Đang tải thông tin quảng bá...
Hasrat Wanita Desa
21+Seorang pemuda bernama Erfan, di tugaskan oleh keluarga nya untuk memimpin perusahaan yang terletak di sebuah desa. Erfan tidak pernah menduga bahwa desa tersebut, banyak sekali wanita cantik dan m...
Chương (1)
第1章
21+Seorang pemuda bernama Erfan, di tugaskan oleh keluarga nya untuk memimpin perusahaan yang terletak di sebuah desa. Erfan tidak pernah menduga bahwa desa tersebut, banyak sekali wanita cantik dan menggoda yang membuat Erfan tidak tahan.
Bab 1 Sampai di desa mawar
Seorang pemuda tampan, sedang mengemudikan mobil sport nya dengan wajah muram.
Pemuda tersebut bernama Erfan.
Erfan adalah seorang pemuda tampan berumur 25 tahun, yang berasal dari keluarga kaya nomor 1 di kota tersebut. Erfan seorang anak tunggal di keluarganya, hari ini Erfan diberi perintah oleh orang tuanya untuk mengurus perusahaan paling kecil milik orang tuanya yang berada di pedesaan, yang merupakan perusahaan pertanian. Walaupun Erfan sangat enggan tapi dia tidak bisa melawan orang tuanya, karena dia sadar pasti orang tuanya ingin dia lebih mandiri karena selama ini Erfan hanya tau bersenang senang.
====
Mobil Erfan sudah memasuki jalan pegunungan, yang keadaan jalannya tidak semulus di kota.
"Ohh sial, mengapa jalan nya begitu bergelombang, bisa bisa mobil ku lecet!" Umpat Erfan, dia sangat kesal.
"gruk gruk"
Perut Erfan berbunyi,
"Duh laper banget sih, gak bawa makanan lagi ." Erfan berkata sambil memegang perutnya.
Erfan melihat warung dekat sekolah SMA yang cukup ramai Siswa SMA, karena kebetulan ini jam dimana anak SMA pulang sekolah.
Mobil Erfan berhenti di warung tersebut,
Semua Siswa SMA tersebut menatap mobil sport lamborgini dengan mata bersinar, seketika mereka menjadi heboh.
"Lihat itu, mobil sport lamborghini, keren sekali ya? sumpah keren baget!" ucap pria muda, sambil menunjuk-nunjuk mobil itu.
"Baru pertama kali, ada mobil sport datang ke daerah sini!" ucap temannya, sambil menatap mobil itu dengan tatapan berbinar.
Erfan keluar dari dari mobil, lalu berjalan menuju ke warung dengan langkah santai.
"Sangat tampan! Para artis pria itu tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan!" ucap salah satu siswa wanita, dengan tatapan berbunga-bunga.
"Aku mau walau jadi simpanannya," ucap siswa wanita yang terlihat centil, matanya menatap Erfan dengan tatapan panas.
Semua murid wanita mendengus, setelah mendengar perkataan wanita genit itu.
Kedatangan Erfan ke warung tersebut, langsung di sapa hangat penjaga warung wanita dewasa, yang masih terlihat cantik.
"Tuan muda," sapa penjaga warung wanita, dengan ramah. Penjaga warung wanita menebak Erfan bukan lah pemuda sembarangan.
Erfan tersenyum sambil mengangguk sedikit, lalu dia berkata kepada penjaga warun.
"Bi Saya mau makan, apakah disini jual makan atau mie instan?" tanya Erfan sambil tersenyum hangat.
Erfan pemuda yang ramah tidak pernah memandang rendah orang lain, walau dia terkenal nakal di kota asalnya.
"Kalo mie instan ada tuan muda, ingin rasa apa?" tanya penjaga warung wanita itu.
"Rasa apa aja deh bi, 2 yah mie instan nya," ucap Erfan sambil memperlihatkan 2 jarinya.
"Silahkan duduk di dalam tuan muda, diluar banyak siswa SMA!" ucap penjaga warung wanita itu, sambil membukakan pintu masuk ke dalam warung.
"Baik bi," Erfan tidak sungkan, di langsung masuk kedalam warung.
Di dalam warung, Erfan duduk di kursi sederhana. Dia mengeluarkan sebatang rokis, lalu menyalakannya.
Penjaga warung wanita, memasak tidak jauh dari Erfan. Mata nakal Erfan menatap tubuh penjaga warung wanita itu, dengan tatapan tidak hati-hati.
"Tidak kusangka ada wanita yang menggoda di desa seperti ini," gumam Erfan dalam hati, sambil tersenyum nakal.
"Tuan muda, seperti anda bukan berasal dari sini yah?" tanya Penjaga Warung Wanita, sambil terus memasak mie.
"Iyah bi, aku baru sampai di sini," jawab Erfan.
"Ohh begitu, memang tujuan tuan muda mau kemana? " tanya Penjaga Warung Wanita tersebut.
"Ke Desa Mawar Bi," jawab Erfan santai, matanya sambil memperhatikan pantat wanita dewasa itu.
"Oh Desa Mawar," jawab Warung Wanita tersebut menjawab sambil mengangguk ngangguk.
"Apakah masih jauh bi?" tanya Erfan.
"Enggak kok, paling 2 kilometer lagi udah sampe!" jawab Penjaga Warung Tersebut.
"Bagus kalo gitu, aku sudah sangat lelah," erfan berkata dengan malas.
"Kalo boleh tau, ada tujuan apa tuan muda ke desa mawar?" tanya Penjaga Warung Wanita Tersebut, sambil memasukkan mie yang sudah matang kedalam mangkuk.
"Aku di suruh orang tua, mengurus perusahaan pertanian buah buahan yang ada di desa mawar," Erfan menjawab jujur.
Deg
Penjaga Warung Wanita tersebut terkejut,
"Ternyata tuan muda pemilik perusahaan pertanian di desa mawar?" ucap Penjaga Warung Tersebut, sambil meletakkan mangkuk mie di depan Erfan.
"Iyah bi, walau yah aku sedikit enggan!" ucap Erfan berkata tanpa daya .
"Bibi jamin deh kalo tuan muda sudah ke desa mawar pasti betah," ucap Penjaga Warung Wanita itu.
Erfan bingung dengan perkataan wanita dewasa itu,
"Eh nanti, jika tuan muda santai main kesini yah, sesekali makan mie atau ngopi!" ucap Penjaga Warung Wanita itu dengan suara menggoda.
"Oke bi, siapa nama bibi?" tanya Erfan santai.
"Nama Bibi Ayu." ucap Penjaga Warung Wanita itu .

"Oke Bi Ayu, aku mengingatnya!" Erfan menjawab sambil mengangguk ngangguk, mulutnya di penuhi makanan.
Wanita Dewasa Bernama Ayu itu menatap Erfan dengan tatapan aneh, sebuah pemikiran nakal muncul di kepalanya.
Beberapa menit, Erfan pun menyelesaikan makan mienya. Dia langsung bangkit berdiri, ingin segera melanjutkan perjalanannya.
"Bi Ayu ini aku membayar!" Erfan mengeluarkan uang 100 rb .
Bi Ayu yang sedang melayani pembeli pun, buru-buru menghampiri Erfan.
"Tunggu tuan muda, saya akan mengambil kembalian!" ucap Bi Ayu.
"Tidak perlu Bi, buat Bi Ayu saja," jawab Erfan sambil tersenyum.
"Beneran tuan muda?" tanya Bi Ayu senang.
Erfan mengangguk,
"Hehe, kalo tuan muda jajan di warung bibi setiap hari, bibi akan cepat kaya," ucap Bi Ayu, sambil terkekeh.
Erfan tertawa,
"Hahaha, nanti kalo santai aku main ke sini bi. warung ini tutup sampai jam berapa?" tanya Erfan
"Sampai jam 8 malam tuan muda," jawab Bi Ayu sambil menatap Erfan dengan tatapan genit.
"Oke, kalo gitu aku pamit dulu!" Erfan berkata, lalu keluar dari warung Bi Ayu.
Saat Erfan berjalan menuju mobil, dia melihat banyak siswa yang memfoto mobil ya. Erfan hanya tersenyum, dia tidak marah sama sekali.
"Hey awas! yang punya nya datang tuh," ucap Siswa pria, dia mengingatkan, para siswa lainnya yang sedang memfoto di depan mobil Erfan.
"Semua nya permisi yah, saya mau lanjut perjalanan lagi," Erfan berkata dengan ramah.
"Sialahkan Kak," ucap para siswa itu, sambil tersenyum sedikit malu.
Erfan mengangguk sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil Lamborghini melaju pelan pelan meninggalkan tempat tersebut, di bawah tatapan kagum para siswa SMA.
Beberapa menit kemudian, Erfan melihat tugu bertuliskan "Desa Mawar"
"Huh, akhirnya sampai," Erfan berkata dengan lega.
Mobil Erfan masuk kedalam jalan yang lumayan lebar tapi agak jelek. Mobil Erfan melaju dengan pelan.
Saat penduduk desa melihat kedatangan mobil Erfan mereka berbisik-bisik entah apa yang mereka bisikan.
Mata Erfan bersinar, saat melihat keadaan penduduk desa. Erfan melihat banyak sekali wanita cantik berlalu lalang di sana.
"Sial, apakah ini yang di maksud Bi Ayu?" Erfan berkata dengan penuh semangat.
"Kalo gini, aku bisa betah, hahaha," Erfan tertawa.
Erfan menghentikan mobilnya, saat melihat banyak ibu-ibu yang sedang berkumpul. Dia ingin menanyakan letak perusahaan milik keluarganya itu.
Para Wanita Dewasa itu melirik ke mobil Erfan dengan penasaran, Karena mereka baru pertama kali melihat mobil sebagus itu.
Erfan turun dari mobilnya, lalu menghampiri ibu-ibu itu.
"Bibi permisi saya mau tanya, Perusahaan Pertanian Nusantara dimana yah?" Tanya Erfan dengan sopan.
"Tuan muda lurus saja, nanti di sebelah kiri ada gedung yang sangat besar, di situlah tempatnya tuan muda," jawab Salah Satu Wanita Dewasa dengan cepat.
"Oh, baik terimakasih," Erfan berkata lalu kembali kedalam mobil.
Mobil Erfan kembali melaju, mengikutinya arah yang di tunjukkan ibu tadi. Tidak lama, Erfan pun sampai di depan Perusahaan Pertanian Nusantara.
Erfan menelepon seseorang,
Telepon tersambung,
"Halo, apakah ini tuan muda?" terdengar suara wanita di seberang telepon.
"Benar ini saya, saya sudah berada di depan perusahaan," ucap Erfan .
"Baik tuan muda, saya akan ke depan," ucap Wanita di seberang telepon, terdengar dia sangatlah terburu buru.
Tidak lama seorang wanita berumur 30 tahun, dengan wajah cantik, dan mempunyai tubuh tinggi yang menggoda, ukuran dada yang sangat besar, menghampiri mobil Erfan.
Erfan keluar dari mobil,
"Tuan muda," sapa Wanita tersebut, sambil sedikit membungkuk.
"Apakah anda pengurus perusahaan?" tanya Erfan, sambil menatap wanita itu.
"Benar tuan muda, nama saya Anne," jawab Wanita tersebut.

"Oke Nona Anne, antar saya ke tempat tinggal dulu! saya ingin istirahat dulu, cukup melelahkan di jalan!" ucap Erfan dengan nada lesu.
"Baik mari," ucap Anne.
Mereka pun masuk kedalam mobil Erfan,
Di sepanjang jalan, Anne mencuri curi pandang kepada Erfan yang sedang menyetir.
"Kalo aku belum punya suami, mungkin aku akan berusaha mendekati nya!" gumam Anne, di dalam hatinya.
"Nona Anne, untuk kedepannya anda akan menjadi sekretaris ku, apakah anda keberatan?" Tanya Erfan .
"Tentu saja tidak tuan muda," jawab Anne, dia tampak bersemangat, saat mendengar penawaran Erfan.
"Bagus, gaji mu akan aku naikkan 2 kali lipat," ucap Erfan santai.
Anne terkejut, perlahan ekspresi wajahnya berubah tampak bersemangat.
"Terimakasih tuan muda," ucap Anne, dengan nada bahagia.
Tidak lama, Mereka sampai di sebuah Vila. Vila tersebut, memiliki gaya arsitektur klasik yang membuat suasa di sana terasa nyaman dan tenang.
Erfan memandang vila tersebut, dengan tatapan penuh kepuasan.
"Hey cukup bagus juga," ucap Erfan, setelah turun dari mobil.
Anne dan Erfan pun masuk kedalam Vila. Di dalam vila, Erfan menengok ke kanan dan ke kiri, ekspresi wajahnya penuh kepuasan.
Erfan melirik Anne yang ada di sampingnya, lalu dia menanyakan sesuatu.
"Nona Anne, apakah tidak ada pengurus vila?" tanya Erfan.
"Belum ada tuan muda, tapi tenang saja saya sudah mencarikan pengurus vila, dia akan ke sini sebentar lagi," jawab Anne.
"Oke bagus," balas Erfan.
"Kalo gitu, saya pergi dulu ada yang harus saya kerjakan," ucap Anne, sambil tersenyum, dan tubuhnya sedikit membungkuk.
"Baik, apakah perlu di antar, cukup jauh ke perusahaan?" tanya Erfan.
"Tidak perlu tuan muda, saya mau mampir ke rumah pengurus vila sebentar, untuk memberi tahunya!" ucap Anne.
Erfan mengangguk sambil tersenyum.
Anne pun pergi dari vila.
Bab 2 Serina sang pengurus vila
Erfan pergi mandi, lalu berganti pakaian. setelah selesai, dia bersantai di halaman belakang di sisi kolam berenang.
Tiba tiba, suara langkah kaki terdengar, menuju ke arah nya.
Saat Erfan melirik, dia melihat seorang wanita berumur sekitar 30 thn, wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bersih,memiliki body yang sangat mengesankan, walaupun di balut daster longgar tapi tonjolan di dadanya tidak bisa di sembunyikan saking besarnya.
Mata Erfan melihat dari atas kebawah, tenggorokannya seketika kering.
"Tuan muda," wanita tersebut, menyapa sambil membungkuk.
Karena kerah dasternya cukup rendah, sehingga dalam posisi membungkuk belahan dada yang begitu dalam terlihat di hadapan mata Erfan, Membuat perut bagian bawah Erfan menjadi panas.
Erfan menarik nafas, mencoba menenangkan hasratnya. Setelah sedikit tenang, Erfan mulai berbicara.
"Apa Nona pengurus vila ini?" tanya Erfan, dengan tenang.
"Benar tuan muda, nama saya Serina," jawab Wanita itu.
"Oke Nona Serina, perkenalkan nama saya Erfan!" ucap Erfan santai.
"Baik tuan muda Erfan, tuan muda bisa memanggil saya, dengan sebutan nama saja!" ucap Serina, sambil menundukkan wajahnya.
"Baik Serina," balas Erfan, dia tidak sungkan. karena menurut Erfan, jika bisa memanggil nama, itu tidak terlalu canggung.
Erfan mengeluarkan salah satu karu Atm miliknya, lalu memberikannya kepada Serina.
"Di kartu itu ada sejumlah uang, untuk ke perluan vila, nomor pin nya 111111!" ucap Erfan sambil tersenyum.
"Baik tuan muda," jawab Serina.
"Serina, apakah kamu punya suami?" tanya Erfan, dia cukup penasaran, dengan status wanita itu.
"Saya sudah punya suami tuan muda!" jawab Serina, sambil menatap Erfan. Tatapan wanita itu sedikit Aneh, karena tiba-tiba Erfan menanyakan statusnya.
"Jadi anda tidak bisa tinggal disini yah?" Erfan bertanya sedikit lesu.
"Memang nya kenapa tuan muda?" Serina balik bertanya, sambil menatap Erfan, tidak sabar ingin mendengar jawaban pria itu.
"Yah, kalo kamu bisa tinggal disini, saya ada teman, vila sebesar ini jika di tinggali sendiri sangat sepi," ucap Erfan, terlihat ekspresinya sedikit lesu.
"Maaf sekali tuan muda, saya tidak bisa!" ucap Serina, dengan nada meminta maaf.
"Oke, tidak apa apa!" ucap Erfan sambil tersenyum, tapi hatinya terasa pahit.
"Apakah Tuan muda, mau minum sesuatu?" tanya Serina.
"Aku mau kopi hitam, tanpa gula!" jawab Erfan.
"Baik, saya akan membuatkan nya," Serina berkata lalu pergi.
Erfan melihat kepergian Serina.
"Sial, wanita yang sangat sempurna, ternyata sudah memiliki suami," umpat Erfan di dalam hati.
Tiba tiba senyum tersungging di bibirnya.
"Hidup ku, mulai ada tantangan." gumamnya, entah apa yang di pikirkan Erfan.
Tidak lama Serina kembali membawa secangkir kopi, lalu menyajikannya di meja dengan hati-hati.
"Terimakasih," ucap Erfan, sambil tersenyum.
"Sama-sama tuan muda," jawab Serina.
"Duduk dulu temani aku ngobrol sebentar!" ucap Erfan.
"Saya berdiri saja, tuan muda." ucap Serina, dengan canggung.
"Sudah duduk saja, santai saja!" ucap Erfan, dengan nada santai.
Serina tidak bisa melawan perintah dia hanya bisa menuruti permintaan Erfan. wanita itu duduk, dengan postur yang terlihat kaku.
"Serina, Mengapa kamu memilih pekerjaan sebagai pengurus vila? tidak di kebun atau di tempat pengemasan buah seperti wanita lainnya?" tanya Erfan, lalu menyeruput kopi.
"Pada awalnya saya bekerja disana, tapi kemarin saya di tawari pekerjaan ini oleh Nona Anne yang gajih nya lebih besar dari pada di kebun!" jawab Serina jujur.
"Berati kamu pandai masak, dan mengurus pekerjaan rumah? makannya Nona Anne merekrut mu," Erfan berkata, sambil menatap wanita itu.
"Benar, selain bisa masak, dan mengerjakan pekerjaan rumah, saya bisa memijat juga," ucap Serina .
"Ternyata Nona Anne, memang memilih yang mempunyai ke ahlian yang sangat penting," Erfan mengangguk puas, senyuman terlukis dibibirnya.
"Apakah suami kamu juga bekerja di perusahaan pertanian nusantara?" tanya Erfan, sambil menatap wanita itu, dengan tatapan penasaran.
"Benar tuan muda, dia bekerja sebagai sopir," jawab Serina .
Erfan mengangguk,
"Saya mengira, kamu belum memiliki suami," Erfan berkata dengan berani.
Serina bingung mau menjawab apa dia hanya bisa tersenyum.
"Apakah kamu sudah memiliki anak?" tanya Erfan santai.
"Belum tuan muda," jawab Serina dengan nada sedih .
"Apakah kamu baru saja menikah?" tanya Erfan penasaran.
"Saya menikah sudah hampir 3 tahun," balas Serina, dengan nada tenang.
Erfan mengangguk mengerti, tapi ada rasa tidak nyaman di dalam hati Erfan, tapi dia menghiraukannya.
"Serina, aku mau dipijat dong! tubuh ku sangat pegal karena menyetir terlalu lama," ucap Erfan.
"Oh silahkan tuan muda , mau dimana?" tanya Serina.
"Di sofa dalam saja!" jawab Erfan.
Mereka pun pergi kedalam , lalu Erfan melepas baju yang di pakainya.
Saat Serina melihat tubuh Erfan yang begitu kekar, dan ideal, matanya sedikit tersesat.
"Tubuh tuan muda begitu sempurna, hey hey Serina kamu memiliki suami jangan berpikir yang tidak tidak!" gumam Serina dalam hati.
Erfan berbaring dengan posisi punggung menghadap ke atas.
Serina mengambil minyak pijat, lalu mulai pemijat Erfan.
"Sial tangannya sangat lembut, jika di pakai memegang senjata ku itu pasti sangat nikmat." Erfan mulai berpikir kotor, Senjata milik nya mulai berdiri, karena rangsang yang di transfer oleh pijatan wanita itu.
Serina terus memijat, dengan terampil.
"emm"
Sesekali, Erfan mengeluarkan suara nikmat.
"Apakah enak tuan muda?" tanya Serina dengan suara lembut.
"Sangat...enak.. !" Erfan menjawab terbata bata.
Serina tersenyum indah.
Erfan di pijat, selama 30 menit oleh Serina. Karena Erfan sangat terangsang, dia memilih menghentikan sesi pijat itu.
"Sudah cukup, aku sudah merasa nyaman!" ucap Erfan sambil bangkit, lalu memakai kembali bajunya.
Saat Serina tidak sengaja mentap ke arah celana Erfan, matanya terbelalak, saat melihat celana dibagian senjata Erfan menonjol.
"Apa dia terangsang?" Serina bergumam dalam hati.
Erfan kembali bersantai, disisi kolam berenang.
===
Selama 3 Hari Erfan hanya diam di Vila dan hanya sekali mengunjungi perusahaan untuk berkenalan dengan para karyawan disana.
Erfan dan Serina juga sudah akrab tidak ada rasa kaku sama sekali diantara mereka.
"Tuan muda, apa hari ini kamu akan pergi ke perusahaan?" tanya Serina .
"Iyah ,aku sudah siap bekerja kembali," jawab Erfan.
"Kalo gitu, semangat!" ucap Serina.
"Tentu saja, Serina cantik!" ucap Erfan sambil menyeringai nakal.
"Hey, jangan ngegombalin istri orang, itu berbahaya loh!" Ucap Serina, sambil tersenyum menggoda.
"Oh, apakah begitu, tapi itu sedikit menantang sih," Ucap Erfan, dengan nada santai, sambil menyisir rambutnya.
Serina tersenyum, dia tidak menganggap serius perkataan Erfan.
"Aku pergi dulu!" Erfan berkata lalu pergi.
Erfan mengendarai mobil sport nya, ke perusahaan. Sampai di perusahaan, semua karyawan menyapa dengan hangat. Erfan menyapa mereka dengan penuh keramahan dan senyuman.
Sampai di dalam ruangan kerja, Erfan langsung membuka laptop nya.
Saat Erfan sedang mengecek laporan perusahaan, Ada yang mengetuk pintu ruangan.
Tok Tok Tok
"Masuk!" Ucap Erfan.
Sosok cantik, dan menggoda, yaitu Anne masuk ke dalam ruangan. Hari ini, Anne menggunakan kameja putih yang di balut balzer hitam, rok mini hitam menampakkan kaki mulus, yang bisa mengundang hasrat para pria.
"Tuan muda, ternyata anda sudah mulai bekerja," Anne berkata sambil tersenyum.
Erfan menatap Anne, dia mengangguk, lalu berkata sambil tersenyum.
"Aku sudah cukup beristirahat!" jawab Erfan.
"Tuan muda, ada beberapa hal tentang perusahaan, yang perlu saya sampaikan!" ucap Anne.
"Duduk, dan bicara!" ucap Erfan.
Anne duduk di dikusi yang tersedia, di depan Erfan.
"Tuan muda, perusahaan kekurangan kendaraan untuk pengiriman, dan kendaraan yang ada juga sudah terlalu tua sering rusak saat di perjalanan." ucap Anne.
"Memang, butuh berapa unit?" tanya Erfan santai.
"Minimal 10 unit!" jawab Anne setelah berpikir sejenak.
"Apakah 15 Unit Cukup?" tanya Erfan.
"Itu lebih baik tuan muda!" Anne berkata sambil tersenyum.
"Tipe apa yang di inginkan para sopir?" tanya Erfan, dia menanyakan hal tersebut, karena menurutnya, kenyamanan para sopir, adalah yang terpenting.
"Saya mendengar mereka, menyaran membeli mobil dari merek Hino, harga 1 unit 1,4 miliar," ucap Anne, dia sedikit ragu, karena harga mobil tersebut cukup mahal.
"Oke, kalo begitu aku akan memesannya sekarang," ucap Erfan, lalu menelepon seseorang.
Erfan mengobrol dengan seseorang sebentar di telepon.
Erfan menutup telepon,
"Aku sudah menyuruh orang, untuk membeli 15 unit mobil Hino, dan 2 hari kagi mobil tersebut akan datang!" ucap Erfan sambil tersenyum.
Anne terkejut, begitu mudahnya Erfan menyelesaikan masalah yang membutuhkan biaya besar. Wanita itu mulai penasaran, seberapa besar latar belakang Erfan.
"Apakah tuan muda, menggunakan uang pribadi?" tanya Anne.
Erfan mengangguk,
"Aku tau, keuangan perusahaan ini sangat sulit, jika harus memobilisasi uang sebanyak itu," ucap Erfan .
"Memang benar tuan muda!" jawab Anne dengan nada tidak berdaya.
"Nona Anne, aku berniat ingin memperluas lahan pertanian buah buahan!" ucap Erfan.
"Apakah tuan muda serius?" tanya Anne penuh semangat.
"Tentu saja, masalah harga aku tidak keberatan, jika bisa kamu harus mendapatkan seluas mungkin!" Ucap Erfan, dengan serius.
"Baik tuan muda, saya akan berusaha semaksimal mungkin," ucap Anne, Dengan serius.
"Tenang saja, setelah kamu menyelesaikannya dengan baik, aku akan memberi bonus!" ucap Erfan sambil tersenyum.
"Terimakasih tuan muda," Anne tampak bersemangat, bahkan dia ingin segera menyelesaikan proyek tersebut, saat mendengar Erfan akan memberikan sebuah bonus.
Anne pun pamit, dia ingin segara memberi tahu para sopir, tentang armada baru, dan Anne ingin segera pergi ke pemerintah setempat, untuk bertanya terkait rencana memperluas lahan.
Erfan kembali fokus, dengan laptopnya .
Jam 5 sore, Erfan baru keluar kantor.
"Tuan muda, anda baru pulang?" tanya Seorang petugas keamanan .
"Iyah pak, ini bagi bagi sama yang lain buat beli kopi!" ucap Erfan sambil memberikan uang 200 rb .
"Terimakasih tuan muda," Petugas keamanan tersebut menerima dengan senang hati.
Erfan mengangguk, sambil tersenyum, lalu dia masuk kedalam mobil nya, lalu pergi dari perusahaan.
Bab 3 Bi Ayu Penjaga Warung
Erfan tidak mengemudikan mobil nya ke vila. Akan tetapi dia mengemudikan mobilnya ke arah keluar dari desa.
"Di vila, pasti Serina sudah pulang, aku mending main ke warung Bi Ayu. hehe, siapa tau saja mendapat sedikit kenikmatan!" Erfan berkata sambil terkekeh.
Erfan pun sampai, di warung Bi Ayu.
Warung Bi Ayu sedang sepi, tidak ada pembeli karena hari sudah sore.
Bi Ayu yang melihat kedatangan Erfan, langsung menyapanya dengan antusias.
"Tuan muda, ternyata anda!" ucap Bi Ayu, dengan nada menggoda.
"Bi, aku mau sebungkus rokis, dan juga masakin mie goreng yah!" ucap Erfan sambil tersenyum.
"Oke siap, silahkan masuk di dalam saja!" ucap Bi Ayu memberi kode.
Erfan tidak sungkan, dia langsung masuk.
Bi Ayu memberikan sebungkus rokis kepada Erfan.
Erfan langsung menyalakan rokis, karena dia sudah kehabisan rokis dari tadi siang, jadi dia sangat ingin menghisap rokis sekarang.
Bi Ayu langsung memasak mie untuk Erfan.
"Bagaimana? Apa tuan muda bertahan, tinggal di kampung mawar?" tanya Bi Ayu sambil memasak.
Erfan terkekeh, sambil menjawab pertanyaan itu.
"Tentu saja bi, sangat banyak wanita cantik hehe!" Erfan berkata terus terang.
Bi Ayu berkata, sambil terkikik genit,
"Hihihi, ternyata tuan muda, menyukai keindahan!" ucap Bi Ayu.
"Tentu saja Bi, saya masih normal!" balas Erfan, sambil terkekeh.
"Apa banyak wanita, yang menggoda tuan muda?" tanya Bi Ayu.
"Balum sih, aku baru hari ini masuk kantor, dan belum sempat berinteraksi dengan banyak orang," ucap Erfan.
"Lama lama juga, pasti banyak yang ngedeketin tuan muda, apa lagi tuan muda sangat tampan, dan kaya. pasti gak akan kesepian deh!" ucap Bi Ayu dengan berani.
"Yah, ini juga agak kesepian sih, disini gak seperti di kota jika kesepian tinggal pergi ke club untuk mencari wanita ." Erfan berkata, dengan berani.
Bi Ayu menyeringai nakal.
Mie pun jadi,
Bi ayu, meletakan semangkuk mie di depan Erfan, Lalu Bi Ayu, duduk di sisi Erfan.
"Kalo bibi masih muda, dan masih cantik, mungkin bibi mau menemani tuan muda!" Ucap Bi Ayu, sambil menatap Erfan penuh dengan godaan.
Erfan menyeringai nakal,
"Bibi masih cantik, bahkan lebih menggoda, gak kalah sama wanita muda kok!" ucap Erfan sambil mengaduk mie,
"Tapi bibi sudah memiliki suami, dan anak, pasti tidak senikmat wanita muda." balas Bi Ayu, tangan nya diletakkan di paha Erfan, dia mulai menggoda Erfan.
"Aku jadi penasaran, dengan rasanya!" Erfan berkata sambil menyeringai nakal.
Bi Ayu menatap Erfan, dengan tatapan genitnya itu. Tangan Bi Ayu, mulai berani menyentuh sedikit area senjata Erfan.
"Kalo tuan muda mau boleh aja sih, tapi bibi minta uang buat skin care aja! Boleh kan?" Bi Ayu berbicara dengan pelan, nadanya sangat genit. Tangan Bi Ayu terus menggosok celana di area senjata Erfan.
"Suami bibi gimana." Erfan sudah mulai terangsang, oleh godaan wanita dewasa itu.
"Tenang saja, aman kok. dia tidak pernah ke sini," jawab Bi Ayu.
"Apa bibi sering, melakukan dengan pria lain?" tanya Erfan, karena dia takut milik Bi Ayu tidak bersih.
"Tenang saja, bibi belum pernah melakukannya selain dengan suami bibi kok," ucap Bi Ayu.
Tangan Erfan, mulai berani menyentuh gunung besar Bi Ayu, yang tertutup daster longgar itu.
"Berapa? yang Bi Ayu inginkan," tanya Erfan sambil meremas pelan gunung besar Bi Ayu.
"shh emm 1 juta aja!" Bi Ayu bekata sambil mendesah, Bi Ayu sudah mulai terbakar api hasrat.
"Mau main dimana nih?" tanya Erfan suaranya sudah agak berat.
"Kita cari tempat sepi aja tuan muda, kalo main di sini, nanti ada orang yang curiga, apalagi mobil tuan muda berada di depan warung, tapi warung nya tutup," ucap Bi Ayu, dengan nafas yang mulai memburu.
"Mau sekarang, atau nanti?" tanya Erfan.
"Nanti saja, kalo hari sudah gelap!" ucap Bi Ayu sambil tersenyum penuh nafsu.
"Tapi aku udah gak tahan nih! bisa gak Bi Ayu pake mulut dulu gitu?" Erfan berkata, Hasratnya sudah tidak bisa di tahan lagi.
"Oke, tapi tolong lihat keadaan di luar! takut ada orang yang datang!" ucap Bi Ayu .
"Oke," jawab Erfan.
Bi Ayu berjongkok, lalu membuka resleting celana Erfan. Wanita dewasa itu, mengeluarkan senjata Erfan dengan terampil. Saat senjata besar, dan panjang, itu keluar dari dalam sangkarnya. Mata wanita dewasa itu, seketika membelalak.
"Ini ini sangat besar!" ucap Bi Ayu, sambil menatap senjata itu, dengan tatapan penuh hasrat.
Tanpa ragu, Bi Ayu langsung melahap senjata Erfan. Terdengar, suara spesial yang membuat hasrat semakin membara. Saat permainan Bi Ayu mulai liar di senjatanya, tiba tiba ada yang datang menggunakan motor.
Bi Ayu, dan Erfan buru buru merapihkan diri mereka. Erfan berpura-pura makan mie, tidak menunjukkan reaksi, yang bisa membuat orang lain curiga.
Pembeli yang datang, adalah seorang pria tua, dia ingin ngopi di warung.
Akhirnya Erfan harus menahan hasrat, yang hampir meledak. Wajah Erfan terlihat sangat pahit, saat masa-masa nikmatnya terganggu.
"Sial, lagi nikmat nikmatnya, malah oh sial," umpat Erfan dalam hati.
Bi Ayu tersenyum nakal ke Arah Erfan, sambil menyeduh kopi untuk pria tua itu.
Setelah selesai makan mie, Erfan memesan kopi, sambil menunggu pria tua itu pergi.
Hari pun mulai gelap, pria tua itu pulang.
Bi Ayu berbisik di telinga Erfan.
"Tuan muda, majukan dekit mobil ke arah kampung mawar, Nanti bibi akan pergi ke mobil tuan muda jika situasi aman." ucap Bi Ayu.
Erfan mengangguk, lalu keluar dari warung, lalu dia masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Ares melaju ke arah kampung mawar sejauh 30 meter dari warung Bi Ayu.
Jalan di pedesaan sangat sepi, hanya satu dua motor yang lewat.
Beberapa menit kemudian, Erfan melihat Bi Ayu berjalan ke Arah mobil nya dengan langkah santai. Tidak ada orang yang mencurigainya walau ada yang melihat.
Setelah dekat dengan mobil Erfan, Bi Ayu menengok kanan dan kiri, memastikan tak ada yang melihatnya, lalu dia buru-buru masuk ke dalam mobil.
Bi Ayu menghela nafas lega.
"Huh, Aman!"
Tanpa peringatan, Ares menarik Bi Ayu ke pelukan nya. Tanganya meremas gunung besar Bi Ayu dengan sedikit keras.
Bi Ayu mendesah,
"Ahhh... ahh... tuan muda udah gak sabar yah?" tanya Bi ayu sambil menatap Erfan dengan tatapan genit.
"Tentu saja, tadi sangat nanggung tahu," jawab Erfan dengan nada penuh hasrat.
"Ayo cari dulu tempat yang aman," ajak Bi Ayu. Tangan menahan pergerakan tangan Erfan.
Erfan menarik tangannya.
"Kita main di mana?" tanya Erfan buru-buru.
"Ayo lajukan mobilnya nanti di depan belok ke kiri kejalan kecil," jawab Bi Ayu dengan nada santai.
Erfan mengangguk lalu menjalankan mobil nya.
Tidak lama mereka sampai di tengah hutan yang sepi dan gelap.
Mereka keluar dari mobil.
"Kita main disini saja, aman ~ walau mau mendesah keras juga!" ucap Bi Ayu dengan nada menggoda.
Erfan Yang Sudak tidak tahan tidak berpikir lama, dia langsung memeluk Bi Ayu, pertempuran Yang sangat panas pun terjadi, Erfan seperti jenderal perang dengan berani terus menggempur dengan keras.
Bab 4 Masih Nikmat
1 jam berlalu, akhirnya mereka mencapai puncak bersama sama. Tubuh mereka mengejang hebat sambil berpelukan erat, suara kenikmatan keduanya bergema di tempat tersebut.
"Kamu sangat hebat tuan muda," puji Bi Ayu tangannya mengelus lembut wajah Erfan.
"Kamu juga, masih sangat nikmat," ucap Erfan, lalu mengecup bibir Bi Ayu.
Setelah beristirahat beberapa menit, sambil bermesraan, mereka kembali berpakaian. Erfan memberikan uang Cash sebanyak 2 juta, yang membuat Bi Ayu sangat senang.
Erfan melajukan mobil nya, dari tempat tersebut.
Rumah Bi Ayu, ternyata ada di kampung mawar.
Bi Ayu meminta turun, di pintu masuk ke kampung mawar, agar tidak ada yang mencurigainya.
Setelah Bi Ayu turun, mobil Erfan melaju pergi.
Sampai di vila, Erfan membersihkan diri, lalu bersantai di sisi kolam berenang.
"Huh. seperti kekuatan uang, berpengaruh banyak di sini!" ucap Erfan, sambil menyeringai nakal.
====
Pagi hari tiba,
Erfan keluar dari kamar, dengan pakaian yang sudah rapi, siap ke kantor.
"Sarapan sudah siap, tuan muda," Serina berkata, sambil menata makanan di meja makan.
"Ayo sarapan!" Erfan berkata sambil duduk.
Serina yang sudah biasa sarapan bersama Erfan, tentu tidak menolak.
Selama sarapan, Erfan terus menatap wanita cantik, yang sedang menyantap makanan itu.
Serina menyadari Ares yang terus menatapnya, tetapi dia tidak mempermasalahkannya. Dia hanya fokus dengan makanannya, berpura-pura tidak menyadari tatapan Erfan.
"Kenapa yah tuan muda terus menatap ku? apa dia menyukai ku? tapi itu tidak mungkin ah," gumam Serina dalam hati.
"Serina, jika kamu perawatan pasti semakin cantik," ucap Erfan, secara tiba-tiba.
Serina yang mendengar perkataan Erfan sedikit terkejut. Wanita itu berusaha berpikir positif, tidak terlalu menyangkut pautkan, dengan perasaan Erfan kepadanya.
"Aku tidak mampu perawatan tuan muda, jangan kan perawatan beli pakaian pun susah!" Serina berkata terus terang.
"Mau gak kalo perawatan?" tanya Erfan santai.
"Nanti kalo aku cantik, terus tuan muda menyukai ku bisa bahaya!" Serina berkata, dengan main-main.
"Iyah juga sih. penampilan kamu seperti ini juga aku sudah sering terpancing," ucap Erfan dengan berani.
Serina tidak menjawab, dia hanya menikmati makanan tenang. Tapi hatinya tidak setenang apa yang ada di permukaan.
Setelah selesai sarapan, Erfan berangkat ke perusahaan.
Semua pegawai, menyapanya dengan hangat, dan ada beberapa wanita cantik, yang mulai berusaha menarik perhatiannya.
Erfan masuk kedalam ruangannya,
Tok tok tok
"Masuk!"
Anne masuk kedalam ruangan Erfan. Anne datang bersama seorang pria paru baya, tapi masih terlihat gagah.
"Tuan muda, ini adalah pak RW Kampung Mawar," Anne memperkenalkan.
"Oh, halo pak RW, Saya Erfan," Erfan menyapa dengan sopan.
"Salam kenal,'tuan muda Erfan," ucap Pak RW sambil tersenyum.
"Salam kenal juga pak, Silahkan duduk!" ucap Erfan.
Mereka pun duduk dengan senyaman mungkin. Erfan mengambil inisiatif, untuk bertanya tujuan Pak RW menemuinya.
"Ada keperluan apa yah? Pak RW, datang kemari?" tanya Erfan, dengan ramah.
"Ini tuan muda, soal tanah untuk memperluas lahan pertanian tuan muda. sebenarnya ada beberapa lahan milik warga, jadi tidak semua lahan kosong itu milik pemerintah." jawab Pak RW menjelaskan.
"Oh jadi seperti itu," Erfan mengangguk mengerti.
"Apakah warga tidak mau menjualnya?" tanya Erfan.
"Saat saya menanyakan kepada mereka. jika anda dibeli dengan harga sedikit lebih tinggi, mereka setuju untuk menjualnya," jawab Pak RW.
"Tidak masalah, berapapun itu. yang penting mereka tidak merasa terpaksa," ucap Erfan dengan nada serius.
Pak RW sangat kagum, dengan sikap dan sifat Erfan.
"Tuan muda, jika keseluruhan luas tanah yang siap di beli, ada sekitar 2 kilometer persegi," ucap Anne.
"Berapa uang yang harus saya keluarkan?" tanya Erfan.
"5 miliar!" jawab Anne.
"Apa kamu serius, itu tidak terlalu rendahkan?" Erfan terkejut.
"Memang harga tanah di desa ini, masih tergolong murah tuan muda." Anne menjelaskan.
"Oke. untuk membayar, apa ingin uang Cash, atau transfer?" tanya Erfan.
"Jika tanah milik warga, mereka ingin Cash saja, dan jika tanah milik negara lebih baik di transfer saja tuan muda," jawab Anne.
Erfan mengangguk,
"Berapa? jumlah uang untuk membeli tanah milik Warga?" tanya Erfan.
"500 juta, tuan muda," balas Anne.
"Baiklah, aku tidak mempunyai uang cash sebanyak itu. sepulang kerja kamu antar aku ke bank terdekat!" ucap Erfan, kepada Anne.
"Baik tuan muda," balas Anne sambil mengangguk kepalanya.
Erfan mengeluarkan segepok uang dari bawah mejanya, lalu memberikan kepadan Pak RW.
Pak RW terkejut, saat diberi uang yang sangat banyak. Dia bertanya dengan nada kaku, kepada Erfan.
"Tuan muda ini?" tanya Pak RW bingung.
"Itu untuk bapak. terimakasih, telah membantu perusahaan saya." jawab Erfan sambil tersenyum.
"Ini, terlalu banyak, tuan muda," ucap Pak RW, dengan nada tidak enak.
"Sudah pak, pakai lah uang nya, untuk keluarga bapak," balas Erfan.
Akhirnya Pak RW menerima.
Pak RW dan Anne pergi dari ruangan Erfan.
===
Sore hari,
Ares dan Anne pergi dari perusahaan,
Mobil sport lamborghini, melaju pelan di jalanan desa.
"Tuan muda, kota cukup jauh membutuhkan waktu 1 jam," ucap Anne.
"Tidak masalah!" jawab Erfan.
Anne mengangguk sambil tersenyum,
"Jalan disini sangat bergelombang, sepertinya aku harus mengganti mobil!" ucap Erfan.
"Mobil tuan muda, cocok untuk di kota jika dipakai di kampung, bisa penyok penyol nanti," ucap Anne sambil terkekeh.
"Iyah, sangat disayangkan, jika mobil kesayangan ku rusak," ucap Erfan, dengan nada sedih.
1 jam kemudian, Mereka sampai di Bank.
Karena Erfan nasabah prioritas, bank tersebut memperlakukan nya dengan baik, mereka tidak berani berlama lama. Erfan mengambil uang cash 1 miliar. Erfan sengaja mangambil lebih, karena Erfan sudah ke habisan uang Cash juga.
Tidak lama, uang 1 miliar sudah tersedia.
Erfan pergi dari bank bersama Anne.
Di dalam mobil, Erfan memberikan uang 50 juta kepada Anne.
"Itu komisi untuk mu!" ucap Erfan, dengan santai.
"Tuan muda, ini terlalu banyak!" ucap Anne, dia sangat terkejut, dan ada rasa gembira, saat melihat uang sebanyak itu.
"Sudah terima saja," ucap Erfan.
Anne hanya bisa menerima dengan kebahagiaan, kali ini dia mendapat uang sebesar ini.
"Nona Anne apakah disini ada mall?" tanya Erfan Kepada Anne.
"Ada tuan muda, tapi tidak sebesar Mall di kota." jawab Anne.
"Tidak masalah, ayo kita kesana!" ucap Erfan.
Mereka pun pergi menuju ke mal.
Bab 5 Belanja Untuk Wanita
Erfan dan Anne pun sampai di mal.
Mal tersebut hanya mal biasa, bahkan merek ternama, hanya ada beberapa.
"Apa tuan muda ingin membeli pakaian?" tanya Anne.
Erfan mengangguk,
Erfan mengajak Anne, pergi ke toko pakaian mewah, Anne hanya bisa mengikuti Erfan. Baru kali ini, Anne masuk ke tempat pakaian mewah, walau pun dia sering ke mal ini.
Saat anne melihat harga satu pakaian disana, dia sangat terkejut. Pakaian paling murah di sana berharga beberapa juta.
Erfan memilih beberapa pakaian yang di sukai, tanpa menyadari, keterkejutan sekretaris nya itu.
"Nona Anne kalo ada yang kamu suka ambil saja!" ucap Erfan, dengan nada santai.
"Tidak tidak tuan, harganya sangat mahal." ucap Nona Anne, buru-buru menolak.
"Udah, gak papa, ambil saja!" ucap Erfan, dia tidak peduli sama sekali, dengan harga beberapa juta itu.
Anne tetap menggelengkan kepalanya.
Karena Anne terus menolak, Erfan memilih 2 pakaian yang sangat bagus untuk Anne, dan Ares juga membeli 2 untuk Serina dan 2 untuk Bi Ayu.
"Tuan muda, anda membeli pakaian wanita sangat banyak," Anne berkata, sedikit bingung.
Erfan tidak menjawab, dia langsung membayar semua pakaian yang di beli dan juga Erfan membeli skin care wanita untuk Anne, Serina, dan Bi Ayu. Erfan mengeluarkan uang 120 jut untuk membeli semua hal yang dia inginkan.
"Nih untuk mu," Erfan memberikan 2 kantung belanja.
Saat Anne mau menolak, Erfan memelototi nya.
"Jangan menolak atau aku akan marah!" ucap Erfan, dengan nada serius, dan tatapannya mengandung kemarahan. tapi sebenarnya dia hanya berpura-pura marah.
"Baik baik tuan muda," Anne ketakutan, akhirnya menerima pemberian Erfan.
Anne mantap wajah Erfan, harinya menjadi kacau.
"Anne Anne, jangan berpikir yang tidak tidak, ingat kamu punya suami," gumam Anne dalam hati.
Setelah berbelanja, mereka meninggalkan mal.
Diperjalankan pulang, Anne terus mencuri curi pandang, tanpa sepengetahuan Erfan.
Erfan mengantarkan Anne, sampai ke depan gang untuk ke rumahnya, karena rumah Anne berada di tengah kampung.
Erfan pun melajukan mobilnya ke vila,
====
Keesokan hari,
Erfan keluar dari kamar, dia menuju keruangan makan. Ditangan nya, Erfan membawa 2 kantung belanja.
"Pagi Serina," sapa Erfan, dengan ceria.
"Pagi, tuan muda," sapa Serina, sambil tersenyum indah.
"Nih, untuk kamu," ucap Erfan, sambil memberikan 2 kantung belanja.
"Apa ini, tuan muda?" tanya Serina penasaran.
"Itu pakaian dan Skin care, kebetulan kemarin aku pergi ke kota, dan mampir ke mall untuk membeli pakaian. Aku melihat pakaian dan skin care itu, aku berpikir itu cocok untukmu," ucap Erfan santai.
"Tapi tuan muda, ini seperti nya sangat mahal," ucap Serina, dengan nada tidak enak.
"Enggak kok, udah terima saja oke!" ucap Erfan dengan tegas.
"Tapi suami ku pasti curiga, karena aku tidak pernah memakai pakaian bagus, dan skin care." ucap Serina, dengan nada tidak berdaya.
Erfan sangat kasihan kepada wanita ini. Serina sangat cantik, tetapi kehidupannya begitu kurang beruntung.
"Kalo kamu gak mau membawanya ke rumah, kamu bisa menyimpannya disini. kamu bisa memakainya saat berada di vila," ucap Erfan, memberi saran.
Wajah Serina sedikit memerah, dia menebak-nebak pikiran Erfan.
"Berati hanya tuan muda, yang bisa melihat ku memakai make up, dan makai baju bagus ini," ucap Serina wajahnya sedikit memerah.
Erfan terkekeh,
"Hehehe, begitulah," Erfan berkata, tanpa malu sama sekali.
Serina tidak menjawab lagi, dia hanya diam, entah apa yang di pikirkan.
Setelah mereka sarapan seperti biasa, Erfan pergi ke kantor.
Hari ini Erfan sangat sibuk, karena mengurus dokumen pembelian tanah, dan juga 15 truck yang dibelinya, datang pada siang hari.
Saking sibuknya, Erfan sampai tidak sempat pulang ke vila untuk makan siang. akhirnya, Serina mengantarkan makan siang ke kantor.
===
Jam 6 sore, Erfan baru menyelesaikan pekerjaannya.
Dia pergi dari kantor,
"Sangat melelahkan, aku butuh belaian," Erfan berkata sambil melajukan mobil nya keluar dari desa.
Erfan ingin pergi ke warung Bi Ayu, wanita dewasa ber anak satu itu.
Saat Erfan sampai di warung Bi Ayu, warung tersebut sedang ramai pengunjung.
Erfan menunggu, sampai semua orang selesai berbelanja di warung, barulah Erfan menghampiri Bi Ayu.
"Ehh, tuan muda kamu datang, ayo masuk!" sapa Bi Ayu dengan nada menggoda.
"Seperti biasa Bi, Kopi, sama Mie," ucap Erfan, sambil tersenyum nakal.
"Apa enggak memesan pelayanan bibi?" tanya Bi Ayu, dengan nada menggoda.
"Itu nanti saja. sekarang ngopi dulu," Erfan berkata, sambil menyeringai nakal.
"Oke deh," jawab bi ayu, sambil bertingkah genit.
Sambil menunggu, Erfan menyalakan rokis nya.
"Tuan muda, hampir saja aku ketahuan, pada malam itu," ucap Bi Ayu sambil memasak.
"Emangnya kenapa bi?" tanya Erfan sedikit terkejut.
"Bibi pulang telat, tidak seperti biasanya. Tentu saja suami bibi bertanya untung saja bibi pintar membuat alasan," ucap Bi Ayu sambil terkekeh.
"Bagus lah bi," ucap Erfan, dia pun sedikit gugup, saat mendengar perkataan Bi Ayu tadi. Jika sampai ketahuan, itu akan sangat memalukan.
Mie dan kopi pun selesai, Bi Ayu meletakkan mie dan kopi di depan Erfan.
Bi Ayu duduk di sebelah Erfan.
"Bi nih aku ada hadiah buat bibi," ucap Erfan sambil memberikan 2 tas belanja.
"Apa ini tuan muda?" tanya Bi Ayu penasaran.
"Pakaian." jawab Erfan sambil tersenyum main main.
"Ini pasti masahal kan?" tanya Bi Ayu.
"Enggak kok. Aku berpikir, pakaian itu sangat cocok untuk Bi Ayu, jadi aku membelinya," ucap Erfan.
"Apa yang tuan muda ingin kan? sebagai gantinya," Bi Ayu berkata, dengan menggoda sambil mengelus paha Erfan.
"Apakah bibi mau? aku lagi pengen nih," ucap Erfan, dengan nada nakal.
"Boleh aja sih, tapi gak boleh lama lama, nanti kaya kemarin," ucap Bi Ayu, sambil tersenyum menggoda.
"Mau main di mana," tanya Erfan, dengan tidak sabar, senjata miliknya itu, sudah sangat tegang sekarang.
"Tempat biasa aja!" ucap Bi Ayu sambil menatap dengan penuh godaan.
"Oke," Erfan menjawab, lalu buru buru menghabiskan mienya.
Seperti biasa, Erfan melajukan mobil nya sedikit ke depan ke tempat yang sepi. Tidak lama Bi Ayu datang langsung masuk kedalam mobil.
"Ayo tuan muda," ucap Bi Ayu, dengan nada genit.
Erfan langsung melajukan mobilnya.
Sampai di tempat biasa, mereka keluar dari mobil.
Erfan langsung memeluk Bi Ayu, lalu mendaratkan kecupan di leher Bi Ayu.
"Ahhh sayang," Bi Ayu mengerang nikmat.
Tangan Erfan, meremas gunung besar Bi Ayu dengan keras.
Mereka melakukan pemanasan, yang cukup lama. setelah dirasa cukup, permain inti pun dimulai. Erfan bermain dengan keras membuat Bi Ayu kewalahan.
Area tersebut dipenuhi suara ambigu yang membuat hati panas.
Bab 6 Kehidupan Serina
1 jam kemudian, permainan terhenti, terlihat tubuh keduanya bergetar hebat. mereka sedang bahagia mendapatkan apa yg mereka inginkan.
"Bi ayo kita masuk kedalam mobil dulu! sangat banyak nyamuk di sini," ucap Erfan, badan nya sudah mulai gatal, karena gigitan nyamuk.
Bi Ayu terkekeh,
Merekapun masuk kedalam mobil, sambil membawa pakaian mereka. Di dalam mobil, mereka saling berpelukan.
"Bi Ayu kenal Serina gak?" tanya Erfan tiba-tiba.
"Tentu saja, bibi tau memangnya kenapa?" tanya Bi Ayu, dengan nada genit.
"Enggak bi," Erfan bingung, mau berkata apa.
"Jangan jangan, tuan muda suka ya sama Serina," ucap Bi Ayu, sambil menatap Erfan dengan tatapan curiga.
Erfan hanya tertawa kaku, sambil menundukan wajahnya, dia sedikit malu.
"Hey Serina sudah punya suami, sama kayak bibi, bedanya dia belum punya anak," ucap Bi Ayu dengan nada genit.
"Tapi jujur saja bi, aku menyukainya, apa lagi sekarang Serina bekerja di vila tempat tinggalku ." ucap Erfan, dia berkata dengan jujur.
"Kalo seperti enak, tuan muda tinggal goda saja, nanti lama lama pasti luluh. Tapi, untuk menjadikan wanita tuan muda pasti sulit, kecuali dia cerai dengan suaminya," ucap Bi Ayu, sambil tersenyum nakal.
"Aku bukan hanya ingin tubuh nya bi, tapi juga ingin hatinya!" ucap Erfan, dengan nada serius.
"Bibi tidak bisa membantu tuan muda, tapi bibi hanya bisa memberi tahu tuan muda. Jika ingin meluluhkan Serina, cukup beri perhatian," ucap Bi Ayu, dengan nada serius, sambil menatap Erfan.
"Kenapa begitu bi?" tanya Erfan, penasaran.
Bi Ayu menghela nafas pelan,
"Dia sungguh wanita cantik yang tidak beruntung, suami nya tidak pernah memperhatikankannya. suaminya itu seorang pria bejat, dia menikahi Serina hanya ingin menidurinya," ucap Bi Ayu.
"Sial, ternyata begitu," Erfan merasakan panas dihatinya saat mendengar hal ter.
"Lihat saja, Serina bahkan tidak mampu membeli pakaian. Jangankan untuk membeli pakaian, untuk makan pun harus mencari sendiri. Suaminya itu, tidak pernah memberi nya uang sepeserpun,"'Bi Ayu berkata dengan penuh rasa iba.
"Emm sialan, gak papa jika suaminya tidak bisa merawatnya, biarkan aku yang merawatnya," ucap Erfan.
"Tapi jika tuan muda sudah mendapatkan Serina, jangan lupakan Bibi loh!" ucap Bi Ayu dengan sedih.
"Tentu saja, aku akan meminta jatah ke bibi, saat ada waktu," ucap Erfan, sambil meremas gunung Bi Ayu.
"Ayo sayang main lagi, masih ada waktu," ajak Bi Ayu, tubuhnya sudah kembali panas.
"Bibi yang bergerak, goyangan bibi sangat nikmat," ucap Erfan, sambil tersenyum nakal.
Permainan kembali dimulai, Giliran Bi Ayu yang memimpin permainan.
Suara kenikmatan dan benturan kulit bergema di dalam mobil. Goyangan wanita dewasa itu membuat Erfan candu.
Mereka bermain selama 30 mnt, kemudian mengakhiri permainan setelah mereka berhasil mencapi puncak bersama.
"Sayang ayo kita pulang, sudah hampir jam 8!" ucap Bi Ayu, sambil memakai pakaiannya kembali.
"Ayo bi!" balas Erfan.
Erfan memberi uang 1 jt kepada bi ayu. Tentu saja bi ayu tidak menolak. Erfan melajukan mobil nya, meninggalkan huntan tersebut. Sampai di jalan kampung mawar, Bi Ayu meminta turun seperti biasa. Sebelum Bi Ayu turun, mereka saling melumat sebentar.
"Kalo nanti pengen , datang aja ke warung," ucap Bi Ayu, dengan nada menggoda.
"Oke bi, tolong di rawat dada dan gua nya biar enak terus," ucap Erfan dengan nada nakal.
"Siap sayang," ucap Bi Ayu , lalu dia turun setelah dirasa aman.
Erfan kembali melajukan mobilnya.
Di tengah kampung, Erfan melihat bapak bapak yang sedang ronda malam. Erfan memberi uang 200 rb kepada mereka untuk membeli rokis, dan kopi. lalu melanjutkan perjalanannya.
"Tuan muda Erfan sangat baik, walau di kaya tidak pernah sombong," ucap salah satu bapak bapak,
"Iyah, semoga Tuan Muda Erfan selalu sehat, dan di lancarkan rezekinya,"
"Kemajuan ekonomi desa ini, sangat bergantung dengan tuan muda Erfan,"
Semua orang mengangguk, sambil menatap mobil Erfan yang sudah jauh.
Erfan pun sampai di vila, dia melihat masakan yang di masak Serina sore hari. Dia makan dengan lahap setelah makan Erfan pergi mandi lalu tidur.
====
1 minggu berlalu,
Selama 1 minggu ini, Erfan sangat sibuk karena pembukaan lahan baru, Erfan harus memikirkan rencana untuk lahan tersebut. Selama satu minggu Erfan sampai menahan birahi nya saking sibuknya tidak ada waktu sedikit pun.
Tapi dalam 1 minggu, Erfan sudah banyak mengenal karyawan wanita cantik dan juga warga sekitar. Hal yang membuat Erfan bahagia dalam satu minggu ini Serina mulai berubah. Dia bahkan berdandan cantik jika sedang berada di vila dan mau menggunakan pakaian yang di berikan Erfan.
===
Sore hari , Saat Erfan pulang dari kantor,
Erfan melihat di rumah warga yang bernama pak jaki ramai orang. Erfan pun menghentikan lalu keluar dari mobil, Erfan penasaran karena melihat wajah banyak orang sangat panik.
"Pak ada apa?" tanya Erfan . ke Pak RW yang kebetulan ada disana.
"Eh tuan muda, itu pak jaki penyakit jantung nya kambu," ucap Pak RW tersebut.
"Kenapa gak dibawa ke rumah sakit?" tanya Erfan, sambil mengerutkan kening.
"Ini juga sedang mencari mobil tuan muda , jika ingin menggunakan angkutan umum, hanya ada 2 kali pemberangkatan itu pun sudah tidak ada buat hari ini," ucap Pak RW.
"Sudah ada mobilnya?" tanya Erfan.
"Belum ada tuan muda, yang punya mobil kebetulan sedang tidak ada di rumah," jawab Pak RW.
"Ya sudah, tunggu sebentar. saya akan mengambil mobil yang cukup untuk banyak orang di perusahaan," Erfan berkata , lalu pergi dengan terburu-buru.
"Semuanya, yang mau ikut ke rumah sakit siap siap, tuan muda Erfan akan mengantar ke rumah sakit," ucap Pak RW dengan antusias.
"Pak gimana soal biayanya, kami tidak punya biaya," ucap Wanita dewasa, yang masih sangat cantik, dia adalah istri Pak Jaki yang bernama Resti.
"Tidak usah pikirkan itu dulu, yang penting kita bawa dulu Pak Jaki kerumah sakit," ucap Pak RW, karena Pak RW berpikir, dia masih memiliki uang yang diberikan Erfan.
Tidak lama, Erfan kembali membawa mobil Pajero yang tidak terawat, karena digunakan untuk mengangkut buah buahan dari kebun.
Para warga pun menggotong Pak Jaki masuk kedalam mobil.
"Ayo yang mau ikut masuk!" ucap Erfan.
Akhirnya Resti atau istri Pak Jaki, Pak RW, dan 3 tetangga masuk ke dalam mobil.
Erfan langsung melajukan mobil nya.
Saat mobil masuk ke jalanan besar, Erfan melajukan mobilnya lumayan kencang.
"Pak RW, Apakah kita harus memungut iyuran ke warga untuk biaya? atau mengajukan asuransi kesehatan?" tanya salah satu pri disana.
"Itu kita pikirkan nanti. Sekarang bukan waktunya memikirkan biaya," ucap Pak RW dengan tegas.
"Pak memang nya, ada masalah dalam hal biaya?" tanya Erfan santai.
"Iyah tuan muda, maklum Pak Jaki selama ini tidak bekerja karena penyakitnya. Hanya mengandalkan Istrinya yang bekerja di perusahaan anda menjadi petani," ucap Pak RW terus terang.
"Baiklah , kalian jangan khawatir urusan biaya saya akan bertanggung jawab!" ucap Erfan santai.
"Anda serius tuan muda?" tanya Pak RW.
"Tentu saja Pak RW, lagi pula Bu Resti karyawan saya, hal yang benar saya membantu beban nya," ucap Erfan.
Bu Resti yang mendengar hal tersebut sangat senang.
Akhirnya semua orang menghelanapas lega.
Bab 7 Bu Resti
Sampai di rumah sakit,
Erfan langsung memanggil perawat. Segera beberapa perawat mambawa Brankar. Para pria langsung menggotong Pak Jaki, lalu meletakkan nya Di Brankar degan gesit para perawat membawa pak Jaki ke dalam ruang IGD.
"Pak aku menunggu di luar pengen merokis, nanti kalo sudah selesai pemeriksaan, panggil saja aku," ucap Erfan.
"Baik tuan muda," jawab Pak RW.
30 menit kemudian,
Pak RW menghampiri Erfan, memberi tahu hasil pemeriksaan. Ternyata penyakit jantung Pak Jaki sudah sangat kronis, Entah berapa lama akan di rawat di rumah sakit.
"Kalo gitu, aku akan membayar biaya rumah sakit untuk 1 minggu terlebih dahulu," ucap Erfan.
"Baik, Terimakasih tuan muda," ucap Pak RW.
Erfan dan Pak RW pergi ke Resepsionis rumah sakit, Erfan membayar sebesar 20 juta untuk biaya perawatan selama satu minggu. jika ada tindakan berat, tentu harus menambah biaya.
Setelah membayar, Erfan menghampiri semua orang yang berada di depan ruang IGD.
"Bu Resti, saya sudah membayar perawatan suami ibu selama 7 hari, dan jika belum bisa pulang dalam 7 hari, saya akan membayar biayanya lagi," ucap Erfan .
"Terimakasih banyak tuan muda, jika tidak ada anda saya tidak tau bagaimana," ucap Bu Resti, terlihat kelegaan terlukis di wajahnya.
"Maaf saya tidak bisa menunggu disini, saya harus pulang. Besok ada yang harus saya kerjakan, Jika ada sesuatu hubungi saja saya," ucap Erfan, dengan ekspresi minta maaf.
"Tidak apa apa tuan muda, anda sudah membantu Pak Jaki begitu banyak. Urusan menunggu biar kami saja!" ucap Salah satu pria disana.
"Tuan muda saya mau ikut pulang dulu, tadi saya belum sempat mengemas pakaian," ucap Bu Resti.
"Baiklah. Ayo Bu!" jawab Erfan.
"Pak maaf merepotkan untuk menunggu suamiku." ucap Bu Resti, dengan ekspresi tidak enak.
"Tidak apa apa bu, anda bisa tenang," jawab Pak RW, sambil tersenyum.
Sebelum pergi, Erfan memberi uang 500 rb kepada Pak RW untuk membeli makanan, dan kopi, untuk semua orang yang menunggu pak jaki, lalu Erfan Dan Bu Resti pergi.
Semua orang sangat kagum dengan Erfan. Setelah Erfan pergi mereka terus memuji Erfan.
===
Erfan menyerir mobilnya, ditengah gelap malam.
"Tuan muda, apakah anda tidak lelah?" tanya Bu Resti sambil melirik Erfan.
"Tidak kok bu," jawab Erfan.
Karena Bu Resti penasaran, tentang biaya perawatan suaminya. Dia mengambil inisiatif, bertanya kepada Erfan.
"Berapa banyak yang tuan muda keluarkan untuk biaya?" tanya Bu Resti.
"Memang nya kenapa bu?" tanya balik Erfan.
"Saya bingung, untuk mengganti nya tuan muda," jawab Bu Resti, dengan nada lesu.
"Tidak usah dipikirkan bu, dan tidak perlu diganti juga," Erfan berkata, dengan santai.
"Tapi saya, tidak enak tuan muda," ucap Bu Resti, dengan nada tidak enak.
"Udah yang penting, Bu Resti pekerja dengan giat itu sudah cukup mengganti semua nya," ucap Erfan sambil tersenyum.
Bu Resti hanya bisa mengangguk,
Bu Resti beberapa kali menatap Erfan, matanya berkelilat dengan ketegasan.
Erfan menyadari tatapan Bu Resti tapi hanya mendiamkan nya.
"Tuan muda, apakah anda tidak kesepian di selama di kampung mawar?" ucap Bu Resti tiba-tiba.
"Maksudnya gimana bu?" tanya Erfan pura pura tidak mengerti.
"Masa tuan muda tidak mengerti," ucap Bu Resti, dengan nada yang sedikit genit.
Erfan menyeringai, dia tidak ingin berpura-pura lagi. Dia berkata dengan nada santai.
"Tentu saja kesepian bu, di sini sulit jika ingin mencari wanita yang mau di ajak tidur," ucap Erfan.
"Tuan muda belum lama saja disininya, belum mengenal banyak wanita. jika sudah banyak mengenal wanita, apalagi tuan muda punya uang, hal seperti itu sangat lah gampang,"'ucap Bu Resti, dengan nada penuh godaan.
"Apa Bu Resti mau, mencarikan wanita yang mau di ajak tidur? soal harga tidak masalah berapa pun," Erfan berkata penuh harap, karena dia sudah tidak tahan ingin di puaskan, jika tidak ada wanita lain Erfan akan mengajak Bi Ayu.
"Yang seperti apa? yang tuan muda suka?" tanya Bu Resti, sambil menatap Erfan dengan tatapan menggoda.
"Yang penting cantik dan tubuhnya menggoda, dan aku suka dada wanita yang besar!" jawab Erfan, sambil menyeringai nakal.
"Kalo Usia?" tanya Bu Resti.
"Usia tidak masalah," jawab Erfan.
"Aku ada beberapa wanita penyuka uang, nanti aku coba tawari mereka," ucap Bu Resti.
"Oke. Tenang saja jika Bu Resti mendapatkan wanita yang sesuai keinginan ku. Aku akan memberi uang buat Bu Resti," ucap Erfan sambil tersenyum nakal.
"Kalo menurut tuan muda, aku masuk gak ke tipe tuan muda," ucap Bu Resti, sambil menatap Erfan dengan tatapan penuh godaan.
"Masuk sih," jawab Erfan, sambil menyeringai nakal.
"Mau gak main sama aku? anggap saja sebagai ucapan terimakasih," ucap Bu Resti dengan nada genit.
"Aku tidak mau, jika ibu melayani saya hanya untuk terima kasih. Tapi jika ibu menginginkan uang aku mau bermain dengan Ibu," ucap Erfan, dengan nada serius.
"Ayo deh, kebetulan saya sangat butuh uang," ucap Bu Resti dengan tegas.
"Berapa yang ibu inginkan?" tanya Erfan.
"Gak papa 500 rb aja, tuan muda bisa main sepuasnya," ucap Bu Resti.
"Mau main dimana?" tanya Erfan, tanpa banyak berpikir, karena dia sudah sangat bergairah, sudah lama dia tidak bermain.
"Di mana saja, yang penting aman!" jawab Bu Resti.
"Disini tidak ada hotel," ucap Erfan.
"Tidak perlu hotel tuan muda, main di mobil juga bisa cari saja tempat yang sepi aja," ucap Bu Resti, dengan nada genit.
Erfan pun, mencari tempat yang benar benar sepi, jauh dari jalan besar. mobil pun terhenti, di area hutan yang sangat gelap.
"Ayo tuan muda, pindah ke belakang!" Bu Resti berkata sambil pindah ke bagian belakang mobil.
Mereka pun langsung berpelukan, Bu Resti mengambil inisiatif melumat bibir Erfan. tentu saja Erfan melawan dengan panas.
Tangan Erfan masuk ke dalam pakaian kaos Bu Resti, lalu meremas gunung Bu Resti dengan keras.
"shh ahhh enak tuan muda," Bu Resti mengerang nikmat, saat bibirnya terlepas dari bibir Erfan.
"Dada Bu Resti ternyata sangat besar, jika menggunakan dress pasti ibu sangat seksi," ucap Erfan dengan penuh nafsu. matanya menatap dada besar itu, dengan tatapan panas.
"Saya tidak bisa membeli pakaian seperti itu tuan muda ah ah," jawab Bu Resti, sambil mengerang nikmat.
"Nanti aku beliin deh," ucap Erfan, sambil terus meremas dada besar itu, sampai berubah berbagai bentuk.
"Shh ahh Jika dikasih pasti ibu terima," jawab Bu Resti, tanpa ragu.
Keduanya melepaskan pakaian mereka masing masing, dalam sekejap semua pakaian mereka terlepas.Erfan langsung menerkam wanita dewasa itu.
Pertempuran dimulai, mobil berguncang hebat di tengah kegelapan hutan. suara sura samar rintihan terdengar luar mobil.
1 jam kemudian, mobil tersebut kembali tenang.
Suasana di dalam mobil, begitu panas. Saking intens nya permainan, sampai keringat panas keluar sangat deras.
Bab 8 Serina Mulai Luluh ?
"Aku tidak menyangka, tuan muda sangat kuat," ucap Bu Resti dengan wajah penuh kepuasan.
"Apakah kamu puas?" tanya Erfan.
"Aku masih ingin, tapi istirahat dulu sebentar!" jawab Bu Resti.
"Kamu itu yah. Suami mu sedang di rumah sakit, kamu malah bersenang senang," ucap Erfan sambil meremas pantat montok Bu Resti.
"Salahkan tubuh ku, yang menginginkan belaian. sudah lama tubuh ini, tidak di belai," jawab Bu Resti, tanpa rasa bersalah.
"Kamu seperti jalang saja," ucap Erfan, sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku akan menjadi jalang, untuk tuan muda!" jawab Bu Resti, dengan nada genit.
Erfan tertawa, sambil menatap wanita itu.
"Haha, Jika ingin menjadi jalang ku, kamu harus merawat tubuh dengan baik!" ucap Erfan.
"Jika ada uang nya, tentu saja aku akan melakukannya," ucap Bu Resti, dengan terus terang.
"Uang bukanlah masalah," balas Erfan, sambil mengusap wajah wanita itu.
Setelah beristirahat sebentar, Erfan kembali melajukan mobilnya pergi dari tempat tersebut.
"Anakmu berapa? pasti sudah punya anak kan?" tanya Erfan.
"Ada 2 sayang, keduanya wanita, yang pertama barumur 17 Thn masih sekolah Sma, yang ke 2 berumur 10 thn masih sd," ucap Bu Resti.
"Pasti yang SMA cantik!" ucap Erfan, sambil terkekeh.
"Tentu saja, dia menjadi salah satu primadona di sekolah," ucap Bu Resti, dengan bangga.
"Boleh kali, kenalin sama aku haha," Erfan terkekeh nakal.
"Nanti kamu tiduri lagi, mana tubuh anak ku sangat menggoda, ukuran dadanya tidak kecil loh," ucap Bu Resti dengan nada menggoda.
"Jika aku tiduri, bagaimana?" tanya Erfan, dengan nada main main.
"Jika anak ku mau, silahkan saja. tapi jangan sampai hamil!" jawab Bu Resti
"Kalo tidur bersama anak, dan ibu, sekaligus pasti sangat hot," ucap Erfan, sambil merangkul pundak Bu Resti.
"Kamu sangat nakal," Bu Resti tidak marah dia malah tersenyum nakal.
===
1 jam kemudian,
Mereka sampai di kampung mawar, Erfan mengantarkan pulang BU Resti. Sebelum Bu Resti turun dari mobil, Erfan memberi uang 1 jt, dan meminta ciuman. Dengan senang hati Bu Resti melayani Erfan, setelah selesai Bu Resti turun dari mobil, dan Erfan melajukan kembali mobilnya menuju Vila.
Sampai di vila,
Setelah Erfan makan dan bersih bersih, dia bersantai sambil menonton Tv di sisinya se botol anggur lokal menemani nya.
===
Pagi hari,
Erfan keluar dari kamar nya, dia sudah sangat rapih.
Saat Erfan menuju ke meja makan, dia melihat Serina yang sedang menata makanan. Serina memakai Dres yang di belikan Erfan membuat tubuh nya terlihat sangat menggoda.
Erfan menyeringai nakal, sambil mengendap ngendap.
Saat Sudah dekat, Erfan langsung memeluk Serina Dari belakang.
"AHHH," Serina kaget, secara refleks dia berteriak. Saat menyadari bahwa yang memeluknya adalah Erfan, dia berhenti berteriak.
"Kamu ini ngagetin aja," Serina berkata dengan kesal.
Erfan memeluk Serina dengan erat, sambil cengengesan.
"Pagi cantik," Ucap Erfan, dengan penuh keceriaan.
"Pagi juga tuan muda," jawab Serina, dia tidak melawan di peluk erat Erfan.
Erfan mengendus leher Serina lalu mengecup nya.
"Tuan muda jangan berlebihan," Serina mulai menolak, saat merasakan kecupan Erfan.
Walaupun sebenarnya Serina menginginkan nya, Tapi karena status nya yang sebagai wanita bersuami, dia terus menahan setiap godaan Erfan.
"Oke oke jangan marah," ucap Erfan, lalu melepakan pelukan nya, Karena Erfan tidak mau memaksakan kehendaknya, tapi dia akan terus berusaha menaklukkan Serina.
Selama sarapan, Erfan dibuat panas dingin, apalagi saat menatap belahan dada Serina yang begitu dalam.
Serina yang menyadari tatapan Erfan hanya pura-pura tidak tau. Kenyataannya Serina sudah mulai luluh, makannya dia mau memakai pakaian, dan menggunakan skin care, saat berada di vila Erfan. Semua itu agar Erfan mengagumi nya.
"Cantik, aku berangkat dulu!" ucap Erfan berkata, lalu berjalan pergi dengan penuh senyuman.
"Erfan, entah sampai kapan aku bisa bertahan dari godaan," ucap Serina dengan suara pelan, sambil menatap kepergian Erfan, dengan tatapan Rumit.
Erfan sampai di perusahaan,
"Selamat pagi tuan muda," ucap Para petugas keamanan.
"Pagi semua," sapa Erfan, dengan penuh keceriaan.
"Tuan muda, kenapa mobil yang bagus di tinggal di perumahan?" tanya Petugas Keamanan.
"Kemarin aku membantu salah satu warga, mengantar kerumah sakit," ucap Erfan.
Petugan keamanan yang berjaga pagi tidak tau, karena mereka ganti sif pada jam 3 sore.
Semua petugas keamanan mengangguk mengerti, lalu Erfan masuk ke kantor.
Hari ini, Erfan sangat santai tidak ada pekerjaan yang harus di kerjakan.
Karena jenuh, Erfan memutuskan untuk pergi ke kebun. Erfan mengajak Anne, untuk menemaninya berkeliling.
Mereka ber dua pergi ke kebun buah buahan menggunakan mobil pajero.
Erfan sangat terpesona dengan penampilan Anne hari ini, dia menggunakan dres hitam pendek tanpa lengan dengan kerah rendah, wajahnya di rias tidak terlalu terlalu over, tapi sangat mengoda.
"Nona, hari ini kamu begitu cantik," ucap Erfan, sambil tersenyum nakal.
"Ahh, masa tuan muda?" Anne berkata sedikit malu.
"Serius tapi, emm sayang nya kamu sudah punya suami," Erfan berkata pura-pura sedih.
Deg
Hati Anne seketika kacau, Anne tidak menjawab, dia hanya diam karena bingung mau menjawab apa.
"Anne, ingat kamu memiliki suami," Anne hanya bisa menggumamkan kalimat tersebut, di dalam hatinya.
Tidak lama mereka sampai di parkiran mobil.
Mereka turun, lalu berjalan menuju tempat pertanian buah stroberi.
Terlihat banyak karyawan wanita sedang memetik Stroberi. Saat mereka melihat Erfan, mereka menyapa dengan sopan.
Erfan menyadari, ada beberapa wanita cantik yang berusaha mencari perhatiannya.
"Tuan muda apakah kamu mau makan stroberi?" tanya Anne.
"Tentu saja!" jawab Erfan.
Anne pergi mengambil Stroberi berkualitas terbaik yang telah di cuci.
"Ini tuan muda!" Anne menyodorkan semangkuk Stroberi.
Erfan memakan Stroberi tersebut, dia sangat puas dengan kualitas rasa Stroberi.
"Apakah enak tuan muda?" tanya Anne, dia sedikit gugup, karena takut Erfan tidak puas dengan kualitas stroberi tersebut.
"Sangat enak, ini sangat manis," puji Erfan sambil tersenyum puas.
Anne tersenyum lega.
"Kamu makan juga!" ucap Erfan kepada Anne.
Anne tidak menolak, dia memakan Stroberi tersebut. Terlihat ekspresi wajahnya sangat puas, dengan rasa stroberi tersebut.
"Sangat enak," Anne berkata dengan bahagia.
Erfan yang melihat Anne memakan Stroberi, sangat panas, apa lagi saat memasuk Stroberi ke bibir merahnya.
Erfan berusaha menenangkan hatinya, yang mulai bergejolak.
"Ayo pergi ke tempat lain!" ajak Erfan.
Mereka pun pergi ke pertanian buah Cerry,
Erfan sangat kagum dengan kualitas semua buah disana. Para karyawan pun sangat lega, saat melihat Erfan puas dengan kualitas buah.
Erfan dan Anne, berkeliling hampir ke 6 tempat buah yang berbeda. Setelah Erfan puas, dan juga Anne ada pekerjaan, merekapun kembali ke kantor.
Saat tengah hari, waktu istirahat makan. Erfan kembali ke Vila untuk makan siang.
Saat sampai di vila, Erfan melihat Serina sedang duduk sambil melamun. Erfan yang melihat itu, sedikit mengerutkan keningnya.
Erfan memeluk Serina dari belakang.
"Ada apa cantik? kok ngelamun?" tanya Erfan.
"Enggak kok," jawab Serina berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Kalo ada masalah, bicara saja," ucap Erfan dengan lembut.
Serina berpikir sejenak, lalu dia menghela nafas panjang mengumpulkan keberanian.