Đang tải thông tin quảng bá...
Mulai Sekarang, Aku Tak Menanti Lagi
Hal pertama yang dilakukan Lily Ginanjar setelah menghadiri pemakaman kakak laki-laki Yoga Ferdian adalah mengajukan gugatan cerai pada suaminya yang sudah menikahinya selama tiga tahun. Alasannya ada...
Chương (1)
第1章
Hal pertama yang dilakukan Lily Ginanjar setelah menghadiri pemakaman kakak laki-laki Yoga Ferdian adalah mengajukan gugatan cerai pada suaminya yang sudah menikahinya selama tiga tahun.
Alasannya adalah karena semua orang di Keluarga Ferdian menuntut Yoga meneruskan garis keturunan dua keluarga sekaligus, yaitu memberikan keturunan bagi kakaknya yang baru saja meninggal.
"Lily, orang tuaku mengancam akan gantung diri dan mogok makan untuk memaksaku melakukan ini. Aku nggak punya pilihan. Lagi pula, aku dan kakak iparku cuma akan menjalani program bayi tabung. Nggak akan terjadi apa-apa. Kenapa kamu begitu ngotot mengajukan gugatan cerai?"
Mendengar kata-kata Yoga, Lily pun memejamkan matanya. Hatinya terasa seperti ditusuk. Air mata yang sudah lama ditahannya, akhirnya jatuh juga. "Yoga, kita ini suami istri. Apa kamu nggak merasa kalau semua ini benar-benar konyol?"
Pria yang dicintainya akan memiliki anak dengan wanita lain. Betapa konyolnya itu!
Bab 1
Hal pertama yang dilakukan Lily Ginanjar setelah menghadiri pemakaman kakak laki-laki Yoga Ferdian, adalah mengajukan gugatan cerai pada suaminya, yang sudah menikahinya selama tiga tahun.
Alasannya adalah karena semua orang di Keluarga Ferdian menuntut Yoga meneruskan garis keturunan dua keluarga sekaligus, yaitu memberikan keturunan bagi kakaknya yang baru saja meninggal.
"Lily, orang tuaku mengancam akan gantung diri dan mogok makan untuk memaksaku melakukan ini. Aku nggak punya pilihan. Lagi pula, aku dan kakak iparku cuma akan menjalani program bayi tabung. Nggak akan terjadi apa-apa. Kenapa kamu begitu ngotot mengajukan gugatan cerai?"
Mendengar kata-kata Yoga, Lily pun memejamkan matanya. Hatinya terasa seperti ditusuk. Air mata yang sudah lama ditahannya, akhirnya jatuh juga. "Yoga, kita ini suami istri. Apa kamu nggak merasa kalau semua ini benar-benar konyol?"
Pria yang dicintainya, akan memiliki anak dengan wanita lain. Betapa konyolnya itu!
Melihat Lily menangis, Yoga pun merasa panik untuk sesaat. Tepat di saat Yoga hendak angkat bicara untuk menghibur Lily, ponselnya tiba-tiba saja berdering.
Baru saja menjawab panggilan itu, sebelum Yoga bisa bersuara, sudah terlebih dahulu terdengar suara tajam dari ujung telepon. "Yoga, cepat pulang! Kakak iparmu menelan sebotol pil tidur dan mencoba bunuh diri!"
"Apa?!"
Setelah menutup telepon, sebelum Lily bisa memahami apa yang terjadi, mobil sudah berhenti di pinggir jalan.
Yoga terlihat cemas. "Lily, pergilah dulu ke area istirahat dan tunggu aku di sana. Aku pergi sebentar dan akan segera kembali."
Lily menatap hujan deras di luar dan tetap diam tak bergerak. Detik berikutnya, Yoga buru-buru membuka sabuk pengaman dan mendorong Lily keluar dari mobil. "Lily, ngambek sekalipun juga harus tahu waktu. Ini masalah hidup dan mati. Kenapa kamu selalu egois?"
Lily kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam genangan lumpur. Seluruh pakaiannya basah kuyup.
Menyaksikan bagian belakang mobil yang menjauh, hati Lily terasa seperti dipanggang di atas api yang membara. Seketika, Lily teringat masa lalu saat Yoga pernah tiga kali menyelamatkan dirinya dari bahaya.
Yang pertama kalinya, ketika Lily digosipkan mesum di sekolah dan dihujat oleh semua orang. Yoga berhasil melacak pelakunya dan membersihkan nama Lily.
Yang kedua kalinya, ketika Lily menyewa apartemen dan hampir dilecehkan oleh pemilik apartemen yang kejam. Yoga datang memukul habis-habisan si pelaku, lalu membantu Lily pindah malam itu juga.
Yang ketiga kalinya, saat musim hujan, Lily bertemu penderita gangguan jiwa dan diceburkan ke danau. Saat Lily hampir meregang nyawa, Yoga-lah yang terjun ke danau dan menyelamatkannya.
Semua orang tahu, jika Lily adalah nyawa Yoga.
Dari pacar hingga menjadi istri, Lily selalu percaya jika mereka akan seperti ini selamanya. Namun kini, pernikahan baru berjalan tiga tahun, kenapa bisa menjadi seperti ini…
Lily berjalan di trotoar, di tengah hujan deras yang mengguyur. Pakaiannya yang basah kuyup oleh lumpur terus meneteskan air. Rambutnya yang tadinya diikat, kini berantakan dan menempel di leher. Sementara itu, tumit kakinya sudah penuh luka karena tergesek sepatu hak tinggi.
Dini hari, barulah Lily sampai di rumah.
Tepat di saat Lily hendak membuka pintu, dia mendengar Yoga sedang menelepon.
"Kak Yoga, apa kamu benar-benar mau melakukan program bayi tabung bersama Kak Nadine? Impianmu dari kecil akhirnya sekarang terwujud juga, hahaha."
"Benar, Kak Yoga. Dari kecil, kamu sudah menyukai Kak Nadine. Sayangnya, Kak Nadine menyukai kakakmu. Kami semua mengira kamu nggak bakal punya kesempatan dalam hidup ini. Tapi, ternyata nggak begitu. Ngapain pakai program bayi tabung? Sekalian saja, jadikan kepura-puraan ini sungguhan."
"Diam!" Yoga memotong ucapan mereka. Matanya dipenuhi kelembutan. "Kak Nadine sedang sedih. Jangan bicara sembarangan yang bisa menyakitinya."
"Tapi... kalau aku dan Kak Nadine punya anak nanti, semoga anak itu lebih mirip dia."
"Hahaha." Suara tawa riuh langsung meledak dari ujung telepon. "Kalau dari awal tahu hasilnya begini, untuk apa Kak Yoga repot-repot merancang gosip mesum di sekolah, drama pemilik apartemen yang jahat dan skenario orang gila hanya untuk menipu Lily agar masuk perangkap? Mana mungkin pengganti bisa lebih memikat dari yang asli?"
Tiba-tiba saja, Lily merasa seluruh dunia berputar. Dia mencengkeram gagang pintu erat-erat, berusaha sekuat tenaga agar tubuhnya tidak roboh.
Ternyata, semuanya seperti itu… Ternyata begitu…
Pantas saja, setelah teman sekelas yang menyebarkan gosip mesum itu minta maaf, Lily langsung mendengar kabar ada orang kaya yang membiayai dia untuk belajar di luar negeri.
Pantas saja setelah pemilik apartemen yang jahat itu dipukuli, dia bukan hanya tidak melapor ke polisi, tetapi malah dengan patuh mengembalikan uang deposit dan uang sewa apartemen.
Pantas saja, ketika Lily diselamatkan Yoga dari danau, tidak ada satu pun berita di media sosial yang mengumumkan kejadian tersebut.
Pantas saja, ketika pertama kali bertemu dengannya, semua anggota Keluarga Ferdian mengatakan Lily mirip dengan Nadine Baskoro. Bahkan, mereka juga mengatakan selera anggota Keluarga Ferdian itu hampir sama.
Ternyata, semua itu sudah direncanakan oleh Yoga.
Hati Lily terasa seperti dicengkeram erat oleh sebuah tangan. Sakitnya membuat Lily sulit bernapas dan air mata pun menetes satu per satu tanpa bisa dikendalikan.
Ponsel di tangan Lily tiba-tiba berdering.
Lily pun berjalan ke samping dan menjawabnya seperti mesin, "Lily, apa kamu nggak mau mempertimbangkan lagi maestro ukiran kayu yang kurekomendasikan? Itu pasti pilihan yang tepat. Tujuh hari lagi, batas waktu terakhir untuk mempertimbangkannya. Kamu begitu berbakat, kenapa tidak mau memanfaatkannya? Aku…"
Mendengarkan kata-kata gurunya, Lily menatap pintu yang tak jauh di depannya, lalu perlahan mengusap air mata di ujung matanya dengan jarinya.
"Pak Hendra, tolong jangan katakan apa-apa lagi. Aku akan pergi."
Bab 2
"Benarkah?!"
Mendengar suara gurunya tiba-tiba meninggi di ujung telepon, Lily pun mencengkeram ponselnya erat-erat. Rasa getir mendadak membuncah di dalam dirinya.
Sebelumnya, dia benar-benar terlalu bodoh. Maestro ini adalah figur paling terkemuka di dunia ukiran kayu. Setiap ukiran kayu hasil tangannya selalu terjual dengan harga fantastis. Jumlah orang yang ingin menjadi muridnya tidak terhitung banyaknya.
Namun, hanya karena satu kalimat dari Yoga, "Lily, aku nggak suka hubungan jarak jauh." Lily pun rela melepaskan kesempatan berharga yang telah diperjuangkan keras oleh gurunya untuk dirinya.
Dahulu, Lily mengira Yoga tidak bisa hidup tanpa dirinya. Hati Lily penuh dengan kebahagiaan. Bahkan, saat melepaskan peluang emas itu, Lily tidak merasa menyesal sedikit pun.
Sekarang, jika dipikir-pikir, yang sebenarnya tidak bisa dilepaskan oleh Yoga adalah wajahnya yang agak mirip dengan wajah Nadine.
"Guru, tujuh hari lagi, aku akan datang tepat waktu."
Setelah menutup telepon, Yoga juga sudah selesai menelepon.
Lily baru saja masuk rumah dan hendak naik ke atas, ketika dia mendengar Yoga berkata, "Demi mempersiapkan kehamilan dengan lebih baik, mulai hari ini, Nadine... eh, Kak Nadine, akan tinggal di kamar tamu rumah kita."
Setelah mengatakan itu, Yoga merasa ada yang tidak tepat. Kemudian, dia pun buru-buru menambahkan, "Jangan salah paham. Aku juga nggak bisa berbuat apa-apa. Kak Nadine sedang dalam suasana hati yang buruk dan pikirannya juga kacau. Membiarkannya sendiri di rumah bisa berbahaya. Ini juga permintaan orang tuaku."
Langkah Lily terhenti sejenak. Dia menatap mata Yoga yang berbinar-binar. Kemudian, Lily pun tersenyum tipis dengan sedikit tawa. "Aku mengerti."
Apa sebenarnya yang ingin disembunyikan Yoga?
Mendengar suara tenang Lily, hati Yoga tiba-tiba dirasuki perasaan aneh. Ketika pandangannya menumbuk pakaian Lily yang basah kuyup, Yoga pun baru teringat jika dia sudah berjanji untuk menjemput Lily di area istirahat. Namun, karena Nadine membuat keributan dan sulit ditenangkan, Yoga pun hanya memusatkan perhatian untuk menenangkan emosi Nadine dan benar-benar lupa.
Yoga hendak mengejar Nadine untuk meminta maaf. Namun, baru melangkahkan kaki, sesosok tubuh dengan cepat menghambur ke dalam pelukannya.
"Yoga, barusan aku memimpikan kakakmu. Dia menyalahkanku kenapa aku belum pergi menemuinya. Harusnya aku nggak hidup. Harusnya aku mati. Kenapa kamu menghalangiku? Kenapa kamu nggak membiarkanku mati?"
Setelah berkata seperti itu, Nadine kembali berusaha berlari keluar.
Melihat Nadine seperti itu, hati Yoga pun benar-benar tidak bisa memikirkan hal lain. Yoga memeluk Nadine erat-erat. Matanya penuh dengan rasa sakit dan iba. "Itu cuma mimpi buruk, cuma mimpi. Mimpi itu biasanya kebalikan dari kenyataan."
Melihat kedua sosok itu berpelukan, Lily pun memejamkan mata sejenak, lalu membalikkan badan dan naik ke lantai atas.
Seperti yang sudah diduga, malam itu Yoga tidak kembali.
Memanfaatkan waktu itu, Lily pun mengeluarkan kopernya dan mulai mengemasi barang-barangnya satu per satu.
Hingga fajar menyingsing, Lily baru selesai menyimpan kopernya kembali ke dalam lemari dan keluar dari kamar. Saat melewati kamar sebelah, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di dalam kamar, Yoga sedang duduk di tepi tempat tidur Nadine. Tatapan matanya begitu lembut, jauh lebih lembut dari apa pun. Ekspresi seperti ini belum pernah diperlihatkan Yoga di hadapan Lily sebelumnya.
Tiba-tiba, Lily teringat kembali potongan-potongan kenangan dari tahun-tahun yang telah berlalu.
Tahun pertama mereka bersama, saat Lily demam tinggi sampai 39 derajat dan sangat membutuhkan perawatannya, Yoga malah pergi karena sebuah panggilan telepon. Katanya, ada pekerjaan mendesak. Namun dalam panggilan itu, Lily mendengar suara Nadine.
Tahun kedua mereka bersama, saat Lily menemani Yoga negosiasi pekerjaan dan dipaksa minum berbotol-botol anggur, Yoga malah pergi setelah menerima sebuah pesan. Dia membiarkan Lily dipaksa minum sampai lambungnya berdarah. Dalam percakapan pesan itu, Lily melihat foto profil Nadine.
Tahun ketiga mereka bersama, tahun keempat, tahun kelima…
Setiap tahunnya, kejadian serupa terus terulang.
Lily mengira semua itu hanyalah kebetulan.
Namun sekarang, ternyata semua ada polanya.
Lily tidak kuasa menahan air matanya. Namun, dia segera menyekanya secepat mungkin.
Tujuh hari lagi, semuanya akan berakhir.
Saat sarapan, kedua orang itu sudah tidak ada. Lily melangkahkan kaki menuju studio pribadinya. Baru saja mengambil pisau ukir, ponsel Lily sudah berbunyi. Ternyata itu pesan dari sahabat baiknya, Amanda Himawan.
[Lily, apaan yang barusan kulihat ini? Kenapa Yoga bersama kakak iparnya ada di Poli Kandungan?]
[Bukankah kakaknya Yoga barusan meninggal? Apa yang terjadi?]
Bersamaan dengan itu, Amanda juga mengirimkan beberapa foto dari berbagai sudut.
Dalam foto itu, Yoga mendukung Nadine dan terlihat begitu mesra. Siapa pun yang melihatnya pasti mengira mereka adalah pasangan suami istri yang penuh kasih.
"Srrttt…"
Pisau ukir di tangan Lily tergelincir di atas kayu di depannya dan tanpa sengaja menggores tangan Lily.
Rasa sakit yang terlambat dirasakan pun muncul. Tetes demi tetes darah mengalir dan mendarat tepat di atas ukiran kayu di dekat kaki Lily.
Lily memandang ukiran kayu di dekat kakinya. Itu adalah ukiran yang dia buat menyerupai wajah Yoga.
Waktu itu, Yoga bahkan sempat menggoda dan mengolok-olok Lily, "Sampai segitunya nggak bisa jauh dariku?"
"Tentu. Saat aku kerja sekalipun, kamu juga harus tetap di sisiku."
Sekarang, menatap ukiran kayu yang sudah ternoda darah itu, Lily tanpa ragu mengambilnya, melangkah keluar dan membuangnya ke tempat sampah.
Dia tidak akan pernah lagi bergantung pada Yoga.
Bab 3
Ketika Yoga kembali bersama Nadine, hari sudah malam. Melihat Lily yang sedang makan malam, tubuh Yoga pun menegang untuk sesaat.
Dahulu, tidak peduli selarut apa pun, Lily akan selalu bersikeras menunggu Yoga untuk makan bersama. Yoga sudah berkali-kali menasihatinya, tetapi Lily tetap saja menolak.
Kini, melihat Lily makan malam sendirian, Yoga pun merasa ada yang aneh di dalam hati. Saat hendak menghampirinya, seseorang di sampingnya menariknya kembali.
"Yoga, soal rencana perjalanan kita besok, perlukah kita memberi tahu Lily?"
Mendengar ucapan Nadine, Yoga pun langsung berkata, "Lily, dokter bilang beberapa hari ini suasana hati Kak Nadine sangat buruk. Itu bisa memengaruhi hasil bayi tabung. Dia butuh relaksasi. Kak Nadine suka menyelam. Ayo, kita pergi bersama besok."
Lily berdiri dan berjalan naik ke lantai atas. "Kalian saja yang pergi."
Dia tidak punya waktu untuk ikut-ikutan dalam sandiwara mereka.
Baru saja masuk kamar, Yoga langsung menyusul dan menarik tangan Lily dengan kasar. "Lily, aku tahu kamu keberatan soal program bayi tabung. Tapi, Kak Nadine itu nggak salah. Kenapa kamu harus marah padanya?"
Lily menunduk. Jari tangannya yang terbalut perban kembali mengeluarkan darah karena cengkeraman Yoga.
Dia hanya mengucapkan satu kalimat penolakan, tetapi Yoga sudah buru-buru membela wanita yang dicintainya. "Yoga, dia itu kakak iparmu. Istri yang terdaftar di buku nikah kakakmu."
Hanya karena satu kalimat itu saja, Yoga langsung bereaksi keras seperti kucing yang ekornya terinjak. Dia melepaskan tangan Lily dengan kasar. "Lily, hatimu benar-benar jahat. Aku sudah bilang itu program bayi tabung. Kami sama sekali nggak melakukan apa-apa. Nggak ada apa-apa."
"Orangtuaku cuma ingin meninggalkan keturunan untuk kakakku, supaya di masa depan ada yang mendoakannya dan agar dia nggak mati tanpa penerus. Aku nggak bisa diam melihat orangtuaku sekarat, atau melihat kakakku nggak punya anak. Kenapa kamu nggak bisa sedikit saja memahami posisiku?"
Lily tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap Yoga yang terus berusaha meyakinkan dirinya.
Akhirnya, karena merasa bersalah, Yoga pun melepaskan tangannya dan berbalik pergi.
Lily membuka perban di jarinya dan darah langsung mengucur deras.
Di masa lalu, ada goresan kecil di tangan Lily saja, Yoga akan langsung menyadarinya. Namun, sekarang, luka sebesar ini pun sama sekali tidak disadari Yoga.
Apa sebenarnya posisi Nadine di hati Yoga, sebagai kakak ipar atau lebih dari itu, mungkin hanya Yoga sendiri yang tahu.
Keesokan paginya, meski Lily menolak, Yoga tetap memaksanya naik ke mobil. Yoga dan Nadine duduk di kursi depan, meninggalkan Lily sendirian di bangku belakang.
Di dalam mobil, Yoga biasanya pendiam. Dahulu, saat Lily mengajaknya bicara, Yoga selalu menolak dengan alasan itu tidak aman saat menyetir.
Namun sekarang, Yoga dan Nadine tertawa, juga mengobrol bersama.
Di tepi pantai, keduanya sudah berganti baju selam dan masuk ke air.
Setengah jam kemudian, Nadine tiba-tiba muncul ke permukaan. "Lily, kamu nggak ikut menyelam?"
Lily menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku nggak bisa berenang."
"Oh, begitu…"
Tiba-tiba, Nadine meraih tangan Lily. "Lily, di dalam air sangat menyenangkan. Kamu sendirian di atas pasti sangat membosankan. Ayo ikut turun bersama."
Detik berikutnya, Nadine menarik Lily hingga terjatuh ke dalam air.
Lily terkejut. Refleks, dia mencoba meraih Nadine yang berada di sampingnya. Namun, ternyata Nadine sudah menghilang.
Gelombang air laut yang dingin mengalir deras, menutupi mulut dan hidung Lily. Tubuh Lily tidak bisa dikendalikan dan mulai tenggelam.
"Tolong, tolong. Yoga, Yoga."
Lily meronta-ronta mati-matian sambil berteriak. Dari kejauhan, tampak sosok yang dengan cepat berenang ke arahnya dengan wajah cemas. "Lily, jangan takut. Aku datang."
Detik berikutnya, terdengar suara lain yang dipenuhi rasa takut.
"Yoga, tolong aku. Huhuhu, kakiku kram."
Begitu mendengar suara itu, tubuh Yoga langsung berhenti di tempat dan menoleh ke arah lain.
Di tengah laut, Nadine tampak memukul-mukul permukaan laut dengan panik. Kakinya tidak bergerak dan tubuhnya perlahan-lahan tenggelam ke dalam air.
Dalam pandangan Lily yang makin kabur, Yoga tampak menoleh sekilas padanya. Setelah berpikir sesaat, Yoga pun lalu berbalik dan bergegas menghampiri Nadine.
Melihat punggung Yoga yang pergi tanpa ragu, kedua tangan Lily pun kehilangan tenaga. Tubuh Lily perlahan tenggelam. Lily memejamkan mata. Seulas senyum getir tersungging di bibirnya.
Sebenarnya, apa lagi yang masih dia harapkan?
Bab 4
Lily terbangun dari mimpi buruk.
Air laut yang tidak terhitung jumlahnya menerjang ke arahnya. Lily tidak bisa menghindar dan hanya bisa pasrah membiarkannya menenggelamkan dirinya.
Begitu Lily membuka mata, sesosok tubuh bergegas menghampirinya. "Lily, kamu nggak apa-apa? Kamu membuatku takut setengah mati."
Lily melihat Yoga di hadapannya. Sebelum Lily sempat berkata-kata, Yoga sudah kembali angkat bicara, "Jangan salahkan Kak Nadine. Dia cuma berniat mengajakmu turun ke air untuk bersenang-senang. Kak Nadine nggak menyangka kamu akan begitu ketakutan. Malah karena ketakutan, kakinya sendiri sampai kram dan juga hampir ikut celaka. Jadi, anggap saja ini sebagai kompensasi untukmu."
Tak disangka begitu terbangun, yang pertama kali didengar Lily justru kata-kata seperti itu.
Hati Lily dipenuhi kepedihan. Matanya menatap tajam Yoga yang ada di hadapannya. "Yoga, aku hampir mati. Kamu paham nggak sih?"
Bagaimana mungkin Yoga bisa mengatakan hal seperti itu?
Yoga mengerutkan kening. "Kenapa kamu harus begitu emosional? Lagian kamu juga nggak mati, 'kan? Kak Nadine juga hampir tenggelam, apa itu masih belum cukup? Apa kamu mau dia menebusnya dengan nyawanya?"
"Masalah sepele saja kamu permasalahkan. Dulu kamu nggak seperti ini. Marah sekalipun juga harus ada batasnya, 'kan?"
Mempermasalahkan masalah sepele…
Benar, dia memang belum mati. Jadi, itu dianggap masalah sepele.
Bahkan, meski dia benar-benar mati, kemungkinan besar Yoga juga akan menganggapnya masalah sepele.
Lily merasa semua itu benar-benar konyol. Dia memalingkan wajah dan tidak ingin melihat Yoga lagi. "Aku mau istirahat."
"Oke, pikirkan sendiri baik-baik." Yoga pun pergi begitu saja tanpa berniat tinggal lebih lama.
Dua hari berikutnya, Yoga tidak menampakkan diri. Saat perawat datang untuk memasang infus. Perawat itu pun menghela napas kagum "Pasangan di kamar sebelah itu romantis sekali, ya. Istrinya cuma hampir tenggelam saja, tapi suaminya sudah panik luar biasa. Sebentar juga nggak mau berpisah. Melihatnya saja, bikin aku jadi ingin jatuh cinta juga."
Lily berjalan keluar sambil berpegangan pada tiang infus. Seperti yang sudah dia duga, di kamar sebelah, Lily melihat Yoga sedang duduk di tepi ranjang. Yoga memotong apel menjadi potongan-potongan kecil, lalu menyuapkannya satu per satu ke mulut Nadine.
Meski sudah mempersiapkan diri secara mental, hati Lily tetap terasa seperti diremas-remas oleh tangan tak kasat mata.
Lily berbalik hendak pergi. Namun, baru saja menoleh ke samping, matanya langsung terpaku pada benda yang dipegang Nadine. Seketika, tubuh Lily langsung mematung di tempat.
Tanpa pikir panjang, Lily langsung menerobos masuk ruang perawatan. Dia merebut benda itu dari tangan Nadine. "Ini ukiran kayu yang kusiapkan untuk lomba. Dari mana kamu mendapatkannya?"
Nadine terkejut dengan kemunculan Lily yang tiba-tiba. Tubuhnya spontan meringkuk masuk ke dalam pelukan Yoga.
"Yoga…"
Yoga juga tidak menyangka jika Lily tiba-tiba akan muncul. Dia pun buru-buru merangkul Nadine ke dalam pelukannya dan mengerutkan kening. Wajah Yoga tampak tidak senang dan dia pun berkata dengan santai, "Itu aku yang ambil. Kak Nadine melihatnya dan dia bilang dia menyukainya. Jadi, aku berikan padanya untuk main-main. Memangnya nggak boleh?"
"Kamu kan hebat, tinggal buat satu lagi saja. Kenapa harus marah-marah di sini sampai bikin Kak Nadine ketakutan?"
"Tinggal buat satu lagi?"
Lily menatap Yoga yang ada di depannya. "Kamu tahu betul seberapa seriusnya aku menyiapkan diri untuk lomba ini. Aku mengerjakannya selama empat bulan penuh."
Demi ukiran kayu itu, hampir setiap hari Lily menghabiskan waktunya di studio. Bahkan, saat tubuhnya kelelahan sampai pingsan, yang ada di pikiran Lily hanyalah bagaimana cepat-cepat menyelesaikannya.
Bagaimana Yoga bisa bicara begitu entengnya?
Raut wajah Yoga tampak berubah. "Itu cuma lomba saja, 'kan? Paling banter juga kamu nggak bisa ikut. Kamu sudah memenangkan begitu banyak penghargaan. Nggak ikut yang satu ini juga nggak ada bedanya."
Lily menggenggam erat ukiran kayu di tangannya. Dia menunduk, menatap ukiran kayu yang sudah berubah, hingga tidak lagi dikenali bentuk aslinya itu. Pandangannya pun mulai mengabur.
Lily tidak bisa lagi menahan diri. "Yoga, sebenarnya apa arti diriku bagimu?"
"Apa kamu pernah benar-benar mencintaiku meski hanya sedikit saja? Atau sebenarnya, yang kamu cintai sejak awal itu memang orang lain?"
Suara pertengkaran mereka cukup keras hingga menarik perhatian orang-orang di luar yang mulai berkumpul. Yoga tiba-tiba berdiri dari tempat tidur. "Lily, apa yang kamu bicarakan? Kurasa kamu sudah jadi gila. Ayo, aku bawa kamu ke dokter. Kalau kamu nggak malu, aku yang malu!"
Tepat di saat Yoga hendak menyentuhnya, Lily tiba-tiba menepis tangan Yoga dengan keras.
"Jangan sentuh aku!"
Jarum infus di punggung tangan Lily terlepas dan darah pun mulai mengalir deras.
Melihat darah mengucur dari tangan Lily, Yoga bergegas maju untuk mencoba menekan luka Lily. "Lily, kamu…"
"Aku nggak apa-apa."
Lily menekan lukanya sendiri tanpa ekspresi. Dia membiarkan kedua tangannya berlumuran darah. "Kalian lanjutkan saja."
Bab 5
Di luar rumah sakit, Lily tidak tahu sudah berapa lama dia berjalan.
Pukul tiga dini hari, Lily kembali ke rumah. Dia tidak menyalakan lampu. Saat hendak membuka pintu kamar, terdengar suara tangisan dari dalam.
"Yoga, yang kita lakukan ini salah. Semua ini salahku. Kita nggak bisa terus seperti ini."
Di atas tempat tidur, pakaian keduanya sudah acak-acakan. Wajah Nadine memerah. Tubuhnya menguarkan bau alkohol. "Kamu adiknya. Aku nggak boleh melakukan ini. Kita harusnya pakai program bayi tabung. Ya, cuma program bayi tabung."
Setelah berkata seperti itu, Nadine berusaha keras untuk bangkit dari tempat tidur.
Baru saja bergerak sedikit, Yoga yang berada di belakangnya langsung menarik Nadine dengan kuat. Segala emosi yang selama ini ditekan Yoga hampir meledak keluar. Namun, ketika hendak bicara, Yoga kembali menahannya. "Kak Nadine, sebenarnya aku…"
Di ambang pintu, Lily menundukkan pandangannya. Lily tahu, Yoga tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Nadine adalah kakak ipar Yoga. Sementara, Yoga adalah adik ipar Nadine.
Selain itu, Yoga sendiri juga sudah berkeluarga.
Yoga pun hanya bisa menahan semua perasaannya. Menekannya sampai ke batas maksimal. "Dokter pernah bilang, meski sekarang tingkat keberhasilan bayi tabung cukup tinggi, tapi kalau ingin hamil dalam waktu singkat, kemungkinan hamil alami akan lebih besar. Kita berdua masih muda…"
Yoga memeluk pinggang Nadine dengan lembut. "Anggap saja, aku ini kakakku."
Nadine menatapnya, lalu bergumam pelan, "Yoga…"
Tak lama kemudian, suara napas terengah-engah terdengar dari dalam kamar.
Lily ingin melangkah pergi. Namun, entah kenapa tubuhnya justru membeku di tempat dan tidak bisa bergerak sedikit pun.
Setiap suara dari dalam kamar bagaikan jarum tajam yang menusuk langsung ke dalam organ-organ tubuhnya, membuat Lily merasa sakit sampai seakan ingin mati.
Akhirnya, tepat di detik semuanya berakhir, dada Lily terasa seperti dilanda gelombang emosi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Lily bergegas berlari menuruni tangga, keluar dari kamar dan berlutut di pinggir jalan. Seakan-akan, Lily ingin memuntahkan semua yang ada di dalam tubuhnya.
Lily muntah berkali-kali, hingga tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan, hingga air matanya jatuh satu per satu.
Dalam pandangan yang kabur oleh air mata, Lily seolah kembali ke hari pernikahannya dengan Yoga. Orang tua Lily sudah lama tiada. Bahkan, saat menikah juga tidak ada yang mengantarnya.
Yoga-lah yang dahulu berdiri teguh di sisinya dan berkata, "Lily, aku akan memperlakukanmu dengan baik seumur hidupku dan mencintaimu dengan sepenuh hati. Selain kamu, nggak akan ada orang lain lagi."
Pada saat itu, Lily terharu hingga menangis. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya.
Namun kini, baru tiga tahun menikah, semua janji-janji itu tidak lagi berarti apa-apa.
Saat fajar menyingsing, Lily menghapus air matanya. Kemudian, dia memanggil taksi dan pergi ke kantor kedutaan untuk mengurus visa.
Ketika kembali ke rumah, semuanya sudah kembali seperti semula. Lily berpura-pura tidak melihat hubungan ambigu antara mereka berdua.
Baru saja kembali ke kamar, Lily melihat koper miliknya sudah dikeluarkan. Langkah kaki Lily pun terhenti. Sebelum Lily sempat berkata apa-apa, Yoga sudah berjalan mendekat dan bicara dengan agak canggung.
"Dokter bilang, kalau mau ikut program bayi tabung, harus terlebih dulu memulihkan tubuh, juga minum obat untuk menstabilkan kondisi. Kak Nadine orang yang ceroboh dan suka lupa. Jadi, aku ingin menjaganya dari dekat. Kamu…"
"Aku melakukan semua ini demi segera menyelesaikan tugas yang diberikan orang tuaku. Hanya dengan membuat Kak Nadine cepat hamil, barulah kita bisa memulai hidup kita berdua dengan tenang."
Mendengar alasan konyol dari Yoga, Lily pun tersenyum tipis. Repot sekali Yoga memikirkan alasan seperti itu.
"Oke." Lily pun akhirnya setuju.
Yoga langsung memeluk Lily dengan gembira. "Aku tahu Lily-ku pasti akan setuju. Lily memang yang paling lembut dan perhatian."
Mencium aroma parfum asing yang bukan miliknya dari tubuh Yoga, Lily pun menahan rasa mual yang menyeruak di dadanya. Lalu, dengan cepat dia mendorong Yoga agar menjauh dan mulai membereskan barang-barangnya satu per satu.
Awalnya, Lily khawatir jika memindahkan semua barang akan menimbulkan kecurigaan. Namun, sekarang Lily malah punya alasan yang sah untuk melakukannya.
Melihat Lily mengemasi semua barangnya, Yoga bergegas maju. Dia ingin bicara, tetapi ragu. "Kenapa kamu ambil semua barang? Kak Nadine cuma pindah sementara, nanti…"
Lily merapikan perlengkapan mandi terakhirnya, lalu menoleh sambil tersenyum. "Kalau sewaktu-waktu aku butuh sesuatu, pasti aku akan merasa kurang nyaman kalau masuk ke sini."
Bab 6
Beberapa hari berikutnya, Lily tidur di kamar tamu. Begitu bangun, dia langsung pergi ke studionya.
Sang maestro sangat menekankan bakat murid-muridnya. Tiap kali datang, dia selalu mengharuskan mereka membawa karya terbaru. Waktu begitu sempit, sementara tugas juga berat.
Namun entah kenapa, belakangan ini Lily selalu merasa sangat lelah dan mengantuk. Sering kali ketika sedang memahat, tanpa sadar Lily tertidur.
Lily punya firasat yang tidak baik.
Keluar dari rumah sakit, Lily menatap hasil laporan medis yang datanya sudah jauh melampaui batas normal. Kaki Lily pun terasa lemas dan tubuhnya lunglai saat duduk di kursi.
Bagaimana ini bisa terjadi…
Ketika menikah, mereka sangat berharap untuk memiliki anak.
Namun, tak peduli dengan cara apa pun yang mereka coba, Lily tetap tidak bisa hamil.
Belakangan, karena Yoga khawatir Lily menjadi terlalu tertekan, Yoga pun mengatakan pada Lily untuk membiarkan semuanya berjalan apa adanya.
Selama ini, Lily mengira sudah tidak ada lagi harapan. Namun sekarang…
Tangan Lily mengusap perutnya. Matanya memerah. 'Nak, kamu datang di waktu yang nggak tepat.'
Ponsel di saku Lily berdering. Lily mengangkatnya. Terdengar suara riang di ujung telepon, "Lily, cepat ke sini. Ada kabar baik."
Begitu sampai di rumah mertuanya dan turun dari mobil, Lily langsung ditarik masuk.
Semua orang menunjukkan wajah bahagia. "Lily, Nadine hamil."
Lily langsung menoleh tajam ke arah dua orang yang duduk di sofa. Mustahil…
Detik berikutnya, terdengar suara Nadine yang berkata dengan malu-malu, "Bu, jangan asal bicara. Ini baru beberapa hari. Belum pasti. Aku bahkan belum periksa ke rumah sakit."
"Omong kosong. Mata Ibu ini nggak buta. Ibu sudah melahirkan dua anak. Masa masih bisa salah?"
Mendengar ucapan ibu mertuanya, Nadine langsung menundukkan kepalanya dengan malu, lalu memegangi perutnya.
"Lily, kakak iparmu sedang hamil. Nanti, kamu harus jaga dia baik-baik. Lagi pula, ini juga…"
Ibu mertuanya tidak melanjutkan kata-katanya. Namun, Lily sudah mengerti. Anak itu bukan hanya anak Nadine, tetapi juga anak suaminya, Yoga.
Yoga buru-buru menjawabnya, "Ibu, bukankah Ibu tahu Lily itu orang seperti apa? Lily pasti akan merawat Kak Nadine dengan baik."
"Ya, ya."
Seluruh keluarga larut dalam kebahagiaan karena kehamilan Nadine. Tak satu pun yang peduli pada perasaan Lily.
Lily tahu dia tidak bisa pergi saat ini. Oleh karena itu, Lily langsung naik ke lantai atas.
Setelah tidur siang, tiba-tiba perut Lily terasa mual. Lily pun berlari ke kamar mandi dan muntah tanpa henti.
"Lily, kamu kenapa?"
Tiba-tiba, terdengar suara seseorang dari belakang.
Lily menoleh dan melihat Nadine yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. Dia pun menjawab dengan nada dingin, "Nggak apa-apa."
"Lily, aku tahu kamu selalu menyalahkanku. Tapi, ini bukan keinginanku. Semua ini permintaan ayah dan ibu mertua." Nadine mengelus perutnya. "Selain itu... ini juga karena Yoga bersedia."
Lily tidak ingin membahas hal ini dengan Nadine. Setelah berkumur dan mengelap sudut mulutnya, Lily pun langsung berjalan keluar.
"Aku tahu."
Saat mereka berpapasan, Nadine tiba-tiba menarik tangan Lily dengan kasar. Wajahnya terlihat bengis. "Lily, anak ini adalah satu-satunya anak yang kumiliki. Nggak ada yang boleh merebut kasih sayang darinya."
Lily tidak mengerti maksud Nadine dan hendak pergi. Namun, tiba-tiba dia melihat hasil pemeriksaannya ada di tangan Nadine.
Sebuah firasat buruk muncul di hati Lily. Lily pun segera menepis tangan Nadine, menutupi perutnya dan mundur beberapa langkah.
"Kamu mau apa?"
Melihat Lily menutupi perutnya, kecurigaan Nadine pun makin terbukti. "Lily, kamu nggak seharusnya hamil di saat seperti ini."
"Aku nggak bisa membiarkan siapa pun merebut kasih sayang Yoga dan anakku."
Jantung Lily berdegap kencang. Dia pun berbalik dan berlari keluar sambil berteriak keras.
"Yoga, Yoga."
Nadine mengejarnya dari belakang. "Jangan teriak-teriak. Barusan aku bilang mau manisan buah dan seluruh keluarga pergi membelikannya untukku."
"Lily, di hati mereka, akulah yang paling penting."
Lily menatap Nadine dengan waspada. "Nadine, aku nggak akan merebut apa pun darimu. Aku akan pergi. Yoga dan Keluarga Ferdian semuanya akan jadi milikmu."
Nadine tiba-tiba tertawa. "Pergi? Itu nggak cukup."
Bab 7
Melihat Nadine mendekat, Lily buru-buru berbalik dan berlari menuruni tangga.
Detik berikutnya, seseorang mendorong punggung Lily dengan keras. Tubuh Lily kehilangan kendali dan jatuh ke bawah, menghantam tangga dengan keras, lalu terus berguling ke bawah.
"Lily!!"
Terdengar suara ketakutan yang tidak jauh dari situ.
Di depan pintu, manisan buah yang dipegang Yoga terjatuh. Yoga pun langsung berlari kencang ke arah Lily.
"Ah!"
Tepat di saat Yoga hendak berlari menghampiri Lily, Nadine tiba-tiba berjongkok di lantai dan memeluk perutnya erat-erat.
"Yoga, perutku sangat sakit. Cepat bawa aku ke rumah sakit."
Langkah kaki Yoga langsung terhenti. Dia menoleh ke arah Lily yang tergeletak di lantai, lalu melihat Nadine yang berada tak jauh darinya. Yoga pun terlihat begitu bimbang.
Nadine kembali menjerit kesakitan. Detik berikutnya, tubuh Yoga melewati Lily, naik ke tangga dengan cepat, lalu langsung menggendong Nadine.
Saat melewati Lily, Yoga berkata dengan nada tergesa-gesa, "Lily, jangan bergerak dulu. Aku antar Kak Nadine ke rumah sakit. Aku segera kembali."
Begitu Yoga pergi, darah segar mulai mengalir dari bagian bawah tubuh Lily. Lily ketakutan setengah mati.
"Yoga, Yoga!"
Lily menangis dan berteriak sekuat tenaga.
Anaknya…
Anaknya…!
Mendengar tangisan Lily, langkah Yoga pun terhenti. Lily memiliki daya tahan yang sangat kuat. Yoga teringat saat Lily mengalami kecelakaan mobil sebelumnya, yang membuat beberapa tulang di tubuhnya patah. Yoga sangat ketakutan saat itu. Tangannya gemetar saat menyentuh Lily. Namun, Lily tetap tersenyum menenangkannya dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Yoga hendak berbalik ketika dia mendengar suara isak tangis di pelukannya. "Yoga, perutku sakit sekali. Anak kita, anak…"
Anak mereka tidak boleh kenapa-napa.
Sesaat kemudian, Yoga pun melangkah pergi tanpa penyesalan sedikit pun.
Lily terbaring di genangan darah dan menangis. Dia menahan rasa sakit yang luar biasa sambil perlahan-lahan menyeret tubuhnya. Darah mengalir deras dari bagian bawah tubuhnya dan meninggalkan jejak yang panjang. Dengan susah payah, Lily meraih ponsel yang tidak jauh darinya dan menghubungi ambulans.
Ambulans datang dengan sirene meraung-raung.
Dalam perjalanan kembali ke rumah sakit, tiba-tiba sebuah mobil menghalangi jalan di depan ambulans.
Petugas medis di dalam ambulans menjadi panik dan berteriak keras, "Mobil di depan, tolong beri jalan. Pemilik mobil dengan nomor 6547, tolong beri jalan."
Begitu mendengar angka "6547", Lily langsung berusaha membuka matanya dengan sekuat tenaga.
Itu mobil Yoga.
Pada saat yang sama, Yoga yang berada di depan juga mendengar suara sirene ambulans dari belakang dan bersiap hendak memberi jalan. Namun, Nadine di sampingnya justru menangis makin keras. Lalu, dengan membulatkan tekad, Yoga justru menginjak pedal gas dalam-dalam dan sama sekali tidak peduli pada suara klakson ambulans di belakang yang meraung-raung.
"Dokter Zoya, ini mengerikan. Pendarahan pasien nggak kunjung berhenti. Apa yang harus kita lakukan?"
Mendengar keributan perawat itu, dokter tersebut buru-buru mendekat. Melihat darah yang terus mengalir dari balik kain pemisah warna biru di ranjang pasien, dokter itu pun langsung menjadi terkejut. "Kita harus segera melakukan operasi."
"Tapi mobil di depan nggak kasih jalan. Apa yang harus kita lakukan?"
Dokter itu juga ikut panik. Namun, ketika sopir ambulans mendengar bahwa situasi sudah sangat genting, dia tidak peduli lagi dan segera menerobos lalu lintas. Sopir itu menyelinap di antara kendaraan lain, hingga akhirnya berhasil keluar.
Sesampainya di rumah sakit, Lily baru saja didorong masuk, ketika Yoga masuk terburu-buru sambil menopang Nadine. Sebelum Yoga sempat bicara, tiba-tiba terdengar suara.
"Pasien bernama Lily Ginanjar mengalami keguguran dan pendarahan hebat. Apa ada keluarga yang mendampingi?"
...
Di rumah sakit.
Lily membuka matanya dan refleks langsung meraba perutnya.
Detik berikutnya, jari-jari Lily digenggam erat dan terdengar suara yang tersendat karena tangis, "Lily, semua ini salahku. Mulai sekarang, aku akan menebus semuanya padamu."
Lily menoleh dan menatap Yoga yang berwajah pucat di sampingnya. Bayangan saat dia melihat Yoga menggendong Nadine dan pergi, kembali memenuhi pikiran Lily dan tidak bisa dikendalikan. Jari-jari Lily gemetar. Kemudian, Lily menarik tangannya kembali.
Lily sudah tahu hasilnya.
Anaknya, anak yang baru sehari dia ketahui keberadaannya…
Air mata Lily mengalir tanpa bisa dihentikan. Di sampingnya, Yoga berkata dengan suara tersendat, "Lily, kita masih bisa punya anak lagi."
Ya, Lily memang masih bisa punya anak, tetapi tidak lagi dengan Yoga.
Lily membuka matanya dan menatap Yoga. "Mana Nadine?"
Yoga membalas tatapan Lily dan terlihat bingung. "Dia, dia sedang istirahat. Lily, soal ini juga bukan sepenuhnya salah Kak Nadine. Kalian berdua bertengkar dan dia juga nggak sengaja."
"Dia sekarang sedang hamil dan nggak boleh emosi. Kamu sudah kehilangan anak kita. Tapi, kita nggak bisa biarkan Kak Nadine juga kehilangan bayinya."
Mendengar Yoga yang pada saat seperti ini masih saja melindungi Nadine, hati Lily terasa sakit hingga berdenyut tiada henti. Suaranya bergetar karena emosi. "Yoga, ini anak kita. Anak kita satu-satunya."
Anak yang pernah mereka tunggu-tunggu dengan penuh harap itu, bahkan belum genap tiga bulan dia ada di dunia ini.
"Aku tahu, aku tahu."
Yoga berlari mendekati Lily dan memeluknya erat-erat. "Semua ini salahku. Semua salahku."
"Tapi, Kak Nadine benar-benar nggak sengaja. Lily, jangan salahkan dia. Dia seperti itu karena sedang hamil. Hormon dalam tubuhnya nggak stabil. Tolong maafkan dia, ya? Atau biar aku yang menebus semuanya. Apa pun yang kamu mau, akan aku berikan asal kamu bisa memaafkannya."
Melihat Yoga yang masih terus membela Nadine, semua kata-kata Lily langsung tercekat menjadi isak tangis.
Air matanya mengalir deras.
Harusnya, dia tidak pernah menaruh harapan apa pun pada Yoga.
Yoga masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Saat mengangkat telepon tersebut, terdengar suara Nadine dari ujung telepon, "Yoga, perutku sakit lagi. Kamu di mana?"
Kali ini, sebelum Yoga bisa berkata-kata, Lily sudah terlebih dahulu berkata, "Pergilah."
Melihat Lily yang seperti itu, Yoga tidak tahu harus berkata apa untuk menghiburnya. Entah kenapa, Yoga merasa jika Lily makin lama, makin menjauh darinya.
Sebelum pergi, Yoga menggenggam tangan Lily dan berulang kali berkata, "Tunggu aku kembali."
Begitu Yoga pergi, Lily langsung bangkit dari tempat tidur. Baru saja duduk, seorang perawat buru-buru masuk dan menahannya.
"Kamu baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim. Tubuhmu belum pulih. Jangan sembarangan bergerak."
Pengangkatan rahim?
Lily merasa seperti tersambar petir. Dia duduk terpaku di sana dengan pikiran kosong.
Dia sudah tidak punya rahim lagi. Mulai sekarang, dia tidak akan pernah bisa punya anak lagi…
Perawat itu berkata dengan nada tidak tega, "Memang terlambat. Seandainya sampai di rumah sakit sedikit lebih awal, semuanya pasti baik-baik saja."
Seandainya sampai di rumah sakit sedikit lebih awal…
Lily tiba-tiba teringat pelat nomor yang disebutkan dokter di dalam ambulans. Air matanya langsung menetes seperti hujan.
Bab 8
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali, Lily meninggalkan rumah sakit meskipun dokter menentangnya.
Semua barangnya pada dasarnya sudah dibereskan, tinggal dikemas saja.
Saat turun ke bawah, Yoga dan Nadine juga baru saja kembali. Melihat Lily muncul, Yoga buru-buru berlari menghampirinya.
"Lily, tubuhmu belum pulih sepenuhnya. Kenapa kamu sudah kembali?"
"Ayo cepat, aku antar kamu kembali ke rumah sakit."
Sambil berkata seperti itu, Yoga mencoba menarik Lily kembali ke rumah sakit.
Lily menggelengkan kepalanya. "Nggak perlu, aku sudah jauh lebih baik."
Yoga memintanya berulang kali, tetapi Lily tetap bersikeras. Oleh karena itu, Yoga pun terpaksa menyerah.
Yoga membawa Lily naik ke atas. Dia mengangkat Lily ke tempat tidur dengan tangannya sendiri, menyelimuti tubuh Lily dengan hati-hati, lalu berkata dengan begitu lembut, "Lily, semuanya akan baik-baik saja."
Lily tidak menjawab, lalu terdengar suara notifikasi pesan dari ponselnya.
Lily mengambil ponselnya. Ternyata itu adalah video yang dikirim Nadine, yang berisi kemesraan mereka di kamar mandi rumah sakit.
Lantaran Lily tidak kunjung merespons, Yoga pun mengangkat kepalanya dan menatap Lily. Saat Yoga hendak bicara, dia mendengar Lily terlebih dahulu angkat bicara.
"Yoga, berapa kode kombinasi brankas kita?"
Saat mereka menikah dahulu, demi membuat Lily merasa tenang, Yoga pernah menulis surat perjanjian cerai dengan tangannya sendiri, menandatanganinya, lalu menyimpannya di dalam brankas. Namun agar tidak ada satu pun dari mereka bisa membukanya dengan mudah, mereka menetapkan kode kombinasi enam digit dan masing-masing menghafal tiga digit.
Yoga mengangkat bahunya dengan santai. "Tiga digit milikku adalah tanggal ulang tahunmu. Aku nggak tahu tiga digit punyamu."
"Oke."
Pukul tiga dini hari, Lily bangun dan membuka brankas.
Enam digit itu, seperti enam tahun yang sudah dilaluinya bersama Yoga, berlalu begitu cepat.
Lily menandatangani dua salinan surat perjanjian cerai itu dan meletakkannya di meja makan lantai bawah.
Setelah itu, Lily membuka pintu dan menyeret koper miliknya. Di luar, tutornya sudah menunggu di dalam mobil.
Melihat Lily keluar, tutor itu melihat belakang punggung Lily. "Lily, suamimu nggak keluar untuk mengantarmu?"
Lily naik ke dalam mobil, mengenakan sabuk pengaman, lalu melemparkan ponsel yang sudah dia gunakan selama enam tahun ke tempat sampah.
"Nggak perlu."
Sejak saat itu, Lily tidak akan pernah membutuhkan Yoga lagi.