Takdir Cinta yang Malang

Đang tải thông tin quảng bá...

Takdir Cinta yang Malang

GoodNovel Hoàn thành

"Sudah kupertimbangkan. Pak Noel, tolong bantu aku siapkan surat cerai." Pada hari peringatan lima tahun pernikahannya dengan Rio Ansari, Anna Wesley malah menghabiskan waktunya di firma hukum. Karena...

Chương (1)

第1章

"Sudah kupertimbangkan. Pak Noel, tolong bantu aku siapkan surat cerai." Pada hari peringatan lima tahun pernikahannya dengan Rio Ansari, Anna Wesley malah menghabiskan waktunya di firma hukum. Karena Rio sedang sibuk melayani sekretarisnya di rumah. Sebagai istrinya, Anna malah diusir untuk menghindari kesalahpahaman. Selama lima tahun ini, Rio tidak pernah mengungkapkan hubungan pernikahan mereka di kantor. Awalnya, Anna ingin membicarakan hal ini dengan Rio. Namun, Rio berkata, "Sella sendirian di rumah dan tiba-tiba mati lampu. Dia nggak tahu harus pergi ke mana, jadi aku menyuruhnya datang untuk makan bersama. Anna, seharusnya kamu nggak keberatan, 'kan?" Anna merasa hal ini tidak perlu dibicarakan lagi. Bercerai adalah jalan terbaik untuk mengakhiri hubungan yang sudah berlangsung selama lima tahun ini. Bab 1 "Pak Noel, bisakah kamu menyelesaikan surat perceraianku hari ini?" Mendengar sepasang pria dan wanita mengobrol riang di dalam vila, Anna tidak bisa menahan diri untuk menghubungi pengacaranya. Angin malam berembus kencang, tetapi tidak sedingin hatinya. Jelas-jelas, ini adalah rumahnya dan hari ini adalah hari peringatan lima tahun pernikahan mereka. Namun, suaminya malah mengusirnya agar sekretaris suaminya tidak merasa terganggu dan menghindari kesalahpahaman. Orang di ujung lain telepon mengembuskan napas panjang. "Nona Anna, mari bertemu dan bicarakan langsung." Satu jam yang lalu, Anna bergegas pulang. Melihat berbagai hidangan di atas meja, dia otomatis menghela napas. "Rio, kamu tahu aku nggak bisa makan pedas ...." Dia bukanlah orang yang pemilih dalam hal makanan. Namun, hampir tidak ada lauk yang bisa dia makan di meja ini. Meskipun dia tidak pemilih, dia tidak mungkin mempertaruhkan nyawanya demi makan. Rio tahu bahwa Anna alergi pada cabai. Jadi, selama beberapa tahun ini, sebagian besar makanan yang disiapkan Anna bercita rasa ringan. Namun kali ini, Rio malah memesan berbagai hidangan bercita rasa kuat. Dia mendorong satu-satunya hidangan yang tidak pedas, sup tomat dan telur ke hadapan Anna sambil berkata dengan kesal, "Kamu tahu aku sibuk bekerja, nggak punya waktu untuk mengurus hal-hal kecil seperti ini. Perusahaan sebesar itu bergantung hidup padaku. Hari ini, aku luangkan waktu untuk makan bersamamu, jangan cari masalah. Lagi pula, bukannya sup tomat dan telur ini nggak pedas?" Meskipun Anna tahu Rio sudah berpindah hati atau mungkin tidak pernah peduli padanya, dia tidak menyangka Rio akan memperlakukannya dengan semena-mena dan tidak menghargai hubungan yang sudah berlangsung selama lima tahun ini. Jelas-jelas, hari ini adalah hari peringatan lima tahun pernikahan mereka. Ada dua belas hidangan di atas meja, tetapi Anna hanya pantas memakan satu hidangan. Ketika Anna hendak mengatakan sesuatu, ponsel Rio berdering. Saat ini, wajah Rio berseri-seri. Dia menjawab telepon dengan riang, lalu pergi ke dapur untuk mengambil alat makan dan meletakkan alat makan itu di sampingnya. Setelah mengakhiri panggilan, dia bertanya pada Anna, "Sella sendirian di rumah dan tiba-tiba mati lampu. Dia nggak tahu harus pergi ke mana, aku menyuruhnya datang untuk makan bersama. Anna, seharusnya kamu nggak keberatan, 'kan?" Jelas-jelas Rio sedang menanyakan pendapatnya, tetapi malah terdengar seperti sedang mengabarinya. Anna tersenyum masam. Rio sudah bertindak sejauh ini, bahkan sudah menata piring dan sendok dengan rapi. Apa gunanya dia menentang? "Omong-omong, Anna, tadi kamu mau bilang apa?" Rio tiba-tiba teringat bahwa tadi Anna hendak mengatakan sesuatu, tetapi disela oleh dering teleponnya. Jadi, dia berinisiatif untuk bertanya pada Anna. Hari ini adalah hari peringatan lima tahun pernikahan mereka. Anna sangat menghargai kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua, dia tidak ingin diganggu oleh orang lain. Meskipun dia tahu Rio akan kesal mendengar ucapannya, dia tetap ingin mengutarakan isi hatinya. "Rio, hari ini adalah hari peringatan lima tahun pernikahan kita. Aku hanya ingin berdua denganmu, mengobrol dan makan ....." Memang benar, sebelum Anna selesai berbicara, Rio sudah menyelanya. Rio mengerutkan kening, dia tampak sangat kesal dan langsung membanting sendok di tangannya. "Aku tahu hari ini adalah hari peringatan lima tahun pernikahan kita, kamu nggak usah terus mengingatkanku." "Aku pesan begitu banyak makanan, kamu nggak bisa menghabiskannya sendirian. Sella menemaniku bekerja setiap hari, asam lambungnya sering kambuh karena kelaparan. Anggaplah ini kompensasi untuknya." Mendengar nada bicara Rio yang begitu tegas, Anna menundukkan kepala. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia mulai menyantap sup tomat dan telur di hadapannya. Tanpa sadar, matanya memerah. Air matanya menetes ke dalam sup, lalu disantap olehnya. Memang benar, dia tidak bisa menghabiskan semua hidangan ini. Sekalipun bisa, dia akan mati kekenyangan. Anna menghabiskan sup tomat dan telur itu dalam beberapa suapan. Ketika dia kembali mengangkat kepalanya, ekspresinya sudah kembali normal. Hanya saja, sudut matanya agak bengkak dan merah. Kalau Rio memperhatikan dengan saksama, Rio pasti akan menyadari ada yang aneh dengannya. "Rio, bagaimana kalau kita bercerai saja?" Rio yang duduk di seberangnya sedang menatap ponsel. Perhatian Rio tidak tertuju padanya, suatu senyuman tipis muncul di sudut bibir Rio. Sepertinya dia tidak mendengar ucapan Anna dengan jelas. Dia hanya bergumam pelan tanpa mengangkat kepalanya. Anna tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tetapi suatu rasa sakit perlahan-lahan melanda hatinya. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menahan kekesalannya. Ketika dia hendak mengulangi ucapannya, Rio menyelanya, "Sella sudah datang. Kalau ada urusan, kita bicarakan nanti." Anna membuka mulutnya, tetapi Rio bahkan tidak menunggunya berbicara dan meninggalkan ruang makan dengan terburu-buru. Melihat Rio pergi dengan tegas, Anna mengerutkan bibirnya dan menundukkan kepala untuk mengetik pesan. "Nanti, aku akan menemuimu di firma hukum." Ke depannya, Rio tidak perlu khawatir Anna akan mengganggunya berinteraksi dengan wanita lain. Lima tahun sudah berakhir, keinginan ibu Rio pun sudah terpenuhi. Namun, dia tidak ingin menunggu lagi. Bab 2 Tak lama kemudian, Rio membawa seorang gadis masuk ke rumah. Anna mengenalinya. Nama gadis itu Sella Candra. Sebenarnya, mereka adalah rekan kerja. Rio adalah bos perusahaan dan Sella adalah sekretarisnya. Sedangkan Anna adalah direktur keuangan perusahaan. Namun, untuk menghindari kesalahpahaman, seluruh perusahaan tidak mengetahui hubungan mereka. Bahkan saat berangkat dan pulang kerja pun, Rio selalu menghindari jam sibuk. "Kak Anna, ternyata kamu di sini. Kukira Pak Rio membohongiku." Sella melangkah maju untuk menggandeng lengan Anna. Nada bicaranya sangat lembut, tetapi terkesan agak licik. "Kak Anna, beri tahu aku, sebenarnya apa hubunganmu dengan Pak Rio?" Anna menarik lengannya dengan tidak nyaman. Ketika dia hendak memberi tahu Sella tentang hubungannya dengan Rio, Rio yang berdiri di samping angkat bicara. Nada bicara Rio dipenuhi dengan kasih sayang dan ketidakberdayaan. "Aku dan Anna hanya rekan kerja. Hari ini, dia sedang memeriksa keuangan perusahaan dan kebetulan bertemu denganmu. Kamu kira semua orang sama sepertimu? Sepulang kerja, bisa langsung berbaring dan menonton televisi?" Rio menjelaskan hubungan mereka dengan santai. Anna berdiri di samping Rio, dia menatap Rio untuk cukup lama. Seketika, sekujur tubuhnya membeku. Meskipun mereka bekerja di perusahaan yang sama dan menganggap satu sama lain sebagai rekan kerja, kata-kata yang diucapkan Rio bagaikan pisau yang menusuk ke hatinya. Anna menggertakkan giginya sambil berkata dengan kesal, "Rio, jelas-jelas kita ...." "Diam!" Rio tidak membiarkan Anna mengungkapkan hubungan mereka. Sebaliknya, dia mendelik Anna dengan galak. "Sebagian hal nggak pantas dikatakan, aku masih berhak buat keputusan." Anna menggelengkan kepalanya dengan kecewa. Harapan terakhir di balik matanya pun lenyap. Saat ini, Sella tersenyum. Mendengar hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja, Sella langsung duduk di samping Rio. Dia berkata dengan kaget, "Wah, semuanya makanan kesukaanku. Kak Rio, kamu baik sekali." Setelah melontarkan kalimat ini, Sella mengangkat kepalanya untuk mengecup pipi Rio. Rio tertegun. Setelah tersadar, dia diam-diam melirik Anna dengan sudut matanya. Melihat Anna sedang menundukkan kepala dan sepertinya tidak melihat adegan itu, dia pun menghela napas lega. "Makanlah. Aku tahu kamu menyukai makanan-makanan ini, kupesankan khusus untukmu." Mulut Sella dipenuhi dengan makanan lezat, suaranya terbata-bata dan dibaluti dengan nada centil. "Kak Rio, kamu menyebalkan sekali. Kamu tahu hari ini akan ada pemadaman listrik di kontrakanku, bukannya bilang lebih awal. Aku ketakutan waktu mandi." "Apa kamu terluka? Salahku, aku nggak menyangka akan begitu kebetulan." "Hehe, aku hanya bercanda. Waktu mati lampu, aku sudah selesai mandi." "Ini kejutan yang kusiapkan untukmu hari ini, apa kamu suka?" ... Keduanya saling menggoda. Anna tidak menyangka pembicaraan mereka akan begitu mesra, bahkan sudah melewati batas. Hingga Rio menaruh berbagai lauk di piring Sella, Anna baru menyadari bahwa semua hidangan ini adalah makanan kesukaan Sella. Di hari peringatan lima tahun pernikahan mereka yang sudah lama dia nantikan, ternyata dia hanyalah peran pendukung. Ternyata hari ini Rio pulang lebih awal dan menyiapkan semua hidangan lezat ini bukan untuk dia. Seketika, sepertinya dia tahu kapan Rio mulai berpindah hati. Hal yang menakutkan itu bagaikan batu besar yang menekan dada Anna hingga membuatnya sesak napas. Anna berdiri dengan ekspresi masam dan berniat untuk pergi. "Kalau nggak ada urusan lain, aku pergi dulu." Sella duduk diam di kursi sambil bertanya, "Kak Anna, kamu nggak makan dulu sebelum pergi?" "Sudahlah, nggak pantas." "Biar kuantar." Sella hendak bangun untuk mengantar Anna keluar, seolah-olah dialah nyonya di rumah ini. Namun, Rio malah menahan kursinya. "Dia tahu jalan, nggak usah diantar." Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Rio ketika Anna meninggalkan vila. Sama sekali tidak menahannya. Anna berdiri di luar vila sambil menghirup udara segar. Dia bukan hanya mengenal jalan, tetapi ini adalah rumahnya. Namun, sekarang dia bahkan tidak bisa pulang ke rumahnya. Mungkin waktunya tinggal di rumah ini akan segera berakhir. Bab 3 Rintik-rintik hujan menetes. Angin sepoi-sepoi meniup dahan di sepanjang jalan. Namun, semua itu tidak memengaruhi suasana hati Anna. Dia menelepon dengan tujuan yang jelas, lalu pergi ke sebuah firma hukum. Anna menekan lift dan berjalan ke kantor pengacara dengan familier. Terlihat jelas, ini bukan pertama kalinya Anna datang. "Pak Noel, bisakah kamu menyelesaikan surat perceraianku hari ini?" Pengacara yang duduk di seberangnya mengerutkan kening sambil membuka riwayat obrolan di ponselnya. "Sudah selesai setengah, kalau aku lembur hari ini, seharusnya bisa selesai." "Tapi, dilihat dari permintaanmu sebelumnya, bukankah kamu berencana untuk bercerai di bulan depan? Kenapa kamu mempercepatnya?" Anna tersenyum tipis. "Lebih baik mengakhiri penderitaan daripada terlarut dalam penderitaan. Lagian, cepat atau lambat pasti akan terjadi." Anna berada di firma hukum hingga larut malam. Ketika pergi, dia membawa sebuah map hitam. Sejak meninggalkan firma hukum, dia terus mengerutkan keningnya. "Surat cerai ini perlu ditandatangani oleh kedua belah pihak." Sebagai salah satu pihak yang terlibat, dia sudah menandatangani surat itu. Namun sekarang, dia harus memikirkan cara untuk membuat Rio menandatangani surat itu. Ketika dia sedang merenung, ponselnya berbunyi. Rio yang menelepon. "Anna, di mana kamu? Sudah begitu malam, masih belum pulang? Kirimkan alamatmu, aku akan pergi menjemputmu." Setelah mempertimbangkan sejenak, Anna mengirimkan alamatnya. "Oke, aku akan menjemputmu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Dia berpikir kalau kali ini Rio datang menjemputnya, dia akan berterus terang pada Rio dan membicarakan hal ini baik-baik, termasuk soal dia sedang mempersiapkan perceraian. Namun, dua jam berlalu. Rio tidak kunjung datang. Ketika dia membuka ponselnya untuk menghubungi Rio, dia melihat unggahan baru di Instagram Story. Rumah Sella gelap gulita, hanya menyalakan sebatang lilin. Cahaya redup itu menyinari tangan kiri Rio. Meskipun sangat gelap, Anna tahu itu adalah Rio. Anna tidak mungkin salah mengenali cincin nikah mereka. [Rumahku mati lampu, bosku menemaniku di malam yang gelap ini!] Anna tertegun sejenak. Pada akhirnya, dia tersenyum masam. Pantas Rio belum datang, ternyata ada yang menahannya. Dia menyukai unggahan Sella, lalu berjalan pulang. Sesampainya di rumah, Anna mandi dan berbaring di kasur. Ketika Anna hampir terlelap, Rio baru pulang. Begitu naik ke kasur, dia langsung meletakkan tangannya di pinggang Anna. Rio menarik Anna ke depan dadanya. Bibirnya yang dingin bersentuhan dengan leher Anna. "Anna, kita sudah lama nggak bermesraan ...." Begitu Rio berbicara, tersebar aroma parfum yang kuat hingga membuat Anna bersin. Kebetulan, aroma parfum itu sama dengan parfum yang dipakai Sella. Hal ini membuat Anna merasa mual. Anna melepaskan diri dari pelukan Rio, suaranya sangat tenang. "Jangan hari ini, aku nggak enak badan." Ini adalah pertama kalinya Anna menolaknya. Suatu cahaya kaget melintas di mata Rio. Namun, setelah mendengar Anna bersin beberapa kali, Rio teringat bahwa dia melewatkan janji temu hari ini. Dia merasa bersalah. "Anna, kamu flu? Biar kuantar ke rumah sakit untuk diperiksa." "Maaf, Anna. Hari ini, aku melupakan janjiku, ada urusan mendadak di kantor. Awalnya aku berniat untuk menjemputmu, tapi nggak sempat karena terlalu sibuk." Anna memejamkan mata dan mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria yang sudah berbagi ranjang dengannya selama lima tahun ini, kini selalu membohonginya. Awalnya, Anna merasa bersalah karena menyiapkan surat cerai tanpa memberi tahu Rio. Namun, sekarang rasa bersalah itu lenyap. Bab 4 Keesokan paginya, mereka bergiliran meninggalkan vila. Begitu Anna tiba di lantai bawah kantor, dia melihat Rio dan Sella keluar dari mobil. Rio selalu memperjelas hubungannya dengan Anna, tetapi dia tidak pernah menyembunyikan kedekatannya dengan Sella. Menurut dia, hubungan mereka jujur, terbuka, tidak tercela dan tidak perlu disembunyikan. Sedangkan hubungannya dengan Anna bagaikan hubungan rahasia yang tidak boleh dipublikasikan. Melihat Anna, Sella berlari menghampirinya dan memberikan sekantong pangsit padanya. "Kak Anna, kebetulan sekali. Ini pangsit yang kubelikan untukmu, anggaplah sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah menyukai unggahanku semalam." Rio berjalan di belakang Sella. Mendengar ucapan ini, dia pun heran. "Menyukai unggahan apaan?" Sella membuka ponselnya untuk menunjukkan unggahan Instagram Story-nya semalam. Pupil Rio menyusut. Sepertinya dia teringat akan kebohongannya semalam, dia menatap Anna dengan gugup. Namun, ketika melihat Anna menerima pangsit yang diberikan Sella dengan tenang, dia pun menghela napas lega. Rio menghibur dirinya sendiri. Mungkin Anna tidak mengaitkan kedua kejadian itu. Anna menerima pangsit itu, lalu mengucapkan terima kasih dan masuk ke lift. Melihat Anna pergi, Rio mengerutkan kening. Dia merasa ada yang aneh dengan Anna hari ini, tetapi dia tidak dapat menemukan di mana letak keanehan itu. Sesampainya di kantor, Rio langsung menemui staf keuangan untuk menanyakan tentang kondisi pekerjaan Anna belakangan ini. "Semalam, aku melihat Bu Anna pergi ke Firma Hukum Wangsa. Mungkin ada sedikit urusan pribadi, butuh bantuan pengacara." Perkataan ini menarik perhatian Rio. Dia dan Anna adalah suami istri, tentu saja dia tahu kalau Anna membutuhkan pengacara. Muncul kecurigaan di hati Rio. Dia teringat pada alamat yang dikirimkan Anna semalam, kebetulan berada di dekat firma hukum. Dia hendak memanggil Anna untuk menanyakan hal ini. Tak disangka, Anna kebetulan mengetuk pintu kantor. "Pak Rio, ini daftar gaji karyawan bulan lalu, perlu ditandatangani." Anna mengeluarkan map hitam dari ransel, lalu menyerahkannya pada Rio. Anna menandai setiap halaman yang perlu ditandatangani. "Pak Rio, beberapa halaman ini perlu ditandatangani." "Aku tahu, kuperiksa dulu." Anna kebingungan dengan situasi ini. Biasanya, Rio tidak terlalu teliti. Namun, kali ini dia memeriksa dokumen-dokumen itu dengan teliti. "Kudengar semalam kamu pergi ke firma hukum?" Pertanyaan Rio membuat jantung Anna berdebar kencang. Kalau Rio mengetahui tentang surat cerai ini, apa Rio akan menandatanganinya? Anna tidak berani bertaruh. Sekarang, dia hanya ingin segera berpisah dengan Rio. "Kamu tahu perusahaan akan menandatangani proyek besar, aku meminta pengacara memeriksa isi kontrak itu." Sikap tenang Anna menumpas kecurigaan di hati Rio. Ketika dia melihat halaman terakhir yang perlu ditandatangani, dia langsung mengerutkan kening. "Kontrak apa ini? Kenapa cuma ada halaman terakhir?" Tidak terkandung banyak informasi di halaman itu, hanya tertulis keterangan kontrak rangkap tiga dan sejenisnya. Namun, Anna sudah mempersiapkan diri. Ekspresinya tidak berubah, dia menjawab dengan tenang, "Pagi ini, aku baru menemukan kesalahan dalam kontrak ini dan sedang direvisi. Tanda tangan dulu, kontrak ini sangat mendesak." Rio mengangkat kepalanya untuk menatap Anna. Dia yakin Anna tidak akan membohonginya, tetapi dia merasa ada yang aneh. Melihat Rio ragu-ragu, Anna yang semula tenang pun kembali gugup. Meskipun isi kontrak ini terbatas, kalau diperhatikan dengan saksama, akan terlihat kata-kata "surat perceraian dari firma hukum" di bagian kiri atas. "Rio, sepertinya Sella jatuh di luar." Anna memanfaatkan Sella untuk mengalihkan perhatian Rio. Saat ini, terdengar suara benturan dari luar yang mengacaukan pikiran Rio. Rio pun tidak memeriksa kontrak itu dan langsung menandatanganinya. Anna menghela napas lega dan pergi dengan puas. Sebelum pergi, dia melihat Rio memeriksa tubuh Sella dengan saksama. Jelas-jelas, hanya tumpah air, tetapi seolah-olah ada yang menyakiti barang kesayangannya. Kali ini, Anna sangat tenang. Saat dia memutuskan untuk bercerai, dia sudah menuntaskan perasaannya pada Rio. Bab 5 Sore itu, Anna langsung menghubungi Pengacara Noel. "Setelah menandatangani surat cerai, nggak ada yang perlu dilakukan lagi. Tapi, ada tahap mediasi selama 30 hari. Dalam periode itu, kalau salah satu pihak menolak untuk bercerai, akan dilakukan negosiasi ulang." Anna sudah mengetahui peraturan perceraian. Setelah kembali ke vila Rio, dia langsung berkemas. Dia memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari Rio. Setelah tinggal di vila ini selama lima tahun, dia meninggalkan jejak di setiap sudut rumah. Namun, ketika Anna mengemasi barang, dia baru menyadari bahwa barangnya sangat sedikit. Hal ini membuatnya manyadari bahwa Rio menikahinya dengan terpaksa. Kalau tidak, pernikahan yang sudah berjalan lima tahun ini tidak akan dipenuhi dengan penyesalan dan ketidakbahagiaan. Ketika Rio pulang, Anna sedang memasukkan handuk ke dalam kopernya sambil tersenyum masam. Rio mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Anna, kamu sedang berkemas? Kamu mau pergi ke mana?" Hari ini, Anna tidak menyangka Rio akan pulang secepat ini. Namun, dia tetap tenang dan melanjutkan aktivitasnya. "Nggak ke mana-mana. Hanya saja, sebagian pakaianku sudah lusuh dan tua, mau kusumbangkan." "Sumbangkan? Kenapa?" Anna tersenyum dan mengangkat kepalanya. "Bukannya aku sudah pernah memberitahumu? Sejak kecil, aku ...." Sebelum dia selesai berbicara, Rio sudah menyelanya. Karena ponsel Rio berdering, perhatiannya pun teralihkan dan dia tidak sempat memikirkan hal ini. Saat Rio mengangkat telepon, Anna melihat nomor penelepon dan nama yang tertera di layar, [Kucing Kecil]. Nama panggilan unik yang menggemaskan dan mesra. Berbeda dengannya, Rio hanya menamai kontaknya dengan nama lengkapnya. "Aku sudah pulang, tunggu aku di rumah. Aku akan segera datang." Setelah berkata demikian, Rio mengakhiri panggilan sambil tersenyum. Ketika mengangkat kepalanya, dia baru menyadari bahwa Anna mendengar seluruh perbincangan mereka. "Sella mencarimu?" tanya Anna. Rio menjelaskan dengan gugup, "Anna, jangan salah paham. Rumah Sella mati lampu lagi, nggak aman kalau seorang gadis sendirian di rumah. Dia takut gelap, jadi aku ...." Anna langsung menyela penjelasan Rio. Dia tersenyum sambil mengatakan bahwa dia dapat memahami keadaan Sella. Namun, reaksinya ini justru membuat Rio gelisah. Perubahan sikap Anna membuatnya kebingungan. Seperti selembar kertas yang dapat dirobek dengan mudah. Namun, Rio tidak dapat menyentuh kertas itu dan tidak dapat menemukan jawabannya. Rio melihat koper yang sudah dikemas oleh Anna, lalu melihat sekeliling. Seluruh rumah tampak seperti sebelumnya, tidak ada perubahan. Pakaian sehari-hari sudah disetrika dan ditata dengan rapi. Bahkan setiap setelan jas sudah dipadukan dengan dasi yang cocok. Rio tidak dapat menemukan letak keanehannya, jadi dia mengira bahwa belakangan ini dia terlalu sibuk dan berprasangka buruk pada Anna. "Oh, ya, Anna. Tadi, kamu mau bilang apa? Bagaimana kalau kita pergi ke rumah Sella bersama?" Anna terdiam untuk cukup lama. Tadi, dia ingin memberi tahu Rio bahwa dia dibesarkan di panti asuhan. Beberapa tahun ini, dia sesekali akan pergi ke panti asuhan untuk mengunjungi kepala panti dan anak-anak. Namun, setelah dipikir-pikir, dia merasa hal ini tidak perlu diungkapkan. Mengenai Rio mengajaknya pergi ke rumah Sella bersama, Anna pun menolak. Dia menepuk koper yang baru saja dikemas. "Aku nggak ikut, aku masih harus mencari tempat untuk menyumbangkan semua pakaian ini." Alasan ini berhasil menumpas kecurigaan Rio. Namun kali ini, Rio tidak pergi begitu saja. "Kalau begitu, aku akan menemanimu. Aku bisa mengendarai mobil, lebih praktis." Dia menatap Anna, seolah-olah mencoba untuk membaca isi hatinya. Namun kali ini, Anna hanya menundukkan kepala dan tidak menolak. Dia sangat memahami Rio. Dia mengetahui bahwa Rio merasa ada yang aneh. Hanya tersisa 30 hari, dia tidak ingin usahanya terbuang sia-sia. Keduanya masuk ke mobil. Ketika Anna memikirkan cara untuk menyingkirkan Rio, sebuah pesan dari Sella berhasil membuatnya pergi. Rio menatap Anna dengan rasa bersalah. "Anna, maaf. Kali ini, aku nggak bisa menemanimu pergi menyumbangkan pakaian. Ada urusan pekerjaan yang harus kutangani." Anna tersenyum dan mengangguk setuju. Selama ini, Rio mengira dia menyembunyikan segalanya dengan baik. Saat hendak keluar dari mobil, Anna tiba-tiba bertanya pada Rio, "Kalau enam tahun lalu aku nggak menyelamatkan Bibi Sinta, kamu nggak akan menikah denganku, 'kan?" Rio tidak tertarik dengan pertanyaan ini. Saat ini, seluruh perhatiannya tertuju pada Sella, dia bahkan berharap bisa segera tiba di sisi Sella. "Nggak, kok. Kita menikah karena aku mencintaimu." "Sesederhana itu?" "Tentu saja!" Anna tiba-tiba tersenyum. Anna tetap memutuskan untuk merelakan Rio yang sudah berpindah hati. Merelakan pria yang bahkan tidak ingin menghabiskan waktu untuk berbicara dengannya. Hingga mobil Rio menghilang dari pandangan Anna, air mata mengalir dari sudut matanya. Dia berkata dengan pelan, "Dasar penipu." Bab 6 Kisah pertemuan Anna dan Rio penuh dengan kebetulan. Anna yang baru datang ke kota ini, memilih untuk menyewa rumah ibu Rio. Pada hari pertama dia pindah, ibu Rio tiba-tiba jatuh sakit dan pingsan. Untung Anna menemukannya tepat waktu dan mengantarnya ke rumah sakit. Meskipun Sinta berhasil dioperasi, kesehatannya memburuk. Selain itu, dia perlu dirawat jangka panjang. Kebetulan, Anna baru datang ke kota ini dan belum bekerja. Jadi, di bawah bujukan Rio dan ibunya, Anna pun menerima tawaran pekerjaan itu. Namun sayangnya, penyakit Sinta bertambah parah. Setahun kemudian, dia meninggal. Rio menuruti keinginan ibunya, dia menikah dengan Anna. Dalam sekejap, lima tahun berlalu. Awalnya, Anna berpikir bahwa suatu hari dia akan berhasil menghangatkan hati Rio yang dingin. Namun lima tahun kemudian, dia sudah lelah. Dia sudah tidak sanggup berusaha. Anna perlahan-lahan mendorong kopernya kembali ke vila, lalu menghubungi seseorang. "Kak Thea, tolong sewakan rumah untukku. Nggak usah terlalu besar, cukup untuk satu orang saja. Lebih baik lagi kalau bisa langsung ditempati bulan depan." Kak Thea yang berada di ujung lain telepon bertanya dengan kebingungan, "Sewa rumah? Anna, bukannya kamu masih punya beberapa rumah yang belum terjual? Kenapa kamu ingin sewa rumah?" Kak Thea adalah agen properti yang merekomendasikannya untuk menyewa rumah ibu Rio. Selama beberapa tahun ini, Anna memercayakan semua rumah yang dia beli pada Kak Thea. Bisa dibilang, Kak Thea adalah satu-satunya teman yang akrab dengannya di kota ini. "Kalau kamu nggak punya tempat tinggal atau ingin ganti suasana baru, kamu bisa tinggal di rumah tua Nyonya Sinta." "Tempat itu tenang, lingkungannya nyaman dan nggak jauh dari kantormu ...." Tentu saja, Anna tidak menerima saran Kak Thea. Pada dasarnya, dia ingin mengakhiri hubungan dengan Rio. Bagaimana mungkin dia tinggal di tempat yang berhubungan dengan Rio? "Kak Thea, tolong carikan rumah lain untukku!" Nada bicaranya sangat tenang dan tegas. Sepertinya Kak Thea yang berada di ujung lain telepon dapat merasakan tekad Anna, dia tidak mencoba untuk membujuk Anna lagi. Saat ini, terdengar suara Rio dari belakang Anna. "Anna, kamu sedang bicara dengan siapa?" Anna kaget. Dia segera mengatakan sesuatu pada Kak Thea, lalu mengakhiri panggilan. Dia menatap Rio dengan tenang. "Aku sudah lama nggak mengobrol dengan Kak Thea, aku mengajaknya pergi berbelanja akhir pekan ini." Perkataan Anna yang kurang meyakinkan itu membuat Rio mengerutkan kening. Dia tahu Kak Thea adalah salah satu dari sedikit teman yang dimiliki Anna, mereka sesekali akan saling menghubungi. Namun, Anna memiliki kepribadian yang dingin. Dia tidak terlalu tertarik untuk berbelanja. Lima tahun ini, dia hanya beberapa kali keluar dengan orang lain. "Kenapa tiba-tiba ingin berbelanja?" Rio melepas mantelnya dan menoleh ke arah Anna yang sedang duduk di sofa, kerutan di keningnya menjadi makin dalam. Dulu, setiap dia pulang, Anna akan langsung menyambutnya, mengambil mantelnya dan menggantung mantelnya di rak. Namun belakangan ini, dia tidak diperlakukan seperti itu. Kali ini, Rio mulai tidak tenang. "Bukannya kamu nggak suka berbelanja?" Anna menunduk untuk memainkan ponselnya. "Aku baru menyumbangkan pakaianku. Kebetulan sedang ganti musim, aku butuh beberapa baju baru, sekalian bertemu dengan Kak Thea." Rio menatap Anna dengan penuh maksud, seolah-olah sedang mencari celah dari kata-katanya. Perasaan aneh yang sulit dideskripsikan ini membuat Rio merasa tidak nyaman. "Akhir pekan ini seharusnya aku senggang. Bagaimana kalau aku menemanimu? Aku sudah lama nggak menemanimu berbelanja." Akhirnya, Anna mengangkat kepalanya untuk menatap Rio. Rasa waspada melintas di matanya. Setelah beberapa saat, Anna berkata dengan nada merajuk, "Kamu terlalu sibuk, lupakan saja. Lagian perusahaanmu begitu besar dan semua orang bergantung hidup padamu." Inilah perkataan yang paling sering digunakan oleh Rio untuk menolaknya. Setelah Anna berkata demikian, Rio malah merasa lega. Rio tersenyum dan merangkul bahu Anna. "Kamu masih marah?" "Aku tahu belakangan ini aku terlalu sibuk hingga mengabaikan perasaanmu. Akhir pekan ini, aku pasti akan menemanimu." Anna menundukkan kepalanya, tidak terlihat kekecewaan di mata Anna. Anna bergumam dalam hati, 'Sebentar lagi.' 'Sebentar lagi, kita akan berpisah, Rio.' Bab 7 Dalam sekejap, hari Minggu tiba. 24 hari menuju perceraian. Akhir-akhir ini, Rio lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Namun, hatinya tidak berada di rumah. Karena Anna berusaha untuk menutupi kejanggalan, Rio tidak menemukan satu pun keanehan di rumah. Koper berisikan pakaian diletakkan di depan pintu selama satu minggu, tetapi tidak ada yang membicarakannya. Hari ini, Anna akan pergi melihat rumah bersama Kak Thea. Rio terus mengikuti Anna, seolah-olah akan memenuhi janjinya. Anna terpaksa mengajak Rio pergi ke mal. Mal dipenuhi dengan berbagai jenis barang, tetapi mereka tidak memiliki tujuan. Anna terus memikirkan cara untuk melarikan diri, sedangkan Rio sibuk memilih pakaian yang cocok untuk gadis remaja. "Rio, bagaimana kalau kamu mengajak Sella datang berbelanja?" Mendengar ucapan ini, mata Rio langsung bersinar. "Kamu serius? Sepertinya kurang pantas. Hari ini, aku sudah berjanji akan menemanimu, nggak membahas pekerjaan." Anna mengeluh dalam hati. Rio sudah mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Sella. Kenapa dia bersikap seolah-olah keberatan dan mencoba untuk membohongi diri sendiri? Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Sella tiba. Anna tidak bodoh, dia bisa menebak bahwa Sella sudah tiba di mal dan sedang menunggu momen yang tepat. Tentu saja, dia mengetahui siapa yang memberi tahu Sella. Hanya Rio yang akan melakukan hal seperti ini. Mereka bertiga, tetapi pada akhirnya hanya dua orang yang bahagia. Tiba-tiba, alarm mal berbunyi. Kebakaran! Asap hitam mengepul dan orang-orang berlarian. Rio melindungi Sella dengan waspada. Anna yang berada di tengah kerumunan terdorong hingga hampir jatuh ke lantai. Dia berbalik dan saling bertatapan dengan Rio. Rio tampak sangat cemas, dia hendak melangkah maju. Namun, karena berulang kali didesak oleh Sella, dia pun berbalik pergi. "Anna, tunggu aku. Setelah aku mengantar Sella keluar, aku akan datang menyelamatkanmu." Anna tidak menunjukkan ekspresi apa pun, dia hanya menyaksikan Rio dan Sella menghilang di antara kerumunan. Di tengah situasi yang kacau ini, Anna diam-diam meninggalkan mal. Dia bertemu dengan Kak Thea, lalu pergi melihat beberapa rumah. Ketika Anna tiba di rumah, hari sudah larut. Anna tidak menyangka Rio masih menunggunya. Melihatnya masuk, Rio berlari menghampirinya. Beberapa jam tidak bertemu, ekspresi Rio menjadi sangat muram. "Anna, kamu pergi ke mana? Ponselmu nggak bisa dihubungi, aku sangat khawatir." Rio meraih lengan Anna, lalu memutar-mutar badannya hingga melihat bekas merah di lehernya. Tiba-tiba, Rio menampar dirinya sendiri. Suara renyah itu membuat Anna tertegun, tetapi dia segera tersadar. "Maaf, Anna. Hari ini, aku salah, ini salahku ...." Anna tertawa pelan. Dia tidak merasakan emosi apa pun, hanya agak bosan. "Aku baik-baik saja. Aku terlalu fokus berbelanja dengan Kak Thea, ponselku kehabisan baterai." Lalu, dia melangkah maju untuk melepaskan tangannya dari genggaman Rio. "Hari ini, aku agak lelah, aku akan kembali ke kamar untuk beristirahat." Rio masih berdiri di tempat dengan linglung. Seketika, dia merasa Anna menjauh darinya dan sulit digapai. Bab 8 Dalam beberapa hari berikutnya, Anna terus berada di rumah. Agar Rio tidak mencurigainya, dia tidak pergi ke mana pun dan hanya menunggu di rumah. Dia sudah menemukan tempat tinggal baru. Tak disangka, di hari terakhir penandatanganan kontrak, pemilik rumah berubah pikiran. Kak Thea menelepon Anna. "Pemilik rumah itu bilang seorang pria bernama Rio menawarkan harga tinggi demi seorang gadis bernama Sella. Jadi, rumah itu disewakan padanya." Dia mengetahui hubungan Anna dengan Rio. Terlebih lagi, belakangan ini sikap Anna sangat aneh, jadi dia sudah menduga hal ini. Anna tidak berbasa-basi, dia hanya meminta Kak Thea mencarikan rumah baru untuknya. Malam hari, Anna sengaja menguji Rio. "Kudengar kamu menyewakan rumah untuk Sella?" Sebenarnya, Anna tidak bermaksud lain. Dia hanya ingin memastikan hal ini untuk menghindari area tempat tinggal itu. Rio tampak sangat gugup, dia terus mengusap tangannya. "Anna, jangan salah paham. Kamu juga tahu lingkungan kontrakan Sella sebelumnya kurang baik, sering mati lampu." "Aku hanya menganggap Sella sebagai karyawanku, bisa dibilang ini adalah fasilitas yang diberikan perusahaan." Anna mengatakan bahwa dia dapat memaklumi hal ini. Dia tidak menyalahkan Rio, dia bahkan bercanda untuk menghibur Rio. Melihat sikap Anna yang aneh ini, suatu rasa takut melintas di mata Rio. "Anna, kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Anna yang sedang memainkan ponselnya tertegun sejenak, tetapi dia segera menenangkan diri. Dia mengangkat kepalanya sambil tersenyum. "Nggak." "Kenapa kamu bilang begitu?" Rio tidak menjawab. Dia merasa Anna menyembunyikan sesuatu darinya. Namun, dia tidak memiliki bukti apa pun. Jadi, dia tersenyum paksa sambil berkata, "Nggak apa-apa." Beberapa hari kemudian, dengan bantuan Kak Thea, Anna menemukan sebuah rumah yang jaraknya jauh dari area rumah sebelumnya. Setelah menyelesaikan prosedur sewa, Anna langsung memindahkan semua barangnya ke rumah itu. Anna bahkan tidak meninggallkan handuk maupun sandal di vila Rio. Malam ini adalah malam terakhir Anna tinggal di vila Rio. Anna mengirimkan pesan pada Rio, malam ini dia berencana untuk mengungkapkan segalanya pada Rio. Dia telah menyiapkan berbagai macam hidangan, bisa dibilang ini adalah makan malam terakhir mereka sebelum bercerai. Sayangnya, Rio tidak datang. Ketika jam menunjukkan pukul 10, Rio masih belum pulang. Anna mengeluarkan ponselnya, lalu melihat Rio sedang menghabiskan waktu bersama Sella. Kemudian, dia menemukan bahwa hari ini juga adalah hari pertama Sella pindah ke rumah baru. Dia menyaksikan semua ini dengan tenang. Demi Sella, Rio bahkan tidak bersedia meluangkan waktu untuknya? Anna membuang semua makanan di meja ke tempat sampah. Rio, kalau kamu tahu hari ini adalah hari berakhirnya tahap mediasi perceraian kita, apa kamu akan datang? Anna meninggalkan sepucuk surat untuk Rio. Namun setelah dipikir-pikir, mereka sudah bercerai dan tidak ada artinya membahas masa lalu. Anna merobek surat itu dan membuangnya ke tempat sampah, hanya meninggalkan salinan surat cerai. Selain itu, dia juga melepaskan cincin nikah di jari manisnya. Dia menghilangkan semua jejaknya di vila. Akhirnya, dia menutup pintu dan pergi. Setelah Anna pergi, Rio pulang. Dia merapikan kerah bajunya seperti biasa, lalu memeriksa sekujur tubuhnya dan memasang senyuman untuk meminta maaf. Dia membuka pintu dan langsung meminta maaf. "Maaf, Anna. Waktu aku mau pulang, aku bertemu dengan klien penting, Pak Gary, jadi aku makan dan ngobrol bersamanya." Namun kali ini, ruangan sunyi senyap, hanya terdengar gema suaranya. Rio memanggil nama Anna beberapa kali. Tidak ada yang menanggapi. Seketika, ekspresinya berubah muram. Angin dingin berembus dari lorong hingga membalikkan surat cerai dan surat pengunduran diri yang terletak di meja kopi. Di antara lembaran surat cerai yang berantakan itu, terlihat tanda tangannya. Rio membelalakkan matanya sambil bergumam, "Nggak mungkin, ini pasti palsu! Aku nggak pernah menandatangani benda seperti ini!" Dia duduk di meja kopi dan membolak-balik isi surat cerai itu. Dia mengeluarkan ponselnya dengan gemetaran, lalu menghubungi Anna.