Terlahir Kembali, Menceraikan Suami Konglomerat

Đang tải thông tin quảng bá...

Terlahir Kembali, Menceraikan Suami Konglomerat

GoodNovel Hoàn thành

Apa hal pertama yang akan kamu lakukan jika terlahir kembali? Aku? Aku akan mulai dengan menceraikan suamiku, Finn Gunawan. Ya, Finn Gunawan. Lelaki yang menguasai setengah dunia mafia dari balik tira...

Chương (1)

第1章

Apa hal pertama yang akan kamu lakukan jika terlahir kembali? Aku? Aku akan mulai dengan menceraikan suamiku, Finn Gunawan. Ya, Finn Gunawan. Lelaki yang menguasai setengah dunia mafia dari balik tirai. Sang Bos Mafia. Pria terkaya di dunia. Pria yang diimpikan semua wanita. Wajahnya terpampang di sampul majalah, dinobatkan sebagai "Pria Terseksi di Dunia" lima tahun berturut-turut. Di kehidupanku yang lalu, aku sudah mencoba segalanya agar dia melihatku sebagai seseorang yang berarti. Aku menikah dengannya. Aku melahirkan anaknya. Aku mengesampingkan semua harga diriku, berusaha menjadi istri yang sempurna. Namun, semua itu sia-sia. Baginya, aku tak berbeda dari seorang pelayan yang mungkin sering dia beri tip. Mudah dilupakan, bisa digantikan, dan nyaris tak terlihat. Jadi kali ini, aku tidak akan memohon dan aku tidak akan berpura-pura lagi. Aku menyerahkan posisiku di hidupnya kepada Madeline Bahar ... dan pergi. Madeline adalah cinta pertama Finn, juga bayangan yang menghantui setiap hari di kehidupanku yang lalu. Kini Madeline duduk di seberangku, menatapku dengan mata berkedip bingung, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Kamu berusaha keras menyingkirkanku," katanya perlahan, matanya menyipit. "Sekarang kamu mau aku bersama Finn?" "Ya. Itu saja yang kuminta. Temui Finn, bicaralah dengannya. Katakan padanya untuk menandatangani surat cerai." Aku menatap wajahnya yang masih kebingungan dan melanjutkan, "Semua orang tahu aku adalah orang terakhir yang akan melepaskan Finn. Jadi kalau aku bilang mau bercerai, dia nggak akan percaya sedikit pun. Tapi kamu? Kamu orang yang bisa membuat itu terjadi. Benar nggak?" Madeline tertawa, karena akhirnya dia mendapat kesempatan yang selama ini diinginkannya. Aku pun tertawa, karena akhirnya aku bebas. Bab 1 Apa hal pertama yang akan kamu lakukan jika terlahir kembali? Aku? Aku akan mulai dengan menceraikan suamiku, Finn Gunawan. Ya, Finn Gunawan. Lelaki yang menguasai setengah dunia mafia dari balik tirai. Sang Bos Mafia. Pria terkaya di dunia. Pria yang diimpikan semua wanita. Wajahnya terpampang di sampul majalah, dinobatkan sebagai "Pria Terseksi di Dunia" lima tahun berturut-turut. Di kehidupanku yang lalu, aku sudah mencoba segalanya agar dia melihatku sebagai seseorang yang berarti. Aku menikah dengannya. Aku melahirkan anaknya. Aku mengesampingkan semua harga diriku, berusaha menjadi istri yang sempurna. Namun, semua itu sia-sia. Baginya, aku tak berbeda dari seorang pelayan yang mungkin sering dia beri tip. Mudah dilupakan, bisa digantikan, dan nyaris tak terlihat. Jadi kali ini, aku tidak akan memohon dan aku tidak akan berpura-pura lagi. Aku menyerahkan posisiku di hidupnya kepada Madeline Bahar ... dan pergi. Madeline adalah cinta pertama Finn, juga bayangan yang menghantui hari-hari di kehidupanku yang lalu. Kini Madeline duduk di seberangku, menatapku dengan mata berkedip bingung, seolah-olah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Kamu berusaha keras menyingkirkanku," katanya perlahan, matanya menyipit. "Sekarang kamu mau aku bersama Finn?" "Ya. Itu saja yang kuminta. Temui Finn, bicaralah dengannya. Katakan padanya untuk menandatangani surat cerai." Aku menatap wajahnya yang masih kebingungan dan melanjutkan, "Semua orang tahu aku adalah orang terakhir yang akan melepaskan Finn. Jadi kalau aku bilang mau bercerai, dia nggak akan percaya sedikit pun. Tapi kamu? Kamu orang yang bisa membuat itu terjadi. Benar nggak?" Madeline tertawa, karena akhirnya dia mendapat kesempatan yang selama ini diinginkannya. Aku pun tertawa, karena akhirnya aku bebas. .... Madeline menatapku lama setelah mendengar kata "surat cerai" keluar dari mulutku. Dia tidak langsung bicara, hanya menatapku seolah-olah aku tiba-tiba menumbuhkan kepala kedua. Kemudian, tanpa sepatah kata pun, dia mengeluarkan ponselnya dan sedikit memalingkan tubuh. Namun, aku masih bisa mendengar semuanya. "Finn," panggilnya lembut, seolah-olah sedang menguji situasi. "Kamu punya waktu sebentar?" Dia berhenti sejenak, mendengarkan. Aku bisa mendengar suara berat di seberang sana, bahkan dari tempatku duduk. "Aku ada di Kafe Gelora milikmu," lanjutnya. "Bisa jemput aku?" Dia terdiam mendengarkan lagi. Jemarinya menggenggam ponsel semakin erat. "Baiklah, sampai nanti." Madeline menutup panggilan itu lalu berbalik menatapku lagi, masih dengan sorot curiga. "Baik, Jilly," katanya, matanya menyipit. "Jujur saja, sebenarnya permainan apa yang sedang kamu mainkan?" Aku mengembuskan napas perlahan. Dia masih waspada, bahkan ketika aku sudah menyerahkan semuanya begitu saja padanya. "Aku nggak sedang bermain apa pun," jawabku tenang. "Aku sudah selesai. Kamu boleh memiliki Finn ... dan Henry juga." Alisnya terangkat tinggi. "Serius? Kamu menyerahkan suami dan anakmu begitu saja?" Aku mengangguk. "Aku benar-benar serius. Aku sudah pernah melalui neraka sekali. Aku nggak akan kembali ke sana lagi." Dia menatapku sejenak, lalu tersenyum miring, seolah-olah tidak percaya, tetapi juga tidak peduli. "Baiklah. Karena kamu begitu murah hati," katanya sambil menepis rambut ke belakang. "Tapi jangan menyesal nanti. Kalau kamu berubah pikiran, jangan harap aku akan menyingkir." "Aku nggak akan menyesal," jawabku datar. Dia tersenyum, seperti baru saja menang sesuatu. "Serahkan urusan surat cerai padaku." Dua puluh menit kemudian, suara deru mesin memenuhi jalanan. Bukan hanya satu mobil, lima Bentley hitam berderet berhenti di depan kafe. Semua kacanya gelap. Semua terasa seperti pertanda masalah. Kemudian, dia keluar. Finn Gunawan. Suamiku. Pria yang diidamkan semua wanita di kota ... dan pria yang telah kukejar seumur hidupku. Aku tidak melihatnya selama berbulan-bulan. Menurut para pembantu, minggu lalu dia ke Pranka, ke Brasia, lalu ke Tharun. Selalu pergi. Selalu menghilang. Namun sekarang? Sekarang dia di sini. Hanya karena Madeline memanggilnya. Finn berjalan lurus menuju pintu masuk, matanya tertuju pada wanita di sebelahku. Bahkan tidak menoleh padaku. Seolah-olah aku tidak ada. Dia berhenti di samping meja kami dan berbicara dengan suara rendah dan lembut, seperti beludru yang dilapisi baja. "Ayo pergi," katanya pada Madeline, tanpa sedikit pun melihatku. Madeline tersenyum menatapnya. "Tunggu, Finn. Aku punya sesuatu untuk kamu tandatangani. Ini tentang rumah impianku ...." Finn mengangkat alis. "Bukannya aku sudah memberimu kartu hitam? Itu cukup untuk membeli sepuluh rumah impian sekaligus." Dia tertawa kecil. "Ya, tapi ini bukan soal uang. Ini soal properti. Akta kepemilikannya masih atas namamu." Finn menggeleng, setengah geli. "Kamu memang luar biasa, tahu nggak?" Kemudian, tanpa membaca isi dokumen, dia langsung membalik ke halaman terakhir dan menandatanganinya. Aku melihatnya, melihat semuanya, merasa seolah-olah seseorang baru saja menyingkap tirai dari mataku. Sungguh konyol. Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa ... bebas. Di kehidupanku yang lalu, aku berpegang pada Finn seolah-olah dia satu-satunya jalan hidupku. Aku pikir jika aku mencintainya cukup dalam, dia akan berbalik dan melihatku. Aku mati karena harapan itu. Hari itu, lift macet. Aku, Madeline, dan anak kami, Henry, terjebak di dalamnya. Tali lift putus. Asap di mana-mana. Panik. Teriakan. Finn harus memilih ... dan dia memilih Madeline. Madeline keluar lebih dulu, menggendong Henry di pelukannya, tanpa luka sedikit pun. Aku tertinggal. Lift itu macet lagi sebelum mereka sempat menariknya naik. Aku mati dengan pikiran bahwa mungkin ... hanya mungkin ... dia akan kembali untukku. Namun, dia tidak kembali. Jadi sekarang, di kesempatan kedua dalam hidupku ini, aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Finn menggenggam tangan Madeline dan mulai berjalan keluar dari kafe. Aku mengikuti beberapa langkah di belakang, menuju pintu keluar juga. Tepat sebelum mereka melangkah keluar, Finn menoleh. Tatapannya bertemu denganku. Dingin, tajam, dan sulit dibaca. Dia memberi isyarat kecil kepada asistennya. Leo berdiri di depanku. "Bu Jilly ...." "Kamu nggak bisa ikut bersama mereka. Pak Finn ada urusan yang harus diselesaikan." Aku mengangkat bahu. "Aku memang nggak berniat ikut. Kebetulan saja arahnya sama. Aku juga punya tempat yang harus kudatangi." Aku berbalik, siap melangkah pergi dan meninggalkan semuanya, ketika suara kecil terdengar dari luar. "Madeline! Aku kangen sekali padamu!" Langkahku terhenti. Hatiku retak. Aku berbalik dan melihat anakku, Henry, berlari ke arahnya. Tangan kecilnya melingkar di pinggang Madeline, seolah-olah Madeline adalah seluruh dunianya. Kemudian, matanya menatapku dan seketika senyumnya lenyap. "Ayah," katanya sambil menarik tangan Finn. "Kenapa ada wanita itu di sini?" Aku berdiri di sana, menelan rasa sesak di tenggorokan. Finn mengusap kepala anak itu dengan lembut. "Dia nggak ikut kita. Ayo, kita pergi makan." Henry tersenyum cerah. "Asyik! Aku bisa makan bersama Madeline!" Aku tidak berkata apa-apa. Hanya melangkah keluar ke jalan, melambaikan tangan untuk menghentikan taksi, lalu masuk ke dalamnya. Saat kota berkelebat di balik kaca jendela, aku menatap ke luar dalam diam. Madeline adalah cinta pertamanya. Selalu begitu. Dulu mereka tidak menikah karena dia melanjutkan studi ke luar negeri dan keluarga Finn memaksanya menikah denganku. Itu murni perjodohan bisnis. Aku masih ingat malam ketika mengetahui kebenarannya. Aku tidak bisa tidur selama berhari-hari. Mungkin sejak saat itu aku hidup setengah sadar. Namun sekarang? Sekarang aku benar-benar sudah sadar. Di kehidupan ini, aku akan sadar sepenuhnya. Kali ini, aku akan pergi sebelum tenggelam lagi. Bab 2 Aku langsung kembali ke vila setelah meninggalkan kafe. Besar, dingin, dan sunyi seperti biasa. Kadang aku bertanya-tanya, untuk apa kami memerlukan semua orang ini. Para pengawal, para pembantu, para pengurus rumah. Apa sebenarnya yang mereka lindungi, bersihkan, atau layani? Aku satu-satunya yang benar-benar tinggal di sini. Kadang Henry, kalau dia sedang tidak di sekolah. Sedangkan Finn? Finn hanya muncul mungkin tujuh hari dalam setahun. Kalau pun sebanyak itu. Aku berjalan menyusuri ruangan, suara tumitku bergema di atas lantai marmer. Aku melewati taman yang dulu aku rancang sendiri, setiap bunga kupilih sesuai selera Finn. Aku mengintip ke kamarnya. Kamar tempat aku menyiapkan segalanya agar dia mau tinggal. Kamar tempat aku mencoba menjebaknya dengan seorang anak. Kenangan menghantamku seperti pukulan di dada. Dulu, aku pasti akan bertahan pada kenangan itu. Namun, sekarang tidak lagi. Aku sudah menandatangani surat cerai. Aku tidak punya alasan untuk tetap di sini. Sudah waktunya bersiap untuk pergi. Aku mulai berkemas diam-diam. Sampai tiba-tiba pengurus rumah muncul di ambang pintu, seolah-olah aku ini pembantu yang sedang melanggar aturan. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanyanya sambil mengerutkan dahi. "Kamu tahu kamu nggak boleh masuk ke kamar Tuan Finn tanpa izinnya." Dia tahu betapa tidak berartinya aku di rumah ini. Dia selalu memanfaatkan hal itu, merendahkanku setiap kali Finn tidak ada. Aku berbalik tajam. "Urus saja urusanmu sendiri dan jangan ganggu aku." Saat dia tidak mundur, aku meletakkan semuanya dan berjalan menuju kamar Henry. Masih ada aroma khasnya di sana. Masih berantakan dengan cara khas anak laki-laki. Buku, sepatu, Lego berserakan dan di atas ranjangnya ada boneka beruang yang kubelikan untuknya tahun lalu. Aku masih ingat hari itu. Dia menatap boneka itu, lalu mengerutkan kening dan berkata, "Bukan ini yang aku mau." Dia bahkan tidak menyentuhnya. Namun, kemudian Finn berkata, "Madeline yang memilihkan itu untukmu." Wajah Henry langsung berubah. Dia memeluk boneka itu erat-erat dan sejak hari itu selalu tidur bersamanya. Momen itu menghancurkanku. Aku tidak tahu harus merasa bersyukur karena Finn berhasil meyakinkannya ... atau hancur karena anakku yang hanya menerima hadiah saat dia pikir itu datang dari wanita lain. Aku mengambil boneka itu. Hanya menggenggamnya. Aku tidak berencana membawa banyak barang, tetapi yang ini, aku ingin membawanya. Aku butuh pengingat itu. Tiba-tiba aku mendengar suaranya, tajam dan marah. "Letakkan itu! Itu dari Madeline!" Aku menoleh dan melihat Henry berdiri di ambang pintu, matanya menyala. Di belakangnya, ada Finn. Tanpa Madeline. Hanya kami bertiga. Sebuah momen yang begitu langka, kami bertiga dalam satu ruangan. "Di mana Madeline?" tanyaku tanpa sempat menahan diri. Finn mengerutkan kening. "Dia bilang aku harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan Henry. Jadi aku melakukannya. Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah seharusnya kamu di kamarmu?" Henry melangkah masuk, menyilangkan tangan. "Iya! Kenapa kamu ada di kamarku, menyentuh barang-barangku?" "Aku nggak membuang apa pun," kataku lelah. "Itu cuma boneka beruang. Aku yang membelinya untukmu." "Aku nggak peduli!" teriaknya. "Aku nggak mau kamu di sini!" Aku tersentak. Namun, aku tetap berdiri tegak. "Henry, aku ibumu." "Bukan! Kamu bukan ibuku! Aku bahkan nggak mau tinggal serumah denganmu!" Finn melangkah maju. Diam, tenang, dan dingin. "Ayo pergi," katanya pada Henry sambil menggenggam tangannya. Dia berhenti di ambang pintu. Menatapku. "Jilly," katanya. "Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Dan jangan salahkan Madeline." Kemudian, sebelum keluar dari kamar, dia merogoh jaketnya dan melemparkan sebuah kartu. Kartu itu mendarat di kakiku. "Kamu boleh tinggal. Rusak apa pun sesukamu. Hanya saja ... jangan ribut." Mereka pun pergi. Aku berdiri di sana, menatap kartu itu. Limitnya 15 miliar. Jauh dari kartu yang dia berikan pada Madeline. Namun dulu, di kehidupanku yang lama, aku pasti akan menganggap kartu itu sebagai sesuatu yang lebih. Sebuah tanda bahwa dia masih peduli. Bahwa masih ada harapan. Sekarang? Sekarang aku sudah tahu. Aku membiarkan air mata jatuh. Hanya sebentar. Kemudian, aku menghapusnya sambil melempar kartu itu ke seberang ruangan dan berbisik pada diri sendiri, "Tenang saja, Finn. Aku nggak akan membuat keributan lagi. Nggak akan pernah." .... Sejak hari itu, aku mulai berubah. Pagi itu, tubuhku secara refleks ingin memasak makanan favorit Henry, ikan goreng dengan lemon dan adas sowa. Namun, aku menghentikan diriku. Aku malah duduk di ruang tamu sambil membaca buku. Tak lama kemudian, salah satu pembantu mengintip, ragu-ragu. "Umm, Nyonya, apakah hari ini Nyonya nggak memasak sarapan?" Aku menutup buku itu sedikit lebih keras dari yang kumaksud. "Apa? Kita punya sepuluh orang pekerja dan nggak ada satu pun yang tahu cara membuat sarapan?" Dia terkejut. "Maaf, saya akan segera menanganinya." Saat Henry pulang dari sekolah, aku tidak pergi ke kamarnya untuk memeriksa PR. Tidak membantunya mengerjakan tugas seperti biasanya. Tidak menanyakan apakah dia butuh bantuan mengunduh atau menyiapkan perlengkapan. Aku membiarkannya berjalan melewatiku tanpa sepatah kata pun. Dia bermain gim sepanjang malam. Aku mendengarnya dari balik dinding. Namun, aku tetap diam. Empat hari berlalu seperti itu. Aku hanya menunggu pengacaraku menyelesaikan pembagian properti. Aku tidak menangis, tidak bicara, tidak berusaha. Di hari kelima, amarah Henry meledak. Dia menelepon Finn. Aku mendengar isak tangisnya menembus dinding yang tipis. "Ayah, aku nggak tahan lagi. Aku mau pindah! Jilly jahat padaku, dia mencoba menyakitiku!" Finn datang ke vila keesokan harinya. Masuk dengan amarah. "Kamu tetap ibunya, Jilly," katanya tajam. "Aku nggak peduli apa pun yang Madeline bilang, kamu masih punya tanggung jawab." Sebelum aku bisa menjawab, Henry menarik lengan bajunya sambil menangis. "Ayah, tolong tinggal beberapa hari di sini. Ayah bakal lihat sendiri. Dia mencoba menyakitiku!" Finn menatapku, lalu kembali ke Henry. "Baiklah. Aku akan tinggal. Tapi Jilly, jangan berlebihan." Henry menyeka air matanya, wajahnya langsung berbinar. "Boleh kita ajak Madeline tinggal juga? Madeline jauh lebih baik daripada dia!" Finn tidak langsung menjawab. Hanya menatapku. Menunggu. Aku menatap balik. Dingin dan tegas. "Kalau begitu undang saja dia," kataku. "Aku nggak masalah." Mata Finn sedikit membesar. "Kamu yakin?" "Seratus persen." Henry sudah menariknya menuju pintu. "Ayo! Aku mau kasih tahu Madeline kabar baik ini!" Mereka pun meninggalkan vila. Finn sempat menoleh sekali, sekilas, lalu masuk mobil bersama Henry. Bab 3 Hari ketika Madeline pindah ke vila ini, segalanya berubah. Kacau, tiba-tiba, dan menusuk seperti badai yang merobek segala hal yang pernah kusentuh. Hal pertama yang dia lakukan adalah memerintahkan para pembantu untuk mendekorasi ulang seluruh vila. Setiap dinding dan setiap tirai, kecuali kamarku. Dia tidak menyentuhnya. Mungkin karena kasihan. Atau mungkin karena memang tidak peduli. Aku menyaksikan semuanya terjadi dalam diam. Kepala pelayan, yang dulu sering merendahkanku seperti aku orang tak berguna, kini berubah jadi anjing peliharaannya. Nada suaranya kini manis seperti gula. "Baik, Nyonya Madeline." "Tentu, Nyonya Madeline." "Akan segera saya urus, Nyonya Madeline." Sedangkan Finn berdiri di belakangnya sepanjang waktu. Dingin, diam, sambil mengamati. "Semuanya," katanya sambil mengangguk sekali. "Lakukan saja apa pun yang Madeline mau." Hanya itu. Pagiku yang damai hancur, bersama sisa-sisa ketenangan yang selama ini kujaga untuk diriku sendiri. Saat aku melangkah keluar kamar dan melihat dari pagar lantai dua, aku melihat mereka di bawah. Finn, Madeline, para pembantu, dan para pengangkut furnitur. Aku tidak mengatakan apa pun. Namun Finn, dia menatap ke atas. Melihatku sedang menatapnya. Untuk sesaat, aku melihat sesuatu di dalam tatapannya. Kerumitan. Seolah-olah aku adalah masalah yang tidak ingin dia selesaikan. Aku membalas tatapannya tanpa ekspresi, lalu berpaling. "Madeline!" Suara Henry tiba-tiba menggema, memecah keheningan. Dia berlari ke arah Madeline seperti anak anjing, menarik lengan bajunya. "Boleh kita singkirkan sofa ini? Jilly yang pilih, aku selalu benci sofa ini!" Madeline tertawa pelan dan mengusap rambutnya. "Tentu, Sayang," katanya lembut. "Kalau kamu nggak suka, kita ganti saja. Sekarang kamu yang menentukan." Aku memperhatikan para pengangkut menarik sofa itu keluar. Mereka tidak tahu berapa jam yang kuhabiskan untuk mencari kain yang tepat, dipesan dari pabrik khusus yang hanya memproduksi bahan hipoalergenik. Henry punya kulit sensitif. Sering bersin, gatal, dan bereaksi terhadap debu serta bakteri. Sofa itu kupilih untuk melindunginya. Yah, singkirkan saja. Seolah-olah tidak ada artinya. Satu lagi bagian kecil dari diriku yang dibuang begitu saja. Namun, aku tidak menghentikan mereka. Aku sudah memberikan segalanya. Hatiku, harga diriku, dan waktuku. Di kehidupanku yang dulu, aku juga hampir menyerahkan nyawaku. Keesokan paginya, vila itu tampak seperti rumah yang berbeda. Lebih terang, lebih berisik, dan hidup. Suara Henry bergema di seluruh ruangan, tertawa, berteriak, berceloteh tentang sekolah. Suara rendah Finn mengikutinya, lembut dan menggoda, "Jangan terlalu banyak berlari, Madeline. Duduklah bersamaku sebentar." Ke mana pun aku pergi, selalu kudengar suara mereka. Para pembantu kini tersenyum cerah saat menyapanya, "Selamat pagi, Nyonya Madeline." "Gaun Nyonya tampak indah hari ini, Nyonya Madeline." Saat malam tiba, ada sesuatu yang terasa aneh. Aku sudah terbiasa mendengar desahan tak tahu malu dari kamar Finn. Namun suatu kali, saat aku lewat dan tak sengaja melirik ke dalam, aku sadar Madeline ternyata tidak tidur sekamar dengannya. Yang lebih aneh lagi, suatu malam saat badai, aku memergoki Madeline berusaha membujuk Finn agar tidur bersamanya dan dia menolaknya, dengan cara yang paling lembut. Mungkin dia hanya menunggu sampai aku benar-benar pergi sebelum menyerah. Atau mungkin, semua itu memang tidak pernah ada hubungannya denganku. Betapa lembut dan penuh pertimbangan bos mafia itu .... Sayang, kelembutannya hanya untuk Madeline. Suatu siang, aku mencoba melarikan diri ke taman, tempat tenang terakhir milikku. Namun, bahkan di sana, aku tidak benar-benar aman. Aku mendengar bisikan dua pembantu di dekat semak mawar. "Tuan Finn memperlakukan Nyonya Madeline seperti bangsawan." Salah satunya terkekeh. "Iya," jawab yang lain sambil menghela napas. "Dia nggak pernah memandang Nyonya Jilly seperti itu." "Aku kasihan padanya," tambah yang pertama. "Bahkan Henry sekarang memanggil Madeline 'Mama'." "Kira-kira dia bakal mengusirnya nggak ya sebentar lagi?" "Oh, sudah pasti. Ayo bertaruh berapa lama dia akan bertahan." Aku tersenyum pahit dan berbisik pelan, "Jangan buang-buang uang kalian. Kalian semua akan kalah." Mereka tidak tahu. Aku sudah bercerai. Kembali ke kamarku, aku duduk di dekat jendela, menunggu telepon dari pengacaraku. Pembagian harta cukup rumit. Aset Finn bisa butuh waktu berminggu-minggu untuk diselesaikan. Mungkin lebih lama. Namun, yang benar-benar menggangguku adalah betapa sunyinya rumah ini lagi. Mereka pergi. Berhari-hari. Tanpa suara, tanpa tawa, dan tanpa perintah. Kemudian, aku tahu alasannya. Mereka sedang ikut acara perkemahan sekolah Henry. Finn. Madeline. Henry. Keluarga kecil yang bahagia. Madeline memastikan aku melihat foto-fotonya dan videonya juga. Satu video paling menusukku. Dalam video itu, Henry berdiri di samping Madeline, tersenyum lebar. Seorang teman sekelas bertanya, "Hei, Henry, mana ibumu? Dan siapa wanita ini? Cantik banget!" "Maksudmu pembantu yang dulu sering jemput aku?" katanya santai. "Oh, kamu salah orang. Ini ibuku!" Anak lain itu tertawa. "Wah, kamu beruntung banget! Ayah dan ibumu keren banget. Mereka kelihatan sempurna bersama!" Sempurna bersama. Aku menggenggam ponselku erat-erat. Tanganku bergetar. "Pembantu ya?" Aku berdiri pelan dan berjalan ke dapur. Mengambil segelas air. Gelas itu tergelincir dari tanganku lalu pecah di lantai. Aku berjongkok, berusaha memungut pecahannya dengan tangan gemetar. Aku bahkan tidak merasakan sayatan di telapak tanganku. Aku ... hancur. Aku duduk di sana, di lantai dingin, dikelilingi serpihan kaca, dan aku menangis. Bukan untuk Finn, bukan untuk Henry, bahkan bukan untuk Madeline. Aku menangis untuk diriku yang dulu. Perempuan yang pernah percaya bahwa cinta bisa diperoleh dengan cukup kesetiaan, cukup pengorbanan, cukup rasa sakit. Aku menghapus air mataku dengan punggung tangan dan berbisik pelan, "Nggak apa-apa. Pembantu itu juga bakal segera pergi." Bab 4 Sore itu aku berada di ruang cuci, sedang menyetrika salah satu kemeja Henry. Kemeja biru muda dengan kancing di depan, jenis yang biasa dia pakai saat Madeline membawanya ke acara makan malam "penting" keluarga, berpura-pura seolah-olah aku tidak ada. Setrika berdesis di atas kain katun, lembut dan berirama. Suara itu sudah menjadi hal paling dekat dengan kedamaian yang bisa kudapat di rumah ini. Sampai tiba-tiba pintu terbuka keras. "Hei! Lagi ngapain?" Suara Henry terdengar tajam dan keras, langkah sepatunya membuyarkan ketenanganku. Aku tidak menoleh. "Menyetrika kemejamu." "Yang itu?" tanyanya sambil mendekat. "Itu favoritku! Madeline yang kasih!" Aku mengangguk, menekan sudut terakhir kain itu. "Aku tahu. Kamu meninggalkannya kusut di lantai." Dia mendengus. "Ya sudah, jangan sampai rusak." Aku hendak menjawab saat dia tiba-tiba menarik papan setrika, mencoba merebut kemeja itu ketika aku masih menyetrikanya. Setrikaan tergelincir. Tanganku refleks bergerak. Sebelum sempat kutahan, ujung setrika menyentuh kain, dan dalam sekejap, noda gosong gelap muncul di bagian dada kemeja. Katun halus itu berubah hitam. Aku terpaku. Henry menjerit, "Apa-apaan sih? Jadi sekarang kamu melampiaskan ke aku? Kamu cemburu, 'kan? Kamu marah karena Ayah dan aku cuma peduli sama Madeline!" Aku membalikkan badan, berusaha bernapas meski dadaku terasa sesak. Namun, Henry belum berhenti. "Ya sudah, terima saja! Kalau kamu lebih baik sama aku, mungkin Ayah masih bakal izinkan kamu tinggal di rumah ini. Tapi sekarang ...." Dia menyeringai. "Sepertinya nggak lagi." Aku terkekeh pelan, hambar. "Kamu benar-benar pandai bicara seperti ayahmu." Aku menarik napas, meletakkan setrika, lalu dengan tenang mengangkat kemeja yang sudah rusak itu dari papan. "Sudah rusak," kataku datar. Aku berjalan melewatinya, menuju tempat sampah, dan menjatuhkan kemeja itu ke dalamnya. Henry berteriak, "Kamu gila ya? Itu dari Madeline! Itu hadiah paling berharga yang pernah aku dapat!" Aku menatapnya, menjaga nada suaraku tetap tenang. "Itu cuma kemeja, Henry." Dia kehilangan kendali. Wajahnya memerah, tinjunya mengepal di sisi tubuhnya. "Kamu sengaja! Kamu cemburu sama Madeline! Kamu selalu menghancurkan segalanya!" Sebelum aku sempat bereaksi, dia mendorongku. Tubuhku terpental keras ke belakang, punggungku membentur dinding ruangan dengan suara keras. Rasa sakit menyambar bahuku. Saat kehilangan keseimbangan, aku merasakan lantai di bawahku seolah-olah menghilang. Kemudian, aku terjatuh setengah jalan, sebelum sepasang tangan menangkapku. Kuat dan kokoh. Finn. Dia baru saja masuk lewat pintu depan, tepat saat aku jatuh. Dia menarikku sebelum aku menabrak anak tangga terakhir, memelukku erat ke dadanya. Tubuhku gemetar, bukan karena jatuh, tetapi karena panas emosi yang menyesakkan. Namun, sebelum aku sempat mengatakan apa pun, wajah Finn langsung menegang marah. Bukan pada Henry, tetapi padaku. Dia membentak, "Apa yang ada di pikiranmu, Jilly?" "Kamu hampir membuat Henry ketakutan setengah mati!" Henry berlari menuruni tangga di belakang kami, air mata buatan sudah siap di wajahnya. "Ayah, dia sudah gila! Dia sengaja merusak kemejaku, itu dari Madeline! Lalu dia menjerit ke aku dan lari ke tangga! Aku cuma mau menghentikannya!" Aku menatap Finn, suaraku bergetar tetapi dingin. "Dia mendorongku." Finn bahkan tidak bereaksi. "Kamu pasti bilang sesuatu yang memancingnya." Aku tertawa datar. "Tentu. Karena semua ini selalu salahku, 'kan?" Aku tersenyum di antara air mata yang terus jatuh. Suaraku lembut. "Tahu nggak? Aku sudah muak." Aku berhenti sejenak, menarik napas berat. "Kalian bertiga mau jadi keluarga kecil yang bahagia? Silakan. Aku nggak akan menghalangi lagi." Aku melepaskan diri dari pelukannya dan melangkah mundur, menciptakan jarak di antara kami. Finn mengernyit, melangkah mendekat, tetapi aku terus mundur. "Aku ini cuma orang luar, 'kan? Sejak awal memang begitu. Jadi biar aku permudah semuanya. Aku akan pindah. Aku pergi." Matanya membulat. "Kamu mau apa?" "Kamu sudah dengar aku." Suaraku tidak meninggi, hanya bergetar. "Aku menyerah. Aku lelah. Aku keluar dari ... apa pun ini. Aku nggak bakal kembali. Selamanya. Itu yang kamu mau, 'kan?" Finn tertawa kecil, nada suaranya sinis, seolah-olah tidak percaya kata-kataku. "Ayolah," katanya. "Jangan konyol. Semua orang tahu, Jilly, sang istri bos mafia, terlalu mencintaiku. Kamu pernah dengar kisah tuan putri yang meninggalkan pangerannya? Belum, 'kan? Nah, itu kamu." "Aku bukan tuan putrimu, Finn." Suaraku sempat pecah, tetapi aku menatapnya tanpa goyah. "Dan kamu akan melihat sendiri, seberapa jauh aku bisa berjalan menjauh darimu." Kemudian, aku berbalik dan pergi. Untuk sesaat, Finn tidak bergerak. Tinju di tangannya mengepal, seolah-olah berusaha menggenggam sesuatu yang sudah terlepas dari genggamannya.