Đang tải thông tin quảng bá...
Seratus Kali Janji Palsu
Hari pendaftaran pernikahan, aku menunggu di Kantor Catatan Sipil sejak pagi hingga langit gelap. Sementara itu, pacarku Soni malah menemani cinta pertamanya naik gunung. Aku meneleponnya belasan kali...
Chương (1)
第1章
Hari pendaftaran pernikahan, aku menunggu di Kantor Catatan Sipil sejak pagi hingga langit gelap. Sementara itu, pacarku Soni malah menemani cinta pertamanya naik gunung.
Aku meneleponnya belasan kali, tapi semuanya ditolak.
Sampai telepon ke-20 baru dia mengangkat.
"Sehari nggak ketemu aku saja kamu harus menelepon puluhan kali, mau nyawa aku diambil, ya? Kamu sebenarnya segitu kekurangan lelaki, ya?"
"Yeni lagi nggak enak badan, jantungnya kambuh. Aku harus jagain dia di rumah sakit. Urusan nikah, lain kali saja."
Sepuluh tahun bersama, ini sudah ke-100 kalinya Soni meninggalkanku sendirian di depan Kantor Catatan Sipil demi perempuan itu.
Untuk ke-101 kalinya, dia hanya meninggalkan pesan. [Sayang, jam sepuluh ketemu di Kantor Catatan Sipil.]
Aku menahan tawa dingin, mengabaikan pesannya, lalu melangkah naik ke pesawat menuju luar negeri.
Soni, kali ini aku tidak akan memilihmu lagi.
Pria yang biasanya selalu terlihat tenang itu, begitu tahu aku pergi, benar-benar kehilangan kendali menggila.
Bab 1
Dari telepon terdengar suara jernih Yeni.
"Maaf ya, Cesya. Jantungku lagi nggak enak. Soni khawatir, jadi maksa aku tinggal di rumah sakit buat observasi beberapa hari. Nanti pulang, aku pasti suruh dia minta maaf sama kamu."
Aku tidak menjawab, hanya diam mendengarkan suara angin yang berdesir, lalu terdengar suara dingin Soni.
"Kamu memang terlalu lembut. Kalau ada yang nyakitin kamu, kamu sendiri pun nggak sadar."
"Cesya, kamu jangan terlalu mempermasalahkan ini. Badan Yeni memang selalu lemah. Kita cari waktu lain saja buat urus pernikahan ini."
Ternyata dia bukannya tidak tahu hari ini hari mendaftar pernikahan, hanya sibuk menemani perempuan yang paling dia sayangi bahkan kabar pembatalan pun enggan dia sampaikan padaku.
Dulu, di saat seperti ini, aku pasti sudah hancur, menangis, dan kehilangan kendali. Aku akan memaksa bertengkar dengan Soni untuk mencari jawaban.
Sekarang, hatiku benar-benar tenang.
Suaraku tetap datar. "Kalau nggak ada urusan lain, aku tutup dulu."
Soni mengira aku akhirnya mengerti, suaranya bahkan terdengar lembut. "Asal kamu nggak marah. Aku beneran nggak bisa ninggalin Yeni sekarang. Nanti beberapa hari lagi kita…"
Aku tanpa ekspresi memutus telepon, menatap pintu Kantor Catatan Sipil yang tertutup rapat. Aku melepaskan cincin dari jariku dan membuangnya ke tempat sampah di samping.
Dalam perjalanan pulang, aku membuka status WhatsApp Yeni.
Waktu unggahannya baru saja. [Naik gunung bareng orang tercinta! Bos besar hari ini sibuk sekali, tapi tetap mau luangin waktu nemenin aku! Cinta kamu!]
Mereka berdua bergandengan erat, wajah saling menempel mesra seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta. Sinar matahari senja menyinari mereka, tenang dan indah.
Kolom komentar penuh dengan tulisan “iri banget!”
Jujur saja, selama bertahun-tahun, aku dan dia bahkan tidak punya satu pun foto yang layak ditunjukkan.
Dulu aku pernah berkali-kali mengajaknya naik gunung, tapi dia hanya tertawa sambil bilang akan menemaniku setelah urusannya selesai.
Aku menunggu tahun demi tahun. Saat aku bertanya terlalu sering, dia hanya melambaikan tangan dan berkata, "Naik gunung itu capek. Aku sibuk kerja. Kamu bisa nggak berhenti ganggu aku sama hal kecil begini?"
Ternyata dia bukan nggak mau naik gunung, dia hanya tidak mau naik gunung denganku.
Aku terus menggulir linimasa Yeni, dadaku terasa perih seperti ditusuk jarum rapat-rapat.
Mereka pernah melihat indahnya pegunungan salju bersama, menonton konser penyanyi favoritku bersama, bahkan keliling dunia bersama. Setiap foto yang mereka ambil jadi bukti mereka pernah saling memiliki.
Semua momen itu jatuh tepat di hari ketika Soni bilang padaku bahwa dia harus dinas luar kota atau sedang bersiap urus pernikahan denganku.
Aku seperti lelucon, terus-menerus menghibur diri sendiri dengan keyakinan bahwa dia pasti sedang berusaha demi masa depan kami.
Saat sampai di rumah, aku membuka kotak yang dia simpan rapi di ruang kerjanya.
Melihat setumpuk tiket pesawat dan foto-foto yang tak terhitung jumlahnya. Hatiku benar-benar mati. Aku langsung menekan nomor telepon seniorku.
"Kak Risti, aku sudah memutuskan. Aku siap pergi ke luar negeri bergabung sama orkestra yang Kakak dirikan. Aku nggak akan kembali lagi."
Seniorku jelas terkejut, lalu suaranya terdengar senang.
"Serius, Cesya? Begitu visa kamu turun, aku langsung belikan tiket. Aku sudah mengundangmu dari lama, akhirnya kamu mau juga."
Lalu dia terdengar sedikit khawatir. "Soni tahu belum? Jangan-jangan ini karena kalian bertengkar, terus kamu asal mengiyakan?"
Aku menggeleng. "Bukan, ini keinginanku sendiri."
Risti terdengar lega. Setelah memastikan, dia langsung mengirim kontrak padaku.
Tanpa ragu sedikit pun aku menandatanganinya.
Aku mendorong pintu gudang sesampainya depan gudang lantai dua.
Di tengah ruangan, piano itu dipenuhi debu tebal, persis seperti semua waktu yang dulu kuanggap indah tapi diam-diam terkubur.
Setelah lama bersama, Soni selalu nggak suka kalau aku ikut tur bersama orkestra. Dia selalu bilang orang-orang di sana penuh intrik dan berantakan, katanya itu bisa merusak pikiranku. Dia takut aku meninggalkannya.
Karena dulu dia putus dengan Yeni juga gara-gara Yeni ingin mengejar mimpi musiknya ke luar negeri.
Aku tahu dia tidak punya rasa aman, aku pikir dia sungguh membutuhkanku.
Hatiku luluh, aku mengundurkan diri dari orkestra, meninggalkan mimpiku yang sudah kujalani bertahun-tahun, lalu hidup hanya untuk mengurus rumah tangga demi dia.
Tapi, di linimasa Yeni, aku justru melihat di hari jadi hubungan kami. Soni sengaja memborong semua tiket konser dan mengajak seluruh karyawannya datang untuk mendukungnya. Hari itu aku jelas-jelas sudah memberi tahu lebih awal, menyiapkan belasan hidangan dan kue, menunggunya sampai tengah malam.
Mataku panas dan basah, lalu air mata jatuh begitu saja.
Kenapa Yeni bisa bebas mengejar mimpinya?
Sedangkan aku tidak.
Pernah aku bertanya padanya. Dia hanya tertawa sambil merangkulku. "Kamu dan Yeni itu beda."
Saat itu aku yakin, di matanya aku istimewa.
Sekarang aku baru mengerti. Bedanya ada di sana. Yeni adalah perempuan yang paling dia sayangi, jadi dia bisa bebas melakukan apa pun. Sedangkan aku tidak. Aku hanya dianggap pelengkap hidupnya. Semua tentangku harus ada dalam genggamannya.
Aku meminta pembantu membersihkan piano. Setelah itu aku duduk sendiri dengan tenang, memainkan beberapa lagu.
Esok harinya, untuk pertama kalinya aku bisa tidur sampai bangun alami.
Soni duduk di sofa dan menatapku dengan nada kesal. "Hari ini kenapa bangun selambat ini? Masih kepikiran soal kemarin? Kamu kok sekecil itu saja dibawa perasaan?"
Aku memotong perkataannya. "Aku nggak marah. Akhir-akhir ini capek, jadi tidur lebih lama."
"Bagus kalau begitu." Soni meletakkan ponselnya dan mengerutkan kening. "Cuma soal daftar nikah, nggak usah dibesar-besarkan. Beberapa hari lagi kita bisa pilih tanggal lain."
"Yeni kondisinya memang nggak bagus. Dia sendirian di sini tanpa keluarga. Aku harus lebih sering jagain dia. Kamu jangan manja."
Tatapan Soni tajam. Alisnya terkatup rapat, seolah pertanyaan kecilku kemarin adalah kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan.
Dia mendorong kotak kecil berisi roti udang dari Hadalo ke arahku. Suaranya datar seperti memberi sisa makanan. "Sarapan, makanlah."
Karena aku tidak segera mengambilnya, dia berdiri dengan nada jengkel. "Kamu ini masih marah, 'kan? Sebenarnya kamu maunya apa…"
"Aku alergi makanan laut."
Sepuluh tahun bersamanya, dia tetap tidak ingat apa yang kusuka dan apa yang membuatku alergi.
Kalimat singkat itu langsung menahan amarahnya. Wajahnya memerah. Matanya berkedip penuh rasa gugup dan bersalah. Suaranya merendah. "Tadi pagi aku terlalu buru-buru… kamu… kamu minta bibi bikinin yang lain saja, ya."
Aku menatapnya lurus. Tatapanku membuatnya gelisah dan tidak nyaman.
Dering telepon yang tiba-tiba nyaring menyelamatkannya. Dia menoleh padaku ragu, lalu menggenggam ponselnya erat-erat.
Aku berkata tenang. "Jawab saja, siapa tahu penting."
Dari seberang terdengar suara Yeni. Manja dan terisak, katanya dia lagi nggak enak badan.
Beberapa kalimat ringan itu saja sudah cukup membuat Soni panik. Dia langsung menyuruh Yeni menunggu, lalu meraih mantel dan keluar terburu-buru tanpa menoleh.
Padahal aku sudah memutuskan pergi. Tapi hatiku tetap terasa sakit.
Soni, kalau kamu memang sudah nggak cinta, aku tidak akan menunggu lagi.
Bab 2
Aku sarapan sambil membuka laptop untuk mengurus pendaftaran visa daring.
Setelah semua selesai, tanpa sadar aku kembali membuka linimasa Yeni.
Ada dua unggahan baru.
Ungahan pertama baru saja diunggah. [Aku bilang lagi nggak enak badan, kamu langsung nyetir ke sini. Aku benar-benar beruntung bisa ketemu kamu! Kamu beneran sayang banget sama aku! Aku juga sayang kamu!]
Fotonya memperlihatkan Soni dari samping. Dia menggenggam tangan Yeni erat-erat, seakan takut dia pergi di detik berikutnya.
Seketika aku teringat beberapa tahun lalu. Demi pekerjaan, aku sering begadang berlatih piano sampai lupa makan. Akhirnya maagku kambuh. Rasa sakit itu membuatku hampir tidak bisa berdiri. Dengan susah payah aku memohon padanya untuk mengantarku ke rumah sakit. Tapi, dia hanya menjawab, "Kamu bisa nggak jangan lebay? Paling juga nggak parah. Minum air hangat saja, beres."
Pada akhirnya, karena sudah tidak kuat, aku sendiri yang menelpon ambulans.
Saat aku pingsan, samar-samar kudengar suaranya. "Ih, merepotkan sekali."
Aku baru benar-benar paham. Perlakuan manusia pada manusia lain memang bisa sangat berbeda.
Aku terus menggulir linimasa. Pagi ini, ada unggahan dengan latar kamar hotel. Meja dipenuhi sarapan mewah. Yeni tersenyum bahagia sambil berpose tanda damai.
[Kakak memang baik banget! Tadi malam aku cuma bilang mau makan roti sup udang dari Hadalo. Pagi ini kamu langsung bangun lebih awal, nyetir satu jam buat beliin aku. Yang nggak habis malah dikasih ke anjing.]
Aku hanya bisa tertawa getir.
Dulu aku percaya cinta bisa mengalahkan segalanya. Aku pikir, selama aku memberikan lebih banyak, Soni akhirnya akan melihat ketulusanku.
Nyatanya aku terlalu tinggi menilai posisiku di hatinya.
Aku tidak tahan lagi melihat unggahan itu. Aku membereskan barang-barang lalu pergi jalan-jalan. Tidak kusangka, begitu masuk ke toko tas, aku justru berpapasan dengan Soni dan Yeni yang baru keluar.
Yeni sedang manja. Suaranya manis sekali. "Aku 'kan sudah bilang jangan kebanyakan beli. Tapi kamu tetap beliin, beliin, beliin! Ini terlalu banyak, pasti habis banyak uang ya?"
Aku jelas melihat Soni membawa lima sampai enam kantong belanjaan. Padahal dulu saat aku minta dia membawakan satu tas belanja saja, dia langsung menolak dengan wajah kesal.
Wajah Soni sedikit canggung. "Kamu kok di sini? Yeni bilang dia lagi butuh tas, jadi aku temani dia lihat-lihat."
Lalu dia menambahkan. "Kamu ada yang mau dibeli nggak?"
Aku menggeleng. Kami sudah di ambang perpisahan. Untuk apa aku menyimpan barang-barang darinya.
Soni merasa sedikit kesal, entah kenapa juga muncul rasa tidak tenang.
Yeni merangkul lenganku dengan ramah. "Waktu itu untung ada Soni yang bantu aku. Aku sudah bilang, nanti aku pasti suruh dia minta maaf sama kamu. Kebetulan kami mau makan malam, kamu ikut ya?"
Soni langsung menimpali. "Ikut saja."
Belum sempat aku menolak, dia sudah menarikku dengan paksa.
...
Aku akhirnya duduk di kursi belakang, terhimpit bersama banyak kantong belanjaan.
Yeni menoleh dan tersenyum padaku. "Maaf banget, aku gampang mabuk kalau naik mobil. Jadi aku duduk di depan. Kamu nggak keberatan, 'kan?"
Soni langsung mewakiliku menjawab, "Dia nggak keberatan. Cuma naik mobil sebentar saja."
Padahal aku pernah bilang padanya bahwa kursi depan itu khusus untuk pacarnya.
Dia bahkan pernah berjanji manja padaku. "Ya, ya, kursi depan itu punyamu. Nggak boleh ada orang lain yang duduk di sana."
Mataku menatap foto mereka berdua yang ditempel di dekat setir. Di bawahnya ada tulisan kecil dengan gambar hati. Hati-hati nyetirnya ya, jangan sampai kelelahan!
Soni buru-buru menjelaskan. "Yeni takut aku ngantuk pas nyetir, jadi dia sengaja nulis itu. Kalau kamu nggak suka, nanti aku hapus."
"Nggak apa-apa." Suaraku datar tanpa emosi.
Soni sadar ada yang aneh denganku. Saat menyetir, dia berkali-kali melirik kaca spion, memastikan aku baik-baik saja sambil berusaha mengajakku bicara.
Tapi, aku sama sekali tidak menyangka tujuan mereka ternyata restoran seafood. Dia lupa, aku alergi makanan laut.
Dengan manis, dia membukakan pintu mobil, menggenggam tanganku, lalu mengajakku masuk. "Restoran ini enak banget. Nanti kita bisa sering datang. Kamu mau makan apa, bilang saja."
Aku hanya menatapnya, sambil berbicara dalam hati.
Tapi, Soni, antara kita sudah tidak ada masa depan lagi.
Katanya aku boleh pilih menu, tapi tidak ada yang bisa kumakan. Aku akhirnya hanya memesan beberapa hidangan penutup, sementara Yeni memesan banyak seafood.
Saat makanan tersaji, aku hanya menyentuh makanan penutup di depanku. Yeni menarik lengan Soni dengan wajah polos. "Cepat minta maaf sama dia! Pasti gara-gara kamu kemarin di rumah sakit nemenin aku. Makanya Cesya sekarang cuma makan manis-manis, nggak makan lauknya."
Soni menggenggam tanganku erat dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf, Cesya. Soal nikah kemarin, aku pasti akan menebus kesalahanku."
Aku jengkel lalu menarik tanganku. "Aku alergi makanan laut. Aku sudah bilang ke kamu."
Wajah Soni makin dipenuhi rasa bersalah. Tapi, Yeni justru menimpali dengan manja. "Aku saja yang jantungku nggak bagus, tetap berani coba hal-hal yang menantang. Ada orang sedikit-sedikit alergi, benar-benar manja."
Aku menunduk. Aku malas menanggapi, lalu bangkit hendak pergi.
Soni baru saja berdiri untuk mengejarku, Yeni langsung memegangi dadanya dan merengek. "Aduh, Soni… jantungku… jantungku mulai sakit lagi."
Tanpa pikir panjang, dia menggendong Yeni dan bergegas keluar.
Yeni sempat menoleh padaku dan melemparkan senyum penuh tantangan.
Tengah malam, Soni akhirnya pulang.
Dia langsung memeluk pinggangku erat, menyandarkan kepala di pundakku sambil merengek. "Baru pulang dari rumah sakit. Capek banget. Kamu bikinin aku mi ya?"
Aku mendorongnya pelan dan tetap fokus membaca novel. "Pesan saja makanan. Aku nggak mau masak."
Itu pertama kalinya aku menolak permintaannya. Dia mengira aku sedang marah, lalu mencubit pipiku sambil tertawa. "Kamu lagi cemburu sama Yeni, ya? Aku sama dia sekarang cuma teman kok."
Aku hanya mengangguk, tidak menanggapi lebih jauh.
Suaranya bergetar, penuh kegelisahan. "Besok kita ke Kantor Catatan Sipil, ya? Kali ini nggak bakal ada halangan apa pun."
Aku menoleh sebentar dan hanya menjawab singkat. "Ya."
Soni girang bukan main. Dia mencium pipiku dengan keras, lalu manja memanggilku, "Sayang."
Keesokan paginya, aku mendapati visaku sudah disetujui.
Namun, Soni lagi-lagi dipanggil Yeni. Dia hanya meninggalkan pesan. [Sayang, jam sepuluh ketemu di Kantor Catatan Sipil.]
Aku mendengus, mengabaikan pesan itu. Cepat-cepat aku berkemas dan memesan taksi menuju bandara.
Setelah itu aku langsung menghapus dan memblokir mereka berdua.
Soni, mulai hari ini kita tidak akan pernah bertemu lagi!
Aku patahkan kartu SIM, melemparkannya ke tempat sampah, lalu melangkah masuk ke pesawat yang membawaku pergi ke luar negeri.