Đang tải thông tin quảng bá...
Cinta Semu yang Kukira Abadi
Ini adalah kali ke-33 pernikahan Richelle dan Dave ditunda. Karena di malam sebelum pernikahan, Richelle tertabrak mobil. Seluruh tubuhnya mengalami 19 patah tulang. Dia tiga kali masuk ICU sebelum ak...
Chương (1)
第1章
Ini adalah kali ke-33 pernikahan Richelle dan Dave ditunda. Karena di malam sebelum pernikahan, Richelle tertabrak mobil. Seluruh tubuhnya mengalami 19 patah tulang. Dia tiga kali masuk ICU sebelum akhirnya kondisinya stabil.
Ketika tubuhnya mulai sedikit membaik, dia menopang tubuhnya di dinding, berniat berjalan-jalan di koridor. Namun, baru sampai di tikungan, dia mendengar percakapan antara tunangannya, Dave, dan temannya.
"Terakhir kamu bikin dia hampir tenggelam, kali ini kamu tabrak dia pakai mobil. Pernikahan kalian tertunda dua bulan lagi. Selanjutnya kamu mau pakai cara apa?"
Richelle yang berdiri di balik tikungan seketika merasa seluruh darah di tubuhnya membeku.
Dave mengenakan jas dokter putih, memainkan ponselnya sambil menyahut dengan nada datar, "Kali ini nggak akan ditunda lagi."
Bab 1
Ini adalah kali ke-33 pernikahan Richelle dan Dave ditunda. Karena di malam sebelum pernikahan, Richelle tertabrak mobil. Seluruh tubuhnya mengalami 19 patah tulang. Dia tiga kali masuk ICU sebelum akhirnya kondisinya stabil.
Ketika tubuhnya mulai sedikit membaik, dia menopang tubuhnya di dinding, berniat berjalan-jalan di koridor. Namun, baru sampai di tikungan, dia mendengar percakapan antara tunangannya, Dave, dan temannya.
"Terakhir kamu bikin dia hampir tenggelam, kali ini kamu tabrak dia pakai mobil. Pernikahan kalian tertunda dua bulan lagi. Selanjutnya kamu mau pakai cara apa?"
Richelle yang berdiri di balik tikungan seketika merasa seluruh darah di tubuhnya membeku.
Dave mengenakan jas dokter putih, memainkan ponselnya sambil menyahut dengan nada datar, "Kali ini nggak akan ditunda lagi."
Temannya agak terkejut. "Jadi, kamu menyerah dan akan menikahi Richelle? Terus, gimana dengan murid magang itu, si Stevie?"
"Waktu kecil Richelle dikirim ke Keluarga Bramasta. Ayahku bilang padaku untuk memperlakukannya dengan baik karena kelak kami akan menikah. Jadi sejak kecil aku sudah menganggapnya seperti istri sendiri. Bahkan, merawatnya sudah jadi kebiasaan .... Sampai aku bertemu Stevie."
Usai mengatakan itu, seulas senyuman muncul di matanya. "Dia memang bukan dari keluarga baik-baik, tapi dia nggak pernah menyerah pada nasib. Dia selalu kuat. Sejak pertama kali melihatnya, aku langsung memperhatikannya."
"Kalau kamu begitu menyukainya, kenapa nggak kejar saja dia?" Temannya merasa heran.
Setelah hening beberapa detik, Dave menunduk dan berkata, "Ibu Richelle pernah berjasa besar pada Keluarga Bramasta. Dia adalah tanggung jawabku. Tiga puluh tiga kali penundaan itu adalah bentuk pergumulanku. Sekarang aku harus memikul tanggung jawab ini. Sedangkan Stevie ... bisa melihatnya dari jauh saja aku sudah merasa cukup. Aku nggak berani berharap lebih."
Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang menancap di jantung Richelle. Dia menahan diri di dinding agar tidak jatuh.
Wajahnya terasa gatal. Ketika menyentuhnya, dia baru sadar bahwa air matanya telah berlinang.
Richelle tak mendengarkan lebih lanjut. Dia berlari terseok-seok kembali ke kamar rawatnya. Air mata membanjiri wajahnya.
Dia tidak pernah menyangka, 33 kali insiden yang menimpa dirinya itu semuanya adalah ulah Dave.
Pertama kali, dia terluka parah karena tertusuk pisau saat terjebak dalam keributan. Kedua kali, dia hampir mati karena digigit ular di taman rumah. Ketiga kali, Dave mengajaknya mendaki gunung dan dia terjatuh, lalu terbaring di ICU selama setengah bulan.
Semua itu hanya karena Dave tidak ingin menikah dengannya ....
Pertunangan mereka sebenarnya sudah ditetapkan sejak Richelle berusia sepuluh tahun. Saat itu, Keluarga Bramasta terjerat kasus dan hampir masuk penjara. Ibunya yang seorang akuntan mengaku bertanggung jawab atas semua kesalahan agar Keluarga Bramasta bisa selamat.
Sebagai imbalannya, kakek Dave membawa Richelle ke rumah mereka, menetapkan pertunangan antara dirinya dan Dave, agar Richelle memiliki jaminan di masa depan.
Sejak kecil, seluruh Keluarga Bramasta, termasuk Dave, sangat baik padanya. Mereka mendukung semua keinginannya. Bahkan saat dia ingin membentuk band yang dianggap rendah oleh kalangan atas, mereka tetap mendukung.
Karena itulah dia yakin mereka saling mencintai. Tak pernah terpikir olehnya bahwa semuanya hanya karena rasa tanggung jawab, apalagi hati Dave sudah dimiliki wanita lain.
Rasa nyeri di dadanya berubah menjadi pisau tajam yang mengorek luka di seluruh tubuhnya.
Sepuluh menit kemudian, Dave masuk ke kamarnya untuk membersihkan luka. Melihat matanya yang agak merah, Dave sempat tertegun. "Ada apa? Lukanya sakit lagi?"
Menatap wajah penuh kepedulian itu, kata "tanggung jawab" terus menggema di kepala Richelle. Sungguh menyesakkan dadanya.
Daya tahannya terhadap rasa sakit lebih rendah dari orang lain, jadi bahkan untuk perawatan luka pun perlu bius lokal.
Dave mengambil bius itu, tetapi sebelum sempat menyuntikkan, ponselnya berdering. Dia lantas meletakkan obat biusnya dan mengangkat telepon.
Richelle menatap gantungan kecil di ponsel Dave dan teringat masa lalu. Dulu saat band-nya meraih kemenangan pertama dalam kompetisi dan mendapatkan gantungan kecil, dia dengan senang hati memberikannya kepada Dave. Namun, Dave melemparkannya ke dalam laci dan mencela dengan alis berkerut, "Terlalu kekanak-kanakan."
Namun sekarang, di ponselnya tergantung gantungan yang sama persis dengan milik Stevie. Benda itu bergoyang ke sana sini, sangat menusuk mata Richelle.
Suara dari telepon terdengar jelas di ruang rawat yang hening. Itu suara Stevie. "Dokter, di sini ada pasien yang aku agak ragu dengan kondisinya. Bisa tolong datang sebentar?"
Begitu mendengar itu, Richelle bisa merasakan suasana di sekitar Dave berubah lebih ringan, seolah-olah dia merasa bahagia.
"Baiklah, aku segera ke sana." Suaranya terdengar riang.
Dulu Richelle mengira itu hanya bentuk perhatian seorang pembimbing pada murid magangnya. Kini, dia sadar perasaan itu ternyata sudah ada sejak lama.
Setelah menutup telepon, Dave melewati obat bius yang tergeletak di meja, langsung mengambil alat untuk membersihkan luka.
Rasa sakit luar biasa menyebar dari lukanya ke seluruh tubuh. Richelle menahan suara. Kepalanya pusing. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh. Dengan suara bergetar, dia memanggil, "Dave ... belum disuntik obat bius ...."
Tangan Dave tak berhenti. Dia menghibur dengan tidak acuh, "Tanpa bius hasilnya lebih baik. Bius bisa menghambat efek obat. Tahan sedikit ya."
Tubuh Richelle bergetar menahan sakit. Tangannya mencengkeram seprai hingga hampir robek. Suaranya parau, nyaris seperti permohonan. "Dave ... tolong suntikkan biusnya .... Aku benar-benar kesakitan."
"Ayolah, tahan sebentar lagi. Sebentar saja." Gerakan tangannya malah semakin cepat.
Beberapa menit kemudian, perawatan selesai. Dave melempar alat ke nampan logam.
Richelle yang tak berdaya terbaring di ranjang. Dari sudut matanya, dia melihat Dave meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa.
Padahal obat bius sama sekali tidak akan menghambat efek obat. Dave hanya ingin segera pergi ke tempat Stevie, bahkan tak sudi menunggu lima menit pun.
Seketika, hatinya seolah-olah tersayat-sayat. Air mata jatuh di seprai putih dan bersih. Rasa sakit terus menggerogoti tubuhnya, hingga akhirnya pandangannya gelap dan dia kehilangan kesadaran.
Bab 2
Saat Richelle sadar kembali, dia mendapati sekelompok orang mengelilinginya. Semuanya adalah para mahasiswa magang di bawah bimbingan Dave, termasuk Stevie.
Dia memaksakan diri untuk duduk dan bertanya dengan suara lemah, "Kalian sedang apa di sini?"
Seorang mahasiswa berwajah polos menjawab, "Guru kami bilang mau menjadikanmu contoh kasus untuk penjelasan, jadi kami disuruh datang dulu ...."
Namun, orang di sebelahnya langsung menyikutnya dan mencibir. "Ngapain jelasin panjang-panjang ke dia? Orang yang cuma tahu memanfaatkan budi kayak dia, nggak pantas dapat sikap baik dari kita."
Wajah Richelle memucat. Dulu, mungkin dia tidak akan bereaksi terhadap kata "balas budi". Namun, sekarang justru kata-kata itu terasa menusuk. Karena memang benar, Dave terperangkap di sisinya karena harus membalas budi.
"Ya. Kalau bukan karena dia, guru kita pasti sudah bisa mengejar cinta sejatinya." Ucapan itu disertai tatapan penuh arti ke arah Stevie yang berdiri di tengah.
Melihat ekspresi sedikit canggung di wajah Stevie, hati Richelle seperti dicabik-cabik.
Tiba-tiba, seseorang bertepuk tangan dan menambahkan, "Menurut kalian, mungkin nggak ibunya sengaja menyerahkan diri supaya putrinya bisa menikah dengan guru kita? Soalnya guru kita berasal dari keluarga yang sangat hebat. Mereka nggak akan bisa naik level setinggi itu seumur hidup."
Yang lain langsung menyahut, "Benar juga! Rupanya begitu. Memang ibu dan anak sama saja, dua-duanya bukan orang baik. Ibunya bahkan lebih licik lagi."
Tangan Richelle mengepal erat. Mereka boleh mengatakan apa pun tentang dirinya karena dia tahu posisinya salah dan rela menanggungnya. Namun ibunya ... ibunya yang dulu menanggung kesalahan demi menyelamatkan Keluarga Bramasta, bukan karena ingin imbalan, melainkan murni karena rasa terima kasih.
Kata-kata mereka semakin tajam dan menusuk. Richelle tak bisa lagi menahan diri. Dia pun berdiri, mengangkat tangan, dan hendak menampar orang yang paling banyak berbicara.
Dari sudut mata, Stevie melihat Dave hendak masuk ke ruangan dan segera melangkah ke depan orang itu.
Plak! Tamparan itu malah mendarat di pipi Stevie. Richelle tertegun di tempat.
Dave yang baru masuk ruangan langsung melihat adegan itu. Dia melangkah cepat ke depan, meraih Stevie ke dalam pelukannya, lalu dengan kasar mendorong Richelle menjauh.
Suaranya penuh amarah. "Richelle, apa yang kamu lakukan?!"
Richelle terpaku, menatapnya dengan tidak percaya. Dave belum pernah berbicara padanya dengan nada sekeras itu.
Dave tidak menanggapi tatapannya itu. Dia hanya memandang Stevie dengan penuh kasih sayang, lalu membawanya keluar untuk mengobati lukanya.
Sepuluh menit kemudian, Dave kembali. Dia langsung berkata, "Pergi minta maaf pada Stevie."
Richelle menunduk, diam tanpa bersuara sedikit pun.
"Selama ini aku terlalu memanjakanmu," kata Dave dengan nada keras.
Tubuh Richelle menegang, matanya panas. Dia menoleh pada Dave dan berujar, "Mereka duluan yang bilang aku cuma memanfaatkan jasa ibuku dan bilang ibuku sengaja menanggung dosa supaya aku bisa menikah dengan Keluarga Bramasta. Lagian, aku nggak berniat menampar Stevie. Dia yang tiba-tiba maju sendiri!"
Namun, tatapan Dave tetap dingin tanpa sedikit pun kelembutan. "Memangnya mereka salah?"
Mata Richelle membelalak. Napasnya tercekat, tatapannya penuh ketidakpercayaan. Rasa sedih dan perih hampir menenggelamkannya.
Benar ... bukankah selama ini Dave memang berpikir begitu? Kalau tidak, kenapa dia terus menyakitinya untuk menunda pernikahan? Kalau tidak, kenapa dia bilang semua itu hanya karena tanggung jawab?
Richelle menunduk, tersenyum pahit. "Baiklah, aku akan minta maaf."
Dengan tubuh yang nyaris remuk, dia mengikuti Dave menuju ruang kantornya. Begitu pintu terbuka, dia melihat Stevie duduk sendirian di kursi kantor. Richelle tertegun sejenak, mengingat sesuatu dari masa lalu.
Dulu ketika dia ingin menjemput Dave sepulang kerja, Dave berkata akan pulang terlambat. Richelle menawarkan untuk menunggunya di kantor, tetapi Dave menolak. "Di kantorku banyak dokumen penting. Aku nggak bisa membiarkan siapa pun sendirian di dalam."
Namun kini, Stevie bisa duduk sendirian di sana. Ternyata prinsip seorang pria hanya berlaku untuk orang yang tidak dia sukai. Karena di depan orang yang dicintainya, semua batasan lenyap begitu saja.
Richelle menekan rasa sakit di dadanya dan melangkah ke depan Stevie. Dia menunduk, lalu berkata, "Maaf, tadi aku nggak sengaja menamparmu."
Stevie tampak terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan. "Bu Richelle, jangan bicara begitu. Ibu istri Pak Dave."
Dave berjalan mendekat, mengelus kepala Stevie, lalu berujar dengan nada tak senang, "Aku belum menikah dengannya. "
Dulu setiap kali orang lain memanggil Richelle begitu, Dave tidak pernah membetulkan. Sekarang ketika yang mengucapkannya adalah Stevie, dia justru menegaskan. Apa dia tidak ingin mendengar kalimat seperti itu dari mulut orang yang dia cintai? Senyuman pahit melintas di mata Richelle.
Stevie mengiakan dengan patuh, lalu mengoreksi. "Baiklah. Jangan terlalu merasa bersalah, aku sudah memaafkanmu."
Sikap penuh pengertian itu akhirnya membuat Dave melunak. "Kamu boleh kembali ke kamar, istirahat yang cukup."
Kuku Richelle menancap dalam ke telapak tangannya. Dia berbalik dan keluar dari kantor. Baru berjalan beberapa langkah, seseorang tak sengaja menabraknya. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai. Rasa sakit menyebar ke seluruh tubuh, membuatnya berkeringat dingin.
Dari dalam kantor, terdengar suara lembut Dave. "Masih sakit? Biar aku oleskan obat lagi ya."
Air mata Richelle tak lagi bisa ditahan, jatuh bertubi-tubi ke lantai. Dia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Hanya bahunya yang bergetar hebat menandakan betapa dalam kesedihannya.
Keesokan harinya, Dave pergi ke rumah sakit lain untuk kunjungan profesional dan hanya membawa satu mahasiswa magang, yaitu Stevie.
Selama seminggu Richelle dirawat, para mahasiswa magang terus berdatangan ke ruangannya untuk bergosip. Katanya Dave membawa Stevie jalan-jalan, katanya mereka menikmati makanan lezat, katanya mereka mengunjungi lokasi wisata populer. Padahal hal-hal seperti itu tak pernah Dave lakukan bersamanya.
Richelle tak menanggapi sepatah kata pun. Namun, rasa sakit di dadanya nyaris merobek dirinya dari dalam. Hingga akhirnya, di matanya muncul secercah kelegaan.
'Dave, aku membebaskanmu ....'
Begitu keluar dari rumah sakit, hal pertama yang dia lakukan adalah pergi ke rumah lama Keluarga Bramasta. Dia ingin membatalkan perjanjian pernikahan mereka.
Bab 3
"Paman, aku ingin membatalkan pernikahan kami." Richelle berdiri di ruang tamu, berucap dengan nada tegas.
Stanley, ayah Dave, terkejut sejenak mendengar itu. "Kenapa tiba-tiba? Bukankah pernikahan akan segera dilaksanakan?"
Richelle menunduk, menutupi kepahitan di matanya. "Aku dan Dave nggak saling mencintai, lebih baik nggak menyia-nyiakan waktu satu sama lain. Ibuku juga sebentar lagi keluar. Aku ingin membawanya pergi dan menemaninya dengan baik."
Melihat keteguhannya, Stanley hanya bisa mengangguk. "Baiklah, aku akan atur tiketnya. Setelah ibumu keluar dalam dua minggu ini, kalian bisa pergi ...."
Tiba-tiba, terdengar suara Dave dari belakang. "Siapa yang ingin pergi?"
Richelle langsung tegang. Sebelum Stanley sempat berbicara, dia menyahut, "Nggak ada, kenapa kamu pulang?"
Dave tidak menanyakan lebih lanjut. "Aku dengar kamu kembali, jadi aku datang menjemputmu."
Akhirnya, Stanley menyuruh mereka untuk makan dulu sebelum pergi.
Di meja makan, Dave terbiasa mengambilkan makanan untuknya. Dalam hal-hal seperti ini, dia selalu tepat, misalnya menjemputnya pulang atau mengambilkan makanan untuknya. Karena itu, Richelle pernah salah paham bahwa Dave benar-benar menyukainya.
Di tengah makan, Dave membicarakan soal pernikahan. "Ayah, pernikahan akan tetap berlangsung dua minggu lagi. Ingat untuk mengabari para tamu."
Stanley terkejut sejenak, menatap mereka berdua. "Richelle nggak memberitahumu? Bukankah dia ingin membatalkannya?"
Suara Stanley tertutupi oleh dering telepon. Dave mengangkatnya. Richelle duduk di sampingnya, jadi bisa mendengar seluruh percakapan.
"Dokter, Stevie demam, tapi dia nggak mau pulang kerja. Tolong cepat datang dan membujuknya!"
Dave menepuk telepon, berkata dengan sedikit cemas, "Kamu jaga dia dulu, aku segera ke sana."
Setelah menutup telepon, dia bertanya kepada Stanley, "Ayah tadi bilang apa?"
Belum sempat Stanley menjawab, dia menambahkan, "Nanti saja, ada urusan mendesak. Aku pergi dulu."
Setelah itu, dia meninggalkan semua tata krama yang selama ini dijaga. Saat berdiri, kursi berdecit keras. Kemudian, dia melangkah cepat menuju pintu.
Melihat punggungnya, jantung Richelle terasa seperti dicengkeram oleh tangan besar. Rasa sakit merayap di dada.
Setelah meninggalkan rumah keluarga Bramasta, Richelle pergi ke penjara. Dia memegang telepon transmisi, menatap ibunya yang terlihat lelah di balik kaca, menahan diri agar tidak menangis.
Rami menatapnya dengan mata penuh haru. Dia menempelkan telepon dengan erat di telinganya. "Richelle, apa Keluarga Bramasta dan Dave memperlakukanmu dengan baik selama bertahun-tahun ini?"
Richelle menarik lengan bajunya untuk menutupi bekas luka. Dia tersenyum. "Mereka baik padaku, Ibu. Jangan khawatir."
Rami merasa lega. "Pernikahan kalian sudah dekat ya? Sayang sekali aku nggak bisa hadir."
"Kami nggak jadi menikah. Dia nggak menyukaiku." Richelle berusaha menampilkan ekspresi santai. "Nanti setelah Ibu keluar, kita pergi dari sini ya? Aku akan selalu menemani Ibu. Hanya kita berdua."
Rami memandang Richelle dengan hati yang hancur. Matanya berkaca-kaca. "Baiklah, terserah kamu saja."
Richelle kembali ke rumah yang kosong. Sudah sebulan setengah sejak terakhir kali dia di tinggal di rumah ini. Dia menatap pemandangan yang familier, tetapi kini segalanya sudah berubah.
Richelle naik ke lantai atas, merapikan barang-barangnya sendiri. Barang-barang yang Dave dan Keluarga Bramasta berikan tetap ditinggalkan di rumah. Barang-barang itu memang bukan miliknya, jadi dia tidak punya hak untuk membawa atau membuangnya.
Malam itu, Dave tidak pulang sama sekali. Dia baru kembali keesokan siang. Dia datang dengan seorang penata busana dan penata rias. "Malam ini ada acara medis. Aku akan mengenalkanmu pada orang-orang."
Dave tidak pernah menutupi identitas Richelle sebagai menantu Keluarga Bramasta di luar rumah. Karena baginya, itu adalah tanggung jawab.
Setelah siap, Richelle berjalan ke mobil. Dia ingin membuka pintu penumpang depan, tetapi tidak bisa dibuka.
Saat itu juga, dari kursi pengemudi, Dave berkata, "Nanti kita akan menjemput Stevie. Dia mabuk kendaraan, jadi kamu duduk di belakang."
Richelle menggenggam pegangan pintu lebih erat. Apakah Dave lupa bahwa dirinya juga mabuk kendaraan?
Dia menunduk, tersenyum mengejek diri sendiri. Tanpa berkata apa-apa, dia pun membuka pintu belakang.
Setelah menjemput Stevie, wanita itu langsung berkata, "Dokter, terima kasih sudah menemaniku semalam. Kalau nggak, aku nggak akan sembuh secepat ini."
Mata Dave penuh kasih sayang. Dia mengelus kepala Stevie. "Bagus kalau sudah sembuh. Tubuhmu lemah, harus jaga kesehatan."
Adegan itu menusuk hati Richelle. Stevie tampak terkejut melihat Richelle. "Richelle juga di sini? Aku duduk di sini nggak apa-apa? Aku duduk di belakang saja ya?"
Dave menyalakan mobil. "Nggak apa-apa, kamu duduk di sini."
Richelle mengalami mabuk kendaraan parah. Di setengah perjalanan, dia mulai menelan air liur. Untungnya, mereka sampai di lokasi sebelum benar-benar pingsan.
Dia merangkul lengan Dave saat masuk, sementara Stevie mengikuti di sampingnya.
Sepanjang acara malam medis, Dave memang memperkenalkannya pada banyak orang, tetapi hanya sekadar perkenalan. Fokusnya tetap memperkenalkan Stevie pada tokoh-tokoh medis, sementara Richelle menjadi pendamping saja.
Efek mabuk kendaraan masih terasa. Richelle tidak ingin berlama-lama di sana, jadi memberi tahu Dave akan ke kamar mandi.
Dia berada di luar selama setengah jam. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia kembali ke aula.
Namun, saat sampai di pintu, Richelle melihat Dave menggendong Stevie yang tampak lemah, menuju ke lantai atas. Wajah Stevie memerah, napasnya tersengal-sengal.
Suara Dave serak, seolah-olah menahan sesuatu dengan keras. "Stevie, tahan sedikit. Sebentar lagi sampai."
Hati Richelle bergetar. Dia mengikuti mereka. Sepanjang jalan hingga ke lantai atas, dia melihat mereka masuk ke sebuah kamar.
Bab 4
Richelle hanya merasa kepalanya berdengung keras. Otaknya benar-benar berhenti bekerja pada saat itu. Dia tahu apa arti masuk ke kamar hotel bersama seseorang, tetapi dia tidak ingin menebak.
Dalam hatinya masih ada sedikit harapan. Mungkin Dave hanya mengantar Stevie kembali ke kamar?
Dia berjalan sampai ke depan pintu kamar. Namun, ketika dari balik pintu terdengar suara keduanya, suara napas tertahan yang tak bisa disembunyikan dan suara air yang seolah-olah penuh keintiman, harapan itu lenyap seketika.
Richelle tidak menerobos masuk. Dia sudah cukup menyedihkan, jadi tidak ingin membuat dirinya semakin terpuruk.
Sambil menutup mulut dengan tangan, dia menahan tangisan yang hampir pecah, lalu terhuyung-huyung melarikan diri dari hotel.
Malam itu, Richelle duduk di sofa menatap ke luar jendela. Dia terdiam sepanjang malam. Di kepalanya terus muncul bayangan tentang apa yang mungkin terjadi di kamar itu setelahnya, membuat hatinya sakit sampai tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Keesokan harinya, Dave baru pulang ke rumah. Pakaian di tubuhnya kusut parah. Ada noda cairan yang tidak jelas dan seluruh tubuhnya berbau parfum Stevie.
Mata Richelle merah karena semalaman tidak tidur. Dia menatapnya dan berkata pelan, "Kamu tidur dengan Stevie semalam."
Gerakan Dave yang sedang melepas dasi terhenti sejenak. Kemudian, dia membuka mulut. "Maaf, aku tahu ini salahku. Tapi semalam dia terminum sesuatu. Efek obatnya kuat dan hanya aku yang bisa membantunya ...."
"Tapi kalian tetap tidur bersama. Kamu masih ingat kalau kamu punya tunangan?" Suara Richelle bergetar. Tubuhnya gemetar saat berjalan mendekati Dave.
Dave yang tidak tidur semalaman merasa kepalanya berat dan kesabarannya pun menipis. "Aku sudah bilang aku hanya membantu. Dan itu hanya sekali. Jangan berpikir terlalu banyak. Aku pasti akan menikahimu. Pernikahan akan segera diadakan, jadi jangan membuat masalah."
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan pergi dari rumah, seolah-olah tidak ingin menghadapi Richelle yang menurutnya sedang bersikap tidak masuk akal.
Pintu tertutup dengan keras. Richelle terjatuh ke lantai tanpa tenaga. Air mata mengalir tak terkendali. Namun, entah kenapa dia malah tertawa.
Dia merasa dirinya benar-benar bodoh. Sudah tahu Dave hanya memiliki rasa tanggung jawab terhadapnya, tetapi dia masih berharap akan sesuatu.
Entah sudah berapa lama duduk di sana, akhirnya dia seperti mayat hidup yang berjalan menuju kamar dan terlelap begitu saja.
Richelle terbangun karena ditarik paksa oleh Dave. Dia menyeretnya keluar dari rumah dan memasukkannya ke mobil, tanpa peduli seberapa keras Richelle berusaha melepaskan diri.
"Dave! Apa yang kamu lakukan?"
Mobil melaju kencang. Suara Dave gelap dan dingin. "Kamu tanya aku ngapain? Aku sudah bilang jangan bikin keributan! Kenapa kamu memotret dan menggunakan foto ranjang untuk mengancam Stevie?"
Richelle kebingungan. "Aku nggak melakukan hal seperti itu!"
"Kalau bukan kamu, siapa lagi? Siang ini Stevie meninggalkan surat pengunduran diri, lalu naik ke atap gedung! Kalau sampai dia kenapa-napa, aku nggak akan memaafkanmu!" Dave menggertakkan giginya dengan penuh amarah dan kebencian.
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Richelle ditarik ke atap. Di sana, tampak Stevie sedang duduk di tepi, tampak rapuh dan putus asa.
Orang-orang yang ingin melihat sudah diblokir di bawah, jadi di atap hanya ada mereka bertiga.
Dave menatap Stevie dengan cemas. Suaranya lembut. "Stevie, aku sudah membawanya ke sini. Dia akan berjanji nggak akan menyebarkan foto-foto itu. Turunlah, di atas sana sangat berbahaya."
Dia sama sekali tidak memberi Richelle kesempatan untuk menjelaskan, menuduhnya begitu saja. Hatinya terasa seperti ditusuk jarum berkali-kali.
"Aku sudah bilang bukan aku pelakunya," kata Richelle dengan dingin.
Stevie berdiri. Matanya dipenuhi kesedihan saat berujar, "Dokter, setelah foto-foto itu tersebar, reputasiku pasti hancur. Lalu apa gunanya aku hidup?"
Dave panik luar biasa. Sambil menarik Richelle, dia perlahan mendekat. Suaranya bergetar. "Stevie, jangan bertindak gegabah. Aku nggak akan membiarkan foto itu tersebar ...."
Dia menenangkan Stevie sambil terus mendekat, hingga hanya berjarak dua langkah.
Saat Stevie sedikit lengah, Dave langsung melepaskan Richelle dan menarik Stevie ke dalam sisi atap. Namun, tubuh Richelle yang tertabrak kehilangan keseimbangan dan jatuh dari lantai empat.
Segalanya terasa melambat. Pemandangan Dave yang panik dan memeluk Stevie erat di pelukannya sungguh menusuk mata Richelle.
Richelle jatuh bebas. Dia menatap langit biru di atas sana, memejamkan matanya dengan putus asa.
Rasa sakitnya jauh lebih menyiksa daripada yang dia bayangkan. Bahkan air matanya pun belum sempat jatuh sebelum kesadarannya hilang.
Bab 5
Saat membuka mata lagi, Richelle sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Seluruh tubuhnya terasa seperti remuk. Dia bahkan sudah tidak tahu lagi ini kali keberapa dia masuk rumah sakit.
Saat itu, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Itu panggilan dari petugas polisi yang biasa dia beri uang untuk menjaga ibunya. "Bu Richelle, ibumu di penjara sedang mendapat 'perlakuan khusus'. Apa kamu menyinggung seseorang?"
Napas Richelle sontak terhenti. "Kamu bilang apa?"
"Ada orang yang menyuruh atasan untuk 'mengurus' ibumu. Sekarang dia nggak diberi makan, ditindas oleh teman satu sel, dan setiap hari dipaksa berjemur di bawah matahari selama sepuluh jam!"
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Dunia Richelle seakan-akan berputar. Suara di ponsel semakin lama semakin jauh.
Pintu kamar rumah sakit tiba-tiba terbuka dengan keras. Dave masuk.
Richelle perlahan mengangkat kepalanya, menatapnya, dan tiba-tiba semuanya menjadi jelas. "Kamu yang melakukannya."
Hanya Dave yang mampu melakukan hal seperti ini. Apalagi dia masih menganggap Richelle yang mengancam Stevie.
Wajah Dave tidak menunjukkan sedikit pun rasa bingung atau terkejut.
Richelle menatapnya seperti menatap orang asing. Suaranya bergetar. "Ibuku pernah menolong keluargamu. Kamu nggak bisa memperlakukannya seperti ini. Kesehatannya sangat buruk. Dia nggak akan sanggup menahan siksaan seperti itu."
Dave berjalan mendekat, lalu menekan pipi Richelle. Matanya dingin. "Benar, dia memang berjasa pada keluarga kami. Tapi bukan pada Stevie. Kalau kamu punya masalah, datanglah padaku. Semua ini aku yang tanggung. Tapi kenapa kamu harus menyakiti orang yang nggak bersalah?"
Pada akhir kalimatnya, cengkeramannya begitu kuat hingga wajah Richelle terasa seperti akan remuk.
Richelle menatapnya dengan mata penuh keteguhan. "Aku nggak mengambil foto itu, juga nggak pernah mengancam Stevie. Kalau kamu nggak percaya, periksa saja rekaman CCTV di depan hotel."
"Kalau bukan kamu, siapa lagi? Stevie berkepribadian lembut, nggak pernah punya masalah dengan siapa pun, kecuali kamu." Tatapan Dave dingin.
Tidak peduli seberapa keras Richelle membela diri, dia sudah memutuskan untuk tidak memercayai wanita itu.
Richelle menahan senyuman getir. Air mata menetes dari sudut matanya dan jatuh di punggung tangan Dave.
Dave merasakan kehangatan itu, seolah-olah ada sesuatu di dalam hatinya yang tersentuh sesaat, lalu padam lagi.
"Baiklah, aku tahu aku salah. Tolong suruh mereka lepaskan ibuku. Aku nggak akan pernah mendekati Stevie lagi."
Richelle menunduk, akhirnya menyerah. Dia tidak ingin lagi melawan karena semuanya hanya sia-sia. Dia hanya ingin ibunya selamat. Dia masih ingin membawa ibunya pergi dari sini.
Melihat Richelle mulai melunak, genggaman Dave pun mengendur. Nadanya ikut melembut. "Aku juga nggak ingin menyakiti Bibi. Tapi Stevie nggak bersalah. Dia juga nggak akan muncul lagi dalam kehidupan kita nanti. Kalau kamu nggak mau berhubungan dengannya, nggak apa-apa. Tapi jangan lukai dia."
Richelle merasakan keningnya disentuh lembut oleh kecupan singkat. Dia hanya mengangguk dengan tatapan kosong, seperti boneka tanpa jiwa.
Sayangnya, meskipun dia sudah begitu patuh, dia tetap saja gagal menyelamatkan ibunya. Keesokan harinya, Richelle menerima telepon dari penjara. Sepanjang perjalanan ke sana, pikirannya kosong. Ketika tersadar kembali, dia sudah berada di depan kamar jenazah.
Di atas ranjang dorong yang baru saja dibuka kainnya, terbaring ibunya. Wajahnya pucat tanpa suara ataupun napas. Richelle jatuh berlutut. Tangannya gemetar. Dia sampai tidak berani menyentuh tubuh ibunya.
Suaranya serak. Air matanya menetes di wajah ibunya yang dingin, tak mampu membawa sedikit pun kehangatan kembali. "Ibu ... bukankah Ibu bilang mau pergi bersamaku .... Bangunlah .... Kita sebentar lagi akan pergi .... Kenapa ... kenapa ...."
Di sampingnya, petugas polisi menjelaskan dengan lirih, "Serangan panas. Saat ditemukan, sudah terlambat."
Hari itu juga, Richelle membakar jenazah ibunya. Upacara pemakaman hanya dihadiri olehnya seorang diri.
Sebelum pemakaman dimulai, dia menelepon Dave 19 kali. Semuanya tidak diangkat. Saat hendak menutup telepon, dia melihat video terbaru di akun Stevie.
Video itu diambil di sebuah konser besar. Di sebelah Stevie, seorang pria menunduk dan menatapnya dengan lembut. Itu adalah Dave yang dicari-cari oleh Richelle.
Suara dalam video bising, lampu-lampu berkelap-kelip. Semua itu mengingatkannya pada masa lalu, ketika dia pernah mengundang Dave menonton pertunjukan band-nya di klub musik live.
Dave menjawab, "Kamu tahu aku nggak suka tempat yang ramai dan berisik."
Sekarang, dia rela menemani Stevie ke konser yang padat orang seperti itu. Richelle menatap layar, tersenyum getir, lalu tidak menelepon lagi.
Di rumah duka, dia membeli sebuah kalung, lalu memasukkan abu ibunya ke dalam kalung itu dengan tangannya sendiri. "Ibu, aku akan bawa Ibu pergi."
Bab 6
Richelle pulang larut malam. Di perjalanan turun hujan deras. Ketika tiba di rumah, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup.
Begitu membuka pintu, Dave sudah pulang. Richelle sama sekali tidak menoleh ke arahnya dan langsung berjalan ke lantai atas. Baru saja sampai di tangga, tubuhnya tiba-tiba diselimuti oleh handuk dari belakang.
Suara Dave terdengar khawatir. "Kenapa nggak suruh aku jemput? Kamu sampai basah begini."
'Kalau aku minta kamu datang, kamu akan datang?' Kilatan sinis melintas di mata Richelle. Dia menepis tangan Dave dan naik ke lantai atas.
Setelah mandi dan keluar dari kamar mandi, Richelle melihat Dave sedang meniup segelas teh jahe agar tidak terlalu panas.
Sebenarnya Dave adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Kalau tidak, mana mungkin selama lebih dari sepuluh tahun ini Dave begitu memperhatikannya, sampai-sampai Richelle sendiri tidak bisa membedakan antara rasa tanggung jawab dan cinta.
Begitu melihatnya keluar, Dave menarik Richelle duduk di tepi tempat tidur, lalu menyuapinya satu demi satu sendok. "Panas nggak? Cepat habiskan. Sebentar lagi kita akan menikah, jangan sampai kamu flu di waktu seperti ini."
Richelle menunduk, diam, dan meneguk habis minumannya. Ketika menatap punggung Dave yang keluar dari kamar, hatinya terasa hampa.
'Dave, seperti yang kamu mau, nggak akan ada pernikahan lagi ....'
Keesokan harinya, Richelle pergi ke kantor imigrasi untuk mengurus visa. Begitu keluar dari gedung, dia berpapasan dengan Dave dan para mahasiswa magangnya.
Dave melihat ke arah Richelle keluar, lalu sedikit mengerutkan kening. "Ngapain kamu ke sini?"
Richelle menjawab dengan tenang, "Ada anggota band yang mau ke luar negeri, aku bantu urus."
Dave tidak menanyakan lebih jauh. Bagaimanapun juga, dia tak pernah membayangkan kalau orang yang sebenarnya akan ke luar negeri itu adalah Richelle sendiri.
Salah satu mahasiswa magang berkata, "Hari ini kami mau makan bareng, Bu Richelle ikut juga ya."
Dave menambahkan, "Ayo, nanti kita pulang bareng."
Akhirnya, mereka makan di sebuah restoran hotpot. Richelle sempat melirik Dave. Karena dulu, setiap kali dia mengajak Dave makan hotpot, Dave selalu menolak dengan alasan baunya terlalu kuat.
"Aneh juga ya, biasanya Dokter Dave nggak suka tempat begini," ujar salah satu asisten sambil menyilangkan tangan. "Ini karena Stevie suka makan. Apa pun yang Stevie mau, mau itu hotpot, seblak, jajanan pinggir jalan, Dokter Dave pasti temani."
Richelle menunduk dan tersenyum getir, tak mengatakan apa pun.
Begitu duduk, mereka langsung menempatkan Dave dan Stevie bersebelahan, lalu seolah-olah baru sadar akan kehadiran Richelle. "Ah, maaf, Bu Richelle, aku lupa kamu ikut. Soalnya biasanya Dokter Dave selalu duduk bareng Stevie waktu makan bareng begini. Kamu nggak marah, 'kan?"
Rasa perih halus menjalar di dadanya. Richelle menggeleng pelan dan duduk di seberang mereka. Dari sana, dia bisa melihat jelas Dave yang membantu Stevie mengenakan celemek, mencampurkan bumbu sesuai seleranya. Pria itu tidak makan, hanya sibuk menyiapkan makanan untuk pujaan hatinya.
Richelle menggenggam sumpit erat-erat dan menunduk menatap mangkuknya.
Dave akhirnya menyadari keheningannya, lalu mengambilkan makanan secara asal dan menaruhnya di mangkuk Richelle. "Makan yang banyak."
Melihat potongan konyaku di mangkuknya, Richelle tersenyum pahit dan menyingkirkannya ke samping. Sejak kecil Richelle alergi parah terhadap konyaku, bahkan nyaris kehilangan nyawa karenanya. Sayangnya, Dave sudah melupakannya.
Selama makan, Richelle terus menunduk, tak menatap mereka sedikit pun. Sampai akhirnya, Stevie tiba-tiba bersuara, "Bu Richelle, kalungmu indah sekali. Boleh aku lihat sebentar?"
Richelle refleks memegang kalung di dadanya erat-erat dan hendak menolak, tetapi orang yang duduk di sebelah langsung meraih dan menarik kalung itu dari lehernya secara paksa. "Bu Richelle nggak mungkin pelit begitu, lihat saja."
Richelle mengulurkan tangan untuk menghentikan orang itu, lalu memandang Dave sambil berseru, "Nggak boleh!"
Dave tampak tidak senang karena Richelle membentak begitu keras. Alisnya berkerut. "Cuma kalung doang, kenapa sih? Biar Stevie lihat sebentar, apa salahnya? Sebelumnya aku bilang apa ke kamu?"
Bagaimana bisa pria ini tega menyebut hal seperti itu? Richelle menatapnya ketika Dave mengulurkan tangan untuk mengambil kalung itu untuk diberikan kepada Stevie. Dia berusaha merebutnya kembali.
Melihat itu, Stevie juga ikut mengulurkan tangan. Dia berpura-pura menolak. "Kalau Bu Richelle nggak kasih, ya sudah."
Namun, setelah ucapan itu dilontarkan, kalung itu terlepas dari tangan mereka dan jatuh ke panci panas hingga menyipratkan kuah ke tangan mereka.
Richelle panik dan hendak segera mengambilnya, tetapi jarinya langsung tersengat panas mendidih. Rasa sakitnya begitu tajam, seolah-olah jari-jarinya terpotong.
Biasanya dalam keadaan seperti ini, Dave akan segera menolongnya. Namun kali ini, saat Richelle mencari sosoknya dalam kepanikan, yang dia lihat justru Dave sedang memegang tangan Stevie yang sedikit melepuh, meniupnya dengan lembut.
Melihat Stevie hampir menangis, Dave langsung membawanya ke rumah sakit, bahkan tak sedikit pun menoleh pada Richelle yang hampir pingsan karena kesakitan.
Ketika Richelle akhirnya bisa kembali bernapas dengan tenang, restoran hotpot itu hampir tutup. Dia meminta staf restoran untuk membantu mengambil kalungnya dari panci. Setelah berhasil, Richelle membuka liontin yang penuh minyak itu. Abu di dalamnya sudah seluruhnya larut ke dalam kuah.
Richelle terduduk di lantai, memeluk kalung itu erat-erat, dan menangis pilu di restoran yang sunyi. Suaranya parau dan putus asa.
Seumur hidup ini, Richelle tidak akan pernah memaafkan Dave lagi.
Bab 7
Malam itu, Richelle demam tinggi. Dia terbaring dalam keadaan setengah sadar selama dua hari, sebelum kesadarannya perlahan pulih.
Di tepi ranjang, duduk Dave. Melihatnya terbangun, dia menyentuh kening Richelle dan berkata pelan, "Akhirnya demammu agak turun."
Richelle menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Dia sama sekali tidak menanggapi, tidak peduli apa pun yang Dave katakan. Hingga akhirnya, dia mendengar Dave berkata, "Richelle, kamu nggak perlu terlalu khawatir. Aku pasti akan mengobati suaramu sampai sembuh."
Mata Richelle perlahan beralih menatapnya. Dia mencoba membuka mulut, tetapi tidak keluar satu suara pun. Tenggorokannya terasa perih dan panas seperti terbakar.
Melihat wajah Richelle yang panik, Dave menepuk bahunya pelan dan menjelaskan, "Demammu terlalu tinggi. Tenggorokanmu meradang, menyebabkan pita suaramu rusak. Hanya perlu operasi kecil, nanti akan sembuh."
Nada bicaranya tegas, membuat Richelle perlahan tenang.
Tiga hari kemudian, Richelle harus tampil. Dia menyuntikkan obat penahan rasa sakit agar bisa memaksakan diri menyanyi sampai akhir.
Anggota band yang sudah lama tidak bertemu dengannya mengajak makan bersama. Dia menolak karena besok dia akan menjalani operasi.
Mereka menyayangkan penolakan Richelle, tetapi tidak memaksa. "Kalau begitu nanti saja, kita masih punya banyak waktu untuk kumpul lagi ...."
"Aku akan pergi," ucap Richelle pelan sambil menatap mereka. "Tiket pesawatku lima hari lagi."
Semua orang tertegun. Beberapa saat kemudian, ada yang bertanya, "Tapi Richelle, bukannya pernikahanmu enam hari lagi? Kami bahkan sudah menerima undangannya."
Richelle menunduk dan menyahut, "Aku nggak jadi nikah. Kalian anggap saja nggak pernah menerima undangan itu."
Suasana hening. Semua orang tahu betapa Richelle mencintai Dave.
Richelle tersenyum tipis, memukul ringan bahu orang terdekatnya. "Kenapa sih? Katanya pernikahan itu kuburan. Aku cuma nggak mau terkubur. Kenapa malah sedih? Tenang saja, aku nggak akan berhenti bernyanyi. Karena sekarang hanya musik yang kumiliki ...."
Kalimat terakhirnya hampir tak terdengar.
Melihat ekspresinya yang tidak tampak dibuat-buat, barulah mereka tenang. "Richelle, nanti jangan lupa balik lagi ke sini ya. Jangan menghilang setelah pergi ...."
Richelle merasa ada tangan yang menggenggamnya. Suara berat Dave terdengar di telinganya. "Kamu mau ke mana?"
Ternyata Dave datang menjemputnya.
Richelle tidak menjawab, hanya berpamitan dengan anggota band, lalu masuk ke mobil. Setelah beberapa saat, Dave kembali bertanya. Richelle menjawab, "Aku berencana keluar dari band."
Dave sedikit terkejut. Dengan satu tangan memegang setir, dia bertanya lagi, "Kenapa keluar? Bukannya kamu suka musik?"
"Sekarang aku nggak suka lagi," jawab Richelle dengan nada datar.
Dave tidak menanggapi lebih jauh. "Operasimu besok pagi, aku sudah siapkan semuanya."
Richelle mengira Dave sendiri yang akan mengoperasinya. Kalaupun bukan dia, setidaknya dokter kepala. Jadi, dia tidak banyak bertanya.
Namun, ketika dia sudah berbaring di meja operasi dan obat bius mulai bekerja, barulah Richelle menyadari bahwa dokter utama yang akan mengoperasinya adalah Stevie, sementara Dave berdiri di samping sebagai asisten.
Richelle sangat menyayangi suaranya. Mana mungkin dia menyerahkannya kepada seorang dokter magang!
Dia berusaha bangkit dalam ketakutan, tetapi tubuhnya sudah lemas karena anestesi. Suaranya parau dan putus-putus. "Ganti orang ... jangan dia .... Dave ... kamu saja yang lakukan ...."
Dave membelai wajahnya dengan lembut dan berkata, "Tenanglah. Skripsi Stevie butuh praktik langsung dan nilai akademiknya yang terbaik. Kamu nggak perlu khawatir. Tidur saja, sebentar lagi semua selesai."
Begitu kalimat itu selesai, kesadarannya pun hilang total.
Saat terbangun, dia sudah berada di ruang rawat. Dia terdiam beberapa detik, lalu semua ingatan sebelum pingsan kembali membanjiri benaknya. Dia membuka mulut, tetapi yang keluar hanyalah suara parau seperti desisan udara.
Richelle memegang tenggorokannya dengan panik. Dia mencoba lagi dan lagi, tetapi tetap tidak ada suara. Matanya memerah karena cemas.
Pintu kamar terbuka. Dave masuk dan di belakangnya adalah Stevie.
Richelle segera menatap Dave dengan mata penuh harap, menunjuk ke tenggorokannya. Dave mengalihkan pandangan sejenak, lalu berkata, "Ada sedikit masalah waktu operasi. Tapi jangan khawatir, aku pasti akan memulihkan suaramu."
Mata Richelle membelalak, tubuhnya kaku seperti tersambar petir. Sedikit masalah? Kalau benar hanya sedikit, kenapa sikapnya seperti itu?
Tanpa sengaja, pandangannya bertemu mata Stevie di belakang Dave. Tatapan penuh ejekan dan rasa puas.
Richelle tak percaya. Sebelum insiden foto ancaman terjadi, dia memang sempat mencurigai Stevie, tetapi tidak menyangka seorang gadis bisa melakukan hal sekeji itu.
Sekarang semuanya jelas. Karena Stevie, ibunya meninggal. Karena Stevie, suaranya hancur. Amarah menyala. Richelle meraih benda hias di samping ranjang dan melemparkannya ke arah Stevie.
Dave langsung mengernyit dengan marah. Dia melangkah ke depan untuk melindungi Stevie di pelukannya. "Richelle! Kamu gila ya?!"
Richelle mengepalkan tangannya erat-erat, menatap mereka dengan mata penuh kebencian. "Dia ... sengaja ...."
Dave menatapnya dengan tatapan semakin dingin dan alis yang semakin berkerut. "Setiap operasi punya risiko. Apa hubungannya dengan Stevie? Jangan seenaknya menuduh orang hanya karena kamu nggak terima hasilnya."
Tatapan Richelle perlahan hampa saat menatap pria itu. Wajah Dave dipenuhi ketidaksabaran. Baginya, Richelle hanya sedang mengamuk tanpa alasan. Richelle tersenyum getir. Bagaimana bisa dia lupa? Tanpa kepercayaan buta dari Dave, Stevie tidak akan bisa berbuat sejauh ini.
Beberapa hari berikutnya, Richelle tidak mengucapkan sepatah kata pun. Setiap hari Dave datang ke ruang rawat, berulang kali menjanjikan akan memulihkan suaranya, tetapi Richelle tidak pernah menatapnya lagi.
Pada malam keempat, Richelle menerima pesan dari Stanley disertai rincian penerbangan dan sejumlah uang.
[ Richelle, ambillah uang ini. Gunakan untuk hidup baik-baik bersama ibumu. ]
Kabar tentang kematian Rami tidak pernah dia beri tahu Stanley. Dia tidak ingin Stanley khawatir. Richelle hanya membalas "oke".
Baru saja menyimpan ponselnya, Dave yang duduk di sofa berkata, "Richelle, aku ada urusan malam ini, jadi nggak bisa temani kamu di sini. Operasimu sudah kuatur. Dua hari lagi setelah pernikahan selesai."
Richelle tidak menanggapi. Sepuluh menit kemudian, Stevie memposting foto di media sosial. Kembang api di langit malam. Di sampingnya ada Dave yang menemaninya.
Tangan Richelle bergetar. Akhirnya dia membuka profil Stevie dan menekan tombol unfollow.
Keesokan harinya saat Richelle pergi, hujan lebat yang turun berhari-hari akhirnya berhenti. Sinar matahari menembus awan dan menyinari bumi.
Dia berjalan keluar dari gedung rumah sakit, mematahkan kartu SIM-nya dan membuangnya ke tempat sampah.
Dia melangkah di bawah cahaya matahari sendirian, menuju kehidupan barunya, kehidupan tanpa Dave.