Đang tải thông tin quảng bá...
Sayap yang Terlepas dari Belenggu
Di tahun keenam pernikahannya dengan pewaris ternama dari kalangan elit Moska, Saskia Prameswari berniat mendirikan dana perwalian untuk putra-putri kembarnya. Namun kenyataan datang seperti pukulan t...
Chương (1)
第1章
Di tahun keenam pernikahannya dengan pewaris ternama dari kalangan elit Moska, Saskia Prameswari berniat mendirikan dana perwalian untuk putra-putri kembarnya.
Namun kenyataan datang seperti pukulan telak saat petugas memeriksa berkasnya.
“Maaf, Bu. Dana ini hanya bisa dibuat langsung oleh orang tua kandung anak-anak,” kata petugas itu sambil menggeleng.
Saskia terkejut.
“Aku… aku sudah melampirkan akta kelahiran. Aku ibu dari kedua anak ini!”
Tak disangka, tatapan petugas itu berubah aneh.
“Bu… sekarang semua data sudah terhubung secara daring. Dokumen palsu mustahil lolos sistem. Hasil verifikasi menunjukkan… ayah anak-anak ini memang Bagas Pradipta. Tapi ibu mereka bukan Anda… tapi Claudia Atmadja.”
Saskia terdiam. Bibirnya bergetar.
“Apa… maksudmu?” tanyanya lirih.
“Kedua anak ini, sama sekali nggak ada hubungan dengan Ibu,” jawab petugas itu dingin.
Tubuh Saksia membeku. Pikirannya kosong.
Claudia Atmadja…
Cinta pertama yang selalu membekas dalam di hati Bagas. Permusuhan keluarga membuat mereka berpisah sejak lama.
Dan sekarang… anak-anak yang dia kandung selama sepuluh bulan, yang dia lahirkan dengan taruhan nyawa… justru tercatat sebagai anak Bagas dan Claudia.
Bagaimana bisa?!
Bab 1
Di tahun keenam pernikahannya dengan pewaris ternama dari kalangan elit Moska, Saskia Prameswari berniat mendirikan dana perwalian untuk putra-putri kembarnya.
Namun kenyataan datang seperti pukulan telak saat petugas memeriksa berkasnya.
“Maaf, Bu. Dana ini hanya bisa dibuat langsung oleh orang tua kandung anak-anak,” kata petugas itu sambil menggeleng.
Saskia terkejut.
“Aku… aku sudah melampirkan akta kelahiran. Aku ibu dari kedua anak ini!”
Tak disangka, tatapan petugas itu berubah aneh.
“Bu… sekarang semua data sudah terhubung secara daring. Dokumen palsu mustahil lolos sistem. Hasil verifikasi menunjukkan… ayah anak-anak ini memang Bagas Pradipta. Tapi ibu mereka bukan Anda… tapi Claudia Atmadja.”
Saskia terdiam. Bibirnya bergetar.
“Apa… maksudmu?” tanyanya lirih.
“Kedua anak ini, sama sekali nggak ada hubungan dengan Ibu,” jawab petugas itu dingin.
Tubuh Saksia membeku. Pikirannya kosong.
Claudia Atmadja…
Cinta pertama yang selalu membekas dalam di hati Bagas. Permusuhan keluarga membuat mereka berpisah sejak lama.
Dan sekarang… anak-anak yang dia kandung selama sepuluh bulan, yang dia lahirkan dengan taruhan nyawa… justru tercatat sebagai anak Bagas dan Claudia.
Bagaimana bisa?!
Saskia memutuskan untuk menanyakan langsung pada Bagas.
Hatinya panas, tubuhnya gemetar.
Tanpa berpikir panjang, Saskia bergegas menuju Pradipta Global Group, memindai sidik jarinya, dan naik ke lantai paling atas menuju kantor CEO.
Dari pintu yang terbuka sedikit, terdengar suara sahabat Bagas.
“Bro… malam ini Claudia balik dari luar negeri. Kamu yakin mau adakan pesta penyambutan? Jangan lupa… keluarga kalian musuh bebuyutan.”
“Mana mungkin aku lupa!” jawab Bagas, matanya menunduk, suaranya tenang dan terkendali.
“Menurut aturan Keluarga Pradipta, aku nggak boleh menikahi wanita dari Keluarga Atmadja. Lagi pula, sekarang aku sudah berkeluarga, Claudia cuma teman.”
“Teman katamu? Saat kalian putus lalu Claudia pergi ke luar negeri, siapa yang menangis karena merasa sisa hidup cuma bisa dijalani pasrah?”
“Sementara Saskia? Dia bukan siapa-siapa! Kamu menikahinya karena dia mirip Claudia, membuatnya melahirkan anakmu dan Claudia lewat program bayi tabung. Nggak peduli semirip apa anak itu dengan Claudia, Saskia nggak akan curiga. Dia hanya akan mencurahkan seluruh hatinya untuk anak-anak...”
“Jujur… aku merasa kasihan padanya. Dia mencintaimu sepenuh hati. Kalau tahu dirinya cuma alat reproduksi dan pengasuh gratis… dia pasti gila!”
Suara Bagas terdengar berat dan getir.
“Sudah pasti aku nggak bisa menikahi Claudia. Memiliki keturunannya saja sudah cukup. Sedangkan untuk Saskia—”
Wajahnya menampakkan ekspresi rumit, tapi suaranya perlahan menjadi dingin.
“Aku nggak akan membiarkannya tahu kebenaran ini. Sebagai kompensasi, seumur hidup dia akan menjadi istriku, nyonya Keluarga Pradipta yang dikagumi semua orang.”
Di seberang pintu, dunia Saskia terasa berputar. Sakitnya menusuk dada seolah ingin merobeknya.
Dia terhuyung menuruni tangga, hujan deras membawa kembali setiap kenangannya.
Enam tahun lalu, setelah lulus kuliah, dia dibujuk keluarganya untuk pergi ke kencan buta. Calonnya pria paruh baya, wajah garang, mulut bau alkohol. Begitu melihatnya, pria paruh baya itu langsung ingin menciumnya.
Jelas itu neraka. tapi demi uang mahar empat ratus juta untuk adiknya, orang tuanya memberinya obat dan memaksanya pergi.
Saskia berjuang sekuat tenaga untuk kabur, tapi tanpa sengaja masuk ke sebuah ruang VIP mewah, tepat ke dalam pelukan seorang pria.
Tubuhnya terasa panas seolah terbakar, hasrat dalam dirinya sulit dikendalikan. Dia merobek pakaiannya, menempel pada dada pria itu.
“Tolong… bantu aku,” bisiknya.
Pria itu mengerutkan alis, hendak menolak, tapi saat menatap wajahnya, sorot mata pria itu berubah kelam.
“Aku bisa membantumu, tapi kita saling mengambil keuntungan,” katanya, menahan tangan Saskia, suaranya serak.
“Aku mencintai seseorang yang nggak bisa kumiliki. Kamu… mirip dengannya. Aku jadi penawarmu, kamu jadi penggantinya dan menikah denganku. Bagaimana?”
Saskia seperti terkena siraman air es, kesadarannya perlahan kembali.
Meski miskin, dia tetap memiliki harga diri. Tak ingin menjadi pengganti.
Namun saat hendak menolak, tiba-tiba dia menyadari pria di hadapannya—berjas rapi, tampan, dan anggun—adalah seniornya yang dia taksir selama tujuh tahun, Bagas.
Pria yang selama ini dia anggap sebagai mimpi yang takkan terjangkau, bintang yang bersinar seperti matahari, kini menatapnya dengan mata yang hanya memantulkan dirinya.
Logika runtuh. Tubuh Saskia bergetar.
“……Deal.”
Bagas tersenyum, menahan kepala Saskia, ciuman hangat seperti hujan musim semi.
Meski sadar dirinya hanyalah pengganti, Saskia rela hanyut, hanya karena pria itu adalah Bagas.
Tak lama kemudian, pernikahan megah pun terjadi. Selama enam tahun, Bagas menjaga batas. Tak pernah tergoda wanita lain.
Semua kemewahan yang dimiliki istri-istri keluarga terhormat lainnya, Saskia miliki lebih dari cukup. Setiap barang mewah di lelang selalu menjadi miliknya.
Saat hamil anak kembar, tangan Bagas yang biasanya hanya menandatangani kontrak, justru dengan telaten menyiapkan makanan bergizi untuknya.
Bagas menolak proyek bernilai miliaran, tak pernah absen menemani pemeriksaan kehamilannya, dan dengan sabar melakukan stimulasi prenatal untuk bayi-bayi mereka.
Setelah anak-anak lahir, meski sibuk, setiap hari dia selalu pulang untuk menemani kedua buah hati.
Banyak orang bilang cinta itu menular. Saskia mengira dia dicintai karena dia ibu dari anak-anak.
Dia mengira setelah bertahun-tahun, Bagas menyerahkan hatinya sepenuhnya, tak lagi melihatnya sebagai pengganti.
Tapi kenyataannya, dia memang mencintai ibu anak-anak itu… tapi ibu mereka adalah Claudia.
Sementara dirinya? Hanya pengganti. Hanya alat. Tak lebih.
Di tengah hujan deras, Saskia menangis tak terkendali, tapi dia tetap mengingat menelepon kepala pelayan, menyuruhnya menjemput anak-anak di taman kanak-kanak.
Anak kembar itu bukan darah dagingnya, tapi selama lima tahun, Saskia merawat mereka dengan sepenuh hati. Mereka bagai nyawanya sendiri.
Kini mengetahui kebenaran, dia tak tahu bagaimana harus menghadapi mereka.
Saat pulang, seluruh tubuhnya basah kuyup.
“Mama pulang!”
“Mama kehujanan! Cepat mandi, nanti sakit loh!”
Evan dan Eva berlari menghampirinya, satu di kiri, satu di kanan, menggandeng tangannya naik ke atas.
Hidung Saskia tersumbat.
“Jangan khawatir… ah!”
Dia tak menyangka kedua anak itu tiba-tiba mendorongnya. Tubuhnya yang lemah kehilangan keseimbangan, dia terguling menuruni tangga. Darah mengalir dari dahinya, nyeri membuatnya menutup mata.
“Hore! Mama berdarah, pingsan! Sekarang nggak ada yang bisa menghalangi kita menemui Tante Claudia!”
“Papa, ayo cepat! Eva suka sekali sama Tante Claudia, mau bertemu dengannya sekarang juga!”
Saskia membuka mata dengan sisa tenaga, pandangannya kabur oleh darah. Dia melihat Bagas hanya mengernyit samar, lalu wajahnya kembali tenang.
“Jaga Nyonya baik-baik,” katanya ringan.
Lalu, dia menggandeng tangan Evan dan Eva pergi.
“Papa sudah bilang, antara Mama dan Tante Claudia, kalian harus selalu pilih Tante Claudia. Tapi lain kali… gunakan cara yang lebih lembut.”
Evan justru menggeleng seperti orang dewasa.
“Nggak perlu, Papa. Mama itu cuma ibu rumah tangga, super bodoh. Kami bisa mudah menipunya dengan alasan apa pun.”
“Iya, Pa! Nggak perlu pedulikan mama,” kata Eva dengan suara lembut, “Kalau bisa membuat Tante Claudia jadi mama kita, jangankan mendorongnya, menyingkirkannya pun bisa.”
Tiga sosok itu berjalan menjauh, tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Saskia tersenyum getir, meski hatinya hancur, wajahnya penuh darah dan air mata.
Inilah suami yang dicintainya sepenuh hati.
Inilah anak-anak yang dilahirkannya dengan taruhan nyawa!
Sejak awal… mereka memang bukan miliknya. Kalau begitu, dia takkan menginginkan mereka lagi.
Semuanya. Tak ada yang dia inginkan lagi.
Bab 2
Setelah dokter keluarga selesai mengobati lukanya, Saskia membuka pintu ruang kerja. Dia berniat mencetak surat cerai. Bagaimanapun caranya, Bagas harus menandatanganinya. Setelah itu, dia akan benar-benar meninggalkan kehidupan yang sejak awal bukan miliknya ini.
Begitu layar komputer menyala, jemarinya terhenti. Pandangannya mendadak kosong.
Wallpaper di layar komputer adalah sebuah foto keluarga.
Foto itu diambil saat ulang tahun pertama Evan dan Eva. Dua bayi mungil yang kala itu begitu lengket padanya. Tangan-tangan kecil bak ruas lotus melingkari tubuhnya erat, seolah tak ingin dilepaskan.
Fotografer berkali-kali berusaha mengarahkan perhatian mereka ke kamera, bahkan sampai mengeluarkan mainan favorit. Namun, tatapan kedua anak itu tetap tak beranjak dari dirinya.
Pipi tembam itu menengadah, mata bulat bening berkilau penuh kasih sayang.
Sementara Bagas berdiri di samping, dengan senyum lembut, merangkul dirinya dan anak-anak.
Saskia tertegun. Ingatannya melayang pada saat pria itu membujuknya menjalani program bayi tabung. Waktu itu, wajahnya juga setulus ini.
“Aku ingin kita punya anak laki-laki dan perempuan. Tapi dua kali kehamilan terlalu berat. Aku nggak tega lihat kamu kesakitan. Lebih baik sekali saja lewat bayi tabung.”
Dan Saskia percaya.
Saat tahu dirinya hamil, Saskia menangis bahagia. Itu berarti ada darah daging yang benar-benar menghubungkan dirinya dengan Bagas.
Meski kehamilannya penuh muntah-muntah, meski perut besarnya membuatnya nyaris tak bisa tidur, meski setelah anak lahir dia tak pernah benar-benar menikmati tidur nyenyak selama dua tahun—hatinya tetap lembut.
Saskia berasal dari keluarga yang berantakan. Satu-satunya hal yang bisa dia berikan hanyalah kasih sayang terbaik untuk anak-anaknya. Evan dan Eva tumbuh dalam cinta, selalu memeluknya sambil berkata “Mama hebat” atau “Aku sayang Mama”.
Namun segalanya berubah ketika mereka berusia tiga tahun. Bagas mendatangkan seorang guru Bahasa Prancis. Perlahan, anak-anak yang dulu hanya mengenal dirinya mulai berubah. Mereka menatapnya dengan remeh, menganggapnya hanya seorang ibu rumah tangga yang bodoh.
Setiap kali Saskia mengeluh, mereka akan merajuk manis, membuatnya kembali luluh.
Dia selalu mengira itu hanyalah kepolosan anak-anak, tak pernah menaruh curiga.
Sampai hari ini.
Sampai dirinya didorong jatuh dari tangga.
Anak-anak yang dia rawat sepenuh hati, membesarkannya siang dan malam… ternyata, dari hati yang terdalam, mereka merendahkannya.
Foto penuh kehangatan itu, kasih sayang yang dia yakini tulus… semua hanyalah fatamorgana.
Dengan cepat, Saskia mencetak surat cerai. Namun ketika hendak mematikan komputer, sebuah notifikasi muncul di pojok layar.
Karena terburu-buru, Bagas lupa keluar dari akunnya. Akun yang selama ini tak pernah Saskia ketahui—tersimpan di layar.
Refleks, Saskia mengkliknya.
Dan dunia seakan runtuh.
Semua catatan di dalamnya tentang Claudia. Ternyata dialah guru Bahasa Prancis online itu. Bagas terus menanamkan pesan bahwa Claudia hebat, sementara dirinya hanyalah wanita bodoh yang tak berguna.
Dalam video terbaru, Bagas menyewa hotel bintang tujuh dan mengundang sahabat-sahabat terbaiknya, hanya untuk menyambut kedatangan Claudia.
Evan dan Eva berlari ke arah wanita itu dengan sukacita.
“Tante Claudia… Tante lebih cantik daripada di video!”
“Iya! Tante Claudia lebih baik daripada Mama. Eva suka banget sama Tante!”
Bagas hanya tersenyum, sama sekali tak berniat menghentikan. Tangannya lama bertumpu di pinggang Claudia—gerakan yang penuh keputusan.
Saskia menatap layar itu begitu lama hingga jemarinya gemetar menutup video.
Kini, keluarga itu sudah lengkap. Bagas, Claudia, Evan, dan Eva.
Sedangkan dirinya hanyalah sosok asing yang tak lagi dibutuhkan.
Malamnya, Bagas pulang bersama anak-anak.
“Mama, aku nggak sengaja mendorongmu.”
“Iya, Eva juga nggak sengaja. Mama jangan marah, ya!”
Mata polos mereka seakan percaya bahwa ucapannya cukup untuk membuat Saskia tersenyum.
Namun Saskia hanya mengangguk dingin—tanpa senyum.
Anak-anak terdiam. Bahkan Bagas, dengan alis terangkat samar, menyentuh wajahnya.
“Masih sakit?”
Saskia terkejut, tak sempat menghindar. Sentuhan itu membuatnya teringat pada tangan yang sama baru saja melingkar di pinggang Claudia.
Rasa mual menyeruak hebat, membuatnya muntah tanpa bisa menahan diri.
Wajah Bagas langsung menggelap.
“Hamil lagi?”
Suara dinginnya penuh tuduhan.
“Ini sudah kedua kalinya kamu hamil tanpa rencana. Kita sudah pakai pengaman, kenapa bisa kebetulan lagi? Kamu sengaja, ‘kan?”
“Aku sudah bilang, kalau punya anak lagi, perhatianmu pasti terbagi. Kamu nggak akan bisa kasih sayang penuh untuk Evan dan Eva!”
Tanpa peduli, Bagas menariknya kasar, menyeretnya untuk tes kehamilan.
Tubuh Saskia terhuyung, terbentur meja hingga vas bunga jatuh pecah. Serpihan kaca menusuk kakinya yang sudah penuh memar.
Rasa sakit menjalar tajam, tapi pria itu tak menyadarinya sama sekali.
Nyeri yang menyesakkan seperti jaring yang mengikat, membuat Saskia tak bisa melarikan diri.
Namun rasa sakit itu tak seberapa dibanding perih yang meremuk di hatinya.
Karena ini bukan pertama kalinya.
Saat Evan dan Eva baru tiga tahun, Saskia sempat hamil di luar rencana sekali. Waktu itu, dia bahagia, ingin menyambut bayi baru.
Namun Bagas menolak.
“Terakhir kali kamu hampir mati di meja operasi. Aku nggak tega lihat kamu seperti itu lagi. Dengarkan aku, jangan hamil lagi.”
Ditambah anak-anak yang merengek tak mau adik, Saskia akhirnya menangis sambil merelakan kandungannya digugurkan.
Waktu itu, Bagas bahkan menyingkirkan semua pekerjaannya demi merawatnya, menenangkan dengan lembut.
“Kita sudah punya putra-putri lengkap. Jangan sedih lagi.”
Namun kini Saskia sadar—kelembutan itu semu.
Bagas bukan takut kehilangannya, tapi takut anak-anaknya terabaikan.
Pada akhirnya, Bagas dan Claudia justru memiliki anak laki-laki dan perempuan, sementara dirinya kehilangan satu-satunya darah daging yang sempat tumbuh di rahimnya!
Masa lalu bagai sebilah pisau tumpul, mengiris hatinya perlahan tanpa henti.
Dan pada alat tes kehamilan itu… hasilnya sudah jelas terpampang.
Bab 3
Saskia menatap alat tes kehamilan. Satu garis. Senyum getir melintas di wajahnya.
Bagus.
Dengan begitu, Bagas bisa tenang. Anak yang benar-benar milik mereka berdua tak akan pernah lahir. Ironisnya… sekarang Saskia juga tak menginginkannya lagi.
Bagas menghela napas lega, suaranya melunak.
“Saskia, aku cuma nggak mau kamu terlalu lelah. Kita sudah punya Evan dan Eva, itu sudah cukup.”
Munafik.
Namun Saskia hanya menjawab dingin, nyaris acuh.
“Terima kasih atas perhatianmu.”
Bagas tertegun.
“Kenapa bicaramu seperti orang asing?”
Orang asing? Di rumah ini, hanya Saskia yang benar-benar orang luar. Bagaimana mungkin tak terdengar asing?
Saskia terdiam, lalu berbalik dan mengambil sebuah dokumen—surat cerai.
“Nggak kok, nggak asing. Oh iya, aku mau beli satu ruko.”
Itu pertama kalinya dia meminta sesuatu secara langsung. Bagas merasa ada yang janggal, tapi sebelum sempat memeriksa isi dokumen, Saskia sudah lebih dulu menyindir.
“Kenapa? Nggak mau?”
Mendengar itu, Bagas langsung menandatangani dokumen itu tanpa ragu.
Istrinya menginginkan sesuatu, mana mungkin dia menolak?
Saat menerima dokumen cerai dengan tanda tangan itu, Saskia justru merasa lega, seakan sebuah beban berat akhirnya terangkat dari hatinya.
Dari luar kamar, bisik-bisik kedua anaknya terdengar.
“Mama benar-benar mau punya bayi lagi, ya? Kalau bayinya sama bodohnya kayak mama, gimana?”
“Iya! Bisa dapet anak sepintar kita saja karena beruntung, ‘kan? Aku nggak mau punya mama kayak dia, bikin pusing!”
Jemari Saskia yang mencengkeram surat cerai perlahan memutih. Baguslah, sebentar lagi semuanya akan sesuai dengan harapan mereka.
Sebulan setelah surat cerai itu berlaku, statusnya berubah. Secara hukum… dia tak lagi tercatat sebagai ibu mereka.
Keesokan paginya, Saskia tak bangun pukul enam seperti biasa. Semua urusan anak dan Bagas dia serahkan pada pelayan.
Hasilnya? Rumah seketika kacau balau.
Evan rewel soal makanan. Sejak kecil hanya mau makan masakan Saskia. Pelayan sudah menyiapkan belasan menu, tapi tak satu pun disentuh.
Eva pun sama, tak suka dengan gaya ikat rambut yang dibuat pelayan. Waktu sudah mepet, akhirnya gadis kecil itu pergi ke taman kanak-kanak dengan wajah kesal.
“Ny—Nyonya…” Seorang pelayan panik mencari Saskia.
“Tolong bantuannya. Setelan Armani terbaru tuan, bagaimana dipadukan? Saya sudah coba beberapa kali, tapi tuan tetap tidak puas.”
Saskia menekankan bibir, lalu menjawab datar, seolah itu rutinitas.
“Padukan sama dasi di lemari nomor tiga, laci sebelah kiri, baris kedua. Untuk manset, ambil yang warna perak gelap di lemari nomor lima, laci kanan, baris ketiga.”
Tak lama, Bagas masuk ke kamar. Tubuhnya tegap dan tinggi, ditambah setelan yang serasi, membuatnya tampak semakin berwibawa.
Dia bersandar di ambang pintu, sorot matanya sedikit tak senang.
“Kenapa tiba-tiba mogok?”
Saskia tak menoleh.
“Kurang enak badan,” jawabnya dingin.
Bagas teringat kejadian semalam. Luka-luka yang Saskia alami karena dirinya dan anak-anak. Wajahnya bergelayut rasa bersalah yang sulit dijelaskan.
“Baiklah, istirahat saja.”
Namun semenjak Saskia mogok, seluruh rumah jadi berantakan.
Makanan? Meski pelayan mengikuti resepnya, Evan tetap bilang rasanya beda, tubuhnya makin kurus.
Rambut? Pelayan menirukan caranya mengikat rambut Eva, tapi Eva selalu berakhir merengek kesakitan. Atau belum juga keluar lama, kepangan rambutnya sudah terlepas. Akhirnya gadis kecil itu pun menangis tersedu, dipenuhi rasa kesal.
Sementara Bagas, yang selama ini tak pernah peduli pada hal-hal sepele rumah tangga, mulai dihantui masalah kecil yang muncul bertubi-tubi hingga membuatnya jengkel.
Dia jarang marah pada pelayan, tapi kali ini emosinya meledak.
“Hal sepele saja nggak bisa kalian lakukan dengan benar!”
Pelayan menunduk, ketakutan.
Sementara Saskia hanya merasa getir.
Hal sepele?
Ya, mungkin di mata Bagas, dirinya memang hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Pekerjaannya remeh, bisa digantikan siapa saja.
Namun, siapa yang tahu betapa banyak usaha yang sudah dia curahkan?
Berulang kali mencoba, tanpa kenal lelah, hanya demi membuat putranya mau makan sedikit lebih banyak.
Dia bahkan menyimpan hampir seribu video tentang cara mengikat rambut—menontonnya berulang kali, melatih jemarinya siang dan malam, sampai akhirnya bisa membuat kepangan yang indah, kuat, dan tak merusak rambut putrinya.
Untuk menghadapi Bagas yang seleranya tinggi dan selalu kritis, Saskia rela belajar desain, menekuni seni rupa, hingga mengikuti berbagai kelas, hanya supaya dirinya layak disebut pendamping yang “sempurna” di sisinya.
Semua hal kecil yang tampak sepele itu…
Jika disatukan, sesungguhnya adalah bentuk cintanya yang utuh, penuh, tanpa sisa.
Mereka menikmatinya begitu wajar, seolah itu memang sudah seharusnya.
Namun tak pernah benar-benar melihatnya.
Tak pernah terpikir sedikit pun bahwa selain seorang istri, selain seorang ibu—dia juga seorang individu, dengan perasaan dan kehidupan yang pantas dihargai.
Syukurlah, semua ini sebentar lagi akan berakhir.
Tak lama lagi, dia bisa kembali menjadi dirinya sendiri.
…
Setelah berhari-hari dalam kekacauan, barulah Bagas mulai menyadari ada yang janggal.
Tatapannya serius, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
“Saskia, kita perlu bicara.”
Pagi itu, dia menatap Saskia dalam-dalam. Jemarinya mengetuk pelan meja samping tempat tidur.
“Kamu… sudah dengar sesuatu, ‘kan?”
Lingkaran sosial mereka sempit, gosip berputar begitu cepat. Mana mungkin dia tak mendengarnya?
Beberapa hari terakhir, rumah ini memang kacau.
Tapi di luar sana, dunia justru semakin “ramai”.
Bagas membawa Saskia ke berbagai acara. Barang lelang yang biasanya hanya jadi hak istimewa Saskia sebagai istri sah, kini jadi milik Claudia.
Begitu wanita itu mengeluh tak terbiasa dengan arsitektur lokal, Bagas langsung menghadiahkannya sebuah mansion bergaya Prancis atas namanya.
Ketika Claudia berkata ingin punya karier, Bagas tanpa pikir panjang membeli sebuah sekolah elit di Moska, menjadikannya kepala sekolah di sana.
Begitu banyak yang sudah Bagas lakukan untuk wanita lain.
Namun di depan Saskia, dia hanya berkata datar.
“Jangan salah paham. Aku dan Claudia hanya sebatas teman.”
Konyol.
Begitu konyol, sampai Saskia malas menanggapi.
Bagas mengerutkan kening.
“Meski kamu cemburu atau marah sama aku, tapi anak-anak nggak bersalah. Sikapmu seperti ini akan memengaruhi mereka. Atau jangan-jangan… kamu memang sudah nggak mau jadi ibu mereka lagi?”
Saskia mengepal erat telapak tangannya. Amarah yang selama ini ditahan akhirnya memuncak, tak lagi bisa dibendung.
Dia menatap lurus ke arah Bagas.
“Baik. Kalau begitu… aku memang nggak mau lagi jadi ibu mereka.”
Bab 4
Suasana seketika membeku.
Namun alih-alih marah, Bagas justru tersenyum tipis.
“Jadi kamu takut posisimu terancam? Sudah kubilang, antara aku dan Claudia itu mustahil. Kamu akan selalu jadi Nyonya Pradipta, ibu dari Evan dan Eva.”
Bagas begitu yakin kata-kata itu cukup untuk meredakan amarah Saskia. Seperti biasa, setelah itu dia langsung memberi perintah.
“Jangan ribut lagi. Evan dan Eva sebentar lagi genap lima tahun. Kamu persiapkan pesta ulang tahun mereka dengan baik.”
Hati Saskia terasa diremuk.
Setiap tahun, pesta ulang tahun anak-anak selalu dia siapkan sepenuh hati. Bahkan beberapa hari lalu, dia berniat menghadiahkan dana perwalian khusus untuk mereka.
Namun, karena bukan ibu kandung, hak itu tak diberikan padanya.
Melihat Saskia terdiam, Bagas mengira itu tanda setuju. Dengan santai dia melanjutkan ucapannya.
“Kebetulan ulang tahun Claudia jatuh di hari yang sama dengan anak-anak. Jarang sekali ada kebetulan begini. Sekalian saja kamu persiapkan. Makin ramai, makin meriah.”
Boom!!!
Kepala Saskia seakan meledak. Tubuhnya bergetar menahan amarah.
Masih segar dalam ingatannya saat mengandung anak kembar itu. Perutnya sudah begitu besar di akhir masa kehamilan. Dokter menyarankan operasi caesar, tapi Bagas bersikeras menunggu.
“Semakin lama anak-anak bertahan dalam rahim, semakin baik.”
Katanya waktu itu.
Demi kebaikan anak, Saskia menurut tanpa keluhan.
Setengah bulan terakhir menjelang persalinan, dia hampir tak bisa tidur. Guratan kehamilan merekah tanpa henti di perutnya.
Dia juga seorang wanita yang peduli pada kecantikan. Dia pernah menangis diam-diam, tapi selalu meyakinkan dirinya.
Demi jadi seorang ibu, aku harus kuat!
Dan akhirnya, hari operasi caesar tiba—hari yang ditentukan oleh Bagas.
Baru kini dia sadar… semua penderitaan itu tak lebih dari siasat. Agar “ibu kandung yang sesungguhnya” bisa merayakan ulang tahun di hari yang sama dengan anak-anak. Agar ikatan mereka semakin kuat.
Betapa konyol. Betapa menyedihkan!
…
Hari pesta pun tiba.
Acara digelar di rumah, Saskia tak bisa menghindar. Dia hanya berdiri di kerumunan.
Seperti yang sudah diduga, Claudia menjadi pusat perhatian.
Gaun duyung merah muda bertabur berlian membalut tubuh indahnya, lengkap dengan perhiasan langka—semua hasil lelang yang baru-baru ini Bagas menangkan khusus untuknya.
Evan mengenakan tuksedo mungil, sementara Eva tampil dengan gaun bunga merah muda. Bertiga, mereka masuk beriringan, bergandengan tangan.
Beberapa tamu yang tak tahu menahu berbisik kagum.
“Betapa beruntung Nyonya Pradipta! Suami tampan, kaya raya, ditambah anak laki-laki dan perempuan yang begitu mirip dengannya.”
Namun bisikan itu segera ditegur seseorang.
“Huss! Jangan sembarangan bicara! Itu bukan Nyonya Pradipta, tapi mantan pacar Pak Bagas. Katanya cuma teman… tapi lihatlah, lebih mirip cinta sejati.”
“Pantas saja dulu Pak Bagas menikahi wanita biasa itu. Rupanya hanya karena wajahnya mirip mantan. Lagi pula, wanita yang nggak pernah melahirkan tubuhnya tetap awet muda, ramping, bahkan pakai warna merah muda pun masih cocok sekali.”
Saskia tak tahan lagi. Dia berbalik, melangkah ke balkon untuk menghirup udara segar. Menghitung detik demi detik, berapa lama lagi hingga dia bisa meninggalkan tempat ini.
“Sudah tahu cuma pengganti, kenapa masih punya nyali untuk bertahan?”
Suara congkak terdengar di sampingnya. Claudia berdiri dengan tatapan angkuh.
“Tujuanku kali ini datang cuma satu. Menyingkirkan semua penghalang, agar aku bisa bersama Bagas. Kamu akan tersingkir sebentar lagi.”
Dia kira Saskia akan panik, kehilangan kendali—seperti yang Bagas gambarkan tentang istri polos yang tak tahu apa-apa.
Namun wajah Saskia tetap tenang, tanpa gelombang.
“Silakan coba saja.”
Bagaimanapun, keputusan Bagas selalu sulit digoyahkan.
Meski masih mencintai Claudia, Saskia tahu Bagas terikat aturan dan dendam keluarga. Pernikahan mereka mustahil.
“Kamu berani menantangku?” Mata Claudia menggelap.
“Jangan kira dengan melahirkan dua anak bisa mengamankan posisimu. Aku akan buktikan siapa yang lebih penting—aku atau kamu, pengganti murahan!”
Dengan cepat, dia melepas gelang mutiara merah muda dari pergelangan tangannya, lalu melemparkannya ke danau kecil di bawah balkon.
Lalu dengan suara lantang penuh pura-pura dan amarah, dia menuduh Sakia.
“Aku sama Bagas cuma teman. Kalau kamu nggak percaya, jangan seenaknya buang gelangku! Cepat ambil kembali gelang itu!”
Seketika, semua mata tertuju pada mereka.
Bagas bergegas mendekat.
Dia sempat ragu, lalu berusaha menenangkan.
“Claudia, jangan marah. Kondisinya belakangan ini kurang baik, mungkin Saskia nggak sengaja. Lagi pula, malam begini air danau dingin, nggak cocok untuk menyelam. Aku akan belikan gelang baru, yang lebih bagus.”
Namun Claudia mengguncang kepala, suaranya parau penuh tangis.
“Gelang itu nggak tergantikan! Itu gelang yang dulu kamu berikan padaku...” Sorot matanya dipenuhi rasa sakit.
Wajah Bagas seketika berubah. Saskia tahu persis alasannya.
Di akun pribadi Bagas waktu itu, dia pernah melihat gelang itu. Gelang yang terbuat dari mutiara kerang merah muda yang amat langka. Hanya ada satu di dunia. Hadiah ketika Bagas menyatakan cinta, lambang cinta sejati mereka.
Claudia dengan licik mengorbankan barang berharga itu demi menjebaknya.
Namun Saskia tak goyah.
“Claudia sendiri yang membuang gelang itu. Ada CCTV. Bisa dicek.”
Dia memang sudah menambahkan kamera tambahan—untuk berjaga-jaga. Dan kali ini, itu terbukti menyelamatkannya.
Ekspresi Claudia panik, jelas tak menyangka Saskia sudah menyiapkan langkah antisipasi.
Bagas memperhatikan perubahan itu, keraguan mulai memenuhi matanya.
Tepat saat itu, Evan dan Eva berlari menghampiri. Seperti dua anak binatang yang siap melindungi induknya, suara polos mereka terdengar lantang.
“Nggak usah lihat CCTV! Kami lihat sendiri, kok!”
“Gelang itu memang dibuang sama Mama!”
Bab 5
Aula perjamuan seketika hening, tak ada satu suara pun terdengar.
Saskia sempat mengira telinganya salah menangkap, tapi dua anak itu kembali bersuara lantang, polos, dan tegas.
“Benar, itu Mama yang buang!”
“Iya! Eva lihat sendiri, kok!”
Kata-kata itu terdengar begitu lembut, suara kanak-kanak yang polos. Namun justru karena kepolosan itu… kebohongan mereka menjadi pisau paling kejam, menusuk langsung ke hati Saskia.
Sekaligus memadamkan sisa-sisa cinta dalam hatinya.
Dia berusaha membela diri.
“Aku nggak melakukannya! Kalau nggak percaya, kalian bisa lihat rekaman CCTV...”
“Cukup!”
Suara Bagas dingin, memotong ucapannya.
“Evan dan Eva masih kecil, mana mungkin mereka berbohong? Lagi pula, apa alasan Claudia harus menuduhmu dengan barang yang paling berharga baginya? Saskia, hari ini kamu sudah berulang kali membuat masalah, tapi masih saja keras kepala. Kamu memang harus membayar akibat dari perbuatanmu.”
Tatapannya tajam, suaranya beku seperti es.
“Turun ke danau. Cari gelang itu. Kamu boleh naik setelah menemukannya!”
Perintah Bagas… tak pernah bisa ditawar.
Saskia diseret paksa oleh bodyguard, tubuhnya didorong masuk ke air danau.
Dasar danau penuh lumut licin dan bebatuan tajam. Luka-luka yang baru saja mengering kembali terbuka, perihnya membuat tubuhnya gemetar hebat.
Entah berapa lama dia mencari, tangannya memutih kaku dalam air dingin, hingga akhirnya berhasil menemukan gelang itu.
Namun begitu Saskia mengangkatnya, Bagas langsung meraihnya tanpa menoleh sedikit pun, lalu bergegas menghampiri Claudia.
Saskia terbaring lemah di tepi danau, tubuhnya basah kuyup dan penuh luka.
Di atas kepalanya, terdengar suara polos Evan dan Eva.
“Kakak, lihat mama… kasihan sekali. Menurutmu, apa kita terlalu kejam?”
“Nggak. Papa bilang, kita harus selalu bantu Tante Claudia. Kita cuma nurut kata papa.”
“Iya juga… toh mama sangat mencintai kita. Pasti nggak masalah. Ayo, kita cari Tante Claudia…”
Suara mereka perlahan menjauh, meninggalkan Saskia sendirian hingga tenggelam dalam kegelapan.
Saat membuka mata kembali, dia sudah terbaring sendirian di rumah sakit.
Dua perawat tengah sibuk membersihkan lukanya sambil bercakap pelan.
“Benar ya kata orang, menikah itu seperti taruhan hidup kedua. Lihat yang ini… tubuh penuh luka, demam tinggi, tapi nggak ada satu pun yang peduli.”
“Berbeda sekali dengan Nyonya Pradipta. Kudengar cuma gara-gara gelang kesayangannya terendam, Pak Bagas langsung menyewa satu lantai VIP, bahkan memanggil pakar dari seluruh negeri agar matanya cepat pulih.”
“Iya, suaminya cinta sama dia. Anak-anaknya juga manis… masih kecil, tapi sudah tahu cara mengupas leci untuk ibunya. Yang satu lagi rajin bercerita supaya dia nggak bosan. Ah, bahagia sekali ya, punya anak laki-laki dan perempuan sekaligus.”
Begitu Saskia membuka mata, kedua perawat itu langsung bungkam.
Dalam keheningan, ponselnya bergetar.
Pesan singkat dari Bagas.
[Selama di rumah sakit, gunakan waktumu untuk merenung.]
Perbandingan antara dicintai dan tak dicintai… benar-benar menyakitkan.
Namun kali ini, hatinya hanya bergetar sebentar—tak ada lagi kesedihan, bahkan amarah pun hilang.
Hatinya kosong, hanya menyisakan satu harapan, bisa segera pergi dari semua ini.
…
Hari ketika dia keluar dari rumah sakit, sopir keluarga yang menjemputnya.
Mobil berhenti di depan sebuah klub mewah.
“Nyonya, tuan menunggu Anda di dalam.”
Saskia tak mencurigai apa pun. Bertahun-tahun menjadi Nyonya Pradipta, dia terbiasa mendampingi Bagas menghadiri berbagai pertemuan.
Namun begitu sampai di depan ruangan yang ditunjukkan, suara-suara aneh terdengar dari dalam.
Mengira dirinya salah tempat, Saskia mengintip melalui celah pintu… lalu tubuhnya membeku.
Di dalam, Claudia duduk dengan tenang, sementara seorang pria asing merobek kancing bajunya sendiri, tangannya meraba tubuh dengan napas terengah.
Claudia? Dia sama sekali tak terganggu, malah dengan santai mengacak rambutnya dan mencubit lehernya hingga meninggalkan bekas merah.
Pemandangan itu… terlalu aneh. Terlalu mencurigakan.
Naluri Saskia berteriak—bahaya.
Dia buru-buru berbalik, hendak kabur.
Tapi sudah terlambat.
Bab 6
Pria itu menarik tangan Saskia, menyeretnya masuk ke ruang VIP.
Sesaat kemudian, Bagas pun masuk bersama dua anak mereka.
“Bagas!”
Claudia meraung, suaranya pecah.
Dia menerjang, langsung memeluk Bagas sambil menangis tersedu-sedu, nada suaranya penuh kepedihan sekaligus tuduhan.
“Saskia nggak percaya kalau aku dan kamu cuma teman. Dia malah kasih aku obat, katanya biar aku hancur oleh pria lain, baru hatinya bisa tenang.”
Claudia menunjuk rambutnya yang berantakan, bekas merah di lehernya seperti bukti pengkhianatan.
“Untung kamu datang tepat waktu. Kalau nggak… aku…”
“Aku nggak pernah melakukan itu!” Saskia buru-buru membela diri, suaranya tercekat.
“Sopir yang membawaku ke sini. Dia bilang ada jamuan penting.”
Sopir itu melangkah masuk, wajahnya berubah cemas, penuh kepura-puraan.
“Nyonya, jangan asal tuduh. Jelas-jelas Anda yang minta saya antar ke sini. Bahkan Anda bilang sebentar lagi akan ada pertunjukan bagus.”
Pria dalam ruang VIP ikut bersuara, panik.
“Nyonya Pradipta sendiri yang bilang padaku. Dia yang akan mencarikan wanita untukku. Kalau tahu wanita itu teman Pak Bagas, biar mati pun aku nggak berani berbuat macam-macam. Tolong maafkan aku!”
Bagas menatap Saskia. Mata tajamnya berubah dari kaget ke kecewa yang dalam.
“Kalau kamu ingin merebut perhatianku, nggak perlu pakai cara sehina ini. Dulu kamu dipaksa minum obat, tapi sekarang kamu tega melakukan hal yang sama untuk menghancurkan kehormatan Claudia. Kamu terlalu kejam, Saskia.”
Suaranya makin lama makin dingin.
“Hari ini, aku akan mengajarimu satu hal, orang yang berniat mencelakakan orang lain, pada akhirnya akan binasa oleh ulahnya sendiri.”
Dia menoleh ke pria yang masih berlutut, memandanginya dingin.
“Kuberi kamu satu kesempatan menebus kesalahan.”
Hati Saskia runtuh.
“Apa yang mau kamu lakukan? Bagas, kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini!”
Bagas mencibir.
“Aku nggak sehina dirimu. Kamu ingin menghancurkan kehormatan orang lain, ‘kan? Maka aku akan menghancurkan wajahmu.”
Dia memberi perintah singkat.
“Tampar wajahnya, sekeras mungkin.”
Pria itu segera bangkit, menampar Saskia berulang-ulang.
Tamparan demi tamparan mendarat. Panas, pedih, dan cepat membuat wajahnya bengkak. Darah merembes di sudut bibirnya, bercampur air mata yang tak henti jatuh.
Sakit. Teramat sakit.
Di ruangan itu, selain dirinya yang menderita, semua orang tampak dingin, menatapnya dengan penuh ejekan.
Bagas bahkan tak menoleh padanya sekali pun. Pria itu hanya merunduk, menenangkan Claudia dengan lembut.
“Kita ke rumah sakit. Efek obatnya sebentar lagi akan reda.”
“Nggak mau!” Claudia merengek, memeluknya lebih erat.
“Aku terpukul… aku cuma mau kamu yang menemaniku...”
Wanita itu nekat mencium bibir Bagas.
Logika mengharuskan Bagas menolak. Namun tubuhnya tak mampu melawan.
Air mata Claudia, panas di bibirnya—semuanya membuat Bagas kehilangan kendali.
Akhirnya, dia mengangkat pinggang Claudia, membawanya ke ruang sebelah. Pintu tertutup keras, tapi suara desahan yang makin panas tak bisa disembunyikan.
Di selorong ruangan, Evan bersorak riang dalam bahasa Prancis yang kini sudah jadi senjata ejekan mereka. “Hore! Tante Claudia memang jago! Menuruti kata-katanya dan memasukkan obat ke dalam kopi ayah. Benar saja, mereka sudah berciuman!”
“Iya, sebentar lagi kita bakal punya adik-adik pintar!” Eva ikut bersorak, menampakkan kebanggaan atas kedok yang berhasil mereka buat.
Saskia menoleh, terpaku.
Sejak belajar Bahasa Prancis, anak-anak itu semakin meremehkannya.
Dia diam-diam belajar bahasa itu juga. Dia tak pernah menyangka, korban obat bukanlah Claudia, melainkan Bagas sendiri. Lebih pedih lagi, Claudia tega memanfaatkan anak kecil demi tujuan busuknya.
Evan menangkap tatapan Saskia dan menjawab santai, tanpa beban.
“Mama, jangan sedih. Kami percaya ini bukan kesalahan Mama.”
Eva ikut menimpali.
“Iya, soal gelang kemarin juga… maaf ya. Kami salah lihat.”
Saskia tertawa getir.
“Aku sudah nggak marah,” katanya pelan.
Untuk orang-orang yang tak ada kaitannya, marah pun tak ada gunanya.
Anak-anak itu, yang baru saja menenangkan, kembali melontarkan kata-kata dalam Bahasa Prancis dengan nada sinis.
“Mama memang bodoh, lagi-lagi tertipu!”
“Dia sayang sama kita, dia anjing penjilat kita. Tentu saja nggak tega marah.”
“Eh, salah! Tante Claudia bilang, kalau laki-laki yang jadi budak cinta disebut ‘anjing penjilat’, perempuan disebut ‘jalang’.”
“Iya betul! Mama itu jalang! Tante Claudia jelas yang terbaik, dia sudah ajarkan pada kita banyak hal berguna!”
Saskia terdiam.
Bahasa Prancis terdengar indah. Namun ketika digunakan untuk menghina… begitu menusuk telinga.
Jadi inilah cara Claudia mendidik mereka.
Jika suatu hari Claudia tahu bahwa Evan dan Eva sebenarnya adalah anak kandung sendiri—apa wanita itu masih tega mengajari mereka seperti itu?
Bab 7
Malam itu, begitu sampai di rumah, Bagas langsung memerintahkan pelayan menyiapkan koper.
“Cukup sekali saja hal seperti ini. Aku bantu tutup aibmu.” Suaranya dingin, alisnya mengerut tajam saat menatap Saskia.
“Jangan lagi cemburu buta. Jangan lagi bertindak semau kamu.”
Hening sebentar, lalu dia menambahkan, “Claudia sedang terguncang, aku harus menemaninya beberapa hari. Tenang, aku nggak akan menikahinya, juga nggak akan berdua dengannya. Anak-anak akan ikut.”
Ironis—kata-katanya bicara lain, kenyataannya berbeda.
Bagas bilang tak akan menikahi Claudia, tapi dia sudah punya dua anak dengan wanita itu. Dia bilang tak akan berduaan, tapi mereka berempat berjalan seperti keluarga utuh.
Syukurlah, kalau begitu Saskia pun bisa lebih tenang tanpa mereka.
Hari saat surat cerai mulai berlaku datang juga. Di tangannya tergenggam selembar kertas merah tua. Rasanya seperti mimpi yang akhirnya selesai.
Namun, saat hendak pergi, Claudia justru muncul dengan membawa bodyguard.
“Apa-apaan ini? Mau main tarik-ulur? Kabur dari rumah biar dikejar?” ejek Claudia sambil melirik koper yang sudah siap.
“Wanita jalang memang penuh akal busuk!” Matanya penuh perhitungan, tatapannya dingin.
Saskia tak ingin lagi terjerat dalam pertengkaran. Dia langsung mengeluarkan surat cerai.
“Sampaikan pada Bagas. Posisi Nyonya Pradipta sudah kosong. Aku nggak akan kembali.”
Claudia memeriksa surat itu. Untuk sesaat matanya bersinar—lalu berubah bengis.
“Sayang sekali. Menurutku, cuma orang mati yang nggak lagi jadi ancaman!”
“Jangan khawatir, aku pasti akan jadi Nyonya Pradipta. Dan kedua anak kecilmu yang hina itu… akan kubuat hancur!”
Ternyata, sampai detik ini pun Bagas belum membuka kebenarannya. Sementara Evan dan Eva tetap melindungi Claudia, tetap manis padanya. Betapa menyedihkan.
Saskia hendak menjawab, tapi belum sempat berkata apa-apa, sebuah hantaman keras mendarat di kepala. Dunia menghitam.
Saat tersadar, tubuhnya terikat di tepi tebing dan dililit bom. Di belakangnya menjulang jurang dalam yang membuat bulu kuduk merinding.
Tak jauh, Claudia juga terikat. Matanya memancarkan kebencian.
“Setiap kali aku ingat, hanya karena wajahmu mirip denganku, kamu bisa melahirkan anak-anak itu untuk Bagas… aku ingin kamu mati! Aku ingin kamu menyaksikan sendiri bagaimana Bagas dan anak-anakmu memilihku! Hanya tubuhmu hancur berkeping-keping yang bisa buat aku puas!”
Namun tiba-tiba, wajahnya berubah pucat, pura-pura putus asa.
Benar saja. Bagas datang, berdiri di tepi tebing bersama kedua anaknya.
Seorang penculik melangkah maju, menatap Bagas penuh nada tawar.
“Serahkan uang tebusan. Aku lepaskan satu orang. Pilih!”
Angin menerpa rambut Saskia. Di kejauhan, dia mendengar suara Bagas bergetar.
“Keduanya. Aku mau dua-duanya dilepas!”
Penculik mencibir.
“Mana bisa semudah itu? Pilih salah satu, atau dua-duanya mati.”
Anak-anak panik. Evan menjerit, Eva menangis.
“Papa! Pilih Tante Claudia saja! Aku cuma mau tante!”
“Mama dari awal sudah nggak berguna. Kalau mama mati, kita nggak akan dipermalukan lagi. Eva mau Tante Claudia jadi mama baruku.”
Bagas hendak memarahi mereka, tapi asistennya menyelak, bergumam cepat ke telinganya.
“Tuan, inforasi sudah didapat. Penculik ini saudara dari pria di klub tempo hari.”
Wajah Bagas berubah. Mata yang semula bergetar kini dipenuhi amarah yang menahan segala rasa.
Lagi-lagi ulah Saskia! Masih saja tak menyesal!
Beberapa hari ini dirinya menjaga jarak dengan Claudia, setidakpercaya itu kah Saskia padanya?
Dadanya penuh kejengkelan. Akhirnya dia tak ragu lagi.
“Aku pilih Claudia.”
Penculik menyeringai.
“Lalu yang satunya? Bukankah dia istri sahmu?”
Bagas menatap tanpa belas kasih.
“Mau mati atau hidup, aku nggak peduli.”
Penculik pun melepas ikatan Claudia dan mendorongnya.
Bagas merentangkan tangan, menahannya. Evan dan Eva segera berlari menghampiri dengan penuh kekhawatiran.
Mereka berempat berdiri, seperti keluarga sempurna, lalu berjalan menjauh—tak satu pun menoleh.
Sementara bom di tubuh Saskia terus berdetik.
Dia meronta dengan putus asa, suaranya bergetar penuh ketakutan.
“Aku bayar! Berapa pun yang Claudia kasih, aku bisa bayar dua kali lipat.”
Mata penculik itu berkedip ragu, tapi tetap bungkam.
“Aku bayar sepuluh kali lipat!”
Hening sejenak. Lalu…
klik!
Suara detik bom berhenti.
Saskia terselamatkan.
Tubuhnya langsung jatuh terduduk di tepi tebing, kakinya lemas tak sanggup menopang.
Dengan susah payah, dia meraih kembali dokumen-dokumennya yang hampir terhempas angin.
Di layar laptop, masih terpampang foto keluarga itu.
Namun, di saat paling genting tadi… suami dan anak-anaknya semua memilih Claudia.
Ingatannya kembali pada ejekan tajam Claudia, yang dengan enteng menyebut anak-anaknya “bajingan hina”.
Saskia menarik napas panjang, menekan rasa perih yang menyesak di dada.
Dia menyingkirkan niat untuk mengungkapkan kebenaran.
Itu urusan karma keluarga mereka sendiri. Aku… tak akan ikut campur lagi.
Dengan tenang, dia menghapus foto keluarga itu, menggantinya dengan gambar langit biru dan awan putih.
Saat mobil yang ditumpanginya meluncur menuju bandara, Saskia tahu…
Dia telah berhasil menembus tahun-tahun kelam yang menjeratnya.
Dan akhirnya, di hadapannya, terbentang samudra luas dan langit tanpa batas.