Đang tải thông tin quảng bá...
Anak Rahasia Sang Kepala Mafia
Dario berbisik menyebut namanya 999 kali dalam tidurnya. Namun, tak pernah menyebut namaku. Lima tahun aku memberikan segalanya untuk Dario Mahardika, pewaris salah satu dinasti mafia terkuat di Aropa...
Chương (1)
第1章
Dario berbisik menyebut namanya 999 kali dalam tidurnya.
Namun, tak pernah menyebut namaku.
Lima tahun aku memberikan segalanya untuk Dario Mahardika, pewaris salah satu dinasti mafia terkuat di Aropa. Aku mengubah rumahnya menjadi rumah yang hangat, mengingat setiap detail cerobohnya yang terlewat, bahkan meninggalkan mimpiku menjadi seniman, dengan harapan bahwa suatu hari, dia akan memilihku.
Namun, setiap kali Arisa muncul, kesetiaan Dario bergeser padanya. Malam itu, ketika kuah sop yang panas melukai lenganku, dia segera melindungi Arisa dari goresan yang nyaris tak meninggalkan bekas. Di depan umum, pandangannya tak pernah tertuju padaku, selalu mengarah kepada Arisa.
Aku hanya istri di atas kertas, tetapi bukan dalam kenyataan.
Jadi aku pergi. Hanya dengan sebuah koper, surat cerai yang dia tanda tangani tanpa sadar, dan sebuah rahasia yang tak pernah kuberi tahu padanya, yaitu aku sedang hamil tiga bulan.
Saat dia sadar, semuanya sudah terlambat. Perceraian itu nyata. Berkas klinik itu nyata, dan ketika dia menyadarinya, aku sudah lenyap.
Sekarang, pria yang dulu menguasai kota dengan dingin itu menghancurkan dunia untuk menemukanku. Dia punya tentara, uang, dan seribu permintaan maaf yang tak pernah dia ucapkan saat aku masih menjadi istrinya.
Namun, aku bukan lagi wanita yang memohon kasih sayang. Aku seorang ibu. Seorang seniman. Seorang pejuang.
Pertanyaannya bukan apakah Dario bisa menemukanku.
Akan tetapi, apakah ketika dia berhasil, aku akan membiarkannya kembali ke kehidupan yang pernah dia hancurkan.
Bab 1
Dario berbisik menyebut nama Arisa 999 kali dalam tidurnya.
Namun, tak pernah menyebut namaku.
Angka-angka itu terukir dalam diriku, tajam seperti pecahan kaca. Mereka adalah bukti dari semua yang selama ini kuberitahukan pada diriku sendiri bahwa seberapa besar pun aku memberi, itu tak akan pernah cukup. Arisa bukanlah bayangan yang bisa kuhapus. Dia adalah awal dan akhir baginya.
Namun, aku tidak menemukan kebenaran itu dalam satu malam. Kebenaran itu datang perlahan, diam-diam, menumpuk di setiap malam yang kuhabiskan dalam kesunyian di dalam Kediaman Mahardika.
Setiap malam terasa sama. Aku menata hidangan favorit Dario di meja. Dibumbui persis seperti yang dia suka, panas sempurna saat dihidangkan.
Aku menyiapkan bak mandi dengan kelopak mawar dan menyalakan lilin yang dulu dia bilang dia sukai.
Aku pun memoles sepatunya hingga berkilau di dekat pintu.
Lalu, tepat pukul sembilan, pintu depan terbuka. Dario Mahardika, ahli waris salah satu dinasti mafia paling berkuasa di Aropa melangkah masuk. Kehadirannya memenuhi ruangan, tetapi matanya sama sekali tidak menatapku.
Aku menyingkap jaketnya dari bahu, menata sepatunya di dekat kaki, lalu bertanya pelan, "Makan malam dulu atau mandi dulu?"
"Mandi dulu." Dario berkata, tetapi matanya masih fokus pada ponselnya.
Saat Dario muncul dengan mengenakan jubah mandi, aku memberikan pakaiannya, menata meja lagi, dan mengantarkan makanan keluar sekali lagi. Dia menggulir layar ponselnya dengan tampak terganggu, cahaya layar memantul di mata gelapnya. Lalu aku melihatnya walau hanya sesaat. Nama itu muncul di bagian atas layar, berkelip sekejap.
Arisa.
Aku berpaling, pura-pura tidak melihat. Tepat pada saat itu ponselku bergetar. Nama yang muncul membuat napasku terhenti, yaitu Nyonya Tiana.
"Viona." Suaranya terdengar pelan dan letih. "Apa kamu benar-benar akan meninggalkan Dario?"
Pandanganku tertuju ke arah taman, di mana bunga lili putih mekar di bawah langit malam. Suaraku bergetar, tetapi aku memaksa kata-kata itu keluar.
"Kamu tahu kebenarannya, Ibu. Aku mencintainya sejak awal. Itu sebabnya aku menikah dengannya. Tapi cinta saja tidak cukup. Apalagi ketika hatinya selalu milik orang lain."
Nyonya Tiana menghela napas, suaranya berat oleh rasa bersalah.
"Aku tahu betapa sakit hatimu. Aku pernah berharap pengorbananmu bisa menggerakkan hatinya, tapi… hatinya tak pernah goyah. Jika kamu masih ingin melanjutkan studi ke luar negeri, atau memulai hidup baru di tempat lain, aku akan mengaturnya. Kamu sudah terlalu banyak membuang waktu untuknya."
Lima tahun. Lima tahun penuh pengorbanan, menumpahkan seluruh diriku ke dalam sebuah pernikahan yang dibangun di atas bayang-bayang. Aku menutup mata dan berbisik, "Ya. Tolong, bantu aku pergi. Aku ingin semua ini berakhir."
Saat panggilan itu berakhir, bunga lili di luar jendela sudah mulai layu, merunduk dalam gelap malam. Persis seperti janji-janji yang dulu kupertahankan dengan susah payah, tetapi kini perlahan pudar.
Aku tak pernah ditakdirkan untuk Dario. Aku hanyalah gadis miskin yang beasiswanya ditanggung Keluarga Mahardika, diambil dari kehampaan hidup sebagai sebuah kebaikan. Dulu aku datang untuk mengucapkan terima kasih. Aku begitu lugu dan tulus.
Namun, aku malah jatuh cinta ketika pertama kali melihat Dario Mahardika yang memesona, tak tersentuh, dikagumi.
Ketika Arisa meninggalkannya, akulah yang tetap di sisinya. Aku berpikir, jika aku memberinya cukup cinta, aku bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Arisa.
Jadi aku memasak, membersihkan, mengingat setiap detail kecil yang terlupakan. Suatu kali, dia bilang padaku bahwa dia belum pernah melihat bintang jatuh. Aku pun mencari gunung tertinggi, tempat sempurna untuk menatap meteor melintas di langit. Aku menunggunya di bawah langit yang dingin.
Namun, dia tak pernah datang.
Dia malah bersama Arisa.
Dan kemudian, ketika pernikahan Arisa hancur, dia terbang melintasi lautan untuk memberinya hadiah secara diam-diam. Bunga, pernak-pernik, hadiah kecil yang bisa membuatnya tersenyum. Aku tahu. Aku selalu tahu.
Ketika Dario menabrakkan mobilnya karena tergesa-gesa ingin menemui Arisa, aku duduk di samping ranjang rumah sakitnya selama tiga malam tanpa tidur. Dan ketika akhirnya dia bergerak, bibirnya bergerak, berbisik menyebut nama Arisa terus-menerus.
Sembilan ratus sembilan puluh sembilan kali.
Tak sekalipun Dario menyebut namaku.
Sekarang, Arisa telah kembali. Dario pun utuh lagi.
Sementara aku?
Akhirnya aku bebas untuk pergi.
Akan tetapi, setelah lima tahun penuh pengorbanan dan kesunyian...
Bisakah aku benar-benar meninggalkan pria yang dulu kucintai lebih dari impianku sendiri?
Dan takkan pernah menoleh ke belakang lagi?
Bab 2
"Kamu lagi telepon siapa?"
Suara Dario memecah keheningan di ambang pintu dapur.
Aku tersentak, ponsel masih di tangan. Sesaat, napasku tersangkut. Lalu kuletakkan ponsel itu ke dalam saku dan memaksakan wajah tetap tenang.
"Bukan siapa-siapa," gumamku.
Malam itu, saat vila tenggelam dalam kesunyian, aku berbaring di sampingnya, terjaga, menatap langit-langit. Napasnya tenang, dingin, seolah dia sedang tidur di samping orang asing. Mungkin memang itulah artiku baginya.
Keesokan paginya, meja makan tertata rapi dengan sarapan ala Barat yang kubuat dengan cermat. Dario mengerutkan kening begitu melihatnya.
"Kamu tahu aku benci ini. Jadi ngapain masak ini?"
Aku menunduk, mengambil sepotong steik dengan garpu, lalu mengunyahnya perlahan.
"Di kulkas cuma tinggal ini," jawabku tenang.
Padahal itu bohong. Aku sudah mengisi kulkas dengan bahan impor Negara Atala. Semuanya hanya untuk dia. Akan tetapi, aku sedang berlatih menjalani hidup tanpanya. Jauh dari sini, dan hanya bergantung pada diriku sendiri.
Dario tak menyadarinya. Matanya terus melirik ke arah ponsel di samping piringnya. Saat bergetar, dia langsung meraihnya. Bibirnya melengkung, tipis tetapi jelas terlihat. Siapa pun dia, Arisa adalah wanita yang bisa menghantui pesan-pesannya. Dia bisa melakukan hal yang tak pernah bisa kulakukan. Dia bisa membuat Dario tersenyum.
Aku diam mematung, lalu perlahan mendorong setumpuk kertas yang kubawa selama berbulan-bulan melintasi meja.
"Dario," kataku pelan. "Ayo kita bercerai."
Dia bahkan tak mengangkat pandangannya. Pena di tangannya bergerak mengikuti arah yang kutunjuk, sementara tangan satunya tetap menari di atas keyboard membalas pesan Arisa.
"Mm," gumamnya tanpa benar-benar memperhatikan.
Dadaku sakit, tetapi anehnya aku tak terkejut. Begitulah dia selalu bersamaku, dingin, acuh tak acuh, tak pernah benar-benar menjadi milikku.
Ketika akhirnya dia mendorong kursinya hendak pergi, aku tak mampu menahan diri.
"Dario, kamu tahu tidak aku barusan tanya apa?"
Dia berhenti sejenak, tampak bingung. "Bukankah itu soal kontrak pasokan untuk kiriman anggur baru? Kamu sudah tanya berkali-kali minggu ini."
Aku tertawa pelan, pahit. Dia tidak ingat. Bahkan dia tidak benar-benar mendengarkanku.
"Tidak apa-apa," bisikku. "Sama sekali tidak apa-apa lagi."
Sore itu, aku pergi ke kebun anggur sendirian. Para manajer menyambutku dengan hangat, tetapi aku hanya membalas dengan senyum sopan. Aku bukan datang untuk urusan bisnis lagi. Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Aku akan pergi ke Aropa," kataku, suaraku ringan hampir terdengar acuh tak acuh.
Mereka tampak terkejut, lalu lega. "Kamu pantas mendapatkan awal yang baru," ucap salah satu dari mereka dengan lembut. "Tapi… bagaimana dengan Dario? Hubungan jarak jauh…" Dia berhenti sejenak, menggelengkan kepala.
"Ini bukan soal jarak jauh." Aku meletakkan map yang sudah ditandatangani di atas meja. "Kami sudah bercerai."
Keheningan yang menyusul terasa berat, tetapi tidak menyakitkan. Salah seorang dari mereka menghela napas, seolah mengiyakan apa yang selama ini mereka curigai.
"Kalau dia benar-benar peduli, dia tak akan pernah meninggalkanmu di bayang-bayang sepanjang ini. Pergi darinya… itu adalah hal terkuat yang pernah kamu lakukan."
Aku memejamkan mata, membiarkan kata-kata itu meresap perlahan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa lega.
Ya. Meninggalkannya adalah kebebasan.
Di seberang kota, aku tahu Dario masih tertawa menatap ponselnya, masih tersenyum untuk wanita lain tanpa pernah menyadari bahwa tanda tangannya pagi itu bukan untuk kerajaannya, tetapi untukku.
Untuk akhir dari pernikahan kami.
Bab 3
Setelah pulang dari kebun anggur, aku langsung naik ke lantai atas menuju ruang ganti, lalu mulai mengemasi koperku.
Saat itulah aku baru sadar… betapa sedikitnya barang yang sebenarnya kumiliki.
Hanya beberapa gaun yang dulu dipaksa diberikan oleh ibunya Dario saat aku pertama kali menikah ke Keluarga Mahardika. Lima tahun berlalu, dan suamiku belum pernah sekalipun memilihkan sesuatu untukku. Tidak sehelai gaun, tidak seutas syal, bahkan tidak sekeping perhiasan kecil.
Ketika semua sudah tertata dalam koper, mataku terhenti pada tumpukan hadiah yang dulu kupilih dengan hati-hati untuknya. Jam tangan, manset, buku catatan kulit. Semuanya masih terbungkus rapi, belum pernah disentuh, tersusun di sudut ruangan seperti peninggalan dari cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku memasukkannya ke dalam kotak, bukan dengan air mata, melainkan dengan tangan yang tenang, lalu memanggil tukang loak untuk membawanya pergi.
Setiap usaha, setiap senyum kecil, setiap momen di mana aku mencoba memperbaiki jarak di antara kami, semuanya kini telah berubah menjadi debu.
Saat aku hendak melangkah kembali ke dalam vila, suara klakson tajam memecah keheningan.
Sebuah mobil hitam mengilap berhenti di depan halaman. Pintu terbuka, dan seorang wanita turun dari sana. Serina Mahardika, adik perempuan Dario memakai gaun sutra merah, penuh gaya dan penghinaan.
Tatapannya melirik truk yang menjauh, lalu beralih padaku. Tawanya terdengar nyaring, terlatih.
"Sudah kuduga. Entah gadis mana, menjual barang-barang suaminya demi uang receh. Menyedihkan."
Dulu mungkin aku akan diam, menahan diri demi kedamaian keluarga. Namun, hari ini tidak.
Aku menatapnya dengan tenang, suaraku datar tetapi tegas.
"Tidak semua barang di rumah ini milik kakakmu, Serina. Sebagian adalah milikku dan aku tidak menyimpan sesuatu yang sudah tidak diinginkan."
Senyumnya sempat goyah sesaat, sebelum dia kembali menegakkan wajah sinisnya. Dia melangkah mendekat, suaranya merendah penuh bisa.
"Berhentilah berpura-pura. Arisa yang benar-benar dia cintai sudah kembali. Kamu hanya pengganti sementara."
Napasku tertahan, tetapi aku tetap menatap matanya tanpa mundur. Lalu seseorang turun dari mobil Dario.
Itu adalah Arisa.
Dia mengenakan gaun putih sederhana tanpa perhiasan, tetapi kecantikannya memancar alami. Jenis kecantikan yang tak membutuhkan berlian untuk memikat perhatian. Saat itu aku mengerti kenapa pandangan Dario tak pernah berhenti mencarinya.
"Serina." Suara lembut Arisa memecah ketegangan. Dia menepuk pelan lengan Serina. "Jangan berkata begitu. Viona tetap kakak iparmu."
Namun, Serina hanya mendengus.
"Kakak ipar? Jangan bercanda. Kakakku terbang melintasi lautan hanya untukmu, bukan untuk dia. Semua hadiah, semua perjalanan, semuanya untukmu, Arisa. Dan dia tahu itu."
Lalu Serina menatapku lagi, nada suaranya tajam seperti pecahan kaca.
"Lalu? Apa yang kamu tunggu? Bawa koper Arisa masuk. Kakakku bilang dia akan tinggal di sini."
Aku menatap koper-koper itu, lalu kembali menatap Serina. Dengan tenang, aku melangkah ke samping dan membuka pintu vila lebar-lebar.
"Biarkan staf yang mengurusnya."
Langkah tumitnya bergema keras di lantai marmer, tetapi sebelum kata-kata lain sempat terlontar, pintu utama kembali terbuka.
Dario berjalan masuk.
Tatapannya menyapu ruangan, dan ketika matanya menemukan Arisa di sofa, ekspresinya berubah. Ketegangan itu melunak menjadi sesuatu yang hampir lembut.
Dario melangkah menghampiri, melewatkanku seolah aku tak ada. Suaranya rendah, tenang, melindungi.
"Apartemenmu sudah lama tak ditempati. Tidak layak untukmu. Tinggallah di sini untuk sementara sampai selesai direnovasi."
Udara di sekelilingku tiba-tiba terasa sesak.
Arisa menggigit bibirnya ragu. "Dario… mungkin sebaiknya jangan. Ini rumahmu bersama Viona. Aku tidak mau mengganggu."
Sebelum dia sempat berdiri, tangan Dario menahan bahunya, mantap dan lembut.
"Tidak apa-apa. Tinggallah. Viona tidak keberatan. Dia orangnya… pengertian."
Kata-katanya menancap tajam, meski Dario tak bermaksud menyakitiku. Baginya, aku adalah istri yang sabar, selalu mengalah. Namun bagiku, ucapannya terdengar seperti pemaksaan.
Aku memaksa tersenyum tipis. Suaraku keluar lebih lembut dari yang kukira.
"Tentu saja aku tidak keberatan. Arisa, anggap saja rumah ini rumahmu juga."
Karena dalam hati, aku tahu sesuatu yang selama ini tidak mau ku akui.
Rumah ini memang miliknya.
Pria itu pun miliknya.
Dan aku… tak pernah benar-benar punya tempat di sini.
Namun, kali ini, aku tidak akan memohon.
Tidak akan menangis, tidak akan memaksa, tidak akan bersaing.
Biarlah mereka memiliki cinta mereka, keluarga mereka, kerajaan mereka yang dibangun di atas darah dan kesetiaan.
Aku akan pergi tanpa membawa apa pun.
Karena kadang, tidak membawa apa pun jauh lebih berharga daripada hidup sebagai bayangan yang tak pernah dianggap ada.
Bab 4
Sepertinya Dario takut dia berubah pikiran dan pergi. Tanpa menunggu lama, dia langsung memerintahkan staf untuk memindahkan koper Arisa ke kamar tamu terbesar.
Serina bahkan tak berusaha menyembunyikan kepuasannya.
"Lalu apa lagi yang kamu tunggu? Makan malam tidak akan masak sendiri. Dan jangan lupa, Arisa tidak bisa makan pedas. Buat masakan biasa saja."
Kata-kata itu terdengar begitu biasa. Karena memang akulah yang selalu berada di dapur. Bukan karena dipaksa, tetapi karena aku ingin rumah ini terasa seperti rumah sungguhan. Dulu aku percaya, kalau aku bisa mengisinya dengan kehangatan, aroma roti baru, semangkuk sop panas, mungkin bisa melunakkan sikap dingin Dario, mungkin bisa menjembatani jarak di antara kami.
Namun, entah sejak kapan, cintaku berubah jadi kebiasaan mereka. Dario makan tanpa komentar, Serina mengkritik tanpa ragu, dan para staf selalu pulang lebih awal, yakin aku yang akan menyelesaikan semuanya. Pengabdian yang dulu kulakukan dengan cinta, kini tak lagi terlihat.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku menggeleng.
"Aku tidak bisa."
Suasana ruangan mendadak hening. Dahi Dario berkerut, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar dari bibirku. Dalam ingatannya, aku tak pernah berkata tidak.
Sebelum dia sempat bicara, Arisa menatapku dengan mata yang berkilat lembap.
"Ini salahku. Aku tidak seharusnya datang. Aku tidak bisa berharap Nona Viona yang mengurus semuanya."
Dia hendak berbalik menuju tangga, tetapi tangan Dario cepat menahan pergelangan tangannya.
"Ini bukan karena kamu."
Tatapannya lalu beralih padaku, menuntut jawaban.
"Kamu bilang tidak marah. Lalu ini apa?"
Aku hanya mengangkat tanganku pelan. Dua jariku terbalut perban putih bersih.
"Aku terluka. Tanganku terbakar. Jadi… aku tidak bisa masak untuk sementara."
Kebohongan kecil. Namun, keputusan di baliknya jauh lebih besar. Aku tidak terbakar, aku lelah.
Kontrakku dengan rumah ini, dengan hidup seperti ini, hampir berakhir. Aku sudah muak mencoba mendapatkan penghargaan lewat hidangan yang bahkan tak lagi mereka rasakan.
Keheningan menebal. Serina mengerutkan kening.
"Kamu bisa bilang lebih awal. Apa kamu mau kami kelaparan sekarang?"
Nada suaranya menusuk, tetapi Arisa cepat menenangkan dengan sentuhan lembut di lengannya.
"Jangan begitu, Serina. Dario…" Suaranya melunak, sarat nostalgia, "Kamu masih ingat bistro kecil di Swess, dekat kampus dulu? Yang punya sop krim enak itu. Kita sering sembunyi ke sana setelah kelas, ingat? Kamu selalu pesan roti tambahan."
Dia tertawa kecil, menundukkan kepala seolah larut dalam kenangan.
Dan wajah Dario langsung melunak. Senyum yang jarang muncul, kini kembali terlihat.
"Tentu saja. Aku akan membawamu ke sana."
Waktunya sempurna. Aku pun hilang dari pandangan mereka, seperti bayangan yang tak lagi penting.
Dalam perjalanan, mobil penuh dengan tawa dan kenangan yang tak bisa kumiliki. Arisa duduk di depan, memperbaiki lipatan lengan jas Dario dengan gerakan akrab yang terlalu alami. Serina ikut tertawa, menambah keceriaan yang asing di telingaku.
Aku duduk di samping jendela, menatap kota yang berlari di luar kaca. Dunia mereka terasa hangat… tetapi tertutup rapat.
Di tengah perjalanan, Arisa menoleh padaku, tersenyum manis tetapi canggung.
"Maaf, Nona Viona. Kami tidak bermaksud mengabaikanmu. Hanya saja… kamu tidak ada di masa itu."
Bukan hanya masa lalu. Aku tahu aku juga tidak akan ada di masa depan mereka.
Aku hanya mengangguk pelan dan menyandarkan kepala. Dari kaca spion, mata Dario sempat menangkap pantulan wajahku. Ada seberkas kebingungan di sana. Mungkin untuk pertama kalinya, dia sadar aku agak tidak peduli.
Di restoran, aku pamit ke kamar mandi. Air dingin memercik di kulitku, menenangkan panas yang menekan di balik mataku.
Lima tahun pernikahan. Lima tahun memasak, merawat, mencintai. Aku telah menuangkan seluruh diriku untuk rumah ini, sampai tak tersisa apa pun. Arisa memancarkan vitalitas, Serina penuh percaya diri. Sedangkan aku? Aku hanya tampak seperti arwah. Ada, tetapi tak terlihat.
Saat kembali ke meja, hidangan sudah tersaji. Dario sedang berbicara pada pelayan. "Tolong tanpa bawang putih. Arisa tidak suka."
Dia masih mengingat semua tentangnya. Bahkan sekarang.
Lalu, seolah baru teringat akan keberadaanku, dia menoleh sekilas.
"Dan kamu? Ada yang tidak bisa kamu makan?"
Lima tahun dan ini pertama kalinya dia bertanya.
"Makanan laut," jawabku datar.
Makan malam pun dimulai. Dario nyaris tak menyentuh piringnya. Dia sibuk mencelupkan roti ke dalam sop krim, lalu meletakkannya di depan Arisa dengan hati-hati. Tangan mereka bersentuhan. Arisa tertawa lembut dan tatapan mata Dario lembut.
Sementara aku hanya makan diam-diam, setiap suapan terasa hambar seperti menelan abu.
Lalu tiba-tiba, kekacauan terjadi. Dari meja sebelah terdengar suara bentakan. Kursi bergeser, seseorang berteriak. Seseorang meraih panci baja berisi sop panas.
Dalam sekejap panci itu terbalik dan sop isinya yang mendidih menyembur ke depan.
Dario langsung bergerak melindungi Arisa di dalam pelukannya.
Dan aku?
Aku bahkan tidak sempat bereaksi.
Panas itu datang bagai gelombang, menyapu tubuhku dan membakar.
Bab 5
Sop panas menyembur ke lenganku sebelum aku sempat menghindar.
Rasa sakit yang membakar menyayat kulitku, seperti ribuan jarum menembus dalam satu waktu. Tenggorokanku terkunci. Aku bahkan tak mampu berteriak.
"Viona!"
Untuk pertama kalinya, suara Dario terdengar panik. Dia mendorong Arisa ke samping dan berlari ke arahku, meraih lenganku dengan wajah tegang.
"Kamu terbakar. Sial, kita harus ke rumah sakit sekarang!"
Aku menatapnya di tengah kabut rasa sakit. Bibirku terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar.
Lalu terdengar jeritan melengking.
"Oh Tuhan, Arisa, kamu juga terluka!"
Dario terdiam. Perhatiannya langsung berpaling.
Beberapa tetes sop krim panas memang mengenai pergelangan tangan Arisa, tetapi hanya meninggalkan sedikit kemerahan di kulitnya yang pucat. Meski begitu, ekspresi Dario tampak seolah seluruh dunia runtuh di depan matanya.
Arisa menggeleng pelan, menahan air mata yang nyaris jatuh.
"Tidak apa-apa. Tolong lihat Viona dulu. Dia yang lebih parah."
Nada suaranya bergetar, penuh kepedulian yang terdengar tulus, tetapi justru kelembutannya membuat Dario makin menggenggam erat tangannya.
"Kamu memang selalu rapuh," katanya, suaranya bergetar. Tanpa menoleh padaku lagi, dia langsung mengangkat Arisa ke dalam pelukannya.
"Kita ke rumah sakit. Sekarang."
Arisa memegang lengannya erat.
"Kak, jangan buang waktu! Arisa sakit… cepatlah."
Dario sempat menatapku sekali, sekejap, penuh bayangan rasa bersalah.
"Viona… naik taksi saja. Klinik dekat dari sini. Kamu akan baik-baik saja."
Dan dia pergi.
Aku berdiri di sana, kulitku terbakar, perutku melilit. Aku hanya bisa menyaksikan bayangan mereka menghilang ke dalam gelap malam.
Para staf restoran berlarian mendekat, meminta maaf dengan wajah panik. Mereka membersihkan luka bakarku, membalutnya, memberiku obat pereda nyeri, bahkan pakaian baru untuk diganti. Namun, entah kenapa, simpati mereka terasa lebih menyakitkan daripada lukanya sendiri.
Di rumah sakit, dokter menangani lepuh di lenganku dengan tenang.
"Oleskan salep ini setiap hari. Jika dirawat dengan baik, tidak akan meninggalkan bekas," katanya lembut.
Di belakangnya, dua perawat lewat sambil berbisik.
"Katanya Dario Mahardika menyewa satu lantai penuh hanya untuk Arisa. Bahkan memanggil tiga dokter kulit, padahal cuma terkena sedikit sop krim di tangan."
"Bayangkan, seberapa cintanya dia. Banyak wanita rela mati demi perlakuan seperti itu."
Mereka terkekeh pelan, lalu berlalu.
'Cinta,' pikirku getir.
Aku hampir tertawa bersama mereka.
Dia meninggalkan istrinya yang kulitnya melepuh… demi menggenggam tangan wanita lain.
Ya, Dario Mahardika memang istimewa, dalam cara yang menyakitkan.
Saat perban terakhir dipasang, aku sudah mati rasa. Di luar dan di dalam.
Begitu keluar dari rumah sakit, ponselku bergetar dan ada satu notifikasi muncul.
[Selamat. Anda diterima di Akademi Seni Florance.]
Aku terpaku. Akademi Florance, salah satu sekolah seni paling bergengsi di Aropa. Aku mendaftar dua bulan lalu, langkah nekat yang bahkan tak kusangka akan berhasil. Terlebih sekarang, saat aku sedang tiga bulan hamil.
Tanganku gemetar saat membaca kelanjutannya:
[Kehamilan bukan penghalang. Kami menghargai bakat Anda. Kami telah menunggu Anda selama bertahun-tahun, Nona Viona.]
Aku memejamkan mata. Bertahun-tahun aku menolak mereka demi Dario. Meyakinkan diriku bahwa cinta lebih berharga daripada seni. Bahwa suatu hari, dia akan melihatku.
Namun, kini… Arisa telah kembali.
Dan Akademi masih menginginkanku.
Malam itu, aku membeli kuas, arang, dan kanvas baru.
Aku menghapus debu dari bagian diriku yang telah lama aku kubur sejak menikah.
Kupikir aku akan merasa bersalah. Namun, yang kurasakan hanya kejelasan.
Keesokan paginya, aku berkata pada pengurus rumah bahwa aku akan pergi beberapa hari. Aku tidak memberi tahu Dario. Dia bahkan tidak menyadarinya. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Arisa.
Sementara itu, aku menemukan sebuah teras kecil di tepi laut. Di sanalah aku mulai melukis lagi, menuangkan rasa lapar, duka, dan harapan ke atas kertas.
Setiap garis yang kutarik adalah langkah menjauh darinya.
Setiap sapuan warna adalah bukti bahwa aku masih punya masa depan, bahkan di luar bayang-bayangnya.
Tebing-tebing menjulang di atas air biru toska, bunga liar menunduk ditiup angin. Aku mendirikan kanvasku di atas teras yang sepi, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku menghirup udara yang tak berbau kekuasaan, asap, atau darah.
Kuas bergerak nyaris tanpa kendali.
Tiga hari berlalu seperti mimpi. Aku melukis sampai dunia di sekitarku menghilang. Sampai rasa nyeri di lenganku tak terasa, sampai bayangan rumah Dario tak lagi menghantuiku.
Tak ada yang menegurku. Tak ada yang memerintah.
Hanya aku, udara asin laut, dan kebebasan.
Ketika akhirnya aku menyalakan ponsel, layar dipenuhi panggilan tak terjawab dan pesan. Lebih dari seratus.
Semuanya dari Dario.
Dia belum pernah meneleponku sebelumnya.
Tidak sekali pun, selama lima tahun pernikahan kami.
Dan kini 108 kali.
Aku masih menatap layar ketika nama Serina muncul.
Begitu kuangkat, suaranya langsung melengking dari seberang.
"Viona! Ke mana saja kamu? Tahu tidak, kakakku hampir gila mencarimu! Tapi jangan salah sangka kalau kamu pikir ini akan membuatnya memilihmu, kamu bodoh. Arisa satu-satunya wanita yang pantas jadi nyonya keluarga ini!"
Sambungan terputus.
Aku menurunkan ponsel perlahan, dadaku terasa sesak.
Dario Mahardika… mencariku?
Mengamuk karena aku menghilang?
Harusnya aku tertawa. Namun, jemariku bergetar saat menatap angka di layar, 108 panggilan tak terjawab.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… dia yang mengejarku.
Dia tidak tahu.
Dia tidak tahu aku telah diterima di Akademi.
Dia tidak tahu aku mulai menyiapkan portofolio.
Dia tidak tahu aku siap pergi.
Mungkin sekarang dia panik, meronta di tengah keheningan yang kutinggalkan. Akan tetapi, itu tidak mengubah apa pun.
Lukaku telah mengeras menjadi perisai.
Hatiku tak lagi condong padanya.
Biarlah dia marah, menyesal, atau terbakar dalam reruntuhan yang dia ciptakan sendiri.
Karena aku tidak akan menoleh lagi.
Bab 6
Saat akhirnya aku kembali ke vila, para staf nyaris menangis lega.
"Bu! Syukurlah Anda kembali. Tuan Dario panik sekali beberapa hari terakhir. Apa pun yang kami lakukan tak pernah membuatnya puas. Dia tidak tidur, tidak makan…"
Suara mereka saling bertumpuk, penuh kegembiraan gugup, seolah ketidakhadiranku hampir menghancurkan seluruh rumah tangga ini.
Jadi memang begitu. Tanpaku, Dario kehilangan keseimbangan.
Akan tetapi, dia harus terbiasa. Sebentar lagi, aku akan pergi untuk selamanya, dan hidupnya hanya akan dipenuhi kesunyian yang kutinggalkan.
Aku tersenyum tipis, menenangkan staf, lalu melangkah masuk ke rumah. Vila itu gelap, tidak ada satu pun lampu yang menyala, hanya cahaya bulan yang retak menembus jendela.
Dario duduk di sofa, sosoknya seperti bayangan yang disayat cahaya pucat, profil tajamnya sulit dibaca.
Saat akhirnya dia menatapku, pandangannya terlalu lama tertahan. Suaranya rendah, menyimpan sesuatu yang tak bisa kusebutkan.
"Ke mana saja kamu?"
Aku melepas mantel, suaraku datar.
"Di pantai. Melukis."
Alisnya mengerut. "Sejak kapan kamu tertarik melukis?"
Bukan sejak kapan, tetapi selalu.
Aku dulunya murid berbakat, wanita yang pernah bermimpi ke akademi seni dan galeri, sebelum kesetiaan mengikatku pada nama Dario. Sebelum hidupku tenggelam oleh kerajaan Mahardika.
Namun, aku tak menjelaskan itu padanya. Aku hanya menuang segelas air dan menjawab ringan, "Aku menyukainya."
Dia mengusap pelipis, menghela napas.
"Soal malam di restoran, aku tak bermaksud meninggalkanmu. Arisa selalu rapuh, lemah. Aku tumbuh dengan melindunginya, jadi instingku..."
Suaranya tersendat saat aku diam saja.
"Kamu juga tidak menolak waktu itu," desaknya, sedikit kesal. "Lalu kenapa tiba-tiba menghilang? Kamu tahu Arisa sudah pindah ke apartemennya sendiri. Semua… itu sudah selesai. Jangan dendam soal hal sepele."
Sampai sejauh itu dianggap sepele?
Nada suaranya penuh teguran, seolah rasa sakitku hanyalah gangguan kecil. Seolah luka bakar di lenganku tak sepenting kepura-puraan Arisa yang rapuh.
Aku tak menjawab. Aku menoleh ke tangga, tetapi suaranya memecah kesunyian lagi.
"Viona."
Aku menoleh, dan untuk pertama kalinya, kulihat dia berdiri dengan goyah.
"Aku lapar. Buatkan aku pasta."
Aku mengangkat tangan yang dibalut perban, kain kasa tampak kontras di cahaya bulan.
"Lupa ya? Tanganku masih terbakar."
Ekspresinya berubah, sekejap terlihat… hampir seperti penyesalan. Namun, aku tak menunggu lebih lama. Aku berpaling dan menaiki tangga.
Keesokan paginya, dia menghentikanku di lorong, membawa sebuah kotak beludru.
Aku membukanya. Isinya perhiasan zamrud. Langka, berkilau, berat oleh kemewahan.
Dia membersihkan tenggorokannya dengan canggung.
"Soal malam itu. Aku… terlalu fokus pada Arisa. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu. Anggap ini sebagai permintaan maafku."
Dadaku sesak. Lima tahun.
Lima tahun diam, acuh, diabaikan. Dan baru sekarang aku mendapat hadiah pertamaku darinya.
Bukan karena cinta, tetapi penebusan. Bukan untukku, tetapi untuk rasa bersalahnya terhadap Arisa.
Aku teringat ribuan hadiah yang tersimpan di kantornya, semuanya dipilih dengan cermat untuk Arisa. Tawa pahit hampir terdengar dari tenggorokanku, tetapi kutelan.
Aku sudah lama berhenti mengharapkan apa pun dari Dario Mahardika. Dan sekarang? Aku tak butuh permata itu.
Aku ragu sesaat, cukup hingga dia salah paham.
"Kalau kamu tidak suka… asistenku yang membelinya di lelang. Aku bisa cari yang lain."
Sebelum aku sempat menjawab, suara Serina terdengar saat dia masuk, menyeret Arisa bersamanya.
"Kak Dario, sudah kubilang Arisa tidak seharusnya pindah. Kamu terlalu mencintainya untuk membiarkannya pergi. Paling tidak, sering-seringlah mampir, ya?"
Dia masuk dengan Arisa di belakangnya, penuh canda riang.
Kata-katanya membeku di telingaku, lalu kotak beludru di tanganku menarik perhatiannya.
"Ya Tuhan! Dario, kamu benar-benar beli itu? Arisa tadi bilang dia sangat menyukainya!"
Hatiku jatuh.
Ternyata begitu. Bukan untukku. Tidak pernah untukku.
Pipi Arisa memerah, matanya menunduk dengan kesopanan yang dipelajari. Dan Dario ragu, pandangannya terselip ke arahnya, bukan padaku.
Zamrud itu berubah menjadi es di telapak tanganku. Hadiah pertamaku darinya, dan itu bahkan bukan milikku.
Aku menekan kotak itu ke tangan Arisa, suaraku tenang, tajam seperti memotong udara.
"Kalau itu untukmu, ambil saja."
Ruangan hening, terdiam.
Bibir Serina terbuka dengan senang, Arisa berkedip seolah tersengat, dan Dario kali ini tak menatap Arisa. Matanya menatapku, gelisah, hampir putus asa.
Namun, kerusakan sudah terjadi. Harapan sekejapku telah padam.
Di hatinya, Arisa akan selalu nomor satu. Apakah dia menyebutnya cinta atau kesetiaan, tak ada bedanya. Bagiku, rasanya sama saja.
Dan dalam kesunyian itu, aku tahu sesuatu telah bergeser tak bisa kembali.
Aku bukan wanita yang sama lagi.
Saat dia goyah, aku teguh.
Saat dia melekat pada Arisa, aku sudah melepaskan setiap ikatan yang menahanku di sini sedikit demi sedikit, diam-diam, tanpa riuh.
Paspor sudah siap, sketsaku digulung dan disembunyikan, tanggal-tanggal tertanam di pikiranku seperti hitungan mundur yang hanya aku dengar.
Dunianya bisa runtuh di sekelilingnya, tetapi aku tak akan menoleh ke belakang. Bukan karena lapar, bukan karena rasa bersalah, bahkan bukan karena cintanya. Karena apa pun yang mengikatku pada Dario Mahardika telah terbakar menjadi abu.
Bab 7
Seminggu kemudian, akta cerai itu tiba.
Aku sudah resmi bukan lagi istri Dario. Setidaknya di atas kertas.
Belum ada yang tahu. Tidak Dario. Tidak saudara-saudaranya. Tidak juga para pemangsa yang mengelilingi kami di kalangan sosial. Hanya Tiana yang tahu. Untuk semua orang lain, aku masih Nyonya Mahardika. Tapi bagiku, semuanya sudah berakhir. Aku menghitung hari, melipat hidup lamaku ke dalam koper yang tak seorang pun sadar sudah mulai kupersiapkan untuk pergi.
Tepat ketika aku menarik risleting terakhir, terdengar ketukan di pintu. Asisten Dario berdiri di sana, membawa gaun adibusana. Pesan itu jelas. Aku diharapkan hadir di acara keluarga. Sekali lagi, pertunjukan terakhir.
Aku menatap gaun itu dan hampir tertawa.
Secara hukum, aku bebas. Secara emosional, aku sudah pergi. Namun, malam ini, aku tetap akan mengenakan status sebagai istrinya. Karena Tiana, ibunya, selalu memperlakukanku dengan baik, dan masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan sebelum benar-benar menghilang.
Ruang pesta bersinar dengan lampu gantung emas dan tawa yang tipis seperti kaca rapuh. Anggur berkilau di gelas kristal, janji-janji hancur setiap kali bersulang. Dan Arisa berdiri di tengah semuanya, memesona, dikagumi, tak tersentuh.
Para sosialita mengepungnya seperti ngengat pada api.
"Arisa, Dario pasti terobsesi sama kamu," kata salah satu dengan kagum.
"Kalung zamrud itu dibeli langsung dari Satheby. Dia memperjuangkannya habis-habisan."
"Dan ingat waktu di sekolah? Dia menunggumu setiap hari. Saat kamu mengabaikannya seminggu, dia hampir gila, minta saran ke semua orang hanya untuk mendapatkanmu kembali…"
Tawa mereka bergema seperti pecahan kaca.
Dan aku berdiri di sana, tak terlihat, memegang rahasiaku, yaitu akta cerai yang tersembunyi, pengetahuan bahwa aku akan segera menghilang, meninggalkan mereka semua.
Aku berdiri di pinggir, tak terlihat, mendengarkan orang asing menceritakan pengabdian suamiku pada wanita lain.
Aku mengeluarkan ponsel, menghitung waktu menuju penerbangan. Tiga jam. Jika aku berangkat sekarang, aku bisa sampai tepat waktu.
Namun, keheninganku justru membuat mereka melihatku seperti orang lemah. Tak lama kemudian, Serina dan rombongannya mendekat, senyum mereka manis tetapi penuh sindiran.
"Viona." Serina bersuara manis. "Bertahun-tahun menikah dengan kakakku, apa yang bisa kamu tunjukkan? Berdiri di sini, melihat dia bersama wanita yang benar-benar dicintainya."
"Jangan menipu diri sendiri deh. Dia menikahimu hanya karena Arisa pergi. Kamu hanya pengganti, penutup luka yang hanya bisa disembuhkan Arisa."
"Kamu seharusnya pergi bertahun-tahun lalu."
Aku berbalik pergi. Tak ada waktu untuk melayani kebiadaban mereka. Namun, salah satu dari mereka mendorongku dengan keras.
Dunia berputar.
Aku menabrak menara gelas anggur di belakang. Pecahan kaca berdering, cairan emas tumpah ke gaun, serpihan menoreh kulit. Dingin anggur bercampur dengan panas darah.
Desahan terkejut terdengar di kerumunan.
Dari panggung, mata Dario langsung tertuju padaku. Matanya membelalak, lalu beberapa detik kemudian, dia sudah di sisiku, menahan tubuhku seolah aku bisa hancur begitu saja.
"Viona!" Suaranya serak, panik. "Siapa yang menyentuhnya?!"
Tak seorang pun berani menjawab.
Amarahnya membara di seluruh ruang pesta. "Panggil dokter. Sekarang!" Genggamannya padaku tak goyah. Seolah bisa menambatkanku pada dirinya dengan paksa. Tangannya bergetar di kulitku yang berdarah, rahangnya menegang menahan amarah. Sesaat, aku hampir percaya dia peduli padaku. Bahwa di dalam hati pria ini, mungkin masih ada tempat untukku.
Hingga seorang pengawal berlari masuk, terengah-engah.
"Tuan Dario, Nona Arisa kesakitan. Katanya perutnya sakit. Dia menangis hebat."
Dario membeku. Tangannya menegang menahanku.
"Apa parah?"
"Dia hampir tidak bisa berdiri," kata pengawal itu.
Matanya melompat-lompat antara aku yang berdarah di pelukannya, dan Arisa yang rapuh dan sedang menangis di ruangan lain.
"Viona, aku..."
Aku tahu apa yang akan dia katakan sebelum kata itu keluar.
Aku melepaskan diri, suaraku tenang dan menusuk.
"Pergi. Dia rapuh. Selalu begitu. Dan kamu selalu memilihnya."
Dia terhenti, ketenanganku menghantamnya lebih keras daripada kemarahan apa pun.
"Viona…"
"Jangan khawatir. Aku bisa mengurusnya."
Dan seperti biasa, dia melakukan yang selalu dia pilih. Dia memilih Arisa, meninggalkanku berdiri di pecahan kaca, mendengar janji setengah hati, "Aku akan menebusnya nanti," sebelum berlari ke sisi Arisa.
Kerumunan hanya melihat satu hal, yaitu aku yang ditinggalkan lagi.
Bisik-bisik mereka lebih menyakitkan daripada luka di kulitku.
"Kasihan, ya. Bertahun-tahun, Dario tak pernah mencintainya."
"Dia seharusnya bersyukur Arisa ke luar negeri. Kalau tidak, dia takkan pernah memakai cincin itu sama sekali."
Aku meminjam ruang tunggu untuk membersihkan darah dan membalut lukaku.
Tak seorang pun memperhatikan saat aku menyelinap pergi.
Di vila, aku mengemas barang terakhir. Di meja makan, aku menaruh dua benda, yaitu surat perceraian yang sudah ditandatangani, dan akta cerai yang menandakan semuanya selesai.
Koperku sudah menunggu di pintu. Tanganku menyentuh perut dan aku berhenti sejenak.
Tiga bulan.
Anak di dalam perutku tak akan pernah merasakan sentuhan ayahnya. Dan Dario tak akan pernah tahu bahwa malam ini dia sudah kehilangan lebih dari sekadar seorang istri.
Saat aku membuka pintu, Serina muncul, terengah-engah.
"Kakakku mengirim obat untukmu. Jangan tanya kenapa. Seharusnya dia bersama Arisa, tapi dia menyuruhku mencarimu. Aku cari ke mana-mana..." Dia memutar mata bergumam, "Sejujurnya, ini tidak masuk akal. Seharusnya dia peduli sama Arisa, bukan kamu. Kenapa dia…?"
Gumamnya berhenti saat matanya melihat koperku.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Jelas, 'kan?" jawabku dengan tenang. "Aku pergi. Kakakmu sudah punya Arisa. Dia tak butuh aku lagi."
Dia meraih lenganku, panik. "Tidak… tidak, kamu bercanda, 'kan? Kamu terlalu mencintainya. Ini pasti trik, 'kan? Dia takkan membiarkanmu pergi!"
"Serina." Aku menoleh ke meja. "Kalau gitu, lihat surat ini."
Matanya tertuju pada akta cerai. Warna memudar dari wajahnya. Dia tergagap mundur, bergumam, "Tidak… ini tidak mungkin. Kamu… kamu tak mungkin benar-benar pergi…"
Aku melangkah melewatinya, roda koper bergesekan dengan marmer.
Lima tahun lalu, aku meninggalkan mimpiku demi Dario Mahardika.
Malam ini, aku akan mengambilnya kembali.
Aku tersenyum. Aku merasa ringan, bebas, tanpa beban.
"Aku akan menjalani hidup yang hanya milikku," kataku. Lebih untuk diri sendiri daripada siapa pun.
Vila itu menjulang di belakang dan penuh dengan kenangan. Namun, aku tak menoleh.
Tidak pada rumah itu.
Tidak pada wajah terkejut Serina.
Tidak pada pria yang akan terlambat menyadari apa yang telah hilang.
Dan begitu saja, aku menghilang ke kegelapan malam.
Meninggalkan nama, pernikahan, dan rahasia yang suatu hari akan sangat disesalinya.
Beberapa jam kemudian, Dario kembali. Jas digantung di lengan, mengharapkan rutinitas yang sama, yaitu suaraku, sandal di pintu. Namun, yang menyambutnya hanyalah keheningan.
"Viona?" Panggilannya bergema di seluruh rumah.
Tak ada jawaban. Pelayan kebingungan. Salah satu menunjuk lemah ke meja makan dengan surat yang sudah menunggu di atasnya. Dario melangkah cepat, meraihnya.
AKTA CERAI.
Tandatangannya sendiri, yang tidak ingat kapan dia bubuhkan. Sertifikat resmi yang sudah final.
Rahangnya mengeras. "Tidak mungkin."
Lalu matanya menangkap folder kedua. Map polos dengan tulisan klinik.
Dia membukanya. Huruf hitam itu bertuliskan RSIA Florance. Pasien: Viona Nandita. Minggu keberapa, perkiraan tanggal lahir, catatan pengawasan ketat.
Hamil. Viona telah membawa anaknya. Dia pergi bukan hanya sebagai istri, tetapi sebagai ibu dari kehidupan yang bahkan belum Dario ketahui.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, tangan Dario bergetar.
"Viona…" bisiknya menggores udara kosong.
Rumah itu tak memberi jawaban.