. Keberuntungan terbesar dalam hidupku adalah bertemu seorang pria yang begitu mencintaiku dan begitu sempurna." Mataku langsung membelalak. Chicco adalah cinta pertama Nindy? Padahal waktu kami pacaran, dia jelas berkata akulah cinta pertamanya. Dia bilang dirinya seperti selembar kertas putih, memintaku menjaganya baik-baik. Aku pun berjanji sepenuh hati, memanjakannya saat pacaran. Setelah menikah, bahkan rasanya aku ingin memberikan bintang-bintang di langit untuknya. Aku selalu menghormati setiap keinginannya. Pada akhirnya, ini hasilnya? Hatiku seperti ditarik secara paksa, lalu dibanting ke lantai dan diinjak-injak sampai hancur. Saking sakitnya, aku hampir tidak bisa bernapas. Aku jatuh terduduk dan tubuhku gemetar tanpa henti. Air mata mengaburkan penglihatanku. Nindy ... ternyata selama ini kamu membohongiku. Kebohongan sang dewi sudah dimulai sejak masa pacaran. Bukan pernikahan kami penuh kebohongan. Dia tidak pernah mengatakan satu kalimat jujur pun kepadaku .... Video terus berlanjut. Terdengar suara kekaguman dari para orang tua di luar layar. Ada yang menyuruh Nindy menceritakan lebih banyak hal-hal romantis apa yang pernah terjadi. Aku tersenyum pahit. Saat baru bersama Nindy, aku juga pernah menyiapkan kejutan-kejutan romantis untuknya. Namun, reaksinya semakin lama semakin dingin. Dia pernah berkata terus terang bahwa dia paling membenci hal-hal romantis. Bagi orang yang belajar agama, romantis itu tidak berguna, tidak sebanding dengan ketulusan. Aku percaya padanya. Aku menekan perasaanku, menemaninya dalam kehidupan yang hambar, hanya untuk membuktikan ketulusanku. Namun, hati ini sudah lama dia hancurkan berkali-kali. Di video kembali terdengar suara lembut dan malu-malu Nindy. "Kami tentu kami punya banyak hal romantis. Dia itu pria yang sangat romantis, sudah tak terhitung berapa banyak kejutan yang dia buat untukku." "Saat baru bersama, dia begadang tiga malam untuk diam-diam merajutkan tas untukku, bahkan nggak berani memberikannya langsung, dan bohong bilang itu hadiah undian. Saat itu, melihat dia menguap terus dengan mata panda, aku bersumpah dalam hati bahwa hidupku hanya untuk dia." Nindy dan Chicco berpegangan tangan dengan erat, saling memandang penuh kasih. "Tas itu masih kusimpan sampai sekarang." "Lalu suatu hari setelah kami menikah, aku asal bilang masakan kantor nggak cocok dengan seleraku. Malamnya saat aku pulang, dia sudah menyiapkan satu meja penuh hidangan yang dia masak sendiri." "Setiap hidangan adalah favoritku. Belakangan baru kuketahui, demi mencari bahan terbaik, dia keliling kota setengah hari, memasak sampai kedua tangannya penuh luka bakar." Nindy mengangkat kedua tangan Chicco dengan penuh emosi dan menciumnya di depan umum. "Aku nggak akan pernah lupa hal itu. Saat itu, aku menyayanginya, bilang dia bodoh, tapi dia bilang dia nggak menyesal dan hanya ingin melihatku tersenyum." "Dan waktu aku demam tinggi, dia menemani tiga hari tiga malam tanpa tidur sampai akhirnya masuk rumah sakit. Dia bilang, nyawaku lebih penting dari nyawanya ...." Setiap kali Nindy mengisahkan sesuatu, terdengar suara iri para orang tua. Suara-suara itu seperti pisau yang menusuk hatiku. Sakitnya sampai ke dalam tulang. Videonya masih panjang, tetapi aku langsung mematikan laptop. Karena aku sudah tidak sanggup mendengarnya. Sakit, luluh lantak .... Setiap kisah romantis itu seperti ribuan sayatan di tubuhku. Semua itu ... jelas-jelas adalah hal-hal yang kulakukan untukmu! Aku memekik dalam hati. Hatiku membeku. Ternyata sang dewi bukan tidak punya perasaan. Dia bukan sosok yang dingin atau tak peduli. Sikap dingin itu ... hanya ditujukan padaku seorang. Semua kebaikan yang kuberikan padanya, dia ingat. Namun, semuanya dia akui sebagai perbuatan pria lain. Padahal sama sekali bukan begitu. Tas yang kuanyam tiga malam, dia hanya bilang terima kasih, lalu tidak pernah memakainya lagi. Setiap kali kutanyakan, dia hanya bilang tidak suka modelnya. Aku menyesal berhari-hari, menyalahkan diri karena tidak memahami seleranya. Hidangan yang kusajikan untuknya, dia tidak makan sampai habis. Dia bahkan memarahiku habis-habisan, bilang sebagai seorang yang belajar agama, dia pantang kemewahan dan pemborosan. Menurutnya, aku melakukan itu karena tidak menghormatinya. Aku menjelaskan dengan panik, bilang aku hanya ingin membuatnya tersenyum. Namun, Nindy tidak memedulikanku, lalu tinggal di kuil selama seminggu. Tentang luka bakar di tanganku, kupikir dia tidak mengetahuinya. Sekarang aku sadar, dia tahu. Hanya saja, dia malas peduli. Saat dia demam tinggi, akulah yang mengambil cuti dari tim dan menjaganya siang malam. Dia menyuruhku pergi. Kukira karena dia merasa tidak tega padaku, tetapi yang kudapat justru hanya rasa muaknya. Katanya demam itu ujian dari Tuhan, bahkan sebuah berkah. Dia melarangku masuk kamarnya selangkah pun, bilang aku kotor dan bodoh. Aku sampai tidak bisa tidur karena menyalahkan diri, lalu mempelajari ajaran agama siang malam. Namun, tidak pernah kutemukan ajaran bahwa "sakit itu berkah" seperti yang dia bilang. Kupikir aku yang bodoh, tetapi ternyata itu hanya alasannya untuk menjauhiku. Jadi, dia bukan tidak mengerti kebaikanku. Dia hanya memberikan hatinya pada orang lain dan tak sudi menerima hatiku. Nindy, ini salahku. Salahku karena pernah bertemu denganmu. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari hati yang mati. Air mata sudah habis. Aku justru merasa lega, bersyukur karena ada setengah hari ini untuk mengetahui semua kebenaran. Pernikahan konyol ini memang harus diakhiri. Dewi tidak punya cinta, maka manusia biasa ini harus berhenti berharap. Aku meminta kertas dan pena dari resepsionis hotel, menulis sepucuk surat perpisahan. [ Nindy, mau kamu setuju atau nggak, mau kamu sedang dalam masa pantangan atau nggak, kita resmi berakhir. ] [ Aku merelakanmu dan cinta pertamamu, Chicco. ] [ Andrew itu pasti anak kandung kalian berdua, 'kan? Aku nggak ngerti, kamu sudah menutupinya begitu keras, begitu lelah bersamaku, kenapa kamu masih menikah denganku? ] [ Lima tahun membuatku sadar betapa konyolnya aku selama lima tahun ini. Terus terang, aku menangis sampai air mataku habis, tapi bukan untukmu, melainkan karena aku merasa diriku nggak pantas diperlakukan seperti ini! ] [ Sebagai suamimu, aku membencimu sampai ke tulang. Tapi sebagai seorang petugas pemadam kebakaran, aku nggak menyesal telah menyelamatkan kalian bertiga di hotel itu. Sekarang, aku akan berangkat tugas lagi. ] [ Anggap saja aku mati dalam tugas ini. Kita nggak akan pernah bertemu lagi. Surat ini adalah surat perpisahan. ] Bab 6 Selembar surat itu mengakhiri pernikahanku selama lima tahun. Tidak ada keterikatan, tidak ada penyesalan. Mulai sekarang, entah aku hidup atau mati, miskin atau kaya, semuanya tidak ada hubungan apa pun lagi dengan Presdir Grup Karya, Nindy. Namun, begitu kakiku baru saja melangkah keluar pintu, aku mencium aroma yang tidak beres. "Sepertinya ada sesuatu yang terbakar?" Sebagai seorang pemadam kebakaran, aku langsung waspada. Mengikuti arah bau itu, benar saja, dari celah pintu sebuah kamar, tampak asap tipis keluar. "Sial! Ini kebakaran!" Wajahku berubah drastis. Aku mengangkat alat pemadam di samping dan langsung menendang pintu dengan keras. Dum! Dum, dum! Satu tendangan, dua tendangan .... Setelah lima tendangan berturut-turut, barulah pintunya terbuka paksa. Seketika, aroma gosong yang menusuk hidung menerjang wajahku. Api berkobar di dalam ruangan. Meskipun belum besar, jika dibiarkan, pasti akan semakin tak terkendali! Tanpa ragu sedikit pun, aku mencabut pin pengaman alat pemadam dan menerjang masuk untuk memadamkan api. Yang terbakar adalah ranjang besar di kamar itu. Begitu masuk, aku baru melihat di atas ranjang ternyata masih duduk seorang wanita cantik mabuk dengan tubuh putih mulus dan penuh lekuk, hanya mengenakan jubah mandi. Saat ini, dia memegang gelas anggur. Sambil minum, dia menuang anggur ke bagian ranjang yang terbakar. Alkohol bertemu api, membuat api semakin membesar! "Cepat bangun! Kamu sudah bosan hidup ya?" Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku segera menarik wanita itu dari ranjang dan menempatkannya di belakangku. "Ah! Sakit!" "Keluar! Siapa kamu? Ini kamarku! Siapa yang menyuruhmu masuk?" Mungkin karena aku tegang, tarikanku agak kuat, membuat wanita itu memukul-mukul punggungku karena kesakitan. Sekarang bukan waktunya untuk memedulikan itu. Aku langsung mengangkat alat pemadam kebakaran dan menyemprot ke sumber api. Gerakanku cepat dan tegas. Dalam tiga detik, api padam. Setelah memastikan semuanya aman, aku baru menghela napas. Syukurlah aku datang tepat waktu. Kalau apinya membesar, aku sendirian pasti tak sanggup menanganinya. Saat itu barulah aku sempat menoleh pada wanita di belakangku. Begitu melihat, dia ternyata diam-diam menyalakan korek dan membakar lukisan di dinding. Api muncul lagi. "Kamu gila ya?" Aku terkejut bukan main, segera menahan wanita itu dengan satu tangan, lalu dengan tangan lainnya kembali menyemprot api ke lukisan itu. Namun, wanita itu kembali lepas dari genggamanku, lalu berlari ke ranjang, hendak membakar bantal. Dua kali masih bisa dimaklumi, tetapi tiga kali? Kesabaranku habis. Aku langsung menerjang dan menekannya ke ranjang, merebut korek api dari tangannya dan membuangnya. "Aku peringatkan, jangan bertindak sembarangan. Ini sudah masuk pidana pembakaran!" "Jangan mengancamku! Aku nggak takut apa-apa!" Bentakanku bukannya membuatnya sadar, malah menyulut emosinya. Dia pun meronta semakin keras. "Lepaskan aku! Sakit! Aku peringatkan kamu! Aku ini putri Keluarga Bastian, Nisha! Kalau kamu berani macam-macam, kamu tamat!" Entah mendapat tenaga dari mana, Nisha benar-benar berhasil melepaskan diri lagi, lalu masih berniat mengambil koreknya. "Masih mau?" Mana mungkin aku diam melihatnya membakar ruangan ini? Dalam keadaan terpaksa, aku kembali menariknya dan membantingnya ke ranjang. Kali ini aku menahan seluruh tubuhnya, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. "Kamu mabuk, aku nggak mau mempermasalahkan itu. Tapi aku beri tahu kamu, meskipun kamu putri keluarga besar, kamu nggak boleh membakar hotel. Itu tindakan kriminal!" "Hah!" Meskipun aku menindihnya, Nisha tetap tidak mau mengalah, masih meronta dan sampai memelototiku penuh kebencian. "Dasar mesum! Siapa suruh kamu menceramahiku? Cepat lepasin aku! Kalau nggak, aku laporin kamu masuk kamar orang seenaknya dan menodaiku!" Mendengar dia memutarbalikkan keadaan, aku pun tertawa kesal. "Kamu yang ingin membakar kamar. Aku cuma menahanmu." "Hah! Kamu cuma mau menodaiku! Kalau nggak, kenapa kamu menindihku seperti ini?" "Takut kamu terus main api." "Mau main api sampai mati pun nggak ada hubungannya denganmu! Lepaskan aku!" Saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya itu, barulah aku sadar mata Nisha sudah berkaca-kaca, penuh rasa teraniaya. Ditambah lagi, jubah mandinya sudah merosot karena meronta, memperlihatkan kulit putihnya yang terlalu banyak. Aku baru tersadar, jarak kami terlalu dekat. Posisi seperti ini terlalu rawan disalahpahami. Ini bahkan lebih dekat daripada saat aku bersama Nindy, padahal aku dan Nisha baru bertemu. "Maaf, aku nggak berniat melecehkanmu. Aku hanya masuk untuk memadamkan api." Melihat ekspresinya yang hampir menangis, aku cepat-cepat bangkit dan menjaga jarak. Pada detik berikutnya, dia buru-buru menyelimuti dirinya dengan selimut, hanya menyisakan kepala yang mengawasiku dengan curiga. "Siapa yang percaya? Kamu pikir kamu itu petugas pemadam kebakaran? Bisa seenaknya masuk kamar orang buat memadamkan api?" "Aku memang petugas pemadam kebakaran. Ini identitasku." Nisha masih meragukanku. Aku menghela napas dan mengeluarkan kartu identitas tugas. Dia mengambilnya, melihat-lihat, lalu menatapku lagi. Kecurigaannya sedikit berkurang, tetapi sikapnya tetap buruk. "Kenapa memangnya kalau kamu adalah petugas pemadam kebakaran? Nggak ada satu pun pria yang baik di dunia ini!" "Kamu sedang patah hati? Tapi nggak sampai harus membakar diri di usia muda begini, 'kan?" Melihat wajah Nisha yang marah, aku memberanikan diri menebak alasan dia mabuk dan mencoba membakar diri. "Bukan urusanmu! Nyawaku ini milikku sendiri. Mau bagaimana pun terserah aku!" Nisha mendengus dan memalingkan wajahnya. Mendengar itu, aku mengernyit dengan marah. Sebagai petugas pemadam kebakaran, aku sudah melihat terlalu banyak orang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di tengah kobaran api, tetapi akhirnya tetap tidak selamat. Jadi, aku paling tidak tahan melihat orang yang menganggap remeh hidupnya sendiri. "Kamu benar, nyawamu milikmu. Kamu mau hidup atau mati mati, itu sama sekali bukan urusanku. Tapi aku peringatkan, kalau kamu mau mati, kamu nggak boleh membakar diri di tempat umum. Itu namanya nggak bertanggung jawab dan memalukan!" "Kamu memakiku?" Nisha tertegun, menunjuk dirinya sendiri dengan tidak percaya. "Kenapa? Nyawamu saja nggak kamu hargai, apa salahnya kalau dimaki sedikit? Dengan wajah secantik itu, kamu akan jadi arang gosong dan nggak berbentuk lagi. Kamu tahu nggak, mati terbakar itu sakitnya seperti apa?" "Seolah-olah ada sepuluh ribu pisau menusukmu tanpa henti. Orang yang mati terbakar itu mati karena rasa sakitnya dulu, baru tubuhnya hangus. Sangat kejam!" Aku sengaja menggambarkan betapa mengerikannya mati terbakar. Walaupun dia tidak menghargai hidupnya, aku tidak bisa membiarkannya benar-benar mati dengan cara itu. "Kamu ... kamu jangan menakut-nakutiku! Aku nggak takut!" Walaupun menyangkal, wajah Nisha langsung pucat dan tubuhnya bergetar. "Ngapain aku menakut-nakutimu? Nggak percaya? Silakan coba. Tapi jangan di tempat umum. Cari tanah lapang yang terbuat dari beton, terus bakar dirimu. Aku nggak bakal peduli." Bab 7 Melihat tatapan takut Nisha, aku tahu hari ini dia pasti tidak berani bunuh diri lagi dan hatiku langsung lega. Namun siapa sangka, mulut perempuan ini tetap saja tidak mau mengalah. Dengan keras kepala, dia berkata, "Kalau begitu, aku tetap mau mati. Kamu pergi saja, aku akan lompat dari sini." Mendengar itu, aku mengangkat alis dan tanpa ragu berkata, "Lompat dari gedung? Boleh saja. Lompat gedung bukan urusanku. Tapi lantainya nggak cukup tinggi. Kalau kamu jatuh tapi nggak mati, malah jadi cacat seumur hidup, gimana?" "Aku sarankan kamu turun dulu beli plastik, lalu langsung ke atap. Pasang plastik di kepalamu, kencangkan, baru lompat. Dijamin benar-benar mati!" "Kamu ...!" Nisha hampir pingsan karena marah padaku. Dia melotot, tubuhnya gemetar, tetapi tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Kenapa harus pakai plastik di kepala?" "Supaya kamu nggak menyusahkan petugas kebersihan. Jangan sampai kamu jatuh hancur berantakan dan orang lain masih harus membersihkan otakmu yang tercecer." "Ray, kamu bukan manusia!" Membayangkan adegan itu, Nisha langsung menutup mata karena takut dan memakiku habis-habisan. Melihat reaksinya, aku semakin yakin bahwa sebenarnya dia tidak berani mati. Akhirnya, aku benar-benar tenang. "Sudahlah, kembalikan kartuku. Aku harus pergi. Kamu bereskan apa pun yang perlu kamu bereskan sebelum lompat gedung." Aku mengulurkan tangan ke arah Nisha. Namun, dia menggeleng dengan keras dan memekik dengan kesal, "Nggak mau! Kenapa aku harus mati sesuai cara yang kamu suruh? Kamu tadi sudah melihat tubuhku, jadi jangan harap bisa kabur begitu saja!" "Aku nggak punya waktu untuk dibuang-buang denganmu. Cepat mati saja. Aku masih harus pergi menyelamatkan orang." Saat aku berbicara, mumpung dia lengah, aku langsung merebut kembali kartu identitasku, lalu berbalik tanpa ragu dan melangkah cepat ke luar. Meskipun aku mau menyelamatkannya, jujur saja, aku benar-benar tidak punya kesan baik pada nona manja yang seenaknya seperti ini. "Berhenti! Ray, aku nggak akan membiarkanmu pergi begitu saja!" Teriakan Nisha terdengar dari dalam kamar, tetapi aku tidak menggubrisnya. Aku membawa koperku dan pergi begitu saja. Aku tidak tahu bahwa setelah aku pergi, Nisha membuka telapak tangannya dan di dalamnya tergeletak foto kecil sebesar dua inci dari kartuku. Dia menatap fotoku. Di wajah cantiknya muncul senyuman tipis. Kemudian, dia bergumam, "Dilihat lebih teliti ... ternyata lumayan tampan juga ...." "Regu Pemadam Kebakaran Distrik Dua, Ray, aku ingat kamu. Kamu nggak akan lolos!" Sementara itu, aku sama sekali belum menyadari bahwa seseorang sudah mengincarku. Keluar dari hotel, aku langsung kembali ke markas. Ketika kapten melihatku datang lebih awal sambil membawa koper, dia langsung tampak terkejut. "Ray, kenapa sampai bawa koper segala?" Wajar kalau kapten heran. Saat petugas pemadam kebakaran masuk ke area kebakaran, itu namanya mempertaruhkan nyawa. Tidak ada yang membawa koper karena memang tidak perlu. "Aku membereskan semua barangku di rumah. Aku takut istriku melihat barang-barang yang kutinggalkan dan sedih." Aku hanya bisa memberi alasan itu, tidak ingin menjelaskan pernikahanku dengan Nindy yang sudah hancur. "Kamu ini .... Ray, belum tentu kamu nggak selamat. Nggak perlu sampai seperti ini." Kapten menghela napas, lalu berkata, "Barusan ada pemberitahuan. Peralatan pemadam sudah diangkut lewat udara ke kaki gunung. Kita bisa langsung berangkat." "Baik, aku sudah siap." Setelah berpisah dengan Nindy, aku memang sudah siap mati. Ekspresiku tidak berubah sedikit pun. "Tapi Ray, situasinya berubah. Ada bantuan peralatan dan kebetulan turun hujan. Api sudah berhasil dikendalikan. Kali ini kita ke sana lebih untuk penanganan akhir. Sebenarnya kamu nggak perlu ikut." Nada kapten terdengar tidak tega. Kalau bukan karena keadaan terpaksa, dia sebenarnya tidak mau aku ikut menangani kebakaran gunung, apalagi aku dan istriku belum punya anak. "Kapten, aku tetap ikut. Tambah satu orang berarti tambah satu tenaga lagi." Mendengar kabar itu, aku sebenarnya lega. Setidaknya api sudah tertangani, berarti tidak akan ada korban lagi. Namun, begitu mengingat kondisi menyedihkan antara aku dan Nindy, secercah cahaya di dalam hatiku padam lagi. Sudahlah, pergi saja. Akhirnya, karena aku bersikeras, kapten mengizinkanku berangkat bersama tim. Ketika kami tiba, api gunung sudah sepenuhnya terkendali. Yang tersisa hanya perhitungan kerusakan dan merawat para korban yang terluka. Melihat pemandangan yang porak-poranda itu, aku langsung mengosongkan pikiran dan fokus pada pekerjaan. Beberapa hari berturut-turut, aku makan, minum, tidur, buang air, semuanya di pinggir gunung. Kondisinya sangat parah. Meskipun aku tidak turun langsung ke garis depan, aku melihat dengan mata kepala sendiri para petugas yang dibawa kembali dari sana. Entah berapa banyak rekan-rekan yang gugur di kebakaran ini. Beberapa hari ini, jenazah para petugas terus dibawa turun dan semuanya sudah tidak berbentuk. Sebagian besar dari mereka adalah petugas pemadam kebakaran dari desa-desa sekitar. Keluarga mereka sudah datang ke kaki gunung untuk mengenali jenazah. Ada istri yang datang sambil membawa anak, menangis sampai suara habis. Ada juga orang tua yang sudah sangat tua, berjalan gemetaran ke depan, tetapi tidak sanggup menerima kenyataan dan langsung pingsan karena terlalu sedih. Melihat semua itu, hatiku benar-benar tersayat. Beberapa hari ini, aku tidak menerima satu pun telepon dari Nindy. Bahkan pesan pun tidak. Kalau bisa, aku benar-benar berharap yang berbaring sebagai korban itu adalah aku, supaya mereka bisa kembali pada keluarganya. Toh bagiku, istriku sendiri tidak pernah menganggapku sebagai keluarga. Bagi Nindy, keberadaanku sama sekali tidak penting. Sementara itu, Nindy baru saja mengakhiri sebuah rapat. Saat melangkah keluar dari ruang rapat, dadanya tiba-tiba terasa sesak tanpa alasan. Nindy memegang dadanya dengan bingung. Asisten di sampingnya segera bertanya, "Bu Nindy nggak enak badan? Perlu aku batalkan jadwal rapat sore?" "Nggak perlu. Aku baik-baik saja." Nindy menggeleng, lalu seakan-akan teringat sesuatu, dia membuka ponselnya. Tidak ada pesan dariku. Dia mengerutkan alis, tidak tahu apa perasaannya saat itu. Kemudian, dia bertanya, "Beberapa hari ini Ray nggak bertingkah? Pihak hotel nggak menghubungiku?" "Nggak ada, Bu." Asisten itu bingung. Nindy hampir tidak pernah menanyakan soalku sebelumnya. "Baiklah. Kamu nggak perlu ikut. Aku mau pergi sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Nindy langsung meninggalkan kantor. Setengah jam kemudian, dia muncul di lobi hotel, menyerahkan kartu hitam. "Tolong cek catatan keluar masuk Ray beberapa hari ini." "Bu Nindy, Pak Ray nggak menginap di sini. Setelah hari pertama datang, nggak lama kemudian beliau membawa kopernya dan pergi. Beliau nggak pernah kembali lagi." "Apa?" Nindy mengerutkan alis. Wajahnya tidak senang. Dia langsung menekan nomor ponselku. Biasanya, dia jarang sekali menghubungiku lebih dulu. Namun, baru kali ini dia mau mencoba dan yang dia dapat adalah suara sistem yang mengatakan "nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif". Alis Nindy semakin berkerut. 'Ray, apa lagi yang sedang kamu mainkan?' Bab 8 "Kamu bilang dia pernah datang sekali?" "Benar, Bu." "Berikan aku kartu cadangan. Aku mau naik dan lihat." Tanpa banyak bicara, Nindy mengambil kartu kamar cadangan, lalu langsung menuju kamar. Bip. Pintu kamar terbuka. Dia ingin melihat, kali ini Ray membuat ulah apa lagi? Setelah masuk, Nindy meneliti seluruh kamar, tetapi menemukan bahwa peralatan mandi dan perlengkapan tidur sama sekali tak tersentuh. Tidak ada sedikit pun jejak bahwa ada orang yang menginap di sini. Ini membuktikan bahwa Ray hanya sebentar di sini. Kalau begitu, dia datang untuk apa? Hanya untuk mengambil barang? Nindy tentu memperhatikan bahwa di kamar tidak ada barang-barang milik Ray. Namun, di atas meja, dia menemukan laptop kerjanya. "Ternyata di sini." "Ada sepucuk surat juga?" Nindy melangkah mendekat, mengambil surat yang tergeletak di atas laptopnya. Di sampul surat hanya tertulis dua kata besar, yaitu surat perpisahan. Pada detik itu juga, Nindy langsung menebak Ray sedang memikirkan apa. "Ray, beberapa hari nggak menghubungiku, ponselmu mati, meninggalkan surat perpisahan lalu menghilang. Ini trik barumu? Membosankan." Nindy mengerutkan alis dan tertawa dingin. Surat yang ditinggalkan Ray itu bahkan tidak dia baca dan langsung dibuang ke tempat sampah. Mau dihubungi atau tidak, terserah. Dia tidak percaya Ray punya keberanian untuk benar-benar tidak kembali ke rumah. Kebetulan mumpung Ray tidak ada, biar Andrew menyesuaikan diri dengan kehidupan di rumah. Soal Ray, apakah dia ada di hotel atau sengaja bersembunyi, dua-duanya sama saja bagi Nindy. Dia tidak peduli. Dia membuka laptop kerjanya dan mengerjakan beberapa dokumen baru. Waktu berlalu beberapa jam. Hari mulai gelap. Pekerjaan Nindy akhirnya selesai. Dia meregangkan tubuh, lalu refleks mengambil ponsel. Di layar hanya ada pesan-pesan ambigu dari Chicco. Sementara Ray ... tetap tidak ada kabar. "Kamu serius main begini?" Nindy membuka kunci ponsel, tidak langsung membalas Chicco, malah menggulir layar hingga menemukan ruang obrolan dengan Ray. Pesan terakhir Ray dikirim beberapa hari lalu. [ Sayang, ada hotel yang tiba-tiba kebakaran. Aku berangkat dulu ke lokasi. ] [ Malam ini kamu ingin makan apa? Tinggalkan pesan. Sepulang kerja, aku beli bahan dan masak buat kamu. ] [ Jangan khawatir. ] Hari hotel kebakaran itu, kebetulan Ray menemukan hubungannya dengan Chicco dan Andrew. Sejak saat itu, Ray tidak pernah lagi mengirim pesan perhatian. Tentu saja, tiga pesan itu pun tidak dibalas oleh Nindy. Entah kenapa, saat Nindy melihat satu per satu pesan penuh perhatian Ray yang sudah biasa dia dapatkan dan sekarang tiba-tiba hilang, hatinya benar-benar terasa tidak nyaman. "Terserah kamu saja deh." Menatap layar cukup lama, suasana hati Nindy mendadak kacau. Dia akhirnya menutup ponsel. Kebetulan, matanya langsung tertuju pada surat perpisahan yang tadi dia buang. Beberapa jam lalu dia meremehkan trik Ray, tetapi sekarang hatinya mulai gelisah. "Aku penasaran, kamu ini memang mau memaksaku atau cuma cari masalah?" Nindy mendengus dingin, mengambil surat itu dari tempat sampah dan membukanya. Pada detik berikutnya, yang terlihat hanyalah beberapa kalimat sederhana. Namun, kalimat-kalimat itu membuat tubuh Nindy membeku di tempat dan tertegun. [ Nindy, mau kamu setuju atau nggak, mau kamu sedang dalam masa pantangan atau nggak, kita resmi berakhir. ] [ Aku merelakanmu dan cinta pertamamu, Chicco. ] Sekejap, wajah Nindy berubah drastis. "Dia .... Bagaimana dia bisa tahu?" Tak butuh waktu lama, Nindy langsung teringat laptop kerjanya. Di dalamnya ada akun WhatsApp-nya. Karena laptop itu biasanya hanya dipakainya sendiri, dia mengaktifkan login otomatis. Artinya, obrolannya dengan Chicco ... semuanya ada di sana. [ Andrew itu pasti anak kandung kalian berdua, 'kan? Aku nggak ngerti, kamu sudah menutupinya begitu keras, begitu lelah bersamaku, kenapa kamu masih menikah denganku? ] [ Lima tahun membuatku sadar betapa konyolnya aku selama lima tahun ini. Terus terang, aku menangis sampai air mataku habis, tapi bukan untukmu, melainkan karena aku merasa diriku nggak pantas diperlakukan seperti ini! ] [ Sebagai suamimu, aku membencimu sampai ke tulang. Tapi sebagai seorang petugas pemadam kebakaran, aku nggak menyesal telah menyelamatkan kalian bertiga di hotel itu. Sekarang, aku akan berangkat tugas lagi. ] [ Anggap saja aku mati dalam tugas ini. Kita nggak akan pernah bertemu lagi. Surat ini adalah surat perpisahan. ] Selesai membaca, tatapan Nindy kosong. Surat itu terlepas dari genggamannya. Hatinya mendadak hampa. Tidak diragukan lagi, Ray sudah melihat seluruh percakapan antara Nindy dan Chicco di laptop. Kebetulan di hari itu, dia mengikuti Chicco menghadiri rapat orang tua murid Andrew. Ray tahu semuanya. Sikapnya menjadi setegas isi surat itu. Setiap kata bagai palu yang menghantam hati Nindy. Untuk sesaat, Nindy tidak bisa bernapas. Setelah waktu yang lama, dia baru tersadar. Dia buru-buru menyalakan ponsel dan menelepon Ray. "Bukan seperti yang kamu pikirkan. Memang aku pernah punya hubungan dengan Chicco, tapi itu bukan berarti aku selingkuh setelah menikah ...." "Atas dasar apa? Atas dasar apa pernikahan lima tahun kita kamu akhiri sepihak? Kamu pernah menghargaiku nggak?" Nindy bergumam, refleks membela diri. Saat ini, dia bahkan merasa seperti seseorang yang ketahuan berselingkuh. Padahal dia memang tidak melakukan pengkhianatan setelah menikah. Ray malah mendadak pergi tanpa berpamitan. Apa-apaan ini? Biasanya Ray selalu memberi laporan, selalu berdiskusi dengannya. Kali ini justru sebaliknya. Bahkan setelah tahu alasannya, Nindy tetap sulit menerimanya. Terlebih lagi, Ray sedang memadamkan kebakaran. Entah kenapa, telepon yang tak pernah tersambung itu membuat hatinya semakin gelisah. "Bahkan kalau dia pergi buat memadamkan api, masa ponselnya masih mati setelah beberapa hari? Jangan-jangan benar-benar terjadi sesuatu?" Nindy duduk di tepi ranjang, menelepon Ray berkali-kali. Hasilnya sama, ponselnya tidak aktif. Muncul kekhawatiran di mata Nindy. Dia memutuskan menelepon asistennya. Walaupun itu sudah tengah malam, telepon langsung diangkat. "Halo, Bu Nindy, ada perlu apa?" "Segera selidiki untukku, dalam beberapa hari ini ada kebakaran terjadi di kota atau nggak. Kalau ada, lanjutkan dan cari tahu seberapa parah. Lalu unit pemadam yang turun itu dari departemen mana. Apakah dari tim kedua, tempat Ray bertugas?" Nindy memberi instruksi. Jantungnya berdegup kencang. Sebelum menutup telepon, dia menambahkan, "Cepat, begitu ada hasil langsung laporkan padaku." "Baik, Bu!" Telepon ditutup. Asisten itu memasang wajah bingung, tak tahu mengapa Nindy mendadak menyuruhnya menyelidiki hal itu. Walaupun sang asisten tahu suami Nindy adalah petugas pemadam kebakaran, Nindy tidak pernah peduli urusan tentang kebakaran atau pemadaman. "Bu Nindy hari ini ... sepertinya berbeda terhadap Pak Ray?" Sambil bergumam, sang asisten mulai mencari informasi. Bab 9 Setengah jam kemudian, Nindy menerima pesan dari asistennya. [ Bu Nindy, sudah aku selidiki. Beberapa hari ini nggak ada kebakaran di dalam kota, tapi di wilayah pegunungan barat sempat terjadi kebakaran hutan. ] [ Kondisinya sangat parah. Kabarnya tim pemadam dari kecamatan sekitar hampir habis-habisan. Tim Dua tempat Pak Ray bertugas juga ikut ke sana beberapa hari lalu. ] Melihat ini, ekspresi Nindy langsung berubah drastis. Tubuhnya bangkit dari tepi ranjang tanpa kendali, bahkan sampai sedikit gemetar. [ Terus, sekarang sudah terkendali? Ada korban dari tim Ray nggak? ] Dengan tangan bergetar, Nindy mengetik kalimat itu dan menekan kirim. Saat ini, dia tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang dia rasakan. Namun, rasa sesak di dadanya cukup kuat. [ Untuk kondisi pasti di tempat kejadian belum jelas. Tapi beberapa hari ini, api sudah berhasil dikendalikan. ] [ Bu Nindy, Pak Ray itu orang yang beruntung. Beliau pasti baik-baik saja. ] Melihat balasan itu, Nindy memejamkan mata dengan pasrah. Hanya dia yang tahu, Ray sudah menghilang sejak beberapa hari lalu dan ponselnya sampai sekarang selalu tidak aktif. Yang lebih membuatnya takut adalah kalimat terakhir dalam surat Ray. Dalam keadaan mental seperti itu ... jangan-jangan dia benar-benar nekat menghadapi kebakaran hutan tanpa peduli nyawanya? [ Baiklah. ] [ Cari lokasi tepatnya kebakaran hutan itu. Aku akan ke sana sekarang. ] Saat membuka mata lagi, Nindy sudah membuat keputusan. Dia memberikan instruksi dengan tegas. Apa pun masalah antara dia dan Ray, itu urusan rumah tangga. Ray tetap suaminya yang sah. Dia harus melihat orangnya, mau itu hidup atau mati! [ Baik, Bu. ] [ Tapi, Pak Chicco sudah memesan restoran malam ini. Beliau bilang Ibu mungkin sibuk karena nggak membalas pesannya, jadi beliau meminta aku menyampaikan. Bagaimana? ] Mendengar ini, Nindy mengernyit. Tak sampai beberapa detik, dia sudah mengambil keputusan. [ Suruh dia batalkan. Malam ini aku ada urusan. Kita jadwalkan ulang lain hari. ] [ Baik, Bu. ] Setelah menutup percakapan, Nindy tidak bisa lagi duduk diam. Rasa gelisah menguasainya. Dia langsung mengambil kunci, keluar kamar, dan mengendarai mobil menuju arah pegunungan barat. Lima menit kemudian, asisten mengirim lokasi lengkap dan mengingatkan agar berhati-hati. Nindy tidak membalas. Dia hanya menyalakan navigasi dan menambah kecepatan. "Ray, kamu nggak boleh kenapa-napa! Meskipun akhirnya bercerai, aku nggak bisa biarkan semuanya menjadi nggak jelas seperti ini!" Mobil melaju dengan sangat kencang. Perjalanan yang seharusnya satu jam, hanya ditempuh dalam 40 menit. Semakin dekat dengan lokasi kebakaran, perasaan Nindy semakin buruk. Dari kejauhan saja dia sudah mencium bau hangus yang menusuk. Semakin dekat, semakin jelas terlihat jejak-jejak tanah dan pepohonan yang hangus. Nindy menatap pemandangan itu, hingga seolah-olah bisa membayangkan kemungkinan terburuk tentang Ray. Dadanya semakin sesak. Dengan satu injakan penuh, dia sampai di lokasi. Bukan pusat kebakaran, tetapi jalan tidak bisa lagi dilalui ke depan. Nindy buru-buru turun dari mobil. Dia melihat beberapa mobil pemadam. Tidak jauh dari sana, ada tenda-tenda pos pemadam. Di dalamnya tampak bayangan para petugas pemadam kebakaran yang berlalu-lalang. "Di sana!" Mata Nindy langsung berbinar. Dia cepat-cepat berjalan ke arah tenda. Namun, baru beberapa langkah, dia mendengar suara tangisan banyak orang dari dalam tenda. Seketika, jantung Nindy seakan-akan berhenti berdetak. Langkahnya semakin cepat tanpa sadar. "Ray, aku datang! Tolong jangan kenapa-napa!" Setelah maju beberapa langkah lagi, Nindy melihat pemandangan yang membuatnya hampir tidak bisa berdiri. Di dalam area tenda itu, selain para petugas pemadam kebakaran, ada begitu banyak warga sekitar. Mereka berkelompok, masing-masing mengelilingi tubuh-tubuh yang ditutupi kain putih, menangis pilu. Nindy bahkan bisa melihat sebagian lengan yang masih mengenakan seragam pemadam di balik kain. Dia menyaksikan pemandangan yang menyayat hati itu sampai tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya bahkan hampir terjatuh. Nindy tidak bisa membayangkan ... bagaimana kalau salah satu yang terbaring itu adalah Ray? Dalam kelinglungan itu, rasanya ada begitu banyak kata yang tersumbat di dalam hatinya, tetapi tidak bisa diungkapkan. "Ray ... kamu ada di sini nggak?" Mata Nindy langsung memerah. Dia bahkan tidak peduli dianggap tidak sopan. Dia mendekat dan membuka kain putih satu per satu untuk mengonfirmasi identitas. "Yang ini bukan." "Yang ini juga bukan ...." Baru satu menit, Nindy sudah memastikan beberapa korban. Semua bukan Ray. Namun, dia sama sekali tidak berani menghela napas lega karena jumlah tubuh di sana terlalu banyak. Yang Nindy tidak tahu adalah di sudut tenda, seorang pria berjaket pemadam baru kembali dan menggendong korban luka. Begitu melihat sosok Nindy, pria itu tertegun. Nindy? Kenapa dia ada di sini? Aku mengucek mataku, memastikan bahwa wanita yang berdiri tak jauh itu benar-benar Nindy. Istri sahku, atau lebih tepatnya mantan istriku. "Dia ... datang mencariku?" Aku berdiri diam, menatap Nindy membuka satu per satu kain dengan wajah panik. Rasanya tidak bisa dipercaya. Belum pernah aku melihat Nindy sekhawatir itu terhadap diriku. Sesaat, rasanya seperti dulu, di mana Nindy masih belum bersikap dingin, masih peduli padaku, dan masih mencintaiku. Apa mungkin dia masih mencintaiku? Aku ingin melangkah menghampirinya. Namun, baru mengambil selangkah, kakiku berhenti. Sebab pada saat itu, bayangan Nindy di hari itu muncul jelas, saat dia mengaku sebagai pasangan Chicco di depan umum dan keduanya berciuman mesra. Rasa sakit itu langsung menghentikan langkahku. Tidak mungkin. Nindy mana mungkin masih mencintaiku? Paling dia datang karena membaca surat perpisahanku, tidak terima aku memutuskan sepihak, dan datang untuk mencari masalah. Mengingat surat itu, hatiku langsung kembali tenang. Melihat Nindy yang panik, aku tidak lagi memiliki rasa apa pun. Terserah dia saja. Keputusan sudah kutetapkan. Tidak akan ada jalan kembali. Mau dia cinta, benci, marah, ataupun dendam, itu semua sudah tidak ada hubungannya denganku. Suami Nindy yang dulu selalu mengalah dan mencintainya setulus hati, sudah mati di kebakaran hutan ini. Yang hidup sekarang adalah Ray yang baru. Dalam hidup baru Ray, tidak ada Nindy. Setelah membulatkan tekadku, aku diam-diam menjauh, mengambil posisi di tempat yang tidak terlihat olehnya, dan melanjutkan pekerjaan penanganan korban. Sementara dia ... aku tidak khawatir timku mengenalinya. Bagaimanapun, Nindy yang selalu menjaga jarak dari dunia pribadiku tidak pernah sekali pun tampil sebagai istriku dalam acara tim. Tidak ada yang tahu bahwa kami menikah. Setelah itu, aku melihat Nindy dimarahi keluarga korban karena membuka kain jenazah sembarangan. Dia pun pergi dengan linglung seperti tanpa jiwa. Hingga sosoknya benar-benar hilang, aku tidak menoleh lagi. Yang aku tidak tahu adalah di dalam mobil, Nindy hampir sepenuhnya hancur. Bab 10 "Ray! Dasar bajingan! Kenapa kamu seenaknya ninggalin aku begitu saja?" Begitu masuk ke dalam mobil, Nindy akhirnya tidak bisa lagi menahan emosi yang sudah lama runtuh. Air mata seketika bercucuran. Rasa sedihnya memuncak. Barusan saat dia melihat satu per satu tubuh yang terbaring tak bergerak di bawah kain putih, semuanya memakai baju pemadam kebakaran. Hatinya sebenarnya sangat ketakutan. Dia takut tidak menemukan Ray. Lebih takut lagi kalau saat kain itu dibuka, Ray justru ada di bawahnya. Saat ini, Nindy tak mampu lagi mempertahankan ketenangan dan kejernihannya. Dadanya seperti ditusuk jarum, perih luar biasa. Ray benar-benar sudah mati? Dia tidak tahu, juga tidak berani terus melihat. Padahal dia mengira bertahun-tahun mendalami ajaran agama bisa membuat hatinya cukup kuat. Namun pada detik ini, Nindy tetap saja roboh. Seperti anak kecil, dia menelungkup di kursi kemudi sambil menangis tersedu-sedu. Saat ini, ponsel di sakunya berdering. Nindy hampir seketika bangkit. Dengan hati berdebar, dia meraih ponselnya. "Ray?" Dalam sepersekian detik, pikirannya sudah mulai menyiapkan alasan pembenaran untuk Ray. Mungkin Ray menghilang berhari-hari ini hanya karena sedang ikut pemadaman kebakaran hutan dan tidak sempat memberi kabar. Ponselnya mati mungkin karena berhari-hari tak ada daya di gunung. Namun, Ray tetap mencintainya, tetap peduli padanya. Karena itu, saat ponsel menyala kembali, dia pasti langsung meneleponnya. Bukan begitu? Memikirkan itu, suasana hati Nindy sedikit membaik. Namun pada detik berikutnya, tatapannya menegang di layar ponsel. Penelepon itu bukan Ray, melainkan Chicco. "Kenapa dia?" Sekejap, senyuman di wajah Nindy membeku, lalu perlahan menghilang. Padahal biasanya, dia paling sebal dengan panggilan dari Ray, sedangkan panggilan yang paling dia nantikan adalah dari Chicco. Namun, sekarang justru sebaliknya. Betapa berharapnya dia Ray yang menghubunginya sekali saja. Nada panggilan terus berbunyi. Nindy mendongak, memandang reruntuhan sisa kebakaran hutan yang penuh luka, lalu menutup mata dengan pasrah. Saat dia membuka mata lagi, air matanya telah dihapus, emosinya sudah dia kunci. Dia mengangkat telepon sambil menyalakan mobil, bersiap pergi. "Halo, Chicco, ada apa?" "Nindy, kenapa seharian kamu nggak hubungi aku? Lagi sibuk banget ya?" "Oh ... ya, hari ini kantor lagi sibuk banget. Ada perlu apa?" Nindy ragu sejenak, tetapi tetap mengikuti arah bicara Chicco. "Nggak ada apa-apa, cuma Andrew dari tadi nangis minta ketemu mamanya. Aku sampai kewalahan, makanya aku akhirnya telepon kamu. Nggak ganggu kamu, 'kan?" Dari seberang, suara Chicco terdengar hati-hati. Belum sempat Nindy menjawab, suara Andrew yang tak sabar langsung menyela, "Mama! Kapan pulang? Aku sama Papa kangen Mama." "Papa malam ini sudah pesan makanan enak di restoran, tapi Mama nggak datang, Papa sedih .... Tapi Papa bawa makanannya pulang! Mama pulang nggak? Kita makan bareng ya?" Serangkaian pertanyaan polos itu membuat dahi Nindy yang sejak tadi mengerut, sedikit melonggar. Dia menarik napas perlahan, tersenyum, dan berpura-pura santai. "Begitu ya. Kalau begitu, Andrew bilang ke Papa, Mama minta maaf ya. Tunggu Mama. Mama sudah selesai kerja. Malam ini Mama pasti pulang makan bareng kalian." Begitu dia selesai berbicara, suara sorak kegembiraan Andrew langsung terdengar. Setelah itu, Chicco mengambil alih telepon agar Andrew tidak terus mengganggu. "Baiklah, kami tunggu di rumah. Perlu aku jemput?" "Nggak, nggak usah." "Kalau begitu, hati-hati di jalan. Aku sama Andrew nunggu kamu pulang." "Ya," Nindy menjawab dengan senyuman. Nadanya lembut dan sabar. Begitu telepon ditutup, dia baru menarik kembali senyuman itu. Ada kesuraman singkat di mata, sebelum emosinya kembali samar dan sulit diterka. Nindy memutar balik mobil sambil menelepon asisten perusahaan. "Halo, Bu Nindy, ada yang bisa kubantu?" "Tolong cek daftar semua petugas pemadam yang gugur dalam kebakaran hutan ini, lihat apakah ada nama Ray." Hati Nindy bergetar, suaranya hati-hati. "Separah itu? Pak Ray pasti baik-baik saja. Begitu aku selesai rekap, aku aku langsung hubungi Ibu." Asisten tampak terkejut mendengar itu. "Nggak perlu terburu-buru." Nindy memandang sekilas ke arah area kamp pemadam kebakaran, lalu berkata pelan, "Besok saat jam kerja saja lapor ke aku. Malam ini aku ada urusan, jangan ganggu dulu." "Baik, Bu." Telepon ditutup. Ekspresi Nindy kembali datar. Dia menyimpan ponsel dan menginjak gas, menyetir pulang. Ajaran Buddha berkata, tujuh emosi dan enam nafsu hanyalah ujian dunia terhadap hati manusia. Nindy tak bisa menghindari adanya emosi, tetapi dia tidak akan membiarkan emosi menguasainya terlalu lama. Dia tahu jelas, berlama-lama di sini tidak ada gunanya. Ray mungkin sedang memadamkan api di gunung. Mungkin sedang merajuk, jadi sengaja menghindarinya. Atau mungkin memang sedang terbaring di sana .... Namun, apa pun hasilnya, besok pagi semuanya bisa dikonfirmasi. Malam ini dia tidak akan menguras energi untuk hal itu. Dia hanya ingin pulang menemani Andrew. Setelah Nindy pergi, kapten Tim Pemadam Dua tak sengaja melirik bagian belakang mobil Nindy, lalu bertanya padaku dengan heran, "Ray, mobil itu ... kok aku merasa kenal ya? Itu bukan mobil keluargamu? Istrimu datang cari kamu?" Mendengar itu, hatiku bergetar sedikit. Namun, di wajahku hanya ada senyuman datar. Aku pun menggeleng. "Bukan, Kapten. Itu bukan mobil keluargaku. Mungkin orang yang salah jalan." "Oh ya, kamu sudah berhari-hari di sini. Sudah kasih kabar ke istrimu kalau kamu aman?" "Sudah. Dia tahu aku baik-baik saja, jadi tenang saja." Aku mengangguk dengan ekspresi datar. "Bagus kalau begitu. Kerjaan di sini sudah hampir selesai. Barusan kami dapat kabar kalau tahap terakhir kebakaran itu akhirnya berhasil dipadamkan." Kapten menghela napas lega. "Ray, pertempuran kita melawan bencana ini sudah berakhir. Besok kita kembali ke markas. Kalian pulanglah ke rumah." Begitu dia selesai berbicara, para anggota tim langsung bersorak. Mereka akhirnya bisa pulang. Semua orang senang, kecuali aku. Apa aku masih punya rumah untuk pulang? Terbayang punggung Nindy yang pergi begitu cepat, aku terdiam. Hatiku terasa tak nyaman. Nindy, bagaimana aku harus percaya padamu? Tadi kamu masih panik mencari aku, tetapi detik berikutnya kamu bisa tersenyum lembut sambil menelepon seseorang di mobil? Penelepon itu pasti Chicco, 'kan? Adegan tadi sebenarnya kulihat jelas, bahkan tertanam dalam ingatanku. Gelombang sedih yang familier kembali muncul. Nindy hanya datang sebagai formalitas. Kali ini, kesedihan itu kutekan dalam-dalam, seolah-olah itu bukan apa-apa.