Lebih Baik Kejam daripada Penuh Kasih Sayang

Đang tải thông tin quảng bá...

Lebih Baik Kejam daripada Penuh Kasih Sayang

GoodNovel Hoàn thành

"Sistem, aku ingin pulang." Sistem langsung menjawab, "Baik, Nona, proses pelepasan program sudah aktif. Dalam setengah bulan, kamu bisa meninggalkan tempat ini." Sistem yang biasanya mekanis itu ter...

Chương (1)

第1章

"Sistem, aku ingin pulang." Sistem langsung menjawab, "Baik, Nona, proses pelepasan program sudah aktif. Dalam setengah bulan, kamu bisa meninggalkan tempat ini." Sistem yang biasanya mekanis itu terdiam beberapa detik, lalu bertanya dengan sedikit kebingungan. "Nona, di sini ada suami yang menyayangimu dan putra yang selalu membelamu. Bukankah ini rumahmu? Mereka adalah keluargamu." Mendengar kata keluarga, tatapan Shanon perlahan tertuju pada televisi. Bab 1 Saat itu, televisi sedang menyiarkan siaran langsung tentang CEO PT. Lukman, Andy Lukman, dan putranya, Shane Lukman, yang turun dari pesawat. Andy menggendong putranya, Shane, dan berjalan maju dengan langkah lebar. Seorang reporter berlari kecil untuk mengejar dan bertanya. "Pak Andy, kudengar Anda baru kelar rapat di Prancis kemarin dan langsung terbang kembali semalaman. Mengapa begitu terburu-buru? Apakah ada hal penting yang terjadi?" Andy, pebisnis yang jarang tersenyum, kini memberikan senyum yang sangat lembut ke arah kamera. "Hari ini adalah ulang tahun istriku. Tentu saja aku dan putraku harus kembali untuk merayakannya bersamanya." "Bagiku, hal yang berkaitan dengan istriku adalah yang terpenting." Shane juga mengangkat tas yang digenggamnya. "Mama, aku dan Papa sudah menyiapkan hadiah untukmu. Kami akan segera kembali." Reporter ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Andy mengindikasikan dia sedang terburu-buru dan tidak menjawab lagi, hanya meninggalkan bayangan punggungnya yang bergegas pergi di depan kamera. Reporter itu menunjukkan rasa cemburu. "Perasaan Pak Andy terhadap istrinya tidak pernah berubah. Sepuluh tahun berlalu, cintanya masih begitu mendalam. Pak Andy benar-benar suami idaman." "Bahkan Tuan Muda Shane juga meniru Pak Andy dengan sangat baik. Dengan suami dan putra seperti ini, aku rasa Nyonya Shanon pasti sangat bahagia." Shanon mematikan televisi dan menunjukkan senyum pahit. Bahagia? Sebulan yang lalu, dia akan menjawab dengan yakin bahwa dia bahagia. Tapi sekarang, dia tidak bisa mengucapkannya sama sekali. Tidak ada yang tahu bahwa dia sebenarnya bukan berasal dari dunia ini. Sepuluh tahun yang lalu, dia datang ke dunia ini, dan tugasnya adalah menyelamatkan Andy yang menyaksikan kematian kedua orang tuanya di usia muda. Pertama kali bertemu dengan Andy, dia masih seorang remaja murung yang menutup diri dan menolak untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Shanon menghabiskan waktu tiga tahun untuk membimbingnya sedikit demi sedikit keluar dari bayang-bayang dan berkembang menjadi CEO PT. Lukman seperti sekarang ini. Ketika Andy sepenuhnya menguasai PT. Lukman, tugasnya juga selesai. Namun, ketika sistem bertanya apakah dia ingin pergi, dia ragu. Di benaknya terus muncul bayangan Andy yang memeluknya erat, memintanya untuk jangan pergi. Dia tidak berani membayangkan, Andy sudah kehilangan kedua orang tuanya sekali. Apa jadinya jika gadis yang begitu dicintainya juga pergi meninggalkannya? Jadi, dia memilih untuk tinggal di dunia ini dan menikah dengannya. Saat upacara pernikahan, Shanon dengan sungguh- sungguh memberitahu Andy, jika suatu hari dia mengkhianatinya, dia akan menghilang dari dunia ini. Saat itu, Andy menggenggam tangannya dan berjanji, hari itu tidak akan pernah terjadi, cintanya padanya akan abadi. Setelah menikah, seperti janji pernikahannya, cintanya memang tidak memudar. Di hari-hari spesial, Andy akan membatalkan semua pekerjaannya untuk berada di sisinya. Ketika ada wanita yang mendekatinya saat dia keluar untuk bersosialisasi, dia akan mengusir tanpa basa-basi. Saat melahirkan, Shanon mengalami persalinan sulit dan berada di ruang operasi selama sehari semalam. Andy berlutut di luar ruang operasi selama sehari semalam berdoa kepada Tuhan agar dia selamat. Setelah keluar dari ruang operasi, dia bahkan tidak peduli dengan kakinya yang sudah mati rasa dan berjalan terhuyung-huyung ke arah tempat tidur, memegang erat tangannya sambil berlinang air mata. "Shanon, ini semua salahku, aku seharusnya nggak bilang ingin punya anak, kita nggak akan punya anak lagi, aku nggak tega membiarkanmu mengambil risiko." Untuk menunjukkan tekadnya, dia langsung melakukan vasektomi pada hari itu. Saat menamai putranya, dia tidak ragu memilih nama Shane, dia mengatakan bahwa ini mewakili perasaannya padanya. Putranya, Shane, juga merawat ibunya ini seperti seorang pria kecil karena pengaruhnya. Di usia muda, Shane sudah bisa memotong buah dan menyuapkannya ke mulutnya dengan tusuk gigi. Ketika Shanon tidak sengaja menggores jarinya, Shane langsung meniup lukanya dengan penuh perhatian, lalu dengan cepat mencari plester untuk membungkus lukanya. Orang lain pernah bercanda, di keluarga Lukman, Shane tidak terlihat seperti anak kecil yang perlu dirawat, justru Shanon yang perlu dirawat. Shane mendengar itu dan dengan bangga membusungkan dadanya. "Mama adalah orang yang paling kucintai, tentu saja aku harus merawatnya." Andy tersenyum dan mengelus kepala putranya, juga dengan wajah penuh kebanggaan. "Istriku nggak perlu lakukan apa pun, cukup kami saja." Shanon pernah dengan yakin percaya bahwa dia akan bahagia selamanya. Sayangnya, janji itu seperti hilang tertiup angin. Pasangan ayah dan anak yang dulu sangat mencintainya ini, sekarang telah membangun keluarga lain dengan asisten Andy. Mereka berdua berkali-kali pergi "berkumpul" di belakangnya. Suaminya yang telah menikah dengannya selama lima tahun akan merangkul pinggang Rainie dan memanggilnya sayang dengan mesra. Putranya yang dia kandung selama sepuluh bulan akan meringkuk di pelukan Rainie dan memanggilnya Kak Rainie dengan manis. Bahkan kemarin, mereka bukan pergi ke Prancis untuk rapat, melainkan menemani Rainie bermain ski di Swiss. Kata-kata yang diucapkannya di pernikahan kini menjadi kenyataan. Saat mengetahui hal itu, dia sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia ini, meninggalkan pasangan ayah dan anak pembohong ini! Shanon melihat kue di depannya yang perlahan meleleh dan bergumam, "Mereka bukan lagi keluargaku." "Aku ingin meninggalkan mereka." "Siapa yang ingin pergi?" Begitu kata-kata itu diucapkan, terdengar dua suara berkata bersamaan. Bab 2 Shanon mendongak dan langsung melihat Andy dan Shane berdiri di pintu. Shane turun dari pelukan Andy, melompat dengan langkah kecil ke pelukannya. “Mama, siapa yang mau pergi?” Shanon berkata pelan. “Seorang temanku. Pernikahannya hancur, dia berencana meninggalkan suami dan anaknya.” Shane mendongak dan mencium pipinya dengan kuat. “Teman Mama sangat kasihan. Untung aku dan Papa akan selalu mencintai Mama.” Andy menaruh jaketnya dan melangkah mendekat, memeluk mereka berdua, nada suaranya seperti biasa penuh kelembutan. “Shane benar, Shanon, kita sekeluarga akan selalu bersama.” Shanon tidak menjawab, bulu matanya yang panjang menutupi kepahitan di tatapannya. Selamanya kah? Mereka tidak akan lagi punya selamanya. Melihat kue di meja, Shane buru-buru menyerahkan tasnya. “Mama, ini hadiah yang Papa dan aku pilih untukmu!” Andy mengeluarkan kotak kado dari tas dan membukanya, sebuah kalung zamrud. Dengan nada penuh maaf, Andy berkata, “Shanon, pekerjaan di Prancis terlalu sibuk. Aku dan Shane pulang agak terlambat, jangan marah sama kami ya.” Sambil berbicara, dia mengambil kalung itu hendak menundukkan kepala untuk memakaikannya di leher Shanon. Saat mendekat, Shanon mencium aroma melati yang kuat. Padahal dia tidak pernah memakai parfum. Perutnya mendadak mual, tanpa bisa menahan, Shanon mendorong ayah dan anak itu lalu bergegas ke kamar mandi untuk muntah. Andy selalu sangat memperhatikan kesehatannya. Biasanya jika ia batuk sedikit saja, Andy sudah sangat kawatir. Melihat keadaan ini Andy semakin panik dan segera menelepon dokter. Shanon menahannya, matanya yang memerah karena muntah menatapnya tanpa berkedip. “Aku nggak apa-apa, cuma terpikir tentang suami dan anak temanku itu, merasa perilaku mereka menjijikkan.” “Andy, kalau kau nggak mencintaiku lagi, aku akan ...” “Nggak mungkin!” Andy langsung menyela sebelum dia selesai bicara, melangkah maju dan memeluknya erat seolah ingin menyatu dengannya dan tidak pernah berpisah. “Shanon, bukankah kau tahu perasaanku? Sepanjang hidup ini aku hanya akan mencintai satu wanita. Aku nggak akan membiarkanmu meninggalkanku!” Shane juga mengepalkan tangannya, wajahnya serius. “Mama, tenang saja, aku dan Papa pasti nggak akan menyakiti Mama.” “Aku juga akan bantu awasi Papa. Kalau dia berani nggak setia pada Mama, aku pasti langsung bilang pada Mama! Aku selalu di pihak Mama.” Kata-kata ini membuat Andy tersenyum. “Dasar bocah, apakah di hatimu aku seperti itu?” Shane menatapnya sinis. “Hmph, bagaimanapun aku paling cinta Mama, aku akan melindungi Mama.” Mendengar mereka berdebat, ekspresi Shanon tetap tanpa senyum. Dia merasa seolah ada pisau tajam yang mengoyak hatinya berkeping-keping. Andy bilang mencintainya, tapi di luar ada wanita lain. Shane bilang akan menjaganya, tapi dia menutupi perbuatan Andy dari Shanon. Dia tidak lagi bisa membedakan apakah kata-kata mereka kebohongan atau sungguhan. Keesokan paginya, seperti biasa Andy sendiri membuatkan sarapan untuknya, dan menatapnya dengan penuh sayang saat menyajikannya di hadapan Shanon. “Shanon, habis sarapan kita sekeluarga ke tempat ski, bagaimana?” “Kemarin aku dan Shane pulang terlambat, hari ini kami akan menemanimu, merayakan ulang tahunmu.” Shane juga memberinya segelas jus segar, merangkul pinggangnya dan membujuk dengan manja. “Ayo, ayo Mama, main ski itu seru sekali.” Shanon tidak berminat dengan ski, tetapi baru saja selesai sarapan, ayah dan anak itu sudah menyiapkan semua perlengkapan dan menyeretnya masuk ke mobil. Sesampainya di area ski, barulah dia tahu alasan ayah dan anak itu kukuh mengajaknya datang ke sini. Begitu turun dari mobil, dia melihat Rainie berdiri di pintu masuk area ski menoleh ke sana-sini. Begitu Andy dan Shane keluar dari mobil, mata Rainie berbinar. Dia segera berlari mendekat, melepas syal di lehernya dengan luwes dan mengikatkannya pada leher Shane, lalu menyerahkan sebuah termos kepada Andy, tatapannya berkilau. Shanon menatap serangkaian gerakan luwesnya itu dengan diam. Meski masih kecil, Shane biasanya tidak suka orang asing menyentuhnya. Dan sejak enam tahun lalu saat ada orang yang menaruh obat dalam minuman Andy, dia tidak pernah menerima minuman dari wanita selain Shanon. Andy sedikit berdeham, nadanya terdengar canggung. “Shanon, ini asistenku, Rainie. Jadwal ke area ski ini diatur olehnya, lebih praktis kalau dia ikut, jadi kuajak dia.” Shane juga ikut nimbrung, “Iya, iya, Mama, kita hanya perlu main saja, enak kan.” Apakah untuk alasan praktis, atau karena ingin terus-menerus bersama Rainie? Dia sudah tidak punya energi lagi untuk menyelidiki niat mereka yang sebenarnya. Saat itu Rainie seolah baru melihatnya, dengan malu-malu mengulurkan tangan. “Halo, Ibu. Aku nggak akan mengganggu kalian.” Shanon melihat sekilas pergelangan tangan Rainie yang berhias hijau zamrud. “Apa yang kau pakai di pergelangan tanganmu?” Mendengar itu, Rainie memperlihatkan pergelangan tangan putihnya, di sana terpasang sebuah gelang giok hijau, wajahnya menjawab dengan penuh bahagia, “Ini hadiah dari keluargaku.” Bab 3 Dalam lima tahun terakhir, Andy sudah memberinya banyak perhiasan. Shanon bisa langsung membedakan bahwa gelang ini seharusnya satu set dengan kalung yang dihadiahka padannya tadi malam. Shanon mencibir tipis, "Nona Rainie, sepertinya keluargamu sangat menyayangimu." Andy dan Shane memecah satu set perhiasaan itu menjadi dua bagian, separuh untuknya, separuh untuk Rainie. Seperti hati mereka, yang juga bisa dibelah menjadi dua. Rainie tersenyum dengan bahagia. "Iya, mereka selalu bilang paling sayang padaku, memperlakukan aku seperti anak kecil yang dimanja." Mungkin khawatir dia curiga, sepanjang jalan Andy dan Shane terus memperhatikan keadaannya. Saat dia sedikit batuk, Andy langsung melepas jaketnya untuk menyampirkan di bahunya dengan penuh iba, lalu menuangkan air hangat dari termos dan menyuguhkan sampai ke bibirnya dengan penuh perhatian. Shane juga melepaskan syal dan memakaikan pada lehernya seperti orang dewasa dan menasihati agar dia tetap hangat. Tapi Shanon tidak mau mengotori dirinya dengan barang-barang yang beraroma parfum itu. Dia hanya bilang ingin kembali ke hotel untuk istirahat lalu langsung pergi. Andy dan Shane saling bertukar pandang, serentak memutuskan untuk ikut menemaninya pulang ke hotel. Hingga sore hari, ponsel Andy berdering. Dengan cepat dia mematikan nada dering, lalu menoleh ke arah tempat tidur, untungnya Shanon tidak bergeming, barulah dia lega. Nama Rainie terus muncul di layar, dan Shane menarik lengan Andy, berkata dengan suara kecil. "Papa, aku ingin ketemu Kak Rainie." Andy buru-buru memberi isyarat untuk tenang, keduanya saling berpandangan, lalu keluar kamar dengan langkah pelan. Begitu pintu tertutup, Shanon membuka mata, mengenakan pakaiannya dan mengikuti mereka. Andy dan Shane berjalan cepat, sampai akhirnya tiba di depan pintu kamar Rainie. Begitu pintu dibuka, Rainie langsung melompat ke pelukan Andy, suaranya penuh kesedihan. "Andy, akhirnya kalian datang. Hari ini aku sendirian di hotel, aku sangat takut." "Aku nggak minta kalian selalu ada 24 jam di sisiku, cukup luangkan dua jam setiap hari untukku saja." Sambil bicara, Rainie menatap Andy dengan mata basah. Andy paling tidak tahan melihat air matanya, melihat itu hatinya langsung luluh, lalu buru-buru memeluknya dengan penuh rasa sayang sambil menghibur. "Dua jam mana cukup, malam ini aku dan Shane akan menemanimu sepanjang malam." Shane juga ikut menjelaskan. "Kak Rainie, begitu Mama tertidur kami langsung datang, kami juga ingin bersama Kakak." Rainie terlihat tersentuh, tetapi tiba-tiba ekspresinya meredup seperti teringat sesuatu. "Sebenarnya hari ini aku juga kedinginan, tapi di mata kalian cuma ada Nyonya Shanon, bahkan syal dan termos yang kubuat khusus untuk kalian..." Shane khawatir Rainie sedih, cepat-cepat meraih tangannya. "Kak Rainie jangan sedih, itu salahku dan salah Papa. Aku akan menghangatkanmu, tanganku lebih hangat daripada syal." Andy juga mengusap ujung hidungnya dengan manja. "Masa sih cemburu karena hal sepele begitu saja? Tahu kau belum puas main ski di Swiss, aku sengaja pilih tempat ini, nggak cukup kah?" Mendengar itu Rainie menengadah, dan mencium di sudut bibirnya. "Terima kasih, Pak Andy." Tatapan Andy seketika mendalam, dia menahan kepala Rainie, bibir mereka bersentuhan dan berciuman dengan penuh gairah. Shane menutup matanya dan berlari menuju kamar. "Wah, aku nggak mau jadi pengganggu." Beberapa lama kemudian Andy baru melepaskan, muka Rainie merah padam, dan memukul ringan dada Andy. "Shane barusan juga di sini loh." Andy meraih tangannya, menaruhnya di bibir lalu mencium. "Nggak apa, dia juga sudah terbiasa." Lalu merangkul pinggang Rainie, menggandeng Shane masuk kamar dan menutup pintu. Di balik pilar, Shanon sudah menangis sampai air mata membasahi wajah. Walau sudah tahu pengkhianatan mereka sejak lama, melihat sendiri membuatnya merasakan sakit yang menembus tulang. Setiap kata berubah menjadi pedang tajam yang menusuk jantungnya hingga remuk. Yang katanya merayakan ulang tahunnya itu hanya untuk menutupi ketidakpuasan Rainie yang belum puas bermain. Shanon berlutut menekan dadanya, ucapan Andy dan Shane semalam masih bergema di telinganya. Tidak akan membiarkannya pergi? Tapi Andy, Shane, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan kalian. Bab 4 Keesokan paginya, saat Shanon terbangun, Andy dan Shane sedang masuk ke kamar sambil membawa sarapan. Melihat dia bangun, Andy dengan sangat alami menyerahkan sarapan ke tangannya, menatapnya penuh kasih sayang. “Aku dan Shane ingin kau tidur lebih lama, jadi kami sengaja bangun lebih pagi untuk ambil sarapan.” Shane juga memanjat ke atas tempat tidur dengan kaki kecilnya, bersandar di bahunya. “Baru saja ninggalin sebentar aku udah kangen banget, Ma.” Shanon merasakan kedinginan di sampingnya dan pandangannya menunjukkan sedikit sindiran pada diri sendiri. Jelas-jelas mereka tidak pulang semalam, baru juga turun dari ranjang Rainie, tapi beraninya bilang “mengambil sarapan”. Dulunya dia tidak tahu akting mereka sehebat ini. Setelah sarapan, Andy dan Shane langsung mengajaknya ke area ski. Rainie sudah berdandan lengkap dengan perlengkapan ski menunggu mereka di pintu masuk. Tapi Shanon tidak berminat main ski. Andy menatapnya dengan sedikit khawatir, dia bertanya dengan nada menguji, “Shanon, belakangan ini kau kenapa? Apa aku atau Shane bikin kau nggak senang?” Shanon menggeleng. “Nggak, cuma urusan temanku mengganggu suasana hatiku.” Baru setelah itu Andy merasa lega, lalu mencium dahinya dengan lembut. “Tenang Shanon, hal kayak gitu pasti nggak bakal terjadi di keluarga kita. Kalau kau nggak mau main ...” Belum selesai berkata, terdengar suara Rainie yang ragu. “Pak Andy....” Melihat pandangan Rainie yang berpengharapan, Andy menghela napas kecil, lalu mengubah kata-katanya. “Kau tunggu kita di sini, aku, Shane dan Rainie main beberapa putaran, lalu balik.” Shane tidak bicara, tapi Shanon dengan mata tajam melihat tangannya diam-diam sudah meraih ujung pakaian Rainie. Mungkin dia terlalu rindu menghabiskan waktu bertiga, sampai sama sekali tidak khawatir tindakannya ketahuan olehnya. Shanon mengangguk tanpa berkata. Andy menyuruh staf hotel untuk menjaganya, lalu memakaikan sarung tangan dari tas pada tangannya dengan teliti. “Shanon, di sini dingin, aku khawatir kau kedinginan, kalau nggak enak badan langsung telepon aku.” Shane juga memeriksa resleting pakaiannya. “Aku juga nggak mau lihat Mama flu.” Melihat seluruh perhatian mereka tertuju padanya, Rainie tidak bisa menahan rasa cemburunya. “Nyonya, Pak Andy dan Tuan Muda Shane itu baik banget sama Anda.” Mendengar itu Shanon menatapnya sejenak. Di mata Rainie masih tersisa sedikit rasa cemburu yang tidak sempat disembunyikannya. Shanon hanya sedikit tersenyum, dan berkata dengan makna tersirat. “Aku rasa keluargamu lebih sayang samamu.” Fakta bahwa Andy dan anaknya bisa diam-diam membentuk keluarga lain dengan Rainie sudah cukup membuktikan bahwa mereka tidak menghiraukan perasaannya, mereka lebih mengutamakan bersama Rainie. Belum selesai ucapannya, terdengar suara gemuruh dari kejauhan, tanah di bawah kaki seolah mulai bergetar. Shanon hendak bertanya apa yang terjadi, ketika menengadah dia melihat sekilas bayangan putih menyilaukan bergerak cepat ke arahnya. Orang-orang di sekitarnya langsung berhamburan, suasana menjadi kacau. Dia reflek meraih ujung pakaian Andy. Namun detik berikutnya, dia melihat ujung pakaian Andy terseret dari tangannya menuju ke arah Rainie. Dan Shane yang semula di hadapannya juga berlari ke arah yang sama. “Rainie!” “Kak Rainie!” Gubrak! Tumpukan salju berat menimpa Shanon. Sebelum kehilangan kesadaran, dia sempat melihat Andy yang pernah bilang mencintainya dan Shane yang selalu menjaganya melindungi wanita yang di pelukannya. Bab 5 Seminggu sudah berlalu ketika dia sadar kembali. Begitu melihatnya siuman, perawat dengan terburu-buru dan gembira memanggil dokter untuk memeriksanya. “Nyonya Shanon, akhirnya Anda siuman!” “Pak Andy dan Tuan Muda Shane sudah mencari hampir semua dokter di kota ini untuk memeriksa Anda. Demi kesembuhan Anda, Pak Andy bahkan mendonorkan dua puluh miliar rupiah, berharap agar perbuatan baiknya bisa lebih cepat menyembuhkan Anda.” “Mereka pasti akan sangat senang mendengar Anda sudah sadar.” Begitu selesai bicara, Andy dan Shane pun mendorong pintu dan masuk. Melihat Shanon sudah siuman, mereka berdua langsung memeluknya dengan ketakutan, pandangan mereka juga dipenuhi rasa sayang. “Shanon, akhirnya kau bangun, kau tahu nggak betapa khawatirnya aku sepekan ini.” Mata Shane memerah, suaranya tercekat oleh emosi. “Mama, aku begitu takut kau nggak bisa sadar lagi.” Pada umumnya cowok tidak boleh menangis sembarangan, tapi sekarang dia merasakan tetesan air mata di punggung tangannya. Mata Shane juga berlinangan air mata. Akan tetapi, air mata mereka berdua tidak membuatnya terharu. Dia hanya merasa ironis. Ketika bahaya datang, insting perlindungan mereka tertuju pada Rainie. Melihat kenyataan ini, dia sakit hati. Dia yakin telah memberikan cintanya semua pada Andy, mencintai dia dengan segenap jiwanya. Adapun Shane, anaknya, dia membesarkannya sendiri sejak bayi. Namun Rainie, yang baru muncul selama beberapa bulan, dapat dengan mudah menghapus semua itu dan menggantikan posisinya. Melihat ini, Andy dan Shane merasa panik dan buru-buru mulai menjelaskan. “Shanon, situasi saat itu sangat mendesak, aku nggak bisa bedakan yang mana dirimu pada pandangan pertama, jadi aku salah melindungi orang.” “Mama, Papa dan aku nggak akan membiarkanmu dalam bahaya lagi. Kali ini, semuanya salah kami.” Tubuh Shanon yang baru sadar masih lemah. Sekarang dia hanya merasa lelah sekali, dia tidak punya tenaga untuk mengungkap sandiwara mereka yang jelek ini. Dia hanya perlu menunggu seminggu lagi, maka dia bisa meninggalkan tempat ini, meninggalkan ayah dan anak berkedok ini. Selama beberapa hari, mungkin karena merasa bersalah, Andy dan Shane terus menjaganya di rumah sakit. Namun, telepon Andy tak henti-hentinya berdering. Panggilan datang tanpa henti setiap hari, tapi dia mengabaikannya setiap kali. Tetapi pada hari ini, teleponnya bergetar dan pesan masuk. Pupil Andy menyempit dan ekspresinya sedikit berubah ketika membaca pesan tersebut. Beberapa saat kemudian, dia berbicara dengan nada minta maaf. “Shanon, ada urusan mendesak di kantor. Aku harus mengurusnya.” Shane juga ikut membaca pesan, dan dengan terburu-buru berkata, “Mama, aku juga akan ikut Papa ke kantor.” Shanon memperhatikan ekspresi mereka. Urusan apa yang membutuhkan Shane? Pasti menyangkut Rainie lagi. Melihatnya mengangguk, kedua ayah dan anak itu bergegas pergi. Shanon bangun dari tempat tidur dan mengikuti. Di tikungan koridor rumah sakit, dia menyaksikan Rainie dengan air mata mengalir di wajahnya melemparkan dirinya ke pelukan Andy. Namun, ekspresi Andy menjadi muram. Dia melepaskan tangan Rainie dengan kasar, dengan nada penuh peringatan dia bertanya, “Ngapain kau di sini? Aku sudah bilang, Shanon belum sepenuhnya pulih. Kau harus tinggal di rumah beberapa hari ini dan jangan muncul di hadapannya!” Mendengar itu, tangisan Rainie semakin keras dan dia kembali melemparkan dirinya ke dalam pelukan Andy, memeluk pinggangnya erat dengan kedua tangan dan berbicara melalui tangisannya. “Aku sangat merindukan kalian berdua. Sudah sepuluh hari sejak aku terakhir melihatmu. Kita sepakat kau akan menghabiskan setidaknya dua jam bersamaku setiap hari.” Melihat Rainie menangis, Shane menjadi gugup dan mulai menjelaskan dengan terburu-buru. “Kak Rainie, Papa dan aku juga sangat merindukanmu, tapi mama belum sembuh dan kami harus menemaninya.” “Papa, hiburlah Kak Rainie.” Merasa kelembapan di dadanya dan mendengar permohonan anaknya, Andy menghela napas, dan ekspresinya melembut. “Jangan menangis. Hatiku juga hancur melihatmu seperti ini. Aku akan menghabiskan dua hari ke depan bersamamu, oke?” Tangisan Rainie langsung berhenti. “Benarkah?” Setelah mendapatkan konfirmasi dari Andy, Rainie akhirnya tersenyum, lengannya melingkari leher Andy, pandangannya dipenuhi kelembutan. Pandangan Andy meredup, jakunnya bergerak sedikit. Detik berikutnya, Andy meraih bagian belakang kepala Rainie dan menciumnya dengan penuh gairah. Keduanya berciuman dengan penuh gairah sampai menghasilkan suara, seolah mengungkapkan semua kerinduan terpendam selama sepuluh hari terakhir. Melihat ini, Shane menutup matanya dan berbalik, tetapi nadanya diwarnai tawa. "Papa dan Kak Rainie sungguh memalukan!" Shanon kembali ke bangsal dengan linglung, air mata mengalir di wajahnya, membasahi bantal. Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat untuk menahan isak tangisnya. Dia terus berkata pada dirinya sendiri, sebentar lagi, sebentar lagi, lalu dia boleh pergi. Inilah terakhir kalinya dia meneteskan air mata untuk kedua orang ini. Bab 6 Mungkin penelantaran yang berkepanjangan akhirnya membuat Rainie merasa terancam, sehingga dia melepas topengnya dan memperlihatkan sifat aslinya. Keesokan paginya, saat Shanon bangun, dia melihat rentetan pesan provokatif Rainie yang dikirim semalam. [Shanon, aku tahu kau melihatnya. Gimana rasanya lihat suamimu berciuman dengan cewek lain dan anakmu bahkan bantu menutupinya?] [Andy sangat suka saat aku menangis. Dia bilang melihat air mataku memberinya kepuasan tersendiri, terutama saat ... di ranjang.] [Setiap kali aku nangis, dia akan makin bergairah. Dia bahkan nggak mau berhenti saat aku sudah serak, bahkan bilang betapa dia ingin 24 jam bersamaku. Andy nggak pernah begitu denganmu, kan?] [Bahkan anakmu lebih suka bersamaku. Dia bilang dia merasa sangat rileks dan nyaman bersamaku. Suatu kali, saat dia pikir aku tertidur, dia bahkan panggil aku mama.] [Kau sungguh gagal sebagai istri Andy.] Melihat semua pesan provokatif ini, Shanon menahan luapan emosinya dan menyimpan semua pesan tersebut. Hanya sisa tiga hari sebelum kepergiannya, dia bertekad untuk meninggalkan pesan-pesan ini sebagai hadiah perpisahan terakhirnya untuk Andy. Pagi itu, dia minta untuk pulang. Pihak rumah sakit segera memberitahu Andy. Tak lama kemudian, Andy meneleponnya, suaranya terdengar menyesal. “Shanon, aku masih sibuk di kantor. Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu. Aku akan menjaga anak kita, istirahatlah dengan tenang di rumah.” Dia tahu mereka sedang menemani Rainie, maka dia hanya mengiyakan dengan acuh tak acuh. Tiga hari sebelum meninggalkan dunia tersebut, Shanon pulang ke rumah dan memerintahkan pembantu untuk mengumpulkan dan membuang semua barangnya. Pembantu bertanya dengan bingung, “Nyonya, apakah Anda akan menggantinya dengan yang baru?” Dia mengangguk. “Ya.” Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa tidak hanya barang-barang yang akan diganti, tetapi nyonya rumah ini pun akan diganti. Dua hari sebelum meninggalkan dunia, Shanon membuka ruangan rahasia yang hanya dapat diakses olehnya, Andy, dan Shane. Dinding ruangan itu dipenuhi dengan foto-foto mereka selama sepuluh tahun terakhir, beserta potret keluarga tahunan sejak kelahiran Shane. Selama sepuluh tahun itu, sosok-sosok dalam foto-foto tersebut telah tumbuh dari muda menjadi dewasa, dari dua orang menjadi tiga orang saat ini. Tapi sekarang, akan berkurang satu orang. Shanon mengambil sebuah gunting, dan berada di ruang rahasia itu dari pagi hingga malam, menggunting setiap foto dirinya, hanya mengisakan foto Andy dan Shane. Dia kemudian mengambil akta nikah yang Andy simpan dengan khidmat di brankas lima tahun yang lalu. Saat membukanya, dia terkejut menemukan janji pernikahan yang ditulis Andy untuk upacara pernikahan mereka terselip di dalamnya. [Shanon, bagiku, kau adalah duniaku.] [Berkat dirimu, duniaku menjadi terang kembali.] [Aku akan mencintai dan menghargaimu selamanya. Aku percaya kita akan menua bersama, mencintai satu sama lain sepanjang hidup kita.] Dia membaca setiap kata, baris demi baris, halaman yang padat itu mengungkapkan kasih sayang mendalam Andy yang berusia 22 tahun untuk Shanon. Pada akhirnya, Shanon tertawa diam, matanya sedikit berkaca-kaca. Akhirnya, dia mengembalikan janji pernikahan itu ke dalam akta nikah, bersama potongan foto dirinya, menumpuknya di tengah taman sebelum membakarnya. Dia berdiri di sana, menyaksikan sendiri foto dan akta nikah terbakar menjadi abu. Sehari sebelum meninggalkan dunia, Shanon mencetak semua foto dan pesan yang dikirim Rainie beberapa hari ini. Di antaranya ada satu foto Andy, bertelanjang dada, memeluk Rainie yang lehernya dipenuhi bekas ciuman. Foto lain menunjukkan Shane berbaring mesra dalam pelukan Rainie, mendengarkan cerita sebelum tidurnya. Foto lain lagi menunjukkan Rainie, Andy, dan Shane bersama di taman hiburan, semua mengenakan bando kartun. Shanon mengira akan merasa sedih, namun kini dia hanya merasakan ketenangan yang mendalam saat melihat foto-foto tersebut. Shanon memasukkan semua foto yang dicetak bersamaan dengan cincin nikah yang dilepaskannya ke dalam berkas tas. Hari kepergiannya bertepatan dengan ulang tahun pernikahan ketujuhnya dengan Andy. Setelah beberapa hari absen, Andy dan Shane kembali pagi itu. Andy bahkan membawa kue berbentuk hati. “Shanon, salahku karena terlalu sibuk bekerja akhir-akhir ini. Hari ini hari jadi pernikahan kita, aku dan Shane akan menemanimu seharian." Shane juga mengangkat kepalannya dan bersumpah. "Mama, aku bersaksi bahwa Papa memang lembur di perusahaan setiap hari, aku selalu ingat kewajibanku untuk membantumu menjaganya dengan baik." Shanon menatap kedua orang yang membuat janji khidmat itu dan bertanya dengan lembut. "Lelahkah?" Berputar di antara dirinya dan Rainie, dan berpura-pura menjadi suami dan anak yang baik di hadapannya, apakah mereka benar-benar tidak lelah? Bab 7 Andy dan Shane menjawab serempak. "Nggak lelah!" Shane memegang tangannya, menatapnya dengan mata berbinar. "Aku nggak akan lelah dengan apa pun yang berhubungan dengan Mama." Andy mencubit wajahnya dengan penuh kasih sayang. "Shanon, sesibuk apa pun pekerjaanku, semua rasa lelahku lenyap begitu melihatmu." "Lagipula, hari ini adalah hari jadi pernikahan kita. Kita merayakannya bersama setiap tahun. Sesibuk apa pun di kantor, aku pasti akan balik." Shanon hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi. Andy meletakkan kue dan mulai sibuk di dapur. Dia telah meliburkan semua pembantu dan berencana untuk memasak sendiri beberapa hidangan favorit Shanon untuk merayakan hari jadi mereka. Tak mau kalah, Shane membawa bangku kecil dan mulai memotong serta memeras buah. Setelah sibuk seharian, semua hidangan akhirnya disajikan pada siang hari. Andy menyalakan lilin berangka 7 dan menggenggam tangannya, pandangannya penuh cinta. "Shanon, seandainya kau nggak di sisiku saat itu ..." Shane bertepuk tangan gembira. "Wah, Papa dan Mama sangat romantis!" Namun, sebuah deringan tiba-tiba memecah suasana hangat itu. Shanon menarik kembali tangannya dan menyerahkan ponsel yang menampilkan nama Rainie di layar. Andy tersenyum dan berkata dia tidak akan menjawab panggilan siapa pun hari ini. Namun Shanon bersikeras. Setelah melihat nama di layar, Andy ragu sejenak sebelum akhirnya mengangkat telepon. "Shanon, asistenku yang menelepon. Aku takut ada urusan mendesak di kantor, kujawab dulu." Dia kemudian berjalan menjauh dan menjawab telepon. Ketika balik, ekspresi permintaan maaf yang familiar muncul lagi di wajahnya. "Shanon, maaf. Ada keadaan darurat di kantor yang perlu kuurus." Shane tidak tahu apa yang dibicarakan di telepon, tetapi ketika dia melihat Rainie yang menelepon, dia segera melompat dari kursinya dan berlari ke sisi Andy. "Mama, aku juga mau ikut pergi. Aku bisa membantu Mama awasi Papa biar dia lebih cepet membereskan kerjaan dan balik." Melihat keduanya yang dipenuhi ketidaksabaran, Shanon hanya mengangguk. "Pergilah." Andy menghela napas lega dan menggendong Shane. Mereka masing-masing mencium pipi kiri dan kanan Shanon. "Tunggu kami di rumah." "Mama, sampai jumpa nanti." Setelah itu, mereka bergegas pergi, tanpa menyadari kebisuan Shanon. Mereka tidak menyangka ini akan menjadi terakhir kalinya mereka bertiga bertemu. Ketika Shanon melihat mobil Andy menghilang sepenuhnya dari jendela, dia membuang lilin yang sudah lama padam beserta kue ke tempat sampah. Kemudian dia kembali ke kamar tidurnya, mengambil berkas yang telah disiapkan, dan pergi. Bab 8 Sepuluh tahun yang lalu, dia dan Andy pertama kali bertemu di sebuah pusat rehabilitasi swasta di pinggiran kota. Pusat rehabilitasi itu kini terbengkalai, hanya ditumbuhi tanaman menjalar yang menutupi dindingnya. Shanon menyusuri rute yang dia ingat , kenangan tentang Andy membanjirinya bagai air pasang. Saat pertama kali bertemu, Andy mencuekkannya lalu perlahan Andy terbiasa dengan kehadirannya, hingga akhirnya, di tengah hujan lebat, Andy memeluknya dengan erat, tidak mau melepaskannya. Shanon berhenti sejenak di bawah pohon beringin besar di taman belakang. Pohon beringin itu, yang rimbun dan berdaun lebat sepuluh tahun yang lalu, masih tampak segar sekarang. Tangan Shanon menelusuri dua nama yang terukir di batang pohon, begitu samar hingga hampir tidak terlihat, dan dia seakan melihat kembali cowok dengan ekspresi paranoid, namun tatapannya dipenuhi cinta dan kegugupan itu. Dia berkata, “Shanon, aku hanya akan mencintaimu dalam hidup ini.” Dia berkata, “Shanon, aku nggak pernah membiarkanmu meninggalkanku. Kita akan bersama selamanya.” Lalu, dia mengukir nama mereka goresan demi goresan dengan khidmat. Namun kemudian, hatinya terbelah dua, separuh diberikan padanya dan separuhnya lagi kepada wanita lain. Dan keabadian ini hanya bertahan sepuluh tahun. Andy yang berusia sembilan belas tahun tidak akan tahu bahwa di usia dua puluh sembilan tahun, dia akan kehilangan Shanon selamanya. Shanon menggunakan batu untuk menggali lubang di tanah, meletakkan tas berkas di dalamnya, dan dengan hati-hati menimbunnya lagi dengan tanah. Lalu dia menelepon Andy untuk terakhir kalinya. Andy menjawab seketika, suaranya selembut biasanya. "Shanon, ada apa? Ada masalah kah?" Dia menatap pohon beringin besar di hadapannya dan berbicara dengan lembut. "Apakah kau masih ingat pohon beringin di pusat rehabilitasi?" Andy menjawab sambil tersenyum. "Tentu saja aku ingat aku pernah menyatakan cintaku padamu di bawah pohon beringin itu. Waktu berlalu begitu cepat! Sepuluh tahun berlalu dalam sekejap mata." Shanon pun tersenyum. "Bagus. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu dan Shane dan menguburnya di bawah pohon beringin. Jangan lupa datang dan mengambilnya." "Begitu mendengar, Shane sudah senang sekarang, aku juga. Kami akan ambil setelah kelarkan kerjaan. Lalu kita bertiga bersama-sama melihatnya di rumah." Shanon tidak menjawab dan menutup telepon. Tidak akan ada lagi mereka bertiga. Shanon tahu bahwa Andy dan Shane tidak akan pulang malam ini. Dan dia pun tidak akan kembali. Mulai sekarang, Shanon sudah bukan anggota keluarga Lukman. Suara mekanis yang telah lama hilang menggema di telinganya. "Nona, proses pelepasan program sudah selesai. Apakah yakin akan pergi?" "Yakin." Begitu kata-kata itu terucap, cahaya putih menyilaukan muncul di hadapan Shanon, membentuk sebuah lorong. Angin kencang bertiup, meniupkan daun-daun pohon beringin hingga terbang di udara. Dia melangkah masuk tanpa ragu. Andy, Shane, mulai sekarang, kita tidak akan pernah bertemu lagi!