Penungguan Berakhir Pahit

Đang tải thông tin quảng bá...

Penungguan Berakhir Pahit

GoodNovel Hoàn thành

Cecil Wijaya dan Bryan Jayadi akan menikah setengah bulan lagi. Namun, di saat seperti ini, Bryan kembali berniat menunda pernikahan mereka. Hanya karena penyakit adik tiri Bryan, Yovita Baskara, kamb...

Chương (1)

第1章

Cecil Wijaya dan Bryan Jayadi akan menikah setengah bulan lagi. Namun, di saat seperti ini, Bryan kembali berniat menunda pernikahan mereka. Hanya karena penyakit adik tiri Bryan, Yovita Baskara, kambuh lagi. Wanita itu menangis meminta Bryan meninggalkan segalanya untuk menemaninya pergi ke Malde melihat laut. Pernikahan ini sudah dipersiapkan selama dua tahun, jadi Cecil tidak berniat menunggu lebih lama lagi. Karena Bryan tidak ingin menikah, Cecil akan mengganti mempelai prianya. Bab 1 Bryan melepaskan jas pengantin yang sedang dia coba dengan tergesa-gesa, mengambil ponselnya, lalu memesan penerbangan terdekat menuju Malde. "Kita tunda pernikahannya beberapa hari lagi. Kamu bisa menjelaskannya pada Paman dan Bibi," kata Bryan. Setelah menjalin hubungan selama enam tahun, Cecil sudah tidak bisa menghitung berapa kali Bryan meninggalkannya demi Yovita. Tadi Cecil masih tenggelam dalam kebahagiaan dan harapan terhadap pernikahan mereka. Namun, sekarang cahaya di matanya perlahan memudar. Karena Yovita, pernikahan Cecil ditunda berulang kali. Cecil sudah lama menjadi bahan tertawaan di mata kerabat dan teman-temannya. Rasa sakit hati seperti tabung tertutup yang membuat Cecil sesak napas. Air matanya juga tidak bisa dibendung, tampak menggenang di pelupuk mata. Setelah selesai memesan tiket, Bryan langsung bertatapan dengan mata berkaca-kaca Cecil ketika berbalik. Hatinya tersentak, lalu pria itu membuka mulut untuk menjelaskan dengan sedikit rasa bersalah. "Kamu tahu sendiri kalau Yovita sedang sakit. Kalau nggak menuruti kemauannya, dia akan menyakiti dirinya sendiri. Aku nggak bisa mengabaikannya." Sebelum Cecil sempat berbicara, ponsel Bryan berdering. Itu adalah panggilan dari Yovita yang mendesaknya. Bryan menghibur Yovita dengan lembut, memberitahunya bahwa tiket pesawat sudah dipesan, lalu dia juga akan segera pulang untuk menjemputnya. Bryan menyuruh Yovita untuk mengemasi barangnya terlebih dahulu. Setelah menutup telepon, Bryan mengangkat kepala untuk menatap Cecil lagi. Rasa bersalah di mata Bryan sudah lenyap tanpa bekas. "Aku harus pergi sekarang. Kalau nggak, nanti aku akan ketinggalan pesawat. Setelah kamu selesai mencoba gaun pengantinnya, kamu bisa pulang sendiri naik taksi," ujar pria itu. Cecil menatap punggung Bryan yang melangkah pergi dengan cepat. Telapak tangannya terus mengepal. Pada waktu kuliah, Bryan terkenal sebagai pria yang angkuh dan dingin di jurusannya. Wanita yang mengejarnya sangat banyak, sampai semuanya berlomba mendapatkan pria itu. Cecil mengikutinya, mengejar Bryan dengan gigih selama dua tahun. Baru akhirnya Cecil berhasil mendapatkan pria yang bagaikan bunga di puncak gunung tinggi ini. Cecil sangat menghargai hubungan yang sudah susah payah dia dapatkan ini. Cecil selalu perhatian dan pengertian terhadapnya, tidak pernah manja atau marah seperti gadis-gadis lainnya. Namun, tidak peduli seberapa tulus hati Cecil, Bryan selalu bersikap acuh tak acuh pada Cecil. Meskipun mereka menjalin hubungan romantis, selalu ada jarak yang samar di antara mereka. Awalnya Cecil mengira karakter Bryan memang seperti itu. Namun, ketika dia melihat ketegangan Bryan ketika Yovita terluka, barulah Cecil mengerti bahwa Bryan bukanlah orang yang dingin. Semua orang sudah mengetahui bahwa Yovita menyukai Bryan. Hanya saja, cinta ini tidak mendapatkan persetujuan dari Ayah Bryan karena hubungan khusus mereka berdua. Jadi, Yovita terus mengganggu hubungan Cecil dan Bryan dengan menggunakan penyakitnya. Setiap kali, Bryan akan selalu membujuk adiknya itu dengan lembut. Terkadang Cecil bahkan merasa dirinya hanyalah bagian dari permainan antara Bryan dan Yovita. Perasaan ini benar-benar membuatnya muak. Dalam enam tahun ini, Cecil pernah berpikir untuk melepaskan Bryan. Namun, setiap kali dia ingin berbalik pergi, Bryan akan melunakkan sikapnya, mencoba menahannya. Ini sudah terjadi berulang kali. Hati Cecil sudah tenggelam dalam keputusasaan, kehangatan dan harapannya sudah direnggut, hanya tersisa kesengsaraan. Dulu Cecil tidak seperti ini. Dia adalah orang yang optimis dan ceria, selalu memancarkan semangat. Namun, sekarang Cecil menjadi orang yang sensitif dan mudah marah. Dia mengeluh setiap hari, seperti wanita cerewet yang meratapi nasibnya sendiri. Selalu mengalah pada orang lain membuat Cecil kehilangan jati dirinya. Tiba-tiba, Cecil merasa bahwa sosok di cermin itu sangat asing, sangat menyedihkan. Cecil tidak ingin lagi terus terlibat dengan Bryan. Karena Bryan tidak peduli dengan hubungan mereka, Cecil juga bisa mengganti mempelai prianya menjelang pernikahan! Bab 2 Ketika memikirkan hal ini, Cecil mengangkat ponselnya untuk menelepon ibunya. "Halo, Bu, aku nggak ingin menikah dengan Bryan lagi. Bukankah kalian dulu sudah menjodohkanku? Aku setuju. Tolong tanyakan pada pihak pria, apakah dia masih ingin menikah denganku?" kata Cecil. Cecil awalnya mengira ibunya akan menganggap perubahan keputusannya yang tiba-tiba ini terlalu terburu-buru. Namun, tak disangka ibunya di seberang telepon malah tertawa. "Bagus sekali, akhirnya kamu sadar! Ibu akan segera menghubungi Evan," ujar Ibu Cecil. Evan Handara, nama ini tidak asing bagi Cecil. Mereka berdua bisa dibilang teman masa kecil. Hanya saja, Evan mengikuti orang tuanya ke luar negeri, jadi kontak mereka perlahan berkurang. Cecil menghela napas lega. Dibandingkan dengan orang asing yang belum pernah ditemui sama sekali, setidaknya dia cukup mengenal Evan. Lagi pula, kedua keluarga mereka setara dan saling mengenal dengan baik. Evan adalah pilihan yang paling tepat untuk pernikahan kilat ini. Tak lama kemudian, Cecil menerima telepon dari Evan. "Bibi sudah menghubungiku. Kapan kamu ada waktu? Aku akan datang ke Kota Havana untuk menjemputmu." Cecil memang memiliki kontak WhatsApp Evan sejak dulu. Ibunya meminta Cecil menyimpan kontak Evan saat dia bersiap untuk mengikuti ujian masuk pascasarjana. Namun, Cecil tidak pernah mengirim pesan kepada Evan. Cecil terdiam sejenak, lalu perlahan membuka mulut, "Beri aku waktu setengah bulan. Setelah aku menyelesaikan semua urusan, aku akan menghubungimu." Karena sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Bryan, dia harus melakukan semuanya dengan bersih. Ketika Bryan meninggalkan toko gaun pengantin, dia bahkan meninggalkan cincin pernikahan mereka. Bryan bukanlah orang yang ceroboh. Jadi, bisa dilihat betapa tergesa-gesanya pria itu pergi saat itu. Sekarang, Bryan sudah menemani Yovita berlibur di Malde. Yovita mengunggah banyak foto mesra mereka berdua di status WhatsApp dengan provokatif. Cecil tahu bahwa itu adalah cara Yovita untuk memamerkan kemenangannya. Namun, perhatian Cecil justru teralihkan pada gaun pantai berwarna merah muda yang dikenakan Yovita. Itu adalah gaun yang Cecil pesan dan baru sampai beberapa hari lalu. Dia mempersiapkan baju ini untuk berfoto saat bulan madu nanti. Gaun ini adalah model terbaru musim ini dari Palin. Cecil begadang selama beberapa malam untuk bisa mendapatkannya saat peluncuran pertama. Bryan tahu betapa Cecil menyukai gaun ini. Berani-beraninya pria itu memberikan gaun ini kepada Yovita tanpa memberitahunya terlebih dahulu! Cecil begitu marah sampai tangannya gemetaran. Dia mengirim pesan kepada Bryan: [Apa namanya mengambil barang orang lain tanpa izin? Kalau kamu ingin menyenangkan Adik kesayanganmu, nggak seharusnya kamu mengambil gaunku untuk dipersembahkan padanya.] Cecil menunggu lama sebelum Bryan akhirnya membalas: [Sebenarnya aku sudah ingin mengatakannya sejak lama. Warna merah muda cocok untuk gadis kecil. Di usiamu, memakai warna ini akan terlalu norak. Ini hanya baju saja, nggak perlu dibesar-besarkan." Hati Cecil bergetar. Apa maksud kata-kata Bryan ini? Dia hanya lebih tua dua tahun dari Yovita. Jadi, di dalam hati Bryan, Yovita adalah gadis kecil yang harus dimanjakan, sementara Cecil adalah wanita yang norak? Cecil baru saja ingin membantah Bryan, tetapi tiba-tiba Bryan mentransfer uang padanya. [Ini uang untuk baju itu. Jangan mengganggu Yovita. Dia akhirnya bisa sedikit bahagia. Aku nggak ingin ada yang mengganggunya.] Cecil memilih menerima uang itu dengan tegas. Dia tidak lagi menginginkan baju dan pria itu. Cecil tiba-tiba menyadari satu hal. Makin Bryan meremehkannya, makin Cecil harus mencintai dirinya sendiri dengan baik! Cecil terlalu malas untuk berbasa-basi dengan Bryan. Dia memiliki hal yang lebih penting untuk dilakukan. Dia harus menarik kembali undangan yang sudah disebarkan. Bryan mengatakan bahwa dia takut pesta pernikahan yang terlalu mewah dan megah akan membuat Yovita kesal. Jadi, Bryan tidak ingin mengadakan pesta yang besar. Cecil menuruti keinginannya, hanya berencana mengundang teman dan kerabat dekat di Kota Havana. Ketika semua orang diberi tahu bahwa pernikahan dibatalkan dan undangan harus ditarik kembali, mereka menunjukkan keterkejutan. "Kenapa tiba-tiba membatalkan pernikahan? Bukannya sudah dipersiapkan sejak lama?" Cecil tersenyum pahit. Pernikahannya memang sudah dipersiapkan sejak lama, tetapi Cecil sendiri yang berlarian mengerjakan seluruh proses persiapan pernikahan. Bryan sama sekali tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikannya. Cecil bahkan merasa bahwa Bryan sama sekali tidak ingin menikahinya. Hanya dirinya saja yang mengejar Bryan karena angan-angan belaka. Cecil merasa lelah dan jenuh karena selalu menjadi orang yang mengejar Bryan. Cecil tidak ingin menyembunyikan apa pun, jadi dia memberi tahu teman-temannya dengan terus terang, "Aku tetap akan menikah, hanya saja mempelai prianya berbeda." Namun, semua orang hanya menganggap kata-kata Cecil sebagai lelucon. Tidak ada yang percaya Cecil akan menikah dengan orang lain. Semua tahu bahwa Cecil mencintai Bryan dengan sepenuh hati. Bagaimana mungkin Cecil rela melepaskan bunga di gunung tinggi yang akhirnya dia dapatkan? Bukan hanya sekali Bryan mengubah tanggal menjelang pernikahan. Meskipun Cecil merasa sedih, dia tidak pernah marah karena hal ini. Jadi, semua orang sepertinya menganggap wajar kalau Cecil akan selalu menoleransi Bryan. Cecil tidak ingin menjelaskan. Dia telah membuktikan satu hal dengan enam tahun masa mudanya. Mencintai pria yang tidak peduli padanya benar-benar hal yang sangat menyakitkan. Namun, cinta yang sudah diberikan tidak bisa ditarik kembali. Yang bisa Cecil lakukan hanya menghentikan kerugian tepat waktu. Bab 3 Cecil sudah menarik kembali semua undangan yang disebarkan. Baru saja dia bersiap untuk pulang ketika menerima telepon dari Bryan. Suara Bryan terdengar sedikit serak, "Tolong tarik kembali undangan yang sudah disebarkan. Kita bisa bicarakan pernikahannya nanti saja. Emosi Yovita masih sangat nggak stabil. Aku nggak ingin membuatnya kesal lagi di saat seperti ini." Bryan bahkan sudah memikirkan kata-katanya. Jika Cecil tidak setuju, pria itu akan memaksanya secara moral seperti biasa. Namun, Cecil tidak menunjukkan emosi apa pun, hanya menjawab dengan acuh tak acuh, "Baiklah." Bryan tiba-tiba terdiam. Dia juga bisa merasakan perubahan pada Cecil melalui telepon. Bryan tahu bahwa Cecil paling tidak suka kalau ada orang lain yang menyentuh barang pribadinya. Namun, Bryan tetap memilih untuk mengabaikan hal sensitif Cecil demi Yovita. Pria itu mentransfer uang ke Cecil karena takut Cecil akan terus membuat masalah. Biasanya cara ini akan selalu berhasil. Tidak disangka, kali ini Cecil justru menerima uang itu. Hal ini membuat Bryan merasa sangat janggal. Bryan menjilat bibirnya yang kering, lalu membuka mulut dengan canggung, "Aku tahu kalau Yovita yang selalu seperti ini membuatmu terganggu. Aku berjanji akan membuatnya bekerja sama dengan dokter, berusaha menyembuhkan penyakitnya secepat mungkin." "Kakak, airnya sudah siap. Sekarang giliranmu mandi." Suara Yovita terdengar pada saat yang tidak tepat. Bryan baru saja ingin membuka mulut meminta Cecil untuk tidak salah paham. Namun, dia menemukan bahwa Cecil sudah menutup telepon dengan tegas. Cecil merasa sangat konyol. Surat diagnosis penyakit Yovita menyatakan bahwa dia menderita gangguan bipolar, tetapi wanita itu tidak pernah menerima perawatan apa pun. Sebaliknya, wanita itu selalu menempel pada Bryan, meminta pria itu untuk menemaninya. Janji Bryan hanyalah omong kosong yang tidak pernah bisa dipercaya. Ketika memikirkan hal ini, hati Cecil perlahan kehilangan kehangatan, lalu dia pun mulai mengemasi barang-barangnya. Sebenarnya, Cecil tidak memiliki terlalu banyak barang. Satu koper saja sudah cukup untuk memuat semuanya. Namun, ada banyak jejaknya di rumah yang sudah dia tinggali selama enam tahun ini. Di meja samping tempat tidur terpajang foto mereka berdua. Di dapur tergantung celemek warna merah muda miliknya. Di rak kamar mandi tersimpan gelas sikat gigi pasangan miliknya dan Bryan .... Cecil memasukkan semua barang miliknya satu per satu ke tempat sampah. Foto di meja samping tempat tidur juga dia gunting. Cecil membuang bagian dirinya, hanya menyisakan Bryan. Sementara untuk hadiah yang diberikan Bryan padanya, tidak peduli betapa berharganya, Cecil sama sekali tidak ingin menyimpannya. Dia membakar semua yang bisa dibakar, langsung membuang semua yang tidak bisa dibakar ke tempat sampah. Cecil juga membawa sepasang cincin pernikahan yang melambangkan keabadian itu untuk didaur ulang. Uang dari hasil menjual cincin itu langsung Cecil donasikan. Suhu di Kota Havana cukup rendah pada saat ini. Mungkin karena kedinginan, Cecil mengalami demam tinggi di malam harinya. Beberapa tahun terakhir ini, Cecil sudah meninggalkan orang tuanya untuk hidup bersama Bryan. Jadi, Cecil belajar merawat dirinya sendiri. Meskipun demam membuat kepala Cecil pusing, dia tetap memaksakan diri untuk menelepon nomor darurat. Cecil tidak tahu kapan dia tertidur, juga tidak tahu berapa lama dia tidur. Yang dia tahu adalah, saat dia terbangun, dia melihat Bryan dengan wajah cemas menjaganya di samping tempat tidur rumah sakit. Kali ini, Yovita tidak mengikutinya. Suara Bryan terdengar serak, matanya menunjukkan kasih sayang yang tampak nyata, "Kenapa kamu nggak mengatakan padaku kalau kamu sakit? Kamu nggak mengangkat teleponku. Kalau satpam di lantai bawah nggak meneleponku, aku nggak akan tahu kalau kamu dirawat di rumah sakit. Apa kamu ingin membuatku ketakutan setengah mati?" Sudut bibir Cecil bergerak, tetapi di matanya tidak ada sedikit pun kehangatan, "Untuk apa aku mengatakannya padamu? Bukankah kamu sedang menemani Adik kesayanganmu?" Saat Cecil membutuhkan Bryan, pria itu tidak pernah ada di sampingnya. Perhatian dan kehangatan Bryan tidak pernah ditujukan untuknya. Jadi, selama enam tahun ini Cecil belajar untuk mengandalkan diri sendiri dalam segala hal. Ketika mendengar kata-kata Cecil, Bryan mengerutkan keningnya tanpa sadar. "Apa kamu sedang menyalahkanku? Aku langsung memesan tiket pesawat untuk kembali secepat mungkin saat tahu kamu sakit. Apa lagi yang kamu inginkan dariku?" Cecil tidak bisa menahan tawa sinisnya. "Aku nggak memintamu untuk pulang. Aku bisa merawat diriku sendiri dengan baik." Hati Bryan seakan tenggelam. Apakah ini masih Cecil yang bergantung padanya dan membutuhkannya? Bryan terdiam cukup lama. Sampai suara dering ponsel Bryan memecah keheningan. Yovita meneleponnya lagi. Cecil bisa mendengar suara Yovita yang cukup agresif melalui telepon. "Kakak, apa kamu meninggalkanku sendirian di Malde hanya demi wanita bernama Cecil itu?" Bryan melirik Cecil yang berbaring di tempat tidur rumah sakit dengan bibir pucat, lalu merendahkan suaranya saat berbicara dengan Yovita. "Cecil sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Kita bicarakan semuanya nanti saja." Setelah mendengar ini, Yovita menghina dengan sinis, "Kenapa sakitnya tepat di saat seperti ini? Bagaimana bisa ada kebetulan seperti itu? Menurutku dia hanya berpura-pura. Kakak, kamu jangan sampai tertipu oleh wanita jahat itu." Suara Yovita terdengar dengan jelas di telinga Cecil. Cecil menahan amarahnya, lalu berbalik untuk menatap ke arah Bryan. Bryan hanya mengerutkan kening, lalu membujuk Yovita dengan lembut seperti biasa, "Kamu tenang saja. Setelah dia keluar dari rumah sakit, aku akan langsung terbang kembali untuk menemanimu. Kamu harus menurut, ya." Bab 4 Yovita tidak tinggal di Malde menunggu Bryan. Keesokan harinya, wanita itu sudah mengejar ke rumah sakit. Ketika melihat Cecil terbaring di tempat tidur rumah sakit sambil masih menerima infus, wajah Yovita penuh dengan penghinaan. "Kamu berpura-pura dengan cukup baik. Tapi apa kamu hanya bisa berpura-pura menyedihkan? Hanya Kak Bryan yang akan memercayai tipuan kuno seperti ini." Cecil tahu apa maksud perkataan Yovita. Dulu saat mengejar Bryan dengan gigih, Cecil menunggu semalaman di bawah asrama putra di tengah hujan. Cecil masih mengingat dengan jelas bahwa hujan di malam itu sangat deras. Dia memeluk gitar yang telah dipilihnya dengan cermat untuk diberikan kepada Bryan sambil berdiri di tengah hujan. Air hujan menembus kemeja tipisnya, menghantam wajahnya tanpa ampun. Bahkan setelah Cecil pingsan di tengah hujan, dia masih tidak berhasil membuat hati Bryan melunak. Cecil mengatakan pada dirinya sendiri bahwa tidak mendapatkan cinta juga bukan masalah yang terlalu serius. Namun, saat Cecil berencana menyerah, Bryan melunak dan setuju untuk mencoba berpacaran dengannya. Akhirnya, Cecil berhasil memetik bunga di puncak gunung tinggi yang selalu diimpikannya. Hujan itu membuat Cecil mendapatkan cinta Bryan, sekaligus membuatnya terkena pneumonia. Meskipun Cecil akhirnya sembuh, akar penyakit itu tetap ada. Selama bertahun-tahun ini, setiap kali suhu turun atau saat Cecil kedinginan, dia akan batuk tanpa henti. Cecil tanpa sadar mengangkat kepalanya untuk menatap Bryan. Untuk sesaat, Cecil masih berharap Bryan bisa berdiri di depannya untuk melindunginya. Namun, di dalam hatinya Cecil tahu dengan jelas bahwa Bryan tidak akan melakukan itu. Menghadapi Yovita yang agresif, Cecil sudah terlalu sering menahan diri sampai jatuh sakit. Bagaimanapun juga, dia sebentar lagi akan putus dengan Bryan. Jadi, dia tidak perlu lagi bersikap sopan pada Yovita, si wanita jalang ini. Cecil membuka mulut untuk membalas, "Kalau tentang berpura-pura, aku nggak sebanding denganmu. Tapi percuma saja kamu repot-repot seperti ini. Kamu selamanya hanya bisa menjadi Adik Bryan yang baik." Kata-kata Cecil menyentuh titik lemah Yovita, seketika membakar amarahnya. Yovita bergegas menyerang Cecil seperti orang gila. Cecil secara naluri mengulurkan tangan untuk menangkis, membuat jarum infus di tangannya patah. Rasa sakit yang menusuk membuat Cecil tidak bisa menahan jeritannya. Detik berikutnya, cairan obat bercampur darah memercik ke baju pasien berwarna putih milik Cecil. Karena Yovita yang lebih dulu menyerang, Cecil juga tidak ingin kalah. Tanpa memedulikan rasa sakit di punggung tangannya, Cecil mengangkat tangan untuk menampar Yovita. Dalam sekejap, Bryan menghalangi di depan Yovita. Suara tamparan yang nyaring terdengar. Di wajah Bryan langsung muncul bekas tamparan merah yang jelas. Bryan mengerutkan keningnya dengan erat. Raut wajahnya seperti awan gelap sebelum badai, begitu menekan hingga orang lain tidak bisa bernapas. "Cecil, sejak kapan kamu menjadi nggak masuk akal seperti ini? Kamu tahu dengan jelas kalau Yovita memiliki penyakit mental, nggak bisa mengontrol emosinya, tapi kamu masih menyerangnya?" kata Bryan. Cecil menatap mata Bryan, mengepalkan tangannya dengan kuat, lalu menekan gejolak di dalam hatinya. Cecil bertanya dengan sedikit nada getir, "Dia seorang pasien, tapi bukankah aku juga? Kenapa kamu begitu munafik?" Bibir Bryan sedikit terbuka, tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, seolah terkekang oleh sesuatu yang tidak terlihat. Yovita yang ada di sampingnya mengusap air mata sambil mulai berakting. "Kak, aku sudah tahu kalau kamu nggak peduli padaku lagi. Aku nggak mau hidup lagi, huhuhu ...." Setelah berkata demikian, Yovita berbalik untuk berlari keluar dari ruang perawatan. Bryan mengejarnya tanpa ragu, meninggalkan Cecil yang terdiam di tempat. Cecil merasakan rasa pahit di mulutnya. Dia tidak bisa menahan diri untuk mengejek diri sendiri. Untuk apa dia bersedih? Bukankah hal seperti ini sudah sering terjadi sebelumnya? Ketika Cecil sedang merasa sedih dalam diam, ponselnya berdering. Di layar muncul nama Evan. Bab 5 Beberapa hari ini Cecil tidak mengirim pesan kepada Evan. Hal ini membuat Evan merasa sedikit tidak tenang. Evan mencoba bertanya dengan hati-hati, "Cecil, aku sudah mulai mempersiapkan pernikahannya. Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah menyelesaikan urusanmu?" Sebelum Cecil membuka mulut, hati Evan merasa sangat gelisah. Dia sangat takut mendengar Cecil memberitahunya bahwa dia menyesal, serta tidak ingin pulang untuk menikah dengannya. Cecil segera menyesuaikan emosinya, berusaha agar Evan tidak mendengar ada yang aneh. Cecil menarik napas, lalu menjawab, "Ya, aku sudah hampir selesai. Aku akan menyelesaikan urusan bisnis dulu dalam beberapa hari ini, lalu aku akan pulang. Terima kasih karena kamu sudah mengurus persiapan pernikahannya." Ketika mendengar jawaban Cecil, Evan menghela napas lega. Namun, Evan yang perhatian tetap merasakan ada yang berbeda dari Cecil. "Kenapa suaramu serak? Apa kamu sedang nggak enak badan? Suhu di Kota Havana cukup rendah selama beberapa hari ini, kamu harus ingat untuk memakai baju yang lebih tebal kalau keluar. Aku ingat kesehatanmu memang nggak terlalu baik sejak kecil," kata Evan. Setelah mendengar nasihat lembut Evan, kehangatan menyebar di hati Cecil. "Hmm …. Kalau kamu menemui masalah, ingatlah untuk meneleponku. Jangan menyimpan semuanya sendiri di dalam hati. Aku ada di sini, nggak akan membiarkanmu sedikit pun menderita," lanjut pria itu. Cecil menjawab dengan nada lembut, "Aku akan menjaga diriku sendiri dengan baik. Kamu tenang saja." Setelah menutup telepon, Cecil menatap ke luar jendela. Entah sejak kapan, langit yang awalnya penuh dengan awan gelap sudah menjadi cerah, sama seperti perasaannya pada saat ini. Bryan mengantarkan Yovita pulang. Sepanjang perjalanan, dia seperti mendapat firasat bahwa ada hal buruk yang akan terjadi. Kelopak mata Bryan terus berkedut tanpa henti. Bryan berkata kepada Yovita dengan nada serius, "Yovita, kamu nggak bisa selalu bersikap seperti ini. Bagaimanapun juga, Cecil adalah kakak iparmu di masa depan." Ketika mendengar kata "kakak ipar di masa depan", air mata Yovita mengalir deras. Yovita bertanya kepada Bryan dengan bibir bergetar, "Kakak, apa bagimu sekarang aku sudah menjadi orang yang nggak berguna?" Bryan paling takut melihat Yovita menangis. Hatinya melunak, lalu dia menjelaskan dengan lemah lembut, "Bukan itu maksudku. Dia sudah bersamaku selama enam tahun. Kalau aku nggak bertanggung jawab padanya, aku akan dicemooh orang." Baru pada saat ini Yovita tersenyum di antara air matanya. Kemudian, dia merangkul lengan Bryan dengan mesra sambil berujar, "Jadi, Kakak ingin menikahi wanita itu hanya untuk menutup mulut orang-orang? Di dalam hatimu, aku selamanya adalah orang yang paling penting, selamanya lebih diutamakan daripada wanita itu, 'kan?" Bryan bergumam menjawab tanpa sadar. Sebenarnya, hatinya juga sangat bimbang. Mungkin di awal Bryan memilih bersama Cecil karena dorongan hati impulsifnya. Namun, selama enam tahun ini dia bisa melihat semua ketulusan hati Cecil padanya. Bryan tahu bahwa Cecil adalah pasangan yang paling cocok untuk menikah dengannya. Dalam hal perasaan, Cecil mencintainya tanpa syarat. Dalam hal karier, Cecil juga bisa memberikan bantuan terbesar. Jadi, ketika Cecil mengusulkan untuk menikah, Bryan menyetujuinya. Namun, setiap kali Yovita menangis, Bryan tidak bisa menahan hatinya yang melunak. Lagi pula, mereka tumbuh bersama sejak kecil. Bryan tidak tega melihat Yovita bersedih dan terluka. Di dalam hatinya, Bryan selalu menganggap Cecil lebih kuat dari Yovita. Jadi, dia selalu memilih untuk menghibur Yovita. Bryan selalu berpikir bahwa dia bisa menikahi Cecil dengan tenang begitu penyakit Yovita sembuh. Seiring waktu, Bryan sepertinya melupakan satu hal. Keberpihakannya pada Yovita akan melukai Cecil. Namun, Bryan yakin bahwa Cecil tidak akan meninggalkannya. Orang yang dicintai selalu tidak mengenal kata takut. Bab 6 Cecil terbaring di rumah sakit selama dua hari, sementara Bryan tidak pernah muncul lagi. Cecil membuka status WhatsApp Bryan. Benar saja, Bryan sedang bersama dengan Yovita, tampak tak terpisahkan. Di status WhatsApp Bryan ada foto Yovita. Setiap unggahan di status WhatsApp-nya selalu berkaitan dengan Yovita tanpa terkecuali. Sungguh konyol. Cecil yang adalah pacar resminya saja tidak pernah muncul di status WhatsApp Bryan. Dulu setiap kali Cecil memikirkan hal ini, emosinya akan melonjak. Selama enam tahun bersama Bryan, dia sudah disiksa hingga menjadi seorang wanita yang suka mengeluh. "Melepaskan hubungan yang buruk seperti ini juga bisa dianggap sebagai pembebasan." Cecil tersenyum pahit. Kondisi tubuhnya sudah hampir pulih, jadi Cecil membereskan barang-barangnya, lalu mengurus prosedur untuk keluar dari rumah sakit. Sebentar lagi Cecil akan meninggalkan Kota Havana, jadi dia harus bertemu dengan Melisa. Melisa Sutaji adalah sahabat terbaik Cecil. Setelah lulus, dia dan Cecil sama-sama tinggal di Kota Havana. Cecil melakukannya demi cinta, sementara Melisa demi bisnisnya. Mereka berdua menjalankan sebuah kedai kopi bersama. "Melisa, bisakah aku menjual sahamku di kedai kopi ini padamu dengan harga murah? Aku sudah berjanji pada orang tuaku untuk pulang kampung dan menikah. Aku nggak akan kembali lagi ke Kota Havana lagi," ujar Cecil. "Aku nggak salah dengar, 'kan? Kamu ingin meninggalkan Bryan dan menikah dengan orang lain?" tanya Melisa. Melisa menatap Cecil dengan wajah terkejut. Dia hampir tidak percaya dengan telinganya sendiri. Cecil sudah menduga bahwa Melisa akan bereaksi seperti ini. Siapa suruh dulu Cecil terlalu mencintai Bryan, selalu mengatakan bahwa dia hanya akan menikah dengan Bryan di kehidupan ini. Jika memikirkannya sekarang, Cecil merasa seperti sedang menampar wajahnya sendiri. Cecil berpura-pura tersenyum santai sambil membalas, "Ya. Setelah menyelesaikan urusan yang ada selama beberapa hari ini, aku akan langsung pulang. Nanti kamu harus datang untuk menjadi pengiring pengantinku." Mereka sudah mencurahkan banyak usaha untuk kedai kopi ini. Melisa berpikir bahwa karena Cecil bersedia mengalihkan saham kedai kopi padanya, berarti dia sudah bertekad untuk pergi. "Baiklah. Karena kamu sudah berpikir untuk nggak menggantungkan diri pada satu pohon saja, aku sebagai teman merasa senang untukmu," kata Melisa. Melisa meminta Cecil untuk membuat kontrak. Setelah keduanya menandatangani kontrak, Cecil sudah sepenuhnya menyelesaikan semua urusannya di Kota Havana. Begitu keluar dari kedai kopi, Cecil menerima telepon dari Bryan. "Ayahku pulang. Dia menyuruhku membawamu pulang untuk makan bersama. Bibi sudah menyiapkan semuanya di rumah. Kamu di mana? Aku akan menjemputmu." Cecil awalnya tidak ingin pergi. Namun, dia berpikir bahwa tampaknya Ayah Bryan belum mengetahui anaknya ini ingin menunda pernikahan lagi. Bagaimanapun juga, Cecil akan pergi sebentar lagi. Lebih baik dia menggunakan kesempatan ini untuk memperjelas semuanya dengan Paman Dirga, agar tidak ada kebingungan di kemudian hari. Tak lama kemudian, Bryan menjemputnya dengan membawa mobil. Cecil sedang berdiskusi dengan ibunya melalui WhatsApp tentang masalah pernikahan. Ketika ekor mata Bryan menangkap kata "pernikahan", ekspresi di wajahnya sedikit berubah. "Bukankah aku sudah menyuruhmu memberi tahu orang tuamu kalau pernikahannya ditunda? Apa kamu nggak memberi tahu mereka?" tanya Bryan. Reaksi Bryan ini membuat hati Cecil terasa sakit. Pria ini tahu bahwa penundaan pernikahan yang berulang kali tidak akan bisa diterima oleh orang tua Cecil. Jadi, Bryan memilih melepaskan tanggung jawab, lalu melemparkan semua masalah pada Cecil. Ketika bersama dengan Bryan, Cecil yang selalu menghadapi semua badai. Sementara Bryan hanya menonton dengan dingin. Cecil tertawa pelan. "Aku sudah mengatakannya, kamu tenang saja. Aku nggak memaksa menikah denganmu." Bryan terdiam sejenak, lalu membuka mulut untuk menjelaskan, "Kamu salah paham, bukan itu maksudku. Aku hanya ...." "Sudahlah, nggak perlu membicarakannya lagi." Cecil tidak memberinya kesempatan menjelaskan, langsung membuka pintu kursi penumpang depan, lalu masuk. Cecil naik ke mobil, lalu menurunkan kaca jendela untuk menatap ke luar. Angin yang bertiup membuat bulu matanya yang halus dan panjang bergetar lembut. Di antara mereka berdua, tidak ada lagi percakapan. Saat Cecil dan Bryan baru bersama, wanita itu selalu punya banyak hal untuk dibicarakan. Namun, sekarang keinginan untuk berbagi dan berkomunikasi dengan Bryan sudah menghilang bersama dengan cintanya. Sesampainya di kediaman Keluarga Jayadi, Cecil dan Bryan masuk bersamaan satu demi satu. Ayah Bryan, Dirga Jayadi, adalah seorang pengusaha. Biasanya dia sangat tegas terhadap Bryan, tetapi di depan Cecil, dia adalah seorang Ayah yang penyayang. "Cecil sudah datang. Aku sudah menyuruh Bibi Sarti membuat banyak makanan kesukaanmu. Makanannya akan disajikan sebentar lagi." Baru saja Dirga selesai bicara, Paula Laksmana dan Yovita turun dari tangga dengan bergandengan tangan. Begitu melihat Cecil, pasangan ibu dan anak itu sama-sama tidak menunjukkan ekspresi yang ramah. Saat makan, Yovita sengaja bersikeras duduk di antara Bryan dan Cecil, bahkan merengek meminta Bryan mengambilkan makanan untuknya. "Yang tumbuh bersama sejak kecil memang memiliki perasaan yang berbeda." Paula berbicara sambil menatap Cecil dengan penuh makna. Perut Cecil merasa mual, tidak nafsu makan sama sekali. Dia meletakkan sendoknya, lalu berkata kepada Dirga. "Paman, pernikahanku dan Bryan nggak jadi diadakan. Bryan sudah mengatakan tentang hal ini pada Paman, 'kan?" Bab 7 Dirga terdiam. Sepertinya dia sama sekali tidak mengetahui tentang hal ini. "Kenapa nggak jadi? Bukannya undangan sudah disebarkan?" tanya Dirga. Bryan menundukkan kepalanya. Dia belum menemukan kesempatan untuk memberi tahu Dirga tentang penundaan pernikahannya. Bryan tidak menyangka Cecil akan lebih dulu membuka mulut menyinggung hal ini. Cecil melemparkan pertanyaan kepada Bryan, "Paman sebaiknya bertanya pada Bryan saja tentang hal ini. Karena ini adalah keputusannya." Dirga menatap Bryan dengan wajah serius, lalu bertanya dengan tegas, "Urusan apa yang lebih penting dari urusan seumur hidupmu? Undangan sudah disebarkan, apa kamu ingin membuat kerabat dan teman-teman menertawakan keluarga kita?" Sebelum Bryan sempat membuka mulut, Yovita lebih dulu berkata dengan manja, "Ayah, jangan menyalahkan Kakak. Kakak menunda pernikahannya demi merawatku." "Omong kosong!" Dirga sangat marah. "Kamu juga sudah bukan anak kecil lagi, kenapa nggak mengerti juga? Aku nggak tahu bagaimana ibumu mengajarimu." Meskipun bukan anak kandungnya, Dirga memperlakukan Yovita seperti anaknya sendiri selama bertahun-tahun Yovita mengikuti Paula ke Keluarga Jayadi. Dirga menyayanginya seperti permata di telapak tangannya. Dirga sangat jarang berbicara dengan sikap keras seperti ini kepada Yovita. Untuk sesaat, Yovita tidak bisa menerimanya. Air matanya seperti untaian mutiara yang putus. Wanita itu menangis sambil berlari keluar rumah. "Apa harus sampai ribut seperti ini baru kamu merasa puas?" ujar Bryan. Pria itu langsung mengejar keluar tanpa ragu. "Lihat dirimu, kenapa kamu bicara begitu keras pada putrimu? Kalau Yovita sampai putus asa, aku nggak akan diam saja!" kata Paula. Paula menatap Cecil dengan tatapan tajam, mengibaskan tangannya, lalu naik ke lantai atas. "Cecil, kamu duduk saja dulu. Aku akan bicara baik-baik dengan bibimu." Dirga mengikuti Paula naik ke atas. Tidak tahu sudah berapa kali adegan seperti ini berlangsung. Cecil sudah tidak terkejut lagi. Cecil tiba-tiba merasa semua ini sangat membosankan. Drama ini sudah berlangsung terlalu lama, membuatnya merasa sangat muak. Selain karena Bryan selalu memihak Yovita, alasan lain kenapa wanita itu bisa seenaknya mengganggu hubungan mereka adalah karena Paula yang tidak mendidiknya dengan disiplin. Yovita adalah kesayangan orang tuanya. Namun, bukankah Cecil juga anak kesayangan orang tuanya? Cecil ingin pergi, tetapi kesopanan dan didikan yang dia terima tidak mengizinkannya mengabaikan orang tua dan pergi begitu saja. Cecil naik ke lantai dua, ingin berpamitan secara langsung kepada Dirga. Namun, saat sampai di depan pintu kamar Dirga, Cecil mendengar suara Dirga dari celah pintu. "Kenapa kamu bisa begitu bodoh? Ada kekurangan dana 40 miliar yang harus ditutup di perusahaan. Bank sudah menolak untuk memberikan pinjaman pada kita. Keluarga Wijaya itu punya banyak uang. Setelah Cecil menjadi menantu keluarga kita, baru aku akan meminta Keluarga Wijaya untuk menyuntikkan modal ke perusahaan kita. Kalau perusahaan bangkrut, dengan uang apa kamu akan membeli barang-barang mewah itu?" "Aku tahu kalau Yovita menyukai Bryan. Apa kamu nggak bisa meminta dia bersabar sedikit lagi? Dia sampai membuat keributan seperti itu. Tunggu sampai perusahaanku pulih dulu. Nanti kalau Bryan ingin bersama dengan Yovita, aku nggak akan menentang. Sekarang kamu urus dia dengan baik. Jangan sampai dia membuat masalah lagi untukku!" Ekspresi Cecil menjadi makin serius. Ternyata Paman Dirga yang penyayang di matanya, tidak lebih dari orang yang mengutamakan keuntungan, hanya ingin memanfaatkannya. Lalu, bagaimana dengan Bryan? Apa pria itu setuju menikah dengannya dulu, juga untuk memanfaatkannya? Ujung jari Cecil terasa dingin. Dia melangkah dengan susah payah, diam-diam meninggalkan kediaman Keluarga Jayadi. Cecil tidak ingin tinggal sedetik pun di sini. Ketika memikirkan Bryan dan keluarganya, Cecil merasa mual. Enam tahun masa mudanya sudah terbuang percuma. Cecil baru saja sampai di rumah ketika Bryan juga kembali. Pria itu langsung berjalan ke kamar tidur untuk mengambil dua potong baju dengan terburu-buru. Tanpa sengaja, dia melihat koper yang ada di samping lemari. "Apa ini?" tanya Bryan. Cecil mencari alasan, "Sekarang pergantian musim, aku mau mendonasikan baju yang nggak terpakai." Bryan mengangguk, sama sekali tidak mencurigai alasan ini. "Yovita melukai dirinya sendiri lagi sampai dirawat di rumah sakit. Aku harus ke rumah sakit untuk merawatnya selama waktu ini. Beberapa hari ini aku akan tinggal di rumah sakit, nggak akan pulang," jelas Bryan. Bryan pergi dengan sangat tergesa-gesa. Dia bahkan tidak menyadari ada banyak barang yang menghilang di rumah. Saat melihat sosok Bryan yang menghilang di pintu depan, hati Cecil justru merasa lebih lega dan bebas. Setelah Cecil memblokir semua kontak Bryan, dia menulis di secarik kertas. [Bryan, kita putus saja. Aku akan menikah dengan orang lain.] Cecil meletakkan kertas dan kunci di rak sepatu di pintu depan. Setelah melakukan semua ini, dia menyeret kopernya, langsung menuju bandara. Sejak saat ini, tidak akan ada lagi Cecil di dunia Bryan.