Đang tải thông tin quảng bá...
Senja di Matamu
[Pa, aku setuju berimigrasi ke Prancis untuk menikah. Cepat, atau aku akan menyesal.] Pak Agus, ayah Tania Sane, langsung menjawab: [Putriku sayang, paling lama sebulan lagi semua prosedur selesai!] T...
Chương (1)
第1章
[Pa, aku setuju berimigrasi ke Prancis untuk menikah. Cepat, atau aku akan menyesal.]
Pak Agus, ayah Tania Sane, langsung menjawab:
[Putriku sayang, paling lama sebulan lagi semua prosedur selesai!]
Tania diam-diam menyeka air matanya dan menyimpan ponselnya.
Satu jam yang lalu, dia masih di dalam Bentley, mendesah pelan karena ciuman Chaz Limex.
Ketika ponsel Chaz berdering, dia menjawab dalam bahasa Georgia, "Ngapain nelpon sekarang?"
Orang di ujung sana tertawa. "Kenapa? Emangnya kau lagi sibuk dengan apa? Yang ini seberapa mirip dengan Nina Lopez?"
Chaz membelai wajah Tania yang lembut dan berkata dengan acuh tak acuh, "70%. Kalau nggak ada yang penting, aku tutup ya!"
Pria itu buru-buru berkata, "Jangan! Nina akan balik besok dengan pesawat! Rencananya akan merintis karir di sini. Baik kan aku infokan padamu? Cinta pertamamu sudah akan balik, penggantinya bisa nggak disinggirkan?"
Chaz berkata dengan dingin, "Nggak ada yang nggak bisa diselesaikan dengan uang."
Kepala Tania setengah terkulai di kursi, air mata mengalir di wajahnya.
Chaz sama sekali tidak tahu bahwa dia mengerti bahasa Georgia.
Ternyata cinta tulusnya selama tiga tahun sama sekali tidak berarti di mata Chaz.
Bab 1
[Pa, aku setuju berimigrasi ke Prancis untuk menikah. Cepat, atau aku akan menyesal.]
Pak Agus, ayah Tania Sane, langsung menjawab:
[Putriku sayang, paling lama sebulan lagi semua prosedur selesai!]
Tania diam-diam menyeka air matanya dan menyimpan ponselnya.
Satu jam yang lalu, dia masih di dalam Bentley, mendesah pelan karena ciuman Chaz Limex.
Peredam suara di Bentley diaktifkan sehingga sopir tidak bisa mendengar apa pun yang terjadi di bagian belakang.
Chaz membuka paksa bibir Tania.
Tania mencintainya dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, tanpa pengendalian diri.
Selama tiga tahun bersama Chaz, mereka telah berhubungan dalam segala situasi, terutama di dalam mobil.
Ponsel Chaz berdering.
Ekspresinya muram karena diganggu, tetapi setelah melihat ID penelepon, Chaz tetap menjawabnya.
Tania melirik ID penelepon, ternyata adalah nama asing.
Bahasa Georgia, bahasa yang sangat khusus, hampir tidak ada yang memahaminya di Indonesia.
Chaz mengumpat dengan dingin, "Ngapain nelpon sekarang!"
Orang di ujung sana tertawa, "Kenapa? Emangnya kau lagi sibuk?”
Chaz mencubit pinggang ramping Tania, memberi isyarat, lalu berkata dengan nada dingin dan malas, "Kalau sudah tahu ya cepat ngomong."
Pria itu bertanya dengan nada bergosip, "Yang ini seberapa mirip dengan Nina Lopez?"
Sambil mengelus wajah halus Tania, Chaz dengan santai berkata, "Sekitar 70%."
Pria itu tertawa dan mengumpat, "Sial, kau benar-benar hebat! Apa baiknya cewek ini?"
Chaz mencium leher Tania. "Suci, seperti boneka kecil yang penurut dengan tatapan yang jernih dan bodoh. Bersih."
Napas pria itu menjadi lebih berat. Chaz mengerutkan kening tidak senang.
"Jangan menggila. Kalau nggak ada yang penting, aku tutup ya!"
Pria itu buru-buru berkata, "Nina akan balik besok dengan pesawat! Rencananya akan merintis karier di sini.”
Chaz terdiam, napasnya berat. "Benarkah?!"
"Nina ingin merahasiakannya, tapi aku tetap beri tahu kau, baik kan aku? Cinta pertamamu sudah mau balik, penggantinya bisa nggak disinggirkan?"
Chaz berkata dengan dingin, "Nggak ada yang nggak bisa diselesaikan dengan uang."
Setelah itu, dia melempar ponselnya dan melanjutkan.
Tania menundukkan kepalanya di kursi, memperhatikan ponsel yang masih tergeletak di karpet mobil.
Chaz tidak tahu dia bisa bahasa Georgia.
Keluarganya punya bisnis di Georgia, dan dia telah belajar bahasa Georgia selama lebih dari lima tahun, jadi dia sangat menguasainya.
Air mata Tania menggenang, membasahi rambutnya.
Ternyata cinta tulusnya selama tiga tahun sama sekali tidak berarti di mata Chaz.
Matahari bersinar terang.
Rasanya musim kemarau sudah mulai.
Vila mewah bergaya Eropa tiga lantai itu bermandikan sinar matahari.
Chaz perlahan turun dari lantai atas, mengancingkan kancing berlian kemeja mewahnya dengan anggun.
Dia adalah putra kedua dari PT. Limex, salah satu dari 100 perusahaan kelas atas dunia, dan mengelola beberapa perusahaan media milik Keluarga Limex.
Tinggi dan ramping, dia memiliki aura dingin dan sifat acuh tak acuh yang menjadi ciri khas pria sukses.
Tiga tahun yang lalu, ketika masih merupakan mahasiswa baru di perguruan tinggi, Tania langsung terpikat dengan Chaz saat melihatnya.
Mata Chaz juga berbinar saat melihatnya di antara kerumunan, dan Chaz pun mulai mengejarnya. Setelah tiga bulan menahan diri, akhirnya Tania menerima Chaz.
Sejak saat itu, Tania kehilangan kepribadiannya sendiri, hanya ada Chaz di hati dan matanya.
Tapi…
Tania memalingkan wajahnya dengan dingin.
Chaz yang tidak menyadari keanehannya, menangkup pipinya dan menciumnya dengan penuh gairah.
"Aku ada rapat di kantor. Tunggu aku di rumah. Kubawakan kue saat balik."
Setelah itu, dia berbalik dan pergi.
Sosoknya yang tinggi memancarkan sedikit ketidaksabaran.
Tania tersenyum getir dan mulai memilah barang-barangnya.
Pertama, dia membuang semua barang yang melambangkan cinta seperti gelas minum pasangan, gelas sikat gigi, gantungan kunci, syal, kaos, dan boneka pasangan ke tong sampah.
Barang-barang itu biasanya berserakan di sekitar vila, ternyata saat dirapikan jumlahnya cukup banyak hingga dia berkeringat setelah menyelesaikannya.
Setelah membuang sekotak barang, dia kembali ke ruang tamu tepat ketika TV menyiarkan berita tentang kembalinya bintang internasional Nina untuk pengembangan karier.
Lobi bandara dipenuhi penggemar yang berteriak dan bersorak.
Rambutnya bergelombang, tubuhnya tinggi dengan wajah yang cantik dari segala sudut. Dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah kamera, mengundang sorak sorai dari para penggemar.
Kamera menyorot, dan Tania sekilas melihat sosok yang familiar di sudut lobi bandara.
Ding ding ding.
Whatsapp di komputer berdering.
Chaz tidak punya kebiasaan mematikan komputernya, dan Whatsapp komputer masih aktif. Tania berjalan mendekat, membuka pesannya.
Bab 2
Nina: [Chaz, di mana? Kok nggak melihatmu?]
Chaz: [Aku sudah kembali ke mobil. Fans-mu terlalu banyak, nggak baik aku muncul.]
Nina: [Kalau gitu, kita ketemuan di hotel saja.]
Chaz mengirim emoji oke.
Nina: [Sudah lima tahun nggak ketemu. Aku sudah sangat rindu.]
Tania mencibir dan terus menyibukkan diri membuang barang-barang.
Saat Chaz pulang, hari belum terlalu malam.
Dia sudah minum alkohol, dan seulas senyum masih tersungging di wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi.
Dia memegang sebuket besar mawar merah di tangannya dan berkata dengan suara baritone-nya, "Aku sudah pulang."
Tania meringkuk di sofa, mengunggah foto-foto ke situs web penjualan barang bekas. Dia berencana menjual beberapa barang berharga lalu menyumbangkan uang hasil penjualannya.
Mendengar suaranya, Tania menutup komputernya dan melihat ke arah Chaz.
Chaz menghampiri dan menyelipkan bunga itu ke dalam pelukannya. Lalu memeluk Tania bersama dengan buket bunga itu, dan mencium bibirnya.
"Kenapa? Rindu aku?"
Tania manyun dan diam, sambil melihat dan mengendus aroma mawar.
Seolah-olah disulap, Chaz mengeluarkan sebuah kotak panjang dari kertas pembungkus bunga mawar dan membukanya.
Matanya yang bulat besar dan penuh kasih sayang kini sedang menatapnya dengan saksama, terlihat begitu memikat.
Tania melirik dan menyadari bahwa itu adalah kalung berlian yang dia incar, senilai lebih dari enam miliar rupiah.
Tania hanya meliriknya sesaat beberapa hari yang lalu ketika mereka berbelanja bersama. Tak disangka, Chaz benar-benar membelinya hari ini.
Melihat Tania melongo menatap kalung itu, Chaz membungkuk dan mencium pipinya. "Begitu senangnya sampai nggak bisa bicara? Sini kupakaikan!"
Tangan ramping Tania yang putih mengelus kalung itu, dan dia berkata lembut, "Mawar dan berlian? Kukira kau sedang melamar."
Chaz berhenti sejenak dan melirik Tania.
Nadanya sedikit cuek, "Ada yang lebih baik saat aku melamar nanti."
Tania mencibir, "Harus tunggu berapa lama lagi?"
Senyum di wajah Chaz memudar, yang tersisa hanyalah tatapannya yang dingin.
Tania mengalihkan pandangan, mengulurkan tangan untuk melepas kalungnya.
Chaz meraih tangannya, mencium bibirnya, dan menekannya ke sofa.
Tubuhnya langsung menegang, dan dia memalingkan wajahnya dari bibir Chaz, menekan tangannya.
"Aku... aku sedang berhalangan."
Kata-kata Chaz terdengar mendominasi dan dingin.
"Jangan sembarangan, mens-mu baru kelar."
Kemudian, Chaz meraih tangannya.
Tania panik.
Saat itu, telepon Chaz berdering.
Tania segera mendorongnya ke samping. "Teleponmu, cepat angkat."
Chaz yang merasa sedikit kesal, mengeluarkan ponselnya dari saku.
Tania berada di bawahnya, sehingga melihat layarnya dengan jelas.
ID Penelepon: [Nina].
Chaz segera meletakkan ponselnya di sofa, dan saat melihat Tania masih berekspresi normal, Chaz berdiri dan berkata, "Kuangkat dulu."
Lalu, sambil membetulkan celananya, dia mengambil ponselnya dan naik ke atas.
Sesaat kemudian, dia turun dengan setelan jas yang dibuat khusus.
"Seorang temanku punya masalah. Aku pergi bantu. Kau tidur saja dulu."
Dia tidak menyadari bahwa banyak barang kecil yang telah hilang dari vila itu, sehingga villa tampak agak kosong.
Chaz sudah tiga hari tidak pulang.
Dia menelepon untuk memberi tahu bahwa dia sedang sibuk dengan pekerjaan.
Tania cukup tenang.
Namun Tania tidak tahan dan memeriksa akun media sosial Nina.
Nina memperbarui akunnya setiap hari.
Pada hari pertama, ada foto yang memperlihatkan dua tangan yang berdenting dengan dua gelas anggur merah, keterangan bertuliskan: [Beberapa persahabatan bagaikan anggur merah, semakin kuat seiring bertambahnya usia.]
Tangan lainnya adalah tangan seorang pria.
Tania mengenali tangan ramping itu dan cincin di jari manisnya. Itu adalah sepasang cincin pasangan yang dibuat khusus. Tania juga memiliki cincin yang sama.
Dia melepas cincin itu dan berkata dengan senyum masam, "Terlalu terbiasa memakainya, sampai lupa menjualnya."
Keesokan harinya, ada foto yang menampilkan matahari terbenam di pantai. Keterangannya berbunyi: [Seandainya bisa menua di sini.]
Tania mengenali dua pohon kelapa yang bersebelahan di foto tersebut.
Itu adalah pohon-pohon yang dia dan Chaz tanam bersama di pantai dekat vilanya, dan dihiasi dengan prakarya yang Tania buat sendiri.
Hari ketiga adalah foto yang diambil di bandara, sosok Chaz yang tinggi dan mengesankan muncul di tengah keramaian.
Para penggemar Nina menggila, bertanya apakah dia sedang pacaran.
Nina membalas: [Nggak, aku hanya kembali ke tempat yang familiar, dan merasa emosional.]
Tania menahan kepahitan di hatinya.
Dia dengan cermat mengirimkan barang-barang yang terjual kepada para pembeli dan menyumbangkan hasilnya ke yayasan amal selebritas.
Karena ada beberapa perhiasan sangat berharga sehingga tidak ada yang mau membelinya secara online, jadi dia pergi ke balai lelang.
Dia juga pergi ke universitas untuk menyelesaikan prosedur pengunduran diri dari program pascasarjana, lalu ke kantor imigrasi, ambil foto, dan sidik jari.
Seanjutnya, dia menghapus akun media sosial dan akun belanja online yang jarang digunakan, hanya menyisakan dua akun yang sering digunakan, yang akan dia hapus sebelum naik pesawat.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Setelah tengah malam, pesan-pesan ucapan selamat dan panggilan telepon terus berlanjut.
Dari orang tuanya, kakaknya, teman sekelasnya, teman-temannya, mentor dan profesornya.
Tapi tak sepatah kata pun dari Chaz.
Tania mendongak dan melihat bingkai foto di dinding.
Dia meringkuk dalam pelukan Chaz, tersenyum manis, bahagia, dan puas, seolah dia memiliki segalanya.
Namun wajah tampan Chaz tampak dingin, tatapannya dalam dan tanpa ekspresi.
Tania tertawa ironis dan menggeser kursi untuk menyingkirkan bingkai foto itu.
Tiba-tiba, pintu terbuka.
Chaz masuk.
Wajah tampannya muram, dan dia memancarkan aura dingin.
Bab 3
Melihat Tania memanjat tinggi, dia menghampiri dengan cepat sambil mengerutkan kening.
"Ngapain manjat begitu tinggi?"
Tania tersenyum tipis.
"Kenapa kau kembali?"
Chaz menggendongnya dari kursi dan mencium bibirnya.
"Dasar bodoh, kau lupa hari apa ini?"
Hati Tania tiba-tiba sakit, dan matanya memerah tak terkendali.
Chaz memegang wajahnya dan mencium matanya.
"Jangan sedih lagi. Aku ingat kok."
Tania menunduk dan mendorongnya sebagai bentuk perlawanan.
Dia memeluknya erat dan terkekeh, "Merasa nggak ada hadiah? Ayo kita lihat hadiahmu."
Dia meraih tangannya dan berjalan menuju pintu.
Saat membuka pintu, mereka melihat sebuah Ferrari merah di halaman.
Mobil ini harganya lebih dari 20 miliar rupiah, sangat cocok untuk gadis muda seperti Tania.
Chaz meletakkan kunci di tangan Tania dan berkata dengan penuh kasih sayang, "Ini hadiah ulang tahunmu. Suka?"
Tania tersenyum. "Ya."
Dalam hati, Tania sebenarnya ingin bertanya apakah itu hadiah putus darinya.
Chaz membungkuk untuk mencium telinganya.
Melalui baju tipis itu, Chaz menyentuh tubuhnya.
Napasnya semakin berat. Chaz membungkuk, menggendongnya, dan berjalan masuk.
Tania mengerutkan kening, memikirkan cara untuk menolak ketika teleponnya berdering lagi.
Tania tak kuasa menahan tawa. Dia bahkan tidak perlu memikirkan alasan untuk menolak, selalu saja ada telepon pada saat yang tepat.
Chaz menurunkannya, mengelus rambutnya, dan berkata, "Ganti bajumu. Kuajak ke suatu tempat nanti."
Tania seolah-olah terbebas dari hukuman mati, berbalik dan berlari ke atas.
Terdengar suara Chaz menjawab telepon dari belakangnya.
"Halo, Nina..."
Tania kembali ke kamarnya dan berganti pakaian dengan gaun satin sutra biru safir.
Gaunnya di bawah lutut, hanya memperlihatkan sedikit belahan dadanya di bagian depan dan sebagian besar punggungnya, tetapi rambutnya yang panjang dan gelap mampu menutupinya.
Dia memakai make-up tipis dan mengenakan sepasang anting mutiara sebelum turun ke bawah.
Chaz yang masih menelepon, terpaku saat melihat Tania berjalan turun.
Biru safir adalah warna yang paling menantang.
Namun, kulit Tania cerah dan halus, memberinya penampilan yang anggun dan elegan.
Pakaian satin yang pas badan mudah memperlihatkan kekurangan tubuh seseorang.
Namun, Tania memiliki sosok yang indah, sempurna.
Wajahnya yang cantik dan sikapnya yang elegan memikat bahkan tanpa perhiasan yang mewah.
Chaz menutup telepon, memasukkannya ke dalam saku celana, dan memeluk pinggangnya, lalu mencium bibirnya tanpa bisa menahan diri.
"Kenapa nggak pakai kalung berlian itu?"
Tania tersenyum tipis. "Terlalu mahal."
Chaz berkata tanpa daya, "Beli ya untuk dipakai. Kubelikan sesuatu yang lebih bagus besok."
Tania mengangkat kuncinya.
"Ayo pergi! Aku nggak sabar mengendarai mobil baru."
Chaz mengelus bagian belakang kepalanya dengan sayang.
"Oke, ayo pergi."
Setelah masuk ke dalam mobil, Chaz duduk di kursi penumpang, mengatur sistem navigasi.
Tania melihat bahwa itu adalah klub kelas atas di pinggiran kota yang hanya melayani anggota, dengan biaya tahunan satu miliar.
Mereka pernah ke sana tahun lalu untuk merayakan ulang tahun Chaz. Hanya mereka berdua, dan mereka tinggal selama dua hari tanpa keluar dari kamar.
Saking lupa diri hingga Tania mimisan dan dia pun di-opname.
Tania mengerutkan kening, bertanya-tanya apakah Chaz masih ingin merayakan ulang tahunnya seperti itu.
Namun sekarang Tania sudah kehilangan antusiasme dan minatnya, hanya merasa jijik.
Sepanjang perjalanan, Tania terus memikirkan cara melarikan diri, dan rasanya mereka tiba terlalu cepat.
Gerbang listrik terbuka, dan Ferrari merah itu perlahan masuk, berhenti di depan sebuah bangunan tua berlantai dua.
Chaz keluar lebih dulu.
Dia mengambil sepatu hak tinggi Tania, berjalan ke kursi pengemudi, dan meletakkannya di lantai.
Tania keluar dengan memegang lengannya dan memakai sepatu haknya.
Baru saja berdiri tegak, dia mendengar dua ledakan keras.
Tania terkejut.
Kelopak mawar merah jatuh dari langit menunjukkan pemandangan yang bagaikan mimpi.
Chaz merangkul bahu Tania, melindunginya.
Pasangan pria tampan dan wanita cantik yang berpelukan sambil bermandikan hujan mawar.
"Oh! Hahaha..."
Kerumunan orang berhamburan keluar dari segala arah, tertawa dan bercanda, dipenuhi kegembiraan.
"Selamat ulang tahun, Kakak Ipar!"
"Selamat ulang tahun!"
"Kakak ipar sangat cantik! Pantas saja Pak Chaz menyembunyikanmu dengan baik!"
"Pasangan yang sangat serasi!"
Tania sedikit bingung.
Bab 4
Selama tiga tahun, Chaz tidak pernah memperkenalkannya kepada orang tua, kerabat, atau teman-temannya.
Dia bilang dia berurusan dengan selebritas dan dianggap bagian dari industri hiburan, jadi dia tidak bisa mengumumkan hubungan mereka.
Tania ingin memperkenalkan Chaz kepada keluarganya, tetapi Chaz bilang waktunya belum tepat.
Apa yang sedang terjadi sekarang? Apakah sekarang waktunya sudah tepat?
Tania tertegun saat Chaz menggendongnya dan membawanya ke ruang perjamuan.
Musik mulai mengalun, lampu-lampu bersinar terang, kelopak mawar berjatuhan dari langit-langit, dan para pelayan berjas dan berdasi kupu-kupu muncul, mendorong kue ulang tahun lebih dari satu meter.
"Potong kuenya!"
Di tengah keributan, sebuah pisau kue disodorkan ke tangan Tania.
Chaz merangkul Tania, menggenggam tangannya, dan berbisik di telinganya, "Ayo kita potong bersama."
Mereka memilih tempat dan memotong kuenya.
"Apakah aku terlambat?"
Sosok tinggi muncul di pintu.
Tangan Chaz berhenti, ekspresinya berubah.
Tania mendongak dan melihat Nina mendekat, bersinar dan menawan.
Senyuman banyak orang membeku, mereka adalah yang tahu tentang situasi sekarang.
Beberapa yang tidak tahu tertegun sejenak, lalu kembali bersorak.
"Nina!"
"Nina! Artis internasional!"
Orang-orang mengerumuni Nina, berfoto, meminta tanda tangan, dan berpose bersama.
Para reporter dan awak media bahkan mengeluarkan peralatan mereka untuk wawancara.
Untuk sesaat, Nina menjadi fokus utama acara hari ini.
Seorang reporter bertanya, "Nina, mengapa Anda di sini? Apakah Anda kenal Pak Chaz?"
Nina tersenyum tenang dan berkata, "Pak Chaz dan aku adalah teman lama. Kudengar dia sedang merayakan ulang tahun pacarnya, jadi aku datang untuk menyampaikan ucapan selamat."
Seorang reporter bertanya, "Dari akun media sosial Anda, sejak Anda balik sepertinya Anda bersama dengan seorang pria misterius. Apakah Anda sedang pacaran?"
Nina menatap Chaz di hadapannya dan berkata, "Bukan, dia hanya teman lama yang sampai sekarang masih berhubungan baik."
Seorang reporter berkata sambil bercanda, "Teman lama juga bisa pacaran dan menikah. Apakah Anda akan memilih pria misterius itu?"
Nina menatap Chaz dan berkata kata demi kata, "Nggak, akan."
Chaz mengeratkan pelukannya pada Tania, tatapannya dingin dan ekspresinya muram.
Senyum semua orang membeku karena ekspresi Chaz dan suasana yang ramai langsung mendingin.
Chaz berkata dengan dingin, "Hari ini pesta ulang tahun pacarku, bukan konferensi pers untuk Nina."
Penyelenggara perjamuan langsung tertawa, "Ya, ya, ya, mari kita potong kue dan nikmati musik!"
Karena mereka semua adalah orang industri hiburan, suasana langsung menjadi lebih meriah.
Tania mengambil potongan kue pertama dan menawarkannya kepada Nina sambil tersenyum. "Selamat datang, Nona Nina, makanlah kue ini."
Nina mengambil kue itu, menatap wajahnya berulang kali, lalu berkata dengan terkejut, "Kenapa kita agak mirip?"
Berbalik, dia bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, "Menurut kalian?"
Mereka yang mengerti tentang situasi itu tersenyum canggung dan tertawa, "Semua orang cantik memang agak mirip, haha."
Mereka yang tidak tahu mulai bergosip, "Eh, iya, ya mereka memang agak mirip."
"Sekilas, mereka agak mirip, tapi kalau dilihat lebih dekat, nggak juga."
"Gayanya berbeda. Yang satu seperti bunga peony, cemerlang dan nggak tertandingi, sementara yang satunya lagi murni dan anggun, seperti anggrek."
Tania tersenyum tenang dan berkata, "Kita berjodoh. Waktu kecil, orang-orang bilang aku mirip bintang besar Nina."
Mereka yang menangkap makna tersembunyi dalam kata-katanya pun berbinar-binar.
Memang, Tania masih sangat muda, baru berusia 21 tahun, dan baru saja lulus kuliah. Dia memancarkan kecantikan alami dan murni.
Dia berasal dari keluarga kaya dan telah menerima pendidikan serta pelatihan terbaik sejak kecil. Keanggunan, martabat, dan kepercayaan dirinya yang melekat membuatnya bersinar.
Nina sebenarnya juga tidak terlalu tua, baru berusia 29 tahun.
Namun dengan semua kosmetik dan operasi plastik, serta pengalaman bertahun-tahun di industri hiburan, kepribadiannya yang kompleks tidak dapat disembunyikan.
Lagipula, dia berasal dari keluarga sederhana dan masuk sekolah seni sejak kecil untuk berkecimpung di dunia akting. Kurangnya prestasi akademiknya tak pelak lagi membuatnya terkesan bodoh.
Keanggunan berasal dari dalam, jadi tidak bisa dibandingkan.
Seseorang meredakan suasana dan berkata, "Semuanya, nikmati prasmanan. Minum anggur merah atau putih sepuasnya."
Kerumunan bubar, dan mereka mulai bersosialisasi dengan minuman, membentuk kelompok dan mengobrol.
Chaz merangkul pinggang Tania dan berbisik, "Mau makan apa? Minum apa?"
Tidak ada seorang pun di acara seperti ini yang datang untuk makan atau minum.
Tania tidak mengenal siapa pun dan merasa canggung.
"Ayo kita duduk di dekat jendela saja."
Chaz membawa anggur merah dan hidangan penutup favoritnya, lalu terus menemaninya, tetapi matanya tertuju pada Nina yang sedang bersosialisasi.
Nina tersenyum cerah, merasa seperti di rumah sendiri. Dia mengobrol dengan para reporter dan profesional media sosial, lalu minum-minum dengan beberapa produser dan penulis skenario.
Kemudian, dia memulai percakapan dengan dua sutradara terkemuka di industri film.
Dia balik untuk berkarier, jadi dia perlu berteman dengan para sutradara papan atas ini.
Di bawah pengaruh alkohol, para pria dan wanita yang mengejar ketenaran dan kekayaan mau tidak mau akan dipaksa minum, diraba-raba, dan diuji batas toleransi mereka.
Ekspresi Chaz menggelap, auranya semakin dingin.
Awalnya, dia masih bisa menahan diri dan mengobrol dengan Tania, tetapi kemudian, dia bahkan tidak berusaha untuk mengobrol lagi.
Tania melihat tangan seorang sutradara meraba pinggang Nina, sementara sutradara lain memberinya segelas besar brendi.
Bab 5
Chaz tidak bisa diam lagi. Dia langsung berdiri, merebut gelas anggur itu, dan berkata dengan dingin, "Kau lupa apa kata dokter? Masih berani minum!"
Suaranya begitu tegas sehingga suasana di sekitarnya tiba-tiba menjadi sunyi, dan semua orang menoleh.
Nina sedikit mabuk, dan senyumnya semakin menawan.
"Chaz, kau masih begitu berhati-hati. Jangan khawatir, aku tahu batas."
Sutradara yang sudah mabuk itu tertawa, "Pak Chaz sangat mencintaimu. Dulu, dia bahkan membuat onar di lokasi syuting saat kau syuting adegan ciuman!"
Teman mabuk lainnya juga tertawa, "Benar. Kak Chaz benar-benar romantis. Sekali dia jatuh cinta, maka itu adalah untuk selamanya dan abadi!"
Nina segera menjelaskan, "Jangan omong kosong. Maag-ku nggak bagus, dia takut lambungku berdarah."
Chaz tanpa sadar melirik Tania, lalu ke arah tatapan orang-orang di sekitarnya yang bergosip. Dia menggenggam tangan Nina dan berjalan keluar. "Kita bicara di luar saja!"
Tania merasakan kepahitan yang bercampur aduk.
Chaz lima tahun lebih tua darinya, selalu dewasa dan tenang, cuek dan pendiam, mampu menghadapi apa pun dengan tenang. Tak disangka, suatu hari dia akan kehilangan ketenangannya seperti ini, dan di depan umum!
Dia merasa semua orang diam-diam memperhatikannya dengan tatapan aneh, dia merasa gelisah.
Lalu, dia pun bangkit dan pergi ke teras.
Anginnya agak dingin.
Tidak ada lampu.
Hanya ada cahaya dari ruang tamu, menciptakan bayangan samar.
Dia menemukan kursi di sudut dan duduk. Ketika mendongak, dia melihat Chaz dan Nina berdebat sengit di dekat taman bunga.
Akhirnya, Chaz berbalik dan pergi dengan emosi.
Nina mengulurkan tangan untuk menariknya kembali.
Dia menepis tangan Nina dengan kuat, menyebabkan Nina yang memakai sepatu hak tinggi kehilangan keseimbangan. Pergelangan kakinya terkilir dan dia jatuh ke hamparan bunga.
Chaz yang mendengar suara itu bergegas menghampiri dan menariknya keluar.
Sepertinya Nina terluka parah, pergelangan kakinya terkilir.
Chaz pun menggendong Nina menuju Ferrari merah, menempatkannya di kursi penumpang, lalu melaju pergi.
Sebuah sepatu hak tinggi berwarna putih keperakan tergeletak di samping hamparan bunga.
Para tokoh utama telah pergi, semua orang di ruang perjamuan pun perlahan-lahan pergi.
Tania kembali ke ruang perjamuan, hanya tersisa makanan, musik sudah berakhir, dan kerumunan telah bubar.
Para pelayan yang membersihkan kekacauan itu meliriknya dengan tatapan simpatik dan bergosip.
Sepatu hak tinggi putih Tania menginjak kelopak mawar merah yang bertaburan di lantai saat dia perlahan keluar dari ruang perjamuan.
Chaz pergi dengan Ferrari-nya.
"Nona." Sebuah suara pria memanggil dari belakang.
Tania terkejut, suara itu terdengar familier.
Saat berbalik, dia melihat seorang pria berambut pirang, blasteran Indo dan Barat, berusia sekitar 30 tahun, dengan mata yang dalam dan hidung mancung. Dia cukup tampan.
Namun tatapan matanya, aura cabul dan menyeramkan itulah yang membuatnya gelisah.
Dia mengulurkan tangan.
"Namaku Uri, Aku orang Indo dari Georgia."
Tania tidak menjabat tangannya dan berbalik.
Uri menarik tangannya dengan canggung.
"Aku teman Chaz. Susah cari taksi di sini. Kuantar pulang saja."
Tania menolak dengan tegas, "Nggak, makasih. Klub ini ada mobil yang bisa antar."
Klub dengan iuran tahunannya yang satu miliar menawarkan fasilitas mobil antar-jemput. Tania berjalan menuju mobil yang terparkir di dekatnya.
Uri memandangi lekuk tubuh Tania yang sempurna sambil memiringkan kepalanya dan menjilat bibirnya. Senyum penuh tekad dan licik terpancar di wajahnya.
Orang yang mampu mempertahankan perhatian penuh Chaz selama tiga tahun pastilah luar biasa.
Tania merasakan sedikit kegelisahan. Saat dia menaiki mobil pribadi klub, dia melihat Uri masih berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi jahat.
Mengingat pembicaraan telepon Uri dengan Chaz hari itu, dia merasa mual.
Setelah memberikan alamat kepada sopir, Tania mendesak, "Ayo pergi."
Bosan di dalam mobil, Tania mengambil ponsel dan melihat berita di internet. Empat pencarian teratas semuanya tentang Chaz, Nina, dan dirinya.
[Chaz muncul di rumah sakit sambil menggendong Nina, tampak cemas, diduga Nina terluka parah dan cacat!]
[Chaz mengadakan pesta ulang tahun untuk pacar barunya. Mantan pacarnya, Nina, mengirimkan ucapan selamat. Keduanya bertemu di taman dan pergi di tengah acara!]
[Pacar baru Chaz terlihat 70% mirip Nina, sebuah drama dramatis di kehidupan nyata!]
[Bertemu kembali setelah enam tahun, apakah Nina dan Pak Chaz selama ini terus bersama, ataukah cinta lama bersemi kembali?]
Ada foto, video, dan fakta.
Di antaranya juga terdapat foto beresolusi tinggi Tania dan Nina yang berdiri berdampingan saat Tania memberi Nina kue.
Penggemar Nina membanjiri internet dengan pesan, beberapa mendoakan hubungan Nina dan Chaz, sementara yang lain mendesak pacar baru Chaz untuk bersikap cerdas dan berhenti menjadi pelakor.
Banyak penggemar menduga Tania iri dan melukai Nina untuk balas dendam. Hinaan mereka sangat mengerikan.
Hanya sedikit dari mereka yang merasa kasihan pada pacar baru Chaz.
Tania gemetar karena marah.
Mengapa mereka merilis foto-fotonya tanpa izinnya?
Di klub kelas atas seperti itu, privasi tamu adalah yang terpenting. Tanpa persetujuannya, mereka tidak berhak membocorkan informasi apapun!
Ini berarti setidaknya Chaz, sang tuan rumah, telah menyetujuinya.
Tania segera mengirimkan surat pengacara ke situs web terkait, menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran hak citranya.
Hanya dalam dua menit, foto dan videonya dihapus.
Namun sudah terlambat, foto dan video tersebut telah diunduh oleh ribuan orang dan terus beredar di kolom komentar dan akun pribadi.
Kemarahan Tania tidak berlangsung lama, amarahnya telah mereda saat kembali ke vila.
Ketika memasuki ruang tamu dan melihat foto mereka berdua di mana-mana, Tania merasa ironis.
Bab 6
Tania melepas sepatu hak tingginya, melempar tasnya, dan mulai menurunkan semua bingkai foto.
Dia mengeluarkan foto-foto di dalamnya dan membakarnya, lalu membuang bingkai-bingkai itu.
Sekarang dia baru menyadari ada begitu banyak foto.
Di ruang tamu, koridor, kamar tidur, ruang kerja, ruang olahraga, dinding ruang pakaian lemari, meja...
Telepon berdering.
Tania mengangkatnya dan melihat ayahnya menelepon.
Begitu telepon tersambung, terdengar suara ayahnya yang emosi.
"Tania, apaan itu yang di internet? Kenapa ada rumor dirimu di saat begini?"
Tania terduduk dengan lelah di karpet dan berkata lemah, "Papa..."
Seketika dia merasa sedih, dan tenggorokannya tercekat.
Suara Pak Agus melunak.
"Putriku sayang, jangan nangis, jangan nangis. Papa di sini! Kita nggak akan ditindas! Papa akan tangani masalah internet itu, pasti kuhajar mereka!"
Perhatian dari keluarganya langsung meruntuhkan ketangguhan Tania. Dia menutup mulutnya, terisak-isak karena penindasan yang dialami malam itu.
Pak Agus menghela napas. "Nggak ada gunanya menyesal dan menangis sekarang. Papa akan beri pelajaran pada si brengsek Chaz dan wanita itu!"
Tania menyeka air matanya.
"Nggak perlu. Aku yang terlalu bodoh dan naif. Akulah yang menyebabkan semua ini. Lagipula, aku sudah putuskan untuk beremigrasi, jadi biarkan saja."
Pak Agus kecewa.
"Kau..."
Pak Agus ingin memarahinya, tetapi tidak sanggup melakukannya. Dia hanya bisa mendesah sedih.
Tania menanyakan status prosedur imigrasi, menutup telepon, mandi, dan pergi tidur.
Chaz tidak kembali semalaman.
Tidak ada telepon, tidak ada pesan.
Ketika Tania bangun, hari sudah siang.
Dia mengeluarkan ponselnya, semua foto dan videonya sudah hilang dari internet.
Saat sarapan, Chaz kembali.
Dia mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin, rambutnya agak acak-acakan, matanya merah, dan janggutnya sedikit berantakan.
Jelas sekali dia tidak tidur semalaman.
Dia duduk di hadapan Tania dan bertanya dengan suara berat, "Kau yang ajukan gugatan terkait insiden daring ini?"
Tania menyeka bibirnya dengan serbet dan menatap matanya. "Ya, aku harus membela hakku."
Chaz berbicara dengan nada bisnis, "Perusahaan telah mengontrak Nina. Dia baru saja balik dan butuh publisitas. Kukasih seratus miliar, cabut gugatanmu terhadap situs web tersebut dan izinkan mereka pakai foto dan videomu untuk promosi."
Tania mencibir dengan nada sarkastis. "Pak Chaz, aku bukan karyawan perusahaanmu. nggak wajib, dan nggak perlu bekerja sama untuk publisitas selebritasmu."
Alis Chaz berkerut, dia membanting gelas susu kembali ke meja, pandangan dinginnya mengamati Tania.
"Cemburu? Marah karena kutinggalkan tadi malam? Wajah dan kaki Nina terluka semalam, jadi aku langsung bawa dia ke rumah sakit. Dia mengandalkan penampilannya untuk mencari nafkah, jadi dia nggak boleh cacat."
Tania tersenyum. "Aku nggak marah. Aku nggak peduli mau gimana kau promosikan dirinya, jangan libatkan aku ke dalam masalah ini, ngerti?"
Pandangan Chaz menjadi tegas, nadanya dingin, "Kau selalu patuh dan bijaksana. Kuharap kau nggak mengecewakanku."
Tania berkata dengan tenang, "Maaf mengecewakan Pak Chaz, tapi aku tetap pada prinsipku."
Chaz menatapnya dengan bingung, tidak biasanya Tania mencuekkan perkataannya.
Dia menyalakan sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam, dan perlahan mengembuskan asapnya.
Wajahnya yang tampan dan lelah, diselimuti asap, memancarkan keindahan yang anggun dan dekaden.
Setelah dua isapan, dia menenangkan diri, mematikan rokok yang setengah terbakar ke asbak, lalu berjalan mendekat dan duduk di sebelah Tania.
Dia memeluknya dan berkata dengan suara berat, "Baiklah, nggak pakai foto dan videomu lagi. Jangan marah lagi. Kukasih 40 miliar, bisakah kau batalkan gugatan ini? Menyinggung para jurnalis dan media swadaya itu juga akan merusak reputasi perusahaan."
Chaz mencium telinganya, menyentuh kerah bajunya.
Karena perusahaan Chaz berada di balik semua ini, Tania setuju untuk membatalkan gugatan, anggap saja sebagai imbalan atas jasanya selama tiga tahun terakhir.
Lagipula, Chaz selalu melayaninya dengan baik.
Saat Tania hendak mengangguk, ponsel Chaz berdering. Chaz menggendongnya dengan satu tangan, mengeluarkan ponsel dan meliriknya, lalu menjawabnya.
Percakapan itu dalam bahasa Georgia.
"Uri, ngapain?"
Uri bertanya dengan nada jahat, "Kau sudah tenangkan Tania? Dia setuju nggak untuk cabut gugatannya? Para reporter dan media sosial itu minta pertanggungjawaban Nina, dan Nina sudah menangis."
Chaz berkata dengan cuek, “Mana mungkin dia nggak setuju?"
Uri terkekeh, "Kak, aku iri sekali. Aku benar-benar tertarik dengan Tania. Sekarang kau sudah punya Nina, berikan saja dia padaku, setidaknya akan memuaskan hasratku."
Chaz mengeratkan pelukannya di tubuh Tania dan berkata dengan dingin, "Enyahlah!"
Karena jarak mereka begitu dekat, Tania bisa mendengarnya dengan jelas.
Mendengar kata-kata Chaz yang ambigu tadi, Tania mengira bahwa perusahaannya yang di balik insiden internet.
Ternyata itu adalah ulah Nina.
Bab 7
Chaz menutup telepon, mencium pipi Tania, dan mendesak, "Telepon pengacaramu dan cabut gugatannya."
Tania berkata dengan dingin, "Aku nggak akan cabut gugatannya."
Ekspresi Chaz langsung muram. Dia berdiri dan memelototinya. "Jangan main-main. Perusahaanku kena masalah, apa untungnya bagimu?"
Tania tetap teguh.
"Timmu, para jurnalis, dan media swadaya itu semua tahu tentang privasi dan hak citra, kan? Tapi mereka sengaja melanggar hukum. Kenapa? Aku sudah ditindas, dan alih-alih meminta pertanggungjawaban mereka, kau malah berbisnis denganku?"
Chaz menatapnya dengan tatapan dingin dan kecewa. "Aku bahkan nggak kenal dirimu yang seperti ini. Kecemburuan memang mengerikan."
Setelah itu, dia menyingkirkan kursi makan dan naik ke atas.
Kursi itu berderit keras, membuktikan kemarahannya.
Ketika menyangkut urusan Nina, dia kehilangan ketenangannya.
Tania menunduk dan terus mencicipi bubur kacang hijau dengan santai.
Tak lama kemudian, Chaz turun, berganti pakaian, rambutnya masih basah mungkin karena mandi.
Dia berhenti di pintu ruang makan dan menoleh ke arah Tania.
"Aku tetap akan mentransfer 40 miliar itu kepadamu. Maaf telah melibatkanmu."
Dia bersikap sangat sopan.
Namun, Tania peka terhadap kedinginan dan cueknya.
Hanya saja Tania tidak peduli.
Situs web penjualan barang bekas itu kembali menerima banyak pesanan, jadi dia mengemas dan mengirimkan semuanya.
Selama tujuh hari, Chaz tidak kembali, juga tidak mengirim pesan apa pun.
Suatu subuh, telepon tiba-tiba berdering.
Tania terbangun kaget dan meraih ponselnya. Ternyata Chaz.
Dia sedikit mengernyit dan menjawab.
Suara Chaz terdengar cadel, kurang jelas, mungkin karena terlalu banyak minum.
"Tania, cepat... jemput aku. Pulang rumah."
Tania mendengar musik keras di latar belakang.
"Kau di mana?"
"Mena... Klub Malam Menawan, Kamar 88."
"Oke."
Tania segera bangkit, mengenakan celana jin dan kaus putih. Setelah berpikir sejenak, dia menemukan sepasang anting hitam berkilau dan memakainya.
Lalu, dia turun ke garasi. Ferrari merah itu terparkir di paling luar. Mobil itu belum balik nama, jadi bukan miliknya dan dia tidak menjualnya.
Tania membuka pintu pengemudi dan masuk. Namun, dia melihat sebelah stoking hitam di kursi penumpang dan sepatu hak tinggi perak di atas karpet. Dia mengenali sepatu hak tinggi itu. Itu adalah sepatu yang sama yang ditinggalkan Nina di dekat hamparan bunga di klub pada hari ulang tahunnya.
Tania merasa jijik, maka dia pun keluar dan menemukan BMW Mini-nya di antara belasan mobil mewah Chaz.
Sekitar pukul dua subuh dia tiba di tempat parkir bawah tanah Klub Malam Menawan. Saat memarkir mobilnya, seorang pria paruh baya muncul dari balik pilar gelap dan menghentikannya.
"Hei, nona! Bisakah pinjami aku tisu? Aku mau ke kamar kecil, tapi nggak ada tisu."
Tania yang waspada terhadap orang asing yang mendekat pun menolak, "Nggak ada."
Pria paruh baya itu melanjutkan, "Ponselku hilang. Bisakah pinjami aku duit? Aku perlu beli tisu atau naik taxi."
Tania menjawab dengan dingin, "Nggak ada!"
Setelah itu, dia berbalik dan pergi.
Pintu lift terbuka, dan terdengar suara musik yang memekakkan telinga. Lampu-lampu berkelap-kelip menyilaukan mata.
Pria dan wanita bergoyang bersama, minum bersama, bernyanyi bersama, saling menggoda.
Tania tidak menyukai suasana seperti ini.
Dia menanyakan arah kepada resepsionis dan berjalan melewati pintu kedap suara menuju sebuah koridor.
Di kedua sisi koridor terdapat kamar-kamar pribadi mewah, pintunya kedap suara dan sepanjang koridor sunyi.
Tania menemukan kamar 88 dan memencet bel.
Pintu kedap suara yang tebal itu terbuka, dan alunan musik dansa yang memekakkan telinga menggelegar.
Di luar terang, di dalam gelap. Karena tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam, Tania melangkah masuk.
Pintu tiba-tiba terbanting menutup di belakangnya.
Tania terkejut dan langsung berbalik, menatap mata Uri yang penuh nafsu.
Pada saat yang sama, Uri mengangkat tangannya dan menyemprotkan dua kali cairan ke wajahnya.
Bab 8
Tania menghindar dengan cepat, tetapi sudah terlambat.
Tercium aroma manis yang samar, dia menghirupnya beberapa kali.
Uri menghalangi pintu, memaksanya mundur ke dalam.
Tania bertanya dengan hati-hati, "Apa maumu?"
Uri terkekeh, "Ya itu!"
Lalu Uri menyemprotnya beberapa kali lagi.
Tania merasakan sensasi terbakar di sekujur tubuhnya, detak jantungnya semakin cepat, kakinya melemah, dan cahaya terang dari bola disko membuatnya pusing.
Sesuai dugaan, Uri telah menyemprotkan obat perangsang!
Ruang-ruang pribadi di klub malam itu semuanya kedap suara dan sangat privat. Hanya ada pintu kedap suara, tanpa jendela.
Dan dengan musik yang diputar, sekeras apapun teriakan Tania, tak seorang pun akan mendengarnya!
Uri pasti sudah meminum penawar sebelumnya. Dia bergegas menghampiri, memeluk, dan menciumnya.
"Sayang, akhirnya kudapatkan dirimu!"
Tania terkejut dan marah sambil meronta. "Lepaskan aku! Ini tindakan kriminal!"
Uri meraih lengannya dan melemparkannya ke sofa, menerkamnya seperti serigala lapar.
Tania terkejut dan sontak menendangnya.
Namun, Uri telah mengantisipasi gerakannya dan mencondongkan tubuh ke depan menahannya.
Tangannya mencubit dan meremas, dia menggertak, "Kriminal? Hanya kita berdua di sini, nggak ada kamera. Kubilang saja kau mabuk dan melakukannya dengan sukarela, tapi setelah bangun kau menyesalinya lalu berbalik melawanku. Hakim bakal percaya siapa? Hal ini akan dibiarkan begitu saja akhirnya!"
Tania meronta tanpa daya, merasa putus asa. "Chaz nggak akan melepaskanmu!"
Uri menahannya, membuka kancing celana jinsnya, dan menyeringai dengan arogan dan jahat.
"Gadis bodoh, Chaz memberikanmu padaku! Bukankah dia yang memanggilmu kemari? Dia sedang bersenang-senang di sebelah dengan Nina sekarang!"
Tania bagaikan tersambar petir, air mata kesedihan dan kemarahan mengalir di wajahnya.
Uri membuka ritsleting celananya dan menurunkannya.
"Hari ini, akan kutunjukkan betapa hebatnya aku. Aku lebih hebat dari Chaz! Nina sudah enam tahun bersenang-senang di negara barat. Chaz pasti akan kembali padamu! Saat kau sudah merasakan kehebatanku, kau pun nggak akan mau dia lagi! Hehe..."
Saat Tania tersadar dari keterkejutannya, celananya sudah melorot hingga ke selangkangan.
Dia mengangkat tangannya dan menampar wajah Uri sampai menggema.
Ekspresi Uri berubah sesaat, tetapi dia segera memasang senyum nakal.
"Ternyata gadis galak. Aku suka itu!"
Tania mengangkat tangan kanannya hendak memukul lagi, tetapi pergelangan tangannya ditahan Uri. Lalu, dia mengangkat tangan kirinya, tetapi juga ditahan Uri.
Tatapan Uri berubah ganas. "Kekuatanmu itu hanya akan meningkatkan nafsuku! Nanti saat nafsumu sudah bangkit, kau pasti akan menangis dan memohon-mohon padaku!"
Lalu, Uri membungkuk dan menciumnya seperti anjing gila.
Tania merasakan sensasi terbakar di perutnya, dan merasa terlalu lemah untuk melawan.
Di ruang pribadi di sebelahnya, Nina tersenyum kepada asistennya sambil memegang segelas anggur merah dan mengagumi layar ponselnya.
"Kalau saja Tania nggak pakai celana hari ini, Uri pasti sudah berhasil. Tapi ini lebih baik lagi, ini akan semakin membangkitkan nafsu Uri."
Asisten itu bertanya dengan cemas, "Gimana kalau Tania menuntut Uri?"
Nina mencibir dengan nada meremehkan, "Menuntut Uri, apa hubungannya denganku? Aku nggak buat apa-apa. Aku hanya menyarankan agar Chaz telepon Tania untuk menjemputnya."
Tatapan asisten itu dipenuhi kekaguman.
Nina menyeringai.
"Dengan video-video ini, Tania pasti akan mencabut gugatan. Kalau nggak, aku akan mengunggahnya ke internet! Kita lihat siapa yang lebih berani!"
Setelah itu, dia mengepalkan tangannya dengan penuh semangat saat melihat video di ponselnya.
"Uri, ayo buka celananya! Cepat! Cepat!"
Chaz yang terkapar di sofa, bergerak dan berkata dengan suara mabuk, "Air, Tania, tuangkan aku segelas air."
Nina menegang, menoleh menatap wajah tampan Chaz, kilatan kecemburuan tampak di tatapannya.
"Sebentar."
Nina mematikan ponselnya dan pergi mengambilkan air untuk Chaz.
Di kamar sebelah, Tania merasa dirinya akan tamat kali ini.
Saat Uri melepaskan tangannya dan mencoba membuka celananya, Tania mencakar dengan ganas, mencabik-cabik wajah dan leher Uri hingga kulitnya lecet.
Uri seperti binatang buas. "Dasar kucing liar, aku semakin tertarik padamu sekarang! Aku akan merekam kelakuanmu yang gila nanti untuk kau nikmati!"
Setelah itu, dia menarik Tania dari sofa.
Kaki Tania lemas dan dia berlutut di atas karpet.
Bab 9
Tania mengulurkan tangan untuk melawan serbuan Uri.
Mata Tania berkaca-kaca, pipinya memerah. Tubuhnya tak terkendali lagi, dan tangisan keluar dari tenggorokannya.
Tidak!
Dia tidak bisa membiarkan dirinya seperti ini!
Dia menggigit lidahnya dengan kuat, rasa sakit itu membuatnya tersadar kembali. Tiba-tiba dia mengangkat kakinya dan menghantamkan lututnya ke hidung Uri.
Uri setengah berlutut di atas karpet, membungkuk untuk menarik celana jinsnya yang pas badan. Tanpa diduga, Tania masih punya tenaga untuk melawan, dan hidungnya langsung terhantam.
"Arrggh!" teriaknya, secara naluriah melepaskan tangan Tania, terduduk di tanah dan memegangi hidungnya.
Tania segera bangkit, menggigit lidahnya dengan kuat lagi agar tetap sadar, lalu menendang selangkangan Uri.
"Aduh!" teriak Uri, meringkuk di tanah dan menggeliat.
Tania melihat botol semprot kecil keluar dari saku celana Uri. Tania segera mengambilnya, menahan napas, dan menyemprotkannya terus-menerus ke wajah Uri. Kemudian, sambil berguling-guling dan merangkak, Tania bergegas menuju pintu.
Setelah pintu terbuka, hembusan udara dingin masuk, menyadarkannya kembali.
Tania segera menyeka sidik jari di botol itu dengan kausnya, melemparkannya ke dalam, menutup pintu, dan berlari keluar.
Namun kakinya lemas, dan meskipun berpegangan pada dinding, dia tetap tidak bisa berlari cepat.
Dia merasakan panas yang membakar di sekujur tubuhnya, hanya tersisa satu pikiran dalam benaknya: Cari pria!
Dia tahu jika terus seperti ini, sesuatu yang buruk akan terjadi.
Entah dia menanggalkan pakaiannya dan mempermalukan dirinya sendiri di depan umum, atau pria lain akan menemukan mayatnya.
Memanggil polisi?
Klub malam besar dan mewah seperti ini pasti punya pendukung yang kuat. Begitu dapat info, mereka akan terlebih dahulu menghajarnya!
Minta bantuan teman? Terlambat!
Bagaimana ini?
Bagaimana ini?
Klik!
Terdengar suara pintu terbuka.
Tania berbalik dan melihat pintu di sebelah Kamar 88 terbuka.
Tania ketakutan. Jika Chaz menangkapnya, dia pasti akan diserahkan kembali kepada Uri!
Tania gelisah.
Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mencari kamar kosong, bersembunyi di sana, mandi air dingin, dan menantikan efek obat berakhir!
Jadi, dia segera mendorong pintu kamar terdekat.
Tanpa diduga, pintu itu benar-benar terbuka.
Tanpa berpikir panjang, dia segera menyelinap masuk dan menutupnya.
Saat pintu tertutup, dia melihat Nina keluar dan berjalan menuju Kamar 88.
Begitu Nina mendorong pintu, seseorang menariknya masuk dan Nina berteriak.
Tania langsung mengunci pintu dan merantainya.
Tidak ada lampu yang menyala di dalam kamar itu, tidak ada suara, jadi pasti tidak ada orang di sana.
Begitu merasa lega, dia langsung sadar akan sensasi terbakar di sekujur tubuhnya.
Dia menyandar ke dinding, perlahan merosot turun dan melepas kaosnya untuk mendinginkan diri.
Dia bisa mendengar napasnya yang berat dan jantungnya yang berdebar kencang.
Seluruh tubuhnya terasa seperti digigiti semut, rasa sakitnya tak tertahankan, dia mengerang saking tidak tahan.
Tiba-tiba!
Klik.
Lampu menyala.
Kesadaran Tania mulai memudar.
Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seorang pria jangkung, tegap, dan tampan perlahan mendekat.
Pria itu tampak berusia sekitar 30 tahun, dengan alis tebal dan mata yang cerah, fitur wajah yang dalam, dan batang hidung yang mancung. Dia tampak seperti campuran Indo dan Barat.
Tania merangkak ke arahnya, seperti seorang pengembara yang kehausan di gurun pasir yang telah menemukan oasis.
"Tolong aku! Tolong aku!"
Pada dasarnya Tania cantik, tak hanya berwajah rupawan, tetapi juga sosoknya memukau. Saat ini, rambutnya basah kuyup, matanya berair, dan suaranya memesona.
Mata safir pria itu menggelap.
"Nona, haruskah aku panggil polisi atau ambulans untukmu?"
Tania ingin pria itu membantunya ke kamar mandi dan mengguyurkannya dengan air dingin.
"Air, air..."
Tania memeluk kakinya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlutut.
Saat menyentuh tubuh pria itu, rasionalnya hilang.
Dia hanya punya satu pikiran: 'Aku mau pria ini! Aku mau pria ini!'
Dia seperti orang yang kelaparan selama tujuh hari yang melihat sepotong roti dan langsung meraihnya, memohon, "Tolong aku! Aku akan membayarmu!"
Pria itu membeku.
Dia mengulurkan tangan dan menariknya berdiri, suaranya dalam dan memikat, "Aku akan membawamu ke rumah sakit."
Pendengaran Tania berdengung, dan dia tidak bisa lagi mendengar apa pun. Seluruh tubuhnya serasa dibanjiri, darahnya mendidih. Jantungnya serasa mau meledak.
Dia berjingkat dan mengangkat kepalanya, mencium pria itu dengan penuh gairah. Bagai ular, dia melilitkan tubuh rampingnya yang tinggi, tangannya yang gemetar merayapi celananya.
Tatapan pria itu langsung menggelap.
"Kau yang memohon padaku!"