Perasaan Setelah Jadi Abu

Đang tải thông tin quảng bá...

Perasaan Setelah Jadi Abu

GoodNovel Hoàn thành

Cinta pertama suamiku terkena gagal ginjal akut dan akulah satu-satunya orang yang cocok untuk menjadi donor. Demi menyelamatkan cinta pertamanya, suamiku memaksaku menggugurkan kandungan ketika kandu...

Chương (1)

第1章

Cinta pertama suamiku terkena gagal ginjal akut dan akulah satu-satunya orang yang cocok untuk menjadi donor. Demi menyelamatkan cinta pertamanya, suamiku memaksaku menggugurkan kandungan ketika kandunganku berusia enam bulan. Suamiku berkata dengan suara yang sangat lembut dan menusuk, "Bisakah kamu sedikit berbaik hati? Kamu cuma kehilangan seorang anak. Tapi, dia kehilangan hidupnya!" Aku berusaha menolak, tetapi suamiku mengancam akan bunuh diri. Aku dan anakku pun tidak selamat di meja operasi. Sementara cinta pertamanya berhasil menjalani transplantasi dan bertahan hidup. Segalanya berjalan seperti yang suamiku inginkan, tetapi setelah dia tahu bahwa aku sudah meninggal, dia pun menjadi gila. Bab 1 Setelah meninggal, rohku perlahan-lahan terlepas dari tubuhku dan melayang tanpa arah di udara. Perutku belum dijahit dan di tubuhku hanya tersisa satu ginjal. Di sampingku ada anak yang belum terbentuk sempurna. Keadaannya sangat mengenaskan. Tidak lama kemudian, tubuhku ditutup rapat dengan sehelai kain putih. Mayat pun didorong keluar dari ruang operasi. Aku melihat bahwa suamiku, Candra Wongso berdiri di depan pintu ruang operasi yang lain. Kecemasan yang belum pernah aku lihat memenuhi wajahnya. Ketika melewati Candra, dia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Apa yang sedang kuharapkan? Dia hanya mengkhawatirkan orang lain. Ketika pintu operasi di depan Candra terbuka, dia langsung berlari menghampiri dokter dan berkata, "Dokter, gimana kondisi Yuli?" "Operasi transplantasi ginjalnya sangat sukses. Begitu efek anestesinya hilang, kamu bisa menemuninya." Candra tersenyum lebar mendengar itu. Yuli yang ada di kamar tampak pucat. Mata Candra memerah ketika melihatnya. Dia menggenggam tangan perempuan itu dengan erat dan berkata dengan penuh kasih sayang, "Yuli, kamu sudah menderita." "Nggak kok." Yuli mengangkat tangan perlahan-lahan dan menyentuh pipi Candra dengan lembut. Yuli terdiam sejenak dan berkata, "Candra, kamu seharusnya nggak ada di sini. Kamu seharusnya menemani Susan. Aku berutang padanya." Usai mengatakan itu, Yuli menitikkan air mata. Candra memotong, "Sampai kapan kamu akan memikirkan dia? Kalau bukan karena wanita jahat itu, operasimu nggak akan tertunda sampai sekarang, 'kan? Semua ini salahnya. Dia membuatmu menderita seperti ini." Kata-kata Candra penuh kebencian dan nada menyalahkan. Napasku terhenti seketika. Jantungku seolah-olah diremas oleh rasa sakit yang tak kasat mata. Susan disebut Candra sebagai wanita jahat itu adalah aku. Konon katanya... Ketika orang mati, hidup akan berputar seperti kilasan cahaya terakhir. Namun, yang aku lihat adalah dua orang yang berpelukan dengan erat. Yang tersisa dibenakku hanyalah rasa takut yang menggulung seperti ombak dan nyeri tak berujung saat Candra memaksaku naik ke meja operasi. Waktu itu Candra memegang tanganku dan berkata dengan mata merah, "Susan, aku bersumpah. Asalkan kamu selamatkan Yuli, kita akan hidup bahagia. Tapi, kalau Yuli mati, aku nggak akan mau hidup lagi." Nada bicaranya seperti memohon, tetapi sebenarnya itu adalah ancaman. Sejak orang tuaku meninggal, aku tidak punya apa-apa. Perusahaan peninggalan mereka terlilit utang dan Keluarga Wongso membantuku membayarnya. Sejak Keluarga Wongso membantuku waktu itu, nyawaku sudah menjadi milik Candra. Aku jelas-jelas tahu bahwa Candra tidak akan benar-benar bunuh diri. Namun, ancaman itu sudah cukup untuk membuatku luluh. Aku pun menyerah ketika menatap pria yang aku cintai selama lima tahun ini. Aku rela menggugurkan anak kami dan mendonorkan ginjalku untuk Yuli, menantikan kehidupan bersama kami kelak bisa membaik. Namun, pada saat operasi, pendarahan hebat terjadi. Dokter berkali-kali mencoba menghubungi keluarga, tetapi tidak ada yang menjawab. Dalam kesadaranku yang mulai memudar, samar-samar kudengar beberapa helaan napas panjang penuh keputusasaan. Akhirnya, aku mengembuskan napas terakhirku. Saat ini, tubuhku terbaring kaku di ruang jenazah yang sangat dingin, sementara Candra masih setia menemani cinta pertamanya. Bab 2 Sebulan kemudian, Yuli akhirnya keluar rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Candra bersikap dermawan dan membelikan sebuah vila mewah khusus untuk Yuli memulihkan diri. Untuk merayakan kesembuhan Yuli, Candra mengundang banyak teman dan mengadakan pesta besar. Kekuatan yang tak kasat mata seolah mengikatku di samping Candra. Aku melihat mereka pergi bersama kemana-mana. Yuli memang selalu senang menjadi pusat perhatian. Meski tubuhnya belum benar-benar pulih, dia tetap menghadiri pesta itu sambil bersandar manja pada Candra. Mereka begitu terang-terangan. Tak heran apabila para tamu mulai bergosip. Ketika teman Candra menyebut namaku, Yuli tentu tidak senang. Namun, Yuli tidak menunjukkannya. "Candra, seharusnya kita nggak kayak gini, 'kan? Lagi pula, aku nggak punya status. Kalau Susan tahu, dia pasti marah." "Di hari baik ini, kenapa kamu sebut namanya? Bawa sial!" Ketika menyebut namaku, wajah Candra dipenuhi dengan kekesalan. Di hadapan semua orang, Candra menggenggam tangan Yuli dan berkata dengan lantang, "Yuli adalah perempuan yang aku cintai seumur hidupku. Aku harap kalian semua nggak membicarakan orang lain yang nggak ada hubungan apa-apa lagi denganku." Keramaian mendadak hening. Semua orang saling menatap dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Semua orang tahu jelas apa artinya tidak boleh menyebut istri sah. Tatapan Candra suram. Perkataan yang keluar dari bibirnya menghantamku dengan keji. Mataku seketika memerah dan panas oleh air mata yang nyaris tak tertahankan. Benar. Aku hanyalah bayangan tak terlihat, pengganti Yuli. Dari awal sampai akhir, orang yang Candra cintai adalah Yuli. Semua orang pernah mengatakan bahwa kami adalah kekasih masa kecil. Karena Candra pernah mengatakan suka padaku waktu masih kecil, aku mencintainya selama 10 tahun. Sayangnya, cinta masa muda itu terlalu rapuh. Candra pun bertemu dengan cinta sejatinya, Yuli waktu kuliah. Segala perasaan di antara kami seketika lenyap begitu saja. Karena aku hanya bisa menyembunyikan perasaanku, aku melihat mereka dari jauh, dan menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka. Akhirnya, Yuli memutuskan pergi keluar negeri dan hubungan mereka pun berakhir. Saat Candra mabuk berat, dia diserang oleh para penculik. Aku mengalihkan perhatian para penculik seorang diri dan memberi Candra kesempatan untuk melarikan diri. Sebelum aku hilang kesadaran, Candra berjanji padaku, "Susan, asal kamu tetap hidup, aku akan memperlakukanmu dengan baik …" Setelah tersadar, Candra ternyata memang menepati ucapannya. Dia benar-benar memperlakukanku dengan penuh perhatian. Akhirnya, kami pun menikah. Selama menikah dengannya, Candra benar-benar suami teladan. Tutur kata dan perbuatannya padaku begitu sempurna. Di mata orang lain, kami adalah pasangan ideal yang mencontohkan kisah cinta yang sempurna. Tapi kepulangan Yuli bagaikan petir yang menyambar permukaan danau yang tenang, menimbulkan gelombang dahsyat yang mengobrak-abrik semuanya. Yuli mengatakan bahwa dia pergi keluar negeri karena sakit. Satu kalimat ini saja sudah cukup untuk mengguncang hati Candra yang sebelumnya begitu teguh. Awalnya Candra sering pulang terlambat, lama kelamaan dia tidak pulang bermalam-malam tanpa kabar. Namun, begitu pulang ke rumah, Candra selalu mengatakan hal-hal mengenai Yuli. Aku pernah berpikir, apabila aku tetap bersabar, aku pasti bisa meluluhkan hatinya, dan membuatnya kembali. Aku tidak tahu bahwa itu akan menjadi tragedi. Dua nyawa pun terenggut di meja operasi. Bab 3 "Candra, Ibu sudah lama nggak bertemu kalian. Besok ajak Susan pulang buat makan di rumah. Telepon Susan nggak bisa dihubungi sejak lama. Kalian sibuk apa akhir-akhir ini?" Beberapa hari kemudian, Lisa, ibunya Candra pun menelepon. Pada saat itu, Yuli sedang bersandar manja di dada Candra. Begitu mendengar suara Lisa, mataku mendadak terasa perih. Lisa adalah sahabat terbaik ibuku. Setelah orang tuaku kecelakaan, dia membawaku ke rumahnya. "Bu. Dia memang nggak tahu berterima kasih. Walau dia marah padaku, dia seharusnya tetap jawab telepon Ibu!" Ekspresi Candra sangat kesal ketika menyebut namaku. Aku berdiri di depan Candra dan menertawakan diriku sendiri. Cinta yang dulu sudah lenyap. Dia bahkan mengatakan bahwa aku orang yang tidak tahu berterima kasih. "Candra, aku tahu di hatimu ada wanita itu. Tapi, kamu sudah menikahi Susan. Kamu harus bertanggung jawab padanya. Kalau nggak, gimana aku menjelaskan ini pada ibunya?" Lisa berkata dengan cemas. Ekspresi Candra pun menjadi suram. Dia jawab seadanya sebelum menutup telepon. Lalu, Candra menatap Yuli dengan penuh kasih sayang, seolah-olah ingin menenangkan hatinya. "Candra, Susan akhir-akhir ini nggak menghubungimu, ya?" Yuli bertanya dengan lirih, seolah-olah baru teringat sesuatu. "Hubungi aku?" Candra mengerutkan kening. "Dia hampir saja membuatmu mati. Kenapa kamu begitu peduli padanya? Baguslah kalau dia menghilang." "Yuli. Tunggu aku. Begitu aku resmi cerai dengannya. Aku akan memberimu sebuah status." Candra tiba-tiba berjanji dengan serius. Aku hanya melihat Yuli memeluk Candra dan bersandar dengan manja di dadanya. "Aku nggak masalah. Asalkan … Asalkan Susan nggak membenciku." "Memangnya dia berani?" Candra memotong, memeluk bahu Yuli, menarik Yuli lebih dekat ke dadanya, dan menenangkan dengan nada lembut. Aku menyaksikan semua ini dengan mataku sendiri. Dadaku terasa panas, seolah terbakar oleh api yang tak bernama. Mungkin karena berniat membicarakan perceraian, setelah hari itu, Candra pulang ke rumah untuk pertama kalinya. Begitu sampai di rumah, Candra tidak menemukan keberadaanku. Secara logika, dengan kemampuan dan koneksi yang Candra miliki, mencariku bukanlah hal yang sulit. Namun, Candra masih belum menemukanku hingga sekarang. Bukannya dia tidak mampu, tetapi dia jelas-jelas tidak ingin melakukannya. Dia hanya menungguku untuk muncul sendiri. Ketika hari-hari berlalu tanpa kabar dariku, dia mulai gelisah. Dia mulai meneleponku berkali-kali. Dia makin tidak sabar dan penuh amarah. Hingga suatu hari, sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal meneleponnya. Dia mengira itu adalah aku. Dia langsung menekan tombol terima tanpa berpikir panjang. "Susan. Kamu hebat juga, ya. Berani-beraninya nggak angkat teleponku." "Apa Anda keluarga Nona Susan? Jenazahnya sudah disimpan di rumah sakit selama hampir dua bulan. Mohon Anda segera datang untuk melakukan proses identifikasi." Petugas medis menelepon dan berkata dengan nada dingin. Aku melihat Candra langsung berdiri dan tubuhnya menegang. Tangannya membeku beberapa detik di udara sebelum tersenyum sinis. "Jangan konyol. Susan, si sialan itu, meski dunia kiamat, dia belum tentu rela mati." "Maaf, Pak. Bapak satu-satunya kontak darurat yang terdaftar atas beliau. Kami hanya bisa menghubungi Bapak." "Huh! Kalau begitu anggap saja jenazah nggak dikenal!" Candra menjawab dengan nada dingin dan menutup telepon begitu saja. Aku melihat tatapan matanya suram. Candra pasti marah. Aku pun tertawa. Sepertinya, Candra sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa hidupku benar-benar sudah berakhir. Di mata Candra, aku hanyalah seorang perempuan licik yang akan melakukan apa pun demi mencapai tujuanku. Dia sangat berharap aku yang dia benci ini bisa meninggal. "Kirana, di mana Susan? Suruh dia segera kembali. Jangan coba-coba sembunyi." Begitu menutup telepon, Candra menelepon Kirana dan berkata dengan nada bicara yang menggebu-gebu. Kirana adalah satu-satunya teman yang aku miliki. Aku bahkan tidak sempat berpamitan padanya. "Candra, apa kamu gila? Aku justru mau tanya, kamu bawa Susan ke mana? Sudah sekian lama dia nggak bisa dihubungi." Kirana yang ada di ujung telepon juga tersulut emosi karena kemarahan Candra. "Kamu kasih tahu dia. Suruh dia segera pulang besok. Kalau nggak, meski dia mati di luar sana pun, aku nggak akan mengurus jenazahnya!" Candra panik. Aku tidak tahu kenapa Candra begitu panik hingga napasnya begitu tidak beraturan. "Candra. Susan hilang! Kalau terjadi sesuatu padanya, aku nggak akan pernah melepaskanmu!" Kirana berteriak dan memaki Candra sambil menangis. Namun, Candra malah tertawa sinis dan berkata dengan nada mencemooh, "Ini trik barunya, ya? Pura-pura menghilang supaya aku merasa bersalah? Ah. Sungguh murahan." Air mata membuat pandanganku kabur. Ketika Candra mengatakan hal itu, perasaanku padanya benar-benar mati. Bab 4 Lagi pula, di dalam hati Candra, aku selamanya adalah perempuan keji, hina, dan tak tahu malu. Karena aku pernah mendorong Yuli hingga jatuh dari atas. Aku teringat tiga tahun yang lalu, waktu Yuli kembali ke negara ini. Waktu itu, perusahaan sedang mengadakan pesta besar. Candra membawa Yuli ke hadapanku, istri sahnya tanpa rasa bersalah. Mereka berjalan berdampingan dan berbaur di antara tokoh ternama di dunia bisnis. Aku pun menjadi bahan tertawaan semua orang di ruangan itu. Rasa pedih di dadaku sangat menusuk. Aku hanya bisa menahan air mata dan melangkah menjauh untuk menenangkan diri. Namun, Yuli menghampiriku dan berpura-pura bersifat ramah padaku. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengannya, jadi aku berbalik, dan pergi. Namun, Yuli tiba-tiba terjatuh dari tangga. Aku pun terpaku di tempat. Aku melihat dengan jelas bahwa Yuli tersenyum dingin padaku waktu dia terjauh. Semua orang terkejut. Aku menatap Yuli yang terbaring di lantai dan bersimbah darah dengan takut. Yuli menatap ke atas ketika Candra datang. Aku gemetar, panik, dan menggelengkan kepala. Bukan aku. Bukan aku. Namun, tidak ada seorang pun yang memercayaiku. [Istri Pak Candra Menghukum Selingkuhan dengan Kejam. Percobaan Pembunuhan. Metode yang Sangat Brutal!] menjadi tajuk utama yang diberitakan setiap media besar. Candra berusaha sekuat tenaga untuk menekan berita itu agar tidak menyebar. Dia marah besar dan membawaku ke rumah sakit. Sebelumnya, aku sudah menjelaskan berkali-kali bahwa aku tidak pernah mendorong Yuli hingga terjatuh. Aku bahkan memanggil pihak keamanan menampilkan rekaman CCTV untuk membersihkan namaku. Namun, Candra menutup mata akan semua itu. Candra bersikeras agar aku meminta maaf. Aku memeluk bunga yang Candra siapkan untuk Yuli dan berjalan masuk ke ruang perawatan. "Candra." Yuli yang masih pucat tersenyum manis pada Candra. Begitu melihat aku masuk, raut wajahnya langsung berubah, dia tampak ketakutan. "Susan … aku tahu kamu nggak pernah suka sama aku, merasa aku merebut Candra. Soal aku jatuh dari tangga, aku nggak menyalahkanmu. Lagi pula, aku yang memulai semuanya." Aku melangkah maju perlahan-lahan, berniat menjelaskan. Namun, Yuli tiba-tiba gemetar dan berteriak dengan kencang, "Ah! Susan. Aku tahu aku salah. Aku nggak akan ganggu Candra lagi. Jangan mendekat. Ah!" Ketika melihatnya terperangkap dalam mimpi buruk, aku pun seketika bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. "Usir dia. Dia sudah dorong Yuli hingga jatuh dari tangga. Kenapa masih berani muncul di sini?" Perempuan kaya yang ada di samping Yuli mendorongku. Aku pun kehilangan keseimbangan dan tersungkur di lantai. Ekspresi Candra tampak kesal, dia menatapku. "Dia datang untuk minta maaf." "Ah. Apa gunanya minta maaf?" Perempuan kaya itu berkata sambil tersenyum sinis, "Kalau memang mau minta maaf dengan tulus, harusnya berlutut." Yuli tersenyum lembut, pura-pura menenangkan, "Jangan gitu." Aku kesemutan, lalu berdiri, dan bersandar di tembok. Namun, kedua tangan Candra menekan bahuku dengan sekuat tenaga. "Mereka mau kamu berlutut, kamu berlutut saja. Lagi pula, semua ini salahmu!" Aku menggeleng, berusaha melawan tekanan Candra. "Sebelumnya aku sudah jelaskan. Aku nggak dorong dia. Kenapa kamu nggak mau memercayaiku?" Candra mengerutkan kening dengan jengkel. Dia mengalihkan pandangan tanpa mengatakan apa pun. Tekanan di bahuku pun makin berat. "Candra, kamu jangan paksa Susan. Aku tahu dia pasti nggak melakukan itu dengan sengaja." Yuli berkata, berpura-pura menjadi orang baik. Aku tidak mengatakan apa pun, hanya menatap Candra dengan tatapan membara. Suasana di ruang perawatan menjadi sunyi. Aku merasa pusing, pandanganku pun menjadi gelap. Akhirnya aku tidak tahan lagi dan pingsan. Ketika aku kembali tersadar, kabar besar langsung mengguncangku. Aku hamil. Sudah dua bulan. Rasanya semua kesedihan dan beban beberapa waktu terakhir sirna begitu saja. Candra tidak memaksaku untuk berlutut lagi pada Yuli. Sikapnya padaku pun melunak. Aku mulai yakin begitu anak ini lahir, Yuli akan berhenti membuat kekacauan. Hubungan aku dan Candra mungkin bisa kembali seperti dulu. Kami akan hidup damai seperti suami istri pada umumnya. Namun, aku terlalu naif. Ketika kandunganku memasuki usia enam bulan, Candra pulang lebih awal dari biasanya. Ketika pulang ke rumah, dia membawa seberkas laporan medis di tangannya. Di atasnya tertulis hasil kecocokan transplantasi ginjal antara aku dan Yuli. Aku menatap Candra dengan bingung. Candra duduk di sampingku dan memelukku dengan erat. Pelukan itu adalah pelukan hangat yang sudah lama aku rindukan. Namun, perlukan ini terasa berbahaya. "Kamu juga tahu, ginjal Yuli rusak." Candra berkata dengan nada datar tanpa menunjukkan sedikit emosi apa pun. Aku mengangguk. "Lalu?" "Gugurkan anakmu dan lakukan transplantasi. Kamu berutang padanya. Anggap saja sebagai tebusan atas dosa yang kamu buat." Rasa dingin tiba-tiba menyeruak, seolah-olah ada seember air es yang dituangkan tepat di kepalaku hingga membuat tulang di tubuhku terasa membeku. Ternyata, perubahan sikap Candra selama ini adalah bagian dari rencananya. Candra tidak berniat melepaskanku. Dia hanya menunggu waktu untuk menghukumku dengan kejam. Aku didorong ke neraka oleh pria yang paling aku cintai dan paling aku pedulikan. Mungkin inilah bentuk balas dendamnya! Bab 5 Prang! Candra menutup telepon dengan marah. Mungkin karena emosi yang meledak-ledak, dia melempar ponsel ke lantai. Suara benda yang retak membuat lamunanku buyar. Setelah Candra tenang, dia berbalik, dan mengambil ponsel yang sudah retak itu. Dia menelpon asistennya, menyuruh orang itu untuk mencari jejakku. Candra mengirim pesan dengan ekspresi datar. Aku mendekat dan melihat. Di layar tertulis nomor ponselku. [Susan, aku kasih kamu waktu satu hari. Cepat kembali ke hadapanku. Kalau nggak, tanggung sendiri akibatnya.] Aku tersenyum getir. Sekarang aku berada di hadapanmu. Hanya saja, kamu tidak bisa melihatku lagi. Ponselku sudah lama tersimpan di ruang penyimpanan. Mungkin sekarang sudah kehabisan baterai. Setelah beberapa saat berlalu, tidak ada pesan yang masuk ke ponselnya. Kegelisahan dan kecemasan terlihat jelas dalam ekspresi Candra. Tidak lama kemudian, Candra mengambil jaket yang tergeletak di sofa dan bergegas keluar. Aku segera mengikutinya. Apa dia mau mencariku? Aku bertanya-tanya dalam hati. Kemudian, teriakan dari kamar utama membuat Candra berubah arah. Langkahnya terhenti di pintu keluar. Yuli yang berada di atas kasur tampak baru saja mengalami mimpi buruk. Setelah Candra masuk, Yuli pun tersadar. "Mimpi buruk, ya?" Candra menatap Yuli dengan khawatir. Yuli langsung memeluk Candra dan berkata sambil menangis, "Candra. Aku mimpi Susan datang meminta ginjalnya kembali. Aku juga bermimpi kamu jatuh cinta padanya dan meninggalkanku." "Huu. Kamu nggak akan tinggalkan aku demi Susan, 'kan?" Yuli menatap Candra dengan penuh harap. Dia sengaja menyebut namaku dengan maksud jahat. Canda mengulurkan tangan dan mengelap keringat di dahi Yuli. "Nggak akan. Aku … " Candra tampak ragu. Lalu, dia pun melanjutkan perkataannya dengan tegas. "Orang yang aku cintai itu kamu, bukan dia." Melihat tatapan Candra yang penuh kasih sayang, aku terdiam di tempat. Meski aku hanya roh, dadaku tetap terasa sesak, perih tanpa sebab yang jelas. Setelah mendengar itu, Yuli tampak puas. Dia berkata dengan gusar, "Kalau gitu, apa kamu sudah berhasil menghubungi Susan?" "Ponselnya mati." Candra menjawab dengan tegang. "Susan orang yang suka main-main. Mungkin dia sedang pergi jalan-jalan atau berlibur di tempat lain." Yuli mencoba menenangkan. Namun, Candra tidak menjawab. Setelah menyuruh Yuli untuk istirahat lebih awal, Candra pun pergi. Di dalam kamar hanya ada Yuli seorang. Dia duduk perlahan-lahan, menatap punggung Candra yang menjauh sambil tersenyum. Tidak ada lagi kelemahan atau ketakutan, hanya ada senyum kemenangan. "Susan, Candra cuma milikku seorang. Nggak ada seorang pun yang bisa rebut dia." "Tapi, kamu sudah mati. Kamu sudah tidak bisa mengancamku lagi. Hahaha." Yuli bergumam pada dirinya sendiri dan tertawa dengan menyeramkan. Rasa dingin yang menusuk tulang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku membelalakkan kedua mataku. Sejak kapan Yuli tahu bahwa aku sudah meninggal? ... Keesokan paginya, ponsel Candra berdering. "Pak Candra, aku sudah menemukan jejak Bu Susan. Dia … " Si asisten menelepon. Candra tampaknya tidak menyadari keanehan lawan bicaranya dan berkata dengan nada dingin, "Sudah kuduga, dia pasti berulah lagi. Triknya tetap buruk seperti biasanya." Mungkin hanya perasaanku saja. Ketika Candra mengatakan kalimat itu, aku bisa merasakan bahwa Candra merasa lega. "Bawa dia pulang. Aku tunggu kalian di rumah." Candra memberi perintah dengan tegas. "Pak Candra. Bu Susan … Sejak masuk rumah sakit dua bulan lalu, Ibu nggak pernah keluar lagi. Setelah diselidiki … " Lawan bicaranya terdiam sejenak dan melanjutkan, "Bu Susan meninggal secara tidak sengaja saat operasi dua bulan lalu. Saat ini jenazahnya disimpan di kamar mayat lantai B1 rumah sakit."