Đang tải thông tin quảng bá...
Tinggalkan Suami Mafia Setelah Hidup Kembali
Pada hari kelahiran kembar, aku menyuap dokter keluarga dan menyuntikkan semua inihibitor persalinan kuat yang ada di rumah sakit untuk menunda persalinan. Alasannya karena di kehidupan sebelumnya, Vi...
Chương (1)
第1章
Pada hari kelahiran kembar, aku menyuap dokter keluarga dan menyuntikkan semua inihibitor persalinan kuat yang ada di rumah sakit untuk menunda persalinan. Alasannya karena di kehidupan sebelumnya, Vincent Kusuma didiagnosis dengan oligospermia.
Demi punya penerus, Vincent sampai cari belasan selingkuhan di luar. Dia mengumumkan, siapa pun yang duluan melahirkan anak cowok, anak itulah yang akan jadi bos keluarga berikutnya.
Katanya, asalkan aku duluan melahirkan, dia akan mengusir semua selingkuhannya dan membiarkan anakku menjadi pewaris Keluarga Kusuma.
Aku memercayainya.
Saat tahu aku hamil kembar, rasa haru dan senang yang sulit dikatakan membuatku gemetaran.
Tapi setelah melahirkan, dia malah suruh orang mengurung aku dan bayi yang baru lahir ke dalam gudang anggur yang dingin dan melarang semua orang dekatin kami.
“Lusi berasal dari keluarga sederhana. Aku cuman mau kasih anaknya status yang sah supaya masa depan mereka lebih baik. Tapi kau sengaja menyebarkan kabar itu, sampai dia keguguran karena putus asa. Akhirnya dia dan bayinya mati.”
“Kau segitu kejam! Kau sama sekali nggak layak jadi ibu pewaris Keluarga Kusuma! Renungkanlah kesalahanmu! 3 hari lagi baru aku lepaskan kau dari sini!”
Setelah selesai berbicara, Vincent suruh kepala pelayan kunci pintunya tanpa menyisakan lubang.
Tapi, dia nggak tahu.
Malam itu, gudang anggur kebakaran. Aku dan anak kembarku tewas terbakar.
Pas aku buka mata lagi, ternyata aku kembali ke malam sebelum melahirkan.
Di kehidupan yang baru ini, aku nggak mau jadi istri sah mafia lagi.
Setelah anakku lahir dan tenagaku pulih, aku akan bawa anakku pergi jauh dari sini.
Bab 1
Aku panggil dokter keluarga dan minta suntikan inhibitor terakhir.
Dokter ketakutan hingga wajahnya pucat dan berkata, “Bu Avera, kau sudah harus melahirkan! Kalau terus ditahan, ibu dan anak akan mati!”
Aku menggertakkan gigiku. Belum sempat berbicara, pengawal Vincent langsung menerobos masuk dan mengangkatku dari ranjang bersalin dengan kasar.
Melihat ini, dokter yang berada di belakang berteriak dengan putus asa, “Tanda-tanda vital Bu Avera terus menurun! Dipaksa pindah akan bikin dia perdarahan berat! Ini berarti bunuh 3 nyawa sekaligus!”
Pengawal mengabaikannya, lalu menyeretku ke tempat konferensi pers keluarga yang diadakan di aula rumah.
Para selingkuhan Vincent juga dibawa masuk. Beberapa di antara mereka perutnya sudah besar. Jelas-jelas sudah mendekati masa persalinan.
Kemudian, semua wanita, termasuk aku, dipaksa minum sebotol cairan pahit oleh pengawal. Obat itu adalah obat aborsi yang sangat kuat.
Situasi di aula langsung ricuh. Tangisan dan ratapan terdengar di mana-mana.
“Kalau pun Kak Avera melahirkan, kami tetap nggak bisa rebut posisinya. Kenapa kami harus aborsi anak? Aduh! Sakit sekali! Tolong!
Aku juga dipaksa minum sampai habis. Proses persalinan yang sebelumnya ditahan oleh inhibitor langsung kacau. Darah mengucur deras dan membasahi seluruh gaun tidur sutraku.
Jeritan kesakitanku mengagetkan semua cewek yang ada di sana. Mereka memandangku dengan panik dan bertanya, “Kak Avera juga dikasih minum obat itu? Kakak ‘kan hampir melahirkan.”
“Kalau bukan anak yang dilahirkan istri pertama, lalu siapa? Siapa yang mau nyawa kita semua?”
Aku kesakitan sampai nggak bisa berdiri dengan stabil. Aku memaksakan diri untuk bangkit dan berteriak ke penjaga pintu, “Cepat panggil dokter! Ini bisa bunuh orang, tahu?”
Tepat pada saat ini, Lusi Nabila yang mengenakan setelan jas putih buatan khusus masuk sambil menggandeng Vincent Kusuma. Wajahnya bersemu merah, sama sekali nggak kelihatan lemah kayak orang yang baru saja melahirkan.
Begitu Vincent masuk, dia langsung melihat para selingkuhannya berjatuhan dan menggeliat kesakitan di lantai. Melihat ini, wajahnya langsung berubah muram.
Tapi Lusi malah langsung menatapku di antara kerumunan dan berteriak dengan suara melengking, “Kak Avera! Apa yang kau lakukan? Kok mereka bisa keguguran semua?”
“Ngeri sekali. Kalau bukan Vincent terus bersamaku, mungkin anakku juga bakal kayak mereka gitu. Kak Avera, kau kok sekejam itu?”
Lusi menatapku dengan mata berlinang, lalu langsung menuduhku sebagai biang keladi.
Mendengar ini, aku kaget hingga terus menggeleng-gelengkan kepala. Belum sempat berbicara, sepasang tangan besar mendorongku hingga jatuh ke lantai.
“Dasar bajingan! Beraninya kau racuni mereka saat aku nggak ada! Kau segitu iri hati? Sampai mau bunuh mereka dan bayi mereka!”
Aku meringkuk kesakitan, tapi mataku justru melihat Lusi yang berdiri di belakang Vincent tersenyum dengan puas.
Aku menggertakkan gigiku dan berkata, “Aku nggak buat apa-apa … Pasti dia!”
“Masih berani menyangkal?!” Vincent membentak dengan keras dan suaranya pun bergema di seluruh aula. “Ini bukan pertama kalinya kau berbuat jahat karena iri hati! Kali ini, aku nggak akan memanjakanmu lagi!”
Dia memerintah para selingkuhannya yang keguguran itu, “Satu orang kasih dia satu tamparan. Habis itu, aku antar kalian ke panti rehabilitasi swasta terbaik untuk pemulihan.”
Pengawal menahan aku di tengah aula, sama sekali nggak peduli pada darah yang mengucur deras dari bawah tubuhku.
Para selingkuhan berjalan mendekat sambil menangis dan berkata, “Maaf, Kak Avera.”
Tamparan datang bergantian. Kepalaku berdenyut, telingaku berdenging dan separuh wajahku langsung kebas.
Setelah semua orang pergi, Vincent baru menggendong bayi yang terbungkus selimut mewah dari pengasuhnya dengan puas. Lalu menghampiriku sambil menggenggam tangan Lusi.
Melihat seluruh tubuhku yang dipenuhi noda darah dan pipi yang membengkak, seberkas emosi rumit melintas di matanya.
Tapi sesaat kemudian, tatapannya kembali jernih dan berkata dengan dingin, “Jangan salahkan aku suruh mereka menamparmu. Kau buat mereka kehilangan anak. Aku harus hukum kau di depan mereka agar masalah ini bisa berakhir. Sekaligus biar kau tahu, aku nggak akan memanjakanmu lagi. Kalau kau tetap berbuat jahat, inilah akibatnya.”
“Selain itu, kali ini jangan bermimpi mau rebut posisi pewaris Lusi dan anaknya.”
Mendengar ini, seluruh badanku gemetar. Aku mendongak melihatnya.
Rupanya bukan hanya aku yang hidup kembali.
Pantesan hanya karena ucapan Lusi, Vincent langsung yakin akulah pelakunya.
Pantesan dia bilang ini bukan pertama kalinya aku berbuat jahat.
Karena di kehidupan sebelumnya, dia juga menuduhku dengan cara yang sama, menjatuhkan hukuman mati untukku dan anakku demi Lusi.
Memikirkan ini, mataku memerah. Dia malah berkata dengan dingin, “Avera, kau pura-pura kasihan juga nggak guna lagi.”
“Aku sudah suruh dokter beri Lusi obat pemacu kontraksi. Kali ini, dia yang duluan melahirkan. Sudah kubilang, siapa yang duluan melahirkan, anaknya yang akan jadi pewaris. Sekalipun kau adalah istri sahku, itu juga nggak ada gunanya.”
Mendengar ini, aku tersenyum getir sambil menahan bagian bawah tubuh yang terus mengucurkan darah, lalu berkata dengan nada rendah, “Aku sudah suntik inhibitor untuk menunda persalinan, kasih jalan buat kalian. Kenapa kau masih nggak membiarkan aku melahirkan anakku? Kenapa kau masih paksa aku minum obat dan mau bunuh anakku?”
Mendengar ini, Vincent tercengang. Dia mengerutkan alisnya dan berkata, “Jangan asal ngomong! Tenggat melahirkanmu tadi malam ‘kan sudah lewat. Aku sudah tanya ke dokter, harusnya kau sudah melahirkan.”
Sambil menahan nyeri hebat, aku mengulurkan tanganku untuk meraih celananya dan memaksanya meraba perutku yang masih besar.
Namun, wajahnya penuh rasa jijik. Dia segera melepaskan tanganku dan berkata, “Lusi baru siap melahirkan. Dia nggak tahan cium bau darah.”
“Tak usah drama lagi. Kalau mau buktikan bahwa kau nggak bermaksud mencelakai Lusi, dalam konferensi pers keluarga besok, akuilah bahwa kau yang mandul, sehingga kau minta Lusi untuk melahirkan anak untukmu.”
“Lalu, serahkan semua saham, properti, dana amanahmu pada Lusi dan anaknya. Ke depannya, kau layani mereka dengan baik.”
“Kalau masih macam-macam atau berani sentuh dia sedikit saja, kali ini yang kuhabisi bukan cuma kau saja. Jangan harap ayahmu yang terluka parah dan masih koma bisa terus dapat perawatan terbaik di panti rehabilitasi keluarga.”
Bab 2
Mendengar ini, mataku membelalak lebar. Aku menatap Vincent dengan nggak percaya, sambil menangis dan berteriak, “Vincent! Sialan kau! Ayahku sekarang masih terbaring koma demi menyelamatkanmu! Masa kau ancam aku dengan nyawa ayahku?”
Vincent pun menjawab dengan nada nggak sabar, “Asalkan kau jaga Lusi selama masa nifasnya dan rawat mereka dengan baik, aku nggak akan sentuh ayahmu.”
Selesai berbicara, dia pergi sambil memeluk bahu Lusi dan berkata, “Lusi, terima kasih sudah melahirkan seorang penerus buat aku. Aku pasti akan beri kau hadiah yang setimpal.”
Darah mengucur deras dari bawah tubuhku. Aku terus memohon pada pengawal yang berjaga di aula untuk membawaku ke rumah sakit dan menyelamatkan anak kembarku.
Nyonya Maria Nagita, ibu Vincent buru-buru datang. Melihat aula yang berantakan dan tubuhku yang penuh darah, wajahnya langsung pucat dan berkata, “Cepat bawa dia ke rumah sakit! Kalau cucuku terjadi apa-apa, kalian semua kubuang ke laut!”
Aku diantar ke rumah sakit yang dikendalikan Keluarga Kusuma, tapi dokternya nggak muncul-muncul.
Nyonya Maria marah besar dan mempertanyakan ke mana perginya dokter yang seharusnya ditugaskan untuk merawatku pada perawat.
Para perawat menjawab dengan gemetar, “Nyonya, semua dokter dipanggil Pak Vincent ke vila pantai. Katanya, Nona Lusi tergores sedikit saat memotong kuku. Pak Vincent khawatir itu akan infeksi, jadi suruh semua dokter jaga di sana.”
“Sekarang rumah sakit nggak ada dokter.”
Nyonya Maria marah besar sampai mengumpat dengan bahasa kampungnya, “Gila! Benar-benar gila! Istri yang dulu dia dapatkan dengan berlutut memohon sekarang lagi perdarahan hebat untuk melahirkan anaknya. Dia malah memindahkan semua dokter buat selingkuhannya yang cuman kegores kuku dan nggak memedulikan nyawa istrinya!”
Pas telepon yang ke-10 kali, Vincent akhirnya mengangkat teleponnya. Dengan nada kesal, dia langsung bertanya pada ibunya apa yang telah terjadi dan menduga apakah aku berulah lagi.
Nyonya Maria menjerit histeris, “Avera sudah pingsan karena perdarahan hebat! Detak jantung bayi dalam kandungannya juga melemah! Kau malah pindahkan semua dokternya! Kau mau bunuh istri dan anakmu sendiri?”
Mendengar ini, Vincent tersenyum dingin dan berkata, “Avera yang suruh Ibu telepon? Semalam dia sudah melahirkan. Sekarang ngapain buat drama sulit bersalin?”
“Sudahlah! Aku mau foto ambil foto kelahiran anakku dan Lusi. Dia mau dokter, ‘kan? Ya sudah, aku kirimi dia saja!”
Nyonya Maria menutup teleponnya dan memegang erat tanganku sambil berkata, “Avera jangan takut. Dokter segera datang.”
Aku memeluk perutku dengan erat dan merasakan tanda-tanda vital di dalam semakin melemah.
Teringat pada kehidupan sebelumnya, kedua anakku pelan-pelan kehilangan napas dalam pelukanku.
Sambil gemetaran, aku memegang tangan Nyonya Maria dan berkata dengan susah payah, “Bu, 3 tahun yang lalu, ayahku tertembak saat menyelamatkan Vincent, sehingga koma sampai sekarang. Ibu janji Ibu bakal anggap aku kayak anak sendiri dan kalau Vincent jahat, Ibu bakal bantu aku tinggalkan dia. Ibu masih ingat janji Ibu nggak?”
“Aku mohon, izinkan aku bercerai. Aku nggak akan halangi jalan bagi anak dari cewek yang dicintainya jadi pewaris keluarga. Aku hanya mau anak-anakku lahir dengan selamat.”
Mendengar ini, air mata Nyonya Maria telah bercucuran. Dia memegang tanganku dengan erat sambil berkata, “Awalnya memang mau balas budi ayahmu, mau mengangkatmu sebagai anak angkat. Tapi Vincent sendiri yang gila-gilaan mengejarmu dan melamarmu. Sekarang kok jadi gini? Pasti gara-gara Lusi si pelacur itu! Kalau bukan dia tiba-tiba muncul, kalian juga nggak bakal jadi gini.”
Mendengar ini, aku tersenyum getir. 'Iya, cowok yang dulu begitu mencintaiku, kok bisa jadi gini?'
Cowok yang pernah bersumpah di bawah bintang-bintang Sisilia untuk mencintaiku seumur hidup, dan bersumpah kalau berkhianat akan mati diterjang peluru, sekarang malah mendorongku ke neraka demi cewek lain.
“Aku mohon, Nyonya Maria,” ucapku sambil menggertakkan gigiku.
Mendengar permohonanku yang diucapkan dengan nada lemah, Nyonya Maria akhirnya menganggukkan kepalanya dan berkata, “Baik. Dulu pas kalian menikah, aku pernah suruh dia tandatangani surat cerai yang kusimpan buat jaga-jaga. Aku segera pulang ambil suratnya dan mempercepat prosesnya.”
“Besok aku akan mengumumkan bahwa kaulah satu-satunya pewaris Keluarga Kusuma. Aku nggak akan mengakui anak durhaka yang nggak tahu balas budi ini lagi.”
Begitu selesai berbicara, Nyonya Maria segera pergi urus hal ini.
Aku terbaring di ranjang rumah sakit dan perutku keram kayak ditusuk-tusuk, sehingga aku pun menjerit kesakitan.
Melihat ini, asisten cewek yang ditinggalkan Nyonya Maria terus melihat ke arah pintu dengan cemas, berharap dokter yang dikirim Vincent segera datang.
Akhirnya, mereka datang.
Tapi yang datang bukan dokter, melainkan seorang pria yang mengenakan baju pengantar paket.
Melihat ruang bersalin yang penuh dengan darah, dia memberikan sebuah tas dengan bingung. Dari dalamnya jatuh sebungkus pembalut wanita dan sebuah plester luka. Pria itu berkata, “Kata Pak Vincent, ini cuman darah nifas, nggak bakal bikin mati. Suruh kau urus sendiri saja. Jangan ganggu dia buat hal-hal kayak gini lagi.”
Mendengar ini, mata asisten cewek memerah karena menangis. Dia memukul tas itu hingga jatuh dan berkata, “Bu, aku bawa Ibu ke kota lain sekarang juga. Ibu harus bertahan.”
Aku terus menjerit kesakitan, lalu pandanganku menjadi gelap dan akhirnya pingsan.
Bab 3
Aku terbangun lagi gara-gara disiram air es yang bikin menggigil.
Pas buka mata, yang aku lihat adalah muka jijik Vincent.
“Kalau sudah bangun, tak usah pura-pura lagi,” ucapnya sambil menatapku dengan pandangan merendahkan. “Kau tahu besok aku mau umumkan soal pewaris dan Lusi, masih saja kau ribut mau pindah ke kota lain. Kau sengaja pengen semua orang kirain Lusi yang menganiayamu ya?”
Lusi berdiri di belakang Vincent dengan wajah polos sambil menggendong anaknya dan menangis. “Bu Avera, aku tahu Ibu benci aku. Tapi balas dendam padaku saja, kenapa harus minta Nyonya Maria rampas anakku?”
“Tadi pas asisten itu diseret, dia masih berteriak-teriak. Katanya, Nyonya Maria pulang urus dokumen dan mau memberikan anakku padamu untuk diadopsi. Katanya, aku nggak layak jadi ibunya pewaris.”
Mulutku terbuka, tapi satu kata pun nggak bisa kukatakan. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sekuat tenaga dan merintih kesakitan. “Aku … nggak … buat gitu… Bawa aku ke rumah sakit … Anak … Sudah nggak kuat lagi …”
“Kau berbohong lagi!” teriak Vincent dengan kesal sambil mengerutkan alisnya. “Ibuku buru-buru tinggalkan rumah sakit dan bawa pengacara kerja lembur, pasti kau yang hasut dia, ‘kan? Kau kira dengan merebut anak Lusi, kau bisa duduki posisi ibunya pewaris dengan aman?”
“Semalam anakmu ‘kan sudah lahir. Masih pura-pura sulit bersalin segala. Mau tipu aku kasihan padamu? Mimpi!”
Seluruh badanku kesakitan. Darah bawah tubuhku sudah membeku dan menempel pada kulit dan baju. Bahkan mengeluarkan bau amis darah.
Lusi menutup mulutnya sambil muntah kering, lalu berkata dengan mata berlinang, “Kak, kau tahu aku habis melahirkan, nggak tahan cium bau amis. Kau masih saja nggak mau bersihkan. Kau sengaja mau bikin aku mual dan pingsan ya?”
Lusi menangis hingga wajahnya pucat, lalu meringkuk dalam pelukan Vincent dan tampak perlu perlindungan.
“Lihat dirimu sekarang!” teriak Vincent dengan penuh jijik. “Kayak orang gila yang berbau amis. Memalukan Keluarga Kusuma saja!”
Vincent melambaikan tangannya, lalu memerintah para pengawal terus menyiramku dengan air dingin. Sampai akhirnya wajahku jadi pucat, badanku gemetaran dan hampir kehilangan suhu tubuh, barulah dia suruh mereka berhenti.
Lusi meringkuk dalam pelukannya sambil menangis. “Kak Avera, aku mohon … Jangan pisahkan aku dan anakku! Kalau kau tetap mau rebut anakku, mending aku lompat dari jendela ini saja!”
Lusi pura-pura mau lompat. Melihat ini, Vincent langsung memeluknya erat-erat.
Vincent akhirnya meledak. Dia memalingkan badannya dan menendang tanganku yang memegang ujung celananya, lalu membungkuk dan membentak dengan dingin, “Jangan kira kau bisa jadi ibunya pewaris kayak dulu dengan membujuk ibuku! Aku sudah suruh orang blokir rumah lama. Kau mau ngapain saja juga percuma!”
“Aku sudah berkali-kali memperingatimu, jangan sentuh Lusi dan anaknya. Kau tetap saja nggak dengar. Kalau gitu, aku terpaksa harus ambil tindakan khusus.”
Vincent langsung menoleh dan memerintah para pengawal dengan dingin, “Gara-gara dia, Lusi mau bunuh diri. Dia juga harus terima konsekuensinya. Cabut alat bantuan napas ayahnya dan lempar dia dari lantai atas.”
“Vincent!” teriakku dengan keras. “Kau gila? Dia ayahku! Dia pernah menyelamatkanmu!”
“Memangnya kenapa?” Vincent mencibir dan berkata, “Biar kau bisa masuk ke Keluarga Kusuma dan menjadikan anakmu pewaris, ayahmu sengaja menyelamatkanku dan memakai jasa itu untuk paksa aku menikahimu. Sekarang kau sudah jadi istriku, aku juga sudah beri kau anak. Keguguran anak pertamamu itu karena kau nggak berguna! Aku sudah membalas budinya, aku nggak utang pada kalian lagi!”
“Cepat laksanakan!”
Aku menyerbu para pengawal kayak orang gila dan berusaha menghentikan mereka, tapi justru ditendang hingga jatuh di lantai.
Darah yang sebelumnya mengering di bagian bawah tubuhku tiba-tiba muncrat deras akibat kekerasan itu. Seketika, seluruh lantai menjadi merah.
Aku menjerit kesakitan sampai suaraku serak dan meringkuk kayak bola.
Vincent masih ingin maju dan menyeretku, tiba-tiba dia melihat perutku yang membuncit tinggi dan terbuka karena tendangan itu, lalu melihat darah di lantai. Seketika itu, wajahnya langsung pucat.
Secara refleks, dia membungkuk dan memelukku, lalu menoleh menatap Lusi dengan penuh tuntutan, “Apa yang terjadi? Aku suruh kau urus urusan persalinan Avera. Katamu, dia kemarin sudah melahirkan dengan lancar dan anaknya sudah berada di ruang bayi.”
“Lalu kenapa perutnya masih besar gini? Dia kok masih perdarahan gini?”
Bab 4
Wajah Lusi juga agak berubah.
Tapi matanya berkedip dan dia langsung memeras air mata, menangis sambil mengeluarkan ponsel. “Semalam Kak Avera memang sudah melahirkan. Anaknya juga terus berada di ruang bayi.”
“Aku tahu Kak Avera pasti akan gunakan kesempatan ini untuk menyulitkanku. Jadi aku sengaja suruh dokter videokan bayinya.”
Lusi menyodorkan ponselnya. Dalam video yang kasar dan jelas-jelas palsu itu, terlihat seorang bayi yang jelas berusia sebulan.
Tapi Vincent hanya melihat sekilas dan langsung percaya saja.
“Beraninya kau bohongi aku!” Vincent mengerang. “Untuk membuatku merasa kasihan, kau sampai memalsukan perut dan darah. Kau beneran menjijikkan! Dasar nggak tahu malu!”
“Kau kira kali ini aku bakal tertipu? Mimpi!”
Vincent mengangkat kakinya, lalu menendang perutku tanpa ampun.
Suaraku hampir serak karena merintih memohon, tapi tubuhku justru makin dingin dan kaku.
Hingga akhirnya aku nggak punya tenaga untuk memohon lagi. Aku cuman bisa meringkuk dalam genangan darahku sendiri dan menggigil dalam kesenyapan.
Vincent melepaskan jasnya yang penuh noda darah, lalu menatap Lusi dengan wajah penuh penyesalan dan berkata, “Maaf, Lusi. Kau jadi tercium bau amis ini. Aku akan urus dia sekarang. Habis ini, aku bawa kau bulan madu ke pulau pribadi sebagai permintaan maafku karena sudah salah paham padamu, oke?”
Lusi menggelengkan kepalanya dan matanya berkaca-kaca, lalu berkata dengan nada lembut dan memilukan, “Sudahlah, Kak Avera segitu benci aku. Gimana kalau habis kau bawa aku pergi, dia malah cari cara baru buat pisahkan aku dan anakku?”
“Lebih baik aku bawa anakku pergi saja. Biar anak kalian jadi pewaris.”
Lusi berbicara dengan hati-hati, dengan kesedihan dan kekecewaan yang memuncak, tapi justru memicu bara amarah yang tersimpan dalam diri Vincent.
Mendengar ini, wajah Vincent langsung muram. Suaranya terdengar lembut, tapi justru bikin merinding, “Jangan khawatir, aku nggak akan kasih dia kesempatan lukai kalian lagi.”
Vincent melambaikan tangannya dan berkata, “Kurung dia di gudang anggur. Nanti setelah aku umumkan pewarisku adalah anak Lusi di konferensi pers secara resmi, baru lepaskan dia keluar.”
Aku diseret pengawal keluar dari rumah sakit kayak boneka buruk.
Sepanjang jalan, darahku meninggalkan coretan panjang di lantai yang mengilap.
Rasa sakitnya buat aku hampir kehilangan kesadaran dan pingsan. Tapi aku masih paksakan sisa-sisa kesadaran untuk merintih, “Aku mohon, Vincent. Yang aku minta Ibu uruskan itu perceraian kita, bukan mau rebut anaknya!”
“Anakku sudah sekali mati karenamu. Kali ini, mereka juga nggak akan bertahan hidup.”
“Aku dan anakku sudah kasih kalian jalan. Tolong jangan sentuh ayahku, oke?”
Butiran air mata bercampur darah jatuh ke tanah setetes demi setetes.
Vincent tampak kesal dan berkata, “Sudahlah. Asalkan kau diam di gudang anggur, aku nggak akan …”
Belum selesai berbicara, tiba-tiba … Boom!
Terdengar suara benturan yang kuat.
Aku melihat ayahku dilempar dari lantai atas dan tubuhnya menimpa semen keras di depanku.
Matanya yang dulu melihatku dengan lembut, kini kosong, berdarah dan hancur.
“Ayah!” Aku langsung menjerit histeris dan merangkak secepat mungkin ke arahnya.
Sebelum sempat menyentuh ayah, pengawal langsung menahanku dengan kasar.
“Bawa dia pergi!” Vincent berbalik dan berbisik, “Lagipula dia memang pantas mati. Kalau sekarang mati, mungkin baginya juga sebuah pembebasan.”
“Vincent! Dasar bajingan!” Aku menangis kayak orang gila. “Kau mencelakai anak kandungmu sendiri, sekarang bahkan membunuh orang yang menyelamatkanmu! Kau pasti akan masuk neraka!”
Mendengar ini, Vincent melihatku sambil mengerutkan alisnya, lalu menghela napas dan berkata, “Aku memang suruh kalian kurung dia. Tapi kalau dia ada permintaan, turuti saja. Jaga dia baik-baik.”
Demi mempersiapkan konferensi pers keluarga yang akan mengumumkan ahli warisnya, Vincent rela habiskan banyak uang. Dia berniat kasih tahu seisi dunia betapa pentingnya Lusi baginya.
Vincent memesan sebuah patung emas murni setinggi manusia dari tukang emas terbaik Italia. Lalu, dia membeli sebuah pulau pribadi di Tajoha dengan harga triliunan dan menamakannya “Pulau Lusi”.
Vincent yang biasanya tertutup, kali ini malah bikin akun media sosial bernama “Cinta Lusi”.
Status pertama yang diunggah adalah pengakuan cinta yang romantis: [Terima kasih untuk wanita terpenting dalam hidupku, Lusi, yang telah melahirkan putra sulungku. Kini, hidupku terasa sempurna.]
Konferensi keluarga ini berlangsung selama 3 hari dan dihadiri oleh para elit di berbagai kalangan. Di bawah sorotan lampu kilat, Vincent menggandeng tangan Lusi dengan wajah penuh bahagia.
Namun, di balik kamera, matanya terus melirik ponsel.
Kayaknya dia lagi menunggu …
Menunggu kabar dari rumah lama.
Sampai malam terakhir acara, ponselnya tetap nggak ada kabar.
Vincent akhirnya nggak tahan dan menelepon ke sana, “Sudah 3 hari nih. Nyonya ada ribut mau jumpa aku nggak? Atau ancam mau hadiri konferensi pers?”
Pengasuhnya menjawab dengan gugup, “Nggak ada, Pak. 3 hari ini Nyonya sama sekali nggak ngomong. Makanan yang kutaruh di depan pintu juga nggak disentuh.”
Mendengar ini, Vincent mencibir dan bibirnya melengkung senyuman yang meremehkan.
“Sudah kuduga. Dia mau cari perhatian dengan merajuk.”
“Aku sudah ngomong dengan jelas. Siapa yang duluan melahirkan, anak itulah yang akan jadi pewarisku. Dia yang gagal, malah main akal-akalan, pura-pura lemah, sakiti Lusi dan bersekongkol dengan ibuku buat rebut anak Lusi. Semua ini nggak pernah aku perhitungkan dengannya. Aku sudah cukup sabar dan baik.”
“Sekarang malah mogok makan?”
Teringat akan kematian tragis ayah Avera, Vincent menghela napas dan berkata, “Apa dia marah soal ayahnya? Pergi kasih tahu dia bahwa itu cuman kecelakaan. Aku juga nggak nyangka akan berakhir seperti itu.”
“Asalkan dia makan dan menurut, aku akan urus pemakaman ayahnya. Aku akan akui anak Lusi sebagai anaknya, biar impian jadi ibu pewarisnya terpenuhi.”
“Tapi syaratnya, mulai sekarang dia nggak boleh sakiti Lusi lagi. Lusi akan tinggal serumah dan punya status setara dengannya.”
Pengasuh berulang kali menjawab, “baik”, lalu cepat-cepat lari ke gudang anggur.
Baru saja terdengar pintu kayu berat terbuka, langsung disusul jeritan pilu pengasuh, “Pak Vincent! Gawat! Nyonya Avera … sudah mati! Dan ada bayi mati di sebelahnya!”