Terjerembap dalam Pelarian

Đang tải thông tin quảng bá...

Terjerembap dalam Pelarian

GoodNovel Hoàn thành

Bercerai dan menikah lagi, aku sudah lupa berapa kali aku dan Rangga rujuk dalam pernikahan. Dia pernah memperlakukanku seperti sesuatu yang berharga, tetapi kurang dari setahun setelah pernikahan kam...

Chương (1)

第1章

Bercerai dan menikah lagi, aku sudah lupa berapa kali aku dan Rangga rujuk dalam pernikahan. Dia pernah memperlakukanku seperti sesuatu yang berharga, tetapi kurang dari setahun setelah pernikahan kami, dia mengajukan perceraian pertama kami. Alasannya sederhana, Sarah akan kembali. “Sarah itu seorang tokoh publik,” katanya padaku. “Aku tak ingin ada yang mengira dia terlibat dengan pria beristri.” Selebritas tingkat rendah itu tidak punya apa pun kecuali pengorbanan ayahnya. Ayahnya dulu rela mati demi Rangga, halangi peluru demi dia, nyawa ganti nyawa. Dan karena itu, Rangga merasa berutang segalanya padanya. Setiap kali Sarah kembali ke negara ini, Rangga menceraikanku. Dan setiap kali Sarah pergi, kami menikah lagi. Pertama kali kami berpisah, aku menenggelamkan air mataku dalam wiski dan terhuyung-huyung kembali ke rumahnya dalam keadaan setengah mabuk. Lampu di dalam terasa hangat, Rangga bersamanya. Sementara aku berdiri di luar, menggigil sepanjang malam. Kali kedua, aku mengikuti setiap gerak-geriknya—restoran, lelang, acara amal—hanya untuk ‘tak sengaja’ ketemu dengannya lagi. Kemudian, aku belajar lebih baik. Saat dia menyebut kata cerai, aku akan diam-diam mengepak koperku dan menghilang dari rumahnya. Cinta dan penghinaan telah membuatku terjebak dalam siklus putus-nyambung dengannya yang tiada habisnya. Namun kali ini, ketika Rangga menungguku di Kantor Catatan Sipil untuk menikah lagi, aku tak pernah muncul... Bab 1 Sudut Pandang Aurel. Malam itu, Rangga berbeda. Lebih liar. Lebih keras. Penguasa absolut kerajaan mafia Marina terus membuatku mencapai klimaks, seolah ingin menguras habis seluruh tenaga yang tersisa dalam diriku. Udara terasa pekat dengan campuran hasrat, keringat, dan asap Cohiba yang pekat. Api gairah itu belum benar-benar padam dari kulitku. Dia membungkuk, napasnya panas dan serak di telingaku. “Aurel,” gumamnya, suaranya rendah dan parau. “Sarah akan kembali beberapa hari lagi.” Untuk sekejap, paru-paruku seakan membeku. Namun keheningan itu hanya berlangsung beberapa detik. Aku memaksakan diriku untuk kembali tenang. Pria yang memegang kendali dunia bawah, kekuasaannya mutlak. Secercah keringat samar menempel di dadanya yang berotot, memantulkan cahaya, memancarkan daya tarik yang murni dan primal. Menggoda, tetapi berbahaya. Namun, tak lama kemudian, semua itu tak berarti apa-apa bagiku. Sarah adalah putri dari sopirnya Rangga, pria yang rela tertembak demi Rangga dan meninggal dunia. Sejak saat itu, Rangga sangat memperhatikannya, karena rasa bersalah, karena rasa berutang budi yang tak akan pernah bisa dibayarnya. Sarah hanyalah seorang aktris rendah, nyaris tak dikenal selain dari beberapa majalah glamor, tetapi Rangga bersikeras reputasi Sarah tak tersentuh. Katanya, Sarah tak sanggup menanggung satu skandal pun, bahkan secuil pun. Jadi setiap kali Sarah kembali ke kota, Rangga akan menceraikanku, sehingga dunia akan melihatnya sebagai pria lajang, dan Sarah sebagai wanita yang tak bersalah. Dan ketika Sarah pergi, Rangga akan mencari jalan untuk kembali padaku lagi, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Pertama kali dia minta cerai, aku hancur sepenuhnya. Aku berteriak, menangis, memohon-mohon padanya untuk mencabut kembali gugatan cerai tersebut. Tetapi dia tidak melakukannya. Belakangan, aku belajar menerimanya, atau setidaknya berpura-pura menerimanya. Aku akan melacak keberadaannya, muncul di restoran, hotel, bahkan tempat lelang favoritnya, berpura-pura itu semua hanya kebetulan, hanya untuk cari kesempatan mengucapkan beberapa patah kata padanya. Dia menertawakanku karena itu. Dia berkata dengan begitu tenang hingga hampir terdengar seperti fakta, “Aurel, kamu menyedihkan. Kamu tidak bisa hidup tanpaku.” Aku ingin membencinya karena itu, tetapi dia benar. Anak buahnya juga mengejekku. Bagi mereka, aku tak lebih dari wanita yang selalu ditinggalkan dan dipungut kembali oleh Rangga, seorang wanita matre murahan yang putus asa dan tak pernah belajar dari kesalahannya. Namun kali ini, aku mendorongnya menjauh selagi dia masih di dalamku. “Baiklah,” kataku. “Kita lanjutkan perceraiannya besok.” Kakiku masih gemetar, tetapi suaraku dingin dan tegas. Berkas-berkas perceraian itu sudah aku tanda tangani, lalu aku menyerahkannya padanya. Rangga mengerjap, terkejut dengan ketegasanku. Lalu, senyum tipis tersungging di sudut mulutnya. Puas, menyetujui. “Akhirnya, kamu belajar menjadi baik, Aurel.” Dia menandatangani namanya dan menyerahkan kembali kertas itu padaku. “Setelah dia pergi, kita akan menikah lagi. Sebulan lagi, tunggu aku.” Dia menangkup daguku, mencondongkan tubuh untuk menciumku. Namun aku memalingkan wajahku. Biasanya, dalam perannya sebagai bos Keluarga Marina, aku akan memintanya menandatangani perjanjian yang terukir dengan tinta: [Saya, Rangga Laksamana, akan menikah lagi dengan Aurel pada [tanggal].] Namun kali ini, aku tidak mengatakan apa pun. Bagaimana pun juga, di mata Rangga, reputasi Sarah lebih penting dari apa pun. Setiap permohonan dan penolakan yang kuajukan, hanya bisa dianggap kejam, bahkan tanpa ampun, terhadap putri dari penolongnya. Tetapi Sarah tidak pernah menyembunyikan permusuhannya terhadapku. Sifat posesifnya terhadap Rangga selalu terpampang nyata, tepat di hadapanku. Jika pernikahan hanya sekadar permainan yang bisa dia mainkan atau tinggalkan sesuka hatinya, maka aku tidak akan memainkannya lagi. Aku melangkah ke ruang ganti dan mengemasi barang-barangku. Kurang dari 15 menit, aku keluar sambil menyeret koper. Rangga tampak sedikit terkejut. “Aurel... mungkin aku bisa menyuruhnya menginap di hotel, jadi kamu tidak perlu pergi?” “Lupakan saja,” kataku. “Dia lebih penting dariku.” Aku tidak ingin dia menanggung beban mengecewakan penolongnya. Aku berbalik hendak pergi, tetapi Rangga menahan pergelangan tanganku. “Karena kamu sudah belajar untuk menjadi baik, jadilah baik sepenuhnya. Tidak ada lagi pertemuan yang dibuat-buat. Dan jangan ungkit-ungkit urusan kita di media.” Aku ngaku, aku memang pernah mengamuk, melakukan hal-hal bodoh. Tetapi pengintaian dan liputan media itu tidak ada hubungannya denganku. Aku sudah lupa berapa kali paparazzi mengikuti mereka ke bilik-bilik klub malam, kamar hotel, mengambil foto-foto mesra. Sarah selalu bersandar di bahu Rangga, atau mabuk dalam pelukannya. Tangannya di dada Rangga, berpose begitu menggoda. Setiap kali terjadi, kisah itu selalu menjadi populer. Sarah menangis untuk membersihkan namanya, sementara semua kesalahan jatuh padaku—si cewek matre terlantar. Para penggemarnya melontarkan hinaan paling keji, merundungku tanpa henti. ‘Kepolosannya’ dibangun dengan menginjak-injak reputasiku. Aku coba melampiaskan kekesalanku pada Rangga, tetapi dia mengabaikanku. “Siapa peduli apa kata mereka? Kamu sudah mendapatkanku, itu sudah cukup.” Aku? Mendapatkannya? Malam-malam itu, aku menghadapi badai penghinaan sendirian, sementara dia bahkan tak mau repot-repot menjelaskan sepatah kata pun. Kenangan masa lalu menyengat, membuatku muak. Aku menepis tangannya dan berbalik ke arah pintu. “Aurel...” panggil Rangga dari belakang. Aku berhenti, tetapi tak menoleh ke belakang. “Tanggal 20 bulan depan. Jangan lupa, itu tanggal kita menikah lagi.” Aku melambaikan tangan ke belakang dan mendorong pintu hingga terbuka. Gerbang berat itu terbanting menutup di belakangku. Tanggal 20? Ponselku menyala, menampilkan jadwal penerbanganku. Dan benar saja... keberangkatanku dijadwalkan tanggal 20. Bab 2 Sudut Pandang Aurel. Setelah Sarah kembali, Rangga tak menelepon sekali pun. Dan aku? Aku enggan melemparkan diriku padanya lagi, untuk memohon perhatian, untuk kehilangan harga diriku demi bisa dekat dengannya. Sebaliknya, aku menyelimuti diriku dalam kenyamanan kebebasanku. Mawar dan aku makan, minum, dan tertawa sepanjang hari, membiarkan dunia mengabur di sekitar kami. Sore itu, saat kami asyik menikmati anggur merah, mencicipi truffle hitam, dan kaviar, ponsel Mawar berdering, sebuah notifikasi berita muncul. “Apa-apaan ini?!” gumamnya, menyodorkan ponselnya ke arahku. Tangan Sarah muncul, berhiaskan berlian merah muda yang begitu besar hingga tampak tak masuk akal. Dan tentu saja, foto-fotonya ada di mana-mana. “Cincin 80 miliar?! Rangga benar-benar membelikan wanita itu barang semahal itu di pelelangan? Seharusnya itu milikmu!” geram Mawar. Aku tersenyum tipis. “Kalau dia mau... biarkan saja.” Mawar geram, “Dan media... mereka sudah bertanya apa wanita itu akan menikah dengan Rangga. Tapi dia... dengan malu-malu, tidak membenarkan atau menyangkal. Dia sungguh tidak tahu malu!” Mawar begitu marah hingga hampir melempar ponselnya. Aku menyendok es krim dan menyuapkannya padanya. “Jangan marah, itu tidak sepadan. Aku baik-baik saja.” Kami bangkit untuk pergi, membiarkan hiruk pikuk restoran memudar di belakang kami, tetapi justru mendapati diri kami berhadapan langsung dengan Rangga dan Sarah. Tangan Sarah melingkari lengan Rangga, tubuhnya mendekap erat. Matanya terbelalak saat melihatku. Dia menutup mulutnya, kepanikan samar tampak dalam tatapannya. “Rangga...” Suaranya bergetar dan samar-samar aku mendengar nada menuduh. “Dia di sini lagi... buat keributan.” Tatapan Rangga yang hangat beberapa saat lalu, menajam. Dia melangkah maju, sedikit menempatkan dirinya di depan Sarah. “Aurel, bukannya kita sudah sepakat, tidak akan ada lagi pertemuan tak disengaja seperti ini?” Aku mengusap perutku yang kenyang dan tersenyum. “Mawar dan aku baru saja selesai makan malam. Bagaimana mungkin ini pertemuan yang tak disengaja?” “Rangga, aku sudah selesai makan sebelum kamu datang. Jangan terlalu sombong,” imbuhku. Dia ragu-ragu, semburat kegelisahan melintas di wajahnya sebelum menatap Sarah. “Ayo masuk. Lupakan dia.” Sarah mengerucutkan bibirnya karena tidak senang dan mengulurkan tangannya untuk menghentikanku. “Jangan pergi!” Dia sengaja mengangkat tangan untuk mengibaskan rambutnya, membiarkan berlian merah muda raksasa itu terkena cahaya. Astaga, batu itu sungguh menjijikkan, kilaunya hampir menusuk mataku. Dia sedikit mencondongkan tubuh ke arah Rangga, suaranya rendah, seolah-olah sedang merencanakan sesuatu. “Semua paparazzi sudah berkumpul di depan. Kalau mereka lihat aku dan Aurel masuk bergantian, mereka pasti bilang aku merebut kekasihnya.” Lalu dia menoleh ke arahku sambil memaksakan senyum menyesal. “Aurel... mungkin kamu harus keluar lewat pintu belakang?” Aku terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, tak percaya. “Sarah... kamu benar-benar berharap aku percaya kalau paparazzi itu kebetulan ada di sini?” Wajahnya berubah, sedikit kegelisahan mengkhianati tindakannya yang dibangun dengan hati-hati, lalu dia kembali ke kepribadiannya yang rapuh dan gemetar. “Aurel... kok bisa ngomong gitu? Aku mungkin kurang terkenal, tapi aku tetap bintang film. Wajar kalau paparazzi mengikutiku.” Menyedihkan. Semua kekayaan yang dilimpahkan Rangga kepadanya tidak dapat mengubah kenyataan bahwa dia masih seorang aktris tingkat rendah. Aku menatap berlian merah muda itu, harganya 80 miliar di pelelangan, aku tak kuasa menahan rasa ironi. Orang yang dicintai selalu bertindak tanpa rasa takut. Dia tahu apa pun yang dia katakan, Rangga akan mempercayainya. Utang budi yang dirasakan Rangga atas pengorbanan ayah Sarah akan selalu membuatnya mengutamakan wanita itu. Dan aku... hanyalah orang luar yang mudah dikorbankan. Aku mendengus pelan dan menarik Mawar ke pintu belakang. “Semua drama ini, aku hanya ingin makan sederhana dengan tenang.” Tangisan Sarah yang teredam mengikuti di belakang kami. Beberapa detik kemudian, anak buah Rangga masuk, menghalangi jalan kami. “Aurel.” Rangga melangkah di depanku, tatapannya tajam nyaris menusuk. “Minta maaflah pada Sarah.” Aku mengangkat daguku sedikit, menatap matanya. Sarah memeluknya erat, isak tangisnya membuat dadanya naik-turun. “Aku bahkan tidak tahu untuk apa aku harus meminta maaf.” “Aku sampai di sini duluan, dan kamu masih bersikeras bilang aku sengaja mengejarmu.” “Kamu menyuruhku lewat pintu belakang, aku sudah melakukannya.” “Kenapa aku harus meminta maaf?” Ekspresi Rangga menegang, suaranya rendah dan memerintah. “Aurel, berhentilah buat keributan. Ketika aku menyuruhmu melakukan sesuatu... lakukanlah.” Aku menghela napas, napas yang lembut dan pasrah, melayangkan tatapanku padanya tanpa merusak ketenanganku. “Baiklah. Sarah... aku minta maaf untuk semuanya.” Sebelum mereka berdua sempat bereaksi, aku meraih tangan Mawar dan menyelinap melalui pintu belakang, meninggalkan mereka. Mawar sangat marah. “Kenapa kamu biarkan dia puas? Lihat wajah kecilnya yang sombong itu! Seharusnya kamu menamparnya.” Aku memiringkan kepalaku ke arah awan yang melayang di atas, senyum tipis dan santai tersungging di bibirku. “Karena... aku tidak peduli lagi.” Tak lama kemudian, ponselku berdering karena pemberitahuan pesan suara Rangga, "Aurel, berhenti merajuk." "Cincin berlian itu harusnya untukmu, tapi kalau Sarah suka... biarkan cincin itu untuknya." "Lain kali, aku akan membelikanmu yang lebih bagus." Aku mendengus pelan dan melirik jam tanganku. Lima belas hari. Lima belas hari lagi, aku akan bebas. Bab 3 Sudut Pandang Aurel. Akhir-akhir ini, aku makan, minum, dan bermain tanpa beban. Aku tak lagi mengkhawatirkan rutinitas harian Rangga atau harus berhati-hati di sekitar urusannya. Hidup terasa ringan, hampir begitu bebas dan tanpa beban. Teman-teman sesekali mengirimiku kabar terbaru tentang Sarah, tetapi aku hanya tersenyum dan membiarkannya berlalu begitu saja. Dulu, aku akan melacak setiap unggahan media sosialnya, menelusuri setiap foto, mencari jejak sekecil apa pun tentang dirinya dan Rangga. Aku kemudian akan merancang ‘pertemuan tak sengaja’, berharap dia menyadari betapa pedulinya aku. Tetapi sekarang, semua itu tampak sama sekali tidak berarti. Pesan-pesan dari teman-temanku hanya sekilas kulihat dan segera kulupakan. Aku hampir menghapus keberadaan mereka dari pikiranku. Jauh di lubuk hatiku, aku benar-benar tak peduli lagi. Beberapa hari lagi, aku akan meninggalkan kota ini sepenuhnya. Memikirkannya saja membuat dadaku terasa ringan, tak terbebani. Jadi ketika Rangga menelepon, sesuatu yang jarang terjadi akhir-akhir ini, aku menjawab dengan suara riang. “Aurel?” Ada nada terkejut dalam suaranya. “Kamu... kedengarannya sedang bahagia.” Aku memiringkan kepalaku. “Apa itu masalah?” “Dulu kamu selalu menangis setelah meninggalkanku... meneleponku dua atau tiga puluh kali sehari...” Aku tertawa ironis. “Ya, kamu tahu... begitulah aku yang dulu.” Ada jeda sejenak, lalu dia berkata, “Sudah lama sejak terakhir kali aku bertemu denganmu. Aku sudah memesan Restoran Celestia untuk tanggal 19.” “Aku tidak mau pergi,” potongku tajam dan tegas. Namun hari ini, dia tampak sangat sabar. “Aurel.” Suaranya melembut, hampir memohon, “Tanggal 19 adalah hari jadi kita. Makan malam denganku, ya.” “Hari jadi?” kataku dengan enteng. “Aku sudah menikah dan bercerai berkali-kali, sampai-sampai aku lupa hari apa itu.” Ada jeda di telepon. “Perceraian... itu salahku.” Nada suaranya menurun dan semakin dalam. “Kamu tahu... Sarah itu tokoh publik. Aku tidak bisa pertaruhkan reputasinya.” Jadi, aku selalu diharapkan menanggung semuanya? Menjadi orang yang sial. Menjadi sasaran kemarahan penggemarnya di dunia maya setiap kali dia mengadakan konferensi pers. Kenangan itu menusukku bagai jarum kecil, tajam dan terus-menerus. Suaraku berubah dingin. “Kamu nggak perlu jelasin semua ini. Aku nggak mau makan malam.” Aku tak ingin melihatnya. “Tunggu...” Nada suaranya berubah mendesak. “Apa kamu tidak ingat? Lima tahun yang lalu, di Restoran Celestia adalah pertama kalinya kita bertemu...” Jari-jariku sedikit gemetar. Lima tahun lalu, aku merayakan ulang tahun seorang teman di Celestia. Satu dorongan dari temanku membuatku terjerembab ke pelukan seorang pria di meja sebelah. Pada saat itu, tatapannya tajam bagai pisau, hawa panas yang berbahaya menyelimutiku. Namun dengan cepat, suatu kelembutan yang hampir tak terasa meredakan ketegangan. Saat itu, Rangga baru saja memegang kendali kerajaan mafianya, seluruh otot tubuhnya menegang. Setiap gerakannya penuh perhitungan, siap menghadapi ancaman apa pun yang mungkin datang. Dan di sanalah aku, pisau kue plastik bergetar di tanganku, menekan tanpa sengaja di dadanya. Bingung, pipiku memerah. Aku bergegas menyeka krim dari setelan jasnya, berulang kali meminta maaf. Dan di tengah kekacauanku yang tak sengaja, sebuah senyum tipis sekilas tersungging di sudut mulutnya, senyum yang hampir tak kusadari. Momen penuh kelembutan itu terukir jelas dalam ingatanku. Dan kemudian, aku membiarkan diriku jatuh cinta padanya. “Aurel... berjanjilah padaku, ya? Aku ingin bertemu denganmu.” Suara Rangga menarikku kembali ke masa kini, sebuah getaran hangat bergejolak di dadaku. Waktu berlalu begitu cepat. Lima tahun... Aku sudah mencintainya selama itu. Baiklah. Biarkan semuanya kembali ke titik awalnya. Di mana sesuatu bermula, di situ pula seharusnya berakhir. Aku berbisik, “Baiklah. Sampai jumpa nanti.” Sebelum aku sempat menutup telepon, sebuah suara lembut dan gemetar terdengar dari ujung telepon. “Rangga... Aku sedang tidak enak badan...” “Rangga... jangan...” Lalu, terdengar nada genit tersirat. Jijik, kulempar ponsel itu ke samping. Bagaimana mungkin dia... terjerat dengan wanita di satu waktu, lalu berkata ingin bertemu denganku di waktu berikutnya? Lalu, sebuah berita muncul di layarku. Sarah, mabuk di bar, digendong Rangga ke hotel. Aku tertawa, meski ada rasa sakit yang menusuk di dadaku. Kupikir aku takkan pernah merasakan sakit lagi untuknya... Lupakan saja. Biarkan Restoran Celestia menjadi akhir cerita kami. Bab 4 Sudut Pandang Aurel. Rangga terus meneleponku selama berhari-hari sejak ajakan makan malam itu. Setiap kali namanya muncul di layar, aku teringat bisikan Sarah yang lembut dan menggoda malam itu, kubiarkan telepon terus berdering sampai berhenti. Lalu muncul sebuah pesan. Rangga: [Aurel, kumohon. Keluarlah, aku hanya ingin bertemu denganmu.] Aku: [Maaf. Aku sudah selesai menjadi ‘cadangan’ bagi seseorang.] Dulu, betapa pun marahnya aku, saat dia mengulurkan tangannya, meski hanya sedikit, aku akan menghapus air mataku, memaksakan senyum, dan langsung berlari ke pelukannya. Namun keadaan berubah ketika Sarah kembali. Semakin sering Sarah muncul, semakin Rangga kehilangan kesabaran terhadapku, terhadap hubungan kami. Dia berhenti menjadi orang yang berusaha. Akulah yang selalu meminta maaf, selalu meminta untuk tetap bertahan. Kalau dipikir-pikir lagi, aku hampir tidak tahan lagi dengan diriku yang dulu. Yang aku inginkan kali ini hanyalah makan malam terakhir pada tanggal 19, malam sebelum aku pergi, sebagai yang terakhir kali. Sore itu, aku mencatok rambutku dengan gaya gelombang lembut yang sama seperti penampilanku lima tahun lalu. Helaian rambut cokelatku jatuh di bahuku seperti air terjun sutra. Mawar menelepon tepat saat aku sedang menyelesaikan riasanku. “Halo, coba tebak? Kudengar Sarah dan Rangga bertengkar tadi malam.” Suaranya penuh dengan kegembiraan. “Benarkah?” Aku mengernyitkan alis, membetulkan lipstikku. “Itu jarang terjadi. Kupikir Rangga membangun dunianya di sekitar Sarah.” Mawar sedikit meninggikan suaranya. “Sepertinya ini karenamu! Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, tapi Rangga pergi dengan marah dari makan malam dan meninggalkan Sarah di sana.” Aku menjaga nada suaraku tetap tenang. “Terima kasih sudah memberi tahuku, Mawar. Aku sangat menghargainya.” Dia ragu-ragu. “Kamu... tidak peduli?” Tawa pelan terdengar sebelum aku bisa menghentikannya. “Aku sudah mau pergi. Biarkan mereka nikmati kebahagiaan versi apa pun yang bisa mereka dapatkan. Aku cuma berharap semoga mereka bahagia.” Lalu aku mengenakan gaun biru yang sama seperti yang kukenakan lima tahun lalu, menata rambut dan riasanku seperti dulu, dan menuju Restoran Celestia. Di mana segalanya dimulai, di situlah semuanya akan berakhir. Meja yang sama, pemandangan yang sama. Rangga pasti sudah menyuruh pelayan restoran menyiapkan semuanya terlebih dahulu, Restoran Celestia tampak jauh lebih mewah daripada lima tahun lalu. Kristal yang indah, lilin yang berkelap-kelip, dan hiasan bunga lili putih di tengah ruangan memenuhi ruangan dengan aroma yang samar. Tidak ada tamu lain malam ini, hanya barisan pelayan yang berdiri diam di kejauhan. Rangga menyewa seluruh restoran. Beginilah tipikal Rangga. Aku menghela napas, menatap ke luar jendela tempat lampu-lampu kota mulai meredup di balik senja. Apa yang harus kukatakan saat dia tiba? Apakah dia akan menerimanya dengan tenang, atau marah, seperti yang selalu dia lakukan ketika segalanya lepas dari genggamannya? Ponselku bergetar. Nama Rangga muncul di layar. "Aurel, maafkan aku. Rapatnya lebih lama dari yang kuduga. Aku akan ke sana sekarang." "Sudah lama sekali tidak ketemu, aku merindukanmu." Aku dapat mendengar samar-samar irama langkah kakinya, kehangatan pelan dalam suaranya yang pernah membuat jantungku berdebar-debar. “Baiklah,” kataku lembut, berpura-pura tenang. “Untung saja aku sedang dalam suasana hati yang pemaaf malam ini.” Namun saat langit berubah dari kuning ke nila, kursi di seberangku tetap kosong. Setengah jam berlalu. Lalu satu jam. Rangga masih belum muncul. Aku menelepon... Tidak ada jawaban. Lalu nama Mawar muncul di layarku. “Aurel, cek berita yang lagi ngetren. Sarah udah gila.” Jantungku menegang saat membuka berita. Mobil Sarah berbelok melintasi jalur Rangga, membuatnya berhenti mendadak di tengah kemacetan. Kedua mobil bertabrakan dengan sempurna, tidak keras tetapi cukup menarik perhatian banyak orang. Kamera menangkap segalanya. [Rangga berlari ke arahnya, kepanikan terukir di wajahnya saat dia menarik Sarah ke dalam pelukannya.] Rekaman lain menunjukkan dia menghentikan taksi, mendekap Sarah seperti sesuatu yang rapuh, dan langsung menuju rumah sakit. Tabloid-tabloid sedang ramai membicarakannya. [Hanya kecelakaan kecil, tapi kepanikan Rangga menunjukkan semuanya, dia tampak takut kehilangan Sarah.] [Sarah tampaknya tidak terluka. Dalam pelukan Rangga, dia tampak... bahagia.] [Setelah pertengkaran sengit tadi malam, keduanya tampaknya telah berdamai dengan cara yang paling dramatis dan penuh gairah.] Rasa sakit yang tajam dan terus-menerus menggelayuti dadaku, samar tetapi mendesak, seperti bisikan pelan yang tak bisa kuabaikan. Satu demi satu hidangan lezat tersaji di atas meja, aroma lilin yang menyala memenuhi udara, seluruh restoran bermandikan cahaya lembut nan romantis. Seorang pelayan mendekat. “Apakah Anda ingin menunggu sedikit lebih lama, Bu?” Aku mengaktifkan mode diam di ponselku. “Aku akan mulai tanpa dia.” 'Makan malam mewah sendirian tidak terlalu buruk,' kataku dalam hati. Jika dia tidak datang, aku bisa menikmatinya sendiri. Tetapi... lobsternya kurang kaya rasa seperti biasanya. Foie gras-nya... rasa pahitnya masih terasa, sedikit, tetapi tetap saja ada. Aku hampir pertimbangkan untuk memanggil kokinya, tetapi aku merasa itu konyol. Setelah memakan beberapa gigitan lebih karena kebiasaan daripada karena lapar, aku mendorong kursiku ke belakang dan berdiri. Restoran ini tak akan pernah melihatku lagi. Aku menyeret koperku menyusuri jalanan malam yang sepi menuju bandara. Kafe tempatku duduk hampir kosong, tetapi ponselku terus-menerus bergetar karena telepon Rangga. Aku memblokirnya. Dan kemudian pesan-pesannya mulai muncul melalui aplikasi lain. [Aurel, maafkan aku. Sarah terluka, aku harus mengurusnya dulu.] [Kita masih punya banyak hari jadi, kan? Aku akan menebusnya.] [Besok kita akan menikah lagi. Jangan lupa.] Rasa ingin tahu, atau mungkin kebutuhan untuk mengakhiri segalanya, membuatku membuka media sosial Sarah. Sudah lama sejak aku mengintip dunianya. Dan di sanalah, terpampang sederet foto dirinya bersama Rangga di setiap kesempatan. Pembaruan terakhir yang diposting beberapa jam lalu... [Kamu janji akan selalu menjagaku.] [Dan aku selalu percaya...] Dalam foto itu, dia bersandar dalam pelukan Rangga, rapuh dan lembut. Sementara Rangga memeluknya dengan kelembutan dan kesan protektif yang dulu kukira hanya milikku. Aku tersenyum ironis, tak menyadari kapan air mata mulai mengalir di pipiku, meninggalkan rasa asin dan pahit. Fajar baru saja mulai mewarnai langit. Aku menyeka air mataku, merapikan rambutku, dan memastikan penampilanku tampak tenang. Pukul 7, aku sudah check in. Pesan Rangga muncul di layarku, menanyakan apa aku sedang dalam perjalanan. Aku tidak menjawab. Sebaliknya, aku diam-diam menghapus kontaknya. Pukul 8, aku sedang mengantre untuk naik pesawat. Nomor-nomor tak dikenal terus-menerus muncul di ponselku, tetapi aku tidak menjawab, karena tahu itu adalah Rangga yang mencoba menghubungiku. Pukul 9, pesawat mulai meluncur perlahan menuju landasan. Tepat saat aku hendak mematikan ponselku, panggilan telepon Mawar masuk. Begitu aku mengangkatnya, suara Rangga yang tegang dan mendesak, terdengar dari telepon, “Aurel, kamu di mana?!”