Tanpamu, Hidupku Makin Bersinar

Đang tải thông tin quảng bá...

Tanpamu, Hidupku Makin Bersinar

GoodNovel Hoàn thành

Pada ulang tahun pernikahan kelima, Rebecca menemukan bahwa akta nikahnya palsu. Sementara itu, suaminya menikahi seorang gadis yang dibesarkannya di Andoria, negara di mana seseorang hanya boleh meni...

Chương (1)

第1章

Pada ulang tahun pernikahan kelima, Rebecca menemukan bahwa akta nikahnya palsu. Sementara itu, suaminya menikahi seorang gadis yang dibesarkannya di Andoria, negara di mana seseorang hanya boleh menikah sekali seumur hidupnya. Suaminya memang mencintainya. Semua kelembutan suaminya terhadapnya juga tulus. Namun, hati suaminya terlalu besar hingga mampu menampung dua wanita sekaligus .... Bab 1 Setelah lima tahun menikah, Rebecca Winata akhirnya hamil. Sesuai peraturan di negara mereka, dia segera mengajukan surat izin melahirkan. Dia berniat untuk menjadikannya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kelima untuk suaminya, Darren Hernanda. Ketika memasukkan informasi akta nikah mereka, sistem berulang kali menunjukkan peringatan bahwa akta itu tidak valid. "Bu Rebecca, apa kamu yakin akta ini asli?" Petugas itu terlihat bingung setelah menerima notifikasi kegagalan berulang kali. Rebecca juga merasa agak kesal. "Kami sudah menikah selama lima tahun, mana mungkin itu palsu?" Petugas itu mencoba sekali lagi, lalu mengembalikan akta nikah tersebut kepada Rebecca dan berkata, "Sebaiknya kamu periksa dulu ke kantor catatan sipil. Punya akta palsu itu ilegal. Sekarang, orang lajang juga bisa ajukan surat izin melahirkan." Rebecca mengerti maksud petugas itu dan pergi ke kantor catatan sipil di sebelah. Ketika dia keluar dari kantor catatan sipil, wajahnya terlihat pucat pasi dan kegembiraan yang memenuhi wajahnya sebelumnya sudah lenyap. Kata-kata petugas kantor catatan sipil berulang kali menghantam hatinya. "Kamu dan Pak Darren sama-sama lajang. Akta nikah yang kamu pegang ini palsu ...." Pernikahan mereka yang telah berlangsung selama lima tahun ... ternyata palsu! Rebecca dan Darren adalah teman masa kecil. Semua orang tahu Darren sangat mencintainya, juga sangat ingin memberinya hal-hal terbaik di dunia. Jadi, kenapa Darren memberinya akta nikah palsu? Rebecca segera membeli tiket pesawat dan pergi ke Andoria untuk menemui Darren yang sedang dalam perjalanan bisnis. Dia ingin menanyakan dengan jelas faktanya. Ketika menemukan hotel di mana Darren menginap, Rebecca kebetulan melihat sebuah pernikahan sedang berlangsung. Andoria adalah negara yang unik. Penduduknya hanya bisa menikah sekali seumur hidup. Di negara ini, tidak ada perceraian. Status duda atau janda seseorang hanya bisa dikarenakan oleh pasangan yang meninggal. Rebecca tidak tertarik untuk menonton upacara itu. Dia berjalan melewati kerumunan untuk menuju lift. Namun, matanya tidak sengaja tertuju pada mempelai pria yang dikelilingi kerumunan dan dia langsung merasa bagaikan disambar petir! Pria itu mengenakan jaket kulit dan celana ketat yang dipadukan dengan sepatu bot tinggi, baret, serta ikat pinggang merah yang lebar. Itu adalah pakaian khas orang lokal. Senyum bahagia menghiasi wajahnya. Pria itu tak lain adalah Darren, suami yang telah dinikahi Rebecca selama lima tahun. Jika tidak melihatnya secara langsung, dia pasti sulit membayangkan Darren berpakaian seperti itu. "Selamat atas pernikahanmu, Kak Darren!" "Harus kuakui, Kak Darren memang luar biasa. Baik di dalam maupun luar negeri, pernikahannya sangat megah!" "Tapi Kak Darren, apa kamu serius dengan Cecilia, gadis kecil dari keluarga miskin itu?" Seseorang bertanya dengan rasa ingin tahu, "Apa ini nggak termasuk bigami? Gimanapun, bukannya Kak Darren sudah nikah lama sama Kak Rebecca di dalam negeri?" "Kamu nggak tahu, 'kan? Demi tunggu Cecilia dewasa, Kak Darren nggak pernah benar-benar daftarkan pernikahannya dengan Kak Rebecca di dalam negeri. Secara hukum, Kak Darren belum menikah selama lima tahun ini!" "Bisa begitu? Kak Darren benar-benar luar biasa!" Rebecca yang berdiri di antara kerumunan seketika terpaku di tempat. Seluruh darah dalam tubuhnya seolah-olah sudah membeku. Dia mengira dirinya salah dengar, tetapi kata-kata pria itu selanjutnya langsung membuat hatinya tenggelam. "Aku tentu saja serius soal Cecil. Demi selamatkan nyawa Becca dulu, dia sudah pertaruhkan nyawanya. Dia juga rela hidup dalam bayang-bayang Becca selamanya. Yang dia inginkan cuma pernikahan yang langgeng dan aku bisa memberikannya," ujar Darren secara perlahan. Setiap patah katanya sudah dipertimbangkan dengan saksama. Rupanya begitu! Mata Rebecca berkaca-kaca. Ternyata Darren sendiri yang mengurus akta nikah palsu itu. Lima tahun yang lalu, Rebecca mengalami kecelakaan mobil. Cecilia, seorang siswi yang baru masuk SMA itu yang membawanya ke rumah sakit dan mendonorkan darah untuk menyelamatkannya. Cecilia berasal dari keluarga miskin. Dia hidup saling bergantung dengan ibunya yang sakit kritis. Demi berterima kasih kepada Cecilia atas pertolongannya, Rebecca dan Darren menanggung semua biaya sekolahnya, bahkan mengatur agar Cecilia dapat kuliah dan bepergian ke luar negeri. Darren berkata bahwa Cecilia yang telah menyelamatkan Rebecca setara dengan telah menyelamatkan dirinya. Dia rela memberikan segalanya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya. Tak disangka, caranya mengungkapkan rasa terima kasih juga mencakup membesarkan Cecilia hingga dewasa dan menikahinya. Yang lebih konyol lagi, selama lima tahun ini, Rebecca sama sekali tidak menyadarinya, juga tidak tahu sejak kapan mereka bersama. Sahabat Darren bertanya lagi, "Gimana dengan Kak Rebecca? Memangnya kamu nggak takut ketahuan sama dia?" Darren menunduk, jari-jari rampingnya dengan cepat mengetuk layar ponsel. Nada suaranya dipenuhi dengan keyakinan yang samar. "Aku akan terus mencintai Becca seperti biasa, tapi dia nggak akan pernah tahu hal ini. Kalian semua harus perhatikan ucapan kalian. Jangan sampai Becca tahu." Pada detik berikutnya, ponsel Rebecca bergetar. Setelah membaca pesan Darren, jantungnya berdebar kencang dan hawa dingin menjalar di sekujur tubuhnya. [ Sayang, aku sudah rindu sama kamu. Aku sama sekali nggak pengen lakukan perjalanan bisnis ini. Setiap detik yang kulalui waktu berpisah denganmu terasa bagaikan siksaan. Aku akan usahakan untuk pulang di hari ulang tahun pernikahan kita. Love you. ] Rebecca menggenggam ponselnya erat-erat sambil melirik Darren yang berjalan menjauh. Rasa sakit yang menusuk membuncah di hatinya. Penglihatannya menjadi kabur akibat air mata yang menggenang di matanya. Ini bukan Darren-nya. Darren-nya adalah teman masa kecilnya, anak laki-laki yang kakinya patah saat memanjat jendela demi membantunya mengambil jepit rambut yang jatuh, tetapi malah menghiburnya untuk tidak menangis. Darren-nya adalah pemuda yang mendaki hingga ke puncak gunung bersalju di usia 18 tahun hanya untuk menyatakan cintanya. Darren-nya juga bersumpah untuk mencintainya selamanya dan tidak akan pernah berbohong padanya. Darren-nya adalah pria yang menulis 9.999 pucuk surat cinta dan membuat 100 macam kue untuk melamarnya di usia 20 tahun. Darren-nya adalah pria yang secara pribadi merencanakan pernikahan termegah seabad untuknya di usia 22 tahun, juga pria yang terus menempel padanya seharian dan menolak untuk berpisah dengannya setelah menikah .... Darren-nya bukanlah pembohong di depannya ini, yang mengaku mencintainya, tetapi malah menikahi wanita lain. Hati Rebecca terasa bagaikan disayat pisau. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Ponselnya bergetar lagi. itu adalah telepon dari Darren. Setelah ragu sejenak, dia baru menjawab. "Sayang, kamu ada di mana? Sudah makan? Kenapa tempatmu berisik sekali?" Suara Darren masih selembut biasa dan dipenuhi dengan rasa cinta untuk Rebecca setiap saat. "Darren, kamu lagi ngapain?" Rebecca secara naluriah mengeratkan genggamannya di ponsel. Dia sedang berpikir jika Darren mengaku, dia akan berbicara baik-baik dengan Darren dan memberi mereka satu kesempatan lagi. Darren menjawab tanpa ragu, "Aku lagi rapat. Karena terlalu merindukanmu, aku keluar untuk meneleponmu. Sayang, kamu lagi belanja? Beli saja apa pun yang kamu suka." Bibir Rebecca tiba-tiba berkedut, sedangkan cahaya di matanya meredup. Dia terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab pelan, "Oke." Darren langsung menyadari keanehan Rebecca dan merasa gelisah. "Sayang, kamu lagi nggak senang? Kamu boleh langsung cerita ke aku kalau ada hal yang membuatmu sedih." "Aku perlu coba beberapa pakaian. Sudah dulu, ya." Rebecca menutup telepon, lalu mengamati Cecilia yang mengenakan gaun pengantin lokal dan menyelinap ke dalam pelukan Darren tidak jauh dari sana. "Sayang, aku cantik?" "Cantik. Mau pakai apa saja, wanitaku tetap cantik." Bibir Darren melengkung membentuk seulas senyum. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Cecilia, lalu mencium keningnya dan tersenyum lembut. Senyumannya sangat menusuk mata Rebecca. Ternyata kelembutan dan kasih sayang Darren bukan hanya untuknya. Cinta dan hatinya bisa terbelah dua. 'Darren, kenapa hatimu bisa menampung dua wanita sekaligus?' tanya Rebecca dalam hati. Kemudian, Rebecca melarikan diri dari hotel dengan panik. Dia berjongkok dan meringkuk di sebuah gang, lalu membiarkan air matanya jatuh. Setelah hampir pingsan karena menangis, dia baru perlahan-lahan berdiri dengan secercah tekad di matanya. Rebecca sudah tidak menginginkan pernikahan palsu berusia lima tahun ini. Dia juga tidak menginginkan Darren lagi! Berhubung Darren dan Cecilia sudah menjadi pasangan suami istri yang sah, Rebecca akan merestui mereka. Setengah bulan lagi, hari peringatan kematian orang tuanya akan tiba. Setelah memberi penghormatan terakhir, dia akan pergi dan menghilang sepenuhnya dari dunia Darren. Rebecca naik taksi ke bandara dan membeli penerbangan pulang yang paling awal. Hal pertama yang dia lakukan setelah kembali adalah menjadwalkan aborsi di rumah sakit. Bab 2 "Bu Rebecca, kamu mengalami cedera perut yang serius dalam kecelakaan mobil itu. Bisa hamil itu benar-benar adalah keajaiban. Kalau kamu gugurkan anak ini, kamu akan sulit untuk hamil lagi." Dokter itu menatap Rebecca dengan cemas dan menambahkan, "Sebaiknya kamu pertimbangkan lagi dan membicarakannya dengan suamimu." Rebecca mengepalkan tangannya dan hatinya terasa sakit. Darren tidak pernah memberi tahu hal ini kepadanya. Setiap kali anggota Keluarga Hernanda dan Keluarga Winata mendesak mereka untuk memiliki anak, Darren akan selalu melimpahkan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Dia mengatakan bahwa dirinya masih ingin melewati dunia milik berdua dan tidak ingin diganggu oleh kehadiran seorang anak. Mata Rebecca pun berkaca-kaca. Darren begitu memikirkannya dan takut dia sedih. Akan tetapi, tidak peduli betapa baiknya pun Darren, itu tidak dapat mengubah fakta bahwa Darren telah menipunya. "Terima kasih, Dokter. Aku akan memikirkannya." Rebecca keluar dari klinik dengan linglung, lalu tidak sengaja bertemu dengan Darren dan Cecilia yang sudah pulang di koridor. Darren dengan hati-hati membantu Cecilia keluar dari ruang USG. Dia terlihat gugup. Tatapannya yang lembut dan penuh kasih sayang tertuju pada Cecilia. Dia tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun. "Kak, jangan begitu gugup. Aku cuma hamil, bukan sakit," ujar Cecilia sambil tersenyum. Dia bertemu dengan Darren ketika masih sangat muda dan selalu memanggil Darren kakak. Setelahnya, dia juga tidak pernah mengubah panggilannya. Darren tersenyum dan tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya. "Tentu saja aku gugup. Ini anak pertama kita. Kita harus merawatnya dengan baik." Rebecca menggenggam erat lembar janji temu di tangannya. Suhu tubuhnya perlahan-lahan turun. Dia merasa seperti bisa mendengar suara hatinya yang hancur. Matanya terasa panas, tetapi tidak ada air mata yang mengalir keluar. Ternyata, saat rasa sakit sudah mencapai puncak, air mata juga tidak bisa keluar lagi. Darren memapah Cecilia masuk ke lift. Di belakangnya, Rebecca perlahan-lahan melonggarkan genggamannya pada lembar janji temu itu dan kembali ke klinik untuk menjadwalkan operasinya di lusa. Dia tidak ingin anaknya lahir di dunia penuh kebohongan, juga tidak ingin anaknya lahir tanpa ayah. Seolah-olah sedang dipermainkan oleh alam semesta, Rebecca bertemu lagi dengan Darren dan Cecilia di tempat parkir bawah tanah. Dia pun melaju mengikuti mereka tanpa sadar. Darren membawa Cecilia ke restoran berputar. Hati Rebecca langsung tenggelam. Itu adalah restoran berputar yang dirancang dan dibangun oleh Darren untuknya pada ulang tahun terakhirnya. Darren pernah mengatakan bahwa hanya dia seorang yang layak makan di sana. Sekarang, Darren malah membawa perempuan lain ke tempat itu. Di dalam restoran berputar, Cecilia duduk di kursi favorit Rebecca. Di depannya, tersaji hidangan penutup. Tak jauh dari sana, Darren berjalan keluar dengan mendorong gerobak makanan. Darren dengan anggunnya melepas bunga dari dadanya dan menyerahkannya kepada Cecilia. Sebuah kalung berlian menjuntai di bawah bunga itu. "Selamat! Putri kecilku akan segera jadi seorang ibu." "Kak ... terima kasih. Aku sangat gembira," ucap Cecilia. Dia hampir menangis karena terharu. "Kamu bahkan memasak untukku. Cepat biarkan aku mencicipinya! Seusai makan, kamu langsung pulang saja. Aku sudah memonopolimu selama berhari-hari. Sudah saatnya kamu pulang untuk temani Kak Rebecca." Cecilia mengerjap dengan kuat dan meneteskan dua tetes air mata. Darren yang merasa sakit hati memeluknya dengan erat dan berujar, "Dasar bodoh, aku nggak akan pergi ke mana pun hari ini. Aku akan tetap berada di sisimu." "Gimana dengan Kak Rebecca? Besok itu hari ulang tahun pernikahan kalian. Dia akan sedih kalau kamu nggak pulang untuk temani dia." "Aku sudah mengurusnya. Kamu nggak perlu khawatir." Darren mengelus kepala Cecilia dan membantunya mengenakan kalung itu. "Kamu sudah jadi istriku. Mulai sekarang, aku akan meluangkan lebih banyak waktu untukmu dan anak kita." Rebecca yang berdiri di sudut melangkah mundur dua langkah. Punggungnya bersandar di dinding yang dingin. Rasa dingin itu membuatnya menggigil. Benar juga, Cecilia barulah istri sah Darren. Sementara itu, dia hanyalah orang bodoh yang tidak memiliki status apa pun. Rebecca masih ingat ketika Darren membawanya ke restoran berputar untuk yang pertama kalinya, Darren juga menyiapkan kalung berlian untuknya. Darren bahkan diam-diam menyewa koki Michelin untuk mengajarinya memasak selama sebulan supaya bisa memasak untuknya. "Sayang, cobalah masakanku. Mulai sekarang, aku yang akan urus makanmu tiga kali sehari. Seumur hidupku, aku akan mencintaimu dengan baik dan hanya mencintaimu seorang," bisik Darren sambil mengenakan kalung itu ke lehernya. Kini, Darren telah memberikan cinta dan kasih sayangnya yang sama kepada Cecilia. Dada Rebecca terasa berat dan sakit. Seumur hidup yang dimaksud Darren terlalu singkat. Rebecca buru-buru berbalik dan meninggalkan restoran. Air mata mengalir membasahi wajahnya. Dia pergi ke firma hukum, lalu meminta pengacara untuk menghitung semua asetnya dan mengembalikan semua yang berhubungan dengan Darren kepadanya. Warisan yang ditinggalkan orang tua Rebecca sudah cukup untuk menghidupinya selama beberapa generasi. Dia tidak kekurangan uang dan hanya ingin segera memutuskan hubungan dengan Darren. Setelah senja, Rebecca baru menyelesaikan semua urusannya dan melaju pulang. Vila kosong itu hanya diterangi oleh lampu yang ditinggalkan pembantu untuknya. Rebecca bersandar lelah di sofa sambil memandangi foto-foto dirinya dan Darren yang memenuhi ruangan. Dadanya terasa berat dan setiap detak jantungnya terasa perih. Rebecca mengusap keningnya, lalu berdiri, dan menurunkan bingkai-bingkai foto yang menutupi seluruh dinding. Foto pertama mereka saat kecil, Rebecca mengenakan gaun merah muda dan Darren memujinya sebagai putri tercantik di dunia. Foto dansa pertama mereka, Darren memeluk pinggangnya dengan lembut dan memintanya berdansa hanya dengannya. Foto kencan pertama mereka, Darren memeluknya sambil memutar-mutarnya tanpa henti. Darren mengatakan bahwa dirinya adalah pria paling bahagia di dunia. ... Rebecca mengeluarkan satu per satu foto itu dari bingkai, lalu memasukkannya ke dalam mesin penghancur kertas. Seiring dengan hancurnya foto-foto itu, semua kenangan mereka juga ikut hancur. Sepanjang malam, Rebecca hanya melakukan hal ini. Dia menghapus setiap jejak kemesraan mereka di masa lalu tanpa menyisakan apa pun. Saat fajar, lengannya sudah mati rasa, tetapi Darren belum kembali. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka. Bab 3 Pada hari ulang tahun pernikahan mereka, Darren memosting esai singkat di akun media sosialnya tepat pada jam 12 malam. Esai itu berisi rasa cinta dan terima kasihnya yang tulus kepada Rebecca. Beberapa jam kemudian, jumlah suka dan repost postingan itu telah melampaui 10 juta kali. Video perjalanan cinta mereka yang diedit Darren secara pribadi diputar di layar-layar besar seluruh kota. Dia membuat semua orang merasakan cintanya kepada Rebecca. Entah sejak kapan, sekelompok orang juga sudah tiba di luar vila mereka. Mereka membentangkan 1.825 buket mawar di sepanjang jalan setapak. Di tengah jalan setapak, terletak sebuah cincin kristal berongga luar biasa besar yang berisi pakaian dan tas terbaru dari berbagai merek. Sebuah kotak musik kecil diletakkan di atasnya and memutar suara Darren yang merdu secara berulang. "Sayang, selamat hari ulang tahun pernikahan! Aku mencintaimu dan cintaku belum berubah." Rebecca tetap memasang ekspresi datar. Dia menutup pintu dan membenamkan diri di balik selimut, seolah-olah semua ini tak berarti baginya. Sesaat kemudian, Darren menelepon. Dia berkata dengan nada bersalah, "Sayang, ada sedikit masalah dalam kerja sama kali ini. Aku nggak bisa pulang untuk rayakan ulang tahun pernikahan kita bersama hari ini. Aku akan menebusnya nanti saat aku pulang." Mendengar kebohongannya yang buruk, Rebecca tiba-tiba tertawa hingga suaranya bergetar. "Nggak apa-apa. Kamu tangani saja urusanmu." "Sayang, kamu nggak senang?" Darren menyadari keanehan Rebecca dengan peka. Dia berujar, "Ada banyak kejutan yang sudah kusiapkan untukmu hari ini. Semoga kamu suka. Aku pasti akan menebusnya beberapa hari lagi." "Nggak, pekerjaan lebih penting. Aku cuma merasa kurang enak badan, mau tidur dulu," jawab Rebecca sebelum menutup telepon dengan dingin. Kemudian, Rebecca meringkuk dan berusaha menahan rasa sakit di hatinya. Di luar vila, keramaian itu masih terus berlanjut. Drone-drone yang dipersiapkan Darren menari di udara dan membentuk berbagai bentuk untuk mengekspresikan cintanya kepada Rebecca. Ada banyak wartawan yang bergegas datang dengan harapan dapat mewawancarai Rebecca untuk lanjut mempromosikan cinta mereka. Rebecca mengabaikan mereka. Ponselnya juga berdering berulang kali. Melihat nama Darren di layar, pandangannya kembali kabur. Dia ingin menjawab panggilan itu dan bertanya kenapa Darren mengingkari janjinya dan jatuh cinta pada wanita lain. Namun, pada akhirnya, Rebecca hanya mematikan ponselnya dan membenamkan kepalanya di balik selimut. Entah berapa lama waktu telah berlalu, selimutnya tiba-tiba terangkat dan seberkas cahaya terang menusuk mata Rebecca. Di bawah cahaya itu, Rebecca melihat Darren yang bertampang lesu. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat, sedangkan matanya dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan. Merasakan ketidaksenangan Rebecca, Darren bergegas kembali. Dia sudah menelepon Rebecca sepanjang jalan, tetapi Rebecca tidak menjawab. Dia pun ketakutan. Saat melihat Rebecca, Darren memeluknya erat-erat. Suaranya serak dan terdengar tercekat saat berkata, "Untung saja kamu ada di rumah! Sayang, maaf. Maaf." Mata Darren terlihat memerah, sedangkan tubuhnya gemetar pelan dengan tidak terkendali. "Aku nggak akan pernah lagi tinggalkan kamu sendirian di rumah. Waktu kamu nggak jawab teleponku, duniaku benar-benar seperti sudah hancur. Nggak ada yang lebih penting dari kamu. Aku sudah pulang untuk temani kamu rayakan hari ulang tahun pernikahan kita." Rebecca tetap diam dan Darren berasumsi dia masih marah. Dia pun berlutut dengan satu kaki dan membujuknya, "Sayang, berjanjilah padaku, jangan nggak angkat teleponku atau abaikan aku lagi. Aku akan sangat menderita." Kegugupan dan ketakutan Darren terlihat nyata. Dia mencintai Rebecca, tetapi cintanya bukan hanya untuk satu orang. "Cepat juga kamu pulangnya," kata Rebecca sambil tersenyum tipis. Wajah Darren agak memucat dan dia merasa agak gelisah. "Sayang, kamu sudah nggak makan seharian, 'kan? Ayo kita pergi ke restoran berputar." Darren mengganti topik pembicaraan dan dengan lembut merapikan rambut Rebecca dari dahinya. "Nggak mau," jawab Rebecca sambil menggeleng. Darren pun panik. "Kalau begitu, kamu istirahat saja dulu. Aku akan pergi masak untukmu." "Emm." Rebecca mengangguk dengan dingin, lalu berbalik untuk memunggungi Darren. Darren mengira Rebecca masih marah. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu meninggalkan kamar. Belasan menit kemudian, terdengar keributan dari lantai bawah. Rebecca pun berjalan turun. Ruang tamu vila dipenuhi dengan teman-teman Darren. Mereka sedang membantu menggantungkan kembali foto-foto yang baru dicetak ulang ke dinding. Melihat Rebecca, mereka semua mulai membela Darren. "Kak Rebecca, Kak Darren benar-benar ketakutan setengah mati. Aku belum pernah lihat Kak Darren segugup ini." "Waktu kamu marah lain kali, beri tahu saja kami. Kami akan bantu kamu lampiaskan amarahmu. Jangan buang foto-foto kalian lagi atau matikan ponselmu. Kak Darren bisa mati." "Kalau nggak bisa temukan Kak Rebecca, Kak Darren pasti jadi gila." "Benar! Waktu lihat dinding yang kosong, Kak Darren nyaris pingsan dan bahkan cari ke tong sampah." ... "Diam kalian semua!" Darren muncul dari dapur dengan mengenakan celemek. Dia terlihat marah. "Ini salahku. Aku yang buat istriku sedih. Sudah sepantasnya dia menghukumku." "Kak Darren benar-benar suami pemanja istri! Di hadapan Kak Rebecca, dia bahkan nggak peduli sama harga dirinya. Kak Rebecca benar-benar beruntung," ujar Cecilia sambil berjalan keluar dari kerumunan. Wajahnya dipenuhi rasa iri. Ekspresi Darren tetap tenang. Dia tersenyum lembut dan berkata, "Aku tentu saja harus manjakan istriku!" Rebecca langsung merinding dan merasa Darren sangat munafik. Namun, dia tidak ingin membongkar kebohongannya sekarang. Dia berujar dengan tenang, "Nggak perlu gantung foto-foto itu. Aku mau ganti warna dinding." Darren menghampiri Rebecca dan merangkul pinggangnya. "Oke, nggak usah digantung lagi semuanya. Aku akan turuti kata-kata istriku." "Kak Darren benar-benar seperti budak istri," goda seseorang. Namun, Darren tidak menganggapnya serius. Dia memapah Rebecca duduk di sofa dan kembali ke dapur untuk memasak. Darren memasak semua makanan yang Rebecca suka, tetapi Rebecca malah kesulitan untuk menelannya. Di sisi lain, Darren mengambilkan makanan untuk Rebecca dengan penuh perhatian, tetapi tangannya yang satu lagi malah saling bertautan dengan tangan Cecilia di bawah meja. Rebecca tiba-tiba merasa semua ini sangat membosankan. Dia sudah tidak sabar untuk meninggalkan tempat ini dan Darren. Seusai makan malam, Darren tidak memberi Rebecca kesempatan untuk menolak. Dia langsung membungkuk dan memakaikan kaus kaki dan sepatu ke kaki Rebecca, lalu menggendongnya keluar dari pintu. Teman-teman Darren yang berada di belakang tidak berhenti bersorak. Cecilia juga tersenyum dan ikut menggoda, tetapi Rebecca bisa dengan jelas melihat kilatan kebencian dan kecemburuan di matanya. Darren secara khusus menyiapkan pertunjukan kembang api di atas laut untuk Rebecca dan bahkan mengundang band favoritnya untuk tampil. Di tengah pertunjukan, Darren menggunakan alasan ingin pergi ke kamar mandi untuk meninggalkan tempat. Entah kenapa, Rebecca pun mengikutinya. Bab 4 Di ruang istirahat VIP, Cecilia menghambur ke pelukan Darren. Dia mengangkat wajahnya yang menawan dan mencium bibir Darren. "Kak, aku sangat merindukanmu. Biarkanlah aku menciummu sebentar." Darren melingkarkan satu tangan di pinggang Cecilia dan tangan lainnya di belakang kepalanya. Dia menanggapi ciuman itu dengan penuh gairah dan suhu ruangan tiba-tiba meningkat. Setelah beberapa saat, Cecilia tersipu dan mendorong Darren menjauh dengan terengah-engah. "Sudah, cepat kembali temani Kak Rebecca." "Kamu rela?" Mata Darren dipenuhi nafsu. Dia membelai bibir merah Cecilia dengan ujung jarinya. Cecilia menunduk dan menjawab, "Nggak, tapi aku nggak ingin Kak Rebecca sedih. Gara-gara aku, dia bahkan nggak jawab teleponmu. Aku bisa tunggu, sampai kamu kembali setelah temani Kak Rebecca." "Kamu benar-benar pengertian sampai buat orang merasa sakit hati. Aku juga nggak rela tinggalkan kamu. Sudah, patuhi saja aku. Jangan pikirkan orang lain dulu sekarang. Nikmati saja kegembiraan yang dibawakan suamimu." Darren mencium bibir Cecilia, lalu perlahan-lahan turun ke leher dan dadanya. Erangan nikmat keluar dari bibir Cecilia. Dia menancapkan kukunya di punggung Darren. "Kak, jangan cium aku di sana. Aku nggak tahan." "Dasar iblis kecil, bukannya kamu paling suka aku begini?" Menyaksikan kedua orang yang melakukan hal seperti itu, hati Rebecca terasa sangat dingin. Dia menggigit punggung tangannya kuat-kuat agar tidak menangis. Dia mengira hatinya tidak akan terasa sakit lagi. Namun, ketika melihat adegan itu dengan mata kepalanya sendiri, hatinya masih terasa tercabik-cabik. Darren benar-benar telah mengkhianatinya, baik secara mental maupun fisik. Rasa terbakar di perutnya membuatnya mual. ​​Dia menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi, lalu muntah-muntah hebat. Perut bagian bawahnya berdenyut sakit. Rebecca mengelus perutnya dengan pelan. Air mata mengaburkan pandangannya. 'Nak, maaf. Mama sudah biarkan kamu melihat sisi buruk papamu. Maafkan Mama karena nggak bisa lahirkan kamu ke dunia ini,' gumam Rebecca dalam hati. Wajah Rebecca sangat pucat. Dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan terhuyung-huyung. Dek sangat ramai, tetapi masih belum terlihat sosok Darren dan Cecilia. Setelah pertunjukan kembang api selesai, Darren dan Cecilia baru kembali secara bergiliran. Wajah Cecilia terlihat berseri-seri karena sudah dipuaskan. Cecilia sengaja duduk di sebelah Rebecca, lalu membuka sebuah kotak beludru dan berkata sambil tersenyum, "Kak, ini hadiah untukmu. Aku membuatnya sendiri. Terima kasih kalian sudah merawatku. Lima tahun yang lalu, bukan aku yang menyelamatkanmu, melainkan kalian yang menyelamatkanku. Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia." Di dalam kotak itu, terdapat sebuah gelang berwarna hijau yang mengilap hingga menyilaukan mata. Rebecca menatap Cecilia dengan tatapan kosong, lalu menjawab sambil tersenyum tipis, "Kamu simpan saja untuk dirimu sendiri. Aku nggak suka." Tangan Cecilia gemetar dan matanya langsung memerah. Dia secara naluriah melirik Darren. Namun, Darren berlagak seperti tidak menyadari tatapan Cecilia. Tatapan lembutnya terpaku pada wajah Rebecca, seolah-olah hanya Rebecca yang ada di matanya. "Istriku nggak suka. Kamu simpan saja." Cecilia menyimpan hadiah itu dengan perasaan sedih. "Kalau begitu, apa aku boleh bersulang dengan Kak Rebecca? Aku harap Kak Rebecca bahagia selalu." Rebecca tidak menolak lagi. Dia menerima minuman yang ditawarkan Cecilia dan menyesapnya. Cecilia kembali tersenyum, lalu berbalik untuk pergi. Ketika berbalik, ada kilatan jahat yang melintasi matanya. Kakinya tersandung kursi dan dia jatuh ke lantai sambil berteriak kaget. Dia memegangi perutnya dengan tampang kesakitan. "Sakit banget." Semua orang terlonjak kaget. Orang-orang yang berada paling dekat dengan Cecilia bergegas menggendongnya. Ketika melihat noda merah tua di roknya, orang itu pun terkejut dan buru-buru melirik Darren. Rebecca juga secara refleks menatap Darren. Namun, ekspresinya tetap tenang. Melihat Rebecca menatapnya, Darren tersenyum lembut dan menggenggam tangannya. Dia berkata kepada orang itu dengan santai, "Kamu bawa saja dia ke rumah sakit. Aku akan temani istriku sampai akhir pertunjukan." Cecilia dikawal turun dari perahu oleh yang lain. Sementara itu, Darren menggenggam tangan Rebecca sepanjang waktu sambil menyaksikan penampilan band. Jika Rebecca belum tahu tentang hubungan mereka, dia pasti akan tertipu oleh akting Darren. Hatinya terasa makin dingin dan rasa sakit di perut bagian bawahnya makin hebat. Tepat ketika dia hendak mengatakan ingin pulang, ponsel Darren berdering. "Pak Darren, karena kamu terburu-buru pulang siang tadi, masalah pada kontrak itu belum selesai. Apa kamu bisa datang ke perusahaan sekarang?" Terdengar suara cemas asisten Darren di ujung telepon. Darren mengerutkan kening dan terdiam beberapa detik sebelum menutup telepon. Ketika dia menatap Rebecca, secercah rasa bersalah terpancar di matanya. "Sayang, aku harus pergi ke perusahaan. Kamu tunggu saja dulu di sini sebentar. Aku akan minta sopir menjemputmu. Oke?" Rebecca tersenyum sinis dalam hati, tetapi menjawab, "Oke, pergilah." Darren berdiri dan hendak mencium keningnya, tetapi Rebecca berpura-pura batuk dan berbalik. Tanpa sempat berpikir panjang, Darren langsung pergi dengan tergesa-gesa. Rebecca tahu Darren akan pergi ke rumah sakit. Rasa sakit di hatinya telah mereda. Dia menunggu selama setengah jam, tetapi sopir masih belum tiba. Tiba-tiba, Rebecca merasakan sakit yang menusuk di perutnya hingga seluruh tubuhnya membungkuk. Dia melirik pecahan kaca di lantai dan sebuah pikiran absurd melintasi benaknya. Cecilia telah meracuni minumannya. Rebecca berjuang untuk bangkit, lalu memunguti pecahan kaca yang tersisa dan menyimpannya. Rasa sakit di perutnya makin hebat dan menjalar dari lambung ke perut bagian bawah. Dia bisa dengan jelas merasakan suatu kekuatan merobek perut bagian bawahnya dan sesuatu yang panas mengalir keluar dari tubuhnya. Rebecca secara naluriah menelepon Darren, tetapi Darren tidak menjawab. Sementara itu, telepon sopir juga tidak dapat dihubungi. Dengan sisa tenaganya, Rebecca menghubungi nomor darurat .... Bab 5 Ketika tersadar lagi, Rebecca sudah berada di rumah sakit. Dia sempat linglung untuk sesaat. Dia menyentuh perutnya yang rata dan hatinya terasa sangat sakit. Anaknya telah tiada. "Pasien ranjang 23, di mana anggota keluargamu? Biaya pengobatanmu harus dibayar. Kamu mengalami keracunan logam berat dan harus bekerja sama dengan penyelidikan polisi. Anakmu nggak terselamatkan," jelas perawat itu secara mendetail setelah melihat Rebecca sadar. Jari-jari Rebecca gemetar. Dia mengambil ponselnya dan menelepon Darren, tetapi ponselnya dimatikan. Dia pun memaksakan senyum kecut. Setelah pergi semalam, Darren tidak menjawab teleponnya dan bahkan tidak menghubunginya kembali. Darren pernah berkata bahwa dirinya akan selalu ada saat Rebecca membutuhkannya. Sekarang, dia malah tidak menjawab teleponnya demi menemani Cecilia. "Aku nggak punya anggota keluarga. Aku akan bayar biayanya sendiri," jawab Rebecca dengan lemah. "Kamu masih nggak boleh turun dari tempat tidur. Biar aku saja yang bantu kamu mengurusnya. Kamu harus istirahat," ujar perawat itu sambil menghentikan Rebecca dengan ramah. Setelah menyelesaikan catatannya dan meninggalkan kamar rawat inap, perawat itu menghela napas dengan penuh arti. "Sama-sama perempuan, tapi perbedaan nasibnya begitu besar. Yang satu cuma ada tanda-tanda keguguran, tapi suaminya begitu cemas sampai langsung pesan kamar VIP dan suruh tim medis terbaik dari seluruh dunia untuk pertahankan janinnya." Perawat itu melirik Rebecca lagi dan menambahkan, "Perempuan kasihan ini keguguran karena keracunan, tapi bahkan nggak punya anggota keluarga." Setelah mendengar ucapan perawat itu, Rebecca tahu bahwa dia sedang membicarakan Darren dan Cecilia. Namun, hatinya sudah sama sekali tidak bergejolak. Rebecca memindahkan dirinya sendiri ke kamar VIP. Selama dirawat di rumah sakit, dia meminta orang memeriksa pecahan kaca dan mencari tahu siapa yang telah meracuninya. Darren tidak menghubunginya sampai dia dipulangkan. Rebecca langsung kembali ke vila Keluarga Winata, lalu mengambil cincin peninggalan ibunya dan menyimpan barang-barang peninggalan yang pantas dikenang di brankas permanen. Dia berencana untuk menjual vila itu dan tidak pernah kembali lagi. Kemudian, Rebecca pergi ke kantor catatan sipil untuk mengganti namanya agar Darren tidak pernah bisa menemukannya. Saat tiba di rumah, Rebecca mendapati Cecilia sedang meringkuk di sofa dengan diselimuti dengan baik. Dia memegang camilan sambil menonton serial TV. Dia pun mengerutkan kening. Akan tetapi, sebelum dia sempat berkata apa-apa, Cecilia sudah berdiri dari sofa. "Kak, kamu sudah pulang. Sudah makan? Kak Darren lagi pergi beli kue. Mau kuambilkan sebatang cokelat?" tanya Cecilia sambil tersenyum. Matanya berbinar dengan penuh kebanggaan. "Siapa suruh kamu sentuh barang-barangku?" ucap Rebecca dengan ekspresi dingin. Melihat meja kopi yang berantakan, dia merasa kesal. Dia tidak pernah suka orang lain menyentuh barang-barangnya, apalagi mengacau di rumahnya. Darren tahu kebiasaannya dan jarang membawa siapa pun pulang. Meskipun membawa orang pulang, dia akan langsung membersihkan dan melakukan disinfeksi semuanya. Sekarang, dia bahkan membiarkan Cecilia berbaring di tempatnya, menggunakan selimutnya, dan memakan camilannya .... "Kak, kamu marah? Kalau begitu, aku akan kembalikan padamu." Cecilia menumpahkan keripik kentang ke tubuhnya, lalu mengangkat sebelah alisnya dan berujar, "Pungutlah." Rebecca tertegun. Tepat saat dia hendak bicara, Cecilia sudah berlutut dan membersihkan kekacauan itu. "Maaf, Kak. Aku hampir pingsan karena kelaparan, makanya aku baru makan camilan Kakak. Jangan marah, ya. Aku akan membersihkannya sekarang juga," ujar Cecilia dengan berlinang air mata dan hampir menangis. "Sayang, kalian lagi apa?" Perubahan sikap Cecilia yang mendadak membuat Rebecca tak sempat bereaksi. Setelah mendengar suara Darren di belakangnya, dia baru mengerti segalanya. Rebecca berbalik dan kebetulan melihat Darren sedang menatap Cecilia yang ada di atas lantai. Dia dengan jelas menangkap kilatan rasa sakit hati di mata Darren. "Aku nggak seharusnya menyentuh barang-barang Kak Rebecca tanpa seizinnya," ujar Cecilia sambil menunduk dan terisak. "Emm, istriku nggak suka orang lain menyentuh barang-barangnya. Kenapa kamu membuat kekacauan seperti ini di ruang tamu?" Darren mengerutkan kening. "Ambil kuemu dan pulanglah. Jangan datang ke rumahku lagi." Cecilia terkejut, lalu perlahan-lahan berdiri dan menerima kue yang diberikan Darren. Namun, setelah berdiri, Cecilia berlagak seperti kehilangan keseimbangan dan menabrak Rebecca. Rebecca pun kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang bersama Cecilia. Dalam sekejap, Darren berlari mendekat dan mendekap Cecilia. Sementara itu, Rebecca jatuh dengan kuat dan bagian belakang kepalanya membentur lemari sepatu. Darah langsung mengalir dan dia merasa pusing. Hal terakhir yang dilihatnya adalah Darren memeluk Cecilia erat-erat .... Bab 6 Rebecca tertidur sangat lama. Ketika terbangun dengan linglung karena haus, ruangannya terlihat gelap gulita. Dia memaksakan diri untuk bangkit dan mengulurkan tangan ke meja samping tempat tidur seperti biasa. Setiap malam, Darren selalu meletakkan segelas air hangat di sana. Hari ini, meja itu malah kosong. Hati Rebecca terasa hampa. Kemudian, dia menertawakan dirinya sendiri. Setelah Cecilia hamil, tidak peduli bagaimana Darren berakting, dia juga tidak bisa lagi bersikap seperti bagaimana dia mencintai Rebecca dulu. Rebecca berdiri dan berjalan ke bawah. Ketika melewati kamar tamu, dia mendengar suara Darren dan secara refleks menghentikan langkahnya. "Aku yang menyebabkan Kak Rebecca terluka. Aku nggak seharusnya bertindak gegabah," ucap Cecilia sambil terisak. "Kamu nggak boleh kelaparan waktu hamil. Becca yang terlalu membesar-besarkan hal sepele. Salahku karena aku terlalu memanjakannya. Jangan menangis lagi. Hatiku akan hancur kalau kamu menangis." Darren memeluknya dan mengelus kepalanya. "Kamu makin cengeng saja." "Nggak boleh ngatain aku!" kata Cecilia dengan manja. Wajahnya yang menawan diwarnai kesedihan dan membuatnya terlihat begitu memikat. Darren menelan ludah dan mengalihkan pandangannya. Ketika di kapal, gerakan mereka begitu intens hingga hampir menyebabkan Cecilia keguguran. Sekarang, dia tidak lagi berani bertindak gegabah. "Kakak pengen? Sayangnya, Kak Rebecca sudah terluka dan nggak bisa memuaskanmu." "Sekalipun dia nggak terluka, dia juga nggak semenggoda kamu. Dasar iblis kecil! Aku bisa menahan diri. Tapi begitu janinmu stabil, aku nggak akan ampuni kamu," ujar Darren sambil tersenyum menggoda. "Aku bisa bantu Kakak." Seusai berbicara, Cecilia mulai meluncur turun .... Wajahnya yang menggoda dan suaranya yang polos sangat kontras. Ditambah dengan gerakannya, Darren pun mengerang. "Cecil, kamu benar-benar luar biasa." ... Ketika melihat pemandangan ini lagi, hati Rebecca tak lagi tergerak. Dia dengan lesu melanjutkan langkahnya ke bawah untuk mengambil air. Mungkin karena cedera kepalanya, dia tidur sangat nyenyak malam itu dan baru bangun keesokan malamnya. "Sayang, aku ingin menyelamatkanmu, tapi kamu jatuh begitu cepat dan aku nggak sempat menangkapmu ...," jelas Darren dengan terburu-buru dan agak gelisah begitu melihat Rebecca bangun. Rebecca hanya menatapnya karena terlalu malas untuk mengungkap kebohongan Darren. Dia hanya bertanya, "Di mana Cecilia?" "Kamu salahkan saja aku. Yang namanya gadis kecil memang ceroboh. Dia nggak bermaksud menabrakmu. Dia sendiri juga hampir terluka," ujar Darren untuk membela Cecilia. "Aku mengerti," jawab Rebecca dengan tenang. "Besok itu hari peringatan kematian orang tuaku. Kamu bisa temani aku pergi?" "Tentu saja." Melihat Rebecca tidak marah, Darren pun menghela napas lega. Namun, dia kembali menatap Rebecca. Dia merasa Rebecca sudah berbeda. Tidak ada lagi cinta dalam mata Rebecca ketika memandangnya. Darren ingin bertanya, tetapi Rebecca sudah terlanjur memejamkan mata. Sepanjang malam, Rebecca berada dalam keadaan setengah sadar dan sepertinya terus tertidur. Darren berbicara beberapa kali kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Keesokan harinya adalah hari peringatan kematian orang tua Rebecca. Rebecca sudah bangun dari pagi, lalu pergi mandi dan berganti pakaian kasual hitam sebelum berangkat dengan mobil Darren. Darren dengan penuh perhatian menyiapkan sarapan dan berbagai kebutuhan sembahyang untuk Rebecca. Melihat ekspresi Rebecca yang muram, Darren merasa sangat sakit hati. Dia mengira Rebecca sedang sedih dan mencoba mencari topik obrolan dengannya di sepanjang jalan. Namun, Rebecca tetap tidak bersemangat dan bersikap acuh tak acuh. Baru saja mobil mencapai pemakaman, Darren menerima telepon dan ekspresinya langsung menegang. Dia menginjak rem mendadak dan berhenti di pinggir jalan. Rebecca pun terbanting ke depan dan bahunya memerah karena terjerat sabuk pengaman. Dia akhirnya bertanya, "Ada apa?" "Sayang, ada urusan mendesak di perusahaan. Aku harus menanganinya." Wajah Darren pucat pasi, matanya dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran yang tak terkendali. "Kamu beri penghormatan saja dulu kepada Ayah dan Ibu. Aku akan segera kembali." Rebecca mengangguk dengan penuh perhatian, lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Sebelum dia sempat berdiri tegak, Darren yang cemas sudah melaju pergi dan hampir membuat Rebecca terjatuh. Melihat debu yang ditinggalkan mobil Darren, Rebecca pun tersenyum. Darren sepertinya lupa bahwa ponselnya terhubung dengan bluetooth. Dia dengan jelas melihat bahwa nama penelepon adalah "Cecil Sayang". Cecilia terluka dan menelepon Darren sambil menangis. Darren pun tanpa ragu meninggalkannya untuk pergi menemui Cecilia. Namun, Rebecca tak lagi peduli. Dia sudah berhenti mencintai Darren dari awal. Bahkan rasa bencinya terhadap Darren pun sepertinya sudah sirna. Bab 7 Setelah Darren pergi, Cecilia berjalan keluar dari pinggir. "Kak, sudah lihat? Yang dicintai Kak Darren itu aku! Kalau aku itu kamu, aku akan meninggalkannya," kata Cecilia dengan ekspresi menantang sambil melambaikan ponsel di tangannya. "Aku cuma bohong dengan bilang kamu suruh orang untuk menindasku. Lihat betapa khawatirnya dia." "Kamu nggak perlu memprovokasiku. Kalau kamu suka mengumpulkan sampah, ambil saja." Rebecca menatap Cecilia dengan tenang, lalu berbalik dan pergi memberi hormat kepada orang tuanya. Melihat reaksi Rebecca, Cecilia pun marah. "Apa hebatnya kamu yang hanyalah seorang perempuan yang ditelantarkan! Demi menikahiku, Kak Darren sudah tunggu selama lima tahun. Selama lima tahun itu, kamu itu cuma bahan tertawaan. Tanpa Kak Darren, kamu itu bukan apa-apa!" Langkah Rebecca terhenti. Meskipun hatinya sudah mati rasa, dia tetap merasa sedih. Dia menoleh dan berusaha menahan emosinya sambil berujar, "Tanpa Darren, aku tetap adalah putri Keluarga Winata. Meski kamu sudah jadi istrinya, kamu juga nggak berhak untuk bersikap arogan di hadapanku. Cecilia, bukan kamu yang paksa aku pergi, tapi aku sendiri yang sudah nggak menginginkan Darren." "Rebecca!" Mata Cecilia memerah karena marah. Dia memelototi punggung Rebecca dan berseru, "Aku akan buat kamu menyesal!" Rebecca mengabaikannya dan langsung pergi ke makam orang tuanya untuk berpamitan. Dia menceritakan semua yang telah terjadi selama lima tahun terakhir dengan sangat tenang dan tanpa meneteskan setetes air mata pun. "Ayah, Ibu, aku sudah nggak mencintai Darren. Jangan khawatirkan aku. Aku akan jaga diriku dengan baik." Saat hari mulai gelap, Rebecca baru dengan enggan meninggalkan pemakaman. Selama itu, Darren tidak muncul, juga tidak menelepon. Pemakaman ini terletak di lokasi yang terpencil sehingga Rebecca harus berjalan kaki sebentar untuk mendapatkan taksi. Setelah berpamitan dengan orang tuanya, dia berjalan perlahan menuju jalan utama. Setelah berjalan sebentar, Rebecca merasa ada orang yang mengikutinya. Dia pun mempercepat langkahnya dan mengeluarkan ponsel dengan niat untuk menelepon polisi. Namun, sebelum dia sempat menelepon, orang di belakangnya sudah menyusul dan menutup mulutnya dengan saputangan. Rebecca meronta hebat dan pandangannya tiba-tiba gelap. Dia pingsan karena dibius. Rasa dingin yang menusuk menerpa Rebecca. Dia disiram dengan seember air es dan terbangun. Dia diikat ke tiang dengan tangan di belakang, sedangkan matanya ditutupi kain hitam dan tubuhnya menggigil kedinginan. "Siapa kamu? Kenapa kamu menangkapku?" seru Rebecca dengan suara gemetar. Dia merasa sangat ketakutan. "Ngomong! Siapa kalian? Kalian mau uang, 'kan? Aku punya uang. Uangku sangat banyak. Berikan nomor rekening kalian! Aku akan transfer uangnya sekarang juga." Rebecca tidak bisa melihat apa pun. Tidak peduli bagaimana dia bertanya, yang menjawabnya hanyalah keheningan. Pakaiannya telah basah kuyup oleh air es. Begitu ada angin yang bertiup, hawa dingin itu langsung menusuk tubuhnya. Dia pun menjadi makin panik dan meronta-ronta dengan gelisah. "Lepaskan aku! Siapa sebenarnya kamu?" "Ah!" Rebecca tiba-tiba menjerit kesakitan karena orang itu memukul perutnya dengan tongkat. "Kamu nggak perlu tahu aku ini siapa. Kamu cuma perlu merasakan akibat dari perbuatanmu." Pria itu mengangkat tongkat dan memukul perut Rebecca lagi. Dia langsung merasa organ-organ di dalam perutnya seperti sedang berdesakan. Rasa sakit itu membuatnya menangis. "Aku nggak mengerti apa yang kamu katakan." Orang itu berhenti berbicara dan lanjut mengayunkan tongkat ke perut Rebecca. Setiap pukulannya begitu kuat, seolah-olah ingin menghancurkan organ-organ Rebecca. Rebecca pingsan karena kesakitan, lalu tersadar lagi akibat rasa sakit dipukul. Pada akhirnya, dia pun merasa sakit sampai mati rasa. Darah dari tubuh bagian bawahnya membasahi celananya, sedangkan darah dari sudut mulutnya mengotori pakaiannya .... Orang itu sepertinya sudah lelah memukuli Rebecca. Dia membuang tongkatnya, lalu melepaskan ikatan tubuh Rebecca. Rebecca pun jatuh ke lantai dengan lemas. Darah dengan cepat menyebar di lantai dan dia benar-benar kehilangan kesadaran. Ketika tersadar kembali, tidak ada seorang pun di sekitar Rebecca. Dia melepas kain hitam dari matanya dan melihat proyektor di depannya. Dalam video tersebut, Darren memeluk Cecilia dan berulang kali mencium keningnya sambil menghibur, "Jangan nangis, Sayang. Kamu baik-baik saja." "Kak, aku nggak percaya. Aku nggak percaya Kak Rebecca ingin celakai aku. Dia itu orang yang sangat baik. Mana mungkin dia celakai aku cuma karena aku nggak sengaja mendorongnya?" ujar Cecilia sambil menangis getir. "Mungkin manusia memang bisa berubah." Rasa sakit melintasi mata Darren dan dia lanjut berkata, "Kenyataannya sudah terpampang di depan mata. Memang Becca yang suruh orang untuk memberimu pelajaran. Kalau bukan karena kamu lapor polisi tepat waktu, aku nggak bisa bayangkan akhirnya." "Meski begitu, kamu juga nggak boleh gantikan aku balas dendam ke Kak Rebecca atau menyakitinya." "Sudah begini, kamu masih memikirkannya. Jangan khawatir, aku cuma kasih pelajaran ke orang yang menyentuhmu. Mengenai Becca, aku akan cari kesempatan untuk memberinya peringatan." Mata Darren dipenuhi kekecewaan. Dia sudah yakin bahwa Rebecca yang telah menyuruh orang untuk menyakiti Cecilia. Rebecca jatuh ke lantai dan kejang-kejang karena kesakitan. Dia menatap lekat-lekat wajah di layar. Jantungnya terasa bagaikan sudah tercabut dari tubuhnya dan darahnya tidak berhenti mengalir. Dulu, Darren sangat memercayainya. Kini, hanya karena Cecilia menuduhnya melakukan kejahatan, Darren pun menyuruh orang untuk memberinya pelajaran sekejam ini. Ketika hati sudah berubah, segalanya juga akan berubah. Rebecca tertawa hingga air mata mengalir dari matanya. 'Darren, kalau kamu tahu kebenarannya suatu hari nanti, apa kamu akan menyesal?' Bab 8 Proyektor tidak berhenti memutar video Darren dan Cecilia. Rasa curiga Darren terhadap Rebecca menusuk hatinya berulang kali. Kemudian, proyektor memutar rekaman terbaru. Darren sedang menyiapkan makanan untuk Cecilia. Kekejaman di wajahnya tadi telah memudar dan digantikan oleh senyuman. Dia menatap Cecilia dengan penuh kelembutan dan cinta, sama seperti saat Darren menatap Rebecca dulu. "Becca, kapan aku boleh memanggilmu istriku?" "Becca sayang, aku sangat mencintaimu. Terimalah lamaranku." "Darren akan mencintai Rebecca selamanya. Aku akan melawan siapa pun yang berani menindas Becca." "Sayang, aku sangat jago masak. Serahkan makanmu tiga kali sehari kepadaku. Kamu itu satu-satunya orang di dunia ini yang pantas makan masakanku. Bahkan orang tuaku juga nggak boleh!" "Sayang, Cecil yang menyelamatkanmu setara dengan menyelamatkanku. Lagian, dia itu anak yatim. Gimana kalau kita rawat dia?" "Aku tentu saja serius soal Cecil. Dia cuma mau sebuah pernikahan yang langgeng dan aku bisa memberinya itu." ... Kata-kata Darren, janjinya, pengakuannya, dan tipu dayanya terus terngiang di telinga Rebecca seperti jarum yang menusuk gendang telinganya. Sosok pria yang mencintainya dalam ingatannya itu perlahan-lahan terpisah dari Darren di proyektor, lalu berangsur-angsur meninggalkan hati Rebecca. Langit sudah sepenuhnya gelap. Rebecca tumbang ke lantai dengan tidak berdaya. Dia membiarkan kegelapan dan rasa dingin melahapnya. Ketika tersadar kembali, Rebecca perlahan-lahan bergerak. Seiring dengan gerakannya, darah kering di bawah tubuhnya membentuk garis panjang di lantai. Dia sudah kehilangan semua rasa di perut bagian bawahnya, tetapi dia memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan keluar. Hangatnya sinar matahari tak mampu menghangatkan tubuh dan jiwanya yang telah dingin. Pada akhirnya, dia tumbang di pinggir jalan dan dibawa ke rumah sakit oleh seseorang. "Bu Rebecca, perutmu mengalami benturan kuat dan rahimmu robek. Kami perlu melakukan operasi untuk mengangkat sisa-sisanya." Setelah mendengarkan kata-kata dokter, Rebecca tidak menunjukkan reaksi yang terlalu besar. Pada saat dia kehilangan bayinya, dia sudah menerima kenyataan bahwa dia tak bisa hamil lagi. Biar begini saja .... Setidaknya dia masih bisa meninggalkan Darren dalam keadaan hidup. Begitu sadar setelah dioperasi, ada orang yang menyumpal mulut Rebecca dan menutupi kepalanya dengan karung, lalu dibawa ke hadapan Darren. "Cecil, orangnya sudah dibawa kemari. Habis kasih dia pelajaran nanti, jangan bersedih lagi." Ketika menatap Cecilia lagi, tatapan Darren terlihat sangat lembut. Cecilia mencium Darren dengan gembira dan mengedipkan mata. "Aku boleh melakukan apa saja?" "Emm, apa pun yang kamu mau. Ada aku di sini." Darren sangat memanjakan Cecilia, meskipun ada nyawa yang melayang, dia juga akan bertanggung jawab. Cecilia bertepuk tangan dengan bangga dan memerintahkan para pengawal untuk membawa keluar dua guci. 'Apa maumu?' Rebecca mengenali kedua guci itu. Itu adalah guci abu orang tuanya. Dia buru-buru bersuara, tetapi yang keluar hanyalah suara yang teredam. "Kak, aku mau buang abu orang tua penjahat itu." Cecilia tersenyum sambil menatap Darren. "Oke." 'Jangan, Darren! Lihat! Itu abu mertuamu! Kamu sendiri yang membuat guci-guci itu! Tolong hentikan dia!' Rebecca menangis tersedu-sedu sambil meronta. Namun, dia tidak bisa mengucapkan apa-apa, hanya bisa terisak. Mata Darren tetap terpaku pada wajah Cecilia. Dia sepertinya sama sekali tidak melihat guci-guci di tangan Cecilia. Rebecca makin putus asa. Melihat abu yang melayang tertiup angin, hatinya pun hancur berkeping-keping. 'Darren, apa cuma ada Cecilia dalam hatimu ....' Rebecca ditahan oleh para pengawal sehingga tidak bisa bergerak. Rasa sakit di tubuhnya menggerogoti sarafnya dan dia pun pingsan. Melihat ini, Cecilia menyebarkan abu yang tersisa. "Kak, ayo pergi. Aku sudah nggak marah lagi." "Oke." Darren menggendong Cecilia pergi. Dia memperlambat langkahnya saat melewati Rebecca yang tak sadarkan diri. Namun, dia tetap tidak menatap Rebecca dengan saksama dan langsung pergi tanpa menoleh. Ketika Rebecca tersadar, abu di tanah telah lenyap sepenuhnya. Dia mencengkeram guci kosong itu. Air matanya telah kering. Rebecca kembali ke vila untuk mengambil dokumen-dokumen yang baru dibuatnya. Dia melirik rumah di mana dia tinggal selama lima tahun terakhir. Senyum sinis tersungging di bibirnya. Rebecca mengambil tongkat bisbol dan menghancurkan set Lego yang mereka buat bersama, sofa yang mereka pilih bersama, TV yang mereka pesan bersama .... Rebecca mengerahkan sisa tenaganya untuk menghancurkan semua yang ada di ruang tamu. Melihat kekacauan itu, dia tertawa pilu. Kemudian, dia membuang tongkat bisbol itu dan menulis dua baris tulisan di dinding dengan lipstik. [ Darren, kamu pernah bilang bahwa orang yang khianati ketulusan orang lain akan terkena azab. Kamu masih ingat? ] [ Hal yang paling kusesali dalam hidupku adalah jatuh cinta padamu! ] Rebecca meninggalkan vila tanpa menoleh lagi. Dia meninggalkan semua yang dia dan Darren miliki di reruntuhan.