Suamiku Menjadi Ayah Untuk Anak Cinta Pertamanya

Đang tải thông tin quảng bá...

Suamiku Menjadi Ayah Untuk Anak Cinta Pertamanya

GoodNovel Hoàn thành

Suamiku, Brian beralasan ada urusan di kantor dan membatalkan janji ikut kegiatan studi wisata anak kami. Dia bahkan menyuruh kami untuk tidak ikut. Melihat putriku kecewa, aku memutuskan untuk tetap ...

Chương (1)

第1章

Suamiku, Brian beralasan ada urusan di kantor dan membatalkan janji ikut kegiatan studi wisata anak kami. Dia bahkan menyuruh kami untuk tidak ikut. Melihat putriku kecewa, aku memutuskan untuk tetap menemaninya pergi. Baru saja masuk sekolah, aku langsung melihat Brian bersama cinta pertamanya, si Enny dan putranya sedang duduk di sofa panggung utama. Mereka tampak begitu akrab, persis seperti keluarga kecil yang harmonis. Brian memegang mikrofon, berbicara panjang lebar tentang bagaimana dia bisa meraih kesuksesan dalam karir, sekaligus menjaga keharmonisan rumah tangga. Di sela ucapannya, dia beberapa kali bertukar senyuman dengan Enny. Orang-orang di bawah panggung bertepuk tangan meriah. Wajah Brian terlihat puas, bahkan bocah di sampingnya pun ikut tampak angkuh. Tak lama kemudian, masuk sesi tanya jawab. Aku langsung merebut mikrofon dan bertanya, “Aku ingin bertanya sejak kapan Pak Brian punya seorang putra? Apa istrimu tahu soal ini?” Bab 1 Usai aku bicara, para murid dan orang tua yang duduk di bawah panggung mulai berbisik-bisik dan menatapku dengan tatapan aneh bercampur jijik. “Dia siapa? Kok nggak sopan sekali?” “Menurutku dia hanya iri dengan istri Pak Brian, makanya mau cari perhatian. Pak Brian itu punya perusahaan bernilai ratusan triliun. Ada wanita yang bermimpi menjadi selingkuhannya juga nggak aneh.” “Benar-benar nggak tahu malu.” Di panggung, ekspresi Brian sempat terlihat panik saat melihatku, tapi dia segera menyembunyikannya. Justru Enny yang tak bisa menahan diri. Dengan wajah seolah-olah kesal sekaligus tersakiti, dia berkata, “Kak Brian, apa maksud dia?” Aku sama sekali tidak menghiraukannya, hanya menatap Brian dan berkata, “Pak Brian, kamu belum menjawab pertanyaanku.” Brian reflek merapikan kacamatanya, lalu merangkul erat Enny dan putranya di depan semua orang.” “Ini jawabanku.” Mata Enny langsung berbinar, dia pun mempererat pelukan itu tanpa ragu. Orang-orang d bawah panggung langsung bersorak, “Wah….” “Ini baru cinta sejati! Berani menunjukkan kebahagiaan di depan umum!” “Pak Brian memang pria terbaik! Pengusaha sukses sekaligus suami dan ayah yang setia!” Tatapan mereka padaku semakin merendahkan. “Mau merusak rumah tangga orang, malah dipermalukan.” “Wajah pas-pasan seperti itu, masih berani menandingi istri Pak Brian? Semua orang juga tahu istri Pak Brian memegang jabatan penting di Grup Soi dan sekaligus pendamping setia Pak Brian. Mana mungkin bisa dibandingkan dengan wanita murahan yang mau jadi selingkuhan?!” Pada saat bersamaan, ponselku bergetar. Pesan dari Brian masuk. [Yuky, jangan salah paham. Aku sudah janji pada Sherwin untuk pura-pura menjadi ayahnya sehari. Dia nggak punya ayah sejak kecil, kasihan sekali. Sebaliknya kamu, kok nggak dengarin aku, malah membuatku malu di depan orang banyak? Jangan buat keributan lagi.] Sudut bibirku terangkat membentuk senyuman dingin. Hanya seorang menantu benalu yang menumpang hidup di Keluarga Soi, mau foya-foya pakai uangku pun harus lihat apakah aku mengizinkannya atau tidak? Grup Soi itu itu didirikan oleh kakekku dan sekarang, 75% saham ada di tanganku. Aku langsung mengetik cepat pesan untuk bagian HRD dan legal Grup Soi. Hari ini, aku akan mencabut jabatannya sebagai manajer umum di depan semua orang! Putriku, Stefani tidak tahan melihat orang lain menghina ibunya. Dia pun membantah, “Apa yang kalian katakan?! Brian yang berdiri di panggung itu ayahku dan ibuku adalah istri sahnya. Wanita itu adalah selingkuhannya!” Orang-orang langsung tertawa terbahak-bahak, nada mereka semakin merendahkan. “Benar-benar buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Masih kecil sudah tahu merusak rumah tangga orang, dasar licik!” “Pak Brian sendiri bahkan sudah terang-terangan bermesraan di depan umum, mana mungkin bohong?!” Tiba-tiba, Sherwin berlari dari panggung ke arah kami, lalu menatap Stefani dengan garang dan berkata, “Kamu bilang siapa yang selingkuhan? Kamu dan ibumu yang sudah gila ingin naik derajat! Dasar murahan!” Usai bicara, dia pun mengulurkan tangan untuk memukul. Aku langsung menahannya. Tatapanku tertuju pada Brian yang berdiri tak jauh di sana. “Brian, aku kasih kamu kesempatan terakhir. Kamu masih nggak mau menjelaskan?” Bab 2 Brian menatapku sambil mengernyit, beberapa saat kemudian, dia pun berkata dengan dingin, “Bu, aku nggak mengenalmu. Aku memang beretika, tapi bukan berarti aku bisa menerima kamu terus-menerus menyebarkan fitnah tentang istri dan anakku. Jangan lupa, bagian legal perusahaan kami bukan untuk main-main!” Stefani sangat marah hingga wajahnya memerah, dia berkata dengan tak percaya, “Ayah, apa yang kamu katakan?! Kamu nggak mengenal aku dan ibu?” Tawa orang sekeliling langsung meledak, “Adik kecil, kamu keasikan berakting, ya? Sebelum Pak Brian benar-benar marah, cepat bawah ibumu pergi. Grup Soi bukan perusahaan yang bisa disinggung oleh rakyat biasa seperti kalian seenaknya!” Bahkan teman sekelas Stefani pun merasa jijik, “Stefani, kok kamu begitu menjijikkan? Biasanya terlihat begitu sopan, ternyata aslinya sekotor itu?!” Stefani buru-buru meraih baju Brian dan memohon, “Ayah, ada apa denganmu? Kenapa bilang nggak mengenal kami?! Cepat jelaskan pada mereka! Ayah nggak dengar? Mereka sudah menghina ibu dengan begitu kejam!” Namun, Brian langsung menepis tangan putrinya dengan tanpa ragu. Stefani terhuyung dua langkah ke belakang, wajahnya tampak begitu terluka. Di saat yang sama, Enny menggenggam erat jari-jari Brian, lalu menatapku dengan tatapan yang menantang. Seketika aku sadar, Enny jelas mengenalku. Aku pun menarik putriku ke sisiku. “Stefani, ingat baik-baik. Mulai sekarang, kamu sudah nggak punya ayah lagi.” Mendengar itu, alis Brian tampak berkerut. Tak lama kemudian, ponselku kembali bergetar. [Yuky, aku bahkan sudah menjelaskan padamu. Aku hanya menjadi ayah untuk Sherwin sehari saja. Kenapa kamu nggak bisa berempati sedikitpun?] [Kalau aku mengakui identitasmu di depan semua orang, bagaimana Enny dan Sherwin menghadapi orang lain ke depannya? Bagaimana Sherwin bisa sekolah dengan tenang?] [Kalau bukan kamu yang memulai keributan ini, mana mungkin bisa sampai seperti ini? Salahmu sendiri sampai dihina begitu. Sekarang, cepat bawa Stefani pulang dan renungkan baik-baik!] Aku hanya bisa terkekeh sinis. Sepertinya dia sudah terlalu lama duduk di posisi manajer umum, sampai lupa siapa yang memberinya kekuasaan itu. Tiba-tiba, guru penyelenggara acara pun buru-buru datang melerai, sekaligus mengumumkan lomba lari seru-seruan akan segera dimulai. Ketika berjalan menuju lapangan, Enny berpapasan denganku. Senyuman penuh kemenangan terukir di wajahnya. “Wanita nggak berguna sepertimu memang pantas dibuang. Hanya wanita karir sepertiku yang cocok mendampingi pengusaha sukses seperti Brian. Kalau kamu tahu diri, cepatlah cerai dengannya!” Aku tertawa dingin, wanita karir? Baru saja bagian HRD mengirimiku laporan bahwa sebenarnya Enny hanyalah karyawan yang dipromosikan Brian lewat jalur belakang. Bahkan pekerjaan paling dasar pun dia tak mengerti. Sepertinya, Enny hanya tahu statusku sebagai istri Brian, tapi dia tak tahu bahwa akulah pengendali Grup Soi. Bagian HRD dan legal perusahaan sudah menyiapkan surat pemecatan, sekaligus surat perjanjian cerai dan sedang menuju ke sini. Aku sengaja tetap tinggal di sini. Aku ingin mempermalukan Brian dan Enny di depan semua orang! Ini semua demi diriku dan putriku! Brian dan Enny dibawa ke tribun VIP. Para guru dan orang tua sibuk menjilat, berlomba-lomba menyenangkan mereka. Brian duduk dengan dagu terangkat, terlihat penuh kesombongan dan wajahnya terlihat begitu puas. Sementara, Stefani sudah berdiri di garis start. Dia menoleh padaku dengan senyuman terpaksa. Aku pun melambaikan tangan memberi semangat. Namun tiba-tiba, terjadi musibah. Sherwin berlari ke jalur Stefani, lalu sengaja menjulurkan kaki dan membuat Stefani terjatuh keras ke depan! Aku bergegas menghampiri dan melihat wajah putriku yang menahan sakit sampai berkeringat dingin. Kedua lututnya terluka. Jantungku pun ikut sakit. Sementara, si biang kerok malah terlihat penuh kemenangan dan tertawa puas. “Siapa suruh kalian cari masalah! Biar kalian kapok!” Aku begitu marah dan ingin menamparnya, tapi Brian langsung menghadangku. Dia berdiri di depan sepasang ibu dan anak itu untuk melindunginya. “Cukup! Hanya candaan anak-anak, masa orang dewasa pun mau mempermasalahkannya?” Dadaku naik turun menahan emosi, “Candaan? Kamu buta?! Nggak lihat anakmu sudah kesakitan begitu?! Dia jelas-jelas sengaja melukainya!” Enny malah tersenyum tipis, lalu mengeluarkan segepok uang dari dompetnya dan melemparkannya ke tubuh Stefani. Tatapannya tertuju padaku, “Kalian repot-repot berakting seperti ini, tujuannya hanya untuk uang, ‘kan? Ini uang kompensasi untuk luka anakmu. Ambil uang ini dan pergi!” Para orang tua yang ikut menonton sejak tadi sudah tertawa terbahak-bahak. Mereka memandang aku dan putriku dengan tatapan penuh hinaan, sambil menjilat Brian dan Enny. “Lihat, inilah akibatnya kalau berani menyinggung orang berkuasa. Terluka pun hanya bisa ditelan saja!” “Mereka duluan yang cari masalah dengan keluarga Pak Brian. Ini memang salah mereka sendiri. Bahkan kalau sampai kakinya patah sekalipun, itu juga pantas mereka dapatkan!” “Istri Pak Brian sudah kasih uang ke kalian, jadi cepat pergi saja!” Stefani sedang dirawat oleh tim medis sekolah. Dia melirik ke arah Brian, seolah meminta pertolongan. Tapi, Brian hanya memalingkan wajah. Tatapan Stefani pun tampak tak bersinar lagi, lalu menggenggam tanganku erat-erat. “Ibu, benar katamu. Mulai hari ini, aku sudah nggak punya ayah lagi.” Bab 3 Mendengar ucapan Stefani, Brian pun mengernyit. Lalu, dia berbalik melemparkan tatapan penuh keluhan padaku. Aku mengalihkan pandangan darinya, menatap orang-orang yang sedang menjilat, sambil melontarkan kata-kata paling keji untuk mengutuk aku dan putriku. Aku menatap mereka dan menyebut satu per satu, “Keluarga Zakri yang berbisnis aluminium, Keluarga Liam yang berbisnis semen, Keluarga Salim yang berbisnis produk kedelai….” Saat aku menyebutkan nama mereka dengan tepat dan tenang, orang-orang itu langsung terdiam, karena semuanya benar. Grup Soi memang bergerak di banyak bidang dan mereka semua menggantungkan hidup pada naungan Grup Soi. Kemudian, aku pun dengan tegas mengumumkan, “Mulai hari ini, Grup Soi akan menghentikan kerja sama dengan kalian.” Mereka sempat terkejut, lalu tertawa terbahak-bahak, berdesakan mendekati Brian. “Semuanya lihat, perempuan ini benar-benar sudah gila! Barusan mengaku sebagai istri sah Pak Brian, sekarang lebih parah lagi, sok-sokan mengatasnamakan Grup Soi untuk memutuskan hubungan kerja sama.” “Cih! Kamu pikir kamu siapa?! Pak Brian bahkan nggak bicara apa-apa, kok malah kamu yang bertingkah? Ada yang punya nomor rumah sakit jiwa? Cepat bawa dia ke sana!” Raut wajah Brian semakin muram dan tatapannya juga menjadi tajam. Dia melangkah maju dan berbisik padaku, “Yuky, aku sudah menjabat lama di Grup Soi. Kamu pikir kamu masih pantas membuat keributan sebesar itu? Kamu pikir keputusan masih ada di tanganmu? Cepat pulang saja!” Aku hanya menatapnya lekat-lekat dan tak menjawab. Lalu mengalihkan pandangan pada orang-orang yang menertawakanku, termasuk Enny. “Selama ini kalian semua salah paham. Brian memang benar manajer umum di Grup Soi, tapi yang mengambil keputusan itu aku!” Enny sempat terkejut, lalu tertawa terbahak di pelukan Brian, sampai keluar air mata, “Dia benar-benar sudah gila.” “Aku sudah lama kerja di Grup Soi dan hanya tahu kalau suamiku itu manajer umum Grup Soi! Aku bahkan belum pernah melihat wanita gila ini! Jangan-jangan dia bahkan nggak tahu yang mana gerbang kantor Grup Soi?!” Aku hanya tersenyum tanpa menjawab, karena anak buahku akan tiba sebentar lagi. Berdasarkan jabatan Enny, dia hanya bisa naik ke lantai 10 gedung kantor. Mana mungkin pernah bertemu dengan diriku yang berada di lantai 35? Semua orang masih tertawa, hanya tatapan Brian yang sudah berubah jadi penuh kebencian. Aku tahu, itu karena dia sedang ketakutan. Tiba-tiba, ponsel putriku berdering. Begitu diangkat, dia langsung menjerit keras, seperti disambar sesuatu yang menyakitkan! Begitu dinyalakan pengeras suaranya, terdengar, “Masih kecil sudah licik! Beraninya berpura-pura kasihan untuk menggoda orang! Orang tua nggak berhasil, malah menyuruh anaknya beraksi. Menjijikkan sekali….” Aku buru-buru menutup telepon dan baru sadar kalau ada orang yang sudah menyebarkan kejadian hari ini ke internet. Terutama saat Stefani menatap ke arah Brian, bagian itu sengaja ditambah bumbu yang kejam. Ada juga yang membocorkan nomor telepon dan nama sekolah putriku! Aku mengalihkan pandangan ke arah Enny. Dia sedang tersenyum dan menantang ke arahku, bahkan dengan gerakan bibir, dia berkata, “Ini hadiah untukmu, suka nggak?” Putriku sudah mulai gemetaran, hujatan di internet terus berdatangan tanpa henti, bahkan telepon berisi perundungan online masuk satu per satu. Para orang tua yang ingin menjilat di depan Brian langsung mengerumuni kami berdua, melontarkan makian tajam dan kutukan yang kejam. “Lihat! Semua orang bisa menilai dengan mata kepala sendiri! Kalian berdua memang pantas membusuk di selokan!” “Beraninya ngaku-ngaku sebagai petinggi Grup Soi! Tunggu saja digugat sampai bangkrut! Bagian legal Grup Soi itu terkenal tegas. Jangan sampai nanti rumahnya disita untuk ganti rugi, menangis pun sudah nggak ada gunanya!” Ada yang melirik dengan wajah mengejek, sambil menyindir, “Bukannya itu sangat mudah? Ibu dan anak ini begitu murahan? Mereka tinggal naik ke ranjang pria mana saja, masalah sudah selesai, bukan?!” Pada saat bersamaan, mobil komersial mewah meluncur kencang. Seseorang yang melihatnya langsung berteriak, “Itu lambang Grup Soi, petingginya sudah datang!” Para penjilat itu pun semakin bangga, langkah demi langkah mendekat ke arahku dan putriku. Mulut mereka terus berkomat-kamit, seperti ular berbisa yang siap menerkam, “Habislah riwayat kalian! Pak Brian memang luar biasa, peringatannya bukan sekadar omong kosong, sekarang waktunya pembalasan! Memohon sekarang pun sudah nggak ada gunanya!” Ada pula yang mengangkat ponsel, tatapan matanya tertuju padaku dan putriku dengan penuh niat jahat. [Netizen sekalian, ini kelanjutan gosip heboh tentang sepasang ibu dan anak yang ingin menggoda bos besar. Cepat follow, aku bakal siaran langsung! Biar kalian lihat sendiri bagaimana konglomerat kalangan atas menyingkirkan wanita murahan!] Enny menatap Brian dengan penuh perasaan, wajahnya tampak begitu gembira. Namun, saat memandangku, ekspresi angkuh dan puas di wajahnya sama sekali tidak ditutupi. Di sampingnya, Sherwin pun berdiri dengan begitu sombong dan angkuh.