Đang tải thông tin quảng bá...
Ternyata Jodoh Selalu di Sampingku
Tiga tahun lalu, aku menjebak seorang tokoh besar dari kalangan elite Kota Persy dengan obat. Kami melewati malam penuh kegilaan. Setelah itu, dia bukannya menghukumku, tetapi justru menggenggam pingg...
Chương (1)
第1章
Tiga tahun lalu, aku menjebak seorang tokoh besar dari kalangan elite Kota Persy dengan obat.
Kami melewati malam penuh kegilaan. Setelah itu, dia bukannya menghukumku, tetapi justru menggenggam pinggangku dengat erat, terus menabrakku hingga kakiku lemas, dan berulang kali memanggilku, "Putri Kecil."
Saat aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan kepada Farel, Nia Candra, cinta pertamanya, tiba-tiba kembali.
Demi Nia, Farel rela membiarkanku ditabrak mobil. Dia menyaksikan peninggalan terakhir ibuku dilemparkan ke anjing jalanan, dan bahkan membuatku masuk penjara.
Namun, ketika aku benar-benar menyerah dan terbang ke Kota Appia untuk menikah dengan orang lain, Farel mencari ke seluruh Kota Persy hanya untuk menemukanku.
Bab 1
Di depan orang lain, aku adalah putri kecil Keluarga Elio yang ceria dan bersemangat, sementara Farel adalah sosok bos di kalangan elit Kota Persy yang disiplin, dingin, dan sangat terkendali.
Namun, setiap malam, Farel selalu menggenggam pinggangku, membuat lututku lemas, sambil berulang kali memanggilku, "Putri Kecil."
Akan tetapi, dia tidak tahu, dua minggu lagi aku akan menikah dengan orang lain.
Seprai masih hangat dan lembap saat aku berbaring mengatur napas, sementara Farel sudah bangkit dan mulai mengenakan pakaian.
Aku menoleh ke samping, melihat jari-jari panjangnya merapikan kancing kemeja.
"Kamu nggak tinggal di sini malam ini?" tanyaku.
"Ada rapat di kantor," jawabnya tanpa menoleh. "Bersikaplah manis."
Kata-kata itu lagi.
Aku duduk, seprai pun tergelincir dari tubuhku.
Gerakan Farel berhenti sesaat, lalu dia melanjutkan mengikat dasinya.
"Farel."
"Hm?"
"Nggak apa-apa."
Dia menoleh, menunduk, dan mencium dahiku. "Aku pergi dulu."
Begitu pintu tertutup, aku mengambil ponsel dan menekan nomor yang sudah tidak asing lagi.
"Ayah, aku setuju untuk menikah. Dua minggu lagi, aku akan menikah dengan pewaris Keluarga Fathir di Kota Appia yang nyaris sekarat, tapi aku punya satu syarat."
Orang di ujung telepon terdengar girang, "Oke! Katakan! Apa pun syaratnya, aku akan langsung setuju!"
"Kita bahas nanti saat bertemu."
Aku menutup telepon dan menatap tablet cadangan milik Farel yang ada di meja samping tempat tidur.
Layar menyala, menampilkan pesan baru.
Pengirimnya adalah Nia.
[Kak Farel, terima kasih sudah menemaniku ke rumah sakit hari ini. Dokter bilang aku sudah pulih dengan baik, semua berkat perhatianmu. Besok aku ingin nonton film bersamamu, seperti dulu.]
Di bawahnya ada emoji cium.
Aku menatap pesan itu, jari-jariku sedikit bergetar.
Farel tidak pernah menemaniku ke rumah sakit, bahkan saat aku patah tulang rusuk saat latihan berkuda dulu.
Aku mengenakan pakaian dan diam-diam mengikuti mobil Farel.
Di depan sebuah restoran Michelin, Farel turun dari mobil.
Dari kejauhan, aku melihatnya mendekati seorang gadis berbaju putih.
Nia.
Dia tampak lebih kurus dari foto dan Farel mengulurkan tangan merapikan rambut Nia yang berantakan ditiup angin, gerakannya lembut seolah menyentuh porselen yang mudah pecah.
Selain di ranjang, aku tak pernah melihatnya menunjukkan ekspresi lembut seperti itu.
Tiga tahun lalu, saat ayah menitipkanku pada Farel, melihat wajahnya yang tampan dan dingin, kakiku gemetaran tak karuan.
"Alisa perlu belajar aturan keluarga," kata ayahku kepada Farel. "Dia terlalu liar, hanya kamu yang bisa mengendalikannya."
Waktu itu aku berusia sembilan belas tahun, baru pulang dari sekolah asrama, penuh pemberontakan, tak mau menurut siapa pun.
Banyak pria ingin menaklukkanku dan aku pikir Farel hanyalah salah satunya.
Namun, aku ingin menaklukkannya lebih dulu.
Pertemuan pertama, aku sengaja mengenakan rok super pendek ke kantornya.
Farel duduk di belakang meja, bahkan tak mengangkat kelopak matanya.
"Rapatkan kakimu, Alisa."
"Kenapa?"
"Karena caramu duduk membuat orang mengira Keluarga Elio nggak berpendidikan."
Aku sengaja mengangkat sedikit rokku. "Kalau sekarang bagaimana?"
Farel menatapku dari balik kacamata emasnya, sorot matanya dingin. "Keluar."
Beberapa bulan berikutnya, aku melakukan segala cara untuk memprovokasinya.
Menaruh catatan kecil di dokumennya, sengaja mengacaukan proyek bisnisnya, bahkan pernah menaruh obat pencahar ke wiski miliknya.
Farel selalu dengan tenang membereskan kekacauan yang kulakukan, lalu berkata dengan nada mengajari anak kecil, "Alisa, kamu memang pintar, tapi kepintaran harus digunakan di tempat yang benar."
Sampai suatu malam.
Aku menaruh obat di minumannya untuk melihat seperti apa Farel ketika kehilangan kontrol.
Tak kusangka, saat obat itu bekerja, aku juga berada di ruangan itu.
Farel menggenggam pergelangan tanganku, napasnya berat. "Apa yang kamu masukkan ke minumanku?"
"Kamu seharusnya sudah bisa menebaknya, 'kan?" Aku menatap matanya. "Mau coba sama-sama?"
Malam itu mengubah segalanya.
Keesokan paginya, Farel sudah berpakaian rapi.
Kupikir dia akan marah besar dan mengembalikanku ke ayahku, jadi aku berkata, "Farel, aku ...."
"Putri Kecil." Dia membelai pipiku dengan lembut. "Ini rahasia kita."
Putri Kecil.
Justru panggilan itu membuatku benar-benar jatuh hati.
Selama dua tahun berikutnya, kami menjalani hubungan yang aneh seperti ini.
Siang hari, dia tetap Farel yang tenang dan rasional, tetapi malam harinya, dia memanggilku Putri Kecil di telingaku, membuatku lemas karena gairahnya.
Aku kira dia mencintaiku.
Hingga suatu tahun, pada hari ulang tahunku.
Aku sudah menyiapkan segalanya dengan sempurna, mengenakan gaun tercantik, dan memesan restoran tempat kami pertama kali bertemu.
Aku sudah memutuskan untuk mengatakan padanya bahwa aku mencintainya dan bahwa aku ingin bersamanya, tidak peduli apa pun konsekuensinya.
Namun, Farel tidak datang.
Aku duduk sendirian di restoran selama tiga jam, sampai para pelayan mulai menatapku dengan rasa kasihan.
Keesokan harinya, foto Farel menjemput wanita lain di bandara beredar luas di internet.
Di foto itu, Nia bersandar di lengan Farel, keduanya tampak begitu intim seperti sepasang kekasih.
Ternyata dia sepenuhnya melupakan ulang tahunku, demi menjemput wanita lain.
Aku tersenyum getir dan minum sampai mabuk. Aku ingin bertanya pada Farel, apa arti diriku di matanya? Hanya teman tidur? Atau sekadar alat?
Namun, aku tak punya keberanian.
Aku terlalu kesepian, terlalu tergantung pada kehangatan yang dia berikan.
Aku takut jika aku menyingkap semuanya, dia justru akan meninggalkanku.
Aku menemukan foto Nia di ruang kerja Farel, malam itu, semua foto itu kuhancurkan.
Namun, ketika Farel pulang dan melihat rumah berantakan, dia bahkan tidak mengerutkan kening. Dia hanya menyuruh pelayan merapikan semuanya dan merawatku, lalu berjalan melewatiku begitu saja.
Saat itu aku akhirnya mengerti. Farel adalah pewaris Keluarga Keano, terlalu tinggi untuk dijangkau, dingin dan penuh wibawa.
Kesabarannya padaku sebenarnya hanyalah karena dia merasa tak perlu mempermasalahkanku.
Sejak saat itu, dia masih memanggilku Putri Kecil di ranjang, seolah tak ada yang berubah.
Hanya saja, hatiku sudah mati.
Di luar restoran, Farel membukakan pintu mobil untuk Nia, mereka berbincang dengan akrab.
Aku mengalihkan pandanganku, kemudian menyetir pulang ke rumah Keluarga Elio.
Di ruang tamu, ayahku dan ibu tiriku, Rara, sedang menonton TV.
Begitu melihatku masuk, ayahku langsung mematikan televisi.
"Katakan. Apa syaratmu agar kamu setuju untuk menikah?"
Aku duduk di sofa. "Aku ingin memutus hubungan ayah-anak denganmu."
Ekspresi ayahku menjadi kaku. "Apa katamu?"
Rara, yang berdiri di dekatnya, matanya berbinar ketika mendengarku mengatakan ini.
"Aku bilang, aku setuju menikah dengan pewaris Keluarga Fathir yang sekarat, tapi sebagai gantinya, kita putus hubungan. Mulai sekarang, aku bukan lagi anak Keluarga Elio. Kamu bisa saja membawa pulang simpananmu dan anak harammu dengan terang-terangan. Sejak kamu merencanakan kecelakaan mobil yang membunuh ibuku, aku nggak ingin menganggapmu sebagai ayah lagi!"
Ekspresi ayahku langsung berubah pucat dan tegang. "Aku sudah bilang, kecelakaan itu murni kebetulan!"
Aku menatap matanya, sambil tersenyum sinis. "Kebetulan atau nggak, dia meninggal saat melihatmu berselingkuh dengan Rara. Ayah, jangan pura-pura peduli padaku lagi. Lima bulan terakhir kamu berusaha menjualku ke Keluarga Fathir, bukan untukku, tapi supaya simpananmu bisa masuk Keluarga Elio dan anak harammu bisa memakai marga Elio, 'kan?"
Abbas tiba-tiba berdiri. "Alisa, kamu ingin memutus hubungan 'kan? Oke! Mulai besok, kamu bukan lagi anakku!"
"Setuju." Aku berbalik dan naik ke lantai atas. "Oh ya, jangan lupa beri tahu mereka, calon pasangan pernikahan mereka bukan lagi putri Keluarga Elio, tapi seorang gadis yatim piatu. Tanyakan apa mereka masih bersedia membayar harga yang sama."
Setibanya di kamar, aku menutup pintu dan akhirnya menanggalkan semua topengku.
Air mata mengalir deras. Aku meringkuk di tempat tidur seperti hewan kecil yang terluka.
Farel, tahukah kamu?
Agar bisa benar-benar meninggalkanmu, aku bahkan melepaskan sandaran terakhirku.
Keesokan paginya, suara barang-barang dipindahkan terdengar dari lantai bawah.
Aku bangun dan turun, berjalan ke sudut tangga.
Sosok yang sangat familier berdiri di sana.
Nia.
Sekejap, darahku seakan membeku.
Bab 2
Nia berdiri di mulut tangga, mengenakan gaun putih polos yang membuatnya terlihat memilukan.
Dia melihatku dan segera menunjukkan senyum manis. "Kamu pasti Alisa, 'kan? Aku Nia, senang bertemu denganmu."
Aku tidak menjawab, hanya memandangnya dalam diam.
Abbas melangkah keluar dari ruang tamu. Saat melihat Nia, raut wajahnya yang biasanya dingin tiba-tiba menampakkan kelembutan yang jarang terlihat.
"Nia, kamu pasti capek, 'kan? Biarkan Alisa mengantarmu ke kamar untuk beristirahat."
"Terima kasih, Paman Abbas," sahut Nia dengan manis dan patuh.
"Pergilah ke kamar Alisa. Di sana pencahayaannya paling baik, cocok untuk pemulihanmu," kata Abbas.
Aku menoleh padanya. "Kamarku?"
"Mulai hari ini, itu akan menjadi kamar Nia. Kamu pindah ke lantai tiga, di sana ada kamar kosong."
Aku tersenyum sinis. "Nggak usah."
Aku berbalik dan naik ke lantai atas untuk mulai membereskan barang-barangku.
Tiga puluh menit kemudian, aku menuruni tangga sambil menyeret koper.
Melihat koperku, Abbas mengernyit. "Kamu mau ke mana?"
"Pergi dari sini," jawabku tanpa menoleh. "Lagi pula, aku sudah bukan lagi anak Keluarga Elio, nggak ada alasan untukku tinggal di sini."
"Alisa!" teriaknya menghentikanku. "Dua minggu lagi kamu akan menikah. Jangan bertingkah seenaknya!"
"Aku tahu." Aku membuka pintu. "Dua minggu lagi aku akan hadir tepat waktu di pernikahan, menepati kesepakatan kita."
Pintu tertutup dengan keras. Aku mengemudikan mobil meninggalkan rumah Keluarga Elio.
Tujuan pertamaku adalah langsung menuju hotel mewah terbaik di kalangan elite Kota Persy.
"Aku mau suite termahal yang kalian punya," kataku ke resepsionis.
"Untuk berapa malam?"
"Dua minggu."
Saat membayar, aku memakai kartu tambahan yang diberikan Keluarga Elio.
Kartu ini punya limit 60 miliar, biasanya jarang kugunakan.
Namun, hari ini, aku ingin memakainya sampai habis.
Setelah masuk ke suite, aku memulai balas dendam lewat belanja besar-besaran.
Aku menghubungi desainer pribadi, Vera dan memesan tiga gaun pengantin berbeda, masing-masing bernilai lebih dari dua miliar.
Lalu, aku membeli sepuluh set perhiasan dan dua jam tangan Rolex edisi terbatas.
Dalam sehari, aku menghabiskan hampir 50 miliar.
Tak lama kemudian, telepon dari Abbas masuk.
"Alisa! Kamu gila ya? Sehari sudah habis hampir 60 miliar!"
"Memang kenapa?" Aku bersandar di sofa kulit hotel dengan santai. "Aku akan menikah ke tempat yang jauh dari sini, jadi setidaknya aku harus belanja sedikit untuk menaikkan gengsi."
"Kamu butuh banyak uang hanya untuk menjaga gengsi?"
"Tentu saja." Aku minum sampanye. "Aku akan menikahi penerus Keluarga Fathir, mana boleh terlihat pelit? Lagi pula, Keluarga Fathir akan memberikan dana pernikahan 6 triliun, apa artinya aku menghabiskan beberapa ratusan miliar?"
"Kamu!" Abbas kesal sampai tak bisa berkata apa-apa.
"Ayah, oh, salah, seharusnya aku memanggilmu Pak Abbas." Aku tersenyum. "Bukankah kita sudah putus hubungan? Jadi, kalau aku pakai uangmu, ya memang salah sih. Begini saja, begitu dana pernikahan masuk, aku akan langsung mengembalikannya."
Setelah menutup telepon, aku melanjutkan rencanaku berbelanja.
Aku harus mengosongkan arus kas Keluarga Elio sebelum dana pernikahan itu cair.
Nantinya, uang 6 triliun itu akan langsung ditransfer ke rekeningku. Jika Abbas ingin mengambilnya kembali, dia harus memohon kepadaku.
Lihat saja nanti, apakah dia masih berani memihak ibu dan anak itu.
Saat aku bersiap untuk melakukan pembelanjaan terakhir, ponselku bergetar.
Ternyata pesan dari Farel: [Kamu sudah tiga hari nggak ke kantor, ada apa?]
Aku menatap pesan itu, jantungku tiba-tiba berdebar.
Namun, aku segera menenangkan diri.
Farel cuma kesal karena aku tidak mengikuti arahan dia, cuma itu saja.
Aku membalas: [Ada urusan keluarga, beberapa hari lagi selesai.]
Farel tidak membalas lagi.
Keesokan paginya, saat aku hendak keluar untuk melanjutkan berbelanja, resepsionis hotel menghentikanku, "Nona Alisa, maaf, akun Anda dibekukan. Anda nggak bisa membayar biaya kamar lagi."
"Maksudnya?"
"Anda harus segera melunasi tagihan, atau ...." Dia berhenti sejenak dengan sopan. "Anda harus meninggalkan hotel."
Satu jam kemudian, aku berdiri di depan hotel sambil menyeret koper.
Tanpa uang sepeser pun, tanpa tempat tinggal.
Aku tidak rela dan tidak ingin menjual barang-barang mewah yang sudah kubeli karena semua ini akan kubawa untuk pernikahanku.
Aku sempat berpikir menelepon temanku, tetapi sadar bahwa aku tak punya teman sejati.
Orang-orang di sekitarku hanya tertarik pada kekuasaan Keluarga Elio.
Sekarang aku sudah diusir dari rumah, siapa yang mau peduli padaku?
Hari makin gelap, aku menyeret koper dan berjalan tanpa tujuan di jalanan.
Akhirnya, aku duduk di sebuah bangku di taman.
Malam sudah larut, taman sunyi, hanya sesekali terdengar suara mobil dari jauh.
Aku memeluk lutut, menghitung mundur lima hari menuju pernikahan, tetapi aku tak bisa terus-terusan berkeliaran di jalan.
Saat aku sedang bingung, beberapa pria mabuk berjalan sempoyongan mendekatiku.
"Hai, cantik, sendirian nih?" Salah seorang mendekat, baunya alkohol murah menyengat.
Aku berdiri dengan waspada. "Menjauh dariku!"
"Jangan dingin gitu dong." Pria itu mengulurkan tangan ingin menyentuhku. "Temani kami minum sebentar, yuk?"
Aku mundur selangkah, tetapi terhalang oleh bangku panjang.
Saat itu, terdengar suara berat.
"Dia sudah ada yang menemani."
Aku menoleh, melihat Farel muncul dari bayangan, ekspresinya sangat muram.
Beberapa pemabuk yang melihat aura Farel langsung minggat.
Farel berjalan ke depanku, memandang koperku, lalu melihat bangku panjang itu.
"Sudah nggak punya rumah, masih juga nggak mau mencariku?"
Bab 3
Farel mengantarku pulang dengan mobil ke rumah vilanya di utara kota.
Aku duduk di kursi penumpang, menatap lampu neon yang melintas di luar jendela, hatiku terasa hampa.
"Sudah sampai." Farel berhenti, berjalan ke sisiku dan membuka pintu mobil.
Kenapa selalu begini, tidak mencintaiku, tetapi tidur denganku dan tetap begitu perhatian.
Hidungku terasa perih.
Aku turun dari mobil, menyeret koper dan berjalan mengikutinya.
Rumah ini sangat kukenal, setiap sudutnya ada jejak-jejak kebersamaan kami.
Farel hendak mengambil koperku dan membawanya ke kamarku.
"Nggak usah." Aku langsung menuju kamar tamu. "Aku hanya tinggal dua belas hari, kamar tamu sudah cukup."
Langkah Farel terhenti sejenak. "Kalau ingin tinggal lebih lama, boleh saja."
Aku menaruh koper di kamar tamu dan menutup pintu.
Duduk di tepi tempat tidur, aku menatap layar ponsel.
Dua belas hari lagi, aku akan meninggalkan kota yang aku tinggali sejak kecil ini untuk selamanya.
Keesokan paginya, aku bangun dan turun ke bawah.
Farel sudah sarapan di ruang makan. Saat melihatku turun, dia menunjuk kursi di seberangnya.
Aku duduk dan pelayan menghidangkan susu dan roti panggang.
"Farel." Aku membuka percakapan.
Dia menatapku dari balik kacamata emasnya dengan tatapan tenang.
"Kamu tahu Nia adalah anaknya Rara, 'kan?"
"Baru tahu kemarin," jawab Farel tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Aku tersenyum pahit. "Jadi, Nia itu bagimu apa?"
Farel meletakkan cangkir kopinya. "Teman SMA. Dia pernah menahan sebilah pisau untuk menyelamatkan nyawaku. Setelah itu, dia tinggal di Negara Bargata untuk pemulihan."
"Benaran cuma teman SMA dan penyelamatmu? Sesederhana itu?"
Dahi Farel sedikit mengernyit saat menatapku. "Alisa, aku nggak ingin kamu sengaja menyusahkannya hanya karena dia sekarang kembali ke Keluarga Elio."
Aku tertawa, suaraku terdengar getir. "Kamu memperingatkanku?"
"Aku mengingatkanmu," kata Farel dengan nada dingin. "Tubuh Nia lemah, nggak tahan diganggu."
Aku mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi.
Sikap Farel yang melindungi Nia ternyata lebih tegas daripada yang kubayangkan.
Apa lagi yang bisa kutanyakan?
"Oke, aku mengerti," kataku sambil berdiri. "Aku naik ke atas dulu."
Seharian itu, aku tetap di kamar tamu. Makan siang dan makan malam diantar oleh pelayan ke kamar, aku bahkan tidak turun ke lantai bawah.
Di malam hari, aku berbaring di tempat tidur, tetapi tidak bisa tidur.
Dulu, pada saat seperti ini, Farel akan mendorong pintu masuk tanpa banyak bicara, menindihku dengan tubuhnya, memegangi pinggulku dan memanggilku putri kecil.
Namun, malam ini, koridor terasa sunyi.
Memang, kalau cinta pertamanya sudah kembali, bagaimana mungkin dia akan mengingatku lagi?
Hari berikutnya adalah akhir pekan, Farel tidak pergi ke kantor.
Pukul sepuluh pagi, dia mengetuk pintu kamarku.
"Alisa, malam ini ada pesta. Temani aku."
Aku membuka pintu, Farel sudah mengenakan setelan jas hitam.
"Pesta apa?"
"Pesta lingkaran pertemanan kita."
Sebenarnya, aku tidak ingin sendirian di rumah yang penuh kenangan ini, jadi aku pun mengangguk setuju.
Pukul tujuh malam, mobil Farel berhenti di depan pintu masuk sebuah klub pribadi.
Aku mengikutinya masuk dan menemukan bahwa tempat ini dihias dengan sangat hangat, dipenuhi bunga-bunga dan pita di mana-mana.
Tidak seperti pesta lingkaran bisnis yang pernah aku hadiri sebelumnya.
Sebelum sempat bertanya lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara yang familier.
"Kak Farel! Akhirnya kamu datang!"
Nia mengenakan gaun malam putih, melesat ke arahku seperti kupu-kupu.
Ketika dia melihatku, ekspresinya tertegun sejenak, lalu tersenyum manis.
"Kak Alisa juga datang, bagus sekali!"
Aku menoleh ke sekeliling dan melihat spanduk bertuliskan: [Selamat Datang Kembali, Nia].
Ternyata ini adalah pesta penyambutan Nia.
Farel membawaku ke pesta penyambutan Nia.
Aku berbalik hendak pergi, tetapi Nia menahanku.
"Kak Alisa, kamu kenapa? Sakit?" Dia menatapku dengan penuh perhatian. "Aku dengar kamu pindah dari rumah, apa karena aku? Aku benar-benar minta maaf, aku nggak tahu Paman Abbas akan menempatkanku di kamarmu."
Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas oleh orang-orang di sekitar.
Beberapa tamu menatapku dengan rasa ingin tahu yang samar.
"Nggak apa-apa," jawabku. "Cuma masalah kamar."
"Tapi, Paman Abbas bilang, hubungan kalian, hubungan ayah dan anak, sudah putus." Mata Nia berkaca-kaca. "Semua ini karena aku. Kalau aku nggak kembali ...."
"Nia." Aku memotongnya. "Aku sendiri yang memutuskan hubungan dengan Abbas, apa hubungannya denganmu yang orang luar?"
Air matanya menetes, menatap Farel dengan tatapan memelas.
Farel mendekat, awalnya melemparkan pandangan peringatan padaku, lalu dengan lembut berkata kepada Nia, "Jangan menangis, nanti matamu bengkak."
Dia mengeluarkan saputangan, perlahan menyeka air matanya.
Nia tersenyum setelah berhenti menangis, matanya masih basah, berkata, "Kak Farel, kamu baik banget."
Aku berdiri di samping, menyaksikan momen hangat itu.
Hatiku terasa sesak, seperti direndam di dalam es.
Aku berbalik menuju meja minuman, mengambil gelas sampanye, dan meneguk hampir setengahnya sekaligus.
Bab 4
Setelah pesta resmi dimulai, aku baru menyadari betapa perhatiannya Farel terhadap Nia.
Farel dengan sukarela menarikkan kursi untuknya, menahan minuman untuknya, bahkan memperhatikan ketika tali gaunnya melorot lalu dengan lembut menyentuh bahunya untuk membetulkannya.
Hal-hal seperti ini, aku tidak pernah mendapatkannya.
Selama dua tahun bersamanya, Farel tak pernah melakukan hal-hal seperti itu untukku.
Kupikir memang begitu karakternya, dingin dan selalu menahan diri, tidak peduli dengan perhatian-perhatian kecil semacam itu.
Ternyata tidak.
Dia hanya tidak mau melakukannya untukku.
Sepuluh hari lagi, aku akan benar-benar meninggalkan tempat ini. Aku tahu, aku tidak akan pernah lagi melihat Farel bersikap seperti itu padaku.
Aku minum sampanye sambil mendengar Nia tertawa manja dan bercakap-cakap dengan tamu lain.
Dia bercerita tentang pengalaman berliburnya di Negara Bagarta, tentang kerinduannya pada kota ini. Setiap ucapannya begitu tepat dan anggun.
"Nia memang gadis baik," bisik seorang wanita di sampingku. "Farel begitu memperhatikannya, pasti mereka akan berakhir bahagia."
Tanganku yang memegang gelas sedikit mengencang.
"Ayo, ayo, kita main gim!" Pembawa acara muncul untuk menghidupkan suasana. "Kita main Jujur atau Tantangan!"
Layar besar menyala, pembawa acara menjelaskan aturannya: "Di layar akan muncul dua foto, semua orang memilih foto yang lebih mereka sukai! Sebagai bintang utama malam ini, Pak Farel, Anda harus mulai duluan!"
Set pertama adalah dua jenis anggur merah yang berbeda.
Farel memilih tanpa ragu sisi kiri yang kadar alkoholnya lebih rendah.
"Karena Nia nggak bisa minum alkohol yang terlalu kuat," jelasnya.
Seluruh ruangan bergemuruh dengan sorak-sorai.
Set kedua adalah dua buket bunga, mawar dan lili.
Farel memilih bunga lili.
"Nia suka aroma yang lembut dan elegan."
Set ketiga adalah dua destinasi liburan, Negara Cremo dan Negara Orphe.
"Negara Orphe. Nia butuh udara segar untuk memulihkan kesehatannya."
Setiap pilihannya, Farel lakukan demi Nia.
Aku menatap Farel di atas panggung dan teringat dua tahun yang kami jalani bersama.
Dia tak pernah menanyakan apa yang kusukai, tak pernah mengingat makanan favoritku, atau tempat yang ingin kukunjungi.
"Set terakhir!" seru pembawa acara dengan bersemangat. "Yang ini agak spesial. Ini foto dua wanita cantik!"
Di layar muncul dua foto.
Di sebelah kiri adalah foto Nia, mengenakan gaun putih, tersenyum lembut di taman, terlihat murni seperti malaikat.
Di sebelah kanan adalah fotoku, mengenakan gaun malam merah di sebuah pesta, dengan tatapan mata yang penuh percaya diri dan bersemangat.
Suasana tiba-tiba hening.
Semua mata tertuju pada Farel.
Farel berdiri di atas panggung, menatap layar, dan terdiam selama beberapa detik.
Beberapa detik itu terasa seperti berabad-abad bagiku.
Aku tahu dia akan memilih Nia, tetapi tetap saja aku menyimpan sedikit harapan terakhir, berharap dia memilihku.
Meski sekadar untuk menjaga gengsi atau sekadar karena rasa kasihan.
"Aku memilih ...." Suara Farel terdengar di mikrofon. "Nia."
Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh menggema di ruangan.
Aku meletakkan gelas sampanye, berbalik, dan berlari keluar dari ruangan.
Di dalam kamar mandi, aku menarik napas dalam-dalam di depan cermin, berusaha menenangkan diri.
Aku seharusnya tidak menaruh harapan apa pun. Sejak awal memang tidak seharusnya.
Setelah menenangkan diri, aku keluar dari kamar mandi dan bersiap kembali ke ruang VIP.
Di koridor yang remang-remang, tepat saat aku tiba di tikungan, beberapa pria yang sudah mabuk menghentikanku.
"Hai, Cantik, sendirian?" Salah satu pria mendekat sambil terhuyung-huyung. "Temani kami minum sebentar, yuk?"
"Minggir." Aku mundur selangkah.
"Jangan dingin seperti itu dong." Pria lain itu mengulurkan tangan ingin menyentuhku. "Kami cuma ingin kenalan ...."
Aku mundur beberapa langkah dan melihat sosok Farel di pintu ruang VIP.
Dia sedang berbicara dengan tamu dan aku menatapnya penuh permohonan.
Farel melihatku, ekspresinya langsung muram. Dia sedang hendak berjalan mendekat.
Tiba-tiba terdengar suara Nia di dalam ruang, terdengar kesakitan. "Aduh! Kakiku."
Farel segera berbalik, melihat Nia memegangi kursi dengan wajah pucat.
"Ada apa?" Dia berlari mendekat.
"Aku sepertinya keseleo." Mata Nia berlinang air mata, tampak sangat lemah dan memelas.
Farel langsung berjongkok memeriksa pergelangan kakinya, sepenuhnya melupakan diriku yang ada di koridor.
Nia bertanya sesuatu padanya dengan suara lembut, tetapi Farel tanpa menoleh, berkata, "Sudah, nggak usah dipedulikan. Dia bisa menyelesaikannya sendiri."
Pada detik itu, hatiku benar-benar hancur.
Aku meraih botol anggur di meja dan dengan sekuat tenaga melemparkannya ke dinding.
"Prang!"
Serpihan kaca berhamburan, beberapa orang mabuk itu kaget oleh suara yang tiba-tiba.
Kuangkat botol yang sudah pecah itu, ujung kaca yang tajam kuhadapkan pada mereka. "Pergi!"
Beberapa orang melihat kebengisan di mataku dan segera lari terbirit-birit.
Kaca itu menggores telapak tanganku, darah menetes ke lantai.
Aku menatap lukaku, merasakan sakitnya, tetapi berpikir bahwa sakit ini tidak seberapa.
Setelah pesta selesai, aku berdiri sendirian di depan pintu masuk menunggu mobil datang.
Nia keluar dibantu Farel, berjalan perlahan.
"Alisa," sapa Nia begitu melihatku, lalu melangkah mendekatiku. "Maaf, tadi itu aku tiba-tiba keseleo, jadi Kak Farel nggak bisa membantumu. Tapi, sepertinya kamu menanganinya dengan baik ya."
Dia melirik tanganku yang terluka, matanya berkilat dengan rasa puas.
"Ya." Aku mencibir. "Aku memang selalu bisa menyelesaikan masalahku sendiri."
"Baguslah." Nia tersenyum manis. "Sebenarnya aku agak khawatir kalau Farel membawamu ke sini malam ini. Soalnya kalian dulu ...."
"Memang dulu kenapa?"
"Kamu nggak benar-benar mengira Kak Farel punya perasaan khusus padamu, kan?" Nia mendekat, suaranya pelan. "Kak Alisa, Kak Farel cuma merasa kasihan padamu. Sekarang ini kamu nggak punya rumah, dia menolongmu semata-mata karena belas kasihan. Itu saja."
"Oh, ya?"
"Tentu saja," kata Nia dengan tatapan jahat. "Permainan malam ini juga kamu melihatnya, 'kan? Di hati Kak Farel cuma ada aku. Dari SMA sudah begitu, nggak akan pernah berubah."
Tepat pada saat itu, sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba kehilangan kendali dan melaju lurus ke arah kami.
Farel segera berlari ke arah kami, bergegas melindungi Nia di pelukannya.
Sementara aku, tertabrak mobil yang lepas kendali itu dan terjatuh dengan keras.
Bab 5
Saat tertabrak mobil, kesadaranku mulai kabur.
Rasa sakit menyebar dari seluruh tubuh, tetapi yang lebih menyiksa adalah keputusasaan karena merasa sepenuhnya ditinggalkan.
Segudang kenangan melintas di pikiranku.
Pertama kali aku bertemu Farel, dia duduk di belakang meja kerjanya, kacamata emasnya memantulkan cahaya dingin.
Aku sengaja memprovokasinya, tetapi dia tak tergoyahkan.
Saat pertama kali dia menindihku, dia memanggilku Putri Kecil, suaranya serak dan rendah, begitu menggoda hingga membuatku terpesona.
Aku mengira itu cinta.
Malam demi malam, aku berbaring di pelukannya, mendengarkan detak jantungnya, berpikir bahwa aku telah menemukan tempatku untuk pulang.
Adegan terakhir membeku pada momen barusan itu. Farel tanpa ragu langsung menyerbu ke Nia dan memeluknya dalam pelukannya.
Sedangkan aku, seperti orang yang tak penting, ditinggalkan di tengah bahaya.
Saat membuka mata lagi, aku mendapati diriku terbaring di ranjang rumah sakit.
Ruang perawatan sangat hening, sampai terdengar suara Farel sedang menelepon.
"Nia, masih sakit kah?" Suara Farel terdengar begitu lembut sampai terasa asing bagiku.
"Sudah mendingan. Terima kasih, Kak Farel." Suara Nia terdengar lemah. "Kalau bukan karena kamu memelukku tepat waktu, aku mungkin sudah ...."
"Jangan pikirkan hal-hal itu lagi." Farel menenangkannya, "Dokter bilang kamu hanya syok ringan, nggak ada luka luar."
"Kak Farel, kalau bisa mengulang kembali, kamu pasti akan menyelamatkanku dulu, 'kan?"
Farel tidak ragu menjawab, "Tentu saja."
"Tapi, Kak Alisa tertabrak ...."
"Dia nggak punya alasan untuk marah." Suara Farel terdengar datar. "Dalam situasi darurat, tentu aku akan menyelamatkan orang yang paling rentan dulu. Dia sendiri juga paham alasannya."
Aku memejamkan mata, merasa jantungku ditikam dengan kejam.
Rupanya di hati Farel, aku bahkan tidak punya hak untuk marah.
Suara langkah kaki terdengar, tirai kamar rumah sakit dibuka.
Farel berdiri di samping ranjang, melihat aku terbangun, wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah. "Sudah bangun?"
"Hmm." Suaraku agak serak.
"Dokter bilang kamu cuma mengalami gegar otak ringan, luka lecet di kaki dan nggak yang serius," kata Farel. "Aku sudah menyiapkan tim medis terbaik. Beberapa hari ke depan, aku akan tetap di sini untuk menjagamu."
"Terima kasih," jawabku sambil menatap langit-langit. "Sepuluh hari lagi, aku akan mengembalikan biaya pengobatan ini padamu."
Farel mengerutkan dahi. "Maksudmu apa? Sepuluh hari lagi?"
"Aku bilang, biaya pengobatannya akan kukembalikan," kataku sambil menoleh padanya. "Semua biaya penginapan selama ini juga akan aku hitung dan kukembalikan bersamaan."
Ekspresi Farel sedikit canggung. "Alisa, kamu nggak perlu menghitung sedetail itu denganku."
"Kenapa nggak?" Suaraku terdengar tenang. "Kita memang nggak ada hubungan, 'kan?"
Ruang perawatan sempat hening beberapa detik.
Farel tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya berkata, "Istirahatlah yang cukup."
Beberapa hari berikutnya, Farel memang tetap berada di rumah sakit untuk merawatku.
Dia selalu datang tepat waktu untuk mengecek kondisiku, memastikan perawat memberiku obat sesuai jadwal, bahkan sesekali menyuapiku makan.
Namun, aku tetap bersikap dingin.
Tidak menangis, tidak rewel, tidak manja, dan tidak keras kepala.
Seperti memperlakukan orang asing yang baik hati, sopan, tetapi menjaga jarak.
Sikapku seperti ini membuat Farel tampak agak tidak nyaman.
Pada sore hari di hari ketiga, Farel duduk di kursi di samping tempat tidur, memperhatikan aku yang sedang membolak-balik majalah.
"Alisa," ucapnya.
"Hm?" Aku tak mendongak menatapnya.
"Soal malam itu ...." Farel terhenti sejenak. "Aku menyelamatkan Nia dulu, bukan karena aku nggak ingin menyelamatkanmu."
"Tubuh Nia lemah, nggak tahan benturan. Itu pilihan terbaik ...."
Aku meletakkan majalah dan memotong ucapannya. "Aku tahu."
Farel menatapku, sorot matanya menyingkap sedikit emosi yang sulit dimengerti. "Kamu benaran nggak marah?"
"Kamu ingin aku marah?"
Tepat pada saat itu, suara keributan terdengar dari lorong.
"Cepat! Bawa ke UGD sekarang!"
"Ada apa?"
"Nona Nia jatuh dari tangga, lukanya cukup parah!"
Ekspresi Farel langsung berubah.
Dia sontak berdiri dan buru-buru berkata, "Aku ada urusan sebentar."
Farel berjalan menuju pintu, menoleh sejenak ke arahku. "Nanti aku akan menemuimu lagi."
Aku mendengar langkahnya yang tergesa-gesa makin menjauh, lalu memejamkan mata dengan lelah.
Nia sekali lagi berhasil menjauhkan Farel dariku.
Sementara aku, bahkan tidak memiliki tenaga untuk memperjuangkannya.
Lagi pula, seminggu lagi, Farel bisa dengan terang-terangan bersama Nia.
Bab 6
Ketika aku terbangun dari tidur yang berat, aku bisa merasakan rasa perih yang menusuk di lengan.
Begitu menunduk, aku melihat jarum infus sudah terbalik, darah merah segar memenuhi selang bening.
Aku menekan bel panggil di samping ranjang.
Seorang perawat masuk, alisnya berkerut melihat jarum yang sudah berdarah, lalu bertanya, "Kenapa nggak ada yang menjagamu? Pacarmu mana?"
"Dia bukan pacarku," jawabku dengan tenang. "Dia ada urusan, jadi sudah pergi," lanjutku.
"Sudah pergi berapa lama?" tanya perawat sambil mengganti jarum infus.
Aku melirik jam di dinding, sekarang sudah pukul dua subuh. Farel pergi pukul tujuh malam, itu berarti sudah berlalu tujuh jam.
"Sudah lama," jawabku pelan.
Perawat menggeleng sambil berkata, "Orang kaya memang begitu. Cuma pandai buat formalitas saja, tapi di saat penting, mereka nggak pernah ada."
Setelah jarum diganti, aku tidak bisa tidur lagi.
Saat fajar tiba, aku memutuskan turun dari ranjang untuk jalan-jalan.
Sambil menyeret tiang infus, aku melangkah ke koridor. Dari ujung koridor, terdengar bisikan dua perawat.
"Gadis di ruang VIP itu benar-benar beruntung. Pacarnya menyewa satu lantai penuh hanya untuknya."
"Aku dengar dia bahkan mendatangkan dokter dari luar negeri, dan dijaga 24 jam penuh."
"Tuan Muda Keluarga Keano benar-benar baik sekali padanya, dia bahkan nggak pernah meninggalkannya."
Langkahku terhenti.
Ruang VIP ada di lantai sepuluh, bangsal tempat aku tinggal hanya bangsal pasien biasa di lantai delapan.
Aku menekan tombol lift, naik ke lantai sepuluh.
Lantai ini memang sudah dipasangi pembatas. Hanya satu bangsal yang masih menyala lampunya.
Aku berjalan mendekat, menempelkan mata ke celah pintu untuk melihat ke dalam.
Di dalam sana, Farel duduk di tepi ranjang, dengan sabar menyuapi bubur ke bibir Nia.
Nia bersandar di bantal, wajahnya pucat tetapi tampak sehat.
"Masih sakit?" tanya Farel dengan lembut.
"Sudah jauh lebih baik," jawab Nia. Dia membuka mulut kecilnya untuk menerima suapan berikut. "Asal ada kamu, aku nggak takut apa pun," lanjut Nia.
Abbas yang duduk di sofa, tengah mengupas apel untuk Nia.
Begitu buburnya habis, dia langsung menyodorkan sepotong apel kecil ke arah Nia.
"Makan pelan-pelan, jangan sampai tersedak," ucap Abbas dengan suara penuh kasih.
"Paman Abbas baik sekali padaku," ujar Nia sambil tersenyum manis. "Seperti ayah kandungku sendiri," lanjut Nia.
"Mulai sekarang, kamu itu putriku. Rumah ini juga rumahmu," ucap Abbas sambil menepuk lembut tangan Nia.
Farel ikut tersenyum hangat, tangannya merapikan helai rambut Nia sambil bertanya, "Masih pusing?"
"Nggak, cuma agak lelah," jawab Nia.
"Kalau begitu, tidur lagi saja. Aku akan menjagamu di sini," ucap Farel sambil menarik tirai, lalu meredupkan lampu.
Adegan seharmonis itu bagaikan pisau yang menusuk hatiku dengan tajam.
Aku menggigit bibirku sekuat tenaga, memaksa diriku untuk tidak menangis.
Aku kemudian meninggalkan lantai VIP, dan kembali ke kamarku.
Tidak boleh menangis.
Alisa, kamu tidak boleh menangis.
Empat hari sebelum aku terbang ke Kota Appia untuk menikah, aku mengurus kepulangan dari rumah sakit.
Namun, ketika aku baru saja melangkah keluar gerbang rumah sakit, aku melihat Farel sedang menungguku sambil berdiri bersandar pada mobil hitam mewah.
"Masuk ke dalam mobil," ujar Farel.
"Aku bisa pesan taksi sendiri," ucapku.
"Masuk," kata Farel. Nada bicaranya tidak memberi ruang untuk menolak.
Aku menatap wajah Farel yang dingin, lalu akhirnya menyerah.
"Ke mana?" tanyaku.
"Jalan-jalan. Kamu sudah terlalu lama terkurung di rumah sakit," jawab Farel sambil menyalakan mobil.
Mobil melaju setengah jam sebelum berhenti di depan Pasar Lelang Sotebi di kawasan CBD.
Aku melihat poster di pintu masuk, lalu bertanya. "Pasar lelang?"
"Ya. Ada lelang barang seni hari ini. Bukankah kamu menyukai benda-benda itu?" ucap Farel sambil menuruni mobil.
Aku ingin menolak, tetapi saat menerima katalog yang Farel sodorkan, aku tiba-tiba melihat sebuah nama yang familier..
Nomor 47, sebuah kalung mutiara.
Tanganku mulai gemetar.
Aku sangat mengenal kalung itu. Itu peninggalan ibuku.
Farel menyadari perubahan ekspresiku, kemudian bertanya, "Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa," jawabku sambil menggenggam katalog erat-erat. "Ayo masuk," lanjutku.
Di toilet, aku menelepon pengacara dengan tangan gemetar.
"Segera jual semua aset yang sudah kusiapkan. Sekarang juga," ucapku.
"Nona Alisa, bukankah itu untuk persiapan ke Kota Appia?" tanya pengacara.
"Aku berubah pikiran. Bisa dapat berapa kalau dijual?" tanyaku dengan cemas.
"Sekitar 200 miliar," jawab pengacara.
"Cukup," jawabku. Aku kemudian menutup telepon, lalu menarik napas panjang.
Aku harus mendapatkan kalung ibu kembali.
Setelah masuk ke pasar lelang, Farel membawaku duduk di barisan depan.
Ketika aku hendak duduk, tiba-tiba terdengar suara yang sangat familier.
"Kak Farel!" panggil Nia.
Nia berjalan masuk dengan gaun merah muda lembut, keningnya masih dibalut perban, tetapi dia tetap cantik mempesona.
Nia mendekat dan langsung menggandeng lengan Farel dengan manja.
"Kak Alisa juga ada di sini ya," ucap Nia sambil tersenyum manis padaku. "Aku bilang mau bertemumu dan minta maaf padamu di pasar lelang ini. Nggak kusangka, Kak Farel benar-benar membawamu kemari," lanjut Nia.
Saat itu juga, semuanya menjadi jelas.
Farel membawaku ke sini bukan untuk menghiburku, apalagi menemaniku.
Dia membawaku ke sini hanya karena Nia ingin minta maaf. Aku, hanyalah alat yang dibawa demi memuaskan keinginannya.
Aku menatap senyum puas Nia. Rasa sakit di hatiku lenyap begitu saja.
Aku sudah mati rasa, bahkan tidak merasakan perihnya lagi.
Bab 7
Lelang resmi dimulai.
Aku menatap erat-erat papan penawaran di tangan, menunggu giliran barang nomor 47.
Akhirnya juru lelang mengangkat kalung mutiara itu.
“Barang nomor 47, kalung mutiara. Dilelang mulai dari 10 miliar," ucap juru lelang.
Aku langsung mengangkat papan dan berkata, "10 miliar."
"20 miliar," ucap Nia dari samping.
Aku menoleh dan melihat Nia sedang tersenyum manis sambil mengangkat papan.
Aku mencoba menawar lagi, "30 miliar."
"40 juta," ucap Nia lagi tanpa ragu.
Harga meroket tinggi.
60 miliar, 100 miliar, 160 miliar ….
Tanganku berkeringat dingin. Pengacara bilang semua asetku jika dijual kira-kira bisa dapat 200 miliar, tetapi kini angka di papan hampir menembus 220 miliar.
"220 miliar," ucap Nia sambil mengangkat papan itu dengan santai, seolah menyebut angka kecil.
Juru lelang menatapku: "Nyonya, masih mau lanjut?"
Tanganku gemetar; aku tidak mampu lagi mengangkat papan.
Uangku tidak cukup.
Semua mata tertuju padaku, termasuk Farel.
Aku menurunkan semua martabat yang tersisa dan menatap Farel dengan putus asa.
"Farel, tolong pinjamkan aku uang, Kumohon, ini kalung ibuku. Ini satu-satunya peninggalannya," ucapku dengan suara gemetar.
Farel menatapku, ada kilatan emosi yang rumit dalam matanya. Saat dia hampir mengeluarkan kartu kredit eksklusifnya untukku ….
Nia juga menoleh padanya, lalu berkata dengan suara manja, "Kak Farel, sejak dulu aku nggak punya apa-apa. Ini pertama kali ada kalung yang kusukai. Tolong minta Kak Alisa mengalah padaku, ya?"
Dia menarik lengan baju Farel dan menatapnya dengan penuh harap.
Farel menimbang beberapa detik antara aku dan Nia.
Detik-detik itu terasa panjang bagiku, seolah satu abad telah berlalu.
"Mengalahlah pada Nia," ucap Farel. Dia akhirnya berkata dengan suara tenang. Ucapannya dingin sampai membuat punggungku merinding.
Harapanku seakan runtuh.
"220 miliar, sekali!" teriak juru lelang.
"220 miliar, dua kali!"
Aku ingin memohon pada Farel lagi, tetapi kata-kata yang ingin kukatakan tersumbat di tenggorokan.
"220 miliar, tiga kali! Terjual!" teriak juru lelang pada akhirnya.
Ketika palu diketuk, hatiku benar-benar terasa mati.
Nia bertepuk tangan dengan girang, lalu menoleh padaku dan berkata, "Kak Alisa, terima kasih, ya!"
Rasa puas di wajahnya tidak disembunyikan sama sekali.
Setelah lelang berakhir, Farel pergi mengambil obat karena Nia bilang kepalanya sakit.
Aku duduk sendiri di sofa ruang tunggu, menyaksikan staf merapikan barang-barang.
Sepuluh menit kemudian, Nia kembali ke belakang panggung dan melangkah mendekat ke arahku.
Aku berdiri, berjalan menghampirinya.
"Nia, bolehkah aku tukar barang lain dengan kalungmu?" tanyaku pelan.
"Dengan apa?" tanya Nia sambil mengangkat alis.
"Aku punya sebuah Ferrari dan beberapa jam tangan bermerek. Totalnya ngak sampai 220 miliar, tapi kalau kamu beri aku waktu, aku akan melunasinya. Asal kamu mau memberiku kalung itu," ucapku. Aku mencoba terdengar tenang.
Nia menggeleng dan berkata, "Aku nggak butuh barang-barang itu."
"Lalu, apa yang kamu mau?" tanyaku lagi.
Dia berpikir sejenak, lalu tersenyum. "Aku mau kamu berlutut dan memohon padaku," ucap Nia.
"Apa?" seruku.
"Aku mau kamu sujud, lalu minta maaf sambil memohonku memberikan kalung ini padamu," ucap Nia. Tatapannya berubah menjadi tajam. "Dulu kamu memperlakukanku seperti itu. Sekarang giliranmu memohon padaku," lanjut Nia.
Aku menatapnya sambil mengepalkan tanganku.
Namun, mengingat kalung ibu, akhirnya aku perlahan menekukkan lututku.
"Bagus sekali. Sekarang biar kutunjukkan di mana kalung itu," ucap Nia sambil tersenyum puas dan mengeluarkan ponsel.
Dia memutar sebuah video dan menunjukkan layar ke arahku.
Di layar itu, seekor anjing jalanan kotor sedang menggoyangkan ekornya. Di lehernya tergantung sebuah kalung mutiara.
Itu kalung ibuku.
"Lihatlah, sekarang kalung itu ada di sini. Menurutku, cocok sekali dipakai olehnya. Barang wanita murahan memang cocok dipakai anjing," ucap Nia sambil tersenyum manis.
Darahku terasa berhenti mengalir.
"Apa katamu?" tanyaku.
"Aku bilang barang wanita murahan cocok dipakai anjing," ucap Nia sambil menyimpan ponsel dengan santai. "Ibumu wanita murahan, 'kan? Pantas saja dia kena tabrak. Sekarang peninggalannya dipakai anjing, bukankah itu cocok sekali?" lanjut Nia.
Suaraku hampir tidak terdengar saat aku bertanya, "Tangan mana yang kamu pakai untuk memasang kalung itu pada anjing?"
"Tangan kanan. Kenapa?" ucap Nia sambil masih tertawa.
Sesaat berikutnya aku meraih pisau makan di atas meja, lalu menancapkannya dengan sekuat tenaga ke telapak tangan kanannya.
Darah seketika muncrat, Nia mengeluarkan jeritan histeris yang tajam.
Bab 8
Jeritan histeris Nia menggema di belakang panggung pasar lelang.
Para staf kaget. Ada yang menjerit ketakutan, ada yang buru-buru menelpon ambulans.
Aku melepaskan genggaman dari pisau makan, lalu berdiri tegak.
Aku menatap Nia yang tergeletak sambil memeluk tangannya dan menangis, lalu berkata, "Ingat baik-baik. Aku, Alisa, selalu membalas dendam langsung di tempat."
Saat berbalik, aku mendengar suara hiruk-pikuk di belakangku.
Aku melangkah keluar dengan langkah tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Baru sampai pintu keluar, Farel tiba-tiba menghadangku.
Dia berdiri di sana dengan selimut disampirkan di lengannya, dan termos di tangannya. Tampaknya dia baru saja kembali dari apotek.
Begitu matanya memandang wajahku, ekspresinya langsung berubah menjadi muram.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Farel dengan tegas.
Aku melirik termos di tangannya, kemudian tersenyum kecut dan bertanya, "Kamu pergi membelikan obat untuknya?"
"Aku tanya, apa yang kamu lakukan?" tanya Farel lagi dengan suara makin tajam.
"Dia menaruh kalung ibuku di leher anjing jalanan, lalu menyebut ibuku wanita murahan. Jadi, aku tusuk dia," jawabku sambil menatap lurus ke mata Farel.
Ekspresi Farel terkejut. "Apa katamu?" tanya Farel.
"Bukankah kamu sudah mendengarnya? Anak buahmu pasti sudah melaporkan segalanya," ucapku sambil menunjuk ke arah earphone di telinganya.
Farel memang mengenakan earphone, itu berarti sejak awal dia sudah tahu semua hal yang terjadi di belakang panggung.
"Meski dia benar-benar melakukan itu, kamu tetap nggak boleh melukai orang!" ucap Farel dengan dingin.
Kata-kata itu akhirnya menghantamku sampai mati.
Aku menatap Farel dengan mata penuh air mata.
Ternyata, di dalam hatinya, bahkan ketika Nia menginjak-injak kehormatan ibuku, aku tetap tidak boleh melawan.
"Farel, gimana kamu akan ‘mendidikku’ lagi kali ini?" tanyaku dengan suara gemetar.
Mata Farel sempat goyah melihat air mataku.
Namun, itu hanya sesaat. Dengan cepat, tatapan dingin kembali menyelimuti wajahnya.
Farel mengeluarkan ponsel, lalu berkata, "Aku nggak bisa mendidikmu lagi. Andi, bawa orang ke pasar lelang. Tangkap Alisa dengan tuduhan pembunuhan berencana."
Hatiku meneteskan darah saat mendengar suaranya yang dingin
Sepuluh menit kemudian, dua polisi berseragam masuk.
"Nona Alisa, kamu diduga sengaja melukai orang. Silakan ikut kami," ucap salah satu polisi.
Aku tidak melawan. Kuserahkan tangan untuk diborgol.
Saat dibawa pergi, aku sempat menoleh ke belakang.
Di sana, Farel sedang memeluk Nia yang sudah diperban dan menenangkannya dengan lembut.
"Tenang, aku ada di sini. Nggak ada yang akan menyakitimu lagi," ucap Farel sambil mengelus rambut Nia.
Nia terisak manja di pelukannya, seperti hewan kecil yang terluka.
Sementara aku, digiring layaknya kriminal.
Dalam penjara, sekelompok wanita segera mengepungku.
"Anak baru, apa kesalahanmu?" tanya wanita pemimpin mereka yang memiliki tato penuh di lengannya.
"Apa urusannya denganmu?" tanyaku sambil mengerutkan kening.
"Wah, galak juga. Kamu tahu aturan? Pendatang baru harus bayar uang jaga," ucap wanita itu sambil tertawa.
"Aku nggak punya uang," jawabku.
"Nggak punya? Kalau begitu, kamu harus bayar dengan cara lain," ucap wanita itu. Ekspresinya berubah bengis.
Malam itu, mereka menyiramkan seember air dingin ke tubuhku.
Esok paginya, aku menemukan pecahan kaca di nasiku.
Hari ketiga, mereka mulai menghajarku.
Setiap kali sebelum mereka menghajarku, pemimpin itu selalu berkata, "Ini pesan dari Pak Farel, supaya kamu belajar dari kesalahan."
Saat itu, aku baru tahu bahwa semua siksaan ini adalah perintah dari Farel.
Dia tidak hanya mengurungku dalam penjara, tetapi juga memastikan aku tersiksa di dalamnya.
Tiga hari kemudian, aku dilepaskan.
Hari itu menjadi hari terakhirku di Kota Persy.
Aku dengan tubuh penuh luka keluar dari penjara. Matahari siang begitu menyilaukan, membuatku tidak bisa membuka mataku.
Begitu tiba di gerbang, kepalaku terasa pusing.
Dunia sekitarku seperti berputar, akhirnya aku jatuh pingsan.
Saat aku bangun lagi, yang kulihat adalah bangsal rumah sakit yang begitu familier.
Farel berdiri di samping ranjang dengan satu tangan di saku, lalu bertanya padaku dengan suara dingin.
"Sudah belajar dari kesalahanmu kali ini?" tanya Farel dengan datar.
Bab 9
Menghadapi pertanyaan dari Farel, aku memilih diam.
Dia berdiri di tepi ranjang, menunggu jawabanku.
Namun, aku hanya menatap langit-langit dan tidak menjawab sepatah kata pun.
Tiba-tiba, ponsel Farel berdering.
Terdengar suara manja Nia dari ujung telepon, "Kak Farel, tanganku sakit sekali,"
Sekejap saja, ekspresi di wajah Farel langsung melunak.
"Aku segera ke sana," ucap Farel. Dia menutup telepon, lalu berkata padaku, "Pikirkan baik-baik kesalahanmu."
Seperti sebelumnya, dia meninggalkanku sendirian lagi demi Nia.
Kini sisa aku sendirian di bangsal.
Sekitar sejam kemudian, pintu bangsal terbuka.
Nia masuk dengan tangan kanan berbalut perban tebal, tetapi wajahnya terlihat segar.
"Kak Alisa, gimana perasaanmu?" tanya Nia seolah peduli.
Aku menoleh, tetapi tetap diam.
Nia menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Sambil tersenyum manis, dia berkata padaku, "Sayang, aku mau bercerita sesuatu."
"Aku nggak mau dengar," ucapku.
"Tapi cerita ini ada hubungannya denganku. Ini tentang alasan kenapa Kak Farel mau menerima permintaan ayahmu untuk ‘mendidikmu’," ujar Nia dengan penuh rasa puas di wajahnya.
Tanganku mengepal.
"Waktu SMA, Kak Farel adalah pacarku," ucap Nia. Dia mulai bercerita, "Saat itu hubungan kami sangat baik. Kak Farel sangat perhatian, dia mengingat semua kesukaanku, bahkan berjanji akan menikahiku setelah lulus. Tapi suatu hari terjadi sesuatu …."
Nia berhenti sejenak untuk mengamati ekspresiku.
"Suatu malam, dia dikepung oleh orang-orang dari perusahaan lawan. Untuk menyelamatkannya, aku maju dan menahan sebuah tusukan pisau untuknya," ucap Nia sambil menunjuk bahu kirinya. "Pisau itu hampir merenggut nyawaku," lanjut Nia.
Dia terus berkata, "Sejak saat itu, Kak Farel merasa bersalah padaku. Dia berjanji akan melindungiku seumur hidup sebagai kompensasi,"
Aku tetap diam, tetapi jantungku berdegup makin kencang.
"Kemudian aku ke Negara Bargata untuk pemulihan. Kak Farel berjanji akan menikahiku setelah aku pulang. Kami nggak pernah berhenti berhubungan. Saat itu, aku bilang padanya kalau ibuku menikah ke Keluarga Elio, tapi putri Keluarga Elio selalu jahat padanya. Aku sangat sedih,"
"Kak Farel bilang, dia akan membalas dendam untuk ibuku. Jadi, dia sendiri yang berinisiatif untuk mendidikmu. Kamu pikir itu paksaan dari Paman Abbas? Kamu salah, itu kemauannya sendiri," ucap Nia sambil tersenyum puas.
Darahku serasa membeku. "Apa katamu?" tanyaku.
"Ada yang lebih menarik," kata Nia sambil mengeluarkan ponsel. "Kamu tahu, setiap kali kalian bersama, semuanya direkam loh," lanjut Nia.
Aku berseru kejut "Apa?"
"Kak Farel memasang kamera tersembunyi di kamar. Semua momen kalian terekam. Dia bilang rekaman-rekaman itu akan diberikan padaku sebagai senjata untuk mengendalikanmu," kata Nia. Senyuman di wajahnya makin bengis.
Duniaku mulai berputar.
"Alisa, kamu kaget?" tanya Nia sambil berdiri. "Kak Farel nggak pernah mencintaimu. Kamu cuma sebuah tugas baginya. Sekarang tugas itu selesai, dia akan menikah denganku," lanjut Nia.
Nia melangkah ke pintu, lalu menoleh padaku.
"Oh iya, aku sudah menyalin semua video itu. Kalau kamu berani menggangguku lagi, aku akan menyebarkannya di internet," ucap Nia.
Setelah Nia pergi, aku duduk terdiam cukup lama.
Kata-katanya berulang-ulang menggema di kepalaku.
Farel sendiri yang meminta untuk mendidikku.
Demi membalas dendam untuk Nia.
Dia merekam semua momen intim kami.
Aku turun dari ranjang, mencabut jarum infus, lalu berlari keluar bangsal.
Suara perawat memanggilku tidak kuhiraukan.
Aku berlari keluar dari rumah sakit, lalu menghentikan sebuah taksi.
"Ke vila Farel. Cepat!" ucapku.
Aku harus ke vila Farel dan memastikannya dengan mata kepala sendiri.
Dua puluh menit kemudian, taksi tiba di gerbang vila.
Aku membuka pintu dengan kunci cadangan dan langsung menuju ruang kerja Farel.
Ada sebuah ruang tersembunyi di sana, aku tahu kata sandinya.
Setelah kata sandi dimasukkan, dinding perlahan terbuka, menampakkan alat-alat di dalamnya.
Di sana, ada deretan komputer, layar monitor, dan peralatan perekam.
Aku duduk di depan komputer utama, lalu membuka sebuah folder dokumen.
Di dalam folder bernama F, aku menemukan sebuah folder yang terkunci.
Namanya "Privasi_Alisa."
Tanganku mulai gemetar, tetapi aku tetap membukanya.
Tiba-tiba muncul puluhan video yang tersusun rapi berdasarkan tanggal.
Dari malam pertama kami berhubungan intim sampai terakhir kalinya, semuanya ada di sana.
Aku menekan salah satu video itu.
Layar menampilkan adegan aku bermesraan dengan Farel. Setiap detail direkam dengan jelas.
Termasuk saat aku bersandar dalam pelukannya sambil berbisik, "Aku mencintaimu." Setiap momenku yang tampak lemah dan ketagihan terekam dengan jelas.
Kakiku lemas. Aku jatuh berlutut.
Ternyata Nia benar.
Farel memang merekam segalanya.
Aku menertawakan kebodohanku sendiri. Seiring aku tertawa, air mata pun membasahi wajahku.
Bab 10
Aku berlutut di depan komputer, menatap deretan folder video di layar. Aku kemudian mengeluarkan ponsel dan menelepon Abbas.
"Abbas," ucapku. Aku berusaha menahan suara isak.
"Kenapa? Bukannya kamu sudah bilang mau memutuskan hubungan denganku?" tanya Abbas dengan suara heran.
"Aku cuma mau bertanya satu hal. Tiga tahun lalu, apakah benar Farel sendiri yang meminta untuk mendidikku?" tanyaku.
Abbas di ujung telepon terdiam beberapa detik.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Abbas.
Aku memejamkan mata. "Jadi memang benar," ucapku.
"Waktu itu, Farel menukar sebuah proyek pelabuhan senilai 40 triliun dengan kesempatan untuk mendidikmu. Aku nggak tahu apa yang membuatmu menyinggung dia, tapi aku pikir membiarkanmu mendapat pelajaran nggak ada salahnya. Jadi aku setuju," ucap Abbas dengan suara dingin.
Aku menutup telepon.
Sisa harapan terakhir pun hancur berkeping.
Farel mendekatiku, tidur denganku, mengendalikan seluruh hidupku, semuanya hanya demi balas dendam.
Aku mulai tertawa. Suaraku awalnya pelan, lalu makin keras.
Tawa itu berubah menjadi tangis, hingga aku sesak napas.
Setelah puas menertawakan kebodohanku, aku menyeka air mata dan berdiri.
Aku berjalan ke kamar utama, mengeluarkan koper yang sudah lama kupersiapkan.
Dari laci, kuambil paspor dan tiket menuju Kota Appia.
Sebelum pergi, aku menatap sekali lagi kamar ini. Ini tempat yang dulu kuanggap rumah.
Di ruang tamu, aku menemukan korek api dalam kotak cerutu Farel.
Itu hadiah pertamanya untukku. Dulu kupikir itu melambangkan sesuatu yang istimewa.
Ternyata, itu hanya cap milik pemburu untuk menandai mangsanya.
Aku menyalakan korek itu, nyala api kecil pun muncul.
Setelah itu, aku melemparkannya ke tirai jendela.
Dalam sekejap, api menjalar, melahap setiap sudut rumah ini bersama semua kenangan yang ada di dalamnya.
Aku menarik koper ke pintu dan menoleh sekali lagi pada ruangan yang kini terang benderang oleh kobaran api.
Selamat tinggal, Farel.
Selamat tinggal, masa mudaku.
Setengah jam kemudian, sirene mobil pemadam kebakaran meraung di seluruh jalan.
Aku duduk di atas koper di seberang jalan, dengan tenang menyaksikan api menjilat langit malam.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil hitam melaju kencang. Farel bergegas turun, wajahnya muram melihat rumah yang terbakar.
Matanya melihat ke sekeliling, sampai akhirnya menemukan sosokku di seberang jalan.
"Alisa!" teriak FareI sambil berlari menghampiriku. "Apa kamu terluka?" tanya Farel.
Aku menatapnya tanpa berkata.
"Kenapa kamu membakar rumah ini? Sudahlah, bakar saja kalau itu bisa membuatmu lega. Sudah puas, 'kan, Putri Kecil?" tanya Farel. Suaranya terdengar putus asa.
Aku tetap diam, lalu berdiri, menarik koperku dan melangkah pergi.
"Ke mana kamu mau pergi?" tanya Farel sambil menghadangku.
"Pulang," jawabku.
"Biar aku antar kamu ke rumah Keluarga Elio," ucap Farel sambil mengeluarkan ponsel. "Andi, siapkan mobil," lanjut Farel.
"Nggak perlu," jawabku. Aku melewatinya dan terus berjalan.
Ponsel Farel berdering. Melihat layar, wajahnya makin suram.
"Aku ada rapat darurat. Andi akan mengantarmu pulang. Nanti kita bicarakan lagi hal ini," ucap Farel.
Aku tidak menghiraukannya, hanya terus menuju tepi jalan dan menghentikan taksi.
"Alisa," panggil Farel.
Aku menoleh.
"Tunggu di rumah. Ada yang mau kubicarakan denganmu setelah pulang," ucap Farel. Setelah itu, dia masuk ke mobil dan melaju pergi.
Aku menatap lampu belakang mobilnya menghilang dalam gelap, lalu bergumam.
"Kita nggak akan bertemu lagi," ucapku.
Aku masuk ke taksi, kemudian meminta sopir bergegas ke bandara.
Di sepanjang jalan, aku membuka aplikasi bank. Kuhitung semua uang dari Farel yang pernah kugunakan, lalu transfer semuanya kembali.
Mulai dari biaya rumah sakit, tempat tinggal, dan pengeluaran sehari-hari, totalnya 186 miliar.
Setelah transfer semuanya kembali, aku membuang ponsel keluar jendela.
Melihat ponsel itu jatuh dan hancur di aspal, aku pun merasa lega.
Mulai sekarang, Farel tidak akan pernah bisa menghubungiku lagi.
Satu jam kemudian, taksi berhenti di Bandara Internasional Ibu Kota.
Aku menarik koper ke lokasi penerbangan.
"Bu, penerbanganmu akan berangkat setengah jam lagi," ucap staf.
Aku mengangguk, lalu duduk di ruang tunggu.
Lewat kaca besar, kulihat beberapa jet pribadi diparkir.
Dari jendela kaca, aku melihat ada beberapa pesawat pribadi yang diparkir di luar bandara.
Salah satunya sedang bersiap lepas landas, aku melihat sosok Farel menaiki tangga pesawat itu.
Dia pasti hendak pergi Kota Mintana untuk rapat.
Tiba-tiba terdengar suara pengumuman, "Penerbangan menuju Kota Appia mulai naik pesawat."
Aku berdiri, menoleh pesawat pribadi itu sekali lagi.
Farel, kisah kita sudah berakhir.
Setelah masuk ke pesawat, memilih kursi dekat jendela.
Dua pesawat meluncur di landasan, menuju arah berlawanan.
Satu terbang ke Kota Mintana. Satu menuju ke Kota Appia.
Kedua pesawat berpisah jalan dan tidak akan pernah bertemu lagi, sama seperti hidup kami.