CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu

Đang tải thông tin quảng bá...

CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu

GoodNovel Hoàn thành

Sejak lahir, Renee adalah gadis tuli yang selalu dihina orang lain. Di usia 20 tahun, ibunya memanfaatkan selembar hasil tes kehamilan untuk memaksa Keluarga Suryana menikahkan putra sulung mereka den...

Chương (1)

第1章

Sejak lahir, Renee adalah gadis tuli yang selalu dihina orang lain. Di usia 20 tahun, ibunya memanfaatkan selembar hasil tes kehamilan untuk memaksa Keluarga Suryana menikahkan putra sulung mereka dengan Renee. Pernikahan itu akhirnya berlangsung selama tiga tahun. Arvin membencinya sampai ke lubuk hati terdalam, tetapi tidak bisa lari dari takdir untuk menikah dengannya. Setelah pernikahan, Arvin kerap bermain api dengan berbagai wanita dan selalu mengabaikannya. Demi mempertahankan citra istri yang baik dan demi anaknya, Renee menahan diri berkali-kali. Sampai suatu hari, cinta sejati Arvin datang mencarinya. Anak laki-laki yang telah dia lahirkan dengan taruhan nyawa, justru memanggil wanita itu dengan sebutan "Mama". Saat itulah dia baru sadar, hati Arvin bukan tidak bisa dihangatkan, tetapi sejak awal memang hanya menyala untuk wanita lain. Renee meninggalkan surat perjanjian cerai, lalu pergi tanpa menoleh lagi. Namun, Arvin justru datang mencarinya, menahan tubuhnya, dan bertanya dengan suara menekan, "Renee, kamu pikir pernikahan ini permainan anak-anak? Bisa nikah dan cerai sesuka hati?" "Mau cerai? Boleh saja, tapi setelah kamu melahirkan anak kedua." Bab 1 Di rumah sakit. Renee Witansa berdiri di depan layar televisi besar, menggenggam erat hasil pemeriksaan yang baru saja dia dapatkan. Hasilnya menunjukkan ... gangguan pendengarannya bukan hanya tidak membaik sedikit pun, malah menjadi lebih parah dari sebelumnya. Berbeda dengan dirinya yang terdiam membeku, di layar besar televisi itu, seorang wanita tengah duduk di atas panggung berlampu indah, memainkan piano dengan lembut. Setiap gerakannya memancarkan keanggunan, kecerdasan, dan pesona yang memukau .... Sementara itu, pria yang duduk di barisan penonton adalah suaminya, Arvin Suryana. Tiga tahun sudah mereka menikah. Namun, ini pertama kalinya Renee melihat tatapan penuh cinta seperti itu di mata Arvin, yang bukan ditujukan padanya. Hatinya seperti jatuh ke dasar jurang. Di telinganya, ibunya, Ferawati, terus-menerus memarahi, "Kenapa bisa makin parah? Kamu nggak minum obat tepat waktu ya? Atau nggak menjalani terapi dengan benar?" "Cinta sejati Arvin sudah terang-terangan muncul di depanmu, tapi kamu masih nggak punya rasa waspada? Kalau kamu terus begini, Keluarga Suryana cepat atau lambat bakal mengusirmu keluar rumah!" "Kalau kamu bercerai dengan Arvin, gimana nasib Keluarga Witansa? Gimana dengan ayahmu? Kenapa diam saja?" Ferawati mendorong bahu Renee. Renee hanya bisa berucap dengan kaku, "Maaf, Ibu .... Aku sudah mengecewakan Ibu." "Aku nggak butuh kata maaf, aku butuh kamu sembuh! Pertahankan posisimu sebagai Nyonya Suryana!" "Tapi aku sudah berusaha keras ...." Dia sudah minum obat setiap hari sesuai resep dokter. Dia juga sudah melakukan semua terapi dengan tekun. Namun, pendengarannya tetap tak membaik, malah semakin menurun. Sementara Arvin semakin kejam dan cinta sejatinya justru semakin bersinar. Apa lagi yang bisa dia lakukan? Acara di televisi berganti menayangkan wawancara di belakang panggung. Sekelompok wartawan tengah mengelilingi Nissa. "Bu Nissa, bolehkah kami tahu alasan Anda kembali ke tanah air kali ini?" Di bawah sorotan lampu kamera, Nissa tersenyum manis. "Untuk seseorang, juga untuk menebus penyesalan hidupku." Renee dan Ferawati sama-sama tahu siapa orang yang dimaksud. Ferawati marah besar, memaki Nissa habis-habisan sebagai perempuan murahan. Selesai memaki, dia mulai menekan anaknya. "Wanita nggak tahu malu! Aku harus minta dokter menambah dosis obatmu biar pendengaranmu cepat sembuh!" Renee ingin bilang semua itu percuma. Karena hati Arvin memang tak pernah untuknya. Bukan hanya karena dia memiliki gangguan pendengaran, tetapi karena sejak awal Arvin memang tidak pernah berniat menikahinya. Namun, dia tidak mengatakan apa pun. Renee masih ingat jelas kejadian tiga tahun lalu, ketika dia dan Arvin tertangkap basah oleh wartawan di kamar hotel. Di tengah suara kamera yang bertubi-tubi, Renee hanya bisa menatap dengan tatapan kosong, panik, dan malu. Dia tidak tahu harus bagaimana. Arvin bersandar dengan santai di kepala ranjang. Sebatang rokok terselip di jarinya. Dia baru berbicara setelah semua wartawan puas mengambil gambar. "Kalau kalian begitu tertarik dengan urusan ranjangku dengan tunanganku, perlu aku sekalian tunjukkan di sini? Mau lihat?" Nada suaranya malas, tetapi tekanannya cukup membuat semua orang terdiam. Para wartawan saling memandang, lalu satu per satu pergi. Setengah jam kemudian, berita tentang pewaris Keluarga Suryana yang berkencan dengan putri Keluarga Witansa yang memiliki penyakit pendengaran pun tersebar di seluruh situs berita besar. Saat netizen sibuk mentertawakan selera aneh pewaris Keluarga Suryana, Renee justru diseret oleh Arvin ke kamar mandi. Dia ditarik paksa hingga alat bantu dengarnya terlepas dan disiram air dingin dari pancuran. Tubuhnya gemetar karena kedinginan. Dia tak bisa mendengar apa yang Arvin katakan, tetapi dari ekspresi jijik pria itu, dia tahu kata-kata yang keluar pasti sangat kejam. Pada akhirnya, dia pun dipulangkan ke rumah orang tuanya seperti sampah. Hanya saja, meskipun Arvin begitu membencinya, dia tetap tidak bisa menghindari takdir untuk menikah dengannya. Keluarga Suryana adalah keluarga terpandang. Mereka menjaga reputasi dengan ketat, tidak akan membiarkan rumor seperti "mempermainkan gadis cacat" mencoreng martabat mereka. Sebulan kemudian, pernikahan Arvin dan Renee dilangsungkan di depan publik. Renee tahu semua ini adalah rencana ibunya. Dia merasa semuanya begitu konyol. Dia sempat menolak menikah, tetapi ketika keadaan sudah sampai di titik itu. Bahkan Arvin pun tidak punya pilihan, apalagi dirinya? Sebuah pernikahan terkutuk pun dimulai. Selama tiga tahun ini, Renee berusaha keras memainkan perannya sebagai istri. Penuh perhatian, lembut, selalu menempatkan diri, berharap ketulusan hatinya bisa menebus kesalahan Keluarga Witansa terhadap Arvin. Namun, yang dia dapat hanya satu kalimat dingin dari pria itu. "Aku nggak butuh pembantu." Meskipun begitu, Renee tetap tidak menyerah. Setelah keluar dari rumah sakit, dia melewati pasar dan membeli bahan segar seperti biasa, lalu menyiapkan makan malam favorit Arvin. Menjelang senja, empat hidangan dan satu sup tersaji di meja makan. Namun, Arvin tak kunjung pulang. Renee mengirim pesan menanyakan jam berapa dia akan kembali. Beberapa saat kemudian, dia hanya menerima balasan empat kata. [ Malam ini nggak pulang. ] Dia seharusnya sudah terbiasa, tetapi tetap saja ada rasa kecewa yang menyelinap di hatinya. Dia makan sendiri, mencuci piring sendiri, lalu mandi dan menelan dua butir obat dosis baru dari dokter. Sebelum tidur, Renee mengirim pesan kepada Rosa, pengasuh di rumah lama. [ Apa Renji hari ini berperilaku baik? ] Rosa adalah satu-satunya orang dari Keluarga Suryana yang masih mau berbicara padanya. Setiap kali Renee menanyakan tentang anaknya, Renji akan mengirim video pendek. Di video itu, Renji yang baru berusia dua tahun tampak begitu lucu, meskipun tubuhnya agak kurus. Melihat tubuh mungil anaknya yang lemah, air mata Renee pun mengalir. Renji adalah anak yang dia kandung selama sepuluh bulan, tetapi sejak lahir langsung dibawa oleh ibu mertuanya ke rumah lama, dengan alasan seorang perempuan tuli tidak pantas mendidik anak. Bukan hanya itu, dia bahkan dilarang bertemu anaknya. Setiap kali dia merindukan anaknya hingga hampir gila, dia hanya bisa memohon pada Arvin agar diizinkan mengunjungi rumah lama, sekadar melihat putranya dari jauh. Jadi, demi anaknya, dia tetap berusaha menyenangkan hati Arvin. Video itu pendek, tetapi Renee menontonnya berulang-ulang. Sampai akhirnya dia tertidur di sofa sambil memeluk ponsel. Dalam tidurnya, dia bermimpi berlari di taman bersama Renji. Anak kecil itu tertawa ceria seperti matahari kecil, berlari ke pelukannya sambil berseru manja, "Mama!" Sebuah adegan sederhana bagi para ibu, tetapi baginya mustahil menjadi nyata. Saat terbangun, pipinya sudah basah oleh air mata. Renee duduk termangu, sadar bahwa hari sudah pagi. Dari kamar mandi terdengar suara air. Mungkin Arvin sudah pulang. Arvin tidak suka sarapan di luar, juga tidak suka terlambat ke kantor. Renee pun melihat jam, lalu segera mandi dan bersiap. Kemudian, dia turun ke dapur untuk membuat sarapan. Arvin sangat pemilih soal makanan, tetapi Renee tahu betul seleranya. Bubur udang sederhana dan bergizi menguarkan aroma harum ke seluruh ruangan. Waktunya pun pas, tepat pukul 7 pagi. Arvin turun dari lantai dua, mengenakan setelan rapi. Posturnya tegak, wajahnya tampan. Cahaya pagi menyorot wajah tegasnya, membuatnya tampak berkilau seperti diselimuti emas, juga memancarkan aura seseorang yang berkuasa dan tak bisa dilawan Namun, tatapannya pada Renee sedingin es. Bab 2 Renee tidak menanyakan ke mana Arvin pergi semalam. Arvin pun tidak memberi tahu apa-apa. Seolah-olah berita utama tentang skandalnya dengan Nissa sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya yang merupakan menantu sah Keluarga Suryana. Arvin makan dengan elegan. Sementara Renee merasa makanan di mulutnya hambar. Setelah menelan beberapa suapan dengan susah payah, dia akhirnya berkata, "Pak Arvin, siang ini ada waktu? Kita pergi memilih kue ulang tahun untuk Renji, boleh?" Renee selalu memanggilnya "Pak Arvin". Itu kebiasaannya sejak awal menikah dan Arvin tidak pernah berusaha mengubahnya. Arvin tidak mengangkat kepala sedikit pun. "Siang ini aku makan dengan klien. Nggak sempat." "Kalau sore?" tanya Renee lagi. Sendok di tangan pria itu terhenti sejenak sebelum akhirnya dia menatap Renee. Mata indahnya tetap sedingin es. "Kue ulang tahun Renji akan aku suruh orang siapkan. Kamu nggak perlu repot-repot." "Tapi aku ingin pilih sendiri." Biasanya Renee sangat penurut, jarang sekali membantah. Namun, kali ini demi ulang tahun anaknya, dia mencoba untuk memperjuangkannya sedikit saja. Sayangnya, Arvin tidak memberinya kesempatan. Keningnya berkerut. "Renee, jangan cari masalah." "Pak Arvin, aku ini ibu Renji." Tiga tahun menikah, baru kali ini Renee bersikeras pada pendiriannya sendiri. Seperti yang bisa diduga, Arvin menjadi kesal, bahkan selera makannya pun langsung hilang. Arvin meletakkan sendoknya, mengambil tisu, menyeka sudut bibir, dan berkata dengan datar, "Kalau kamu nggak ada kerjaan, pergilah jalan-jalan atau nonton film. Lakukan apa saja." Melihat punggung pria itu melangkah pergi, hati Renee terasa seperti diremas. Karena Arvin tidak mau menemaninya, Renee akhirnya pergi sendiri untuk memilih kue ulang tahun Renji. Dia bukan hanya memilih kue dengan hati-hati, tetapi juga sudah lama menyiapkan hadiah ulang tahun untuk anaknya. Karena jarang bertemu Renji, Renee tidak tahu apa yang disukai anak itu. Untungnya, Rosa memberitahunya bahwa belakangan ini Renji sedang suka boneka kecil. Renee lalu menghabiskan waktu sebulan penuh untuk memilih kain yang paling lembut, menjahit sendiri boneka berbulu keriting untuk anaknya. Dia berharap boneka itu bisa menemani Renji tidur setiap malam, menggantikan dirinya. Sore harinya, Renee membawa kue dan hadiah ke rumah lama Keluarga Suryana. Dari ruang utama, terdengar suara piano yang indah dan lagu ulang tahun yang ceria. Ketika mendekat, Renee melihat ruang tamu sangat ramai. Nissa duduk di depan piano memainkan lagu ulang tahun, sementara Juwita duduk sambil memeluk Renji di depan kue. Renji pun menepuk tangan mungilnya mengikuti irama. Arvin duduk di sofa. Wajah dinginnya untuk pertama kali memancarkan senyuman lembut. Setelah lagu berakhir, Nissa berjongkok di samping Renji dan melambaikan tangan kepada Arvin. "Arvin, cepat sini, kita tiup lilin bersama!" Renji meniru gerakannya, tertawa ceria sambil melambaikan tangan. "Papa, tiup ... tiup ...." Arvin tersenyum tipis, lalu bergeser mendekat. Ketiganya meniup lilin di atas kue. Di bawah cahaya lampu yang hangat, mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Renee menggenggam erat kue dan boneka di tangannya. Dadanya terasa sesak. Jelas-jelas dia adalah ibu kandung Renji. Seharusnya dia yang berdiri di sana menemani anaknya meniup lilin, bukan Nissa. Tiba-tiba, seseorang berkata, "Renee datang." Semua orang di sofa menoleh. Juwita langsung memasang ekspresi dingin dan bertanya dengan galak, "Kamu ke sini buat apa?" Renee menahan perasaan terhinanya, melangkah masuk sambil menyahut dengan lembut, "Ibu, hari ini ulang tahun Renji. Aku ingin menemaninya." "Renji sudah ditemani gurunya, kamu nggak perlu datang." Guru? Renee menatap Arvin dengan bingung. Arvin menatap balik dengan wajah tenang dan sempurna. Di bawah cahaya, wajah itu tampak seperti dewa yang tak tersentuh. Namun, matanya tetap dingin tanpa emosi. Seandainya dia tidak melihat sendiri bagaimana pria itu tadi tersenyum lembut pada Nissa dan Renji, dia mungkin akan mengira Arvin memang tidak bisa tersenyum. Pria itu bangkit dan berjalan mendekat. Kalimatnya datar, entah itu adalah pengumuman atau penjelasan. "Nissa menguasai banyak bahasa asing dan juga belajar ilmu pendidikan anak. Kebetulan Renji sedang belajar bicara, jadi Ibu mempekerjakannya sebagai guru bahasa Renji." Renee tertegun. Kepalanya berdengung. Nissa yang kuliah di bidang musik, belajar ilmu pendidikan anak? Bahkan orang bodoh pun bisa menebak, itu demi bisa masuk ke Keluarga Suryana. Renee memang pernah takut Nissa akan merebut Arvin, tetapi tidak pernah terpikir kalau jalan masuknya akan melalui anaknya sendiri. Nissa berjalan ke sisi Arvin, lalu mengulurkan tangan dan tersenyum. "Tenang saja, aku pasti akan menjaga dan mengajar Renji dengan baik." Renee memandangi tangan yang terulur itu, lalu menatap wajah cantik yang tersenyum lembut di depannya. Wanita ini memang sangat cantik, lebih memesona daripada saat di televisi. Berdiri di sisi Arvin, keduanya tampak serasi, bagaikan pasangan yang diciptakan untuk bersama. Renee menggigit bibir dan memandang Arvin dengan tegas. "Boleh aku menolak? Aku juga bisa enam bahasa, aku juga belajar ilmu pendidikan anak. Aku bisa mengajari Renji." "Apa hakmu untuk menolak?" Juwita tiba-tiba berdiri dari sofa, menatapnya dengan dingin. "Renee, jangan lupa, meskipun kamu hebat, kamu tetap tuli. Aku nggak akan menyerahkan calon pewaris Keluarga Suryana padamu." Renee tahu sejak awal ibu mertuanya tidak menyukainya. Dia tidak ingin berdebat. Matanya menatap wajah tampan Arvin penuh harap. Namun, pria itu hanya berkata dengan nada datar, "Tanya saja Renji, apa dia mau sama kamu?" Renee menoleh ke arah anak kecil itu. Renji bersembunyi di belakang Nissa, hanya kepala mungilnya yang tampak. Dia menatap Renee dengan penasaran. Renee mengeluarkan boneka keriting dari tasnya, berjongkok sambil tersenyum lembut. "Renji, ini Mama. Lihat, ini hadiah ulang tahun yang Mama buat sendiri untukmu." Renji memegangi rok Nissa, menggeleng kuat-kuat. "Nggak mau Mama ... maunya Mama Nissa ...." Mama Nissa .... Ternyata Nissa bukan hanya guru bahasa, tetapi juga ibu angkat anaknya. Hati Renee yang sudah dingin seketika membeku. Nissa berjongkok sambil memeluk Renji. Suaranya lembut. "Renji, mamamu juga sangat sayang kamu. Nggak boleh bilang nggak mau mama ya? Lihat, ini boneka dari mamamu. Cantik sekali, 'kan?" Nissa mengambil boneka dari tangan Renee dan menyerahkannya kepada Renji. Anak kecil itu menatap boneka sebentar, lalu melemparkannya ke lantai. "Nggak mau ... jelek ...." Kemudian, dia berlari kembali ke sofa, memeluk boneka baru, dan berseru manja, "Mama Nissa ... suka!" Kata-katanya masih belum terlalu jelas, tetapi Renee mengerti. Renji lebih menyukai boneka dari Nissa. Melihat itu, Juwita tersenyum sinis. "Renji memang punya selera bagus. Boneka dari mama angkatnya itu barang edisi khusus, lebih layak disimpan." Wajah Renee pucat pasi. Nissa menggenggam lembut tangan Renee yang gemetar dan berucap, "Jangan sedih. Anak kecil belum tahu mana yang benar dan salah. Kalau nanti sudah besar, dia pasti akan mengerti arti kata 'Mama'." Ya ... anak dua tahun mana mungkin tahu mana yang benar atau salah, tetapi mereka belajar dari orang di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya pun jelas sengaja mengajarinya begitu. Bab 3 "Nyonya, Tuan ... makan malam sudah siap." Seorang pelayan keluar dari dapur dan berbicara dengan hormat. Juwita bangkit dari sofa. "Ayo makan, Renji pasti sudah lapar." "Renji mau bawa beruang makan." Renji memeluk boneka beruang yang dibuat secara khusus itu, tertawa riang. "Baiklah, Bu Guru ajak Renji dan beruang makan bareng ya?" Nissa tersenyum, menggendong Renji, lalu menatap Renee dengan sopan. "Bu Renee, aku bawa Renji makan dulu." Semua orang menuju ruang makan. Renee menggenggam boneka buatan tangannya, merasa kebingungan. Padahal dia adalah Nyonya Muda Keluarga Suryana, tetapi dia selalu dikucilkan dan diabaikan. Kue dan boneka di tangannya jatuh ke lantai. Renee melangkah mundur, berniat meninggalkan rumah besar yang tanpa kehangatan itu. Namun, pergelangan tangannya ditahan oleh Arvin. Dia lantas menatap Arvin. Mata pria itu memancarkan ketegasan. "Makan." Renee melirik ke arah meja makan. Tempat duduk yang seharusnya miliknya, kini diduduki oleh Nissa. Tanpa suara, dia menarik tangannya dari genggaman Arvin. "Aku nggak mau ganggu kalian sekeluarga lagi." Usai berbicara, dia berjalan pergi tanpa menoleh. "Renee!" Arvin mengernyit melihat punggung istrinya. Perempuan ini sekarang sudah berani membantahnya? "Nggak usah pedulikan dia," ujar Juwita sambil melirik ke arah pintu. "Wanita bodoh dan cacat begitu memang seharusnya nggak dibiarkan masuk ke rumah." "Benar, Kak," tambah Felicia, adik perempuan Arvin. "Perempuan yang pakai tipu muslihat buat menikah ke keluarga kita cuma nurunin derajat Keluarga Suryana kalau makan bareng kita." Arvin memang tidak menyukai Renee. Namun, seekor anjing pun tidak pantas dipukul di depan majikannya. Dengan nada dingin, dia membalas, "Terus, aku ini apa? Setiap hari aku makan bareng dia, berarti aku juga menurunkan derajat keluarga?" "Uh ...." Felicia terdiam, buru-buru mengoreksi. "Kak, hubungan kalian 'kan cuma sementara saja. Setelah kalian cerai nanti ...." "Diam." Nada suara Arvin menjadi dingin. "Jangan pernah bicara seperti itu di depan Renji lagi." "Diam ... hihihi ...." Renji menirukan ayahnya sambil tertawa. .... Di luar, langit sudah gelap. Malam lembap dan dingin. Renee memeluk dirinya sendiri, berjalan sendirian di halaman rumah Keluarga Suryana. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia menahan diri untuk tidak menangis. Dia tahu semua ini juga salahnya. Dia tidak pantas menangis. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah mencari jalan keluar. Namun, di mana jalan keluarnya? Saat melewati hutan kecil, seberkas cahaya kuning dari lampu mobil menyorot dari belakang. Tak lama kemudian, mobil Rolls-Royce yang dikenalnya berhenti di sisinya. Jendela terbuka sedikit, memperlihatkan wajah tampan dan dingin Arvin. "Naik." Renee sudah terbiasa dengan nada perintahnya. Dia bisa saja menolak, tetapi entah kenapa dia akhirnya tetap masuk ke mobil. Yang mengejutkan, Nissa tidak ada di dalam. Arvin duduk di kursi belakang, tampak tenang dan berwibawa, bersandar dengan santai. Arvin tidak berbicara, hanya menatapnya. Renee lantas menunduk, menghindari tatapannya. "Kamu marah sampai nggak mau anakmu sendiri?" Pertanyaan retoris itu keluar dari bibir Arvin. Renee menggigit bibir, menahan emosi, lalu mendongak dan menatapnya. "Pak Arvin, kamu suka Nissa, 'kan?" Tatapan Arvin menjadi serius. "Kamu mau bilang apa?" "Kalau kamu suka dia, ceraikan aku dan nikahi dia. Aku setuju." "Dengan syarat?" Nada suaranya datar, tetapi mengandung kemarahan halus. "Syaratnya, biarkan aku menemani Renji tumbuh besar. Biar aku yang pilih guru lesnya. Tenang saja, aku nggak akan rebut hak asuhnya darimu." Renee mengatakannya dengan tenang, tetapi Arvin malah tertawa sinis. "Strategi mundur untuk maju ya? Cerdik juga perhitunganmu." "Aku nggak bermaksud begitu." Renee buru-buru membantah, suaranya bergetar. "Aku cuma nggak mau Renji tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya membenci ibu kandungnya. Dia masih kecil, belum tahu mana yang benar dan salah. Aku cuma ingin dia tahu ibunya nggak bersalah hanya karena tuli." "Arvin, Renji itu kulahirkan dengan nyawaku." Matanya memerah, suaranya serak. Dia teringat hari kelahiran Renji. Juwita tahu posisi bayinya sungsang, tetapi tetap memaksa dokter untuk melahirkan normal. Saat dia kehilangan banyak darah, Juwita bahkan berkata, "Selamatkan anaknya saja." Kalau bukan karena nasibnya bagus, mungkin dia sudah mati di meja operasi. Namun, Arvin tidak tahu itu. Karena ibunya sengaja mengusirnya keluar kota tepat sebelum hari kelahiran. Saat Arvin kembali, semuanya sudah baik-baik saja. Arvin memang tidak menginginkan anak itu, tetapi begitu melihat Renji, rasa bangga sebagai ayah membuat hatinya melembut. Bahkan dia mentransfer 10 miliar ke rekening Renee sebagai bonus. Faktanya, setelah pernikahan, senyuman hanya pernah muncul di wajah Arvin saat pertama kali melihat Renji. Selain itu, mereka seperti orang asing. "Renee, apa aku yang menyuruhmu melahirkan Renji?" Arvin menatapnya dengan dingin. Renee terdiam. Benar, Renji lahir karena dia sendiri yang bersikeras. Saat tahu dirinya hamil, Arvin langsung menyuruhnya menggugurkan kandungan. Namun, dia memohon dan menangis, hingga akhirnya anak itu lahir. Suasana di dalam mobil membeku. Tiba-tiba, ponsel Arvin berdering. Dia mengangkatnya. Panggilan video dari Nissa. "Arvin, Renee nggak apa-apa, 'kan? Sudah kamu jemput?" "Hmm," gumam Arvin dengan nada datar. "Syukurlah. Kalau begitu, istirahatlah lebih awal." "Renji sudah tidur?" Begitu nama Renji disebut, Nissa langsung tersenyum hangat. "Baru saja tidur. Tadi dia bilang kangen papanya, mau tidur bareng papanya." Begitu suara Nissa berhenti, terdengar suara lembut Renji. "Mama Nissa ... gendong ...." "Oke, Mama gendong ya." Nada Nissa lembut, manis, seperti madu yang menetes. Renee menatap layar ponsel, melihat Nissa memeluk Renji dengan penuh kasih. Pemandangan itu membuat hatinya seperti diremas. Mobil berhenti di depan vila. Renee turun, berlari ke lantai dua. Sambil bersandar di pintu kamar, dia perlahan terduduk sambil menangis. Dia hanya ingin memeluk anaknya, hanya ingin bersamanya sebentar saja. Namun, kenapa itu terasa mustahil? Kapan pernikahan ini akan berakhir? Renee menatap foto pernikahan di dinding. Pria tampan yang dingin, gadis muda yang tampak hati-hati. Itu bukan potret bahagia, melainkan belenggu. Dia berdiri, meraih bingkai itu, dan menghantamkannya ke lantai. Brak! Bingkai kaca pecah. Di wajah dua orang yang memang tidak cocok itu, muncul retakan. Arvin yang mendengar suara itu masuk ke kamar. Melihat Renee yang biasanya lembut, kini menghancurkan foto pernikahan, dia sempat tertegun, lalu dengan marah mencengkeram pergelangan tangannya. "Renee, apa maksudmu ini? Kamu nggak mau tinggal di sini lagi?" "Arvin, aku mau cerai!" Renee menatapnya dengan air mata mengalir, tetapi kali ini matanya penuh tekad. "Aku sudah muak! Aku nggak mau hidup tanpa harga diri lagi! Aku mau cerai dan aku nggak bercanda soal ini!" Bab 4 Di bawah cahaya lampu putih yang menyilaukan, wajah tampan Arvin tampak jelas menegang seperti diselimuti es. Jari-jarinya yang panjang berpindah dari pergelangan tangan Renee ke dagunya, menekan sedikit demi sedikit. "Renee, menurutmu pernikahan ini permainan anak-anak? Mau nikah tinggal nikah, mau cerai tinggal cerai? Atau kamu pikir aku ini boneka yang bisa kamu kendalikan sesuka hati?" "Yang bilang mau nikah itu kamu, yang bilang mau cerai juga kamu. Dari mana datangnya kepercayaan diri bahwa aku akan selalu menuruti semua keinginanmu?" "Aku ...." Dagu Renee terasa nyeri. Air matanya menetes jatuh satu per satu. Dia menahan sakit dan berkata dengan suara terisak, "Memang dulu salahku. Aku pikir setelah menikah, lambat laun kita bisa menumbuhkan perasaan itu. Aku nggak nyangka ...." "Nggak nyangka apa? Nggak nyangka kamu bakal muak secepat ini? Sudah nggak mau hidup bersamaku lagi?" "Ya, aku sudah muak." Tatapan pria itu mengerikan, tetapi Renee tetap menegakkan lehernya, mencoba membela diri. Arvin tiba-tiba marah. Tangannya yang mencengkeram dagunya langsung mendorong Renee ke tempat tidur. Tubuhnya yang tinggi menindih Renee, lalu dia mencium bibirnya dengan kasar. Ciuman itu penuh kemarahan. Matanya dingin bagai kolam beku. Renee menolak mati-matian, tetapi tetap tak bisa melawannya. Sudah tiga tahun menikah. Arvin sudah sangat mengenal tubuhnya dan dengan mudah membuatnya lemas tak berdaya. Renee malu dan marah. Dia menendang Arvin, tetapi kakinya segera ditangkap. Jemari pria itu perlahan menelusuri sepanjang kain rok. Arvin melepaskan bibirnya. Suaranya yang berat dan dingin itu berbisik di telinga Renee. "Renee, kalau kamu berani menyebut kata cerai lagi, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup." Renee menahan tangis, tubuhnya gemetar kesakitan. Arvin mencabut alat bantu dengarnya, lalu membiarkan mereka tenggelam dalam malam itu. Tiga tahun pernikahan, Arvin tak pernah benar-benar menatapnya dengan cinta. Namun, hanya di ranjanglah Renee bisa merasa dirinya seperti seorang istri. Setelah semua reda, Renee terbaring di atas tempat tidur besar. Matanya menatap wajah pria itu. Sejak kecil Arvin memang tampan. Di setiap pesta atau acara, dialah yang selalu menjadi pusat perhatian. Sementara Renee hanyalah "itik buruk rupa" dengan kekurangan pendengaran, yang hanya berani bersembunyi di sudut, menatap para wanita yang bisa bercakap bebas dengan Arvin, dengan hati yang diliputi kecemburuan. Saat pikirannya melayang, pria itu bangkit, berpakaian rapi, bersiap pergi seperti biasanya. Ketika melewati bingkai foto pernikahan yang pecah, langkahnya terhenti sejenak. Kemudian, dia berkata dengan dingin, "Rekatkan kembali." Renee terdiam, air matanya mengalir lagi. Dia tahu, ini hanyalah satu lagi perlawanan yang sia-sia. Namun kali ini, dia tidak ingin menyerah lagi. Dia ingin pergi dari sini. Renee bangkit, mengenakan pakaiannya. Sama seperti Arvin, dia melangkah pergi tanpa sedikit pun menoleh pada pecahan kaca itu. Renee tidak punya banyak teman. Keluarganya pun tidak bisa diandalkan. Satu-satunya orang yang bisa dia cari hanyalah sahabatnya, Michela. Michela tentu saja sudah melihat berita beberapa hari terakhir. Dia memutar matanya dengan kesal. "Kamu seharusnya meninggalkan laki-laki berengsek itu sejak awal!" "Aku cuma belum bisa melepas Renji." Renee tahu dirinya hidup tanpa martabat, tetapi dalam posisinya, semua terasa sulit. "Untuk apa kamu susah-susah memikirkan Renji? Dia cucu sulung Keluarga Suryana, sudah hidup penuh kemewahan. Apa dia kekurangan makan? Kekurangan kasih sayang? Nggak, 'kan? Nissa memang licik, tapi demi menyenangkan Arvin, dia nggak akan sebodoh itu sampai menyakiti anak kecil." "Selama Renji bisa tumbuh bahagia, kamu nggak perlu peduli siapa yang dia panggil mama. Kalau kamu suka anak-anak, kamu bisa menikah lagi dan punya anak sendiri. Jangan sia-siakan seluruh hidupmu demi bocah kecil yang bahkan belum tahu apa-apa." "Renji bukan bocah tak tahu terima kasih, dia baru tiga tahun. Dia nggak mengerti apa pun." Renee langsung membela anaknya. "Terus, apa gunanya? Kamu bisa bawa dia pergi? Atau pengorbananmu bisa bikin Arvin berubah?" "Aku tahu nggak bisa. Makanya aku ke sini, mau numpang tinggal di tempatmu." Renee tersenyum lemah. "Tenang saja, kamu boleh tinggal di sini sesukamu. Aku nggak bisa menafkahi diriku sendiri, tapi bisa menafkahimu." Michela menepuk dada dengan bangga. Dia memang terbiasa hidup boros, tetapi Renee sejak kecil terbiasa hidup hemat, jadi menafkahinya sama sekali bukan hal sulit. "Omong-omong, setelah cerai kamu bakal balik kerja di studio, 'kan? Aku sudah lama nunggu kamu balik." Dulu, mereka berdua mendirikan Studio RH. Waktu itu, Renee sangat bersemangat dan penuh keyakinan. Kalau bukan karena pernikahan mendadak dan statusnya sebagai Nyonya Suryana, dia tidak akan berhenti di tengah jalan. Selama ini studio masih bisa bertahan karena kerja keras Michela. Renee sungguh terharu karena sahabatnya tak pernah menyingkirkannya. "Terima kasih, Michela." Air mata menggenang di pelupuk matanya. Hanya di pekerjaannya, Renee merasa dirinya masih berguna dan masih hidup. .... Tiga hari kemudian, setelah urusan bisnis di luar kota, Arvin kembali. Mobilnya berhenti di depan vila. Dia memijat pelipis dengan lelah. Begitu melihat rumah yang gelap gulita, alisnya berkerut. Renee takut gelap. Biasanya meskipun tidur, dia tetap menyalakan lampu ruang tamu dan kamar. Namun, Arvin tidak terlalu memikirkannya. Begitu turun dari mobil, dia menyalakan lampu satu per satu hingga sampai di kamar utama. Sambil melangkah pelan, dia membuka pintu. Kamar itu kosong. Cahaya bulan menembus jendela, memantul di pecahan kaca yang berserakan di lantai. Saat lampu dinyalakan, dia baru sadar itu adalah pecahan bingkai foto pernikahan. Renee bukan hanya tidak menempelkan ulang foto itu, bahkan tidak memungut pecahannya. Jadi, tiga hari ini dia tidak tinggal di rumah? Arvin mengerutkan kening, lalu matanya menangkap map di meja tamu. Dia mengambilnya. Begitu membaca tulisan di sampulnya, ekspresinya berubah perlahan. Surat perjanjian cerai. Renee ingin bercerai? Arvin sulit memercayainya. Dia menatap tanda tangan di bawah. Benar, itu adalah tulisan tangan Renee. Arvin tidak pernah sekaget ini. Kemudian, dia tersenyum dingin. Dia lebih percaya bumi meledak daripada percaya Renee berani menceraikannya. Dulu demi menikah dengannya, perempuan itu sudah melakukan segalanya, bahkan melahirkan anaknya. Mana mungkin sekarang rela melepaskannya? Wanita ini semakin pandai bermain peran. Cerai? Kabur dari rumah? Mari kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan. Arvin meremas surat perjanjian cerai itu, melemparnya ke tong sampah, lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi seperti biasa. Selama ini Arvin hidup teratur dan hanya Renee yang tahu ritmenya dengan tepat. Ketika dia bangun, pakaiannya sudah disiapkan dan disetrika. Ketika dia turun, sarapannya sudah terhidang. Ketika dia hendak pergi, tas kerjanya sudah diserahkan ke tangannya. Semua itu tampak sepele, tetapi tidak semua orang bisa melakukannya dengan tepat dan sabar. Mungkin karena itulah Arvin sering merasa Renee lebih seperti pengasuh daripada istri. Hari itu, ketika Arvin bangun, tak ada baju di kursinya. Dia turun ke lantai bawah. Pembantu yang bernama Gina pun terlihat bingung. "Tuan bangun sepagi ini? Saya masih mikir mau buat sarapan apa ...." Arvin menatap jam di dinding, alisnya berkerut. Gina buru-buru menunduk. "Maaf, Tuan. Saya sudah coba menelepon Nyonya, tapi nggak diangkat. Saya ... saya langsung buatkan mie saja ya?" "Nggak usah," jawab Arvin dengan nada datar, lalu melangkah keluar. Gina merasa bersalah. Biasanya semua urusan makan dan kebutuhan Arvin diurus oleh Renee. Karena Renee hampir tak pernah keluar rumah, mereka semua sangat bergantung padanya. Siapa sangka, istri yang selama ini begitu penurut dan lembut itu ternyata juga bisa meninggalkan rumah. Bab 5 Hari ini hari Minggu. Arvin tidak perlu bekerja. Dia mengemudikan mobil menuju rumah lama Keluarga Suryana untuk menjenguk Renji. Dari kejauhan saja, sudah terdengar suara tawa Renji dan Nissa yang sedang bermain bersama. Tanpa sadar, langkah Arvin menjadi lebih ringan. Di kamar anak yang luas itu, Nissa mengenakan setelan santai berwarna krem muda. Dia duduk bersila di atas karpet lembut sambil memegang kartu gambar, mengajari Renji mengenal benda-benda. Nissa mengajar dengan sabar, sementara Renji belajar dengan gembira. Arvin sebenarnya tidak suka anak kecil dan juga tidak berencana memiliki anak secepat ini. Dulu ketika tahu Renee hamil, reaksi pertamanya adalah ingin menggugurkan kandungan. Namun, Renee tidak setuju, begitu pula para senior Keluarga Suryana. Selama masa kehamilan itu, Arvin nyaris tidak memperhatikan janin yang ada di perut Renee. Sampai anak itu lahir ... saat pertama kali dia melihat Renji, wajah mungil dan lembut itu langsung menarik perhatiannya, mengguncang sesuatu di dalam hatinya. Saat itu juga, Arvin benar-benar sadar bahwa dirinya sudah menjadi seorang ayah. Anak yang wajahnya mirip dengan Renee itu adalah darah dagingnya sendiri. Anak kecil memang cepat belajar. Dibanding kemarin, hari ini Renji sudah jauh lebih pintar. Di dalam ruangan itu, suasananya begitu akrab. Bukan seperti guru dan murid, tetapi seperti ibu dan anak. Tak lama kemudian, Renji pun menyadari kehadirannya. Anak kecil itu tertawa riang dan berlari ke arahnya. "Papa!" Arvin berjongkok, merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh mungil yang melompat ke arahnya. Wajahnya yang biasanya dingin dan tenang kini tampak lembut dan penuh kasih. "Renji hari ini jadi anak baik nggak?" "Baik dong! Renji kangen Papa." "Papa juga kangen Renji." Arvin mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat bocah itu tertawa semakin keras. Nissa tersenyum, berjalan mendekat, lalu mengelus lembut kepala mungil Renji. "Kak Arvin, tebak deh, hari ini Renji sudah belajar berapa kata baru?" "Berapa?" Tatapan Arvin hanya tertuju pada anaknya, penuh rasa bangga. "Dua puluh kata." Nissa memuji dengan senyuman lembut, "Renji ini pintar sekali, nanti pasti jadi anak paling cerdas di kelas." "Aku seharusnya berterima kasih karena kamu yang mengajarinya dengan baik." Arvin juga merasa anaknya cerdas. Apa pun yang diajarkan selalu bisa dipelajari dengan cepat. Nissa menunduk sedikit, wajahnya memerah karena malu. "Arvin, kamu nggak perlu terlalu sopan sama aku. Merawat Renji memang sudah jadi tanggung jawabku. Lagi pula, kamu sibuk banget. Aku cuma bantu sedikit." Kali ini, Arvin akhirnya mengalihkan pandangan dari anaknya ke wajah Nissa. "Terima kasih, Bu Nissa." Nissa sempat tertegun, lalu segera tersenyum dan menggeleng. "Kenapa kamu sungkan begitu? Ini juga bagian dari pekerjaanku kok." Dia terdiam sejenak, lalu menatapnya dengan nada sedikit sendu. "Arvin, kamu panggil aku 'Nissa' saja, jangan terlalu formal seperti tadi. Soalnya kalau kamu begitu, aku jadi teringat pada ...." Ucapannya terputus di tengah kalimat. Raut wajah Arvin pun meredup. Beberapa saat kemudian, barulah dia menjawab singkat, "Baiklah." Seperti biasa, suasana hatinya cepat berubah. Arvin tersenyum lagi sambil mencubit pipi Renji dengan gemas. "Renji, nanti sore Papa ajak kamu naik kuda, mau nggak?" "Naik kuda! Aku mau naik kuda!" Anak kecil itu bersorak gembira. Nissa tersenyum, mencubit pipinya juga. "Wah, hebatnya! Naik kuda itu bagus lho, bisa bikin Renji lebih berani." Kemudian, dia menjulurkan tangannya. "Sini, Papa sudah capek. Biar Mama Nissa yang gendong ya?" "Oke, Mama Nissa gendong ...." Renji langsung melompat ke pelukannya. Ketika Nissa melangkah maju untuk menangkapnya, jarak mereka menjadi sangat dekat, hingga dia bisa mencium wangi bersih dan segar dari tubuh Arvin. Wajahnya memanas, hatinya melembut. .... Renee tidak suka merepotkan orang lain. Setelah menumpang di rumah Michela, dia mulai mencari tempat tinggal sendiri. Setelah mencari seharian, dia akhirnya menemukan apartemen yang cocok. Malam itu saat berbaring di tempat tidur, dia merasa sedikit kesepian, tetapi juga luar biasa tenang. Baru saat itu dia sadar, betapa sesaknya hidup bersama Arvin selama ini. Takut dia kedinginan, takut dia kelaparan, takut dia marah. Hidupnya selalu berputar di sekeliling pria itu, sampai-sampai dia kehilangan dirinya sendiri. Semua itu karena cinta. Dia rela melakukannya. Kalau bukan karena Nissa tiba-tiba kembali ke tanah air, mungkin sampai sekarang dia masih terperangkap di dalam lingkaran itu tanpa bisa keluar. Begitu memikirkan Nissa, hatinya terasa perih lagi. Dia mengambil ponsel, hendak mengirim pesan kepada Rosa untuk menanyakan keadaan Renji. Namun, tiba-tiba muncul pesan dari Michela. Michela mengirim sebuah foto. [ Lihat tuh, anakmu si kecil yang tak tahu diri, bahagia banget, 'kan? ] Renee membuka foto itu. Di dalamnya tampak Arvin dan Nissa bersama Renji di arena berkuda. Renji duduk di atas punggung kuda yang tinggi. Arvin memegang tali kekang dengan satu tangan, tangan satunya lagi memegang lengan mungil anak itu sambil sabar mengajarinya. Nissa berdiri di sisi lain, tampak menyeka keringat di dahi Arvin dengan sapu tangan. Hati Renee yang sudah sakit sejak awal kembali terkoyak lebih dalam. Pesan Michela menyusul lagi. [ Sekarang nggak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri. ] [ Apa gunanya pria? Anak pun kadang nggak tahu terima kasih. Nggak ada yang pantas kamu perjuangkan. ] Benar juga. Apa gunanya pria? Apalagi pria yang tidak mencintainya. Sama halnya dengan anak kandung, ibunya, adiknya .... Adakah yang benar-benar menganggapnya keluarga? Renee mengusap hidung, membalas pesan dengan emotikon senyuman pahit. [ Kamu benar, cuma diri sendiri yang paling bisa diandalkan. ] Karena seharian bermain di arena kuda, malamnya Renji tidur nyenyak sekali. Arvin dengan hati-hati meletakkannya di ranjang kecil. Nissa menemaninya, menutup selimut dengan lembut, menyesuaikan suhu ruangan, lalu berdiri menatap Arvin. "Arvin, sudah malam, kenapa nggak nginap saja di rumah lama?" Arvin menarik sedikit kerah kemejanya, jelas terlihat kelelahan. Namun, dia hanya menyahut pelan, "Aku pulang sekarang." Nissa tampak kecewa, tetapi tidak berani memaksa. "Kalau begitu, hati-hati di jalan ya." "Hmm." Saat Arvin menuruni tangga, Juwita yang sedang menonton televisi di ruang tamu memanggilnya. "Dengar-dengar si tuli itu mau cerai sama kamu?" Langkah Arvin terhenti. Dia menoleh, menatap ibunya dengan tajam. "Ibu, dia punya nama. Panggilan itu bisa ditiru Renji nanti." "Ah, Renji nggak di sini juga," balas Juwita dengan nada kesal. "Lagi pula, kamu saja berani nikah sama si tuli itu, masa dipanggil begitu saja takut?" "Itu dua hal yang berbeda. Kalau nggak ada urusan lagi, Ibu istirahatlah." Arvin bersiap pergi. Namun, Juwita kembali bersuara, "Kapan kamu mau urus perceraian itu? Biar Ibu bisa bantu siapkan." Arvin menoleh lagi. "Siapkan apa?" "Tentu saja pernikahanmu dengan Nissa." Juwita melirik ke arah kamar anak di lantai dua. "Kamu lihat sendiri 'kan, Renji nempel banget sama Nissa dan Nissa juga sayang banget sama dia. Mereka seperti ibu dan anak." Melihat wajah Arvin tanpa ekspresi gembira sedikit pun, Juwita kebingungan. "Kenapa? Bukannya kamu paling benci Renee? Sekarang dia sendiri yang minta cerai, harusnya kamu senang dong." Benar, seharusnya dia senang. Namun, entah kenapa hatinya terasa berat seperti ada yang menekan di dalam dada. "Arvin, jangan-jangan kamu mulai suka sama si tuli itu?" tanya Juwita dengan nada curiga. Bab 6 "Nggak." Arvin langsung menolak tanpa berpikir panjang. Suka pada si tuli itu? Hal itu mustahil terjadi seumur hidupnya. Juwita masih ingin berbicara, tetapi sudah disela oleh suara Arvin yang datar, "Cukup, Ibu. Aku memang nggak suka Renee, tapi aku juga nggak pernah berpikir untuk menceraikannya." "Apa katamu?" Mata Juwita membelalak. "Arvin, kamu mau hidup seumur hidup sama si tuli itu? Kamu nggak peduli dengan martabat Keluarga Suryana?" "Bukankah dulu aku menikahi Renee juga demi menjaga martabat keluarga?" "Tiga tahun lalu, kakekmu yang memaksamu menikahinya. Sekarang kakekmu sudah nggak bisa ikut campur urusan ini. Kamu nggak perlu mengorbankan kebahagiaanmu demi seseorang yang cacat." Juwita berdiri dan berjalan mendekatinya, menepuk pelan bahunya. "Arvin, kebahagiaan itu harus kamu genggam sendiri. Jangan biarkan rasa bersalah atau tanggung jawab mengekangmu." Arvin terdiam. Beberapa detik kemudian, dia berkata dengan tenang, "Aku tahu." Tanpa banyak berbicara lagi, dia melangkah ke luar dan menuju mobil. Arvin mengemudi kembali ke Vila Panorama. Seperti semalam, vila besar itu tenggelam dalam kegelapan tanpa setitik pun cahaya, tanpa kehangatan, tanpa sosok yang familier. Sambil melepas kancing kemejanya, dia naik ke lantai atas. Begitu masuk ke kamar utama, pandangannya langsung jatuh pada foto pernikahan yang sudah retak. Gina ingin membereskan semuanya, tetapi Arvin mencegahnya. Dia ingin menunggu Renee kembali, menunggu wanita itu menempel ulang foto pernikahan itu dan menggantungkannya kembali di dinding, lalu melanjutkan perannya sebagai Nyonya Suryana. Awalnya Arvin yakin Renee akan pulang malam ini. Namun, ternyata dugaannya salah. Bukan hanya tidak pulang, satu pesan darinya pun tidak ada. Kemarahan yang sudah menumpuk kini semakin membara. Dengan kesal, dia melempar jaket ke sofa, menyalakan sebatang rokok, mengisap dalam-dalam, lalu mengambil ponsel dan menekan nomor asistennya, Andre. Telepon segera tersambung. "Pak Arvin, sudah larut malam begini, ada perintah?" "Istriku ke mana?" "Hah?" Andre sempat tidak paham. Bosnya menelepon tengah malam hanya untuk menanyakan keberadaan istrinya? Padahal biasanya Renee itu penurut seperti robot, tidak pernah membuat masalah. Kalaupun membuat Arvin kesal, Arvin biasanya tidak akan benar-benar peduli. Arvin tampaknya juga menyadari hal itu. Nada suaranya merendah. "Istriku lagi ngambek. Kamu hubungi dia." "Hah?" Andre kembali kaget. Istri bosnya ngambek? Begitu sadar, dia cepat-cepat meminta maaf. "Maaf, aku hanya terkejut saja. Tenang, Pak. Aku akan segera mencari Bu Renee." "Nggak perlu." Arvin mengisap rokok lagi, meniupkan asap perlahan. "Kasih tahu dia, kalau dalam tiga hari dia nggak pulang, selamanya jangan kembali." Andre langsung mengiakan. "Baik, Pak. Aku akan sampaikan besok." Dia tahu betul bosnya menjaga gengsi. Mana mungkin bosnya akan memanggil istrinya pulang? .... Renee memang tidak bekerja selama ini, tetapi dia sering membantu Michela membuat desain. Jadi, kembali ke dunia kerja tidak sulit baginya. Pagi itu, dia mengendarai motor listrik menuju studio. Dari jauh, dia melihat Andre berdiri di depan pintu, sepertinya menunggunya. "Bu Renee, Pak Arvin menyuruhku menyampaikan pesan." Selama lima tahun bekerja dengan Arvin, Andre selalu bersikap sopan pada Renee. "Katakan saja." "Uh ...." Andre agak canggung, tetapi tetap menyampaikan dengan tepat, "Pak Arvin bilang, kalau dalam tiga hari Ibu nggak pulang, jangan pernah kembali lagi." Renee sudah menduga tidak akan ada kata manis. Dia diam dua detik, lalu berkata pelan, "Tolong sampaikan pada Pak Arvin, aku sudah tinggalkan surat perjanjian cerai di meja kamar." "Eh?" Andre melongo. Surat perjanjian cerai? Kali ini yang meninggalkan adalah sang istri? Renee tidak berbicara lagi. Dia hanya tersenyum sopan, lalu masuk ke studio. Andre kembali ke Vila Panorama untuk melapor. Dengan hormat, dia mengulang kata-kata Renee dan akhirnya bertanya dengan ragu, "Pak, perlu aku bantu ambil surat perjanjian cerainya?" Ketika dia mendongak, wajah Arvin sudah sehitam arang. Andre bertanya lagi, "Bapak baik-baik saja?" "Aku baik-baik saja. Aku nggak buta." Arvin menahan amarahnya. Surat itu jelas-jelas ada di meja, mana mungkin dia tidak lihat? Dia bahkan sudah merobeknya sejak awal. Melihat Arvin begitu gusar, Andre bertanya dengan hati-hati, "Bukankah seharusnya Bapak senang karena Bu Renee setuju untuk bercerai?" Ekspresi Arvin semakin kelam. Semua orang mengira dia seharusnya senang. Namun, entah kenapa dia sama sekali tidak merasa begitu. "Kamu rasa aku harus senang?" "Eee ...." Menyadari bahwa diceraikan oleh wanita tuli itu memalukan, Andre buru-buru menambahkan, "Aku rasa Bu Renee nggak sungguh-sungguh ingin cerai. Mungkin hanya ingin menggertak Bapak saja. Aku yakin belum sampai tiga hari, dia akan pulang." Raut wajah Arvin sedikit membaik. Karena memang itu juga yang dia pikirkan. Namun siapa sangka ... tiga hari berlalu begitu cepat. Wanita yang katanya sedang menggertak itu pun bukan hanya tidak pulang, tetapi bahkan tidak mengirim satu pesan pun. Awalnya Arvin tidak terlalu ambil pusing. Namun, lama-kelamaan rasa gelisah dan kesal menumpuk. Pagi-pagi, hanya karena tidak menemukan dasi biru tua kesukaannya, dia menendang tong sampah sampai terbang beberapa meter. Gina sampai gemetar ketakutan, tetapi tidak berani berbicara. Dengan suara hati-hati, dia berkata, "Tuan, mungkin sebaiknya hubungi Nyonya saja. Biasanya Nyonya yang mengatur lemari dan ruang pakaian." Arvin ingin menolak. Namun, kata yang hendak dikeluarkan tertelan kembali. Akhirnya, dia berjalan ke depan jendela besar. Satu tangan di saku, satu tangan mengambil ponsel. Untuk pertama kalinya sejak Renee pergi seminggu lalu, Arvin meneleponnya. Telepon segera tersambung. Arvin tersenyum puas, merasa wanita ini hanya berpura-pura keras. Pasti setiap hari menunggunya menelepon. "Bu Renee, permainan tarik-ulurmu lumayan juga. Hati-hati, jangan sampai kebablasan." Renee sedang memakai sepatu dan hendak keluar. Mendengar suara itu, dia sempat tertegun, lalu melanjutkan aktivitasnya dengan tenang. "Pak Arvin, pagi-pagi begini meneleponku, ada urusan apa?" Suaranya datar dan tenang. Hal ini di luar dugaan Arvin. Sudut bibirnya turun lagi. "Aku cuma mau tanya, dasi biru tuaku kamu taruh di mana?" "Semua dasi sudah kurapikan di kotak dasi. Silakan cari sendiri. Kalau nggak ketemu, bisa minta bantuan Kak Gina." Renee sudah keluar dari apartemennya. Melihat lift hampir tertutup, dia buru-buru berlari kecil. "Sebentar." Pintu lift terbuka kembali. Renee masuk dan tersenyum pada orang di dalam. "Terima kasih, Kak." Bahkan lewat ponsel, Arvin bisa merasakan keceriaan dalam suaranya. Hatinya langsung terasa tak nyaman. "Renee!" panggil Arvin dengan kesal. Lift sedang penuh karena jam berangkat kerja. Setelah menemukan tempat, barulah Renee kembali berbicara, "Pak Arvin, ada urusan lain?" Bab 7 Arvin menahan emosinya dengan susah payah dan bertanya, "Renee, kamu masih mau pura-pura di depanku ya?" "Aku nggak ngerti maksudmu. Kalau nggak ada urusan lain, aku tutup dulu ya." "Tunggu dulu." Arvin menahannya. "Kamu yakin nggak ada yang ingin kamu bicarakan?" Renee merasa hari ini Arvin agak aneh dan cerewet. Biasanya dia selalu pelit kata-kata di depannya. Di layar lift sedang diputar jadwal konser Nissa. Gambar berganti ke cuplikan wawancara Nissa. Dia tersenyum lembut dan berkata bahwa lagu penutup konsernya kali ini adalah lagu anak-anak yang khusus dia tulis untuk si kecil tersayang. Pewawancara penasaran dan bertanya, siapa si kecil itu? Nissa tersenyum misterius dan menyahut, "Itu anak angkatku." Renee memalingkan pandangan. Saat melihat ke bawah, ternyata telepon masih tersambung dan di seberang sana Arvin sudah kehilangan kesabaran. "Renee, jangan pura-pura nggak dengar!" Renee menarik napas perlahan, suaranya tenang. "Pak Arvin, besok kamu punya waktu?" Akhirnya mau menyenangkannya? Arvin tidak bisa menahan senyumannya. Nadanya pun dipenuhi kesombongan. "Nggak ada." "Kalau begitu, nanti pas ada waktu, kabarin saja. Kita urus surat cerainya." "Kamu barusan bilang apa?" "Aku bilang, nanti pas kamu sempat, kita urus surat cerainya." Selesai berbicara, Renee langsung menutup telepon tanpa ragu. Arvin tidak bisa berkata-kata. Sementara itu, Renee benar-benar polos seperti selembar kertas putih. Dia berpikir selama dirinya cukup tegas, pernikahan ini pasti bisa diakhiri. Namun, tak lama kemudian dia menerima telepon dari ibunya. Tanpa sapaan, tanpa perhatian, hanya teguran tajam dari awal. "Kudengar kamu kabur dari rumah ya?" "Renee, kamu itu nggak tahu diri ya? Bisa menjadi menantu Keluarga Suryana itu berkah delapan turunan! Bukannya disyukuri, malah buat drama. Kamu ...." "Ibu!" sela Renee. "Setidaknya tanya dulu kenapa aku sampai begini, 'kan?" "Apanya yang perlu ditanya? Gara-gara si Nissa, 'kan? Kenapa memangnya kalau Arvin pelihara dia di luar? Memangnya itu ngaruh sama nasibmu di Keluarga Suryana yang sudah enak begini?" "Kamu urusin saja pengobatan telingamu baik-baik dan rawat Arvin yang benar. Kalau kamu takut si perempuan itu bakal rebut Arvin, ya cepat hamil lagi. Kalau sudah punya anak laki-laki dan perempuan, apa lagi yang perlu ditakutkan?" Ferawati terus mengomel panjang lebar. Renee sudah lebih dulu melepas alat bantu dengarnya. Dia tidak boleh mendengar, tidak boleh berpikir, tidak boleh membiarkan siapa pun menggoyahkan tekadnya. Kalau tidak, dia akan selamanya terjebak dalam pernikahan tanpa kehangatan ini. Karena melepas alat bantu dengar, dia tidak mendengar suara mobil dari belakang. Sebuah mobil menabraknya hingga dia terjatuh ke tanah. Mobil itu berhenti. Seorang pemuda keluar dari kursi pengemudi. "Kamu nggak apa-apa, 'kan?" Pria itu tinggi, tampan, dengan raut wajah lembut. Renee tak bisa mendengar suaranya, tetapi dari ekspresinya, dia tahu pria itu sedang mengkhawatirkannya. Dia mengusap lutut yang perih, lalu berkata dengan nada menyesal, "Maaf, aku yang nggak lihat jalan." "Kamu terluka? Perlu aku antar ke rumah sakit?" Pria itu menatap kakinya. Renee tak mendengar jelas ucapannya, hanya membalas dengan senyuman sopan. "Kamu nggak bisa bicara?" tanya pria itu dengan heran. Renee mengenakan kembali alat bantu dengarnya dengan tenang, lalu berkata, "Maaf, tadi aku nggak dengar kamu bilang apa." Oh, ternyata dia tidak bisa mendengar suara. Pria itu menatapnya dan rasa iba pun muncul dalam hatinya. Gadis semuda dan secantik ini, ternyata memiliki gangguan pendengaran. "Nggak apa-apa, cuma ... luka di kakimu itu ...." "Nggak parah, nggak sakit," sahut Renee dengan santai. Hanya sedikit lecet, sebentar juga sembuh. "Kalau begitu, biar aku bantu kasih obat ya? Di mobilku ada obat." Pria itu segera berbalik menuju mobil untuk mengambil obat. Renee tak tega menolak kebaikannya, jadi dia duduk di tangga, membiarkan pria itu mengobatinya. Kulit kakinya putih dan halus, tetapi terlihat terlalu kurus. Pria itu tak bisa menahan rasa kasihan. "Aku Nathan Gumarang. Siapa namamu?" "Aku Renee Witansa." "Kamu kerja di sekitar sini?" "Ya, di gedung depan." "Kebetulan banget, aku kerja di sebelahnya." Nathan menunjuk gedung tertinggi di depan sana dengan dagunya. Renee menoleh. Gedung itu milik Grup Gumarang. Pria ini juga bermarga Gumarang .... Nathan Gumarang? Putra kedua Keluarga Gumarang? Renee refleks menurunkan roknya, menutupi lutut yang lecet. "Terima kasih, Pak Nathan. Aku baik-baik saja." "Kamu buru-buru banget?" "Ya ...." "Boleh tukar kontak? Anggap saja nambah teman." "Nggak usah, lukaku nggak parah. Terima kasih atas bantuannya." Tanpa memperhatikan wajah kecewa Nathan, Renee berbalik dan masuk ke gedung di belakangnya. Di dalam lift, Renee melihat pantulan dirinya yang tampak sedikit berantakan. Pikirannya melayang ke malam ulang tahunnya tiga tahun lalu. Saat itu, ibunya menegurnya karena terlalu kurus, menyuruhnya makan yang bergizi, lalu memberinya segelas susu. Renee yang tak suka berdebat, menurut dan meminumnya. Tak lama kemudian, tubuhnya terasa panas dan tak nyaman. Ketika dia bertanya apakah ibunya menaruh sesuatu di dalam susu itu, Ferawati berkata dengan wajah serius, bahwa semua itu demi kebaikan Renee. Rencana mereka sederhana. Renee akan menikah dengan putra kedua Keluarga Gumarang. Meskipun status Nathan rendah dan seperti "bank darah berjalan" untuk kakaknya, setidaknya dia masih anak Keluarga Gumarang. Dia tidak mungkin kekurangan uang. Dengan begitu, Keluarga Witansa bisa terselamatkan berkat mahar yang diperoleh. Saat itu, Renee marah besar dan menolak keras. Namun, karena pengaruh obat, tubuhnya lemah dan tak bisa melawan. Akhirnya, dia tetap dikirim ke kamar Nathan oleh ibu dan adiknya. Namun keesokan paginya, pria yang tidur di sebelahnya bukan Nathan, melainkan Arvin. Bagaimana bisa terjadi, Renee sendiri tak tahu. Ibunya pun tidak tahu. Namun, Ferawati justru sangat gembira. Keluarga Suryana jauh lebih berkuasa daripada Keluarga Gumarang. Posisi Arvin di Keluarga Suryana, bahkan di seluruh Kota Haidar, tidak tertandingi oleh siapa pun. Bagi ibunya, ini benar-benar berkah yang datang dari kesalahan. Hingga kini, insiden itu pun hanya diketahui oleh Renee, ibunya, dan adiknya. Renee bersyukur Nathan tidak mengenalinya. Kalau tidak, rasanya pasti sangat canggung. .... Sementara itu, Andre baru sadar kalau Arvin beberapa hari ini luar biasa murung dan emosional. Khususnya hari ini. Bosnya yang biasanya super efisien dan tajam, hari ini sudah memakinya "idiot" lebih dari sepuluh kali. Kalau saja Arvin bukan laki-laki, Andre mungkin sudah membuatkan segelas air gula untuk menenangkan suasana hatinya. Setelah satu lagi kata "idiot" keluar dari mulut Arvin, Andre memberanikan diri untuk berkata, "Pak, aku dengar malam ini di Jalan Sungar ada pertunjukan kembang api. Mungkin bisa ajak Bu Renee dan Renji nonton bareng?" Kalau Renee terus tidak pulang, Andre yakin dirinya akan benar-benar menjadi idiot karena terus dimaki. Namun, wajah Arvin yang sudah muram langsung menggelap mendengar usul itu. Tatapannya dingin seperti melihat orang bodoh. "Kamu suruh aku ngalah sama Renee? Ajak dia nonton kembang api?" "Eh ... bukan begitu maksudku ...." "Keluar!" Arvin melempar map di tangannya tepat ke wajah Andre. Bab 8 Renee malam itu berencana lembur, tetapi Michela tiba-tiba menariknya bangkit. "Ayo, aku ajak kamu jalan-jalan." "Jalan-jalan ke mana?" Renee tak terlalu berminat. "Katanya malam ini di tepi sungai ada pertunjukan kembang api. Aku temani kamu nonton." "Ngaku saja deh, kamu sendiri yang ingin nonton, 'kan?" "Sama saja! Ayo, jangan banyak alasan." Renee membereskan barang-barangnya dan menggeleng pasrah. "Aku akhirnya paham kenapa setelah tiga tahun, studio ini masih belum berjaya." "Eh, jangan begitu dong! Kerja itu cuma buat hiburan, hidup yang penting dinikmatin. Lagian, manusia hidup cuma beberapa puluh tahun, ya harus dijalanin dengan senang dong." "Ya, ya, kamu benar banget." Renee mengangguk mengiakan. Sebenarnya dia cukup iri pada Michela. Meskipun kondisi keluarganya biasa saja, dia punya orang tua dan kakak yang sayang padanya, tidak pernah dipaksa melakukan hal yang dia tidak mau. Jika sedang semangat, dia akan kerja. Jika sedang malas, dia tinggal bersantai di rumah. Yang penting uangnya cukup untuk hidup. Selama tidak menikah, kualitas hidupnya tidak akan berubah. Bagi Renee, hidup yang sesederhana dan sebahagia itu adalah sesuatu yang hanya bisa diimpikan. Dalam hidupnya hanya ada ayah yang sakit-sakitan, ibu dan adik yang egois serta licik, juga suami dan anak yang tidak mencintainya. Karena hati penuh tekanan, bahkan kembang api pun terasa hambar di matanya. Michela terus menjelaskan kalau pertunjukan malam ini spektakuler, gabungan kembang api dan drone yang menciptakan formasi megah di langit. Sorak-sorai di sekeliling pun menggema tak henti. Namun, Renee tetap merasa kembang api hanya sekejap. Seindah apa pun, tetap akan hilang. Hanya saja, demi tidak merusak suasana hati Michela, dia berusaha menampilkan ekspresi kagum dan ikut bersorak. Ketika pertunjukan mencapai puncak, tiba-tiba terdengar suara kecil dan lembut di belakangnya. "Kembang api ... cantik .... Mama Nissa cantik!" Suara itu tenggelam di antara teriakan orang banyak, tetapi Renee langsung mengenalinya. Itu suara Renji, anaknya. Tanpa sadar, dia menoleh. Benar saja, Arvin sedang menggendong Renji, berdiri di antara kerumunan bersama Nissa. Tiga sosok itu tampak seperti keluarga kecil yang sempurna, begitu bahagia, seindah kembang api di langit. Nissa menggenggam tangan kecil Renji sambil tersenyum lembut. "Ternyata Renji suka sekali kembang api ya? Kamu harus berterima kasih pada Papa, karena Papa yang bawa kita nonton kembang api malam ini." "Terima kasih, Papa!" Renji mencium pipi Arvin dengan semangat. Arvin tertawa ringan. Sudah seminggu tidak bertemu, anak kecil itu tampak semakin gemuk. Kelihatannya Nissa memang merawatnya dengan baik. Renee berdiri empat atau lima baris orang di belakang mereka, cukup jauh sampai mereka tidak menyadari kehadirannya. Awalnya dia berniat pura-pura tidak melihat, tetapi saat hendak menoleh, tanpa sengaja dia beradu pandang dengan Arvin. Kembang api di langit meledak terang, menerangi seluruh tepi sungai. Di bawah cahaya itu, tatapan mereka saling bertaut dan semua emosi di mata masing-masing tak bisa lagi disembunyikan. Arvin dingin seperti biasanya, sementara Renee tampak begitu rapuh dan kacau. Waktu seakan-akan berhenti. Kembang api terus bermekaran di langit. Renji tertawa bahagia, Nissa juga tersenyum lebar, seolah-olah dunia hanya milik mereka bertiga. Renee baru tersadar ketika Michela menarik lengannya keras-keras. "Tunggu aku di sini! Aku mau ke sana buat motong tangan perempuan itu!" Renee mengikuti arah pandangnya, melihat Nissa menggandeng tangan Renji dengan lembut. Mereka begitu akrab layaknya ibu dan anak. "Jangan gila," kata Renee segera sambil menahan Michela. "Bukannya kamu sendiri yang suruh aku lepasin si berengsek itu dan fokus kerja? Nah, sekarang aku sudah lepas, malah kamu yang nggak bisa lepas?" Michela terdiam, tak bisa membalas. "Sudahlah, nonton kembang api saja." Renee membalikkan tubuh temannya, memaksanya tetap di tempat. Bab 9 Mereka melanjutkan menonton kembang api. Hanya saja, setelah kejadian kecil tadi, Renee semakin kehilangan minat untuk menikmatinya. Dia teringat pada pertunjukan kembang api di tahun-tahun sebelumnya. Setiap kali, dia pernah memberanikan diri bertanya pada Arvin apakah mereka bisa membawa Renji ke tepi sungai untuk menonton kembang api. Namun, Arvin selalu menolak dengan alasan Renji masih terlalu kecil. Malam ini, dia justru datang bersama Nissa dan Renji. Jadi, ternyata bukan karena Renji terlalu kecil, melainkan karena Arvin memang tidak ingin datang bersamanya. Hatinya yang sudah remuk, kini tenggelam semakin dalam. Tekadnya untuk bercerai pun semakin kuat. Kembang api berakhir, kerumunan mulai bubar. Renee menggandeng lengan Michela, berjalan ke arah yang berlawanan dari Arvin. Awalnya dia berpikir bisa menghindari mereka, tak disangka malah berpapasan di pinggir jalan. Renee tertegun sejenak. Secara refleks, dia menatap ke arah Arvin. Arvin pun sedang menatapnya dan matanya memancarkan ketidaksenangan. Renee tidak mengerti. Dia yang membawa kekasih barunya menonton kembang api, tetapi malah terlihat tak senang? Arvin memang selalu sulit ditebak. Renee juga sudah tidak ingin menebak lagi. "Pak Arvin, kebetulan sekali," sapanya sambil tersenyum tipis. Arvin mengeratkan pelukannya pada Renji, lalu menatapnya dengan dingin. "Ngambek sampai anak sendiri pun nggak mau diurus lagi ya?" Renee menatap Renji. Anak kecil itu merasakan tatapan ibunya. Alis mungilnya berkerut, lalu dia spontan bersandar ke pelukan Nissa. "Nggak mau Mama ... mau Mama Nissa." Wajah mungilnya penuh keseriusan, tanpa sedikit pun rasa takut membuat mamanya sedih. "Renji, nggak boleh bicara begitu. Mama itu yang paling sayang sama kamu, tahu?" Nissa segera meraih tubuh mungil itu, lalu membujuk dengan lembut, "Renji anak baik, biarkan Mama gendong sebentar ya?" "Nggak mau Mama ...." Renji justru semakin menempel di pelukan Nissa. Nissa tidak bisa membujuknya lagi, jadi akhirnya hanya menatap Renee sambil tersenyum sopan. "Bu Renee, jangan salah paham. Mungkin Renji sudah terlalu lama nggak bertemu denganmu." "Nggak apa-apa." Renee perlahan menarik kembali tangannya yang sempat terulur, lalu berkata dengan nada datar, "Kalau Renji nggak mau sama aku, aku pulang saja dulu." "Tunggu." Arvin menahan pergelangan tangannya, menatap wajah sampingnya. "Kita pulang bersama." Pulang bersama? Ke mana? Ke rumah lama Keluarga Suryana? Atau ke rumah mereka yang dulu? Ke mana pun itu, Renee tidak ingin bersamanya lagi. Dia berusaha menarik tangannya, sedikit demi sedikit, hingga lolos dari genggaman Arvin. "Nggak usah, kamu antar saja Bu Nissa dan Renji pulang." Setelah berkata begitu, dia berbalik dan pergi. "Kamu belum puas bikin masalah?" Arvin melangkah cepat hendak menarik lengannya lagi. "Pak Arvin!" Michela segera berdiri di depannya tanpa basa-basi. "Tolong jaga sikap. Renee sekarang bukan lagi istrimu. Silakan pulang dengan pelacur dan anak kesayanganmu, jangan ganggu dia lagi." Tatapan Arvin langsung menjadi suram. Nissa yang di sampingnya pun naik pitam. "Kamu bilang siapa pelacur?" "Siapa pun yang merebut suami orang." Michela menyapunya dari atas ke bawah dengan tatapan sinis. "Kenapa? Kamu ini guru les yang katanya mulia itu, mau mengakui sendiri?" "Kamu ...." Nissa nyaris tak bisa menahan diri. Namun, dia segera menekan emosinya, menggigit bibir seolah-olah menahan tangis. "Kamu salah paham. Aku ini cuma guru privat Renji." "Oh, guru privat?" Michela menatapnya, lalu melirik Arvin, dan tanpa sopan meludah ke arah mereka berdua. "Cih!" Wajah Arvin semakin kelam. Dia tidak ingin membuang waktu berdebat dengan Michela. Suara beratnya terdengar di belakang Renee yang sudah menjauh. "Renee, kamu nggak ngerti bahasa manusia ya? Ikut aku pulang." Bab 10 Renee sebenarnya bisa mendengar dengan jelas kata-kata Arvin, tetapi kali ini suaranya seolah-olah kabur di telinganya. Dia menatapnya, lalu perlahan melepas alat bantu dengar dari telinganya, tepat di depan wajah pria itu. Gerakan kecil itu langsung membuat Arvin terdiam. Wajah tampannya yang biasanya dingin, kini meredup di bawah cahaya malam. Arvin tahu betul arti dari tindakan itu. Renee memang tidak pernah berani bersikap keras padanya, tetapi dia pernah melihat cara Renee memutus percakapan dengan orang lain, yaitu dengan sengaja melepas alat bantu dengar di depan mereka. Itu artinya apa? Itu berarti dia menyuruh pihak lawan untuk diam. Tak pernah terpikir olehnya, bahwa suatu hari Renee akan melakukan hal yang sama padanya. Cahaya lampu jalan membuat bayangan tubuh Renee tampak ramping dan rapuh. Michela memeluk bahunya dengan lembut. "Renee, dunia ini bukan cuma ada Arvin dan Renji. Masih banyak hal indah lainnya, seperti kembang api malam ini." Michela berbicara di dekat telinganya. Renee berusaha mendengar, lalu tersenyum pahit. "Aku tahu." Keesokan harinya setelah pertunjukan kembang api, Renee menerima pesan dari Rosa. Renji demam. Hatinya langsung mencelos. Dia buru-buru menelepon untuk menanyakan keadaan Renji. Rosa menjelaskan bahwa si kecil baik-baik saja di siang hari, tetapi malamnya tiba-tiba demam tinggi. "Gurunya di mana? Nggak menemaninya?" "Eh ... ada kok." Renee terdiam. Beberapa detik kemudian, suaranya kembali tenang. "Baiklah, tolong jaga Renji dengan baik ya. Terima kasih." "Nyonya ... nggak mau datang jenguk?" Wajar kalau Rosa terkejut. Biasanya kalau Renji sakit sedikit saja, Renee akan panik setengah mati, menangis dan memohon agar Arvin membawanya pulang ke rumah lama Keluarga Suryana untuk melihat anaknya. "Nggak perlu. Aku bukan dokter. Lagi pula, dia sudah dijaga kalian semua, 'kan?" sahut Renee pelan, menahan rasa getir di dadanya. Di seberang, Rosa menggenggam ponselnya erat-erat, lalu melirik ke arah Arvin yang sedang duduk di sofa. "Tuan, Nyonya bilang ...." "Aku dengar semuanya," sela Arvin. Dia menekan puntung rokok di asbak, wajahnya tampak muram. Setelah bangkit, dia hanya meninggalkan satu perintah, "Panggilkan dokter keluarga. Pastikan Renji dijaga dengan baik." "Baik, Tuan." Rosa menatap punggung pria itu yang menjauh. Entah kenapa, menurutnya akhir-akhir ini bukan hanya Renee yang berubah, tetapi Arvin juga. Sama-sama menjadi aneh. Setelah menutup telepon, Renee menatap ke luar jendela. Langit sudah gelap. Dia merapikan meja kerjanya, lalu mengambil tas untuk pulang. Saat sedang menunggu bus, sebuah mobil Bentley hitam berhenti perlahan di depannya. Dari jendela yang turun setengah, muncul wajah tampan Nathan dengan senyuman hangatnya. "Bu Renee, kebetulan sekali. Biar aku antar kamu pulang." Renee sempat tertegun, lalu dia cepat-cepat menggeleng. "Nggak perlu, terima kasih. Aku tunggu bus saja." "Bu Renee, kita saling kenal ya?" "Kenapa kamu tanya begitu?" "Karena kamu terus menghindariku." Renee terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Gedung Grup Gumarang memang bersebelahan dengan tempat kerjanya. Dalam seminggu ini saja, mereka sudah bertemu tiga kali. Setiap kali bertemu, Renee berpura-pura tidak melihat, lalu buru-buru menghindar. Ternyata Nathan menyadarinya. "Kalau terus begini, aku bisa salah paham lho. Aku bisa pikir kamu habis melakukan sesuatu yang bikin aku marah." Ucapan itu sukses membuat Renee naik ke mobil. Untuk pertama kalinya, dia duduk begitu dekat dengan pria yang dulu hampir menjadi suaminya. Renee menggenggam sabuk pengamannya erat-erat. Tubuhnya kaku karena gugup. Nathan melihatnya tegang, jadi tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. "Jangan khawatir, aku cuma bercanda. Aku dengar kamu kerja di bidang desain busana ya? Aku sebenarnya ingin bicara sedikit soal kerja sama." "Kerja sama?" Begitu tahu itu urusan pekerjaan, Renee diam-diam merasa lega. Namun, masih dengan nada waspada, dia bertanya, "Aku ini cuma desainer pemula, baru masuk kerja. Kerja sama seperti apa yang kamu maksud?" "Justru desainer pemula itu yang paling menarik," jawab Nathan dengan tulus. Kedua tangannya menggenggam setir. "Kami butuh orang yang punya ide baru."