Đang tải thông tin quảng bá...
Terhimpit! Tante Tiri dan Pembantu Cantik
(Cerita +21, harap bijak memilih bacaan!) Satria adalah seorang mahasiswa asal desa yang kuliah d Jakarta dan menumpang di rumah Om dan Tantenya, dia sama sekali tak menyangka akan terlibat petualanga...
Chương (1)
第1章
(Cerita +21, harap bijak memilih bacaan!) Satria adalah seorang mahasiswa asal desa yang kuliah d Jakarta dan menumpang di rumah Om dan Tantenya, dia sama sekali tak menyangka akan terlibat petualangan panas di rumah Om-nya, yang di mulai saat tak sengaja mengintip aktivitas di kamar utama. Dari desahan di kamar inilah, terkuaklah rahasia-rahasia panas hubungan terlarang yang tak pernah Satria impikan dan dia justru jadi pelakon utama di pusaran panas ini.
Bab 1: Desahan di Kamar Utama
“Loyo lagi pahh…?” terdengar suara kecewa seorang wanita, yang belum mencapai puncak kenikmatannya.
Wanita itu lalu bangkit dan mengambil lingerie hitamnya, memasang di badannya yang berisi dengan gerakan penuh kekecewaan.
Pemandangan aduhai di sore hari ini benar-benar ‘merusak’ otak Satria Dewantara, sang ponakan yang ikut numpang di rumah besar dan mewah ini.
Baru kali ini dia melihat langsung adegan panas di depan hidung, secara jelas dan gamblang, lewat lubang kunci kamar utama.
“Maafkan aku mahh…” suara parau pria paruh baya menggema, seolah tak berdaya dengan kondisinya yang kesekian kalinya tak mampu memuaskan hasrat istrinya.
Satria Dewantara, pemuda kurus dan tangkas berbekal ilmu silat yang ia latih di desa, hanya bisa menumpang di rumah mewah Om Brata Hanindya dan Tante Vega selama kuliah di Jakarta.
Sebagai anak desa, ia selalu menjaga sikap.
Tapi sore ini, secara tak sengaja dia nekat…ngintip!
Perbuatan nekatnya ini tidak ada rencana sama sekali, ini hanya spontanitas dan itupun di lakukannya dengan rasa deg – degan, takut ketahuan pastinya.
Awalnya, sore tadi, Satria baru pulang kuliah yang padat. Ia berjalan ke bangunan utama, berniat mengambil oleh-oleh yang dijanjikan Om Brata setelah kembali dari luar kota.
Saat itulah ia mendengar suara-suara aneh dari kamar utama.
Niatnya untuk menuju ruang keluarga ia tunda. Penasaran, dia mendekat dan mengintip. Dan, terpampanglah adegan yang membuat kalamenjingnya naik turun.
Tanpa di duga Satria, Tante Vega justru menuju ke pintu.
Secepat kilat pemuda tanggung ini menarik tubuh kurusnya dan bergerak ke koridor, lalu bersembunyi di bagian dapur, tidak ada waktu lagi untuk kabur jauh – jauh dari tempat ini.
Gerakannya tangkas dan tidak menimbulkan bunyi yang mencurigakan, karena selama ini ia biasa bergerak lincah ke sana kemari.
Satria masih belum paham, apa yang terjadi pada Om dan Tante-nya, di balik tempat sembunyinya, dia melihat Tante Vega dengan wajah keruh menuju ke dapur.
Satria gemetaran. Kelancangannya mengintip hampir saja ketahuan.
“Semoga nggak ketahuan,” batinnya, makin bergemuruh saja jantungnya. Sebagai orang yang hanya numpang di sini, kalau ketahuan kurang ajar, Satria pastinya akan terima resiko terburuk.
Kena marah dan di usir dari rumah ini…!
Tante Vega membuka kulkas, lalu mengambil air dingin dan meneguknya perlahan.
Setelah minum, ia kembali membuka kulkas dan mengambil... buah timun Arab, yang panjang dan gemuk.
Yang bikin mata Satria melotot, tangan lentik tantenya mengelus-elus timun itu, tanpa sadar, kalau perbuatannya di lihat seorang Satria, si ponakan yang numpang di rumah ini.
Saking melongonya, Satria mencondongkan tubuhnya, ingin melihat lebih jelas. Namun gara-gara inilah kewaspadaannya berkurang.
Meonggggg…!
Si kucing Anggora berekor panjang milik Tante Vega bereaksi marah, karena tanpa sadar kaki Satria menginjak ekornya.
Kaget bukan main Satria, yang lebih terkaget-kaget lagi Tante Vega. Gelas di tangannya kontan terlepas.
Trangggg…!
Gelas jatuh dan pecah berhamburan. Mata Tante Vega berkilat melihat Satria yang keluar dari koridor dapur ini dengan wajah pucat pasi, ia seolah maling yang tertangkap basah dan siap menerima konsekwensinya.
“Satria ngapain kamu di sana, bikin kaget tante saja?” tegur si tante, suara si tante untungnya masih lembut, sebab orang itu Satria, andai orang tak di kenal, nggak kebayang hebohnya rumah ini.
“Ma-maf tante, S-Satria m-mau ambil air dingin di kulkas,” Satria melangkah sangat gugup.
“Hmm…kamu sudah lama di situ?” mata indah Tante Vega seakan menelanjangi kelakuan Satria, yang terus menunduk.
“Baru saja tante, tadi Sa-Satria sengaja bertahan karena tante ada di depan kulkas, nggak enak mendekat,” sahut Satria mencari alasan, sambil teru menundukan wajahnya, tak berani menatap wajah Tante Vega.
Tiba-tiba tanpa di suruh, Satria buru-buru ambil sapu dan mengumpulkan pecahan gelas tadi, yang hanya diperhatikan Tante Vega.
Kelakuanya ini sekaligus turunkan tensi kaget wanita yang barusan kecewa dengan suaminya, walaupun hatinya agak sangsi, benarkan Satria hanya ingin ambil air minum, tanpa ada tujuan lain?
Tanpa sadar kalau Satria aslinya silau menatap lekuk tubuhnya yang masih mengenakan lingerie tipis tanpa dalaman ini, hingga sesuatu berwarna gelap itu terlihat membayang!
Tapi Satria berusaha alihkan pemandangan indah ini, dengan terus membersihkan pecahan kaca, apalagi sebagai orang yang hanya dapat anugerah numpang di sini, tak pernah terbetik di hatinya untuk bernakal ria…
Tiba-tiba...
“Satria…kamu tahu ya apa yang tadi tante lakukan?” nada suara Tante Vega berubah makin lembut.
Satria melongo….
**
Penasaran..? Lanjut bab selanjutnya yaa...
Bab 2: Pancingan yang Membagongkan
Sesaat napas Satria bak mau berhenti, dia bingung harus berkata apa! Ini benar - benar di luar kendalinya.
Ia makin tak sesak nafas, ketika tiba-tiba secara tak terduga Tante Vega menyentuh pundak hingga lehernya, dengan gerakan yang membuat napasnya seolah tersangkut di leher.
Gerakan ini bukan menampar ataupun pukulan, tapi malah elusan!
“Kamu tahu ya Tante tadi mau ngapain tadi dengan timun itu…?” bisiknya, mirip desahan.
Satria membeku, menyesali keberaniannya mengintip. “Apes dah…mati aku,” batinnya gelisah tak kepalang.
Tiba-tiba, tangan lentik Tante Vega mengalir lembut dari pinggang Satria, lalu turun ke pahanya, lalu…
Hap!
Tubuh Satria seketika menegang ketika melihat tante Vega tersenyum ke arahnya, sampai seketika…
“Sayang… kamu di mana? Kok lama banget sich!”
Ketika Vega hendak melanjutkan ucapannya, suara Om Brata terdengar memanggil dari jauh.
Tante Vega cepat menarik diri dan menutup keadaan yang sangat canggung, lalu kembali ke kamar sambil memberikan kerlingan yang membuat Satria makin merinding.
Kini Satria pun lega karena tidak kena marah. Namun dia bingung dengan kerlingan tajam tadi, juga sentuhan tantenya yang liar–yang bikin dia hampir semaput!
Namun bayangan tubuh Tante Vega dengan lingerie tipisnya sudah membuat otaknya konslet. Setelah bekas pecahan gelas ini bersih, Satria buru-buru balik ke kamarnya.
Sampai malam hari–bahkan Satria tidak ikut makan malam bersama om dan tantenya–Satria hanya terpekur di kamarnya, memikirkan kejadian tempo hari.
Rasa lapar itu hilang oleh rasa bersalahnya yang sangat besar dan terlalu nekat, berani ngintip aktivitas di kamar utama.
Tengah malam barulah Satria bisa memejamkan mata. Beragam kejadian sore ini membuatnya sulit memejamkan mata.
“Sial betul…ini akibat suka ngintip kala di desa, akhirnya kebawa sampai di rumah Om Brata, moga Tante Vega nggak laporin ke Om,” sesal Satria, mengutuk kelakuan nakalnya yang hobby ngintip ini.
Paginya saat bangun, kepala Satria masih berdenyut tak keruan.
Waktu sarapan, Satria baru sadar bahwa Om-nya sudah berangkat sejak subuh. Di meja makan, hanya ia dan Tante Vega yang tersisa.
Satria masuk kuliah pukul 9.30. Kekakuan sangat terasa. Rasa bersalah masih melanda batinnya.
Satria tentu saja tak berani menatap wajah Tante Vega. Satria yang biasa ceria dan selalu menyapa duluan, pagi ini bak anak udik yang baru nongol ke kota, kikuk, salting dan gugup berubah jadi takut, terkumpul di hatinya saat ini.
Si tante ini jadi gemas sendiri melihat keponakan suaminya jadi kikuk dan sama sekali tak berani menatap wajahnya.
Satria ini aslinya tampan, sayangnya tubuhnya terlalu kurus, di tambah lagi tubuhnya juga jangkung, sehingga ketampanannya berkurang.
Andai tubuhnya berisi, sudah bisa dipastikan Satria sangat tampan maksimal, apalagi brewok di kedua pipinya mulai tumbuh, sehingga kesan macho terlihat jelas.
Satria makin kikuk saat Tante Vega mengambil timun yang tersisa satu.
“Ehemm…!” Tante Vega memecah kesunyian sambil menyiapkan sandwich. Tiba-tiba dia berdiri ke sisi Satria, lalu menepuk pundaknya lembut.
“Biar kuat… nanti kalau sudah punya pacar sekaligus calon istrimu dia senang, makan ini,” katanya menyodorkan sandwich ke Satria dengan gaya yang memikat setengah menggoda.
Mau tak mau Satria pun menerimanya, tapi dengan otak penuh kebingungan.
Tiba–tiba, tanpa peringatan, Vega menembakkan pertanyaan mematikan, “Kamu ngintip Tante tadi malam, ya kan… ngaku saja? Mumpung hanya kita berdua di sini…!”
Walaupun ucapan dari bibir merah Tanta Vega terdengar sangat lembut, tapi karena Satria sudah terkejut duluan, bukannya menjawab, mulutnya malah kelu dan sulit bersuara.
Satria semakin tegang. Bahunya kaku, tangannya refleks meremas ujung kaus yang ia pakai seolah mencari pegangan. “E-nggak, Tante… sore itu kan Satria–” pemuda ini terpaksa juga keluarkan suara.
“Jujur saja, Sat. Tante nggak marah kok…jangan kayak ayam kalkun gitu, serba kikuk!”
Tiba-tiba Tante Vega berdiri sangat dekat, dan tangan lentiknya mengelus celana katun Satria, hingga membuat napas pemuda itu seakan berhenti.
Secara naluriah, sesuatu ada yang bangkit dan membuat celananya sesak. Alih-alih menikmati, Satria justru gemetaran!
"Kenapa, Sayang? Kok kaku begitu?" goda Tante Vega. Suaranya halus, kontras dengan seringai nakal yang kini menghiasi wajahnya. Matanya tertuju pada celana Satria yang makin sesak. Tanpa peringatan, tangan lentik wanita itu bergerak liar, memberikan sentuhan yang membuat jantung Satria seolah berhenti berdetak.
Belum sempat Satria bersuara, pintu utama terbuka dan seorang perempuan muda masuk.
“Loh, ada Mas Ganteng? Masih di sini, kok belum kuliah?!” kata perempuan cantik itu heran.
Tante Vega kontan menjauh ke tempat duduknya semula dan bersikap biasa lagi.
Acara pagi yang sempat berubah akibat ulah Tante Vega kini seketika buyar…!!!!
**
Makin penasaran...yuks lanjut!
Bab 3: Ajeng si ART
“Ehemmm…!” tegur Tante Vega.
“Aiiihhh…ada nyonyah besar, duehh sampe kagak lihat, gara-gara si mas ganteng bertubuh ceking ini he-he-he!” wanita muda cantik bertubuh penuh ini kontan merubah sikapnya, dia adalah Ajeng, ART di rumah ini.
Sejak Satria tinggal di sini, dia memang sering berinteraksi dengan Ajeng dan mereka biasanya bercanda.
Candaannya mereka malah kadang nakal, tapi hanya sebatas di mulut, Satria mana berani menjurus ke hal–hal yang aneh.
Ia masih ingat pesan ayahnya, sebelum dia pamit kuliah di Jakarta agar jaga sikap dan kelakuan.
“Ingat jangan nakal, ayah tahu kelakuanmu di desa ini, suka banget ngintip, apalagi kalau ada penganten baru dengan teman – temanmu itu, malah sampai pernah berurusan dengan RT segala, jangan ulangi kelakuan itu, memalukan bagi keluarga kita. Biarpun miskin begini kita ini keturunan darah biru Satria, makanya nama kamu itu Satria…!”
Itulah pesan ayahnya yang tentu saja di ingat betul oleh Satria. Namun ia tak tahu, darah biru kerajaan mana, karena ayahnya belum pernah bercerita.
“M-maaf Tante, Kak Ajeng, saya pamit dulu, takut telat masuk kelas di kampus,” kata Satria lagi dan buru-buru pergi, sambil cium tangan tantenya.
Satria pun starter motor matic pemberian Om-nya dan menuju ke kampus.
Tante Vega hanya melemparkan senyum manis, namun tatapannya penuh kekesalan, seolah waktu ‘intimnya’ dengan Satria dirampas karena ulah Ajeng, ART -nya yang kadang suka berpakaian agak terbuka di rumah ini.
Setibanya di kampus, Satria masih sibuk menata pikirannya, dengan kerlingan dan ucapan Tante Vega yang begitu menggoda, sekaligus adegan tadi malam yang bikin dia terngiang-ngiang.
Akibatnya dia tak konsentrasi saat ikuti perkuliahan hari ini, untung saja Satria otaknya encer, pelajaran kuliah tetap bisa masuk ke otaknya.
Setelah ikuti 3 mata kuliah, Satria pun pulang. Ia bak kena demam saja, sebab hari ini benar – benar tak bergairah.
Ketika tiba di rumah di sore hari ini, dia melihat mobil Om-nya sudah ada di garasi, tapi mobil tantenya tidak ada. “Om sudah pulang, Tante pasti ngumpul dengan teman arisannya,” batin Satria menduga - duga.
Saat melihat kamar Ajeng yang hanya terhalang kamar mandi dengan kamarnya di bagian belakang rumah besar dan mewah Om-nya ini, Satria heran kamar si ART ini terkunci rapat.
“Aneh….nggak biasanya sore jelang senja ini Kak Ajeng udah ngadem di kamar?” batin Satria.
Namun ia sungkan mengetuk, Satria langsung saja menuju ke pintu kamarnya.
Tapi telinganya yang tajam sayup – sayup dengar ada suara – suara halus di kamar ART ini.
“Suara apa itu yaa…?” batin Satria, tapi dia tetap masuk kamar dan berganti baju.
Namun urusan bawah perut tak bisa ditunda, dia kebelet cebok. Satria pun masuk ke kamar mandi dan buang air besar di closet jongkok.
Begitu dia mulai buang hajat, telinganya lagi - lagi mendengar suara desahan Ajeng…suara berat seorang laki-laki.
“Kayak suara Om Brata…ngapain ya di kamar ka Ajeng?” batin Satria heran sendiri.
Jiwa ngintip Satria pun kumat lagi!
Setelah membersihkan dirinya, ia lantar mencari lubang intip yang mengarah langsung ke kamar Ka Ajeng
Saat itulah di sisi langit-langit kamar mandi ini, ada retakan kecil. Dengan tubuh tingginya, Satria perlahan naik ke atas closet ini sebagai pijakan.
Dia lalu berusaha mengintip ke kamar Ajeng.
Matanya terbelalak, sedapat mungkin dia jangan menimbulkan suara, sebuah pemandangan aduhai terpampang di kamar Ajeng.
Ajeng terlihat sedang berada di atas tubuh Om Brata, ART bertubuh penuh dan sintal ini terlihat membajak sawah milik Om Brata.
Suara si ART ini mendesis-desis, persis ular kobra ketemu mangsa.
Kaki Satria kontan gemetaran dan tubuh agak menggigil, ia lalu perlahan menurunkan tubuhnya dan buru-buru keluar dari kamar mandi, kemudian kembali ke kamarnya.
“Astagaaa…jadi, ka Ajeng dan Om Brata….?” Batinnya sambil meredakan jantungnya yang terus berdetak kencang.
Tak pernah seujung kukupun Satria mengira, kalau diam—diam Om Brata dan Ajeng ada skandal rahasia selama ini.
“Aneh banget, padahal Tante Vega kurang apa cakepnya, kok si Om malah berselingkuh dengan ka Ajeng, ART di rumah ini...?” batinnya bingung sendiri.
Satria pun bolak – balik di kasurnya, niat untuk istirahat gagal total.
Tak lama kemudian Satria dengar bunyi kamar Ajeng terbuka, lalu tertutup lagi.
Langkah kaki Om Brata sudah menjauh dari kamar ka Ajeng. Satria membatin lega, "Apa Om Brata dan ka Ajeng sudah selesai?"
Tak lama kemudian, suara gemercik air dari kamar mandi di sebelah kamarnya mengonfirmasi dugaannya.
Satria tersenyum tipis. "Sudah tuntas rupanya. Pasti ka Ajeng sedang sibuk membersihkan sisa-sisa hasil membajak sawah tadi dengan Om Brata!"
**
Makin penasaran? Lanjut yaa…
Bab 4: Bingung Sendiri
Tok…tok…tok!
“Satria, kamu sudah pulang ya dari kampus?” terdengar suara dari Ajeng dari luar kamarnya, Satria dengan malas-malasan membuka dan si ART bertubuh penuh ini sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
“Baru bangun tidur yaa?”
“Iya ka Ajeng, aku tadi di kampus kurang enak badan, makanya setelah pulang langsung bobok,” kata Satria berbohong pastinya.
“Hmm…gitukah?” Ajeng yang masih basah rambutnya terlihat sangsi dengan jawaban anak muda kurus ini, tapi saat menatap mata Satria yang agak merah, Ajeng pun percaya.
“Kamu….eee..ya..ya udahlah, aku mau beres-beres dulu,” sahut Ajeng lagi dan dengan lenggang kangkung perlihatkan pinggulnya yang tak kalah aduhainya dengan milik Tante Vega, si ART ini pun berlalu dari hadapan Satria.
“Amboii…pinggul itulah yang goyang koplo Om aku,” batin Satria menahan tawa.
Kini sebuah rahasia besar sudah dia ketahui di rumah ini, Om Brata sepupu ayahnya yang mantan tentara, tapi kini berkarir di pemerintahan, diam – diam memiliki skandal dengan…Ajeng sang ART.
Hanya yang bikin Satria heran, sejak dia tinggal di sini, Andrea sepupunya, yang juga anak Om Brata dengan mendiang istri pertamanya tak pernah terlihat di rumah besar dan mewah ini.
“Kemana dia ya, dulu Om Brata bilang Andrea baru lulus kuliah dan jadi asisten dosen?”
Tapi Satria tidak mau memusingkan itu berlebihan, kini dia kembali termenung, dua hari berturut-turut dirinya tak sengaja melihat pemandangan yang bikin otaknya konslet.
Walaupun nakal dan suka ngintip, Satria aslinya sampai kini masih perjaka, dia tak pernah macam – macam dengan wanita manapun.
Di Jakarta sini pun dia kuliah di Prodi Keguruan targetnya harus wisuda kurang dari 4 tahun.
Ia sudah niatkan di tahun 3 sudah persiapan skripsi. Otaknya encer dan sejak SD, hingga SMU, selalu jawara kelas, bahkan saat lulus SMU, dia terbaik se Kabupaten, sehingga dapat beasiswa dan kuliah di kampus bonafit di Indonesia ini.
Mengintip selalu menjadi satu-satunya kenakalan Satria, terutama jika ada pengantin baru di kampung mereka. Dan kini, kebiasaan buruk itu kembali kambuh di rumah Om-nya, menyeretnya masuk ke dalam rahasia kelam: skandal cinta antara Om Brata dan Ajeng, si ART.
Kebingungan pun mendera benaknya. "Kenapa aneh sekali? Mengapa Om Brata loyo saat dengan Tante Vega, tapi begitu perkasa saat bersama Ajeng? Apa sih rahasia yang membuat Om Brata bisa tampil beringas untuk Ajeng, namun mendadak lemah di hadapan istrinya sendiri?" Satria tak habis pikir.
Satria tambah mumet sendiri, sebab di matanya, bini kedua Om-nya ini sangatlah sempurna, berkulit putih bak wanita blasteran dan memiliki body aduhai.
Apalagi dulu seingatnya, sebelum menikah dengan Om-nya Tante Vega ini mantan model, sehingga memiliki tubuh yang tinggi.
Sedangkan Ajeng…hanya seorang ART, lulusan pun hanya SMU Paket C! Walaupun Ajeng biarpun agak sintal, juga tak kalah aduhainya dan bibir tebalnya sangatlah menggoda.
Malamnya…di meja makan,
"Satria, Om besok harus terbang ke luar negeri. Ada kunjungan kerja sangat penting untuk mengurus negosiasi kontrak strategis yang harus Om tangani langsung. Perjalanannya akan memakan waktu lama, Om akan mampir ke dua benua, dan Om mungkin sulit dihubungi. Om pesan, jaga rumah dan Tante kamu baik-baik. Pulang kuliah kalau tak ada kegiatan yang nggak perlu, langsung pulang yaa. Kamu kan pintar beladiri silat, kalau ada apa-apa, kamu bisa diandalkan," pesan Om Brata.
“Si-siap Om, aku akan patuhi pesan Om!” sahut Satria cepat. Satria sudah tak aneh, Om Brata jarang lama ada di rumah, selalu sibuk dengan urusan kantor.
Tanpa Satria sadari, saat Om-nya berkata begitu, Tante Vega terlihat keluarkan seutas senyuman.
“Makan yang banyak Satria, masa udah 2 bulanan di sini badan kamu masih kurus begitu, kayak kurang gizi saja,” sela Tante Vega. Om Brata diam saja dengan ucapan istrinya, dia malah menatap tubuh kurus Satria.
“Hmm…benar juga, ayoo tambah nasi.” Om Brata sodorkan nasi tambah dan mau tak mau Satria pun makan hingga 1,5 piring porsi penuh.
Tak ada kejadian aneh malam ini, karena Satria usai makan langsung kembali ke kamarnya dan sibuk belajar, Satria memang selalu mengulang pelajaran yang diberikan dosen, inilah kebiasaan sejak SD yang bikin dia jenius dan mudah paham.
Tapi gangguan justru datang dari…Ajeng.
“Lagi belajar ya, nih aku buatin kopi jahe, kan kamu bilang badan kurang enak tadi sore, minum ini biar segar badannya!”
Ajeng yang sebelumnya tahu kamar Satria tak dikunci nyelonong masuk sambil letakan kopi jahe panas di samping buku-buku Satria, anehnya Ajeng bukannya menjauh, dia tetap berdiri di samping meja belajar Satria.
“Makasih ka Ajeng!”
“Sama-sama Ganteng…!” sahut Ajeng kenes.
Ajeng mengangguk dalam hati, menyetujui penilaian Tante Vega.
Andai saja Satria mau menggemukkan badan, si jangkung kurus ini pasti akan sangat tampan, bahkan macho, pikirnya.
Bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di pipinya sudah menjadi daya tarik tersendiri.
Pandangan Ajeng kemudian turun, mendarat dan terpaku pada paha Satria yang saat itu hanya dibalut celana pendek.
Seketika, matanya berkilat tajam. Ada sesuatu yang terbentuk jelas, memberontak di balik bahan celana pendek itu...!!
**
Makin penasaran ya, lanjut lagi…
Bab 5: Hari yang Apes
“Lagi belajar apa sih, serius amat…!”
Entah disengaja atau tidak, Ajeng sengaja jongkok sambil melihat laptop Satria, sehingga dasternya yang agak longgar memperlihatkan isinya yang bikin mata Satria mau tak mau melirik juga.
“Alamak…” batin pemuda ini, kalamenjingnya mulai bergerak tak beraturan.
Dari pandangannya, ia melihat dengan utuh bagian atas tubuh molek milik Ajeng yang… Satria sendiri tak mampu berkata-kata!
Walaupun selama ini sering bercengkrama, tapi gara – gara ngintip tadi sore, pikiran Satria mulai konslet juga.
Dia pun mulai perhatikan tubuh Ajeng yang baginya sangatlah menggiurkan. Apalagi saat dekat begini, aroma Ajeng sungguhlah sangat menggoda.
“La-lagi…nyangkul…eh maksudnya belajar, eh ngulang pelajaran tadi siang Ka?” jawaban Satria yang terbata-bata bikin Ajeng menahan tawa.
“Kok gugup gitu sih, hayo mikir apa sih?” goda Ajeng, sampai dengus nafasnya terasa di pipi Satria.
“A–anu…” lidah Satria kelu, bicara dekat begini, di tambah ngintip Ajeng dan Om Brata sore tadi sedang olahraga kasur, otak Satria seketika buntu.
“Ehemmm… Kakak mau tanya, tapi kamu harus jawab jujur yaa?” Ajeng kini menatap tajam wajah tampan Satria, hingga pemuda ini makin salting di kursi belajarnya.
“T-tanya apa ka?”
“Kamu…sore tadi tahu kan kalau Om kamu…eee masuk ke kamar aku?”
Satria menarik napas sejenak, padahal di dalam hatinya ia berjuang keras mencari jawaban paling aman yang terdengar lugu.
"Tidak, Kak. Aku baru pulang kuliah, langsung istirahat di kamar," sahut Satria dengan nada seolah tidak tahu apa-apa.
Ia lantas membalikkan pertanyaan, memasang wajah polos. "Memangnya ada apa? Om Brata masuk kamar Kakak? Mungkin beliau mau kasih bonus atau transfer uang gaji, ya?"
Ajeng terdiam sejenak, lalu tertawa kecil dan mengangguk.
“Iya, ngasih bonus, sebab aku dianggap bagus kerjanya, udah ahh, aku mau istirahat!”
Namun, sebelum beranjak, sekali lagi Ajeng memerhatikan milik Satria yang sedari tadi sesak dibuatnya.
Tanpa ragu Ajeng menyentil genit, lalu melenggang aduhai meninggalkan kamar Satria dan kembali ke kamarnya.
Satria sampai bengong dan kaget bukan main, sore kemarin Tante Vega, malam ini Ajeng yang ‘melakukannya’!
“Dueeh bikin pusing aja, kalau gini terus bisa khilaf aku!” gumam Satria senewen sendiri, lalu buru-buru kunci pintu kamarnya dan kembali konsentrasinya buyar, gara - gara ulah Ajeng tadi.
Akibatnya, tengah malam barulah dia bisa memejamkan mata.
***
Hari ini Satria kuliah pagi, pukul 8.00, sehingga dia memutuskan tak ikut sarapan, takut telat ke kampus, apalagi pelajaran pagi ini dosennya terkenal killer, telat 1 menit di larang masuk kelas.
Rumahnya Om-nya masih sepi, karena dia berangkat pukul 6.15 menitan, usai jalankan kewajibannya.
Setibanya di kampus, setelah satu setengah jam lebih berkutat di jalanan Jakarta yang makin macet saja padahal masih pagi, ia pun jalan dengan tergesa-gesa usai naruh motor di parkiran.
Satria masih sibuk menata pikirannya, dengan kerlingan dan ucapan Tante Vega yang begitu menggoda, sekaligus adegan tadi malam yang bikin dia terngiang-ngiang.
Ditambah lagi sikap Ajeng yang biki otaknya makin mumets, akibatnya dia tak konsentrasi saat berjalan.
Bukkkk….tanpa sengaja ia menabrak seorang mahasiswi berpostur tinggi padat dengan setelan basket.
Bukan si pebasket wanita itu yang terjengkang, tapi tubuh kurus Satria lah yang terhempas ke tanah, hingga tas nya jatuh dan berhamburan, sebab resleting tasnya lupa dia kancing.
“Hmm…meling kemana otak mau, sampai tubuhku yang segede gaban gini tak kamu lihat,” dengus mahasiswi yang ia tabrak ini kesal.
Tapi si wanita tinggi kokoh ini segera membantunya berdiri, keringatnya menetes, tubuhnya atletis—cukup membuat Satria terpaku, harum tubuhnya menyebar, hingga hidung Satria sesaat mekar.
Merasa canggung, Satria segera menjauh tanpa menyadari bahwa dompetnya terjatuh di lapangan.
Si gadis pebasket tadi memungut dompet tersebut dan hendak mengejarnya, tapi Satria keburu menghilang di kerumunan mahasiswa lainnya dan sebab ingin buru- buru masuk kelas.
Tapi kesialan Satria malah bertambah, baru saja hendak memasuki kelas, Satria menabrak tiga laki-laki berbadan besar, dorongan akibat tabrakan itu membuat Satria hampir kembali jatuh.
Salah satu pria langsung menarik kerahnya, merasa tersinggung dan mengancam Satria dengan suara rendah.
Satria yang sejak pagi sudah kebingungan dihadapkan lagi pada situasi yang membuat pertahanannya, baik mental maupun fisik serasa runtuh.
“M-maaf Bang…aku tadi terburu-buru mau masuk kelas,” kata Satria dengan suara pelan.
“Hei kurus, dengar baik-baik, lain kali kalau jalan lihat – lihat, atau aku patahkan kaki kamu itu, huhhh!” bentaknya dengan suara mengguntur.
Setelah berkata begitu, dia hentakan tangannya, hingga Satria terdorong ke belakang dan hampir kena mahasiswa lainnya.
Kembali Satria buru-buru rangkapkan tangannya minta maaf.
Aslinya Satria bukanlah pengecut, di balik tubuh kurusnya dia pernah jawara pencak silat se Kabupaten tingkat SMP dan SMU.
Tapi Satria tahu diri, sebagai mahasiswa yang baru 2 bulan kuliah dan dari kampung pula, dia tak mau bikin masalah.
Namun di sini lah awalnya kenapa Satria justru akan menerima bully-bullyan lainnya. Apalagi ke 3 mahasiswa itu saling pandang dengan isyarat aneh.
Sampai di sini Satria masih belum nyadar, dompetnya terjatuh dan kini dipegang mahasiswi yang juga atlet basket di kampusnya.
**
Lanjut yaaa..
Bab 6: Tak Sengaja Lihat Tante Vega dan Seorang Pemuda
Satria makan dengan lahap, dia memang belum sarapan, karena tadi pagi langsung ke kampus. Sehingga selesai perkuliahan dia langsung ke kantin kampus isi perut.
Saat akan membayar dan mencari-cari dompetnya di tas, bingung dan kagetlah Satria, dompetnya tak ada.
“Aduuh di mana dompetku?” batinnya bingung sendiri.
Paniklah Satria, bingung bagaimana bayar makanan dan pastinya surat – surat berharga miliknya, seperti SIM dan STNK di dompet itu, di tambah KTP dan kartu mahasiswa, pastinya uang miliknya ada di dompet yang hilang tersebut.
Satria pun menyesali diri, kenapa dompet ia taruh di tas, harusnya di saku celana belakang miliknya.
“Kamu cari ini ya…?” tiba – tiba di depannya sudah duduk seorang mahasiswa cantik berbody atletis dan di tangannya memegang dompet miliknya.
“Eh iya, itu dompet aku, kok ada pada kamu??!” seru Satria terkejut.
“Hemm…lupa yaa, pagi tadi kamu nabrak aku?” si wanita ini balik menembak Satria.
“Astagaa…a-aku minta maaf, tadi pagi jalan sangat terburu – buru, takut telat masuk kelas,” Satria tanpa ragu kembali minta maaf.
“Makanya lain kali kalau jalan hati – hati, nih dompet kamu!” si mahasiswi ini lempar dompet miliknya di depan Satria dan langsung diambil, lalu pemuda ini buru-buru membayar makanannya.
“Nggak traktir aku nih, medit amat?” si mahasiswi ini menegur lagi, kontan wajah Satria merah dadu di bilang medit alias pelit.
Satria buru-buru persilahkan si mahasiswa ini pesan, sekaligus baru nyadar si mahasiswi ini sangat cantik.
“Nah gitu donk! Tapi, jangan traktir aku di sini, tapi di supermarket, oke? Oh ya namaku Berlina Hutapea, Prodi Hukum, sekaligus kapten tim basket wanita kampus ini. Nggak usah takut, aku bukan anak ataupun kerabat si pengacara kondang itu. Kami hanya sama marga doang!” si mahasiswa ini kenalkan namanya tertawa kecil, sekaligus ajak bercanda.
Satria yang awalnya senyum kontan kaget! Ke super market? Tanpa nyadar dia lihat isi dompetnya, isinya hanya…250 ribu. Tapi Berlina pura – pura tak lihat saja dengan ulah Satria.
“Sekarang aja yuk, mumpung kamu dan aku belum ada jadwal kuliah?” ajak Berlina tiba-tiba.
Makin semaput lagi Satria, Berlina ajak dirinya ke parkiran kampus dan menuju ke mobil SUV kompak milik si mahasiswi cantik ini.
“Ya ampunnn…bisa bangkrut aku ini? Dueeh gimana ini, mana cukup bayar belanja ke super market dengan uang segini..?” batin Satria ketar ketir.
“Kok pucat gitu…Satria, santai ajaaah, aku nggak makan kamu kok? Nama Satria, kok kayak ketakutan begituuu,” olok Berlina sambil konsen ke setiran.
Mau tak mau karena diolok, Satria pun kini bersikap santai. “Moga dia nggak banyak belanjanya, pasti si Berlina sengaja ingin ngerjain aku, tak mungkin dia tak tahu jumlah duitku, buktinya namaku pun dia tahu,” batin Satria sambil nikmati wanginya mobil Berlina Hutapea ini.
Begitu masuk di supermarket ini, Satria makin mau semaput, Berlina sambil minta ia dorong kereta belanja mulai sibuk memilih-milih belanjaannya.
Sudah separu kereta belanja ini berisi belanjaan. “Mati aku, gimana membayarnya…!” keluh Satria.
Saat itulah secara tak sengaja Satria melihat…Tante Vega dan seorang pria muda!
Pas juga di saat bersamaan Tante Vega melihat ke arahnya yang jalan beriringan dengan Berlina.
Bahkan entah disengaja atau tidak, Tante Vega dan si pria muda yang terlihat sangat 'mesra' dengan tante-nya ini jalan ke arah Satria dan Berlina, tapi Tante Vega pura – pura tak kenal dengannya.
Anehnya, si pria muda itu terlihat salting dan agak gugup saat melihat dan berpapasan dengan Berlina, tapi berbalik sinis menatap Satria.
Berlina terlihat juga cuek bebek, dia malah ajak Satria pindah ke bagian lain di supermarket ini.
Puas belanja dan menuju ke kasir Satria plong tak terkira, bukan dia yang membayar, tapi dengan santainya Berlina keluarkan kartunya dan bereslah semua belanjaannya.
Satria buru-buru bantu angkuti semua barang belanja Berlina dan dia sempat melirik ke arah Tante Vega, yang dari jauh juga menatapnya.
“Akhirnya terbukti kecurigaanku, si Denny emang doyan tante-tante gatel penyuka brondong muda!” ceplos Berlina saat mobil mereka jalan dari parkiran super market ini.
“Denny…yang tadi jalan bersama Tante V..eh si tante di supermarket itu yaa?” sahut Satria.
“Iya, siapa lagi, aku sengaja ajak kamu temani aku, selain untuk belanja, aku juga ingin buktikan info yang sebutkan si Denny hari ini ada di sana, ternyata info itu benar adanya,” dengus Berlina terlihat kesal.
Satria pun makin mumet, apakah Denny itu kekasih Berlina...dan Tante Vega dibilang tante gatal?
**
Ehemm makin penasaran kan...lanjut!
Bab 7: Sogokan Tante Vega
"Makasih yaa sudah mau nemenin aku ke supermarket..."
Setelah mobil SUV kompak itu sampai di parkiran kampus kembali, Berlina pun akhirnya bersuara, tatapannya yang cantik terlihat lesu.
Satria geram, tak habis pikir ada laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan wanita sekelas Berlina.
"Kak, kamu pasti akan dapat yang lebih baik dari laki-laki berengsek itu..."
Setelah tersenyum tipis, tiba-tiba di dalam mobil ber-AC, Berlina membuka jaketnya. Kini ia hanya mengenakan tanktop putih ketat.
Leher jenjangnya dan dadanya yang putih seketika terlihat jelas, apalagi saat ia mengangkat tangan, memperlihatkan ketiaknya yang mulus tak bercela.
Kalamenjing Satria sontak bergerak naik dan turun.
"Boleh aku peluk? Sebagai ucapan makasih dan tanda pertemanan...?"
Tenggorokan Satria kering, pe–peluk katanya?!
Belum sempat ia menjawab, Berlina sudah bergerak cepat.
Bruk!
Tubuh Satria yang kaku dipeluk erat. Campuran aroma parfum dan asam keringat tipis Berlina menghantam indranya. Apalagi sensasi gundukan empuk yang penuh menekan kuat ke dadanya.
Celana Satria seketika sesak tak tertahankan. Ia hampir hilang akal di dalam pelukan memabukkan itu.
“K-Kak… kelasku sudah mau mulai… Maaf yaa…” Satria berusaha dengan lembut melepaskan pelukan Berlina.
Bukan, bukan karena Satria tidak mau. Sebenarnya mau banget malah. Tapi… Satria takut Berlina menyadari jika apa yang ada di dalam celana pemuda itu sudah berontak begitu kuat.
“Ehhh… Maaf yaa. Jadi Keenakan…” Senyum Berlina pada Satria begitu manis, juga penuh… arti?!
Buru-buru Satria keluar dari mobil Berlina dan berjalan cepat, menjauh dari mobil.
“Duehhh… godaannya kuat banget…”
Baru saja masuk ke gedung kampus, Satria kaget, 3 mahasiswa yang kemarin dia tabrak sudah berada di depannya.
“Heii kurus, kamu tadi kemana saja diajak si Berlina?” orang yang kemarin tarik kerah bajunya langsung tembak dirinya dengan pertanyaan menohok.
“H-hanya ke supermarket Bang, nemani belanja,” suara Satria kali ini tenang saja, karena dia aslinya bukanlah tipe pria pengecut, hanya tak ingin bikin ribut.
“Dengar yaa, mulai kini awas kalau berani ajak Berlina jalan lagi, atau…!” tiba-tiba salah satu mahasiswa ini ambil minumannya dan Satria kaget bukan kepalang, air minumnya di siramkan ke kepalanya, basahlah rambut dan pakaiannya.
“Ini hanya peringatan, lain kali berani temani Berlina jalan, aku hajar kamu,” kata orang ini dan ketiganya berlalu, sambil tendang kursi plastik di depan Satria.
Satria sampai gemeretakkan giginya menahan amarah. Agaknya kesabarannya mulai menipis.
“Sabar Satria, mereka itu anggota Menwa dan terkenal sok jago di kampus ini,” Syarif sahabat dekatnya datang sambil ikut ngelap tubuhnya dengan tissue.
Syarif lantas cerita, Trio Doni, Anjar dan Toni 'premannya' di kampus ini, apalagi mereka itu andalan di klub basket kampus mereka.
“Aku tak akan mengalah lagi…cukup bullyan ini,” batin Satria.
**
Baru saja Satria meletakkan tas ranselnya dan masih kesal dengan perbuatan Doni, Anjar dan Toni, pintu kamarnya diketuk dengan ketukan cepat.
Dengan ogah-ogahan dia menuju ke pintu, begitu dibuka, Tante Vega. Wajahnya panik dan matanya terlihat memancarkan ketegangan. Tanpa tedeng aling-aling, wanita itu nyelonong masuk.
“Satria… Tante mau bicara! Sekarang!” Tante Vega, yang tingginya hanya sebatas hidung Satria, menatap tajam ke atas, sorot matanya yang lentik seolah menuntut pengakuan.
“Iya Tante… S-satria dengarkan!” Satria langsung berdiri tegak di hadapannya, merasakan aura serius yang belum pernah ia lihat.
“Kamu harus jaga rahasia! Jangan sampai Om kamu tahu aku tadi jalan dengan seorang pria di supermarket... Itu tak seperti yang kamu bayangkan!” desis Tante Vega.
“I-iya Tante, aku akan jaga rahasia ini!”
“Janji... sumpah?” desak Tante Vega, kini meraih lengan Satria.
“Aku janji... dan bersumpah Tante, tak akan bocorkan ini pada Om atau siapapun!” sela Satria cepat.
Tante Vega menarik napas lega, namun matanya masih memindai Satria. “Bagus. Tante percaya kamu. Nah, kalau kamu benar-benar menjaga rahasia tadi, tante akan kasih sesuatu buat kamu!”
Satria menelan ludah, membayangkan imbalan materi. Memangnya apa yang Tante Vega mau berikan? Uang jajan tambahan? Otak polosnya kontan bersorak, siapa yang nolak batinnya.
Namun, tindakan Tante Vega selanjutnya membuat jantung Satria berhenti berdetak.
Tanpa peringatan, Tante Vega meraih bagian depan celana jeans Satria. Jemari halusnya menyentuh kain denim tebal itu, lalu dengan gerakan cepat, ia menarik ritsleting celana Satria hingga turun. Satria terlonjak kaget, tubuhnya seketika kaku seperti patung.
"Ta-tante mau apa?!" Suara Satria terdengar serak dan nyaris tak keluar.
Tante Vega tersenyum, senyum nakal yang sungguh asing dan mendebarkan. Ia memajukan wajahnya, memanyunkan bibir merahnya yang masih berlumur gincu, mendekat ke telinga Satria.
“Tentu saja kasih kamu sogokan lebih biar tutup mulut...”
Lalu, diiringi desahan samar, Tante Vega mulai membungkuk.
**
Lanjut teruss yaaa....!!