Đang tải thông tin quảng bá...
Nyawaku di Ujung Kematian Saat Dia Bersenang-senang
Di tahun ketika pacarku paling miskin, aku memutuskan hubungan dengannya. Beberapa tahun kemudian, dia menjadi bos mafia dan menggunakan segala cara untuk menikahiku. Semua orang berkata, aku adalah c...
Chương (1)
第1章
Di tahun ketika pacarku paling miskin, aku memutuskan hubungan dengannya. Beberapa tahun kemudian, dia menjadi bos mafia dan menggunakan segala cara untuk menikahiku.
Semua orang berkata, aku adalah cinta pertama yang tak bisa dia lupakan, istri yang paling dia hargai. Namun belakangan, dia membawa pulang wanita yang berbeda setiap malam hingga aku benar-benar menjadi bahan tertawaan semua orang.
Aku tidak menangis ataupun marah, hanya diam di kamarku sendiri. Aku tidak pernah mengganggu kesenangannya.
Elton marah besar. Dia menciumku dengan kasar, lalu bertanya dengan suara rendah, "Kamu nggak cemburu?"
Namun, Elton tidak tahu bahwa aku sedang sakit. Dia bisa membeli setengah kota dengan kekerasan, ancaman, dan uang. Dia bisa membeli kebebasanku, pernikahanku, dan terbenam dalam pelukan wanita lain setiap malam ....
Namun, dia tidak tahu bahwa hidupku hanya tersisa tujuh hari lagi.
Bab 1
Setelah Elton menggunakan segala cara untuk menikahiku, dia malah membawa pulang wanita yang berbeda setiap malam. Sampai suatu hari, seorang gadis muncul dan sejak saat itu, dia mulai sedikit berubah.
Pertama kali aku bertemu dengan Yvette adalah di hari ulang tahunku. Baru saja keluar dari rumah sakit, dokter penanggungjawabku menatapku dengan penuh penyesalan dan mengatakan bahwa aku paling lama hanya bisa hidup satu minggu lagi. Itu bahkan lebih cepat dari perkiraanku. Artinya, hidupku menjadi lebih singkat dari yang aku bayangkan.
Aku tidak takut mati, tapi aku takut pada rasa sakit yang menyiksa itu. Dokter mengatakan ada obat khusus yang bisa mengurangi rasa sakit, bahkan mungkin bisa memperpanjang hidupku sedikit. Namun, satu suntikan harganya 50 ribu dolar. Untuk tujuh hari perawatan, totalnya adalah 350 ribu dolar.
Tiga ratus lima puluh ribu dolar .... Bagi Elton yang merupakan bos mafia, uang sebanyak itu mungkin belum cukup untuk mengadakan pesta selama satu malam. Namun bagiku, itu adalah jumlah yang tak akan pernah bisa aku kumpulkan seumur hidup.
Demi mencari uang untuk berobat, aku memutuskan pergi ke markas besar grup keluarga Elton.
Kebetulan aku bertemu dengan Yvette, wanita yang sekarang dijadikan asisten pribadi sekaligus pengacara keluarga oleh Elton. Yvette diam-diam menatapku dari ujung kaki hingga kepala, lalu menunjukkan ekspresi jijik.
"Dia ini istri sahnya Elton? Semua orang bilang aku mirip dia, tapi di mana miripnya? Dia jelek sekali!"
Bayangan di jendela besar kantor yang mewah memantulkan sosokku. Wajahku pucat, lingkar mataku tampak hitam karena sakit. Aku tidak menggunakan riasan dan hanya mengenakan jaket tebal agar tetap hangat. Saking kurusnya, tubuhku sampai tampak seperti bayangan yang bisa lenyap kapan saja. Memang tidak cantik dan memang sudah hampir mati. Jadi, aku tak terkejut mendengar hinaan itu.
Asisten pribadi Elton menarik tangan Yvette pelan, lalu memperingatkan dengan suara rendah, "Itu karena Nyonya sedang sakit dan belum sempat berdandan. Aku peringatkan kamu, jangan karena Bos sedang memanjakanmu, lantas kamu jadi berani menantangnya."
"Kamu nggak tahu seberapa besar Bos mencintai dia. Kalau kamu sampai membuatnya marah, hati-hati Bos bisa saja melemparmu ke laut untuk jadi santapan hiu!"
Yvette mendengus tak puas sambil memutar bola matanya. Dalam pikirannya, Elton sepertinya juga tidak begitu mencintaiku.
Yvette sengaja mendekat, lalu bertanya dengan nada mengejek, "Bu Hedy, apa yang masih kamu tungguin di sini? Kalau Bos benar-benar mencintaimu, kenapa dia membiarkanmu menunggu selama ini?"
"Biasanya, seberapa sibuk pun dia, Elton selalu datang menemaniku dulu. Katanya aku lebih penting daripada hal apa pun."
Yvette menyunggingkan senyum menantang, nada bicaranya sengaja dibuat tidak sopan. Gaya angkuhnya yang sombong itu benar-benar mengingatkanku pada diriku sendiri di masa muda dulu. Aku tidak bisa menyalahkannya karena memang, perlakuan Elton padanya berbeda dari wanita-wanita lain.
Elton punya banyak kekasih. Setiap malam dia membawa pulang wanita berbeda, menjadikan mereka alat untuk melampiaskan amarah dan menguji reaksiku. Namun, dia tak pernah bertahan lama dengan siapa pun. Paling lama dua bulan, paling singkat hanya beberapa hari. Setelah itu, dia akan bosan dan menggantinya.
Hanya Yvette yang berbeda. Dia adalah wanita yang paling lama bertahan di sisi Elton.
Aku menatap Yvette dan tersenyum tipis, tetapi kata-kataku sama sekali tidak segan terhadapnya, "Kalau kamu memang sepenting itu, kenapa Elton masih tega membiarkanmu jadi pelakor yang nggak bisa diakui?"
"Daripada repot-repot menyindirku, lebih baik kamu bujuk Elton agar cepat-cepat menceraikanku."
Raut wajah Yvette langsung berubah. Dia masih muda, emosinya belum matang dan amarahnya masih meledak-ledak. "Yang nggak dicintai itulah yang jadi pelakor! Kamu sudah tua, jelek, dan nggak pantas dibandingkan denganku!"
Asisten Elton yang berdiri di samping segera menarik Yvette menjauh karena takut aku marah. Namun, aku sama sekali tidak peduli.
Aku sudah lama bertekad untuk tidak lagi bersedih karena Elton. Aku tidak akan pernah menurunkan harga diriku dengan berebut pria seperti dia. Sebab, dia memang tidak pantas.
Bab 2
Padahal Yvette sebenarnya masih bisa berdiri dengan seimbang, tapi tubuhnya tiba-tiba melemas dan dia sengaja menjatuhkan diri ke belakang. Tubuhnya terhempas keras ke lantai dan sudut meja yang tajam menggores lengannya, hingga meninggalkan luka berdarah yang panjang.
Begitu mendengar Yvette terluka, Elton langsung menghentikan rapat penting di depan semua orang. Dia berjalan cepat menghampiri, lalu meraih tangan Yvette dan memeriksanya dengan saksama. Suara Elton yang dingin bertanya, "Siapa yang melukainya?"
Asisten di samping langsung pucat pasi karena ketakutan. Aku tahu betul bagaimana Elton menghukum orang. Dia sangat kejam dan tanpa ampun. Namun aku juga tahu, dia tidak akan menyakitiku. Jadi, aku berdiri dan menanggung kesalahan itu dengan tenang.
"Aku yang melakukannya. Kenapa? Memangnya kenapa kalau itu aku? Dia pantas mendapatkannya."
Yvette menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu berpura-pura sedih sambil bersandar di dada Elton.
"Benar, aku pantas mendapatkannya. Karena aku jatuh cinta pada orang yang seharusnya tidak kucintai ... maka aku harus menerima hinaan sebagai orang ketiga di depan semua orang."
Elton mengangkat tangannya dan membelai lembut rambut Yvette, suaranya berubah lembut penuh rasa sayang. "Jangan sedih lagi. Aku nggak suka melihatmu menangis."
Ya, Elton memperlakukannya dengan cara yang berbeda. Aku menundukkan kepala, tak ingin lagi melihat pemandangan itu, lalu aku menyampaikan maksudku dengan suara datar. "Hari ini ulang tahunku. Aku ingin hadiah ... 800 ribu dolar."
Ironis, bukan? Aku adalah istrinya, tapi setiap kali butuh uang, aku harus menghubungi asistennya terlebih dulu. Kali ini aku datang langsung karena uang yang kuminta tidak pernah masuk ke rekeningku. Baru aku tahu, ternyata asistennya sudah diganti menjadi Yvette.
Sebelum kami menikah, kami sudah membuat perjanjian. Dia mendapatkan tubuhku dan aku mendapatkan uangnya. Elton selalu membenciku karena menganggap aku wanita mata duitan yang tidak mencintainya. Namun dulu, tidak peduli berapa pun jumlahnya, selama aku meminta, dia akan selalu memberikannya.
Hanya saja kali ini ... dia menatapku dengan senyum dingin di bibirnya. "Uangnya bisa kamu dapatkan, asalkan kamu minta maaf secara resmi pada Yvette."
Itulah pertama kalinya dia menggunakan uang untuk menundukkanku demi wanita lain. Dia ingin membeli harga diriku dengan 800 ribu dolar, hanya untuk membuat Yvette tersenyum.
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat, lalu tiba-tiba tertawa pelan. Sambil menahan rasa sakit yang berdenyut di seluruh tubuhku, aku berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Uang itu ... aku tidak akan memintanya lagi. Aku menahan sakit yang terasa seperti membakar di dalam tubuhku dan tetap melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang sekali pun. Aku tidak membutuhkan uang itu lagi.
Aku sering berpikir, kalau suatu hari nanti dia tahu uang itu seharusnya bisa membuatku hidup sedikit lebih lama, bisa membuatku terhindar dari rasa sakit yang seperti siksaan neraka ... apakah dia akan sedikit menyesal?
Aku pulang sendirian ke rumah yang kini terasa kosong dan dingin. Rasa sakit akibat kanker membuatku hampir tak bisa bernapas. Aku hanya bisa meringkuk di atas ranjang yang dingin seperti es.
Karena gagal mendapatkan uang untuk membeli obat pereda nyeri, aku hanya menelan beberapa butir obat tidur. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa selama aku bisa tertidur, maka aku tidak akan merasakan sakit lagi.
Dalam tidurku, aku bermimpi. Di ambang kesadaranku, aku melihat Elton yang berusia 18 tahun. Saat itu dia belum memiliki apa pun, tapi seluruh hatinya hanya milikku.
Kami dulu miskin sekali, bahkan tidak mampu membeli kue ulang tahun sungguhan. Kami hanya bisa membeli sebuah cupcake cokelat mungil dari toko roti pinggir jalan.
Namun, Elton menggandeng tanganku ke depan etalase butik hadiah paling mewah, lalu menunjuk ke sebuah paket hadiah ulang tahun edisi khusus. Paket itu adalah sebuah gaun putri berhiaskan kristal dan renda rancangan desainer ternama dan kue ulang tahun buatan koki terkenal yang dihiasi emas tipis dan ukiran cokelat yang indah.
Dia berkata dengan penuh keyakinan, "Nanti kalau aku sudah punya seluruh dunia, aku akan mempersembahkan semuanya untukmu, supaya kamu jadi putri paling bahagia dan paling cantik di dunia."
Kemudian, Elton menggertakkan giginya dan memelukku erat, menyembunyikan matanya yang memerah agar aku tidak melihat. Lalu dengan suara lembut, dia berjanji, "Sayang, nanti kalau aku sudah kaya, aku akan memberikan semua hal terbaik di dunia ini untukmu."
Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling beruntung dan paling bahagia di dunia. Saat itu, aku benar-benar percaya padanya. Aku percaya bahwa dia akan mencintaiku selamanya.
Dalam kabut mimpi itu, samar-samar aku mendengar suara ponsel berdering. Ketika kuangkat, terdengar suara berat yang sangat kukenal memanggil namaku, "Hedy."
Aku tersenyum lembut dan memanggil namanya dengan nada manja, "Elton, aku mau makan cupcake."
Bab 3
Tengah malam, efek obat tidur telah hilang dan aku terbangun karena rasa sakit. Barulah aku sadar kalau Elton sudah pulang.
Elton sudah lama tidak pulang ke rumah. Dia membeli sebuah vila di luar kota untuk Yvette dan tinggal bersama di sana, seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Elton bersandar di depan jendela besar sambil memegang segelas anggur. Dia menatapku dengan malas. Sorot matanya menyiratkan kelembutan yang sudah lama tidak kulihat.
Aku berjalan melewatinya, ingin mencari dua butir obat pereda nyeri, tapi Elton tiba-tiba menarik tanganku.
"Hedy, kenapa kamu kurus sekali belakangan ini?" Nada suaranya penuh kekhawatiran, seolah dia masih mencintaiku. Namun, aku tidak akan percaya kalau dia masih mencintaiku. Melihat penampilannya saja sudah jelas, dia baru saja turun dari ranjang wanita lain.
Aku menepis tangan Elton dengan jijik. "Bukan urusanmu."
Elton terhempas, ekspresinya seketika menjadi dingin.
Saat aku berjalan ke ruang tamu, barulah aku melihat di meja ada sebuah kue pesta berlapis lilin dan beberapa kotak cupcake cokelat kesukaan kami dulu.
Baru aku sadar, ternyata telepon itu bukan mimpi. Aku bilang ingin makan kue dan Elton benar-benar membelinya tengah malam. Apakah ini bentuk penyesalannya karena lupa ulang tahunku?
Akan tetapi, aku sudah hampir meninggal. Aku tidak butuh kue itu dan aku juga tidak butuh Elton lagi.
Aku bahkan tidak melirik kue itu untuk kedua kalinya. Elton mengerutkan kening dan menggenggam tanganku dengan erat. "Hedy, kamu sedang mempermainkanku, ya? Atau kamu masih marah karena aku lupa ulang tahunmu? Sebenarnya aku nggak lupa, aku cuma ...."
Elton ingin menjelaskan bahwa dia hanya sibuk bekerja dan berniat datang menemaniku setelah urusannya selesai, tapi ucapannya langsung kupotong dengan tajam. "Benar, aku memang mempermainkanmu. Kenapa?"
"Siapa suruh kamu semurahan itu! Aku bilang mau makan kue, kamu langsung beli. Sama seperti dulu, murahan sekali!"
Aku sengaja menyebut "masa lalu". Itu adalah masa yang paling tidak ingin diingat Elton dan masa paling memalukan baginya.
Elton menarik kerah bajuku dan menyeretku ke arahnya, lalu mengangkatku dan melemparkanku ke tempat tidur di kamar. Dia marah besar dan menciumku dengan kasar. Aku bisa merasakan bibirku sampai robek karena gigitannya.
"Elton, kamu kenapa sih?! Jangan sentuh aku, menjijikkan!"
Elton semakin marah, dia menggigitku dengan keras. "Hedy, kamu bakal mati kalau ngalah padaku sedikit saja, ya? Kamu tahu nggak, selama ini aku selalu nunggu kamu minta maaf padaku? Aku sudah nunggu bertahun-tahun!"
"Kamu tahu nggak, waktu kamu bilang ingin makan kue, aku senang sekali. Aku nekat keluar malam-malam cuma buat beli kue buat kamu! Dan kamu bilang kamu cuma mempermainkanku!"
Matanya memerah dan menatapku tajam dengan amarah yang tertahan. Aku terdiam di dalam kegelapan, tidak berkata apa-apa. Kami berdua terdiam lama, tak ada yang mau mengalah terlebih dulu.
Akhirnya, Elton menghela napas pelan. "Hedy, aku harus bagaimana sama kamu?"
Dia menunduk, wajahnya makin mendekat dan bibirnya hampir menyentuh bibirku. Tiba-tiba suara dering telepon yang nyaring memecah keheningan.
Elton mengernyit, panggilan itu dari Yvette. Dia berhenti dan mengangkat teleponnya.
"Elton, aku sendirian di bar sekarang. Tadi ada orang yang coba ngajak kenalan, aku takut sekali .... Kamu benaran mau ninggalin aku demi Hedy? Elton, tolong jemput aku pulang, ya?"
Elton tidak menjawab. Dia hanya menatapku. "Hedy, minta aku untuk tinggal. Kamu cukup memintanya, aku nggak akan pergi, aku nggak akan hubungi dia lagi." Nada bicaranya terdengar seperti permohonan.
"Elton, kamu nggak pantas."
Elton tertawa getir, lalu berkata ke telepon, "Yvette, tunggu ya, aku segera ke sana."
Kemudian dia mengambil bajunya, membanting pintu, dan pergi.
Aku menatap punggungnya yang menjauh, dan dalam hati berbisik pelan, 'Masih ada enam hari lagi.'
Bab 4
Keesokan harinya, berita tentang Elton yang melukai seseorang demi Yvette tersebar di seluruh media.
Untuk pertama kalinya, sosok bos mafia yang selama ini merahasiakan kehidupan pribadinya sampai setertutup itu, jadi bahan perbincangan publik hanya karena seorang wanita.
Di depan rumah, beberapa paparazi sudah menunggu. Begitu aku keluar, mereka langsung mengerumuniku tanpa henti.
"Hedy, sebagai istri resmi sang Bos, apa tanggapanmu soal kejadian tadi malam?"
"Kamu tahu tentang keberadaan wanita itu?"
"Hedy, melihat Elton memanjakan wanita lain, apa kamu merasa itu karena ada yang salah dari dirimu sendiri?"
Awalnya aku tidak ingin menjawab. Namun ketika mendengar pertanyaan terakhir, aku berhenti melangkah. "Yang bermasalah itu justru pria yang berselingkuh dan wanita yang merusak rumah tangga orang lain."
Salah satu paparazi wanita tidak berhenti menekannya, "Tapi aku dengar, dulu waktu Elton masih miskin, kamu meninggalkannya karena matre. Kemudian setelah dia jadi bos yang kaya dan berkuasa, kamu pakai segala cara supaya dia menikahimu."
"Kamu terus mempertahankan status sebagai istri sah, padahal sekarang Bos sudah menemukan cinta sejatinya. Tapi kamu malah menyebutnya sebagai orang ketiga. Kamu nggak merasa masalahnya ada pada dirimu sendiri? Kamu cuma mau memanfaatkan label 'istri yang kehilangan kasih sayang' supaya dikasihani publik, 'kan?"
Aku menatapnya dingin, lalu dengan cepat meraih dan mencopot ID miliknya. "Jadi kamu ini paparazi yang dibayar Yvette, ya? Disuruh untuk memutarbalikkan fakta, menjelek-jelekkan aku, dan mencemarkanku!"
"Dulu Elton yang memaksaku menikah dengannya. Kamu pikir aku benar-benar mau menikahinya?"
Ekspresi paparazi itu berubah seketika mendengar ketegasanku, tapi dia buru-buru menenangkan diri. "Kalau kamu benar-benar nggak mau menikah dengan Bos, kenapa setelah dia punya cinta sejati, kamu nggak segera menceraikannya?"
Aku sebenarnya berniat memanfaatkan kesempatan itu untuk mengumumkan di depan semua orang bahwa aku dan Elton memang akan bercerai, agar dia benar-benar melepaskanku. Namun sebelum sempat mengucapkan satu kata pun, tiba-tiba kepalaku berputar dan pandanganku menjadi buram.
"Masih bilang nggak mau bercerai? Lihat tuh, sampai gemetaran, berdiri aja udah nggak kuat!"
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan tubuhku, lalu menjawab datar, "Aku bukan panik. Aku cuma sakit parah dan sebentar lagi akan meninggal. Kadang tubuhku tiba-tiba terasa lemah dan pusing."
Semua orang langsung terdiam. Tak ada lagi yang berani bertanya. Hanya gadis paparazi itu yang masih bersikap galak, "Masih aja pura-pura? Mau berlagak supaya dikasihani?"
Gadis itu berbicara dengan penuh keyakinan. Nada bicaranya benar-benar menyebalkan, persis seperti Yvette.
Keesokan harinya, video saat aku dikepung paparazi tersebar luas di internet. Tak lama kemudian, Elton memberi tanggapan lewat jalur pribadi, "Nggak akan bercerai. Jangan ganggu istriku lagi."
Beberapa jam setelah pernyataan itu muncul, video tersebut tiba-tiba lenyap. Seluruh platform serentak menghapusnya tanpa penjelasan apa pun.
Sementara itu, si paparazi yang dulu dibayar Yvette kehilangan pekerjaannya dan menerima surat ancaman anonim. Kata-katanya jelas menegaskan, kalau dia berani mengusikku lagi, akibatnya akan sangat fatal.
Dengan adanya "kesetiaan" Elton yang dipertontonkan seperti itu, justru aku yang tampak seperti istri yang suka mencari gara-gara. Banyak warganet mulai mencaci maki diriku.
[ Hedy menjijikkan banget. Kalau nggak mau menikah ya bilang aja dari dulu. Ngaku dipaksa, padahal jelas-jelas dia sendiri yang nggak mau lepas. ]
[ Ngaku-ngaku cinta pertama, padahal jelas cewek manipulatif! Elton masih mau bela dia, benar-benar nggak layak banget. ]
Di tengah serangan komentar itu, ada satu akun yang berdiri membelaku.
[ Kalian nggak tahu apa-apa tentang kebenaran waktu itu! Kalian nggak tahu seberapa banyak penderitaan yang dia alami! ]
Dari foto profilnya, aku langsung tahu itu adalah Daisy, sahabat baikku. Komentar itu membuat semua orang penasaran dan mulai menuntut kebenaran masa lalu.
Padahal kenyataannya, kebenaran itu sangat klise.
Tahun itu, ibuku divonis mengidap penyakit mematikan. Dokter bilang pengobatannya butuh biaya yang sangat besar dan penyakit itu bersifat turunan.
Waktu itu aku masih muda, belum menunjukkan gejala apa pun. Namun seiring bertambahnya usia, kemungkinan besar aku juga akan menderita penyakit yang sama, bahkan anakku kelak pun bisa tertular.
Ketika penyakit Ibu kambuh, dia jatuh pingsan. Saat sadar di rumah sakit, hal pertama yang dia lakukan adalah menyuruhku putus dengan Elton.
Aku tertegun, lalu menggeleng dengan kuat. "Ibu, Elton nggak akan menolakku karena ini. Kami bahkan bisa hidup tanpa anak."
Kalimat itu bukan hanya untuk menenangkan Ibu, lebih seperti aku sedang menipu diriku sendiri.
Ibu menggenggam tanganku erat. "Aku tahu Elton anak baik, dia nggak akan meninggalkanmu. Tapi kamu pernah berpikir untuk Elton?"
"Kalau dia tahu kamu dan aku sama-sama sakit, dia pasti akan bekerja mati-matian demi biaya pengobatanmu."
Ibu memintaku segera berpisah dengan Elton, jangan menunda sampai semuanya terlambat.
Hari itu, aku terdiam sangat lama. Akhirnya dengan suara bergetar, aku hanya bisa berkata pelan, "Ibu, aku nggak tega meninggalkannya."
Bab 5
Sudah sepuluh tahun berlalu, tapi setiap kali aku mengingat semuanya, rasanya masih sangat menyakitkan.
Aku bersiap untuk pergi ke makam Ibu, menemuinya untuk terakhir kalinya. Umurku hanya tersisa lima hari lagi dan aku ingin memberitahunya bahwa setelah ini, aku tidak akan bisa datang menemuinya lagi.
Sebelum ke makam, aku harus pergi dulu ke kantor Elton. Ibu dulu sangat menyukai Elton. Saat dia masih sehat, ketika aku dan Elton masih saling mencintai, Ibu pernah membuatkan karya tembikar untuk kami berdua dengan tangannya sendiri. Seekor anjing kecil untuk Elton dan seekor kucing kecil untukku.
Kedua tembikar itu bisa disatukan dengan pas, seperti sedang berpelukan. Maknanya, aku dan Elton tidak akan pernah terpisahkan.
Aku memberikan anjing kecil itu kepada Elton, tapi dia malah hanya ingin kucing kecil milikku. Katanya, kucing itu mirip denganku, manja dan sombong. Setiap kali dia melihat kucing itu, dia akan mengingatku, jadi dia ingin menyimpannya selamanya.
Elton menepati ucapannya. Sampai sekarang, kucing kecil itu masih ada di kantornya. Aku takut nanti setelah aku meninggal, Elton akan membuangnya begitu saja seperti sampah. Jadi, aku harus mengambilnya kembali dan meletakkannya di depan makam Ibu. Biarlah kucing itu yang menemaninya menggantikanku.
Ketika aku tiba di kantor Elton, dia sedang menonton video tentangku tepat bagian ketika aku hampir pingsan. Begitu melihatku datang, dia tidak berkata apa pun, hanya melempar ponselnya ke samping.
Mataku langsung tertuju ke meja tempat kucing tembikar itu biasanya diletakkan, tetapi tempat itu tampak kosong. Aku panik dan segera bertanya, "Kucing kecilku mana?"
Yvette yang duduk di dekatnya tersenyum puas. "Maksudmu pajangan kucing itu, ya? Beberapa hari lalu aku bilang lucu, terus Elton kasih ke aku. Dia bilang aku mirip kucing itu, manja dan sombong. Tapi itu omong kosong sih, aku jauh lebih cantik dari kucing itu!"
Aku tidak menggubris Yvette, hanya menatap Elton dengan amarah yang membara. "Siapa yang mengizinkanmu memberikan barangku ke orang lain? Itu buatan tangan Ibu! Dan kamu malah memberikannya pada selingkuhanmu!"
Elton tertawa seperti orang berengsek dan mengangkat bahu seolah tak peduli. "Itu kucing milikmu? Maaf, aku lupa. Sudah lama di sini, kukira cuma barang murahan yang nggak ada nilainya."
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, aku yang dipenuhi amarah langsung meraih asbak kristal di atas meja dan melemparkannya ke arahnya.
Elton tidak berusaha menghindar. Asbak itu menghantam dahinya dengan keras, darah langsung mengalir di pelipisnya.
Yvette menjerit kaget. "Kamu gila?! Hanya demi pajangan murahan, kamu sampai memukul orang!"
Elton menatapku dingin, lalu suaranya berat dan penuh tekanan. "Yvette, kembalikan benda itu padanya."
Yvette mendengus kesal dan menghentakkan kakinya, lalu berlari keluar. Tak lama kemudian, dia kembali dengan menggenggam kucing tembikar di tangannya. Dia melemparnya ke arahku dengan penuh kebencian.
"Nih, ambil! Siapa juga yang mau barang jelek begini? Dibuang ke tong sampah aja nggak bakal ada yang mau pungut! Bawa barangmu, lalu pergi dari sini!"
Kucing tembikar itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Hatiku pun ikut pecah bersama suaranya.
Kucing kecil itu "mati", sama seperti hidupku yang sudah di akhir hayat. Aku merasa, aku dan kucing itu sebenarnya sama rapuhnya dan sebentar lagi akan hancur seluruhnya.
Kepalaku berdengung, mataku terasa panas. Tanpa berpikir panjang, aku menampar Yvette sekuat tenaga. "Itu peninggalan ibuku! Bagaimana bisa kamu tega menghancurkannya?!"
Aku mencengkeram bahunya dan ingin memukul lagi, tapi Elton segera menahanku. Aku menatapnya, lelaki yang kini malah melindungi wanita lain di depan mataku. Mataku memerah, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
"Elton, kamu sudah lihat semua berita. Kamu tahu aku akan mati! Kenapa kamu masih harus menyakitiku? Elton, kamu bajingan!"
Elton memandangi wajahku yang penuh air mata, lalu menghela napas panjang. Dia mengulurkan tangannya dan menghapus air mataku dengan lembut.
"Pertama kue, sekarang kamu bilang akan mati. Hedy, kamu senang mempermainkanku, ya? Kamu nggak perlu pasang wajah sedih begitu. Aku nggak akan lagi iba karena air matamu ...."
Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, setetes darah menetes di punggung tangannya. Hidungku berdarah, dan kali ini lebih deras dari sebelumnya.
Dunia di sekelilingku berputar dengan gelap, lalu semuanya lenyap. Aku ambruk seketika.
Elton buru-buru memelukku, suaranya terdengar panik untuk pertama kalinya. "Cepat panggil ambulans! Cepat!"
Dia belum pernah sekacau ini. Bahkan ketika menghadapi tembakan musuh, dia tidak pernah menggigil seperti sekarang. Namun kali ini, dia hanya bisa menatapku tak berdaya dan melihat darahku mengotori kemejanya sendiri.
Ya ... aku akan mati. Kalau bisa, sebelum dia kembali membenciku untuk terakhir kalinya, aku hanya ingin dia tahu bahwa aku benar-benar mencintainya untuk waktu yang sangat lama.