Đang tải thông tin quảng bá...
Saat Dia Menang, Aku Hilang
Pacarku, Julian Jovan adalah grandmaster catur yang jenius. Waktu umurnya 16 tahun, dia jadi grandmaster termuda yang pernah ada di Benua Nathan. Aku habiskan 10 tahun hidupku untuknya, tapi dia nggak...
Chương (1)
第1章
Pacarku, Julian Jovan adalah grandmaster catur yang jenius.
Waktu umurnya 16 tahun, dia jadi grandmaster termuda yang pernah ada di Benua Nathan.
Aku habiskan 10 tahun hidupku untuknya, tapi dia nggak pernah ungkit soal pernikahan.
Tapi, pas dia mencapai puncak karier dan memenangkan Grand Slam, dia tetap menolak ingkar janji yang dulu dia buat sama keluarganya soal karier.
“Dalam rencanaku, nggak ada pernikahan atau komitmen jangka panjang lainnya sebelum semua targetku tercapai.”
Mendengar ini, aku nggak debat dengannya.
Aku diam-diam kemas kopernya untuk Kejuaraan Dunia dan doakan yang terbaik untuknya.
Julian nggak tahu, saat dia mengangkat piala kejuaraan di hadapan dunia, aku dengan tubuhku yang sekarat sedang menandatangani surat persetujuan kematianku sendiri.
Bab 1
Sebelum setiap turnamen, Julian selalu mengacak-acak ruang kerjanya. Dia orangnya suka lupa segalanya kalau sudah fokus main catur.
Dia pakai jaket, tapi lupa pakai jam tangan. Atau dia pakai baju, tapi lupa mengancingnya.
Lupa makan dan minum bahkan lebih sering terjadi.
Akulah yang selalu mengikutinya dari belakang, merapikan kekacauan yang dia tinggalkan.
Pesawatnya hari ini dijadwalkan terbang jam 4 sore.
Setelah beres barang-barang penting Julian, aku pakai sisa waktuku untuk menata ulang buku-buku catur dan bahan panduan turnamen yang berantakan di rak bukunya.
Rak paling atas sudah penuh dengan debu tebal.
Saat aku pelan-pelan usap debunya dengan kemoceng, sebuah map coklat tua nggak sengaja jatuh dari rak.
Sebelumnya aku nggak pernah lihat ini.
Aku tahu Julian orangnya sangat pelupa. Aku khawatir map itu isinya penting yang mungkin dia salah taruh. Alih-alih menaruhnya kembali, aku memilih untuk membukanya. Akhirnya, aku pun beneran membukanya.
Di dalamnya ada selembar kertas yang terlipat rapi, tebalnya setipis laporan medis yang kusimpan di saku.
Keluarga Julian adalah keluarga besar pecatur yang nggak akan membiarkan hubungan pribadi mengganggu karier seorang pemain.
Yang aku pegang waktu itu adalah surat perjanjian yang ditulis Julian untuk keluarganya 7 tahun lalu.
Kalau semua targetnya tercapai, barulah dia bisa menetap dan berkeluarga sesuai harapan kedua orang tuanya.
Kalau targetnya belum tercapai, dia janji dia nggak akan terganggu oleh hubungan cinta.
Julian adalah kebanggaan terbesar keluarganya dan harus menanggung beban nama besar mereka.
Aku tiba-tiba paham kenapa setelah 10 tahun bersamanya sejak aku berumur 18 tahun, aku nggak pernah dapat janji pernikahan darinya.
Dulu aku pikir, kalau aku bisa memahami dan mendalami dunia caturnya yang rumit itu, aku bakal bisa memahami dirinya.
Sayangnya, bakatku terbatas. Meskipun sudah berkali-kali aku ulangi permainannya sampai tengah malam, aku tetap nggak bisa memahami kejeniusan strateginya.
Tapi sekarang, melihat surat perjanjian yang sudah mulai menguning, aku sadar bahwa semua usahaku selama ini sia-sia.
Julian selalu membuat catatan teliti di setiap dokumen penting.
Di halaman terakhir perjanjian itu, semua rencana hidupnya tertulis dengan jelas dan terperinci.
Semuanya nggak ada yang berkaitan dengan aku.
Tanggal dia tanda tangan perjanjian karier itu ternyata pas saat kami pertama kali ketemu.
Ternyata, janji yang kutunggu selama 10 tahun itu sejak awal nggak pernah masuk dalam rencana hidupnya.
Sekarang, aku sedang sekarat.
Aku sudah nggak peduli lagi soal janji nikah atau status jadi istrinya.
Jawabannya pun sekarang sudah nggak berarti lagi.
Aku tersenyum pada diriku sendiri, lalu berdiri dan bersiap-siap menuju bandara.
Saat aku tiba di ruang tunggu keberangkatan, Julian duduk sendiri di sofa sambil membaca buku kumpulan permainan catur.
Dia sama sekali nggak sadar dengan kehadiranku.
Pemandangan seperti ini sudah kulihat entah berapa kali selama 10 tahun terakhir.
Aku selalu hanya diam dan melihatnya tenggelam dalam dunia bidak-bidak caturnya.
Dia bisa tetap fokus bahkan di tempat ramai dan berisik.
Biasanya, Julian akan menulis catatan padat di pinggir halaman bukunya.
Setiap kali melihat wajahnya yang fokus gitu, aku langsung tahu.
Bahwa hari ini pun, aku nggak bisa ungkapkan isi hatiku.
Menahan diri agar nggak mengganggunya sudah menjadi kebiasaan dalam hubungan kami.
Aku berjalan pelan ke arahnya, lalu duduk di sampingnya.
Aku menaruh penyangga pergelangan tangan yang sudah terbuka di sisi kirinya dan sebatang biskuit di sisi kanannya.
Pas dia melihatku, aku langsung merapikan kerah bajunya dan berkata, “Udara di sana lebih kering dari sini. Kulitmu sensitif, jadi jangan lupa nyalakan pelembap udara setiap malam.”
“Dan jangan lupa makan. Lambungmu lemah, jangan sampai kelaparan …”
Akhirnya dia menatapku dari keheningannya dan memotong ucapanku, “Kau kok tiba-tiba jadi cerewet sekali?”
Aku mengelak tatapannya dan menjawab, “Biar kau nggak telepon aku tengah malam cuman karena nggak bisa ketemu barangmu.”
“Aku sudah daftar retret kesehatan. Jadi mungkin bakal nggak di rumah selama beberapa hari.”
Tentu saja, itu bohong.
Kali ini, aku nggak yakin apa aku masih bisa angkat teleponnya nanti.
Kemarin, rumah sakit beri aku rencana perawatan terakhir.
Ada 2 pilihan.
Satu, menjalani operasi dan hidup pakai alat bantu napas selamanya.
Kedua, yaitu eutanasia.
Pada saat itu, aku diam-diam bersyukur atas sifat Julian.
Dia tipe orang yang nggak bakal tanya macam-macam asalkan aku beri dia alasan.
Julian ambil kopernya dan berjalan menuju gerbang keberangkatan.
Sosoknya makin lama makin jauh dan mengecil sampai hampir nggak kelihatan.
Aku nggak bisa menahan diri untuk berlari mengejarnya.
Lewat dinding kaca bening, aku bertanya pada Julian, “Julian, ada yang ingin kau katakan padaku?”
Dia membeku selama beberapa saat, lalu menjawab, “Apa yang mau kau dengar?”
Aku melambaikan tanganku dengan lemah, lalu memaksakan sebuah senyuman dan berkata, “Nggak ada. Aku akan merindukanmu.”
“Semoga kau beruntung di turnamennya.”
Julian menatapku sedikit lama dari biasanya. Wajahnya tampak bingung, tapi suaranya tetap datar seperti biasanya.
“Eva Castina, hari ini kau agak aneh deh,” ucap Julian.
Mendengar ini, aku mengepalkan tanganku dengan kuat dan nggak menjawabnya.
Kayaknya ini akan jadi terakhir kalinya aku melihat Julian.
Tapi aku tetap nggak berkata apa-apa dan nggak mendengar apa-apa.
Aku membalas pesan dokter.
[Aku sudah buat keputusan, eutanasia.]
Aku pilih tanggalnya tepat pada hari final pertandingan Julian.
Bab 2
Kejuaraan Catur Internasional berlangsung dari bulan November sampai akhir bulan Desember.
Pada hari aku menandatangani formulir untuk eutanasia, televisi sedang menayangkan siaran langsung acara amal yang dihadiri Julian.
Dia adalah tamu kehormatan dalam gala “Yayasan Catur dalam Pendidikan”, pemain catur paling ternama di Benua Nathan.
Pembawa acara menanyainya tentang turnamen yang akan datang, “Julian, apa kau yakin bisa memenangkan turnamen kali ini?”
Tepat saat Julian hendak menyingkirkan mikrofon, seorang wanita di sampingnya menyambung percakapan dengan elegan.
Wanita itu adalah murid sekaligus penerus Julian, Kelly Kiara.
Kelly sangat dihormati di Komunitas Catur Internasional.
Media menjulukinya “Ratu Catur” dan dia bersama Julian dianggap sebagai pasangan emas.
“Biar aku yang jawab pertanyaan itu,” ucap Kelly.
Hanya sedikit orang yang Julian percayai untuk memimpin di hadapannya.
Kelly adalah salah satunya.
Julian menatapnya dengan rasa terima kasih saat Kelly menanggapi media.
“Julian nggak pernah bahas soal tekanan pertandingan di depan umum,” ucap Kelly sambil menyentuh lengan Julian dengan lembut.
Lesung pipit kecil di pipinya membuatnya terlihat begitu menawan.
Kalau aku yang menyela kayak gitu, Julian pasti langsung menegurku.
Tapi pria di layar hanya mengangguk setuju dengan tatapan lembut dan berbisik, “Terima kasih.”
Aku nggak ingat banyak tentang lelang amal yang terjadi setelahnya.
Yang kuingat jelas hanyalah pertanyaan pribadi yang diajukan pembawa acara pada Julian di akhir acara.
“Hidup ini penuh dengan pilihan sulit. Aku penasaran, apakah sang grandmaster kita pernah menghadapi keputusan yang beneran sulit untuk dirinya sendiri?”
Kelly berdiri di samping dan menunggunya. Julian terus melihat ke arahnya. Tatapannya dalam dan penuh fokus.
Tempat itu berisik, sehingga aku hampir nggak dengar jawaban terakhirnya.
Aku hanya menangkap sedikit.
“Terkadang kita harus mengambil keputusan yang nggak diinginkan, karena alasan yang di luar kendali kita,” kata Julian.
Aku membenci diriku sendiri karena mendengar kalimat itu.
Aku sudah sekarat, tapi masih saja peduli pada hal-hal konyol yang berkaitan dengan Julian.
Sepuluh tahun bersama Julian, tapi setiap hal-hal kecil tentangnya masih menyayat hatiku. Dia sama sulit untuk kupahami seperti strategi caturnya.
Sebenarnya, aku sudah merasa minder sejak bertemu Julian saat masih remaja.
Cintaku padanya begitu kuat dan aku juga berharap dia mencintaiku sekuat itu juga.
Tapi Julian seperti es yang nggak akan pernah meleleh.
Ironisnya, aku rela tenggelam dalam dingin itu.
Suatu hari, aku terus-menerus memaksa Julian bawa aku ke pesta setelah acara di Montania.
Itulah bar mewah tempat aku pertama kali ketemu Kelly.
Sekelompok elit muda, wiski dan sampanye menciptakan suasana yang meriah.
Orang-orang seperti itu suka berkata jujur ketika sedang mabuk.
Seorang pria yang baru saja mendapat gelar Master mengangkat gelas bir dan menantangnya, “Hei, Julian. Kau beneran nggak punya perasaan apa-apa sama si gadis pirang cantik itu?”
“Pacarmu ada di sini. Kesempatan tepat buat dia dengar isi hatimu.”
“Ayolah! Jawab yang jujur!”
Julian sudah minum terlalu banyak bir dan pupil di balik kacamatanya membesar karena alkohol.
Julian pelan-pelan menoleh ke arahku dan berkata dengan nada serak karena mabuk, “Dengar isi hatiku? Dia?” Julian menyeringai, lalu berkata, “Aku nggak perlu jelaskan apa-apa padanya. Dia tahu selama dia ada, aku bisa tetap fokus pada catur.”
Mendengar ini, jantungku yang tadi terasa sesak akhirnya kembali normal.
Kemudian, aku mengantar Julian kembali ke apartemen.
Aku melihat dia langsung berlari ke ruang kerjanya dan menelusuri semua teka-teki catur yang belum terpecahkan dengan panik.
Dia mengurung dirinya di sana selama 2 hari tanpa makan atau minum dan baru sehat kembali setelah diberikan infus glukosa.
Wajahnya pucat saat dia berkata dengan lemah, “Eva, aku nggak bisa menyelesaikannya.”
“Teka-teki ini mewakili genius catur selama berabad-abad yang keluargaku ingin aku lampaui. Setiap yang kupecahkan mendekatkanku pada pengakuan mereka, tapi yang nggak bisa … terus menghantui pikiranku.”
Aku paham maksudnya.
Tapi saat itu aku baru berumur 22 tahun, masih berada di usia di mana aku percaya dia beneran mencintaiku.
Aku berkata, “Nggak apa-apa, Julian.”
“Aku nggak memaksamu dan aku nggak mau kau memaksakan dirimu.”
“Janji-janji manis itu nggak penting. Yang penting kau tahu aku mencintaimu.”
Mendengar ini, dia hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihatku.
Sejak saat itu, kami berdua punya pemahaman tersirat untuk nggak membahas topik itu lagi.
Aku menyaksikan karier Julian menanjak di tingkat internasional, dari Master hingga Grandmaster.
Setiap kali Julian pulang membawa penghargaan besar, dia selalu berkata, “Eva, aku selangkah lebih dekat untuk mencapai targetku.”
“Begitu aku memenangkan Grand Slam, aku akan memberimu semua yang kau inginkan.”
“Sabar saja.”
Sejak saat itu, setiap kali seseorang bercanda menanyakan kapan aku dan Julian akan menikah, aku selalu menjawab dengan tenang, “Nanti kita bahas setelah turnamennya selesai.”
Tapi kali ini, aku nggak menyangka ada bagian yang membahasku di berita siaran langsung.
Julian dan Kelly baru saja keluar dari pusat latihan saat seorang wartawan menghampiri mereka.
Wartawan itu memulai siaran langsung dari ponselnya.
Julian terlihat berusaha cepat-cepat pergi, tapi Kelly menepuk lengannya dengan lembut, seakan memberinya isyarat agar tetap menjaga citra publik.
Wartawan itu berteriak, “Julian! Bisa bicara sebentar? Tentang hal selain turnamen yang akan datang.”
“Para penggemar sangat ingin tahu tentang kehidupan pribadimu.”
Wartawan itu terus mendesak, “Gimana kabar pacarmu, Eva, belakangan ini?”
Mendengar ini, Julian yang sedang memegang secangkir kopi hitam yang baru dipesan, sedikit mengerutkan keningnya, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Dia lalu berkata dengan nada rendah, “Belakangan ini dia jadi lebih pendiam.”
“Mungkin tekanan membuatnya begini.”
Sejak aku didiagnosis, aku semakin jarang bicara dan tenagaku kian memudar.
Kalau beneran peduli, Julian pasti bisa menyadari cekungan dalam di bawah mataku.
Itu bukan karena tekanan, tapi karena aku sedang sekarat.
Bab 3
Julian lagi nggak di rumah, aku pun mulai bersantai di apartemen.
Aku memutar stereo dengan volume penuh dan membuka sebotol anggur merah yang sudah lama kusembunyikan.
Sebelumnya, aku nggak berani menjadi diriku sendiri. Aku selalu menyesuaikan diri dengan Julian yang suka tenang.
Tapi sekarang, dengan waktu yang tersisa, aku mau hidup untuk diriku sendiri.
Sebelum pergi ke rumah sakit, aku memutuskan untuk merapikan rumah yang sudah kutinggali selama 10 tahun untuk terakhir kalinya.
Buku-buku catur dan piala-piala Julian memenuhi sebagian besar ruang.
Di sudut meja terdapat buku harian setengah jadi yang dulu kupakai untuk menulis kenangan manis kami.
Mengingat kenapa buku harian itu terbengkalai, aku tersenyum pahit.
Saat itu, Julian sedang menanjak peringkat dunia, berlatih lebih dari 15 jam sehari, sehingga nggak ada waktu untukku.
Karena nggak ada kegiatan lain, aku mulai menulis buku harian untuk menyimpan kenangan kami, dari ulang tahun hingga setiap tanda kasih sayang kecil.
Saat menunjukkan buku harian pada Julian dengan penuh antisipasi, aku diam-diam berharap dia tersentuh oleh usahaku mengabadikan hubungan kami.
Tapi melihat bukunya, Julian hanya membalik beberapa halaman, lalu mendorongnya menjauh dengan dingin sambil berkata, “Eva, aku nggak paham kenapa kau harus menulis setiap hal sepele gitu.”
“Hal-hal sentimental gini hanya buang waktu saja. Lebih baik kau gunakan waktunya untuk hal yang produktif, misalnya bantu menata catatan pertandinganku.”
Aku ingin melawan, ingin bertanya kenapa dia memperlakukan aku serendah gitu.
Tapi saat melihat tatapan hina di matanya, aku nggak sanggup bicara.
Setelah lama kutahan, rasa cemburu yang nggak kusadari tiba-tiba muncul.
Aku akhirnya bertanya, “Kalau Kelly yang tulis, apa kau akan mengatakan hal yang sama?”
Suaranya menjadi semakin dingin, seperti hembusan angin dari kutub.
“Catur adalah permainan intelektual yang anggun dan rumit.”
“Dia nggak akan buang waktunya untuk hal yang kekanak-kanakan gitu.”
Benar, hanya aku yang begitu bodoh dan menyedihkan, berpikir buku harian cinta bisa menyentuh hatinya.
Sejak itu, aku berhenti menulis.
Sekarang, saat ingatan mulai pudar, aku sadar nggak ada apa pun yang bisa mengingatkanku pada cinta kami yang dulu.
Selain itu, masih banyak hal yang harus kuurus.
Rumah ini penuh dengan jejak hidupku yang seluruhnya berpusat pada Julian.
Jadwal turnamennya masih tertempel di kulkas.
Biji kopi Arabika kesukaannya masih ada di atas meja kopi.
Rak buku yang tertata rapi penuh dengan majalah catur yang dulu aku pesan untuknya.
Di dinding tergantung satu-satunya foto kami bersama yang diambil saat upacara penghargaan.
Dalam foto itu, Julian menatap ke arah kamera, sementara aku menatap dirinya.
Sama seperti yang kulakukan setiap hari selama 10 tahun terakhir.
Aku mulai membuang semua itu, satu per satu.
Biji kopi kubuang ke tong sampah, majalah-majalah catur kumasukkan ke kotak daur ulang.
Foto itu bahkan kukoyak jadi 2.
Bagian foto yang ada Julian-nya kusimpan, sementara bagianku kubuang.
Lemari di kamar tidur juga perlu dirapikan.
Sebagian besar pakaianku dibeli untuk menyesuaikan acara-acara yang dihadiri Julian.
Gaun kecil hitam yang elegan, cocok untuk acara penghargaan.
Setelan rapi dan sopan, cocok untuk pertemuan keluarga.
Jeans polos yang selalu kupakai di rumah, selalu siap saat dia memanggil.
Setiap pakaian di lemari menceritakan kisah tentang hidupku yang selalu berpusat padanya.
Kelly nggak kayak aku.
Dia bisa berdiskusi dengan Julian tentang catur dan menganalisis strategi catur.
Kelly selalu duduk di kursi VIP setiap pertandingan besar.
Kamera selalu berhasil menangkap interaksi mereka yang tampak begitu akrab.
Pada saat-saat seperti itu, aku pun harus mengakui bahwa mereka memang pasangan yang serasi.
Sama cerdasnya dan sama jiwanya.
Mereka terlihat seperti pasangan yang sesungguhnya.
Setelah selesai berkemas, aku menarik koperku ke depan pintu.
Aku menoleh sekali lagi untuk terakhir kalinya, lalu pergi ke rumah sakit.
Saat mobil keluar dari kompleks, ponselku bergetar.
Itu dari agen Julian, Leo Lonardo.
[Eva, kau sudah menindaklanjuti wawancara majalah olahraga buat besok?]
Tak lama kemudian, pesan Julian masuk.
[Ponselmu kok nggak aktif? Leo nggak bisa menghubungimu.]
Aku nggak tahu gimana memberitahunya bahwa saat dia pulang nanti, aku sudah nggak di dunia ini lagi...
Bab 4
Jariku terhenti lama di layar sebelum akhirnya aku membalas.
[Kau lupa? Aku lagi di retret kesehatan.]
[Sinyalnya di sini jelek.]
Aku kira Julian nggak akan bertanya lebih jauh.
Selama ini, dia nggak pernah peduli ke mana aku pergi.
Tapi kali ini, Julian justru bertanya.
[Retret yang mana? Di mana tempatnya?]
Akhirnya dia mengalihkan pandangannya dari catur padaku.
Tapi saat itu mobil sudah berhenti di depan rumah sakit.
Aku nggak balas pesannya.
Bagian perawatan rumah sakit berada di gedung tersendiri, di belakang rumah sakit utama.
Tempatnya jauh lebih tenang dari IGD yang ramai.
Seorang perawat membantu mengurus administrasiku.
Suaranya pelan, seakan takut mengganggu tempat yang tenang.
“Nyonya Eva Castina, kamar Anda di lantai 3. Pemandangannya mengarah ke taman.”
“Apa perlu aku kabari pihak keluarga?”
Aku menggelengkan kepala dan menjawab, “Nggak ada keluarga yang perlu dikabari.”
Dia pun mengangguk tanpa bertanya-tanya lagi.
Perawat di sini sangat profesional, terbiasa menghadapi berbagai macam perpisahan.
Kamarnya lebih nyaman dari perkiraanku.
Dindingnya biru muda dan lampunya lembut.
Di luar jendela ada taman kecil dengan beberapa pohon sakura yang sedang gugur.
Aku baru saja ganti pakaian baju pasien saat ponselku berdering lagi.
Ada pesan suara dari Julian.
“Eva, aku baru saja melewati kafe yang dulu sering kita datangi.”
Suara Julian terdengar santai, sama sekali nggak menyadari ada sesuatu yang berbeda.
“Sekarang ada barista baru di sana. Kelly bilang, latte mereka sekarang lebih enak.”
“Katanya, nanti kalau aku sudah pulang, kita harus mencobanya.”
Aku masih bisa dengar tawa Kelly di belakang suaranya.
Bahkan kenangan kami kini bukan hanya tentang kami berdua.
Aku mematikan pesan suara itu dan meletakkan ponsel di sampingku.
Malam semakin larut, kamar begitu sunyi.
Yang terdengar hanya dengung samar mesin di kejauhan.
Aku berbaring dan menatap langit-langit kosong di atasku.
Aku pun teringat semua malam yang serupa selama 10 tahun terakhir.
Julian tenggelam dalam riset caturnya di ruang kerja, sedangkan aku berbaring sendirian dan menunggunya tidur.
Kadang dia baru tidur menjelang pagi.
Aku sudah terbiasa sendirian.
Entah berapa lama aku terlelap dalam lamunan, aku hampir tertidur saat panggilan dari Julian masuk.
Nada deringnya terdengar keras di kegelapan.
Aku mengangkat telepon, suara tegasnya langsung terdengar, “Eva, aku perlu bantuanmu.”
“Kelly bakal pulang larut malam karena sibuk dengan persiapan pertandingannya.”
“Aku perlu kau pergi ke apartemennya sekarang dan beri makan kucingnya.”
Mendengar ini, aku tercengang beberapa detik, lalu menjawab, “Julian, aku ‘kan sudah bilang aku lagi nggak di Nagoya.”
“Kalau gitu, pulanglah,” katanya dengan dingin. “Ini darurat. Aku nggak mau Kelly kehilangan fokus gara-gara hal sepele gini.”
Aku langsung teringat alergiku yang parah terhadap bulu kucing.
Setiap kali terpapar bulu kucing, asma dan biduran langsung kambuh.
Dengan kondisiku sekarang, itu bisa sangat berbahaya.
“Julian, kau tahu aku alergi kucing …”
“Alergi?” Julian memotongku dengan kesal. “Eva, jangan berlebihan. Itu cuman hal sepele.”
“Cuman beri makan kucing saja. Kau bisa pakai masker, kan?”
“Ini untuk mendukung rekan caturku. Masa gitu saja kau nggak mau?”
Suaraku melemah, “Aku beneran nggak bisa …”
“Nggak bisa apa? Memangnya kau sesibuk itu?” Suaranya tiba-tiba tajam.
“Eva, selama 10 tahun ini, satu-satunya hal yang kau peduli hanyalah membuatku menikahimu, ‘kan?”
“Lalu sekarang, begitu aku suruh kau melakukan sesuatu yang berguna, kau malah cari alasan.”
“Betapa egoisnya kau!”
Dari kejauhan, terdengar suara Kelly yang lembut menegur, “Julian, jangan gitu sama Eva …”
Aku bersandar di ranjang rumah sakit sambil mendengarkan tuduhan-tuduhannya.
Air mata frustrasi mengalir di pipiku.
Selama 10 tahun, aku memang nggak punya kehidupan sendiri, nggak ada karier, nggak ada teman...
Selama ini, Julian adalah pusat dari seluruh hidupku.
Ironisnya, saat aku mulai berpikir untuk diriku sendiri, dia akhirnya berkata jujur.
Baginya, aku adalah wanita yang egois dan penuh drama.
Beban hidupnya yang nggak pernah melakukan apa-apa selain mengejar janji nikah.
Aku menghapus air mata dan tersenyum getir, lalu berkata, “Kau benar, Julian.”
“Aku sedang sibuk.”
“Aku sibuk mati.”