Aku Hilang, Dia Mencariku Kemana-mana

Đang tải thông tin quảng bá...

Aku Hilang, Dia Mencariku Kemana-mana

GoodNovel Hoàn thành

Aku hanyalah seorang mahasiswi yang tidak sanggup membayar biaya kuliah. Selama lima tahun, aku juga menjadi kekasih rahasia seorang mafia, Denis Sanggu. Secara umum, aku adalah restorator seni pribad...

Chương (1)

第1章

Aku hanyalah seorang mahasiswi yang tidak sanggup membayar biaya kuliah. Selama lima tahun, aku juga menjadi kekasih rahasia seorang mafia, Denis Sanggu. Secara umum, aku adalah restorator seni pribadinya. Secara pribadi, dia menghabiskan malamnya meniduriku, memelukku erat dan menciumku hingga aku kehabisan napas. Lalu keluarganya mengatur pertunangan untuknya. Denis bertunangan dengan Bella Rosana, seorang putri dari keluarga mafia saingan. Di pesta pertunangan mereka, Bella menusuk punggung tanganku dengan pecahan kaca. Tapi Denis malah memaksaku meminta maaf kepada Bella karena telah membuat keributan. Aku hanya bisa menundukkan kepala pada Bella sembari menahan air mata. Saat Bella kalah taruhan dan harus bermain Rolet Rusia, satu peluru, enam ruang peluru, Denis memaksaku menggantikan Bella. Tanganku gemetar saat aku mengangkat pistol ke kepalaku. "Kamu pernah menyelamatkan hidupku..." kataku pada Denis. "Sekarang kamu bisa mengambilnya kembali." Saat aku lenyap dari dunianya, Denis yang selalu mengendalikan segalanya... benar-benar kehilangan akal sehatnya. Bab 1 Selama lima tahun, aku menjalani dua peran sekaligus dalam hidup Denis. Restorator seni dan rahasianya, yaitu kekasihnya. Lalu keluarga Denis memaksanya bertunangan. Pada malam pesta itu, aku memutuskan untuk meninggalkan pria yang seharusnya tidak pernah menjadi milikku. "Aku mengundurkan diri." Aku menyerahkan surat pengunduran diriku kepada Anton, kepala pelayan Denis. "Kamu yakin?" Anton tampak terkejut. "Pak Denis selalu puas dengan hasil kerjamu." Puas? Aku hampir tertawa. Dia itu Denis Sanggu, kepala keluarga kriminal paling berkuasa di Nawa Yok. Sedangkan aku hanyalah gadis yang pendidikannya dibiayai Denis, restorator seni yang bekerja untuk melunasi utang, sebuah hukuman seumur hidup. Kami berasal dari dua dunia yang berbeda. "Aku sudah ambil keputusan." Suaraku lebih tenang dari yang kukira. "Utangku sudah lunas, sudah saatnya aku pergi." "Ini memerlukan persetujuan pribadi dari Pak Denis." "Kalau begitu, kasih tahu dia." Aku berbalik ke arah pintu. "Aku nggak bisa menunggu lama." Saat melangkah keluar dari kediaman itu, aku menyentuh kalung di leherku, gantungan kecil berbentuk pisau palet. Murah, tetapi memiliki makna. Aku membelinya untuk diriku sendiri saat lulus dari sekolah seni. Itu adalah pengingat akan kehidupan yang seharusnya aku miliki, yaitu kehidupan yang normal. Denis menemukanku pada malam hujan sepuluh tahun lalu, dia juga orang yang membiayai pendidikanku. Aku tidak pernah membayangkan akan terjadi sesuatu yang lebih di antara kami. Saat itu, aku hanya merasakan kekaguman dan rasa terima kasih. Setelah lulus, aku setuju untuk bekerja padanya demi membalas "kebaikan" Denis yang luar biasa. Aku tahu aku tidak akan pernah pantas berada di dunia Denis. Namun, suatu malam, Denis mabuk. Bibirnya menyentuh kulitku, dan aku sama sekali tidak berdaya untuk menolak. Lima tahun kemudian, aku harus menghadapi kenyataan, aku jatuh cinta padanya. Namun, aku harus pergi. Aku kembali ke apartemen dan dengan hati-hati meletakkan lukisan minyak terakhir yang telah dipulihkan ke dalam wadah pelindungnya. Saat aku hendak berkemas, sebuah pesan teks dari Denis masuk. [Kamu sudah janji akan datang ke pesta pertunanganku. Aku sudah mengirimkan gaun untukmu.] Terdengar ketukan di pintu. Salah satu anak buah Denis berdiri di sana sambil membawa gaun satin putih. "Pak Denis sedang menunggumu, Nona." Apa Denis ingin aku menyaksikannya berbahagia bersama wanita lain? Aku menahan air mata dan berganti pakaian dengan gaun itu. Hubungan ini membutuhkan akhir, ini butuh penyelesaian. Mobil berhenti di lokasi acara. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar. Menara sampanye berkilauan di bawah lampu kristal, para tamu dengan pakaian mahal tertawa sembari mengobrol. Setiap lukisan di dinding telah aku sentuh, aku pulihkan, dan aku hidupkan kembali. Namun, malam ini, aku hanyalah orang luar. Pandanganku menyapu ruangan untuk mencari wajah yang kukenal. Lalu, aku melihatnya. Denis berdiri di tengah ruangan, tuxedo hitamnya membuatnya tampak lebih tinggi dan berwibawa. Lengannya melingkari tubuh seorang wanita cantik, Bella Rosana, tunangannya. Bella mengenakan gaun merah tua, seperti mawar yang sedang mekar. Dadaku terasa sesak. Aku teringat pada malam tiga bulan lalu saat Denis memelukku. Dia bergerak dalam diriku, keras dan cepat, lalu mencium air mataku. Denis bilang tidak ingin menikahi Bella, keluarganya yang memaksa. Dia ingin bersamaku selamanya. Keesokan paginya, dia bertingkah seolah tidak ada yang terjadi dan mengumumkan pertunangannya. "Lihat siapa yang datang." Sebuah suara tajam terdengar dari belakangku. Aku berbalik. Bella berjalan ke arahku dengan segelas anggur merah, senyum sosial yang sempurna terpampang di wajahnya. "Elian, kamu benaran... menawan malam ini." Suaranya manis tapi menusuk. "Terima kasih," jawabku singkat. "Putih cocok untukmu," katanya sambil berhenti di depanku, kilatan kejam di matanya. "Warna murni untuk pekerjaan yang murni, bukan? Memulihkan lukisan tua. Begitu... elegan." Aku bisa merasakan semua mata di ruangan itu tertuju pada kami. "Bella, aku datang cuma buat... " "Datang buat apa?" Bella memotong ucapanku, suaranya tiba-tiba melengking. "Buat merusak pesta pertunanganku? Buat ingatkan tunanganku kalau dia masih punya simpanan?" Udara membeku. Semua percakapan berhenti. Semua orang menatap. Simpanan... Kata itu menusuk hatiku bak pisau. "Aku nggak... " Tiba-tiba Bella menyiramkan anggurnya padaku. Cairan dingin itu membasahi satin putih, membentuk noda merah seperti bunga darah di dadaku. Hening total. "Ya Tuhan, aku minta maaf." Bella terkesiap, menutup mulutnya dengan lebay penuh drama. "Tanganku terpeleset, sama seperti bagaimana beberapa orang cenderung 'terpeleset' ke tempat yang nggak seharusnya mereka tempati, seperti ranjangnya Denis." Orang-orang mulai berbisik. Aku bisa mendengar kata-kata "simpanannya Denis" dan "membayar utang dengan tubuhnya." Aku hanya berdiri di sana, merasakan tetesan anggur dari gaunku jatuh ke lantai. Saat itu juga, kerumunan terbelah. Denis berjalan mendekat. Jantungku berdetak kencang. Apa Denis akan membelaku? Apakah Denis akan memberi tahu semua orang bahwa aku tidak hanya simpanan, tetapi wanita yang Denis cintai? Dia berhenti di depan kami, tatapannya beralih antara aku dan Bella. "Ada apa ini?" Suaranya tenang dan dingin. Kedinginan yang sama seperti di pagi hari dia bangun di sampingku. "Sayang, aku benaran minta maaf." Bella langsung memeluknya. "Aku cuma ingin menyapa Nona Elian, terus nggak sengaja menabraknya." Mata Denis, mata yang sama saat menatap mataku di tempat tidur dan membisikkan kata-kata cinta, kini sedingin es. "Pak Denis." Aku mulai bicara dengan suara gemetar, "Aku bisa jelaskan... " "Nggak perlu." Dia memotong ucapanku lalu beralih ke kerumunan. Dia berhenti sejenak sembari menatap ruangan yang hening. Lalu dia mengucapkan kata-kata yang menghancurkan sisa hatiku. "Nona Elian ini karyawanku," katanya dengan suara tenang namun tajam. "Nggak lebih dari itu. Hubungannya dengan keluarga ini murni profesional. Dia nggak ada hak buat ganggu acara malam ini, atau membuat tunanganku marah." Dunia seakan berputar. Tatapan matanya begitu dingin, seolah bisa mencabik-cabikku. Namun, dia sendiri yang menyuruhku datang... "Satpam." Suara Denis memotong di ruangan itu. "Bawa dia keluar." Bella tersenyum puas dalam pelukan Denis. Aku menatap mereka, menatap pria yang sudah kuperingatkan diriku untuk tidak kucintai, tapi pada akhirnya kucintai selama lima tahun yang panjang. Dia memeluk wanita lain dan pura-pura tidak melihat penghinaan yang menimpaku. Para satpam mulai berjalan ke arahku. "Nggak usah repot-repot," kataku sembari menegakkan punggungku. "Aku bisa keluar sendiri." Aku berbalik dan berjalan pergi. Di belakangku, aku mendengar suara manis Bella, "Sayang, ayo kita berdansa." Aku mendorong pintu hingga terbuka dan disambut oleh dinginnya hujan. Aku berdiri di sana, membiarkan hujan membasuh air mata di wajahku dan bekas guyuran anggur di dadaku. Sepuluh tahun yang lalu, aku tersandung di jalan, sedangkan mobil Denis menabrakku. Aku ingat terbaring di aspal basah, hujan mengguyurku, aku siap mati. Denis berdiri di atasku seperti dewa, penyelamat kelam yang menarikku dari reruntuhan hidupku. Malam ini, dialah juga yang mendorongku kembali ke dalam api. Sesampainya di apartemen, aku baru saja berganti pakaian saat ponselku bergetar. Sebuah pesan teks muncul. [Jangan rusak pernikahanku dengan Bella, kamu tahu sendiri konsekuensinya. Malam-malam itu cuma kesalahan. Lupakan saja, D.S.] Aku menatap layar, hatiku membeku. Sebuah kesalahan? Semua yang kami miliki hanyalah sebuah kesalahan? Jariku melayang di atas layar untuk waktu yang lama sebelum akhirnya aku membalas pesan Denis. [Jangan khawatir, Pak Denis. Aku sudah berhenti mencintaimu.] Bab 2 Kukira semalam sudah yang terburuk. Ternyata aku salah. Keesokan paginya, ponselku penuh dengan panggilan. "Elian, kamu sudah lihat beritanya?" Suara temanku, Sarah, terdengar sangat panik. Aku membuka ponsel. Sebuah foto beresolusi tinggi menatap balik padaku. Aku, dengan gaun putih berlumur anggur, berdiri menyedihkan di bawah hujan. Judul-judul beritanya membuatku mual. [SIMPANAN DENIS SANGGU DIPERMALUKAN DI PESTA PERTUNANGAN.] [DARI STUDIO SENI KE RANJANG: MENGULIK SKANDAL DENIS SANGGU.] Wajahku ada di mana-mana. Diperbesar, dianalisis, dibagikan. Ponselku berdering lagi. "Nona Elian Vanka? Ini wartawan dari Nawa Yok, Haja. Aku ingin menanyakan hubunganmu dengan Denis Sanggu... " Aku menutup telepon. Telepon lain masuk. "Kapan kamu dan Pak Denis mulai menjalin hubungan?" Kututup. "Menurutmu tindakan Bella Rosana bisa dibenarkan?" Kututup. Aku mematikan ponsel dan ambruk di sofa. Selama lima tahun, kami sangat berhati-hati dan tidak pernah bersentuhan di depan umum. Dalam semalam, semua itu sia-sia. Menjelang sore, semua berita itu lenyap. Setiap artikel, setiap foto, hilang seolah tidak pernah ada. Aku tahu itu ulah Denis. Dia punya kuasa untuk melenyapkan apa pun yang melukai keluarganya. Namun, kisah lain cepat mengambil alih. [DENIS SANGGU DAN TUNANGANNYA BERCIUMAN PANAS DI MOBIL, TANGGAL PERNIKAHAN KIAN DEKAT.] Foto itu menunjukkan Denis mendorong Bella ke dinding mobil dengan ciuman penuh gairah. Kaki Bella melingkari pinggang pria itu, roknya tersingkap tinggi. Tangan Denis menggenggam pinggulnya, menariknya kuat-kuat mendekat. Mereka saling melahap. Aku menatap foto itu, seakan ada pisau yang diputar di dadaku. Kemarin, Denis berkata hubungan kami "murni profesional". Hari ini, dia malah menempel pada Bella. Mungkin sejak awal aku cuma mainan, dia tidak peduli pada perasaanku sama sekali. Ponselku berdering, kini dari Anton. "Nona Elian, Pak Denis ingin bertemu denganmu sekarang." Aku ragu. "Aku sudah mengundurkan diri." "Ini bukan permintaan, Nona." Suara Anton makin tegas. "Mobil sudah di bawah." Aku tahu aku tidak bisa menolak. Di dunia Denis, tidak ada yang berhak menolaknya. Dua puluh menit kemudian, aku sudah berada di lantai teratas Menara Sanggu. Kantor pribadi Denis, tempat kami pertama kali tidur. Jejak samar parfum Bella masih menggantung di meja. Perutku mual. Sekretarisnya menuntunku ke pintu kantor, lalu menahanku di luar. "Tolong tunggu di sini," katanya. "Nona Bella ada di dalam." Aku berdiri di luar pintu. Pintu itu tidak tertutup rapat. Suara mereka terdengar jelas dan tajam. "Wanita itu masih bekerja untukmu, aku nggak suka." Suara Bella sedingin es. "Denis, aku mau kamu beresin dia sekarang juga, di depanku." "Dia restorator seni terbaikku." Suara Denis datar. "Restorator seni?" Bella mencibir. "Apa yang dia pulihkan, Denis? Senimu, atau tubuhmu?" Keheningan yang panjang. "Aku bukan orang bodoh, Denis." Suaranya bergetar karena marah. "Tadi malam kamu bikin aku dan keluargaku jadi bahan tertawaan, lalu apa solusimu? Melempar foto kita ke pers? Kamu pikir aku nggak tahu apa yang sebenarnya kamu pikirkan?" Suara Bella berubah sinis. "Aku paham cara dia menatapmu, dia mencintaimu." "Itu nggak ada hubungannya denganku." "Nggak ada hubungannya denganmu?!" Suara Bella melengking. "Lalu kamu gimana, Denis? Kamu ada rasa sama dia? Aku ingin dia disingkirkan, hilang selamanya." Lagi-lagi hening, keheningan yang panjang. Lalu jawaban Denis terdengar, tiap kata seperti serpihan es. "Dia itu aset, nggak lebih." Sesuatu menghantam hatiku. Saat itu juga, pintu terbuka. Bella melangkah keluar dan melihatku berdiri di sana. Senyum kemenangannya merekah. "Oh, Elian, kamu di sini?" Suaranya manis, hampir terasa memuakkan. "Kebetulan kau datang. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Dia berjalan ke meja minuman di dekat situ dan sengaja menyenggol sebuah gelas kristal. PRANG! Pecahan kaca berserakan di lantai. "Ups, ceroboh sekali aku." Bella berpura-pura terkejut. "Tapi ini yang terbaik. Beberapa hal memang ditakdirkan untuk pecah, 'kan?" Dia membungkuk dan mengambil pecahan itu. Tangannya melesat, menggores punggung tanganku. Darah langsung merebak. "Bella!" seruku. "Kenapa? Sakit?" cibirnya. "Ini nggak seberapa. Memangnya kamu tahu betapa sakitnya melihat tunanganmu terlibat dengan wanita lain?" Aku memegang erat tanganku yang berdarah sembari menatap Bella. "Nggak ada apa-apa antara aku dan Denis... " "Nggak ada?" Bella memotongku, suaranya nyaring. "Seorang gadis miskin yang nggak mampu sekolah dibiayai sama Denis, yang kemudian dengan sukarela tinggal di sisinya selama lima tahun. Kamu pikir aku bodoh?" Bella berjalan mendekat dengan tatapan yang ganas. "Kamu sungguh pikir wajah cantik dan tubuhmu bisa bikin Denis jatuh cinta? Sadarlah, Elian. Kamu cuma mainan yang sudah bikin dia bosan." "Cukup." Suara Denis terdengar dari dalam kantor. Dia berjalan keluar, tatapannya menyapu kami. Keningnya berkerut saat melihat darah di tanganku. Tapi ekspresinya dengan cepat kembali menjadi dingin. "Bella, pulanglah. Aku ada urusan kerja yang perlu dibicarakan." "Kerja?" Bella menatap Denis dengan curiga, nadanya penuh ketidaksenangan. "Singkirkan saja dia selamanya. Denis, pilih dia atau aku." Denis menatapku, lalu kembali menatap Bella. "Dia masih punya proyek yang harus diselesaikan," katanya dengan dingin. "Aku nggak bisa biarkan perasaan pribadi mengganggu bisnis." "Perasaan pribadi?" Suara Bella menjadi berbahaya. "Kamu punya perasaan pribadi buat dia?" "Bukan itu maksudku," ucap Denis meluruskan. "Aku bicara tentang perasaanmu, Bella. Jangan menuduh sembarangan." Mata Bella menyipit. "Kamu nggak bisa pecat dia atau kamu nggak mau?" Bab 3 "Aku kasih kamu tiga hari, singkirkan wanita ini." Bella menyentak tangannya dari Denis. Tunangan yang manis dan manja itu telah hilang. Jelas, putri mafia itu tidak punya banyak kesabaran terhadap perselingkuhan calon suaminya. Bella melangkah pergi dengan sepatu hak tingginya. Saat melewatiku, tas tangannya menyenggol tanganku yang terluka dengan keras. Rasa sakit yang tajam menyeruak. Aku menggigit bibirku agar tidak berteriak. Setelah dia pergi, Denis menutup pintu kantor. Dia menatapku, matanya kehilangan kehangatan yang dulu kukenal. "Anton bilang kamu mau mengundurkan diri? Aku nggak setuju, tapi setelah apa yang terjadi hari ini, aku akan kasih kamu dua pilihan." Dia berjalan ke bar dan menuangkan wiski untuk dirinya sendiri, dia tidak menuangkan untukku. "Pilihan pertama, kamu bayar ganti rugi pada Keluarga Rosana sebesar 830 miliar atas kerusakan nama baik mereka." Aku menatap Denis. "Apa?" "Skandal tadi malam merusak reputasi kedua keluarga kami," katanya dengan suara yang menakutkan saking tenangnya. "Seseorang harus bertanggung jawab." "Aku nggak melakukan apa pun!" "Kehadiranmu di sana adalah kesalahan." Dia menyesap minumannya. "Pilihan kedua, kamu minta maaf di depan umum pada Bella. Kamu akui kalau kamu menggodaku dan bersumpah akan menghilang. Sebagai gantinya, aku akan memindahkanmu ke rumahku di Pantai Barat, kamu bisa lanjut bekerja di sana." Darahku terasa membeku. Bekerja? Denis hanya ingin mengurungku selamanya. Dia ingin aku minta maaf... menyalahkan semua yang terjadi padaku... "Kamu gila, Denis?" Suaraku bergetar. "Kamu mau aku minta maaf? Untuk apa? Karena mencintaimu? Kamu yang... " "Pilih, Elian." Matanya sempat bergetar sedetik, lalu kembali membeku. "Kalau aku menolak?" Dia meletakkan gelas dan berjalan ke arahku. "Berarti kamu akan kehilangan segalanya. Meski kamu meninggalkanku, aku akan pastikan kamu nggak bisa kerja lagi di negara ini." Dia berhenti tepat di depanku. "Kamu tahu aku sanggup lakukan itu." Aku menatap pada pria yang kukira kukenal. "Aku ambil pilihan kedua," kataku sambil mengatupkan gigi. "Tapi ini yang terakhir." "Rapat keluarga, besok jam 3 sore." … Keesokan harinya, aku berdiri di ruang rapat Keluarga Sanggu. Sekitar belasan pria bersetelan mahal, inti dari keluarga itu duduk mengelilingi meja panjang. Bella duduk di sisi kanan Denis, dengan senyum kemenangan di wajahnya. "Tuan-Tuan." Denis berdiri. "Kita berkumpul hari ini untuk menyelesaikan sebuah... kesalahpahaman yang nggak menyenangkan." Tatapannya bertemu dengan mataku. "Elian, silakan." Aku menarik napas dalam-dalam dan berdiri. "Aku... aku ingin minta maaf atas apa yang terjadi." Suaraku nyaris berbisik. "Ini salahku, aku seharusnya nggak ada di sana." "Lebih keras, biar semua orang dengar," perintah Bella. Aku mengepalkan tangan. "Aku minta maaf atas perbuatanku." Aku meninggikan suara, kata-kata itu terasa pahit di lidah. "Akulah yang mengejar Pak Denis, aku bertindak nggak pantas, itu sebuah kesalahan, aku yang nggak bisa mengendalikan diriku." Ruangan itu sunyi. Beberapa pria tua saling bertukar pandang. Ada yang menggeleng, ada pula yang mencibir. "Aku janji... aku nggak akan ganggu keluarga ini lagi." Aku memaksa kata-kata itu keluar. "Aku akan pergi dan nggak akan kembali." "Bagus." Salah satu pria berambut putih mengangguk. "Bukan kejahatan bagi anak muda untuk membuat kesalahan, selama mereka bisa belajar dari kesalahan itu." Aku teringat dua tahun lalu, di ruangan ini juga, Denis pernah menunjukkan pada mereka sebuah lukisan Renaissance yang kupulihkan. "Elian itu genius," katanya waktu itu. "Dia bisa menghidupkan kembali karya seni yang mati." Kebanggaan dan kekaguman di matanya waktu itu terasa seperti lelucon kejam sekarang. "Rapat selesai," ucap Denis mengumumkan. Saat semua orang pergi, Bella melewatiku. Bahunya menghantam bahuku. Dia membungkuk mendekat, aroma parfumnya menyengat. "Gadis pintar. Lain kali, menangislah supaya aktingmu lebih meyakinkan," bisiknya. Tidak lama kemudian, hanya aku dan Denis yang tersisa. "Lukamu masih sakit?" tanyanya sambil melirik tanganku yang diperban. Aku menatap Denis, tidak percaya dia masih berani bertanya begitu. "Kamu pura-pura peduli?" "Setelah kamu menyelesaikan proyekmu, aku akan beri libur seminggu dengan bayaran. Lalu kamu bisa bersiap pindah ke rumah di Pantai Barat." Dia mengabaikan pertanyaanku. "Istirahatlah." "Terima kasih atas kemurahan hatimu, Bos. Boleh aku pergi sekarang?" cibirku. Dia mengangguk. Aku berbalik hendak pergi, tapi berhenti di depan pintu. "Denis," kataku sambil menatapnya. "Kau ingat 'Sleeping Venus'? Aku habiskan tiga bulan memulihkannya, dan kamu bilang itu hal terindah yang pernah kamu lihat." Ekspresinya menegang. "Akhirnya aku mengerti." Tawa getir lolos dari bibirku. "Kamu nggak pernah mencintaiku, kamu mencintai apa yang bisa kulakukan. Aku memperbaiki barang-barangmu yang rusak, menghidupkan kembali apa yang mati." Aku menatap mata Denis. "Bedanya, Denis, sebuah lukisan nggak bisa mencintaimu balik dan nggak akan pernah bikin kamu dalam masalah." Aku tidak menunggu jawabannya, tetapi langsung pergi. Sesampainya di apartemen, aku mulai berkemas. Aku melempar semua yang berhubungan dengan Denis ke dalam kantong sampah. Buku-buku pemberiannya, foto-foto kami, bahkan berkas proyek kerjaku. Aku memutus semua ikatan dengan masa laluku. Keesokan harinya, aku berdiri di pembukaan besar hotel baru yang didanai Grup Sanggu. Ini proyek terakhirku sebelum meninggalkan Nawa Yok. Aku bertanggung jawab atas pemulihan dan penataan seluruh karya seni hotel. "Tuan dan Nyonya sekalian." Suara pembawa acara bergema. "Mari kita sambut konsultan seni utama kita, Nona Elian Vanka untuk memperkenalkan koleksi seni hotel ini." Aku menarik napas dalam dan melangkah ke panggung. Ini adalah puncak karierku, sekaligus perpisahanku. "Terima kasih semuanya." Aku menyesuaikan mikrofon. "Malam ini, kami dengan bangga mempersembahkan… " Namun tiba-tiba, kegaduhan kecil merambat di antara para tamu. Para tamu mulai berbisik, menatapku dengan pandangan aneh. Bingung, aku menoleh ke layar besar di belakangku. Jantungku seakan berhenti berdetak. Bab 4 Itu bukan presentasiku, melainkan adalah sebuah slideshow foto-foto berdefinisi tinggi. Tentang aku dan Denis di tempat tidur. Aku di atasnya, kepala mendongak karena kenikmatan. Tangan dia mencengkeram pinggangku, wajahnya adalah topeng ekstasi yang menyakitkan. Foto lain diriku berlutut di depannya. Bibirku di bagian intimnya. "Ya Tuhan!" "Apa ini?" "Itu menjijikkan!" Tarikan napas dan bisikan meledak dari penonton. Aku berdiri kaku di atas panggung, merasa seluruh dunia menyaksikan momen pribadiku. Kapan foto-foto ini diambil? Aku tidak tahu. "Matikan! Matikan sekarang!" Aku berteriak pada kru teknis. Namun, foto-fotonya terus berganti. Setiap foto lebih eksplisit dari yang sebelumnya. Aku melihat Bella di antara penonton, menutupi mulutnya dengan tangan untuk menyembunyikan senyum puas. Pasti Bella pelakunya. Aku bergegas turun dari panggung dan langsung ke arahnya. "Kamu yang lakukan ini!" Aku mencengkeram lengannya. "Gimana kamu bisa dapat foto-foto ini?" "Aku nggak paham ucapanmu," kata Bella, pura-pura tidak bersalah. "Mungkin kamu yang mengambilnya sendiri buat memeras?" "Dasar jalang!" Aku mengangkat tanganku untuk menamparnya, tetapi sebuah tangan kuat menangkap pergelangan tanganku. Itu Denis. Wajahnya seperti topeng amarah yang dingin. Dia tidak menatapku juga tidak menatap Bella. Matanya menyapu ruangan, seperti pemangsa menilai ancaman. "Cukup." Suara geramannya rendah yang membelah keheningan. Itu bukan ditujukan padaku, tetapi perintah untuk seluruh ruangan. Dia menjentikkan jari, dua anak buahnya segera bergerak ke bilik teknis yang langsung membuat layar mendadak gelap. Lalu, tatapannya yang sedingin es akhirnya jatuh padaku. "Selesai sudah urusanmu di sini." "Dia pelakunya. Denis, foto-foto itu… " "Satpam." Dia memotong ucapanku, suaranya datar tanpa emosi. "Antar Nona Elian keluar sekarang." Dua penjaga bersetelan hitam bergerak ke arahku. "Jangan sentuh aku!" Aku melepaskan lenganku dari genggaman Denis. "Aku bisa keluar sendiri!" Namun saat berbalik, hak sepatuku terpelintir. Aku kehilangan keseimbangan hingga terguling menuruni anak tangga panggung. Bagian belakang kepalaku membentur lantai marmer. Dunia berputar dan penglihatanku kabur. Aku mendengar seseorang berteriak, tapi suaranya makin jauh. Lalu, semuanya gelap. ... Aku terbangun di rumah sakit. Kepalaku dibalut perban, dan infus terpasang di lenganku. "Kamu sudah bangun?" Suara pria yang lembut. Aku menoleh. Seorang pria muda berkacamata duduk di samping ranjangku. Dia Mark, seorang akuntan dari perusahaanku. "Kamu yang membawaku ke sini?" Suaraku lemah. "Ya." Dia mengangguk. "Kamu jatuh dari tangga dan kepalamu terbentur cukup keras. Dokter bilang kamu gegar otak ringan." Aku mengingat semuanya, dan air mata mulai jatuh. "Foto-foto itu... sekarang tersebar di internet, bukan?" Ekspresi Mark mengeras. "Aku sangat menyesal, Elian." Aku memejamkan mata. Karierku tamat. Reputasiku hancur. Semuanya lenyap. "Sebenarnya... aku selalu ingin bilang," ujar Mark tiba-tiba. "Menurutku kamu istimewa. Bukan hanya karena bakatmu, tapi karena dirimu." Aku membuka mata menatap Mark. "Kamu nggak perlu tunduk pada siapa pun," lanjutnya. "Kamu pantas dapat yang lebih baik." Dia mengeluarkan seikat mawar putih dari belakangnya. "Ini untukmu, semoga cepat pulih." Aku memandang bunga-bunga itu, kehangatan menyebar di dadaku. Selama lima tahun, tidak ada yang sebaik ini padaku. "Mark… " Brak! Pintu kamarku terbuka, tapi tidak dengan normal, melainkan terpelintir. Dentuman itu bergema di ruang kecil, Mark serta aku tersentak. Berdiri di ambang pintu, siluetnya seperti iblis. Dia adalah Denis Sanggu. Dia mengabaikanku, matanya mengunci pada Mark. Ucapan disertai geraman keluar dari mulutnya, yaitu sebuah ancaman maut. "Enyah sekarang juga." Bab 5 "Kubilang keluar!" Suara Denis menggelegar di ruangan seperti guntur. Wajah Mark memucat, tapi dia berdiri untuk melindungiku. "Pak, tolong tenang. Elian baru saja cedera… " "Cederanya bukan urusanmu sama sekali." Denis melangkah maju, bagai pemangsa memburu mangsa. "Siapa kamu sebenarnya?" "Aku temannya." Suara Mark bergetar, tapi dia tetap tegak. "Aku punya hak untuk peduli padanya." Denis tertawa tanpa humor. "Teman?" Dia menoleh padaku. "Elian, sejak kapan kamu berteman dengan orang biasa?" "Denis, jangan begini." Aku berusaha duduk. "Mark hanya bermaksud baik… " "Baik?" Denis memotong. "Kamu tahu apa akibat 'kebaikan'? Dibunuh." Dia mengeluarkan ponsel. "Cari semua informasi tentang seorang Mark Tamil." Suaranya mematikan. "Aku mau silsilah keluarganya, ibunya, ayahnya, dan cari tahu di mana adik perempuannya sekolah." Warna di wajah Mark lenyap. "Jangan! Denis, kamu gila?!" teriakku. "Aku nggak gila." Dia menutup telepon dan menatap Mark. "Aku melindungi milikku." "Itu ancaman!" kata Mark marah. "Ya, memang," kata Denis tanpa sedikit pun rasa malu. "Sekarang keluar, jangan pernah dekati dia lagi." Mark menatapku, matanya penuh permintaan maaf dan ketidakberdayaan. "Maaf, Elian." Dia meletakkan mawar putih itu dan buru-buru keluar. Pintu tertutup, menyisakanku berdua saja dengan Denis. "Puas?" Aku menatapnya dingin. "Satu lagi orang nggak bersalah terluka karena kamu." "Nggak bersalah?" Denis berjalan ke sisi ranjang. "Elian, kamu begitu naif. Di duniaku, semua orang bersalah." "Bagaimana denganku? Bukankah aku orang tak bersalah?" Ekspresinya agak goyah. "Kamu berbeda." "Apa bedanya?" Aku tertawa getir. "Kamu juga melukaiku." Hening. Setelah lama, dia bicara. "Akan kutebus kesalahanku." "Aku nggak mau kompensasi darimu." "Sebuah proyek restorasi tingkat atas di Milana," katanya, mengabaikanku. "Karya asli dari zaman Renaisans, cuma lima orang di dunia yang layak menyentuhnya." Harus kuakui, jantungku sempat berdegup lebih cepat. Itu kesempatan yang kuimpikan sepanjang karierku. "Apa syaratnya?" tanyaku waspada. "Lupakan yang terjadi, Bella nggak akan mengganggumu lagi." Suaranya melunak. "Aku janji." "Apa nilai janjimu?" "Elian." Dia tiba-tiba duduk di tepi ranjang. "Aku tahu kamu membenciku. Tapi kita harus tetap bekerja sama, kamu harus bekerja untukku." "Nggak." Aku menggeleng. "Aku sudah berhenti." Aku meraih tas di nakas, bermaksud mengambil surat pengunduran diri yang baru kusiapkan. Saat itu juga, ponsel Denis berdering. "Bella?" Dia mengangkat, suaranya langsung melunak. "Ada apa, Sayang?" Aku melihat ekspresinya berubah, hatiku terpelintir. "Apa? Sekarang?" Dia mengernyit. "Baik, aku segera ke sana." Dia menutup telepon dan berdiri. "Aku harus pergi," katanya sambil melirikku. "Istirahatlah. Besok kembali ke kantor." "Tunggu… " Namun, Denis sudah pergi. Seperti biasa. Dengan satu telepon dari Bella, Denis langsung meninggalkan semuanya. Aku berbaring di ranjang rumah sakit sembari menatap langit-langit. Keesokan harinya, aku kembali ke kantor dan mendapati meja Mark kosong. "Mark di mana?" tanyaku pada rekan kerja. "Dia dipindahkan ke kantor di Landan," katanya pelan. "Pergi tadi malam." Hatiku jatuh. Denis selalu menepati ucapannya. Aku menerobos masuk ke kantornya. "Kamu memindahkan Mark?" "Ya." Dia tidak mengangkat kepala dari berkasnya. "Ada masalah?" "Aku mau mengakhiri kontrakku, berlaku segera." Aku menampar surat pengunduran diriku di mejanya. "Aku menolak bekerja untukmu sehari pun lagi, meski kamu membuatku masuk daftar hitam di setiap galeri di negara ini." Dia akhirnya menatapku. "Pemutusan lebih awal butuh persetujuan khusus dariku." "Kalau begitu setujui." "Nggak." "Kenapa?" "Karena aku masih membutuhkanmu." Dia berdiri. "Kontrakmu masih tersisa dua tahun." "Dua tahun? Aku nggak bisa menunggu dua tahun!" "Kalau begitu, terimalah." Dia berjalan mendekat. "Elian, kamu milikku." "Aku bukan milik siapa pun!" Saat itu juga, ponselnya kembali berdering. "Bella?" Dia menjawab, suaranya langsung tegang. "Apa? Kamu di mana?" Aku melihat wajahnya berubah dari cemas menjadi panik. "Kelab Bulan Biru? Ngapain kamu di sana?" Suaranya meninggi. "Sial! Aku segera ke sana!" Dia menutup telepon, wajahnya muram. "Ada apa?" tanyaku. "Bella ikut permainan dengan Mario Valen," katanya sambil mengenakan jaket. "Dia kalah besar." Mario Valen, nama itu pernah kudengar. Mafia tua paling sadis di Nawa Yok, terkenal tidak terduga dan brutal. "Apa hubungannya itu denganku… " "Kamu ikut denganku." Dia memotong. "Sekarang." "Aku nggak mau ikut." "Ini bukan permintaan." Matanya menjadi berbahaya. "Kamu mau bebas?" Dia melangkah lebih dekat, bayangnya menelanku. "Baik, lakukan satu hal terakhir. Ikut denganku malam ini, lakukan persis seperti yang kukatakan. Lalu kamu dapat 'kebebasanmu'." Aku menatapnya, seketika sadar aku tidak punya pilihan lain. Bab 6 Udara di ruang pribadi Kelab Bulan Biru terasa mati. Aku mengikuti Denis masuk dan langsung merasakannya. Bella duduk di meja kartu, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar. Di atas meja terdapat pistol revolver berlapis perak. "Denis!" Dia melihat kami dan melemparkan dirinya ke pelukannya. "Selamatkan aku! Aku sangat takut!" Di seberangnya duduk Mario Valen, senyum kejam terpaut di wajahnya yang berusia tujuh puluh tahun. "Tepat waktu," katanya kepada Denis. "Tunanganmu berutang 830 miliar padaku, ditambah bunga." "Aku bisa memberimu uang itu," kata Denis, memeluk Bella erat. "Sekarang juga." "Nggak, nggak." Mario menggelengkan kepalanya. "Uang itu membosankan, aku ingin dia memainkan permainan yang lebih menarik." Dia menunjuk ke pistol di atas meja. "Rolet Rusia. Enam ruang, satu peluru. Kalau dia beruntung, dia keluar dari sini hidup-hidup." Bella mulai terisak. "Aku nggak mau melakukannya! Denis, aku tidak mau mati!" "Dia sudah tahu taruhannya saat dia duduk." Mario mencibir. "Hukumannya adalah kematian." Denis melindungi Bella di belakangnya, matanya dipenuhi niat membunuh. "Biarkan aku menggantikan tempatnya." "Nggak." Mario menggelengkan kepalanya. "Harus dia, perjanjiannya jelas. Atau… " Tatapannya beralih padaku, kilatan jahat di matanya. "Biarkan gadis itu menggantikan tempatnya, siapa peduli meski dia mati?" "Jangan harap." Denis langsung menolak. Kilatan kehangatan menjalariku, setidaknya dia masih melindungiku. "Kalau begitu tunanganmu bisa melakukannya sendiri." Mario mengambil pistol, memuat satu peluru, dan memutar silinder. "Aku akan menghitung sampai tiga, permainan dimulai." "Satu." Bella berteriak, berpegangan pada Denis. "Denis, selamatkan aku! Aku nggak boleh mati! Kita harusnya menikah! Aku seharusnya punya anak-anakmu!" "Dua." "Tunggu!" Denis tiba-tiba berteriak. Dia menatap Bella yang menangis, lalu menatapku. Aku melihat pergulatan di matanya, penderitaan. Kemudian, dia membuat pilihannya. Dia menatapku, wajahnya tanpa ekspresi. Suaranya datar tanpa emosi. "Elian, gantikan dia." Duniaku runtuh. "Apa?" Aku tidak percaya apa yang aku dengar. "Itu perintah." Dia tidak mau menatap mataku. Bella langsung berhenti menangis, sedikit senyum kemenangan tampak di wajahnya. "Terima kasih, Sayang." Dia berdiri berjingkat dan mencium pipi Denis. "Sudah kuduga kamu akan melindungiku. Bagaimanapun, aku yang akan kamu nikahi." Bella menatapku, matanya penuh kepuasan berbisa. "Sementara dia hanyalah karyawan sekali pakai, 'kan?" Mario bertepuk tangan kegirangan. "Luar biasa! Ini jauh lebih menarik! Sepertinya Pak Denis tahu cara membuat pilihan yang tepat!" Dua penjaga mendorongku ke kursi. Aku menatap Denis, ekspresinya sedingin orang asing. "Kenapa?" Suaraku nyaris berbisik. "Kamu menyelamatkan hidupku sepuluh tahun lalu. Sekarang kamu yang akan membunuhku?" "Ini satu-satunya pilihan," katanya, suaranya datar. "Bella adalah anggota Keluarga Rosana, hidupnya terikat pada aliansi yang menjaga anak buahku tetap aman. Hidupnya punya nilai." Dia berhenti, tatapannya membekukanku menjadi batu. "Dan kamu... kamu bekerja untukku." Hanya seorang karyawan. Kata-kata itu adalah pisau yang menusuk jantung. Bella tersenyum puas. "Kamu dengar itu? Itulah posisimu di hatinya, jangan menipu diri sendiri lagi." Mario mendorong pistol melintasi meja ke arahku. "Aturannya sederhana. Putar silinder, letakkan di pelipis kamu, dan tarik pelatuknya. Kalau kosong, kamu menang. Kalau nggak… " Dia membuat gerakan menggorok leher. Tanganku gemetar. "Aku nggak akan ikut." "Berarti kalian bertiga mati." Suara Mario berubah berbahaya. "Nggak ada yang boleh melanggar aturanku." Denis mencondongkan tubuh, napasnya dingin di telingaku. "Mainkan permainan itu, Elian. Lakukan seperti yang kukatakan." Rahangnya mengeras, tubuhnya menjadi kaku sekeras batu. "Ini demi kebaikan mayoritas." Kata-kata itu diucapkan dengan gigi terkatup. Kebaikan mayoritas? Aku tertawa, suara yang hancur. Air mata mengalir di wajahku. "Kamu tahu, Denis?" Suaraku pecah. "Aku nggak pernah minta apa pun. Aku cuma mau jadi lebih dari orang asing bagimu." Aku mengambil pistol itu, beratnya terasa nyata di tanganku. "Tapi sekarang aku mengerti. Bagimu, aku bahkan bukan orang asing." Bella memperhatikan, senyum puas tampak di wajahnya sembari menikmati ini. "Kamu seharusnya sadar diri," cibirnya. "Jangan-jangan kamu benaran mikir kalau tidur dengannya beberapa tahun akan mengubah segalanya?" Mario memulai hitungan mundur. "Sepuluh detik, Sayang. Buat pilihan." Aku menempelkan moncong pistol ke pelipisku. Logamnya dingin di kulitku. Aku bisa merasakan kematian bernapas di atasku. Aku melihat Denis tersentak, sentakan tajam dan keras, seolah peluru itu sudah mengenainya. "Kamu tahu apa yang paling aku benci, Denis?" Aku menatapnya. "Bukan karena kamu nggak mencintaiku, tapi karena kamu membiarkanku percaya kamu akan melindungiku." "Kamu pernah menyelamatkan hidupku. Sekarang aku kembalikan." Aku menarik pelatuknya. Klik. Kosong. Aku masih hidup. Namun, tidak ada kelegaan. Aku melihat mata Denis terpejam sesaat. Tenggorokannya bergerak, menelan dengan sulit, seperti menahan sesuatu. "Lagi," kata Mario, suaranya pusing karena kegembiraan. "Dua dari tiga yang terbaik." Aku mengangkat pistol lagi. Kali ini tanpa ragu memutar silindernya. Tarikan kedua. Aku melihat tangan Denis yang tergantung di sisinya mengepal. Buku-buku jarinya memutih. Matanya tidak pernah lepas dariku, tapi rasa dingin itu hilang. Digantikan oleh sesuatu yang tidak bisa aku baca. Campuran rasa sakit dan ketakutan yang murni. Klik. Masih kosong. Untuk ketiga kalinya. Aku memejamkan mata. Aku memikirkan semua kenangan indah dari sepuluh tahun terakhir. Ternyata... semua itu hanyalah kebohongan. Kali ini, aku tidak melihat Denis, tapi aku bisa merasakan tatapannya membakar diriku. Klik. Masih kosong. "Sialan!" Mario membanting tangannya ke atas meja. "Jalang beruntung! Keluar! Kalian berdua!" Permainan berakhir. Bella melemparkan dirinya ke pelukan Denis. "Oh, terima kasih Tuhan! Kita aman!" Dia menoleh padaku, matanya meneteskan racun. "Sungguh manis kamu rela mati demi aku. Tapi itu memang pekerjaanmu, 'kan?" Aku berdiri melihat mereka berpelukan. Denis mengelus rambut Bella untuk menenangkannya. Namun, dia terlihat kehabisan tenaga, semua kekuatan hilang dari tubuhnya. Dia lebih pucat daripada Bella. Matanya tertuju padaku, tepat di atas bahu Bella. Tatapan seperti binatang yang sekarat. Aku berjalan menuju pintu. "Elian." Suara Denis menghentikanku. Suaranya kasar dan serak. Aku berbalik. "Kerja bagus," katanya, dan aku bisa mendengar getaran dalam suaranya. "Aku akan memberimu apa yang kamu inginkan." Aku mendorong pintu hingga terbuka dan tersandung keluar ke jalan. Kakiku gemetar sampai aku tidak bisa berdiri lagi. Di tempat moncong pistol menempel di kulitku, bekas dingin tetap ada, seperti ciuman dari kematian. Aku melihat kembali pada pria yang telah mengorbankanku demi wanita lain tanpa ragu sedikit pun. Sisa cinta terakhir yang aku miliki untuknya terkubur selamanya, bersama dengan tiga peluru yang tidak tertembak itu. Mungkin kematian adalah satu-satunya cara agar aku bisa benar-benar bebas dari Denis. Bab 7 Tiga hari kemudian, aku akhirnya mendapatkan perjanjian pemutusan kontrak. Denis menepati janjinya dan menandatangani dokumen itu. Aku menatap kertas itu, merasakan kelegaan yang sudah lama tidak kurasakan. "Selamat, Nona Elian," kata Anton sambil menyerahkan sebuah map. "Ini berkas-berkas proyekmu." Aku membukanya. Di dalamnya ada catatan kerja selama lima tahun. Setiap lukisan, setiap artefak, menyimpan sebagian dari jiwaku. "Masih ada satu acara terakhir yang harus kamu hadiri," lanjut Anton. "Malam ini pukul delapan. Perayaan yang diadakan oleh Keluarga Rosana, itu akan menjadi tugas terakhirmu." Aku mengernyit. "Bukannya kontraknya sudah berakhir?" "Secara resmi mulai berlaku besok," jelas Anton. "Anggap saja malam ini perpisahan." Baiklah. Sekali terakhir. Aku kembali ke apartemen dan berganti gaun malam hitam sederhana. Wanita di cermin tampak tenang, tapi cahaya di matanya telah padam. Ini adalah akibatnya. Akibat dari mencintai pria yang salah. Pukul delapan malam, aku tiba di kediaman Keluarga Rosana. Sebuah pesta mewah sedang berlangsung untuk merayakan pertunangan. Denis dan Bella secara resmi mengumumkan tanggal pernikahan mereka. Tiga bulan dari sekarang... Aku berdiri di antara kerumunan, menyaksikan pasangan itu berpelukan di atas panggung. Bella mengenakan gaun merah, seperti bunga mawar yang mekar. Lengan Denis melingkari pinggangnya dengan senyum langka di wajahnya. "Para tamu yang terhormat," kata Bella ke mikrofon. "Terima kasih sudah hadir di perayaan pertama kami sejak pertunangan." Ruangan dipenuhi tepuk tangan. "Malam ini, aku punya kejutan spesial untuk tunanganku." Bella memberi isyarat pada Denis untuk menggulung lengan bajunya. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Denis punya tato di pergelangan tangannya. Kompas bintang milik kami dari tiga tahun lalu. "Pemandu," kata Denis saat itu, karena aku miliknya. Aku mengingat sore itu, ketika kami berbaring di tempat tato, dia menggenggam tanganku dan berkata, "Ini rahasia kita, nggak akan pernah berubah." Namun, saat Denis menggulung lengannya, aku tidak melihat tato kami. Kompas bintang itu masih ada, tapi kini dikelilingi desain baru. Lambang Keluarga Rosana. Seekor ular melingkar, mengelilingi kompas itu. Tato baru itu sepenuhnya mengubah makna aslinya. "Kami... memperbaruinya," ucap Bella mengumumkan, suaranya penuh kemenangan. "Ini melambangkan masa depan kami, bukan masa lalunya." Dia mengambil tangan Denis dan mencium tato yang telah diubah itu. Tepuk tangan kembali terdengar. Aku berdiri di sudut ruangan. Hatiku yang mati rasa... sudah tidak bisa merasakan apa pun. Tato yang dulu melambangkan cinta kami kini sepenuhnya tertutup lambang keluarganya. Sama seperti keberadaanku dalam hidupnya yang dihapus sedikit demi sedikit. "Indah, bukan?" Bella muncul di sampingku. Dia mengangkat gelas anggurnya, senyum kemenangan terpampang di wajahnya. "Kamu lihat itu? Tatonya," lanjutnya. "Denis bilang itu kesalahan impulsif di masa mudanya. Sekarang sudah diperbaiki." Aku mengepalkan tangan, kuku-kuku menancap di telapak tanganku. "Denis sendiri yang bilang. Beberapa kesalahan emang begitu buruk, sampai harus dikubur sepenuhnya." Tatapannya menyapu tubuhku, senyum puas dan kejam menghiasi bibirnya. "Kamu paham maksudku, 'kan, Elian? Kamulah kesalahan yang ingin dia kubur." Aku menatap wanita itu, calon istri Denis. "Kamu menang," kataku pelan. "Tentu saja." Bella menyeringai. "Ini bukan kompetisi. Kamu benaran berpikir seorang restorator seni bisa bersaing dengan putri mafia? Mengenai semua urusan dengan Mario? Rolet Rusia itu?" Dia tertawa kecil. "Itu ujian dariku buat melihat siapa yang akan dia lindungi saat keadaan terdesak, ternyata dia memilih aku." Dia mencondongkan tubuh lebih dekat. "Dia menyajikanmu di atas nampan perak, Sayang. Kamu nggak pernah punya kesempatan." Jadi, nyawaku dipertaruhkan… hanya demi putri mafia menghukum selingkuhan tunangannya. Selain itu, ketika dihadapkan pada Bella, Denis tidak akan pernah memilihku… Bella berbalik hendak pergi, lalu menoleh. "Oh ya, katanya, tato aslinya sulit ditutup sepenuhnya. Tapi Denis bersikeras supaya tato itu hilang." Senyum Bella makin kejam. "Dia bilang nggak mau meninggalkan jejak apa pun." Tidak ingin meninggalkan jejak apa pun... Kata-kata itu akhirnya menembus kebekuanku. Aku menatap Denis di atas panggung yang sedang tertawa dan berbincang dengan para tamu. Di pergelangan tangannya, tato yang telah diubah, berkilau di bawah lampu. Masa lalu kami, keberadaanku… dia telah menghapus semuanya. Sepatu hak tinggi Bella menginjak kakiku. "Ingat ini. Beberapa hal memang nggak ditakdirkan untuk orang serendah dirimu." Bab 8 "Seseorang serendah aku?" Aku mengulang kata-katanya, suaraku pelan. Para tamu di sekitar kami memperhatikan sembari berbisik-bisik. "Bella, aku akan pergi besok." Aku mencoba menjelaskan. "Kontraknya… " "Pergi?" Bella memotong, suaranya tajam. "Kamu pikir bisa kabur begitu saja?" Bella menoleh ke sekeliling, memastikan ada penonton. "Semuanya, apa kalian tahu? Nona Elian ini benaran pikir bisa menyaingiku, tunangan yang asli." Dia tertawa mengejek. "Seorang restorator yang naik status karena tidur dengan bos, sungguh mengira bisa jadi istrinya mafia?" Para tamu bergumam, sebagian melempar tatapan menghina padaku. "Yang lebih lucu," lanjut Bella, "Dia pikir Denis akan mengorbankan aliansi dua keluarga kami demi dia? Konyol!" Aku merasakan tatapan hina mereka, tetapi aku sudah mati rasa. "Kamu sudah selesai?" tanyaku tenang. "Belum." Mata Bella berkilat jahat. "Aku ingin semua orang tahu posisi aslimu di hati Denis. Kamu nggak lebih berharga dari seekor anjing." Aku berbalik dan keluar dari aula. Tidak ada yang menghentikanku. Bahkan Denis pun tidak. Dua jam kemudian, aku berada di dalam taksi, menyaksikan lampu kota mengabur melewati jendelaku. Koperku di kursi belakang, berisi seluruh barang milikku. Tiket sekali jalan ke Kalifo ada di tanganku. "Hampir sampai, Nona," kata sopir. Namun, mobil tiba-tiba berbelok ke gang sepi. "Ini bukan jalan ke bandara," kataku yang sontak waspada. "Maaf, Nona." Suara sopir menajam. "Ada yang ingin bertemu denganmu." Jantungku berdegup kencang. Apa aku sedang diculik? Mobil berhenti di depan apartemen tua. Dua pria keluar dan membukakan pintuku. "Turun," kata salah satunya. Aku dibawa masuk ke sebuah apartemen. Sederhana, tapi bersih. Sosok yang familier duduk di ruang tamu. Denis. Dia mengenakan kemeja hitam, tampak kelelahan. "Ngapain kamu di sini?" tanyaku dingin. Dia berdiri dan berjalan ke arahku. "Elian, kita perlu bicara." "Nggak ada yang perlu dibicarakan." Aku berbalik pergi. "Lepasin aku." Dia merengkuhku dari belakang, memeluk seperti dulu. "Aku cuma lakukan hal yang harus kulakukan," gumam Denis di rambutku. Suaranya serak. Bukan permintaan maaf, melainkan fakta. Aku meronta melepaskan diri dari Denis. "Lepasin aku!" "Dengarkan aku." Denis mengeratkan pelukannya. "Bella curiga pada kita. Kalau aku melindungimu, dia bakal kasih tahu ayahnya, terus aliansi akan batal." "Terus apa?" "Kamu nggak paham." Denis membalikku menghadapnya, cengkeramannya melukaiku. "Ini bukan tentang perasaan, ini tentang kekuasaan. Kalau aliansi putus, itu berarti perang. Anak buahku akan mati, keluarga mereka pun turut menderita." Aku menatap mata Denis. "Jadi kamu memilih mengorbankan aku." "Bukan mengorbankan, tapi melindungi." Dia membelai pipiku. "Aku menemukan tiket pesawatmu. Kamu mau ke Kalifo?" Hatiku jatuh. "Itu kebebasanku." "Nggak, Elian." Dia menggeleng. "Kamu boleh berhenti, tapi kamu nggak bisa meninggalkanku." "Apa maksudnya?" "Aku akan mengirimmu ke rumah di Pantai Barat," ucapnya dengan jari menelusuri bibirku. "Seperti yang kita bicarakan, kamu akan menungguku di sana." "Aku nggak mau ke sana." Aku mendorongnya. "Aku nggak mencintaimu lagi. Aku mau pergi selamanya dan memulai hidup baru." Ekspresi Denis seketika menjadi berbahaya. "Kamu nggak mencintaiku lagi?" Dia mendekat. "Lalu kenapa kamu menangis saat Rolet Rusia?" "Aku takut!" "Nggak. Kamu menangis karena merasa dikhianati olehku." Dia menekanku ke dinding. "Kalau kamu nggak cinta sama aku, terus kenapa merasa dikhianati?" Aku tidak bisa menjawab. Bibirnya menubruk bibirku, membungkam protesku. Ciuman yang familiar dan menuntut itu meruntuhkan tekadku. "Jangan… " Aku mendorongnya, tapi tubuhku mengkhianatiku. Dia mengangkatku dan membawaku ke kamar tidur. "Denis, jangan lakukan ini… " Namun, Denis tidak berhenti. Dia membaringkanku di ranjang, matanya menyala dengan hasrat untuk memiliki. "Kamu milikku, Elian," katanya sambil mulai menanggalkan pakaianku. "Selamanya milikku." Aku mencoba melawan, tapi lima tahun sejarah dan sentuhan yang kukenal membuatku lemah. Saat dia memasuki tubuhku, aku memejamkan mata. Denis kasar, seolah melepaskan semua amarah dan ketakutannya. Aku tahu ini bukan cinta, ini adalah kepemilikan. Setelahnya, dia menggendongku ke kamar mandi. Air hangat mengalir membasuh kami saat dia membersihkanku dengan lembut. "Aku mencintaimu, Elian," bisiknya di telingaku. "Aku nggak bisa kehilanganmu." Aku tidak menjawab. Kembali di ranjang, dia mengambil sepasang borgol dari meja samping. "Ngapain kamu?" tanyaku panik. "Memastikan kamu nggak kabur." Dia memborgol pergelangan tangan kananku ke sandaran besi. "Aku sudah mengatur pesawat untuk membawamu ke Pantai Barat besok." Aku menarik-narik borgol itu dengan marah. "Kamu gila! Gimana kalau Bella tahu kita masih bertemu?" "Dia nggak akan tahu," katanya sambil berbaring di sebelahku. "Rumah itu terpencil, aku bakal bilang padanya kamu sudah keluar negeri." "Gimana kalau sampai dia tahu?" Ekspresinya mengeras. "Kalau begitu, kamu harus cukup cerdas supaya nggak menghancurkan aliansi keluarga kami." Aku sampai tidak percaya dengan apa yang kudengar. "Jadi itu rencanamu? Aku rahasia kotormu? Selingkuhanmu di sangkar emas?" "Itu satu-satunya cara," katanya tegas. "Inilah realitas kita sekarang, Elian. Nggak ada pilihan lain." "Bajingan!" Aku menampar dadanya dengan tangan yang bebas. "Itu kenyataan." Dia menangkap tanganku. Aku menatapnya, pria yang dulu sangat kucintai. Dia ingin menyimpanku seperti burung kenari, terkunci di sangkar, tidak pernah melihat cahaya hari. "Aku membencimu." Aku meludahinya. "Aku tahu." Dia mencium keningku. "Tapi benci lebih baik daripada kehilangan kamu." Denis dengan cepat tertidur. Aku berbaring di sampingnya dengan tangan kananku yang dirantai. Namun, aku bersumpah. Begitu sampai di Pantai Barat, aku akan kabur. Tidak peduli apapun resikonya. Atau mungkin... mungkin Anton bisa membantuku. Keesokan paginya, Denis melepaskan borgolku. "Pesawat lepas landas jam sembilan," katanya. "Anton akan pergi bersamamu." Tentu saja Anton akan ikut. Aku hanya diam. Dua jam kemudian, aku sudah di jet pribadi milik Denis. Aku menatap Anton yang duduk di seberangku, dan aku tersenyum. Denis tidak tahu bahwa Anton adalah agen rahasia keluarga saingan, yaitu Keluarga Toro. Saat aku memutuskan untuk pergi selamanya, Anton mendatangiku. Anton berjanji bisa membantuku menghilang dengan identitas baru, dan aku bisa melanjutkan pekerjaanku di bawah perlindungan mereka. Sudah waktunya Anton menepati janji itu. Dalam satu jam, Denis akan mendapat kabar. Kecelakaan dahsyat, tidak ada yang selamat. Aku menatap keluar jendela dari pesawat lain, menuju arah yang berbeda. Lalu, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku tersenyum. Senyum yang sesungguhnya. Utangku sudah lunas...