Mutiara yang Tersia-siakan

Đang tải thông tin quảng bá...

Mutiara yang Tersia-siakan

GoodNovel Hoàn thành

Menikah selama empat tahun, suamiku tidak pernah mengajakku pergi ke tempat populer yang dikunjungi pasangan, katanya aku norak dan suka ikut-ikutan. Namun, ketika perempuan yang selalu dia cintai kem...

Chương (1)

第1章

Menikah selama empat tahun, suamiku tidak pernah mengajakku pergi ke tempat populer yang dikunjungi pasangan, katanya aku norak dan suka ikut-ikutan. Namun, ketika perempuan yang selalu dia cintai kembali ke negara ini, dia justru tidak sabar membawanya mendaki gunung yang konon bisa membuat sepasang kekasih hidup bersama hingga tua. Setelah aku bercerai dan pergi ke luar negeri, mantan suamiku malah mengejarku, menangis sambil mencariku di antara reruntuhan... Bab 1 "Saya ingin bercerai." Pada tahun keempat pernikahan, Pearly Scott memutuskan untuk mengakhiri rumah tangganya. Namun, pengacara di depannya sepertinya mengira dirinya datang hanya untuk membuat keributan. Pengacara itu mengangkat alisnya dan berkata, "Adik Kecil, perceraian bukanlah perkara sepihak." Pearly paham kalau pengacara itu tidak menganggapnya serius. Bagaimanapun juga, Pearly baru saja pulang kuliah, dia masih mengenakan sweter dan celana jeans saat datang. Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang hendak mengajukan gugatan cerai. Namun, dia sudah menyiapkan semuanya. Pearly berkata dengan tenang, "Anda hanya perlu menyusun draf perjanjian perceraian yang profesional. Saya akan memastikan suami saya menandatanganinya." Pearly dan Kayden Stewart tidak memiliki anak. Dia juga tidak menginginkan harta gono-gini sama sekali. Perjanjian perceraiannya sederhana, hanya dua lembar kertas. Begitu masuk rumah, hidungnya langsung diserbu oleh bau menyengat. Pearly memandang ke arah sumber bau. Lilly Pearce dan Kayden sedang memakan pete, di atas meja juga ada setengah durian. Entah apa yang mereka bicarakan, keduanya tertawa hingga hampir bersandar satu sama lain. Saat Kayden menyadari Pearly berdiri di depan pintu, dia segera menahan ekspresinya, lalu bertanya dengan nada serius, "Pearly, kapan kamu pulang? Aku hanya memesan dua porsi. Kamu mau makan apa? Aku akan memesankannya untukmu." "Nggak usah, aku sudah makan di kampus." Pearly melirik pete itu, lalu menundukkan pandangannya. Selama ini, Pearly tidak pernah berani makan makanan berbau menyengat, karena Kayden punya sinusitis. Katanya, dia tidak suka mencium bau aneh di rumah. Pearly mengeluarkan surat perjanjian perceraian dari tasnya. Dia menyodorkan sebuah pena pada Kayden dan berkata, "Kampus membutuhkan tanda tangan anggota keluarga untuk surat pernyataan tanggung jawab keselamatan. Tolong tanda tangani untukku." Pearly adalah seorang yatim piatu, sementara Kayden adalah suaminya. Dia memang satu-satunya keluarga Pearly. "Biar kulihat dulu." Kayden sedikit mengernyit, lalu mengulurkan tangan untuk menerima dokumen itu. Pearly tidak menyangka dia ingin membaca dengan teliti. Selama ini, Kayden jarang memperhatikan urusannya. Apalagi sejak sebulan terakhir, setelah Lilly bercerai dan kembali ke negara ini, perhatian Kayden padanya makin berkurang. Pearly menggenggam erat surat perjanjian perceraian itu. Tubuhnya kaku, dia bingung apakah harus memberikannya sekarang atau tidak. "Kayden, apa-apaan kamu ini?" Lilly membuka bibir merahnya, lalu bercanda sambil menepuk Kayden. "Kamu terlalu jaim di depan Pearly, wajahmu seperti mau menerkam orang. Pearly sampai ketakutan melihatmu." "Begitukah?" Kerutan di dahi Kayden seketika menghilang. Dia menerima dokumen dari tangan Pearly dengan tatapan penuh senyum, lalu menandatangani dengan indah pada bagian yang ditunjukkan Pearly. Dalam hati, Pearly menghela napas lega, tetapi segera terlintas sebersit ejekan pada dirinya sendiri. Kayden hanya bersikap hati-hati dan serius di hadapannya. Namun, ketika ada Lilly di sampingnya, kewaspadaannya lenyap, dia tampak begitu santai. Padahal, kalau saja Kayden mau melihat lebih teliti, dia pasti tahu bahwa itu bukan surat pernyataan tanggung jawab, melainkan perjanjian perceraian. Namun, Kayden sibuk menanggapi gurauan Lilly. "Aku hanya menganggap Pearly sebagai adik. Sebagai kakak, tentu saja aku harus lebih tegas." Hanya menganggapnya sebagai adik? Gerakan Pearly seketika terhenti. Dalam hati Pearly berpikir, dulu, setiap malam ketika Kayden menindihnya, terengah-engah sambil memeluknya erat ke dalam pelukannya, bukan ini yang Kayden katakan. Orang tua Pearly sudah lama tiada. Setelah Profesor Jimmy mengetahui keadaan keluarganya, beliau sering mengajaknya makan di rumah dengan alasan membantunya merapikan data. Lama-kelamaan, Pearly pun berkenalan dengan putra Profesor Jimmy, Kayden. Profesor Jimmy adalah pakar klinis terkemuka, tetapi putra tunggalnya, Kayden tidak menekuni dunia kedokteran. Sejak kuliah, dia sudah mendirikan studio game sendiri. Belum genap tiga puluh tahun, Kayden telah menjadi bintang baru yang kerap muncul di majalah keuangan. Wajah tampan yang disertai aura kekayaan membuatnya menjadi idola banyak gadis muda. Pearly pun tidak terkecuali. Setelah beberapa kali berinteraksi, hati Pearly mulai berdebar tidak karuan. Namun, karena menyadari perbedaan status mereka, Pearly selalu menyembunyikan rasa sukanya. Bahkan ketika duduk semeja dengan Kayden, dia tidak berani menatapnya dengan leluasa. Sampai empat tahun lalu, ketika Profesor Jimmy dan istrinya bepergian bersama, mereka meminta Pearly mengantar sebuah berkas ke rumah. Malam itu, setelah dia mengirimkan paket dan hendak pergi, Kayden yang mabuk berat tiba-tiba masuk dan langsung menubruknya. Kayden menerjangnya dengan agresif. Pearly tidak benar-benar menolaknya. Keduanya bergumul hingga ke atas tempat tidur, lalu Kayden meninggalkan bekas gigitan kasar di bahunya. Kayden berkata dengan suara mabuk bercampur keluhan, "Kamu jelas tahu aku menyukaimu!" Belakangan, Pearly baru tahu bahwa di hari itu, Lilly menikah kilat dengan seorang pria asing. Hanya saja saat itu, dia sama sekali belum pernah mendengar nama Lilly. Saat itu, Pearly sangat gembira, dia mengira cintanya akhirnya mendapat balasan. Dalam gelap, dia menyerahkan seluruh dirinya. Keesokan harinya, istri Profesor Jimmy pulang dan mengetahui kejadian tidak senonoh itu. Di hadapan keduanya, dia langsung meminta Kayden berjanji untuk bertanggung jawab. Begitu usia Pearly mencapai batas legal, mereka pun resmi menikah. Empat tahun terakhir, karena Kayden yang sibuk dan Pearly yang tinggal di asrama, keduanya jarang bersama. Ketika Kayden bersikap dingin, Pearly selalu mengira itu adalah watak aslinya. Pearly rela memberi tanpa menuntut balasan. Sebulan lalu, Pearly memesan restoran mewah untuk merayakan hari pernikahan mereka yang keempat sekaligus ulang tahunnya yang ke-24, dengan menggunakan uang beasiswanya. Demi hari itu, Pearly sudah janjian dengan Kayden sejak dua minggu sebelumnya, bahkan berulang kali mengonfirmasi dengan sekretarisnya. Kayden juga berjanji pasti akan datang. Namun, malam itu Pearly menunggu hingga restoran tutup, sementara telepon Kayden tidak bisa dihubungi. Setelah diusir keluar oleh pelayan, Pearly melihat berita kecelakaan di dekat situ melalui ponselnya. Hatinya langsung panik. Dia berlari ke semua rumah sakit di sekitar dalam waktu dua jam, tetapi tidak juga menemukan sosok Kayden. Akhirnya, dia berhasil menghubungi Theo Simpson. Theo adalah salah satu dari sedikit orang yang mengetahui hubungan mereka. Dia berkata heran, "Kayden nggak memberitahumu? Hari ini Lilly pulang ke negara ini, Kayden sedang mengatur pesta penyambutan untuknya di hotel." Pearly sama sekali tidak pernah mendengar nama Lilly dari mulut Kayden. Setelah tiba di hotel dan melihat langsung, dia baru tahu ternyata influenser perjalanan Lilly yang selalu diperhatikan Kayden adalah Lilly ini. Saat tiba di pintu ruang perjamuan, dia melihat sekelompok teman lama sedang bermain game. Di tengah sorak-sorai, Kayden mengangkat Lilly seperti seorang putri dan menghabiskan segelas penuh anggur dalam sekali teguk. Belum pernah Pearly melihat Kayden sebahagia itu. Pearly menerobos masuk, berharap Kayden memberinya penjelasan yang masuk akal. Namun, wajah Kayden hanya memancarkan canggung saat melihatnya. Lalu, dia memperkenalkan Pearly kepada yang lainnya. "Dia adik sepupuku." Saat itu juga, Pearly akhirnya menyadari bahwa dirinya tidak pernah benar-benar masuk dalam kehidupan Kayden. Melihat Kayden dan Lilly dengan kompak saling menukar lauk di piring mereka, Pearly menggenggam erat perjanjian perceraian di tangannya. Setelah masa jeda tiga bulan berakhir dan akta cerai berada di tangannya, Pearly akan pergi. Pergi meninggalkan Kayden yang sejak awal tidak pernah menjadi miliknya. Bab 2 Lilly menyewa sebuah apartemen di lantai atas tempat mereka tinggal. Hampir setiap hari dia turun untuk berkunjung. Kayden yang dulu sering lembur hingga larut malam dan jarang pulang, tiba-tiba terlihat begitu senggang, seolah-olah setiap hari sengaja menunggu di rumah. Seusai makan malam, mereka duduk di ruang tamu menonton televisi. Lilly bahkan mengajak Pearly untuk bergabung. "Aku masih harus menyelesaikan tesisku, kalian saja yang menonton," kata Pearly, lalu kembali ke kamar tidur. Dari luar, terdengar tawa lepas Lilly. "Pearly memang mahasiswa teladan. Nggak seperti aku dulu yang selalu merepotkan Kayden untuk mengerjakan tugas..." Pearly yang sibuk dengan laptop hingga pukul sebelas malam, tidak menyadari Kayden sudah masuk sambil menyeret sandalnya. Kayden mengulurkan tangan hendak mengambil amplop di meja. Hati Pearly berdegup kencang, dia ingin menghentikannya, tetapi sudah terlambat. Di dalamnya tersimpan perjanjian perceraian yang sudah Kayden tandatangani. "Apa ini?" Kayden mengernyit, dia menarik selembar kertas dari amplop dan melemparkannya ke meja. "Kamu mau ikut program bantuan ke Arreca?" Pearly memperhatikan dengan seksama, ternyata yang dia letakkan paling atas adalah formulir pendaftaran program bantuan ke Arreca. "Itu bukan punyaku, aku hanya membantu teman sekamar mencetaknya. Di asrama nggak ada printer." Wajah Pearly tetap tenang. Kayden pun percaya begitu saja, dia tidak lagi tertarik pada isi amplop tersebut. Pearly mengembuskan napas lega. Dia belum ingin Kayden tahu soal perceraian. Pernikahan ini sejak awal hanyalah kisah cinta sepihaknya. Saat pergi nanti, dia ingin melangkah dengan tenang dan bermartabat. "Kudengar program bantuan ke Arreca harus tinggal di daerah termiskin di sana selama tiga tahun. Cukup berat, ya." Jari panjang Kayden mengetuk meja perlahan, suaranya terdengar datar. "Kamu nggak perlu ikut-ikutan. Relasi ayah dulu sudah cukup untuk membuatmu mendapatkan pekerjaan bagus di rumah sakit Kota Bliyle." Kalau didengar sekilas, ucapannya seakan penuh perhatian. Namun, Pearly hanya bisa tersenyum pahit. Setiap tahun Pearly selalu meraih IPK tertinggi, bahkan selama kuliah pascasarjana dia sudah menerbitkan belasan tesis. Dengan kemampuannya sendiri, bertahan di Kota Bliyle pun bukan masalah, dirinya bahkan tidak perlu koneksi. Kayden bahkan tidak tahu hal-hal itu. Empat tahun ini, dia tidak pernah benar-benar berusaha memahami Pearly. Sebaliknya, Pearly tahu persis suhu AC yang paling nyaman untuk Kayden. Setiap mau tidur, Pearly sengaja menurunkan suhu AC, meskipun akhirnya dia sendiri kedinginan dan bersin-bersin. Malam ini, dia memutuskan untuk tidak lagi memaksa dirinya. Benar saja, baru saja berbaring, Kayden gelisah dan berulang kali berganti posisi. "Kenapa malam ini panas sekali?" "Nggak panas, aku justru kedinginan," jawab Pearly datar. Dia pun membalikkan badan dan membelakangi Kayden, lalu menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. Pearly mengira Kayden akan menyesuaikan suhunya sendiri. Tidak disangka, Kayden mengulurkan lengannya dan memeluk Pearly dari belakang. Hembusan napas hangat menyapu leher Pearly, membawa serta aroma hasrat dan keinginan. Karena terbiasa berolahraga, kekuatan tubuh Kayden begitu kuat. Dia dengan mudah membalikkan tubuh Pearly, lalu mendekapnya erat ke dalam pelukan. Ciuman pun menghujani Pearly tanpa henti. Pearly berusaha melawan, tetapi sia-sia. Di tempat tidur, Kayden selalu begitu mendominasi, sama sekali berbeda dengan sosoknya yang biasanya tenang dan berwibawa. Pearly mengerutkan kening dan memalingkan wajahnya, lalu melihat jam digital di samping tempat tidur. Hari ini hari Jumat... Selama empat tahun, setiap Jumat malam, mereka selalu melewatkan waktu seperti ini. Dulu, Pearly mengira karena mereka hanya bertemu seminggu sekali, makanya Kayden begitu tidak terkendali. Hingga beberapa hari lalu, saat Pearly tidak bisa tidur dan berulang kali melihat akun media sosial Lilly, Pearly baru menyadari bahwa Lilly selalu mengunggah video setiap hari Jumat. Lilly adalah seorang influenser perjalanan. Setiap videonya menampilkan perjalanannya bersama suami asingnya keliling dunia. Selain pemandangan, hampir setiap adegan dipenuhi kemesraan. Begitu teringat, setiap kali mereka bercinta dulu, Kayden melakukannya bukan karena dirinya, melainkan karena terpancing oleh Lilly, Pearly merasa muak. Dia ingin muntah dan akhirnya gerakan Kayden terhenti. "Ada apa?" Kayden menyalakan lampu dinding. Cahaya temaram menerangi wajahnya yang tegas. "Aku... nggak enak badan... ugh..." Awalnya, Pearly hanya ingin menghentikannya. Namun, perutnya benar-benar mual, seakan seluruh isi tubuh ingin dimuntahkan. "Aku antar kamu ke rumah sakit, siapa tahu..." "Nggak mungkin!" Pearly tahu apa yang hendak dia katakan. Namun, mereka selalu memakai pengaman setiap kali melakukannya, jadi itu mustahil. "Lebih baik tetap periksa ke rumah sakit. Soalnya kamu kelihatan nggak enak badan banget sekarang." Setelah mengatakannya, Kayden sudah mengenakan pakaian dan meraih kunci mobil di meja samping tempat tidur. Dia baru saja hendak membantu Pearly berdiri, tiba-tiba ponselnya berdering. Setelah melihat nama penelepon, Kayden segera mengangkat. Entah apa yang dikatakan di seberang sana, kening Kayden sempat berkerut, lalu dia tersenyum kecut. Setelah menutup telepon, dia berkata pada Pearly, "Lilly bilang dia menonton film horor sendirian di rumah, dia ketakutan sampai hampir menangis..." Di bawah cahaya lampu, wajah Kayden tampak ragu. Pearly langsung mengerti. "Pergilah temani dia, aku nggak apa-apa." Baru saja dia selesai bicara, ponsel Kayden kembali berdering. Bunyinya mendesak, seakan memaksanya segera pergi. Kayden hanya melirik sekilas, lalu cepat-cepat berdiri. Beberapa langkah menuju pintu, Kayden seolah baru teringat sesuatu. Dengan raut bersalah, Kayden berkata, "Tunggu aku, nanti aku antar kamu ke rumah sakit." Melihat pintu tertutup, Pearly tersenyum getir. Menunggu? Itu kata kerja yang paling tidak berguna. Dia sudah lelah menunggu. Karena mualnya tidak kunjung reda dan sulit tidur, Pearly duduk kembali, lalu mengambil formulir pendaftaran program bantuan ke Arreca dari dalam amplop. Awalnya, Pearly masih ragu apakah dirinya harus ke luar negeri. Namun, dalam keadaan seperti ini, kalau setelah lulus Pearly tetap tinggal di Kota Bliyle, setelah bercerai pun dia pasti akan bertemu dengan Kayden lagi. Lebih baik dia pergi beberapa tahun untuk mengembangkan diri. Saat mengisi formulir, pada kolom status pernikahan, tanpa ragu Pearly menuliskan, lajang. Bab 3 Kayden semalam tidak pulang. Pagi-pagi sekali, Pearly sudah melihat unggahan terbaru di akun Lilly. [Di saat terpuruk, aku masih beruntung, ada seseorang yang tanpa pikir panjang mau menemaniku mendaki Gunung Yumei di malam hari.] Meskipun foto itu berupa swafoto, Pearly langsung mengenali sosok pria tinggi di belakangnya, itu adalah Kayden. Kolom komentar pun ramai oleh warganet yang bergosip. [Gadis yang mencintai kebebasan memang memikat, para pengagum Kak Lilly mungkin sudah antre sampai ke Frasses...] [Sudah kuduga Kak Lilly nggak akan terpuruk setelah dikhianati pria brengsek dan bercerai. Dia panutan kita semua!] [Dari belakang saja sudah tampak tinggi sekali. Kapan nih kasih lihat wajahnya ke para penggemar?] ... Pearly tersenyum miris. Jika para penggemar itu tahu bahwa pria yang dimaksud sebenarnya sudah menikah, entah bagaimana reaksi mereka. Lilly bahkan ikut menulis komentar. [Para penggemarku tersayang, ada yang tahu legenda tentang Gunung Yumei?] Konon, sepasang kekasih yang mendaki hingga puncak Gunung Yumei akan selalu terikat selamanya. Tahun lalu, saat Gunung Yumei sempat viral di internet, Pearly ingin sekali Kayden menemaninya mendaki. Pearly sudah membujuknya berkali-kali, tapi Kayden hanya menanggapi dengan wajah dingin. "Pearly, aku kira kamu bukan tipe orang yang suka ikut-ikutan tren murahan." Saat itu, Pearly hanya terdiam dan tidak bisa membantah. Hal yang sama, jika dirinya yang melakukannya akan dianggap tidak punya pendirian, tetapi kalau Lilly yang melakukannya, justru dinilai bebas dan penuh semangat. Itulah perbedaan antara mencintai dan tidak mencintai. Hanya saja, Pearly benar-benar tidak mengerti lelaki. Meskipun tidak mencintai, nafsunya tetap bisa bangkit. Untuk menghindari kejadian memuakkan semalam terulang, dia memutuskan membereskan barang-barangnya dan pergi. Hingga akta cerai selesai, Pearly tidak akan kembali lagi ke sini. Sebenarnya, Pearly lebih sering tinggal di asrama, jadi barang-barangnya di sini tidak banyak. Pakaiannya cukup dimasukkan ke dalam satu koper. Terakhir, dia membuka laci di samping tempat tidur dan mengeluarkan sebuah album tebal berisi foto-foto polaroid. Isinya semua adalah foto Kayden yang dia ambil diam-diam. Setiap foto hanya menampilkan wajah Kayden dari samping, sebab dia tidak pernah mau berpose apalagi bekerja sama. Berbeda dengan foto unggahan Lilly, meskipun hanya memperlihatkan punggung, jelas terlihat bahwa itu diambil dengan sudut yang sengaja diatur. Saat pergi, Pearly membawa album itu turun, lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah. Cinta yang tidak dihargai, bahkan pemulung enggan memungutnya karena dianggap membawa sial. Menjelang kelulusan, Pearly sibuk luar biasa, dua minggu penuh dia hampir tidak teringat lagi pada Kayden. Usai rapat kelompok pada hari Jumat, Pearly melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Kayden di ponselnya, itu membuatnya sedikit tertegun. Selama empat tahun, apa pun urusannya, selalu Pearly yang lebih dulu menghubungi Kayden, bahkan terkadang harus melalui janji dengan sekretarisnya. "Telepon adalah cara komunikasi paling nggak efisien, hanya buang-buang waktu." Mengingat ucapan Kayden dulu, dia pun menghapus notifikasi dan berniat mengabaikannya. Tidak disangka, Kayden kembali menelpon berkali-kali, lalu mengirim pesan lewat Whatsapp. [Ayah ingin kita bersama-sama menjenguknya.] Sejak istri Profesor Jimmy meninggal dua tahun lalu, Profesor Jimmy seolah terpukul hebat, kesehatannya menurun drastis hanya dalam semalam. Dia melepaskan semua jabatannya dan tinggal di sanatorium dengan sukarela. Dulu, setiap sepuluh hari sekali Pearly pasti mengajak Kayden untuk menjenguknya. Namun, sejak peristiwa bulan lalu, Pearly memang sudah lama tidak datang. Seketika Pearly merasa sedikit bersalah. Meskipun dia dan Kayden tidak bisa menjadi suami istri, Profesor Jimmy dan mendiang istrinya memang benar-benar menyayangi Pearly dengan tulus. Selagi dia masih berada di Kota Bliyle, sudah sepantasnya Pearly menjenguk Profesor Jimmy lebih sering. Kayden menjemputnya dengan mobil. Begitu bertemu, dia langsung bertanya, "Belakangan ini kenapa nggak pulang?" "Kuliah sedang sibuk." "Kalau begitu baguslah. Lilly sampai mengira kamu marah karena dia terlalu dekat denganku." Tangan Kayden yang memegang setir mengetuk perlahan. "Aku sudah bilang padanya, kamu nggak segampang itu marah. Tapi dia nggak percaya, katanya demi menghindari salah paham dia akan pindah bulan depan." "Katakan padanya nggak perlu. Aku nggak mempermasalahkannya." Suara Pearly terdengar lesu, mirip saat dia bertugas menanyakan kondisi pasien. Kayden mengernyit tipis. Jawaban itu sebenarnya sesuai dengan yang dia harapkan, tetapi entah kenapa, ketika mendengar Pearly mengatakannya dengan begitu santai, dirinya justru merasa ada yang janggal. Saat menunggu lampu merah, Kayden berniat menoleh untuk melihat lebih jelas ekspresi Pearly. Namun, dia sudah tertidur di kursi penumpang. Bab 4 Lebih dari sebulan tidak berjumpa, Profesor Jimmy tampak jauh lebih tua. Dengan tangan yang bergetar, dia membuka sebuah kotak, lalu mengeluarkan sebuah gelang giok dan menyelipkannya ke dalam tangan Pearly. "Pearly, ini peninggalan istriku, pusaka menantu Keluarga Stewart. Dia pergi terlalu mendadak dan belum sempat memberikannya padamu. Hari ini, biar aku yang memakaikannya padamu, supaya kalau suatu hari aku juga pergi, aku nggak menyesal..." "Guru, jangan berkata begitu." Melihat gurunya yang dulu penuh semangat kini sudah renta, mata Pearly ikut basah. Namun, Pearly tahu, dia dan Kayden sebentar lagi akan bercerai. Barang peninggalan menantu Keluarga Stewart ini tidak pantas dia terima. Namun, Profesor Jimmy tetap bersikeras memakaikannya di pergelangan tangan Pearly. Dia bahkan berkata, "Dulu kamu masih sekolah, jadi pernikahanmu dengan Kayden nggak dirayakan besar-besaran. Sekarang, kamu mau lulus, sudah sepatutnya meluangkan waktu untuk mengadakan pesta pernikahan. Itu juga keinginan terakhir istriku sebelum meninggal." Pearly dan Kayden sama-sama terdiam. Profesor Jimmy terus berbicara soal pernikahan cukup lama. Lalu, dia mengeluarkan dua lembar tiket dan menyerahkannya kepada Kayden. "Ini dari Paman Zac untuk kalian berdua. Ini adalah drama musikal yang disutradarai putranya, pertunjukannya malam ini." "Paman Zac?" Kayden mengerutkan kening. Profesor Jimmy segera tersenyum. "Pearly mengenalnya. Dia temanku di sanatorium. Waktu itu, saat Pearly datang berkunjung, kebetulan bertemu dengan Zac yang terkena serangan jantung di pinggir jalan." Profesor Jimmy memandang Pearly dengan bangga. "Untung Pearly segera menolongnya, kalau nggak, nyawanya sudah hilang. Sejak itu, dia selalu mengingat kebaikan Pearly, bahkan dia bilang kalau nanti kalian mengadakan pesta pernikahan, dia pasti akan datang untuk memeriahkannya." "Ada kejadian seperti itu? Kenapa nggak memberitahuku?" Kayden menoleh ke arah Pearly, dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Pearly tidak membongkar kenyataan di depan Profesor Jimmy. Padahal hari itu, setelah dia menolong orang, Pearly sudah berkali-kali mengirim pesan suara kepada Kayden. Saat itu, Kayden sama sekali tidak membalasnya. Kini, Pearly baru sadar, pesan-pesannya memang tidak pernah didengarkan. Setelah keluar dari sanatorium, Pearly berniat langsung naik taksi untuk kembali ke kampus. Namun, Kayden menggoyangkan tiket di tangannya. "Orang lain sudah secara khusus menitipkan ini untukmu. Kalau nggak datang menonton, rasanya kurang sopan, bukan?" Mengingat niat baik Profesor Jimmy dan Paman Zac, Pearly pun menerima tiket itu dan memutuskan untuk pergi. Di perjalanan, Kayden mengatakan dia harus mampir ke rumah untuk mengambil ponsel kerjanya, jadi sekalian mampir ke kompleks perumahan mereka. Pearly pun teringat, waktu Kayden mendadak menemani Lilly mendaki gunung, ponsel kerjanya berdering semalaman di ruang kerja, tetapi Kayden tidak ada masalah. Namun, kalau bersama dirinya, urusan kerja tiba-tiba menjadi begitu penting. Sambil berpikir, Pearly melepas gelang giok dari pergelangan tangannya. Barang yang bukan miliknya, sebaiknya dikembalikan secepatnya. Baru saja Pearly melepas gelang itu dan mengangkat kepalanya, dia melihat Lilly keluar dari lift. "Kayden! Pantas saja waktu aku tadi ke rumahmu nggak ada orang, rupanya kamu di sini!" Lilly seakan tidak melihat Pearly, dia melompat seperti kelinci mendekati Kayden. Pearly pun sadar diri dan mundur selangkah. "Kamu mencariku? Untuk apa?" "Tentu saja mengajakmu ikut lomba. Lihat ini! Sepedanya sudah kusiapkan untukmu..." Saat itu, barulah Pearly menyadari, di dalam lift masih ada tiga sepeda dan seorang gadis berambut pirang. Pearly mengenalinya, dia juga seorang selebritas internet bernama Sophia Clarke dan pernah muncul dalam video Lilly. Sophia dengan ramah menyapa mereka, lalu menggoda Lilly sambil tersenyum nakal. "Oh, jadi ini pria yang ada di fotomu? Memang benar, tampan sekali!" Pandangan Sophia lalu tertuju pada Pearly yang berdiri di belakang, dia tampak heran. "Kalau ini siapa?" Wajah Lilly dan Kayden sama-sama dipenuhi rasa canggung. Pearly lantas menunjuk ke arah Kayden dan berkata dengan tenang, "Aku adiknya." Bab 5 Kayden dan Lilly tidak berkata apa pun, mereka secara tidak langsung membenarkan. "Uhuk..." Kayden berdeham pelan, lalu mengalihkan topik dan bertanya pada Lilly, "Lomba apa?" Lilly menjulurkan lidahnya. "Bersepeda malam keliling danau, aku sudah mendaftarkanmu. Kamu nggak marah, 'kan?" Kayden kembali terdiam, lalu melirik ke arah Pearly. Pearly mengangkat bahunya. "Kalian saja yang pergi, kebetulan aku mau kembali ke kampus untuk merapikan tesis." Di sisi lain, Sophia yang tidak tahu hubungan mereka justru mengajak Pearly dengan ramah. "Adik juga bisa ikut bermain bersama." "Pearly sepertinya nggak suka kegiatan bersepeda yang agak tomboi begini." Belum sempat Pearly menjawab, Lilly sudah lebih dulu menolak atas namanya. Kayden pun ikut menambahkan, "Benar, Pearly agak penakut, dia nggak pandai olahraga." Pearly tidak membantah. Dalam hati dia berpikir, selama tiga tahun dirinya menjabat sebagai ketua klub bela diri di kampus, tidak ada satu pun lawan dari fakultas lain yang bisa mengalahkannya. Kalau adik-adik juniornya mendengar ucapan Kayden barusan, mungkin mereka akan marah besar dan langsung menghajarnya. Tidak ingin membuang waktu untuk berdebat, Pearly mengeluarkan gelang giok yang tadi dia lepaskan dan menyerahkannya pada Kayden. "Ini..." Dia berniat mengingatkan Kayden supaya menyimpannya baik-baik, tetapi Sophia yang melihat gelang itu langsung menatap dengan mata berbinar dan buru-buru menyambutnya. "Astaga! Giok yang indah sekali!" Sophia menoleh ke arah Lilly dengan penuh rasa iri. "Beberapa hari lalu kamu baru bilang ingin mencari gelang giok dengan kualitas bagus, ternyata Tuan Kaydenmu begitu cepat mencarikannya untukmu! Kenapa aku nggak punya teman lama sebaik ini, ya..." Lilly menundukkan kepala dengan sedikit malu. Sophia terus menggodanya. "Lilly, cepat coba pakai. Aku belum pernah melihat giok dengan kualitas setinggi ini! Harganya pasti miliaran..." Di bawah pandangan penuh harap Lilly, Kayden dengan ragu-ragu mengambil gelang giok itu dan memberikannya kepada Lilly. Hanya saja, sejak tadi dia terus memperhatikan ekspresi Pearly. Saat melihat Lilly mengenakan gelang giok itu, Pearly justru menghela napas lega. Bagi dirinya, pusaka Keluarga Stewart ini hanyalah barang yang merepotkan. Lagi pula, cepat atau lambat benda itu akan jatuh ke tangan Lilly juga, jadi lebih baik diserahkan sekarang saja. "Kalian saja yang pergi bersenang-senang, aku naik taksi saja." Pearly masuk ke dalam lift tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, Kayden yang selama ini selalu menjadi pusat perhatian Pearly, untuk pertama kalinya menatap Pearly yang menjauh. Kayden menatap pintu lift yang perlahan menutup, melihat Pearly pergi dengan langkah tegas, hatinya diliputi perasaan yang sulit dia ungkapkan. Pearly pergi menonton opera seorang diri. Drama tragis Jenufa itu membuatnya menangis hampir sepanjang pertunjukan. Dalam perjalanan pulang ke kampus dengan taksi, Pearly kembali membuka media sosial dan melihat unggahan terbaru dari Lilly. Gelang giok itu melingkar di pergelangan tangan Lilly dan dia menulis keterangan di foto. [Memakai gelang giok sambil bersepeda keliling danau, tiada duanya!] Di dalam foto, bayangan Kayden dan bayangannya berdempetan erat. Pearly membuka akun Lilly dengan tenang, lalu menekan tombol berhenti mengikuti dan tidak tertarik. Ketika Lilly baru saja menerobos masuk ke dalam hidupnya dulu, Pearly seperti tikus got yang mengaduk-aduk setiap unggahan akunnya. Namun, sekarang, dia sudah tidak peduli lagi. Beberapa tahun terakhir, Pearly hanyalah penonton dalam hidup Kayden. Pearly pernah tertawa dan menangis. Kini, pertunjukan telah usai, saatnya dia melepaskan diri dari tragedi ini. Hari dimulainya program bantuan ke Arreca makin dekat. Beberapa teman seangkatannya yang akrab dengan Pearly sudah mengajukan cuti untuk pulang, mereka ingin menghabiskan waktu terakhir bersama keluarga. Pearly yang tetap tinggal di kampus mengambil alih pekerjaan logistik tim. Dia sibuk ke sana kemari menyiapkan perlengkapan, sampai tidak sempat beristirahat. Sepuluh hari menjelang keberangkatan, dia perlu pergi ke apotek membeli obat. Saat melihat rak berisi alat pemeriksa kehamilan, tanpa sadar Pearly mengambil satu. Belakangan ini, dirinya memang sering merasa mual dan ingin muntah, ditambah menstruasinya juga terlambat. Yang ditakutkan justru datang. Melihat dua garis merah di alat pemeriksa kehamilan, Pearly hampir saja mengumpat. Dia berusaha memaksakan diri tetap tenang. Alat pemeriksa kehamilan kadang juga bisa salah. Pearly segera membuat janji dengan dokter lewat ponsel. Keesokan paginya, dia langsung menuju poli kandungan untuk tes darah. Satu jam kemudian, dia berdiri di lobi rumah sakit sambil menggenggam laporan bertuliskan hamil dua bulan. Kepalanya langsung berdengung. Dua bulan, jika dihitung, seharusnya itu saat terakhir kali Pearly berhubungan dengan Kayden sebelum Lilly kembali ke negara ini. Kenapa bisa pas sekali! Padahal beberapa hari lagi dia sudah bisa mengambil akta cerai, lalu berangkat ke Benua Arreca. Pearly tidak kuasa menahan diri, dia membuka kontak Kayden. Sekuat apa pun dirinya, Pearly tetap seorang mahasiswi berusia 24 tahun. Dengan ragu, dia menekan tombol panggilan. Detik berikutnya, suara dering telepon terdengar tidak jauh darinya. Pearly menoleh ke arah suara, dia melihat Kayden dengan mantel panjang, berdiri bersama Lilly yang berwajah cerah menawan. Keduanya tampak sangat serasi. Mendengar ponselnya berdering, Kayden mengerutkan keningnya sambil mengeluarkan ponsel. Pearly buru-buru memutus panggilan yang belum tersambung, lalu bergegas menyelinap masuk ke dalam bayangan. Bab 6 "Sekarang kondisi janinnya masih belum stabil. Ibu hamil nggak boleh lagi melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat. Untuk hubungan suami istri, dua bulan ini sebaiknya jangan melakukannya dulu..." Melihat Kayden dan Lilly masuk ke ruang konsultasi yang baru saja dia tinggalkan, Pearly menahan air matanya dan ingin segera pergi. Namun, saat melewati pintu, dia mendengar dokter sedang memberi mereka nasihat. "Baik, terima kasih, Dokter. Saya akan menjaganya." Suara lembut Kayden menjawab. Tanpa melihat pun, Pearly bisa membayangkan wajah penuh perhatian Kayden saat itu. Pearly mempercepat langkah, tetapi dia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang saat di lorong. Kayden yang baru keluar dari ruang konsultasi tetap saja menemukannya. "Pearly!?" Kayden mengerutkan kening dan memanggilnya, "Kamu ke rumah sakit untuk apa?" "Aku... perutku sakit, jadi periksa sebentar." Pearly menggenggam erat hasil tes kehamilan di tangannya. "Sakit perut?" Dari belakang, Lilly melangkah maju dengan sikap akrab. "Aku pernah dengar dari Kayden, dulu kamu sering nggak makan tepat waktu, makanya sampai jatuh sakit begini." Pearly hanya mengangguk tanpa menjawab. Begitu dia melirik lembar hasil USG di tangan Lilly, ekspresi Kayden tampak sedikit panik. Dia buru-buru bicara. "Pearly, jangan salah paham, aku bukan..." "Kayden!" Lilly menarik lengan Kayden seperti merajuk. Kayden pun tidak melanjutkan ucapannya lagi, wajahnya dipenuhi dengan pergulatan. Tidak ingin mempermalukan siapa pun lebih jauh, Pearly asal memberi alasan lalu pergi. Di belakangnya, Kayden hampir mengulurkan tangan untuk menahan Pearly, tetapi Lilly memandang penuh permohonan sambil menarik bajunya. "Kayden, kamu sudah janji akan menyimpan rahasia ini dulu!" Kayden pun menghentikan langkahnya dan tidak lagi mengejar. Pearly keluar dari rumah sakit seorang diri. Di dunia ini, dia sudah tidak punya satu pun keluarga. Setelah ragu-ragu cukup lama di pinggir jalan, akhirnya dia melangkah menuju sanatorium. Profesor Jimmy menyambut Pearly dengan gembira, dia berulang kali menyodorkan makanan. Pikiran Profesor memang mulai samar, tapi dia masih ingat menanyakan rencana pekerjaan Pearly setelah lulus, bahkan bersikeras ingin membantu mencarikan. Pearly menolak halus, dia tetap tidak mengatakan soal kehamilannya. Namun, di sanatorium itu, dia menemukan sebuah alasan untuk mempertahankan anak ini. Pearly terlalu membutuhkan keluarga, seseorang yang memiliki darah yang sama, yang bisa selalu menjadi sandaran baginya. Hanya saja, jika Pearly benar-benar melahirkan anak ini, kemungkinan besar dia tidak bisa ikut berangkat ke Arreca. Pearly menatap layar ponsel, dia ragu apakah harus menekan nomor ketua tim atau tidak, tiba-tiba pesan dari Kayden masuk. [Pearly, besok malam kamu ada waktu? Aku sudah memesan tempat di Restoran Oshye, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.] Restoran itu adalah tempat yang dulu dipesan Pearly pada hari peringatan pernikahan mereka. Mengingat kenangan saat dia ditinggalkan, Pearly merasa seakan semuanya sudah terjadi di kehidupan yang lain. Dia mengetik di kotak percakapan: [Oke, aku akan datang tepat waktu.] Kebetulan, dia memang ingin berterus terang pada Kayden soal perceraian. Pearly sudah berkonsultasi dengan pengacara. Jika Pearly ingin diam-diam melahirkan anak itu tanpa sepengetahuan Kayden, dia tidak bisa menyembunyikan perceraian. Kalau tidak, Kayden bisa saja menggunakan alasan itu untuk merebut anaknya nanti. "Bukannya kamu sebelumnya ingin datang ke restoran ini? Anggap saja hari ini sebagai penggantinya," kata Kayden dengan sedikit rasa bersalah setelah memarkir mobil di seberang restoran. Setelah mengucapkannya, dia langsung menggenggam tangan Pearly. Tubuh Pearly seketika menegang. Selama empat tahun, ini pertama kalinya Kayden mengambil inisiatif menggandeng tangannya. Pearly yang tidak terbiasa secara refleks ingin menarik tangannya. Tepat pada saat itu, notifikasi ponsel Kayden berbunyi. Dia pun melepaskan tangan Pearly untuk melihat ponselnya. Entah apa yang dia terima, wajah Kayden langsung berubah, alisnya yang indah mengerut rapat. Dia bahkan berhenti di tengah jalan dengan panik dan membuka sebuah aplikasi siaran langsung. Pearly ikut melirik. Di layar, Lilly ternyata sedang menyiarkan aksinya yang hendak mengiris pergelangan tangan. "Hati-hati!" Sebuah mobil berbelok dengan kecepatan tinggi. Kayden yang perhatiannya teralihkan pada ponsel masih berdiri kaku di tempat. Pearly dengan sekuat tenaga menariknya ke belakang, tetapi tubuhnya sendiri justru tersenggol kendaraan itu hingga terjatuh ke jalan. "Pearly!" Kayden akhirnya tersadar. Dia menoleh ke arah Pearly yang tergeletak di tanah, lalu kembali menatap siaran langsung di layar ponselnya... Setelah ragu sejenak, Kayden mengibaskan tangannya dan berkata, "Pearly, keadaan Lilly darurat, aku harus ke sana dulu!" Pearly terbaring di tepi jalan. Di antara hiruk pikuk kendaraan dan kerumunan orang, dia menyaksikan Kayden pergi dengan cemas. Pearly berusaha bangkit, tetapi tiba-tiba rasa sakit hebat menjalar dari perut bagian bawahnya. Begitu menunduk, dia melihat darah segar telah merembes membasahi celananya... Bab 7 "Pasien keguguran dan pendarahan hebat, dia sangat membutuhkan transfusi darah!" "Di bank darah nggak ada golongan darah A!" "Kalau nggak segera ditransfusikan, nyawa pasien akan terancam!" Pearly kehilangan terlalu banyak darah dan kesadarannya sudah mengabur. Dia hanya bisa merasakan tubuhnya dipindahkan ke sana kemari, sementara suara-suara darurat samar-samar masuk ke telinganya. "Ambil darahku! Golongan darahku A." Sebuah suara jernih menembus pendengarannya. Pearly mengerahkan seluruh tenaga untuk membuka matanya dan melihat jelas pemilik suara itu. Wajahnya terasa familier, tetapi dia tidak bisa mengingat namanya. Pearly akhirnya teringat... Saat Pearly hendak membuka mulut untuk mengucapkan terima kasih, seluruh tenaganya habis dan dia pingsan. Saat terbangun, hari sudah berganti. Pearly menatap cairan infus cukup lama sebelum perlahan merasakan hangat tubuhnya kembali. Namun, dia jelas bisa merasakan ada sesuatu dalam dirinya yang sudah diambil pergi. Dua perawat masuk untuk mengganti perban. Mereka tidak menyadari bahwa Pearly sudah bangun dan asik mengobrol sambil bergosip. "Kamu tahu nggak? Seluruh kamar inap VIP di lantai atas sudah dipesan semua sama Tuan Kayden" "Aku sudah dengar, katanya perempuan itu seorang influenser perjalanan, wajahnya lumayan cantik, tapi katanya dia sudah pernah bercerai." "Lalu kenapa? Lagi pula, CEO menyukainya. Dia sampai nekat siaran langsung dan pura-pura bunuh diri karena lagi emosi. Siaran baru berjalan kurang dari sepuluh menit dan pergelangan tangannya baru tergores sedikit, tapi Tuan Kayden langsung panik datang ke tempatnya." "Jadi video yang heboh di internet itu memang Tuan Kayden, ya?" "Tentu saja... Dia masuk ke ruang siaran langsung dan memeluk perempuan itu. Pria tampan dan wanita cantik, benar-benar seperti di drama-drama." Setelah mengatakannya, salah satu perawat menurunkan suaranya. "Kudengar info dari dalam, perempuan itu sudah hamil." Perawat yang lain terkejut. "Pantas saja tadi pagi aku lihat Tuan Kayden membeli belasan macam sarapan untuk dibawa ke atas, ternyata supaya dia bisa memilihnya..." ... Tangan Pearly perlahan meraba perutnya. Detak jantung di sana sudah tidak ada lagi. Mungkin bayinya tahu bahwa dirinya dan ibunya sama-sama tidak disambut oleh ayah kandungnya, sehingga memilih untuk pergi... "Eh, kenapa kamu menangis?" Perawat akhirnya menyadari Pearly sudah bangun. Perawat itu segera menghapus air mata Pearly dan menenangkannya. "Jangan bersedih, kamu masih muda. Yang terpenting sekarang adalah memulihkan kondisi tubuhmu. Perlu aku hubungi keluargamu?" Pearly menggeleng pelan, lalu bertanya, "Orang yang kemarin mendonorkan darah untukku, di mana dia?" "Oh, dia itu dokter magang di rumah sakit kami. Demi menyelamatkanmu kemarin, dia sampai menyumbangkan 800 ml darah. Kemungkinan besar dia sedang beristirahat di rumah beberapa hari ini." Perawat lain juga menimpali, "Aku belum pernah melihat seseorang begitu nekat demi menyelamatkan orang lain. Benar-benar anak muda yang gegabah! Setelah kamu keluar dari rumah sakit, kamu harus berterima kasih padanya." Pearly baru bisa keluar dari rumah sakit sembilan hari kemudian. Selama beberapa hari itu, dia terus mendengar dari berbagai orang tentang kisah cinta Tuan Kayden di kamar inap VIP lantai atas bersama kekasihnya. Untuk menghindari bertemu dengan Kayden, Pearly berusaha sebisa mungkin untuk tidak keluar dari kamar inapnya selama dirawat. Namun, untuk mengurus kepulangan, dia tetap harus turun tangan sendiri. "Pearly Scott" "Iya..." Begitu mendengar namanya dipanggil, Pearly segera bergegas ke loket depan untuk membayar biayanya. Di lorong, Kayden yang sedang menunggu lift bersama Lilly tertegun sesaat. "Sepertinya aku mendengar nama Pearly." "Mana mungkin..." Lilly menepuk bahunya. "Ini di rumah sakit, sementara Pearly sedang berkuliah. Bagaimana mungkin dia dirawat di sini?" "Benar juga." Kayden pun melangkah masuk ke lift. Tepat saat pintu lift menutup, Pearly selesai membayar dan keluar sambil membawa sekantong obat. Melihat lift baru saja naik, dia enggan menunggu, jadi Pearly berbalik menuju tangga. Pengacara sudah menunggunya di bawah, sambil membawa akta cerai yang baru selesai diurus. Pearly hanya mengambil dokumen yang menjadi miliknya. Kemudian, dia mentransfer biaya pengiriman ratusan ribu lewat bank digital kepada pengacara. "Sisanya, tolong Anda kirimkan saja padanya." Anaknya dengan Kayden sudah tiada. Kini, setelah menerima akta cerai, hubungan mereka pun benar-benar berakhir. Hati Pearly merasa lega. Sebenarnya, ketua tim bantuan ke Arreca sudah mengizinkan Pearly untuk memulihkan diri di dalam negeri sebelum berangkat. Namun, Pearly menolak. "Aku masih muda dan tubuhku sehat. Aku nggak bisa menjadi beban tim." Namun, pada hari keberangkatan, rekan-rekan seperjalanannya tetap merawat Pearly dengan penuh perhatian. Mereka membawakan seluruh barang bawaannya, bahkan membelikan tiket prioritas agar dia bisa naik pesawat lebih awal. "Ini kartu telepon lokal. Begitu pesawat mendarat, kita akan saling menghubungi lewat nomor ini." Ketua tim menyerahkan kartu telepon itu kepada Pearly dan hendak mengingatkannya bahwa kartu lamanya bisa disimpan, tetapi Pearly sudah lebih dulu membuang kartu lamanya ke tempat sampah. "Anak ini... apa kamu nggak akan menghubungi keluarga dan teman-teman di dalam negeri?" Pearly menggeleng, lalu menoleh sebentar untuk melihat Kota Bliyle di balik jendela besar. 'Kayden, seumur hidup ini kita tidak akan pernah bertemu lagi.'