Satu Kalimat Abadi yang Tak Berubah

Đang tải thông tin quảng bá...

Satu Kalimat Abadi yang Tak Berubah

GoodNovel Hoàn thành

Seluruh Divisi Khusus Kepolisian tahu, Zaki Sadam adalah ahli negosiasi krisis paling profesional. Di saat genting antara hidup dan mati, dia bisa dengan mudah meruntuhkan pertahanan psikologis seseor...

Chương (1)

第1章

Seluruh Divisi Khusus Kepolisian tahu, Zaki Sadam adalah ahli negosiasi krisis paling profesional. Di saat genting antara hidup dan mati, dia bisa dengan mudah meruntuhkan pertahanan psikologis seseorang. Namun, hanya terhadap air mata Cindi Wiryo, dia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Semua orang berkata, Zaki mencintai Cindi setengah mati, seolah-olah dia rela memberikan bintang dan bulan untuk Cindi. Namun, hanya Cindi sendiri yang tahu bahwa cinta sejati Zaki bukanlah dirinya. Bab 1 Seluruh Divisi Khusus Kepolisian tahu, Zaki Sadam adalah ahli negosiasi krisis paling profesional. Di saat genting antara hidup dan mati, dia bisa dengan mudah meruntuhkan pertahanan psikologis seseorang. Namun, hanya terhadap air mata Cindi Wiryo, dia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Semua orang berkata, Zaki mencintai Cindi setengah mati, seolah-olah dia rela memberikan bintang dan bulan untuk Cindi. Namun, hanya Cindi sendiri yang tahu bahwa cinta sejati Zaki bukanlah dirinya. Pada hari cinta sejati itu kembali ke Tambar, Cindi menerima kabar bahwa Zaki mengalami kecelakaan di tengah hujan deras pada malam hari. Dia keluar rumah dengan perasaan panik, tetapi mengalami kecelakaan mobil dan keguguran di tengah perjalanan. Padahal kandungannya sudah memasuki usia empat bulan. Zaki datang dari acara penyambutan cinta sejati itu dengan tergesa-gesa, dengan suara bergetar dia berkata, "Itu hanya permainan saat mabuk, kenapa kamu anggap serius?" Saat tubuh dan hatinya masih sakit, Cindi kembali mendengar Zaki yang memaksakan diri untuk berkata dengan tenang, "Nggak punya anak sekarang juga lebih baik. Pekerjaanku membuatku punya terlalu banyak musuh. Kalau punya anak, malah bisa dijadikan alat untuk mengancamku." Kalimat itu seakan menyayat hatinya, tetapi Cindi tak bisa membantah. Hari kesepuluh setelah cinta sejati itu pulang, Cindi memergoki mereka berdua di ruangan yang sama dan terlihat sangat dekat. Dengan mata memerah, Zaki menggenggam tangan Cindi sambil berjanji, "Cindi, percayalah padaku. Kami hanya rekan kerja, saat ini sedang membahas suatu kasus." Cindi tak membalas. Dia hanya berbalik dan pergi dengan tenang. Pada hari ke-60 sejak cinta sejati itu kembali, seorang penculik menodongkan pisau ke leher Cindi, lalu menyeringai ke arah Zaki sambil berkata, "Tuan Negosiator, kau harus memilih antara istrimu dan kekasihmu!" Zaki tampak sedih, tetapi dia menjawab dengan jelas dan tegas, “Sukma lulusan luar negeri dan punya keahlian tinggi, kepolisian membutuhkannya.” Pada saat itu, Cindi hanya bisa menatap Sukma berlari ke pelukan Zaki, sementara penculik yang kalap menusuknya enam kali. Cindi koma selama dua bulan. Saat bangun, hal pertama yang dia lakukan adalah membawa surat nikah ke markas dan mengajukan perceraian. Namun bukan kepastian perceraian yang dia dapatkan, melainkan pertanyaan dari petugas yang tampak kebingungan. "Bu Cindi, Anda dan Pak Zaki … tidak pernah menikah. Apa surat nikah ini palsu?" Cindi mengira dirinya salah dengar. Surat nikah yang sudah dia simpan selama enam tahun dan pernikahan yang dia pikir nyata dan bahagia, ternyata palsu? "Nggak mungkin. Tolong cek lagi. Kami sudah menikah selama enam tahun .…" Petugas itu menatapnya penuh keraguan, namun tetap memeriksa di sistem lagi. Setelah berkali-kali mengecek, petugas itu berkata dengan nada serius, "Bu, membuat dokumen palsu itu melanggar hukum, tapi saya akan menganggap Anda hanya sedang bercanda." Cindi berdiri terpaku. Dia menatap foto di surat nikah, yang memperlihatkan mereka berdua berdampingan dan tersenyum, membuatnya merasa semuanya tak masuk akal. Mengingat kini Sukma telah kembali, ia tak lagi buta. Zaki bersedia pura-pura menikah demi menutupi kenyataan bahwa dia sedang menunggu wanita yang dia cintai kembali. Begitu Cindi kembali ke rumah sakit, Zaki langsung datang menghampiri dengan wajah khawatir, "Cindi, kamu belum benar-benar sembuh, kenapa kamu asal pergi saja?" Namun, Cindi menepis tangan Zaki dan terus berjalan. Zaki menatapnya lama, lalu berkata, "Kamu masih marah padaku? Tapi kamu tahu ‘kan, sejak aku memilih profesi ini, negara dan rakyat jadi prioritas utama. Apalagi, Sukma juga terluka waktu mencoba menyelamatkanmu." Cindi menatap suami yang sudah bersamanya selama enam tahun itu, tapi sekarang terasa sangat asing. Ya, karena Zaki memang tak pernah benar-benar mengenalnya. "Benar. Dia terluka dan menjadi pahlawan. Lalu aku apa? Hanya orang bodoh yang tak tahu diri." Cindi menggenggam erat surat nikah di sakunya, matanya mulai berkaca-kaca. Zaki, bagimu aku ini apa? Hanya pelarian sementara saat menunggu Sukma kembali? Cindi menghindarinya, lalu kembali ke kamar. Dia tidur karena kelelahan dan terbangun saat sudah sore. Tidak lama kemudian, seorang polisi dan rekan kerja Zaki, datang mengantarkan makanan. Pria itu tidak langsung pergi. Dia tampak ragu, lalu berkata, "Seharusnya Kak Cindi nggak marah ke Kak Zaki. Kamu hanya berprasangka buruk pada kami." Cindi belum sempat menjawab, polisi itu sudah berkata dengan penuh emosi lebih dulu. "Memang benar, Nona Sukma pernah membuat kesalahan besar saat misi penyelamatan ibumu. Tapi kami hanya manusia biasa, Kak. Kami mempertaruhkan nyawa tiap kali bertugas, tapi nggak bisa menjamin semuanya akan aman seratus persen!" "Kamu nggak boleh membenci Nona Sukma karena hal itu. Itu namanya nggak adil! Lagi pula, setelah kejadian itu Nona Sukma langsung dapat sanksi berat dan dikirim ke luar negeri. Butuh usaha besar untuk bisa kembali ke sini." Mendadak, kepala Cindi terasa kosong. Enam tahun lalu, ibunya menjadi sandera dalam kasus perampokan bank. Dalam proses negosiasi, seorang negosiator wanita muda bertindak gegabah dan justru membuat penculik marah hingga membunuh sandera. Setelah itu, Cindi dengar bahwa negosiator itu dihukum. Keluarga Cindi pun menerima kompensasi negara. Baru setelah itu, Zaki masuk ke hidupnya. Jadi, negosiator itu Sukma? Dan Zaki, hanya berusaha menebus kesalahan orang lain? Cindi tak bisa mendengar apa pun lagi. Dia bahkan tak sadar kapan polisi itu pergi. Dia duduk lama, diam dalam kehampaan. Lalu perlahan mengangkat ponsel dan menghubungi satu nomor. Begitu tersambung, dia mendengar suaranya sendiri. Dia berkata dengan sangat tenang, bahkan terlalu tenang, "Cindi menerima tugas dari markas. Siap bertugas kapan saja." Bab 2 Bau cairan disinfektan rumah sakit yang menyengat membuat Cindi merasa sangat tersiksa. Dia mengabaikan nasihat dokter dan memaksa untuk pulang lebih awal. Ponselnya berdering terus-menerus. Sekilas dia melihat nama di layar ponsel, Zaki. Tanpa pikir panjang, dia menolak panggilan itu dan langsung memasukkan nomor itu ke dalam daftar blokir. Begitu tiba di rumah, Cindi mulai mengobrak-abrik seluruh ruangan. Cincin pertunangan mereka masih tergeletak di dalam kotak beludru. Sebuah kotak musik buatan khusus menampilkan figur sepasang pengantin pria dan wanita. Sebuah buku harian tebal berisi kenangan masa pacaran mereka, berisi tiap percakapan mereka yang penuh cinta. Dan di dinding ada foto pernikahan mereka yang besar dan indah. Cindi hanya menatap semua itu sejenak, lalu mulai memasukkan semua benda itu satu per satu ke dalam kotak. Setelah penuh, dia membuang semuanya ke tempat sampah. Seolah beban lama yang selama ini menempel di pundaknya akhirnya terlepas sepenuhnya. Dia lalu membuka galeri ponsel, menatap satu per satu foto kenangan mereka. Setiap gambar membuatnya mengingat kenangan bahagia mereka saat itu. Seperti saat mereka bermain adonan di dapur hingga wajah mereka belepotan tepung, atau duduk berdua di atas bianglala dan berciuman tepat di titik tertinggi. Cindi menghapus foto-foto itu satu per satu. Setiap foto yang terhapus seperti pisau yang menusuk langsung ke jantungnya. Semua gambar itu mengingatkan betapa indah masa lalu itu dan betapa palsunya semua itu sekarang. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Zaki masuk dengan langkah besar. Wajahnya tampak muram, tapi saat melihat Cindi, dia seakan terlihat sedikit lega. "Cindi, kenapa nggak angkat teleponku?" Suaranya mengandung nada tekanan yang menakutkan. "Aku sudah meneleponmu lima puluh empat kali!" Cindi terdiam, tentu saja dia tidak mengangkat panggilan Zaki, karena sudah masuk daftar blokir. "Kenapa kamu keluar dari rumah sakit?" Zaki melangkah maju, mencengkeram pergelangan tangan Cindi dengan kuat, dia berkata, "Kamu tahu bagaimana rasanya saat aku nggak bisa menemukanmu? Aku kira kamu ...." Zaki menghentikan kalimatnya, memejamkan mata dengan marah. Cindi mengernyit, dia berkata dengan nada acuh, "Lepaskan, kamu sudah menyakitiku!" Namun, Zaki tak melepaskannya. Tatapan Zaki menyapu dinding yang kini kosong dan sorot matanya seakan penuh badai. "Kenapa kamu buang foto pernikahan kita? Aku tahu kamu masih marah, tapi Cindi, kamu tahu siapa aku. Aku melakukan semua ini bukan untuk diriku, tapi untuk negara! Sekarang kami butuh Sukma, tidak boleh terjadi sesuatu pada Sukma." "Cukup!" Cindi tiba-tiba melepaskan tangannya dengan kasar. "Aku nggak mau dengar kebohonganmu lagi!" Surat nikah palsu itu dan perhatian Zaki pada Sukma tak akan bisa menipu siapa pun lagi. Cindi bukan orang buta! Zaki menatapnya dengan kecewa, "Cindi, kamu sudah berubah." Cindi nyaris tertawa. Ya, dia memang berubah, karena akhirnya dia berhenti jadi orang bodoh. "Aku hanya ingin kamu tahu, orang yang paling aku cintai adalah kamu. Aku nggak bisa hidup tanpamu, aku!" Mata Zaki mulai memerah. Tiba-tiba, dia melangkah dengan cepat dan langsung memeluk Cindi. Meski Cindi berusaha melepaskan diri, Zaki menyeretnya ke tempat tidur. Dia mengeluarkan sepasang borgol perak dari sakunya, lalu memborgol tangan Cindi ke kepala ranjang! Mata Cindi membelalak tak percaya. "Zaki, kamu sudah gila?" "Aku benar-benar mau gila saat nggak bisa menemukanmu!" Zaki menindih tubuh Cindi, lalu mulai menciumnya dengan paksa. "Cindi, jangan marah lagi. Kumohon ...." Pada saat napasnya mulai terenggut, Cindi merasa mual luar biasa. Dengan tangan bebasnya, Cindi menampar wajah Zaki sekuat tenaga. "Plak!" Zaki berhenti. Cindi terengah-engah, matanya memerah dan berkata, "Pergi! Siapa yang memberimu izin untuk menciumku?" "Aku .…" Belum sempat dia menjelaskan, dering ponsel Zaki tiba-tiba berbunyi. Zaki melihat siapa yang menelepon, raut wajahnya langsung berubah. Dia segera berdiri dan terburu-buru berjalan ke luar. "Cindi, tunggu aku. Aku ada urusan sebentar. Aku akan segera kembali." Dalam sekejap, dia pergi. Di dalam kamar, hanya suara napas Cindi yang tersisa. Dia berusaha melepaskan diri. Pergelangan tangannya cepat memerah karena bergesekan dengan logam borgol. Rasa sakit dari luka yang belum sembuh, kembali menyerang saat dia banyak bergerak. Ia terdiam sebentar, lalu menangis pelan. bibirnya yang pucat hanya bisa terkatup rapat. Langit mulai gelap. Pria yang katanya akan segera kembali itu, tak kunjung muncul. Ponsel Cindi masih tertinggal di sofa. Cindi mencoba membongkar kunci borgol dengan jepit rambutnya. Gagal. Dia mencoba menyeret ranjang dan membuka penyangga tempat tidur, semua gagal. Lebih parah lagi, kepalanya mulai pusing, lukanya berdenyut sakit, dan perutnya lapar, semuanya datang menyerang bersamaan. Dia meringkuk lemas di atas ranjang, dilanda rasa sakit dan kelaparan. Siang berganti malam. Selama semalaman penuh, Zaki tidak kembali. Bab 3 Saat dalam kondisi tak sadar, Cindi seolah bermimpi kembali ke hari ketika Zaki melamarnya. Saat itu, Zaki menatapnya dengan penuh kelembutan, dia berkata dengan pelan dan serius, “Aturan paling penting bagi seorang negosiator adalah selalu tetap tenang. Tapi sejak bertemu denganmu, setiap hari aku melanggarnya.” Zaki memasangkan cincin ke jarinya dengan sangat lembut dan mencium dirinya dengan penuh kasih sayang. Semua itu, bagaimana mungkin semua itu adalah kebohongan? Perutnya terasa sakit hebat, dia tersadar sesaat, terombang-ambing di antara rasa sakit dan kesadaran, hingga hampir berpikir bahwa dirinya akan mati begitu saja. “Braak!” Pintu tiba-tiba didobrak terbuka, lalu terdengar suara panik Zaki, “Cindi!” Borgol yang mengikatnya bergetar hebat saat dibuka dengan tangan gemetar. Dia langsung menggendong Cindi dan segera membawanya keluar. “Maaf, maafkan aku!” Suara Zaki hampir seperti menangis. Dia membawa Cindi masuk ke dalam mobil, penuh ketakutan berkata, “Aku bukan sengaja melupakanmu, Cindi, tolong bangun!” ...... Saat Cindi membuka mata lagi, Dia kembali berada di kamar rumah sakit yang disinari lampu putih menyilaukan. Dalam beberapa bulan terakhir, dia sudah tiga kali masuk rumah sakit. Semua karena pria yang dulu sangat dia cintai. Pria yang selalu berkata mencintainya, tetapi tak pernah berhenti menyakitinya. Kepalanya terasa sangat sakit. Begitu jarinya yang terkulai mulai sedikit bergerak, langsung ada seseorang yang menggenggamnya. “Cindi?” Suara Zaki serak dan penuh kecemasan. “Apa masih ada yang terasa sakit?” Begitu mendengar suaranya, Cindi langsung menarik tangannya dengan kuat. Namun, gerakannya yang mendadak justru membuat luka di tubuhnya kembali terasa perih, hingga dia menghirup napas dalam-dalam menahan sakit. “Jangan bergerak!” Zaki langsung memegang pundaknya, dan Cindi melihat matanya yang memerah. Tanpa pikir panjang, dia menggunakan seluruh tenaganya untuk menampar wajah Zaki. Sayangnya, tubuhnya sangat lemah, tamparan itu kurang kuat. Namun, Zaki tetap terdorong hingga wajahnya menoleh. “Tamparan yang bagus.” Dia berbalik menatapnya, bahkan masih tersenyum. Pipinya yang ditampar memerah. “Aku pantas menerimanya. Kalau perlu tampar aku beberapa kali lagi, asal kau bisa lega.” Dengan suara serak, Cindi berkata, “Aku nggak mau melihatmu lagi.” Senyuman di wajah Zaki menghilang. Dia segera menggenggam tangan Cindi, lalu berkata lembut, “Sayang, jangan berkata seperti itu. Semua ini salahku. Aku tiba-tiba dapat tugas darurat, negosiasi seharian semalam, tolong maafkan aku.” Cindi menutup mata. Sebenarnya dia ingin berkata. dia tahu siapa yang menelpon malam itu. Itu adalah Sukma. Hanya karena satu panggilan dari wanita itu, Zaki langsung pergi, meninggalkannya terborgol di tempat tidur selama satu hari satu malam. Bagaimana mungkin Cindi bisa memaafkannya? Cindi mengangkat pergelangan tangannya. Luka dari borgol sudah berubah menjadi memar ungu kebiruan, sangat menakutkan. Matanya memerah. “Zaki, dulu kamu nggak pernah memperlakukanku seperti ini.” Wajah Zaki berubah. “Karena kamu terus marah soal Sukma akhir-akhir ini. Aku waktu itu takut, dan juga marah.” Cindi berkata pelan, “Lalu kenapa kamu terus melakukan hal-hal yang membuatku marah?” Kali ini Zaki terdiam lama. Akhirnya dia bicara lagi, suaranya penuh penderitaan, “Cindi, jangan bersikap emosional, kumohon. Kami hanya rekan kerja, sedang menjalankan misi penting bersama.” “Kamu pergi saja. Aku mau istirahat.” “Baiklah, aku akan menjagamu di sini.” Keesokan harinya, Cindi keluar dari rumah sakit. Zaki tetap menemaninya siang dan malam selama seminggu. Mengganti perban, menyuapi makanan, bahkan saat diperlakukan dingin, Zaki tetap tidak marah. Namun, Cindi menyadari, Zaki sering diam-diam menelepon dari balkon. Setiap kali selesai menelepon, Zaki tersenyum lembut. Dia tahu, siapa yang di seberang telepon dan itu membuat hatinya makin sakit. Tiga hari setelah pulang dari rumah sakit, Sukma pindah ke unit sebelah, menjadi tetangga mereka. Sejak itu, makanan yang dimasak Zaki selalu dibagi dua, satu untuk Sukma. Setiap kali mengantar makanan ke sana, Zaki akan menemani Sukma makan dulu, baru kembali. Saat kembali dan bertemu Cindi, dia hanya berkata, “Ini semua markas, kami tadi mendiskusikan detail misi.” Cindi melihat senyum yang belum sepenuhnya menghilang di wajahnya dan rasanya seperti pisau menancap di jantungnya. Zaki selalu sengaja atau tak sengaja menghindari agar Cindi tidak bertemu dengan Sukma. Namun hari itu, Zaki berpakaian rapi, tiba-tiba berkata, “Hari ini hari jadi pernikahan kita. Aku sudah dapat tiket kapal pesiar, malam ini ada makan malam romantis.” Cindi ingin menolak, tapi Zaki sudah menariknya keluar. Di depan pintu, dia melihat Sukma sudah berdiri menunggu. “Halo, Kak Cindi. Nggak apa-apa ‘kan kalau aku ikut? Aku nggak akan mengganggu kalian kok.” Sukma menjulurkan lidah dengan gaya manja dan ceria. Zaki tersenyum, berbalik berkata, “Sukma juga ingin coba naik kapal pesiar. Kebetulan tiketnya ada tiga. Kita pergi bersama ya. Cindi, kamu nggak keberatan, ‘kan?” Cindi tersenyum sinis. Dia menunduk, berkata pelan, “Tentu saja tidak keberatan.” Apa haknya untuk keberatan? Pernikahan mereka hanyalah kebohongan dan sandiwara belaka. Bab 4 Hari ketika naik ke kapal pesiar itu, cuacanya cerah. Zaki berjalan berdampingan dengan Sukma, mereka tampak akrab dan berbincang dengan gembira, hingga Cindi tampak seperti orang asing di antara mereka. Kapal pesiar dihiasi dengan mewah, seolah tengah menyambut perayaan besar. Malam pun tiba. Zaki ternyata benar-benar menyiapkan makan malam bertema lilin romantis. Cindi duduk di seberangnya, menarik napas dalam-dalam. “Kebetulan, mari kita manfaatkan momen ini untuk bicara baik-baik.” Zaki tersenyum, “Baik, coba steik dan anggur ini. Aku siapkan khusus untukmu.” Wajahnya terlihat menyimpan kenangan manis. “Aku masih ingat saat kencan pertama kita, kita makan steik. Tapi kamu nggak suka setengah matang, malah minta dimasak matang penuh. Ingat nggak, ekspresi pelayannya waktu itu? Haha.” Cindi memotong steik perlahan, menyuapkan satu potong ke mulutnya sambil tersenyum dipaksakan. Dia berkata lirih, “Ya, aku juga ingat hari itu. Kamu bilang akan selalu melindungiku, tak akan membiarkan aku terluka.” Zaki tidak menyadari getir dalam nada suaranya. Cindi pun segera menenangkan diri. “Aku ada beberapa hal ingin ....” Namun, belum sempat dia lanjutkan, tiba-tiba dia merasa pusing. Zaki berdiri cepat-cepat, menahannya, berkata lembut, “Cindi, kamu mabuk.” Cindi merasa hawa dingin menjalar ke seluruh tubuh. Anggur dalam steik itu tidak cukup kuat untuk membuatnya mabuk. Zaki menaruh sesuatu dalam makanannya? Sebelum sempat ia pikirkan lebih jauh, kesadarannya menghilang dalam kegelapan. Cindi terbangun dalam kondisi kesadarannya masih kabur. Kepalanya terasa berat, namun saat memori mulai kembali, kemarahan pun meledak. Zaki berani memberinya obat? Dia sadar berada di dalam kamar kapal pesiar. Setelah menenangkan diri, dia keluar kamar dengan langkah gontai dan di geladak kapal, terdengar suara sorak-sorai. Di kejauhan, cahaya lilin dan lampu terang benderang. Tamu-tamu berkumpul, termasuk wajah-wajah familiar dari markas. Semua mengelilingi dua orang di tengah, Zaki dan Sukma. Di belakang mereka, sebuah papan besar menyala terang bertuliskan “Sukma, Selamat Ulang Tahun.” Tubuh Cindi membeku. Tangannya, kakinya, semuanya terasa membeku. Tamu-tamu bersorak. Zaki memberi Sukma hadiah, mereka menyanyikan lagu ulang tahun, bersulang, tertawa bahagia. Dari kejauhan, dia melihat jelas gerakan bibir Zaki, “Buatlah permohonan. Apa pun itu, aku akan mewujudkannya.” Cindi lemas. Dia kembali ke kamar dengan susah payah, udara dingin menyerbu tubuhnya. Jadi, seperti ini rupanya. Ternyata kapal pesiar ini bukan untuk merayakan ulang tahun pernikahan, melainkan untuk ulang tahun Sukma. Zaki bahkan tega memberinya obat, hanya agar dia tidak mengganggu acara itu! Malam makin larut. Suara keramaian akhirnya mereda. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Langkah kaki itu ringan dan tidak seperti milik Zaki. Sukma masuk, membawa sepotong kue ulang tahun. “Aku tahu kamu sudah bangun. Aku lihat tadi kamu sempat keluar.” Dia meletakkan kue di meja dengan senyum tinggi hati. “Makan kuelah. Kamu pasti merasa sangat tidak enak hati sekarang, ‘kan?” Dia berharap melihat amarah atau rasa sakit di wajah Cindi. Namun, yang dia temui adalah sosok tenang dengan punggung tegak, menatapnya dengan dingin dan datar. “Bawa kuemu dan keluar.” Ekspresi Sukma berubah. Wajahnya menggelap, suaranya terdengar sinis saat berkata, “Suamimu sendiri merayakan ulang tahunku dengan mewah. Kamu nggak mengerti apa artinya?” “Kalau pun aku mengerti, lalu kenapa?” Cindi mengisyaratkan tangan untuk mengusir. Dia berkata, “Jangan ganggu aku istirahat. Urusan kalian berdua nggak ada hubungannya denganku.” “Dan kamu juga gak perlu repot-repot datang menyatakan kemenangan. Aku dan Zaki, sudah nggak ada hubungan apa pun lagi.” Sukma pun diusir dengan wajah tak senang. Cindi kembali ke tempat tidur. Dia pikir tak akan bisa tidur. Namun, mungkin efek obat masih tersisa Cindi pun segera terlelap. Dalam mimpi, ia mengingat ulang tahunnya yang pertama setelah menikah. Zaki menutup matanya, lalu membawanya ke sebuah pulau. “Pulau ini hadiah dariku untukmu. Kita akan saling mencintai selamanya, sampai laut mengering dan batu-batu ini hancur.” Air mata mengalir di pipinya, bahkan di dalam mimpi. Janji memang mudah diucapkan, tapi mencintai selamanya, sungguh sulit. Keesokan paginya, Zaki sudah menyiapkan sarapan dan setangkai mawar. Saat melihat Cindi bangun, dia tersenyum, seolah merasa sedikit bersalah. “Cindi, cuma sepotong steik dan minuman saja sudah membuatmu mabuk. Apa kamu tahu, kalau aku sempat panik?” Cindi diam. Tak bisa lagi berpura-pura. Sepulang dari kapal, dia pergi ke bagian markas dan meminta surat pernyataan ‘status lajang’. Setelah itu, dia kembali ke rumah dan hendak mengemasi barang-barang. Namun, yang bisa dia bawa sangat sedikit, karena hampir semua barang menyimpan kenangan mereka berdua. Di laci paling bawah, dia menemukan sebuah ponsel lama, yang dulu pernah dia ganti. Anehnya, ponsel itu masih bisa menyala. Saat memeriksanya, dia menemukan sebuah pesan keluar yang dikirim dari nomor ponsel itu. [Jangan ganggu aku dan Zaki lagi. Lihat kamu saja sudah bikin aku jijik.] Nomor itu dia kenal baik. Itu adalah nomor kakaknya, yang sudah beberapa tahun tak pernah dia hubungi. Hatinya langsung jatuh ke jurang es. Pesan itu, bukan darinya. Bab 5 Ayah Cindi meninggal saat dia masih kecil. Dia tumbuh besar bersama ibu dan kakaknya, saling bergantung satu sama lain. Namun, setelah ibunya meninggal dan dia menikah dengan Zaki, hubungannya dengan sang kakak mulai renggang. Lama kelamaan, kakaknya benar-benar memutuskan kontak dengannya. Kakaknya adalah seorang polisi kriminal, pekerjaan yang membuat mereka jarang bertemu. Cindi sempat meminta Zaki untuk menanyakan keberadaan kakaknya melalui instruksi markas, tapi hanya mendapatkan satu kalimat sebagai jawaban. Zaki berkata, “Kakakmu bilang … setelah Ibu meninggal, keluarga ini sudah bubar. Kita tak perlu lagi saling berhubungan.” Cindi pun membenci sikap dingin kakaknya. Dia pernah mencoba datang langsung untuk menemuinya, tapi justru ditolak dan tak bisa bertemu sama sekali. Namun kini, saat membuka ponsel, dia menemukan beberapa pesan lama dari sang kakak. [Cindi, kumohon, tolong balas telepon Kakak, ya?] [Kamu bahkan tidak datang ke hari peringatan orang tua kita? Semua karena Zaki itu?] [Aku sudah tidak menentang hubungan kalian lagi, aku menemukan beberapa informasi tentang negosiator itu. Bisa kita bertemu?] Namun, semua pesan itu dibalas dengan nada dingin dan bahkan makian. Balasan yang ternyata bukan dari dia, melainkan dari orang lain yaitu dari Zaki, atas nama Cindi. Cindi menggenggam ponsel itu dengan erat, buku jarinya memutih. Selama bertahun-tahun ini, Zaki telah menggunakan identitasnya untuk menyakiti kakaknya sendiri dan memutus ikatan darah terakhir yang dia miliki! Dengan rahang mengatup dan mata penuh amarah, Cindi bangkit, meraih kunci mobil, dan langsung pergi. Dia ingin mencari Zaki, menanyakan langsung kenapa dia melakukan semua itu!? Saat mengetahui bahwa Zaki sedang berada di rumah sakit, dia langsung meluncur ke sana. Namun, baru sampai di pintu rumah sakit, dia melihat Zaki mengangkat Sukma dan memutarnya dengan gembira. Wajah Zaki penuh senyum cerah, suaranya riang, “Aku akan jadi ayah!” Dunia seolah berhenti. Langkah Cindi terhenti, kakinya lemas. Zaki masih melanjutkan dengan semangat, “Anak laki-laki atau perempuan, aku suka dua-duanya. Aku akan lindungi kalian dengan nyawaku!” Sukma menggoda dengan manja, “Baru tiga bulan, kamu terlalu bersemangat.” Tiga bulan, tepat saat hari itu. Ketika Cindi memergoki mereka bersama. Setiap kata bagaikan pisau yang menghujam jantung Cindi. Dia tertawa pelan dengan getir. Kata-kata itu dulu pernah dia dengar juga, saat tahu bahwa dia hamil. Namun, saat itu dia kehilangan anaknya, dan Zaki hanya berkata, “Bagus juga, biar nggak bisa dipakai orang lain untuk mengancamku.” Sungguh menyedihkan. Cindi tidak melangkah maju, tidak bertanya. Dia hanya berbalik dan pergi, dengan ketenangan yang aneh. Tak perlu bertanya. Bagaimanapun, jawabannya hanyalah kebohongan. Setelah kembali, Cindi awalnya ingin langsung menghubungi kakaknya. Namun, mengingat pesan-pesan menyakitkan itu, dia khawatir sang kakak masih marah padanya. Dia lalu menghubungi seseorang dan meminta informasi tentang kakaknya. Zaki kini makin sibuk. Cindi pun sengaja menjauh darinya, hanya ingin bertemu kakaknya dan menunggu proses mutasi penugasannya selesai. Namun tiba-tiba, Sukma datang mengetuk pintunya. Dia dengan sengaja menunjukkan kalung di lehernya, sambil tersenyum angkuh dia berkata, “Kalung ini cantik, ‘kan? Kak Zaki langsung memberikannya padaku karena aku suka. Kamu nggak keberatan, ‘kan? Jangan pelit, ya!” Begitu melihat kalung itu, pupil mata Cindi mengecil, suaranya naik saat berkata, “Siapa yang menizinkan kamu menyentuh kalung itu?” Sukma makin menantang, lalu berkata dengan nada sengaja, “Kenapa? Jangan-jangan ini peninggalan ibumu yang sudah meninggal?” Suaranya makin tajam dan menyakitkan, “Omong-omong soal ibumu, sungguh nggak tepat waktu dia mati! Kalau bukan karena dia, aku nggak akan dapat catatan disiplin waktu itu.” “Kamu brengsek!” Cindi marah luar biasa, menamparnya dengan keras. “Plak!” Dengan mata memerah, dia menerjang maju, menarik kalung itu dengan marah. Dia berkata, “Kembalikan! Itu milikku!” Itu satu-satunya kenangan dari ibunya yang masih tersisa. Bagaimana kalung itu bisa berada di leher Sukma? Sukma sempat terpental karena tamparan itu, mata gelapnya bersinar penuh dendam. Cindi menggenggam kalung itu erat, seluruh tubuh gemetar. Kalung itu seharusnya berada di kotak perhiasannya. Rumah ini hanya dihuni dia dan Zaki. Tak perlu ditebak lagi siapa pelakunya. “Kamu berani memukulku?” Sukma menjerit, lalu secara tiba-tiba mendorong Cindi dari tangga. Dirinya sendiri pun terjatuh duduk di anak tangga. “Sukma!” Zaki datang tergesa dengan wajah panik, langsung memeluk Sukma. Cindi terjatuh ke belakang, merasakan sakit luar biasa di pelipisnya, darah hangat mengalir di wajahnya. Ia tetap menggenggam kalung itu erat-erat, dengan tangan gemetar, ia menelepon polisi. “Saya mau melapor. Ada yang berusaha membunuh saya.” Zaki menatapnya tak percaya, lalu berteriak marah, “Apa yang kamu lakukan? Kamu mau menghancurkan hidup Sukma?” Bab 6 Cindi menatap Zaki dengan tatapan dingin, tatapannya seolah sedang melihat orang asing yang tak bisa dia kenali. “Zaki, dia yang mendorongku jatuh.” Saat ini, seluruh tubuhnya terasa nyeri, pandangannya pun berputar-putar, tetapi rasa sakit di dadanya justru membuatnya tetap terjaga. Baru saat itu Zaki tampak menyadari luka-luka di kepala Cindi yang berdarah parah. Wajahnya langsung panik. “Cindi, kamu nggak apa-apa, ‘kan?” Cindi memalingkan wajah, tidak menjawab. Dia hanya tenang melaporkan lokasi kejadian pada polisi, lalu menutup telepon. Wajah Zaki pun makin suram. “Sukma nggak sengaja melakukannya. Kalau dia sampai punya catatan kriminal, bagaimana dia bisa bertahan di markas?” Cindi menatapnya dengan penuh kekecewaan. “Jadi aku memang pantas menderita, begitu?” Zaki tidak bisa menjawab. Sukma sudah lebih dulu gemetar dan berlari ke pelukannya sambil menangis, “Kak Zaki … perutku … sakit sekali .…” Ekspresi Zaki langsung berubah. Dia mengangkat Sukma dan berjalan cepat keluar ruangan. Cindi hanya bisa menatap punggung mereka menjauh, rasa putus asa perlahan menelannya. Suara sirene polisi akhirnya terdengar. Dia dibawa ke rumah sakit untuk dirawat, lalu polisi datang untuk mencatat keterangan. Hingga akhirnya dua petugas menutup buku catatan mereka, memandangnya dengan ekspresi rumit. “Nona Cindi, kami minta maaf. Rekaman CCTV di lorong rusak secara tidak sengaja. Dan satu-satunya saksi, yaitu suami Anda, menyatakan bahwa ini adalah kecelakaan, bukan serangan sengaja.” “Rusak secara tidak sengaja?” Suara Cindi terdengar kering saat mengulang perkataan itu. “Kebetulan sekali, ya?” Polisi tetap menjawab secara prosedural, “Bukti tidak cukup, dan karena ada jaminan dari suami Anda, Nona Sukma tidak akan ditahan.” Cindi ingin tertawa mengejek, tetapi seluruh tubuhnya terlalu sakit. “Dia bukan suamiku,” ucapnya satu per satu, seolah kata-kata itu dipaksakan keluar dari mulutnya. “Dia adalah kaki tangan pelaku. Aku menuntut kasus ini dibuka kembali untuk penyelidikan!” Kedua polisi itu saling memandang dengan heran, hanya berjanji akan menyelidiki lebih lanjut sebelum pergi. Tak lama kemudian, Zaki masuk ke ruang rawat inap. Dia membawa semangkuk bubur, berkata dengan nada lembut, “Kamu pasti lapar, makan dulu sedikit.” Cindi memandangnya, tubuhnya gemetar karena merinding, seolah sedang melihat sosok yang sama sekali asing. “Kamu menghapus rekaman CCTV.” Nada bicaranya tegas dan melanjutkan, “Kamu melindungi Sukma.” Zaki terdiam sesaat, ekspresinya berubah sedih. “Cindi, dia nggak sengaja melakukannya. Dia baru saja kembali dari luar negeri, ini masa penting bagi kariernya, dia nggak boleh punya catatan kriminal.” “Dulu kamu pernah bilang akan selalu menjunjung tinggi profesimu, setia pada negara.” “Tapi sekarang, kamu melindungi seorang penjahat!” Suara Cindi mulai bergetar. Zaki tiba-tiba membentak, “Tapi kenapa kamu harus memprovokasinya? Kenapa kamu nggak bisa akur dengannya?” Tubuh Cindi mulai bergetar. Dia mengambil gelas air di meja dan melemparkannya ke arah Zaki sambil berteriak, “Itu kalung peninggalan ibuku! Kenapa ada di tubuhnya? Kenapa kamu memberikannya padanya?” “Zaki, dia yang mulai menyerangku lebih dulu!” Gelas itu pecah di lantai menjadi serpihan. Zaki melangkah mundur, menatapnya dengan pandangan rumit. “Kamu perlu menenangkan diri, aku akan menggantinya. Sampai di sini saja soal ini.” Lalu dia berbalik dan meninggalkan ruangan. Kamar rawat kembali sunyi. Cindi terengah-engah, tidak bisa menenangkan diri. Dia tahu, dengan koneksi Zaki di dalam markas, kasus ini pasti akan ditutup begitu saja. Dia telah mengkhianatinya. Bahkan mengkhianati profesinya sendiri. Atau mungkin, dia memang sejak awal adalah orang yang busuk, hanya saja selama ini Cindi telah tertipu. Saat itu juga, ponselnya tiba-tiba berdering nyaring. Perasaan gelisah menyergap dadanya, dia sampai menjatuhkan ponsel beberapa kali sebelum berhasil menjawab. Lalu suara dari seberang pun terdengar, “Kami menemukan kabar tentang kakakmu. Tapi keadaannya, tidak begitu baik.” Bab 7 Cindi butuh waktu lama untuk bisa bersuara. “Kenapa bisa begini?” Pandangannya menggelap berulang kali, dia hanya bisa menangkap potongan-potongan kalimat yang terdengar putus-putus. “Sebuah misi berbahaya, dia terluka parah. Kakakmu bilang, jangan temui dia dulu.” Cindi menggigit bibir erat-erat, setiap kata seakan berdarah. “Kenapa?” Di seberang, suara itu terdiam cukup lama, baru kemudian menjawab pelan, “Kakakmu pasti punya pertimbangannya sendiri. Cindi, tenanglah. Sebelum kamu dipindahtugaskan, markas akan mengatur semua hal antara kamu dan kakakmu. Malam ini akan ada orang yang menjemputmu, mohon bersiap.” Cindi menutup matanya. Setelah beberapa saat, dia menjawab dengan suara serak, “Baik.” Rasa sakit itu seperti menggiling syarafnya. Dia seolah kembali pingsan dan mulai teringat akan kenangan lama. Setelah bersama Zaki, kakaknya tidak mendukung hubungan mereka. Namun, Zaki pernah berlutut di hadapan kakak Cindi dan bersumpah, “Aku akan mencintai Cindi dengan nyawaku sendiri dan akan memberikan seluruh kebahagiaanku untuknya.” Sang kakak pernah berkata bahwa sebagai polisi kriminal yang sudah bertahun-tahun di lapangan, dia punya naluri tajam terhadap seseorang. Zaki membuatnya merasa tidak nyaman. Tapi pada saat itu, Cindi mengira itu hanya karena kakaknya punya trauma terhadap profesi negosiator, akibat kejadian yang melibatkan ibu mereka. Cindi mencoba memperbaiki hubungan antara kakaknya dan Zaki, tapi belum berhasil, dan kakaknya tiba-tiba memutuskan hubungan dengannya. Cindi terbangun dalam kebingungan, air mata telah membasahi seluruh wajahnya. Setelah sadar, pikirannya langsung tertuju pada pertanyaan kenapa Zaki berusaha memutuskan hubungannya dengan kakaknya? Apa karena kakaknya menemukan sesuatu tentang Sukma? Cindi tak sempat berpikir lebih jauh, yang dia inginkan hanyalah bertemu kakaknya sebelum dipindahkan, atau bahkan membawa sang kakak pergi bersamanya. Cindi tak ingin membuang waktu. Dengan tergesa, dia pulang ke rumah, berniat mengambil barang dan pergi. Tapi di luar dugaannya, Zaki justru ada di sana. Padahal mereka baru saja bertengkar hebat, tapi kini raut wajah Zaki tetap terlihat tenang, bahkan sempurna. "Cindi, kamu sudah pulang. Mari kita bicara baik-baik." Cindi menghindar, suaranya terdengar dingin, “Nggak ada yang perlu dibicarakan di antara kita.” "Kenapa kamu nggak bisa mendengarkan penjelasanku? Dulu kamu nggak seperti ini!" Cindi tertawa acuh tak acuh. Kepalanya masih dibalut perban, sorot matanya mati rasa dan tenang. "Mendengarkan apa? Dengarkan penjelasanmu bahwa meskipun kalian nggak ada hubungan apa-apa, tapi dia mengandung anakmu?" Mata Zaki langsung membesar, dia melangkah maju sambil berkata, "Itu nggak seperti yang kamu pikirkan! Itu hanya sebuah kecelakaan ...." "Kecelakaan atau bukan, itu sudah nggak penting." Suara Cindi dipenuhi kelelahan. Dia berkata pelan, “Zaki, mari kita berpisah. Lagi pula ....” "Aku nggak setuju!" Zaki tiba-tiba berteriak marah. "Kamulah yang memaksaku!" Sebelum Cindi sempat bereaksi, Zaki mengeluarkan botol kecil dari sakunya, lalu menyemprotkan cairan ke wajah Cindi. Aroma menyengat langsung menusuk hidung. Cindi segera menahan napas, tapi sudah terlambat. Tubuhnya melemas, jatuh ke pelukan Zaki. “Aku nggak akan menerima perpisahan ini! Cindi, tanpa kamu, aku akan mati!” Zaki menggeram pelan, lalu menggendong Cindi dan pergi dengan cepat. Dalam keadaan setengah sadar, Cindi samar-samar mendengar suara di luar. Tapi kelopak matanya sangat berat. Tak peduli sekuat apa dia mencoba, Cindi tidak bisa membuka matanya. Dia mendengar Zaki membawanya ke dalam mobil. Setelah waktu cukup lama berlalu, mobil berhenti, dan terdengar Zaki berbicara dengan seseorang. “Aku nggak menyangka Cindi begitu kejam, bahkan ingin menggugurkan anak yang dikandung Sukma. Aku harus memisahkan mereka.” “Pulau itu jauh, dia akan terombang-ambing di laut berhari-hari. Sama saja seperti dipenjara.” “Dia ingin memasukkan Sukma ke penjara, maka dia juga harus merasakan seperti apa rasanya dipenjara.” “Kak Zaki, terima kasih sudah membalaskan dendamku.” Cindi mencium bau asin dari angin laut. dia diletakkan di atas kapal yang bergoyang, dan tak lama kemudian, kapal pun berangkat meninggalkan pantai. Suara ombak makin keras. Lalu dia mendengar suara rendah Zaki, “Cindi, tunggu aku. Aku akan menjemputmu kembali.” Cindi terbaring di sana, hatinya sama dinginnya dengan geladak kapal. Dia menggigit lidahnya, rasa sakit menyentaknya untuk membuka mata. Darah pun mengalir. Zaki, kamu tidak akan sempat menjemputku. “Telah mengirim permintaan ke markas, koordinat sudah dipastikan.” Sebuah helikopter terbang diam-diam meninggalkan permukaan laut. Di tepi pantai, Zaki berdiri lama, menatap ke arah perahu kecil yang menghilang di dalam kegelapan. Tenggorokannya terasa pahit, hatinya seperti kosong sebagian. Di sampingnya, Sukma menggenggam tangannya. “Kak Zaki, ayo kita pergi .…” Belum selesai kalimat itu terucap, terdengar suara, “Boom!” Sebuah ledakan besar menerangi laut. Ombak raksasa menyembur ke udara. Zaki menatap tak percaya, matanya memerah, suaranya melengking penuh rasa putus asa, “Cindi!” Perahu di laut itu telah hancur menjadi abu.