Tipu Daya Pacar Ibuku

Đang tải thông tin quảng bá...

Tipu Daya Pacar Ibuku

GoodNovel Hoàn thành

Setelah suamiku meninggal, aku kembali tinggal bersama ibu. Tanpa sengaja, aku malah mendapati bahwa dia punya seorang pacar baru. Pacar ibuku mengalami cedera mata karena percikan las listrik. Dia m...

Chương (1)

第1章

Setelah suamiku meninggal, aku kembali tinggal bersama ibu. Tanpa sengaja, aku malah mendapati bahwa dia punya seorang pacar baru. Pacar ibuku mengalami cedera mata karena percikan las listrik. Dia memintaku untuk meneteskan susu ke matanya. Melihat tetesan susu, badanku mulai gemetaran karena merasakan suhu tubuh pria itu. Akhirnya, aku baru sadar bahwa setiap kali berada di hadapannya, payudaraku tak terkontrol dan selalu meneteskan susu. Bab 1 Namaku Karina, seorang wanita muda yang baru menikah, tapi suamiku meninggal karena kecelakaan mobil tak lama setelah pernikahan. Semasa hidupnya, dia sangat suka memainkan payudaraku. Dia sendiri yang membuat bagian itu menjadi titik paling sensitif di tubuhku, sedikit sentuhannya saja bisa membuatku gemetar, hampir mencapai puncak. Namun, dia impoten, sehingga keintiman kami sehari-hari hanya berakhir sampai di sana. Setelah kepergiannya, akhirnya kekosongan ini menjadi penyakit yang memalukan. Setiap kali dadaku mendapat rangsangan, air susu akan keluar dan membasahi pakaianku. Karena itu, aku tidak berani lagi mencari pacar. Aku takut saat mereka membuka pakaianku dan melihat susu yang keluar karena rangsangan, mereka pasti akan mengira aku hamil dan menyebutku wanita murahan. Aku pun tidak pernah lagi berhubungan dengan pria mana pun. Hingga tahun ini, ibuku membawa pulang pacar barunya, Om James. Saat pertama kali bertemu, aku baru selesai bermasturbasi di kamar. Sensasi itu membuatku tak bisa mengendalikan diri dan belum sempat mengeringkan jari, ibu sudah memanggilku keluar untuk menemui orang. “Salam kenal, Karina. Aku….” Dalam keadaan tidak siap, aku sudah melihat pacar ibuku. Gairah barusan masih tersisa dan saat tatapan pria itu menyapu tubuhku, wajahku pun memerah tanpa bisa dikendalikan. Tubuhku pun ikut gemetaran pelan. Saat melihat noda basah berwarna putih susu di gaun tidurku, senyuman di wajahnya langsung membeku. Ibu yang berdiri di belakangnya tampak canggung. “Dasar kamu, minum susu saja bisa tumpah ke badan. Cepat ganti baju, malu-maluin saja di depan Om James.” Mendengar itu, aku pun seperti tersadar dari mimpi. Wajah mungilku langsung memerah dan aku bergegas kembali ke kamar. Gawat! Gara-gara Om James datang begitu tiba-tiba, aku bahkan lupa dengan hal ini. Seharusnya dia tak menyadari ada yang aneh, ‘kan? Aku berdiri di depan kaca dan memeriksanya. Kelembapan membuat gaun tidur yang tipis semakin tembus pandang, bahkan samar-samar terlihat areola merah muda yang masih mengeluarkan sedikit cairan. Tadi Om James menatapku lama sekali, jangan-jangan? Aduh, memalukan sekali! Saat aku keluar lagi dengan pakaian baru, Om James sudah kembali bersikap normal. Dengan tinggi sekitar 180-an cm dan otot-otot yang kekar, duduk di sana saja seperti menara hitam, sangat maskulin. “Karina, kamu cantik sekali. Pasti banyak laki-laki yang mengejarmu di sekolah, ‘kan?” Om James tersenyum ramah padaku, tapi tatapannya yang mengamatiku membuatku menarik ujung rok dengan malu. “Om, aku sudah menikah.” “Oh? Kok masih tinggal di rumah?” “Suamiku baru meninggal nggak lama….” Entah apakah hanya perasaanku. Setelah menjawab seperti itu, tatapan Om James terlihat semakin aneh, seolah menyimpan kobaran api di dalamnya. Bab 2 Setelah dia pergi, ibu mulai membicarakan Om James denganku. Aku tak menyangka, ternyata Om James bekerja di proyek bangunan dekat rumah. Pantas saja badannya begitu kekar. Wajah ibu terlihat merona karena mabuk kepayang. “Karina, memilih pria itu harus yang kuat, seperti Om James, baru bisa bahagia.” Aku teringat mendiang suamiku. Karena dia impoten, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan yang ibu maksud. Melihat kondisi ibu, jelas dia sangat bahagia dalam hal itu. Wajahku pun memerah karena malu. Ibu mengira aku sakit dan mendekat untuk menyentuh dahiku. Merasa gugup, aku melarikan diri kembali ke kamar. Dalam hati, aku memarahi diriku sendiri, ‘Nggak tahu malu sekali kamu!’ Om James itu pacarnya ibu. Bisa-bisanya diriku punya fantasi seperti itu? Namun, hal tak terduga tetap terjadi. Keesokan harinya, Om James datang terburu-buru sambil memegangi matanya yang merah. “Mataku kena percikan las listrik. Lusy, ada cara untuk mendapatkan ASI?” “Biar diredakan dulu. Kalau nggak, mataku sudah buta sampai di rumah sakit!” Ibuku panik. Memang tidak ada wanita yang sedang menyusui di sekitar sini, jadi dari mana dia mencari ASI? Om James menunjuk ke arahku. “Karina, boleh nggak bantu om? Hanya beberapa tetes saja.” Sial! Ternyata Om James menyadarinya waktu itu. Aku menggigit bibirku dengan gugup, jantungku terasa mau meloncat keluar. Ibu bingung, “Karina nggak hamil, dari mana ASI-nya?” Om James menjilat bibir keringnya, seakan ingin menjelaskan. Melihat itu, aku buru-buru berdiri dan memotong. Karena sudah ketahuan, lebih baik diriku sendiri yang mengaku. Ibu terkejut bukan main setelah mendengarnya. Di depan Om James, ibu langsung mencubit payudaraku. Seketika, air susu putih merembes keluar melalui tanktop kecilku. Melihat tatapan Om James yang berapi-api di samping, aku merasa sangat malu, hingga ingin mencari lubang untuk bersembunyi. “Karina, kok kamu nggak pernah bilang dengan ibu soal masalah sebesar ini?” “Sudah pernah ke rumah sakit? Apa kata dokter?” Aku menarik lengan baju ibu dan berkata dengan canggung, “Ibu, jangan bahas dulu. Om James masih di sini.” Ibu pun tersadar, tapi matanya berbinar, menunjukkan kegembiraan. “Oh iya, mata Om James lagi kesakitan, kebetulan kamu bisa bantu meredakannya. Peras sedikit lagi dan teteskan ke mata Om James.” Mendengar itu, aku menggeleng sekuat tenaga. Mana boleh? Ini sangat memalukan. “Bu, aku sudah menikah!” Namun, suara rintihan kesakitan Om James semakin keras. Ibu mendengarnya, semakin cemas dan kasihan. “Karina sayang, tolonglah. Kalau waktu pengobatan tertunda, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada matanya?” “Lagipula, cepat atau lambat kita akan menjadi satu keluarga. Apa yang perlu dicanggungkan antara anak dan ayah?” Melihatku masih ragu, Om James menggertakkan giginya. “Begini saja, aku akan belikan laptop yang kamu inginkan, mau?” Aku mulai tergerak. Baiklah, ini juga demi menyelamatkan orang. Lagipula ibu ada di sini, pasti tidak akan ada masalah. Om James benar-benar terlihat menderita. Dengan berat hati, aku mengangguk setuju. Ibu berdiri di samping. Dengan tangan kecil yang gemetar, aku menarik tali tanktopku, wajah Om James yang tegas berada tepat di bawahku. Napas panas yang dia hembuskan menyelimutiku secara merata. Tidak perlu rangsangan manual, air susu pun langsung menyembur keluar. Om James membuka mata untuk menampungnya, tapi karena terlalu banyak, air susu itu mengalir melalui pipinya hingga masuk ke dalam mulutnya. Aku merasa sangat malu dan tubuhku merasakan debaran yang aneh. Secara reflek, aku mendongak melihat ibu. Ibu dengan canggung mengambilkan tisu untuk Om James, tapi dia tidak merasa ada yang salah. Baginya, aku dan Om James seperti anak dan ayah, sama sekali tidak terpikir hubungan pria dan wanita. Namun, reaksi tubuh yang alami ini sulit dihindari. Terlebih lagi bagi tubuhku yang sangat sensitif. Bab 3 Malam itu juga, aku merasa sangat gelisah. Berbaring di ranjang, pikiranku hanya ada tatapan Om James yang agresif. Perut bagian bawah terasa gatal dan aku sangat ingin mengusapnya. Namun, Om James menginap dan tidur di kamar tamu tepat di sebelahku. Karena kamarnya tidak kedap suara, aku sama sekali tidak berani bermain-main. Anehnya, suara-suara aneh malah datang dari kamar sebelah. “Uh… pelan-pelan, jangan sampai Karina dengar.” Suara itu… sepertinya suara ibu? Apa yang mereka lakukan diam-diam? Karena tak bisa tidur juga, aku memutuskan untuk menempelkan telinga ke dinding dan mendengarkan dengan seksama. Rintihan tertahan ibu dan napas berat Om James menyatu menjadi satu dan ranjang berderit-derit. “Mereka… sedang melakukan hal yang ada di video-video!” Setelah menyadari hal itu, seluruh tubuhku semakin panas. Aku bahkan tak bisa menahan diri untuk diam-diam menyentuh diriku sendiri. Setiap kali ibu merintih, aku juga ikut bersuara agar tidak ketahuan. “James, aku belum tanya padamu. Kok… kok kamu bisa tahu Karina punya air susu?” Gerakan Om James menjadi lebih keras. “Tentu saja… aku menebaknya. Payudara Karina begitu besar, jelas menurun darimu. Pasti lebih nikmat kalau digenggam!” Ibu merengek manja, “Dasar nakal~ Cukup tiduri aku saja, jangan berani-berani menyentuh putriku.” Percakapan yang vulgar itu membuat wajahku memerah. Aku tidak menyangka, ibu yang biasanya anggun dan lembut bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Dan Om James bahkan bilang aku lebih…. Aku pun secara reflek memegang payudaraku. Karena berisi air susu, ukuran payudaraku lebih besar dari ibu yang berukuran D+. Seketika, aku pun agak bingung. Tidak tahu apakah Om James hanya bercanda atau serius. Dan tiba-tiba aku menyadari, kamar sebelah yang tadinya ribut menjadi hening. Sudah selesai? Padahal aku masih merasa tidak nyaman dan belum mencapai klimaks. Sambil menghela napas pelan, tangan kecilku bergerak semakin bersemangat. Aku bahkan melepas atasan dan menekan payudara ke dinding. Dua bola air susu yang putih dan lembut itu diusap-usap dan aku mengeluarkan suara erangan lega. Ini adalah cara yang kutemukan secara tak sengaja, rasanya sangat nyaman. “Karina, Om datang membantumu, kekuatan tangan Om lebih besar.” Tiba-tiba terdengar suara pria yang berat dari atas kepalaku. Aku sangat terkejut, langsung berbalik menghadap ke belakang. Ternyata, entah sejak kapan Om James sudah berdiri di belakangku. “Aaa….” Belum sempat aku berteriak, Om James langsung menutup mulutku. “Ssstt, jangan bersuara. Ibumu sudah tidur, jangan membangunkannya.” Aku pun mengangguk mengiyakan. Om James perlahan melepaskan tangannya, tapi dia langsung menahan tanganku yang ingin memakai baju. Matanya menatapku dengan penuh hasrat. Seolah sedang mengagumi harta karun yang tak ternilai. “Payudara besar Karina tumbuh dengan sangat indah. Siang tadi Om nggak sempat melihat jelas, sekarang sudah bisa melihatnya dengan seksama.” Jantungku berdebar kencang karena kebingungan. Bukankah Om James itu pacarnya ibu? Mengapa dia mengatakan hal seperti itu padaku? “Om James, kamu… kamu mau apain?” Om James tertawa pelan, “Om sudah lihat tadi, Karina sedang bermain sendiri. Badanmu pasti gatal sekali, ‘kan? Om bisa membantumu.” Entah mengapa, kata-kata Om James seperti mengandung sihir yang memikat. Aku tak bisa mengendalikan diri dan balik bertanya, “Bagaimana… bagaimana caranya?” “Tutup matamu dan kamu bakal tahu.” Usai bicara, entah dari mana Om James mengambil penutup mata renda dan langsung memasangnya padaku. Sekeliling yang gelap membuat semua indra tubuhku terasa jauh lebih peka. Aku menahan napas. Aku mendengar bunyi gesper logam, sepertinya Om James membuka ikat pinggangnya. Kemudian, kedua kakiku dibuka paksa dengan kuat.