Đang tải thông tin quảng bá...
Malam Panas, Hati yang Membeku
Pada hari penglihatanku pulih, di kamar mandi aku melihat satu set pakaian dalam wanita yang bukan milikku. Aku menyembunyikan hal itu, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Di siang bolong, M...
Chương (1)
第1章
Pada hari penglihatanku pulih, di kamar mandi aku melihat satu set pakaian dalam wanita yang bukan milikku.
Aku menyembunyikan hal itu, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Di siang bolong, Morin pulang lagi untuk memasakkan makananku. Saat aku makan, seperti biasa dia memutar musik untukku.
Dia berkata, "Mia, hatiku terasa sakit melihatmu nggak bisa melihat. Semoga musik bisa membuatmu lebih bahagia."
Namun kali ini, di tengah suara musik yang memekakkan telinga, aku melihat seorang wanita duduk di pangkuan Morin.
Dengan kasar Morin merobek tali bahu wanita itu, meninggalkan bekas merah gelap di kulitnya yang putih. Wajahnya yang penuh gejolak nafsu tepat menghadap ke arahku.
Seperti biasanya, aku meraba-raba menaiki tangga, lalu menekan nomor yang sudah lama tak pernah kuhubungi.
"Yuvan, aku setuju jadi pengganti cinta pertamamu."
"Tapi kamu harus membantuku satu hal."
Bab 1
Pada hari penglihatanku pulih, di kamar mandi aku melihat satu set pakaian dalam wanita yang bukan milikku.
Aku menyembunyikan hal itu, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Di siang bolong, Morin pulang lagi untuk memasakkan makananku. Saat aku makan, seperti biasa dia memutar musik untukku.
Dia berkata, "Mia, hatiku terasa sakit melihatmu nggak bisa melihat. Semoga musik bisa membuatmu lebih bahagia."
Namun kali ini, di tengah suara musik yang memekakkan telinga, aku melihat seorang wanita duduk di pangkuan Morin.
Dengan kasar Morin merobek tali bahu wanita itu, meninggalkan bekas merah gelap di kulitnya yang putih. Wajahnya yang penuh gejolak nafsu tepat menghadap ke arahku.
Seperti biasanya, aku meraba-raba menaiki tangga, lalu menekan nomor yang sudah lama tak pernah kuhubungi.
"Yuvan, aku setuju jadi pengganti cinta pertamamu."
"Tapi kamu harus membantuku satu hal."
Di seberang telepon, suara rendah pria itu tidak ada sedikit pun keraguan.
"Baik."
Aku menutup telepon, lalu dengan perlahan berjalan turun lagi.
Sebenarnya kalau didengarkan dengan saksama, di tengah musik berisik itu, terdengar beberapa jeritan perempuan yang terhanyut dalam gairah.
Morin pernah menjelaskan padaku kalau itu hanya efek bawaan musik.
Maka saat aku sampai di lantai bawah, aku segera mematikan perangkat audio.
Di vila yang luas itu, sesaat hanya tersisa suara rengekan manja meminta ampun dari wanita itu.
Aku berbalik segera menghadap ke arah Morin.
Di mataku yang tenang tanpa riak emosi, terpantul kepanikan yang tiba-tiba muncul di wajahnya.
Morin segera menutup mulut wanita itu dengan tangannya, menghempaskan wanita itu ke samping, lalu diam-diam bangkit dan berputar ke belakangku.
Dia bahkan menginjak beberapa anak tangga, berpura-pura baru saja turun.
"Mia, sudah kenyang?"
"Kenapa mematikan musik? Mau tidur siang, ya?"
Lengan pria yang panjang merangkulku dari belakang, kemeja yang belum terkancing menyingkapkan setengah dadanya, melekat erat ke punggungku.
Kehangatannya justru terasa menjijikkan
Bab 2
Aku bahkan bisa dengan jelas mencium aroma gairah yang terpancar dari tubuhnya.
"Hmm, aku sudah kenyang, agak mengantuk."
Aku menundukkan pandangan sedikit, berusaha membuat ekspresi dan suaraku terdengar setenang mungkin.
Wanita itu sedang menatapku.
Di matanya tersirat rasa cemburu. Dengan kesal dia mengusap lengannya yang tadi terbentur ketika didorong Morin.
Di pakaian yang berserakan di lantai, aku juga melihat sebuah jas dokter dengan bertulisan Rumah Sakit Sarosa.
Di bagian kerah tersemat sebuah label nama, tertulis: [Dokter Bedah Saraf Rosa Brinus].
Aku ingat, waktu itu dokter yang memeriksa pendarahan otakku, salah satunya memang dengan marga Brinus.
"Baik, kalau begitu aku bawa kamu naik ke atas untuk tidur, ya?"
Morin dengan lembut merangkul pinggangku, memapahku perlahan menaiki tangga.
Saat naik, dia masih menggunakan suara lembut, seakan sedang membujuk anak kecil,
"Hati-hati tangganya, satu, dua, tiga ...."
"Mia hebat sekali, nanti malam aku pulang lebih cepat untuk memasak yang enak sebagai hadiah untukmu."
Aku tersenyum getir tanpa suara, bibirku terangkat tipis.
Dulu demi menyelamatkan Morin, kepalaku dihantam keras oleh penjahat. Pendarahan otak menekan saraf penglihatan hingga aku menjadi buta.
Waktu itu, Morin sebagai seorang presiden direktur perusahaan besar, turun tangan sendiri untuk merawat kehidupanku sehari-hari.
Tiga tahun berlalu, dia masih tetap menjaga kebiasaan itu.
Lama-kelamaan, semua orang pun lupa bahwa aku adalah penolong nyawa Morin. Mereka hanya mengingat, betapa baiknya dia memperlakukan aku.
Dia berwajah tampan, kariernya sukses, juga seorang pria lembut yang setia serta penuh cinta.
Semua orang merasa iri padaku. Bahkan aku sendiri pun terjebak di dalamnya, mengira aku adalah wanita paling bahagia.
Kalau bukan karena tiba-tiba penglihatanku pulih kembali, mungkin aku masih akan tenggelam dalam kebohongan manisnya.
Dia menuntunku ke tepi ranjang, menemani diriku yang setengah berbaring di sandaran, sementara tangan lainnya sibuk mengirim pesan melalui ponsel.
Dia tidak tahu bahwa penglihatanku sudah pulih, sama sekali tidak berusaha menghindar dariku. Aku bisa jelas melihat percakapan di layar.
Nama orang itu ditandai dengan sebuah hati berwarna merah muda, dan foto profil lawan bicaranya adalah wajah wanita yang tadi kulihat di lantai bawah.
Bab 3
[Kak Morin, kenapa kamu belum turun juga?]
[Aku sudah nggak tahan lagi. Kalau kamu nggak turun membantuku, aku akan naik mencarimu!]
Jari-jari Morin bergerak sangat cepat, gerakannya begitu terbiasa. Sama sekali tidak tampak terganggu, walau satu tangannya tertimpa diriku yang setengah berbaring di atas ranjang.
[Mia mau tidur siang, kamu nggak boleh naik mengganggunya. Jangan menantang batas kesabaranku. Kalau kamu membuat dia merasa nggak senang, maka jangan harap bisa masuk rumah ini lagi.]
Di seberang segera terdiam, jelas tahu bahwa Morin benar-benar serius.
'Tetapi Morin, jika kamu sungguh tidak ingin dia menggangguku, jika aku benar-benar adalah garis batasmu ....'
'Kenapa kamu membawanya ke rumah kita, kenapa kamu membiarkan dia hadir dalam hubungan kita?'
Mana yang benar, mana yang palsu, aku sepertinya tidak bisa membedakannya.
Aku pun tidak berani percaya lagi.
Lima menit kemudian, Morin dengan lembut mencubit pipiku.
"Mia, waktunya tidur siang, aku juga harus ke ruang kerja di lantai tiga untuk bekerja."
Aku menundukkan wajah dan mengangguk pelan.
Berpura-pura tidak melihat pesan terbaru yang baru saja dia kirimkan kepada Rosa di ponselnya.
[Kamu tunggu aku di ruang kerja lantai tiga, jangan menimbulkan banyak suara.]
Morin menolongku berbaring, menjaga agar aku tidak terbentur kepala ranjang. Telapak tangannya diletakkan ke atas kepalaku sebagai perlindungan.
Sebelum pergi, dia menyelimutiku rapat-rapat, lalu menjatuhkan sebuah kecupan ringan di dahiku.
"Selamat tidur siang, Mia."
Serangkaian gerakan mengalir dengan begitu alami, sempurna sesuai dengan citra dirinya sebagai pacar lembut yang penuh perhatian.
Aku membalikkan badan dan membelakanginya. Setelah mendengar pintu kamar benar-benar tertutup, aku akhirnya tidak bisa membendungi air mataku lagi.
Dalam tiga tahun terakhir, setiap kali menemaniku tidur siang, dia meluangkan sebagian besar waktunya di ruang kerja lantai tiga di rumah, bukannya pergi ke kantor.
Aku pernah mengira itu karena dia ingin lebih banyak menemaniku.
Namun sekarang, aku berhenti di depan pintu ruang kerja lantai tiga, yang terdengar justru suara napas manja dan menggoda dari balik pintu.
Bab 4
"Kak Morin, apa aku nggak boleh mengandung anak kita sendiri? Kenapa justru harus menaruh embrio milikmu dan Mia ke dalam rahimku."
Suara pria itu terdengar agak terengah, tetapi nadanya sangat tegas.
"Anakku hanya bisa milik Mia, jangan tanyakan hal semacam itu lagi."
"Asal kamu bisa melahirkan anak dengan selamat, kamu selamanya adalah wanitaku. Bagaimanapun, aku juga nggak ingin anakku dilahirkan oleh seorang buta."
Aku tertawa sinis. Tiba-tiba aku teringat, sebelum aku kehilangan penglihatan, demi karier Morin, kami memutuskan untuk sementara tidak memiliki anak.
Maka aku pergi ke rumah sakit untuk membekukan sel telur.
Jadi sekarang yang ada di rahim Rosa, adalah anakku sebelum aku buta.
Perutku segera terasa bergolak hebat.
Tadinya aku tidak banyak makan. Namun setelah kembali ke kamar, aku tetap berpengangan pada kloset dan muntah habis-habisan.
Seolah-olah hanya dengan membuat tubuhku sakit, hatiku bisa terasa sedikit lega.
'Morin, kamu menipuku dengan terlalu kejam.'
"Mia, Mia?"
Pintu kamar mandi didobrak dengan paksa. Di luar sana, terdengar suara Morin yang entah sejak kapan turun ke bawah.
"Kamu kenapa? Nggak apa-apa, 'kan?"
Suaranya terdengar sangat cemas.
Namun, aku tiba-tiba teringat di depan pintu ruang kerja tadi, dia memanggil nama wanita lain dengan suara penuh hasrat.
Rasa mualku tak tertahan. Tepat ketika Morin berjongkok hendak menggendongku, aku kembali muntah.
Cairan kuning dari lambungku berbau amis menusuk, membasahi kemeja putih bersih Morin hingga penuh noda.
Walau begitu, dia seolah-olah tidak melihatnya, tetap saja memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku.
Melalui pantulan kaca, aku melihat tangan satunya malah mengeluarkan ponsel, memotret selfie dirinya yang rapi dengan diriku yang berantakan.
Setelah sekadar membersihkan, dia kembali menggendongku ke ranjang. Dengan hati-hati dia duduk di tepi ranjang, meniupkan obat yang baru saja diseduh untukku agar agak dingin.
"Mia, obatnya sudah hangat, minumlah sedikit ya."
Morin menyodorkan sendok kecil ke bibirku.
Tanpa segera membuka mulut, aku menatap kosong ke arahnya. Aku tiba-tiba tersenyum ....
"Morin, kalau aku bilang, aku tiba-tiba bisa melihat lagi, kamu senang nggak?"
Bab 5
Sendok yang digenggamnya tiba-tiba bergetar, menumpahkan cairan obat ke seprai berwarna merah muda.
Wajah Morin sempat terlihat panik sesaat. Namun dirinya segera mengendalikan ekspresinya, menampilkan raut gembira.
"Benarkah? Mia?"
"Aku bohong."
Sambil melontarkan kedua kata itu, aku menatapnya dengan mata yang kosong.
Tiga tahun aku buta, setidaknya aku telah belajar bagaimana berpura-pura tak bisa melihat.
Morin menatap mataku dengan tegang, seolah-olah ingin memastikan sesuatu.
Lama sekali, barulah dia seakan menghela napas lega, lalu berbicara dengan lembut, "Mia jangan khawatir, aku pasti akan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkanmu."
Dia masih ingin melanjutkan menyuapiku obat, tetapi getaran ponselnya berbunyi berkali-kali menandakan pesan masuk.
Morin tetap tidak menghindar dariku.
Rupanya itu pesan dari salah satunya dari asistennya.
[Pak Morin, paman Anda tiba-tiba mengumumkan malam ini akan mengadakan pernikahan.]
Sisanya semua dari Rosa.
[Kak Morin, kamu nggak akan membawa Mia ke pernikahan, 'kan? Dia buta, bagaimana kalau dia mempermalukan Keluarga Giani nanti?]
[Bagaimana kalau aku yang menemani kamu pergi? Aku dan bayi di dalam perutku pasti nggak akan mempermalukanmu.]
Morin yang sedang menggenggam gelas tertegun sesaat, akhirnya meletakkan gelasnya ke meja samping ranjang.
"Mia, perusahaan tiba-tiba ada urusan, malam ini mungkin aku nggak bisa pulang."
"Nanti saat aku kembali, aku akan membawakan hadiah untukmu. Aku juga akan menyuruh Bi Shinta datang menjagamu, jangan khawatir."
Ponselnya masih terus bergetar, gerakannya pun makin cepat. Bahkan lupa menunggu jawabanku, lalu benar-benar meninggalkan kamar.
Begitu dia pergi, aku pun mengeluarkan ponsel yang kusimpan di bawah selimut.
Di layar muncul satu pesan baru yang baru saja terkirim.
[Acara pernikahan ditetapkan malam ini, aku akan menjemputmu sekarang.]
Cepat sekali Yuvan tiba.
Sampai-sampai ketika aku sudah duduk di kursi penumpang depan, tepat berpapasan dengan mobil Morin dari arah berlawanan.
Wajahnya masih dihiasi senyum, sama sekali tidak menoleh ke arahku. Di kursi penumpang sampingnya, duduk Rosa yang memeluk seikat besar bunga mawar.
Bab 6
Wanita itu tersenyum cerah, wajahnya ceria, persis seperti diriku di masa lalu.
Namun sekarang, mataku terpancar kekosongan bagaikan mati rasa.
Aku merasakan cubitan lembut di daguku, memaksa diriku mengalihkan pandangan ke arah lain.
Yuvan berwajah dingin, tetapi bibirnya yang tipis itu justru mengujarkan kata-kata ngawur.
"Jangan lihat dia, lihat saja aku."
Aku hanya melotot padanya sesaat, lalu melepaskan daguku.
Suasana dalam mobil kembali sunyi. Mobil melaju kencang sampai tiba di sebuah butik pribadi yang menjual gaun pengantin.
HIngga aku mengenakan gaun pengantin dan muncul di hadapan Yuvan, pria yang selalu menganggap dirinya tenang itu, tidak mampu mengendalikan getaran halus di pupil matanya.
Dia menunduk menatapku, di dasar matanya terselubung perasaan yang sulit dijelaskan.
"Sangat cantik, pakai yang ini saja."
Aku mengangguk, seperti manusia robot yang hanya mendengarkan pengaturan.
Dalam pandanganku, ini hanyalah sebuah transaksi.
Aku menjadi pengganti cinta pertama Yuvan.
Dia membantuku menyelesaikan urusan Morin.
Bagaimanapun, aku tidak mungkin berpura-pura buta seumur hidup. Cepat atau lambat Morin akan tahu aku sudah bisa melihat.
Meski sekarang di sisinya sudah ada wanita lain, tetapi dia tidak akan dengan mudah membiarkanku pergi.
Aku menyangkut citra dirinya. Sikap itu sama seperti ketika dia mengunggah ke media sosial, foto dirinya yang penuh kasih di saat muntahanku mengotori bajunya.
Dia menikmati sanjungan semua orang, tetapi aku tak sudi lagi menjadi batu pijakannya.
Menjelang dimulainya pernikahan, aku berdiri di ruang pribadi dengan kaca transparan di lantai dua aula pesta, melihat ke bawah.
Pengaruh Keluarga Giani sangatlah kuat. Meskipun undangan mendadak, banyak tamu menghadiri pesta itu.
Morin meski bermarga Giani, sebenarnya hanyalah kerabat jauh yang sekadar kebetulan menyandang marga itu.
Selain itu, harta yang dimilikinya jauh lebih kecil dibanding sebagian besar orang yang hadir, dia hanya bisa duduk di sudut meja bersama Rosa.
Dia mengeluarkan ponsel, lalu meneleponku.
"Mia, aku sedang rapat besar dengan para investor, aku diam-diam meneleponmu untuk melapor."
Bab 7
Dia sengaja mengangkat ponselnya dan berputar di sekeliling, seolah-olah ingin membuat aku mendengar suara ramai di sekitar.
"Kamu dengar, 'kan? Banyak orang, 'kan?"
"Sudah ya, aku harus melanjutkan kesibukanku, kamu juga harus jaga diri baik-baik, ya, Mia."
Morin sangat pintar, dia tahu persis apa yang kuinginkan.
Dia memberikan diriku kelembutan, kebersamaan, dan rasa aman.
Namun, dia lupa memberiku ketulusan.
Aku memanggil namanya, menghalangi dirinya yang akan menutup telepon dengan terburu-buru.
Aku menatap wajah sampingnya yang secara alami membawa senyum saat berbicara denganku. Entah kenapa aku tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
"Morin, kamu benar-benar sedang rapat?"
Dia segera menjawab ya, lalu agak ragu bertanya ....
"Kenapa, Mia?"
Aku tidak menjawabnya, hanya berbicara pada diriku sendiri, "Morin, aku akan menikah."
Sepertinya dia tidak mengerti maksudku, hanya mengira aku sedang mendesaknya untuk menikah.
Tahun itu, pada hari kami diserang penjahat, sebenarnya tepat saat aku dan dia pergi mencoba gaun pengantin untuk persiapan pertunangan.
Ketika aku dirawat di rumah sakit setelah kejadian itu, dia berjanji akan menunggu aku keluar baru bertunangan.
Setelah aku keluar rumah sakit, katanya akan menunggu perusahaan lebih stabil baru bertunangan.
Setiap kali membicarakan topik itu, dia selalu bisa mengelak dengan alasan yang sempurna.
Sekarang juga begitu.
"Morin, kita putus saja."
Aku segera menutup telepon, berbalik dan berjalan menuju Yuvan yang sedari tadi menungguku di pintu.
Seluruh ruangan tiba-tiba menjadi gelap, menutupi keterkejutan Morin karena ucapanku barusan.
Aku menggandeng lengan Yuvan, perlahan menuruni tangga.
Suara pembawa acara menggema di seluruh aula perjamuan ....
"Selamat datang semuanya di pernikahan Pak Yuvan dan Nona Mia."
Lampu sorot tiba-tiba menyala, menerangi sosokku dan Yuvan yang berdiri di tangga spiral.
Dalam pandangan mataku, juga terlihat wajah terkejut Morin yang duduk di sudut ruangan.
Aku menatapnya, alis mataku melengkung membentuk senyum.
Dia tampak panik berdiri, hendak berjalan ke arahku.
"Mia, kamu sudah bisa melihat lagi?"
"Kenapa kamu malah jadi pengantin pamanku?"