Penyesalan Cinta Terdalam Mantan Suami

Đang tải thông tin quảng bá...

Penyesalan Cinta Terdalam Mantan Suami

GoodNovel Hoàn thành

Pada hari peringatan tiga tahun pernikahan mereka, yang juga bertepatan dengan ulang tahun ke-27 Felisha, suaminya, Zarend Richardy, memberinya sebuah hadiah yang istimewa. Selembar surat perjanjian c...

Chương (1)

第1章

Pada hari peringatan tiga tahun pernikahan mereka, yang juga bertepatan dengan ulang tahun ke-27 Felisha, suaminya, Zarend Richardy, memberinya sebuah hadiah yang istimewa. Selembar surat perjanjian cerai .... Dengan wajah tenang, Zarend mengambil pena dan menandatangani namanya di pojok kiri bawah dokumen itu, lalu mendorongnya ke hadapan Felisha. "Valerie keras kepala dan sulit dibujuk. Hanya dengan bercerai dulu, dia baru mau menerimaku." "Aku sudah tanda tangan. Sekarang, kamu juga tanda tanganilah." "Tenang saja, ini cuma formalitas." Nada bicaranya datar dan tanpa emosi, seolah yang dia bicarakan hanya sekadar menanyakan makan malam hari ini. Bab 1 Pada hari peringatan tiga tahun pernikahan mereka, yang juga bertepatan dengan ulang tahun ke-27 Felisha, suaminya, Zarend Richardy, memberinya sebuah hadiah yang istimewa. Selembar surat perjanjian cerai .... Dengan wajah tenang, Zarend mengambil pena dan menandatangani namanya di pojok kiri bawah dokumen itu, lalu mendorongnya ke hadapan Felisha. "Valerie keras kepala dan sulit dibujuk. Hanya dengan bercerai dulu, dia baru mau menerimaku. Aku sudah tanda tangan. Sekarang, kamu juga tanda tanganilah. Tenang saja, ini cuma formalitas." Nada bicaranya datar dan tanpa emosi, seolah yang dia bicarakan hanya sekadar menanyakan makan malam hari ini. Felisha memang sudah lama tidak peduli pada kehidupan pribadi Zarend di luar sana, tapi berita gosip yang bertebaran di internet membuatnya mustahil untuk tidak tahu siapa Valerie itu. Valerie adalah aktris muda yang baru saja dikontrak oleh perusahaan milik Zarend. Dia berusia awal 20-an, usia yang sedang berada di masa prima seorang wanita. Yang paling menarik perhatian adalah, Zarend terang-terangan mengejarnya selama hampir dua bulan, tetapi gadis itu sama sekali tidak tergoyahkan. Biasanya, Zarend tidak pernah bertahan lebih dari sebulan sebelum kehilangan minat terhadap wanita-wanita sebelumnya. Namun, Valerie berbeda. Dia bukan hanya memecahkan rekor itu, tapi bahkan membuat Zarend mengusulkan perceraian palsu. Felisha menerima surat perjanjian cerai itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum getir. "Ini hadiah yang kamu siapkan untukku? Cukup istimewa." Mendengar hal itu, wajah Zarend sempat menunjukkan kebingungan yang jarang terlihat. Setelah dia teringat hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan sekaligus ulang tahun istrinya, barulah sedikit rasa bersalah muncul di matanya. "Belakangan ini aku sibuk di lokasi syuting sedang berusaha membujuk Valerie. Aku sampai lupa kalau hari ini ulang tahun dan hari jadi kita. Maaf, nanti aku suruh asisten kirim hadiah untukmu." Benar saja, begitu ada yang baru, yang lama langsung dilupakan. Senyum sinis muncul di bibir Felisha. "Nggak perlu, kita sudah akan bercerai. Hadiah itu lebih baik kamu simpan untuk orang lain." Mendengar hal itu, Zarend mengerutkan kening dan berkata dengan nada tidak senang, "Itu cuma perceraian palsu, tanda tangan di atas kertas saja untuk menyenangkan hati gadis itu. Kita nggak benar-benar akan mengurus surat cerainya." Benarkah begitu? Namun, Felisha sudah memutuskan. Dia ingin menjadikan sandiwara itu nyata dan benar-benar bercerai dengan Zarend. Felisha tidak mengatakan apa pun lagi. Dia hanya mengambil pena dan menandatangani namanya satu per satu dengan mantap dan mengakhiri tiga tahun pernikahan mereka ini. Setelah dia selesai, Zarend menghela napas lega dan memotret surat perceraian itu, lalu menekan nomor di ponselnya untuk menelepon seseorang. Entah apa yang dikatakan orang di seberang sana, tapi suasana hati Zarend tampak berubah seketika. Dia jelas terlihat sedang gembira. Dengan suara lembut dan nada menenangkan, dia berkata di telepon, "Aku sudah cerai. Sekarang kamu bisa bersamaku tanpa harus sembunyi lagi. Tunggu aku di lokasi syuting, aku akan menjemputmu untuk merayakannya." Setelah menutup telepon, dia berdiri dan mengenakan jasnya, lalu melangkah menuju pintu. Tepat sebelum menutupnya, dia seolah baru teringat sesuatu dan menoleh ke arah Felisha. "Hari ini adalah hari pertama Valerie menerimaku. Aku harus menemaninya. Tahun depan, aku akan menemanimu merayakan ulang tahun dan hari jadi kita." Begitu selesai bicara, dia segera menutup pintu dan pergi dengan tidak sabar untuk menemui gadis mudanya. Dia tentu tidak sempat mendengar suara lembut Felisha yang menyusul di belakangnya, "Zarend, kita sudah nggak punya tahun depan lagi." Ketika suara mesin mobil di luar perlahan menghilang, Felisha naik ke lantai atas dan membuka brankas, lalu mengambil buku nikah mereka dari bagian terdalam. Saat membuka sampul merah itu, dia melihat dua wajah muda yang tersenyum cerah menatapnya di dalam. Felisha yang berusia 24 tahun dan Zarend yang berusia 26 tahun saat itu. Mereka berdiri berdekatan, sorot mata mereka saling bertaut penuh cinta dan harapan akan kehidupan pernikahan yang indah. Pandangan Felisha jatuh pada surat perjanjian cerai yang telah ditandatangani di atas meja. Kapan semuanya mulai berubah seperti ini? Dia masih ingat pertemuan pertama dengan Zarend, di sebuah pesta penutupan syuting. Saat itu, dia masih seorang pendatang baru di dunia hiburan. Dia tidak sengaja bertemu dengan Zarend yang sedang menahan perut sambil menunduk pucat di sudut ruangan. Menyadari bahwa Zarend sedang mabuk dan perutnya sakit karena alkohol, Felisha mengeluarkan sebotol yogurt dari tasnya dan menyerahkannya pada pria itu. Tak disangka, tindakan kecil penuh kebaikan itu justru membuat Zarend memperhatikannya sejak saat itu. Perhatian itu, pada akhirnya, berubah menjadi rasa suka. Namun, siapa sebenarnya Zarend? Dia adalah putra Keluarga Richardy, pewaris sah kerajaan bisnis besar. Seorang bangsawan modern yang hidup di dunia yang tak mungkin dijangkau orang biasa. Felisha sangat sadar diri. Lelaki dari kalangan seperti itu, mana mungkin benar-benar menyukai gadis biasa sepertinya? Paling hanya merasa tertarik sesaat, lalu bosan. Karena itu, dia menolak tanpa ragu. Tanpa disangka, Zarend tidak menyerah. Sebaliknya, Zarend selalu ada di sisinya. Sang presdir yang tinggi dan berwibawa, berubah menjadi asisten pribadinya. Saat jam makan, dia sendiri yang memasakkan dan mengantarkannya ke lokasi syuting. Ketika Felisha jatuh sakit karena jadwal syuting yang padat, dia panik dan langsung membawanya ke rumah sakit. Setelah adegan di dalam air, Zarend selalu menjadi orang pertama yang menyodorkan secangkir teh jahe hangat. Felisha bukanlah orang yang tidak berperasaan. Dalam kehangatan yang berulang setiap hari, hatinya pun perlahan luluh. Yang benar-benar membuka hatinya adalah kejadian saat syuting gantungan kabel. Saat tali pengaman mendadak putus dan dia hampir jatuh, Zarend melompat ke bawah dan menahan tubuhnya dengan badannya sendiri. Felisha selamat tanpa luka, tapi dua tulang rusuk Zarend patah. Setelah mereka resmi berpacaran, Zarend menyatakan kepada keluarganya dengan tegas bahwa dia hanya akan menikahi Felisha seumur hidup. Bahkan ketika keluarganya mengancam dengan hukuman keluarga, dia tidak mundur sedikit pun. Felisha tidak ingin menjadi beban. Dia bekerja keras dengan menerima banyak proyek, berjuang mati-matian selama empat tahun sampai akhirnya meraih penghargaan Aktris Terbaik. Barulah saat itu, Keluarga Richardy dengan enggan mengakuinya. Saat hari pernikahan mereka tiba, seluruh internet dipenuhi ucapan selamat, mendoakan agar mereka bahagia hingga menua bersama. Banyak yang berkata, Zarend adalah contoh langka seorang pria dari keluarga kaya yang benar-benar setia dalam cinta. Felisha pun percaya begitu saja. Dia benar-benar yakin pernikahan mereka akan bahagia sampai akhir hayat. Namun pada tahun kedua setelah menikah, dia menemukan noda lipstik di kerah kemeja Zarend. Saat pertama kali melihatnya, dia menangis tanpa henti. Zarend yang selalu sombong dan angkuh, berlutut di hadapannya sambil bersumpah, itu hanyalah jebakan dan dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Mengingat hubungan mereka yang sudah lama terjalin, Felisha memilih untuk memaafkannya. Namun tak lama kemudian, Zarend mulai jarang pulang ke rumah. Felisha berkali-kali meneleponnya tanpa henti untuk menuntut penjelasan seperti orang gila, mengikutinya diam-diam, dan menunggunya pulang hanya untuk berakhir dengan pertengkaran hebat setiap kali. Namun, Zarend hanya menatapnya yang sedang marah, lalu menasihatinya dengan tenang, "Felisha, di dunia kita ini nggak ada pria yang hanya punya satu wanita seumur hidupnya." "Kamu cuma perlu tahu bahwa yang aku cintai tetap kamu dan posisi Nyonya Richardy nggak akan pernah berubah. Itu sudah cukup, 'kan?" Bukan hanya Zarend yang berkata demikian, semua orang di sekeliling Felisha juga menasihatinya. Mereka berkata bahwa wanita-wanita di luar sana hanyalah selingan. Yang penting, dia tetap menjadi istri sah Keluarga Richardy. Selama dia menunggu dengan sabar, Zarend pasti akan kembali ke rumah. Oleh karena itulah, Felisha menunggu. Dan terus menunggu. Sampai hari ini, ketika Zarend menandatangani perjanjian cerai demi menyenangkan kekasih mudanya. Melihat tanda tangan Zarend di atas kertas itu, Felisha merasa seolah belenggu di hatinya akhirnya terlepas. Apakah dia menikahi Zarend demi uang dan kekuasaan Keluarga Richardy? Tidak. Dia menikah karena cinta yang murni di antara mereka. Namun sekarang, cinta itu sudah berubah menjadi lumpur yang menebarkan bau busuk. Bahkan pernikahan yang dulu mereka jaga dengan sepenuh hati, kini dijadikan alat oleh Zarend untuk menenangkan kekasih barunya. Kalau sudah begini, maka pernikahan ini tak ada lagi gunanya untuk dipertahankan. Sadar akan hal itu, Felisha membawa surat cerai dan buku nikah ke kantor catatan sipil. Setelah petugas memeriksa dan memastikan semuanya benar, mereka memintanya datang lagi sebulan kemudian untuk mengambil akta cerai resmi. Setelah keluar dari kantor, sinar matahari hangat menyinari tubuhnya. Sudah lama sekali Felisha tidak merasa sebebas ini. Dia mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah nomor yang sudah lama tersimpan. "Allen, dulu kamu pernah menawariku peran untuk syuting di Inggris. Aku setuju sekarang." Bab 2 Di seberang sana terdengar suara gaduh, lalu setelah beberapa detik hening, suara Allen yang penuh semangat akhirnya terdengar. "Felisha! Akhirnya kamu mau juga! Peran ini sudah lama aku sisihkan khusus untukmu! Aku yakin, dengan kamu yang memerankannya, film ini pasti akan menang penghargaan!" Sebelum menikah dengan Zarend, ibu Zarend pernah menuntut satu hal darinya. Setelah menikah, Felisha harus fokus mengurus rumah tangga dan tidak boleh lagi berakting. Selama tiga tahun itu, selain sesekali menemani Zarend menghadiri acara sosial, Felisha pada dasarnya sudah keluar dari dunia hiburan. Dia bahkan hampir lupa seperti apa rasanya menjadi aktris muda yang dulu berdiri di panggung dan menggenggam piala penghargaan dengan penuh kebanggaan. Namun kini, hanya tinggal sebulan lagi hingga dia resmi mendapatkan surat cerai. Setelah itu, dia bisa kembali ke dunia yang dia cintai. "Felisha, kapan kamu datang ke Inggris? Aku benar-benar nggak sabar menunggumu!" kata Allen penuh antusias. Felisha melirik kalender, lalu menjawab pelan, "Tanggal 6 bulan depan." Tepat sebulan setelah hari ini, hari ketika dia bisa mengambil akta cerainya. Begitu mendapatkan surat itu, dia akan langsung terbang ke Inggris. Setelah membahas detail perannya bersama Allen, Felisha menutup telepon. Baru saja dia naik ke mobil dan bersiap untuk menyalakan mesin, suara notifikasi ponselnya berbunyi menunjukkan nada pesan dari daftar "orang penting". Dia membuka layar dan tampilan terbaru dari akun media sosial Zarend muncul. Tulisan di sana berbunyi. [ Asal kamu mau bersamaku, apa pun akan aku lakukan. ] Bersamaan dengan kalimat itu, ada dua foto yang menyertainya. Satu foto surat perjanjian cerai dan satu lagi foto Zarend menggenggam tangan Valerie dengan erat. Akun media sosial itu adalah akun milik Zarend yang dia buat tujuh tahun lalu. Sepanjang tujuh tahun akun itu dibuat, Zarend hanya pernah memposting tiga unggahan. Yang pertama adalah pengumuman resmi saat Felisha akhirnya menerima cintanya. Yang kedua adalah ucapan selamat ketika Felisha memenangkan penghargaan sebagai aktris terbaik. Yang ketiga adalah pernyataan cintanya yang terang-terangan pada hari pernikahan mereka. Namun kini, ketiga unggahan itu sudah dihapus. Yang tersisa hanyalah unggahan terbaru ini. Di kolom komentar, para penggemar Valerie bersorak gembira. [ Ahhh! Presdir ganteng dan aktris cantik, pasangan sempurna banget! ] [ Valerie pantas dapat kebahagiaan ini! Perempuan tua itu memang seharusnya minggir! ] .... Tak lama kemudian, nama "Felisha" kembali memuncaki daftar trending topic. [ Mantan Aktris Felisha Diceraikan, Didepak dari Keluarga Richardy! ] [ Kaget! Pasangan Teladan Itu Berakhir dengan Perceraian! ] Ketika menikah dengan Zarend dulu, Felisha tidak pernah membayangkan hubungan mereka akan sampai di titik ini. Mereka sudah melewati masa paling sulit, bahkan ketika seluruh Keluarga Richardy menentang hubungan mereka. Namun sekarang, setelah semua perjuangan itu, Zarend memilih untuk berpaling. Sambil menahan perih yang menggenang di dadanya, Felisha menekan emosi dan membuka kolom komentar unggahan Zarend. Dia menulis sebuah kalimat singkat. [ Selamat untuk Pak Zarend yang akhirnya mendapatkan kekasih barunya. ] Begitu dia menekan tombol kirim, panggilan telepon masuk dari mantan manajernya, Yani. "Felisha, kamu dan Pak Zarend ...." Yani adalah orang yang dulu menyaksikan Felisha menapaki karier dari awal hingga menjadi aktris terbaik. Meski setelah menikah Felisha berhenti dari dunia hiburan, hubungan mereka tetap dekat. Mendengar nada ragu di suara Yani, Felisha berkata terlebih dulu, "Kak Yani, benar kok. Aku dan Zarend sudah menandatangani perjanjian cerai." Yani terdiam sejenak, suaranya terdengar penuh perasaan. "Dulu aku benar-benar melihat sendiri betapa Zarend tulus padamu. Aku pikir dia berbeda dari pria kaya lainnya." Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menorehkan bayangan di wajah Felisha. Saat menikah dengan Zarend dulu, dia pun pernah percaya hal yang sama. Dia percaya bahwa Zarend adalah salah satu dari segelintir pria kaya yang benar-benar setia. Namun sekarang, ternyata Zarend hanya pandai menyembunyikan dirinya. Kalau saja dia jadi aktor, pasti sudah memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik. Lagi pula, aktingnya berhasil menipu bahkan seorang aktris terbaik seperti Felisha. "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Jangan lupa hadir di acara penghargaan malam ini, ya. Aku sudah sampai di lokasi." Sebelum menikah, film terakhir yang dibintangi Felisha sebagai pemeran utama berjudul "Tiada Akhir". Karena proses pascaproduksi yang panjang, film itu baru dirilis tahun lalu dan langsung memenangkan beberapa penghargaan internasional. Berkat perannya dalam film tersebut, Felisha masuk nominasi Aktris Terbaik di ajang penghargaan. Malam ini adalah malam penganugerahan piala. Setelah menutup telepon, Felisha langsung mengemudi menuju lokasi acara. Begitu dia menemukan tempat duduknya dan baru saja duduk, suara keramaian tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk. Felisha menoleh ke arah suara itu. Tepat di sana, dia melihat Valerie melangkah masuk dengan anggun sambil memeluk lengan Zarend. Para wartawan segera berkerumun di sekitar mereka, melontarkan berbagai pertanyaan tajam. "Pak Zarend, setelah tiga tahun menikah dengan Bu Felisha, apakah Anda merasa menyesal berpisah dengannya?" "Bu Valerie, Anda disebut sebagai penyebab perceraian ini. Apakah menurut Anda tindakan itu nggak bermoral?" Menghadapi pertanyaan-pertanyaan tajam itu, Valerie hanya tersenyum cerah. "Saya tidak sudi jadi orang ketiga. Saya dan Kak Zarend baru resmi bersama setelah dia bercerai. Lagi pula, pernikahan mereka sudah lama bermasalah, itu bukan salah saya." Zarend menatap Valerie dengan pandangan lembut penuh kasih. "Nggak menyesal. Kalau cinta sudah nggak ada, pernikahan hanya akan jadi penjara. Perceraian justru adalah kebebasan bagi kami berdua." Bab 3 Setiap kata yang keluar dari mulut Zarend terasa seperti pisau yang menusuk hati Felisha. "Penjara ...." Jadi bagi Zarend, pernikahan mereka hanyalah sebuah kurungan yang membuatnya sesak? Yani yang duduk di sampingnya menggenggam tangan Felisha dengan cemas dan sorot matanya penuh iba. Felisha menggeleng pelan, lalu menatap tangan Zarend yang membantu Valerie mengangkat ujung gaunnya dengan lembut. Senyum ironis muncul di sudut bibirnya. Sebenarnya, bukankah pernikahan ini juga merupakan penjara bagi Felisha sendiri? Dia tahu cinta mereka sudah lama tiada, tetapi tetap membohongi diri sendiri seolah semuanya baik-baik saja. Untungnya, sebulan lagi mereka berdua akan bebas dan keluar dari kurungan yang sama-sama menyesakkan. Acara penghargaan pun dimulai. Ketika tiba pada pengumuman nominasi Aktris Terbaik, telapak tangan Felisha mulai berkeringat. Saat membintangi "Tiada Akhir" dulu, dia benar-benar mengira itu akan menjadi film terakhir dalam hidupnya. Dia mencurahkan seluruh tenaga dan emosinya untuk peran itu. Jika malam ini dia bisa memenangkan penghargaan Aktris Terbaik, itu akan menjadi penutup sempurna bagi perjalanan kariernya di dunia perfilman. Pembawa acara berdiri di panggung sambil memegang amplop pemenang. Tatapannya berkeliling ke arah semua nominasi sebelum akhirnya membuka mulut perlahan. "Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah ...." "Valerie!" Tepuk tangan riuh langsung menggema di seluruh ruangan. Valerie tersenyum cerah, lalu mengecup pipi Zarend sebelum melangkah naik ke panggung untuk menerima piala. Felisha merasakan sedikit kekecewaan menusuk dadanya, tapi dia buru-buru menenangkan diri. Yani mendekat dan berbisik dengan nada kesal di telinganya. "Felisha, aku sudah tanya ke orang dalam, para juri sangat memuji filmmu. Seharusnya kamu yang menang." "Menurutmu, apa mungkin Pak Zarend yang menyuap para juri ...." Belum sempat Yani menyelesaikan kalimatnya, Felisha spontan memotong, "Nggak mungkin." Zarend bukanlah tipe orang yang mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, apalagi bermain curang di balik layar. Bahkan saat mereka masih berpacaran dulu, dia tidak pernah memberi Felisha jalan pintas dalam kariernya sekali pun. "Generasi baru selalu menggantikan orang lama. Mungkin aktingnya memang lebih menyentuh hati para juri," kata Felisha pelan. Namun, Yani tetap tidak puas. "Film komersialnya itu mana mungkin bisa mengalahkanmu?" Felisha menepuk lembut punggung tangan Yani untuk menenangkannya. "Semua itu sudah nggak penting. Sebulan lagi aku akan berangkat ke Inggris untuk syuting film baru." Mendengar hal itu, mata Yani langsung membelalak dan suaranya dipenuhi semangat. "Inggris?! Maksudmu Sutradara Allen yang sudah beberapa kali menawarimu proyek itu?" Felisha tersenyum dan mengangguk. "Hebat! Allen itu sutradara kelas dunia! Kalau nanti kamu jadi bintang internasional, jangan berani-berani melupakanku!" Felisha tertawa kecil dan berulang kali berjanji. Setelah itu, barulah Yani membiarkannya pergi menyelesaikan urusan lain dengan senang hati. Setelah pengumuman Aktris Terbaik berakhir, acara penghargaan pun tak lagi ada hubungannya dengan Felisha. Dia memutuskan untuk pergi lebih awal. Saat melewati area belakang panggung, dia melihat Zarend berdiri di sisi panggung sambil memegang sebuah buket mawar merah. Ujung jari Felisha sedikit menegang, tapi dia berpura-pura tak melihat dan berbalik hendak pergi. Namun, suara seseorang yang terdengar menyanjung tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Pak Zarend, kami sudah melakukan seperti yang Anda perintahkan. Penghargaan Aktris Terbaik sudah kami berikan pada Bu Valerie. Apakah masih ada instruksi lain?" Langkah Felisha seketika mematung. Tak lama kemudian, suara santai Zarend terdengar. "Yang penting kalian jaga mulut baik-baik. Jangan sampai Valerie tahu kalau penghargaan Aktris Terbaik itu seharusnya milik Felisha." Bab 4 Kata-kata Zarend menghantam Felisha bagaikan petir yang menyambar tanpa peringatan. Aktris Terbaik itu ... ternyata seharusnya miliknya? Percakapan di depan sana masih berlanjut, tapi dunia Felisha seolah berhenti berputar. Pandangan matanya tertuju pada buket mawar merah di tangan Zarend. Semakin lama dia menatap, semakin terasa betapa menyakitkan ironi itu. Tadi dia baru saja membela Zarend dengan yakin di hadapan Yani, mengatakan bahwa dia bukan tipe pria yang mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Namun kenyataannya, kehidupan menamparnya dengan keras. Mungkin karena tatapannya terlalu panas, Zarend akhirnya menoleh. Ketika pandangan mereka bertemu, seberkas kegugupan melintas di matanya, tetapi sorot mata itu segera hilang, tergantikan oleh ketenangan yang pura-pura. Zarend berjalan mendekat, masih memegang mawar merah itu. Suaranya terdengar lembut tapi juga penuh alasan. "Felisha, biarkan penghargaan Aktris Terbaik kali ini jadi milik Valerie. Tolong simpan rahasia ini untukku, ya?" Felisha menatapnya tak percaya. Bagaimana mungkin dia bisa begitu tenang mengucapkan kata-kata seperti itu? "Zarend, penghargaan itu memang milikku. Kenapa aku harus memberikannya pada dia?" Zarend melonggarkan dasinya, suaranya mulai terdengar tidak sabar. "Lagian kamu sudah nggak berakting lagi. Untuk apa gelar seperti itu? Lagi pula, kalau saja kamu nggak menulis komentar itu tadi dan membuat Valerie marah, aku nggak perlu melakukan ini untuk menenangkannya." Kata-kata itu menusuk seperti belati. Mata Felisha memerah dan suaranya bergetar ketika bertanya, "Jadi maksudmu ... aku yang salah karena kalian merampas penghargaanku?" Jarang sekali Zarend melihat Felisha tampak begitu rapuh. Dia mendekat dan merangkul bahu Felisha, suaranya berubah lembut seolah sedang menenangkan anak kecil. "Felisha, bukan itu maksudku. Hanya saja sekarang aku sedang tergila-gila pada Valerie. Wajar kalau aku ingin menyenangkannya. Nanti kalau aku sudah bosan dengannya, aku akan ambil kembali pialanya dan memberikannya padamu." "Tenang saja, aku tahu siapa istriku yang sebenarnya. Sekarang aku cuma berpura-pura di depan dia, kamu nggak perlu mempermasalahkannya." Ucapan seperti itu sudah terlalu sering didengar Felisha selama dua tahun terakhir, sampai telinganya benar-benar mati rasa. "Cuma main-main, posisi istri tetap milikmu, semua cuma sandiwara ...." Bagi Zarend, semua itu tampak begitu wajar. Yang salah malah Felisha, istri yang kalau marah dianggap tidak dewasa, kalau sakit hati dibilang tidak pengertian. Felisha menepis pelukannya sambil menahan air mata yang hampir jatuh. "Nggak usah repot-repot, Pak Zarend. Piala yang sudah ternodai oleh orang lain, aku nggak akan menginginkannya lagi." Begitu juga orangnya. Selesai bicara, Felisha tidak menoleh lagi untuk melihat ekspresi Zarend. Dia berbalik dan melangkah pergi dengan goyah, meninggalkan tempat penghargaan itu. Keesokan paginya, Felisha bangun lebih awal dan mulai membereskan semua barang-barangnya di rumah. Selain kebutuhan dasar yang akan dibawanya ke Inggris, semua benda lain dia kemas dan buang keluar rumah, termasuk semua yang pernah menjadi simbol hubungan mereka. Album foto dari masa pacaran hingga pernikahan, foto pernikahan besar yang mereka potret dengan biaya selangit, bahkan bunga hortensia di taman yang dulu ditanam sendiri oleh Zarend karena tahu itu bunga kesukaannya. Empat tahun pacaran, tiga tahun menikah ... tujuh tahun mereka hidup bersama di rumah itu. Setiap sudutnya menyimpan kenangan tentang mereka berdua. Felisha butuh waktu setengah bulan untuk benar-benar menyingkirkan semuanya satu per satu, hingga rumah yang dulu hangat itu kembali menjadi vila dingin seperti tujuh tahun lalu. Selama setengah bulan itu, Zarend tidak pernah pulang sekali pun. Felisha tahu persis di mana dia berada. Sesuai kebiasaannya, setiap kali punya kekasih baru, dia akan menghabiskan setidaknya sebulan penuh bersama wanita itu. Terlebih lagi, Valerie adalah tipe wanita yang suka memamerkan segalanya. Setiap hari, akun media sosialnya dipenuhi unggahan mesra. Dua hari lalu, Zarend membawanya memancing di laut dan bahkan memasak sendiri untuknya. Kemarin, Zarend mengunjungi lokasi syuting Valerie dan memijat betisnya di depan semua orang dengan lembut. .... Mungkin seiring dengan lenyapnya semua kenangan di rumah itu, perasaan Felisha terhadap Zarend pun perlahan ikut tercabut dari hatinya sedikit demi sedikit. Ketika dia melihat unggahan-unggahan Valerie di media sosial, Felisha hanya berhenti sejenak, lalu menggulir layarnya begitu saja tanpa rasa. Setelah selesai membersihkan seluruh rumah, Felisha mengemudi menuju pusat perbelanjaan. Syuting film di Inggris akan memakan waktu lama, setidaknya dua tahun dia tidak akan pulang ke negara asal. Karena itu, dia perlu membawa banyak barang yang diperlukan. Dia berkeliling pusat perbelanjaan hampir sepanjang sore dan ketika kembali ke tempat parkir, bagasi mobilnya sudah penuh sesak dengan kantong belanjaan. Felisha menutup bagasi dan membuka pintu mobil, bersiap untuk masuk ke kursi pengemudi. Namun baru satu kakinya masuk, sebuah kekuatan kasar tiba-tiba menariknya keluar dengan keras. Felisha sama sekali tidak sempat bereaksi, tubuhnya terhempas ke aspal dengan keras. Siku dan lengannya tergores parah, darah langsung mengalir menuruni kulitnya. Sambil menahan nyeri, dia berusaha bangkit. Barulah dia menyadari ada lima atau enam gadis muda yang berdiri mengelilinginya. Felisha menatap mereka dengan bingung. Dia tidak mengenali satu pun wajah di antara mereka. "Siapa kalian?" tanyanya dengan suara serak. Begitu pertanyaan itu keluar, ekspresi jijik serentak muncul di wajah para gadis itu. Salah satu dari mereka melangkah maju dan menarik rambut Felisha dengan kasar sambil memaki, "Semuanya gara-gara perempuan murahan ini! Kalau bukan karena dia masih menyandang status Nyonya Richardy, Valerie sudah lama bisa bersama Pak Zarend!" "Sekarang mereka akhirnya bercerai, tapi dia masih berani pakai uang Pak Zarend? Nggak tahu malu!" Bab 5 Rasa sakit yang tajam menjalar dari kulit kepala Felisha. Kini dia akhirnya paham, gadis-gadis itu adalah penggemar Valerie. Namun, Valerie adalah orang ketiga, sedangkan dia adalah istri sah. Kenapa di mata mereka semua malah dia yang dianggap bersalah? Padahal saat berbelanja hari itu, dia menggunakan kartu pribadinya, tidak ada sedikit pun hubungannya dengan Zarend. Dengan susah payah, Felisha mencoba berbicara, berharap bisa membuat mereka tenang. "Aku nggak menggunakan uang Zarend sepeser pun. Lepaskan aku sekarang, yang kalian lakukan ini melanggar hukum, tahu nggak?" Mendengar hal itu, salah satu gadis mencibir dengan senyum menghina. "Hah, masih berani bohong! Teman-teman, ayo kita hajar perempuan murahan ini! Kita balaskan dendam untuk Valerie!" Begitu perintah itu keluar, para gadis yang mengepung Felisha langsung bergerak. Setiap pukulan dan tendangan mereka mengenai tubuh Felisha tanpa ampun. Jumlah mereka terlalu banyak, Felisha tidak mampu melawan. Dia hanya bisa menahan rasa sakit luar biasa, tubuhnya menerima hantaman demi hantaman. Tempat parkir itu cukup terpencil, tidak ada seorang pun yang melintas. Aksi brutal mereka pun semakin menjadi-jadi, disertai caci maki yang menusuk telinga. "Perempuan tua! Berani-beraninya merebut pria dari Valerie, biar tahu rasa!" "Aktris terbaik katanya? Pasti tidur sama banyak orang buat dapat gelar itu! Pak Zarend benar-benar buta, untung Valerie datang menyadarkannya!" Felisha bahkan bisa merasakan rambutnya dicabut satu per satu, sakitnya begitu dalam sampai seolah organ tubuhnya pun bergeser. "Tunggu! Kalian sedang apa!" Teriakan keras memecah udara. Tinju-tinju yang menghujani tubuhnya tiba-tiba berhenti. Felisha membuka matanya dengan susah payah. Beberapa satpam berlari ke arahnya dan sebelum sempat berkata apa pun, tubuhnya akhirnya tak kuat lagi dan jatuh pingsan. Ketika dia kembali sadar, Felisha sudah terbaring di rumah sakit. Di tepi ranjang duduklah Zarend, pria yang sudah setengah bulan tak terlihat. Dia menggenggam tangan Felisha dengan erat, sorot matanya dipenuhi kekhawatiran. "Felisha, kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah sudah agak membaik?" Felisha menarik tangannya perlahan dari genggaman itu, lalu menatap keluar jendela tanpa sepatah kata pun. "Apakah gadis-gadis yang menyerangku sudah ditangkap? Aku ingin menuntut mereka." Zarend menatap wanita yang terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh luka dan sorot matanya tampak iba. "Satpam mal sudah langsung menghubungi polisi saat kejadian. Mereka semua sudah ditahan di kantor polisi. Aku ...." Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar rumah sakit terbuka. Valerie melangkah masuk dengan langkah ringan, lalu langsung memeluk lengan Zarend. "Zarend, Kak Felisha sudah sadar ya." Tatapan Valerie jatuh ke arah Felisha, lalu berkata dengan nada bersalah, "Kak Felisha, maaf sekali, para penggemarku sudah membuatmu repot." "Mereka cuma terlalu sayang sama aku. Mereka merasa Kakak menghalangi kebahagiaanku dan Zarend, jadi mereka bertindak tanpa pikir panjang." Kata-katanya terdengar seperti permintaan maaf, tapi kilatan kemenangan di matanya dan nada suaranya yang menyindir justru mengungkapkan niat sebenarnya. Dia jelas menikmati melihat Felisha disakiti seperti itu. Amarah membuncah di dada Felisha. Andai dia tadi tidak mati-matian melindungi wajahnya, mungkin sekarang dia sudah cacat. Bagi seorang aktris, kehilangan wajah berarti akhir dari seluruh kariernya. "Valerie, kalau kamu nggak bisa mengendalikan penggemarmu, maka aku yang akan melakukannya. Aku nggak akan melepaskan mereka begitu saja. Mereka akan menghadapi tuntutan hukum." Namun, Valerie segera membela, "Kak Felisha, aku sudah minta maaf, kenapa kamu masih juga nggak mau memaafkan? Aku nggak akan membiarkanmu menyakiti para penggemarku!" Air mata langsung memenuhi matanya. Dia memiringkan kepala, menatap Zarend dengan tatapan berkaca-kaca. "Zarend, sekarang aku ini pacarmu dan Kak Felisha adalah mantan istrimu. Kamu mau bela siapa?" Begitu melihat wajah Valerie yang tampak sedih, Zarend langsung luluh. Dia menarik gadis itu ke dalam pelukannya, hal lainnya seolah tidak penting lagi. "Masih perlu ditanya? Tentu saja aku akan membela Val. Tenang saja, para gadis itu akan segera dibebaskan." Kalimat itu membuat kepala Felisha seakan meledak. Dia menatap Zarend dengan ekspresi tak percaya. "Zarend, jadi kamu benar-benar melindungi selingkuhanmu itu? Wajahku hampir saja cacat, kamu tahu nggak?!" Baru saja dia selesai bicara, Valerie langsung mengerutkan kening dan menyela dengan nada tajam. "Kak Felisha, aku memanggilmu 'kakak' karena masih menghormatimu, tapi itu bukan berarti kamu boleh menuduhku seenaknya." "Aku dan Zarend baru bersama setelah kalian bercerai. Aku adalah pacarnya yang sah!" Felisha hanya merasa menggelikan. Kata orang, "tidak akan ada tamu yang masuk, kalau tuan rumah tidak mengizinkan". Kalau Valerie benar-benar tidak melanggar batas sebelum perjanjian cerai ditandatangani, dengan sifat sombong Zarend, mana mungkin dia mau mengejar Valerie selama dua bulan penuh? Valerie hanya ingin mempertahankan Zarend tanpa mau dicap sebagai orang ketiga. Zarend mengelus kepala Valerie dengan lembut, kemudian menatap Felisha dengan pandangan dingin yang tak bisa dibantah. "Tapi kamu juga nggak sampai cacat, 'kan? Jadi, sebut saja jumlah kompensasi yang kamu mau." Bab 6 Krak .... Felisha seolah mendengar jelas suara hatinya yang retak. Tujuh tahun hubungannya dengan Zarend yang sudah lama rapuh, kini akhirnya benar-benar hancur berkeping-keping. Kuku jarinya menancap dalam ke telapak tangan. Dengan begitu, dia baru bisa menekan emosi yang bergolak di dada dan memaksa dirinya untuk bicara dengan nada tenang. "Pak Zarend memang sangat menyayangi Bu Valerie." Wajah Zarend langsung menggelap, alisnya berkerut samar. Felisha tidak peduli dan melanjutkan, "Kalau begitu, berikan aku uang pengobatan 140 juta. Aku nggak akan menuntut tanggung jawab mereka lagi." Valerie tampak ragu. "Cuma 140 juta?" Felisha mengangguk mantap. "Ya, Cuma 140 juta." Anggap saja 140 juta itu sebagai harga untuk menebus tujuh tahun hubungan mereka, dari cinta hingga perceraian. Untuk menutup bab terakhir dari kisah itu. Zarend tidak bertanya lebih jauh. Setelah mentransfer uangnya, dia langsung pergi sambil menggandeng Valerie. Kamar rawat itu kembali sunyi. Felisha membalikkan badan, menarik selimut menutupi kepala. Mungkin karena gerakannya yang membuat lukanya tertarik, bantal di bawah kepalanya perlahan menjadi lembap. Dia dirawat hampir sepuluh hari. Selama itu, Zarend hanya datang menjenguk sekali. Namun, dia tidak ingin melihatnya. Setiap kali, Felisha pura-pura tidur untuk menghindarinya. Setelah keluar dari rumah sakit, dia makan malam bersama beberapa teman dekat dan memberi tahu mereka bahwa dia akan segera pergi ke luar negeri. Ketika tahu dia akan kembali ke dunia hiburan, semua orang merasa ikut bahagia untuknya. Di hari-hari terakhir sebelum keberangkatannya, Felisha menghitung waktu sehari demi sehari. Pada hari terakhir, saat pengadilan negeri baru saja buka, dia sudah tiba di sana. Satu bulan masa pendinginan perceraian akhirnya selesai dan dia resmi mendapatkan akta cerai. Begitu keluar dari pengadilan negeri, ponselnya berdering. Begitu dibuka, ternyata pesan dari Valerie yang mengajaknya bertemu di sebuah klub pribadi. Pandangan Felisha jatuh pada sertifikat cerai di tangannya, dan akhirnya dia memutuskan untuk datang memenuhi undangan itu. Saat Felisha tiba di ruang VIP, Valerie sudah lebih dulu sampai. Dia mengangkat segelas susu di tangannya dan menyesap sedikit, lalu tersenyum menatap Felisha. "Kak Felisha, aku mengajakmu datang ke sini bukan untuk hal lain, hanya ingin berterima kasih karena sudah merestui aku dan Kak Zarend." "Tadinya setelah kalian bercerai, aku sudah ingin mencari kesempatan untuk berterima kasih. Tapi sebulan terakhir ini Kak Zarend benar-benar terlalu lengket padaku. Bahkan kalau kami berpisah tiga jam saja, dia nggak mau." "Dia selalu ingin berada di sisiku, bahkan saat aku syuting, dia juga harus ikut ke lokasi syuting, sampai rela merendahkan diri jadi asisten pribadiku. Hari ini pun aku baru bisa keluar setelah susah payah mencari celah waktu." Tangan Felisha yang memegang gelas air tanpa sadar menggenggam kuat. Ketika dulu Zarend jatuh cinta padanya, Zarend juga selalu menempel pada dirinya. Hanya saja kini, Zarend sudah sama sekali tidak peduli lagi padanya. Valerie yang jeli segera menyadari perubahan ekspresi Felisha dan senyumnya semakin dalam. "Sepertinya Kak Felisha masih belum bisa melupakan Kak Zarend, ya? Sayang sekali, kalian sudah bercerai." "Saat Kak Zarend mengejarku dulu, aku sudah bilang padanya, aku nggak mau jadi wanita simpanan. Demi aku, dia langsung mengajukan perceraian. Kelihatannya, di hatinya aku jauh lebih penting darimu, Kak Felisha. Kamu sudah jadi masa lalu." Felisha bisa melihat dengan jelas, Valerie adalah wanita cerdas dan ambisius. Kalau tidak, mana mungkin bisa membuat Zarend tergila-gila selama tiga bulan dan bahkan membuat Zarend sampai menceraikan istrinya. Felisha berbicara dengan tenang. "Kamu mengajakku ke sini sepertinya bukan hanya untuk pamer di depanku, 'kan?" Valerie terkekeh pelan. "Kak Felisha memang cerdas." Dia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan menyerahkannya pada Felisha. Felisha mengernyit bingung, tidak mengerti maksud di balik tindakannya. Namun begitu menerima kertas itu, dia langsung melihat tulisan "Laporan Tes Kehamilan". Otaknya kosong seketika, jantungnya terasa dingin. Valerie ... hamil? Valerie tampak sangat puas dengan reaksi Felisha, dagunya terangkat dengan angkuh. Satu tangannya diletakkan di perut bagian bawahnya, suaranya terdengar begitu bangga. "Kak Felisha, aku dan Kak Zarend baru bersama sebulan saja, sudah mengandung anaknya. Sementara kalian menikah tiga tahun tapi bahkan nggak punya anak. Benar-benar gagal, ya." Lembar hasil tes kehamilan di tangan Felisha tertekan sampai meninggalkan bekas. Dulu Felisha dan Zarend juga pernah punya anak. Di tahun kedua pernikahan, dia baru saja mengetahui kehamilannya yang masih berusia sebulan. Saat sedang bersiap memberi tahu Zarend kabar baik itu, dia melihat bekas lipstik di kerah bajunya. Itu adalah pertama kalinya Zarend berselingkuh. Malam itu, Felisha menangis sepanjang malam dan keesokan harinya keguguran karena terlalu sedih. Zarend sempat berlutut di samping ranjangnya bersumpah tidak akan selingkuh lagi. Namun kemudian, dia tetap mencari wanita lainnya. Entah bagaimana, dia tidak akan membiarkan ada yang sampai hamil. Nyawa kecil yang pergi itu menjadi sesuatu yang terlarang di antara mereka. Sekarang tampaknya Zarend sudah melupakannya. Untungnya, mereka sudah bercerai. Dia tidak peduli lagi dengan siapa Zarend ingin bersama atau siapa yang dia buat hamil. Felisha menekan emosi yang bergolak, lalu mengembalikan hasil tes kehamilan itu pada Valerie. "Selamat, sepertinya kalian akan segera berbahagia." Kebanggaan di wajah Valerie mendadak terhenti. Dia tidak menyangka Felisha bisa menerima berita itu begitu tenang. Valerie bangkit dan meraih pergelangan tangan Felisha, sudut bibirnya terangkat dengan senyum mengejek. "Kak Felisha, mulutmu bilang selamat, tapi pasti di dalam hati kamu sudah membenciku sampai mati, 'kan?" "Memang kebetulan, aku juga nggak suka melihat mantan istri seperti kamu ada di dekat Kak Zarend. Aku akan membuatmu lenyap dari hidup Kak Zarend sepenuhnya!" Felisha belum sempat memikirkan maksud di balik ucapan Valerie, ketika tiba-tiba dia melihat Valerie melepaskan genggaman di pergelangan tangannya dan terjatuh keras ke lantai. Darah segar mengalir di sepanjang pahanya, wajah Valerie memucat seketika sambil memegangi perut bagian bawahnya. Hati Felisha menegang, nalurinya membuat dia langsung mengeluarkan ponsel dan menekan nomor darurat. Brak! "Val!" Bab 7 Zarend menendang pintu dengan keras, lalu mengangkat Valerie ke dalam pelukannya dengan tangan gemetar. "Val, jangan takut. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit." Felisha membuka mulutnya, berniat menjelaskan sesuatu. Namun, Zarend langsung membawa wanita di pelukannya keluar. Saat melewatinya, bahunya pun menabrak Felisha dengan keras. Felisha kehilangan keseimbangan, terhuyung beberapa langkah ke belakang. Zarend tampak tidak menyadarinya, hanya sibuk menenangkan wanita di pelukannya. Meskipun tanpa satu kata pun, Felisha bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia bahkan tidak tahu bagaimana dia sampai di rumah sakit. Saat menemukan ruang operasi tempat Valerie berada, Zarend sedang menunggu di luar, wajahnya jelas terlihat tegang. Tampaknya, Zarend benar-benar menyukai Valerie. Felisha tidak mengatakan apa pun. Dia duduk diam di sisi lain kursi, menunggu hasil operasi. Koridor rumah sakit begitu sunyi. Dua orang yang dulunya begitu dekat, kini seolah-olah terpisah oleh galaksi yang tak terlintasi. Yang tersisa di antara mereka hanya keheningan. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Zarend mengangkat kepala. Matanya memerah, suaranya serak. "Felisha, aku sudah janji padamu kalau posisi Nyonya Richardy hanya akan menjadi milikmu. Satu-satunya wanita yang kucintai juga cuma kamu. Kenapa kamu masih tega menyakiti Valerie?" Tujuh tahun bersama, Felisha terlalu mengenal Zarend. Sekarang, dia sedang berada di ambang kemarahan. Terakhir kali Zarend semarah ini adalah ketika Felisha cedera saat syuting. Zarend melampiaskan amarahnya ke seluruh kru film. Namun kali ini, demi kekasihnya, yang menjadi sasaran amarah adalah dirinya. Ironis sekali. Felisha menunduk, menelan rasa perih yang memenuhi dadanya. "Aku nggak mendorongnya. Dia yang sengaja menjebakku." Zarend terkekeh-kekeh, jelas tak memercayainya. "Fel, sejak kapan kamu juga belajar cara wanita rebutan perhatian pria? Apa yang kuberikan padamu masih kurang? Posisi Nyonya Richardy, cintaku, semua sudah milikmu. Aku cuma main-main dengan Valerie, kenapa kamu nggak bisa terima?" Main-main? Hanya mencintaimu? Mendengar kata-kata itu, Felisha tertawa kecil. Tawa yang pelan, tetapi ujung matanya mulai memerah. "Zarend, kalau terlalu sering berbohong, kamu sendiri lama-lama juga akan percaya, 'kan? Coba kamu pegang dadamu sendiri dan jawab jujur, apa kamu masih mencintaiku?" Kalau mencintainya, kenapa terus mencari wanita lain di luar sana? Kalau mencintainya, kenapa membiarkan wanita lain mengandung anaknya? Kalau mencintainya, kenapa tidak ada sedikit pun kepercayaan? Melihat kehampaan di mata Felisha, Zarend tertegun. Amarahnya sedikit mereda. Dalam hatinya, dia berpikir Felisha hanya terlalu mencintainya, hanya sedang cemburu. Sebulan ini dia memang terlalu sibuk dengan Valerie, mungkin memang sudah mengabaikan perasaan Felisha. Zarend berdiri, menarik Felisha ke dalam pelukannya. "Fel, sabar sedikit lagi. Kalau aku sudah bosan dengan wanita di luar sana, aku pasti akan kembali padamu. Saat itu, apa pun yang kamu mau lakukan, aku akan menemanimu." Kata-kata yang sama, janji kosong yang sudah terlalu sering dia dengar. Felisha mendorongnya menjauh, suaranya datar. "Nggak perlu." Karena mereka sudah resmi bercerai, Felisha tidak perlu menunggu lagi. Apa pun yang ingin dia lakukan ke depan, bisa dia lakukan sendiri. Zarend hanya mengira dia masih marah. "Soal Valerie, aku akan minta dia untuk nggak menuntutmu lagi. Tapi setelah dia sadar, kamu harus minta maaf padanya." Felisha nyaris tak percaya dengan apa yang dia dengar. Zarend menyuruhnya meminta maaf? Atas dasar apa? Dia tidak bersalah. Baru saja dia ingin membantah, pintu ruang operasi terbuka. Seorang perawat berlari keluar dengan wajah panik. "Pak Zarend, pasien mengalami pendarahan hebat. Kami butuh darah golongan A segera!" Zarend langsung mengeluarkan ponselnya, menelepon sekretaris, dan memerintahkan untuk mengirim semua stok darah A dari seluruh kota ke rumah sakit. Melihat wajahnya yang cemas, Felisha seolah-olah kembali ke tahun di mana dia pernah kecelakaan saat syuting. Saat itu, Zarend yang gugup, melindunginya dengan tubuhnya sendiri, sampai dia selamat dan Zarend pingsan karena kelelahan. Felisha menggulung lengan bajunya, menyodorkan tangan pada perawat. "Golongan darahku A. Pakai darahku dulu." Mendengar itu, tatapan Zarend menjadi rumit. Bibirnya sempat bergerak, ingin bicara, tetapi dia akhirnya diam. Felisha tak peduli reaksinya, mengikuti perawat masuk untuk diambil darahnya. Setelah 800 mililiter, akhirnya berhenti. Wajah Felisha memucat, bibirnya nyaris tanpa warna. Dia menekan luka kecil di lengannya, berjalan pelan ke arah Zarend, lalu tersenyum lega. "Sekarang aku nggak berutang apa pun lagi padamu ...." Tujuh tahun lalu, dia pernah diselamatkan oleh Zarend. Sekarang, dia sudah membayar jasa itu. Namun, Zarend justru mengira Felisha merasa bersalah karena telah mendorong Valerie dan ingin menebus kesalahannya. Tatapannya melembut, muncul rasa iba dalam hatinya. "Fel, pulanglah dulu dan istirahat. Setelah Valerie membaik, aku akan pulang menjengukmu." Felisha tidak menjawab. Dia hanya berbalik, menyeret langkah lemahnya meninggalkan tempat itu. Entah mengapa, melihat punggungnya yang menjauh membuat dada Zarend terasa sesak. Dia ingin memanggilnya, tetapi lampu ruang operasi padam. Dia harus bertanya dulu pada dokter tentang kondisi Valerie. Ketika dia menoleh lagi, Felisha sudah menghilang. Sesampainya di rumah, Felisha mengeluarkan koper yang sudah lama disiapkannya, menariknya ke dekat pintu. Dia mengambil surat cerai dari tasnya, meletakkannya di atas rak sepatu. Kemudian, dia merobek selembar kertas dan menulis pesan terakhir untuk Zarend. [ Zarend, kisah tentang kita berdua hari ini resmi tamat. Mulai sekarang, tak akan ada pertemuan lagi. ] Dia meletakkan kertas itu di bawah akta cerai, lalu menatap rumah yang telah dia tinggali selama tujuh tahun untuk terakhir kalinya. Semua cinta dan benci selama tujuh tahun, berakhir hari ini. Felisha akan melangkah menuju kisah baru dalam hidupnya.