Ternyata Kau Injak Dua Perahu

Đang tải thông tin quảng bá...

Ternyata Kau Injak Dua Perahu

GoodNovel Hoàn thành

Pada tahun kelima pernikahan, Julia Trevon merasa vitamin C yang dibeli suaminya terlalu pahit. Jadi, dia membawa botol obat itu ke rumah sakit. Dokter memeriksanya, lalu mengatakan bahwa isi botol it...

Chương (1)

第1章

Pada tahun kelima pernikahan, Julia Trevon merasa vitamin C yang dibeli suaminya terlalu pahit. Jadi, dia membawa botol obat itu ke rumah sakit. Dokter memeriksanya, lalu mengatakan bahwa isi botol itu bukanlah vitamin C. "Dokter, bisakah kamu mengulanginya sekali lagi?" tanya Julia. "Berapa kali pun aku mengulanginya, hasilnya akan sama." Dokter menunjuk botol obat itu sambil berkata, "Ini isinya mifepristone. Kalau diminum terlalu banyak, bukan hanya bisa menyebabkan kemandulan, tapi juga akan merusak tubuhmu." Tenggorokan Julia seakan tercekat sesuatu. Tangannya yang mencengkeram botol obat itu menjadi pucat. "Nggak mungkin. Ini adalah obat yang disiapkan suamiku untukku. Namanya Victor Camden. Dia juga dokter di rumah sakit ini," ujar Julia. Dokter itu mengangkat kepala, menatap Julia dengan tatapan yang aneh, seakan ada makna yang sulit dijelaskan di sana. Akhirnya, dokter itu tersenyum. "Nona, sebaiknya kamu memeriksakan diri ke psikiater. Kami semua sudah mengenal istri Dokter Victor. Dua bulan yang lalu, dia baru saja melahirkan seorang anak. Jangan berkhayal seperti ini, kamu nggak punya harapan." Bab 1 Setelah berkata demikian, dokter itu membuka foto di ponselnya. Di dalam foto itu, Victor mengenakan jas dokter berwarna putih sambil menggendong seorang bayi. Di sampingnya tampak berdiri seorang wanita yang tersenyum lebar. Wanita itu adalah Mandy Darwin, "adik angkat" yang selalu dibicarakan oleh Victor. Julia merasa kepalanya kosong dalam sekejap. Namun, dokter itu mengatakan bahwa itu adalah istri Victor, lalu anak itu adalah anak mereka. Napas Julia tiba-tiba menjadi berat. Dia terhuyung masuk ke dalam lift, ingin pergi ke lantai 15 untuk mencari Victor, lalu meminta penjelasan. Begitu pintu lift tertutup, terdengar dua suara yang tidak asing. Mungkin karena hari ini Julia berpakaian rapat, serta mengenakan topi, orang di depannya tidak mengenalinya. Jadi, mereka berbicara tanpa ragu. "Kak Victor, apa kamu nggak takut Julia akan mengetahuinya? Kenapa kamu bersikeras meminta dia kembali dulu? Kalau dari awal kamu menikah dengan Mandy, sekarang kamu nggak perlu bertingkah seperti pencuri hanya untuk melihat anakmu." Itu adalah suara Moreno Darwin. Suara Victor terdengar dingin ketika berkata, "Dia nggak akan tahu. Moreno, jaga mulutmu. Ketika bertemu dengan Julia, kamu harus tahu apa yang boleh dikatakan dan apa yang nggak." "Aku benar-benar nggak memahami dirimu." Moreno tertawa sinis. "Mandy datang ke rumahmu sejak berumur 5 tahun sebagai calon istri kecilmu. Waktu kecil kamu juga sangat menyayanginya. Tapi setelah dewasa, kamu malah direbut oleh Julia." "Demi Julia, kamu sampai mengirim Mandy pergi, lalu dengan segala cara membawanya kembali. Sebenarnya siapa yang kamu cinta?" Victor terdiam cukup lama, baru akhirnya kembali membuka mulut, "Aku mencintai Julia, tapi juga nggak bisa melepaskan Mandy. Setiap kali memikirkan tahun-tahun dia hidup dengan penuh kesulitan di luar negeri, hatiku menjadi kacau." "Aku sudah memberikan status sebagai istriku kepada Julia, jadi aku akan memberikan anak hanya untuk Mandy. Setidaknya dia akan memiliki sandaran di masa depan." Moreno menghela napas, lalu kembali bertanya, "Bagaimana kalau nanti kamu dan Julia memiliki anak? Bisakah kamu memperlakukan Mandy dengan adil? Bagaimanapun juga, Mandy itu sepupuku." Suara pemberitahuan bahwa lift sudah sampai tiba-tiba berbunyi. Suara pintu terbuka bertabrakan dengan kata-kata Victor, "Nggak akan." Moreno tertegun sejenak. Dia tidak mengerti apakah maksud Victor adalah dia tidak akan memiliki anak dengan Julia, atau dia tidak akan pilih kasih. Moreno berjalan mengikuti Victor dengan bingung. Namun, Julia memahaminya. Maksud Victor adalah, dia tidak akan memiliki anak dengan Julia. Karena dia sudah menyiapkan obat steril untuk Julia, menghilangkan bahaya untuk istri kecilnya. Di dalam lift banyak orang yang berlalu lalang, terasa pengap dan panas. Namun, Julia merasa seperti terjatuh ke dalam lubang es, hingga seluruh tubuhnya kedinginan. Baru setelah lift turun lagi ke lantai satu, Julia tiba-tiba terbatuk hebat, seperti orang tenggelam yang akhirnya kembali menghirup udara. Ponsel di saku Julia bergetar, sementara layarnya menyala. Victor mengirimkan tangkapan layar tiket pesawat. [Julia, sampai jumpa di arena kompetisi besok. Jangan lupa untuk memakai jimat yang aku berikan padamu.] Ketika melihat pesan ini, emosi Julia yang meluap langsung meledak, air matanya pun berjatuhan. Dokter adalah profesi yang sangat sibuk. Namun, sejak mereka menikah, Victor selalu menunggunya di garis akhir dengan tepat waktu untuk setiap kompetisi Julia. Meskipun itu artinya pria itu harus naik penerbangan malam. Pada hari itu, Victor akan memesan tempat di restoran terlebih dulu, membeli bunga, serta menjemputnya dengan penuh kemenangan. Setiap tahun akan selalu seperti itu. Julia teringat dengan ejekan teman-temannya. Mereka mengatakan bahwa dia adalah cinta sejati yang didapatkan oleh Victor setelah mempertaruhkan separuh nyawanya. Untuk membuat Julia bersedia kembali ke tanah air, Victor bersaing dengan orang-orang di klub luar negeri, hingga menghadapi situasi penuh bahaya beberapa kali. Untuk mempertahankan Julia, Victor mengeluarkan banyak uang untuk mendatangkan tim pelatih terbaik, lalu membuka klub balap khusus untuknya. Setelah menikah, Victor malah makin memanjakannya. Julia hanya bergumam dalam mimpi, mengatakan bahwa dia merindukan ibunya. Victor menggunakan semua koneksi yang dia miliki di tengah malam, membantu Julia menemukan barang peninggalan ibunya sebelum fajar menyingsing. Namun, Victor yang seperti ini ternyata memiliki keluarga lain tanpa sepengetahuan Julia. Julia tiba-tiba tersadar. Pantas saja Mandy lebih mengenal setiap sudut rumah Keluarga Camden dibandingkan dirinya. Pantas saja orang yang bertahun-tahun tinggal di luar negeri bisa menyebutkan nama panggilan semua teman Victor. Pantas saja seorang "adik angkat" bisa membuat Victor menunda jadwal operasinya selama setengah tahun, menemaninya bermain balapan. Adik angkat apanya? Dia jelas-jelas adalah calon istri yang sudah dijodohkan dengan Victor sejak kecil. Tadi Julia masih berpikir, kalau Mandy masih berani mengganggu, dia tidak akan memberikan toleransi. Sekarang dia baru tersadar. Ternyata dialah orang yang menjadi pengganggu. Orang yang seharusnya mundur adalah dirinya. Rasa dingin yang menusuk tulang merayap dari bawah kaki Julia hingga ke atas, membekukan anggota tubuhnya sampai mati rasa. Dulu Julia selalu mengira orang yang hancur akan menangis dan mengamuk. Namun, ketika sudah sampai di tahap ini, dia baru tahu bahwa kehancuran sejati adalah ketika seseorang tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Hanya air mata yang tak terbendung dan hati yang tenggelam ke dasar yang memberi tahu bahwa dirinya hampir mati kesakitan. Hatinya seperti dicengkeram erat oleh sebuah tangan besar yang ingin memeras habis setiap tetes darah di hatinya. Ponsel Julia bergetar lagi. Ternyata Mandy mengirim foto keluarga, disertai dengan sebaris tulisan. [Kak Julia, berhentilah menempati posisi yang bukan milikmu. Tadinya aku mengira kamu bisa sadar diri, tapi ternyata kamu nggak tahu malu. Kak Victor mengatakan kalau anaknya mirip dengan dirinya. Bagaimana menurutmu?] Julia hanya melirik pesan itu sekilas, lalu berjalan keluar. Jika Mandy menginginkan pria itu, Julia akan memberikannya. Namun, Julia terlalu mengenal Victor. Ketika pria itu membuat keputusan, dia tidak akan melepaskannya dengan mudah meski sudah tidak menginginkannya lagi. Ujung jari Julia melayang di atas tombol ponsel untuk waktu yang lama sekali. Pada akhirnya, dia menghubungi nomor yang hampir terlupakan itu. Saat telepon tersambung, Julia mendengar suaranya bergetar. "Devon, apakah taruhan waktu itu ... masih berlaku?" Bab 2 Suara napas di ujung lain telepon terhenti sejenak, lalu suara Devon yang dalam terdengar. "Setengah bulan lagi, Keluarga Frans akan pindah. Aku akan menjemputmu." Julia tertegun selama setengah detik, lalu tertawa. Julia belum mengatakan apa-apa, tetapi orang ini sudah yakin dia akan pergi. Yang membuat Julia kesal, tebakannya memang benar. "Baiklah." Dengan kemampuan Devon, setengah bulan lagi, sekali pun Victor menggali sampai ke dasar bumi, dia tetap tak akan bisa menemukan dirinya. Hingga larut malam hari itu, Julia tidak membalas pesan Victor sama sekali. Victor benar-benar panik. Dia pulang kerja lebih awal, mengubah tiket ke penerbangan terdekat. Namun, saat membuka pintu rumah, dia tiba-tiba terpaku. Kecemasan di matanya langsung menghilang sebagian. Di bawah lampu kuning yang hangat di ruang tamu, Julia sedang duduk di sofa sambil menonton TV. "Julia? Kenapa kamu sudah pulang?" Victor berlari menghampiri. "Aku sudah mengirim banyak pesan padamu ...." Sebelum Victor selesai berbicara, dia sudah memeluk Julia dengan erat. Dagunya menempel di puncak kepala Julia, menggosoknya pelan, lalu berujar, "Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku benar-benar takut .... Julia, aku nggak bisa hidup tanpamu." Cinta di matanya tampak tulus. Julia juga mengetahui bahwa Victor benar-benar mencintainya. Namun, dia juga tahu dengan jelas bahwa cinta pria ini tidak hanya diberikan pada satu orang. Rasa sesak di tenggorokannya menyeruak. Julia mencubit telapak tangannya dengan keras untuk menahannya. Untuk sejenak, Julia hampir membongkar semua kebohongan ini, tetapi dia mengurungkan niatnya. Jika Julia mengungkapkannya, dia benar-benar tidak akan bisa pergi. Julia perlahan melepaskan diri dari pelukannya, sementara suaranya dibuat setenang mungkin, "Pertandingannya ditunda. Ponselku mati, jadi aku nggak melihat pesannya." Namun, Victor tidak mendengar gelombang di balik ketenangan itu. Dia tersenyum, lalu mengangkat jari untuk menepuk hidung Julia. "Nggak apa-apa kalau kamu nggak melihatnya. Kenapa kamu menangis? Aku nggak akan menyalahkanmu," ujar Victor. "Kamu pasti lapar, 'kan?" Victor mengayunkan kunci mobil di tanganya. Kemeja dan celana formalnya membuat postur Victor tampak tegap. Jasnya disampirkan dengan santai di lengannya. "Aku sudah memesan tempat di restoran hotpot yang sudah lama kamu inginkan. Ayo, Tuan Putri, aku akan menemanimu makan sepuasnya." Victor mengulurkan tangan padanya, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pandangan Julia jatuh pada tangan itu. Tiba-tiba, dia menjadi linglung. Pada sore hari saat berumur 18 tahun, pemuda di lapangan basket itu juga mengulurkan tangan seperti ini padanya. Kaos putihnya basah karena keringat, bola basket terjepit di bawah lengannya, sementara senyumnya lebih sombong dari sekarang. "Ayo, Tuan Putri. Hari ini aku akan mentraktirmu makan sampai puas!" Waktu itu, hanya ada Julia seorang di hatinya. Julia tidak ingin menyiksa perutnya, jadi dia mengikuti Victor pergi ke restoran hotpot. Pria itu masih bersikap seperti biasa. Jelas-jelas dia adalah seorang pria yang tidak pernah melayani orang lain, tetapi sekarang dia dengan terampil menyingsingkan lengan baju, mengambilkan makanan untuk Julia dengan cermat. Suapan pertama dari makanan yang baru matang selalu diberikan pada Julia terlebih dulu. Baru pada saat piring menumpuk seperti gunung kecil, ponsel tiba-tiba berdering. Julia pun tersadar. Jika bukan karena dering yang tidak berhenti ini, Julia takut dirinya akan terjebak lagi dalam cinta yang tampak tak berujung itu. "Angkat saja." Julia menundukkan kepala sambil mengaduk saus wijen di piring. Victor melirik ponselnya, mengatakan kata-kata manis untuk Julia, lalu berjalan keluar untuk menjawab telepon. Ketika kembali, mata Victor tampak dipenuhi dengan kecemasan dan penyesalan. "Julia, di rumah sakit sedang ada operasi mendadak, aku harus segera ke sana. Maaf, aku nggak bisa menemanimu menghabiskan hotpot. Besok aku akan mengajukan cuti agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu denganmu." Julia sudah melihat nama penelpon tadi, tetapi dia tidak membongkar kebohongan Victor. Dia hanya mengangguk sambil berujar, "Baiklah, kamu pergi saja." Setelah mendapatkan persetujuan, Victor tidak membuang waktu, langsung berbalik untuk meninggalkan restoran hotpot. Ketika melihat kursi kosong yang ada di depannya, hati Julia seperti ditusuk jarum, terasa mati rasa. Tepat ketika dia akhirnya berhasil menenangkan perasaan, hendak mengangkat sendoknya lagi, panggilan video dari Mandy masuk. Julia menutup teleponnya, tetapi orang di ujung lain menelepon kembali. Setelah belasan kali menelepon, Julia akhirnya mengangkatnya. Mandy menunjukkan senyuman polos seperti biasa. "Kak Julia nggak sedang makan hotpot, 'kan? Aku penasaran, kenapa ada seseorang yang pulang ke rumah dengan bau seperti hotpot hari ini." Wanita itu menekan kata "pulang ke rumah" dengan sangat berat. Julia bisa mendengar nada provokasi dalam kata-katanya. Wajahnya berubah dingin. "Mandy, kamu terlalu kekanak-kanakan." "Apa kamu lupa siapa yang sekarang menjadi istri sahnya? Coba kamu tebak. Kalau aku mengirimkan riwayat obrolan ini ke Victor sekarang, apakah dia akan memilih kamu atau aku?" Mata Mandy tampak berkilat, tetapi dia segera tersenyum lagi. "Kalau begitu, kirimkan saja. Jangan menutup teleponnya. Biar aku lihat, siapa sebenarnya yang kekanak-kanakan." Julia sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi, tetapi ternyata Mandy benar-benar tidak menutup teleponnya. Tidak lama kemudian, latar belakang dalam video bergerak, lalu sosok Victor muncul di layar. Mandy langsung berbalik, merebahkan diri dengan manja di pelukannya, langsung menghalangi pandangan Victor ke layar dengan sempurna. "Kak Victor, apa kamu masih marah karena dulu aku kawin lari dengan orang lain? Kalau aku nggak pergi, apa kamu nggak akan mencari Kak Julia? Apa kamu akan menikah denganku?" Victor mengerutkan kening sambil menjawab, "Kenapa ada begitu banyak kalau?" "Aku hanya bertanya ...." Mata Mandy memerah, sementara suaranya menjadi makin kecil. "Aku nggak ada maksud lain ...." Setelah keheningan selama beberapa detik, Julia melihat Victor membuka mulut, suaranya terdengar serak, "Ya." Satu kata itu langsung membuat hati Julia menjadi kosong. Ternyata sejak saat itu, Julia bukan satu-satunya orang di hati Victor. Dia tiba-tiba teringat pada hari pernikahan mereka. Victor memegang tangannya, bersumpah atas nama Nenek yang paling dihormatinya di hadapan semua tamu. "Dalam hidupku, Victor Camden, nggak peduli sekarang atau nanti, aku hanya akan mencintai Julia seorang. Diriku, uangku, serta nyawaku, semuanya akan menjadi miliknya." "Dia boleh bersikap manja, boleh melakukan kesalahan, boleh tidak mencintaiku, bahkan boleh mencintai orang lain. Asalkan dia nggak meninggalkanku." Waktu itu Julia menangis dengan begitu kencang, mengira dirinya sudah mendapatkan cinta paling tulus di dunia. Sekarang dia baru mengerti bahwa sumpah itu semuanya palsu sejak awal. Julia tidak pernah menjadi satu-satunya wanita untuk Victor. Tidak di masa lalu, tidak di saat ini, tidak akan pula di masa depan. Dia hanyalah alat bagi Victor dan Mandy untuk saling bersitegang. Hanya saja, setelah cukup lama bersama, sedikit perasaan pun tumbuh, membuat Victor enggan untuk melepaskan dirinya. Ketika memikirkan hal ini, Julia memaksakan diri untuk tersenyum. Dia tersenyum sambil terus menangis. Julia mengira, setidaknya walau hanya sejenak, mereka pernah memiliki cinta yang begitu membara. Namun, Julia tidak menyangka bahwa dari awal hingga akhir, dirinya hanyalah seorang pencuri yang merebut tempat milik orang lain. Julia menundukkan kepala, mencengkeram erat pakaian di dada, mencoba mengatur napasnya. Namun, rasa sesak di tenggorokannya tidak bisa ditekan. Jadi, Julia hanya bisa membiarkan air matanya menetes satu per satu di meja. Malam itu, Victor tidak pulang. Namun, Julia menerima foto langsung wajah tidur Victor yang dikirim oleh Mandy. Julia menatap wajah itu lama sekali, sampai akhirnya fajar menyingsing. Ketika hatinya akhirnya sepenuhnya tenang, hatinya seakan sudah mati. Dia mengambil ponselnya, menelepon teman pengacaranya, Lina Adams. "Lina, tolong bantu aku untuk membuat surat cerai …." Bab 3 Saat Julia bangun, rumah masih kosong. Di ponsel ada pesan dari Victor. [Sayang, rumah sakit hari ini sangat sibuk, jadi liburanku dibatalkan. Jangan marah, ya. Aku akan menemanimu besok, nggak peduli seberapa sibuknya aku. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu. Tunggu aku pulang.] Di bawah pesannya ada foto yang dikirimkan oleh Mandy satu jam yang lalu. Itu adalah foto mereka berdua di tepi kolam air panas. Senyuman keduanya begitu menyilaukan mata. Julia menggenggam ponsel dengan erat hingga ujung jarinya terasa panas. Dia hampir menelepon Victor untuk bertanya apakah sebenarnya dia sibuk melakukan operasi, atau sibuk menemani istri kecilnya. Namun, mengingat kembali rencana di dalam hatinya, akhirnya Julia menekan amarahnya, hanya membalas Victor dengan jawaban singkat, [Baiklah.] Akan lebih baik jika Victor tidak kembali. Ini akan memudahkan Julia untuk mengemasi barang-barangnya. Julia mengemas semua pakaian yang diberikan Victor, bersiap untuk menyumbangkannya ke daerah miskin di pegunungan. Dia menurunkan foto bersama yang tergantung di dinding, lalu masukkannya ke dalam mesin penghancur kertas. Dia juga mengambil seratus kartu kecil berisi harapan yang pernah dia tulis untuk Victor, lalu membakarnya hingga menjadi abu di balkon. Julia tidak berani membuang terlalu banyak barang, karena takut Victor merasakan ada yang tidak beres ketika kembali. Keesokan harinya, Victor akhirnya pulang. Begitu melihat Julia, dia langsung meletakkan kue di tangannya, membuka kedua lengannya sambil berjalan menghampiri. Pria itu berujar, "Julia, aku lelah sekali. Aku membutuhkan pelukanmu untuk mengisi ulang energiku." Julia mundur selangkah dengan tenang, membuat pelukan Victor meleset. Victor menaikkan alisnya. "Apa kamu masih marah? Jangan marah lagi, ya. Aku akan membawamu melihat kejutan yang sudah aku siapkan." Tanpa menunggu Julia berbicara, Victor langsung menariknya untuk naik ke mobil. Mobil melaju di sepanjang jalan ke tempat latihan. Julia masih kebingungan ketika dia ditarik turun dari mobil. "Apa kamu menyukainya?" Victor menunjuk mobil di depan sambil bertanya. Itu adalah sebuah mobil balap yang sudah dimodifikasi. Tubuh mobil ditempeli dengan berlian merah muda yang berkilauan, hingga membuat orang yang melihatnya merasa pusing. Mata Julia berkilat dengan ketekejutan sesaat. Para pelatih klub berdiri di samping, berkata dengan nada yang dipenuhi dengan rasa iri. "Katanya modifikasi mobil ini menghabis biaya hampir 200 miliar. Dia benar-benar rela menghabiskan uang banyak, ya." "Memangnya kenapa kalau mahal? Kalian nggak tahu kalau berlian di atas mobil ini ditempel satu per satu oleh Pak Victor. Dia begadang mengerjakannya sampai hampir terkena keratitis." "Julia, cepat cobalah. Setelah selesai mencoba, pinjamkan pada kami juga. Pak Victor benar-benar menyayangi istrinya." Setelah mendengar kata-kata ini, keterkejutan di hati Julia perlahan tenggelam, matanya menjadi sedikit perih. Dia menarik sudut mulutnya, menunjukkan senyum mengejek pada diri sendiri. Semua orang mengatakan bahwa Victor menyayangi istrinya. Namun, siapa yang tahu siapa "istri" yang sebenarnya ada di hati pria itu? Cinta Victor memang terasa begitu hangat, tetapi kehangatan ini tidak pernah hanya menyinari dirinya seorang. Emosi yang ditahan Julia selama beberapa hari ini seakan menemukan jalan keluarnya pada saat ini. Julia duduk di kursi pengemudi, menginjak gas hingga dalam, lalu mobil balap pun melesat seperti anak panah. Dia melaju dengan gila-gilaan di lintasan, melampiaskan semua ketidakadilan, amarah, serta ketidakrelaan itu ke dalam deru mesin. Victor berdiri di tepi lapangan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku, senyuman tampak di sudut mulutnya, sementara matanya menatap tanpa berkedip. Di putaran ke-40, Julia melihat Victor membentuk hati dengan tangan ke arahnya. Dalam keadaan linglung sejenak, Julia tidak memegang kemudi dengan erat. Mobil balapnya menabrak pembatas di sisi lapangan dengan suara keras. Julia merasakan nyeri yang menusuk pada jari-jari kakinya. Sebelum dia bisa bereaksi, Victor sudah berlari menghampiri, membuka pintu, lalu langsung menggendongnya masuk ke ruang istirahat. "Apa ini sakit?" Victor mengernyitkan kening, dengan hati-hati mengangkat kaki Julia. Kapas dicelupkan dalam iodine, lalu dioleskan ke luka Julia sedikit demi sedikit. "Ini semua salahku. Aku membuatmu menyetir terlalu lama." Gerakan Victor begitu lembut, seakan dia takut akan memecahkan kaca. Rasa sakit di matanya yang begitu dalam tidak dapat dilelehkan. Namun, Julia hanya merasa seluruh tubuhnya dingin. Ternyata cinta benar-benar bisa diperankan senyata ini. Julia tanpa sadar mengangkat tangan, ingin menyentuh rambut pria itu. Namun, Victor malah menangkap pergelangan tangannya, menundukkan kepala, hendak mencium Julia. "Brak!" Pintu ruang istirahat tiba-tiba didorong hingga terbuka dengan keras. Victor bahkan tidak mendongak, hanya mengambil botol air mineral di meja dengan asal, lalu melemparkannya ke arah pintu. "Keluar!" Julia menoleh, melihat Mandy berdiri di pintu. Ketika Victor akhirnya melihat dengan jelas siapa yang datang, wajahnya sedikit berubah. "Mandy? Kenapa kamu ada di sini?" Mandy menutupi dahinya yang memerah karena terkena terkena lemparan, menggigit bibirnya, lalu menundukkan pandangannya. Pakaiannya kotor berlumuran lumpur, tampak sangat kusut. "Waktu latihan mobil aku nggak menginjak rem dengan cukup baik, jadi aku menabrak .… Aku datang ke sini untuk mengambil kotak obat." Victor terdiam selama beberapa detik, mengabaikannya. Pria itu mengambil plester, menempelkannya dengan lembut di jari kaki Julia. "Kamu duduk di sini saja, jangan bergerak. Jangan berjalan sembarangan dengan kakimu yang terluka," kata Victor. Victor mengangkat tangan untuk menyibakkan rambut di telinga Julia, lalu mencium pipinya. "Aku akan memeriksa lukanya dulu. Aku akan langsung kembali setelah beberapa menit. Aku akan berada di depan pintu, panggil aku kalau kamu butuh sesuatu." Pria itu melangkah keluar dengan membawa kotak obat. Ruang istirahat tiba-tiba menjadi sunyi. Begitu sunyi sampai Julia bisa mendengar suara angin di luar jendela. Beberapa menit pun berlalu. Julia perlahan mendorong pintu terbuka. Di depan pintu tidak ada satu orang pun. Apanya yang "berada di depan pintu"? Kekecewaan di hati Julia hanya muncul sesaat sebelum akhirnya diredam. Seharusnya dia sudah bisa menebak semuanya, 'kan? Julia bersandar dinding, berjalan tertatih-tatih menuju mobil balap itu. Dia benar-benar menyukai mobil itu. Karena melihat hujan akan segera turun, Julia ingin memarkirkan mobil itu di garasi. Namun, saat Julia sampai di samping mobil, langkahnya tiba-tiba terhenti. Mobil tampak bergoyang dengan ringan, disertai dengan suara yang samar-samar keluar dari celah jendela yang tidak tertutup rapat .... Bab 4 Kaca jendela mobil memantulkan dua bayangan yang saling tumpang tindih, hanya menyisakan celah selebar jari. Victor menindih Mandy di kursi pengemudi, ujung jarinya membelai dahi wanita itu. "Apa dahimu sakit terkena lemparan tadi?" Mandy mendongakkan kepala perlahan, menempelkan bibirnya ke bibir Victor, sementara matanya berkilat dengan rayuan. "Nggak sakit. Seharusnya aku nggak mengganggumu dan Kak Julia, Aku pantas dilempar," kata Mandy. Victor mengerutkan kening, menggigit pipi Mandy perlahan. "Jangan bicara sembarangan. Kamu dan dia sama-sama kesayanganku," balas Victor. Victor mencubit pinggangnya, nadanya terdengar sedikit nakal, "Kamu masih bisa bicara omong kosong, berarti kamu belum cukup dilempari." Sebelum Victor selesai berbicara, satu tangannya mencubit pinggang Mandy, sementara tangan lainnya memegang dagunya, langsung mencium wanita itu dengan kasar. Mandy meronta dua kali, lalu mendorong Victor. Nadanya berisi kecemburuan ketika dia berujar, "Ini adalah mobil yang kamu berikan padanya. Aku nggak mau melakukannya di sini ...." "Lagi pula, Kak Julia masih menunggumu di ruang istirahat. Kamu mengatakan akan kembali dalam beberapa menit." Victor menjepit pergelangan tangan Mandy di atas kepala dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meluncur turun mengikuti garis pinggangnya. Suaranya terdengar serak dan dalam, "Sekarang kamu masih bisa memikirkan orang lain? Beberapa menit saja sudah cukup untuk mengurusmu." Tidak lama kemudian, napas Mandy menjadi terengah-engah. Dia merangkul bahu Victor dengan lembut. Suara-suara ambigu itu terbawa angin hingga keluar. Julia seperti dipaku di tempat, seluruh darah di tubuhnya membeku. Kakinya lemas, hingga dia hampir jatuh berlutut. Dadanya seperti dilubangi dengan paksa, terasa sakit sampai dia tidak bisa melihat dengan jelas. Julia tiba-tiba teringat hari berdirinya klub. Victor seperti anak kecil yang meminta permen, menunggu pujian darinya. Namun, karena Julia merasa terlalu terharu, dia hanya bisa menangis, tidak bisa berbicara. Victor langsung menggendong Julia masuk ke kursi belakang mobil balap, menarik baju wanita itu dengan napasnya yang panas. Julia juga sangat tergoda, tetapi dia tetap mendorong pria itu menjauh sambil menggertakkan gigi. "Victor, mobil balap adalah cita-cita tertinggiku. Aku ingin menjaganya tetap murni," ujar Julia. Saat itu Victor terdiam. Julia mengira pria itu akan marah, tetapi dia tiba-tiba merapikan pakaian mereka berdua. Pria itu duduk tegak sambil mengangkat tiga jarinya, sementara matanya bersinar dengan cerah. "Aku bersumpah, mulai sekarang ini juga akan menjadi cita-citaku. Selamanya, aku akan selalu bersikap hormat pada mobil balap, nggak akan pernah melakukannya di dalam mobil ...." Victor membisikkan kata-kata terakhir itu di telinga Julia dengan napas panasnya, membuat wajah Julia serasa terbakar. Hanya dengan janji itu, Julia memutuskan bahwa Victor akan menjadi satu-satunya pria di hidupnya. Namun, sekarang pria itu sedang bersama wanita lain di dalam mobil balapnya, menginjak-injak hal yang paling Julia sayangi. Julia merasa kesakitan sampai tidak bisa berdiri. Kunci mobil di tangannya menimbulkan bunyi dentingan ketika terjatuh ke tanah. Julia tersadar, ingin berbalik untuk lari. Namun, dia menyadari bahwa kedua orang di dalam mobil itu sama sekali tidak menyadari gerakan di luar. Julia memaksakan senyuman yang tampak lebih buruk dari tangisan, menggigit buku jarinya dengan keras, menahan semua isakan di tenggorokan. Pada saat itu, hujan mulai turun, sementara celah di jendela mobil pun tertutup rapat. Julia memandang mobil yang masih bergoyang ringan untuk terakhir kalinya, membungkuk untuk memungut kuncinya, lalu berbalik sambil melemparkannya ke dalam selokan di samping. Mandy yang ada di kursi belakang kebetulan mendongakkan kepala. Dia melihat punggung Julia yang menjauh melalui kaca spion. Sudut mulutnya menunjukkan senyuman bangga. Hujan deras datang dan pergi dengan cepat. Ketika Victor mendorong pintu ruang istirahat terbuka, Julia masih duduk dengan posisi yang sama. Victor menghela napas lega, menarik kerah bajunya, lalu berjongkok di depan Julia. "Julia, ayo kita pulang." Saat Julia menundukkan kepala, dia bisa melihat tanda merah yang masih baru di sisi leher pria itu. Anehnya, tidak ada riak sedikit pun di hati Julia. Dia tidak membiarkan Victor menggendongnya, langsung bersandar di dinding, berjalan dengan tertatih-tatih ke tepi mobil. Saat membuka pintu penumpang, dia melihat Mandy sedang duduk di kursi pengemudi. Victor segera menyusul, lalu menjelaskan, "Mandy mendaftar untuk sebuah lomba kecil. Kita akan membiarkannya berlatih di sepanjang rute ini. Julia, bisakah kamu membantu membimbingnya?" Julia tertegun sejenak, lalu mengangguk. Meskipun Julia membenci Mandy, dia menghormati setiap orang yang benar-benar mencintai mobil balap. Namun, andai saja Julia sejak awal mengetahui bahwa Mandy bahkan tidak memiliki SIM, dia tidak akan pernah membuka pintu mobil itu. Ketika mobil tiba-tiba oleng dan meluncur keluar, jantung Julia seakan melonjak ke tenggorokannya dalam sekejap. Dia mengulurkan tangan untuk merebut kemudi, tetapi Mandy dengan kasar mendorongnya menjauh. "Kalau nggak mau mati, lepaskan tanganmu!" Julia memperingatkan dengan mata memerah. Namun, Mandy benar-benar tidak melonggarkan cengkeramannya sedikit pun. Kakinya juga menginjak pedal gas hingga dalam. Suara ledakan yang keras dan suara Victor datang bersamaan. "Julia!" Bab 5 Julia menahan rasa sakit yang menusuk di kakinya, berusaha keras untuk menanggapi teriakan itu. "Victor ... aku …." Namun, tidak ada seorang pun yang menjawab. Julia membuka mata dengan paksa, penglihatannya kabur karena darah. Dia hanya melihat bagian dalam mobil yang kosong. Hanya tersisa dirinya seorang. Orang yang tadi meneriakkan namanya tidak menolongnya. Saat kesadarannya mulai menghilang, Julia terjatuh ke dalam mimpi. Dia bermimpi Victor mengejarnya ke Loswana pada tahun itu. Pada saat itu, klub menahan Julia dan tidak bersedia melepaskannya. Dengan mata yang memerah, Victor ingin bertaruh mobil dengan anggota klub. Jika dia menang, dia akan membawa Julia pergi. Waktu itu, Victor baru saja mengambil lisensi balap profesional demi Julia. Ini adalah pertama kalinya pria itu menyentuh mobil balap, tetapi dia sudah berani naik ke jalan pegunungan yang berliku. Julia duduk di kursi penumpang sebagai navigator, tetapi tetap saja terjadi kecelakaan. Saat Victor melakukan drift, dia kehilangan kendali. Mobilnya menabrak pembatas, langsung terjun berguling ke bawah tebing. Dalam kekacauan, Victor mati-matian melindungi Julia dalam pelukan, bahkan tidak melepaskan wanita itu meski kepalanya berdara. Pada akhirnya, pria itu menggunakan seluruh tenaganya untuk mengangkat Julia ke atas batu yang menonjol di atap mobil, lalu berteriak dengan suara serak, "Pegang erat-erat." Sementara itu, Victor sendiri meluncur ke bawah bersama dengan mobil yang hancur. Setengah tubuhnya sudah tergantung di luar tebing, hampir hancur berkeping-keping. Setelah diselamatkan, Victor berbaring dengan lemah di pelukan Julia. Dia tidak sadarkan diri, tetapi masih tidak lupa bahwa Julia akan kembali. "Julia, mereka hanya ingin kamu menghasilkan uang. Aku ingin kamu aman .... Mulai sekarang, nggak peduli seberapa berbahayanya, aku akan ... akan melindungimu. Ikutlah denganku, oke?" ujar Victor. Julia hendak menjawab, tetapi pandangannya menjadi gelap. Dia pun terbangun dari mimpi itu. Kali ini, pria itu tidak melindunginya. Bulu mata Julia bergetar. Ketika membuka mata, setetes air mata mengalir jatuh ke sarung bantalnya. Orang yang ada di tepi tempat tidur langsung menjadi bersemangat. "Julia, kamu akhirnya sadar!" Perawat yang mengganti perban juga ikut tersenyum. "Akhirnya kamu sadar. Dokter Victor menjagamu siang dan malam, matanya sampai merah. Aku juga ingin menjadi adiknya untuk bisa ikut merasakan kebaikan ini." Julia belum pulih sepenuhnya. Dia bertanya dengan kebingungan, "Adik?" "Ya. Bukankah kamu Adik Dokter Victor?" Perawat itu berkata sambil membereskan barang, "Pagi tadi istri Dokter Victor, Kak Mandy, juga datang menjengukmu. Dia menangis sampai sesak napas. Dia secara khusus berpesan agar aku meneleponnya ketika kamu tersadar." Gelas kaca yang ada di tangan Victor terjatuh ke lantai dengan suara keras, hancur hingga berkeping-keping. Perawat itu terkejut, menutup mulut dengan canggung, lalu segera memanggil petugas kebersihan. Julia juga terkejut oleh suara ini sampai benar-benar tersadar. Serpihan ingatan yang hancur tiba-tiba menyatu. Julia mengingat punggung Victor yang menggendong Mandy pergi menjauh. Saat dia sekarat, mengulurkan tangan untuk meminta pertolongan, pria itu menganggapnya tidak ada, meninggalkan dirinya dalam keputusasaan. Julia mendongak untuk menatap Victor. Kepanikan di mata pria itu tidak bisa disembunyikan. Julia menyeringai, sementara suaranya terdengar dingin ketika berkata, "Jelaskan." Victor tertegun sejenak, lalu segera memegang tangannya dengan panik. "Mereka bicara omong kosong! Pasti ini karena kita terlihat akrab, jadi mereka salah mengira kalau kamu adalah adikku …." "Baiklah, aku percaya padamu." Julia memotongnya, tidak ada emosi sedikit pun yang terdengar dalam nadanya. Sisa kata-kata Victor tersangkut di tenggorokannya. Ada yang tidak benar. Julia seharusnya tidak seperti ini. Wanita ini seharusnya menangis, mengamuk, menanyakan kenapa dia menyelamatkan Mandy terlebih dulu. Seharusnya dia juga marah karena Victor membiarkan orang lain salah paham dengan hubungan mereka. Namun, Julia tidak melakukannya. Wanita ini setenang genangan air. Kepanikan menjalar naik di sepanjang tulang belakangnya. Victor masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi Julia sudah menutup mata. "Aku mengantuk." Rasa bersalah yang menghantui hati Victor tak menemukan tempat untuk berlabuh. "Julia, ini semua salahku. Aku nggak seharusnya membiarkan Mandy menyetir. Aku sudah memarahinya. Kalau kamu marah, kamu bisa memukul atau memarahiku. Jangan menyimpannya di dalam hati," kata Victor. Julia menarik kembali tangannya. Saat membuka matanya lagi, hanya tersisa kesunyian di sana. "Aku benar-benar mengantuk." Ada sesuatu yang salah. Kepanikan menyergap Victor. Rasa kehilangan yang tak terelakkan itu bagaikan lubang hitam yang hendak menyeret dirinya ke dalam kehampaan. Namun, sebelum Victor sempat mengucapkan penyesalan yang layak, dia sudah dipanggil keluar oleh dokter yang datang untuk memeriksa. Begitu pria itu berbalik, mata Julia langsung memerah. Namun, tak peduli betapa perih hatinya kali ini, tak ada lagi air mata yang tersisa untuk mengalir. Ketika Victor berbalik untuk pergi, hati Julia sudah benar-benar mati. Julia mengangkat tangan untuk menyeka sudut matanya yang kering. Dia hanya ingin tidur dengan nyenyak, lalu langsung meninggalkan pria ini begitu terbangun nanti. Namun, begitu kelopak matanya terpejam, keributan dari ranjang sebelah langsung memecah keheningan. "Berhentilah menangis!" Suara seorang wanita terdengar memarahi, "Kakak di ranjang sebelah itu pembalap. Sekarang kakinya patah, dia nggak bisa menyetir lagi, tapi dia nggak menangis. Pergelangan kakimu hanya terkilir saja, apa yang perlu kamu tangisi?" "Ah! Aku nggak mau kakiku patah. Aku nggak mau!" Tangisan bocah itu bergema di seluruh ruang perawatan, hingga sampai ke telinga Julia. Kakinya patah? Dalam sekejap, di kepala Julia seakan terdengar suara ledakan yang keras. Bab 6 Julia tiba-tiba menempelkan tangannya ke kakinya, ujung jarinya menyentuh gips yang keras. Kakinya masih ada. Namun, detik berikutnya, jantungnya seakan tercekat. Ketika ujung jarinya menekan ke bawah, baik mengusap lembut maupun mencubit dengan keras, kakinya sama sekali tak merespons, seperti benda asing yang menempel di tubuhnya. "Nggak, nggak mungkin .…" Dia bergumam sambil menahan sprei, mencoba duduk, tetapi baru terangkat sedikit, kaki kanannya mendadak lemas dan tubuhnya jatuh keras ke lantai. Pada detik ini, terdengar suara cemas Victor di depan pintu. "Dokter Jeno, apa benaran nggak ada cara lain? Dia 'kan pembalap .…" "Ini tergantung pemulihan," jawab sang dokter dengan suara yang terdengar tak berdaya, "Tapi, aku sangat nggak menyarankan untuk kembali ke lintasan. Kalau cedera lagi, akibatnya bisa sangat fatal." Setelah hening sebentar, Victor menjawab dengan suara serak, "Baik, terima kasih." Setiap kata-katanya seperti palu yang menghancurkan sisa-sisa harapan terakhir Julia. Julia terlahir untuk menjadi pembalap. Sejak pertama kali menyentuh setir, Julia tahu hidupnya terikat dengan suara mesin. Namun, sekarang, seseorang memberitahunya bahwa dia tidak bisa lagi mengendarai mobil balap. Ini lebih menyakitkan daripada kematian. Saat Victor mendorong pintu masuk, dia melihat Julia jatuh terduduk di lantai. Victor buru-buru membungkuk untuk menolongnya, tetapi begitu melihat wajahnya yang penuh air mata, Victor langsung berhenti. "Kamu dengar semuanya?" Julia tidak menatapnya. Dia menepis tangan Victor yang terulur. Suara Julia gemetar saat bertanya. "Di mana Mandy?" Sorot mata Victor agak berubah, seolah takut Julia melakukan sesuatu yang ekstrem. Victor segera membelanya. "Mandy masih muda dan belum dewasa. Aku sudah memarahi dia habis-habisan karena menyetir tanpa SIM. Dia sendiri juga terluka. Julia, tolong jangan salahkan dia lagi, ya?" Julia tiba-tiba menatapnya, matanya merah. Ternyata Victor tahu Mandy belum punya SIM, tetapi Victor tetap membiarkannya mengemudi, bahkan mendaftarkannya untuk mengikuti balapan. Ini sudah keempat kalinya. Empat kali kecelakaan, empat kali Julia terbaring di rumah sakit. Setiap kali itu terjadi, Mandy bahkan tidak mengucapkan permintaan maaf yang layak. Julia tiba-tiba ingin tersenyum, tetapi sudut mulutnya perih karena air mata. Hanya tetesan air mata yang terus jatuh tak terbendung seperti untaian yang putus. Sampai detik ini, Victor masih membela Mandy. "Bagaimana denganku?" Suara Julia sangat pelan saat berkata, "Kalau bukan dia, siapa yang harus kusalahkan? Diriku sendiri? Kakiku yang mungkin nggak akan pernah bisa berdiri lagi, bukan kakinya! Tapi, kamu masih saja mencari alasan untuknya!" Victor mengerutkan keningnya, nada bicaranya terdengar agak tidak sabar. "Julia, aku sudah bilang dia nggak sengaja. Kenapa kamu masih bersikeras?" Dia berhenti sejenak dan ucapannya bahkan terdengar menyalahkan, "Lagi pula, kalau saat itu kamu nggak merebut kemudi, mungkin kecelakaan ini nggak akan terjadi. Pernahkah kamu memikirkan kesalahanmu sendiri?" Julia merasa seolah-olah kepalanya disiram air es, seluruh darah di tubuhnya serasa membeku. Namun, hanya sesaat, Julia malah tersenyum. Senyuman itu lebih menyedihkan daripada menangis. Setiap kali berhubungan dengan Mandy, dialah yang selalu disalahkan. Hati yang sudah mati itu seakan dicabik-cabik paksa, lalu dihancurkan menjadi bubuk. Julia memejamkan mata sebentar, suaranya datar terdengar lemah tak bersemangat saat berkata, "Aku lelah, pergilah." Saat melihat wajahnya yang pucat dan tak berdaya, hati Victor serasa mencelos. Baru saat itulah Victor sadar betapa menyakitkan kata-katanya barusan. Dia membuka mulut untuk meminta maaf, tetapi pada akhirnya tak ada kata yang keluar. Langkahnya goyah saat berbalik pergi. Tiga hari berikutnya, Victor nyaris tidak meninggalkan Julia. Victor sendiri yang memberinya obat pahit, memasak berbagai makanan favoritnya, bahkan memasang kasur lipat di samping tempat tidur Julia dan langsung terbangun tiap kali ada gerakan kecil di malam hari. Akan tetapi, Julia seperti boneka tanpa jiwa. Dia membuka mulut ketika diberi obat, bangkit saat ditopang, tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan tidak sekali pun menatap Victor. Baru ketika Victor tidak tahan lagi dan berkata, "Aku akan mengadakan pernikahan palsu dengan Mandy." Julia akhirnya bereaksi. "Oke, aku akan pergi." Nada suaranya tetap datar. Hati Victor mencelos. Dia sempat membayangkan Julia akan menangis, marah, atau menuntut jawaban, tetapi tidak pernah menyangka reaksi Julia akan sedingin ini. Victor buru-buru menjelaskan, samar-samar suaranya terdengar agak panik. Dia berkata, "Julia, Keluarga Frans menargetkan Mandy. Mereka ingin memaksanya menikah. Aku sebagai kakaknya, nggak bisa berdiam diri melihatnya terjun ke dalam penderitaan." "Jadi, aku ingin mengumumkan ke luar kalau kita sudah bercerai, lalu aku akan menikahi Mandy. Tapi, percayalah, pernikahan ini cuma pura-pura. Soal perceraian ini juga hanya solusi sementara. Setelah urusan Keluarga Frans selesai, semuanya akan kembali seperti semula." Mendengar itu, Julia justru tersenyum tipis. Itu bukan tersenyum sinis, juga bukan sarkasme. Itu tawa lega yang tulus. Devon akhirnya akan bertindak. Victor bilang Keluarga Frans itu ibarat sarang iblis yang memakan manusia, tetapi bagi Julia, justru itu satu-satunya pegangan untuk bisa keluar dari penjara yang menyesakkan ini. Bab 7 Melihat senyumnya, kesuraman di wajah Victor langsung sirna. "Julia, kamu tenang saja. Di hatiku cuma ada kamu." "Waktu itu ucapanku keterlaluan. Apa pun permintaanmu, bilang saja, aku akan melakukannya. Asal jangan marah lagi padaku." Victor mendekat, suaranya terdengar sedih seperti hampir menangis. Dulu, Julia paling mudah luluh oleh sikapnya seperti ini, selalu bisa dibujuk hingga hatinya melunak. Namun, sekarang dia justru merasa orang di depannya sangat asing. Hatinya dingin seakan dilapisi es. Julia menatap mata Victor yang penuh permohonan, lalu tiba-tiba melengkungkan bibirnya. "Baiklah, kalau begitu, suruh saja Mandy menikah dengan orang lain." Senyum Victor langsung membeku, sudut bibirnya bergetar lama sebelum akhirnya terpaksa membentuk lengkungan tipis. "Julia, jangan begitu dong." Victor mengulurkan tangan untuk menyentuh wajahnya, tetapi Julia memalingkan muka. "Dia 'kan adikmu, bahkan soal ini pun kamu masih cemburu? Minta yang lain saja, apa pun pasti aku turuti." Julia makin tertawa. Dia tahu, selama menyangkut Mandy, semua janji manis Victor hanyalah selembar kertas, mudah robek. "Aku cuma bercanda." Senyum Julia meredup. Suaranya terdengar dingin saat dia berujar, "Apa pun yang ingin kalian lakukan, lakukan saja. Nggak perlu repot-repot memberitahuku." Melihat Julia tidak lagi mempermasalahkan Mandy, Victor menarik napas lega. Victor kembali tersenyum dan mengelus kepala Julia. "Aku tahu Julia memang paling pengertian. Aku akan kembali bekerja sekarang. Kamu istirahatlah." Begitu langkah kaki pria itu menghilang di ujung koridor, ekspresi terakhir di wajah Julia langsung runtuh. Ternyata inilah alasan di balik kesetiaan dan perhatiannya yang tak putus-putus selama beberapa hari terakhir. Bukan karena rasa bersalah, bukan karena perhatian tulus, tetapi hanya takut Julia akan membuat keributan yang mengganggu rencananya untuk membuka jalan bagi Mandy. Julia menyunggingkan senyum sinis, meraih ponsel dari bawah bantal, dan menelepon Lina. "Lina, apa draft perjanjian ceraiku sudah siap?" Di seberang telepon, terdengar hening selama beberapa detik, begitu lama sampai Julia mengira sinyalnya terputus, sebelum akhirnya suara Lina yang serak terdengar. "Julia, kamu dan Victor nggak punya hubungan pernikahan. Akta nikah yang kamu kirimkan kepadaku sebelumnya itu … palsu." Tubuh Julia langsung kaku, telinganya berdengung. Dia mencengkeram ponselnya tak percaya, suaranya bergetar saat bertanya, "Kamu … bilang apa?" "Itu benar," jawab Lina yang terdengar hati-hati. "Aku minta seseorang buat memeriksanya. Statusmu masih lajang, sedangkan Victor sudah bercerai." "Mantan istrinya adalah Mandy. Perceraian mereka baru selesai dua bulan lalu. Stempel di akta nikah kalian itu palsu, dokumennya … adalah barang tiruan yang dibeli dari toko kelontong. Kalian bukan pasangan sah." Saat Lina berbicara, suaranya sampai tercekat. Siapa sangka, pernikahan Julia yang dulu heboh dan membuat banyak orang iri, ternyata sejak awal hanyalah kebohongan? Dengan tangan gemetar, Julia membuka tangkapan layar yang dikirim Lina. Cahaya layar yang pucat menyinari wajahnya yang sama pucatnya. Baris demi baris kata-kata dingin itu, seperti jarum beracun, bertubi-tubi menghujam hingga membuat matanya perih. Hati yang sudah hancur berulang kali, yang baru saja dia kumpulkan dengan sekuat tenaga, kini dihancurkan lagi dengan pukulan brutal, remuk tak bersisa. Ternyata, Julia telah menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang lain selama sepuluh tahun penuh. Sepuluh tahun! Dari usia tujuh belas sampai dua puluh tujuh, masa terbaik hidupnya dia habiskan untuk pria itu, tetapi akhirnya bahkan status istri pun tak pernah dia miliki. Sungguh ironis. Rasa sakit di kaki dan sesak di dada menyerang bersamaan, Julia tak lagi bisa mempertahankan ketenangannya. Di ruang perawatan, tiba-tiba tangisan putus asanya meledak. Tangisannya terdengar menyayat hati, sampai pasien di ranjang sebelah ikut berkaca-kaca. Akhirnya, dengan susah payah, dia turun dari ranjang. Dengan penuh kebencian, dia meraih tongkat di samping ranjang, lalu tertatih-tatih menuju kantor Victor. Saat Victor melihatnya muncul di pintu, ekspresinya terkejut senang. Namun, begitu melihat kaki Julia yang gemetar dan wajahnya yang pucat, kening Victor langsung mengernyit. Sorot mata Victor dipenuhi rasa iba saat melangkah menghampiri Julia. "Julia, kenapa kamu ke sini? Kakimu sudah nggak sakit lagi?" Victor mengulurkan tangan untuk membantunya, tetapi Julia tiba-tiba menepisnya. Julia mengangkat ponselnya di depan Victor, tatapannya penuh kesedihan. "Victor, aku sungguh menyesal pernah bertemu denganmu." Kalimat itu membuat alis Victor berkerut. Namun, ketika Victor melihat isinya, wajahnya memucat seketika. Dia buru-buru merebut ponsel itu, menggulir layar makin cepat, sementara ekspresinya kian muram. Hingga akhirnya berhenti pada percakapan Julia dengan Lina yang bertuliskan: [Ingin bercerai]. "Kamu ingin cerai?" Dia mendongak tiba-tiba, rasa panik di matanya berubah menjadi tatapan gelap dan menakutkan. "Kamu ingin meninggalkanku?" Julia terisak pelan. Air matanya yang bercampur kebencian menetes dari sudut matanya, menatap Victor dengan tajam. "Ya! Kamu sangat mengerikan. Aku harus menjauh darimu!" Setelah berkata itu, Julia meraih kembali ponselnya, jarinya gemetar saat menekan nomor Devon. Namun, sebelum panggilan itu tersambung, ponselnya direbut dengan kasar oleh Victor dan dilempar ke lantai dengan keras. "Brak!" Layar ponsel seketika retak. Julia terperanjat. Dia mendongak dan menatap mata Victor yang merah penuh amarah. Raut wajah Victor tak lagi menyisakan kelembutan, hanya obsesi gila yang menakutkan. "Aku nggak akan membiarkanmu meninggalkanku." Julia menggigil, tetapi masih menguatkan diri dengan menggertakkan gigi, lalu berbalik pergi. Namun, baru berjalan beberapa langkah, tengkuknya tiba-tiba terasa sakit yang menusuk. Pandangannya menjadi gelap dan dia pun kehilangan kesadaran. Bab 8 Saat Julia kembali membuka mata, ia mendapati dirinya terkunci di dalam mobil. Lehernya masih terasa nyeri. Dia meraba kotak penyimpanan di kursi penumpang dan menemukan palu keselamatan. Baru saja dia menggenggamnya, pintu mobil terbuka. Victor berdiri di luar mobil, raut wajahnya suram. "Kamu mau ke mana?" Julia tidak menjawab. Begitu hendak turun, lengannya ditarik kuat oleh Victor dan dilempar kembali ke kursi. Victor menunduk di sisi pintu, rahangnya mengeras, matanya merah karena amarah. "Sudah kubilang, kamu nggak boleh ke mana-mana. Kamu harus tetap di sampingku." Julia mendongak menatapnya tajam, tetapi tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Victor menatapnya, lalu tiba-tiba merobek pakaian Julia. Udara dingin langsung menerpa, membuat Julia menggigil. "Victor! Apa yang kamu lakukan?" Tanpa sepatah kata pun, Victor dengan kasar menanggalkan pakaiannya, lalu menciumnya. Tangan Victor terus bergerak turun dengan kekuatan yang tak bisa dilawan. Julia akhirnya menyadari apa yang akan dilakukan Victor. Julia berusaha melawan dengan sekuat tenaga, tetapi tubuhnya ditahan dengan erat. "Lepaskan aku! Kalau kamu seperti ini, aku akan membencimu seumur hidup!" Namun, Victor seolah tidak mendengar. Apa pun yang Julia lakukan, entah menendang, menangis, bahkan menggigit bahunya, itu tidak membuat Victor menghentikan aksinya. Akhirnya, Julia kehabisan tenaga. Dia hanya bisa memohon dengan suara serak. "Victor … Jangan di mobil ini. Ini mobil balapku …." Kata-katanya terpotong oleh teriakan kesakitan. Gerakan Victor tiba-tiba menjadi lebih kasar, napas panasnya menyapu telinga Julia. Suaranya tetap lembut, tetapi aneh saat Victor berujar, "Julia, ini adalah hukuman untukmu. Masih ingin pergi?" Julia menggigit bibirnya keras-keras, rasa darah terasa di lidahnya. Air mata menetes di kursi kulit hitam, meninggalkan noda gelap. Mandy telah menghancurkan kakinya, tetapi Victor seolah ingin menghancurkan seluruh dirinya. Beberapa hari setelah itu, Victor seperti orang gila, membawanya ke sirkuit, dan melakukan hal yang sama di setiap mobil balapnya. Sementara Julia, dari tangisan penuh permohonan, hingga makian tak terkendali, hingga akhirnya hanya tersisa rasa hampa. Dia menatap kosong ke arah atap mobil, membiarkan Victor mempermainkannya seperti boneka tak berjiwa, bahkan air matanya pun mengering. Setelah melampiaskan semuanya di mobil terakhir, Victor memeluknya dan bertanya, "Apa kamu masih ingin meninggalkanku, Julia?" Julia menggeleng otomatis. Julia tak ingin pergi lagi. Dia hanya ingin mati. Baru kemudian, Victor membawanya pulang. Begitu masuk rumah, Julia melihat kue yang belum dibuka di meja ruang tamu, hanya melihatnya saja sudah merasa mual. Dia diam-diam masuk ke kamar dan hendak mengunci pintu, tetapi Victor menghentikannya. "Julia, kamu bandel, ya." Victor mengeluarkan borgol, menguncinya di kepala tempat tidur, lalu merebut silet dari tangannya dengan paksa. "Dengar baik-baik, jangan buat aku marah. Kalau nggak, kamu sendiri yang akan menderita." Julia sedang melotot marah padanya ketika pintu terbuka. Mandy melangkah masuk sambil menggoyang-goyangkan sesuatu di tangannya. "Kak Victor, mana yang lebih cocok dipakai untuk pernikahan?" Tatapan Julia menegang seketika. Itu medali juara nasional miliknya, juga liontin batu alam warisan ibunya. "Victor!" teriak Julia. Suaranya serak seperti bel rusak. "Itu milikku!" Victor justru tersenyum puas, berlutut di tepi ranjang dan mengetuk liontin batu alam itu. "Aku tahu, itu memang milikmu." Victor menatapnya dengan dingin, "Kalau kamu berani coba bunuh diri lagi, aku nggak jamin barang-barang ini tetap aman." Julia menggertakkan giginya, sorot matanya memancarkan kebencian yang membara. "Membenciku?" Victor mengangkat alisnya. "Kalau begitu, berhenti berpikir untuk pergi. Kalau nggak, akan ada hal lain yang lebih menyakitkan menunggumu." Awalnya, Julia mengira dia hanya menakut-nakuti. Sampai malam itu, Victor menyeretnya dari ranjang, memaksanya berlutut di tepi tempat tidur, lalu memegang paksa wajahnya agar menatap ke tengah kamar. Di sana, Mandy bersandar di pelukan Victor dengan setengah tak berpakaian. "Marah? Jijik?" Suara Victor menusuk seperti racun. "Lihat baik-baik! Jangan pejamkan matamu!" Victor bilang semua ini adalah hukuman karena tidak mau menurut. Namun, Julia hanya menatap kosong, bahkan tak sempat berkedip. Hatinya sudah mati sejak lama, apa lagi yang perlu dia pedulikan? Untuk mencegahnya bunuh diri lagi, Victor mulai mengontrol makanannya. Setiap hari hanya memberinya sedikit air dan roti, sampai Julia bahkan tak punya tenaga untuk menggigit pergelangan tangannya sendiri. Akhirnya, Victor tetap memasangkan liontin itu di leher Mandy. Sambil mengelus rambut Mandy, Victor berkata, "Kalau kamu masih ingin pergi, liontin ini akan selamanya jadi milik Mandy." Sehari sebelum pernikahan, Victor tidak menyentuhnya. Victor berbaring di tempat tidur, memeluk Julia dari belakang. Dagu Victor menempel di bahunya, sambil berbisik dengan lembut, "Jangan salahkan aku ya, Julia? Aku cuma terlalu mencintaimu." "Setelah aku menikah dengan Mandy dan setelah urusan Keluarga Frans beres, aku akan membawamu ke Kantor Catatan Sipil. Kita akan menikah sungguhan, bagaimana?" Julia memejamkan mata rapat-rapat dan tidak menjawab. Keesokan paginya, di hari pernikahan, Mandy melangkah masuk dengan gaun putih bersih, lalu dengan sengaja mendekatkan liontin di lehernya ke wajah Julia. "Kasihan sekali kamu, Kak Julia." Mandy tersenyum penuh kemenangan. "Aku sudah memperingatkanmu sejak lama, seharusnya kamu segera pergi. Liontin ini jelek sekali, tapi Kak Victor bersikeras memberikannya kepadaku sebagai maskawin." Tanpa sepengetahuannya, Julia sudah kehilangan hasrat untuk hidup. Bukan hanya sebuah liontin, bahkan kalau Victor mengancam dengan abu ibunya sekali pun, dia takkan goyah. Jadi, saat Victor dan Mandy keluar sambil bergandengan tangan, Julia menoleh dan menyentuh pergelangan tangannya dengan tangan kanannya yang masih bergerak. Saat menggigit, tidak terasa sakit sama sekali, hanya darah hangat yang perlahan menetes. Baru setitik darah mengalir, tiba-tiba terdengar suara keras kaca pecah dari jendela kamar. Sebuah mayat palsu dilempar masuk, lalu disusul pria berwajah tampan. Devon berdiri di antara pecahan kaca, mengulurkan tangannya padanya. "Ayo, aku datang buat menjemputmu."