Đang tải thông tin quảng bá...
Sayangnya Tak Ada Kata Andaikan
"Bu Juvena, apa Anda yakin ingin menayangkan foto dan video Pak Silvano dengan Nona Marisha pada hari pernikahan?" Juvena terhenti sejenak, lalu dengan tegas menjawab, "Aku yakin." "Oh ya, sekalian ba...
Chương (1)
第1章
"Bu Juvena, apa Anda yakin ingin menayangkan foto dan video Pak Silvano dengan Nona Marisha pada hari pernikahan?"
Juvena terhenti sejenak, lalu dengan tegas menjawab, "Aku yakin."
"Oh ya, sekalian bantu aku urus visa. Pada hari pernikahan aku harus ke luar negeri, jangan sampai ada yang tahu."
Setelah menutup telepon, Juvena berdiri lama di dalam kamar.
Pagi ini saja, Juvena menemukan rumah kecil tempat tinggal tunangannya bersama cinta pertamanya.
"Marisha, kalau kamu sungguh tak rela aku menikah, sebulan lagi datanglah. Rebutlah aku, dan jadilah pengantinku!"
Begitu sampai di pintu, Juvena mendengar Silvano menyerukan kalimat itu kepada Marisha.
Detik berikutnya, keduanya tak bisa menahan diri dan saling berciuman.
Melihat adegan itu, jantung Juvena hampir meledak.
Dia menahan diri untuk tidak menerobos masuk, lalu berbalik dan pergi.
Pada saat itu juga, dirinya telah diam-diam membuat keputusan yang akan mengejutkan semua orang.
Di hari pernikahan sebulan kemudian, sebelum rencana mereka untuk merebut pengantin terjadi ... Juvena akan kabur dari pernikahan!
Bab 1
"Bu Juvena, apakah Anda yakin ingin menyebarkan foto dan video Pak Silvano dengan Nona Marisha pada hari pernikahan?"
Juvena Ningris terdiam sejenak, lalu dengan tegas menjawab, "Aku yakin."
"Oh ya, sekalian tolong bantu aku uruskan visa. Pada hari pernikahan itu aku akan pergi ke luar negeri, jangan sampai ada yang tahu."
Pihak di telepon segera menjawab, "Baik, Bu Juvena, akan segera aku urus."
Setelah menutup telepon, Juvena berdiri lama di dalam kamar.
Awalnya dia sama sekali tak berniat membuat keputusan yang begitu ekstrem.
Kalau saja dia tidak mendapati bahwa Silvano Lusdan diam-diam memiliki sebuah rumah kecil di luar.
Dan orang yang "disembunyikan" Silvano justru adalah wanita yang pernah melukai pria itu dengan dalam.
Dia adalah cinta pertamanya ... Marisha.
Pagi ini saja, Juvena menerima alamat dari detektif pribadi.
Mengikuti alamat itu, dia sampai di sebuah vila yang terpencil namun didekorasi dengan sangat hangat.
"Kalau kamu sungguh tak rela aku menikah, sebulan lagi datanglah. Rebutlah aku, dan jadilah pengantinku!"
"Marisha, selama kamu berani muncul di hari pernikahan, aku berani menikahimu!"
Begitu sampai di depan pintu, Juvena sudah mendengar tunangannya berkata seperti itu kepada wanita lain.
Di dalam rumah, wanita itu tertegun sejenak, lalu menerjunkan diri ke pelukan Silvano sambil bersumpah ....
"Baik, di hari pernikahan itu, aku akan merebutmu sendiri dari tangan Juvena!"
Mendengar perkataan Marisha, mata Silvano seketika memerah karena terharu.
Detik berikutnya, keduanya tak bisa menahan diri dan saling berciuman.
Berdiri di luar pintu menyaksikan adegan itu, hati Juvena terasa sakit bagaikan hampir meledak.
Silvano terlalu pandai berbohong.
Sampai-sampai Juvena percaya akan sumpah sehidup semati saat lamaran pria itu. Hingga sekarang, dirinya baru menyadari, di sinilah rumah kecilnya bersama cinta pertamanya Marisha.
Juvena menahan diri untuk tidak menerobos masuk, berbalik dan pergi.
Pada saat itu juga, dia diam-diam membuat keputusan yang akan mengejutkan semua orang.
Di hari pernikahan sebulan kemudian, sebelum rencana rebutan pengantin mereka dijalankan ... dirinya akan kabur!
Juvena tidak membawa mobil, berjalan pulang sepanjang jalan.
Melihat penampilannya yang penuh debu dan angin, seorang pelayan merasa ketakutan. Dengan buru-buru sang pelayan merangkulnya masuk ke dalam untuk menghangatkan diri, lalu tergopoh-gopoh menuangkan air panas.
"Nona, kenapa Anda keluar tanpa berpakaian tebal, kalau sampai masuk angin nanti Pak Silvano pasti marah lagi!"
Namun Juvena seakan tak merasakan apa-apa. Tanpa sepatah kata yang diucapkan, dia berbalik menuju kamarnya.
Begitu pintu tertutup, Juvena menahan dadanya, lalu perlahan terduduk di lantai.
Selama ini, dia tidak pernah meragukan cinta Silvano padanya.
Pria itu pernah, hanya karena satu kata "suka" dari Juvena, pergi jauh ke Benua Selatan untuk membuatkan gelang berlian mewah khusus baginya.
Dia juga pernah, hanya karena Juvena dipaksa minum dua gelas lagi, tanpa ragu membalik meja, bahkan merobek kontrak ratusan miliar.
Seorang direktur yang sudah terbiasa dengan kerasnya dunia bisnis, justru rela merendahkan diri untuk melamarnya. Bahkan saking gugupnya, si pria sampai gemetaran di tempat lamaran.
Setelah lamaran itu berhasil, seluruh kalangan terpandang di Kota Samudra menantikan pernikahan termewah abad ini sebulan kemudian.
Namun hanya Juvena yang tahu, itu tidak mungkin terjadi, karena ... Silvano berselingkuh.
Kali ini dia sebenarnya ingin duduk bersama Silvano untuk berbicara baik-baik, tetapi tak disangka, dirinya segera mendengar kata-kata yang begitu menghancurkan jiwanya.
Rebut jadi pengantin? Sebenarnya Silvano menganggapnya apa?
Bagaimana pula dengan harga diri Keluarga Ningris?
Juvena mengelus cincin pertunangan di jarinya, lalu perlahan memejamkan mata.
Dia berpikir, kalau saja tidak ada pernikahan, bagaimana mungkin Silvano membiarkan Marisha merebutnya?
Dan yang harus dia lakukan adalah, sebelum adegan rebutan pengantin itu terjadi ... kabur di depan semua orang.
Di hari pernikahan sebulan kemudian, dia akan lenyap sepenuhnya dari dunia Silvano!
Dan sekaligus memberikan pria itu hadiah yang tak akan pernah dilupakannya ....
Bab 2
Hingga larut malam, Silvano baru tergesa kembali ke rumah. Bahkan belum sempat mengganti pakaian, dia segera maju memeluk Juvena untuk meminta maaf ....
"Maaf ya Juv, hari ini sibuk rapat dengan klien jadi pulang terlambat."
Detik berikutnya, dia melihat masakan di meja yang belum tersentuh. "Kenapa kamu nggak makan, apa masakannya nggak sesuai selera?"
Juvena menggeleng pelan, lalu tanpa kentara menjauh darinya sedikit.
Aroma manis parfum yang bukan miliknya terpancar dari tubuh pria itu, memenuhi udara di sekitarnya, membuat Juvena pusing dan mual.
Namun Silvano tidak menyadari keanehannya. Pria itu hanya tersenyum pasrah, menarik kursi dan duduk di samping Juvena, lalu mengambilkan seekor udang untuknya.
"Akhir-akhir ini urusan perusahaan banyak sekali, terlalu sibuk, mungkin aku nggak bisa menemanimu makan, jangan sampai kamu kelaparan."
Saat menunduk, Juvena melihat di pakaian pria itu ada bekas merah bagian kerah baju
Perutnya segera bergejolak, dia berusaha keras menahan rasa mual.
Dulu Silvano pernah berkali-kali marah hanya karena Juvena lupa menemaninya makan.
Yang paling parah, pria itu bahkan sampai meneteskan air mata karena merasa sedih.
Pria itu pernah berkata hidup ini singkat, tak ingin melewatkan satu pun waktu makan bersama Juvena.
Namun kini, yang pertama melupakan janji itu justru pria itu sendiri.
Juvena menatap udang di mangkuknya sambil tersenyum pahit.
Sejak kapan Silvano berubah seperti ini?
Mungkin sejak pertunangan dua bulan lalu.
Hari itu, Silvano tidak seperti biasanya, terlihat gelisah dan tidak berfokus.
Padahal itu hari bahagia, namun sepanjang waktu pria itu sibuk memegang ponsel mencari sesuatu. Beberapa kali Juvena berbicara padanya pun tak didengarnya.
Bahkan setelah menerima satu panggilan telepon, Silvano malah meninggalkan acara lebih awal, meninggalkan Juvena sendirian menghadapi kecanggungan kedua keluarga.
Belakangan Juvena baru tahu, rupanya hari itu bertepatan dengan kembalinya Marisha ke negara ini.
Wanita yang membuat Silvano cinta sekaligus benci, dan terjerat dalam hubungan yang penuh luka.
Empat tahun lalu, Silvano tertipu oleh janji manis Marisha, hampir seluruh hartanya diinvestasikan ke proyek besar yang disarankan Marisha.
Namun yang didapat justru Marisha membawa lari uang itu ke luar negeri, lalu menghilang tanpa jejak.
Para rekanan yang tidak menemukan Marisha pun berbondong-bondong menuntut Keluarga Lusdan.
Itu adalah yang masa paling sulit bagi Silvano. Perusahaannya hampir bangkrut. Dalam menghadapi tekanan dari orang tua maupun semua pihak, Silvano bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri.
Saat Silvano berdiri di tepi jembatan hendak melompat, Juvena dengan nekat mempertaruhkan nyawanya sendiri berlari dan menahannya erat-erat.
Setelah itu, Juvena melakukan investasi ke Grup Lusdan.
Lalu siang malam si wanita menemaninya bekerja keras, hingga akhirnya membangun Grup Lusdan menjadi perusahaan terdepan di Kota Samudra sekarang.
Sejak itu, Silvano menutup cintanya pada Marisha, lalu mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Juvena.
Butuh satu tahun untuk mengejar Juvena, tiga tahun kemudian, Silvano berhasil melamarnya.
Namun, semua itu berubah ketika Marisha kembali.
Kini, Silvano bahkan berniat untuk membiarkan Marisha merebutnya untuk dijadikan pengantin.
Mengingat hal itu, Juvena dengan pelan berkata ....
"Nggak usah, aku nggak berselera, dan aku nggak makan udang."
Silvano agak tertegun, terutama saat bertemu dengan tatapan Juvena yang bagai air tenang tanpa riak.
Bagaimana dirinya bisa lupa, Juvena memang tidak pernah makan makanan laut, sekali coba saja segera muntah.
Pria itu tiba-tiba merasa bersalah, lalu dengan suara keras memanggil pelayan yang sudah tertidur.
"Bukankah aku bilang di rumah jangan ada makanan laut? Apa yang kalian lakukan?"
Pelayan seketika hilang rasa kantuknya, buru-buru menjelaskan ....
"Pak Silvano, bukankah udang ini Anda sendiri yang menyuruh orang kirim? Bahkan berpesan agar segera dimakan selagi segar, jadi aku ...."
Mata Silvano segera melotot. "Mana mungkin aku menyuruh orang mengirimkan makanan laut ke rumah?"
Namun tiba-tiba, seolah teringat sesuatu, tatapannya sedikit menghindar.
Pelayan segera mengangkat piring udang itu untuk dibuang.
Namun Juvena mengangkat tangan menghentikan gerakan berikutnya.
"Sudahlah, jangan membuang makanan, bungkus saja dan masukkan ke dalam freezer."
Sambil berkata, dia menoleh pada Silvano. "Besok kamu bawa ke kantor saja, pasti ada yang suka makan."
Pelayan bingung harus bagaimana, lalu menoleh ke arah Silvano.
Hati Silvano mendadak panik, buru-buru menggenggam tangan Juvena dan bertanya, "Juvena, ada apa denganmu? Bukankah kamu memang nggak suka udang?"
"Ya, makanya untuk tambahan makanan karyawan. Akhir-akhir ini mereka juga lembur, udang ini lumayan mahal."
Juvena menjelaskan tanpa celah, Silvano pun merasa lega.
"Memang Juvena selalu begitu perhatian. Bungkuslah."
"Baik, Pak Silvano."
Bagaimana dia bisa berpura-pura begitu sempurna tanpa ada celah seperti ini?
Juvena diam-diam menatap Sivano yang sedang membungkus udang itu sendiri, bahkan menempelkan catatan kecil bertuliskan [Perhatian dari istri tercinta Juvena].
Silvano, semoga saat menerima hadiah itu, kamu juga bisa terus berpura-pura seperti sekarang.
Bab 3
Tengah malam Juvena dengan gelisah berguling ke sana kemari. Terasa sesak di dada, dirinya sama sekali tak bisa terlelap.
Saat itu, ponsel di atas mejanya menyala sekilas.
Dia menggeser layar, ternyata akun familier itu lagi-lagi mengirimkan pesan.
Isinya beberapa tangkapan layar percakapan tanpa foto profil, tulisannya seperti biasa penuh dengan rayuan ambigu.
Tak perlu ditebak, Juvena tahu itu pasti sengaja dikirim Marisha, percakapan antara dia dan Silvano.
Sudah berlangsung selama dua bulan ini.
Juvena kembali mengklik foto profil Marisha, lalu melihat ke status teman-temannya.
Posting terbaru dua jam lalu: [Hari ini bersama orang tersayang mengadopsi bayi mungil yang lucu!]
Foto yang disertakan adalah seekor kucing.
Silvano selalu sangat menyukai kucing, bahkan foto profilnya pun seekor kucing.
Namun sayangnya Juvena alergi parah bulu kucing, sehingga di rumah mustahil bisa memeliharanya.
Tak disangka pria itu justru mengadopsi kucing bersama Marisha.
Dan postingan Marisha itu jelas mengisyaratkan, hanya dialah yang bisa memberikan keluarga kecil impian Silvano, keluarga hangat mereka berdua bersama seekor kucing.
Juvena menatap status update Marisha. Matanya sampai perih diterpa cahaya layar, barulah dia meletakkan ponsel.
Padahal Silvano tidur di sampingnya, tetapi hati keduanya sudah dipisahkan jurang yang tak bisa diseberangi.
Di tengah malam, rasa sakit membangunkan Juvena secara tiba-tiba.
Dirinya memang sudah lama mengidap sakit lambung. Hari ini, karena hampir tak makan dan terbawa gelombang emosi yang hebat, perutnya nyeri mencekam, seperti disayat-sayat pisau yang tajam.
Ketika meraba-raba hendak menyalakan lampu meja, tak sengaja dirinya menumpahkan gelas air.
Suara itu mengejutkan Silvano dari tidur, dan di sisinya dia melihat wanita yang meringkuk kesakitan.
Pria itu buru-buru menyalakan lampu. Melihat wajah Juvena yang penuh keringat, dirinya makin panik.
"Juvena, apa yang terjadi? Penyakit lambungmu kambuh lagi?"
"Obat ... obat ... ada di laci."
Mendengar suara lemah itu, dengan cepat Silvano bangkit, lalu dengan panik mengacak-acak laci mencari obat.
Saat itu, ponselnya tiba-tiba berdering.
Silvano sudah gelisah karena tak menemukan obat, kini suara dering terus berbunyi membuatnya makin terganggu.
Dirinya dengan kesal meraih ponsel dan menekan tombol jawab.
"Siapa, apa urusannya? Apa pun itu jangan ganggu aku sekarang! Mengerti?"
Sebelum sempat dia menutup panggilan dengan marah, dari seberang terdengar tangisan, membuat gerakannya terhenti.
Juvena samar juga mendengar suara manja seorang wanita di telepon.
"Silvan, Milkie hilang, aku sudah mencari ke mana-mana tapi nggak ketemu. Semua salahku nggak menjaganya baik-baik ...."
"Dia masih begitu kecil, begitu rapuh. Kalau dia sampai terjadi sesuatu, aku juga nggak mau hidup lagi ...."
"Jangan, jangan panik dulu, pasti nggak akan terjadi apa-apa."
Raut wajah Silvano menjadi cemas.
Dia menoleh sebentar pada Juvena, lalu menutupi ponsel dan berjalan keluar, suaranya makin pelan.
"Sekarang sudah larut, kamu sendirian di luar mencari kucing juga nggak aman. Tunggu lima menit, aku segera datang ...."
Beberapa saat kemudian, Silvano buru-buru kembali ke kamar, meraih jaket dan menyampirkannya di tubuh, lalu berkata ada urusan mendadak di perusahaan, tanpa menoleh segera pergi.
Juvena yang merasa kesakitan di lambung sampai tak bisa bersuara, hanya bisa menatap punggung Silvano yang menjauh, hingga lenyap dari pandangan.
Rasa sakit yang mencekam dadanya kini bahkan lebih menyiksa daripada sakit di lambung.
Akhirnya, Juvena hanya bisa berjalan dengan terseret-seret untuk mencari obat.
Namun karena salah langkah, dirinya terjatuh dari tempat tidur, lalu terbaring di lantai dan perlahan tak sadarkan diri.
Saat sadar kembali, Juvena mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit.
Perawat muda yang hendak memasang infus melihat matanya terbuka, merasa girang seolah melihat penyelamat.
"Syukurlah Anda sadar, Pak Silvano mengerahkan segala cara untuk mengobati Anda. Melihat Anda tak kunjung sadar, dia bahkan marah besar di rumah sakit!"
Nada suara perawat tak bisa menyembunyikan rasa iri.
Namun Juvena hanya bisa dengan susah payah menampilkan senyum pahit.
Dia sedang menertawakan dirinya sendiri. Dulu demi membantu Silvano yang putus asa, dirinya rela meminum alkohol berlebihan di saat jamuan, sampai merusak lambung dan meninggalkan penyakit kronis.
Kini dirinya dalam keadaan seperti ini, tapi di hati Silvano bahkan tidak sebanding dengan seekor kucing milik mantan pacarnya.
Karena tidak menyukai bau menusuk cairan disinfektan di ruang rawat, Juvena bangkit dan berjalan keluar.
Baru melangkah beberapa langkah, dia melihat sosok yang sangat dikenalnya terlintas di kejauhan.
Hati Juvena menegang, diam-diam mengikutinya.
Detik berikutnya, dia melihat Silvano bersembunyi di koridor, diam-diam menelepon.
Silvano tersenyum tipis, suaranya penuh helaan napas pasrah sekaligus manja.
"Nggak bisa, aku benar-benar nggak bisa pergi sekarang, dia belum sadar."
"Kamu jangan cemas, aku pasti akan menyempatkan diri untuk menjumpaimu, sebentar lagi saja."
Entah apa yang dikatakan dari seberang, Silvano tersenyum hingga lesung pipitnya muncul, lalu dengan manis menjawab ....
"Aku tahu, aku juga rindu kamu."
"Baik, sampai nanti."
Setelah menutup telepon, Silvano tampak mengernyit.
Pria itu merasa jelas ada sepasang mata yang menatapnya tajam dari belakang barusan.
Namun dirinya menoleh berkali-kali memastikan, koridor itu memang tidak ada sosok siapa pun.
Bab 4
Setelah tahu bahwa Juvena sudah siuman, barulah Silvano bersikap ramah kepada orang-orang di rumah sakit.
Dia menuliskan secara rinci semua hal yang dipesankan dokter ke dalam memo, lalu berulang kali memastikan dengan dokter bahwa keadaan Juvena sudah baik, barulah dengan tenang membawanya mengurus prosedur keluar rumah sakit.
Saat menyetir mobil, suasana hati Silvano tampak cukup baik.
"Juvena, beberapa hari yang lalu asisten bilang gaun pengantinmu sudah selesai, ayo kita sama-sama lihat?"
Namun Juvena tak menunjukkan banyak emosi, hanya perlahan mengangkat pandangan. Setelah lama terdiam barulah dengan suara pelan dia menyahut pria itu.
"Baiklah."
Setelah mendapat jawaban, senyum Silvano makin dalam, laju mobilnya juga makin cepat.
"Aku selalu ingin melihatmu mengenakan gaun pengantin, dan kebetulan hari ini adalah hari terakhir desainer ada di Kota Samudra, kalau ada yang kurang cocok bisa segera minta perbaikan."
"Juvena, kurang dari sebulan lagi aku akan menikahimu, akhirnya kita bisa punya hasil yang baik."
Silvano terus berbicara sendiri, kadang mengeluarkan satu dua kalimat penuh perasaan.
Sementara itu, Juvena menatap diam-diam ke luar jendela mobil, bahkan tak mampu memaksakan senyum.
Dia ingin tahu ....
'Silvano, apakah kamu benar-benar bahagia? Orang yang sungguh ingin kamu jalani hidup bersama, sebenarnya aku, atau Marisha?'
Suara dering telepon yang mendadak memecah lamunan Juvena.
Silvano dengan santai menekan pengeras suara, "Ada apa?"
Nada suara sekretaris terdengar agak cemas, "Pak Silvano, cepatlah ke kantor, Nona Marisha sedang kena masalah."
Wajah Silvano segera berubah, tiba-tiba membelok tajam, menekan pedal gas dan melaju kencang ke arah kantor.
Karena hentakan, tubuh Juvena terdorong ke depan lalu ditarik kembali oleh sabuk pengaman, punggungnya terbentur keras pada sandaran kursi.
Dirinya yang baru saja agak pulih segera terasa mual dan tidak enak.
Perjalanan yang biasanya setengah jam, kali ini belum sampai sepuluh menit sudah ditempuh Silvano.
Begitu berhenti, pria itu buru-buru turun mobil, bergegas masuk ke gedung kantor.
Baru saat masuk lift dia menyadari kehadiran Juvena yang berwajah pucat di belakangnya.
"Juvena, itu ... ada urusan darurat di kantor yang harus aku tangani, bagaimana kalau kamu tunggu di kantorku dulu untuk istirahat?"
Juvena hanya menggeleng pucat, belum sempat bicara, pintu lift sudah terbuka.
Silvano sudah tak sempat memedulikannya, melangkah dengan cepat ke ruang rapat.
Begitu pintu dibuka, terlihat Marisha marah sambil mengepalkan tangan, seorang diri menghadapi sekelompok manajer senior.
Salah satu manajer dengan keras melemparkan proposal proyek Marisha ke meja.
"Hmmm! Apaan gelar doktor luar negeri? Bertahun-tahun tak ada hasil. Hanya sosok yang mengandalkan diri di bawah Pak Silvano, sekarang mau memerintah kami jalankan proyekmu?"
Yang lain pun tertawa meremehkan.
"Cukup!" Sebuah bentakan menghentikan semuanya.
Melihat Silvano datang, mata Marisha segera memerah.
Silvano marah besar, melangkah ke depan dan menarik Marisha ke belakangnya, lalu menatap tajam para manajer.
"Marisha aku yang pekerjakan sendiri. Ada yang tak puas, datang cari aku! Menggertak seorang pendatang baru itu apa hebatnya!"
"Dan lagi ...." Dia mengalihkan topiknya. "Siapa bilang Marisha nggak pernah menghasilkan apa-apa? Paten yang sedang diajukan perusahaan belakangan ini sepenuhnya dia yang tangani!"
Begitu mendengar itu, ruangan segera heboh.
Para manajer saling berbisik, jelas tak menyangka Marisha punya kontribusi sebesar itu.
Marisha sendiri juga terkejut, menatap Silvano dengan mata berkaca-kaca.
"Silvan, kamu ...."
Silvano menatapnya dengan penuh ketenangan. "Tenanglah, selama aku ada, takkan ada yang berani meremehkanmu."
Di ambang pintu, jari Juvena menggenggam kuat kusen pintu, hanya dengan begitu dia bisa menahan diri agar tidak jatuh.
Dirinya tak pernah menyangka, proyek yang disebutkan Silvano tadi adalah proyek penelitian rahasia yang diselesaikannya dengan bermalam-malam lembur.
Kini proyek itu justru diserahkan Silvano kepada Marisha.
Dirinya baru membuka mulut hendak berbicara, namun sudah lebih dulu ditarik keluar oleh Silvano yang sigap.
"Juvena, maaf, tadi kamu juga lihat keadaannya, aku hanya bisa memakai cara itu agar dia bisa bertahan di perusahaan."
Suara Juvena terdengar serak. "Kamu yakin harus begitu?"
"Ini hanya sementara, nanti aku pasti akan menebusnya padamu."
Juvena memaksakan senyum, suaranya datar. "Tak perlu."
Tak perlu, karena mereka memang sudah tidak punya masa depan lagi.
Bab 5
Keluar dari perusahaan, Silvano menatap langit sejenak, lalu mengatakan masih sempat untuk pergi mencoba gaun pengantin.
Namun Juvena sudah kehilangan suasana hati.
Tiba-tiba, sebuah bentakan keras menarik perhatian mereka berdua.
Di siang bolong, seorang perampok bersenjata pisau segera meloncat keluar, ujung pisau tajam diarahkan ke Juvena dengan kejam.
"Kamu ini 'kan simpanan kecil yang dipelihara Silvano, 'kan?"
"Karena kamu, hidupku hancur berantakan. Hari ini aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!"
Sambil berkata, dia mengayunkan pisaunya ke arah Juvena.
"Nggak boleh!"
Dalam detik genting antara hidup dan mati itu, Silvano secara naluriah meloncat ke depan Juvena, berusaha menggunakan tubuhnya sendiri untuk menahan tusukan pisau.
Bersamaan dengan suara pisau menembus daging, darah memercik dengan deras.
Silvano menekan perutnya, tubuhnya ambruk ke tanah dengan rasa sakit.
Melihat darah sebanyak itu, perampok panik, segera melemparkan pisaunya dan kabur.
Napas Juvena tercekat, dengan gemetar dia segera menopang tubuh Silvano yang tergeletak.
Luka di tubuh Silvano terus mengucurkan darah, tapi seolah tanpa rasa sakit, matanya hanya terpaku pada Juvena.
"Juvena, asal kamu nggak apa-apa ... itu sudah cukup."
Juvena cepat-cepat menelepon ambulans, sepanjang jalan terus menjaga Silvano sampai ke IGD.
Dirinya tidak mengerti.
Bukankah Silvano mencintai Marisha sampai rela membiarkan wanita itu merebut pernikahan? Kenapa sekarang justru nekat menyelamatkan dirinya?
Ini sebenarnya apa artinya?
Tiga jam kemudian, pintu ruang operasi kembali terbuka.
Dokter yang lelah berjalan keluar, perlahan melepas sarung tangan dan masker.
"Untung pisaunya meleset beberapa senti, nggak melukai organ dalam, tapi pasien kehilangan banyak darah, harus benar-benar istirahat."
Mendengar itu, Juvena dan sekretaris yang datang setelah menerima kabar sama-sama merasa lega.
Sekretaris tidak bisa menahan diri untuk berkomentar, "Kak Juvena, kali ini demi menyelamatkanmu, Pak Silvano benar-benar rela mempertaruhkan nyawa, dia sungguh mencintaimu begitu dalam!"
Juvena hanya terdiam.
Dulu dia memang percaya Silvano mencintainya dengan segenap jiwa, namun kemudian cinta itu berpindah pada orang lain.
Tapi ketika bahaya datang, reaksi spontan Silvano membuat Juvena seakan tak bisa lagi menilai pria ini dengan jelas.
Di hati kecilnya, Juvena hanya bisa menerima satu orang, yaitu Silvano.
Tapi bagaimana dengan Silvano? Berapa orang yang sebenarnya bisa ditampung dalam hatinya?
Juvena menundukkan pandangan.
Cinta murahan seperti itu, yang bisa dibagi-bagi, Juvena tidak akan menginginkannya.
Setelah efek bius habis, Silvano ribut ingin bertemu Juvena.
Dia mengabaikan perawat, mencabut infus, lalu terhuyung-huyung turun dari ranjang.
Tepat berpapasan dengan Juvena yang datang membawa bubur, mereka berdua bertabrakan.
Silvano segera merangkul pinggang Juvena erat-erat, suaranya penuh ketakutan.
"Juvena, syukurlah kamu nggak apa-apa. Kamu tahu nggak, saat pisau menusukku tadi, aku begitu takut kehilanganmu."
Juvena dengan tenang menyingkirkan tangannya.
"Dokter bilang kamu harus istirahat, jangan banyak bergerak."
Melihat Juvena datang, Silvano seperti mendapat penenang hati, segera kembali berbaring patuh di ranjang, bahkan membiarkan perawat memasang infus lagi.
Melihat Juvena membawa bubur, Silvano berbicara sambil tersenyum.
"Juvena, tubuhku penuh perban, sulit makan sendiri."
Juvena menghela napas pelan, akhirnya membuka kotak makanan dan menyuapinya.
Selesai makan bubur, pria itu dengan manja bersandar pada Juvena, menggenggam erat tangannya.
"Juvena, barusan saat aku pingsan, aku bermimpi buruk sekali. Aku bermimpi kamu meninggalkanku, aku pun kaget terbangun, reaksi pertamaku adalah ingin mencarimu."
"Tapi untunglah, itu hanya mimpi buruk. Juvena, kamu akan selalu berada di sisiku, 'kan?"
Dia mendongak, menatap Juvena tanpa berkedip.
Bab 6
Juvena terdiam. Dia memalingkan kepala, ingin menghindari topik itu.
Tapi Silvano justru sangat keras kepala.
"Juvena, kenapa kamu nggak bicara? Cepat jawab aku, ya 'kan?"
Saat itu, sekretaris masuk dan membawakan setumpuk berkas.
"Pak Silvano, tentang identitas dan motif penyerang kemarin sudah kami selidiki, silakan lihat."
Mendengar itu, Silvano segera duduk tegak, matanya memancarkan kilatan dingin. Dia menerima berkas itu dan membacanya dengan saksama.
Entah apa yang tertulis di dalamnya, tiba-tiba wajahnya berubah, bahkan napasnya pun menjadi lebih cepat.
Suaranya bergetar ....
"Cepat, segera kumpulkan semua pengawal!"
Selesai berkata, dia buru-buru mencabut jarum infusnya, bahkan tidak sempat menoleh pada Juvena, segera berlari keluar rumah sakit.
Juvena bingung menatap berkas yang terjatuh di lantai, lalu membungkuk dan mengambilnya.
Saat membacanya, tangannya gemetar tak terkendali.
Begitu melihat nama yang muncul di dalam berkas itu, semuanya segera jelas.
Tak heran tadi Silvano sampai begitu panik.
Lagi-lagi karena Marisha.
Sejak awal, target si penyerang bukan dirinya, melainkan Marisha!
Marisha selalu berperan sebagai asisten Silvano untuk urusan luar, tapi karena kemampuannya kurang, dia banyak merusak proyek.
Si penyerang adalah korban dari salah satu proyek yang gagal itu.
Saat dia sampai di gedung perusahaan Grup Lusdan, wajar saja kalau keliru mengira Juvena yang sedang bersama Silvano sebagai Marisha.
Alasan Silvano begitu panik adalah karena dia takut penyerang itu sadar salah orang dan kembali datang membalas dendam pada Marisha.
Lalu bagaimana dengan diri Juvena? Apakah Silvano tidak khawatir kalau penyerang itu juga bisa kembali mengincarnya?
Mungkin karena dia memang tidak peduli ....
Selama seminggu penuh setelah itu, Silvano tidak pulang.
Juvena mendapati dia bahkan memindahkan semua pengawal, termasuk petugas keamanan di kantor, untuk melindungi Marisha.
Pria itu bahkan menghabiskan banyak uang menyewa detektif swasta untuk mencari keberadaan penyerang itu.
Juvena tidak pernah menyangka, Silvano yang biasanya tenang dan rasional, bisa sebegitu ekstremnya demi keselamatan satu orang.
Perhatian yang begitu terang-terangan itu membuat banyak orang yang tahu situasinya mulai melirik aneh pada Juvena, tunangan resminya.
Seminggu kemudian, Juvena membaca berita di koran bahwa si penyerang telah ditangkap.
Malam itu, Silvano baru pulang dengan tubuh lelah.
Dia segera memeluk pinggang Juvena dari belakang.
"Juvena, jangan bergerak, biarkan aku memelukmu sebentar."
Juvena mencium aroma parfum wanita di tubuhnya, perutnya terasa mual.
Dia dengan suara kering bertanya ....
"Silvano, apakah kamu masih mencintaiku?"
Tubuh Silvano menegang, hatinya tiba-tiba dipenuhi rasa panik.
Dia menggesekkan kepala ke leher Juvena, memeluk lebih erat.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kalau aku nggak mencintaimu, kenapa aku harus menikahimu?"
"Juvena, nggak sampai sepuluh hari lagi, aku bisa mengumumkan pada seluruh dunia bahwa kamu adalah milikku."
Karena hari pernikahan makin dekat, Silvano mulai mengurangi pekerjaannya.
Setiap hari, selain mengawasi persiapan pernikahan, dia selalu menempel di sisi Juvena.
Malam itu, Silvano masuk kamar mandi untuk mandi, meninggalkan ponselnya di meja samping ranjang.
Juvena sedang mencari paspornya, lalu tanpa sengaja melihat ponsel itu menyala dengan notifikasi.
Itu pesan dari Marisha.
[Silvano, aku sekarang berdiri di depan rumahmu. Hari ini aku harus bertemu denganmu, nggak peduli hujan atau badai.]
Juvena mengernyitkan dahi.
Dia membuka ponsel itu, menggulir ke atas, dan mendapati bahwa belakangan ini Silvano hampir tidak pernah membalas pesan Marisha.
Dua hari terakhir ini Silvano memang selalu bersama Juvena, tampaknya Marisha sudah mulai gelisah.
Dia menutup ponselnya, lalu mengubah status pesan itu menjadi belum terbaca.
Bab 7
Silvano keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambut sambil berbicara dengan Juvena tentang dekorasi pernikahan.
Dia mengambil ponselnya dan melihat sekilas, tapi tiba-tiba gerakannya terhenti.
Juvena bertanya, "Kenapa nggak lanjut bicara?"
Dia segera menyimpan ponselnya, berpura-pura dengan tenang melanjutkan obrolan tentang pernikahan.
Namun matanya sesekali melirik ke luar jendela.
"Sudah malam, ayo istirahat."
Juvena mematikan lampu, bersamaan dengan itu kilat menyambar di luar jendela.
Tak lama kemudian, tanpa tanda-tanda sebelumnya, hujan deras turun mengguyur.
Tanpa sadar Juvena merapatkan tubuh ke arah Silvano.
Biasanya dirinya sangat berani, hanya saja dia takut petir.
Setelah mengetahui hal ini, Silvano pernah memeluknya dengan serius, berjanji tidak akan pernah membiarkannya menghadapi badai sendirian.
Namun kini, hati Silvano jelas sudah melayang entah ke mana.
Dia tidak memperhatikan gerak-gerik kecil Juvena, bahkan lupa betapa takut wanita itu pada petir.
Begitu mendengar suara hujan, dalam lima detik dia segera bangkit dari tempat tidur, tanpa sepatah kata pun berlari keluar rumah.
Juvena hanya bisa meringkuk di ranjang, menutup telinganya rapat-rapat.
Saat itu, hatinya seakan disambar petir di luar sana hingga pecah berkeping-keping, lalu disapu bersih oleh hujan deras.
Malam itu, Silvano sama sekali tidak pulang.
Keesokan paginya.
Dibangunkan jam alarm, Juvena dengan tubuh lelah bangkit dari tempat tidur.
Hari ini dia harus mengurus visa.
Dia tahu, dengan kemampuan Silvano, sekalipun dia kabur dari pernikahan belum tentu bisa benar-benar lepas dari gangguannya.
Lebih baik dia persiapkan lebih dulu rencana perjalanan setelah kabur.
Dia berencana pergi ke luar negeri untuk berlibur, sekalian ikut seminar yang sudah sering terlewat olehnya.
Setelah mengurus visa dan pulang ke rumah, Juvena merasa ada sesuatu yang aneh di udara.
Dia bersin beberapa kali, tenggorokannya juga terasa gatal dan kering.
Saat itu, suara kucing terdengar.
Juvena menunduk, ternyata ada seekor kucing di bawah meja tamu!
Dia seketika seperti menghadapi musuh, Juvena mundur beberapa langkah.
Dia sangat alergi pada bulu kucing, bahkan bisa sampai gagal napas.
Juvena segera merasa sulit bernapas, tapi kucing itu justru terlihat suka padanya, mendekat tanpa sadar.
Dengan panik Juvena mengibaskan kedua tangannya di udara, berusaha menjauhkan kucing itu, tetapi hasilnya sia-sia.
Dadanya terasa sesak, udara seakan tak bisa masuk ke paru-parunya.
Dalam kesadaran yang mulai kabur, dia menjatuhkan gelas di tangannya, mencoba menakuti kucing itu.
Lumayan berhasil sedikit.
Kucing itu menjerit tajam, lalu meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
Juvena bersandar ke dinding, terengah-engah berusaha mengatur napas.
Saat itu, pintu depan tiba-tiba terbuka lagi, Silvano bergegas masuk.
Namun reaksi pertamanya bukan khawatir pada Juvena, melainkan hati-hati berlari ke arah kucing itu dan menggendongnya.
"Kamu sedang apa?"
"Kucing ini masih kecil, meski kamu nggak suka, kamu nggak boleh menakutinya begitu saja!"
Pandangan Juvena mulai gelap, bahkan suara Silvano pun terdengar makin jauh.
Dia merangkak ke pintu, berusaha menghirup udara segar dari luar, tetapi sesak di dadanya tidak banyak berkurang.
Beberapa saat kemudian, dengan susah payah menahan rasa perih di tenggorokan, dia bertanya pada Silvano ....
"Silvano, aku alergi bulu kucing, kalau parah bisa berakibat fatal, apa kamu sudah lupa?"
Ucapan itu bagaikan palu yang menghantam kepala Silvano, pikirannya segera kosong.
Wajah pria itu seketika berubah pucat ketakutan.
Dia jelas tahu betapa seriusnya jika Juvena kambuh.
Bukan hanya timbul ruam merah di sekujur tubuh, tapi bisa menyebabkan gagal bernapas, bahkan terancam mati lemas.
Bagaimana mungkin dia bisa lupa hal sepenting ini?
Bab 8
Silvano dulu pernah sebegitu khawatir pada Juvena, sekarang justru sebegitu menyesalinya.
Saat ini kucing di pelukannya seolah berbobot ribuan kilo, Silvano buru-buru meletakkannya lalu mencari-cari obat untuk Juvena.
Setelah menghirup obat semprot, wajah Juvena baru sedikit membaik.
Silvano dengan hati-hati membantunya beristirahat di atas ranjang.
"Maaf, Juvena, barusan aku salah paham padamu."
"Kucing itu milik Marisha, dia panik karena tak menemukannya di mana-mana, jadi tadi aku agak terburu-buru."
Juvena tetap diam, menatap Silvano tanpa ekspresi.
Di bawah tatapannya yang tenang, Silvano makin merasa bersalah.
Dengan dalih ingin menelepon, pria itu cepat-cepat meninggalkan kamar.
Tak lama kemudian, Juvena samar-samar mendengar suara di luar kamar.
"Jangan banyak bicara lagi, cepat bawa pergi kucingmu."
Hari-hari berikutnya, Silvano merawat Juvena dengan sangat teliti.
Sekali saja dia batuk, Silvano segera menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan.
Dia bahkan mengusulkan untuk menunda pernikahan, menunggu Juvena benar-benar pulih baru menggelar pesta besar.
Juvena dengan tegas menolak.
"Aku nggak apa-apa, pernikahan tetap dilaksanakan sesuai rencana."
Melihat Juvena begitu mementingkan pernikahan ini, hati Silvano terasa hangat.
Dua hari kemudian, Marisha datang membawa sekeranjang buah untuk meminta maaf.
"Maaf, Kak Juvena, salahku nggak menjaga kucing dengan baik, sampai membuatmu kambuh."
Dia tampak sangat menyesal, matanya masih terlihat bengkak bekas menangis.
Namun Silvano tidak melunak.
Nada bicaranya sedingin es ....
"Marisha, apa kamu tahu kalau karena kelalaianmu ini, nyawa Juvena hampir melayang?"
Marisha berkata dengan terisak, "Maaf, aku benar-benar nggak menyangka bisa sampai begini, aku ...."
"Sudah, nggak perlu banyak bicara. Kamu hanya perlu ingat, Juvena adalah batas terakhirku, keselamatannya lebih penting dari apa pun!"
Tubuh Marisha menegang, terpaku menatap Silvano, bahkan lupa membela diri.
Dalam sekejap, air matanya bercucuran.
Dirinya gemetar, lalu berbalik dan berlari keluar sambil menangis.
"Kamu!"
Silvano berdiri, ikut terkejut dengan reaksi Marisha barusan.
Tanpa ragu dia segera mengejarnya.
Semua itu terjadi dalam sekejap mata.
Juvena justru merasa seolah pernah menyaksikan jutaan kali adegan serupa.
Dia termenung sejenak, lalu diam-diam mengikuti mereka.
Dari taman belakang vila terdengar isak tangis Marisha, juga suara rendah Silvano yang membujuk.
Juvena melihat sendiri Silvano dengan lembut menghapus air mata Marisha.
Detik berikutnya, dia merangkul pinggang Marisha dan menciumnya dengan paksa.
...
Setengah jam kemudian, Silvano kembali ke kamar.
Juvena duduk bersandar di ranjang, dengan tenang menulis sesuatu di buku catatan.
"Juvena, sedang menulis apa?"
Entah perasaannya saja atau bukan, Silvano seakan melihat kata-kata seperti visa keluar negeri.
"Bukan apa-apa."
Juvena menutup bukunya, lama kemudian baru menengadah menatapnya.
Silvano tersenyum seraya bertanya, "Lusa adalah pernikahan kita, kamu gugup nggak?"
Juvena hanya menggeleng, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Besok makan malam bersama, ya."
Makan malam terakhir itu, juga untuk benar-benar mengakhiri hubungan ini.
Silvano tidak menyadari kedalaman di balik sorot mata Juvena saat itu.
Tanpa banyak berpikir dia segera mengiakan.
"Baik!"
Bab 9
Malam sebelum pernikahan, Silvano datang tepat waktu, bahkan membawa sebotol anggur merah mahal untuk menambah suasana makan malam.
Namun baru saja mereka duduk, ponsel Silvano terus-menerus menerima pesan.
Tak lama kemudian, dering telepon juga berbunyi.
Silvano melirik penelepon, dengan tegas menolak panggilan itu, tetapi sesaat kemudian, dering kembali terdengar.
Juvena menatapnya dengan tenang.
"Kamu angkat saja dulu."
Silvano mengambil ponsel lalu bangkit. Tidak lama kemudian dia terburu-buru kembali ke meja makan, mengambil jas dan kunci mobil.
"Juvena, ada urusan mendadak di perusahaan yang harus segera aku tangani, kamu makan saja sendiri, jangan tunggu aku."
Mendengar suara langkahnya yang makin menjauh, Juvena menyunggingkan senyum sinis.
Dia menyantap suapan demi suapan steak yang sudah dingin itu, lalu meneguk dua kali anggur merah.
Setelah itu, dia membuka status WhatsApp, dan benar saja, Marisha kembali mengunggah foto.
Dalam foto itu, Silvano berdiri di sebuah atap, tersenyum dengan mata berkaca-kaca menatap kembang api di langit.
Marisha menulis keterangan ....
[Untuk orang yang paling kucintai, kusiapkan pesta kembang api megah ini. Syukurlah, dia nggak menolak.]
Juvena menutup ponselnya dan berdiri.
Dirinya memandang rumah ini, tempat yang menyimpan kenangan tiga tahun bersama Silvano, lalu diam-diam mengeluarkan sebuah koper besar untuk mulai berkemas.
Dia membutuhkan waktu penuh tiga jam.
Semua barang yang menjadi kenangan tiga tahun itu dikemas dalam tiga kotak besar.
Dalam sekejap mata, semuanya dibakar habis.
Setelah itu, Juvena kembali bergadang, menyimpan seluruh catatan percakapan dan unggahan Marisha ke dalam sebuah flashdisk.
Begitu selesai, langit sudah mulai terang.
Juvena membawa barang-barangnya, seorang diri menuju lokasi pernikahan.
Tempat pernikahan dihiasi menjadi lautan bunga, suasana penuh kebahagiaan.
Silvano bahkan sengaja mengundang banyak media untuk mengabadikan hari bahagianya.
Juvena mengenakan gaun pengantin putih yang indah, melangkah perlahan ke arah Silvano. Melihat wajahnya yang berlinang air mata penuh harap, hati Juvena justru setenang air.
Juvena mengambil mikrofon, lalu menyerahkan sebuah flashdisk kepada pembawa acara.
"Silvano, sebelum pernikahan dimulai, aku ingin memberimu sebuah hadiah."
Silvano tersenyum.
Dirinya juga agak penasaran hadiah apa itu.
Namun melihat pembawa acara memasukkan flashdisk ke komputer untuk menayangkannya, tiba-tiba dia merasa ada kegelisahan yang tak beralasan.
Layar besar mulai memutar isi file.
Detik berikutnya, tubuh Silvano menegang.
Karena yang terpampang di layar bukanlah kenangan manis dirinya dengan Juvena.
Itu adalah ... catatan obrolan serta foto-foto mesra dirinya dengan Marisha!
Bagaikan petir yang meledak di kepalanya, Silvano seakan hancur seketika.
Respons pertama yang dia lakukan adalah mencari Juvena, dia harus segera menjelaskan.
Namun para wartawan sudah seperti orang gila, berebutan mengangkat kamera untuk memotret, lalu menyerbunya dengan pertanyaan.
Silvano panik mencari sosok Juvena, sampai akhirnya pandangannya terhenti di satu titik.
Di balik kerumunan, Juvena berdiri dengan tenang menatap Silvano yang dikepung dengan ramai.
Bibirnya bergerak.
Ucapannya terdengar jelas di telinga Silvano ....
"Silvano, kita putus."