Đang tải thông tin quảng bá...
Sinar di Balik Pengkhianatan
Selama tiga tahun menikah dengan Suryanto Pradana, Julianti Sahara telah mengalami enam puluh delapan kali percobaan pembunuhan oleh musuh-musuhnya. Diceburkan ke sungai, dibakar, diserang dengan pisa...
Chương (1)
第1章
Selama tiga tahun menikah dengan Suryanto Pradana, Julianti Sahara telah mengalami enam puluh delapan kali percobaan pembunuhan oleh musuh-musuhnya.
Diceburkan ke sungai, dibakar, diserang dengan pisau ...
Semua ini terjadi hanya karena Suryanto menguasai jaringan gelap Kota Beirus, membuatnya memiliki musuh yang tak terhitung jumlahnya.
Orang-orang itu yakin bahwa Julianti adalah titik lemah Suryanto, sehingga mereka tidak segan-segan menyerangnya.
Setiap kali Julianti berhasil selamat dari ambang kematian, Suryanto akan memeluknya dengan erat, matanya memerah, tangannya gemetar saat berkomunikasi dengan bahasa isyarat, "Aku yang tidak berguna, tidak bisa melindungimu dengan baik."
Hingga pada terakhir kali, Julianti diculik dan diikat di samping tangki penyimpanan minyak oleh musuhnya, lalu diledakkan hingga sekarat.
Julianti terbangun di rumah sakit dan menyadari bahwa pendengarannya pulih. Di telinganya terdengar suara Suryanto yang sedang berbicara dengan temannya.
"Dulu, saat Yulia Ananda diculik oleh musuhmu, untuk melindunginya, kamu sengaja memutus hubungan dengannya, lalu menikahi Julianti, si gadis tuli itu. Kamu memanjakannya sampai semua orang tahu, membuat musuh-musuhmu mengira bahwa Julianti adalah orang yang paling kamu cintai, sehingga dia berulang kali menjadi tameng bagi Yulia ... Apakah kamu tidak terlalu kejam melakukan itu?"
Bab 1
Suryanto terdiam sejenak, "Dulu jika bukan aku yang membawanya keluar dari desa nelayan, dia masih akan terus diperlakukan semena-mena oleh kerabat miskinnya itu. Aku memberinya kasih sayang, kekayaan yang tak terhitung, dan menanggung sedikit penderitaan demi Yulia adalah kewajibannya."
Temannya mengerutkan kening, "Kamu nggak takut dia benar-benar tewas?"
"Nggak takut," jawab Suryanto dengan acuh tak acuh, "Posisi sebagai istriku akan selalu banyak yang berebut."
Mendengar itu, Julianti seolah meledak, otaknya berdengung dan darah di seluruh tubuhnya seakan membeku.
Tiga tahun lalu, Perusahaan Pradana datang ke desa nelayan untuk mengembangkan bisnis.
Itulah pertama kalinya Julianti bertemu Suryanto.
Suryanto mengenakan setelan jas hitam yang dipotong dengan sempurna, bertubuh tegap, dengan alis dan mata yang tampan, sedang berbicara rendah dengan petugas desa.
Tiba-tiba sebuah ombak besar menghantam, Suryanto yang berdiri di tepi karang kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke laut.
Juliantilah yang terjun ke laut, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyelamatkan Suryanto dari air laut yang dingin.
Setelah kejadian itu, Suryanto bertanya padanya apa yang dia inginkan.
Julianti dengan hati-hati berkomunikasi dengan bahasa isyarat, "Aku ingin membawa nenek pergi dari sini."
Sejak kecil, Julianti sudah kehilangan kedua orang tuanya, dan hanya bergantung hidup bersama neneknya.
Kemudian neneknya sakit dan tidak bisa lagi merawatnya, sehingga dia terpaksa tinggal di rumah paman dan bibinya.
Paman dan bibinya menganggapnya sebagai beban, setiap hari memaksanya pergi ke laut untuk menangkap ikan, dan memberinya makan nasi basi serta lauk yang sudah rusak.
Julianti pernah mencoba melarikan diri, tetapi ditangkap kembali oleh pamannya, diikat di gudang kayu dan dipukuli selama tiga hari tiga malam, hampir tidak selamat.
Awalnya, Julianti tidak terlalu berharap banyak.
Tak disangka, tiga hari kemudian, bawahannya Suryanto datang sendiri ke rumah Julianti, mengatakan akan membawa Julianti dan neneknya ke Kota Beirus.
Pada masa awal dia tiba di Kota Beirus, Julianti bahkan lebih berhati-hati daripada saat tinggal di rumah pamannya. Setiap hari dia bangun sebelum fajar, meniru cara para pelayan bekerja, membersihkan rumah hingga bersih tanpa cela.
Dia tidak berani berharap terlalu banyak, hanya berharap Suryanto memberinya sesuap nasi.
Hingga suatu hari, Suryanto pulang dalam keadaan mabuk.
Ketika Julianti datang membawakan sup penawar alkohol, tiba-tiba Suryanto menarik pergelangan tangannya, dan tubuhnya langsung terjatuh ke dalam pelukan Suryanto.
Suryanto memeluknya dari belakang, menopang dagunya di bahu Julianti, dan dengan canggung menggunakan bahasa isyarat di depan Julianti, "Juli, maukah kamu menikah denganku? Mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja lagi, aku akan menafkahimu dan nenekmu seumur hidup."
Tubuh Julianti menjadi kaku, dan dia pun lari ketakutan.
Gadis dengan status seperti dia tidak pantas menjadi istrinya Suryanto.
Namun meski ditolak oleh Julianti, Suryanto tidak menyerah, justru semakin memperlakukannya dengan baik.
Suryanto belajar bahasa isyarat demi Julianti, menyewa ahli khusus untuk memulihkan kondisi tubuh Julianti yang lemah selama bertahun-tahun, dan memberi Julianti kehidupan yang serba mewah dan berkecukupan.
Suryanto membawa neneknya ke panti perawatan yang paling mewah di Kota Beirus, menanggung semua biaya pengobatannya.
Dia merapatkan kedua tangannya di bawah langit malam, dia menatap pada bintang jatuh yang melintas sambil berdoa, berharap Julianti dapat hidup dengan damai seumur hidup.
Hati Julianti yang telah lama membeku, akhirnya perlahan mencair oleh kehangatan Suryanto hari demi hari.
Jadi, ketika Suryanto sekali lagi melamarnya dalam keadaan mabuk, Julianti akhirnya mengangguk.
Suryanto mendorongnya ke tempat tidur dan menciumnya dengan penuh gairah, sementara sorot mata Suryanto memantulkan keraguan penuh bahagia yang terpancar dari mata Julianti.
Saat itu Julianti mengira, Suryanto adalah cahaya yang menyelamatkannya.
Tak disangka, semuanya adalah tipuan.
Suryanto menikahi Julianti hanya untuk menjadikannya tameng bagi wanita yang benar-benar dia cintai.
Dia melamarnya waktu itu bukan karena cinta, tapi karena Yulia diculik, sebagai cara untuk mengalihkan perhatian musuh.
Setiap kali melamar saat mabuk karena alkohol dapat mengaburkan kesadarannya, barulah dia mampu mengucapkan kata-kata palsu itu.
Belajar bahasa isyarat, agar akting cintanya lebih meyakinkan.
Menyewa ahli gizi dan berdoa untuk keselamatannya, adalah harapannya agar tameng ini bisa bertahan lebih lama, bisa menanggung lebih banyak bahaya untuk wanita yang benar-benar dicintainya!
Memikirkan semua itu, Julianti tidak bisa menahan lagi, dia terisak pelan penuh rasa sakit.
Suryanto mendengar suara di belakangnya, dia segera menghampiri Julianti.
Suryanto mengelap air mata Julianti dengan tisu, lalu berisyarat lembut, "Juli, sakit nggak? Ini salahku lagi. Tenang saja, orang yang menculikmu sudah aku habisi semua."
Kejadian seperti ini sudah terlalu sering dialami Julianti.
Dulu setiap kali dia diserang, Suryanto akan membalas dengan cara yang sangat kejam.
Suryanto akan mematahkan tulang orang-orang itu terlebih dahulu, membuat mereka terbaring di tanah kesakitan tidak bisa bangun, lalu melemparkan mereka seperti sampah ke kumpulan ikan hiu.
Yang paling mengerikan, Suryanto pernah mengambil senjata dan menembaki mereka hingga tubuh mereka berlubang-lubang, lalu menyeretnya ke krematorium dan membakarnya hingga tak bersisa.
Julianti pernah secara naif mengira bahwa balas dendam kejam Suryanto itu karena terlalu mencintainya, tidak tega melihatnya menderita sedikit pun.
Jadi betapa pun sakitnya dia, untuk menjaga perasaan Suryanto, dia akan tersenyum dan berkata bahwa dia baik-baik saja.
Sekarang dipikir-pikir, penampilannya yang penuh rasa terharu itu di matanya pasti sangat bodoh dan lucu!
Suryanto bahkan tidak menyadari pandangan hampa di mata Julianti. Suryanto memerintahkan asistennya untuk membeli bunga seruni putih kesukaan Julianti ke kamar rawat, dan menyuruh koki pribadi memasakkan makanan khusus untuk pemulihan, dan menyuapinya satu sendok demi satu sendok dengan sabar.
Tepat saat itu, telepon Suryanto berdering.
Suryanto mengangkat telepon, dan cahaya kilat tiba-tiba terlihat di matanya.
Kemudian, dengan alasan dokter memanggilnya untuk konsultasi, dia segera pergi.
Julianti merasa tidak tenang, tanpa sadar mencabut jarum infus di tangannya, menopang tubuhnya yang lemah, dan perlahan merangkak keluar dari kamar.
Di sudut koridor, dia melihat dua sosok sedang berpelukan.
Suryanto mendorong Yulia ke dinding, satu tangan menahan di atas kepalanya, mencium ubun-ubunnya dan berkata, "Siapa yang menyuruhmu datang ke sini, nggak tahukah keadaan sedang nggak aman?"
"Aku kangen kamu ... " jawab Yulia dengan manja sambil memeluk pinggangnya.
"Suryanto, kapan kita bisa bersama secara terbuka? Jelas kita sangat mencintai satu sama lain, tetapi harus sembunyi-sembunyi, aku sudah sangat lelah dengan kehidupan seperti ini."
"Sebentar lagi," kata Suryanto sambil menunduk dan memeluknya lebih erat. "Orang yang kukirim untuk menyusup sudah menyentuh inti jaringan mereka. Tak lama lagi kita bisa mencabut sampai ke akar-akarnya. Tujuh hari paling lama, setelah itu, tak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita."
Bibir Yulia sedikit terangkat, tetapi segera ditekan lagi, berpura-pura khawatir bertanya, "Lalu bagaimana dengan Julianti?"
"Tujuh hari lagi adalah hari pernikahan kami, aku akan menggunakan alasan perayaan untuk membawanya ke kapal pesiar, mengirimnya ke luar negeri. Tanpa izin dariku, dia selamanya nggak akan bisa kembali."
Di balik sudut, Julianti terpaku, bola matanya bergetar. Jari-jarinya mencengkram dinding yang dingin begitu kuat, hingga nyaris rubuh.
Dua minggu yang lalu, Suryanto mengatakan akan membawanya ke kapal pesiar untuk merayakan hari jadi pernikahan.
Saat itu Suryanto memeluknya, mata Suryanto lembut dengan tangan isyarat, "Kamu anak yang besar di pinggir laut, pasti sangat merindukan laut. Nanti aku akan menyalakan kembang api di laut, membuat seluruh langit malam terang untukmu."
Tapi Suryanto tidak pernah tahu.
Julianti telah menerima banyak penghinaan di desa nelayan, orang tuanya juga tewas dalam kecelakaan laut.
Yang paling Julianti benci adalah laut yang dingin itu.
"Oh ya, ambil ini," kata Suryanto yang tiba-tiba teringat sesuatu, melepas jimat yang dikalungkan di lehernya, dan memasukkannya ke telapak tangan Yulia. "Bawa ini, aku juga bisa lebih tenang."
Julianti menatap benda itu dengan gemetar.
Jimat itu ... adalah yang dulu Julianti dapatkan dengan berlutut di jalan kuil, dari kaki bukit sampai puncak, satu langkah satu sujud.
Hanya karena musuh Suryanto terlalu banyak, dia takut Suryanto juga mengalami nasib buruk.
Namun sekarang, Suryanto justru memberikan perhatiannya yang tulus kepada Yulia.
Julianti mengambil napas dalam-dalam, keputusasaan di matanya menghilang, hanya menyisakan kedinginan yang sunyi.
Jika Suryanto tak membutuhkannya lagi ...
Maka Julianti akan memenuhi keinginan Suryanto, menghilang dari dunia ini untuk selamanya.
Bab 2
Julianti tinggal di rumah sakit selama tiga hari.
Dia menyembunyikan fakta bahwa pendengarannya telah pulih. Setiap hari, dia berlatih berbicara secara diam-diam saat tidak ada orang.
Setelah dia bisa berbicara dengan normal, hal pertama yang dilakukannya adalah menelepon Hendra Setiawan.
Hendra adalah nelayan tua dari desa nelayannya, dan satu-satunya orang yang pernah menunjukkan kebaikan padanya.
Dulu ketika dia dipukuli pamannya sampai sekujur tubuhnya penuh luka, meringkuk di gubuk tua tepi pantai dan hampir tidak bertahan, Paman Hendra yang membawakan semangkuk bubur hangat, menyelamatkannya dari ambang kematian.
Telepon tersambung, suara Julianti serak saat membuka pembicaraan, "Paman Hendra? Ini aku, Julianti."
"Juli? Kamu ... sudah bisa bicara?"
Julianti tak sempat menjelaskan panjang lebar, dan langsung ke inti, "Paman Hendra, aku ingin meninggalkan Kota Beirus. Tujuh hari lagi, apakah Paman bisa duluan menjemput nenekku ke panti perawatan, lalu tunggu aku di laut? Nanti aku akan cari jalan ke sana menemui Paman."
Begitu ucapan itu selesai, langkah kaki terdengar dari koridor.
Jantungnya mencelos, buru‑buru Julianti memutuskan sambungan telepon.
Saat Suryanto masuk ke kamar rawat, ada kilatan keheranan di matanya.
"Kok aku dengar ada yang bicara?" tanya Suryanto dengan bahasa isyarat.
Jantung Julianti hampir berhenti setengah detik. Dengan pura‑pura tenang, dia menjawab dengan tangan isyarat, "Aku lagi nonton video."
Suryanto tidak bertanya lebih lanjut. Dia mengulurkan tangan dan dengan lembut menekan ponsel Julianti kembali ke selimutnya, "Juli, malam ini aku harus menghadiri jamuan minum yang penting. Aku nggak tega membiarkanmu sendirian di kamar ini, jadi, mari kita pergi bersama."
Julianti tidak berani menolak, khawatir Suryanto curiga dan menimbulkan masalah, dia pun hanya bisa mengangguk setuju.
...
Malam itu, banyak orang terkenal yang hadir dalam jamuan tersebut.
Julianti berdiri di samping Suryanto, mendengarkan para tamu memuji betapa beruntungnya dirinya. Meskipun tidak memiliki apa-apa, Julianti tetap bisa disayang setulus hati oleh Suryanto, seorang yang sempurna dan terpandang.
Namun hanya Julianti sendiri yang tahu, apa arti kasih sayang ini.
Tiba-tiba, panitia acara membawa sebotol anggur impor yang dibungkus dengan indah ke atas panggung.
"Ini adalah anggur vintage edisi terbatas terbaru dari Kilang Anggur Alira, hanya ada satu botol di dunia, harga buka lelang seratus enam puluh miliar rupiah."
Begitu ucapan itu selesai, seorang wanita dengan sosok yang indah melangkah perlahan dari kerumunan.
Yulia mengenakan gaun panjang merah, riasannya cerah dan menawan, memegang papan lelang di tangannya, berkata dengan santai, "Aku tawarkan dua ratus miliar rupiah."
Para tamu yang hadir mendadak hening!
Seperti yang diketahui semua orang, putri Keluarga Ananda ini dikenal sebagai pencinta anggur, kali ini jelas-jelas dia mengincar botol langka ini.
Namun sebelum orang-orang selesai berkomentar, Suryanto sudah mengangkat papan lelangnya dan berkata, "Empat ratus miliar rupiah."
Yulia mengangkat alis sedikit, lalu setengah bercanda berkata, "Tuan Suryanto, merebut sesuatu yang disayangi orang lain itu bukan tindakan seorang pria terhormat, loh."
Namun, Suryanto justru menggenggam erat tangan Julianti. "Nggak ada pilihan lain," kata Suryanto, "Istriku juga menyukai botol anggur ini. Kalau dia menginginkannya, tentu saja aku harus menawarnya dan memberikannya padanya."
Mendengar ucapan itu, Julianti merasakan hawa dingin menyebar dari lubuk hatinya, mengalir melalui nadi dan menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.
Julianti sama sekali tidak pernah mengatakan ingin botol anggur itu.
Apa yang dikatakan Suryanto jelas-jelas menjadikannya sebagai sasaran!
Mereka berdua terus menaikkan penawaran, harganya meroket ke angka yang membuat orang ternganga.
Akhirnya, Suryanto langsung mengangkat tangan dan berkata dengan santai, "Menawarkan harga secara bertahap sampai tidak ada yang menawar lagi."
Seluruh ruangan hening sejenak.
Kemudian, disusul oleh tepuk tangan yang meriah!
"Ya ampun, Tuan Suryanto benar-benar sangat memanjakan istrinya! Demi sebotol anggur sampai menghabiskan uang sebanyak itu!"
"Dengar-dengar istrinya berasal dari desa nelayan kecil, tidak punya status maupun latar belakang, bahkan tuli. Tuan Suryanto memperlakukannya seperti ini, kalau bukan cinta sejati, lalu apa?"
Suryanto jelas sangat menikmati perbincangan seperti ini.
Dia mengulurkan tangan merangkul pinggang Julianti, tersenyum pada orang-orang di sekitar, lalu membungkuk dan menggunakan bahasa isyarat pada Julianti, "Di sini ramai dan berisik, lukamu juga belum sembuh. Aku akan membawamu ke ruang istirahat untuk duduk sebentar."
Julianti membiarkan Suryanto menggandeng dan memapahnya melewati kerumunan, hingga tiba di ruang istirahat.
Tak lama kemudian, asisten datang membawa botol anggur terkenal yang baru saja dilelang itu.
Barulah saat itu Suryanto mengangkat kepala dan memerintahkan asistennya, "Ganti saja botol ini dengan yang paling murah, lalu benar-benar berikan pada Yulia."
Asistennya terkejut dan berkata, "Ditukar dengan yang paling murah? Bagaimana jika Nyonya menyadarinya?"
Suryanto justru tertawa ringan, dinginnya menusuk tulang, dan berkata, "Dia cuma orang dari desa nelayan, mana bisa memahami anggur mewah."
Bab 3
Napas Julianti seketika tertahan, dadanya terasa sesak dan nyeri.
Dia teringat dulu saat Suryanto melamarnya. Saat itu, dia takut dan tak langsung mengiyakan karena merasa dirinya tak sepadan dengannya.
Malam itu juga, Suryanto membawanya ke sebuah warung kaki lima di gang sempit dan berkata dengan tangan isyarat, "Juli, aku nggak peduli asal-usulmu. Kalau kamu mengizinkan, izinkan aku masuk ke dalam hidupmu."
Waktu itu, Julianti sungguh percaya bahwa dia telah bertemu seseorang yang tak memandang rendah asal-usulnya yang sederhana, dan menganggap cinta itu sebagai anugerah terbesar dalam hidupnya.
Hingga detik ini Julianti menyadari, bahwa semua pengertian Suryanto selama ini hanyalah kepalsuan.
Di lubuk hatinya, Suryanto memang tak pernah benar-benar menghargainya.
...
Setelah jamuan usai, Suryanto membawa Julianti makan malam bersama beberapa sahabat dekatnya.
Tak disangka, Yulia juga hadir di sana.
Tanpa kehadiran orang luar, mereka pun tak perlu lagi berpura-pura.
"Suryanto, kamu menghabiskan dua puluh triliun hanya demi aku, apa nggak terlalu berlebihan?" ucap Yulia.
Salah satu sahabat Suryanto langsung menyambung, "Berlebihan apanya? Perasaan Kak Surya ke kamu itu lebih dari dua puluh triliun! Kamu minta nyawanya sekarang pun, dia pasti mau kasih!"
Yang lain ikut berkata, "Benar sekali! Kalau nggak, mana mungkin orang seperti Kak Surya mau berpura-pura mesra selama tiga tahun dengan si tuli itu?"
"Kamu tak tahu, awal menikahi sama si tuli itu, Kak Surya sangat menderita, karena Julianti selalu membaui amis ikan yang nggak hilang-hilang. Sampai-sampai Kak Surya harus tidur di kantor sebulan penuh ... "
Mata Julianti membelalak, tangannya mencengkeram ujung gaun, hampir tak sanggup menahan ekspresi di wajahnya.
Dia masih ingat jelas, setelah menikah, Suryanto langsung dinas luar selama sebulan.
Setiap hari Suryanto menelepon video, menggerakkan tangan mempraktikkan bahasa isyarat yang baru dipelajarinya, matanya penuh kerinduan.
"Juli, kamu kangen aku nggak?" tanya Suryanto.
"Akhir-akhir ini pekerjaanku sangat padat, setelah semuanya selesai, aku pasti akan menebusmu."
"Aku pengen sekali terbang pulang dan memelukmu sekarang ... "
Waktu itu dia masih bodoh, benar-benar percaya bahwa Suryanto tak bisa pulang karena pekerjaannya begitu padat.
Saat dia tengah terpuruk dalam pikirannya, pelayan menghidangkan beberapa piring berisi tiram kualitas terbaik.
Begitu melihat tiram itu, wajah Julianti langsung pucat pasi.
Dia takkan pernah bisa melupakan, bagaimana orang tuanya pergi melaut dan menghadapi badai tak terduga, hingga hilang tak berbekas bersama kapalnya.
Sebagai santunan, kepala desa mengirimkan beberapa keranjang tiram ke rumahnya.
Saat itu, Julianti menangis sampai pingsan. Namun tetap harus memakan tiram itu untuk bertahan hidup. Sejak itu, setiap melihat tiram, dia langsung mual.
Melihat raut wajahnya yang berubah, Suryanto dengan santai berisyarat tangan, "Nggak terbiasa makan mentah? Tiram kualitas segini sangat segar, nggak amis."
Para anak konglomerat lain yang tak paham bahasa isyarat menyindir, "Dia kan dari desa nelayan, kok nggak makan tiram?"
Yulia tersenyum kecut dan berbaik hati menjelaskan, "Tiram dari daerah mereka kualitasnya buruk, mana bisa dimakan mentah."
Semua orang pun tertawa.
"Hahaha, benar juga. Kampungan begitu mana pernah makan yang beginian."
"Kak Surya, kamu beneran kasihan sekali. Harus tidur satu ranjang sama cewek kampung yang nggak punya pengetahuan apa-apa. Apa nggak tersiksa?"
Julianti secara refleks menoleh ke arah Suryanto, masih berharap Suryanto akan membelanya, meskipun hanya satu kata.
Namun, kata-kata yang keluar dari mulut Suryanto justru seperti pisau tajam yang menancap langsung ke jantungnya.
"Jujur saja, memang cukup menyiksa." Suryanto memutar pelan cincin kawin di jari manisnya dan berkata, "Aku dan dia nggak punya bahasa yang sama. Untungnya dia penurut, mudah dikendalikan, dan ... nasibnya tangguh."
Bab 4
Mudah dikendalikan, dan nasibnya tangguh ...
Jadi, itukah alasan sebenarnya Suryanto memilih dirinya?
Hati Julianti terasa remuk, menebarkan rasa sakit yang tajam.
Namun di balik rasa sakit, dia justru merasa ngeri.
Dia tak sanggup membayangkan, di hari-hari ketika dia tak bisa mendengar, sudah berapa banyak hinaan kejam yang telah dilontarkan Suryanto dan sahabat-sahabatnya di belakangnya?
Orang-orang itu tampak ramah padanya.
Namun kenyataannya, mereka menyindirnya dengan kebencian yang tak mereka sembunyikan sedikit pun!
"Sudah, sudah. Dia nggak pernah makan makanan enak, bukan salah dia juga, kan."
Yulia berdiri, mengambil sebuah tiram dan menyodorkannya ke arahnya berkata, "Ini sudah ditambahkan lemon, Nona Julianti mau coba?"
Melihat tiram itu semakin mendekat, Julianti panik. Dia segera menepis tangan Yulia. Tiram itu terlepas terdengar suara "plak!", jatuh tepat ke rok mahal yang dikenakan Yulia.
"Aduh! Ini rok baruku!" Yulia menjerit dan menatap Suryanto dengan wajah merajuk lalu berkata, "Aku berniat baik ingin menyuapinya tiram, tapi dia malah mempermalukanku seperti ini. Suryanto, kamu nggak akan diam saja, kan?"
Suryanto mengernyit dan buru-buru mengambil selembar tisu, sambil membujuk, "Tentu nggak akan diam."
Namun saat emosi Yulia sudah naik, tak ada yang bisa menghentikannya, lalu berkata, "Kalau begitu hukum dia, biar dia tahu sopan santun!"
Suryanto mencubit lembut lengannya Yulia, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
Tak sampai beberapa detik, amarah di wajah Yulia lenyap, senyum manis kembali muncul di bibirnya dan berkata, "Baiklah, aku anggap nggak terjadi apa-apa."
Sepanjang makan malam, Julianti merasa seperti menelan pecahan kaca, setiap suapan bagaikan siksaan.
Setelah melalui malam yang panjang, mereka akhirnya tiba di parkiran bawah tanah. Suryanto tiba-tiba berhenti dan berisyarat, "Aku masih ada jamuan makan, pulangnya akan sangat larut. Supir akan mengantarmu pulang dulu, hati-hati di jalan."
Julianti hanya mengangguk pelan, lalu berbalik dan naik ke mobil.
Namun sebelum pintu tertutup, dia sempat melihat Suryanto bergegas masuk ke mobil Yulia tanpa ragu sedikit pun.
...
Julianti baru saja tiba di rumah, bahkan belum sempat berganti pakaian, kepala pelayan menghampirinya dengan tergesa-gesa, "Nyonya, obat tradisional yang disimpan Tuan di ruang pendingin harus segera dicairkan. Tapi aku harus buru-buru keluar sekarang, apakah Nyonya bisa mengambilnya sendiri?"
Julianti tak banyak berpikir, hanya mengangguk dan menuju ke ruang pendingin di belakang rumah.
Tak disangka, begitu masuk, pintu di belakangnya tiba-tiba tertutup rapat.
Begitu udara dingin menerpa seluruh tubuhnya, sebuah ingatan tiba-tiba terlintas di benaknya.
Saat makan malam tadi, ketika Yulia merengek minta Suryanto menghukumnya. Suryanto hanya membisikkan sesuatu di telinga Yulia, dan langsung membuat Yulia tenang.
Rupanya bukan tidak menghukumnya.
Tapi sudah mempersiapkan cara menghukumnya sejak awal.
Mengingat ini, hati Julianti seketika jatuh ke dasar jurang.
Julianti takut dingin dan Suryanto lebih tahu dari siapa pun.
Dulu, saat mereka ke Pulau Toya untuk melihat aurora, Julianti hanya menggosok lengannya sebentar, Suryanto langsung melepas jaketnya dan menyelimutkannya sambil berkata, "Juli takut dingin, aku nggak bisa biarkan kamu kedinginan."
Namun sekarang, Suryanto yang justru menggunakan rasa takut terbesarnya Julianti untuk menyiksanya.
Julianti memeluk dirinya sendiri, meringkuk di sudut ruang pendingin. Udara dingin seperti ribuan ular es yang menyusup lewat leher baju dan ujung lengan, merambat hingga ke tulang.
Julianti bernapas tersengal-sengal, paru-parunya terasa penuh serpihan es, dingin dan perih.
Berjam-jam berlalu, hingga kesadaran Julianti mulai kabur dan hampir pingsan, pintu ruang pendingin akhirnya terbuka. Siluet tinggi Suryanto berjalan masuk.
"Juli, kenapa kamu ada di sini?" Suryanto berpura-pura panik, lalu cepat-cepat menggendongnya ke ruang tamu dan mengambil bantal pemanas untuk menghangatkan tubuhnya. Kemudian, Suryanto menjelaskan, "Pintu ruang pendingin rusak. Aku akan segera panggil teknisi untuk memperbaikinya."
Melihat tatapan tulus Suryanto, Julianti hanya merasa sangat ironis.
Tapi yang lebih menyakitkan masih ada di belakang.
Suryanto mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan video dengan Yulia. Kamera diarahkan ke wajah Julianti yang pucat dan gemetar.
"Aku sudah menghukumnya, sekarang sudah lega?"
Di seberang layar, Yulia mendengus, "Aku cuma menyuruh kamu hukum dia sedikit. Jangan sampai benar-benar membunuhnya. Kalau dia mati, siapa yang akan jadi tameng buatku?"
"Mana mungkin?" Ekspresi Suryanto masih lembut, tapi kata-katanya dingin bagai es, "Dia kulitnya tebal, nggak manja sepertimu."
Mendengar ini, Julianti hampir menggigit bibirnya hingga berdarah.
Bantalan pemanas di pelukannya masih hangat.
Namun kehangatan tipis itu tak lagi bisa menghangatkan hatinya yang telah membeku.
Ketika Suryanto pergi ke dapur untuk mengambilkan air, ponsel Julianti tiba-tiba bergetar.
Dibukanya, ternyata pesan dari Paman Hendra.
[Juli, kirimkan alamat nenekmu. Kalau kamu mau, Paman bisa bawa kalian pergi dari tempat ini kapan saja.]
Bab 5
Keesokan harinya, Julianti didampingi pengawal pergi ke panti perawatan tempat neneknya tinggal.
Sejak mendengar Suryanto berkata ingin mengirimnya ke luar negeri, Julianti sudah tahu bahwa Suryanto sama sekali tidak berniat mengurus hidup-mati neneknya.
Jadi, Julianti tahu satu-satunya jalan adalah membawa neneknya pergi sendiri.
Julianti melangkah ke ruang perawatan seperti biasa.
Baru saja berdiri di depan ranjang, dia melihat nenek berusaha keras untuk duduk, matanya merah, tangannya bergetar membentuk isyarat, "Juli, aku dengar kamu masuk rumah sakit lagi. Sebenarnya ada apa? Sejak kamu menikah dengan Suryanto, tubuhmu tak pernah lepas dari luka. Apakah dia terus menyakitimu?"
Rasa asam menyergap hidung Julianti.
Mengingat sebentar lagi akan pergi, dia memutuskan untuk tidak menyangkal lagi.
"Nenek, ikut aku pergi, ya? Kita pindah ke kota yang tenang, dan tak akan pernah berpisah lagi," kata Julianti.
Sampai di titik ini, sang nenek pun sudah paham.
Air matanya langsung jatuh, dan isyarat tangannya makin cepat dan kuat, "Baik, nenek ikut kamu. Asal bisa bersamamu, ke mana pun tak masalah."
Julianti menghabiskan waktu hingga sore menemani neneknya, lalu pergi ke Jalan Perniagaan untuk membeli kue kesukaan neneknya.
Namun siapa sangka ketika kembali, neneknya sudah tidak ada.
Saat dia hendak mencari staf rumah sakit, sebuah pesan anonim masuk ke ponselnya.
[Julianti, nenekmu ada di tanganku. Jika ingin dia tetap hidup, segera transfer sepuluh miliar rupiah ke rekening ini!]
Tangannya bergetar hebat, kotak kue yang dia pegang terjatuh terhempas ke lantai.
Dia tidak punya uang sebanyak itu. Dengan jari gemetaran, dia menelepon Suryanto, tetapi tidak bisa terhubung.
Tanpa pilihan lain, dia meminta pengawal mengantarnya ke Perusahaan Pradana.
Beruntung, begitu sampai di depan gedung perusahaan, Julianti melihat Suryanto sedang membuka pintu mobil, hendak masuk.
Julianti tersandung-sandung berlari ke depan Suryanto, kedua tangan gemetar membuat isyarat, "Suryanto, nenekku diculik, pelakunya minta sepuluh miliar ... "
Namun Suryanto sama sekali tidak melihat apa yang diucapkannya, dengan acuh tak acuh melemparkan satu kalimat, "Aku sangat sibuk sekarang, ada urusan cari asistenku."
Lalu, Suryanto buru-buru masuk ke dalam mobil.
Saat pintu mobil tertutup, Julianti dengan jelas mendengar suara manja Yulia dari ponsel Suryanto.
"Suryanto, kamu sudah jalan belum? Kue Ceri Coklat di toko itu setiap hari jumlahnya terbatas. Kalau telat, kita harus antre!"
Suryanto membujuk dengan suara rendah, "Tenang, aku sudah berangkat, nggak akan membuat si kecil yang doyan makan lapar menunggu lama."
Julianti mata memerah, kedua tangan memukul kaca mobil dengan gila, tetapi Suryanto sama sekali tidak menoleh.
Hingga mobil itu melaju dan menghilang dari pandangan, Julianti akhirnya tidak bisa lagi menahan diri, air matanya mengalir deras tanpa henti.
Dia tak berani buang waktu. Langsung berbalik dan berlari masuk ke dalam gedung, mencari asisten Suryanto.
Namun dari para karyawan, dia baru tahu bahwa asisten itu sedang dinas ke luar negeri sejak pagi tadi.
Pada saat itu, seluruh tenaga Julianti seolah terkuras, hanya menyisakan keputusasaan yang mendalam.
Dia mengirim pesan berkali-kali ke Suryanto, menelepon berkali-kali, namun tetap tidak ada balasan sama sekali, bagai batu tenggelam di laut.
Akhirnya, tak punya pilihan lain, dia pergi ke kantor polisi dan melapor.
Ketika Julianti tiba di lokasi kejadian bersama polisi, yang tersisa hanyalah seonggok tubuh tak bernyawa.
"Pelaku penculikan entah tahu dari mana hal bahwa Nona Julianti melapor polisi, mereka murka dan langsung ... " kata petugas polisi sambil mengerutkan kening, tidak sanggup melanjutkan.
Julianti tersandung-sandung berlari ke samping jenazah. "Bruuk!" Lututnya menghantam keras di lantai.
Lutut yang membentur lantai semen terasa sakit yang menusuk, tetapi dia seperti tidak merasakannya, gemetar memegangi tangan neneknya.
Beberapa jam sebelumnya, tangan ini masih dengan lembut membelai pipinya, menghapus air matanya.
Tetapi sekarang, sudah tidak ada lagi kehangatan seperti dulu.
Julianti menunduk, air mata panas menghujam baju neneknya, jantung sakitnya hampir membuatnya sesak.
Julianti tersedu-sedu, berulang kali bergumam, "Nenek, bukankah kita sudah janji akan pergi bersama? Tak akan pernah berpisah lagi ... "
Nenek, bangunlah, ya? Lihat aku sekali saja, hanya sekali saja ... "
Suara Julianti sangat pelan.
Begitu pelan, hingga hanya menjadi bisikan patah hati yang larut dalam udara dingin yang tak bersuara.
Bab 6
Dengan bantuan polisi, Julianti menyelesaikan urusan pemakaman neneknya, lalu kembali ke vila sambil memeluk kotak abu jenazah.
Dia duduk di sofa, diam-diam membolak-balik riwayat obrolannya dengan sang nenek di ponsel.
Kata-kata penuh kasih yang dulu menghangatkan hatinya, kini justru menjelma menjadi pisau-pisau tajam yang perlahan menyayat, membuat dadanya terasa sangat sakit.
Tiba-tiba, dia melihat bahwa tiga menit yang lalu, Yulia mengunggah sebuah postingan di di media sosial.
Di foto itu adalah sepotong Kue Ceri Coklat.
Di samping kue, sepasang tangan yang saling menggenggam terlihat mencolok.
[Akhirnya bisa makan kue yang sudah lama diidam-idamkan. Tapi orang yang kuinginkan, kapan bisa kudapatkan?]
Suryanto tanpa memedulikan orang lain membalas postingannya, dengan kata-kata yang sangat ambigu, [Bukankah sudah didapatkan?]
Julianti tiba-tiba menggenggam ponselnya dengan erat.
Dia teringat saat baru menikah, Suryanto pernah dengan sungguh-sungguh berjanji kepadanya, aku tahu nenek adalah orang yang paling penting bagimu, jadi aku akan bersama-sama merawatnya dengan baik, melakukan yang terbaik agar dia bisa menikmati masa tua dengan tenang.
Kini, neneknya telah diculik, tapi Suryanto justru sibuk menemani Yulia. Bahkan satu pesan dari Julianti yang berisi jeritan minta tolong pun tak digubrisnya!
Sudah seharusnya Julianti tahu dari awal.
Di mata Suryanto, dirinya bahkan tak seberharga sebutir debu.
Tepat di saat itu, suara pintu terbuka terdengar dari pintu masuk.
Suryanto melangkah masuk ke ruang tamu, dengan gerakan refleks menyalakan lampu. Pandangannya langsung terpaku pada Julianti yang duduk di sofa, memeluk erat sebuah kotak abu jenazah di pelukannya.
Mengingat anjing besar kuning yang sudah tak bisa berjalan lagi di taman, Suryanto pun langsung memahami segalanya. Dengan bahasa isyarat dia mencoba menenangkan Julianti, "Cuma seekor anjing tua. Jika kamu suka, besok akan kubelikan yang baru."
Setelah berkata demikian, Suryanto mengulurkan tangan menyeka air mata di sudut mata Julianti.
Tak disangka, di detik berikutnya Julianti justru menyentakkan diri dari pegangannya, sorot mata dipenuhi kebencian tak terperi yang tak pernah terlihat sebelumnya.
Suryanto tercengang oleh reaksinya yang tiba-tiba, tapi malas bersusah payah menghiburnya. Dengan nada dingin dia melemparkan kalimat, "Anjing mati tak bisa hidup lagi. Kalau hatimu tak nyaman, lebih baik nonton sesuatu yang menyenangkan." Sebelum Julianti bisa bereaksi, dia sudah berbalik dan menaiki tangga.
Suryanto membiarkan Julianti terpuruk dalam kesendirian selama dua hari penuh.
Baru pada hari peringatan pernikahan ini, Suryanto seakan teringat bahwa di rumah masih ada seorang istri yang menunggu. Dengan membawa kotak perhiasan, dia pulang dan mengalungkan rantai bertaburan berlian kecil di leher Julianti.
"Masih sedih?" tanya Suryanto.
Gerakan bahasa isyaratnya dilakukan dengan setengah hati, "Kalung ini kupilih khusus untukmu. Cobalah senyum, ya?"
Julianti menatap kalung yang berkilau di lehernya, rasa ironi yang pedih menyelimuti relung hatinya.
Padahal pagi ini saja, Julianti melihat Yulia memamerkan foto set perhiasan lengkap di media sosial.
Kalung yang diberikan Suryanto padanya ini, ternyata hanya bagian dari bonus pembelian yang didapatkan dari set perhiasan tersebut.
Suryanto sama sekali tidak menyadari keanehan dalam raut wajah Julianti. Dengan lembut dia meringkukkan Julianti dalam pelukannya.
"Hari ini hari jadi pernikahan kita. Aku akan bawa kamu berlayar selama beberapa hari, kita bersantai sepuasnya."
Julianti hanya ingin segera melarikan diri dari tempat penuh luka ini. Dengan mati rasa, dia mengangguk.
...
Saat malam hari, Julianti mengikuti Suryanto menaiki kapal pesiar.
Tak disangka, beberapa teman konglomerat muda itu juga hadir di sana.
"Aku yang mengundang mereka. Hari yang spesial seperti ini, ramai-ramai kan lebih seru."
Suryanto berkomunikasi dengan bahasa isyarat padanya, namun pandangannya justru menerobos melewati dirinya, menanyakan pada orang di belakang Julianti, "Mana Yulia? Kok nggak kelihatan?"
Seseorang menjawab, "Kak Surya, Yulia katanya agak nggak enak badan, lagi istirahat di kabin."
Mendengar Yulia tidak enak badan, ekspresi Suryanto langsung berubah.
Dia menyuruh Julianti duduk di sofa, dengan bahasa isyarat dia berkata, "Juli, aku ada urusan sebentar. Kamu ngobrol saja dulu sama mereka, ya."
Begitu Suryanto pergi, wajah teman-temannya langsung berubah.
Mereka mengira Julianti tidak bisa mendengar, dengan leluasa melontarkan ejekan di dekat telinganya.
"Jangan-jangan si tuli ini beneran percaya Kak Surya bawa dia buat rayain ulang tahun pernikahan, ya?"
"Dia memang bodoh sekali sampai mudah ditipu. Sayangnya dia tidak tahu, kembang api malam ini Kak Surya siapkan khusus untuk Yulia, bahkan nama kapal pesiar ini adalah Kapal Cinta Yul.
"Menurut kalian Kak Surya sekarang sedang apa? Sudah ngeguling sama Yulia, belum?"
Tiba-tiba seseorang berbisik, "Bagaimana kalau kita tipu si tuli ini untuk nyusup ke kamar Suryanto? Lagian dia kan nggak dengar, jadi nggak tahu lagi Kak Surya sedang apa ... Seru banget bayanginnya!"
Bab 7
Julianti mengepalkan jari-jarinya erat.
Baru saja dia hendak berdiri, beberapa orang sudah mencengkeram lengannya dan dengan kasar mendorongnya masuk ke sebuah kamar dalam kabin kapal.
Salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel, lalu menunjukkan sebuah kalimat di layar. [Angin di luar terlalu kencang, nanti kamu masuk angin. Tunggu di sini saja, Kak Juli. Kak Surya sebentar lagi datang.]
Saat pintu tertutup, Julianti dengan jelas mendengar tawa rendah Suryanto dari dalam kamar sebelah, "Nakal banget kamu, sebenarnya yang nggak enak itu bagian mana? Sini, atau sini?"
Napas Yulia langsung jadi kacau, manja dan menggoda di saat bersamaan, "Jangan ... pelan-pelan ... "
Perut Julianti terasa mual seketika.
Dia ingin kabur, tapi gagangnya tak bisa digerakkan. Pintu sudah dikunci dari luar.
Tubuhnya membeku di tempat, darah terasa membeku di seluruh tubuh.
Suara-suara memalukan yang terdengar dari balik dinding seperti jarum-jarum halus yang menusuk telinganya, menyiksa setiap sarafnya tanpa ampun.
Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana. Akhirnya, pintu kamar belakang terbuka.
Suryanto keluar lebih dulu, diikuti Yulia yang wajahnya masih merah dan pakaian berantakan.
Melihat Julianti berdiri di luar, wajah Suryanto seketika menegang. Dia refleks memberi penjelasan dengan bahasa isyarat, "Bahunya Yulia tadi pegal, aku cuma bantu pijat."
Julianti menunduk, tak berkata apa-apa.
Tapi ekspresinya yang terlalu tenang, nyaris mati rasa, membuat Suryanto entah kenapa merasa tak nyaman.
Berusaha bersikap biasa, Suryanto menggandeng Julianti keluar dari kamar, lalu menyeret dalang di balik insiden itu dan bertanya dingin, "Siapa yang suruh kalian bawa dia ke kabin dalam?"
Sahabatnya tertegun lalu berkata, "Cuma main-main, Kak Surya. Toh kamu juga bakal ninggalin dia, masih peduli ini?"
"Kapan aku bilang mau buang dia?" jawab Suryanto.
Suryanto mengerutkan kening dan berkata, "Aku memang menikahinya supaya dia bisa menggantikan Yulia hadapi bahaya, tapi dia sudah menunaikan tugasnya. Aku akan tetap memberi dia tempat tinggal dan kehidupan yang layak setelah ini."
"Kak Surya, ini nggak seperti kamu biasanya," goda sahabatnya sambil menyikut lengan Suryanto. "Jangan-jangan ... Kamu mulai ada rasa sama dia?"
Suryanto tidak menjawab, dia hanya melirik tajam dan dingin berkata, "Jaga ucapanmu. Hal yang tak perlu ditanya, jangan ditanya."
Setiap kata dari percakapan itu masuk ke telinga Julianti tanpa terlewat satu pun.
Julianti menggigit bibir, lalu tersenyum samar, senyum pahit yang nyaris tak terlihat.
Ternyata Suryanto sudah menyiapkan masa depan untuknya.
Tapi perlindungan seperti itu, dia sudah tidak membutuhkannya lagi.
Julianti mengeluarkan ponselnya, melirik waktu di layar.
Dua puluh menit lagi, Paman Hendra akan menjemputnya.
Pada saat kembang api pertama meledak di langit malam nanti, dia akan melompat ke laut, memalsukan kematian demi benar-benar lepas dari semua ini.
Suryanto yang melihat Julianti menatap ponsel terus-menerus mengira dia sedang menunggu pertunjukan kembang api. Dia mengusap kepalanya dan tersenyum, "Jangan khawatir, sebentar lagi pertunjukannya mulai."
Julianti menghindar dari sentuhan itu, dengan alasan ingin ke kamar mandi, dia berjalan ke tempat penyimpanan barang dan memeluk kotak abu jenazah.
Namun baru kembali ke geladak, dia langsung berpapasan dengan Yulia.
Begitu melihat kotak abu jenazah itu, wajah Yulia seketika pucat dan berkata, "Kamu, kamu kenapa bawa benda sialan itu ke atas kapal?"
Baru sadar Julianti tak bisa mendengar, dia langsung berusaha merebutnya, "Buang saja! Jangan bawa-bawa benda sialan itu di hadapan aku!"
Julianti dengan cepat menghindar, lalu mendorong Yulia ke samping.
Tubuh Yulia terpental ke pagar kapal dan menjerit, "Aaaah!"
Suryanto segera datang setelah mendengar suara itu.
Melihat Yulia terduduk di lantai, dia buru-buru menolong, nada suaranya penuh cemas, "Yulia, kamu nggak apa-apa? Sakit nggak?"
Yulia langsung menyender manja di pelukannya, matanya memerah dan berkata, "Dia gila, Suryanto! Dia bawa kotak abu jenazah ke atas kapal, aku cuma suruh dia buang, malah didorong!"
Mendengar itu, wajah Suryanto langsung menggelap.
Dia memerintahkan Julianti lewat isyarat, "Juli, letakkan kotak abu jenazahnya."
Julianti bahkan tidak mengangkat kelopak matanya sedikit pun. Lengannya yang menggendong kotak abu jenazah itu justru semakin erat.
"Suryanto, itu abu siapa sih? Serem sekali ... "
Yulia mulai memperkeruh suasana, suaranya dipenuhi kepanikan palsu.
"Itu abu anjing tua di rumah. Entah kenapa belakangan dia terus membawanya ke mana-mana." Suryanto mengusap pundak Yulia dengan lembut dan berkata, "Tenang, aku akan segera singkirkan, biar kamu nggak terganggu."
Dia melangkah maju, mencoba merebut kotak abu jenazah dari pelukan Julianti.
Dalam pergulatan itu, kepala Julianti membentur keras salah satu baut pagar kapal, darah mengucur deras.
Angin laut yang asin menyapu luka itu, serta rasa perih dan asin yang membuat matanya perih. Kabut darah mulai mengaburkan pandangannya, seolah seluruh dunia berubah menjadi merah tua yang berdenyut sakit.
"Juli, kamu ini keras kepala sekali." Suryanto menunduk menatapnya dengan tatapan dingin. "Anjing itu sudah mati. Kamu harus belajar melepaskannya."
Bersamaan dengan itu, kembang api meletus megah di cakrawala, membanjiri langit malam dengan cahaya warna-warni yang sempurna.
Kembang api menyala terang, menghiasi langit dan menyorot jelas tatapan putus asa di mata Julianti.
Waktunya telah tiba. Sesuai janji dengan Paman Hendra, detik-detik penentuan akhirnya menjelang.
Tanpa ragu, Julianti berlari ke tepi geladak, seperti burung yang akhirnya bebas dari sangkar, dan melompat ke laut yang dingin.
Hubungan mereka dimulai di lautan.
Kini, berakhir di lautan juga.
"Juli!"
Teriakan dari belakang tenggelam ditelan gemuruh kembang api.
Saat air laut yang membekukan membanjiri rongga hidungnya, akhirnya Julianti merasakan rasa pembebasan yang pernah dicapainya dalam hidup.
Dalam hati, Julianti berbisik,
‘Suryanto ... selamat tinggal.
Bukan, maksudku ... selamat tinggal untuk selamanya.’