Rahasia Suami Terbongkar di Meja Pendaftaran

Đang tải thông tin quảng bá...

Rahasia Suami Terbongkar di Meja Pendaftaran

GoodNovel Hoàn thành

Agar anakku, Edy Sudrian bisa masuk sekolah internasional yang terunggul, aku sudah mempersiapkan semua berkas selama setahun. Di hari terakhir pengecekan berkas masuk sekolah, semua berkas sudah di...

Chương (1)

第1章

Agar anakku, Edy Sudrian bisa masuk sekolah internasional yang terunggul, aku sudah mempersiapkan semua berkas selama setahun. Di hari terakhir pengecekan berkas masuk sekolah, semua berkas sudah disiapkan kecuali akta nikahku bersama suamiku, Eric Sudrian. Namun, begitu tiba di ruang pendaftaran, Eric justru menuduhku karena bertindak sepihak. Saat aku hendak membela diri, staf sekolah berkata dengan wajah aneh, "Nyonya Anida Kusuma, sistem mencatat bahwa pasangan sah Tuan Eric bukan Anda." Dalam seketika, aku langsung terdiam. Darah dalam tubuhku seakan membeku. Sebelum aku sadar kembali, Viona Hakana yang berdiri diam di belakang Eric langsung menyerahkan akta nikahnya. Usai memeriksa, staf sekolah pun mengangguk sambil berbicara, "Pak Eric dan Bu Viona telah menikah di bulan Juni empat tahun lalu, sehingga bisa diproses sekarang." Di bulan Juni empat tahun yang lalu. Hari itu adalah hari pertunanganku bersama Eric. Eric menggenggam tanganku di depan para tamu, kemudian bersumpah bahwa aku adalah satu-satunya cinta sejatinya. Namun, kalimat itu ternyata menipuku selama tujuh tahun. Bab 1 Mobil Bentley hitam milik Eric perlahan-lahan berhenti di depan gerbang sekolah. Setelah pintu mobil terbuka, Eric langsung keluar dengan setelan jas yang rapi dan wajah penuh senyum. Hatiku seketika menjadi senang, baru saja aku ingin menyambutnya. Namun, begitu pintu penumpang bagian depan terbuka, Viona pun melangkah turun dengan gaya anggun. Viona adalah mitra penting Eric, sekaligus putri dari Grup Hakana. Begitu turun dari mobil, Viona langsung merangkul lengan Eric dengan mesra. Viona mengangkat dagunya dan melihatku, seolah-olah ingin menunjukkan siapa yang berkuasa di sini. Sebelum aku sempat bertanya, mata putraku, Edy tiba-tiba berbinar. Dia melepaskan tanganku dan berlari ke arah mereka dengan penuh semangat. "Mama Viona! Apa mainan transformer edisi terbatas sudah dibawa?" Viona segera memperlihatkan wajah penuh senyuman penuh sayang. Kemudian, dia mengeluarkan sebuah kotak hadiah dari tas Hermes-nya dan menyerahkannya pada Edy. "Tentu saja! Mana mungkin mama lupa janji dengan Edy? Kelak apa pun yang kamu mau, mama pasti akan membelikannya untukmu." "Terima kasih, Mama Viona! Mama jauh lebih baik daripada ibu rumah tangga yang ada di rumah!" Edy memeluk kotak hadiah itu sambil berdiri di sebelah Viona tanpa menoleh ke arahku lagi. Aku seketika tercengang. Darah di tubuhku seakan membeku. Ketika aku melihat putraku, putraku malah memutar bola matanya ke arahku dan kemudian memeluk kaki Viona dengan erat. Eric berjalan mendekatiku dengan wajah tanpa rasa bersalah, sebaliknya malah penuh ketidaksabaran. "Siapa suruh kamu datang tanpa izinku? Bukankah aku sudah bilang diriku akan mengurusnya?" "Lihat saja! Gaya pakaianmu benar-benar sangat memalukan! Tidak pantas untuk datang ke sini, itu hanya membuat pihak sekolah menertawakan kita!" Aku langsung menundukkan kepalaku dan melihat pakaianku, gaun yang dibuat khusus tanpa logo yang mencolok. Aku mengerutkan alis sambil melihatnya. "Eric, apa maksudmu? Kenapa dia bisa datang ke sini?" Sebelum Eric berbicara, Viona langsung tersenyum dengan penuh ejekan. "Nona Anida sepertinya tidak paham dengan soal bisnis, kamu hanya tahu mengerjakan pekerjaan rumah dan jaga anak seharian." "Bahkan tidak tahu Grup Sudrian secara resmi masuk bursa hari ini. Aku sudah lama bekerja sama dengan Eric, tentu saja dia butuh pasangan yang pantas di acara sebesar itu." "Jadi aku menemaninya menghadiri pesta, wajar saja kami datang terlambat. Nona Anida seharusnya tidak keberatan, 'kan?" Viona sengaja memanggilku dengan sebutan Nona Anida, sebaliknya bukan Nyonya Anida. Terlihat jelas bahwa dia sedang meremehkanku. Setelah menekan amarah yang hampir meledak, aku langsung melihat Eric. Kenapa aku tidak tahu Grup Sudrian masuk bursa hari ini? Pada saat ini, seorang guru yang bertugas dalam urusan pendaftaran berjalan menghampiri kami. Kemudian, dia mengingatkan kami dengan nada sopan. "Tuan Eric, Nyonya Anida, wawancara akan segera selesai, mohon segera menyerahkan berkas." Eric hanya menggumam dengan nada tidak sabar, tapi pandangannya justru melihat ke arah Viona. Aku langsung mengerutkan alis dengan erat, hatiku seketika merasa sangat tidak senang. Ini masa depan anakku, sekaligus hasil kerja kerasku selama setahun. Apakah Eric ingin membiarkan Viona yang menikmati hasil dari semua jerih payahku? Aku melangkah dengan cepat, kemudian menyerahkan akta nikah pada guru itu. "Permisi, Pak. Ini akta nikah kami dan berkas lainnya sudah saya serahkan sebelumnya." Guru itu pun mengambil akta nikah dan mengangguk dengan sopan, kemudian berjalan masuk ke gedung sekolah. Wajah Eric seketika makin muram. Sementara itu, Viona hanya menyilangkan tangannya di depan dada dan tersenyum dengan penuh ejekan. Hatiku penuh dengan rasa penasaran. Apa maksud dari sikap dua orang itu? Bab 2 Tak lama kemudian, pintu gedung sekolah kembali terbuka. Namun, orang yang berjalan keluar bukan guru tadi, melainkan kepala bidang akademik sekolah ini. Dia langsung berjalan menghampiriku dengan wajah acuh tak acuh, kemudian mengembalikan akta nikah yang aku serahkan tadi. "Maaf, Nona Anida." "Kami baru saja melakukan verifikasi melalui jalur resmi. Dalam sistem catatan sipil, akta nikah ini tidak terdaftar." "Dengan kata lain, akta nikah ini tidak sah." Kepalaku hampir meledak, pikiranku pun menjadi kosong. Aku tanpa sadar membantah. "Tidak mungkin! Itu akta nikah yang saya buat bersama Eric tujuh tahun lalu!" Bu Desi langsung menatapku dengan ekspresi aneh. "Tapi sistem menunjukkan bahwa Anda bukan pasangan sah Tuan Eric." Begitu kata-kata itu terucap, para orang tua di sekitar langsung tertawa terbahak-bahak. "Astaga! Bisa-bisanya menipu pihak sekolah dengan akta nikah? Dia pengen masuk sekolah unggulan sampai segila ini, ya?" "Sungguh memalukan! Pantas saja pakaiannya terlihat sederhana." "Sekarang ada banyak wanita yang melakukan cara tercela untuk masuk ke keluarga kaya." Tiba-tiba, Viona tersenyum sinis. Viona mendorongku sambil berkata, "Maaf, Bu Desi. Tadi hanya kesalahpahaman, pembantu di rumah suami saya salah mengambil dokumen." Setelah melirikku sekilas, Viona langsung mengeluarkan akta nikah dari tasnya. "Ini akta nikah saya dengan Eric, sekaligus jaminan masuk sekolah untuk Edy. Semua berkas sudah lengkap, jadi kami sudah bisa masuk, 'kan?" Aku bergegas maju dengan panik dan merebut berkas dari tangan Bu Desi. Tampak selembar kertas tebal berwarna merah. Di dalamnya, terdapat foto Eric bersama Viona yang tersenyum mesra. Tanggal pencatatan adalah tujuh setengah tahun yang lalu. Lebih awal enam bulan sebelum aku menikah dan membuat akta nikah yang palsu dengan Eric! Aku mengangkat akta nikah itu dan melihat Eric dengan tatapan tidak percaya. Akhirnya, Eric memperlihatkan wajah aslinya dan meremehkanku. "Anida, sekarang aku akan bicara terus terang. Aku dan Viona adalah pasangan sah. Akta nikah yang kamu pegang itu palsu." "Palsu…." Setelah bergumam sejenak, aku merasa dunia seolah-olah berputar. Orang tua yang menonton keramaian pun mulai bergosip. "Astaga! Ini adegan istri sah menangkap selingkuhan, ya?" "Ya Tuhan, sudah 7 tahun jadi selingkuhan, punya anak lagi. Sekarang dia bahkan datang ribut sama istri sahnya. Sungguh tak tahu malu." "Pakaiannya tampak biasa-biasa saja! Dia pasti seorang wanita pelacur, sekarang Presdir Eric sudah bosan memainkannya." Aku langsung melihat putraku, Edy yang pernah ada di perutku selama sembilan bulan dan kubesarkan selama 6 tahun. Dia pasti akan memihak padaku. Namun, Edy justru bersembunyi di belakang Viona. Dia hanya menjulurkan setengah kepalanya dan menatapku dengan penuh jijik. "Dasar penipu! Ternyata kamu bukan istri papaku! Bagus sekali, aku sudah lama ingin punya ibu seperti Mama Viona!" "Mama Viona adalah pemilik perusahaan besar, dia bisa membeliku semua mainan yang aku inginkan. Bagaimana denganmu? Kamu hanya bisa menyuruhku belajar tanpa memberikan sesuatu untukku!" Viona memeluk Edy dengan puas, lalu melihatku dengan tatapan seorang pemenang. Amarahku sudah meledak. Aku merobek akta nikah Eric dan Viona hingga hancur berkeping-keping. Wajah Eric langsung memuram dan memarahiku. "Anida, kamu sudah gila, ya?! Tidak punya, malah iri pada orang lain, apalagi sampai merusaknya! Sungguh kelakuan orang picisan!" Aku seketika tercengang. Hawa dingin pun menyebar di sekujur tubuhku. Saat ini, aku merasa semua pengorbananku selama ini untuk Keluarga Sudrian hanyalah lelucon besar. Sejak menikah sampai sekarang, Eric bilang perusahaan sangat sibuk karena baru saja masuk ke dunia pasar, jadi aku rela menjaga anak di rumah. Ketika berada di luar, Eric menjadikanku sebagai pajangan untuk menunjukkan kesuksesan serta punya keluarga yang bahagia. Aku pun menurutinya tanpa membongkar kebenaran. Namun, sekarang Eric mengira bahwa dirinya sudah bisa meremehkanku sesuka hatinya! Dia tidak tahu bahwa aku adalah pewaris Keluarga Kusuma, keluarga terkaya di Kota Coasla, sekaligus sosok yang tidak sanggup disinggung olehnya! Bab 3 Aku tersenyum sambil berkata, "Eric, kalau aku orang rendahan, itu berarti kamu hanya pantas jadi pelayan orang rendahan!" "Aku menantu yang dipilih ayahmu sendiri. Kamu yakin ingin memperlakukanku seperti ini?!" Kepanikan seketika terlintas di wajah Eric, tetapi dia segera menenangkan dirinya dan kemudian tersenyum dengan penuh ejekan. "Memangnya kenapa kalau ayahku yang memilihmu? Jangan bertindak seperti katak naik junjung. Apa kamu pikir aku menikahimu karena cinta?" Mendengar bantahan Eric, Viona menjadi semakin sombong. "Anida, jangan salahkan Eric, tapi salahkan dirimu yang terlalu polos." "Dengan latar belakangmu yang biasa-biasa saja, mana mungkin kamu cocok bersama Eric? Aku bisa memberinya seluruh sumber daya dari Grup Hakana dan membantunya naik pangkat lebih tinggi. Tapi, apa yang bisa kamu berikan? Cintamu, 'kah? Itu sama sekali tidak ada nilainya!" Aku sangat marah hingga seluruh tubuh gemetar, darah sudah mengalir ke kepalaku. Aku mengangkat tangan dan hendak menampar wajahnya. Namun, Eric malah menangkap pergelangan tanganku dengan erat. "Sudah cukup belum?! Anida, jangan bikin malu di sini!" Setelah Eric menyingkirkan tanganku dengan kuat, aku terhuyung-huyung dan mundur beberapa langkah. Kemudian, tumit sepatu tinggiku terpelintir dan terjatuh di lantai. Telapak tanganku terasa sakit dan perih karena terseret di permukaan kasar. Eric melihatku dengan acuh tak acuh, lalu dia berkata, "Demi Edy, aku akan memberimu sedikit harga diri. Kalau tidak, jangan salahkan aku bertindak kasar!" "Kami sekeluarga akan melakukan wawancara, mohon jangan menghalangi jalan kami!" Usai berbicara, Eric tidak melirikku lagi. Dia merangkul pinggang Viona sambil memegang tangan Edy yang penuh semangat. Mereka bertiga masuk ke gerbang sekolah tanpa menoleh ke belakang. Aku tergeletak di lantai yang dingin sambil mengepalkan tangan dengan erat, amarah pun menyala di dadaku. Tak ada satu pun dari mereka… yang akan aku maafkan! Ketika aku bangkit dari lantai, Viona yang baru saja pergi malah kembali bersama Edy lagi. Pada detik selanjutnya, sebuah tamparan yang kuat mendarat di wajahku, sehingga membuatku yang baru saja berdiri sontak terjatuh lagi. "Pelacur murahan seperti kamu yang merusak keluarga orang lain harus diberi pelajaran!" Pipiku terasa sakit dan panas, kemudian bibirku merasakan aroma darah. Setelah itu, tinju dan tendangan dari sepatu hak tinggi Viona jatuh di tubuhku lagi. "Aku akan memberimu pelajaran hari ini! Sungguh pelacur yang tidak tahu malu!" Viona memukul dan menendangku tanpa henti, bahkan sudah terengah-engah pun masih tidak ingin berhenti. Aku dipukul hingga meringkuk di lantai, sama sekali tidak ada tenaga untuk melawan. Hal yang lebih menusuk hatiku adalah putraku malah bertepuk tangan di sebelah. Dia bersorak dengan senang. "Pukul dia! Pukul wanita jahat itu! Semangat, Mama Viona!" Saat ini, ponsel di sakuku bergetar pelan. Itu pesan dari Paman Sandra. "Nona Anida, semuanya sudah diatur sesuai perintah Anda." Aku berusaha untuk bangkit, kemudian menatap Viona yang masih mengamuk. Setelah melihatku tidak takut padanya, Viona langsung bergegas kemari dan menjambak rambutku sambil memarahiku, "Dasar wanita pelacur, beraninya kamu memelototiku!" Aku berusaha membebaskan diri dari belenggunya. Setelah merapikan rambut dan pakaianku yang kusut, aku langsung berdiri tegak dan menatap semua orang. Viona seketika mundur beberapa langkah karena auraku. Tak lama kemudian, dia pun sadar kembali dan memarahiku lagi, "Anida, sok berani apaan? Kalau bukan karena mau mengurus pendaftaran sekolah Edy hari ini, aku pasti sudah memberimu pelajaran. Tunggu saja!" Selesai berbicara, Viona membawa Edy masuk ke gedung sekolah. Aku menundukkan kepala dan melihat akta nikah yang penuh bekas sepatu di lantai. Di sana terpantul sosok yang telah berjuang mati-matian selama enam tahun untuk keluarga ini. Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian memutuskan untuk menelepon Paman Sandra. "Segera datang ke Sekolah Internasional Tanaya." Begitu panggilan diakhiri, aku mengabaikan kekagetan orang-orang di sekitarku dan melangkah masuk. … Di ruang wawancara, suasana terasa sangat harmonis. Kepala sekolah, Pak Gino yang bertubuh gemuk malah tersenyum penuh pujian pada Eric dan Viona. "Tuan Eric, Nona Viona, kalian tenang saja. Putra kalian sangat cerdas, sekolah kami sangat menyambutnya. Saya akan segera mengurus surat administrasi." Eric tampak puas saat menikmati sanjungan itu. Viona malah minum kopi sambil melirikku dengan tatapan menghina. Tepat saat Pak Gino hendak mencetak stempel persetujuan di dokumen, ponselnya tiba-tiba berdering. Begitu melihat layar ponsel, dia segera mengangkat dengan sikap penuh hormat. Setelah mendengar beberapa menit, wajahnya sontak menjadi pucat dan keringat dingin membasahi dahinya. "Baik… saya sudah mengerti! Saya akan segera menanganinya!"