Đang tải thông tin quảng bá...
Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi
Dokter magang bernama Alfan Mananta dipaksa oleh direktur rumah sakit yang cantik untuk ikut pulang ke rumahnya. Sejak saat itu, kehidupan mereka yang penuh kedekatan dan tanpa batas pun dimulai ....
Chương (1)
第1章
Dokter magang bernama Alfan Mananta dipaksa oleh direktur rumah sakit yang cantik untuk ikut pulang ke rumahnya. Sejak saat itu, kehidupan mereka yang penuh kedekatan dan tanpa batas pun dimulai ....
Bab 1
Melalui kaca spion, Alfan melihat Rhea yang duduk di kursi belakang, hatinya dipenuhi kebingungan.
Direktur wanita yang biasanya sangat dingin itu, malah bertingkah tidak seperti biasanya hari ini. Dia duduk menyamping di kursi belakang. Wajahnya memerah dan pandangannya kacau. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri, sementara tangannya terus meraba lehernya.
Melihat keadaan Rhea seperti itu, Alfan merasa ada yang tidak beres.
Alfan adalah seorang dokter magang di Rumah Sakit Prima. Untuk membelikan pacarnya, Charista, sebuah iPhone terbaru, dia memanfaatkan waktu di luar jam kerja untuk menjadi pengemudi ojek online demi menabung.
Siapa sangka, hari ini dia malah mendapatkan direkturnya sendiri sebagai penumpang.
Rhea memiliki tinggi sekitar 170 cm, kulit putih, wajah cantik, dan kaki jenjang. Penampilannya sangat menawan. Hanya saja, sifatnya biasa sangat dingin. Meskipun Alfan sudah setengah tahun berada di Rumah Sakit Prima, dia belum pernah benar-benar berbicara dengan Rhea.
"Bu Rhea, apakah kamu merasa nggak enak badan? Gimana kalau aku antar kamu ke rumah sakit?" Akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Kamu ... kamu kenal aku?" Napas Rhea terdengar sedikit terengah.
"Aku dokter magang di Rumah Sakit Prima. Aku sering lihat Ibu waktu rapat."
"Aku nggak sakit. Antar aku pulang sesuai alamat."
Ketika Alfan kembali melihat ke kaca spion, tangan wanita itu sudah masuk ke dalam pakaiannya sendiri. Dia menggigit bibirnya yang merah dan kedua matanya setengah terpejam, tampak seperti menahan sesuatu yang sulit dikendalikan.
Meskipun hanya seorang dokter magang, dari kondisi yang ditunjukkan Rhea, Alfan merasa wanita itu kemungkinan mabuk atau tanpa sengaja mengonsumsi sesuatu seperti obat perangsang.
"Bu Rhea, menurutku kamu tetap perlu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa."
"Apa maksudmu? Kamu nggak mengerti kata-kataku? Aku bilang antar aku pulang, secepat mungkin. Kalau terjadi sesuatu, kamu yang tanggung jawab!"
Alfan tidak berani menunda. Dia segera menginjak pedal gas dan mempercepat laju mobil. Lima atau enam menit kemudian, mobil itu berhenti di depan Vila Nomor 66, Jalan Champ.
Mobil baru saja berhenti, Rhea buru-buru membuka pintu dan turun. Namun belum sempat berjalan beberapa langkah, tubuhnya sudah oleng lalu terjatuh ke tanah.
Alfan segera turun dan menahan tubuh wanita itu.
"Bu Rhea, aku tekan saja belnya supaya keluargamu keluar jemput kamu."
Saat Alfan baru saja menopangnya berdiri, tiba-tiba Rhea memeluk lengannya dengan erat. Dengan suara gemetar dia berkata, "Cuma aku yang tinggal di sini. Kata sandinya 333666. Tolong bukakan pintunya dan antar aku masuk."
Setelah masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di sofa, Alfan berbalik untuk mengambilkan segelas air. Ketika dia kembali sambil membawa air putih dan berdiri di depan wanita itu, jantung Alfan tiba-tiba berdegup keras.
Entah sejak kapan, Rhea sudah menarik ritsleting gaun panjang berwarna merah anggurnya. Bahu putihnya yang mulus, bra hitamnya, serta lekuk tubuhnya yang indah kini setengah terlihat. Tatapannya kacau dan kosong, lidahnya menyapu bibirnya perlahan.
"Bu Rhea, kamu lagi ngapain? Cepat minum air ini. Aku ... aku harus pergi."
Walaupun Alfan sudah punya pacar, hubungan dia dengan pacarnya hanya sebatas berpegangan tangan dan berpelukan.
Saat melihat pemandangan yang begitu menggoda di depannya, jantungnya berdegup sangat kencang. Rhea tidak menerima gelas air itu. Sebaliknya, dia tiba-tiba memeluk Alfan dengan erat.
"Tolong bantu aku. Suamiku memberiku obat perangsang. Kalau kamu nggak menolongku, malam ini mungkin aku nggak akan bisa bertahan."
Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Alfan, sorot matanya tampak lembut dan menggoda.
Alfan benar-benar panik. Dia sama sekali tidak menyangka, direktur wanita yang biasanya dingin itu hari ini malah memeluknya dengan sukarela.
Sejujurnya, dia sangat ingin mengikuti arus dan menidurinya saat itu juga.
Namun, Alfan adalah orang yang setia pada perasaannya. Pacarnya masih menunggu di rumah. Dia tidak ingin mengkhianati pacarnya.
"Bu Rhea, kamu terkena racun perangsang. Aku antar kamu ke rumah sakit untuk infus dan diberi penawar, nanti juga cepat sembuh."
Jari-jari Rhea meraba tubuh Alfan dan napasnya terengah-engah. "Aku direktur Rumah Sakit Prima. Semua tenaga medis di Provinsi Sargana mengenalku. Kalau mereka tahu aku terkena racun seperti ini, bagaimana aku bisa menghadapi mereka?"
"Kalau kamu bantu aku dengan tubuhmu untuk menetralisir racunnya hari ini, setelah itu aku akan mengurus agar kamu diangkat menjadi pegawai tetap."
Alfan ragu. Dia bisa bersama direktur yang cantik dan dingin itu, sekaligus membantu orang. Yang paling penting lagi, dia bisa menjadi pegawai tetap.
Kenapa tidak?
Namun, Alfan tetap tidak ingin mengkhianati pacarnya. Saat dia sudah memutuskan untuk pergi, tangan Rhea malah membuka ikat pinggangnya tanpa ragu.
Alfan sudah hampir lima tahun berpacaran dengan kekasihnya, tetapi dia belum pernah mengalami perlakuan seperti ini.
Dalam sekejap, pikirannya seperti meledak. Seluruh dirinya pun terlena begitu saja. Ketika dia benar-benar sadar kembali, mereka sudah berada di tempat tidur di lantai dua.
Entah siapa yang lebih dulu memulai. Yang jelas, semuanya berlangsung begitu intens sampai mereka melupakan segalanya.
Satu jam kemudian, keduanya terbaring lemas di atas tempat tidur.
Alfan memandang Rhea yang terbaring lemah di sampingnya, lalu bertanya dengan gelisah, "Bu Rhea, gi ... gimana perasaanmu sekarang?"
Wajah Rhea kembali menjadi dingin. Dengan susah payah dia berkata, "Racun di tubuhku sudah hilang."
"Bagus kalau begitu. Kalau sudah sembuh, aku juga harus pergi." Alfan segera bangkit dari tempat tidur dan buru-buru mengenakan pakaiannya.
"Kamu benar-benar dokter magang di Rumah Sakit Prima? Siapa namamu?"
"Alfan. Aku memang dokter magang di Rumah Sakit Prima."
"Untuk kejadian malam ini, aku berterima kasih padamu. Tapi, ada dua hal yang harus aku sampaikan. Pertama, kamu harus meninggalkan Rumah Sakit Prima. Kedua, kejadian malam ini nggak boleh kamu ceritakan kepada siapa pun. Kalau kamu sampai membocorkannya, aku akan membuat hidupmu sangat menderita."
Alfan telah menempuh lima tahun kuliah di fakultas kedokteran dan akhirnya berhasil magang di Rumah Sakit Prima. Setelah dia menolong direktur wanita itu, kini malah diminta untuk keluar dari Rumah Sakit Prima.
Alfan langsung merasa kesal.
"Bu Rhea, kamu ini seperti habis manis sepah dibuang. Kalau aku harus keluar dari Rumah Sakit Prima, berarti kuliah kedokteranku selama ini sia-sia?"
"Kamu nggak perlu khawatir. Aku akan merekomendasikanmu ke Rumah Sakit Ferrum. Nggak perlu magang, kamu bisa langsung masuk kerja. Fasilitas dan tunjangannya nggak kalah dari Rumah Sakit Prima."
Alfan merasa itu cukup masuk akal. Lagi pula, jika dia bertemu lagi dengan wanita ini di Rumah Sakit Prima, pasti akan terasa canggung. Namun, dia tetap berkata, "Pacarku juga dokter magang. Bisa nggak kamu sekalian bantu dia?"
"Nggak masalah. Ke Rumah Sakit Ferrum, nggak perlu magang, langsung diangkat menjadi pegawai tetap."
Dalam hati Alfan merasa bersyukur. "Terima kasih, Bu Rhea. Istirahat yang baik, aku pamit dulu."
"Kenapa terburu-buru? Tinggalkan nomor teleponmu." Rhea membuka selimut dan meraih ponsel di meja samping tempat tidur.
Sekilas, Alfan melihat noda merah di atas seprai yang putih bersih.
Bagaimana bisa? Rhea adalah wanita yang sudah menikah, kenapa masih ada tanda seperti itu?
"Bu Rhea, kamu ... kamu masih perawan?"
Rhea meliriknya dengan kesal. "Apa yang aneh? Siapa bilang kalau sudah menikah nggak bisa tetap perawan?"
Alfan semakin bingung. Setahunya, direktur cantik berusia 26 tahun itu sudah menikah dua tahun yang lalu. Setelah ratusan hari berlalu, dia ternyata masih menjaga dirinya tetap suci?
Sebenarnya, apa yang telah terjadi pada wanita ini?
Bab 2
Kenapa malam ini dia bisa terkena racun perangsang?
Tadi di dalam mobil, wanita itu pernah mengatakan bahwa racun itu diberikan oleh suaminya.
"Kenapa kamu belum pergi? Aku sudah punya nomor telepon kamu. Kalau ada apa-apa, aku akan menghubungimu," kata Rhea yang berdiri tanpa pakaian di depan lemari, sambil memilih baju tidur dengan santai.
"Aku pergi sekarang, Bu Rhea. Jangan lupa soal aku dan pacarku untuk masuk ke Rumah Sakit Ferrum."
"Nggak akan lupa."
Baru saja sampai di pintu, Rhea kembali memanggilnya dari belakang, "Tunggu sebentar."
"Bu Rhea, ada apa lagi?"
"Kalau mau jadi dokter, jalani dengan serius. Ke depannya jangan lagi jadi pengemudi ojek online."
Rhea sudah mengenakan baju tidur. Gaun tidur sutra berwarna merah muda pucat dengan renda itu membuatnya terlihat semakin lembut dan anggun.
"Aku dan pacarku sama-sama dokter magang, gajinya sangat kecil. Ulang tahun pacarku sudah dekat, aku ingin membelikannya iPhone baru, jadi di waktu luang malam hari aku keluar untuk menambah penghasilan."
Rhea mengangguk pelan tanpa sadar. "Pacarmu sangat beruntung."
Wanita itu berbalik dan membuka laci meja samping tempat tidur, lalu mengeluarkan sebuah kartu bank dan menyerahkannya. "Di dalamnya ada 200 juta, kata sandinya enam angka nol. Ambillah."
Alfan buru-buru menolak. "Ibu sudah bantu kami dapat pekerjaan, aku sudah sangat berterima kasih. Uang ini nggak bisa aku terima."
"Ini uang yang diberikan keluarga pasien setelah aku melakukan operasi. Aku nggak mau, tapi mereka memaksa. Aku memberikannya kepadamu, anggap saja dimanfaatkan dengan baik. Ambillah, keluargaku nggak kekurangan uang."
Nada bicara Rhea seperti perintah. Alfan tidak berani menolak lagi dan akhirnya menerima kartu bank tersebut.
Saat mengemudi pulang, Alfan merasa masih ada sesuatu yang tertinggal di hatinya. Bagaimanapun, Rhea adalah wanita pertama dalam hidupnya. Keadaan wanita itu di atas tempat tidur tadi dan perasaannya yang begitu lepas serta penuh gairah, tanpa sadar membuat Alfan sedikit terpesona.
Tiba-tiba, dia merasa ada yang tidak beres dengan matanya.
Penglihatannya menjadi buram. Rasanya perih dan terasa menekan. Dia segera menepikan mobil di pinggir jalan, berniat melepas kacamatanya untuk membersihkannya. Namun saat dia melepas kacamatanya, seketika dia mendapati bahwa semua yang ada di hadapannya menjadi sangat jelas.
Rasa perih dan tekanan di matanya juga langsung hilang.
'Kenapa bisa begini?'
Sejak sekolah, dia sudah rajin belajar hingga mengalami rabun jauh. Saat lulus kuliah, ukuran lensanya sudah mencapai 450 di satu mata dan 500 di mata lainnya.
Kenapa tiba-tiba bisa sembuh?
Pada saat yang sama, dia juga merasakan pendengarannya menjadi sangat tajam. Suara orang-orang di sekitar, bahkan percakapan dari kejauhan, bisa dia dengar dengan sangat jelas.
Perubahan mendadak ini membuatnya terkejut. Dia segera mengangkat pergelangan tangan kanannya. Dia melihat dengan jelas bahwa tanda berbentuk naga berwarna merah di pergelangan tangannya telah hilang.
'Nggak mungkin, apakah ini benar?'
Saat berusia tujuh tahun, dia pernah mengalami sakit parah dengan demam tinggi yang tidak kunjung turun. Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seorang lelaki tua berpakaian putih, berambut putih, dan berjanggut putih muncul di hadapannya.
Lelaki tua itu memperkenalkan diri sebagai Pertapa Naga Tidur. Dia mengatakan bahwa Alfan memiliki bakat luar biasa dan memiliki potensi untuk menempuh jalan kultivasi.
Kemudian, dia menyegel sebuah tanda berbentuk naga di lengannya.
Tanda naga itu bernama Teknik Sembilan Niskala. Setelah dia tumbuh dewasa, begitu dia memiliki hubungan dengan seorang wanita, tanda naga itu akan menghilang dan teknik tersebut akan mulai aktif di dalam tubuhnya.
Teknik ini bersifat negatif. Setiap kali dia menjalin hubungan dengan seorang wanita, tingkat kultivasinya akan naik satu tingkat. Wanita pertama yang bersamanya adalah kunci untuk membuka Teknik Sembilan Niskala.
Alfan perlahan menutup matanya.
Pada saat matanya terpejam, berbagai pengetahuan muncul di benaknya dengan begitu padat dan tak terhitung jumlahnya. Teknik kultivasi, ilmu pengobatan, berbagai metode latihan, kemampuan terbang, teknik pengusiran roh jahat, membuka mata spiritual, teknik gerak cepat, dan banyak lagi.
Melihat semua itu, hatinya dipenuhi kegembiraan.
Alfan sempat mengira semua itu hanya mimpi, tetapi ternyata semuanya nyata.
Wanita pertamanya, Rhea, telah menjadi kunci yang membuka pintu menuju dunia barunya. Sejak saat ini, dia telah menjadi tubuh seorang kultivator. Dia mengendarai mobil sambil bersenandung riang menuju rumah. Bahkan ketika sudah berdiri di depan pintu rumahnya, hatinya masih berdebar penuh semangat.
Malam ini dia mendapatkan banyak hal. Tidak hanya memperoleh 200 juta, tetapi dia dan pacarnya juga akan menjadi dokter tetap di Rumah Sakit Ferrum. Yang terpenting, Teknik Sembilan Niskala ternyata benar adanya. Sekarang dia telah menjadi seorang kultivator.
Alfan sudah tidak sabar ingin berbagi kebahagiaannya dengan pacarnya. Dia menekan bel pintu, tetapi Charista tidak langsung datang membukakan pintu seperti biasanya.
Biasanya Alfan pulang sekitar pukul sebelas malam, sementara sekarang baru pukul sembilan. Dia menunggu sebentar di depan pintu, lalu menekan bel lagi.
Lima atau enam menit kemudian, Charista akhirnya membuka pintu. Dia mengenakan pakaian dalam seksi berwarna hitam, rambutnya agak berantakan, dan tatapannya terlihat tidak biasa.
"Kenapa pulang lebih cepat hari ini? Biasanya 'kan kamu pulang jam sebelas. Cuacanya bagus, keluar lagi saja cari penumpang sebentar."
Charista berdiri di pintu, tak berniat membiarkannya masuk.
"Hari ini aku lagi beruntung, jadi nggak narik lagi. Aku mau kasih tahu kamu beberapa kabar baik."
"Kabar baik apa? Keluar lagi saja sebentar," kata Charista dengan tatapan gelisah dan tetap menghalangi di sana.
Melihat sikap Charista yang aneh, hati Alfan langsung terasa tidak nyaman. Pada saat yang sama, dia mencium bau seorang pria yang asing.
Sejak Teknik Sembilan Niskala menyatu dengan tubuhnya, penglihatan, pendengaran, dan penciumannya menjadi sangat tajam.
"Ada orang di dalam?" Dia langsung menerobos masuk dan bertanya dengan tegas.
"Kamu gila ya! Sejak tahun kedua kuliah aku sudah sama kamu. Kamu nggak tahu aku orang seperti apa? Mana mungkin ada pria lain di rumah!"
Charista langsung menjadi marah.
Kalau dulu, Alfan mungkin akan memercayai kata-katanya. Namun, sekarang dia lebih percaya pada perasaannya sendiri. Dia jelas mencium bau pria lain yang asing. Dia segera berjalan cepat menuju kamar tidur.
Charista buru-buru mengejarnya. "Kamu mau apa sebenarnya? Aku sudah setulus ini sama kamu, tapi kamu malah mencurigaiku?"
Alfan tidak menjawab. Dia langsung membuka satu-satunya lemari di rumah itu. Di bagian bawah lemari, berjongkok seorang pria yang hanya mengenakan celana dalam.
Pria itu bernama Dexton.
Alfan mengenalnya. Dia adalah putra dari wakil direktur Darian.
"Karena sudah ketahuan sama kamu, aku juga nggak usah pura-pura lagi. Aku dan Charista sudah lama bersama. Waktu kamu nggak di rumah, kami sudah berkali-kali datang ke sini dan tidur di rumahmu."
Dexton sama sekali tidak menyembunyikan kesombongannya, juga tidak terlihat sedikit pun rasa bersalah. Dia bahkan tersenyum santai sambil keluar dari dalam lemari.
Hati Alfan diliputi rasa getir.
Apakah ini balasan? Dia baru saja tidur dengan Rhea, lalu langsung mendapati pacarnya berselingkuh dengan pria lain.
Sampai pada titik ini, dia hanya ingin berpisah dengan baik-baik, tetapi di dalam hatinya tetap ada rasa tidak rela. Selama beberapa tahun berpacaran dengan Charista, tindakan paling jauh yang pernah mereka lakukan hanya tidur dalam satu ranjang sambil berpelukan.
Charista bahkan pernah berkata bahwa dia ingin menyimpan momen paling penting dan paling indah untuk malam pertama setelah menikah. Namun dia tidak pernah menyangka, wanita itu ternyata sudah lebih dulu tidur dengan pria ini.
Bahkan, sekarang Charista berpakaian dengan begitu menggoda.
"Alfan, aku memang salah, aku minta maaf. Tapi karena semuanya sudah ketahuan, lebih baik kita menjalani hidup sendiri masing-masing. Aku sudah ikut kamu lima tahun, tapi sampai sekarang masih hanya dokter magang."
"Pak Dexton bilang, beberapa hari lagi dia akan mengurus agar aku langsung diangkat menjadi pegawai tetap." Charista melepas semua kepura-puraannya dan berbicara terus terang.
"Alfan, kamu datang di waktu yang benar-benar nggak tepat. Kalau saja kamu datang sepuluh menit lebih lambat, kami sudah masuk ke suasana yang lebih baik. Sekarang cepat pergi saja. Kami masih mau melanjutkan."
Dexton merangkul pinggang Charista, tangannya bergerak di tubuh wanita itu.
Wajah Charista memerah, tetapi dia tidak menolak. Bahkan terlihat menikmati.
Bab 3
Melihat sikap Charista yang genit, sedikit rasa bersalah yang tersisa di hati Alfan pun lenyap. Dia mencibir dan berkata, "Kalian berdua melakukan hal nggak tahu malu di ranjangku, apa kalian nggak perlu memberiku penjelasan?"
Dexton tidak peduli, dia malah memeluk Charista lebih erat. "Sudah kubilang, dia memang bukan laki-laki. Dengan kondisi seperti dia masih berani minta penjelasan dariku. Kalau dia berani menyentuhku sedikit saja, aku akan buat dia keluar dari Rumah Sakit Prima besok dan pulang kampung jadi petani."
Menghadapi provokasi Dexton, Alfan mendengus dingin. "Oh ya?"
"Dengan badan kecilmu itu, memangnya kamu bisa berbuat apa padaku? Aku sudah tidur dengan pacarmu, ayo pukul aku kalau berani!"
Dexton mengandalkan tubuhnya yang lebih tinggi dan kekar dari Alfan. Ditambah lagi, dia pernah belajar silat dan taekwondo, jadi dia sama sekali tidak menganggap Alfan layah bertarung dengannya.
Charista memeluk lengan Dexton, lalu menggoyangkan tubuhnya dengan manja. "Sayang, dia bahkan belum pernah sentuh tubuhku, jangan provokasi dia terus."
Lalu, dia berkata kepada Alfan, "Hubungan kita sudah berakhir. Sisakan sedikit harga diri dan juga jalan keluar untuk dirimu sendiri. Jangan menyinggung Pak Dexton. Kalau kamu membuatnya marah, pekerjaanmu juga nggak akan bisa dipertahankan."
"Malam ini kamu pergi saja, biarkan Pak Dexton tinggal di sini. Besok. Meskipun kamu ingin menahanku, kamu juga nggak akan bisa. Aku akan ikut dia tinggal di vilanya."
Melihat sikap Charista yang begitu murahan, Alfan malah merasa beruntung.
Untung mereka hanya berpacaran dan belum menikah. Kalau benar-benar menikah dengan wanita seperti itu, entah berapa kali lagi dia harus diselingkuhi.
"Aku yang sewa rumah ini, ranjang juga aku yang beli. Mau bersenang-senang di ranjangku? Jangan mimpi."
"Nggak mau pergi? Akan kupukul kau sampai merangkak keluar seperti anjing."
Dexton yang hanya mengenakan celana pendek langsung menerjang dan mencengkeram leher Alfan, lalu mengangkat tinjunya dan menghantam ke arah wajah Alfan.
Namun, Alfan yang sekarang sudah berbeda dari dulu. Saat tinju Dexton masih berjarak setengah meter dari wajahnya, Alfan tiba-tiba mengangkat kaki dan menendang keras ke arah perut bawahnya.
Buk!
Dexton langsung memegangi perutnya, lalu berjongkok sambil merintih kesakitan.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa?" Charista buru-buru berjongkok, lalu memeluk leher Dexton dan bertanya dengan cemas.
Dexton langsung mendorongnya. "Pergi sana!"
Dexton perlahan berdiri, lalu menggertakkan gigi dan menatap Alfan dengan kejam. "Bajingan, akan kubuat kamu cacat hari ini. Besok kamu juga nggak perlu lagi pergi ke rumah sakit. Kamu sudah dipecat."
Setelah berkata demikian, dia mengayunkan tinjunya dan menerjang ke arah Alfan.
Alfan tampak tenang, bahkan tidak memandangnya dengan serius. Dia tiba-tiba melompat dan menendang keras ke bagian vital Dexton.
"Berani-beraninya kamu naik ke ranjangku, akan kubuat kamu nggak bisa punya keturunan lagi hari ini!"
Bruk!
Dexton merasakan bagian bawah tubuhnya terasa panas. Setengah detik kemudian, terdengar jeritan yang menyayat hati. Dia menutup bagian vitalnya dengan kedua tangan, keringat langsung mengalir deras di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, dia mengerang pelan, lalu seluruh tubuhnya lemas dan pingsan.
"Sayang, kamu kenapa? Jangan buat aku takut!" Sambil menopang tubuh Dexton, Charista menatap Alfan dengan penuh kebencian. "Habis sudah kamu. Masa depanmu tamat. Hidupmu juga tamat. Dengan koneksinya, mudah sekali baginya untuk menghancurkanmu!"
"Belum tentu," kata Alfan dengan dingin. "Aku sudah memberimu kesempatan. Sekarang bawa dia dan segera menghilang dari hadapanku. Kalau nggak, aku nggak bisa menjamin dia bisa keluar dari sini hidup-hidup."
Melihat tatapan dingin Alfan, Charista tidak berani berkata apa-apa. Tanpa memedulikan rasa malu, dia menyeret Dexton yang hanya mengenakan celana dalam untuk buru-buru keluar. Kemudian, mereka turun ke bawah dengan lift dan naik taksi menuju rumah sakit.
Melihat ruangan yang berantakan, hati Alfan dipenuhi kesedihan.
Dulu dia mengira, selama memberikan ketulusan, dia akan mendapatkan cinta yang setara. Demi membelikan wanita itu sebuah ponsel, Alfan bahkan masih bekerja sebagai pengemudi online meski kelelahan setelah pulang kerja.
Namun dia tidak pernah menyangka, wanita itu diam-diam melakukan hal yang begitu menjijikkan.
Yang diberikan Alfan adalah ketulusan, tetapi malah dirinya sendiri yang merasa terharu secara sepihak dan kini yang dia dapatkan hanyalah kesepian.
Untungnya, Rhea telah membangkitkan Teknik Sembilan Niskala dalam dirinya. Mulai sekarang, dia akan hidup untuk dirinya sendiri.
Tadi dia sempat terpikir untuk memanfaatkan Charista dan menyerap energi negatif darinya. Namun ketika membayangkan dirinya bersama Dexton, dia merasa jijik. Wanita seperti itu terlalu kotor, hanya pantas untuk bajingan.
Masih tersisa bau Dexton dan Charista di dalam rumah itu. Hanya menciumnya saja sudah membuatnya muak. Alfan merasa tidak bisa tinggal di sini lagi.
Tepat pada saat itu, dia tiba-tiba menerima telepon dari Rhea.
"Bu Rhea."
"Kalau nggak ada orang, jangan panggil aku Bu lagi, panggil saja Kakak. Aku sudah telepon direktur di Rumah Sakit Ferrum. Besok kamu bawa pacarmu ke sana, langsung bisa masuk kerja tanpa masa magang, status pegawai tetap." Nada bicara Rhea terdengar cukup hangat.
"Kak, aku nggak mau ke Rumah Sakit Ferrum. Aku mau ke Rumah Sakit Prima."
Barusan Alfan sudah membuat Dexton kehilangan salah satu bagian vitalnya. Dia yakin pria itu tidak akan tinggal diam. Sekarang tugas utamanya adalah menjadi lebih kuat.
Menurut pengaturan Teknik Sembilan Niskala, wanita pertama yang berhubungan dengannya bukan hanya kunci untuk membuka teknik itu, tetapi tubuh wanita tersebut juga memiliki kegunaan khusus. Mengenai apa kegunaannya, Alfan harus menelitinya sendiri.
"Kamu mau ke Rumah Sakit Prima? Kamu ini mau apa sebenarnya?"
"Aku cuma ingin lebih dekat denganmu. Aku ingin bekerja di Rumah Sakit Prima supaya kamu bisa melindungiku. Tapi tenang saja, soal kejadian semalam, aku nggak akan kasih tahu siapa pun."
Di seberang sana terdiam sejenak, lalu suaranya menjadi lebih dingin. "Dasar nggak tahu diri, kamu 'kan punya pacar. Apa kamu nggak takut dia menyadari sesuatu yang mencurigakan?"
"Sudah putus. Baru saja putus."
"Apa? Kenapa?"
"Aku terus terang saja ngomong sama Kakak. Wanita itu diam-diam selingkuh sama pria lain."
"Serius? Meskipun begitu, kamu tetap nggak boleh datang ke Rumah Sakit Prima. Kita nggak boleh bertemu lagi."
Rhea berdiri di depan jendela, memegang ponsel sambil menatap malam yang gelap di luar. Kata-katanya terdengar tegas, tetapi hatinya tidak sejalan.
Selama dua tahun pernikahan, baru kali ini dia merasakan keindahan yang diberikan seorang pria dari Alfan. Namun, akalnya mengatakan bahwa jika Alfan datang bekerja di Rumah Sakit Prima, akibatnya akan sulit dikendalikan.
"Kak, aku harus ke Rumah Sakit Prima."
"Dasar keras kepala! Kenapa kamu harus memaksa begini?" Rhea kesal sampai mengentakkan kaki.
"Kalau aku bekerja di Rumah Sakit Prima, itu lebih baik untuk kita berdua."
"Kalau begitu, datang saja ke rumahku sekarang. Kalau kamu bisa memberiku alasan yang masuk akal, aku akan membiarkanmu tetap di Rumah Sakit Prima."
Hati Rhea sangat bertentangan. Sejak kecil, dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap seorang pria. Dia ingin bertemu dengan Alfan, tetapi juga takut jika benar-benar bertemu.
"Baik! Tunggu aku."
Bab 4
Rumah Sakit Prima.
Ruang perawatan khusus.
Dexton yang baru saja menjalani operasi pengangkatan salah satu buah zakarnya, kini terbaring pucat di ranjang. Charista berdiri di sampingnya untuk melayani dengan hati-hati.
Di depan pintu, Darian sedang berbicara dengan dokter bedah.
"Pak Darian, Pak Dexton hanya rusak satu sisi, yang satunya masih utuh. Jadi nggak memengaruhi kehidupan normalnya, juga nggak memengaruhi keturunan." Dokter penanggung jawab itu menjelaskan dengan nada menjilat.
Sorot mata Darian berkilat dingin. "Masalah ini jangan sampai diketahui siapa pun."
"Bapak tenang saja, kami pasti nggak akan memberi tahu siapa pun."
Darian mengangguk, dokter itu pun segera pergi. Dia mendorong pintu dan masuk. Ketika melihat Charista berdiri di depan ranjang putranya, wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Om, Alfan benar-benar keterlaluan. Dia sama sekali nggak menghargai Om. Gimana kalau kita lapor polisi saja?" Charista segera mendekat dan berkata dengan penuh amarah.
"Memangnya ini hal yang membanggakan? Kamu nggak tahu malu, tapi aku masih punya muka. Kamu keluar dulu. Aku ingin bicara dengan anakku."
Charista masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi ketika melihat tatapan dingin Darian, dia terdiam dan pergi dengan langkah lesu.
"Kamu sudah bukan anak kecil lagi. Dengan kekuatan keluarga kita, wanita seperti apa yang nggak bisa kamu dapatkan? Kamu malah merebut pacar orang lain."
Melihat anaknya yang mengecewakan, dada Darian dipenuhi amarah. Namun, dia tetap menahan diri.
"Ayah! Ayah nggak ngerti sama urusan asmara anak muda. Sekarang bukan itu yang harus dibahas. Ayah harus segera memecat Alfan. Asalkan dia keluar dari Rumah Sakit Prima, aku akan cari beberapa orang dari luar untuk membuatnya menghilang dari dunia ini."
Darian mencibir dingin. "Sudah sebesar ini, tapi cara berpikirmu masih seperti itu. Ini negara hukum. Kalau kamu membunuhnya, polisi akan datang mencarimu."
"Aku sudah dibuat begini, apa aku nggak boleh balas dendam?"
Tentu saja Darian tidak akan tinggal diam. Satu-satunya putranya telah dibuat kehilangan salah satu buah zakarnya. Ini sama saja dengan hendak memutus keturunannya.
Darian memang tampak seperti pria terhormat dalam sehari-hari. Namun, sebenarnya dia adalah orang yang sangat pendendam. Dendam anaknya tentu harus dibalas.
Seorang dokter magang saja berani memperlakukan putranya seperti itu. Mana mungkin dia akan membiarkannya begitu saja?
"Aku bukan cuma akan memecatnya, besok aku malah akan mengumumkan dia menjadi pegawai tetap." Darian tersenyum licik.
"Ayah, kenapa? Dia musuh utamaku, tapi Ayah malah mau mengangkatnya jadi pegawai tetap?"
Dexton benar-benar tidak mengerti.
"Benar, aku akan mengangkatnya. Untuk menghukum seseorang, jangan biarkan dia mati. Biarkan dia hidup, tapi nggak melihat harapan selamanya. Besok aku jadikan dia pegawai tetap. Setelah itu, aku akan mempermainkannya perlahan, lalu mencari kesempatan untuk membuat orang lain menyingkirkannya."
"Membunuh dengan tangan orang lain."
Wajah Dexton langsung menunjukkan kegembiraan. Akhirnya dia mengerti maksud ayahnya.
"Itu tergantung nasibnya. Kalau berani menyakiti anakku, aku akan membuatnya membayar seratus kali, seribu kali lipat."
Sementara itu, Alfan sudah tiba di depan rumah Rhea.
Melihat vila yang lampunya menyala, di dalam hati Alfan muncul sedikit rasa bersemangat dan bersyukur. Kalau bukan karena Rhea, sekarang dia mungkin masih menjadi pengemudi online, bahkan mungkin masih diselingkuhi tanpa mengetahui apa pun.
Wanita ini adalah wanita yang benar-benar layak untuk diperhatikan dan dijaga. Sayangnya, dia adalah istri orang lain.
Alfan menekan bel dan pintu otomatis terbuka. Saat masuk ke ruang tamu, dia melihat Rhea sedang bersandar di sofa.
Rhea mengenakan piama berwarna merah muda yang terlihat sangat seksi, tetapi wajahnya tampak sangat lelah. Ramuan yang dia minum sebelumnya memang bukan racun mematikan, tetapi mampu mendorong hasrat seseorang sampai ke puncak.
Setelah efeknya hilang, rasa kelelahan yang luar biasa membutuhkan waktu lama untuk pulih.
"Kamu ini kenapa sebenarnya? Kenapa harus bersikeras ke Rumah Sakit Prima?"
Saat melihat Alfan masuk, wajah Rhea tampak tenang, tetapi hatinya bergejolak hebat. Hatinya sangat bertentangan. Dia juga tahu bahwa pria kampungan ini sudah masuk ke dalam hatinya.
"Rumah Sakit Prima adalah rumah sakit terbesar dan terbaik di Provinsi Sargana. Di sana, perkembanganku akan lebih baik."
Saat belum sempat menyelesaikan ucapannya, ponsel Rhea sudah berdering. Wanita itu langsung mengangkat teleponnya. Setelah menerima panggilan, ekspresinya seketika berubah.
"Kamu pulang saja dulu. Aku harus kembali ke rumah sakit. Ada pasien yang sangat penting baru datang."
"Kondisimu saja begini, kamu masih mau ke rumah sakit?" Melihat wajah Rhea yang pucat dan lelah, Alfan benar-benar merasa khawatir.
"Aku direktur. Pasien ini sangat penting, aku harus pergi. Kamu pulang saja."
Rhea berdiri dan berjalan ke lantai dua untuk berganti pakaian. Namun saat sampai di tangga, tubuhnya sedikit gemetar. Dia hampir kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh.
Alfan segera maju dan menahannya. Rhea menatapnya tajam. "Jangan sentuh sembarangan, ya."
"Aku cuma mau membantu karena lihat kamu nggak enak badan. Gimana kalau kamu ganti pakaian dulu, nanti aku yang antar kamu ke rumah sakit."
Rhea ragu sejenak, lalu mengangguk. "Kamu boleh ikut ke rumah sakit, tapi jangan bicara sembarangan."
"Aku cuma dokter magang. Aku tahu posisiku."
Rhea naik ke lantai dua dan mengganti pakaiannya dengan seragam. Saat dia turun kembali, hati Alfan kembali bergetar. Wanita ini benar-benar luar biasa, cantik dan memikat.
"Kamu bahkan kesulitan untuk berjalan. Gimana kalau aku menggendongmu keluar? Di luar juga gelap, nggak akan ada yang melihat."
Rhea menggigit bibirnya. Instingnya ingin menolak, tetapi tubuhnya memang sangat lemah, jadi dia akhirnya setuju. "Aku membiarkanmu menggendongku karena aku nggak enak badan. Jangan mikir macam-macam."
Alfan berjongkok. Saat wanita itu naik ke punggungnya, kelembutan tubuh Rhea terasa jelas di punggungnya.
"Bu Rhea, kenapa kamu bisa terkena racun seperti itu?" tanya Alfan pelan saat mereka berjalan keluar.
"Aku kena racun atau nggak, itu bukan urusanmu. Lakukan saja pekerjaanmu dengan baik."
Sekitar belasan menit kemudian, mereka tiba di Rumah Sakit Prima. Begitu Rhea turun dari mobil, beberapa direktur termasuk Darian, bersama beberapa dokter penanggung jawab, segera mendekat.
"Ada apa?"
"Putri Dylan tiba-tiba tidak sadarkan diri, perutnya membesar seperti drum," lapor Sahrul.
"Apa penyebabnya?"
"Awalnya kami kira hamil, tapi setelah dilakukan USG, meskipun perutnya sebesar itu, di dalamnya kosong. Sekarang dia dalam kondisi koma. Semua dokter sudah memeriksanya, tapi nggak bisa menemukan penyebabnya."
Sahrul adalah dokter kandungan senior dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, tetapi dia belum pernah melihat gejala seperti ini.
"Bawa aku ke sana."
Rhea tahu malam ini akan menjadi masalah besar. Dylan adalah salah satu dari empat keluarga besar di Provinsi Sargana yang memiliki pengaruh kuat di dunia mafia maupun hukum.
Jika penyakit aneh putrinya bisa disembuhkan, Rumah Sakit Prima akan menjadi terkenal dan mencatatkan namanya dalam sejarah. Jika tidak bisa disembuhkan, Rumah Sakit Prima kemungkinan akan kehilangan pamornya di Provinsi Sargana.
....
Di ruang gawat darurat.
Cindy yang mengenakan gaun hitam terbaring di ranjang. Kedua matanya terpejam, wajahnya pucat dan tanpa ekspresi. Tubuhnya yang semula proporsional kini berubah bentuk dan perutnya menonjol dengan besar.
Sekilas, dia tampak seperti wanita yang hamil delapan atau sembilan bulan.
Diana memegang tangan Rhea dengan erat.
"Bu Rhea, suamiku sedang dinas luar kota dan belum kembali. Putriku mengalami penyakit aneh seperti ini. Kamu harus membantu kami."
"Bu Diana, jangan khawatir. Semua dokter kandungan terbaik di Rumah Sakit Prima ada di sini. Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin."
Melihat Cindy yang terbaring di ranjang, hari Rhea sebenarnya agak terkejut meski dari penampilannya tampak tenang.
Perut yang membesar seperti ini secara teori berarti kehamilan. Namun, tadi Sahrul mengatakan bahwa hasil USG menunjukkan bagian dalamnya kosong.
Saat Rhea hendak maju untuk memeriksa perut Cindy, Darian muncul di pintu bersama Charista. Dia adalah pria tua yang sangat licik. Biasanya dia bahkan tidak memandang Charista dengan serius.
Namun, sekarang putra satu-satunya telah kehilangan satu buah zakarnya. Ke depannya, kondisi fisiknya pasti akan terpengaruh.
Karena itu, sikapnya terhadap Charista pun berubah. Dia ingin menjadikan Charista sebagai menantunya, sehingga dia membawa Charista yang masih berstatus dokter magang untuk menambah pengalaman.
Ini adalah pertama kalinya Charista mendapat perlakuan seperti itu. Dia merasa agak bersemangat. Saat melihat Cindy yang terbaring di ranjang, dia tidak bisa menahan diri dan berkata, "Ini hamil. Menurutku, kemungkinan besar kembar."
Begitu kata-kata itu dilontarkan, raut wajah Diana langsung berubah. Dia menatap Charista dengan dingin. "Kamu bilang apa?"
Charista hanyalah dokter magang. Berada di tengah para dokter senior yang berpengalaman membuatnya merasa bangga dan ingin menunjukkan kemampuannya. Dia pun kembali berkata, "Wanita ini hamil, kemungkinan besar kembar."
Seorang gadis yang belum menikah disebut hamil. Itu sama saja dengan sebuah penghinaan. Bagi orang tuanya, itu juga merupakan aib.
Ekspresi Diana menjadi dingin.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Charista.
"Perempuan nggak tahu diri. Kalau kamu berani bicara sembarangan lagi, aku potong lidahmu."
Bab 5
Charista langsung tertegun. Dia menutup pipinya dengan tangan, lalu menatap Darian dengan wajah penuh keluhan. Darian sangat kesal, lalu berkata dengan suara rendah, "Keluar."
Baru saat itu Charista tersadar. Wanita di hadapannya adalah sosok yang tidak mampu dia singgung. Dengan mata berkaca-kaca, dia pun segera keluar dengan patuh.
"Bu Diana, maaf. Dia hanya dokter magang. Nanti akan kuberi pelajaran." Darian segera merendahkan diri dan meminta maaf kepada Diana.
Wajah Diana tampak muram dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Rhea mengangkat sedikit rok Cindy dan memeriksanya dengan teliti. Setelah itu, dia berbalik dan bertanya kepada Sahrul, "Kamu yakin sudah dilakukan USG?"
Sahrul mengangguk dengan serius. "Sudah dilakukan. Bukan hamil."
Rhea mengernyit dan berpikir sejenak, lalu berkata kepada Diana, "Bu Diana, jangan khawatir. Rumah Sakit Prima akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan putri Ibu. Sekarang aku akan mengumpulkan semua dokter terbaik untuk melakukan konsultasi bersama. Beri aku sepuluh menit."
Meskipun kondisi tubuh Rhea sangat buruk, dia tetap berkata kepada Sahrul, "Cepat kumpulkan semua orang untuk konsultasi."
"Nggak perlu dikumpulkan lagi. Kalau terlambat sepuluh menit lagi, gadis ini nggak akan tertolong."
Pada saat itu, sebuah suara terdengar dari sudut ruangan.
Semua orang menoleh.
Orang yang berbicara adalah Alfan. Dia berdiri di sudut dengan kedua tangan disilangkan di dada. Kepalanya sedikit dimiringkan dan sudut bibirnya terangkat. Penampilannya tampak santai dan tidak acuh.
Rhea menatapnya tajam, memberi isyarat agar dia diam.
Namun, Alfan sama sekali mengabaikan tatapannya dan kembali berkata, "Sekarang hanya ada waktu sepuluh menit untuk menyelamatkannya. Kalau melewatkan waktu ini, gadis ini benar-benar nggak akan bisa diselamatkan."
Begitu kata-katanya diucapkan, hampir semua orang terkejut, lalu mulai berbisik satu sama lain.
"Anak ini siapa? Berani sekali bicara seperti itu!"
"Kalian mungkin belum tahu. Namanya Alfan, dokter magang di Rumah Sakit Prima."
"Seorang dokter magang berani bicara seperti ini di depan semua orang? Ini benar-benar cari masalah."
"Alfan, kamu jangan bicara sembarangan. Kamu bukan dokter kandungan, kamu tahu apa!"
Rhea sampai menggertakkan gigi karena kesal. Dia bahkan ingin menendang Alfan beberapa kali. Sebelum datang, dia sudah menyuruh Alfan untuk tidak banyak bicara, tapi sekarang dia malah berbicara seenaknya.
"Bu Rhea, biarkan aku yang menyelamatkannya. Selain aku, nggak ada satu pun dari kalian yang bisa menyelamatkannya."
Dengan senyum tipis di wajahnya, Alfan berjalan mendekat dengan santai.
Rhea benar-benar marah dalam hati. Awalnya, dia berpikir Alfan masih punya sedikit sikap baik. Namun tak disangka, Alfan ternyata begitu sombong dan tidak tahu diri.
Di sisi lain, Darian memperlihatkan senyum licik di sudut bibirnya.
'Apa kamu punya kemampuan itu? Cuma dokter magang saja, berani sekali berlagak hebat.'
Kesempatan datang terlalu cepat. Dia mendekat ke Diana dan berkata dengan suara pelan, "Bu Diana, setahuku dokter muda bernama Alfan ini sangat berbakat. Meskipun dia masih muda, kemampuan medisnya sangat tinggi. Gimana kalau kita biarkan dia mencoba?"
Putri Diana sudah koma selama tiga hari. Mereka sudah pergi ke berbagai rumah sakit besar di Negara Madrino, tetapi tidak ada yang bisa mengobatinya. Baru kemudian mereka datang ke Rumah Sakit Prima di kota sendiri.
Awalnya dia sudah tidak memiliki banyak harapan. Namun, ketika tiba-tiba ada seorang pemuda yang berdiri dan mengatakan bisa menyelamatkan putrinya, secercah harapan langsung muncul.
Orang yang panik akan mencoba segala cara.
Terlepas dari reputasinya atau tidak, selama masih ada sedikit harapan, Diana tidak ingin melewatkannya. Dia segera berkata, "Kalau begitu cepat selamatkan putriku."
Darian sangat tahu bahwa kemungkinan Alfan bisa menyembuhkan Cindy hampir tidak ada.
Jika Cindy meninggal, semua tanggung jawab akan ditimpakan kepada Alfan. Dengan kekuatan Keluarga Sudarso, bahkan jika Alfan tidak mati sekalipun, hidupnya sudah pasti akan hancur.
Tentu saja, jika Alfan benar-benar bisa menyelamatkan Cindy, dia juga bisa mengklaim dirinya sebagai orang yang merekomendasikannya.
"Nggak boleh. Jangan biarkan dia menangani pasien. Dia hanya dokter magang, dia nggak punya kemampuan itu." Meskipun Rhea sangat marah, dia tetap tidak ingin Alfan dijadikan kambing hitam oleh Keluarga Sudarso.
"Kalau nggak segera ditangani sekarang, benar-benar nggak ada waktu lagi."
Alfan tahu Rhea berniat baik untuknya, tetapi dia sudah tidak punya waktu untuk menjelaskan kepada wanita itu. Jika dia tidak segera bertindak, gadis di atas ranjang itu benar-benar akan kehilangan nyawanya.
Semua orang yang hadir menatap dengan penuh keraguan pada dokter magang yang tampak biasa itu.
Saat dia berjalan mendekat, tanpa sadar semua orang memberi jalan untuknya.
"Alfan, kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? Kamu tahu siapa yang terbaring di sana?" Tanpa memedulikan banyaknya orang di sekitar, Rhea langsung meraih pergelangan tangan Alfan.
Di wajah Alfan muncul senyum polos.
"Bu Rhea, percayalah padaku. Kalau aku berhasil menyembuhkan gadis ini, ingat ya, kamu harus memberiku hadiah."
Melihat dia masih bisa bercanda di depan banyak orang, Rhea panik dan segera melepaskan tangannya. Saat dia tersadar kembali, Alfan sudah berada di sisi Cindy. Dia mengangkat sedikit rok pasien, lalu menatap serius ke bagian bawah perutnya dan meneliti dengan saksama.
Melihat pemandangan itu, orang-orang di sekitar kembali mengeluarkan suara gumaman pelan.
Punggung Rhea terasa dingin dan dalam hati dia berkata, 'Habis sudah. Anak ini malah menatap ke bagian bawah perut pasien seperti itu, ini benar-benar nggak pantas!'
Ini jelas seperti mencari masalah sendiri.
Darian malah merasa senang dalam hati. 'Alfan, lihat saja bakal gimana kamu hancur!'
Bab 6
Meskipun Rhea sangat marah, dia tetap tidak ingin melihat Alfan terus seperti ini. Kalau dibiarkan, dia bisa mati atau setidaknya hancur. Bagaimanapun juga, bocah ini adalah pria pertamanya. Dia tidak mungkin membiarkan Alfan celaka begitu saja.
Dia berjalan mendekat dengan cepat, lalu menempel ke telinga Alfan dan berbisik pelan, "Kamu bisa berhenti bikin masalah nggak?"
"Bu Rhea, tolong carikan beberapa jarum perak untuk akupunktur." Alfan seolah tidak mendengar ucapannya, malah memberi perintah.
Diana mendekat. "Bu Rhea, selama masih ada sedikit harapan, kalian harus berusaha. Biarkan Pak Alfan menyembuhkan putriku."
Rhea hanya bisa menggeleng tak berdaya. Sampai di titik ini, dia hanya bisa berdoa dalam hati agar anak ini tidak kehilangan nyawanya karena hal ini.
Wajah Alfan menjadi serius. Tangannya menekan bagian bawah perut Cindy. Di mata semua orang, tindakannya itu seperti cari mati.
Mana mungkin putri Dylan dibiarkan disentuh seperti itu oleh seorang pemuda sembarangan?
Diana berdiri di samping. Hatinya dipenuhi kekhawatiran untuk putrinya. Namun saat melihat adegan itu, wajahnya juga menjadi suram.
Jika anak ini benar-benar bisa menyembuhkan putrinya, dia pasti akan memberikan imbalan besar.
Namun jika tidak berhasil, berarti Alfan punya niat buruk. Dia ingin memanfaatkan situasi untuk menyentuh putrinya dan mengambil keuntungan. Kalau sampai begitu, dia tidak akan membiarkan Alfan hidup tenang.
"Bu Rhea, cepatlah, carikan aku sekotak jarum perak untuk akupunktur."
Rhea juga merasa bingung. Sampai di tahap ini, kalau dia menyuruh Alfan berhenti, situasinya juga sudah sulit diperbaiki.
Semuanya sudah telanjur terjadi di depan semua orang. Dia hanya bisa bertanya kepada para dokter senior di sampingnya, "Ada jarum akupunktur?"
Seorang dokter pria berusia sekitar 40 tahun segera mengeluarkan sekotak jarum perak dari saku dan menyerahkannya. Rhea menerimanya lalu memberikannya kepada Alfan. Tatapannya penuh kekhawatiran.
Namun, Alfan sama sekali tidak peduli.
Di depan ruang gawat darurat, puluhan pasang mata menatap lurus ke arahnya.
Tiba-tiba seolah teringat sesuatu, Alfan meletakkan jarum itu di samping, lalu menarik rok Cindy kembali ke bawah dan menutup perutnya.
Melihat situasi itu, hati Darian langsung berbunga-bunga. Dia salah mengira Alfan sudah menunjukkan sifat aslinya dan berniat menyerah. Dia segera berkata, "Pak Alfan, bukankah kamu tadi bilang waktunya sangat mendesak? Kalau begitu cepatlah mulai mengobati Nona Cindy."
"Caraku mengobati pasien bersifat rahasia, nggak semua orang boleh melihatnya. Bu Diana, Bu Rhea, kalian berdua boleh tinggal. Yang lain silakan keluar."
"Pak Alfan, biarkan kami juga menambah wawasan," kata Darian pura-pura.
"Nggak bisa. Kalian semua keluar. Tubuh Nona Cindy sangat berharga, bukan sesuatu yang bisa dilihat oleh kalian para pria tua."
Darian hanya bisa berkata, "Baiklah, kami tunggu kabar baikmu di luar."
Semua orang pun keluar. Saat Diana hendak menutup pintu, Rhea diam-diam mencubit keras pinggang Alfan dan menatapnya tajam. Karena Diana ada di samping, dia tidak bisa mengatakan apa-apa, jadi hanya bisa memperingatkan Alfan dengan cara itu.
Namun yang tidak disangka Rhea, anak itu malah diam-diam meraba pinggangnya, bahkan terkesan genit.
Rhea sampai menggertakkan gigi karena marah. Kalau bukan karena Diana ada di sana, dia pasti sudah mencekik anak ini.
Setelah pintu ditutup, Diana berbalik dan berjalan mendekati mereka, lalu bertanya dengan tatapan penuh harap, "Pak Alfan, putriku benar-benar masih bisa diselamatkan?"
"Bu Diana tenang saja. Selama aku di sini, putri Bu Diana pasti sudah bisa bangun dalam setengah jam dan bergerak seperti biasa."
"Benarkah? Kalau begitu, apa pun yang kamu minta akan aku berikan."
Mendengar putrinya masih bisa diselamatkan, Diana sangat gembira.
"Kalau begitu, aku baru ingat. Putrimu memang harus aku selamatkan, tapi kamu harus memberiku satu miliar."
Alfan tersenyum sambil mengangkat satu jari.
Rhea hampir menangis. Dalam hati dia berpikir, 'Anak ini benar-benar sudah gila. Kenapa dia bisa nggak masuk akal begini? Pasien saja belum ditangani, tapi sudah bicara soal bayaran.'
Lagi pula, dokter biasanya punya standar biaya yang jelas. Bahkan jika dia benar-benar berhasil menyelamatkan Cindy, jumlah itu juga tidak masuk akal. Bukan karena nyawa Cindy tidak sebanding dengan uang sebesar itu, tetapi karena Alfan bahkan tidak menggunakan alat medis atau obat yang mahal.
Diana mengangguk dengan serius dan berkata, "Pak Alfan, selama kamu bisa menyelamatkan putriku, jangankan satu miliar. Mau 10 atau 100 miliar juga akan kuberikan."
Rhea merasa kepalanya semakin pusing. Apa sebenarnya yang dipikirkan anak ini? Dia tidak bisa menahan diri dan diam-diam menusuk punggung Alfan dua kali. Namun, Alfan bahkan tidak menoleh kepadanya, seolah-olah dia tidak ada.
"Baik, kalau begitu kita sepakat. Lima menit saja, lihat bagaimana aku menyelamatkan putrimu." Sambil membuka kotak jarum perak, Alfan berkata dengan santai.
"Pak Alfan, sebenarnya sakit apa putriku ini?" Melihat putrinya yang terbaring dengan mata terpejam, Diana benar-benar tidak mengerti.
"Hamil."
"Apa?!"
"Apa?!"
Rhea dan Diana berseru bersamaan.
Rhea masih ingat dengan jelas, beberapa menit yang lalu Charista ditampar hanya karena mengatakan hal yang sama.
"Pak Alfan, kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Putriku baru lulus SMA dan baru diterima di universitas. Tahun ini dia baru 19 tahun. Selama liburan ini dia selalu bersamaku dan perutnya baru membesar dalam beberapa hari terakhir. Mana mungkin dia hamil?"
Nada bicara Diana langsung menjadi dingin.
Alfan tetap tersenyum. "Kehamilan yang dia alami bukan kehamilan manusia biasa. Yang dia kandung adalah janin energi."
"Janin energi?"
Rhea benar-benar bingung. Dia belajar kedokteran lima tahun di dalam negeri, lalu melanjutkan S2 dan doktor di luar negeri. Dia belum pernah mendengar istilah seperti itu.
Diana juga tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apa itu janin energi?"
"Janin energi sebenarnya adalah janin spiritual. Nggak berbentuk, tapi ada."
Baik Diana maupun Rhea sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Alfan. Keduanya saling berpandangan dengan penuh kebingungan.
"Pak Alfan, kalau begitu cepatlah obati putriku."
"Baik. Tolong angkat rok putrimu, lalu turunkan sedikit pakaian dalamnya."
Pada saat yang sama, para dokter ahli Rumah Sakit Prima yang berada di luar pintu semuanya menempel di dekat pintu dan memasang telinga untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam.
Saat mendengar Alfan langsung meminta satu miliar di awal, wajah Darian memperlihatkan ekspresi meremehkan. "Masih muda begini, memangnya dia punya kemampuan?"
Salah satu bawahan Darian langsung memahami maksud ucapannya dan juga tahu tentang konflik antara Dexton dan Alfan. Dia tersenyum meremehkan. "Dia cuma dokter magang kecil, memangnya dia punya kemampuan apa? Kalau nggak cari masalah sih, dia nggak akan celaka. Kita lihat saja gimana dia mengakhiri kejadian ini nanti."
"Anak itu bahkan mau menurunkan pakaian dalam Nona Cindy. Ini jelas cari mati."
Dokter lain yang sedang menguping di celah pintu, menoleh dan berkata kepada Darian dengan perasaan senang melihat Aflan yang tertimpa kemalangan.
Darian merasa sangat puas dalam hati.
'Alfan, kamu sudah menendang anakku sampai kehilangan satu buah zakarnya. Hari ini aku akan membuatmu menjadi cacat.'
Darian sudah merencanakan semuanya. Setelah Alfan gagal menyelamatkan pasien, dia akan menambah-nambahkan cerita di depan Diana. Lalu, dia akan membiarkan Keluarga Sudarso langsung menghancurkan Alfan atau setidaknya membuatnya cacat supaya Alfan hanya bisa merangkak untuk mengemis di jalanan.
Bab 7
Darian diam-diam menelepon Fresco dari bagian keamanan di sudut ruangan.
Beberapa menit kemudian, Fresco datang dengan beberapa satpam dengan tergesa-gesa.
"Pak Darian, apa yang harus kami lakukan?"
"Nanti setelah Alfan keluar dari ruang gawat darurat, langsung kendalikan dia. Jangan sampai dia kabur."
Darian juga seorang dokter senior. Berdasarkan pengalamannya, dia yakin Cindy sudah sekarat dan tidak mungkin diselamatkan. Begitu Alfan keluar, dia akan langsung menahan Alfan dan melemparkan semua kesalahan kepadanya.
Fresco segera mengangguk dan memberi instruksi kepada bawahannya.
Para satpam itu mengepalkan tangan dan menatap tajam ke arah pintu dengan bersiap siaga.
Lebih dari sepuluh menit berlalu, tetapi masih tidak ada pergerakan dari dalam. Darian mengintip melalui celah pintu. Dia melihat Cindy masih terbaring di ranjang, sementara Alfan dan Rhea berdiri di sana.
Terlihat seperti mereka sudah kehabisan cara.
Melihat hal itu, Darian semakin yakin. Alfan pasti tamat kali ini. Saat dia sedang merasa puas dalam hati, pintu terbuka dan Alfan keluar. Semua tatapan langsung tertuju padanya.
"Pak Alfan, gimana? Nona Cindy sudah sembuh?" tanya seseorang dengan nada menyindir.
"Sudah sembuh. Sebentar lagi dia keluar."
Alfan tersenyum tipis, lalu berbalik menuju kamar kecil di sisi lain.
Darian salah paham, mengira Alfan hendak kabur. Dia segera memberi isyarat kepada Fresco. Fresco langsung memimpin beberapa orang mengepungnya, lalu memegang dan menahannya.
"Kamu sudah membuat Nona Cindy meninggal. Terjadi kecelakaan medis sebesar ini, memangnya kamu bisa kabur?" Ekspresi Darian berubah dingin, sikapnya berbeda 180 derajat dibandingkan dengan sebelumnya. Dia menunjuk Alfan dan membentaknya.
"Pak Darian, perubahan sikapmu cepat sekali. Tadi kamu yang paling keras merekomendasikan aku untuk mengobati Nona Cindy, sekarang malah berbalik arah?"
Alfan memang sudah menduga bahwa pria ini tidak punya niat baik.
"Aku kira kamu memang punya kemampuan. Ternyata kamu cuma dukun palsu, penipu di dunia medis. Aku benar-benar terlalu percaya padamu. Tangkap dia, ikat dengan tali. Tunggu sampai Bu Diana keluar untuk memutuskan bagaimana menghukumnya."
Alfan memandang wajah Darian yang menyebalkan itu, lalu tersenyum tipis. "Sepertinya kamu akan kecewa. Nona Cindy sudah pulih."
Darian menyeringai. "Kamu pikir kamu siapa? Kamu kira kamu tabib dewa?"
Dia melangkah mendekat, lalu menempel ke telinga Alfan dan berbisik, "Berani-beraninya kamu menyentuh anakku. Kamu menghancurkan salah satu buah zakarnya, aku akan mengambil setengah nyawamu."
Alfan sedang ditahan beberapa orang. Energi dalam tubuhnya memang sudah hampir habis karena digunakan untuk menyelamatkan Cindy, tetapi tetap saja masih ada sedikit yang tersisa. Itu sudah cukup untuk menghadapi pria tua ini.
Dengan memanfaatkan celah, Alfan lalu menendang keras ke arah perut bawah Darian.
Darian sama sekali tidak menyangka Alfan berani menyerangnya. Sebelum sempat menghindar, tendangan itu sudah tepat mengenai bagian vitalnya. Meskipun tidak sampai hancur, rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar dari perut bawah ke tulang belakang.
Dia menjerit keras, lalu memegangi perutnya dan berjongkok.
Melihat Darian dipukul, Fresco langsung mengangkat tangan dan hendak menampar wajah Alfan.
"Orang kampung! Nggak tahu diri kamu! Berani-beraninya kamu mukul wakil direktur. Akan kuberi pelajaran kamu!"
"Berhenti." Saat tangan Fresco tinggal beberapa sentimeter dari wajah Alfan, tiba-tiba terdengar suara wanita yang dingin dari belakang.
Tubuh Fresco langsung menegang dan tangannya terhenti di udara.
Suara wanita itu penuh wibawa, membuat punggungnya terasa dingin. Dia segera menoleh dan melihat Diana sedang berdiri di sana sambil menopang Cindy.
Tatapan Diana tajam dan dingin saat melihat ke arah Fresco. Fresco memang hanya seorang kepala keamanan, tetapi dia masih punya sedikit koneksi. Oleh karena itu, dia mengenali Diana.
"Bu Diana, anak ini memukul wakil direktur kami," ucap Fresco dengan gugup.
"Pak Alfan adalah penyelamat putriku. Asalkan dia senang, dia boleh memukul siapa pun. Siapa pun yang berani melawan, berarti melawan Keluarga Sudarso."
Baru saat itu Fresco benar-benar sadar. Keringat langsung mengalir deras di wajahnya. Memang benar, Darian adalah wakil direktur. Namun jika dibandingkan dengan Keluarga Sudarso, perbedaan status mereka seperti langit dan bumi.
Terus terang saja, jika dia sampai menyinggung Keluarga Sudarso, bahkan jika dia mati pun mungkin tidak akan ada yang berani mencari jasadnya.
"Bu Diana, maaf, aku memang salah." Fresco berdiri di depan Diana dengan wajah memelas sambil membungkuk dan terus meminta maaf.
"Tampar dirimu sendiri sepuluh kali dulu, lalu minta maaf sama Pak Alfan. Kalau dia memaafkanmu, kamu boleh pergi. Kalau dia nggak memaafkanmu, tanganmu akan aku potong."
Fresco tidak berani menunda. Meskipun ada banyak orang yang berdiri di sekitarnya, dia sudah tidak peduli dengan harga diri. Dia langsung menampar dirinya sendiri berkali-kali secara bergantian.
Fresco tahu betul konsekuensinya, sehingga dia pun tidak menahan diri. Setelah sepuluh tamparan, darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.
"Bu Diana, sudah cukup?"
"Kamu tuli? Aku bilang minta maaf sama Pak Alfan."
Fresco berbalik ke arah Alfan dengan wajah getir. "Pak Alfan, maafkan aku. Pak Alfan adalah orang yang berbesar hati. Mohon jangan dendam denganku. Aku minta maaf."
"Tadi kamu mau memukulku. Siapa yang suruh?"
"Itu ... itu perintah Pak Darian."
Darian, yang masih menahan rasa sakit di perutnya, buru-buru berdiri dan menatap Diana dengan cemas. "Aku kira Alfan gagal menyembuhkan Nona Cindy. Nggak kusangka dia benar-benar berhasil."
Wajah Diana langsung menjadi dingin.
"Darian, apa maksudmu? Pak Alfan menyembuhkan putriku, kamu malah nggak senang? Apa kamu berharap putriku nggak pernah sadar?"
Keringat langsung mengucur deras di wajah Darian. Dia merasakan tekanan yang mendesaknya.
Di Provinsi Sargana, menyinggung Keluarga Sudarso sama saja dengan menggantung pedang di atas kepala sendiri. Dia bisa kehilangan nyawa kapan saja.
Tanpa memedulikan banyaknya bawahan di sekitarnya, Darian pun mengatupkan gigi dan menampar dirinya sendiri beberapa kali.
"Bu Diana, aku salah. Aku minta maaf kepada Bu Diana dan Nona Cindy."
Diana berjalan cepat ke sisi Alfan. "Pak Alfan, kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa. Tapi kalau kamu terlambat keluar satu langkah saja, mungkin aku sudah digigit anjing-anjing itu."
Tatapan Diana menyapu Darian, Fresco, dan yang lainnya.
"Kalian dengar baik-baik. Kalau aku lihat kalian menindas Pak Alfan lagi, aku akan membuat kalian menghilang dari Provinsi Sargana. Pergi sekarang juga!"
Darian dan yang lainnya seolah mendapat pengampunan. Mereka terus membungkuk dan pergi dari tempat itu.
"Dia yang menyelamatkanku?" Setelah situasi mereda, Cindy mengangkat kepalanya dan menatap Alfan, lalu bertanya kepada ibunya.
"Benar. Pak Alfan benar-benar seperti dokter sakti. Dia hanya menggunakan beberapa jarum perak untuk membangunkanmu, membuatmu pulih seperti semula, dan juga membersihkan nama baikmu. Pergilah dan ucapkan terima kasih dengan baik."
Cindy berjalan ke hadapan Alfan, lalu membungkuk dalam-dalam. "Pak Alfan, terima kasih."
Baru saat itu Alfan memperhatikan dengan saksama. Meskipun Cindy baru berusia 19 tahun, penampilannya sangat anggun dan menawan. Selain wajahnya yang sedikit pucat karena lelah, semuanya tampak sempurna.
Kulitnya putih dan halus, fitur wajahnya lembut dan indah. Terutama bibirnya yang sedikit penuh, meskipun terlihat lemah, dia tetap tampak begitu indah.
Gaun hitam yang dikenakannya semakin menonjolkan lekuk tubuhnya yang proporsional. Dalam beberapa tahun lagi, wanita ini pasti akan menjadi sosok yang sangat memikat.
Namun pada saat itu, Alfan tiba-tiba melihat sebuah tanda seperti bunga persik di bagian dadanya.
Kutukan Gadis Suci.
Benar, itu Kutukan Gadis Suci.
Kutukan ini juga dikenal sebagai Kutukan Hasrat, sebuah mantra yang ditanamkan oleh seseorang.
Jika seorang wanita terkena kutukan ini, dorongan nalurinya akan menjadi jauh lebih kuat. Setiap malam, dia akan merindukan kehadiran pria. Tubuhnya terasa panas seperti terbakar dan sulit dikendalikan.
Gadis suci akan berubah menjadi wanita yang dikuasai hasrat.
Cindy berada di bawah pengaruh kutukan ini. Karena itulah dia mencoba meredakan dirinya sendiri, lalu energi jahat masuk ke tubuhnya dan membentuk janin energi.
Beruntungnya, gadis ini polos dan pandai menjaga diri. Jika wanita lain terkena Kutukan Gadis Suci, mungkin mereka sudah mencari pria sejak malam pertama.
Alfan memiliki tubuh kultivator, sehingga dia bisa melihat kutukan ini. Orang biasa tidak akan bisa melihatnya. Hanya saja, dia tidak tahu siapa yang menempatkan kutukan jahat ini kepada seorang mahasiswi dan apa tujuannya.
Alfan sebenarnya ingin langsung membantu menyembuhkan Cindy, tetapi energi negatif yang dia dapatkan dari Rhea sebelumnya sudah hampir habis. Untungnya, kondisi Cindy tidak akan kambuh dalam waktu dekat, jadi dia bisa menanganinya beberapa hari lagi.
Dia pun tersenyum dan berkata, "Nggak perlu berterima kasih. Menyembuhkan orang adalah tugas seorang dokter. Lagian, ibumu juga sudah berjanji memberiku satu miliar."
Begitu kata-kata Alfan dilontarkan, orang-orang di sekitarnya langsung mengeluarkan suara gumaman pelan. Di mata mereka, Alfan terlihat sangat konyol. Di saat seperti ini, dia malah membicarakan soal uang.
Alfan baru saja menyelamatkan putri Keluarga Sudarso. Jika sekarang dia tidak membicarakan uang dan membangun hubungan baik, Keluarga Sudarso pasti akan menganggapnya sebagai teman. Kalau sudah menjadi teman Keluarga Sudarso, sepanjang hidupnya sudah pasti dia akan sukses.
Rhea sampai ingin menendang Alfan saking kesalnya.
'Ternyata benar, orang desa memang kurang pengalaman. Wawasannya terlalu sempit.'