Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka

Đang tải thông tin quảng bá...

Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka

GoodNovel Hoàn thành

Pada hari ketika Erni Lousa, pujaan hati suamiku yang sedang mengidap penyakit mematikan, melahirkan anak untuk suamiku, Riko Fosa, ayah dan ibu mertuaku memanggil sepuluh pengawal untuk berjaga di de...

Chương (1)

第1章

Pada hari ketika Erni Lousa, pujaan hati suamiku yang sedang mengidap penyakit mematikan, melahirkan anak untuk suamiku, Riko Fosa, ayah dan ibu mertuaku memanggil sepuluh pengawal untuk berjaga di depan ruang bersalin hanya untuk mencegah aku datang dan membuat keributan. Namun, hingga proses persalinan berakhir, aku sama sekali tidak muncul. Ibu mertua menggenggam tangan Erni dengan sangat emosional sambil berkata, "Erni, selama kami ada di sini, Nisa nggak akan punya kesempatan menyakitimu atau anak dalam kandunganmu!" Sementara itu, Riko menatap Erni dengan wajah penuh kasih sayang, menemaninya dengan setia di ruang bersalin sambil menyeka keringat di dahi Erni. "Tenang saja, Ayah sudah membawa orang-orang untuk berjaga di depan rumah sakit. Kalau Nisa berani datang mengacau, kami akan segera mengusirnya!" ujar Riko. Ketika mereka menyadari aku tidak kunjung muncul, Riko akhirnya merasa lega. Dia tidak mengerti. Padahal dia hanya ingin memenuhi keinginan terakhir Erni untuk menjadi seorang ibu, kenapa aku harus "berbuat onar" dan mempermasalahkannya? Saat menatap bayi mungil yang menangis di pelukan perawat, Riko tersenyum lega. Dalam hati, Riko berpikir jika besok aku datang dan meminta maaf kepada Erni, dia tidak akan mempermasalahkan semua pertengkaran di antara kami. Dia bahkan bersedia membiarkan aku menjadi ibu bagi anak ini. Namun, yang tidak Riko ketahui adalah aku baru saja mengajukan laporan keberangkatan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Seminggu kemudian, aku akan mencabut kewarganegaraanku dan menjadi seorang dokter lintas batas. Sejak hari itu, tidak akan ada lagi pertemuan antara aku dan dia, bahkan hingga ajal memisahkan. Bab 1 Hari ketika Riko membantu Erni keluar dari rumah perawatan ibu dan bayi, aku baru saja menyelesaikan pekerjaan serah terima di rumah sakit. Baru sampai di depan pintu, aku sudah mendengar tawa riang dari dalam. "Anak ini benar-benar cantik! Alis tebalnya persis seperti punya Riko. Erni, kamu benar-benar berjasa besar bagi Keluarga Fosa." Ibu mertuaku tersenyum gembira sambil mengelus bayi di pelukannya, sementara Riko keluar dari dapur membawa semangkuk sup iga panas yang mengepul. "Erni, kamu sudah banyak menderita. Ini sup yang aku buat sendiri, tubuhmu masih lemah, kamu harus makan yang bergizi," ucap Riko. Riko duduk di tepi ranjang, menatap Erni dengan penuh kasih sambil menyuapinya sup. Pemandangan yang begitu hangat dan bahagia itu seperti keluarga yang sempurna. Di sisi lain, ayah mertuaku memegang mainan bayi berbentuk genderang kecil sambil tertawa dengan penuh kebahagiaan. "Anak ini sama menggemaskan seperti ibunya. Untung bukan anak si Nisa itu, punya ibu yang seorang dokter cuma buat pusing!" seru ayah mertua. Tanganku yang memegang gagang pintu tiba-tiba menegang. Aku teringat saat pertama kali bertemu ayah mertuaku. Waktu itu, dia dengan bangga menepuk bahuku dan mengatakan betapa dia bangga memiliki menantu yang berprofesi sebagai dokter. Namun, sekarang, dari mulut yang sama, keluar kalimat bahwa dokter tidak pantas memiliki keluarga. Saat baru menikah, keluarga suamiku pernah mengalami kesulitan keuangan. Jadi, aku mengeluarkan seluruh tabunganku berjumlah 200 juta untuk membantu mereka melewati masa sulit itu. Kini, aku hanya pergi ke luar negeri selama setahun untuk studi lanjut, dan rumah ini sudah tidak menyisakan tempat untukku lagi. Aku menunduk dan tersenyum getir. Aku dan Riko sudah menikah selama tiga tahun, dulu kami juga pernah punya seorang anak. Namun, karena sebuah kecelakaan, aku kehilangan anak itu dan sekaligus rahimku, membuatku tidak akan pernah bisa hamil lagi. Saat tahu kabar itu, aku menangis sejadi-jadinya. Riko memelukku dengan erat dan menenangkanku. Dia pernah mengatakan bahwa seumur hidup ini hanya akan memiliki anak denganku. Demi aku, dia bahkan memutuskan untuk hidup tanpa memiliki anak. Namun, kini, dia mengingkari janjinya. Demi memenuhi keinginan terakhir gadis pujaan hatinya, dia menghancurkan prinsipnya sendiri. Aku masih ingat hari aku berangkat ke luar negeri, dia menangis seperti anak kecil, memelukku dengan erat dan enggan melepaskanku. Setiap hari kami saling menelepon, berbagi cerita kehidupan. Bahkan rekan-rekanku sering menggoda kami. Kata mereka sudah menikah tiga tahun, tetapi kami masih seperti pasangan yang baru jatuh cinta. Namun, sebulan lalu, aku akhirnya mendapat cuti dan pulang. Meskipun harus menempuh sembilan jam penerbangan, aku tidak mengeluh sedikit pun. Begitu sampai di rumah, aku malah melihat Riko berjalan bergandengan tangan dengan Erni di taman kompleks. Di sana, perut Erni tampak tengah membuncit besar. Lamunanku sontak buyar ketika Erni menatapku dan berkata, "Kak Nisa, kapan kamu pulang? Kenapa berdiri di depan pintu, nggak masuk?” Begitu dia bicara, semua orang di ruangan itu menoleh ke arahku. Saat ibu mertua melihat surat pengunduran diri di tanganku, alisnya langsung mengernyit. Bab 2 "Aku benar-benar nggak mengerti kenapa dulu aku mengizinkan Riko menikah dengan pembawa sial sepertimu! Kamu berhenti kerja, apa kamu berencana hidup santai, malas, dan menunggu Riko menanggung semua bebanmu?" ucap ayah mertuaku dengan suara yang keras. "Bahkan pekerjaan sebaik itu saja tidak bisa kamu pertahankan. Apa lagi yang bisa kamu lakukan? Kalau dari awal kami tahu kamu seburuk ini, sudah pasti kami nggak akan membiarkanmu masuk ke keluarga ini!" "Sekarang Erni sedang lemah dan perlu banyak biaya untuk dirinya dan anak itu. Bukannya membantu meringankan beban Riko, kamu malah menambah masalah. Apa pantas istri bersikap seperti itu?" timpalnya lagi. Mendengar semua itu, aku hanya merasa konyol. "Lalu bagaimana dengan Riko? Saat aku sedang studi lanjut, dia justru menghamili perempuan lain. Apa suami seperti itu pantas disebut baik?" sahut aku. "Nisa, cukup! Semua ini juga demi kebaikanmu!" bentak Riko. Riko mengernyitkan alisnya dan menatapku dengan pandangan yang dingin. "Karena kamu nggak bisa melahirkan, aku meminta Erni melahirkan anak untukmu. Aku cuma mau kamu merasakan bagaimana menjadi seorang ibu. Kenapa kamu nggak bisa mengerti ketulusanku?" "Lagian, ini cuma bayi tabung. Bukankah ini hal yang saling menguntungkan? Keinginan Erni untuk menjadi seorang ibu terpenuhi sebelum dia meninggal, dan kamu pun bisa memiliki anak tanpa harus merasakan sakit. Aku benar-benar nggak tahu apa yang membuatmu marah!" "Kalau bukan karena Erni dua tahun lalu menyelamatkanku dalam kecelakaan mobil, aku sudah mati. Orang tuanya juga sudah tiada dan sekarang dia divonis kanker stadium akhir. Dalam waktu dekat, nggak akan ada lagi orang yang mengingatnya." "Sebagai sesama perempuan, apa nggak seharusnya kamu bersimpati padanya? Kenapa terus menyalahkannya? Atau di matamu aku cuma lelaki kotor dan keji?" Erni menggenggam tangan Riko dengan wajah penuh rasa iba, lalu menatapku sambil berkata, "Kak Nisa, tolong jangan marah lagi, ya. Semua ini salahku. Aku janji, mulai sekarang aku nggak akan lagi muncul dalam hidup kalian. Tapi, kumohon, jangan sampai hubungan kalian rusak karena aku." Melihat keempat orang di hadapanku yang jelas sudah berdiri di pihak yang sama, aku hanya bisa tertawa dalam hati. Ternyata, inilah yang disebut keluarga sejati. Saat itu, Riko tiba-tiba berbicara dengan suara dingin dan tegas, "Nisa, kesabaranku juga ada batasnya. Kalau kamu berani menyakiti Erni tanpa alasan lagi, jangan salahkan aku kalau aku bersikap keras!" "Kalau kamu masih mau hidup bersamaku, berhentilah membuat keributan. Di pesta syukuran satu bulanan bayi minggu depan, aku akan mengakui di depan seluruh keluarga dan teman kalau kamu adalah ibu dari anak ini." Minggu depan? Aku melirik sekilas bayi yang sedang tertidur di kereta dorong. Minggu depan aku akan berangkat ke luar negeri. Namun, sebelum pergi, aku tidak keberatan memberi mereka sebuah kejutan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Aku menatap mereka tanpa ekspresi, lalu mengangguk sambil berseru, "Baiklah." Setelah itu, tanpa memedulikan reaksi mereka, aku berbalik menuju kamar untuk mulai berkemas. Lantaran sudah memutuskan pergi untuk selamanya, aku tidak ingin meninggalkan sedikit pun jejakku di rumah ini. Suara tawa dari ruang tamu terdengar samar di balik pintu. Tanganku yang sedang melipat pakaian sempat terhenti sejenak. "Erni, anak ini kita beri nama Rierni Fosa saja, ya? Nama ini bisa selalu mengenang Erni. Jadi, meskipun nanti dia memanggil orang lain sebagai ibu, dia nggak akan melupakanmu, ibu kandungnya yang sebenarnya." Meskipun aku tidak melihatnya langsung, aku bisa membayangkan wajah Riko yang penuh kasih saat mengucapkan kalimat itu. Sementara hatiku sudah lama dibuat hancur olehnya. Aku teringat bulan lalu, saku buru-buru pulang membawa oleh-oleh yang kubeli khusus untuknya dari luar negeri. Namun, di depan pintu rumah, aku justru melihat Riko berjalan beriringan sambil bergandengan tangan dengan Erni. Berbeda dengan wajah panik Riko, Erni justru menatapku dengan bingung, lalu bertanya seolah-olah aku orang asing yang sedang tersesat, "Apakah kamu nggak salah rumah? Ini rumahku." Aku tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya menatap perutnya yang sudah membesar dengan pandangan kosong. Sepuluh bulan aku pergi, tetapi suamiku membawa kekasih lamanya tinggal di rumah kami dan perempuan itu bahkan sedang mengandung. Apa yang telah terjadi selama waktu itu sudah terlihat jelas tanpa perlu dijelaskan. Hingga akhirnya, Riko yang tampak panik berdiri di depan Erni dan berkata, "Ini istriku, Nisa Yusad." Bab 3 Awalnya, aku pikir setelah mendengar perkataanku tadi, Erni akan sedikit menahan diri. Namun, ternyata tidak. Dia justru bersikap seolah-olah dialah nyonya rumah yang sah, bahkan dengan angkuhnya mengundangku masuk ke dalam "rumahku sendiri". Saat kami berpapasan di ambang pintu, dia berbisik dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh kami berdua. "Kudengar kamu sudah menikah dengan Riko selama tiga tahun? Bagaimanapun juga, pengganti tetaplah pengganti. Nggak akan pernah bisa menandingi aku yang asli!" "Sekarang aku sudah kembali, kamu pun harus tahu diri dan menyerahkan tempatmu padaku," timpalnya lagi. Amarah yang kutahan selama ini langsung memuncak. Aku tidak lagi bisa mengendalikannya. Tanpa pikir panjang, aku mengangkat tangan dan menampar wajahnya sekuat tenaga. Seluruh kerinduan selama sepuluh bulan berpisah dengan Riko seolah-olah meledak menjadi kemarahan yang membara. Tetangga yang mendengar keributan pun segera melapor ke polisi. Kami berdua dibawa ke kantor polisi, tetapi karena ini dianggap urusan rumah tangga, pihak berwenang tidak bisa ikut campur dan akhirnya hanya meminta kami pulang. Begitu tiba di rumah, ayah dan ibu mertua yang sudah menunggu langsung memarahiku habis-habisan. Mereka menuduhku membuat keributan begitu besar sampai menjadi bahan tertawaan para tetangga. Mereka juga mencibir bahwa semua pendidikan tinggi yang kutempuh sia-sia saja karena ternyata aku tidak bisa menahan diri hingga harus bertindak kasar. Mereka bahkan memperingatkan, kalau sampai terjadi hal yang lebih buruk, mereka tidak akan segan untuk menuntutku. Saat ini, aku baru sadar bahwa mereka semua sejak lama sudah mengetahui hubungan Riko dengan Erni. Bahkan, mereka mendukungnya sepenuhnya. Dalam waktu hanya setahun, Erni telah berubah menjadi menantu idaman di mata mereka. Sementara itu, hanya aku yang terus dibohongi. Aku seketika menjadi tidak bisa berkata-kata. Riko melangkah mendekatiku dengan mata yang memerah. Dia mencoba menggenggam tanganku dan berusaha menenangkan. "Nisa, aku nggak bermaksud mengkhianatimu. Tapi, Erni … dokter bilang hidupnya tinggal enam bulan. Satu-satunya keinginannya hanyalah menjadi seorang ibu, memiliki anak sendiri." "Dia adalah penyelamat hidupku. Aku nggak tega membiarkannya pergi dengan penyesalan. Sebenarnya aku mau membicarakan ini denganmu, tapi waktu itu kamu sedang di luar negeri. Aku khawatir hal ini akan mengganggu fokus studimu, jadi aku berencana menunggu sampai kamu kembali." "Kalau kamu bersedia, mari kita besarkan anak ini bersama-sama, ya?" ucap Riko. Hal sebesar itu diucapkan oleh Riko dengan nada ringan seolah tidak berarti apa-apa. Aku menyimpan pakaian terakhir ke dalam koper. Saat itu, ibu mertua masuk ke kamar tanpa mengetuk. Melihat koper di kakiku, dia menatapku dengan ekspresi puas, seolah-olah aku akhirnya tahu diri. "Waktu kamu belum pulang, aku sudah menyuruh Erni tidur di kamarmu. Ruang kerja juga sudah diubah menjadi kamar bayi. Jadi, malam ini kamu tidur di ruang tamu saja. Kalau nggak suka, cari hotel sendiri," pungkas ibu mertua. Aku sungguh lelah, tidak punya tenaga untuk berdebat atau mencari penginapan lain. Aku hanya mengangguk pelan dan bersiap tidur di sofa malam itu. Namun, tengah malam, suara tangisan bayi dari kamar terdengar tanpa henti. Aku membalikkan badan, berniat memakai penutup telinga, tetapi kemudian terdengar suara manja Erni. "Riko, tolong gendong bayi ini sebentar, dia terus menangis," pinta Erni. Lalu, terdengar suara tawa Riko yang lembut sembari berkata, "Anak nakal, biarkan saja. Menangis sedikit bisa melatih paru-parunya." Aku menutup kepala dengan selimut, berusaha keras menahan diri agar tidak mendengar suara mereka. Namun, begitu memejamkan mata, yang muncul di benakku justru bayangan Riko saat pertama kali menyatakan cinta padaku. Senyumnya cerah, tatapannya lembut, seluruh dunia seolah hanya ada aku di dalamnya. Namun, kini, lelaki itu bukan lagi milikku. Aku tertidur dalam keadaan linglung, dan begitu fajar tiba, aku sudah membawa koper keluar dari rumah itu. Aku pergi ke kantor administrasi untuk membatalkan status kependudukanku sekaligus mengurus berkas keberangkatan ke luar negeri. Lantaran semua dokumenku lengkap, prosesnya berjalan lancar dan para petugas tidak banyak bertanya. Saat hendak pergi, salah satu petugas perempuan tiba-tiba memanggilku. Dia memberiku sebutir permen buah warna-warni sambil berseru, "Semoga semua keinginanmu akan terwujud suatu hari nanti." Aku membalasnya dengan senyuman yang tulus, lalu keluar dari gedung itu. Kemudian, aku mencari hotel terdekat dan menaruh koper di kamar. Ketika hendak keluar mencari makan, aku tanpa sengaja berpapasan dengan Riko dan Erni, bersama kedua mertuaku. Erni mengenakan gelang Patek Philippe berkilau di pergelangan tangannya sambil menunjukkan ekspresi wajah penuh kepuasan. Dia sama sekali tidak tampak seperti seseorang yang sudah sekarat. Bab 4 "Kak Nisa, tadi dari jauh aku melihat seseorang mirip sekali denganmu. Tapi, Riko malah bersikeras bilang kamu nggak mungkin ada di sini," ucap Erni. Tatapannya kemudian jatuh pada lembaran brosur lowongan kerja yang ada di tanganku. Dia tersenyum seolah-olah mengerti segalanya. "Ternyata kamu sedang mencari pekerjaan, ya? Tapi kenapa sampai terpikir untuk jadi pelayan?" "Sekalipun kamu sedang kesal sama Kak Riko, nggak perlu sampai menyakiti dirimu sendiri seperti ini …. " Aku diam saja. Brosur itu sebenarnya baru saja diselipkan oleh seorang gadis muda di pinggir jalan. Melihat dia berdiri membagikan selebaran di tengah cuaca yang dingin, aku pun hanya sekadar menerimanya. Lantaran aku tidak berkata apa pun dan hanya menggenggam selebaran itu erat-erat, sorot mata Erni tampak menyiratkan rasa puas, sementara senyumnya menjadi makin congkak. "Kalau dari awal kamu bilang sedang mencari pekerjaan, mungkin aku bisa bantu sesuatu. Bagaimanapun juga, kita ini satu keluarga. Kalau kamu hidup dengan baik, Riko dan anaknya juga akan punya sandaran di masa depan, aku pun bisa tenang," timpal Erni. Bagi orang lain, kesunyianku saat itu mungkin tampak seperti pengakuan diam-diam. Ekspresi Riko yang semula hanya tampak bingung, seketika berubah kelam. Alisnya mengernyit, wajahnya tampak emosi, dan tatapan yang diarahkan padaku penuh dengan penghinaan. "Apa yang mau dikenalkan? Dia sendiri yang bersikeras berhenti dari pekerjaan dokter yang bagus itu. Sekarang meski sampai kelaparan di jalan pun, nggak ada yang patut dikasihani." "Nisa, nggak kusangka demi memaksaku melepaskan anak ini, kamu bisa bertindak begitu keji. Aku benar-benar kecewa padamu!" pungkas Riko dengan ketus. Aku menatap wajahnya yang dulu begitu kukenal, tetapi kini terasa sangat asing. Masih kuingat, di awal pernikahan kami, ketika aku ingin berhenti kerja karena persaingan tidak sehat di rumah sakit, Riko memelukku dan menepuk lembut punggungku, lalu menenangkan dengan suara hangat, "Kita ini suami-istri, satu kesatuan. Apa pun keputusanmu, aku akan mendukungnya. Berhenti kerja bukan masalah besar. Sayang, aku akan selalu bersamamu." Namun, sekarang, dia justru membiarkan perempuan lain menghina dan merendahkanku di depan umum. Dia telah melupakan janji yang dulu diucapkannya, seolah juga melupakan cinta mendalam yang pernah kami miliki. Bahkan kedua mertuaku hanya menggeleng dengan wajah sangat jijik. "Nisa, kau ini wanita mandul, cuma tahu kerja dan jarang di rumah. Apa yang bisa kamu bandingkan dengan Erni?" "Dengan sifatmu seperti ini, wajar kalau Riko mencari wanita lain. Ini salah siapa? Salahmu sendiri karena nggak punya daya tarik!" Kata-kata mereka makin menjadi-jadi, hingga orang-orang yang lewat mulai menatap kami dengan penasaran. Tanganku yang terkulai di sisi tubuh mengepal dengan erat hingga kuku menancap ke dalam daging. Saat aku hendak berbicara, Erni tiba-tiba mendekatiku dan berkata, "Kami sedang bersiap untuk memotret foto keluarga. Kak Nisa, ayo ikut juga. Lagi pula, nanti di sisa hidupku, aku juga akan menitipkan Riko dan anak ini kepadamu." Aku menatapnya sekilas, tanpa berkata apa-apa. Riko yang berada di sampingku tampak tidak senang. Dia segera merangkul Erni, melindunginya, lalu menatapku dengan tatapan penuh penghinaan. "Erni, aku tahu kamu berhati baik, tapi orang seperti dia belum tentu tahu berterima kasih." "Nisa, untuk siapa kamu menunjukkan ekspresi seperti itu? Kamu ikut atau nggak ikut, terserah padamu. Tapi, kalau kamu ikut foto, yang ada hanya merusak citra keluarga kami." Selesai berbicara, Riko langsung menggandeng Erni pergi menuju studio foto. "Kalau begitu, kami duluan ya, Kak Nisa. Aku nggak ganggu kamu cari kerja lagi," ujar Erni. Sebelum pergi, Erni sempat melirikku dengan pandangan sarat makna. Melihat punggung mereka yang makin menjauh, hatiku sudah tidak bergolak lagi. Di mata orang lain, mereka tampak seperti keluarga yang harmonis dan bahagia. Jika itu kehidupan yang diinginkan Riko, biarlah aku melepaskannya dengan lapang. Beberapa hari sebelum aku pergi, tepat tiga hari menjelang keberangkatan, aku menerima pesan dari direktur rumah sakit. Dia mengatakan bahwa dokter ahli yang pernah membantuku kebetulan sedang berada di dalam negeri untuk menghadiri forum medis. Dokter ahli ini juga bisa menyempatkan waktu untuk memeriksa asma ibu mertuaku. Ibu mertuaku memang sudah lama mengidap asma. Meski kini kondisinya terkendali, penyakit itu kerap kambuh sewaktu-waktu. Beberapa tahun lalu bahkan sempat dilarikan ke rumah sakit untuk pertolongan darurat. Selama ini, akulah yang terus merawat dan menyesuaikan pola hidupnya. Bahkan ketika aku melanjutkan pendidikan di luar negeri, aku masih meminta bantuan rekan-rekan dokter di sana untuk mengumpulkan kasus serupa agar bisa kupelajari lebih dalam. Bab 5 Bagaimanapun juga, hubungan itu pernah ada selama bertahun-tahun. Setelah aku menyelesaikan urusan ini, maka segala hubungan kami akan berakhir. Tidak ada lagi utang perasaan yang tersisa. Namun, begitu ibu mertua mendengar bahwa aku ingin membawanya ke rumah sakit, wajahnya langsung berubah menjadi masam. "Pergi ke rumah sakit untuk apa? Aku ini baik-baik saja! Hanya karena aku sedikit menegurmu, kamu langsung mengutukku mati, ya?" "Nisa, kenapa kamu kejam banget? Waktu pemeriksaan terakhir, dokter bilang aku sehat-sehat saja. Untuk apa diperiksa lagi?" Aku berusaha menahan nada suaraku agar tetap lembut. "Ada seorang pakar spesialis asma yang sangat terkenal, kebetulan sedang berada di dalam negeri hari ini. Aku mau mengajak Ibu sekadar memeriksakan diri, anggap saja pemeriksaan ulang …." Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ibu mertua sudah meraih gelas air di meja dan melemparkannya ke arahku. "Kedengarannya hebat sekali! Pakar spesialis katanya? Apa kamu pikir seorang pengangguran sepertimu bisa seenaknya membuat janji dengan dokter sekelas itu? Kamu cuma tahu berbohong saja, ya." "Coba lihatlah, Erni. Dulu, dia sampai rela bergadang hanya untuk mendaftarkan aku ke dokter spesialis. Waktu itu kau di mana?" Kata-katanya yang terus-menerus membandingkanku dengan Erni sudah cukup untuk menunjukkan sikapnya. Apa pun yang kulakukan selalu salah. Bagaimanapun usahaku, aku tetap tidak akan pernah bisa menandingi Erni di matanya. Ketika pikiran itu muncul, aku hanya tersenyum getir. "Kalau begitu, biarkan saja. Nggak usah pergi kalau Ibu memang nggak mau," sahut aku. Mungkin aku memang terlalu ikut campur, terlalu bodoh hingga menjerumuskan diri sendiri. Tak lama kemudian, tibalah hari satu bulanan bayi. Aku datang terlambat. Saat memasuki aula, ruangan itu sudah penuh sesak oleh kerabat jauh dan orang-orang yang bahkan aku tidak ingat namanya. Sesaat aku merasa asing di tempat yang dulu seharusnya menjadi "rumah". Kemegahan pesta itu bahkan jauh melampaui pernikahanku dengan Riko. Di pintu masuk, terpampang besar foto keluarga mereka berlima, keluarga yang sempurna di mata orang lain. Sementara aku, dari awal sampai akhir, hanyalah bahan tertawaan. Begitu beberapa kerabat melihatku datang, mereka langsung saling berbisik. Aku tidak perlu mendengar jelas untuk tahu apa yang sedang dibicarakan. Tak lama kemudian, Bibi Ira menarik lenganku sambil tersenyum lebar dan berkata, "Nisa, kapan kamu pulang? Kenapa nggak pernah dengar Riko mengungkitnya? Lagi pula, sejak kapan kalian punya anak?" "Kudengar, kamu baru pulang dari studi lanjutan di luar negeri dan sekarang akan dipromosikan jadi dokter kepala di rumah sakit pusat, ya? Wah, kariermu benaran sukses, ya." Aku hanya mengangguk sedikit untuk sekadar menunjukkan sikap yang sopan. Namun, aku bisa melihat jelas pandangan mereka penuh dengan ejekan tersembunyi. Bagaimana tidak? Tidak ada aku di foto keluarga itu. Sementara itu, di sepanjang pesta ini, perempuan yang berdiri di sisi Riko jelas bukan aku. Beberapa tamu yang penasaran mulai menunjuk ke arah perempuan yang sedang menyuapi Riko kue manis di kejauhan sembari berkata, "Nisa, siapa perempuan itu?" Aku tersenyum tipis dan menjawab, "Itu istri baru Riko." Dalam sekejap, suasana di sekitarku berubah hening. Para bibi yang sedang asyik menguping gosip langsung menatapku dengan mata terbelalak, lalu buru-buru berbisik di antara mereka sendiri lagi. Kalau Keluarga Fosa sendiri nggak peduli dengan harga diri, kenapa aku harus menutupi kenyataan? Saat itu, Riko naik ke panggung dan mengambil mikrofon. "Terima kasih semuanya sudah datang ke pesta satu bulanan putraku. Sebelumnya, aku nggak pernah membayangkan aku akan menjadi seorang ayah. Aku bahkan merasa nggak akan mampu menjalankan peran itu," ucap Riko. "Tapi ketika pertama kali mendengar tangisan bayi, aku baru benar-benar mengerti arti tanggung jawab seorang ayah," timpal Riko. Selesai berbicara, dia menatapku sekilas dan melanjutkan dengan nada lembut, "Tentunya, semua ini nggak lepas dari kerja keras istriku." Salah satu Bibi di dekatku langsung berseru dengan suara keras, "Kalau begitu, biar ibu dari anakmu juga naik ke atas dan bicara sebentar! Mana ibunya?" Suasana ruang pesta mendadak membeku. Semua mata beralih menatap bergantian antara aku dan Erni. Jawaban sebenarnya sudah jelas, tetapi bibi itu seolah sengaja menunggu Riko mengatakannya sendiri. Besok aku akan naik pesawat, meninggalkan negeri ini untuk selamanya. Aku menatap mata Riko, lalu perlahan melangkah naik ke atas panggung. Di tengah tatapannya yang terkejut, aku meraih mikrofon dari tangannya.