Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah

Đang tải thông tin quảng bá...

Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah

GoodNovel Hoàn thành

Menikah selama tujuh tahun, Riana Handoko akhirnya berhasil mengandung. Namun, saat pemeriksaan kehamilan, dia mendapati kolom ayah pada formulir kosong. Dia pun tidak dapat menahan diri untuk menegu...

Chương (1)

第1章

Menikah selama tujuh tahun, Riana Handoko akhirnya berhasil mengandung. Namun, saat pemeriksaan kehamilan, dia mendapati kolom ayah pada formulir kosong. Dia pun tidak dapat menahan diri untuk menegur, "Kolom ayah anak ini seharusnya tertulis Bimo Ganendra. Apa kalian lupa mengisinya?" Hampir seluruh kalangan di Obria tahu bahwa Kepala Keluarga Ganendra sangat mencintai istrinya, bahkan bersedia menjalani vasektomi demi Riana. Petugas malah berkata dengan pasti, "Kolom ayah anak ini memang sudah kosong sejak awal pembuatan berkas." "Sebaliknya, nama Bimo Ganendra yang Anda sebut justru tercantum di kolom ayah dari anak wanita lain. Namanya Silvia Handoko. Apa Anda mengenalnya?" Kepala Riana seketika terasa meledak, tubuhnya seperti jatuh ke dalam jurang es. Semua orang di lingkaran sosial tahu bahwa Riana pernah diadopsi oleh Keluarga Handoko. Namun, pada hari ketika Keluarga Handoko menemukan putri kandung mereka yang sebenarnya, mereka mengusir Riana dengan alasan bahwa dia telah merebut kehidupan putri asli mereka selama bertahun-tahun. Putri kandung itu tidak lain adalah Silvia. Bab 1 Menikah selama tujuh tahun, Riana Handoko akhirnya berhasil mengandung. Namun, saat pemeriksaan kehamilan, dia mendapati kolom ayah pada formulir kosong. Dia tidak dapat menahan diri untuk menegur, "Kolom ayah anak ini seharusnya tertulis Bimo Ganendra. Apa kalian lupa mengisinya?" Hampir seluruh kalangan di Obria tahu bahwa Kepala Keluarga Ganendra sangat mencintai istrinya, bahkan bersedia menjalani vasektomi demi Riana. "Riana, melihatmu berkali-kali minum obat dan disuntik, hatiku serasa hancur. Kamu adalah hidupku. Kalau untuk memiliki anak, kita harus membuatmu menderita seperti ini, lebih baik aku menjalani vasektomi permanen!" Untungnya Tuhan yang tersentuh oleh cinta mereka, akhirnya memberi keajaiban. Hari ketika hasil tes menunjukkan bahwa Riana hamil, Bimo yang selama ini berkepribadian dingin dan tegas berlutut memeluk Riana sambil menangis sampai suaranya serak. Bahkan pendaftaran kehamilan pun dia urus sendiri. Melihat betapa perhatiannya Bimo padanya, seharusnya tidak mungkin ada kesalahan. Petugas yang melayaninya tampak masih baru. Dia menatap layar komputer cukup lama sebelum akhirnya memastikan. "Kolom ayah anak ini memang sudah kosong sejak awal pembuatan berkas." Sambil berkata seperti itu, ekspresinya berubah aneh, seolah menemukan sesuatu. "Sebaliknya, nama Bimo Ganendra yang Anda sebut justru tercantum di kolom ayah dari anak wanita lain. Namanya Silvia Handoko. Apa Anda mengenalnya?" Kepala Riana seketika terasa meledak, tubuhnya seperti jatuh ke dalam jurang es. Semua orang di lingkaran sosial tahu bahwa Riana pernah diadopsi oleh Keluarga Handoko. Namun, pada hari ketika Keluarga Handoko menemukan putri kandung mereka yang sebenarnya, mereka mengusir Riana dengan alasan bahwa dia telah merebut kehidupan putri asli mereka selama bertahun-tahun. Putri kandung itu tidak lain adalah Silvia. Yang tidak pernah Riana bayangkan adalah ketika dirinya keluar dari ruang pemeriksaan dalam keadaan linglung sambil menggenggam hasil pemeriksaan kehamilan, dia justru melihat Bimo dan Silvia di koridor. "Kak Bimo, bukannya hari ini juga hari pemeriksaan kehamilan Kak Riana? Alih-alih menemaninya, kamu malah menemaniku. Bukankah itu agak nggak pantas?" Bimo memperhatikan tali sepatu Silvia yang terlepas, lalu berlutut untuk mengikatkannya dengan bentuk pita yang indah, gerakannya terampil, seolah sudah sering melakukannya. "Lihat dirimu ini, kamu bahkan nggak sadar tali sepatumu lepas. Bagaimana aku bisa tenang? Soal Riana, aku sudah memintanya menunggu di rumah sebentar. Setelah menemanimu, aku akan menemaninya untuk pemeriksaan." Sinar matahari menembus kaca jendela dan jatuh di perut Silvia yang sedikit membuncit, membuatnya tampak lembut dan anggun, dengan sorot wajah yang memancarkan sedikit kegembiraan. "Kak Bimo memilih menemaniku dulu. Bolehkah aku menganggap bahwa Kak Bimo sebenarnya lebih memedulikanku? Ah! Sepertinya bayi kita sedang menendang. Kak Bimo, kamu merasakannya nggak?" Wajah Bimo seketika menunjukkan kekhawatiran. Tanpa ragu, dia menggendong Silvia di depan umum. Namun, ketika berbalik, pandangannya bertemu dengan sosok Riana yang berdiri di sudut koridor. Ekspresi Bimo seketika panik. Beberapa kali dia membuka mulut, tetapi tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Riana perlahan melangkah mendekatinya, lalu mengangkat tangan dan menamparnya! Tamparan itu dia berikan dengan segenap tenaga. Separuh wajah Bimo langsung membengkak. "Bimo, beri aku penjelasan." Sebelum Bimo sempat bicara, Silvia sudah lebih dulu merentangkan kedua tangannya, berdiri di depan pria itu seperti induk yang melindungi anaknya, wajahnya dipenuhi kemarahan. "Aku sedang mengandung anak Kak Bimo. Dia hanya menemaniku untuk pemeriksaan kehamilan, atas hak apa kamu menamparnya?" Pada saat itu juga, air mata Riana tidak bisa lagi dibendung. Rasa sakit di dadanya begitu dalam hingga membuatnya nyaris tidak mampu berdiri tegak. Melihat reaksi Riana, Bimo tanpa berpikir panjang mendorong Silvia ke samping dan memeluk istrinya erat-erat dengan penuh rasa sayang. "Bukan begitu Riana, jangan nangis. Anak dalam kandungan Silvia bukan anakku. Aku hanya nggak tega melihatnya dicemooh karena hamil di luar nikah. Ayah dari anak itu sudah pergi dan karena kondisi tubuh Silvia yang lemah, dia nggak bisa menggugurkannya. Aku hanya ingin membantunya." "Bagaimanapun juga, dia adikmu, 'kan?" Tubuh Riana langsung menegang. Riana masih ingat dengan jelas hari pertama Silvia kembali ke Keluarga Handoko. Hari itu, Silvia terjatuh dari tangga, dia menangis sambil berkata kepada kedua orang tua mereka, "Aku nggak menyalahkan Kak Riana. Kakak pasti nggak sengaja, dia hanya takut kalian akan lebih menyayangiku." Nyonya Handoko menampar Riana dengan keras. Dia memaki Riana dengan kata-kata kejam, lalu menanggalkan seluruh pakaiannya dan mengusirnya keluar dari Kediaman Keluarga Handoko. "Kamu sudah merebut kehidupan Silvia, bahkan pakaian di tubuhmu pun miliknya. Kamu nggak pantas tinggal di sini. Pergi!" Seandainya saat itu Bimo tidak kebetulan lewat dan menghentikan mobilnya, mungkin Riana sudah mati kedinginan malam itu. "Dia bukan adikku!" Riana berteriak histeris. Bimo segera memeluknya lebih erat, berusaha menenangkannya dengan suara rendah. "Iya, iya, jangan sedih lagi, ya? Hatiku hancur melihatmu seperti ini." Silvia sepertinya menyadari kertas hasil pemeriksaan di tangan Riana, lalu ikut menjelaskan dengan suara yang terdengar agak sombong. "Benar, Kak. Kak Bimo memang hanya takut aku jadi bahan gosip. Aku nggak sekuat Kakak, aku benar-benar nggak sanggup menanggung semuanya. Karena itu, Kak Bimo bersedia jadi ayah dari anakku. Kamu tahu, Keluarga Ganendra hanya bisa memiliki satu cucu laki-laki. Karena itu, anakmu hanya bisa dianggap sebagai anak tanpa ayah dulu. Tapi nanti aku pasti akan bujuk Kak Bimo untuk mengangkatnya. Aku janji, meski anakmu hanya anak angkat, aku nggak akan menelanjanginya dan mengusirnya dari rumah. Kakak, tenang saja." Bab 2 Aroma parfum dari tubuh Silvia masih tercium samar di pelukan Bimo. Riana tiba-tiba mendorong pria yang telah dia cintai selama bertahun-tahun itu dengan kuat, lalu berteriak dengan mata memerah, "Demi Silvia, kamu rela membiarkan anak kita dianggap anak haram? Kamu khawatir akan nama baiknya, lalu gimana denganku? Apa nama baikku nggak penting bagimu?" Bimo terdiam lama. Jakunnya bergerak naik turun dan suaranya terdengar sangat serak. "Waktu itu di pesta, kalau saja bukan karena Silvia datang memberitahuku, mungkin kamu sudah .... Jadi aku benar-benar nggak sanggup melihat Silvia dicemooh orang." Tiga tahun lalu, di sebuah pesta, seseorang menaruh obat bius ke minuman Riana. Dia hampir diperkosa oleh sekelompok preman, kalau saja Silvia tidak segera memberi tahu Bimo, mungkin Riana sudah tidak sempat diselamatkan. Setelah kejadian itu, Bimo memberi Keluarga Handoko belasan proyek besar, ditambah uang tunai seratus miliar sebagai tanda terima kasih. Namun, bagi Bimo, semua itu masih belum cukup. Selama tiga tahun, Bimo terus membantu Keluarga Handoko, mengurus berbagai urusan bisnis Keluarga Handoko, bahkan diam-diam membelikan Silvia beberapa perhiasan mahal. Setiap kali Silvia sakit, Bimo selalu menjadi orang pertama yang datang merawatnya. Setiap kali Riana mencoba menghentikannya, Bimo hanya menjawab, "Silvia pernah menyelamatkanmu. Aku nggak bisa berpura-pura nggak peduli padanya." Baru saat ini Riana menyadari dengan pilu, kebaikan yang terjadi tiga tahun lalu, mungkin harus dibayar oleh suaminya dengan seumur hidupnya. Saat itu pula, untuk pertama kalinya, Riana menyadari bahwa hati yang dahulu berdebar hangat karena Bimo perlahan-lahan mulai mendingin, hingga akhirnya kehilangan seluruh kehangatannya. Ternyata begini rasanya ketika cinta memudar. Tiba-tiba, Silvia menjerit sambil memegangi perutnya dengan wajah kesakitan. "Kak Bimo, perutku sakit sekali! Anak kita ... anak kita nggak apa-apa, 'kan?" Riana bisa merasakan tangan yang memeluknya menegang sesaat. Dia tersenyum getir dan berkata, "Pergilah. Jangan sampai menyesal." Raut wajah Bimo penuh kerumitan. Namun, pada akhirnya, dia melepaskan Riana, lalu menggendong Silvia dan berlari menuju ruang pemeriksaan. Riana menghapus air mata di pipinya dengan tenang, lalu berbalik dan melakukan tiga hal. Pertama, dia membuat janji untuk menjalani operasi aborsi. Kedua, dia menghubungi pengacara untuk menyiapkan surat cerai. Ketiga, dia membeli tiket pesawat ke luar negeri untuk penerbangan dua minggu mendatang. Bimo boleh saja rela membuat anak kandungnya dicap sebagai anak haram demi menjaga nama baik Silvia, tetapi Riana tidak bisa. Dia lebih memilih agar anak itu tidak pernah lahir ke dunia ini. Adapun pernikahannya dengan Bimo, Riana tahu, tidak ada lagi alasan untuk dipertahankan. Dua minggu kemudian, Riana akan meninggalkan tempat yang hanya memberinya luka dan tidak akan pernah kembali lagi. Operasi aborsi dijadwalkan tiga hari kemudian. Saat keluar dari ruang dokter dengan membawa lembar jadwal operasi, Riana berpapasan langsung dengan Silvia. "Anak dalam kandungan Kakak cuma anak haram, memangnya pantas diperiksa segala?" Tanpa kehadiran Bimo, wajah asli Silvia pun terlihat jelas. "Kamu tahu nggak? Aku sengaja mengatur jadwal pemeriksaanku bersamaan denganmu. Tapi Kak Bimo selalu memilih menemaniku dulu, bahkan baru tenang setelah mengantarku pulang. Aku ingat, ada beberapa kali karena dia pulang terlalu larut, kamu harus menunda pemeriksaanmu, 'kan? Riana mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Pantas saja, setiap kali tiba jadwal pemeriksaan, Bimo selalu tiba-tiba sibuk di kantor dan rapatnya selalu berlangsung sampai larut malam. Betapa kasihan dirinya saat itu. Karena merasa iba melihat Bimo yang bekerja keras, meski mual kehamilan sering membuatnya hampir memuntahkan cairan empedu, Riana tetap memaksakan diri ke dapur, hanya agar suaminya bisa menikmati semangkuk bubur kacang hangat begitu tiba di rumah. Mengingat semua itu, Riana merasa mual. Perutnya pun mulai terasa nyeri. Dia tidak punya tenaga untuk menanggapi provokasi Silvia, yang diinginkannya hanyalah segera pulang dan beristirahat di tempat tidur. Namun, di detik berikutnya, sudut bibir Silvia terangkat membentuk senyum tipis, lalu dengan satu gerakan "tidak sengaja", tubuhnya terhuyung ke belakang. "Silvia!" Bimo hampir melompat untuk menangkapnya, dia memeluk Silvia sebelum tubuh wanita itu menyentuh lantai. Silvia pun mulai terisak pelan. "Semua ini salahku, Kak Riana jadi sangat marah. Dia benci aku, juga benci anak dalam kandunganku. Tapi aku nggak menyalahkannya, aku tahu Kakak pasti nggak sengaja, hiks, hiks, hiks ...." Kata-kata itu sama persis seperti yang pernah dirinya dengar dulu. Riana tidak tahan lagi dan berteriak, "Nggak seperti itu! Aku sama sekali nggak ...." Namun, Bimo hanya menatap Silvia di pelukannya dengan wajah penuh penyesalan. "Silvia, jangan salahkan Riana, ya? Aku akan minta maaf padamu kalau perlu." Riana tertegun. Dia tidak percaya, Bimo bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan dan langsung menjatuhkan vonis bersalah padanya. "Nggak seperti itu! Aku nggak menyentuhnya sama sekali! Kalau kalian nggak percaya, kalian bisa lihat rekaman CCTV di koridor!" Riana menunjuk ke arah kamera CCTV di sudut dinding. Silvia yang tidak menyangka ada kamera di sana seketika pucat. Dia menggenggam lengan Bimo dengan kuat sambil menangis hingga tubuhnya bergetar hebat. Bimo hanya menghela napas dan memijat pelipisnya, suaranya terdengar letih. "Riana, aku tahu kamu sedang marah. Aku nggak memintamu meminta maaf pada Silvia, tapi tolong ... jangan membuatnya makin tertekan, ya?" Saat itu, Riana seolah benar-benar mendengar suara hatinya retak berkeping-keping. Pria yang dulu menggendongnya ke dalam mobil di malam yang dingin, dengan lembut menyelimutinya dengan jaket, dan bersumpah akan selalu memercayainya, akhirnya mengingkari janjinya. Silvia menatapnya sambil tersenyum puas, kemudian berpura-pura terisak dan bersandar di dada Bimo. "Kak Bimo, aku merasa nggak enak badan. Bisa tolong antar aku pulang dulu?" Sebuah keraguan melintas di mata Bimo, tapi akhirnya dia berkata pada Riana, "Silvia masih ketakutan. Aku akan mengantarnya ke mobil dulu, lalu kembali menjemputmu. Tunggu di sini, ya." Setelah itu, dia menggendong Silvia dan berjalan cepat ke arah pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun. Seorang perawat yang kebetulan lewat menatap mereka dengan mata berbinar iri. "Pria itu benar-benar baik pada istrinya! Ruang pemeriksaan ada di lantai enam belas, tapi dia bahkan nggak menunggu lift dan memilih berlari turun tangga. Kapan aku bisa punya suami seperti itu?" "Suami baik nggak mudah ditemukan. Lihat saja wanita hamil di sana, wajahnya sudah sepucat itu, tapi suaminya nggak terlihat menemaninya. Kasihan sekali .... Eh, kamu kenapa? Cepat, panggil dokter! Ada wanita hamil pingsan di koridor!" Sebelum kehilangan kesadaran, yang terakhir dilihat Riana adalah wajah panik sang perawat. Bab 3 Saat terbangun, Riana melihat Bimo sedang duduk di tepi ranjang menjaganya. Mungkin karena semalaman tidak tidur, wajah tampannya tampak kusut dan dipenuhi cambang tipis. Begitu Riana membuka mata, Bimo segera menggenggam tangannya dan berkata dengan suara bergetar, "Riana, akhirnya kamu sadar juga. Kamu tahu nggak, dokter bilang emosimu terlalu nggak stabil dan sudah sangat memengaruhi kondisi janin di perutmu. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu atau anak kita, aku harus bagaimana? Kamu mau aku mati, ya?" Riana sempat terpaku. Riana sama sekali tidak mengerti bagaimana pria di depannya ini bisa mencintai dirinya dan anak yang dikandungnya, tetapi di saat yang sama juga melukai hatinya dengan begitu kejam. "Dokter bilang kamu harus banyak makan vitamin. Kamu paling suka apel, 'kan? Aku kupaskan satu untukmu, ya?" Setelah mengatakannya, Bimo menggulung lengan bajunya. Jari-jarinya yang panjang memegang pisau buah dengan cekatan, bahkan lebih hati-hati daripada saat memegang proposal bisnis bernilai miliaran. Seiring kulit apel yang terkupas dengan rapi, tampaklah daging buah di dalamnya yang putih dan lembut. Riana teringat, dulu Bimo sama sekali tidak bisa mengupas apel. Namun, sejak Riana tidak sengaja terluka oleh pisau, Bimo tidak lagi mengizinkannya menyentuh benda tajam. Pria yang sejak kecil hidup serba dimanjakan itu belajar dengan kikuk bagaimana merawat orang lain. Bahkan untuk hal sepele seperti mengupas apel, dia melakukannya dengan penuh kesabaran dan ketelitian. Baru separuh apel terkupas, ponsel Bimo tiba-tiba berdering. Begitu tersambung, terdengar suara tangisan Silvia di seberang. Wajah Bimo seketika berubah. Dia buru-buru mengambil jaket di sofa dan melangkah ke luar. "Terjadi sesuatu pada Silvia, aku harus ke sana dulu." Dalam kepanikan, pintu tertutup karena hembusan angin, menjatuhkan apel yang belum sempat dikupas tuntas, sekaligus menghancurkan hati Riana. 'Bimo, kamu selalu bilang semua ini demi membalas budi. Namun, dari semua yang kamu lakukan, adakah satu pun yang tidak menempatkan Silvia di atas diriku? Kali ini, dengan dalih membalas budi itu, apa lagi yang akan kamu lakukan untuknya?' Tidak butuh waktu lama bagi Riana untuk mengetahui jawabannya. Ternyata, kemarin ada seseorang yang memotret Bimo saat berlari menuruni tangga sambil menggendong Silvia, lalu mengunggahnya ke internet. Pada saat yang sama, ada pula yang memotret Riana yang pingsan dengan wajah pucat di depan poli kandungan. Para warganet pun ramai mengecam Silvia, menuduhnya tidak tahu malu karena merebut suami kakaknya sendiri. Beberapa bahkan memperhatikan perut Silvia yang tampak sedikit buncit dan menudingnya hamil di luar nikah, mengandung anak haram yang tidak jelas ayahnya dan mencapnya sebagai wanita rendahan. Silvia dikepung oleh media gosip dan warganet yang marah di depan rumahnya. Di tengah kerumunan, ada yang melemparkan telur busuk dan sayur busuk ke arahnya, tetapi semuanya dihalau oleh Bimo yang bergegas ke lokasi. Setelan jas mahalnya kotor dan berbau busuk, tapi Bimo sama sekali tidak peduli. Dia berdiri teguh di depan Silvia, melindunginya tanpa ragu. Dalam ketakutan, Silvia refleks berteriak, "Aku mengandung anak Kak Bimo!" Suasana di tempat itu langsung gempar. Kamera media berdesakan mengambil gambar tanpa henti, sementara mikrofon hampir menempel di wajah Bimo. "Mohon konfirmasi, apa benar yang dikatakan Silvia? Apa anak yang dikandungnya memang anak Anda?" Silvia menggenggam ujung jas Bimo sambil menangis tanpa suara. Pada akhirnya, hati Bimo pun melunak. "Ya, aku ayah dari anak yang dikandung Silvia." Para wartawan makin bersemangat. "Istri Anda, Riana, juga diketahui sedang hamil. Apa ini berarti anak dalam kandungan Silvia adalah anak haram Anda?" "Silvia menggoda kakak iparnya saat kakaknya hamil, bahkan dengan nggak tahu malu mengandung anaknya. Apa bedanya dengan melahirkan anak haram?" "Bukan begitu!" Melihat seseorang hendak maju dan menyerang Silvia, Bimo tidak tahan lagi dan berteriak. "Anak yang dikandung Silvia bukan anak haram! Justru anak Riana yang anak haram!" Hanya dengan dua kalimat itu, semua orang langsung mengerti. Ternyata Rianalah yang lebih dulu berselingkuh dan mengandung anak dari pria lain. Karena itu, Bimo terpaksa memiliki anak bersama Silvia demi keturunan keluarga. Dalam sekejap, segala makian yang tadinya ditujukan pada Silvia berbalik ribuan kali lipat menghujani Riana. "Riana pelacur!", "Anak Riana anak haram!", "Riana tidur dengan berapa pria!", "Riana sudah rusak dipakai banyak orang!" Segala jenis hinaan seperti itu terus bermunculan. Saat Bimo kembali, pemandangan yang menyambutnya adalah Riana yang tengah ditarik-tarik. Berbagai makian penuh kebencian terdengar dari segala arah. Bahkan, seseorang langsung mendorong tubuh Riana dengan kasar. Bimo hendak berlari menolongnya, tetapi tangannya ditahan oleh Silvia. "Kak Bimo, aku takut ...." Hanya karena beberapa detik tertahan, kerah baju Riana sudah robek dan tubuhnya terhempas keras ke tanah. Bimo tidak lagi memedulikan apa pun. Dia menepis tangan Silvia dan segera memeluk Riana. "Riana, kamu nggak apa-apa?" Namun, tangannya tiba-tiba terasa basah. Itu darah. Riana berdarah! "Riana!" Bimo berteriak histeris, sementara Riana perlahan menutup mata, seolah seluruh tenaganya telah terkuras habis. Bab 4 Dalam kesadarannya yang samar, dia seolah mendengar suara amarah Bimo yang meledak-ledak. "Apaan yang dilakukan petugas keamanan gedung ini?! Bagaimana bisa orang-orang itu menerobos masuk?" "Gunakan cara apa pun, aku ingin orang yang menyakiti Riana mendapat balasan seratus kali lipat!" "Selain itu, opini-opini di internet itu, segera hapus semuanya! Apa? Masalahnya sudah terlalu besar? Untuk apa Keluarga Ganendra memelihara divisi humas kalau seperti ini? Ambil dana dari rekeningku, mau itu seratus miliar atau satu triliun, aku nggak ingin mendengar satu pun ucapan yang merugikan Riana lagi!" "Apa maksudmu kondisi ibu hamilnya sangat buruk? Nggak boleh terjadi apa-apa pada Riana dan anak yang dikandungnya! Kalau nggak, kalian semua akan menemaninya mati!" Saat Riana membuka mata, yang pertama kali dia lihat adalah air mata Bimo yang penuh penderitaan. Begitu menyadari Riana telah sadar, pria itu memeluknya erat seolah baru saja mendapatkan hidupnya kembali. "Riana, sayangku, apa kamu tahu kamu hampir membuatku mati ketakutan? Kamu adalah hidupku!" Namun, mendengar sumpah setulus itu, hati Riana justru tidak merasakan sedikit pun haru. Sejak Bimo mengatakan di depan media, "Anak dalam kandungan Silvia bukan anak haram, justru anak Riana yang anak haram!" Sejak saat itu pula, perasaannya terhadap pria ini telah benar-benar lenyap tanpa sisa. Melihat cahaya di mata Riana perlahan padam, Bimo merasakan naluri kuat bahwa sesuatu yang sangat penting tengah meninggalkannya dengan cara yang tidak bisa dicegah. Dadanya seolah terasa diremas hingga sulit bernapas. "Riana, kenapa? Kamu marah sama aku, ya? Tapi waktu itu aku benar-benar nggak punya pilihan. Masa aku harus biarkan Silvia kehilangan nama baiknya? Lagi pula, dia pernah menyelamatkan nyawamu! Melihatmu terluka saja aku hampir gila, nggak bisakah kamu sedikit memahamiku?" Pada saat itu, Silvia membuka pintu dan masuk, tangannya menggenggam lembar jadwal operasi aborsi milik Riana. "Benar, Kak. Tapi seberapa pun marahnya Kakak, nggak seharusnya Kakak menggugurkan anak dalam kandungan Kakak!" "Apa?" Bimo menerima lembaran itu dengan tatapan tidak percaya, bahkan napasnya menjadi tidak teratur. Tatapan jahat Silvia kini sepenuhnya tersingkap. "Kakak pasti sengaja keluar supaya didorong orang-orang itu, 'kan? Tubuhmu lagi nggak sehat, tapi kamu sengaja nggak kasih tahu Kak Bimo. Kakak juga sengaja memancing mereka di tengah pusaran isu supaya anak dalam kandunganmu keguguran sendiri. Kalaupun tetap nggak kegugur, Kakak sudah menjadwalkan operasi aborsi. Kak, bagaimana bisa Kakak setega itu pada Kak Bimo? Kakak benar-benar keterlaluan!" Lembaran jadwal operasi itu telah diremas Bimo hingga menjadi gumpalan, tenggorokannya tercekat. "Benarkah itu, Riana? Apa kamu benar-benar tega menggugurkan anak kita?" Riana hanya merasa semuanya begitu ironis. Padahal, dia yang lebih dulu tidak menginginkan anak ini! Bimo menepis cangkir teh di atas meja. Cangkir itu pecah dan serpihannya berhamburan di lantai. "Mengapa? Demi anak ini, kamu sudah menanggung begitu banyak penderitaan! Karena efek samping suntikan, berapa malam kamu menahan sakit sampai tubuhmu gemetar dan bermandikan keringat dingin. Aku bahkan sampai berlutut memohon agar kamu berhenti minum obat, tapi kamu tetap ingin punya anak kita. Mengapa sekarang kamu tega menggugurkannya? Riana, apa kamu benar-benar nggak punya hati?" Ya, demi anak ini, Riana hampir kehilangan nyawanya. Namun, mengapa Bimo bisa dengan begitu mudahnya menghapus namanya dari kolom ayah di berkas pemeriksaan kehamilan? Hanya demi Silvia dan bayi yang dikandungnya, dia rela mempermalukan Riana di depan dunia, membuat anak mereka dicap sebagai anak haram yang hina? Suara pelayan terdengar pada waktu yang tepat. "Tuan Bimo, pengacara baru saja mengirimkan surat cerai. Katanya, itu atas permintaan Nyonya." Bab 5 Seketika, surat cerai itu diserahkan ke tangan Bimo oleh pelayan atas isyarat mata Silvia, di atasnya tertulis jelas nama Riana dan namanya! Terdengar suara sobekan. Bimo dengan marah merobek dokumen itu, tubuhnya seperti singa yang mengamuk. "Bagaimana bisa kamu menceraikanku? Bagaimana bisa kamu berani menceraikanku?!" Silvia berpura-pura menenangkannya. "Kak Bimo sudah sangat baik pada Kakak, tapi dia masih mau bercerai. Mungkinkah kakak sudah jatuh cinta pada orang lain?" Mendengar itu, Bimo benar-benar kehilangan akal, dia mencengkeram pergelangan tangan Riana sampai terasa sakit. "Lepaskan aku, Bimo!" "Nggak mungkin!" Mata Bimo memerah, auranya penuh dengan hawa membunuh. "Siapa pun pria itu, akan kubunuh dengan tanganku sendiri! Selain itu, kamu ...." "Riana, dalam hidup ini kamu nggak akan pernah bisa meninggalkanku! Kamu milikku dan akan selalu menjadi milikku!" Tentu saja Bimo tidak berhasil menemukan pria itu. Namun, dia tidak lagi mengizinkan Riana keluar rumah. Alasannya terdengar mulia, katanya demi dirinya dan anaknya. Namun, pada kenyataannya, itu tidak lebih dari sebuah penjara. Di luar vila dipasang sistem keamanan otomatis 24 jam dan dijaga ketat oleh pengawal yang bergantian jaga. Tidak seorang pun diizinkan keluar atau masuk. Semua pelayan diganti dengan wajah-wajah baru. Selain itu, setelah menemukan nomor penerbangan di ponsel Riana, Bimo yang marah besar menyita semua alat komunikasi Riana agar dia tidak bisa berhubungan dengan dunia luar. "Aku tahu ini menyakitkan bagimu, tapi aku nggak akan membiarkanmu menggugurkan anak yang susah payah kita dapatkan, apalagi sampai kamu meminta pengacara membuat surat cerai!" "Riana, bersikaplah baik. Aku sudah tanya dokter, semua emosi berlebihanmu saat ini hanyalah efek dari hormon kehamilan. Nanti setelah kamu melahirkan anak kita, kamu pasti akan mengerti." Mengerti bagaimana membuat anaknya dicap sebagai anak haram oleh orang-orang? Atau mengerti bagaimana suaminya menjadi ayah dari anak wanita lain? Riana tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap Bimo dengan tenang. Namun, tatapan itu sudah cukup membuat pria yang selalu tidak terkalahkan di dunia bisnis itu kehilangan kewibawaan dan pergi dengan panik. Riana dikurung selama setengah bulan, melewatkan waktu janji untuk menggugurkan kandungan, juga melewatkan penerbangan yang seharusnya membawanya pergi. Tidak lama setelah itu, ibu Bimo datang. Begitu melangkah masuk, dia memerintahkan Riana dengan suara keras untuk berlutut, "Dasar wanita nggak tahu malu. Bukannya Bimo sudah memperlakukanmu dengan baik? Demi menikahi seorang gadis yatim piatu seperti dirimu, dia berlutut di aula leluhur selama tujuh hari tujuh malam dan menerima hukuman keluarga, nyawanya nyaris melayang dan baru berhasil diselamatkan setelah sebulan terbaring di ICU. Dia bahkan menjalani vasektomi untukmu. Tapi bagaimana kamu membalasnya? Kamu malah berselingkuh dan berani mengandung anak haram! Bagaimana bisa ada wanita sejahat dan nggak tahu malu sepertimu? Rasanya aku ingin membunuhmu!" Di samping, Silvia pura-pura membela, "Kakak hanya nggak tahan hidup kesepian, makanya sering mencari pria di luar. Tolong, maafkan kakak kali ini saja." Nyonya Ganendra makin marah dan hendak menampar Riana, tetapi Riana menahan pergelangan tangannya dan berkata, "Anakku bukan anak haram!" "Apa kamu bilang?" "Aku bilang, anak yang aku kandung adalah anak Bimo." Wajah Silvia tampak panik, dia segera maju dan menahan Nyonya Ganendra. "Tante, Kakak hanya berbohong supaya lolos dari hukuman. Cepatlah tutup mulutnya." Riana malah menampar Silvia, lalu menatap Nyonya Ganendra sambil mengucapkan tiap kata dengan tegas, "Dialah yang mengandung anak haram. Kalau Ibu nggak percaya, sekarang juga aku bersedia melakukan tes DNA!" Bab 6 Saat Nyonya Ganendra masih ragu, Bimo tiba-tiba menerobos masuk. Begitu mendengar laporan dari bawahannya bahwa ibunya pergi ke vila, dia langsung menghentikan rapat dan buru-buru pulang. Dia baru mengembuskan napas lega setelah melihat Riana baik-baik saja. Namun, pada detik berikutnya, Silvia sudah berlari ke dalam pelukannya, menutupi pipinya yang memerah dan bengkak sambil menangis pilu. "Kak Bimo, kakak memfitnahku, katanya anak dalam kandungankulah yang anak haram. Hiks, hiks, hiks, padahal dulu aku menyelamatkan nyawanya, tapi dia justru ingin menghancurkanku! Kalau begini, lebih baik aku mati saja!" Setelah mengatakannya, Silvia berlari ke arah pintu, tetapi Bimo segera menariknya kembali. Riana memandangi pria yang telah dicintainya selama bertahun-tahun. Meskipun hatinya sudah mati rasa, tetap ada secercah harapan dalam dirinya, harapan bahwa kali ini, Bimo akan mengatakan kebenaran dan menegakkan keadilan untuk dirinya serta anak dalam kandungannya. Nyonya Ganendra menatap putranya dengan tegang. "Apakah yang dikatakan Riana itu benar?" Namun, di mata Bimo hanya tampak sedikit keraguan sebelum akhirnya dia menggeleng. "Anak yang dikandung Silvia bukan anak haram." Bimo bahkan menatap Riana dengan penuh permohonan, seakan ingin dia memahami pergulatan dan penderitaan yang dialaminya. Kekecewaan yang teramat besar membuat hati Riana hancur, meninggalkan kehampaan yang pelan-pelan menelan seluruh dirinya. Nyonya Ganendra yang marah menamparnya dengan keras. Bimo hendak maju untuk menghentikannya, tapi Silvia buru-buru menahannya. "Dengan apa yang sudah dilakukan kakak, wajar kalau tante perlu meluapkan emosinya. Kalau nggak, kesehatannya bisa terganggu karena terlalu menahan marah." Nyonya Ganendra menepuk punggung tangan Silvia dengan penuh kasih. "Anak baik, kamu seribu kali lebih berharga daripada wanita hina itu. Sekarang, kamu juga sedang mengandung cucu pertama Keluarga Ganendra. Segeralah pindah ke sini, biar Bimo bisa menjagamu dengan baik." Setelah mengatakannya, dia menatap Riana dengan penuh kebencian. "Wanita murahan nggak tahu malu sepertimu nggak pantas tinggal di sini! Segera ceraikan Bimo dan keluar dari Kediaman Keluarga Ganendra sekarang juga!" Di permukaan, Silvia tampak patuh dan manis, tetapi dia diam-diam menatap Riana dengan senyum kemenangan. Namun, ketika Silvia yakin dirinya akan segera menjadi Nyonya Keluarga Ganendra, Bimo tiba-tiba menepis tangannya dan menarik Riana ke dalam pelukannya. Dengan nada tegas, dia berkata, "Riana nggak akan menceraikanku dan nggak akan pernah meninggalkan Kediaman Keluarga Ganendra! Kecuali aku mati, aku nggak akan pernah membiarkan dia pergi dari sisiku!" Nyonya Ganendra menepuk pahanya dengan marah. Wajah Silvia juga terlihat tidak senang, tetapi dia tetap menahan diri dan mengusulkan jalan tengah. "Anak yang kukandung memang membutuhkan sosok ayah. Begini saja, aku pindah ke kamar utama dan tinggal bersama Kak Bimo, sedangkan Kakak tinggal di ruang bawah tanah. Anggap saja itu hukuman karena sudah menamparku." Tentu saja Bimo tidak setuju. Namun, Nyonya Ganendra langsung memutuskan. "Kalau hal seperti ini saja kamu nggak mau setujui, suruh saja wanita murahan itu angkat kaki dari rumah ini!" Akhirnya, Riana pun diantar sendiri oleh Bimo ke ruang bawah tanah yang lembap dan dingin. "Riana, tenanglah. Setelah ibu nggak marah lagi, aku akan segera memindahkanmu kembali ke atas." Selama tinggal di ruang bawah tanah, Riana setiap hari mendengar barang-barang milik Silvia terus dipindahkan ke dalam vila. Silvia tidak terbiasa tidur di ranjang kamar utama, jadi Bimo membongkar tempat tidur yang dipesan khusus oleh Riana kepada seorang ahli dan dibuat selama setahun penuh, lalu menggantinya dengan kasur lateks kesukaan Silvia. Silvia alergi terhadap serbuk bunga, jadi Bimo mencabut semua bunga matahari yang Riana rawat dengan penuh perhatian, lalu menggantinya dengan kolam renang tanpa batas yang disukai Silvia. Bahkan, Silvia mengubah ruang musik Riana menjadi kamar bayi. Di hadapan Riana, Silvia menghancurkan piano yang pernah dicat dan dipernis sendiri oleh Bimo untuknya, lalu membakarnya hingga menjadi abu. "Nggak lama lagi, aku akan sepenuhnya menggantikanmu menjadi Nyonya Keluarga Ganendra. Sementara kamu dan anakmu, aku akan memastikan kamu melahirkan anak haram itu, lalu membuatnya dibenci semua orang hingga mati dalam keputusasaan." Saat itulah Riana akhirnya mengerti alasan Silvia menyerahkan lembar jadwal operasi aborsi miliknya kepada Bimo. Karena Silvia ingin membuat Riana menyaksikan sendiri bagaimana anaknya dibenci seluruh dunia dan hancur perlahan. Begitu melihat Bimo, Silvia langsung mengganti ekspresinya. "Aku hanya ingin membujuk Kakak agar melahirkan anak ini dengan baik." Mendengar itu, Bimo tampak begitu kecewa. "Riana, nggak kusangka sampai sekarang kamu masih berpikir untuk menyingkirkan anak kita. Kamu benar-benar membuatku kecewa!" Riana bahkan sudah tidak ingin melihatnya lagi. Yang dia inginkan sekarang hanyalah pergi dari Bimo, mencari tempat di mana dirinya tidak akan pernah diganggu lagi. Namun, bagaimana caranya Riana bisa menghubungi dunia luar? Bab 7 Riana mulai bersikap lebih ramah kepada Bimo. Dia bahkan menggenggam tangan suaminya dan menaruhnya di atas perutnya. "Aku dengar, anak yang sejak kecil mendengarkan cerita dari ayahnya akan tumbuh lebih cerdas." Sulit sekali melihat Riana yang biasanya bersikap dingin kini mulai melunak dan menunjukkan kasih sayang terhadap anak mereka. Bimo pun gembira bukan main, seharian penuh dia memeluk istrinya tanpa mau melepasnya. Ketika Silvia mengeluh bahwa perutnya terasa tidak nyaman dan meminta Bimo menemaninya, Bimo tanpa berpikir panjang langsung menolak dengan alasan pekerjaannya terlalu banyak. Namun, begitu Riana berkata ingin makan sup pangsit isi telur kepiting, Bimo segera membatalkan rapat dan turun tangan memasak sendiri, menyiapkan satu meja penuh hidangan untuk Riana. Dia bahkan berjanji akan datang setiap malam untuk membacakan dongeng sebelum tidur buat anak mereka. Akhirnya, Silvia tidak sanggup lagi menahan diri. Saat Riana berjalan-jalan di halaman belakang, dia menghadang Riana dengan wajah penuh kebencian. "Wanita nggak tahu malu! Kamu sudah merebut delapan belas tahun hidupku, sekarang kamu masih ingin merebut suamiku!" Riana menatapnya dingin sambil tersenyum sinis. "Pertama, dulu kamu sendiri yang menganggap Keluarga Handoko terlalu miskin dan memilih pergi bersama orang yang menjanjikan boneka Barbie edisi terbatas padamu. Baru setelah mendengar bahwa Keluarga Handoko sudah kaya, kamu datang kembali untuk merebut posisi anak kandung. Jadi, yang nggak tahu malu itu kamu, bukan aku. Kedua, sampai sekarang, nama yang tercantum di buku nikah Bimo masih namaku. Akulah istrinya yang sah!" Silvia hampir kehilangan akal, tetapi masih memaksakan senyum aneh di wajahnya. "Kakak, kalau kita berdua jatuh ke air bersamaan, menurutmu Kak Bimo akan memilih siapa?" Namun, Riana bergerak lebih cepat. Dia menarik pinggang Silvia dan langsung meloncat bersamanya ke kolam renang. "Riana!" Tanpa ragu sedikit pun, Bimo segera terjun ke kolam renang. Silvia dengan panik mengibas-ibaskan tangannya di permukaan air, seolah dirinya bisa tenggelam kapan saja. "Kak Bimo, aku nggak bisa berenang! Uhuk-uhuk! Aku akan mati!" Bimo yang semula berenang menuju Riana tiba-tiba berhenti. Hanya dalam jeda singkat itu, Silvia sudah berpegangan di bahu Bimo dengan wajah pucat pasi. "Perutku sakit banget, aku nggak kuat lagi. Kak Bimo, tolong aku." Pantulan cahaya di permukaan air membuat keraguan dan kebingungan di mata Bimo terlihat begitu jelas. Ternyata, suami yang selalu berkata "kamu akan selamanya menjadi pilihanku yang pertama" pun bisa goyah, hanya karena beberapa kata dari orang lain, hingga ragu apakah dia harus menolong istrinya lebih dulu atau tidak. Ternyata, sekuat apa pun sebuah sumpah, hanya berlaku pada saat diucapkan. Seiring waktu, semuanya berubah menjadi sebilah pisau yang menusuk tepat ke dada Riana. Didorong oleh naluri, akhirnya Bimo tetap menolong Riana lebih dulu. Namun, dia hanya mendorong Riana ke tepi kolam tanpa benar-benar membantunya naik, lalu Bimo segera berbalik dan dengan panik memeluk Silvia, seolah sedang memeluk harta berharga yang nyaris hilang untuk selamanya. Setelah mengangkat Silvia ke darat dan memanggil dokter keluarga untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh, serta memastikan Silvia tidak apa-apa, barulah Bimo teringat pada Riana yang masih berpegangan erat pada pagar kolam agar tidak tenggelam. Saat Riana akhirnya ditarik ke atas, Silvia telah dibungkus dengan satu-satunya selimut wol di tempat itu. Dia menatap Riana dengan tatapan puas, sementara bibir Riana membiru karena kedinginan. Bimo tiba-tiba merasakan kegelisahan yang kuat di hatinya. Dia ingin menyelimuti istrinya dengan jaketnya, tetapi tangannya segera ditepis. "Riana?" "Nggak perlu. Aku nggak mati di dalam air, apalagi di darat. Aku bisa berjalan sendiri." Bimo merasakan firasat buruk, seakan sesuatu yang penting akan benar-benar hilang darinya. Namun, tangannya ditahan erat oleh Silvia yang memandangnya dengan mata berlinang. "Kak Bimo, aku nggak menyalahkanmu karena memilih menyelamatkan kakak lebih dulu. Tapi perutku benar-benar sakit, bisakah kamu mengantarku ke rumah sakit?" Riana pun berjalan pulang sendirian ke ruang bawah tanah. Setelah mengunci pintu dari dalam, dia mengambil sebuah ponsel yang terbungkus plastik dari balik dadanya. Ponsel itu dia curi ketika menarik Silvia masuk ke air tadi. Karena terburu-buru, bungkus plastiknya tidak terlalu rapat, tapi untungnya ponsel itu masih bisa digunakan untuk menelepon. Riana segera menekan deretan angka yang telah dia hafal di luar kepala. Tidak lama kemudian, terdengar suara berat dari seberang sana. "Siapa ini?" "Aku, Riana. Aku bersedia menjual hak cipta Kebahagiaan Cahaya Bulan kepadamu. Syaratnya, bawa aku pergi menjauh dari Keluarga Ganendra dan Bimo untuk selamanya." Bab 8 Seri perhiasan Kebahagiaan Cahaya Bulan selalu menjadi produk andalan Grup Ganendra, tahun lalu enam puluh persen pendapatan Grup Ganendra berasal dari seri ini. Kebahagiaan Cahaya Bulan bahkan telah memicu gelombang pra-penjualan hanya dengan peluncuran trailernya. Para pelaku industri memprediksi bahwa Kebahagiaan Cahaya Bulan akan menjadi produk paling menguntungkan dalam lima puluh tahun terakhir. Namun, tidak seorang pun tahu bahwa seluruh seri Kebahagiaan Cahaya Bulan dirancang oleh Riana. Napas pria di ujung telepon itu terdengar lebih berat. "Satu jam lagi, aku akan datang sendiri ke Kota Obria untuk menjemputmu." Saat mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Riana baru menghela napas lega. Dia menghapus riwayat panggilan, lalu menghancurkan ponsel Silvia dan membuangnya ke tempat sampah. Di luar pintu, dokter keluarga masih terus memohon, "Nyonya, izinkan saya masuk untuk memeriksa. Kalau nanti Pak Bimo menanyakan, saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya." Saat masih ragu-ragu, suara dokter tiba-tiba menghilang. Riana merasakan firasat buruk. Seperti yang diduga, pintu ruang bawah tanah tiba-tiba ditendang hingga terbuka. Dengan wajah murka, kedua orang tua Silvia datang bersama Nyonya Ganendra dan langsung menerobos masuk. Begitu melihatnya, Nyonya Handoko langsung menerjang dan mencekik lehernya. "Dasar pembawa sial, nggak tahu diri! Bukan hanya merebut separuh hidup Silvia, kamu bahkan berani mendorongnya ke air dan ingin membunuh anak dalam kandungannya! Aku akan membunuhmu!" Dalam kepanikan, Riana meraba sesuatu di dekatnya dan mendapati sebuah piring. Dia segera mengayunkannya ke arah kepala ibu angkatnya. "Waktu itu, kalianlah yang percaya pada omong kosong seorang peramal dan menculikku dari taman bermain karena katanya aku bawa keberuntungan! Saat bisnis kalian membaik, kalian malah menendangku keluar dari Kediaman Keluarga Handoko. Aku nggak merebut hidup Silvia, kalianlah yang telah mencuri hidupku!" Tidak disangka Riana masih mengingat kejadian masa kecil dan berani mengatakannya di depan umum, wajah kedua orang tua Silvia seketika berubah. Namun, karena Riana menggenggam pecahan piring di tangannya, mereka tidak berani mendekat. Mereka hanya bisa menekan Nyonya Ganendra. "Nyonya Ganendra, di perut Silvia ada cucu pertama Keluarga Ganendra! Jika hari ini Nyonya nggak memberi kami penjelasan, kami akan bawa Silvia pergi dan gugurkan anak itu sekarang juga!" Nyonya Ganendra tentu tidak rela kehilangan cucu yang sudah lama dia nantikan. Dia segera memerintahkan seseorang membawa surat cerai. "Gugurkan anak haram dalam kandunganmu, tinggalkan rumah ini tanpa membawa apa pun, dan Keluarga Ganendra akan melepaskanmu." Melihat belasan pengawal yang bersiap di sekelilingnya, Riana tiba-tiba tersenyum. Tanpa ragu, dia menandatangani surat cerai itu. Dokter keluarga menyerahkan beberapa butir obat dengan wajah iba. "Minumlah ini dulu. Nanti saat di ruang operasi, prosesnya akan lebih cepat." Sudah lama Riana berniat menggugurkan kandungannya, tapi ketika saat itu benar-benar datang, Riana tetap merasakan kesedihan yang mendalam. Setelah menanggung begitu banyak penderitaan, anak yang susah payah dia pertahankan akhirnya tetap tidak bisa bersamanya. "Aku sudah bilang, anak yang kukandung ini adalah anak Bimo. Sayang sekali, nggak ada seorang pun yang menginginkannya. Kalau begitu, semoga kalian nggak akan pernah menyesal." Riana segera menelan obat itu. Tidak lama kemudian, rasa nyeri yang menusuk mulai terasa di perutnya. Dokter keluarga segera memanggil tandu untuk membawanya ke ruang operasi steril guna melakukan kuret. Namun, di tengah perjalanan, Nyonya Handoko tiba-tiba berseru marah, "Dia berani mendorong Silvia ke air, nggak boleh dibiarkan begitu saja!" Kali ini, Riana sudah tidak punya tenaga untuk melawan. Dia hanya bisa pasrah ketika tubuhnya didorong ke kolam renang. Air kolam yang dingin memenuhi hidung dan mulutnya. Riana merasa seolah ada sesuatu yang mengalir keluar dari tubuhnya, hingga seluruh permukaan air itu pun berubah menjadi merah. Di tepi kolam, terdengar teriakan dan jeritan panik. Di tengah rasa sakit yang tidak berkesudahan itu, Riana justru merasakan kelegaan. Sebelum matanya tertutup, dia mendengar suara keras baling-baling helikopter yang berputar di udara. Apa pun yang terjadi setelah ini, kali ini Riana akhirnya bisa meninggalkan Keluarga Ganendra dan Bimo. Selamat tinggal, untuk semuanya yang ada di sini.