Ah! Mantap Mas Ramli

Đang tải thông tin quảng bá...

Ah! Mantap Mas Ramli

GoodNovel Hoàn thành

"Ramli, hamili istriku, aku akan membayarmu dua puluh kali lipat dari gajimu!" Ramli, duda anak tiga dari desa, terpaksa bekerja untuk CEO kaya. Namun, kedua majikannya terus bertengkar karena lima...

Chương (1)

第1章

"Ramli, hamili istriku, aku akan membayarmu dua puluh kali lipat dari gajimu!" Ramli, duda anak tiga dari desa, terpaksa bekerja untuk CEO kaya. Namun, kedua majikannya terus bertengkar karena lima tahun ini, mereka tidak dikaruniai anak. Ramli yang butuh uang, tepaksa harus melakukan kerjasama. Perlahan, Vina mulai merasa nyaman dan ketagihan dengan sang pelayan. Hingga akhirnya mereka terjebak dalam hubungan yang sangat rumit. Apalagi saat Vina tahu sang suami telah mengkhianati dirinya dengan memiliki selingkuhan. Yang lebih mengejutkan adalah, Ramli sebenarnya bukan pelayan biasa hingga semua orang terkejut! Bab 1 Bersedia membantu "Dua puluh juta, apa masih kurang?" Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina. Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman. Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya. Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya. Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia. Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan. Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga. Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri. Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita. "Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNG Bab 2. Ramli versi tampan Ramli garuk-garuk kepalanya, sebagai seorang duda, tentunya ia juga harus menjaga nama baiknya sebagai duda yang baik dan tidak nakal. Ia datang ke rumah Vina dan suaminya karena permintaan Rangga sendiri sebagai balas budinya kepada Ramli, karena telah menyelamatkan Rangga dari serangan preman-preman. "Iya, saya tahu diri, Pak. Saya cuma pelayan di rumah ini. Pekerjaan saya cuma beres-beres dan mengamankan rumah Anda. Ya, aneh aja kalau saya disuruh melakukan itu sama Bu Vina. Apa nanti Bu Vina tidak jijik sama saya? Habis main sama Pak Rangga yang ganteng dan bening, eh tiba-tiba main sama saya, muka kek codot gini. Takutnya Bu Vina malah lari sebelum eksekusi!" kata pria itu. Rangga tertawa lepas mendengar ucapan Ramli yang lucu. Sedangkan Vina, wanita itu tampak datar dan cenderung cemberut. Apa yang dikatakan oleh Ramli ada benarnya, mana bisa ia menikmati sebuah percintaan jika pasangannya seperti Ramli. "Ramli, Ramli, kamu ada-ada saja. Sudahlah, jangan berpikir seperti itu. Istriku sudah setuju dan targetku, bulan depan kamu harus sudah menghamilinya, sekarang dia sedang dalam masa subur. Jika kamu setuju, hari ini aku pesankan kamar hotel, kita pergi ke hotel sama-sama, kamu dan Vina bisa melakukannya di sana. Tapi, aku memberimu waktu tidak lebih dari dua jam, setelah itu kamu harus sudah selesai dan keluar dari kamar itu, bagaimana?" tawar Rangga yang terdengar di luar nalar. Hanya demi sebuah karir, pria itu tega membuat istrinya disentuh oleh laki-laki lain. "Di hotel, sekarang?" Ramli membulatkan matanya. "Kenapa? Kamu tidak bisa?" sambung Rangga dengan menautkan kedua alisnya. "Kenapa harus di hotel? Di rumah kan bisa, Pak?" jawab Ramli memberi pilihan lebih mudah. "Ya bisa juga sih, masalahnya sekalian aku ketemu dengan klien, jadi aku tunggu kalian di lobi hotel, setelah dua jam, kalian harus sudah selesai, dan kita pulang seperti biasa!" jawab Rangga. "Harus malam ini, Pak? Aduh, apa tidak terlalu cepat? Masih ada hari esok dan esoknya lagi!" Ramli bertanya lagi untuk memastikannya. "Bukankah lebih cepat lebih baik? Mumpung istriku sedang masa subur," sambung Rangga. "Ya, iya sih, Pak. Masalahnya apa Bu Vina setuju. Kalau saya sih terserah, nurut saja!" jawab Ramli patuh. Lalu, Rangga menoleh pada sang istri. "Bagaimana, sayang? Apa kamu sudah siap malam ini?" tanya Rangga sambil tersenyum meyakinkan istrinya. "Hah, entahlah, Mas. Aku bingung! Harus dengan si Ramli, ya? Nggak bisa gitu sama Lee Min Ho atau Shahrukh Khan? Biar semangat kalau main. Benihnya juga udah premium. Masa main sama pelayan, pasti nanti anaknya item dan dekil!" jawab Vina yang sudah bisa membayangkan bagaimana Ramli menyentuh dirinya. Sengaja ia menghibur dirinya sendiri karena malam ini, Ramli, pria dari kampung itu akan menyentuhnya. Memberikannya benih yang akan tumbuh di rahimnya. "Sudah, tidak apa-apa. Ramli juga tidak seburuk yang kamu kira. Kamu merem aja nggak usah lihat mukanya. Ingat tujuan awal kita adalah punya anak, oke!" kata Rangga yang terus merayu istrinya untuk bersedia pergi ke hotel. "Ya udahlah, terserah kamu. Tapi aku minta, Ramli didandani dulu, biar nggak kayak orang desa. Setidaknya dia sedikit kelihatan beda lah. Masa datang ke hotel dengan baju dia yang enggak banget!" pinta Vina yang sudah hafal dengan bagaimana penampilan Ramli sehari-hari. Setelah mendengar permintaan istrinya, Rangga melihat penampilan Ramli dari atas sampai bawah. Memang terkesan sangat sederhana bagi pria seusia dirinya. "Oh, itu bisa diatur. Kamu tidak perlu khawatir! Sebelum kita pergi, aku akan mengubah penampilan Ramli sesuai keinginanmu, yang penting kamu nyaman!" kata Rangga. Rangga pun menyodorkan surat perjanjian kerjasama untuk Ramli dengan tanda tangan di atas materai. Isi perjanjian kerjasama itu terdiri dari poin-poin penting. Bahwasannya, setelah Vina dinyatakan hamil, maka Ramli tidak boleh berhubungan lagi dengan Vina dengan alasan apa pun. Kedua, anak yang dikandung Vina dari benih Ramli, akan menjadi anak biologi Rangga secara hukum. Dan yang paling penting adalah, Ramli tidak boleh mengambil hak asuh atau mengklaim dirinya sebagai ayah biologis dari anak Vina nanti jika sudah dewasa. Rangga akan memberikan uang muka secara langsung di hadapan Ramli dan sisanya akan dibayar setelah Vina dinyatakan positif hamil. Dan Ramli wajib menyembunyikan kerja sama itu untuk selamanya. Setelah membaca beberapa persyaratan tersebut. Ramli pun bersedia untuk tanda tangan di atas materai. Jika salah satu syarat itu dilanggar, maka Rangga akan memprosesnya secara hukum atau memberikan pelajaran kepada Ramli dan keluarga beserta ketiga anaknya. Sebuah tanda tangan telah dibubuhkan di atas kertas bermaterai yang berisi perjanjian tersebut. Tanpa ada ikatan pernikahan, Rangga meminta Ramli untuk menghamili istrinya. "Deal!" Akhirnya, perjanjian kerjasama itu telah dibuat. Selanjutnya, sesuai permintaan Vina, Rangga membawa Ramli pergi ke sebuah salon untuk merubah penampilan pria itu. Di sisi lain, Vina juga bersiap untuk pergi. Demi sang suami, ia rela melakukan apa saja agar rumah tangganya tetap utuh, karena ia sangat mencintai suaminya. Vina berangkat bersama suaminya, sedangkan Ramli, pria itu akan menyambut kedatangan Rangga dan Vina di hotel. Karena ia sudah pergi terlebih dahulu ke salon dan setelah dari sana, Ramli langsung datang ke hotel yang sudah disepakati. "Sudah selesai! Uwuuuu ini beneran kan pembantunya Pak Rangga? Duh ternyata cakep juga, yak! Macho eim!" ucap pegawai salon yang takjub melihat perubahan Ramli setelah dipermak. Pria itu terlihat lebih keren macho dengan setelan celana panjang warna hitam dan kemeja berwarna marun. Warna kulit pria itu keluar auranya. Usianya jauh terlihat lebih muda. Ia yang biasa sibuk membersihkan rumah majikannya, hari ini Ramli terlihat seperti bos besar dengan gaya tatanan rambutnya yang stylish. Postur tubuhnya pun sangat mendukung sekali. Lengan pendek kemeja marun itu dilipat ke atas sehingga menunjukkan otot-otot lengannya yang kekar. Belum lagi dada bidangnya yang sempurna. Wanita mana yang tidak akan melirik Ramli dalam mode tampan. Jam setengah tujuh malam, Ramli sudah datang di hotel, ia menunggu kedatangan majikannya yang akan datang sebentar lagi di halaman hotel. Siapa sangka, kehadiran Ramli di hotel itu menjadi pusat perhatian para wanita yang melihatnya. Tak jarang mereka menyapa dan meminta foto bersama, bak Ramli adalah seorang artis. Tak berselang lama, Rangga dan Vina tiba di hotel yang sudah dipesan untuk malam di mana Ramli akan mentransferkan benihnya langsung ke dalam rahim Vina. Pasangan suami-istri itu tampak terkejut saat melihat ada beberapa wanita yang berkerumun di halaman hotel. "Ada apa ya, Mas?" tanya Vina penasaran. "Entahlah, mungkin ada artis yang datang, biasalah!" jawab Rangga menebak. "Si Ramli kemana coba, kok jam segini belum datang juga!" imbuh Rangga sambil menghubungi nomor Ramli. Rupanya, panggilan itu langsung tersambung ke ponsel Ramli yang sedang dikerubuti oleh banyak wanita. Ramli segera menerima telepon dari majikannya. "Permisi, permisi, saya mau angkat telpon!" pamit Ramli keluar dari kerumunan wanita yang mengitarinya. "Halo, Pak. Anda di mana?" Ramli mencari-cari keberadaan sang majikan yang belum ia ketahui keberadaannya. "Aku ada di depan lobi hotel, kamu di mana?" balas Rangga sambil melihat ke arah luar di mana ada kerumunan wanita di sana. Memastikan keberadaan Ramli. "Astaga, bikin bete aja. Kayak nungguin artis saja!" gerutu Vina yang sejatinya ia tidak mood untuk berangkat. Siapa sangka, Rangga melihat ada seorang pria yang sedang melambaikan tangan kepadanya. "Paakkk! Saya di sini!!" Suara Ramli seketika membuat Rangga dan Vina menoleh. "Itu Ramli??" Vina yang semula terlihat bete, tiba-tiba wanita itu membulatkan matanya saat melihat sosok pria yang mirip sekali dengan Ramli. Namun, dalam versi tampan. BERSAMBUNG Bab 3 Matikan lampunya Ramli segera berlari ke arah Rangga dan Vina. Malam ini, pria itu terlihat sangat kharismatik, berwibawa dan pastinya lebih macho dan seksi dari penampilannya yang sehari-hari. Benar kata pelayan salon, Ramli terlihat seperti bos besar ala-ala mafia. Wajahnya yang tegas dengan tatapan matanya yang tajam, semakin membuat penampilan Ramli lebih memukau dari Rangga. "Ramli? Kenapa mukanya jadi beda?" gumam Vina terkejut dan pangling. Wanita itu yang semula tidak terlalu memperhatikan wajah sang pelayan, hari ini entah kenapa wajah Ramli tidak bosan untuk dipandang. Tapi tetap saja, Vina tak ingin menjatuhkan dirinya. Ia masih menganggap Ramli adalah pria desa yang menjadi pelayannya. Dan baginya hanya Rangga pria paling tampan dan tidak ada yang menandinginya. Rangga melihat kedatangan Ramli. Lalu setelah Ramli sampai di depan mereka. Pria itu mengajak Ramli untuk masuk ke dalam hotel. "Maaf, Pak Rangga, Bu Vina. Tadi saya tidak melihat kalau Bapak sama ibu sudah datang," ucap Ramli sambil menundukkan kepalanya layaknya seorang pelayan. "Tidak apa-apa, lagipula aku dan istriku baru saja datang. Ayo kita masuk, aku akan daftar dan cek in!" jawab Rangga sambil menggandeng istrinya masuk ke dalam hotel. Ramli mengangguk dan berjalan di belakang mereka. Sementara itu, Vina yang berjalan di samping sang suami, sejenak ia menoleh ke belakang di mana Ramli sedang berjalan mengikuti mereka. Ramli tersenyum sambil mengangguk saat Vina menoleh padanya. Vina langsung memalingkan wajahnya dan menatap ke arah depan. "Issh, kenapa aku noleh sih. Dasar bodoh!" gerutu Vina yang saat itu sedang memakai gaun berwarna hitam dengan siluet A line dengan belahan sampai ke paha, menunjukkan bentuk tubuhnya yang ramping bak gitar spanyol. Rambutnya yang panjang disanggul ke atas, memamerkan leher jenjangnya yang seksi dan menggoda. Ramli melihat penampilan sang majikan yang sangat menggoda. Sebagai pria normal apalagi seorang duda, tentu saja Ramli dibuat menelan ludah melihat kecantikan dan keanggunan istri majikannya. "Wanita secantik ini, bagaimana bisa Pak Rangga tega menyerahkann pada pelayan miskin seperti aku! Kasihan sekali, harusnya dia disayang suaminya, tapi suaminya malah membayar pria lain untuk menghamilinya. Aku sendiri tidak bisa nolak, kebutuhan anak-anakku paling utama. Maafkan bapak anak-anakku, ini semua bapak lakukan demi kalian. Pekerjaan yang sangat mudah, bikin adek untuk kalian. Tapi, nanti adek kalian akan dibawa sama mereka!" gumam Ramli dalam hatinya. Sesampainya di meja resepsionis, Rangga segera mendaftar untuk cek in menggunakan identitasnya sendiri. Ia memesan kamar VVIP untuk istri dan pelayanannya. Setelah ia memesan kamar, Rangga membawa Ramli dan istrinya untuk pergi ke kamar. Di lantai atas nomor 201 adalah kamar VVIP yang akan dibuat sebagai tempat untuk mentransfer benih Ramli ke rahim Vina. Rangga membuka kunci pintu dengan menggesek kartu khusus untuk pembuka pintu kamar tersebut. Pintu pun terbuka, Rangga membawa masuk istri dan pelayan pria itu. Kamar yang luas dan dipenuhi oleh fasilitas mewah. Ramli tercengang saat melihat kemewahan kamar kelas atas itu. Sesuai permintaan Vina, Rangga ingin istrinya merasa nyaman saat berhubungan intim dengan pelayannya. Entahlah, seolah rasa cemburu itu sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup Rangga. Pria itu justru memberikan fasilitas yang mewah saat istri dan pelayan rumahnya akan melakukan aktivitas gila yang biasa dilakukan oleh suami istri. "Waduh, Pak. Kamarnya besar sekali. Kamar ini lebih luas dibandingkan rumah saya di desa!" kata Ramli yang baru pertama kali masuk ke dalam kamar hotel mewah. "Ya, jika tugasmu berhasil, kamu bisa membangun rumah yang lebih besar dari kamar hotel ini. Pasti anak-anakmu sangat senang, ayahnya sukses dan bisa membangun rumah baru di desa!" kata Rangga. Sesekali pria itu melihat ke arah jam tangan. Hari itu ia juga sedang ada janji dengan kliennya untuk makan malam di hotel itu. Vina sendiri masih menggandeng tangan suaminya seolah ia tidak mau ditinggal pergi oleh sang suami. Rasanya sangat tidak nyaman berada di dalam satu ruangan dengan pria lain. Sungguh, sebenarnya Vina merasa sangat takut. "Baiklah, aku tinggal sekarang. Klien kita sudah menunggu di lantai bawah. Baiklah sayang, aku tinggal sebentar ya, setelah aku dan Mr. Edward selesai makan malam, kita akan segera pulang. Dan tentunya kamu juga sudah selesai dengan Ramli!" kata Rangga sebelum pria itu pergi. "Tapi, Mas! Aku takut!" jawab Vina yang terlihat gugup. "Jangan takut! Anggap saja kamu sedang bercinta denganku, bayangkan wajahku saja, bila perlu matikan lampunya, oke!" ucap Rangga meyakinkan sang istri. Ramli sendiri masih terpesona dengan desain kamar hotel mewah itu. Sebagai orang desa, tentunya desain mewah itu tidak pernah ia jumpai di sekitar tempat tinggalnya. Akhirnya setelah berhasil merayu istrinya, Rangga keluar dari kamar. Meninggalkan sang istri berdua saja dengan sang pelayan. "Daaah, aku pergi dulu. Ingat kata-kataku! Bayangkan wajahku dan matikan lampunya!" Kalimat terakhir sebelum Rangga menutup pintu. BERSAMBUNG Bab 4 Bagaimana rasanya, enak? Pintu akhirnya tertutup, untuk terakhir kalinya Vina melihat wajah suaminya sebelum ia melihat wajah pria lain. Wanita itu menarik napas panjang sebelum ia memulainya. Hati kecilnya berkata tidak, namun rasa cintanya yang teramat besar kepada sang suami, membuat wanita itu melakukan hal yang gila. Berhubungan badan dengan pelayannya. Udara di kamar itu memang dingin, tapi bagi Vina, rasanya masih sangat panas. Sepanas hatinya yang ingin segera keluar dari kamar ini. Hingga akhirnya, suara berat seorang pria memanggil wanita itu. "Bu Vina, mari minum dulu!" Ramli menawarkan minum untuk wanita itu. Minuman yang sudah disediakan khusus untuk mereka. Rangga sengaja memesan bir untuk mereka berdua. Vina menoleh dengan wajah dingin. Sesungguhnya wanita itu tidak pernah ingin melakukan hal gila ini. Tapi tuntutan dari suami dan keluarganya, membuatnya nekad untuk menerobos dosa paling terlarang yang konon katanya, rasanya sangat nikmat dari pasangan sah. "Bu Vina tidak minum?" tawar Ramli lagi. Wanita itu memegangi kepalanya yang pusing, merutuki dirinya yang saat ini terjebak dalam hubungan yang rumit. Ramli tahu apa yang ada di dalam hati wanita itu. Ia juga tidak serta-merta memaksanya untuk mau berhubungan dengan dirinya. "Bu Vina sedih, ya? Apa Bu Vina menyesal dengan perjanjian kita? Jika Bu Vina menyesal, saya tidak keberatan untuk membatalkan kerjasama kita dan uangnya akan saya kembalikan saja ke Pak Rangga!" "Jangan! Kamu tidak usah melakukan itu. Aku tidak akan membatalkan kerjasama kita. Aku cuma butuh waktu sebentar, tolong! Kepalaku sangat pusing sekali. Bisa kah kamu biarkan aku tenang dulu!" mohon Vina. Ramli mengangguk dan mengerti. Pria itu pun tidak akan bertanya macam-macam lagi. Hanya saja ia merasa kasihan melihat kondisi Vina yang kurang fit malam ini. Bagaimana bisa wanita itu menerima benihnya dengan baik jika Vina dalam keadaan seperti itu. "Maaf Bu Vina. Saya lihat Bu Vina kurang enak badan. Kalau Bu Vina mau, saya bisa bantu pijitin kepala dan area leher. Biasanya otot-otot di daerah itu suka tegang dan bikin pusing! Dulu, waktu di desa saya sering mijitin kepala Emak saya yang suka pusing, setelah saya pijit katanya udah nggak pusing lagi dan sembuh!" tawar Ramli yang masih bersikap hormat seperti pelayan Vina biasanya, meskipun penampilannya saat itu terkesan sangat macho dan gagah. Sejenak, Vina berpikir, apa yang dikatakan oleh Ramli ada benarnya. Tidak ada salahnya jika ia meminta bantuan kepada pria itu untuk memijit kepalanya. "Beneran kamu bisa mijitin kepala?" jawab Vina. Ramli mengangguk sambil tersenyum. "Kalau Bu Vina tidak percaya, bisa dicoba sekarang!" jawab Ramli percaya diri. Vina menggerakkan bola matanya ke kanan-kiri untuk memastikan dirinya mengizinkan sang pelayan menyentuh kepalanya. Setelah beberapa saat setelah berpikir, Vina pun setuju bersedia untuk dipijit. "Oke, silakan dipijit! Terus, aku harus duduk di mana?" jawab wanita itu tampak memilih posisi yang tepat. "Bu Vina duduk di situ saja, biar saya yang naik ke ranjang!" jawab Ramli bersiap untuk naik di atas ranjang ukuran Big size itu. "Oke!" Vina masih duduk di tempatnya. Lalu, perlahan Ramli naik dan memposisikan dirinya di belakang sang majikan. Aroma harum dari tubuh Vina cukup membuat konsentrasi Ramli sedikit terganggu. Wangi itu sangat lembut namun membuat hidung ingin sekali menciumnya lebih dalam. "Tubuh Bu Vina sangat harum, pasti wanita ini sangat pandai merawat dirinya. Astaga, kulitnya sangat mulus tanpa cela. Kalau aku jadi suaminya, aku tidak akan membiarkan laki-laki lain menatap kecantikannya apalagi sampai berhubungan badan. Pak Rangga memang suami yang sangat aneh!" batin Ramli. Vina belum merasakan tangan Ramli memijit kepalanya, wanita itu pun langsung protes sambil menoleh ke samping. "Ramli, kenapa lama sekali? Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya dengan tegas. Ramli terkesiap, lamunannya buyar seketika saat suara Vina memanggilnya. "Emmm iya Bu, maaf! Saya cuma kagum sama ibu. Bu Vina sangat mencintai Pak Rangga rupanya, sampai-sampai Bu Vina harus mau berada di kamar ini bersama saya!" kata Ramli. Vina menghela napas dan kali ini ia tidak ingin membicarakan itu lagi. "Sudahlah, aku sedang tidak ingin bicara tentang itu. Cepat pijitin, udah pusing banget ini!" desak Vina yang bersiap untuk mendapatkan pijitan spesial dari sang pelayan. "I-iya, Bu!" Tangan kekar Ramli, mulai menyentuh kepala Vina. Lalu menekannya pelan-pelan, pria itu tahu di mana titik saraf untuk meringankan sakit kepala. Tangannya turun ke bawah, tepatnya di pangkal leher sebelah luar. "Ahhhh lumayan juga pijatan tangan Ramli, kepala jadi nggak tegang lagi!" gumam Vina sambil menikmati pijatan lembut itu. Vina semakin memejamkan matanya saat pijitan Ramli membuatnya sangat rileks. Hingga akhirnya, entah kenapa pijatan tangan Ramli tiba-tiba membuat Vina sedikit gugup. Pasalnya, pria itu memijit dengan sangat lembut dan begitu dekat, apalagi saat tangan Ramli menekan pangkal lehernya lalu turun ke pundak dan dada bagian atas. Kedua bola mata Vina melirik ke bawah di mana tangan besar Ramli hampir saja sampai pada dua gundukan kenyal miliknya. Napasnya mulai tak beraturan, seolah Ramli tahu di mana letak titik-titik syaraf yang bisa membuat rileks bahkan keenakan. "Bagaimana rasanya Bu, enak?" bisik pria itu di telinga Vina. BERSAMBUNG Bab 5 Pelukan Vina membuka matanya dan langsung melepaskan tangan Ramli dari pundaknya. Tentu saja Ramli sangat terkejut dengan sikap Vina yang tiba-tiba pergi. "Sudah cukup! Terima kasih banyak atas pijitin nya, sekarang udah agak mendingan!" kata wanita itu sambil duduk sedikit menjauh dari Ramli. Ramli sendiri juga tidak bisa memaksa majikannya. Pria itu pun ikut duduk di ranjang yang sama namun mereka saling berjauhan. "Maaf jika saya sudah membuat Bu Vina merasa tidak nyaman," kata Ramli merasa tak enak hati. "Tidak apa-apa, santai saja!" jawab Vina yang sejatinya ia juga sangat gugup. "Baiklah, saya akan berusaha untuk santai, lalu...setelah ini kita ngapain lagi? Apa kita segera ke tujuan utama? Bikin anak?" Kata-kata Ramli langsung membuat Vina meremang, bulu kuduknya berdiri, bukan karena ada setan, tapi kata-kata Ramli terasa menghantui pikiran melebihi seekor setan. "Emmm gimana, ya! Jujur, aku tuh nggak bisa nafsu dengan pria lain selain sama suamiku sendiri. Jadi, aku minta maaf jika nanti aku nggak bisa bayangin wajahmu, karena hanya suamiku yang selalu ada di pikiranku!" kata Vina terus terang. Ramli tertawa dan bisa memahami ucapan istri majikannya. "Tidak apa-apa, Bu Vina. Saya sangat mengerti sekali. Tapi, saya akan usahakan untuk membuat Bu Vina senyaman mungkin, saya juga tidak mungkin menyakiti Anda. Saya akan melakukannya sesuai request, jika Anda minta slow, oke saya bisa. Anda minta kecepatan sedang-sedang saja, saya juga tidak keberatan. Bahkan, Anda minta full tenaga, saya juga tidak masalah sama sekali!" Kata-kata Ramli cukup membuat Vina tertawa kecil. Rasanya aneh saja, untuk membicarakan hal tabu itu terasa seperti memesan ojek. Ramli melihat Vina tertawa kecil, pria itu pun garuk-garuk pelipisnya, apa salah dengan ucapannya? Bukankah ia dibayar untuk menghamili istri orang? Seharusnya ia harus bisa memberikan pelayanan yang senyaman mungkin untuk Vina. Agar wanita itu tidak trauma misal mereka melakukan hubungan intim lagi jika kehamilan belum berhasil. "Kenapa ketawa, Bu? Ada yang lucu, ya?" tanya Ramli sambil mengulum senyumnya. Vina menegakkan kepalanya, sejenak wanita itu tersenyum hingga menunjukkan deretan giginya yang putih bersih. Beda sekali dengan gigi Ramli yang berwarna putih keruh bahkan cenderung kekuningan karena terlalu banyak minum kopi dan merokok. "Astaga, apa yang sedang terjadi pada kita, Ramli? Ini sangat tidak masuk akal, bukan? Lucu sekali!" kata Vina sambil menggelengkan kepalanya. Ramli ikut tertawa, "Entahlah, Bu. Saya juga tidak menyangka bisa mendapatkan pekerjaan seperti ini dari Pak Rangga. Menghamili Anda adalah sesuatu yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, sepertinya kita sama-sama membutuhkan hal ini. Bu Vina ingin anak, dan saya ingin membiayai anak-anak saya di desa!" kata Ramli yang seketika menarik perhatian Vina untuk membicarakan anak-anak pria itu. "Anak-anakmu tinggal sama neneknya?" tanya Vina. Ramli mengangguk lemah. "Ohhh, lalu, apa kamu tidak ingin menikah lagi? Kamu masih muda dan kuat, pasti banyak wanita yang ingin menjadi istrimu!" kata Vina lagi. Ramli menundukkan wajahnya sambil menggelengkan kepala. "Saya berjanji tidak akan menikah lagi. Almarhum istri saya adalah wanita terakhir dalam hidup ini, saya hanya fokus membesarkan anak-anak, itulah kenapa saya merantau ke Jakarta dan kebetulan bertemu dengan Pak Rangga saat beliau dikejar-kejar preman." Ramli mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya. "Beliau membawa saya ke rumah kalian dan dipercaya sebagai kepala pelayan. Sungguh, ini adalah kehormatan untuk saya, sampai akhirnya, saya harus melakukan sesuatu yang sangat besar yakni... Dibayar untuk menghamili istrinya!" "Memang tidak sesuai dengan hati kecil saya, tapi rengekan anak kedua yang ingin dibelikan sepeda, membuat hati saya goyah, terpaksa saya harus menerima tawaran Pak Rangga. Maafkan saya, Bu!" ungkap Ramli yang seketika membuat Vina merasa kasihan. "Iya, aku juga seperti itu. Rasanya ini sangat mustahil ya, kan? Tapi, Papa terus mendesakku untuk segera punya anak. Jika tidak, Papa akan memecat suamiku dari jabatannya dan aku tidak ingin itu terjadi, aku sangat menyayangi suamiku. Kamu ngerti perasaanku, kan?" balas Vina yang tanpa sadar wanita itu menangis. Melihat wanita yang sedang menangis, membuat jiwa melankolis seorang Ramli luluh. Pria berotot itu tak tega melihat Vina bersedih, reflek pria itu bergerak mendekat dan duduk di samping Vina. "Aku takut sekali, Ram! Takut kehilangan semuanya!" Vina makin sesenggukan. Sontak, Ramli memeluk wanita itu untuk menenangkannya. Dan entah kenapa, Vina langsung menyandarkan kepalanya pada dada besar sang pelayan. Seakan-akan ia merasa mendapatkan ketenangan ketika berada di dalam pelukan pria itu. BERSAMBUNG Bab 6 Tawaran kenikmatan Tak sadar jika dirinya sedang bersandar di dada Ramli, Vina nampak begitu nyaman, seolah dirinya lupa jika sedang bersama seorang pelayan. Perlahan Ramli mengusap lengan wanita itu, memberikannya kenyamanan karena ia tahu jika Vina sama seperti dirinya. Terpaksa melakukan itu demi sebuah hal yang sangat mereka sayangi. Sadar jika dirinya berada di pelukan pelayan itu, Vina segera mengangkat wajahnya dan sedikit menjauh dari Ramli. "Ma-maaf, aku tadi tidak bermaksud...!" "Tidak apa-apa, Bu. Bagaimana kalau kita minum dulu. Setelah itu kita mulai. Waktu kita cuma sebentar, kata Pak Rangga hanya dua jam tidak lebih!" potong Ramli sambil menuangkan bir ke dalam sebuah gelas. "Maaf, aku tidak minum bir!" sahut Vina menolak. "Dicoba sedikit, Bu. Nggak seburuk yang Bu Vina kira. Saya juga kurang terlalu suka jika berlebihan. Paling cuma dua gelas saja untuk menghangatkan tubuh. Tapi, Bu Vina nggak minum juga tidak apa-apa, toh nanti saya yang akan menghangatkan ibu!" kata Ramli tanpa dosa. Vina memutar bola matanya saat mendengar ucapan pelayan itu. Wanita itu melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan. Rangga memberikan waktu sampai jam sembilan malam. Tentu saja masih ada waktu satu setengah jam untuk adaptasi sebelum melakukan aktivitas utama. Sejenak Vina melihat wajah Ramli yang kali ini aura gagahnya sangat terlihat. Ternyata pelayan yang biasa bekerja di rumahnya itu tidak terlalu buruk rupa. Ia melihat pria itu meneguk segelas bir dengan santainya seolah rasa minuman itu biasa-biasa saja seperti air putih. "Bu Vina mau? Jangan bengong lihatin saya terus, ah saya jadi malu. Kalau mau biar saya ambilkan!" tawar Ramli ketika ia melihat Vina yang sedang menatapnya. Setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya Vina mencoba sedikit minuman beralkohol itu. Siapa tahu bisa membuat pikirannya rileks sebelum dieksekusi oleh sang pelayan. "Boleh, tapi sedikit saja, jangan banyak-banyak!" jawab Vina. Ramli tersenyum senang, lalu pria itu menuangkan bir ke dalam gelas dengan takaran sebanyak seperempat gelas. Setelah itu, Vina menerimanya dan berusaha untuk meminumnya meskipun ia ragu. Sejenak ia mencium aroma alkohol yang cukup kuat, kemudian memalingkan wajahnya karena ia tidak terbiasa dengan minuman seperti itu. "Baunya gini amat, kayak bau kencing kuda!" gerutu Vina. Ramli tertawa kecil mendengar ucapan sang majikan. "Memang seperti itu, Bu. Dicoba saja pelan-pelan, nanti juga akan terbiasa!" Vina kembali mendekatkan bibir gelas itu pada bibirnya. Aroma alkoholnya memang sangat menyengat. Vina menahan napas ketika ia hendak meminumnya. Sedangkan Ramli, pria itu tampak tersenyum melihat bagaimana majikannya belajar minum bir. Ramli sendiri juga heran, wanita sosialita seperti dia bagaimana bisa tidak suka dengan minuman seperti itu. Perlahan namun pasti, Vina berusaha untuk meminum bir tersebut. Sambil memejamkan matanya dan menahan napas, wanita itu mulai memasukkan minuman beralkohol itu ke dalam mulutnya. Baru saja seteguk, Vina merasa mulutnya sangat getir dan pahit. Wanita itu spontan menyemburkannya tepat di depan Ramli. Sehingga membuat baju pria itu basah oleh semburan bir dari mulut Vina. "Hah, maaf! Aku nggak sengaja, rasanya nggak enak banget, cuih!" Vina sontak melihat baju Ramli yang basah karena ulahnya sambil mengusap mulutnya dengan tisu. "Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa maklum!" Ramli melihat bajunya yang basah separuh. Pria itu terpaksa melepas kemejanya yang basah. Melihat Ramli yang sudah bertelanjang dada, wanita itu tercengang kala melihat bentuk badan pria itu nyaris sempurna bak dewa Yunani. "Oh my god! Dia cuma pelayan, tapi badannya bisa sehat bugar seperti itu. Nggak kayak badan Mas Rangga yang perutnya buncit. Ramli badannya kokoh banget, udah pasti tenaganya juga nggak kaleng-kaleng!" gumam Vina yang hampir saja terhipnotis oleh pesona sang pelayan. "Nggak, nggak! Aduhhh, ngapain juga mikirin tuh pelayan. Pelayan ya tetap akan menjadi pelayan, nggak ada yang bisa nandingi Mas Rangga! Astaga, bagaimana bisa aku hamil anak pria ini, terus nanti gimana hasil cetak muka anakku, bisa sial kalau muka dan kulitnya kayak dia!" Vina merutuki dirinya sendiri yang hampir tergoda dengan kegagahan Ramli. Setelah Ramli melepaskan pakaiannya, pria itu sekalian melepaskan celananya, mengingat waktunya cuma sebentar. Sontak, apa yang dilakukan pria itu membuat Vina terperanjat. "Ramli, kenapa celananya dilepas juga?" sahut wanita itu sambil memalingkan wajahnya. Bagaimana tidak, kini Ramli hanya mengenakan celana dalam model sederhana. Bak binaraga yang sedang berdiri menampilkan otot-ototnya yang kekar. Vina menelan ludahnya susah-susah saat tubuh atletis itu berdiri nyata di hadapannya. Perut kotak-kotak bak roti sobek serta otot-otot di tubuhnya yang sangat seksi. Menunjukkan pesona Ramli yang gagah dan sangat menggairahkan. Dengan santainya, Ramli menjawab pertanyaan Vina. "Waktu kita tidak banyak, Bu. Kita belum pemanasan, masa ujug-ujug langsung dimasukin, nanti Bu Vina menjerit kesakitan, saya tidak mau itu terjadi. Sebisa mungkin saya akan membuat Bu Vina merasa nyaman dan juga keenakan!" Jawaban Ramli yang serius dan konyol lagi-lagi membuat Vina membulatkan matanya. "Heh, keenakan ya...!" Vina mulai gugup setelah Ramli berbicara demikian. Ramli kembali tersenyum, lalu pria itu berjalan mendekati istri majikannya. "Bukan cuma keenakan, Bu Vina bisa minta request kenikmatan yang seperti apa, mau berteriak nikmat, kejang-kejang enak, atau berkali-kali klimaks? Semuanya saya bisa!" Tawaran Ramli sangat-sangat menggiurkan dan makin membuat jantung Vina berdetak semakin kencang. BERSAMBUNG Bab 7 Permainan dimulai "Eh... Bisa request juga?" jawab Vina sambil berjalan mundur mengimbangi langkah kaki Ramli yang terus mendekat. "Tentu saja, Bu. Mari kita mulai, biar waktunya cukup sampai jam sembilan!" kata Ramli dengan sangat percaya diri. Vina sendiri makin gugup dan bingung harus memulainya dari mana. "Kita mulai dari mana dulu? Aku masih bingung!" jawab Vina sambil menatap perut Ramli yang kotak-kotak. Sejujurnya, baru kali ini ia melihat tubuh laki-laki yang berotot dan sixpack. "Bukannya Bu Vina sudah sering melakukannya dengan Pak Rangga? Kenapa harus tanya saya dulu?" Ramli memberikan pertanyaan sambil memegangi dan mencium rambut Vina yang panjang dan harum. Spontan, Vina yang merasa tidak nyaman, wanita itu langsung menepis tangan Ramli. "Jangan pegang-pegang!" ucapnya ketus. "Cuma pegang rambut kepala saja masa nggak boleh? Padahal nanti saya malah pegang rambut lainnya yang nggak sepanjang rambut kepala Bu Vina," celetuk pria itu. Vina makin dibuat geregetan dengan ucapan Ramli yang agak-agak menjurus dan sensitif. "Diam! Jangan bercanda! Aku tidak suka kamu pegang-pegang rambutku!" ucapan Vina ketus dan lagi-lagi membuat Ramli tertawa. "Kalau saya nggak boleh megang Bu Vina, gimana saya mau transfer benih saya ke rahim ibu? Itu cuma dipegang rambutnya, Bu Vina udah mencak-mencak, belum saya pegang yang lainnya, pasti Bu Vina bakal ngamuk!" jawab Ramli dengan santainya. Vina kembali merasa gelisah dan apa yang dikatakan oleh Ramli memang ada benarnya. Dirinya memang tidak terbiasa disentuh oleh laki-laki lain selain suaminya sendiri. Kesetiaan selalu ia nomor satukan. "Emmmm a-aku tidak terbiasa disentuh laki-laki lain. Aku harap kamu bisa mengerti!" jawab Vina. Ramli tersenyum sambil terus mendekati Vina yang terlihat gugup. Kini, pria itu berada di depan Vina hanya dengan jarak sejengkal saja. "Ya, sekarang Bu Vina harus belajar disentuh sama saya. Pak Rangga aja ngizinin kita berhubungan intim, jadi ya Bu Vina harus bisa menerima saya malam ini... Apa saya yang harus memulainya? Tapi, saya tidak akan menyentuh Anda duluan sebelum Bu Vina memberikan izin!" tawar Ramli sembari tersenyum manis, ia masih bersikap sopan dengan meminta izin terlebih dahulu. Dag dig dug jantung Vina makin berguncang. Ramli memang tidak terlalu tampan, tapi entah kenapa senyum pria itu terlihat sangat manis. Padahal warna giginya tidak putih-putih amat. Vina masih gugup plus bingung. Sungguh, ini di luar komitmennya tentang kesetiaan. Wanita itu memegang keras faham kesetiaan dan ketaatan kepada suami. Tapi jika suaminya sendiri yang meminta, dia bisa apa! Di saat kebingungan melanda Vina. Tiba-tiba ponselnya mengirim notifikasi pesan dari sang suami. "Emmm bentar, aku lihat ponsel dulu!" Vina pamit dan segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya. Wanita itu kini membelakangi Ramli yang masih sabar menunggu sang majikan untuk siap. Vina tersenyum saat ia mendapatkan pesan dari sang suami, ia berharap suaminya memberi kabar baik. Lalu, Vina membuka pesan tersebut. Senyum manis yang awalnya terukir di bibir mungilnya. Kini berganti menjadi senyum kecut yang memaksa Vina harus ikhlas dan pasrah. Rangga mengirimkan beberapa foto anak-anak Ramli yang ada di desa. Terlihat dua anak laki-laki dan satu anak perempuan yang ada di tengah. Kemudian, anak perempuan yang wajahnya mirip dengan Ramli namun versi cantik, adalah anak kedua dari tiga bersaudara itu. Rangga memberikan penjelasan bahwa keturunan Ramli tidak buruk. Bahkan cenderung sangat berkualitas. Anak pertama Ramli adalah cowok yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga, sedangkan anak keduanya, baru akan naik ke kelas satu, sementara anak terakhir, masih berusia satu setengah tahun. "Jangan ragu lagi, Sayang. Kau lihat anak pertama Ramli! Fisiknya kuat mirip bapaknya, tinggi badannya juga oke, umur segitu tinggi badan kayak anak udah SMP. Bayangan nanti anak kita juga tinggi seperti anaknya Ramli. Pasti dia bakal jadi pria yang gagah. Benih Ramli nggak kaleng-kaleng, sayang. Ayo buruan!" Vina membaca chat dari suaminya sambil memijit pelipisnya. Wanita itu lalu menutup ponselnya dan meletakkan kembali di dalam tasnya yang ada di atas ranjang. Sambil menghela nafas berat, dia pikir mungkin ini waktunya melakukan itu dengan Ramli. Entahlah, apakah tubuhnya akan menolak pria itu atau menerimanya. Ramli masih setia berdiri di belakang Vina. Vina pun tidak punya pilihan lain. Ia pun meminta Ramli untuk memulainya terlebih dahulu. "Baiklah, kamu saja yang mulai. Aku sedang malas!" titah Vina memberikan izin kepada Ramli agar pria itu menyentuhnya. "Baiklah, Bu Vina. Saya akan mematuhi perintah Anda! Mohon jangan ditahan, Bu Vina rileks saja. Jangan khawatir, saya tidak mungkin menyakiti Anda!" jawab Ramli. Pria itu berjalan mendekati Vina yang berada tiga langkah di depannya. Vina sendiri nampak meremas tangannya karena hari ini ia akan memberikan tubuhnya untuk pria lain. Hanya butuh satu detik,Ramli sudah berdiri tepat di depan Vina. Ramli berbisik di belakang tengkuk wanita itu. Suaranya yang pelan membuat Vina tiba-tiba merinding. "Bu Vina siap?" Vina mengangguk sambil memejamkan matanya. Entahlah, apa mungkin ia akan terus memejamkan mata seperti perintah suaminya saat Ramli sedang melakukan tugasnya. Senyum terukir dari bibir pria itu. Ramli tidak menampik jika istri majikannya memang sangat cantik, seksi dan masih muda. Mungkin lima tahun lebih muda darinya. Pria itu mengawalinya dengan menyentuh pundak Vina. Napas Vina semakin sesak, tangan besar itu telah menyentuh kulit pundaknya. Tangan Ramli terasa kasar, sebagai pelayan tentu saja ia diwajibkan untuk bisa melakukan pekerjaan rumah. Namun, meskipun begitu, ada sensasi geli-geli aneh kala tangan itu mengusap lengan Vina sampai akhirnya turun ke bawah, menggenggam tangan Vina erat. Demi apa pun, genggaman tangan Ramli, rasanya sangat berbeda tidak seperti bagaimana Rangga yang melakukannya. Ramli tahu jika Vina sangat gugup, pria itu pun berusaha untuk membuat Vina senyaman mungkin. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Ramli akan memberikan pelayanan terbaik untuk sang majikan. Ujung bibirnya yang berwarna sedikit menghitam, mulai mengecup pundak Vina dari ujung sampai ke pangkal leher. Panas dingin tiba-tiba mendera tubuh Vina. Bulu-bulu halus yang tumbuh di wajah Ramli menambah sensasi geli bercampur aliran aneh yang tiba-tiba menuju ujung syaraf. Kecupan itu tidak berhenti di sana, Ramli meningkatkan kecupannya, naik ke leher atas dengan gerakan yang super lembut dan begitu mengalun. Vina yang semula cuma diam sambil memejamkan matanya, akhirnya wanita itu mengeluarkan suara desahannya yang manja. "Ahhhh!" Sementara salah satu tangan Ramli, berpindah tempat ke arah yang lebih berbahaya. Tangan kokoh itu merambat dan menyibak rambut Vina sedangkan tangan satunya melingkar pada pinggang Vina yang ramping. Mendekatkannya pada tubuh Ramli yang sudah siap untuk melayani dan menghamili sang majikan. Vina makin meremang, awalnya ia yakin tidak akan bisa tertarik dengan sentuhan pria desa itu. Tapi nyatanya, Vina mulai merasakan getaran-getaran aneh yang menginginkannya untuk disentuh lebih dalam. Ciuman Ramli masih menelusuri leher Vina yang jenjang, apalagi saat ini punggung mulus itu terpampang jelas di depan mata. Satu tangan Ramli bergerak, membuka resleting gaun yang dikenakan oleh sang majikan. Gaun yang langsung dipakai tanpa dalaman, memudahkan Ramli untuk menyentuh kulit cantik Vina yang begitu menggoda. Suara resleting yang terbuka menunjukkan bahwa gaun yang dikenakan Vina telah terpisah dari kulit tubuhnya. Wanita itu membelalakkan matanya saat ia merasa bahwa gaunnya akan terlepas dari tubuh. Matanya kembali terpejam saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh punggungnya. Iya, Ramli memberikan kecupan mesra di punggung Vina, pelan bergerak dari atas lalu turun, hingga akhirnya ciuman itu berakhir di pinggang belakang Vina seiring jatuhnya gaun malam yang Vina kenakan. BERSAMBUNG