Tak Lagi Berharap

Đang tải thông tin quảng bá...

Tak Lagi Berharap

GoodNovel Hoàn thành

Saat berusia tujuh belas tahun, seseorang menusuk rahimku dengan pisau, membuatku tidak bisa mengandung seumur hidup. Dulu suamiku bersumpah akan mencintaiku selamanya, tetapi saat pernikahan kami men...

Chương (1)

第1章

Saat berusia tujuh belas tahun, seseorang menusuk rahimku dengan pisau, membuatku tidak bisa mengandung seumur hidup. Dulu suamiku bersumpah akan mencintaiku selamanya, tetapi saat pernikahan kami menginjak usia lima tahun, dia malah berselingkuh dengan wanita yang dulu menghancurkan hidupku dan memiliki anak dengannya. Kini, dia memaksaku bercerai demi memberikan posisiku pada wanita itu. Bab 1 Saat dokter ke-99 menegaskan bahwa aku tidak akan pernah bisa hamil seumur hidup, suamiku meninggalkanku tanpa ragu. Aku mengejarnya sampai ke kantornya. Dari balik pintu, aku mendengar suara orang berhubungan intim. "Vio, lahirkan anak untukku dan jadi istriku, ya?" Tanganku yang hendak mengetuk pintu, terkulai lemas begitu mendengar kalimat Rendra itu. Setiba di rumah, aku menurunkan semua foto pernikahan kami. Pandanganku tanpa sengaja jatuh pada sebuah buku harian suamiku yang sudah lama tidak pernah disentuhnya. Aku yang penuh amarah, menulis empat kata di atasnya: [Rendra, hubungan kita berakhir!] Tiba-tiba, muncul kalimat lain tepat di bawah tulisanku: [Siapa kamu? Kenapa kamu menulis di buku harianku?] Aku terlalu dikuasai emosi, sampai lupa takut. Aku pun membalas: [Aku Citra. Karena kamu nggak mencintaiku.] … Huruf demi huruf meloncat keluar: [Kamu Citra?] [Nggak mungkin. Sebenarnya kamu siapa?] [Kenapa kamu bisa muncul di buku harianku?] Tiga pertanyaan muncul berturut-turut. Aku terkejut, lalu spontan melemparkan buku itu. Dua menit kemudian, aku menggapai kembali buku itu setelah tenang. Aku menatap tulisan di atas, lalu membalas: [Ini buku harianmu? Siapa kamu?] Jawabannya muncul: [Aku Rendra.] Dua kata itu tertulis rapi. Tanganku sontak bergetar. Apakah penulis itu Rendra di usia tujuh belas? Sebelum aku mencerna situasi ini, barisan kalimat lain pun muncul. Orang di sana bertanya dengan gelisah: [Kamu belum menjawabku! Sebenarnya siapa kamu?] Aku buru-buru menjawab di bawah: [Aku Citra di usia tiga puluh.] Lalu kutambahkan: [Kamu akan mengkhianatiku di masa depan. Jadi, kamu di usia tujuh belas tolong jangan mendekatiku.] Tidak ada balasan lagi di buku harian itu. Sampai sepuluh detik kemudian, ujung pena bergerak bagai torehan pisau yang menyobek kertas. Dua kata muncul di atasnya: [Nggak mungkin!] Aku seakan bisa melihat sosok Rendra di usia tujuh belas yang tampak marah, dan mengulang sumpah yang akan dia ingkar di masa depan. Cinta Rendra di saat itu sangat murni dan penuh tekad kuat. Dia tentu tidak bisa membayangkan bahwa dirinya akan menjadi sekejam dan sedingin itu di usia tiga puluh. Ketika aku hendak membalas, pintu rumah tiba-tiba terbuka. Angin malam masuk, meniup halaman buku hingga terbalik. Aku menutup buku harian itu. Rendra yang berusia tiga puluh tahun masuk dan sibuk mengobrak-abrik laci. Dulu, setiap kali dia pulang, dia akan memelukku dari belakang dan mengecup lembut rambutku seperti seekor kucing. Setiap kali aku menghindarinya, dia akan mendekat, lalu membisikkan kata-kata yang membuatku tersipu. Namun, dia yang sekarang bahkan enggan memandangku lebih dari setengah detik. Setelah hampir sepuluh menit mencari, dia masih tidak menemukan barang yang diinginkan. Dia lalu bertanya dengan nada jengkel. "Apa kamu melihat pusaka Keluarga Baskara?" tanya Rendra. "Anak dalam kandungan Vio itu anak laki-laki. Pusaka keluarga selalu diwariskan pada putra sulung," lanjut Rendra. Hatiku merasa sakit. Aku masih ingat, di hari pernikahan kami, Rendra menyerahkan pusaka itu ke tanganku di hadapan semua tamu dan memintaku untuk menyimpannya. Saat itu, adik laki-laki Rendra sangat tidak puas. Dia berkata, "Kak, pusaka keluarga harus diwariskan ke setiap generasi. Semua orang tahu kakak ipar nggak bisa mengandung, gimana bisa dia menerima pusaka Keluarga Baskara?" Sejak kecelakaan tiga belas tahun lalu, tubuhku terluka dan aku tidak bisa mengandung. Tidak ada yang berani membicarakan hal ini di depan Rendra, tetapi tidak disangka, adiknya malah mengatakannya di depan para tamu saat pernikahan mereka. Suasana di tempat berubah canggung. Tatapan semua orang berfokus padaku. Rendra menggenggam erat tanganku, menampar adiknya, lalu berkata dengan tegas, "Meski Citra nggak bisa melahirkan, tetap hanya dia yang layak menjaga pusaka Keluarga Baskara!" Saat itu, aku bersyukur telah menikahi pria yang tepat. Selama lima tahun ini, aku selalu menjaga pusaka itu dengan hati-hati. Namun, sekarang dia malah mengingkari janji sendiri. Aku membuka laci di hadapanku, lalu mengeluarkan sebuah giok bertuliskan Sehat Selalu. Rendra segera merebutnya dan tersenyum puas. "Akhirnya ketemu. Kalau Vio memakai ini, dia dan anakku pasti akan sehat selalu," ujar Rendra. Baru setelah itu, dia menatapku sejenak. Rasa dingin di matanya tidak disembunyikan sama sekali. "Pusaka ini memang seharusnya diwariskan turun-temurun. Kini Vio mengandung anakku, jadi pusaka ini harus diberi ke dia," ucap Rendra. "Aku pergi dulu, aku mau menemui Vio. Setelah itu, aku akan pulang dan merayakan peringatan pernikahan kita bersamamu," lanjut Rendra. Setiba di pintu, langkahnya tiba-tiba berhenti. Dia menoleh kepadaku dengan tatapan iba. "Tenang saja. Meski Vio melahirkan anak laki-laki, kamu tetap istriku," ujar Rendra. Memberi sayang setelah menyakitiku adalah kebiasaan Rendra dalam beberapa tahun terakhir. Aku hanya bisa tersenyum kecut, menatap dia pergi dengan senang Dia bilang aku istrinya, tetapi dia malah memiliki anak dengan wanita lain. Aku kembali membuka buku harian. Di sana, muncul kalimat baru: [Karena menunggu jawabanmu terlalu lama, aku kehilangan posisi di belakangnya.] Aku segera mengambil foto kelulusan kami dan menemukan bahwa posisi Rendra di usia tujuh belas dalam foto itu benar-benar telah berubah. Aku menatap buku harian itu dengan kejut. Jari-jariku bergetar hebat. Apakah Rendra yang menulis buku harian itu benar-benar bisa mengubah masa depan? Bab 2 Sebelum sempat aku mencerna, sebaris kalimat baru muncul di atas buku harian itu lagi: [Kalau kamu benar-benar Citra, coba beri tahu di foto kelulusan itu, aku berdiri di posisi mana?] Aku segera membalas: [Kamu berdiri tepat di belakang Viona.] Tidak ada balasan lagi di buku harian itu. Satu menit berlalu tanpa jawaban. Aku pun menggenggam pena erat-erat, menuliskan kalimat lain. [Rendra, kumohon pergilah dari hidupku.] [Kenapa? Kalau kamu benar-benar Citra, memangnya kamu nggak tahu aku menyukaimu?] Tanda tanya di ujung kalimat itu digoreskan begitu kuat hingga menembus kertas. Aku membalas: [Suka? Karena rasa sukamu itulah, sehari setelah foto kelulusan, aku ditusuk oleh orang utusan Viona. Rahimku terluka, aku nggak bisa mengandung seumur hidup!] [Tapi di usia tiga puluh, kamu malah membuat Viona mengandung anakmu!] Setiap aku menulis satu kata, kenangan lama kembali menyayat benakku. Aku pernah mencoba melupakan kenangan ini, tetapi di setiap malam-malam panjang, ingatan itu selalu menggangguku hingga aku tidak bisa tidur. Masa lalu itu telah menjadi mimpi buruk yang tidak pernah bisa kulupakan. Tiga belas tahun lalu, Viona meminta Rendra berdiri di belakangnya saat foto kelulusan. Namun, Rendra menolak. Dia memilih berdiri di belakangku. Dia bilang tidak hanya saat itu, tetapi kelak saat foto pernikahan kami, dia juga akan berdampingan denganku. Kalimat sederhana itu membuatku tersipu. Keesokan harinya, Viona yang cemburu menyuruh sekelompok preman menghadangku di gang sempit. Rendra datang terlambat. Saat melihatku yang sudah berlumuran darah, dia menangis histeris karena ketakutan. Dia menggendongku berlari ke rumah sakit seperti orang gila. Matanya merah, dia terus memohon kepada dokter untuk menyelamatkanku. Sayangnya, semuanya sudah terlambat. Rahimku rusak parah, aku tidak akan bisa mengandung selamanya. Rendra memelukku sambil menangis. Dia bersumpah akan mencintaiku seumur hidup dan tidak akan pernah membiarkanku terluka lagi. Namun, aku tidak menyangka dia justru berselingkuh dengan Viona yang menghancurkan hidupku. Bahkan, memiliki anak dengannya. [Rendra, berjanjilah padaku. Kalau kamu benar-benar menyukaiku, pergilah dari hidupku.] [Makin jauh, makin baik! Janji, ya?] [Anggap saja ini permohonanku.] Setelah menunggu lama dan masih tidak mendapat balasan, aku memeluk buku harian itu sambil meringkuk di lantai hingga akhirnya tertidur. Dalam mimpi, aku melihat Rendra yang berusia tujuh belas berlari panik di gang gelap. Dia tampak panik dan cemas Saat itu juga, aku tiba-tiba terbangun karena kedinginan. Kulihat malam sudah larut. Rendra di usia tiga puluh tidak pulang sepanjang malam, bahkan tidak ada satu pun telepon atau pesan darinya. Sementara itu, status WhatsApp Viona diperbarui setiap sepuluh menit. Total sudah ada tiga puluh status yang diunggah. Status pertama adalah video Rendra mengenakan pusaka Keluarga Baskara ke lehernya. Status kedua adalah Rendra yang meniup sup ayam untuk Viona, kemudian menyuapnya. Status ketiga adalah Rendra sedang menyandarkan kepalanya ke perut Viona untuk mendengar gerakan janin. Wajahnya tampak bahagia sekali. … Di bawah setiap unggahan status itu, dipenuhi tombol suka dan ucapan selamat dari teman-teman mereka. [Selamat Pak Rendra telah menjadi ayah baru.] [Sudah kubilang Rendra nggak akan terus menunggu Citra yang nggak bisa mengandung itu. Dulu kalian masih nggak percaya padaku.] [Citra mana pantas jadi istri Pak Rendra? Viona dan Pak Rendra baru pasangan yang serasi.] Rendra memberi tanda suka di setiap unggahan. Mungkin dia juga berpikir begitu. Setelah berhenti melihat status WhatsApp, aku berbaring di atas sofa. Kepalaku terasa pusing, dan akhirnya aku tertidur. Di dalam mimpi, Rendra di usia tujuh belas akhirnya berhasil keluar dari gang. Dia melihatku digebuk oleh segerombolan preman. Viona di usia tujuh belas mengeluarkan sebuah pisau, kemudian menghunuskan pisau ke perutku. "Citra!" teriak Rendra. Sesaat kemudian, Rendra berlari maju dengan mata yang merah. Targetnya adalah pemimpin preman itu. Tangannya meraih batu bata, lalu menghantamkan batu itu berkali-kali ke kepala pemimpin preman. Preman lainnya maju dan menusuk Rendra berkali-kali. Rendra tidak peduli, dia menggenggam erat batu bata di tangannya yang berlumuran darah. Dengan sisa tenaga, dia menghantam batu itu ke kepala pemimpin preman hingga kepalanya bocor, lalu berteriak kepada preman lainnya dengan wajah bengis. "Kalau kalian nggak takut mati, ayo maju ke sini!" teriak Rendra. Para preman terkejut oleh aura nekatnya, mereka kabur terbirit-birit. Setelah mereka menghilang dari gang, Rendra akhirnya tidak tahan lagi dan jatuh di depanku. Kami bertatapan, matanya penuh tekad. Dia tersenyum dengan bangga sambil berkata, "Citra, sudah kubilang aku akan melindungimu dan aku menepatinya." Aku berteriak, "Rendra! Aku nggak butuh perlindunganmu!" "Pergilah dari hidupku!" Aku meneriaki namanya. Saat aku terbangun, air mata telah membasahi wajahku. Aku duduk di sofa dan menarik napas dengan buru-buru. Tubuhku gemetar, entah karena dingin atau ketakutan. Aku menunduk, melihat buku harian di pelukanku. Pikiranku agak kacau, aku tidak bisa membedakan apakah itu mimpi atau ingatan dari kenyataan yang telah terjadi. Kutarik bajuku dan meraba perutku dengan kedua tangan. Seketika tubuhku menjadi kaku. Bab 3 Bekas luka yang menemaniku selama tiga belas tahun tiba-tiba hilang. Air mataku langsung mengalir. Kubuka kembali buku harian itu. Di sana muncul kalimat baru, tulisannya miring dan tidak teratur, seolah-olah penulisnya tidak bertenaga. [Citra, aku berhasil menyelamatkanmu.] Setelah emosiku tenang, aku pun membalas. [Itu memang seharusnya kamu lakukan.] Kalau bukan karena rasa sukanya. Kalau bukan karena cinta yang kelak akan dia khianati. Aku tidak akan pernah diserang oleh Viona sampai akhirnya kehilangan organ terpenting seorang wanita. Rendra di usia tiga puluh malah memiliki anak dengan wanita yang menghancurkanku dan menyakitiku sekali lagi. Tulisan baru kembali muncul di buku harian itu. Tulisannya kurang jelas, seakan ditulis dengan penuh kesakitan. [Citra, ada hal lain yang bisa kulakukan untukmu?] Saat Rendra di usia tujuh belas menuliskan tanda tanya, aku segera membalas: [Sudah kubilang, pergilah dari hidupku.] [Menghilanglah dari pandanganku. Jangan jadikan cintamu saat ini sebagai pisau yang akan melukaiku di masa depan.] Dulu, saat semua orang menertawakanku karena tidak bisa mengandung, hanya Rendra yang menggenggam tanganku erat-erat, lalu berdiri di depanku, dan melindungiku dari semua cemoohan itu. Sebab cintanya, aku tidak lagi takut pada hinaan apa pun. Namun, ketika akhirnya dia melepaskan tanganku, lalu berdiri bersama mereka yang menghujatku, aku pun hancur seketika. Aku merasa putus asa, bahkan sempat ingin mengakhiri hidupku. Bisa dibilang, sebesar apa cintanya padaku dulu, sebesar itulah sakit yang aku rasakan. Rasa sakit itu bahkan jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau yang merusak rahimku. Hatiku yang telah dia sakiti tidak akan bisa kembali seperti dulu. Aku mendengar suara pena menggores kertas dengan kuat. Setiap huruf itu ditekan dengan kuat hingga hampir menembus lembaran kertas. [Itu nggak mungkin!] [Citra, kamu tahu nggak? Setiap kali pulang sekolah, kamu selalu berdiri di tiang ketiga dekat kelas sambil mendengarkan musik. Aku selalu sengaja menempuh jalan yang lima menit lebih lama, hanya untuk melihatmu sekali saja. Bisa melihatmu saja, aku sudah merasa bahagia.] [Pernah suatu kali, aku dengar kamu sakit demam saat jam olahraga. Aku panik, lalu kabur keluar sekolah hanya untuk membeli obat untukmu. Aku nggak sanggup membiarkanmu menderita sedetik pun.] [Dan .…] Aku menyelanya: [Aku tahu. Semua itu aku tahu.] [Pernah suatu saat aku datang bulan, kamu dengan wajah merah membelikan pembalut untukku.] [Saat kamu tahu aku diganggu preman sekolah, kamu langsung menemui preman itu. Seminggu penuh kalian berdua menghilang. Saat dia muncul kembali, dia pincang karena kakinya patah dan terpaksa pindah sekolah, sedangkan kamu masuk rumah sakit karena kepalamu luka dan harus dirawat selama seminggu.] Tidak ada balasan di buku harian itu hampir sepuluh detik. Setelah itu, muncul balasan lagi: [Kamu tahu semua itu? Gimana kamu bisa tahu?] [Kalau begitu, kenapa kamu bilang aku akan mengkhianatimu?] Rendra tidak menulis, tetapi aku tahu dia pasti sedang bergumam, 'Aku begitu mencintaimu, mana mungkin aku akan mengkhianatimu?' Aku bisa membayangkan raut wajah Rendra di usia tujuh belas yang terkejut, bingung, dan tidak percaya. [Aku tahu semua ini karena dirimu di masa depan sudah menceritakan semuanya. Kamu yang berusia tiga puluh tahun juga bilang kamu menyesal sudah melakukan semua ini.] Rendra pernah bilang seharusnya dulu dia tidak menikahi wanita mandul seperti aku. Sebab menikahiku, dia menjalani lima tahun dengan penuh rasa malu. Dia juga bilang seharusnya dia biarkan saja preman itu terus menggangguku. Terlalu cepat menolongku membuatku lupa berterima kasih dan malah berani melawannya. Dia selalu menyombongkan pengorbanannya, lalu berbuat sesuka hati dalam pernikahan kami, sampai akhirnya dia memiliki anak dengan selingkuhan itu sekarang. Air mataku jatuh di atas halaman buku harian. Tulisannya menjadi buram. Aku khawatir akan merusak buku harian itu dan gagal mengubah masa lalu, jadi aku buru-buru mengusapnya. Namun, karena diusap terlalu keras, kertas itu robek dan terbelah menjadi dua. Saat ketakutan, aku tiba-tiba melihat tempat aku berada berubah menjadi sebuah ruang rawat rumah sakit. Di depanku ada seorang pemuda berusia tujuh belas tahun dengan perut berbalut perban tebal. Wajahnya pucat, alisnya berkerut menahan sakit. Rendra di usia tujuh belas menggenggam perban yang berlumuran darah dengan satu tangan, sementara tangan lain menulis dengan susah payah sambil bergumam keras. [Citra, tenang saja. Aku akan melindungimu, aku nggak akan pernah menyakitimu.] Ekspresinya begitu serius seolah sedang melakukan hal terpenting dalam hidupnya. Saat menulis itu, Rendra seperti menyadari keberadaanku. Tiba-tiba tangannya berhenti, lalu mendongak dan bertatapan denganku. "Citra?" tanya Rendra. Tatapannya jernihnya yang sudah lama hilang dari ingatanku, kini muncul kembali di hadapanku. Bibirnya yang agak kering hendak mengucapkan sesuatu, tetapi tiba-tiba suara dering telepon yang mendesak berbunyi nyaring. Aku melihat lagi ke sekeliling, kini aku kembali berada di rumah yang berantakan. Itu karena Rendra di usia tiga puluh. Nada dering tajam menusuk telinga. Rendra di usia tiga puluh meneleponku, dia memberi perintah, "Cepat datang ke kafe depan kantor. Aku dan Vio mau bicara langsung denganmu." Pada saat yang sama, muncul kalimat baru di buku harian. [Percaya padaku, ya? Aku nggak akan pernah begitu.] [Aku sangat menyukaimu sampai nyawaku pun bisa kuserahkan kalau kamu mau.] Remaja yang sedang jatuh cinta selalu mengira sumpah manis adalah bunga mawar terindah. Seolah bunga itu tidak akan pernah layu selama diberikan kepada orang yang dicinta. Aku menggenggam erat pena di tangan, lalu menunduk. Baiklah. Kalau kamu masih tidak percaya, biarlah dirimu di usia tiga puluh yang memberitahumu sendiri. Bab 4 Setiba di kafe, aku melihat Rendra sedang menyuapi tar telur ke mulut Viona. Saat Viona melihatku, dia tersenyum seolah menantang. "Citra, lihatlah Rendra yang keras kepala ini, dia terus mau menyuapku," kata Viona. "Awalnya aku mau pergi menemuimu sendiri, tapi sejak hamil, aku sulit bergerak. Jadi Rendra memintamu yang datang," lanjut Viona. Dia menambahkan lagi, "Ah, maaf ya, aku lupa kamu nggak pernah hamil, jadi mungkin kamu nggak tahu betapa sulitnya mengandung itu." Aku yang dulu pasti akan marah saat mendengar kalimat seperti itu. Namun, aku tidak lagi menghiraukannya sekarang. Aku menoleh ke Rendra, lalu bertanya dengan datar, "Ada urusan apa?" Rendra menyuapkan tar telur terakhir ke mulut Viona, lalu mengusap sudut bibirnya dengan lembut. Tatapannya penuh kasih sayang. Namun, ketika menoleh padaku, tatapan itu langsung berubah dingin. "Citra, mari kita bercerai," ujar Rendra. "Anak di kandungan Vio akan segera lahir. Sebagai ayah, aku nggak bisa membiarkan dia diejek oleh orang-orang," lanjut Rendra. Dia mencibir, lalu menambahkan, "Lagi pula, kamu juga nggak bisa mengan …." Saat mengatakan itu, Rendra mendadak meremas dahinya seolah ada sesuatu yang memasuki otaknya. Dia menarik napas dengan ekspresi kesakitan. Dia menggeleng, lalu bertanya dengan ekspresi heran, "Nggak bisa mengandung? Kenapa aku berkata seperti itu?" Melihat reaksinya, aku langsung tahu alasannya. Setelah Rendra di usia tujuh belas menyelamatkanku, tubuhku menjadi tetap utuh dan kemampuan mengandungku pun pulih. Ingatan ini muncul juga di kepala Rendra di usia tiga puluh. Namun, ekspresi Rendra segera kembali penuh tekad. Dia mendongak, kembali menatapku dengan tatapan dingin dan asing. "Citra, kamu nggak sebanding dengan Viona. Kita bercerai saja," ujar Rendra. Aku mendengar dia menegaskan kalimat itu lagi. Meskipun tanganku ini masih menggenggam cangkir kopi panas, hatiku terasa dingin. Lihatlah, orang yang ingin pergi, tidak pernah kekurangan alasan. Satu hilang, dia akan selalu punya yang lain. "Baik. Kita akan bercerai, tapi aku ada satu syarat," ucapku. Aku mendorong buku harian ke hadapannya, lalu menunduk dan berkata dengan suara rendah, "Kamu harus tulis 'Rendra nggak mencintai Citra' di sini dengan tanganmu sendiri." Rendra melihat buku harian itu, lalu menatapku dengan sinis dan heran. "Jadi kamu mau menahanku dengan cara ini?" tanya Rendra. "Citra, apa kamu terlalu banyak menonton drama? Siapa yang nggak pernah buat janji manis waktu remaja? Semua janji itu Cuma omong kosong. Aku bilang itu cuma untuk membodohimu. Kamu benar-benar percaya? Konyol sekali," lanjut Rendra. Aku tersenyum kecut. Aku mengetuk pelan buku harian itu dengan jari, lalu berkata, "Kalau begitu, tulis saja di atasnya." Rendra terkejut. Dia ragu sejenak, lalu mengangkat pena dan menulis empat kata: [Rendra nggak mencintai Citra.] Setelah menulis, dia menatapku dengan kejam. "Kalau kamu belum puas, aku bisa menulisnya dua kali lagi," ucap Rendra. Sebelum aku menjawab, dia menuliskan kalimat yang sama lagi. Aku menatap buku harian itu, tidak ada yang muncul di sana. Namun, aku tahu remaja di sana pasti bisa melihatnya. Aku mengangkat pena, lalu menandatangani surat cerai yang sudah disiapkan dengan tanpa ragu. Setelah itu, aku bangkit dan hendak pergi. Namun, Viona tiba-tiba menahanku, "Citra, tunggu. Aku mau bicara denganmu." Viona pun meminta Rendra keluar membeli makanan dengan alasan bayi dalam kandungannya lapar. Rendra mengangguk dengan lembut, lalu menatapku dengan tajam seolah ingin memperingatkanku, kemudian pergi. Viona tiba-tiba merebut buku harian itu, membacanya, lalu mencibir, "Ini buku harian Rendra, ya? Kudengar dulu dia sering menulis betapa dia menyukaimu di sini. Sayang sekali ya …." "Memangnya kenapa kalau dia dulu menyukaimu? Kalau dia menyukaimu selama ini, aku nggak mungkin ada di sini, 'kan?" "Kamu tahu betapa tergila-gilanya dia padaku? Di setiap ulang tahunmu, setiap peringatan pernikahan kalian, dia selalu datang padaku setelah tidur bersamamu." "Permintaannya banyak sekali, kami menghabiskan banyak kondom setiap kali berhubungan. Kakiku bahkan lemas keesokan harinya. Kami pernah berhubungan di Maybach-nya, di kantornya, bahkan di kamar kalian." Aku hampir ingin memukul Viona. Namun, sesaat kemudian, dia tiba-tiba berbaring ke lantai dan menjerit kesakitan. Jeritannya sangat keras, membuat Rendra buru-buru berlari kemari. Melihat Viona terbaring di lantai, dia bertanya dengan cemas, "Ada apa ini? Apa yang terjadi?" Viona pura-pura menangis sambil berkata, "Ini semua salahku, aku merebut posisi Citra sebagai istrimu, jadi dia nggak sengaja mendorongku." "Rendra, jangan salahkan dia." Rendra melotot padaku dengan mata merah. Aku hendak menjelaskan, tetapi tangannya tiba-tiba mencekik leherku. Dia berkata dengan tatapan penuh benci, "Kalau aku tahu kamu sekejam ini, aku nggak akan menghadang pisau itu untukmu! Seharusnya kubiarkan kamu mati saat itu!" Aku tersenyum kecut mendengarnya. Rendra, lihatlah dirimu. Meskipun aku sudah bilang padamu, kamu tetap saja menyakitiku dengan hal yang sama. Kamu memang tidak pernah berubah. "Rendra, kamu menjijikkan sekali," ucapku. Buku harian di tanganku jatuh di hadapan Rendra. Rendra di usia tiga puluh mengambilnya, lalu berteriak padaku dengan tatapan benci. "Kamu pikir kamu bisa menahanku dengan buku ini?" tanya Rendra. Dia melanjutkan, "Setiap kali kubaca tulisan di atasnya, aku selalu merasa jijik mengingat aku pernah mencintaimu!" "Kembalikan buku itu padaku!" teriakku. Rendra menghindari tanganku, lalu menarik buku harian itu. "Kamu mau, ya?" tanya Rendra. Mendengar teriakanku, Rendra langsung merobek-robek buku itu di hadapanku, kemudian melemparkannya ke udara. "Ini untukmu!" ucap Rendra. Aku duduk di lantai, melihat halaman buku harian yang hancur dan jatuh seperti salju. Aku tiba-tiba tertawa keras. Suara tawaku makin lama, makin keras. Semuanya berakhir sekarang. Kali ini, semuanya benar-benar berakhir. Melihat aku tertawa, nadi di dahi Rendra menegang, amarahnya meledak. "Kamu hampir membuat Vio keguguran, dan kamu masih bisa tertawa? Dasar pelacur!" ucap Rendra. Matanya memerah, muncul niat membunuh dalam tatapannya. Dia meraih pisau steik sapi di meja, lalu menghunuskannya ke arahku. Namun, rasa sakit yang kutunggu tidak pernah datang. Setetes demi setetes. Aku merasakan ada cairan hangat yang menetes di wajahku, disertai bau amis yang menyengat. Aku membuka mataku, melihat pisau itu ditahan oleh sebuah tangan. Aku menyusuri tangan itu dan melihat Rendra di usia tujuh belas berdiri di hadapanku. Perutnya masih dibalut perban, tetapi matanya memerah. Dia menatap Rendra di usia tiga puluh dengan tatapan marah, terkejut, dan kaget sampai akhirnya berubah menjadi putus asa. Tangan kanannya menggenggam bilah pisau yang tajam dengan erat. Darah segar mengalir dari telapak tangannya, menetes ke mataku, lalu menyebar menjadi bunga poppy yang mekar.